Docstoc

Seminar PEMAHAMAN KONSEP

Document Sample
Seminar PEMAHAMAN KONSEP Powered By Docstoc
					PENDAHULUAN



          Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi
modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya
pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi
dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar,
analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi
di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
        Mengingat pentingnya              peranan        matematika    ini, upaya untuk meningkatkan
sistem pengajaran             matematika          selalu     menjadi     perhatian, khususnya   bagi
pemerintah         dan       ahli pendidikan matematika. Salah satu upaya nyata yang telah
dilakukan        pemerintah         terlihat      pada     penyempurnaan     kurikulum   matematika.
Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2007 tentang Standar Nasional
Pendidikan membawa implikasi terhadap sistem dan penyelenggaraan pendidikan
termasuk pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Kebijakan pemerintah tersebut
mengamanatkan kepada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah untuk
mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Menurut Depdiknas
(2006), Salah satu tujuan Kurikulum KTSP pelajaran matematika yaitu agar peserta
didik memiliki kemampuan memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan
antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien,
dan tepat, dalam pemecahan masalah.
          Menurut Rohana (2011:111) Dalam memahami konsep matematika diperlukan
kemampuan generalisasi serta abstraksi yang cukup tinggi. Sedangkan saat ini
penguasaan peserta didik terhadap materi konsep – konsep matematika masih lemah
bahkan dipahami dengan keliru. Sebagaimana yang dikemukakan Ruseffendi (2006:156)
bahwa terdapat banyak peserta didik yang setelah belajar matematika, tidak mampu
memahami bahkan pada bagian yang paling sederhana sekalipun, banyak konsep yang
dipahami secara keliru sehingga matematika dianggap sebagai ilmu yang sukar, ruwet,
dan sulit. Padahal pemahaman konsep merupakan bagian yang paling penting dalam
pembelajaran matematika seperti yang dinyatakan Zulkardi (2003:7) bahwa ”mata


1 | Seminar Nasional FKIP Universitas Sriwijaya
   pelajaran matematika menekankan pada konsep”. Artinya dalam mempelajari
   matematika peserta didik harus memahami konsep matematika terlebih dahulu agar
   dapat menyelesaikan soal-soal dan mampu mengaplikasikan pembelajaran tersebut di
   dunia nyata. Konsep-konsep dalam matematika terorganisasikan secara sistematis, logis,
   dan hirarkis dari yang paling sederhana ke yang paling kompleks. Pemahaman terhadap
   konsep-konsep matematika merupakan dasar untuk belajar matematika secara bermakna.
             Untuk mencapai pemahaman konsep peserta didik dalam matematika bukanlah
   suatu hal yang mudah karena pemahaman terhadap suatu konsep matematika dilakukan
   secara individual. Setiap peserta didik mempunyai kemampuan yang berbeda dalam
   memahami konsep – konsep matematika. Namun demikian peningkatan pemahaman
   konsep matematika perlu diupayakan demi keberhasilan peserta didik dalam belajar.
   Salah satu upaya untuk mengatasi permasalah tersebut, guru dituntut untuk profesional
   dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus
   mampu mendesain pembelajaran matematika dengan metode, teori atau pendekatan yang
   mampu menjadikan siswa sebagai subjek belajar bukan lagi objek belajar. Berdasakan
   latar belakang masalah, makalah ini mengkaji tentang pemahaman konsep dalam
   pembelajaran matematika.


   PEMBAHASAN


A. Definisi Pemahaman dan Konsep


             Dalam proses mengajar, hal terpenting adalah pencapaian pada tujuan yaitu agar
   mahasiswa         mampu         memahami          sesuatu   berdasarkan   pengalaman   belajarnya.
   Kemampuan pemahaman ini merupakan hal yang sangat fundamental, karena dengan
   pemahaman akan dapat mencapai pengetahuan prosedur.
             Menurut Purwanto (1994:44) pemahaman adalah tingkat kemampuan yang
   mengharapkan siswa mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang
   diketahuinya. Sementara Mulyasa (2005 : 78) menyatakan bahwa pemahaman adalah
   kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu. Selanjutnya Ernawati
   (2003:8) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan pemahaman adalah kemampuan
   menangkap pengertian-pengertian seperti mampu mengungkapkan suatu materi yang

   2 | Seminar Nasional FKIP Universitas Sriwijaya
  disajikan dalam bentuk lain yang dapat dipahami, mampu memberikan interpretasi dan
  mampu mengklasifikasikannya.
            Menurut Virlianti (2002:6) mengemukakan bahwa pemahaman adalah konsepsi
  yang bisa dicerna atau dipahami oleh peserta didik sehingga mereka mengerti apa yang
  dimaksudkan, mampu menemukan cara untuk mengungkapkan konsepsi tersebut, serta
  dapat mengeksplorasi kemungkinan yang terkait.
            Berdasarkan pengertian pemahaman diatas, penulis menyimpulkan pemahaman
  adalah suatu cara yang sistematis dalam memahami dan mengemukakan tentang sesuatu
  yang diperolehnya.
            Setiap materi pembelajaran matematika berisi sejumlah konsep yang harus
  disukai siswa. Pengertian konsep Menurut Ruseffendi (1998:157) adalah suatu ide
  abstrak yang memungkinkan kita untuk mengklasifikasikan atau mengelompokkan objek
  atau kejadian itu merupakan contoh dan bukan contoh dari ide tersebut.




B. Pemahaman Konsep Matematika


            Pemahaman konsep sangat penting, karena dengan penguasaan konsep akan
  memudahkan siswa dalam mempelajari matematika. Pada setiap pembelajaran
  diusahakan lebih ditekankan pada penguasaan konsep agar siswa memiliki bekal dasar
  yang baik untuk mencapai kemampuan dasar yang lain seperti penalaran, komunikasi,
  koneksi dan pemecahan masalah.
            Penguasan konsep merupakan tingkatan hasil belajar siswa sehingga dapat
  mendefinisikan atau menjelaskan sebagian atau mendefinisikan bahan pelajaran dengan
  menggunakan           kalimat      sendiri.       Dengan   kemampuan   siswa   menjelaskan   atau
  mendefinisikan, maka siswa tersebut telah memahami konsep atau prinsip dari suatu
  pelajaran meskipun penjelasan yang diberikan mempunyai susunan kalimat yang tidak
  sama dengan konsep yang diberikan tetapi maksudnya sama.
            Menurut Sanjaya (2009) mengatakan apa yang di maksud pemahaman konsep
  adalah kemampuan siswa yang berupa penguasaan sejumlah materi pelajaran, dimana
  siswa tidak sekedar mengetahui atau mengingat sejumlah konsep yang dipelajari, tetapi
  mampu mengungkapan kembali dalam bentuk lain yang mudah dimengerti, memberikan


  3 | Seminar Nasional FKIP Universitas Sriwijaya
interprestasi data dan mampu mengaplikasikan konsep yang sesuai dengan struktur
kognitif yang dimilikinya.
          Berdasarkan uraian diatas, penulis dapat menyimpulkan definisi pemahaman
konsep adalah Kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengemukakan kembali ilmu
yang diperolehnya baik dalam bentuk ucapan maupun tulisan kepada orang sehingga
orang lain tersebut benar-benar mengerti apa yang disampaikan.
          Mengingat pentingnya pemahaman konsep tersebut, Menurut Hiebert dan
Carpenter (dalam Dafril: 2011). Pengajaran yang          menekankan kepada pemahaman
mempunyai sedikitnya lima keuntungan, yaitu:
     1. Pemahaman memberikan generative artinya bila seorang telah memahami suatu
          konsep, maka pengetahuan itu akan mengakibatkan pemahaman yang lain karena
          adanya jalinan antar pengetahuan yang dimiliki siswa sehingga setiap
          pengetahuan baru melaui keterkaitan dengan pengetahuan yang sudah ada
          sebelumnya.
     2. Pemahaman memacu ingatan artinya suatu pengetahuan yang telah dipahami
          dengan baik akan diatur dan dihubungkan secara efektif dengan pengetahuan-
          pengetahuan yang lain melalui pengorganisasian skema atau pengetahuan secara
          lebih efisien di dalam struktur kognitif berfikir sehingga pengetahuan itu lebih
          mudah diingat.
     3. Pemahaman mengurangi banyaknya hal yang harus diingat artinya jalinan yang
          terbentuk antara pengetahuan yang satu dengan yang lain dalam struktur kognitif
          siswa yang mempelajarinya dengan penuh pemahaman merupakan jalinan yang
          sangat baik.
     4. Pemahaman meningkatkan transfer belajar artinya pemahaman suatu konsep
          matematika akan diperoleh siswa yang aktif menemukan keserupaan dari
          berbagai konsep tersebut. Hal ini akan membantu siswa untuk menganalisis
          apakah suatu konsep tertentu dapat diterapkan untuk suatu kondisi tertentu.
     5. Pemahaman mempengaruhi keyakinan siswa artinya siswa yang memahami
          matematika dengan baik akan mempunyai keyakinan yang positif yang
          selanjutnya akan membantu perkembangan pengetahuan matematikanya.




4 | Seminar Nasional FKIP Universitas Sriwijaya
C. Indikator Pemahaman Konsep


            Menurut Sanjaya (2009) indikator yang termuat dalam pemahaman konsep
  diantaranya :
       1. Mampu menerangka secara verbal mengenai apa yang telah dicapainya
       2. Mampu menyajikan situasi matematika kedalam berbagai cara serta mengetahui
            perbedaan,
       3. Mampu mengklasifikasikan objek-objek berdasarkan dipenuhi atau tidaknya
            persyaratan yang membentuk konsep tersebut,
       4. Mampu menerapkan hubungan antara konsep dan prosedur,
       5. Mampu memberikan contoh dan contoh kontra dari konsep yang dipelajari,
       6. Mampu menerapkan konsep secara algoritma,
       7. Mampu mengembangkan konsep yang telah dipelajari.


            Pendapat       diatas      sejalan      dengan   Peraturan   Dirjen   Dikdasmen   Nomor
  506/C/Kep/PP/2004 tanggal 11 November 2001 tentang rapor pernah diuraikan bahwa
  indikator siswa memahami konsep matematika adalah mampu :
       1. Menyatakan ulang sebuah konsep,
       2. Mengklasifikasi objek menurut tertentu sesuai dengan konsepnya,
       3. Memberikan contoh dan bukan contoh dari suatu konsep,
       4. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis,
       5. Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep,
       6. Menggunakan dan memanfaatkan serta memilih prosedur atau operasi tertentu,
       7. Mengaplikasikan konsep atau algoritma dalam pemecahan masalah.


            Mengetahui kemampuan siswa dalam memahami konsep matematika maka perlu
  diadakan penilaian terhadap pemahaman konsep dalam pembelajaran matematika.
  Tentang penilaian perkembangan anak didik dicantumkan indikator dari kemampuan
  pemahaman konsep sebagai hasil belajar matematika Tim PPPG Matematika 2005:86
  (dalam Dafril, 2011) Indikator tersebut adalah :
       1) Kemampuan menyatakan ulang sebuah konsep adalah kemampuan siswa untuk
            mengungkapkan kembali apa yang telah dikomunikasikan kepadanya;


  5 | Seminar Nasional FKIP Universitas Sriwijaya
          Contoh: pada saat siswa belajar maka siswa mampu menyatakan ulang maksud
          dari pelajaran itu.
     2) Kemampuan mengklafikasikan objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan
          konsep adalah kemampuan siswa mengelompokkan suatu objek menurut
          jenisnya berdasarkan sifat-sifat yang terdapat dalam materi.
          Contoh: siswa belajar suatu materi dimana siswa dapat mengelompokkan suatu
          objek dari materi tersebut sesuai sifat-sifat yang ada pada konsep.
     3) Kemampuan member contoh dan bukan contoh adalah kemampuan siswa untuk
          dapat membedakan contoh dan bukan contoh dari suatu materi.
          Contoh: siswa dapat mengerti contoh yang benar dari suatu materi dan dapat
          mengerti yang mana contoh yang tidak benar
     4) Kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematika
          adalah kemampuan siswa memaparkan konsep secara berurutan yang bersifat
          matematis.
          Contoh:         pada       saat         siswa   belajar   di   kelas,   siswa   mampu
          mempresentasikan/memaparkan suatu materi secara berurutan.
     5) Kemampuan mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep
          adalah kemampuan siswa mengkaji mana syarat perlu dan mana syarat cukup
          yang terkait dalam suatu konsep materi.
          Contoh: siswa dapat memahami suatu materi dengan melihat syarat-syarat yang
          harus diperlukan/mutlak dan yang tidak diperlukan harus dihilangkan.
     6) Kemampuan menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur tertentu adalah
          kemampuan siswa menyelesaikan soal dengan tepat sesuai dengan prosedur.
          Contoh: dalam belajar siswa harus mampu menyelesaikan soal dengan tepat
          sesuai dengan langkah-langkah yang benar.
     7) Kemampuan mengklafikasikan konsep atau algoritma ke pemecahan masalah
          adalah kemampuan siswa menggunakan konsep serta prosedur dalam
          menyelesaikan soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
          Contoh: dalam belajar siswa mampu menggunakan suatu konsep untuk
          memecahkan masalah.




6 | Seminar Nasional FKIP Universitas Sriwijaya
D. Pembelajaran Matematika Untuk Kemampuan Pemahaman Konsep

            Pelajaran Matematika sering merupakan momok bagi para siswa. Banyak siswa
  dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi yang membenci mata pelajaran ini. Kesulitan
  yang harus dihadapi dengan berbagai penggunaan logika dan rumus dalam
  menyelesaikan soal merupakan kendala dan permasalahan besar. Namun ada teori
  belajar matematika yang sebenarnya mudah untuk dilakukan. Menurut Suherman (2001)
  Dengan menerapkan teori ini, matematika bukanlah menjadi mata pelajaran yang harus
  dihindari. Teori tesebut yaitu:

   a. Memahami konsep dan bukan menghapal rumus, maksudnya teori belajar
       matematika pertama yang harus diingat adalah bahwa belajar matematika berarti
       memahami konsep untuk setiap soal yang dihadirkan. Walau di dalam matematika
       ada rumus yang harus dihapal, namun inti dari pelajaran matematika adalah
       pemahaman. Seberapa hebat anda dalam menghafal berbagai rumus matematika,
       tidak akan bermanfaat jika konsep dasarnya tidak dipahami. Pemahaman konsep
       menjadi modal utama dalam menguasai pelajaran matematika. Itulah teori belajar
       matematika yang paling utama yang harus dikuasai terlebih dahulu.
   b. Belajar dari contoh soal, maksudnya memahami konsep bisa dilakukan dengan
       cara membaca berbagai uraian pelajaran matematika. Namun teori saja tidak akan
       dapat membuat pemahaman secara lengkap. Diperlukan juga praktik yang artinya
       Anda harus belajar dari berbagai soal. Teori belajar matematika kedua yang juga
       sangat mudah dilakukan adalah belajar dari contoh soal. Uraian teori yang anda
       peroleh harus anda terapkan di dalam berbagai contoh soal. Dengan melihat
       bagaimana teori dalam menyelesaikan berbagai soal, anda akan lebih mampu lagi
       memahami konsep secara menyeluruh. Soal-soal inilah yang merupakan refleksi
       dari bahan pelajaran sebenarnya.
                      Berdasarkan pendapat diatas bahwa pemahaman konsep matematika
       sangatlah penting dikuasai oleh siswa, sehinga siswa tidak lagi hanya menghapal
       rumus tetapi dia benar-benar memahami konsep matematika kemudian pemahaman
       konsep juga bisa mudah dipahami dengan belajar dari contoh-contoh soal
       matematika itu sendiri.



  7 | Seminar Nasional FKIP Universitas Sriwijaya
                    Agar      lebih      memahami     penjelasan     pemahaman       konsep   dalam
     pembelajaran matematika, dibawah ini akan di contoh soal pemahaman konsep
     berdasarkan indikatornya.


1. Menyatakan ulang sebuah konsep
     Contoh soalnya adalah siswa mampu mendefinisikan ulang perkalian dua.
     2x1                                =2
     2x2=2+2                            =4
     2x3=2+2+2                          =6
     …….dst
     Mendefinisikan perkalian disini maksudnya siswa setelah belajar perkalian ia
     mampu menyatakan ulang perkalian dua tersebut.


2. Mengklasifikasi objek sesuai dengan konsepnya.
     Maksudnya siswa mampu mengkelompokkan sifat-sifat tertentu suatu objek
     menurut jenisnya dan sifat-sifat.
     Dalam        menyelesaikan           Sistem    persamaan      Linier   dimana    siswa   dapat
     mengelompokkan suatu objek dari soal sesuai dengan sifat-sifatnya, sehingga siswa
     dapat menyelesaikan sistem persamaan linier tersebut menggunakan berbagai
     metode. Seperti metode grafik, eleminasi, substitusi dan gabungan antara eliminasi
     & substitusi.
     Contoh :
     Ibu membeli duah buah potong kain untuk pakaian yang berwarnah hijau dan
     kuning. Dari kedua potongan kain tersebut masing-masing berukuran 12 meter yang
     berwarna hijau dan 24 meter berwarna kuning. Tentukan :
     a. Banyak stel pakaian yang dibuat, jika untuk seorang laki-laki                          saja
          membutuhkan 3 meter kain hijau dan 4 meter kain kuning.
     b. Banyak stel pakaian yang dapat dibuat, jika untuk seorang perempuan saja
          membutuhkan 4 meter kain hijau dan 6 meter kain kuning.


     Untuk menyelesaikan soal seperti ini siswa harus mampu mengelompokkan
     menurut jenis dan sifat-sifatnya.


8 | Seminar Nasional FKIP Universitas Sriwijaya
     Penyelesaian :
     Dik :
                                     Hijau (m)             Kuning (m)
          Laki –laki (x)             3                     4
          Perempuan (y)              4                     6
          Total kain                 12                    24


     Disini telah terjadi pengelompokkan dan akhirnya siswa mampu membentuk model
     matematika : 3x + 4y = 12 dan 4x + 6y= 24.
     Sehingga         siswa      dapat     menyelesaikan   system   persamaan   linier   tersebut
     menggunakan salah satu metode yang disebutkan diatas.


3. Kemampuan mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep
     maksudnya siswa mampu menganalisa suatu soal mana syarat perlu dan mana syarat
     cukup yang terkait dalam suatu konsep materi.
     Contoh: siswa dapat memahami suatu materi dengan melihat syarat-syarat yang
     harus diperlukan/mutlak dan yang tidak diperlukan harus dihilangkan pada
     Persamaan kuadrat yang akar-akar Real, kembar dan imajenir hanya menggunakan
     Diskriminan tanpa harus mencari nilai akar-akar Persamaan kuadrat tersebut.
      ax2 + bx + c = 0
     Dengan Diskriminan (D)
     D = b2 – 4ac, Jika :
     D>0            : akar-akar Persamaan Kuadratnya beda dan real.
     D=0            : akar-akar Persamaan Kuadratnya kembar/sama
     D<0            : akar-akarnya imajenir
     Biasanya siswa langsung mencari akar-akar persamaan kuadratnya menggunakan
     pemfaktoran / melengkapkan kuadrat sempurna / menggunakan rumus.
     Contoh :
     Tentukan jenis akar Persamaan Kuadrat x2 + x - 6 = 0
     Jawab :
     D = b2 – 4ac
     D = 1 – 4.1.(-6) = 1 + 25 = 26.


9 | Seminar Nasional FKIP Universitas Sriwijaya
     Karena D > 0, maka jenis akar real dan berbeda.
     Pada saat tertentu biasanya siswa langsung menggunakan pemfaktoran/melengkapi
     kuadrat sempurna/rumus untuk menentukan jenis akar persamaan kuadrat.
     Kemudian siswa baru menyimpulkan bahwa jenis akar persamaan kuadratnya.


4. Memberikan contoh dan bukan contoh dari suatu konsep, maksudnya siswa dapat
     membedakan mana contoh yang benar dari suatu materi dan contoh yang tidak
     benar dari suatu konsep materi yang telah dipelajari.
     Pada pokok bahasan logika, siswa mampu membedakan suatu kalimat yang
     termasuk pernyataan dan bukan pernyataan
     Contoh :
     a. Semua mahkluk hidup memerlukan oksigen untuk bernapas.
     b. Ular digolongkan sebagai hewan mamalia.
     Jawaban: kedua kalimat diatas sebagai pernyataan, karena suatu kalimat
     digolongkan suatu pernyataan jika kalimat tersebut bisa kita jawab benar atau salah.
     Jika benar maka pernyataan tersebut pernyataan yang benar, dan sebaliknya jika
     salah maka pernyataan tersebut pernyataan yang salah. Jadi kalimat a pernyataan
     yang bernilai benar dan kalimat b pernyataan yang bernilai salah.


5. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis
     Maksudnya siswa mampu merepresentasikan soal dalam berbagai bentuk
     representasi matematis, seperti dalam grafik, tabel, dan piktogram sehingga orang
     lain mampu memahami maksud dari soal tersebut.
     Contoh
     Dalam suatu kelurahan A diperoleh data pekerjaan warganya, antara lain Pedagang
     sebanyak 5 orang, wiraswasta sebanyak 10 orang, Pegawai Negeri Sipil sebanyak
     42 orang dan Polri/TNI sebanyak 8 orang.
     Dari data tersebut dapat direpresentasikan dalam bentuk diagram/grafik :
     a. Diagram batang
     b. Diagram Garis
     c. Diagram Lingkaran
     d. Tabel


10 | Seminar Nasional FKIP Universitas Sriwijaya
     e. Piktogram
          Data diatas direpresentasikan dalam :
              1. Bentuk Tabel :
                     Tabel Pekerjaan Penduduk di Kelurahan A
                     No                  Pekerjaan         Frekuensi (orang)
                     1     Pedagang                        5
                     2     Wiraswasta                      10
                     3     PNS                             42
                     4     TNI/Polri                       8
                     Total Penduduk                        65




               2.     Bentuk diagram batang :

                           Pekerjan Penduduk Di Kelurahan A
               50

               40

               30
                                                                               Jumlah
               20

               10

                 0
                          Pedagang      Wiraswasta   PNS         TNI/Polri




11 | Seminar Nasional FKIP Universitas Sriwijaya
                                         DAFTAR PUSTAKA



Dasari, D. 2002. Pengembangan Pembelajaran Matematika Berdasarkan Kurikulum
           Berbasis Kompetensi. Proceeding Seminar Nasional 5 Agustus 2002, hal 69-
           75.
Depdiknas. 2006a. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Standar Kompetensi SMP dan
           MTs. Jakarta: Depdiknas.
________. 2006b. Peraturan Mentri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006 tentang
           Standar isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas
Ernawati. 2003. Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Siswa
           SMU Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Skripsi Jurusan Pendidikan
           Matematika FPMIPA UPI (tidak dipublikasikan).
Dafril, A. 2011. Pengaruh Pendekatan Konstruktivisme Terhadap Peningkatan Pemahaman
           Matematika Siswa. Palembang : Prosiding PGRI. hal 795-796

Herman, Tatang. 2006. Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan
           Kemampuan Berpikir Matematis Tingkat Tinggi Siswa SMP. Disertasi Doktor
           Program Pascasarjana UPI (tidak dipublikasikan).
Mulyasa, E. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosda Karya
Purwanto, M.N. 1994. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran Pendidikan.
           Bandung: Remaja Rosdakarya
Ruseffendi, E.T.. 2006. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan
           Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA.
           Bandung: Tarsito.
Rohana. 2011. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Pemahaman
           Konsep Mahasiswa FKIP Universitas PGRI. Palembang : Prosiding PGRI
Sanjaya, Wina. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
           Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Slavin, Robert E. Educational Psychology: Theory and Practice (Development During
           Childhood and Adolescence). Allyn and Bacon Paramount Publishing,
           Massachusetts, 1994.

12 | Seminar Nasional FKIP Universitas Sriwijaya
Suherman, Herman. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung :
           JICA. Universitas Pendidikan Indonesia
Virlianti, Y. 2002. Analisis Pemahaman Konsep Siswa dalam Memecahkan Masalah
           kontekstual pada Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Realistik.
           Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UPI (tidak dipublikasikan).
Zulkardi. 2003. Pendidikan Matematika di Indonesia : Beberapa Permasalahan dan
           Upaya Penyelesaiannya. Palembang: Unsri.




13 | Seminar Nasional FKIP Universitas Sriwijaya

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:796
posted:9/23/2012
language:Malay
pages:13