Skripsi Cucu Nurlaela by DiandraLele

VIEWS: 94 PAGES: 67

									      PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
    TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD)
              PADA MATERI LUAS BANGUN DATAR
DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK
 (Penelitian Tindakan Kelas terhadap Peserta Didik Kelas V SDN
   Sirnasari Kecamatan Sariwangi Tahun Pelajaran 2011/2012)



                           SKRIPSI

           Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
              Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan




                             Oleh:
                     CUCU NURLAELA
                         0381101512




  PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
     FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
              UNIVERSITAS PAKUAN
                     BOGOR
                      2012
                      LEMBAR PENGESAHAN



      PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
     TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD)
              PADA MATERI LUAS BANGUN DATAR
DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK
 (Penelitian Tindakan Kelas terhadap Peserta Didik Kelas V SDN
   Sirnasari Kecamatan Sariwangi Tahun Pelajaran 2011/2012)




                              Oleh:
                         CUCU NURLAELA
                           0381101512




                                 Menyetujui

         Pembimbing I,                             Pembimbing II,




    Dr. Siti Fadjarajani, M.T.                Drs. Aam Nurjaman M.Pd.
   ………………………………                               ………………………………
                        LEMBAR PERNYATAAN


       Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yagn saya

susun sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana dari Program

Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Pakuan di Bogor adalah merupakan hasil karya

ilmiah saya sendiri.

       Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi yang saya

kutip dari karya orang lain ttelah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai

dengan norma, kaidah, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

       Apabila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian skripsi

ini bukan hasil kerja saya sendiri atau plagiat dalam bagian-bagian

tertentu, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang

saya sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.


                                                       Tasikmalaya,
                                             .........................................

                                           Yang membuat pernyataan,



                                                  CUCU NURLAELA
                                ABSTRAK


Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dilaksanakna
secara kolaboratif antara peneliti, observer, dan subyek yang diteliti.
Tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil
belajar mata pelajaran Kewarganegaraan (PKn) pada peserta didik kelas
V melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head
Together (NHT). Subyek penelitian ini adalah peserta didik kelas V
Sekolah Dasar yang terdiri dari 43 peserta didik , dengan komposisi
perempuan 17 peserta didik dan laki-laki 26 peserta didik . Pelaksanaan
penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun pelajaran 2010-2011.
Proses penelitian tindakan kelas ini dilakukan tiga siklus, setiap siklus dua
kali pertemuan terdiri dari empat tindakan utama yaitu perencanaan,
pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Akhir dari setiap siklus
dilaksanakan tes menggunakan instrument soal. Kemudian hasil yagn
diperoleh pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua dirata-ratakan
untuk menjadi hasil akhir dari setiap siklus. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa nilai rata-arat hasil belajar pada siklus pertama memperoleh nilai
68,14 sedangkan siklus kedua memperoleh nilai 78,49 dan siklus ketiga
memperoleh nilai 87,55. Begitu pula dengan hasil observasi peserta didik
menunjukkkan adanya peningkatan pada partisipasi dan aktivitas sisiwa
dengan memperoleh nilai pada siklus pertama yaitu 65, sedangkan siklus
kedua memperoleh nilai 82, dan siklus ketiga memperoleh nilai 92.
Penelitian ini berkesimpulan bahwa penerapan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan
hasil belajar mata pelajaran Kewarganegaraan pada peserta didik kelas V
di SDN Cipayung Kecamatan Megamendung Kabupaten Tasikmalaya.
Selain itu, model pembelajaran ini dapat meningkatkan partisipasi dan
aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
                          KATA PENGANTAR


      Ucapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa

atas rahmat-Nya, bahwa penulis dapat menyusun skripsi yang berjudul:

“Penerapan   Model Pembelajaran Kooperatif         Tipe Student Teams

Achievement Division (STAD) Pada Materi Luas Bangun Datar Dalam

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik (Penelitian Tindakan

Kelas terhadap Peserta Didik Kelas V SDN Sirnasari Kecamatan

Sariwangi Tahun Pelajaran 2011/2012)”

      Adapun tujuann dari penulisan skripsi ini yaitu sebagai salah satu

syarat mengikuti ujian Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan

Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas

Pakuan Bogor.

      Dengan penuh hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya

penulis ucapkan kepada:

1. Rektor Universitas Pakuan Bogor

2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

3. Ketua Program Studi Pendidikan Gurus Sekolah Dasar

4. Pembimbing I (Satu) Dr. Siti Fadjarajani, M.T

5. Pembimbing II (dua): Drs. Aam Nurjaman M.Pd.

6. Kepala Sekoalh, instansi Tempat Penelitian

7. Dan untuk semua orang yang telah mendukung saya yang tidak dapat

   saya sebutkan satu-persatu.




                                    v
      Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi i ini banyak

kekurangannya, oleh karena itu penulis mengharapkan saran serta kritik

yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan skripsi i ini. Penulis

berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan

para pembaca pada umumnya.



                                       Tasikmalaya, ........................2012
                                       Yang membuat pernyataan,



                                       Cucu Nurlaela




                                  vi
                                             DAFTAR ISI
                                                                                                 halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................. v
DAFTAR ISI .............................................................................................. vii
DAFTAR TABEL ........................................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... x
BAB I        PENDAHULUAN ......................................................................... 1
             A. Latar Belakang Masalah ....................................................... 1
             B. Identifikasi Masalah .............................................................. 5
             C. Pembatasan Masalah ........................................................... 6
             D. Rumusan Masalah ................................................................ 7
             E. Tujuan Penelitian .................................................................. 8
             F. Manfaat Penelitian ................................................................ 8
BAB II       KAJIAN TEORETIK, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS
             TINDAKAN ................................................................................ 10
             A. Kajian Teoretik .................................................................... 10
             B. Kerangka Berpikir ............................................................... 22
             C. Hipotesis Tindakan ............................................................. 23
BAB III      METODOLOGI PENELITIAN .................................................... 24
             A. Setting Penelitian ................................................................ 24
             B. Desain Penelitian ................................................................ 24
             C. Rencana Tindakan .............................................................. 26
                   1. Pelaksanaan(Action) ...................................................... 26
                   2. Observasi(Observation) .................................................. 26
                   3. Refleksi(Reflection) ........................................................ 26
             D. Teknik Pengumpulan Data.................................................. 30
             E. Instrumen Pengumpulan Data ............................................ 30
             F. Analisis Data ....................................................................... 32
                   1. Ulangan Harian............................................................... 32
                   2. Analisis Tugas Individu ................................................... 33
                   3. Analisis Tugas Kelompok ............................................... 33
                   4. Pesnskoran Akhir ........................................................... 33
                   5. Analisis hasil Observasi .................................................. 34
             G. Indikator Keberhasilan ........................................................ 34


                                                    vii
            H. Tim Kolaborasi .................................................................... 34
            I.   Jadwal Kegiatan Penelitian ................................................. 35
BAB IV Hasil penelitian dan pembahasan ............................................. 36
            A. Deskripsi Data .................................................................... 36
                 1. Deskripsi Data pada Siklus I ........................................... 36
                 2. Deskripsi Data pada Siklus II .......................................... 38
            B. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan ........................... 40
                 1. Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran dan Pengamatan
                    pada Siklus I ................................................................... 40
                 2. Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran dan Pengamatan
                    pada Siklus II .................................................................. 43
            C. Pengujian Hipotesis Tindakan/Pertanyaan Penelitian ........ 47
                 1. Pengujian Hipotesis Tindakan ........................................ 47
                 2. Analisis terhadap Pertanyaan Penelitian ........................ 48
            D. Pembahasan....................................................................... 50
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 54




                                                viii
                                        DAFTAR TABEL



Tabel II.1 Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif .................. 11
Tabel II.2 Konversi Skor Perkembangan Poin Kemajuan ........................ 14
Tabel II.3 Tingkat Penghargaan Kelompok .............................................. 14
Tabel III.1 Daftar Tim ............................................................................... 34
Tabel III.2 Jadwal Kegiatan Penelitian ..................................................... 35




                                                   ix
                               DAFTAR GAMBAR



Gambar II.1    Alur Kerangka berpikir ..................................................... 22
Gambar III.1   Spiral Penelitian Tindakan Kelas di Adaptasi dari Hopkins
               dalam Depdikbud Tim Pelatih Proyek PGSM, 1997: 7) ... 25




                                           x
                             BAB I
                          PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

        Kata kunci yang penting dari suatu proses pendidikan adalah

  belajar, sedangkan makna dan batasan inti yang terkandung dalam

  belajar adalah sebuah proses perubahan. Karena kemampuan

  berubah melalui belajarlah, manusia dapat berkembang pemikirannya

  dengan baik. Bahkan kualitas hasil proses perkembangan manusia

  sangat tergantung pada apa dan bagaimana seseorang belajar,

  menurut Thorndike (Sukmara, Dian, 2005:45) “Jika kemampuan belajar

  umat manusia dikurangi setengahnya saja maka peradaban yang ada

  sekarang itu tidak akan berguna bagi generasi mendatang.” Oleh

  karena itu tidaklah berlebihan andai kita katakan bahwa belajar

  memiliki peranan penting dalam mempertahankan kelangsungan hidup

  manusia baik secara individu, ataupun kelompok.

        Pendapat tentang belajar sesuai dengan yang dikemukakan di

  atas didukung oleh Direktorat Dikmenum (2004:30)

        Guru perlu mengubah strategi pembelajaran dengan
        menggunakan pendekatan dan metode yang variatif sehingga:
        peserta didik lebih aktif, iklim belajar menyenangkan, fungsi
        guru bergeser dari pemberi informasi menuju seorang fasilitator,
        materi yang dipelajari terkait dengan lingkungan kehidupan
        peserta didik sehingga dapat dimanfaatkan untuk memecahkan
        masalah kehidupan, peserta didik terbiasa mencari informasi
        dari berbagai sumber, menggeser ‘teaching’ menjadi ‘learning.’

        Sebagai seorang guru tentu saja harus mendukung apa yang

  dianjurkan oleh pemerintah dalam hal ini Direktorat Dikmenum. Guru


                                  1
                                                                           2



dapat    melakukan      perubahan     strategi   pembelajaran       terutama

menggeser      teaching   menjadi    learning.   Salah    satunya    dengan

mengubah model, metode, atau pendekatan yang biasa dilakukan

selama ini yaitu guru mendominasi pembelajaran sehingga yang aktif

dalam pembelajaran bukan peserta didik            tetapi guru. Salah satu

pendekatan yang dapat dipilih di dalam pembelajaran matematika

khususnya di kelas V Sekolah Dasar adalah dengan menggunakan

model kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD).

        Menurut Nurhadi dan Agus Gerrad Senduk (2003:33)

        Selama ini strategi pembelajaran di kelas di dominasi oleh paham
        strukturalisme/objektivisme/ behaviorisme yang brtujuan peserta didik
        mengingat informasi yang faktual. Buku teks dirancang, peserta didik
        mmbaca atau diberi informasi, lalu terjadi proses memorisasi. Tujuan-
        tujuan pembelajaran dirumuskan sejelas mungkin untuk keperluan
        merekam informasi aktivitas belajar mengikuti buku teks. Seseorang
        dikatakan telah belajar apabila ia mampu mengungkapkan kembali apa
        yang telah dipelajarinya.

        Kaitannya antara pendapat Nurhadi dan Agus Gerrad Senduk

dan anjuran Direktorat Dikmenum pada intinya guru harus berusaha

menciptakan suasana pembelajaran yang menjadikan peserta didik

aktif belajar.Menurut Corebima (Risnawati, 2005:5), “Berdasarkan hasil

penelitian yang pernah dilakukan terhadap model pembelajaran, salah

satu model pembelajaran yang dapat efektif meningkatkan aktifitas

belajar peserta didik adalah model kooperatif. Model pembelajaran

kooperatif tampaknya akan dapat melatih peserta didik                  untuk

mendengarkan pendapat-pendapat orang lain dan menerangkan

pendapat atau temuan-temuan dalam bentuk tulisan. Tugas-tugas
                                                                            3



kelompok akan dapat memacu peserta didik untuk belajar bersama,

saling    membantu       satu     sama    lain    dalam    mengintegrasikan

pengetahuan-pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah

dimilikinya. Peserta didik         secara individu dapat membangun

kepercayaan diri terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan

masalah matematika. Pembelajaran kooperatif ini sangat berguna

bagi peserta didik       yang heterogen dengan menonjolkan interaksi

dalam kelompok dapat membuat peserta didik menerima peserta didik

lain yang berkemampuan dan berlatarbelakang yang berbeda.

         Dalam pembelajaran secara kooperatif terdapat beberapa

model. Salah satunya model pembelajaran kooperatif tipe Student

Team Achievement Divisions (STAD). Pembelajaran kooperatif tipe

Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah satu tipe

pembelajaran kooperatif yang mendorong peserta didik                 aktif dan

saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai

prestasi yang maksimal. Ada 5 tahap dalam proses kegiatan

pembelajarannya, yaitu penyajian materi, kegiatan kelompok, tes

individu, perhitungan skor, perkembangan individu dan pemberian

penghargaan kelompok.

         Dari hasil evaluasi ulangan akhir semester ganjil tahun ajaran

2010/2011,     peserta    didik   kelas   V      SDN   Sirnasari   Kabupaten

Tasikmalaya memperoleh nilai rata-rata 60 untuk mata pelajaran

matematika.     Padahal     berdasarkan       Kurikulum    Tingkat     Satuan
                                                                         4



Pendidikan 2006 (KTSP) Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditentukan

untuk mata pelajaran matematika adalah 65, hal ini menunjukkan

belum tercapainya harapan dari pencapaian nilai rata-rata untuk mata

pelajaran matematika. Agar peserta didik kelas V SDN Sirnasari

minimal dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) guru

harus melaksanakan perbaikan dalam proses pembelajaran.

      Berdasarkan pengalaman mengajar di kelas V SDN Sirnasari,

selama ini peserta didik    pasif dalam belajar. Peserta didik       hanya

mengikuti apa yang diperintahkan oleh guru tanpa ada inisiatif untuk

mengerjakan soal-soal yang tersedia dalam buku paket matematika

ataupun soal-soal yang diberikan oleh guru. Akibatnya karena kurang

aktivitas peserta didik    hasil yang diperoleh tidak mencapai tujuan

pengajaran. Oleh karena itu guru harus berupaya mencari alternatif

dari beberapa pendekatan mengajar untuk diterapkan di dalam

pembelajaran matematika        sehingga   pada    proses pembelajaran

peserta didik    terlibat aktif. Oleh karena itu peneliti bermaksud

melaksanakan penelitian tindakan kelas di kelas V          SDN Sirnasari

dalam upaya meningkatkan hasil belajar matematika peserta didik.

Materi pokok luas bangun datar merupakan materi yang banyak

digunakan    dalam   kehidupan     sehari-hari,   tetapi   peserta    didik

mengalami kesulitan dalam perhitungan luas bangun datar. Oleh

karena itu penelitian dilaksanakan pada materi pokok luas bangun

datar kompetensi dasar melakukan perhitungan dan menggunakannya

dalam pemecahan masalah.
                                                                         5



           Berdasarkan     alasan   tersebut   di   atas,   maka   peneliti

   melaksanakan penelitian tindakan kelas dengan judul, “Penerapan

   Model     Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Achievement Division

   (STAD) pada materi Luas Bangun Datardalam Upaya Meningkatkan

   Hasil Belajar Matematika Peserta didik (Penelitian Tindakan Kelas

   terhadap Peserta didik Kelas V SDN Sirnasari Kecamatan Sariwangi

   Tahun Pelajaran 2011/2012).”


B. Identifikasi Masalah

           Dari hasil observasi terhadap peserta didik kelas V SD Negeri

   Sirnasari, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah

   sebagai berikut:

   1. Peserta didik kurang aktif selama proses belajar berlangsung

       karena proses pembelajaran didominasi oleh guru.

   2. Penjelasan yang disampaikan guru sulit dimengerti oleh siswa

   3. Model, Pendekatan atau metode yang diterapkan oleh guru

       cenderung monoton tidak ada variasi sehingga proses belajar

       mengajar kurang menarik dan aktif.

   4. Partisipasi peserta didik kurang maksimasimal dalam proses

       pebelajaran Matematika sehingga mengakibatkan pembelajaran

       kurang bermakna. Tingkat penguasaan siswa terhadap materi

       pelajaran rendah.

   5. Siswa suka ngobrol saat pelajaran berlangsung.
                                                                             6



C. Pembatasan Masalah

        Agar penelitian ini terarah diperlukan pembatasan masalah

  sebagai berikut:

  1. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement
      Division (STAD)

             Model    pembelajaran      kooperatif   tipe    Student    Teams

      Achievement Division (STAD) pada proses pembelajarannya

      menggunakan lima tahap, yaitu tahap penyajian materi, tahap

      kegiatan kelompok, tahap tes individu, tahap perhitungan skor

      perkembangan, dan tahap pemberian penghargaan kelompok.

  2. Hasil Belajar

             Hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang

      dimiliki peserta didik setelah menerima pengalaman belajarnya

      atau dapat diartikan juga sebagai hasil akhir setela mengalami

      proses belajar. Hasil belajar yang akan dilihat dalam penelitian ini

      adalah berupa ulangan harian dalam bentuk soal uraian,

      pemberian      tugas   individu   yang   berupa       soal-soal   latihan

      sebagaitugas pekerjaan rumah, dan pemberian tugas kelompok

      dalam bentuk Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang diberikan

      pada saat pembelajaran berlangsung

  3. Aktivitas Peserta didik

             Aktivitas peserta didik merupakan segala bnetuk kegiatan

      yang dilakukan peserta didik selama pembelajaran berlangsung.

      Pada penelitian ini akan dilihat sampai sejauhmana keaktifan dan

      partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran pada materi
                                                                    7



      luas bangun datar      dengan menerapkan model pembelajaran

      kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD).

      Untuk melihat dan mengukur aktivitas peserta didik akan

      digunakan lembar observasi yang akan diisi oleh rekan guru

      sebagai observer sebanyak 2 orang.

  4. Kriteria Keberhasilan

            Pembelajaran materi luas bangun datar melalui model

      pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division

      (STAD) disebut berhasil jika rata-rata skor ulangan harian yang

      diperoleh peserta didik pada materi luas bangun datar      sudah

      mencapai KKM yang ditentukan, yaitu 70.



D. Rumusan Masalah

       Dari hasil identifikasi masalah yang telah dikemukakan, maka

  rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

   1. Apakah penerapan model pembemelajaran kooperatif Tipe Team

     Student Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan hasil

     belajar peserta didik pada materi pokok luas bangun datar di SD

     Negeri Sirnasari Kecamatan Sariwangi       Kabupaten Tasikmlaya

     Tahun pelajaran 2011/2012?

   2. Apakah penerapan pembelajaran kooperatif Tipe Team Student

     Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan partisipasi

     belajar peserta didik di SD Negeri Sirnasari Kecamatan Sariwangi

     Kabupaten Tasikmlaya Tahun pelajaran 2011/2012?
                                                                       8



E. Tujuan Penelitian

        Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas

   maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :

   1. Apakah penerapan model pembemelajaran kooperatif Tipe Team

       Student Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan hasil

       belajar peserta didik pada materi pokok luas bangun datar di SD

       Negeri Sirnasari   Kecamatan Sariwangi      Kabupaten Tasikmlaya

       Tahun pelajaran 2011/2012.

   2. Apakah penerapan pembelajaran kooperatif Tipe Team Student

       Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan partisipasi

       belajar peserta didik di SD Negeri Sirnasari Kecamatan Sariwangi

       Kabupaten Tasikmlaya Tahun pelajaran 2011/2012.



F. Manfaat Penelitian

         Ada tiga manfaat pokok yang dapat diambil dari perbaikan

   pembelajaran ini adalah :

   1. Bagi Guru

      a. Dapat    berkembang     secara     professional   karena   dapat

          menunjukkan bahwa ia mampu menilai dan meperbaiki

          pembelajaran yang dikelolanya.

      b. Membuat guru lebih percaya diri.

      c. Mendapatkan kesempatan untuk berperanmengembangkan

          pengetahuan dan keterampilan sendiri.
                                                                   9



2. Bagi Peserta didik

   a. Memotivasi peserta didik untuk aktif, kreatif dalam pembelajran

       sehingga materi dapat dikuasainya.

   b. Menambah pengetahuan dan kemapuan peserta didik dalam

       menjelaskan materi yang diperoleh selama pembelajaran.

   c. Kemampuan dan keterampilan peserta didik terlatih dan

       meningkat setelah mengikuti pelajaran melalui penerapan

       model    pembelajaran     kooperatif   tipe   Student   Teams

       Achievement Division (STAD)

3. Bagi Sekolah

   a. Melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini diharapkan fungsi

       sekolah dapat berkembang, sehingga diperoleh pengalaman

       langsung tentang efektivitas penerapan model pembelajaran

       kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD)

       pada mata pelajaran Matematika.

   b. Apabila menemui masalah yang sama, penelitian ini dapat

       dimanfaatkan di sekolah lain.
                          BAB II
    KAJIAN TEORETIK, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS
                        TINDAKAN


A. Kajian Teoretik

   1.   Model Pembelajarn Kooperatif               Tipe   Student   Teams
        Achievement Divisions (STAD)

              Model pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan

        kepada peserta didik untuk bekerja kelompok dalam memecahkan

        suatu masalah secara bersama-sama. Beberapa pendapat

        tentang model belajar kooperatif dikemukakan oleh Slavin

        (Gerson, 2002:107), “Belajar kooperatif adalah suatu model

        pembelajaran dimana peserta didik          belajar dan bekerjasama

        dalam kelompok kecil saling membantu untuk mempelajari suatu

        materi.” Sedangkan Sunal dan Hans (Hariyanto, 2000:18)

        mengemukakan, “Model kooperatif learning yaitu suatu cara

        pendekatan atau serangkain strategi yang khusus dirancang untuk

        memberikan dorongan kepada peserta didik agar bekerjasama

        selama berlangsungnya proses pembelajaran.”

              Selanjutnya     Stahl    (Wardani,     2001:7)   menyatakan,

        “Cooperatif learning dapat meningkatkan sikap tolong menolong

        dalam perilaku sosial.” Demikian pula Tim MKPBM (2001:218)

        mengungkapkan, “Cooperatif Learning mencakupi suatu kelompok

        kecil peserta didik    yang bekerja sebagai sebuah tim untuk

        menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk

        mencapai tujuan bersama lainnya.

                                      10
                                                                11



      Model pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan

kepada peserta didik untuk bekerja kelompok dalam memecahkan

suatu masalah secara bersama-sama. TIM MKPBM (2001:217)

mengemukakan “model cooperative learning tampaknya akan

lebih dapat melatih para peserta didik        untuk mendengarkan

pendapat orang lain dan merangkum pendapat atau temuan-

temuan    dalam   bentuk     tulisan.”   Pembelajaran    kooperatif

ditunjukkan   adanya   kolaborasi    antara   beberapa   pemikiran

sehingga diperoleh pemahaman yang lebih baik. Pendapat ini

sejalan dengan pendapat Slavin, R.E. (2009:8) “dalam model

pembelajaran kooperatif akan duduk bersama dalam kelompok

yang beranggotakan empat orang untuk menguasai materi yang

disampaikan oleh guru. Sebagai contoh misalnya dalam metode

yang disebut Student Teams Achievement Division (STAD).”

      Mengenai langkah-langkah model pembelajaran kooperatif,

Ibrahim, Muslimin, et.al. (2000:10) membagi model pembelajaran

kooperatif menjadi enam langkah atau fase, yang dapat dilihat

pada Tabel II.1

                          Tabel II.1
         Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif

          Fase                      Tingkah Laku Guru
 1. Menyampaikan           Guru menyampaikan semua tujuan
    tujuan dan             pembelajaran yang ingin dicapai pada
    memotivasi peserta     pelajaran tersebut dan memotivasi
    didik                  peserta didik belajar
 2. Menyajikan             Guru menyajikan informasi kepada
    informasi              peserta didik dengan jalan
                           demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
                                                                12



        Fase                       Tingkah Laku Guru
3. Mengorganisasikan     Guru menjelaskan kepada peserta
   peserta didik ke      didik bagaimana caranya membentuk
   dalam kelompok-       kelompok belajar agar melakukan
   kelompok belajar      transisi secara efisien
4. Membimbing            Guru membimbing kelompok-
   kelompok bekerja      kelompok belajar pada saat mereka
   dan belajar           mengerjakan tugas mereka
5. Evaluasi              Guru mengevaluasi hasil belajar
                         tentang materi yang telah dipelajari
                         atau masing-masing kelompok
                         mempresentasikan hasil kerjanya.
 6. Memberikan           Guru mencari cara-cara untuk
    penghargaan          menghargai baik upaya maupun hasil
                         belajar individu dan kelompok.
Sumber: Ibrahim, Muslimin, et.al. (2000:10)

      Model pembelajaran kooperatif dapat dilakukan dengan

berbagai pendekatan antara lain dengan model pembelajaran

kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD).

Pembelajaran kooperatif tipe STAD di kembangkan oleh Robert E.

Slavin, di mana pembelajaran tersebut mengacu pada belajar

kelompok peserta didik. Dalam satu kelas peserta didik dibagi ke

dalam beberapa kelompok dengan anggota empat sampai lima

orang, setiap kelompok haruslah heterogen.

      Jumlah peserta didik bekerja dalam kelompok harus

dibatasi, agar kelompok yang terbentuk menjadi efektif, karena

ukuran   kelompok    akan    berpengaruh     pada   kemampuan

kelompoknya. Ukuran kelompok yang ideal untuk pembelajaran

kooperatif tipe STAD adalah empat sampai lima orang. Kelebihan

kelompok berempat menurut Lie, Anita (2007:47) antara lain:
                                                              13



a.   Mudah dipecah menjadi berpasangan
b.   Lebih banyak ide muncul
c.   Lebih banyak tugas yang bisa dilakukan
d.   Guru mudah memonitor

       Slavin (Wardani, Sri, 2006:5-7) mengemukakan bahwa

secara garis besar tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran

kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut:

a. Tahap Penyajian Materi
   Pada tahap ini, guru mulai dengan menyampaikan tujuan
   pembelajaran umum dan khusus serta memotivasi rasa
   keingintahuan peserta didik mengenai topik/materi yang akan
   dipelajari. Dilanjutkan dengan memberikan apersepsi yang
   bertujuan mengingatkan peserta didik           terhadap materi
   prasyarat yang telah dipelajari agar peserta didik dapat
   menghubungkan meteri yang akan diberikan dengan
   pengetahuan yang dimiliki. Teknik penyajian materi pelajaran
   dapat dilakukan dengan cara klasikal ataupun melalui diskusi.
   Mengenai lamanya presentasi dan berapa kali harus
   dipresentasikan bergantung kepada kekompleksan materi
   yang akan dibahas.
b. Tahap kerja Kelompok
   Pada tahap ini peserta didik diberikan lembar tugas sebagai
   bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok ini, peserta
   didik saling berbagi tugas dan saling membantu penyelesaian
   agar semua anggota kelompok dapat memahami materi yang
   akan dibahas dan satu lembar dikumpulkan sebagai hasil
   kerja kelompok. Pada tahap ini guru bertindak sebagai
   fasilitator dan motivator kegiatan tiap kelompok.
c. Tahap Tes Individual
   Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar yang
   akan dicapai diadakan tes secara individual mengenai materi
   yang telah dibahas, tes individual biasanya dilakukan setiap
   selesai pembelajaran setiap kali pertemuan, agar peserta didik
   dapat menunjukkan apa yang telah dipelajari secara individu
   selama bekerja dalam kelompok Skor perolehan individu ini
   dikumpulkan dan diarsipkan untuk digunakan pada
   perhitungan perolehan skor kelompok.
d. Tahap Perhitungan Skor Perkembangan Individu
   Skor perkembangan individu dihitung berdasarkan skor awal.
   Perhitungan skor perkembangan individu dimaksudkan agar
   peserta didik terpacu untuk memperoleh prestasi terbaik
   sesuai dengan kemampuannya.
                                                                 14



         Berikut ini adalah pedoman pemberian                   skor
   perkembangan individu.
                          Tabel II.2
         Konversi Skor Perkembangan Poin Kemajuan
                                                          Poin
                       Skor Tes
                                                        Kemajuan
    Lebih dari 10 poin di bawah skor awal                 5 poin
    10 – 1 poin di bawah skor awal                       10 poin
    Skor awal sampai 10 poin di atasnya                  20 poin
    Lebih dari 10 poin di atas skor awal                 30 poin
    Kertas jawaban sempurna (terlepas dari skor awal)    30 poin
   Sumber: Slavin, R.E. (2009:159)

e. Tahap Penghargaan Kelompok
   Pada tahap ini perhitungan skor kelompok dilakukan dengan
   cara menjumlahkan masing-masing skor perkembangan
   individu kemudian dibagi sesuai jumlah anggota kelompoknya.
   Pemberian penghargaan diberikan berdasarkan perolehan
   rata-rata, penghargaan dikategorikan kepada kelompok baik,
   kelompok hebat dan kelompok super.

      Slavin, R.E. (2009:160) mengemukakan kriteria yang

digunakan untuk menentukan pemberian penghargaan terhadap

kelompok yaitu:

                            Tabel II.3
                  Tingkat Penghargaan Kelompok

        Rata-rata Kelompok                     Penghargaan
                 15 poin                          Tim baik
                 16 poin                      Tim sangat baik
                 17 poin                         Tim super
   Sumber: Slavin, R.E. (2009:160)

      Berdasarkan uraian di atas, dalam pembelajaran kooperatif

yang menggunakan pendekatan STAD guru harus melaksanakan

langkah-langkah: penyajian materi, kegiatan kelompok, tes

individu, perhitungan skor setiap individu dan penghargaan

kelompok. Guru bisa menyajikan materi baik secara klasikal atau

pun melalui diskusi, dan tetap harus menyusun perencanaan
                                                                      15



     pelaksanaan pembelajaran dan mempersiapkan lembar kerja

     peserta didik atau panduan belajar peserta didik, pembentukan

     kelompok belajar dan menjelaskan pada peserta didik tentang

     tugas    dan    perannya    dalam     kelompok,   juga    mengenai

     perencanaan waktu dan tempat duduk peserta didik. Supaya

     proses pembelajaran terlaksana dengan baik segala sesuatunya

     harus dipersiapkan dengan baik pula, agar peran aktif peserta

     didik dan demokrasi benar-benar terlaksana.



2.   Teori Belajar yang Mendukung Model Pembelajaran
     Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD)

             Teori belajar konetruktivisme lahir dari gagasan Piaget dan

     Vygotsky.    Ide dari teori ini adalah      peserta didik      aktif

     membangunpengetahuannya sendiri. Otak peserta didik dianggap

     sebagai mediator yang menerima masukkan dari dunia luar dan

     menentukan      apa    yang    akan    dipelajarinya.    Pandangan

     konstruktivis tentang pembelajaran adalah peserta didik       diberi

     kesempatan memilih dan menggunakan model belajar sendiri

     dalam belajar dan guru membimbing peserta didik           ke tingkat

     pengetahuan yang lebih tingi. Selain itu peserta didik        diberi

     kesempatan untuk berkomunikasi dan berinteraksi sosial dengan

     temannya untuk mencapai tujuan belajar.

             Menurut Piaget (Depdiknas, 2004:21), “Faktor utama yang

     mendorong perkembangan kognitif seseorang adalah motivasi

     atau daya dari diri si individu sendiri untuk mau belajar dan
                                                                  16



berinteraksi   dengan    lingkungannya”.      Lebih   lanjut   Piaget

(Depdiknas,    2004:5)    menjelaskan        bahwa    perkembangan

kemampuan intelektual manusia terjadi karena beberapa faktor

yang mempengaruhinya, seperti:

1) Kematangan (maturation), yaitu pertumbuhan otak dan sistem
   syaraf manusia karena bertambahnya usia.
2) Pengalaman (experience), yaitu terdiri dari:
   a) Pengalaman fisik, yaitu interaksi manusia dengan obyek-
      obyek di lingkungannya.
   b) Pengalaman logika matematis, yaitu kegiatan-kegiatan
      pikiran yang dilakukan manusia bersangkutan.
3) Transmisi sosial, yaitu interaksi dan kerja sama yang
   dilakukan oleh manusia dengan manusia lainnya.
4) Penyeimbangan (equilibration), yaitu proses struktur mental
   (struktur kognitif) manusia kehilangan keseimbangan sebagai
   akibat dari adanya pengalaman-pengalaman baru, kemudian
   berusaha untuk mencapai keseimbangan baru dengan melalui
   proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah di mana
   informasi-informasi dan pengalaman-pengalaman baru
   diserap (dimasukkan) ke dalam struktur kognitif manusia,
   sedangkan akomodasi adalah penyesuaian pada struktur
   kognitif manusia sebagai akibat dari adanya informasi-
   informasi dan pengalaman-pengalaman baru yang diserap.

       Berdasarkan uraian di atas, teori Piaget sangat mendukung

pada   pembelajaran      kooperatif   tipe   STAD.    Teori    Piaget

memandang penting dibentuknya kelompok belajar sehingga

setiap anak memiliki rasa tanggung jawab dan merasa adanya

saling ketergantungan secara positif karena setiap anggota

memiliki peran serta dalam mencapai keberhasilan kelompoknya.
                                                                      17



3.   Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar.

             Pembelajaran Matematika bagi sebagian guru cenderung

     diajarkan secara konseptual saja, bersifat hafalan dan kurang

     mementingkan proses pemahaman dan pembinaan konsep.

     Belajar mengajar adalah suatu proses yang mengolah sejumlah

     nilai untuk dikonsumsi oleh setiap anak didik. Nilai-nilai itu tidak

     dating dengan sendirinya tetapi diambil dari berbagai sumber;

     antaralain di sekolah, dihalaman, di perpustakaan, di pedesaan

     dan sebagainya.

             Sarifudin dan Winataputra (1999:65) mengelompokkan

     sumber-sumber belajar menjadi 5 kategori, yaitu manusia,

     buku/perpustakaan, media masaa dan leingkungan          dan media

     pendidikan. Namu guru biasanya kurang tertarik menggunakan

     media sebagai sumber belajar seperti halnya mengajak peserta

     didik    keluar lingkungan sekolah karena beberapa factor,

     diantaranya waktu yang terbatas, bobot materi yang terlalu banyak

     serta   keterbatasan     guru   dalam   mengembangkan       inovasi

     pembelajaran padahal sumber belajar cukup kaya di lingkungan

     peserta didik tinggal.

             Melalui kurikulum berbasis kompetensi diharapkan pola

     pembelajaran      yang    disampaikan    dapat    mengembangkan

     kemampuan berpikir peserta didik .Menannamkan sikap ilmiah
                                                              18



dan melatih sisiwa untuk memecahkan masalah yang dihadapinya

(Subianto, 1990:28).

      Pada gilirannya peserta didik aktif dalam belajar karena

pada dasarnya peserta didik sendiri yang akan menyelesaikan

masalah-masalah yang dia dapatkan sesuai dengan konsep

materi yang dipelajari dengan bantuan media sebagai sumber

belajar peserta didik . Di dalam KTSP SD tahun 2006, indicator

adalah acuan yang akan dicapai dalam pembelajaran.

      Ini membawa pengertian bahwa Matematika merupakan

Ilmu yang tidak ada penghujungnya.Matematika adalah cabang

Ilmu yang tidak mutlak, pengetahuan diperoleh melalui uji kaji

yang dibuktikan dari sudut yang nyata. Berdasarkan kaedah yang

dijalankan   pengetahuan     Matematika     adalah    senantiasa

diperbaharui dan diformulasikan berdasarkan penemuan terbaru

dari masa ke masa (Muhammad Hlmi bin Saleh)

      Pendidikan Matematika di SD bertujuan agar peserta didik

menguasai pengetahuan, konsep, prinsip, proses penemuan,

serta memiliki sikap nyata yang akanbermanfaat bagi peserta didik

dalam mempelajari diri dan alam sekitar. Pendidikan Matematika

menekankan pada pemberian pengalaman langusng untuk

mencari tahu dan berbuat sehingga mampu mengidentifikasi

sumber energy dan kegunaannya.
                                                                    19



      Pada hakikatnya Matematika             merupakan proses dan

produk. Bila peserta didik      hanya mendengarkan informasi dan

menghafalkan    fakta   saja,    berarti    kita   melupakan    hakikat

Matematika sebagai proses, sebab dengan mendengar dan

menghafal kita hanya memperkenalkan Matematika secara nyata.

      Raka Joni mengutip (Marzano;1992) bahwa titik pusat

hakikat belajar, pengetahuan pemahaman terwujud dalam bentuk

pemberian makna oleh peserta didik kepada pengalaman melalui

berbagai   bentuk    kegiatan      pengkajian      yang    memerlukan

pengerahan berbagai keterampilan kognitif di dalam mengolah

informasi yang diperolehnya melalui alat indera.

      Pengembangan pembelajaran Matematika yang menarik,

menyenangkan, layak, sesuai konteks, serta di dudukung oleh

ketersedian waktu, keahlian, sarana dan prasarana merupakan

kegiatan yang tidak mudahuntuk dilaksanakan.Seorang guru

dituntut untuk memiliki kemampuan dan kreativitas yang cukup

agar pembelajaran dapat terselenggarakan secara efektif dan

efisien.Salah satu aspek kemampuan yang harus dimiliki oleh

guru adalah tentang pemahaman dan penguasaan terhadap

pendekatan     pembelajaran.Salah          satu    peran   pendekatan

pembelajaran    dalam     suatu     pembelajaran       adalah    untuk

meningkatkan keberhasilan pembelajaran yang diselenggarakan.

      Fungsi mata pelajaran Matematika di SD adlah untuk

menumbuhkan kemampuan berfikir dan bersikap ilmiah serta
                                                            20



mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup.

Oleh karena itupembelajaran Matematika di SD menekankan pada

pemberian   pengalaman    belajar   secara   langsung   melalui

penggunaan dan pengembangan keterampilan proses. Sesuai

dengan fungsinya, belajar hanya akan terjadi apabila seseorang

mengubah atau berkeinginan mengubahnya pikiranya (West &

Pines, 1985;221-214).

      Tujuan Matematika di SD disesuaikan dengan kurikulum

2006. Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidika (KTSP) tahun

2006 Matematika di SD bertujuan agar peserta didik memiliki

kemampuan sebagai berikut:

a. Memperoleh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

   berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam

   ciptaan-Nya.

b. Mengembangankan pengetahuan dan pemahaman konsep-

   konsep Matematika yang bermanfaat dan dapat diterapkan

   dalam kehidupan sehari-hari.

c. Mengembangakan rasa ingi tahu, sikap positif dan kesadaran

   tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara

   Matematika , lingkungan, teknologi dan masyarakat.

d. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam

   sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.

e. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala

   keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
                                                                     21



4.   Hasil Belajar

           Menurut Sudjana, Nana (2005:22) “Hasil belajar adalah

     kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia

     menerima pengalaman belajarnya.” Dalam sistem pendidikan

     Nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun

     tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari

     Bloom, Benyamin, (Sudjana, Nana, 2005:22) yang secara garis

     besar membaginya menjadi tiga ranah yaitu:

           Ranah Kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual
           yang teriri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau
           ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan
           evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat
           rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif
           tingkat tinggi. Ranah Afektif berkenaan sikap yang terdiri
           dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau rekasi,
           penilaian, organisasi dan internalisasi.
           Ranah Psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar
           keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek
           ranah psikomotor, yakni: a) gerakan refleks, b)
           keterampilan gerakan dasar, c) kemampuan perseptual, d)
           keharmonisan atau ketepatan, e) gerakan keterampilan
           kompleks dan gerakan ekspresif dan interpretatif.

           Jadi hasil belajar merupakan suatu gambaran hasil dari

     tujuan-tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran suatu

     konsep tertentu. Hasil belajar matematika pada penelitian ini

     dilihat dari jenis tagihan yang berupa tes hasil belajar (pengganti

     ulangan harian) yang dilaksanakan setiap satu siklus selesai

     dilaksanakan. Tes hasil belajar dievaluasi berdasarkan aspek

     kognitif C2 (pengetahuan), C3 (aplikasi), dan C4 (analisis).
                                                                       22



             Kriteria keberhasilan belajar adalah jika peserta didik sudah

      mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang sudah

      ditentukan, yaitu 65.

B. Kerangka Berpikir

          Dalam pembelajaran Matematika dibutuhkan tingkat aktivitas

  yang tinggi baik mental maupun fisik. Hal ini sesuai dengan salah satu

  tujuan pembelajaran Matematika, yaitu mengembangkan aktivitas

  kreatif peserta didik dalam memahami konsep Matematika sehingga

  hasil belajar peserta didik meningkat. Adapun gambaran umum dalam

  penelitian ini seperti pada Gambar II.1

                          Metode, Pendekatan,
                              dan Model
                             Pembelajaran



       Kondisi                                              Kondisi
        Awal                       PBM
                                                             Ideal



                       Gambar II.1 Alur Kerangka berpikir



          Penelitian ini dimulai dari melihat kondisi awal peserta didik

  yaitu kurangnya partisipasi peserta didik serta hasil belajar peserta

  didik yang belum mencapai KKM yang ditentukan, maka harus

  dilakukan perbaikan belajar mengajar dengan menggunakan model

  pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division

  (STAD) sehingga menghasilkan kondisi ideal yang diharapkan. Kondisi
                                                                       23



  ideal dalam penlitian ini yaitu aktivitas atau partisipasi peserta didik

  dalam belajar lebih aktif dan pembelajaran tidak lagi berpusat pada

  guru (teacher centered) serta hasil belajar peserta didik meningkat dan

  melampaui KKM yang telah di tetapkan di SD Negeri Sirnasari .

C. Hipotesis Tindakan

      Berdasarkan rumusan masalah, anggapan dasar dan kajian teori

  yang telah dikemukakan diatas, peneliti merumuskan hipotesis

  tindakan sebagai berikut: penerapan model pembelajaran kooperatif

  tipe Student Teams Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan

  hasil belajar peserta didik pada luas bangun datar di kelas V SDN

  Sirnasari tahun pelajaran 2011/2012.
                              BAB III
                        METODOLOGI PENELITIAN


A. Setting Penelitian

          Penelitian inidilaksanakan di SD Negeri Sirnasari Kecamatan

   Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya dengan jumlah peserta didik

   kelas V sebanyak 37 orang peserta didik. Jumlah seluruhnya 192

   orang peserta didik, dan terdiri dari 6 rombongan belajar.

          Pembelajaran dilaksanakan selama dua siklus.Setiap akhir

   siklus pembelajaran dilaksanakan tes hasil pembelajaran.Dalam setiap

   pembelajaran dilakukan pengamatan perkembangan peserta didik oleh

   teman sejawat.Pengamatan terhadap peserta didik dilakukan oleh 2

   dua orang teman sejawat.



B. Desain Penelitian

          Menurut Arikunto Suharsimi (1996: 44), “Disain penelitian ini

   adalah rencana atau rancangan yang dibuat oleh peneliti sebagai

   ancer-ancer kegiatan yang akan dilaksanakan”.

          Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

   Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tujuan untuk meningkatkan

   hasil belajar peserta didik.

          Suherman, Erman (2005 : 1) mengemukakan “Penelitian

   Tindakan Kelas (PTK) dapat dijadikan sebagai usaha guru yang

   terukur dan sistematis untuk menyelesaikan permasalahan yang




                                   24
                                                                     25



muncul dalam peristiwa pembelajaran di kelasnya sekaligus untuk

meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar peserta didik

       Berdasarkan pendapat di atas dan mengingat bahwa penelitian

yang akan berlangsung adalah penelitian tindakan kelas, yang menurut

Kasbolah, ES. Kasihani (1998 : 27) berpendapat, “Guru melaksanakan

PTK   untuk   memperbaiki     belajar   mengajar,   jadi   bukan   untuk

mengganggu kelancaran pembelajaran di kelas”. Maka desain

penelitian yang diambil berdasarkan adaptasi dari Hopkins (Tim Pelatih

Proyek PGSM, 1997).

                                Plan

                         Reflective

                            Action/
                          Observation
                                        Revised
                                         Plan
                           Reflective
                            Action/
                          Observation


                                        Revised
                                         Plan


      Gambar III.1 Spiral Penelitian Tindakan Kelas di Adaptasi dari
      Hopkins dalam Depdikbud Tim Pelatih Proyek PGSM, 1997: 7)
       Berdasarkan spiral penelitian tindakan kelas yang di adaptasi

dari Hopkins, maka penelitian yang berlangsung untuk setiap siklusnya

meliputi empat tahapan yaitu Perencanaan (Planing), Tindakan

(action), pengamatan (observasi), dan refleksi.
                                                                       26



C. Rencana Tindakan

  1. Perencanaan(Planning)

           Dalam perencanaan (planning) terdapat beberapa kegiatan

     yang akan dilakukan yaitu :

     a. Menyusun rencana kegiatan dan menetapkan waktu dan cara

         penyajian.

     b. Membuat lembar observasi sebagai bahan refleksi untuk

         melihat siatuasi belajar mengajar berlangsung.

     c. Menentukan alternatif tindakan yang dapat dilakukan.

     d. Menyiapkan alat dan teknis analisis data.

   1. Pelaksanaan(Action)
           Dalam pelaksanaan tindakan (action) adalah melaksanakan

     apa yang telah dibuat dalam perencanaan. Pada tahap ini peneliti

     melaksanakan tindakan sesuai dengan skenario pembelajaran

     yang telah dibuat

   2. Observasi(Observation)
           Kegiatan      yang    dilakukan   pada    tahap     pengamatan

     (observation)    adalah    guru   bersama   peneliti    mengobservasi

     tindakan yang dilakukan dengan teknik observasi dan catatan

     lapangan.


   3. Refleksi(Reflection)
           Kegiatan      yang    dilakukan   pada    tahap     pengamatan

     (observation)    adalah    guru   bersama   peneliti    mengobservasi
                                                                27



tindakan yang dilakukan dengan teknik observasi dan catatan

lapangan.


      Tahap refleksi (reflection) merupakan tahap akhir dari siklus

penelitian tindakan kelas. Pada tahap refleksi peneliti bersama

observer (guru) mendiskusikan hasil dari tindakan yang telah

dilaksanakan serta permasalahan yang timbul di kelas penelitian.

Refleksi dapat ditentukan setelah adanya implementasi tindakan

dan hasil observasi, dan biasanya muncul masalah atas pemikiran

baru, sehingga merasa perlu melaksanakan perencanaan ulang,

tindakan ulang serta pengamatan ulang dan diikuti dengan refleksi

yang akan dilaksanakan pada siklus berikutnya.

      Pembelajaran Matematika pada materi luas bangun datar di

kelas V SD Negeri Sirnasari         Tahun Pelajaran 2011/2012

pelaksanaan pembelajarannya sebagai berikut.

a. Siklus I

        Siklus I direncanakan akan dilaksanakan dengan alokasi

   waktu 3 x 30 menit dengan rincian 2 x 30 menit untuk

   pembelajaran, 1 x 30 menit untuk tes hasil belajar matematik.

   Tahap pelaksanannya direncanakan sebagai berikut :

   1) Tahap Pembelajaran

            Pembelajaran diawali dengan mengingatkan kembali

      konsep- konsep yang telah dipelajari di Sekolah Dasar yang

      berhubungan dengan materi yang akan dipelajari, kemudian
                                                                  28



      Guru membagikan bahan ajar dan LKS, kemudian peserta

      didik berkumpul.

          Secara      acak,   guru     meminta      peserta     didik

      mempresentasikan hasil diskusinya atas nama kelompok,

      kemudian guru memberi tes individu dan diakhiri dengan

      pemberian penghargaan kelompok. Selama pembelajaran

      berlangsung, guru dan peserta didik diamati oleh observer,

      hasil pengamatan dijadikan sebagai bahan refleksi. Pada

      pertemuan berikutnya akan dilaksanakan tes hasil belajar

      peserta didik pada materi luas bangun datar .

   2) Refleksi Siklus I

          Setelah pembelajaran selesai guru bersama observer

      berkumpul di ruang guru untuk membicarakan kekurangan-

      kekurangan berdasarkan hasil pengamatan observer. Hasil

      refleksi sebagai bahan bagi guru memperbaiki proses

      pembelajaran pada siklus II.

b. Siklus II

        Siklus II direncanakan akan dilaksanakan dengan alokasi

   waktu 3 x 35 menit dengan rincian 2 x 35 menit untuk proses

   pembelajaran. Setelah seluruh pembelajaran selesai, peserta

   didik diberi tes hasil belajar dengan alokasi waktu 1 x 35 menit.
                                                                  29



     Tahap pelaksanannya direncanakan sebagai berikut :

1) Tahap Pembelajaran

         Pembelajaran diawali dengan mengingatkan kembali

    konsep- konsep yang telah dipelajari pada siklus I yang

    berhubungan      dengan     materi    yang     akan   dipelajari,

    kemudian mengelompokkan peserta didik menjadi 8

    kelompok heterogen yang anggotanya masing-masing 5

    orang.      Secara   acak    guru    meminta    peserta    didik

    mempresentasikan hasil diskusinya atas nama kelompok,

    kemudian guru memberi tes individu dan diakhiri dengan

    pemberian penghargaan kelompok. Selama pembelajaran

    berlangsung guru diamati oleh observer, hasil pengamatan

    dijadikan     sebagai   bahan   refleksi.    Pada     pertemuan

    berikutnya akan dilaksanakan tes kemampuan hasil belajar

    materi luas bangun datar .

2) Refleksi Siklus II

         Setelah pembelajaran selesai guru bersama observer

    berkumpul di ruang guru untuk membicarakan kekurangan-

    kekurangan pada proses pembelajaran berdasarkan hasil

    pengamatan observer. Hasil refleksi sebagai bahan bagi

    guru memperbaiki proses pembelajaran pada siklus III.
                                                                        30



D. Teknik Pengumpulan Data

         Agar dalam penelitian ini diperoleh data yang diharapkan, maka

   haruslah menggunakan teknik pengumpulan data yang tepat. Teknik

   yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

   1. Melaksanakan Tes Hasil Belajar.

             Tes dilaksanakan setiap selesai pembelajaran setiap siklus,

      peserta didik diberi tes hasil belajar matematika terdiri dari 5 soal

      uraian dengan skor masing-masing soal 20, dan masing-masing

      soal diberi bobot.

   2. Melaksanakan Pengamatan

             Pengamatan      dilaksanakan    pada    saat   pembelajaran

      berlangsung. Pengamat atau observer terdiri dari satu orang guru

      SD Negeri Sirnasari dengan menggunakan lembar observasi.

      Hasil pengamatan akan digunakan sebagai bahan refleksi.



E. Instrumen Pengumpulan Data

         Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

   1. Tes Hasil Belajar.
            Tes hasil belajar berbentuk uraian dengan maksud untuk

     melihat proses pembelajaran yang dilakukan peserta didik, agar

     dapat diketahui kemampuan peserta didik. Soal terdiri dari 5soal

     dengan skor maksimal ideal 100. Soal-soal dibuat berdasarkan

     Kurikulum Tingkat Satuan        Pendidikan (KTSP). Soal dibuat

     berdasarkan validitas isi, sesuai dengan pendapat Suherman,
                                                                   31



  Erman (2003: 105), “Suatu tes dikatakan memiliki validitas isi

  apabila ia dapat mengukur TIK yang telah dirumuskan”. Dalam hal

  ini yang dimaksud dengan dapat mengukur TIK yang telah

  dirumuskan adalah dapat mengukur indikator yang telah ditentukan.

  Sebelum soal diberikan kepada subjek penelitian terlebih dahulu

  dikonsultasikan kepada dosen pembimbing I dan II, kemudian minta

  pertimbangan rekan sejawat guru kelas IV dan VI.

2. Tugas Individu
        Tugas individu dibuat sesuai dengan materi KTSP diberikan

  setiap akhir pembelajaran dengan tujuan untuk mengetahui

  sejauhmana peserta didik memahami materi pembelajaran yang

  telah disampaikan oleh guru, dan diharapkan tugas ini dapat

  meningkatkan hasil belajar peserta didik. Tugas ini berupa soal-soal

  latihan yang dibuat oleh guru dan tugas ini dikumpulkan pada

  pertemuan berikutnya, SMI-nya 100 dan memenuhi validitas isi.

3. Tugas Kelompok
        Tugas kelompok dibuat berdasarkan materi pada KTSP

  tugas kelompok berupa Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)

  diberikan di setiap siklus ketika diskusi kelompok. LKPD yang telah

  diisi sebagai hasil diskusi dikumpulkan dan diberi skor sebagai

  salah satu hasil belajar peserta didik. Pemberian skor untuk LKPD

  dimulai dari 0 sampai 100, dengan SMI 100.
                                                                    32



   4. Lembar Observasi.
             Lembar Observasi diisi oleh observer untuk mengetahui

      aktivitas peserta didik selama mengikuti pembelajaran materi luas

      bangun datar dengan menggunakan model kooperatif tipe Student

      Achievement Division (STAD). Lembar observasi berisi indikator-

      indikator aktivitas peserta didik. Pedoman observasi dibuat oleh

      peneliti untuk mendapatkan data tentang aktivitas peserta didik

      selama berlangsungnya proses pembelajaran materi segitiga dan

      segi empat. Lembar observasi ini diisi oleh obsever yang

      mengamati aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran

      berlangsung, diisi oleh observer

F. Analisis Data

          Data yang diperoleh dan terkumpul belum menunjukkan hasil

   yang mengandung arti, karena masih berupa data mentah. Untuk

   mengetahui hasil yang diinginkan, maka dilakukan pengolahan dan

   analisis data

   1. Ulangan Harian
                Soal-soal tes hasil belajar matematika merupakan soal

       bentuk uraian dengan Skor Maksimal Ideal (SMI) 100, untuk

       memperoleh skor dipergunakan rumus menurut Depdiknas (2006)

       sebagai berikut.

                a
        SBS      xc
                b
                                                                 33



   Keterangan:

   SBS = Skor Butir Soal

   a = Skor mentah yang diperoleh

   b = Skor mentah maksimum soal

   c = Bobot soal

          Skor Total Peserta didik   (STS) untuk memperoleh tes

   yang bersangkutan diperoleh dengan menjumlahkan Skor Butir

   Soal (SBS).

2. Analisis Tugas Individu
          Penilaian tugas individu didasarkan pada skor yang

   ditetapkan oleh peneliti dengan ketentuan pemberian skor

   maksimal 100.

3. Analisis Tugas Kelompok
          Tugas kelompok adalah kumpulan tugas atau pekerjaan

   peserta didik berupa LKPD yang disusun berdasarkan urutan

   kegiatan, kemudian dinilai dan diberi skor maksimal ideal 100

   setiap LKPD.

4. Pesnskoran Akhir
          Dalam penskoran ini bobot tes tertulis adalah 1, bobot

   tugas individu adalah 1, dan tugas kelompok 1, sehingga peneliti

   menggunakan rumus untuk skor hasil belajar sebagai berikut:
                                                                               34



         Keterangan:

               =   Skor Ulangan Harian

               =   Skor Tugas Kelompok

               =   Skor Tugas Individu

   5. Analisis hasil Observasi
              Data hasil observasi peserta didik pada setiap tindakan

      dihitung dengan menjumlah aktivitas yang muncul dan untuk setiap

      aktivitas yang muncul dipersentasekan dengan menggunakan

      rumus:



                                                  (Sundari, Nenden Sri, 2008: 36)


G. Indikator Keberhasilan

         Penelitian ini dikatakan berhasil apabila proses pembelajaran

   (partisipasi belajar peserta didik) dan hasil belajar peserta didik ada

   peningkatan dari siklus I ke siklus II yaitu diperoleh proses

   pembelajaran yang ideal dan hasil belajar yang melampaui KKM.


H. Tim Kolaborasi

           Tim terdiri dari 3 orang (1 peneliti dan 2 orang observer).

   Anggota tim dapat dilihat pada Tabel III.1

                                         Tabel III.1
                                         Daftar Tim
    No             Nama         Golongan      Mata Pelajaran      Keterangan
    1     Cucu Nurlaela             IIb        Guru Kelas V         peneliti
    2     Laela Sumiati S.Pd.      IVa        Guru Kelas IV        observer
    3     Jajang, S.Pd.            IVa        Guru Kelas VI        observer
                                                                      35



I. Jadwal Kegiatan Penelitian

          Penelitian ini akan dilaksanakan mulai dari bulan November s.d.

   bulan Desember 2011. Jadwal penelitian yang akan dilaksanakan

   dapat dilihat pada Tabel III.2

                                    Tabel III.2
                             Jadwal Kegiatan Penelitian

                                            BulanNovem        Bulan
    No            Jenis Kegiatan                ber         Desember
                                            I II III IV    I II III IV
     1    Pengajuan judul penelitian
     2    Pembuatan proposal penelitian
     3    Seminar proposal penelitian
     4    Mengurus surat izin
     5    Melakukan observasi
     6    Penyusunan perangkat tes
     7    Melaksanakan proses
          pembelajaran
     8    Pengumpulan data
     9    Pengolahan data
     10   Penyelesaian skripsi
                             BAB IV
                HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Deskripsi Data

   1. Deskripsi Data pada Siklus I

               Penggunaan model Pembelajaran kooperatif Tipe Student

       Teams Achievement Division (STAD) pada materi luas bangun

       datar     dilaksanakan di kelas V SD Negeri Sirnasari Tahun

       Pelajaran 2011/2012 dalam 2 siklus. Data yang diperoleh dari

       siklus I adalah data skor tugas individu, tugas kelompok, dan

       ulangan harian. Dari skor tersebut diolah menjadi skor akhir tes

       hasil belajar matematika Peserta Didik . Skor akhir yang diperoleh

       Peserta Didik untuk siklus I dapat dilihat pada Tabel 4.1.


                                         Tabel 4.1
                      Data Nilai Hasil Belajar Peserta Didik Siklus I

                                           Skor                   Skor Akhir
           Subjek             Tugas       Tugas   Ulangan         Tes Hasil
                             Individu    Kelompok Harian           Belajar
               S-1              55          65       70             63.33
               S-2              55          70       40             55.00
               S-3              75          65       50             63.33
               S-4              65          80       75             73.33
               S-5              55          70       60             61.67
               S-6              55          75       60             63.33
               S-7              65          75       40             60.00
               S-8              75          80       60             71.67
               S-9              55          75       66             65.33
               S-10             55          75       44             58.00
               S-11             65          65       50             60.00
               S-12             65          65       65             65.00
               S-13             75          65       56             65.33
               S-14             65          85       50             66.67
               S-15             65          65       60             63.33


                                        36
                                                                37



                               Skor                  Skor Akhir
    Subjek         Tugas      Tugas   Ulangan        Tes Hasil
                  Individu   Kelompok Harian          Belajar
     S-16            55         70       50            58.33
     S-17            55         70       50            58.33
     S-18            55         85       60            66.67
     S-19            55         80       50            61.67
     S-20            65         65       70            66.67
     S-21            65         65       60            63.33
     S-22            75         70       50            65.00
     S-23            75         80       75            76.67
     S-24            65         75       60            66.67
     S-25            65         70       50            61.67
     S-26            70         75       80            75.00
     S-27            65         70       40            58.33
     S-28            45         85       75            68.33
     S-29            65         65       45            58.33
     S-30            65         70       55            63.33
     S-31            55         65       50            56.67
     S-32            55         65       55            58.33
     S-33            55         80       70            68.33
     S-34            60         85       60            68.33
     S-35            65         85       40            63.33
     S-36            55         70       50            58.33
     S-37            50         70       70            63.33
   Rata-rata        61.62      72.70   57.05           63.79
 Skor Tertinggi      75         85       80
 Skor Terendah       45         65       40

      Berdasarkan Tabel 4.1 rerata dari skor tugas individu

adalah 61,62 dengan skor tertinggi 75 dan skor terrendah 45.

Selanjutnya untuk skor tugas kelompok diperoleh skor rerata

72,70 skor tertinggi 85 dan skor terendah 65. Untuk skor ulangan

harian diperoleh skor rerata 57,05 dengan skor tertinggi 80 dan

skor terrendah 40. Dari skor yang didapat Peserta Didik untuk

tugas individu, tugas kelompok dan ulangan harian, maka

diperoleh skor akhir tes hasil belajar. Rerata skor akhir tes hasil

belajar sebesar 63,79. Berdasarkan data di atas nampak bahwa
                                                                        38



   dibandingkan        dengan      rata-rata   yang    dicapai      sebelum

   pembelajaran, yaitu rata-rata hasil UAS semester ganjil tahun

   ajaran 2011/2012 tampak terdapat peningkatan namun jika

   dibandingkan dengan KKM yang telah ditetapkan SD negeri

   Sirnasari masih perlu peningkatan. Jika dilihat dari rata-rata skor

   tes hasil belajar belum melampaui KKM yang telah ditetapkan SD

   Negeri Sirnasari yaitu 65. Hal ini dikarenakan 25 orang Peserta

   Didik    yang memperoleh skor kurang dari 65. Artinya hanya

   35,14% Peserta Didik yang mencapai KKM.


2. Deskripsi Data pada Siklus II

           Data yang diperoleh dari Siklus II adalah data skor tugas

   individu, skor tugas kelompok dan skor ulangan harian. Dari data-

   data tersebut diperoleh skor tes hasil belajar matematika Peserta

   Didik    kelas V SD Negeri Sirnasari melalui penggunaan model

   Pembelajaran kooperatif         Tipe Student       Teams Achievement

   Division (STAD) pada materi luas bangun datar . Data yang

   diperoleh dapat dilihat pada Tabel 4.2.

                                    Tabel 4.2
                 Data Nilai Hasil Belajar Peserta Didik Siklus II

                                      Skor                      Skor
       Subjek           Tugas        Tugas       Ulangan      Tes Hasil
                       Individu    kelompok       Harian       Belajar
           S-1            70           75           80          75.00
           S-2            60           75           60          65.00
           S-3            75           75           70          73.33
           S-4            65           90           80          78.33
           S-5            60           75           70          68.33
           S-6            65           80           70          71.67
           S-7            85           80           70          78.33
                                                               39



                                Skor                   Skor
   Subjek          Tugas       Tugas     Ulangan     Tes Hasil
                  Individu   kelompok     Harian      Belajar
     S-8             75          90         95         86.67
     S-9             60          80         80         73.33
     S-10            50          80         70         66.67
     S-11            65          75         80         73.33
     S-12            70          75         70         71.67
     S-13            75          75         70         73.33
     S-14            65          90         70         75.00
     S-15            65          75         70         70.00
     S-16            70          75         80         75.00
     S-17            85          75         70         76.67
     S-18            70          90         75         78.33
     S-19            70          90         70         76.67
     S-20            85          75         80         80.00
     S-21            80          75         85         80.00
     S-22            75          75         75         75.00
     S-23            75          90         80         81.67
     S-24            65          80         85         76.67
     S-25            70          75         50         65.00
     S-26            75          80         90         81.67
     S-27            70          75         70         71.67
     S-28            80          90         75         81.67
     S-29            65          75         75         71.67
     S-30            65          75         60         66.67
     S-31            70          75         70         71.67
     S-32            70          75         65         70.00
     S-33            75          90         80         81.67
     S-34            60          90         75         75.00
     S-35            70          90         80         80.00
     S-36            55          75         65         65.00
     S-37            50          75         70         65.00
 Rata-Rata          69,05      79,86      73,78        74.23
 Skor Tertinggi      85          90         95
 Skor Terendah       50          75         50

       Berdasarkan Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa rata-rata skor

dari tugas individu adalah 69,05 dengan skor tertinggi 85 dan skor

terrendah 50. Selanjutnya untuk tugas kelompok diperoleh rerata

skor sebesar 79,86 dengan skor tertinggi adalah 90 dan skor
                                                                         40



      terrendah 75. Untuk ulangan harian diperoleh rerata skor sebesar

      73,78 dengan skor tertinggi 95 dan skor terrendah 50. Dari data

      skor untuk tugas individu, tugas kelompok, dan ulangan harian

      diperoleh skor akhir tes hasil belajar matematika Peserta Didik

      pada materi luas bangun datar . Rerata skor tes hasil belajar

      adalah 74,23. Jika dilihat dari rata-rata skor akhir tes hasil belajar

      maka skor akhir tes hasil belajar sudah melampaui KKM yang

      ditentukan yaitu 65 walaupun 10,81% Peserta Didik di antaranya

      belum mencapai KKM.

B. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan

   1. Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran dan Pengamatan pada
      Siklus I

             Rencana pembelajaran pada siklus I untuk membahas

      menghitung     luas    trapesium    dan     layang-layang     dengan

      menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams

      Achievement Division (STAD), Peserta Didik         diberi bahan ajar

      dan LKPD. Pembelajaran dilaksanakan secara berkelompok.

      Kegiatan pembelajaran pada siklus I dilaksanakan satu kali

      pertemuan, yaitu pada hari Senin, 28 November 2011. Indikator

      yang dibahas adalah menemukan rumus luas bangun datar

      (trapesium dan layang-layang) dan menggunakan rumus rumus

      trapesium dan layang-layang waktu yang diperlukan adalah 2 x 35

      menit. Peserta Didik belajar dalam kelompok heterogen menurut

      kemampuan akademiknya. Terdapat 7 kelompok terdiri dari 5

      orang Peserta Didik dan dua kelompok beranggotakan 6 orang

      Peserta Didik . Dalam pembelajaran Peserta Didik diberi bahan
                                                                   41



ajar dan LKPD, pada pembelajaran dilaksanakan kegiatan-

kegiatan berdasarkan rencana pelajaran. Selama pembelajaran

berlangsung diamati oleh observer yaitu guru teman sejawat yaitu

Ibu Laela Sumiati S.Pd.dan Bapak Jajang S.Pd.

       Aktivitas Peserta Didik       selama pembelajaran siklus I

berlangsung menurut hasil pengamatan observer adalah sebagai

berikut:

                              Tabel 4.3
    Aktivitas Peserta Didik Selama Menggunakan Pembelajaran
    Kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD)
                            pada Siklus I

                                     Hasil Pengamatan
              Aktivitas yang                               Rata-
 No                                 Observer   Observer
                 Diamati                                   rata
                                       I          II
  1        Memperhatikan
           informasi/penjelasan     17,39 %    26,09 %    21,74 %
           guru
  2        Membaca bahan
                                    21,74 %    13,04 %    17,39 %
           ajar/LKPD
  3        Berdiskusi atau
           bertanya antara
                                    8,70%      8,70%      8,70%
           Peserta Didik dengan
           guru
  4        Mengerjakan bahan
                                    21,74 %    17,39 %    19,57 %
           ajar/LKPD
  5        Berdiskusi atau
           bertanya antar Peserta
           Didik dalam kelompok     4,35 %     4,35 %     4,35 %
           saat menyelesaikan
           bahan ajar/LKPD
  6        Keberanian
           mengemukakan             8,70 %     8,70 %     8,70 %
           pendapat
  7        Berani tampil di depan
                                    8,70 %     13,04 %    10,87 %
           kelas
  8        Berprilaku yang tidak
                                     8,70 %     8,70 %     8,70 %
           relevan dengan PBM
                Jumlah              100,00%    100,00%    100,00%
                                                                    42



      Berdasarkan Tabel 4.3, aktivitas terbesar adalah aktivitas

memperhatikan      informasi/penjelasan     guru    21,74%.   Aktivitas

membaca bahan ajar/LKPD sebanyak 17,39%, dan aktivitas

mengerjakan     bahan    ajar/LKPD      sebesar     19,57%,   aktivitas

berdiskusi atau bertanya antar Peserta Didik         dalam kelompok

saat menyelesaikan bahan ajar/LKPD sebesar 4,35%, aktivitas

keberanian mengemukakan pendapat sama besarnya dengan

aktivitas peserta didik pada saat berdiskusi ayau bertanya antara

peserta didik dengan guru yaitu sebesar 8,70%, aktivitas berani

tampil di depan kelas sebesar 10,87%, aktivitas berperilaku yang

tidak relevan dalam proses pembelajaran sebesar 8,70%.

      Pada hari Kamis tanggal 1 Desember 2011 dilaksanakan

tes hasil belajar untuk siklus I menggunakan waktu 1 x 35 menit.

Untuk tes hasil belajar pada siklus I Peserta Didik memperoleh

rata-rata 63,79. Selanjutnya pada hari Jumat tanggal 2 Desember

2011 dilaksanakan refleksi, alasan refleksi hari Jumat agar guru

sudah selesai memeriksa seluruh tes hasil belajar dan tugas

kelompok   serta    tugas   individu.   Observer     dengan    peneliti

berkumpul di ruang guru pada pukul 10.00 untuk membicarakan

hasil pengamatannya sebagai bahan refleksi.

      Hasil refleksi siklus I adalah sebagai berikut:

a. Dalam    memberikan      petunjuk      atau    bimbingan   kegiatan

   sebaiknya guru tidak terlalu cepat, sehingga Peserta Didik

   dapat memahami petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan
                                                                  43



        sesuai dengan    rencana     pelajaran   yang telah   disusun

        sebelumnya.

   b. Guru harus terus memotivasi Peserta Didik yang masih ragu-

        ragu untuk tampil di muka kelas serta ragu-ragu dalam

        mengeluarkan pendapat.

   c. Untuk Peserta Didik     yang melakukan perilaku yang tidak

        relevan dengan PBM perlu diadakan pendekatan khusus.

   d. Agar pembelajaran berjalan dengan baik dan Peserta Didik

        aktif dalam pembelajaran, maka guru perlu meningkatkan

        pengelolaan kelas dengan menegur Peserta Didik yang tidak

        mengikuti pembelajaran dengan baik.

   e. Guru harus memberi penekanan kepada Peserta Didik bahwa

        sebelum bertanya kepada guru, sebaiknya Peserta Didik

        terlebih dahulu bertanya kepada teman sekelompoknya.

   f.   Guru masih mendominasi pembelajaran. Saran observer

        sebaiknya guru mengurangi kegiatan yang mendominasi

        dalam proses pembelajaran.

2. Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran dan Pengamatan pada
   Siklus II

          Pembelajaran siklus II dilaksanakan dua pertemuan yaitu

   pada hari Selasa, 5 Desember 2011 yang membahas indikator

   menemtukan luas bangun datar dengan memanfaatkan rumus

   segitiga dan menemukan rumus mencari tinggi, alas bangun datar
                                                                44



trapesium dan layang-layang dengan cara menurunkan rumus

pokok. Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana

pelajaran pada siklus II seperti yang ada pada lampiran A. Tetapi

pada pelaksanaannya guru memperhatikan hasil refleksi pada

kegiatan pembelajaran siklus I yaitu dalam memberikan petunjuk

atau bimbingan kegiatan tidak terlalu cepat. Guru meningkatkan

pengelolaan kelas dengan menegur Peserta Didik         yang tidak

mengikuti pembelajaran dengan baik. Guru memberi penekanan

kepada Peserta Didik       bahwa sebelum bertanya kepada guru,

sebaiknya Peserta Didik terlebih dahulu bertanya kepada teman

sekelompoknya.     Untuk     mengurangi   dominasi   guru    dalam

pembelajaran,     guru     berusaha    mengajak    Peserta   Didik

mempelajari bahan ajar dan LKPD. Tes hasil belajar ke-2

dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 8 Desember 2011, waktu

yang digunakan 1 x 35 menit.

      Aktivitas    Peserta     Didik      selama     pembelajaran

menggunakan model Pembelajaran kooperatif Tipe Student

Teams Achievement Division (STAD) pada materi luas bangun

datar pada siklus II, yang dapat diamati oleh observer tersaji pada

Tabel 4.4
                                                               45



                            Tabel 4.4
   Aktivitas Peserta Didik Selama Menggunakan Pembelajaran
   Kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD)
                          pada Siklus II

                               Hasil Pengamatan
          Aktivitas yang
 No                            Observer   Observer   Rata-rata
             Diamati
                                  I          II
  1    Memperhatikan
       informasi/penjelasan    8,70%      4,35%      6,52%
       guru
  2    Membaca bahan
                               13,04%     17,39%     15,22%
       ajar/LKPD
  3    Berdiskusi atau
       bertanya antara
                               13,04%     13,04%     13,04%
       Peserta Didik
       dengan guru
  4    Mengerjakan bahan
                               17,39%     21,74%     19,57%
       ajar/LKPD
  5    Berdiskusi atau
       bertanya antar
       Peserta Didik dalam
                               21,74%     17,39%     19,57%
       kelompok saat
       menyelesaikan bahan
       ajar/LKPD
  6    Keberanian
       mengemukakan            13,04%     13,04%     13,04%
       pendapat
  7    Berani tampil di
                               13,04%     13,04%     13,04%
       depan kelas
  8    Berprilaku yang tidak
                               0,00%      0,00%      0,00%
       relevan dengan PBM
                               100,00%    100,00%    100,00%

      Berdasarkan pengamatan observer, aktivitas terbesar

adalah aktivitas berdiskusi atau bertanya antar Peserta Didik

dalam kelompok saat menyelesaikan bahan ajar/LKPD dan

aktivitas mengerjakan bahan ajar/LKPD sebesar 19,57%, aktivitas

berani tampil di depan kelas sama besarnya dengan aktivitas

peserta didik dalam berani mengemukakan pendapat yaitu
                                                                 46



sebesar 13,04%, aktivitas membaca bahan ajar/LKPD sebesar

15,22%,    aktivitas   memperhatikan     informasi/penjelasan   guru

sebesar 6,52%, sedangkan aktivitas berdiskusi atau bertanya

antara Peserta Didik dengan guru sebesar 13,04. Sementara itu

tidak ada Peserta Didik yang berperilaku tidak relevan selama

proses pembelajaran pada siklus II.

       Pada hari Kamis 8 Desember 2011 dilaksanakan tes hasil

belajar untuk siklus II menggunakan waktu 1 x 35 menit. Untuk tes

hasil belajar pada siklus I Peserta Didik memperoleh rata-rata

74,23. Pada hari Jumat 9 Desember 2011 peneliti berserta

observer pada pukul 07.00 berkumpul di ruang guru untuk

membahas hasil pengamatan kegiatan pembelajaran pada Siklus

II. Hasil tes hasil belajar untuk Siklus II Peserta Didik memperoleh

rata-rata skor 74,23. Hasil refleksi sebagai berikut:

a. Guru dalam proses pembelajaran sudah berfungsi sebagai

    fasilitator, motivator dan pengambil keputusan.

b. Keberanian Peserta Didik            untuk berdiskusi, bertanya,

    mengemukakan pendapat, dan keberanian tampil di depan

    kelas sudah baik.

c. Sebaiknya proses pembelajaran seperti ini harus tetap

    ditingkatkan, dan digunakan sebagai variasi di dalam proses

    pembelajaran agar Peserta Didik            tidak jenuh belajar

    matematika.
                                                                                  47



C. Pengujian Hipotesis Tindakan/Pertanyaan Penelitian

   1. Pengujian Hipotesis Tindakan

                   Dari deskripsi data yang diperoleh pada siklus I, siklus II

       dan Siklus II diperoleh deskripsi data seluruh siklus, hasilnya

       dapat dilihat pada tabel 4.5 di bawah ini:

                                   Tabel 4.5
         Rekapitulasi Perolehan Nilai Peserta Didik untuk Setiap Siklus

                                    Rerata Skor                      Skor Akhir
         Siklus           Tugas        Tugas          Ulangan        Tes Hasil
                         Individu    Kelompok          Harian         Belajar
              I            61.62        72.70          57.05           63.79
              II           69,05          79,86        73,78           74.23

                   Agar lebih jelasnya berdasarkan data pada tabel 4.5, dapat

       dibuat diagram batang seperti pada gambar 4.1.


         80
         70
         60
         50
         40                                                               Siklus I
         30                                                               Siklus II
         20
         10
          0
                     Tugas       Tugas      Ulangan    Nilai Akhir
                    Individu   Kelompok      Harian     Tes Hasi
                                                        Belajar


         Gambar 4.1 Diagram Batang Hasil Belajar Peserta Didik pada
                               Setiap Siklus
                   Berdasarkan gambar 4.1, tampak dengan jelas terdapat

       peningkatan dari siklus I ke siklus II. Sehingga hipotesis tindakan
                                                                48



   diterima. Artinya penggunaan model Pembelajaran kooperatif Tipe

   Student Teams Achievement Division (STAD) pada materi luas

   bangun datar     dapat meningkatkan hasil belajar matematika

   Peserta Didik   kelas V SD Negeri Sirnasari tahun pelajaran

   2010/2011.

2. Analisis terhadap Pertanyaan Penelitian

         Untuk menjawab pertanyaan penelitian dipandu oleh

   pertanyaan: Apakah terdapat peningkatan aktivitas Peserta Didik

   kelas V SD Negeri Sirnasari tahun pelajaran 2011/2012 selama

   mengikuti pembelajaran materi luas bangun datar        dengan

   menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams

   Achievement Division (STAD)?

         Untuk mengetahui aktivitas Peserta Didik    kelas V SD

   Negeri Sirnasari tahun pelajaran 2011/2012 selama pembelajaran

   materi luas bangun datar         dengan menggunakan model

   pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division

   (STAD) dilakukan pengamatan, dan dapat dilihat hasil dari

   pengamatan pada setiap siklus.

                              Tabel 4.6
           Aktivitas Peserta Didik Selama Pembelajaran
    Menggunakan Model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams
                   Achievement Division (STAD)

                                          Persentase Rerata
   No      Aktivitas yang Diamati       Aktivitas Peserta Didik
                                         Siklus I      Siklus II
   1.   Memperhatikan
                                          21,74 %       6,52%
        informasi/penjelasan guru
                                                                       49



                                            Persentase Rerata
 No        Aktivitas yang Diamati         Aktivitas Peserta Didik
                                           Siklus I      Siklus II
 2.    Membaca bahan ajar/LKPD              17,39 %           15,22%
 3.    Berdiskusi atau bertanya
       antara Peserta Didik dengan              8,70%         13,04%
       guru
 4.    Mengerjakan bahan ajar/LKPD          19,57 %           19,57%
 5.    Berdiskusi atau bertanya antar
       Peserta Didik dalam kelompok
                                            4,35 %            19,57%
       saat menyelesaikan bahan
       ajar/LKPD
 6.    Keberanian mengemukakan
                                            8,70 %            13,04%
       pendapat
 7.    Berani tampil di depan kelas         10,87 %           13,04%
 8.    Berprilaku yang tidak relevan
                                            8,70 %            0,00%
       dengan PBM
                Jumlah                      100,00%           100,00%

      Terdapat penurunan aktivitas memperhatikan informasi atau

penjelasan guru dari siklus I 21,74 % ke siklus II menjadi 6,52% .

Ini menunjukkan meningkatnya aktivitas Peserta Didik               dalam

pembelajaran karena dominasi guru untuk diperhatikan Peserta

Didik di dalam menjelaskan menjadi berkurang. Aktivitas membaca

bahan ajar/LKPD juga mengalami penurunan, dari siklus I 17,39 %

ke siklus II menjadi 15,22%, hal ini menunjukkan Peserta Didik

semakin cepat memahami materi yang diberikan melalui bahan

ajar/LKPD sehingga waktu yang diperlukan untuk membaca bahan

ajar dan LKPD semakin sedikit.

      Aktivitas berdiskusi atau bertanya antar Peserta Didik dalam

kelompok     saat     menyelesaikan     bahan     ajar/LKPD      terdapat

peningkatan yaitu siklus I 4,35 % ke siklus II menjadi 19,57%.

Artinya   aktivitas   Peserta   Didik     dalam     berdiskusi     dalam
                                                                      50



    kelompoknya sebelum mengerjakan LKPD makin meningkat.

    Aktivitas berdiskusi antara Peserta Didik       dengan guru juga

    mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 8,70% ke siklus II

    sebesar 13,04%,. Hal ini dimungkinkan pada siklus I Peserta Didik

    masih malu untuk bertanya kepada guru.

          Aktivitas mengerjakan bahan ajar/LKPD dari siklus I ke siklus

    II tidak mengalami kenaikan yaitu 19,57%, artinya Peserta Didik

    masih merasa perlu memahami konsep melalui bahan ajar/LKPD.

    hal ini dikarenakan Peserta Didik menjadi aktif berdiskusi. Aktivitas

    keberanian mengemukakan pendapat terdapat peningkatan dari

    8,70 % pada siklus I menjadi 13,04% pada siklus II. Hal ini

    menunjukkan Peserta Didik mulai berani mengemukakan pendapat

    jika dibandingkan dengan pada siklus pertama. Sama hal nya

    dengan aktivitas peserta didik berani tampil di depan kelas juga

    mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 10,87% menjadi

    13,04% pada siklus II. Kemudian prilaku yang tidak relevan dalam

    proses PBM mengalami penurunan dari siklus I sebesar 8,70% dan

    pada siklus II tidak terdapat prilaku yang tidak relevan yang

    ditunjukkan peserta didik dalam proses belajar mengajar, hal ini

    dikarenakan adanya perhatian khusus yang diberikan guru

    terhadap peserta didik berprilaku tidak relevan dalam PBM di

    siklus I.

D. Pembahasan

        Penggunaan model Pembelajaran kooperatif Tipe Student

  Teams Achievement Division (STAD) pada materi luas bangun datar

  dapat meningkatkan hasil belajar Peserta Didik kelas V SD Negeri
                                                                         51



Sirnasari. Hal ini dapat terjadi karena pada pembelajaran setiap siklus

menggunakan        ketujuh   komponen       utama    dalam   pembelajaran

kontekstual. Pada komponen konstruktivisme Peserta Didik belajar

melalui bahan ajar dan LKPD sehingga dapat mengembangkan

pemikiran Peserta Didik . Peserta Didik        belajar bermakna dengan

cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan

keterampilan barunya.

       Pada komponen kedua yaitu menemukan dalam pembelajaran

ini Peserta Didik menemukan sendiri rumus keliling dan luas segitiga

dan segiempat. Komponen ketiga yaitu bertanya Peserta Didik dapat

melakukannya kepada teman satu kelompok atau kepada gurunya hal

ini berhubungan dengan komponen keempat yaitu masyarakat belajar,

Peserta Didik      menciptakan masyarakat belajar dalam arti mereka

belajar    dalam    kelompok.   Komponen       kelima    pemodelan     yaitu

menunjukkan model sebagai contoh pembelajaran dilakukan oleh

guru dengan membawa benda-benda nyata dalam kehidupan sehari-

hari ke dalam kelas. Komponen keenam yaitu refleksi dilakukan oleh

guru      pada   kegiatan    menutup   pelajaran     yaitu   dengan    cara

mengadakan koreksi terhadap proses hasil belajar yang perlu

mendapat perhatian.

       Komponen       ketujuh   penilaian     yang      sebenarnya     pada

penggunaan model Pembelajaran kooperatif Tipe Student                 Teams

Achievement Division (STAD) ini guru melakukan penilaian yang

sebenarnya dari berbagai sumber dengan berbagai cara. Contohnya

dalam pembelajaran ini penilaian melalui tes hasil belajar, tugas

individu dan tugas kelompok. Penggunaan model Pembelajaran
                                                                       52



kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) pada

materi luas bangun datar dapat meningkatkan hasil belajar Peserta

Didik     kelas V SD Negeri Sirnasari, karena pada pelaksanaan

pembelajarannya sesuai dengan teori yang dikembangkan.

        Aktivitas   Peserta   Didik      meningkat    pada   pembelajaran

menggunakan model Pembelajaran kooperatif Tipe Student Teams

Achievement Division (STAD) karena Peserta Didik              tidak hanya

mendengarkan penjelasan guru saja dalam pembelajaran, melainkan

mereka aktif mempelajari bahan ajar dan menemukan sendiri cara

memecahkan masalah dari soal-soal latihan yang terdapat pada

LKPD. Peserta Didik aktif mengerjakan tugas yang diberikan guru

seperti tugas individu dan tugas kelompok. Sehingga pada saat

berlangsungnya pembelajaran dari seluruh aktivitas yang diamati oleh

observer menunjukkan terdapatnya peningkatan aktivitas Peserta

Didik     dalam pembelajaran menggunakan model Pembelajaran

kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) pada

materi luas bangun datar .

        Peserta Didik     merasa pembelajaran menggunakan model

Pembelajaran kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division

(STAD) menarik. Peserta Didik lebih mengerti dengan pembelajaran

menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams

Achievement Division (STAD). Walaupun Peserta Didik             tidak bisa

mengerjakan soal tidak menyontek kepada temannya. Peserta Didik

menginginkan        pembelajaran      matematika     menggunakan   model

pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division

(STAD). Peserta Didik lebih senang belajar berkelompok, sehingga
                                                               53



suasana pembelajaran menjaadi lebih aktif dan peserta didik lebih

berkompetisi untuk mendapatkan penghargaan dari guru. Selain itu

Peserta   Didik   lebih   menginginkan   pembelajaran   matematika

menggunakan benda-benda yang ada kaitannya dengan kehidupan

sehari-hari. Menurut Peserta Didik   materi yang diajarkan berguna

dalam kehidupan sehari-hari.
                           DAFTAR PUSTAKA


Amalia Sapriati, dkk. (2008). Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD.
      Jakarta : Universitas Terbuka.

Andayani, dkk. (2009). Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta :
     Universitas Terbuka.

Arikunto, Suharsimi. (1996). Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka
       Cipta.

Dahar, Ratna Wilis. (1996). Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Depdiknas. (2004). Teori Belajar. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Direktorat
      Pendidikan Lanjutan Pertama.

Ibrahim, Muslim, et.al. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya:
       University Press.

Kasbolah, E. S, Kasihani. (1998). Penelitian Tindakan Kelas. Departemen
      pendidikan dan Kebudayaan. Dirjen Dikti Proyek Pendidikan Guru
      Sekolah Dasar

Lie, Anita (2007). Mempraktekan Cooperative Learning di Ruang Kelas.
      Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Lie, Anita. (2003). Cooverative Learning (Mempraktikan Cooverative
      Learning di Ruang-ruang Kelas). Jakarta: Grasindo.

Risanawati. (2005). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
      Student Team Achievement Division (STAD) untuk Meningkatkan
      Kemampuan Pemahaman Siswa. Skripsi Unsil. Tasikmalaya: tidak
      diterbitkan.

Rohmah, Lilis Siti. (2006). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif
     Tipe Student Team Achievement Division (STAD) dalam paya
     Meningkatkan Hasil Belajar Peserta didik . Skripsi Unsil.
     Tasikmalaya: tidak diterbitkan.

Nono Sutarno, dkk. (2008). Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia
     SD. Jakarta : Universitas Terbuka.

Nurhadi dan Agus Gerrad Senduk. (2003). Pembelajaran Kontekstual dan
     Penerapannya dalam KBK. Malang: Uiversitas Negeri Malang.



                                    54
                                                                     55



Slavin, R. E. (1995). Cooperative Learning, Theory, Research, and
       Practice. Massachusetts: Allyn & Boccon.

Suherman, Erman. (2005). Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action
      Research). Makalah. Tidak diterbitkan.

Sujana, Nana. (2005). Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah. Bandung:
      Sinar Baru.

Sukmara, Dian. (2005). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Tim MKBM. (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Komtempoler.
     Bandung: Jika – UPI

Udin S. Winataputra, dkk. (2004). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta :
      Universitas Terbuka.

Wardani, Sri. (2006). Model Pembelajaran Kooperatif Dalam Inovasi
     Pendidikan Matematika. (Makalah Disajikan pada Seminar
     Pendidikan Matematika FKIP Universitas Siliwangi). Tasikmalaya:
     Tidak Diterbitkan
           56



LAMPIRAN
                                                                        57



                       DAFTAR RIWAYAT HIDUP


                 Cucu Nurlaela , Lahir di Garut, 12 Agustus 1969, agama

                 Islam anak kedua pasangan dari Bapak M. Sumantapura dan

                 Ibu Mamah. Tinggal di Kp. Mageung RT 006/002 Desa

                 Sirnasari Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya.

Pendidikan formal yang ditempuh di Sekolah Dasar Negeri Cihideung Cilawu

Garut tahun 1976-1982, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Cilawu

Garut Tahun 1982-1985, SPG Negeri Garut Tahun 1985-1988, kemudian

tahun 1988 melanjutkan pendidikan Program DII di IKIP Bandung Jurusan

Bahasa dan Sasta Sunda, kemudian pada tahun 2010 melanjutkan S1 Pendidikan

Guru Sekolah Dasar di Universitas Pakuan Bogor sampai Sekarang.. Riwayat

pekerjaan, pada tahun 2003-2005 sebagai guru bantu di SD Negeri Sirnasari,

kemudian tahun 2005-2006 CPNSD di SD Negeri Sirnasari Tahun 2005-2006 dan

PNSD di SD Negeri Sirnasari sejak tahun 2006 sampai sekarang.

								
To top