Pendekatan Terapi untuk Mengurangi Kecanduan Rokok

Document Sample
Pendekatan Terapi untuk Mengurangi Kecanduan Rokok Powered By Docstoc
					                                        Melepaskan Remaja
                                       dari Ketagihan Rokok




A. Pendahuluan
              Merokok adalah salah satu aktivitas yang mudah ditemukan. Hampir di setiap sudut kota
di Indonesia perokok mudah ditemukan. Selain sebagai negara produsen tembakau terbesar, Indonesia
mash menduduki peringkat ketiga jumlah perokok dunia pda tahun 2007. Mengacu pada data world
Health Organization (WHO), 4,8% perokok 1,3 Milyar perokok berasal dari Indonesia. Fakta tersebut
menunjukkan besarnya jumlah perokok di Indonesia.
              Perkembangan angka perokok aktif di Indonesia tergolong cepat. Hal ini ditandai dengan
terus meningkatnya angka perokok remaja di Indonesia. Perokok remaja di Indonesia yang telah
berkisar 13,7 % dari keseluruhan jumlah perokok (2005) meningkat menjadi 37,3 % pada tahun 2007.
Perokok wanita yang berkisar 0,5% pada tahun 2005, meningkat menjadi 1,6 % dari keseluruhan
perokok. Peningkatan cukup signifikan tersebut menunjukkan semakin tingginya angka perokok.
Upaya untuk membatasi rokok terus digalakkan oleh pemerintah. Selain menggalakkan upaya
pendidikan, beberapa daerah tak tanggung-tanggung mengeluarkan peraturan Daerah yang mengatur
aktivitas merokok, terutama di ruang-ruang publik. Sayangnya upaya tersebut masih jauh dari berhasil.
              Banyak faktor yang diduga menjadi pendorong aktivitas merokok pada remaja, antara
lain   pengaruh orang tua, pengaruh pergaulan, kepribadian dan pengaruh iklan. Atkinson, (1999)
menilai perilaku merokok karena faktor kepribadian muncul sebagai bentuk pelarian. Merokok
dilakukan untuk melarikan diri atau mengalihkan perhatian dari rasa sakit, ketegangan atau persoalan
lain yang menjadi tekanan.
              Faktor lingkungan menjadi salah satu pemicu perilaku merokok pada remaja. Orangtua
dan pergaulan menjadi sumber contoh perilaku merokok. Bachri (1991) menilai situasi lingkungan
cukup memberikan kontribusi atas perilaku merokok. Individu yang berada dalam lingkungan perokok
memiliki kecenderungan lebih besar untuk merokok. Faktor lingkungan ini kian meresahkan karena
semakin luasnya lingkungan yang dipenuhi aktivitas merokok. Sekolah sebagai salah satu ruang belajar
pun kini tak dapat menghindar dari persoalan rokok. Perokok umumnya merokok dari sejak usia
remaja. Perilaku tersebut kini dapat dengan mudah ditemui di sekolah.
              Perilaku merokok erat kaitannya dengan lingkungan dan cara pandang tentang rokok itu
sendiri. Masyarakat yang permisif dengan rokok secara luas, akan terus melahirkan generasi perokok.
Salah satu bentuk permisifitas terhadap rokok adalah pembiaran atas aktivitas tersebut. Di lain sisi,
pelbagai informasi rinci masih kalah gencar tinimbang iklan rokok itu sendiri. Perusahaan rokok hanya
berkewajiban untuk menuliskan akibat rokok dalam ukuran yang kecil pada bungkus rokok dan iklan.
Sementara, iklan rokok dibuat secara megah dan berbiaya tinggi untuk mengejar kualitas. Permisifitas
lain yang tampak adalah sedikitnya upaya untuk menghentikan rokok dibandingkan dengan kampnye
pengenalan rokok itu sendiri. Penerimaan terhadap rokok juga dapat terjadi karena menganggap rokok
tidak banyak memiliki pengaruh negatif.
                 Rokok merupakan ancaman besar terkait dengan kesehatan manusia. Meski perilaku ini
menggerakkan ekonomi, tetapi aktivitas ini tetap tidak boleh dipandang sebelah mata. Pelbagai bahan
kimia terkandung dalam batang rokok, seperti nikotin, Karbonmonoksida (CO) dan tar. Masih banyak
lagi senyawa kimia yang ada dalam rokok. Rokok berefek langsung pada senyawa kimia dalam otak.
Karena itu, efek kecanduan sering karli menjadi penghalang seseorang berhenti merokok. Asupan
senyawa kimia yang diterima otak, jika dibiasakan, akan menjadi bahan kimia yang menimbulkan efek
adiksi atau ketagihan. Dari sisi kesehatan, tar, nikotin dan CO memberikan efek negatif bagi kesehatan.
Tar tidak hanya memenuhi kantung paru-paru saat seseorang merokok, tetapi juga memicu darang
tinggi dan detak jantung yang meningkat (Kendal &Hammen, 1998).
                 Perilaku merokok secara umum dapat diiobati menggunakan pendekatan modifikasi
perilaku. Merokok adalah salah satu bentuk dari perilaku yang teramati (overt). Karena itu, perilaku ini
dapat dihentikan dengan menggunakan prses dan prosedur modifikasi tersebut. Tulisan ini akan
memaparkan teknik modifikasi perilaku dengan menggunakan pendekatan CBT. Penggunaan
pendekatan ini memungkinkan seseorang untuk dapat menjalani terapi berkala untuk berhenti dari
kebiasaan ini.


B. Rencana Perlakuan
   1. Assessmen Permulaan
   Assessmen dilakukan untuk mengetahui secara terperinci pelbagai kebutuhan subyek. Subyek akan
   diminta untuk mengisi formulir isian yang berisi data diri. Turut diperhatikan pula, pada fase ini,
   tingkat ketakutan perokok. Penyebab perilaku merokok, penguat yang membuat aktivitas ini
   diteruskan akan menjadi salah satu fokus dalam fase awal ini.


   2. Perilaku yang hendak dicapai
   Pembangunan kesepahaman terkait dengan perilaku yang ingin dicapai oleh perokok harus
   dilakukan sedari awal. “Kontrak” perlu dibuat dengan kesepahaman bersama tentang terapi yang
   akan diberikan.
3. Teknik yang akan digunakan
    Penentuan teknik intervensi untuk mengatasi perilaku merokok harus sepenuhnya diketahui
oleh subyek. Hal ini menyangkut pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan aspek hak
untuk mengambil keputusan akurat setelah sepenuhnya mengetahui aspek-aspek dalam treament
tersebut (free, prior and informed consent).
    Pada terapi kecanduan rokok ini, pendekatan cognitive behavioral therapy (CBT) akan dipilih.
Bentuk penanganan yang akan diberikan dalam terapi ini adalah teknik rapid smoking yang memang
disusun secara khusus untuk menyelesaikan persoalan kecanduan rokok. Terpi jenis ini
menggunakan prosedur pengkondisian aversif yang menimbulkan konsekuensi internal. Respon
berupa mual yang timbul saat     pemberian terapi ini adalah bentuk aversif dari perilaku merokok
sebelumnya. Perlakuan ini relatif aman dalam aspek kesehatan. Terapi ini beroperasi dengan cara
memasangkan rokok dengan konsekuensi tertentu, seperti mual dan pusing. Pemberian rekasi ini
dilakukan secara terus menerus saat klien kembali merokok. Pemberiannya dilakukan hingga dosis
tertinggi.
    Mengingat efek yang tidak mengenakkan akan terjadi jika perokok mengulangi aktivitas
merokok, maka subyek harus terlebih dahulu mengetahui secara rinci akibat yang akan ditimbulkan
dari terapi ini. Persetujuan juga menjadi hal yang sangat penting dalam terapi ini. Agar efektif,
perokok diharapkan tidak berhenti di tengah proses penyembuhan. Perokok harus bisa menahan diri
agar tetap melanjutkan proses pengobatan ini saat merokok menimbulkan efek yang tidak
menyenangkan. Terapi ini tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus didukung dengan penguatan
kognitif. Penguatan kognitif dapat dilakukan oleh pihak keluarga atau pihak profesional yang
ditunjuk untuk menjelaskan akibat dari merokok dan efek yang akan tmbul baik pada jangka
panjang maupun jangka pendek.
    Rapid smoking dilakukan dalam bentuk sesi khusus yang terfokus pada persoalan merokok.
Perokok diminta untuk membawa rokok sendiri. Pada setiap sesi, perokok diminta untuk menghisap
rokoknya setiap 6 detik. Isapan rokok yang terus menerus dalam deret hitung waktu yang singkat
tetu akan menimbulkan efek mual dan pusing. Pada situasi tersebut terapis akan memberikan
pelbagai keterangan yang mendorong perokok untuk segera meghentikan aktivitas merokok secara
total. Pada sesi ini, perokok dilarang untuk merokok pada waktu jeda.
    Saat perokok sedang merokok, terapis terus memberikan arahan dan motivasi pada perokok
untuk menyelesaikan sesi sambil terus berkonsentrasi atas efek aversif yang ditimbulkan oleh
aktivitas tersebut. Subyek juga diminta untuk membuat skala ketidaknyamanan dari 1-10.
     Idealnya sesi ini dijalani secara ketat dan rutin. Sesi dapat dilakukan setiap hari secara berturut-
turut. Terapis harus berani meyakinkan perokok untuk meneruskan sesi hingga tuntas meskipun
besar kemungkinan bagi subyek untuk melakukan negosiasi waktu pelaksanaan terapi agar menjadi
lebih leluasa. Terapis berhak menolak permintaan tersebut.
     Terapi ini idealnya juga diikuti dengan upaya yang mendukung kembalinya perilaku tersebut,
seperti bergabung dengan sesama perokok, mengaitkan aktvitas merokok dengan aktivitas lain,
seperti sehabis makan atau saat buang air besar. Sesi ini juga harus diperkuat dengan menghidari
pemicu dasar, yaitu ketersediaan rokok itu sendiri.


4. Penjelasan isi treatmen
     Subyek harus terbih dahulu mengetahui secara rinci tahapan, model dan akibat yang dapat
muncul dari keseluruhan terapi ini.


5. Membuat kontrak perubahan perilaku
     Kontrak perubahan perilaku menjadi faktor yang sangat penting. Klien diminta untuk tetap
konsisten untuk menjaga perilaku merokok agar tidak terulang di luar sesi terapi. Merokok sangat
mungkin terjadi di luar sesi dan tanpa sepengetahuan terapi, namun terapis harus meyakinkan
komitmen bersama antara keduanya untuk menghindari rokok di luar sesi pengobatan. Kontrak
perubahan perilaku berisi kesepahaman dan kesepakan bagi subyek untuk meneruskan terapi meski
memperoleh efek tidak menyenangkan pada proses terapi.


5.   Self Monitoring
     Self monitoring menjadi hal penting lainnya di mana subyek diarahkan untuk tetap mengingat
kontrak berhenti merokok sekaligus untuk membuat catatan perubahan perilaku setelah mengikuti
sesi. Jika sesi diadakan sebanyak 10 kali, maka terapis akan memonitor perilaku tersebut melalui
penugasan selama wakt itu pula.


6.   Memberikan Feedback dan pemeliharaan perilaku
     Pemberian umpan balik menjadi hal yang sangat krusial dalam proses terapi. Bagi terapis,
umpan balik dapat memerkaya pengalaman melalui masukan klien. Bagi klien, umpan balik dapat
bermanfaat sebagai bagian reflektif untuk mengingat dan merekam keseluruhan program ini.
     Keterlibatan terapis masih menjadi salah satu hal penting. Terapis harus menyusun jadwal
kontrol untuk memastikan perilaku yang telah dihilangkan tidak kembali atau dimunculkan kembali.
C. Penutup
             Pendekatan aversif ini terbukti mampu banyak membantu penyelesaian kasus kacnaduan
rokok. Pemeberian efek aversif dapat memberikan efek jera. Mekanisme penghapusan perilaku dengan
memasangkan perilaku tersebut dengan akibat yang tidak menyenangkan menjadi salah satu faktor
yang membuat banyak klien yang menggunakan rapid smoking berhasil keluar dari kecanduan rokok.
             Modifikasi perilaku seperti ini, tetap membutuhkan dukungan pelbagai pihak, terutama
subyek sendiri. Subyek perlu memelihara keterlepasan dari rorok dengan mengontrol pertemuan atau
kedekatan dengan aspek-aspek yang dapat memicu kemucnulan perilaku itu kembali.
                                      Daftar Pustaka


Kendal, P.C. & Hammen, C., 1998. Abnormal Psychology Understanding
Human Problem. New York: Houghton Mifflin Company.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:82
posted:9/24/2012
language:Malay
pages:6