Docstoc

Sejarah panjang kopi ulu

Document Sample
Sejarah panjang kopi ulu Powered By Docstoc
					 Sejarah panjang kopi ulu
             Paninggahan
                                    Oleh Rachman Pasha dan Chandra Wijaya




Kopi Ulu dari Nagari Paninggahan           kepada Belanda untuk selanjutnya
menyimpan cerita sejarah dalam             dikirim keluar Sumatera Barat.
perkembangan kopi di Sumatera Barat.       Masyarakat Paninggahan hanya
Pada areal enclave seluas 1.050 ha         diperbolehkan memanfaatkan daun
yang berada di ketinggian 700 – 900 m      kopi saja kalau mereka ingin
dpl, lereng bukit utara Danau Singkarak    merasakan minum kopi. Masyarakat
inilah pertama kali kopi robusta           terpaksa minum kopi yang berasal dari
diperkenalkan di Sumatera Barat.           daun kopi yang dikeringkan. Kami
Cerita berawal pada tahun 1826, saat       menyebutnya kopi daun. Hingga saat
Pemerintah Kolonial Belanda memulai        ini pun, sebagian dari kami masih suka
program pembangunan perkebunan             mengkonsumsi kopi daun”.
kopi di Nagari Paninggahan untuk           Akibat pelarangan tersebut, maka
memenuhi kebutuhan ekspor.                 timbul reaksi penolakan masyarakat
Menanggapi program tersebut, maka          Paninggahan terhadap keberadaan
beberapa tokoh masyarakat                  perkebunan kopi Belanda. Pada tanggal
Paninggahan menawarkan untuk               21 Juni 1932, diadakanlah rapat nagari
membangun perkebunan kopi rakyat,          yang dipimpin oleh tokoh masyarakat
dimana kopi yang diproduksi nantinya       (ninik mamak) setempat yang
dijual kepada Pemerintah Kolonial          menghasilkan sebuah surat untuk
Belanda. Dengan pertimbangan bahwa         ditujukan kepada Majelis Volksraad di
pembangunan perkebunan rakyat lebih        Batavia agar Perkebunan Kopi Ulu
menguntungkan daripada membuat             dikembalikan kepada masyarakat. Dua
perkebunan pemerintah, baik dari segi      tahun berselang, permintaan tersebut
dana, tenaga maupun waktu, maka            dikabulkan oleh Pemerintah Belanda
usulan ini disetujui oleh Belanda sesuai   melalui surat keputusan
dengan tawaran yang diajukan oleh          No.649/B/1934, sehingga areal
masyarakat Paninggahan saat itu.           Perkebuan Kopi Ulu resmi kembali
Pada awal program, setiap pasangan         menjadi milik masyarakat Paninggahan.
yang baru menikah di daerah                Namun sayang, perkembangan Kopi
Paninggahan diwajibkan membuka             Ulu selanjutnya tidak semulus yang
lahan seluas dua hektar untuk              diharapkan. Semakin lama popularitas     Kebun tua kopi Ulu terlantar yang sudah menjelma
                                                                                    menjadi “Hutan Kopi” | Foto: Rachman Pasha
menanam kopi robusta pada areal            Kopi Ulu di kalangan masyarakat
hutan di daerah hulu (Ulu) dan hingga      Paninggahan mulai menurun, terutama
saat ini perkebunan tersebut dikenal       pada periode 1950-1965. Hal ini
                                                                                    Saat ini perubahan besar terjadi, harga
sebagai Perkebunan Kopi Ulu.               disebabkan karena banyaknya aktivitas
                                                                                    kopi dunia cenderung berada pada
Perkebunan kopi yang dibangun oleh         pemberontakan di masa itu sehingga
                                                                                    harga yang cukup stabil dan terus
masyarakat Paninggahan menghasilkan        menimbulkan ketakutan bagi sebagian
                                                                                    menjanjikan. Minum kopi sudah
kopi robusta berkualitas tinggi,           besar petani untuk menggarap lahan
                                                                                    menjadi salah satu gaya hidup
sehingga pada perkembangannya              perkebunan kopi mereka. Kondisi
                                                                                    masyarakat dunia. Melihat
Pemerintah Kolonial Belanda                tersebut diperburuk dengan harga kopi
                                                                                    perkembangan tersebut, para petani
melakukan monopoli terhadap hasil          yang cenderung tidak menentu dan
                                                                                    dari Nagari Paninggahan memiliki
Perkebunan Kopi Ulu tersebut. Datuk        tingginya biaya produksi; keuntungan
                                                                                    keinginan untuk melakukan revitalisasi
Bungsu, salah satu tokoh masyarakat di     dari kopi yang dihasilkan jauh lebih
                                                                                    kawasan kopi Ulu yang telah puluhan
Paninggahan menuturkan “Ketika itu         sedikit dibandingkan biaya produksi
                                                                                    tahun ditinggalkan. Merekapun
pemerintah Belanda melarang keras          yang dikeluarkan. Hal-hal tersebut
                                                                                    mengusulkan ide ini kepada ICRAF
setiap masyarakat untuk memanfaatkan       akhirnya membuat para petani tidak
                                                                                    melalui program RUPES (Rewarding
dan mengkonsumsi kopi dari hasil           lagi termotivasi untuk mengelola lahan
                                                                                    Upland Poor for the Environmental
panen mereka sendiri. Seluruh biji kopi    mereka, dan akhirnya Perkebunan Kopi
                                                                                    Services They Provide).
yang sudah dipanen, wajib diserahkan       Ulu inipun ditinggalkan.

                                                                                                                                  05
                                                                                                        lahan kebun Kopi Ulu di masa yang
                                                                                                        akan datang.
                                                                                                        Lokakarya ini dilaksanakan pada
                                                                                                        tanggal 19 Desember 2011 bertempat
                                                                                                        di aula kantor Nagari Paninggahan dan
                                                                                                        dihadiri sebanyak 35 orang peserta.
                                                                                                        Para peserta , yang merupakan
                                                                                                        perwakilan dari beberapa pihak terkait
                                                                                                        seperti ICRAF, Dinas Kehutanan
                                                                                                        Kabupaten Solok, Badan Perencanaan
                                                                                                        Pemerintaah Daerah (Bappeda) Solok,
                                                                                                        Camat, serta unsur perwakilan dari
                                                                                                        masyarakat Paninggahan. Pembicara
                                                                                                        pada lokakarya ini antara lain adalah
                                                                                                        Dinas Kehutanan Kabupaten Solok,
                                                                                                        Bappeda Kota Solok, dan ICRAF.
                                                                                                        Beberapa komentar yang muncul
                                                                                                        selama seminar menunjukkan bahwa
                                                                                                        masyarakat menginginkan adanya
                                                                                                        kepastian hukum agar status areal
                                                                                                        enclave perkebunan Kopi Ulu ini dapat
     Kunjungan ICRAF dan Balitkoka Jember ke areal Perkebunan Kopi Ulu untuk melakukan survey potensi   dikembalikan menjadi milik
     pelaksanaan program revitalisasi | Foto: Rachman Pasha                                             masyarakat. Masyarakat juga meminta
                                                                                                        dukungan dari pemerintah untuk dapat
                                                                                                        melanjutkan program revitalisasi Kopi
     Pada tahun 2009, RUPES bekerja sama                Disisi lain, mengingat statusnya sebagai        Ulu yang telah diinisiasi oleh ICRAF
     dengan Pusat Penelitian Kopi dan                   lembaga penelitian internasional di             bersama masyarakat. Masyarakat
     Kakao Indonesia (Balitkoka),                       bawah naungan Kementrian                        tentunya berharap dengan adanya
     merancang suatu program revitalisasi               Kehutanan, ICRAF dan juga program               kejelasan status kebun Kopi Ulu dapat
     melalui dua pendekatan, yakni                      RUPES harus menunggu kejelasan                  mempermudah kegiatan revitalisasi
     peningkatan produktivitas kopi robusta             status lahan sebelum melanjutkan                dan bisa meningkatkan pendapatan
     dan peningkatan nilai tambah berupa                program revitalisasi ini. Hal ini               rumah tangga disamping juga bisa
     kopi robusta organik. Kegiatan utama               menyebabkan program tersebut                    menjaga keutuhan hutan yang berada
     adalah rehabilitasi pohon-pohon kopi               terhenti selama empat tahun.                    di dalamnya.
     yang tidak dan kurang produktif                    Pada Bulan Juli 2011, Kementerian               Pada akhir acara, diperoleh beberapa
     dengan cara sambung menggunakan                    Kehutanan melalui SK Menteri                    kesimpulan, diantaranya terkait status
     entres tanaman kopi unggul lokal.                  Kehutanan No.304/Menhut-II/2011                 lahan kebun Kopi Ulu yang sudah ada
     Namun sangat disayangkan, program                  menyetujui perubahan status beberapa            “tanda-tanda” akan dikembalikan
     ini terpaksa berhenti di tengah jalan              kawasan hutan menjadi areal                     kepada masyarakat Paninggahan.
     karena timbulnya permasalahan terkait              penggunaan lain (APL) pada beberapa             Namun, mengingat hingga saat ini
     kepastian status lahan.                            lokasi di Sumatera Barat. Areal enclave         penjabaran SK Menteri Kehutanan
     Masalah tersebut mengemuka ketika                  Kopi Ulu termasuk di dalamnya.                  tersebut belum dikeluarkan oleh
     Dinas Kehutanan Sumatera Barat,                    Menyikapi hal ini, ICRAF bersama-               pemerintah daerah, maka masyarakat
     menyatakan bahwa daerah ‘enclave’                  sama dengan Dinas Kehutanan                     Paninggahan diminta untuk dapat
     tersebut tidak lagi menjadi milik                  Kabupaten Solok dan pemerintah                  bersabar menunggu sebelum mereka
     masyarakat, tetapi milik pemerintah                Nagari Paninggahan berinisiatif untuk           dapat mengelola kembali kawasan
     berdasarkan hasil pengukuran tata                  melakukan sosialisasi kepada                    kebun Kopi Ulu tersebut. Selain itu,
     batas tahun 1999. Meskipun demikian,               masyarakat Paninggahan dalam bentuk             masyarakat Paninggahan dan ICRAF
     menurut pengakuan masyarakat, pihak                lokakarya sehari dengan tema:                   sebagai inisiator program revitalisasi
     Dinas Kehutanan setempat tidak                     “Sosialisasi status penggunaan lahan            Kopi Ulu mengharapkan program ini
     melibatkan masyarakat ketika                       menuju revitalisasi lahan kebun Kopi            menjadi salah satu agenda kegiatan
     menentukan tata batas, sehingga wajar              Ulu sebagai bentuk pengelolaan hutan            yang dapat dilakukan oleh pemerintah
     apabila hal ini tidak diketahui oleh               lestari bersama masyarakat di Nagari            daerah setempat sebagai salah satu
     masyarakat, sebelum akhirnya muncul                Paninggahan”. Lokakarya ini bertujuan           program kegiatan peningkatan
     program revitalisasi ini. Kondisi ini              untuk mensosialiasikan status lahan             perekonomian masyarakat.
     menyebabkan reaksi penolakan oleh                  perkebunan Kopi Ulu kepada
                                                        masyarakat Nagari Paninggahan berikut           Di masa mendatang, dalam upaya
     masyarakat mengingat mereka tidak
                                                        dengan aturan perundang-undangan                meningkatkan kesejahteraan petani
     pernah diberitahu sebelumnya dan
                                                        yang berkaitan dengan pengelolaan               kopi maupun pendapatan pemerintah,
     dengan pertimbangan bahwa selama
                                                        lahan dan kawasan hutan. Selain itu,            pengembangan kopi organik (organic
     puluhan tahun mereka sudah
                                                        lokakarya ini juga mencari kesepakatan          coffee) merupakan alternatif yang
     mengelola daerah tersebut.
                                                        mengenai bentuk rencana pengelolaan             menjanjikan karena memiliki nilai jual


06
yang baik dan luasnya pasar yang tersedia.
Perkebunan Kopi Ulu dengan jenis kopi
robusta di Nagari Paninggahan sangat
potensial dikembangkan sebagai produsen
kopi organik. Budidaya kopi tradisional
oleh petani di bawah naungan pepohonan
besar di kawasan hutan lindung tanpa
menggunakan pupuk dan pestisida
merupakan modal dasar yang sangat               Suasana seminar
penting dalam pertanian organik. Namun           sosialisasi status
demikian, program ini sangat memerlukan          kepastian lahan
berbagai upaya dan dukungan dari segenap                 kopi Ulu
                                                     Paninggahan
pihak terkait untuk dapat mewujudkan cita-                dengan
cita tersebut. Kalau hal ini terjadi, impian   mengundang para
untuk menyelaraskan antara peningkatan            pembicara dari
perekonomian masyarakat dan lingkungan             instansi terkait
                                                | Foto: Chandra
hidup niscaya akan terwujud di Bumi                        Wijaya
Minangkabau ini di masa-masa mendatang.




                                                                      07

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:36
posted:9/25/2012
language:Malay
pages:3
Description: Sejarah panjang kopi ulu