Docstoc

Pengaruh Sosial Media Terhadap Perkembangan Anak

Document Sample
Pengaruh Sosial Media Terhadap Perkembangan Anak Powered By Docstoc
					                           Sosial Media dan Perkembangan

                               Kemampuan Sosialisasi Anak



Pengantar

             Perkembangan teknologi pertelevisian sejak tahun 1941 telah diprediksi
oleh banyak pihak akan mempengaruhi masa depan komunikasi manusia. Televisi yang
pada dekade 1940an telah tersebar kira-kira sebanyak 5000 unit di Amerika Serikat
diperkirakan akan terus berkembang dan tersebar luas ke dunia lain dalam kurun waktu
yang singkat (Biocca & Frank & Levy, 1995). Tenologi televisi pada era tersebut
melampaui teknologi radio dan telegraph yang sebelumnya telah terlebih dahulu menjadi
pilihan alat komunikasi. Era ini menandai kemuncula era dunia maya atau dunia virtual.

             Pada tahun 1970an sebuah teknologi baru diperkenalkan kepada
manusia: internet. Perkembangan teknologi komputer yang berkembang sejak era
1960an melalui pelbagai upaya menemukan alternatif teknologi baru. Pada tahun 1971,
konsep surat elektronik (electronic mail atau email) diperkenalkan oleh Ray Tomplin.
Teknologi ini terus bertahan dan berkembang hingga saat ini. Penemuan microprocessor
pertama pada tahun 1974 melejitkan nama perusahaan Apple yang meluncurkan
komputer perseorangan (personal Computer/PC) pertama. Perkembangan teknologi
komputer pada fase ini turut diramaikan dengan kehadiran Windows 1.0 pada tahun
1985. Tak mau kalah bersaing dengan Apple yang merupakan pesaing terdekat,
Microsoft mecoba melakukan intensifikasi perbaikan pada sistem dan teknologi yang
diciptakannya (Smith, 2007).

             Teknologi internet berkembang pesat setelah konsep World Wide Web
(www) diperkenallkan pada tahun 1992 oleh Asosiasi Nuklir Eropa (NCSA). Persaingan
berkembang pesat di kalangan pegiat teknologi untuk menyambut kehadiran teeknologi
informasi ini. Netscape (kini dikuasai Mozilla) dan Microsoft, keduanya bersaing untuk
memperoleh sebanyak mungkin pengguna yang mulai tertarik menggunakan teknologi
yang akhirnya digunakan secara massal oleh publik ini. Bahasa pemograman Hyper Text
Mark up Language (HTML) yang menjadi bahasa pemrograman komputer sebagai
bahasa penterjemah ke dalam mesin web dikembangkan pada era ini (Smith, 2007;
Palfrey & Gasser 2008).

             Perkembangan teknologi internet pada masa awal ini lebih dikenal dengan
web 1.0. Saat ini perbincangan teknologi internet telah mencapai konsep web 3.0. Meski

                                           2
demikian, perkembangan web 2.0 adalah yang terpesat dalam perkembangan teknologi
internet itu sendiri. Konsep 1.0 menunjuk pada konsep berselancar (surfing) melalui
internet. Web 1.0 bersifat satu arah dan hanya memberikan ruang bagi seseorang untuk
mencari (search) dan menemukan hal-hal yang telah disediakan secara baku oleh
produsen web. Web 2.0 merupakan perkembangan lebih lanjut dari 1.0 yang
memberikan kesempatan bagi pengguna untuk tidak hanya menemukan tetapi juga
berkontribusi dan berhubungan dengan orang lain melalui sambungan internet. Web 2.0
mengeluarkan orang dari pola pikir satu arah seperti yang diperkenalkan dalam dua
teknologi sebelumnya, yaitu radio dan televisi. Web 2.0 memberikan kesempatan bagis
setiap orang untuk melakukan kreasi secara terlibat dalam dunia maya internet. Sebagai
contoh, jumlah artikel di Wikipedia berbahasa Inggris hanya berjumlah kurang dari 20
ribu artikel pada tahun 2002 dan berkembang pesat menjadi hampir 2,5 juta pada awal
tahun 2009 (Ryan, 2010).

              Teknologi sosial media adalah salah satu puncak perkembangan web 2.0.
Sosial media berkembang melalui fase yang cepat dimulai dari blog yang
memungkinkan interaksi, hingga sosial media yang langsung menjadi jembatan
komunikasi antar perseorangan, seperti Facebook dan Twitter yang menjadi dua sosial
media paling populer saat ini, termasuk Indonesia.

              Perkembangan penggunaan teknologi internet di Indonesia pun tak cukup
pesat jika dilihat dari indikator penggunaan sosial media. Socialbakers mencatat tak
kurang dari 40 juta orang Indonesia menggunakan jejaring sosial Facebook pada awal
2011. Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kominfo), seperti dikutip Nugroho (2010),
menampilkan data pengguna sosial media yang cukup tinggi pada masyarakat
Indonesia. Pengguna Facebook adalah yang terbesar dan mengalahkan pengguna
mesin pencari google selama tahun 2010.




        Data Kominfo dalam Yanuar Nugroho (2010).


                                            3
             Perkembangan dunia maya melalui perkembangan teknologi informasi
dan komunikasi (TIK) di satu sisi menjadi peluang cukup besar bagi demokratisasi
informasi dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Meski demikian,
beberapa pertanyaan mendasar tentang perkembangan teknologi ini masih terus
berkembang. Sebegai sebuah teknologi yang tergolong baru              bagi masyarakat
Indonesia, perkembangan internet menjadi bukan tanpa resiko bagi kelompok maupun
perseorangan.    Fenomena   pornografi,   kekerasan   dunia   maya,    kejahatan   dan
pelanggaran hak cipta masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah dan masyarakat
Indonesia.

             Pertanyaan mendasar lain dari kehadiran TIK di tengah masyarakat
sangat terkait dengan fungsionalitas dan ancaman. Internet bagaimanapun masih
dituduh menjauhkan orang-orang dari lingkungan sosialnya. Keterhubungan dalam dunia
maya dinilai tidak bisa digantikan dengan kulitas pertemuan tatap muka. Selain itu
ancaman-ancaman potensi negatif yang hadir bersama internet terus dipersoalkan dan
dipertanyakan.

             Kelompok anak dan remaja adalah kelompok yang paling rentan dan
banyak dikhawatirkan dalam penggunaan teknologi internet. Palfrey dan Gasser (2008)
dalam Born Digital menyebut generasi kini yang berhubungan langsung dengan dunia
maya sebagai digital native atau kelompok yang secara sosial yang umum langsung
memiliki keterhubungan dengan dunia dijital.    Keterhubungan dengan dunia dijital
menempatkan anak memiliki akses yang hampir tak terbatas. Hanya saja belum tentu
keseluruhan konten yang menjadi konsekuensi terbukanya akses informasi tersebut laik
dan sesuai dengan periode perkembangan anak dan remaja.

             Tulisan ini mencoba untuk memaparkan perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi dengan perkembangan anak. Fokus tulisan ini adalah
penggunaan TIK internet dan hubungannya dengan diskursus perkembangan anak. Titik
tekan tulisan ini adalah dinamika penggunaan sosial media pada anak dan remaja
dikaitkan dengan perkembangan sosial.


Akses Terhadap Dunia Dijital dan Sosial Media

             Keteraksesan internet di Indonesia memang tidak bisa disamakan dengan
akses di negara lain, termasuk beberapa negara di Asia Tenggara seperti Malaysia dan
Singapura. Namun perkembangan akses internet di Indonesia kini telah merambah,


                                          4
bahkan, ke wilayah-wilayah yang sebelumnya diperkirakan sulit untuk memperoleh
akses komunikasi tersebut.

              Mengutip data Manggalany (2010), dalam Penelitian Yanuar Nugroho
(2010), keteraksesan internet di Indonesia belumlah merata. Namun fakta tersebut tidak
berbanding terbalik dengan perkembangan penggunaan internet. Sebaran akses internet
berkualitas baik --ditandai dengan ketersediaan infrastruktur dan bandwith yang cukup--
yang tidak merata tetap diikuti dengan tinginya pengguna internet di Indonesia. Mengacu
pada penggunaan Jejaring Sosial Facebook yang mencapai 40 juta menunjukkan
tingginya penggunaan internet di Indonesia yang berpenduduk total sebesar 239 juta
orang.




         Dikutip dari Yanuar Nugroho (2010).



              Keteraksesan dunia dijital kini tidak lagi sebatas pada penggunaan alat-
alat komunikasi yang diam, seperti komputer pribadi (PC) tetapi sudah merambah pada
alat-alat komunikasi yang sangat personal, yaitu telepon seluler ponsel. Meski tidak
semua perangkat ponsel terhubung secara langsung dengan internet, namun inovasi
penyedia layanan kini telah memungkinkan proses mengakses sosial media, seperti
twitter dan facebook melalui Layanan pesan singkat (short message service/SMS). Data
yang dikeluarkan ICT watch (2010) menunjukkan bahwa 150 juta pengguna ponsel
terdaftar di Indonesia. Kemilikan telepon seluler memang tidak bisa disamaratakan
karena ada fakta satu orang memiliki lebih dari satu buah, Namun, bila dihitung secara
rerata, maka 1 dari 2 penduduk Indonesia memiliki telepon seluler.



                                               5
                Data Socialbarkers (2011).



              Kombinasi perkembangan teknologi perangkat bergerak (mobile devices)
dan penyedia layanan data memasifkan penggunaan teknologi internet dari perangkat
yang personal. Kehadiran telepon multifungsi (smartphone) seakan menyuguhkan
internet langsung ke pengguna akhir (end user).

              Fenomena kehadiran warung internet (warnet) juga menjadi faktor yang
cukup membantu penyebarluasan internet. Seseorang yang tidak memliki akses internet
dapat menyewa layanan penyedian akses dengan harga yang cukup beragam.
Kehadiran teknologi bergerak pada perangkat keras komputer jinjing (laptop) yang
didukung dengan semakin banyaknya titik akses (access point) internet semain
memperluas penetrasi teknologi ini di tengah masyarakat.

              Uraian ini menunjukkan bahwa internet bukanlah sesuatu yang aneh
melainkan sudah menjadi keawaman sehari-hari masyarakat. Internet menjadi bagian
yang tidak terpisahkan dari masyarakat dan perseorangan.

              Generasi yang selalu Online adalah istilah yang cukup dikenal saat ini.
Istilah ini menunjukkan dua hal sekaligus, yaitu kecenderungan mengakses informasi
melalui internet yang tinggi, serta keteraksesan informasi melalui internet yang cukup.
Palfrey dan Gasser memperkenalkan istilah digital native yang menujuk situasi bahwa
anak dan remaja hidup secara langsung berhadapan dan berkenalan dengan teknologi
dijital (Palfrey & Gasser 2008).

              Persoalan utama dalam perbicangan akses terhadap informasi melalui
internet tidak melulu terkait dengan ketersediaan infrastruktur teknologi. Diskusi-diskusi
ini juga sering menjadikan konten sebagai salah satu fokus. Semakin lebarnya
keteraksesan atas teknologi semakin memungkinkan setiap orang memperoleh
informasi terbaru secara lebih mudah, murah dan terbuka. Sebaliknya orang juga


                                             6
memperoleh kesempatan yang sama untuk memproduksi dan menyebarluaskan
informasi.



Sosial Media dan Perkembangan Kemampuan sosialisasi Anak

             Penggunaan sosial media pada anak dan remaja di beberapa negara
menunjukkan kebutuhan adanya perhatian serius orangtua. Meski belum terdapat
penelitian khusus yang menjelaskan konteks spesifik penggunaan sosial media pada
anak di Indonesia, penemuan-penemuan tersebut bisa menjadi rujukan pola bagi orang
tua di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh NetSmartZ menunjukkan 61 persen
anak berusia 13-17 tahun di Amerika memiliki halaman profil (profil page) di sosial
media; 71 persen pernah menerima pesan dari orang yang tidak dikenali; 45 persen
pernah dimintai informasi pribadi oleh orang yang tidak dikenali; 30 persen menyatakan
ingin bertemu dengan orang yang dikenal melalui sosial media dan belum pernah
bertemu atau dikenali sebelumnya; dan 15       persen menemui kenalan dalam sosial
media yang tidak dikenal sebelumnya (Smith, 2007).

             Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Hampshire pada tahun 2003
tentang perilaku mengakses atau keterhubungan dengan konten sexual pada anak juga
menunjukkan persoalan serius yang membutuhkan perhatian orang tua. Sejumlah 796
anak laki-laki dan 705 perempuan menjadi informan survey ini. Angka-angka statistik
yang diperoleh dalam penelitian ini sungguh mengejutkan. Sebanyak 25 persen
narasumber melaporkan menerima gambar tidak diinginkan yang menyajikan konten
seksual, 73 persen menyatakan munculnya gambar tersebut saat berselancar di internet
dan pesan lebih yang mengandung konten seksual disampaikan melalui pesan internet
(internet messenger); 32 persen gambar yang disampaikan kepada responden
menunjukan gambar orang yang sedang melakukan hubungan seksual, 92 persen email
atau pesan ditrima dari pengirim yang tidak dikenali; 52 persen anak laki-laki menolak
konten tersebut, sementara 42 persen anak perempuan menyaksikannya; dan 60 anak
yang berusia lebih dari 15 tahun lebih banyak tertarik untuk mengakses jika
dibandingkan dengan anak yang berusia lebih muda (Smith, 2007).

             Menurut Syarifudin (2010) interaksi dalam dunia maya, seperti interaksi
menggunakan sosial media memiliki aspek positif dan negatif secara bersamaan.
Pengarus kedua aspek tersebut sangat dipengaruhi oleh pola asuh, kepercayaan dan




                                           7
kemandirian anak atau remaja dalam menggunakan internet (Syarifudin, Dkk, 2010).
Beberapa hal negatif dalam penggunaan sosial media, antara lain:

          1.   Berkembangnya keterampilan teknis dan sosial yang dibutuhkan oleh
               anak dan remaja di dunia maya yang sebenarnya dibutuhkan dalam
               perkembangan dunia dijital. Melalui sosial media anak dan remaja dapat
               belajar untuk bersosialisasi dan memperlajari keragaman dengan
               kemungkinan pertemuan dengan orang lain yang berbeda.

          2.   Perkembangan      motivasi    anak   dan   remaja   melalui   persentuhan,
               komunikasi dan interaksi dengan orang lain yang dijumpai dalam dunia
               masya dan upaya memberikan umpan balik (feed back) satu sama lain.

          3.   Perkembangan sikap dan sifat empatik anak terhadap orang lain, seperti
               melalui apresiasi atas hari kelahiran, memberikan umpan balik atas
               informasi yang disampaikan oleh orang lain dan berlatih memberikan
               intensi kepada orang lain .

          4.   Perluasan pertemanan dengan orang lain dari pelbagai latar belakang
               kultur, pengalaman dan zona geografis yang berbeda. Pertemuan dalam
               dunia sosial media sangat memungkinkan seorang anak memiliki teman
               dalam sosial media meski dengan tanpa pernah bertemu muka.

               Selain aspek-aspek positif tersebut, sosial media juga memiliki resiko dan
aspek negatif yang perlu diwaspadai oleh orangtua (Syarifudin, Dkk, 2010). Beberapa
aspek tersebut, antara lain:

          1.   Perubahan pola belajar anak akibat ketergantungan dan kecanduan
               terhadap sosial media. Kecanduan sosial media juga dapat menimbulkan
               kemalasan anak untuk melakukan atau menikuti proses belajar. Tak
               jarang sosial media juga menjadi faktor pengganggu atas perkembangan
               komunikasi di dunia nyata. Minimnya persinggungan dengan dunia sosial
               nyata menyebabkan anak tidak mempelajari ekspresi, seperti bahasa
               tubuh dan nada suara.

          2.   Egoisme yang tumbuh pada anak akibat kurangnya dinamika persentuhan
               dengan dunia sosial.

          3.   Kesulitan membedakan bahasa komunikasi dalam dunia maya dan nyata
               akibat tidak adanya aturan kebahasaan formal dan intonasi yang


                                              8
              menyertai komunikasi melalui sosial media. Hal tersebut juga diperkirakan
              dapat mempengaruhi perkembangan kebahasaan anak.

         4.   Ancaman kejahatan dunia maya yang dilakukan oleh orang yang tidak
              dikenali dengan baik di dunia nyata.

              Perkembangan kemampuan bersosialisasi pada anak sangat ditentukan
oleh pola dan rekanan sosialisasi yang secara intesif berhubungan. Anak yang memiliki
kecenderungan untuk menjauh dari situasi sosial memiliki pengalaman yang sedikit
untuk dipelajari sebagai dasar kemampuan sosial. Perkembangan kemampuan
sosialisasi anak tersebut turut dipengaruhi oleh sejauh mana intensitas anak bertemu
dan berinteraksi bersama dengan rekan sebaya, keluarga dan situasi sosial.

              Persinggungan     anak   dengan    dunia   sosial   nyata   memberikannya
kesempatan untuk mengetahui, mengevaluasi dan melatih diri dalam penguasaan
asoek-aspek   penting   dalam    perkembangan,       terutama   yang   berkaitan   dengan
kemampuan bersosialisasi. Kemampuan bersosialisasi adalah kemampuan seseorang
untuk melakukan adaptasi atau penyesuaian diri terhadap situasi kelompoknya.
Kegagalan dalam proses penyesuaian diri dapat mengganggu tumbuh kembang anak
dan penyesuaian perkembangan pada tahap selanjutnya (Hurlock, 2002).

              Santrock (1998) menjelaskan bahwa perkembangan anak sangat
ditentukan dengan sosialiasinya terhadap beberapa elemen sosial lain, yaitu keluarga,
lingkungan sebaya dan tempat pendidikan (sekolah). Persinggungan tersebut
memungkinkan anak memiliki beberapa opsi atau pilihan bentuk sosialiasi.

              Hurlock (2002) menjelaskan perlunya kemampuan penyesuaian diri pada
anak yang memungkinkan anak untuk menempatkan diri dalam seting sosialnya. Bagi
Hurlock, tugas ini adalah bagian dari tugas perkembangan anak. Melalui proses
sosialiasi anak akan memperlajari beberapa aspek mental dan emosi seperti empati,
kemampuan komunikasi interpersonal, kooperasi dan bekerja dalam kelompok.
Kemampuan-kemampuan tersebut akan membentuk pola perilaku dan interaksi anak
hingga dewasa.

              Penggunaan sosial media yang melebihi ambang batas dan mengalahkan
pertemuan atau persentuhan anak dalam lingkungan sosial nyata mendorong anak
untuk tidak terampil memiliki keterampilan-keterampilan khusus bersosialisasi. Patutu
diperhatikan sebeklumnya bahwa pola komunikasi melalui sosial media tidak
menyertakan emosi dan ekspresi. Artinya semakin masif dan lamanya durasi

                                            9
penggunaan sosial media akan semakin menggangu fase perkembangan tersebut.
Orangtua pada konteks ini sangat diharapkan mampu berperan untuk memberikan
batasan agar aktivitas sosial media anak di dunia maya tidak mengganggu
perkembangan di dunia nyata.

              Syarifudin (2010) memaparkan beberapa model kerja yang dapat
dijadikan acuan dalam proses kontrol atas penggunaan sosial media. Orangtua idealnya
dianjurkan untuk membuka diri atau bersikap terbuka kepada anak sehingga termasuk
dalam penggunaan internet dan sosial media.Keterbukaan ini adalah gerbang kontrol
terhadap perilaku penggunaan sosial media. Selain keterbukaan orangtua perlu
membangun kesepakatan dengan anak tentang penggunaan sosial media. Prinsip
kesepahaman ini harus tetap dalam koridor menempatkan anak dalam situasi yang
nyaman dan tidak merasa terancam.

              Melalui keterbukaan tersebut orangtua bisa memasukkan nilai dan
mengarahkan penggunaan internet, termasuk sosial media kepada anak. Orangtua pun
perlu sesekali mengalihkan anak dari aktivitas maya dengan menyediakan aktivitas-
aktivitas lain yang dapat menggantikan aktivitas dunia maya (Syaripudin).



Penutup

              Sosial   media    sebagai    sebuah    fenomenatidak     terleakkan   dari
perkembangan internet harus ditempatkan secara proporsional oleh orangtua.
Kesempatan mengakses dan menggunakan sosial media pada anak harus diarahkan
sebagai sebuah tindakan yang tepat guna dan berbatas. Anak perlu juga diarahkan
untuk memahami implikasi dari penggunaan sosial media. Hanya saja proses penjelasan
atas penggunaannya perlu disesuaikan dengan bahasa dan kapasitas sesuai dengan
usia perkembangannya.

              Literasi media yang dulu hanya terfokus pada televisi dan bacaan tercetak
kini perlu juga dipelajari dlaam konteks penggunaan internet yang sehat, termasuk sosial
media. Dengan memperlajari literasi ini orangtua dapat mengambil tindakan yang sesuai
, proposrsional dan tidak menghalangi anak untuk menyesuaikan diri dengan
perkembangan teknologi yang sudah menjadi bagian dari era saat anak tumbuh dan
berkembang.




                                           10
                                      Daftar Pustaka



Frank,. B & Levy & Mark R. (1995). Communication in the Age of Virtual Reality.
              London: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.

Nugroho., Y (2010). Civic in Action. Manchester: Manchester Institute of Innovation
              Research.

Palfrey,. J & Gasser,. U (2008). Born Digital: Understanding First Generation of Digital
              Natives. New York: Basic Book.

Ryan., J (2010). History of the Internet dan Digital Future. London: Reaktion Books ltd

Smith,. G. S (2007). How to protect your children on the Internet : a roadmap for parents
              and teachers. London: Praeger Publishers.

Syaripudin., A & Aminudin, A & Taufik,. A (2010). Internet Sehat. Jakarta: Internet Sehat-
              ICT Watch




                                            11

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:344
posted:9/24/2012
language:
pages:10