Contoh LKM - Laporan Kerja Mandiri by KlikAll

VIEWS: 248 PAGES: 21

									                                     BAB I

                                  PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

      Dalam ilmu sosiologi biasa ditemukan dua istilah yang selalu berkaitan,

yaitu status (kedudukan) dan peranan sosial didalam masyarakat. Status biasanya

didefinisikan sebagai suatu peringkat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok

atau posisi suatu kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lain.

Sedangkan pean merupakan sebuah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang

memiliki suatu status tertentu.

      Status sebagai seorang mahasiswa dapat dipandang sebagai status yang

tinggi atau rendah, tergantung dimana ia berada. Sedangkan perannya sebagi

mahasiswa seharusnya menunjukkan kelakuan yang layak sesuai harapan

masyarakat, dan seorang mahasiswa diharapkan berperan sebagai teladan dan

rujukan dalam masyarakat dilingkungan sekitar. Seorang mahasiswa harus bisa

berperan sebagai sosok yang aktif, kreatif dan tanggap terhadap situasi yang

terjadi di lingkungan sekitar.

      Sebenarnya peranan mahasiswa juga tidak terlepas dari kualitas pribadi

mahasiswa yang berssangkutan serta kompetensi mereka dalam berkreasi. Pada

masyarakat yang paling menghargai mahasiswa pun akan sangat sulit untuk

berperan banyak dan mendapatkan kedudukan sosial yang tinggi jika seorang

mahasiswa tidak memiliki kecakapan dan kompetensi yang dibidangnya. Apalagi

mahasiswa-mahasiswa yang tidak bisa memberikan keteladanan bagi orang-orang

disekitarnya, sudah barang tentu akan menjadi bahan pembicaraan orang banyak.




                                       1
Dihadapan masyarakat, mahasiswa harus bisa menjadi teladan yang kreatif dan

sumber inovasi baru.

     Dalam perspektif perubahan sosial, mahasiswa yang baik tidak saja harus

mampu melaksanakan tugas profesionalnya didalam kelas namun harus berperan

pula melaksanakan tugas-tugas kemasyarakatan. Hal tersebut sesuai pula dengan

kedudukan mereka sebagai agent of ahange yang berperan sebagai innovator,

motivator, dan fasilitator terhadap kemajuan dan perubahn.

     Berdasarkan uraian diatas, penulis akan mengungkapkan peranan penulis

sebagai tenaga pengajar informal dan peranan penulis di masyarakat desa

karanganyar kecamatan kebonagung kabupaten pacitan dalam bentuk Laporan

Kerja Mandiri (LKM).

B. Ruang Lingkup Laporan

     Ruang lingkup dalam Laporan Kerja Mandiri (LKM) meliputi:

1. Peran penulis di masyarakat

  a. Bidang pemerintahan

  b. Bidang keagamaan

2. Peran penulis dalam dunia pendidikan

  a. Peranan penulis sebagai pengajar di lembaga pendidikan nonformal

  b. Peranan penulis sebagai pendidik di lembaga pendidikan nonformal

  c. Peran penulis sebagai administrator di lembaga pendidikan nonformal

C. Tujuan Penyusunan Laporan

     Memberikan gambaran tentang peranan penulis didalam dunia pendidikan

maupun didalam masyarakat.




                                        2
                                     BAB II

                     PELAKSANAAN KERJA MANDIRI

A. Kerja Mandiri di Desa Karanganyar Kecamatan Kebonagung

     Seorang mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat juga berperan sebagai

pendidik, dan penggerak masyarakat. Seorang mahasiswa dituntut bisa menjadi

suri tauladan, sehingga harus mampu menjaga citranya sebagai generasi bangsa

yang berpendidikan dan kreatif. Secara moral seorang mahasiswa berkewajiban

ikut membantu mencerdaskan masyarakat sekitarnya melalui pengetahuan yang

dimilikinya.

     Beberapa pengabdian yang penulis lakukan dalam masyarakat, anatara lain:

1. Bidang pemerintahan

  Peran penulis dalam bidang pemerintahan adalah sebagai anggota PKK di Desa

Karanganyar Kecamatan Kebonagung, adapun hal-hal yang brkaitan dengan

lembaga PKK adalah sebagi berikut:

a. Pengertian gerakan PKK

        Gerakan PKK merupakan Gerakan Nasional dalam pembangunan

          masyarakat yang tumbuh dari bawah, yang pengelolaannya dari, oleh

          dan untuk masyarakat.

        Pemberdayaan Keluarga meliputi segala upaya Bimbingan, Pembinaan

          dan Pemberdayaan agar keluarga dapat hidup sejahtera, maju dan

          mandiri.

        Tim Penggerak PKK adalah Mitra Kerja Pemerintah dan Organisasi

          Kemasyarakatan,   yang berfungsi sebagai fasilitator, perencana,




                                       3
           pelaksana, pengendali dan penggerak pada masing – masing jenjang

           demi terlaksananya program PKK.

        Tim Penggerak PKK adalah warga masyarakat, baik laki – laki maupun

           perempuan, perorangan, bersifat sukarela, tidak mewakili organisasi,

           golongan, parpol., lembaga, atau instansi, dan berfungsi sebagai

           perencana, pelaksana, dan pengendali gerakan PKK.

b. Tujuan gerakan PKK

     Tujuan Gerakan PKK adalah memberdayakan keluarga untuk Meningkatkan

kesejahteraan lahir bathin menuju terwujudnya keluarga yang :

      Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME

      Berakhlak mulia dan berbudi luhur

      Sehat sejahtera

      Maju mandiri

      Kesetaraan dan keadilan gender

      Serta kesadaran hukum dan lingkungan.

c. Sasaran gerakan PKK

     Sasaran Gerakan PKK adalah Seluruh Anggota Keluarga yang masih

perlu ditingkatkan dan dikembangkan kemampuan dan kepribadiannya dalam

bidang :

       1. Mental spiritual, meliputi sikap dan perilaku sebagai insan hamba

           Tuhan, anggota masyarakat dan warga negara yang dinamis serta

           bermanfaat, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.




                                        4
         2. Fisik   material,   meliputi   pangan,   sandang,   papan,   kesehatan,

            kesempatan kerja yang layak serta lingkungan hidup yang sehat dan

            lestari melalui peningkatan pendidikan, pengetahuan dan keterampilan.

d. Kelembagaan gerakan PKK

     Gerakan PKK dikelola oleh Tim Penggerak PKK yang dibentuk di :

Pusat, Propinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, Desa/Kelurahan.

     Hubungan kerja antara Tim Penggerak PKK Pusat dengan Daerah

adalah     bersifat Konsultatif dan Koordinatif dengan tetap memperhatikan

hubungan hierarkis. Untuk mendekatkan          jangkauan   pemberdayaan     kepada

keluarga-keluarga secara langsung, dibentuk kelompok-kelompok PKK RW, RT

dan kelompok Dasa Wisma.

e. Criteria keanggotaan tim penggerak PKK

Kriteria keanggotaan Tim Penggerak PKK adalah :

         o Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia dan berbudi

           pekerti luhur.

         o Dapat membaca dan menulis.

         o R e l a w a n.

         o Peduli terhadap upaya pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga.

         o Bersifat perorangan dan tidak mewakili suatu organisasi, golongan,

           partai politik,

         o lembaga atau sektor.

         o Mempunyai waktu yang cukup.

         o Memiliki kemauan dan etos kerja yang tinggi.




                                           5
f. Dewan penyantun tim penggerak PKK

        Untuk mendukung pelaksanaan program-program gerakan PKK, dibentuk

Dewan Penyantun Tim Penggerak PKK baik di Pusat maupun di Propinsi,

Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa/Kelurahan.

        Diketuai oleh Mendagri, Gubernur, Bupati/Walikota, Camat dan Kepala

Desa/Lurah. Anggota : Pimpinan Instansi/Lembaga yang membidangi tugas–

tugas     Pemberdayaan       dan Kesejahteraan   Keluarga,   para   tokoh/pemuka

masyarakat, petugas lapangan Instansi dan Lembaga Kemasyarakatan yang

ditetapkan dengan keputusan Dewan Penyantun.

2. Bidang keagamaan

        Peran penulis dalam bidang keagamaan adalah sebagai anggota Takmir

masjid di desa karanganyar kecamatan kebonagung. Adapun tugas-tugas dari

takmir masjid antara lain:

a. Merencanakan, mengatur dan melaksanakan kegiatan-kegiatan pendidikan

  kepada jamaah antara lain jamaah anak-anak, remaja dan orang dewasa dan

  amal kegiatan lain meliputi:

  1) Baca tulis Alqur’an

  2) Kursus-kursus ibadah (wudhu, mandi besar, tayamum, sholat dll)

  3) Pendidikan tatacara ibadah dan muamalah

b. Mengkoordinir pelaksanan majelis ta’lim, pengajian umum, bapak-bapak, ibu-

  ibu, anak dan remaja

c. Menyampaikan informasi kepada jamaah dan masyarakat luas tentang

  kegiatan/program yang disuse oleh pengurus takmir masjid

d. Mendorong partisipasi jamaah untuk terlibat dalam kegiatan masjid.

                                          6
B. Kerja Mandiri di Lembaga Pendidikan Nonformal

     Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar karena didukung oleh sejumlah

fakta positif yaitu posisi geopolitik yang sangat strategis, kekayaan alam dan

keanekaragaman hayati, kemajemukan sosial budaya, dan jumlah penduduk yang

besar. Oleh karena itu, bangsa Indonesia memiliki peluang yang sangat besar

untuk menjadi bangsa yang maju, adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat.

Namun demikian, untuk mewujudkan itu semua, kita masih menghadapi berbagai

masalah nasional yang kompleks, yang tidak kunjung selesai. Misalnya aspek

politik, di mana masalahnya mencakup kerancuan sistem ketatanegaraan dan

pemerintahan, kelembagaan Negara yang tidak efektif, sistem kepartaian yang

tidak mendukung, dan berkembangnya pragmatism politik. Lalu aspek ekonomi,

masalahnya meliputi paradigm ekonomi yang tidak konsisten, struktur ekonomi

dualistis, kebijakan fiskal yang belum mandiri, sistem keuangan dan perbankan

yang tidak memihak, dan kebijakan perdagangan dan industri yang liberal. Dan

aspek sosial budaya, masalah yang terjadi saat ini adalah memudarnya rasa dan

ikatan kebangsaan, disorientasi nilai keagamaan, memudarnya kohesi dan

integrasi sosial, dan melemahnya mentalitas positif.

     Dari sejumlah fakta positif atas modal besar yang dimiliki bangsa Indonesia,

jumlah penduduk yang besar menjadi modal yang paling penting karena kemajuan

dan kemunduran suatu bangsa sangat bergantung pada faktor manusianya (SDM).

Masalah-masalah politik, ekonomi, dan sosial budaya juga dapat diselesaikan

dengan SDM. Namun untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut dan

menghadapi berbagai persaingan peradaban yang tinggi untuk menjadi Indonesia

yang lebih maju diperlukan revitalisasi dan penguatan karakter SDM yang kuat.

                                        7
Salah satu aspek yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan karakter SDM yang

kuat adalah melalui pendidikan.

     Pendidikan merupakan upaya yang terencana dalam proses pembimbingan

dan pembelajaran bagi individu agar berkembang dan tumbuh menjadi manusia

yang mandiri, bertanggungjawab, kreatif, berilmu, sehat, dan berakhlak mulia

baik dilihat dari aspek jasmani maupun ruhani. Manusia yang berakhlak mulia,

yang memiliki moralitas tinggi sangat dituntut untuk dibentuk atau dibangun.

     Bangsa Indonesia tidak hanya sekedar memancarkan kemilau pentingnya

pendidikan, melainkan bagaimana bangsa Indonesia mampu merealisasikan

konsep pendidikan dengan cara pembinaan, pelatihan dan pemberdayaan SDM

Indonesia secara berkelanjutan dan merata.

     Melihat kondisi sekarang dan akan datang, ketersediaan SDM yang

berkarakter merupakan kebutuhan yang amat vital. Ini dilakukan untuk

mempersiapkan tantangan global dan daya saing bangsa. Memang tidak mudah

untuk menghasilkan SDM yang tertuang dalam UU tersebut. Persoalannya adalah

hingga saat ini SDM Indonesia masih belum mencerminkan cita-cita pendidikan

yang diharapkan. Misalnya untuk kasus-kasus aktual, masih banyak ditemukan

siswa yang menyontek di kala sedang menghadapi ujian, bersikap malas, tawuran

antar sesama siswa, melakukan pergaulan bebas, terlibat narkoba, dan lain-lain. Di

sisi lain, ditemukan guru, pendidik yang senantiasa memberikan contoh-contoh

baik ke siswanya, juga tidak kalah mentalnya. Misalnya guru tidak jarang

melakukan kecurangan-kecurangan dalam sertifikasi dan dalam ujian nasional

(UN). Kondisi ini terus terang sangat memilukan dan mengkhawatirkan bagi

bangsa Indonesia yang telah merdeka sejak tahun 1945. Memang masalah ini

                                        8
tidak dapat digeneralisir, namun setidaknya ini fakta yang tidak boleh diabaikan

karena kita tidak menginginkan anak bangsa kita kelak menjadi manusia yang

tidak bermoral sebagaimana saat ini sering kita melihat tayangan TV yang

mempertontonkan berita-berita seperti pencurian, perampokan, pemerkosaan,

korupsi, dan penculikan, yang dilakukan tidak hanya oleh orang-orang dewasa,

tapi juga oleh anak-anak usia belasan.Mencermati hal ini, saya mencoba

memberikan beberapa gagasan untuk penguatan mutu karakter SDM sehingga

mampu membentuk pribadi yang kuat dan tangguh. Pembahasan ini akan

mengacu pada peran pendidikan, terutama pendidik sebagai kunci keberhasilan

implementasi pendidikan karakter di sekolah dan lingkungan baik keluarga

maupun masyarakat.

     Pendidikan merupakan hal terpenting untuk membentuk kepribadian.

Pendidikan itu tidak selalu berasal dari pendidikan formal seperti sekolah atau

perguruan tinggi. Pendidikan informal dan non formal pun memiliki peran yang

sama untuk membentuk kepribadian, terutama anak atau peserta didik. Pendidikan

formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas

pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

     Sementara pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan

formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Satuan

pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok

belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan

pendidikan yang sejenis.

     Sedangkan pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan

lingkungan. Kegiatan pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan

                                       9
lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar secara mandiri.Memperhatikan ketiga

jenis pendidikan di atas, ada kecenderungan bahwa pendidikan formal, pendidikan

informal dan pendidikan non formal yang selama ini berjalan terpisah satu dengan

yang lainnya. Mereka tidak saling mendukung untuk peningkatan pembentukan

kepribadian peserta didik. Setiap lembaga pendidikan tersebut berjalan masing-

masing sehingga yang terjadi sekarang adalah pembentukan pribadi peserta didik

menjadi parsial, misalnya anak bersikap baik di rumah, namun ketika keluar

rumah atau berada di sekolah ia melakukan perkelahian antarpelajar, memiliki

’ketertarikan’ bergaul dengan WTS atau melakukan perampokan. Sikap-sikap

seperti ini merupakan bagian dari penyimpangan moralitas dan prilaku sosial

pelajar.

      Oleh karena itu, ke depan dalam rangka membangun dan melakukan

penguatan peserta didik perlu menyinergiskan ketiga komponen lembaga

pendidikan. Upaya yang dapat dilakukan salah satunya adalah pendidik dan

orangtua berkumpul bersama mencoba memahami gejala-gejala anak pada fase

negatif, yang meliputi keinginan untuk menyendiri, kurang kemauan untuk

bekerja, mengalami kejenuhan, ada rasa kegelisahan, ada pertentangan sosial, ada

kepekaan emosional, kurang percaya diri, mulai timbul minat pada lawan jenis,

adanya perasaan malu yang berlebihan, dan kesukaan berkhayal (Mappiare dalam

Suyanto dan Hisyam, 2000: 186-87).

      Dengan mempelajari gejala-gejala negatif yang dimiliki anak remaja pada

umumnya, orangtua dan pendidik akan dapat menyadari dan melakukan upaya

perbaikan perlakuan sikap terhadap anak dalam proses pendidikan formal, non

formal dan informal.

                                      10
1. Peran guru di lembaga pendidikan nonformal

     Guru adalah orang yang memberikan ilmu pengatahuan kepada anak didik.

Guru sebagai pendidik atau pengajar merupakan factor penentu kesuksesan setiap

usaha pendidikan. Itulah sebabnya setiap perbincangan mengenai pembaruan

kurikulum, pengadaan alat-alat belajar sampai pada criteria sumber daya manusia

yang dihasilkan oleh usaha pendidikan, selalu bermuara pada guru. Hal ini

menunjukkan betapa signifikan posisi guru dalam dunia pendidikan. Guru

dikatakan sebagai pendidik. Pendidik merupakan tenaga professional yang

bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil

pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan

penelitian dan pengabdian kepada masyarakat ( Undang-Undang Sistem

Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003, Bab XI Pasal 39 Ayat 2)

     Guru sebagai seorang tenaga kependidikan yang professional, berbeda

pekerjaannya dengan yang lain, karena ia merupakan suatu profesi, maka

dibutuhkan kemampuan dan keahlian khusus dalam melaksanakan tugas dan

fungsinya (Tabrani Rusyan, 1990: 5). Dengan demikian guru adalah seseorang

yang professional dan memiliki ilmu pengetahuan, serta mengajarkan ilmunya

kepada orang lain, sehingga orang tersebut mempunyai peningkatan dalam

kualitas sumber daya manusianya.

     Tugas utama seorang guru adalah mengajar anak didiknya. Selain mengajar,

guru juga mempunyai tugas-tugas lain sebagai berikut:

   a. Wajib menemukan pembawaan yang ada pada anak-anak didik dengan

       berbagai cara seperti observasi, wawancara, melalui pergaulan, angket dan

       sebagainya.

                                      11
   b. Berusaha menolong anak didik mengembangkan pembawaan yang baik

       dan menekan perkembangan pembawaan yang buruk agar tidak

       berkembang.

   c. Memperlihatkan kepada anak didik tugas orang dewasa dengan cara

       memprkenalkan berbagai bidang keahlian, ketrampilan, agar anak didik

       memilihnya dengan tepat.

   d. Mengadakan evaluasi untuk mengetahui apakah perkembangan anak didik

       berjalan dengan baik.

   e. Memberikan bimbingan dan penyuluhan tatkala anak didik menemui

       kesulitan dalam mengembangkan potnsinya.

     Sementara itu, menurut Oemar Hamalik (1980: 123-133), tugas dan

tanggungjawab guru yaitu:

1. Guru harus menuntut murid-murid dalam belajar

2. Melakukan pembinaan terhadap diri anak (kepribadian, watak, dan jasmaniah)

3. Memberikan bimbingan kepada siswa

4. Melakukan diagnose atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian

  atas kemajuan belajar.

5. Menyelenggarakan penelitian

     Dalam tinjuan Uzer Usman ( 1992: 4), apabila dikelompokkan, tugas guru

terdiri dari tiga jenis, yaitu tugas dalam bidang profesi, bidang kemasyarakatan,

dan tugas kemanusiaan.

   a. Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, berarti meneruskan dan

       mengembangkan nilai-nilai hidup, meneruskan dan mengembangkan ilmu




                                       12
       pengetahuan dan teknologi, serta melatih berarti mengembangkan

       ketrampilan-ketrampilan pada siswa.

   b. Tugas guru dalam kemasyarakatan tidaklah terbatas, guru pada hakekatnya

       merupakan komponen yang strategis yang memiliki peran sangat penting

       dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa. Bahkan keberadaan

       guru merupakan factor penting yag tidak mungkin digantikan oleh

       komponen maupun dalam kehidupan bangsa sejak dulu, terlebih pada era

       kontemporer ini.

   c. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan meliputi, guru disekolah harus bisa

       menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus bisa menarik simpati

       para siswa sehingga menjadi idola para siswanya.

     Lebih lanjut Syaiful Bahri Jamarah (2000:39), yang mengutip pendapat

Roestiyah, menyebutkan beberapa tugas guru sebagai berikut:

   a. Membentuk kecakapan kepribadian anak yang harmonis, sesuai dengan

       cita-cita dan dasar Negara kita pancasila.

   b. Menyiapkan anak didik menjadi warga Negara yang baik.

   c. Sebagi perantara dalam belajar

   d. Sebagai pembimbing

   e. Sebagai penegak disiplin

   f. Sebagai administrator dan manager

   g. Sebagai pemimpin

   h. Sebagai sponsor dalam kegiatan anak-anak.

     Dalam paparan yang diungkapakan oleh Muhibbin Syah (2000: 250-252),

pada dasarnya peranan penting guru dalam proses belajar mengajar ialah sebagai

                                        13
director of learning (direktur belajar). Artinya, setiap guru diharapkan untuk

pandai-pandai mengarahkan kegiatan belajar siswa agar mencapai keberhasilan

belajar sebagaimana yang telah ditetapkan dalam sasaran kegiatan proses belajar

mengajar. Dengan demikian, semakin jelaslah bahwa peranan guru dalam dunia

pendidikan modern seperti sekarang ini semakin meningkat dari sekedar pengajar

menjadi direktur belajar. Konsekuensi tugas dan tanggungjawab guru pun mrnjadi

lebih kompleks dan berat. Perluasan tugas dan tanggungjawab guru tersebut

membawa konsekuensi timbulnya fungsi-fungsi khusus yang menjadi bagian

integral dalam kompetensi profesionalisme keguruan yang disandang oleh para

guru.

        Menurut Gagne, setiap guru berperan sebagai:

a. Designer of instruction (perancang pengajaran)

        Fungsi guru sebagia designer of instruction menghendaki guru untuk

senantias mampu dan siap merancang kegiatan belajar mengajar yang behasil

guna dan berdayaguna. Untuk merealisaskan fungsi tersebut, setiap guru

memerlukan pengetahuan yang memadai mengenai prinsip-prinsip belajar sebagai

dasar dalam menyusun rancangan kegiatan belajar mengajar. Rancangan tersebut

setidaknya meliputi hal-hal sebagai berikut;

1. Memilih dan menentukan bahan pembelajaran

2. Merumuskan tujuan penyajian bahan pembelajaran

3. Memilih metode penyajian bahan pembelajaran yang tepat

4. Menyelenggarakan kegiatan evaluasi prestasi belajar.

b. Manager of instruction (pengelola pengajaran)




                                        14
      Fungsi ini menghendaki kemampuan guru dalam mengelola seluruh tahapan

proses belajar mengajar. Diantara kegiatan-kegiatan pengelolaan proses belajar

mengajar, yang terpenting ialah menciptakan kondisi dan situasi sebaik mungkin,

sehingga memungkinkan para siswa belajar secara berdayaguna dan berhasilguna.

Selain itu, kondisi dan situasi tersebut perlu diciptakan sedemikian rupa agar

proses komunikasi antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar dapat

berjalan secara demokratis. Alhasil, baik guru sebagai pengajar maupun siswa

sebagai pelajar dapat memainkan peranan masing-masing secara integral dalam

konteks komunikasi instruksional yang kondusif.

c. Evaluator of student learning(penilai prestasi siswa)

      Fungsi ini menghendaki guru untuk senantiasa mengikuti perkembangan

taraf kemajuan prestasi belajar atau kinerja akademik siswa dalam setiap kurun

waktu pembelajaran. Pada dasarnya kegiatan evaluasi prestasi belajar itu seperti

kegiatan belajar itu sendiri, yakni kegiatan akademik yang memerlukan

kesinambungan.

      Evaluasi, idealnya berlangsung sepanjang waktu dan fase kegiatan belajar

selanjutnya. Artinya, apabila hasil evaluasi tertentu menunjukkan kekurangan,

maka siswa yang bersangkutan diharapkan merasa terdorong untuk melakukan

kegitan pembelajaran perbaikan. Sebaliknya, bila evaluasi tertentu menunjukkan

hasil yang memuaskan, maka siswa yang bersangkutan diharapkan termotivasi

untuk meningkatkan volume kegiatan belajarnya agar materi pelajaran lain yang

lebih kompleks dapat pula dikuasai. Selanjutnya, informasi dan data akademik

yang diperoleh guru dari kegiatan evaluasi seyogianya dijadikan umpan balik

untuk melakukan penindaklanjutan proses belajar mengajar. Hasil kegiatan

                                        15
evaluasi juga seyogianya dijadikan pangkal tolak dan bahan pertimbangan dalam

memperbaiki atau meningkatkan penyelenggaraan proses belajar mengajar pada

masa yang akan datang. Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar tidak akan

statis, tetapi terus meningkat hingga mencapai puncak kinerja akademik yang

sangat didambakan

2. Fungsi Guru di Lenbaga Pendidikan Nonformal.

a. Sebagai pengajar

           Awal karier penulis sebagai pengajar di lembaga pendidikan

  nonformal berawal dari mengajar privat matematika anak kelas III SD yang

  penulis lakukan mulai awal semester 2 perkuliahan. Selanjutnya penulis

  banyak mendapatkan tawaran untuk mengajar privat mulai dari tingkat TK

  sampai SMP. Kebanyakan dari mereka menginginkan tidak hanya satu mata

  pelajaran. Dalam hal ini penulis harus bekerja keras untuk menguasai materi-

  materi tersebut dan bahkan penulis perlu belajar lagi untuk mengajar tingkat

  SMP karena mengingat jurusan penulis adalah spesifik ke bahasa inggris.

           Dalam menyampaikan sejumlah materi pelajaran penulis (guru)

  diharapkan untuk menguasai materi pelajaran, metode, dan teknik evaluasi.

  Selain itu, guru sebagai sumber informasi dan sumber belajar harus selalu

  menambah dan memperluas wawasan dan pengetahuan.

           Berawal dari kegiatan tersebut, sekarang penulis bisa mendirikan

  lembaga pembelajaran dirumah secara kelompok maupun privat. Penulis juga

  melayani belajar privat dengan pembelajaran diadakan di rumah siswa tentunya

  dengan anggaran yang berbeda.




                                      16
           Walaupun penulis hanya berperan sebagai pendidik di lembaga

  nonformal, penulis juga harus memerhatikan hal-hal sebagai berikut dalam

  melaksanakan pembelajaran:

  1) Menyusun program pengajaran

  2) Menetukan metode yang sesuai

  3) Menyiapkan alat peraga yang sesuai dengan materi

  4) Merencanakan dan menyiapkan alat evaluasi belajar

  5) Menganalisa hasil evaluasi

  6) Melaksanakan program perbaikan

b. Sebagai pendidik

           Tugas guru sebagai pendidik adalah mengantarkan peserta didik

  menjadi manusia dewasa yang cakap, dan berbudi pekerti luhur, memiliki

  pengetahuan dan ketrampilan kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang

  mantap dan mandiri serta bertaqwa kepada Allah SWT. Dalam hal ini tugas

  guru dalam pembentukan sikap, mental dan watak sangat dominan. Oleh

  karena itu guru harus memerhatikan peserta didik terutama pada sikap mental,

  tingkah laku, ketertiban dan kedisiplinan.

c. Sebagai administrator

           Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar,tetapi juga

  sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu

  seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur. Dalam hal ini, karena

  penulis mengelola lembaga pendidikan secara individu, penulis harus benar-

  benar teliti. Karena administrasi yang berkaitan dengan mencatat hasil belajar

  pembuatan alat peraga dan lain sebagainya merupakan dokumen berharga

                                       17
yang merupakan bukti aktifitas dari lembaga penulis, yang nantinya bisa

menjadi acuan untuk kelanjutan lembaga pendidikan yang penulis miliki.




                                   18
                                      BAB III

                                 PENUTUP

A. Kesimpulan

       Perbuatan, sikap, toleransi serta tingkah laku seorang guru mempunyai

  dampak positif dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang guru dilembaga

  pendidikan ataupun sebagai anggota dalam masyarakat, karena mempunyai

  tanggungjawab moral secara langsung di mata siswanya maupun dimata

  masyarakat dimana seorang guru bertugas.

       Maka seorang pendidik harus mampu tampil menjadi seorang figure

  teladan di masyarakat sekitarnya. Sebagai kesimpulan dalam laporan ini adalah

  sebagai berikut:

  1. Kerja mandiri di desa karanganyar kecamatan kebonagung

            Di masyarakat mahasiswa berperan sebagai pendidik masyarakat,

     pendorong dan penggerak masyarakat untuk menyumbangkan pengetahuan

     dan    kemampuannya      serta     memberikan   pertolongan       bagi   yang

     membutuhkan. Peran tersebut penulis wujudkan dalam aktif sebagai

     anggota tim penggerak PKK desa, dan aktif sebagai takmir masjid.

  2. Kerja mandiri di lembaga pendidikan nonformal

            Seorang guru berperan sebagai perancang pengajaran, pengelola

     pengajaran, penilai prestasi belajar siswa, pengarah belajar siswa, motor

     penggerak aktifitas belajar, pelaksana administrasi pendidikan.

            Sedangkan fungsi seorang guru adalah sebagai pengajar, sebagai

     pendidik, dan sebagai administrator.




                                        19
            Untuk mendukung keberhasilan para peserta didik yang optimal,

      penulis harus berusaha mengatur administrasi lembaga pendidikan yang

      penulis dirikan dengan lebih baik. Mulai dari bahan ajar, media, alat peraga

      dan hal lain yang berkaitan dengan kelangsungan belajar mengajar.

B. Saran

     Untuk lebih mengoptimalkan peranan guru baik disekolah maupun di

masyarakat, seorang guru harus mau meningkatkan keprofesionalannya sebagai

guru melalui belajar mandiri, pelatihan atau melalui jenjnag pendidikan formal

yang lebih tinggi agar wawasan, pengetahuan serta ketrampilan guru lebih

berkembang dan dapat mengikuti perkembangan zaman.




                                       20
                              DAFTAR PUSTAKA

Syah Muhibbiri, 196, psikologi pendidikan,suatu pendekatan baru.Bandung,
Remaja Rosda Karya.

-------------, 2006, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, Jakarta.

Seputar PKK.com diakses 05 januari 2011.




                                        21

								
To top