non fiction story

Document Sample
non fiction story Powered By Docstoc
					Sirin
Cerpen oleh Sukman Ibrahim

        Mestinya, ia tidak harus pergi ke sawah sepagi ini. Namun, batasan umur tak
membuatnya patah harapan untuk mengais rezeki. Ia kubur dalam-dalam perkiraan nasib
mujur yang dulu ia gambarkan. Dan, ia menjadi terbiasa berkata pada dirinya bahwa
nasib memang tak mudah ditebak. Betapa tidak, sebagai pensiunan penjaga sekolah
negeri, tentu ia tidak harus pergi ke sawah sepagi ini. Seperti laki-laki renta lain di
kampungnya, mestinya ia tinggal menikmati hari tua dengan meminum kopi atau
menimang cucu di pagi hari. Apa hendak dikata, tak ada cucu, juga tak ada secangkir
kopi sepagi ini. Nasib tak mudah ditebak! Demikian jawabnya jika pertanyaan-
pertanyaan tersebut terjaga dalam kuburan ingatannya.
        Orang-orang memanggilnya Sirin. Rautnya yang lapuk, membuat orang lupa
nama aslinya. Ia hanya dipanggil Sirin. Ya, Sirin saja. Tanpa gelar, tanpa sebutan
kehormatan. Semisal bapak, pak, eyang atau apapun yang menunjukan kehormatan.
Sesuatu yang tak lazim bagi seorang pensiunan di kampungnya. Meski demikian,
terkadang Sirin merasa miris. Bayangkan jika sekolah tempat dulu ia bekerja tidak
mempunyai seorang penjaga. Apalagi, saat itu banyak pengangguran yang berpotensi
menghilangkan barang-barang berharga milik sekolah. Atas perjuangannya, hingga ia
pensiun, sekolah tampak aman dari ancaman pencurian. Belum lagi jika ia teringat akan
masa-masa bekerja sebagai penjaga sekolah, nyaris tidak pernah tidur semalaman.
Namun rasa miris itu ia tepis. Toh, baginya, yang terpenting sekarang adalah bagaimana
bertahan hidup. Dan ia berkesimpulan bahwa tidak ada hubungannya antara nasib dengan
gelar kehormatan.
        Sirin cukup bersyukur. Meski tebakan nasibnya meleset, namun rupanya nasib
juga yang masih memberinya kekuatan untuk bertahan hidup. Seperti pagi ini misalnya.
Nasib masih memberikan kekuatan untuk pergi ke sawah, mencari kayu bakar, atau
setidaknya memberikan kekuatan untuk mengusir rasa kesendiriannya.
        Para lelaki seumur Sirin di kampungnya kerap menasehati untuk mencari
pendamping lagi. Setidaknya, jika ia beristri lagi, ia tinggal menyeruput secangkir kopi di
pagi hari. Atau, paling tidak ia dapat berbagai cerita tentang nasib hari ini kepada
istrinya. Namun, nasehat-nasehat itu ia anggap angin lalu. Baginya, ia hanya ingin
bertahan hidup sebelum Tuhan meminta kembali pada-Nya.
       Kondisi seperti itu, membuat Sirin dapat merasakan bagaimana menjadi seorang
perempuan bagi dirinya. Masak nasi di pagi hari, mencuci gerabah, pakaian, dan
menyapu lantai tanah kamarnya. Setelah itu, ia berganti peran menjadi seorang laki-laki.
Pergi ke sawah, mencari kayu bakar, dan menjualnya. Semuanya ia kerjakan sendiri. Tak
apalah hidup sendiri, kata Sirin. Toh dalam keyakinannya, seorang lelaki kelak hidupnya
sendiri. Keyakinan itu pula yang menjadikannya bersyukur dilahirkan oleh Tuhan sebagai
laki-laki. Ia tidak dapat membayangkan jika ia terlahir sebagai perempuan. Tentu lebih
banyak kerepotan, katanya.
       Meski sendiri, ia tidak pernah meminta-minta kepada tetangga. Sirin tidak suka
merepotkan orang lain, kecuali ada yang memberinya secara suka rela. Pun, ia tidak
terlalu banyak berharap pada pemberian orang. Ia ingin membuat hidupnya lebih mudah.
Tidak terlalu banyak berfikir, dan tidak hanya duduk diam. Ia akan mengerjakan apa pun
yang ia mampu kerjakan.
       Hanya satu kebiasaan Sirin yang barangkali tidak lazim bagi para tetangga. Ia
lebih suka menyendiri di rumahnya selepas bekerja. Ia tidak suka bergaul dengan
tetangga, dan tidak suka keramaian. Pernah suatu hari, ia bergaul dengan para tetangga,
namun ia menjadi bahan tertawaan dan ejekan.
       Ada yang mengatakan Sirin bodoh, ada yang menuduhnya setengah gila, ada juga
yang menuduhnya tidak normal. Sejak ia kerap menerima kata-kata seperti itu, ia lebih
suka menyendiri. Dunia tak lagi ramah, kata sirin, jika ia mengingat kata-kata ejekan itu.
Ia dianggap bodoh ketika ia ketahuan tetangga menjual ayamnya di pasar dengan harga
yang sangat murah. Jika ia tidak bodoh, tentu ia akan menjual ayamnya lebih mahal, kata
beberapa tetangga. Sirin sendiri heran. Ayam yang ia jual adalah ayamnya sendiri. Harga
yang ia tawar adalah tawarannya sendiri. Kenapa harus dianggap bodoh?.
       Dan tuduhan setengah gila, kata Sirin, dituduhkan ketika ada seseorang yang
mengetahui Sirin berbicara dengan ayam-ayamnya. Ia tak habis fikir. Kenapa ia yang
berbicara kepada ayam-ayamnya harus dicap setengah gila?. Mereka tidak tahu, ayam-
ayam itu adalah hidupnya. Si jalu, adalah ayam yang selalu setia membangunkannya
dikala tetangga masih terlelap. Dan, ia merasa hanya si Jalulah -meski ia telah
menjualnya- yang mampu memahami keadaan Sirin. Kemudian kasus yang membuatnya
dianggap abnormal adalah ketika Sirin suka memberikan uang jajan kepada anak-anak
kecil di kampungnya. Padahal, untuk makan sendiri pun masih kurang. Apakah ia
abnormal, katanya, memberi uang jajan kepada anak-anak? Toh uang yang ia berikan
tidak seberapa. Dan yang terpenting tidak setiap hari, katanya.
         Kadang Sirin merasa heran. Apakah dia yang sudah gila, atau mereka para
tetangga? Ah, Sirin tak mau ambil pusing dengan anggapan itu, meski ia jadi lebih suka
menyendiri. Baginya, ia sudah berprinsip bahwa ia akan menjadikan hidupnya lebih
mudah dan sederhana.
         Seperti pagi ini misalnya. Seseorang meminta Sirin untuk membajak sawahnya. Ia
cukup senang. Membajak sawah artinya, dalam satu hari, ia akan diberi upah yang cukup
untuk makan tiga hari. Jika ia mampu merampungkan pekerjaannya dalam tiga hari saja,
maka ia sudah dapat menyimpulkan akan mampu bertahan hidup selama sembilan hari,
sambil menunggu pekerjaan lainnya, jika ada.
         Matahari di atas kepala. Tiba waktunya bagi Sirin untuk beristirahat sejenak. Ia
buru-buru berlari menuju sumber mata air. Dengan kedua telapak tangannya yang masih
kotor, ia meminum sebanyak air yang dapat ia tampung. Kemudian ia melanjutkan
pekerjaannya. Namun, ketika hendak berdiri, pandangannya dipenuhi kunang-kunang.
Selang beberapa detik, semua berubah hitam. Ia merasa seperti terhuyung lalu ambruk.
         Tubuhnya penuh dengan lumpur. Tangannya masih sempat bergerak mencari
sesuatu yang dapat dijadikan pegangan untuk berdiri. Ia tertolong oleh sebuah tonggak
jati yang bersemi. Tubuhnya terhuyung. Lalu ia duduk bersandar. Pandangannya masih
gelap.
         Dalam kegelapan pandangannya, Sirin menangkap bayangan serombongan
perempuan bergaun putih dengan rambut lurus sepunggung menaiki kereta kuda.
Rombongan itu menuju ke arahnya. Sirin terkejut. Sepertinya ia tidak asing dengan salah
satu perempuan yang duduk di tengah rombongan itu. Ia tatap perempuan itu dengan
tajam.
         Rambut lurus itu, benaknya, pernah ia cium. Mata itu, pikirnya, pernah ia kecup.
Hidung itu, bibir itu, dagu itu, dada itu, kaki itu…
“Sri,?” tanyanya, tak percaya dengan pemandangan di depan matanya.
“Akhirnya kau kembali, Sri. Ayo kita pulang. Aku masih sendiri Sri?” pinta Sirin.
        Perempuan itu turun dari kereta kuda. Tangannya maju ke arah kepala Sirin.
Jarinya yang lembut membelai rambut Sirin. Pelan, dan sangat halus. Mata Sirin
terpejam. Belaian tangan itu, sungguh membuatnya tenang. Kelembutan jari-jari itu,
adalah bagian semangat hidupnya dulu. Sirin merasa benar-benar dekat dengan
perempuan itu. Pelan ia buka kedua matanya. Memastikan secara seksama bahwa tangan,
jari-jari, dan belaian itu adalah milik Sri.
        Namun, bukan kepalang terkejutnya ketika Sirin membuka kedua matanya.
Perempuan itu berganti dengan rupa mengerikan. Rambutnya memutih. Mulutnya
melebar. Perutnya membusung. Tangannya basah darah. Jari-jarinya berkuku panjang,
siap    mencengkeram      dan    merobek       wajah   Sirin.   Ia   melompat   ke   belakang,
menghempaskan pukulan tangan ke arah perempuan itu. “Brakk!”.
        Sirin tersadar. Ia rasakan kedua tangannya seperti terikat penjalin yang sangat
kuat. Kedua kakinya seperti dirantai. Ia tidak bisa bergerak. Matanya terbuka. Lebar, dan
semakin lebar. Ia terkulai lemah. Detak jantungnya pelan. Samar, ia dapati puluhan
pasang mata menghujani pandangannya. Selang beberapa saat ia sadar, ia tengah
dikerumuni penduduk.
“Syukurlah kau sudah sadar Sirin. Mulutmu tadi meracau memanggil-manggil Sri” uacap
seorang tetangga.
“Benarkah aku memanggil nama Sri?” ucap Sirin, mengingat perempuan yang baru saja
membelai rambutnya.
“Ya, kamu menyebut nama Sri, dan kau seperti memukulnya, hingga dipan yang
menyangga tubuhmu ini hampir roboh!”
Sirin mencoba duduk. Melihat Sirin telah sadar sepenuhnya, para tetangga membubarkan
diri.
        Baru saja Sirin hendak meluruskan badan, sesosok anak kecil masuk tanpa
mengetuk pinta. Sirin tahu betul anak kecil itu. Ia anak yang sering diberi uang olehnya.
Tanpa basa-basi, bocah itu langsung menghujani pertanyaan bertubi-tubi kepada Sirin,
perihal peristiwa yang baru saja ia alami.
        Katanya, Sri adalah bekas istrinya. Dia pergi meninggalkan Sirin tidak lama
setelah Sirin pensiun. Rupanya Sri tidak cukup kuat hidup dengan Sirin yang hanya
mengandalkan uang pensiuanan tak seberapa. Ia meminta cerai, dan meminta agar
kuasanya diberikan kepada Sri untuk mengambil uang pensiuanannya. Sejak saat itu,
Sirin tidak bisa lagi mengandalkan uang pensiun karena sudah dilimpahkan kepada Sri.
Yang paling menyakitkan, kata Sirin, adalah ketika anak-anaknya mengikuti ibunya.
         Sejenak Sirin berhenti bercerita. Matanya tajam memandang wajah bocah kecil
yang bersimpuh di hadapannya. Ingatannya melayang pada sosok bocah kecil serupa di
hadapannya. Dua tahun lalu, ia berumur satu setengah tahun. Polahnya hampir sama
dengan bocah yang seperti sedang menyimak dongeng di hadapannya. Hanya, bocah di
depannya itu enam tahun lebih tua.
         Sirin lantas melanjutkan ceritanya, setelah bocah itu merengek menghiba. Dan
yang pasti, lanjut Sirin, ia tidak bodoh. Tidak setengah gila, dan tidak abnormal. Ini
hanyalah jalan hidup yang mesti ia lalui, katannya. Bocah itu mengangguk-anggukan
kepalanya seolah mengerti betul perasaan Sirin.
         Hidup ini nak, kata Sirin, tidak semudah yang kita bayangkan. Tidak ada satupun
jaminan kita akan hidup lebih baik, meski dalam padangan orang, kita dinilai lebih baik
dari mereka. Apalagi, tambah Sirin, engkau terlahir sebagai lelaki.
“Apakah aku contoh yang baik atau yang buruk, engkau yang menilainya, Nak?” ucap
sirin, menitikan air mata.
Bocah itu berdiri. Kemudian ia rebahkan tubuhnya di atas tubuh Sirin. Kedua tangannya
memeluk Sirin. Sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Sirin, bocah kecil itu berucap
lirih.
“Eyang…?”
“Terima kasih, Nak, kau telah memanggilku eyang…”

Purbalingga, November 2010
Pukul 01:26 WIB.


Biodata Penulis
Sukman Ibrahim. Lahir di Banyumas, 21 Agustus 1980. Beberapa cerpennya telah
dibukukan berjudul “Kampung Tikus” tahun 2008. Selain aktif menulis cerpen, penulis
juga aktif di sanggar sastra “Kampung Baca” Purbalingga.
e-mail: humanismeibrahim@gmail.com No. HP. 085227484973
No Rek. a/n Sukman BNI 46 Cabang Purwokerto no rek. 0203936051

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:25
posted:9/23/2012
language:Indonesian
pages:5