Docstoc

Mauidhoh Hasanah

Document Sample
Mauidhoh Hasanah Powered By Docstoc
					      Tidak terasa kita sudah berada di separuh bulan Syawal, itu berarti, kita masih berada di bulan
kemenangan. Bagi mereka yang telah berhasil menjalankan puasa secara sempurna, Allah akan
memberikan pahala yang sangat besar dengan melipatgandakan pahala ibadah serta mengampuni dosa-
dosanya. Sehingga saat memasuki Hari Raya Idul Fitri benar-benar dalam kondisi fitrah seperti halnya
bayi yang baru lahir dari rahim ibunya dan belum ada sedikitpun salah dan dosa. Yang dimaksud dosa
yang diampuni disini adalah dosa antara hubungan makhluk dengan Sang Kholiq (Allah
SWT/Hablumminallah), sementara dosa dengan sesama makhluk (manusia/Hablumminannas) masih
tetap ada selama kita belum meminta maaf kepada orang yang pernah kita dhalimi. Karena itu, ketika
memasuki Hari Raya Idul Fitri kita dianjurkan untuk saling bersilaturrahim untuk memohon maaf
antarsesama.
      Sebelum saya bahas tentang pentingnya bersilaturrahim ini. Saya akan sedikit membahas tentang
kepergian Ramadhan. Di balik kemenangan menjalankan ibadah puasa, berakhirnya Ramadhan justru
merupakan musibah yang sangat besar bagi umat Islam sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW
yang diriwayatkan oleh Sahabat Jabir RA, yang artinya, “Apabila telah tiba akhir Ramadan, maka
langit, bumi dan para malaikat menangis karena adanya musibah bagi umat Muhammad SAW. Lalu
sahabat bertanya, Musibah yang manakah ya Rasul? Nabi menjawab, berakhirnya bulan Ramadhan,
karena di dalam bulan Ramadhan semua doa dikabulkan, sodaqoh diterima, kebaikan dilipatgandakan,
dan siksa dihentikan. Maka dari itu, apakah itu tidak sebuah musibah bagi kita?
      Di bulan Ramadhan secara jelas kita rasakan peningkatan kualitas dan kuantitas amal ibadah kita
secara luar biasa. Ini terbukti, baik di masjid-masjid maupun di musalla-musalla mengalami
peningkatan jumlah jamaahnya. Namun sungguh sangat tragis memasuki bulan Syawal di mana
keadaan justru berbalik arah. Masjid-masjid dan musalla-musalla berkurang jamaahnya, gema tadarus
Alquran berkurang kumandangnya. Padahal seharusnya lebih ditingkatkan karena kondisi fisik kita
lebih kuat dibanding saat bulan Ramadhan. Dengan berkurangnya amal ibadah ini berarti menurunkan
pula pahala yang diperoleh sebelumnya. Semakin sedikit pahala yang diperoleh, maka menjadikan
ketenteraman, kedamaian dan kesejukan hati semakin berkurang. Hal inilah yang mungkin dimaksud
dan diingatkan oleh Nabi sebagai suatu musibah.
      Begitu besarnya keutamaan bulan Ramadhan, sehingga wajar apabila kepergiannya pun menjadi
musibah besar yang diratapi dan ditangisi oleh para makhluk. Namun demikian, bukan berarti kita
harus bersedih dengan musibah. Kebahagiaan akan menyambut seandainya dalam selain bulan
Ramadhan kita betul-betul menjalankan amal ibadah sesuai dengan tuntunan dan istiqomah seperti
bulan Ramadhan. Dengan demikian kita berharap semoga memperoleh derajat muttaqin (orang-orang
yang bertaqwa) di sisi Allah SWT.
      Kembali lagi ke masalah silaturrahim. Dalam sebuah riwayat disebutkan, pahala ibadah yang kita
lakukan selama di bulan Ramadhan mulai puasa, tadarrus Alquran, sodaqoh jariyah dan ibadah-ibadah
yang lain terancam tidak sampai kepada Allah, alias tertahan atau terkatung-katung antara langit dan
bumi lantaran tiga hal, yaitu:
   1. Anak yang durhaka atau tidak mau meminta maaf kepada kedua orang tuanya,
   2. Suami istri yang tidak mau saling memaafkan
   3. Orang yang tidak mau bersilaturrahim untuk meminta maaf kepada tetangga atau orang-orang
       yang pernah berbuat dholim atau mendholiminya.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:140
posted:9/24/2012
language:Malay
pages:1