Makalah sejarah by IvonMenyendiri

VIEWS: 404 PAGES: 142

									     BAB I



     PENDAHULUAN



1.    Latar Belakang

     Dalam minggu pertama bulan oktober 1965 rakyat Indonesia dikejutkan oleh serangakaian berita Radio Republik
     Indonesia (RRI) Jakarta tentang terjadinya pergolakan pada tingkayt tertinggi pemerintahan ibukota
     Jakarta.Pada hari jum’at tanggal 1 Oktober 1965 secara berturut-turut RRI Jakarta menyiarkan empat berita
     penting.



     Siaran pertama, sekitar pukul 07.00 pagi, memuat berita bahwa pada hari Kamis tanggal 30 September 1965 di
     Ibukota Republik Indonesia, jakarta telah terjadi “gerakan militer dalam Angkatan Darat”yang dinamakan
     “Gerakan 30 September”, dikepalai oleh Letkol Untung, Komandan Bataliyon Cakrabirawa, pengawal pribadi
     Presiden Soekarno. Sejumlah besar jendral telah ditangkap, alat-alat komunikasi yang penting-penting serta
     obyek penting lainnya sudah dikuasai Gerakan tersebut dan “Presiden Soekarno selamat dalam lindungan
     Gerakan 30 September”. Gerakan tersebut ditujukan kepada jendaral-jendral anggota apa yang menamakan
     dirinya Dewan Jendral. Komandan Gerakan 30 Sepetember itu menerangkan bahwa akan dibentuk Dewan
     Revolusi Indonesia ditingkat pusat yang dikuti oleh tingkat kabupaten, kecamatan dan desa.



     Siaran kedua, sekitar pukul 13.00 hari itu juga memberitakan “Dekrit No.1 tentang Pembentukan Dewan Revolusi
     Indonesia dan keputusan No.1 tentang susunan Dewan Revolusi Indonesia”. Baru dalam siaran kedua ini
     diumumkan “Komando Gerakan 30 September”, yaitu Letkol Untung sebgai komandan, Brigjend Supadjo, Letkol
     Udara Heru, Kolonel laut Sunardi, dan Ajun Komisaris besar Polisi Anwas sebagai Wakil komandan.



     Siaran kedua ini memuat dua keanehan. Dari sudut organisasi militer, adalah aneh bahwa seorang Brigjend
     menjadi wakil seorang Letkol. Selain itu, “Gerakan 30 September” ini ternyata bukanlah sekedar gerakan militer
     dalam Angkatan Darat, oleh jarena dalam dekrit No.1 tersebut diumumkan bahwa : “untuk sementara waktu,
     menjelangpemilu MPR sesuai dengan UUD 1945, Dewan Revolusi Indonesia menjadi sumber dari segala
     kekuasaan dalam Negara Republik Indonesia.



     Siaran ketiga, pad pukul 19.00, RRI menyiarkan pidato radio Panglima Komando Tjadangan Strategis Angkatan
     Darat (Kostrad), Mayjend Soeharto, yang menyampaikan bahwa gerakan 30 September tersebut adalah
     golongan kontra revolusioner, yang telah menculik beberapa perwira tinggi Angkatan Darat, dan telah
     mengambil alih kekuasaan Negara, atau coup dari YPM presiden/panglima tertinggi ABRI/pemimpin besar
     Revolusi dan melempar cabinet Dwikora ke kedudukan demisioner. Perwira-perwira tinggi AD yang telah diculik
     adalah : Letjend. A.Yani, Mayjend . Soeprapto, Mayjend. S. Parman, Mayjend. MT Haryono, Brigjend. D.I
     Pandjaitan, dan Brigjend Soetoyo Siswomihardjo. Dengan prosedur tetap angkatan darat, Mayor Jendral
     Soeharto mengumumkan bahwa untuk sementara pimpinan Angkatan Darat dipegang oleh beliau.
Kemudian pada tengah malam tanggal 1 Oktober 1965 menjelang 2 Oktober, RRI menyiarkan pengumuman
Presiden/Panglima tertinggi ABRI.Pemimpin Besar Revolusi Soekarno bahwa beliau dalam keadaan sehat dan
tetep memegang pimpinan Negara dan revolusi.



Selanjutnya pada tanggal 3 Oktober 1965pukul 01.30 RRI menyiarkan pidato Presiden/Panglima
Tertinngi/Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno, yang selain menegaskan kemabali bahwa beliau berada dalam
keadaan sehat dan tetap memegang tumpuk pimpinan Negara serta tampuk pimpinan Pemerintahan dan
Revolusi Indonesia. Beliau mengumumkan bahwa tanggal 2 Oktober beliau telah memanggil semua panglima
Angkatan Bersenjjata bersama wakil perdana menteri kedua Dr.Leimena, dan pejabat penting lainnya. Pimpinan
Angkatan Darat langsung berada ditangan beliau dan tugas sehari-hari dijalankan oleh MayJend Pranoto
Reksosamodra, assisten I(II men/PANGAD, sedangkan MAyjend Soeharto, panglima Kostrad ditunjuk untuk
meklaksanakan pemulihan keamanan dan ketertiban.



Sesuai pidato Presiden tersebut makan pada tanggal 3 Oktober 1965 itu juga Panglima Kostrad Mayjend
Soeharto mengumumkan bahwa mulai saat itu pimpinan Angkatan DArat dipegang langsung oleh PYM
Preisden/Panglima tertinggi ABRI. Beliau sendiri masih diberi tugas untuk menngembalikan keamanna sebagai
sediakala.



Pada tanggal 4 Oktobet 1965pukul 20.00 RRI Jakarta menyiarkan rekaman pidato Mayjend Soeharto seteelah
menyaksikan pembonkaran tujuh jenazah, enam jenazah jendral dan satu jenazah perwira pertama yang diculik
“Gerakan 30 September” pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965. jenazah tersebut ditemukan dalam keadaan
rusdak didalam sebuaha sumur tua di daerah lubang buaya, dekat pangkalan uadara Halim Perdana Kusuma,
Jakarta. Daerah itu digunakan sebagai lokasi latiahan sukarelawan dan sukarelawati yang berasal dari pemuda
rakyar (PR) dan Geerakan Wanita Indonesia (Gerwani) oleh oknum-oknum Ankatan Udara. Kedua Organisasi ini
adala “organisasdi mantel” dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Tujuh perwira yang ditangkap oleh oknum-
oknum Cakrabirawa di kediamannya masing-masing., dibawa ke lokasi latihan PR dan Gerwani tersebut untuk
disiksa dan dibunuh. Gerakan 30 September ternyata keluar merupakan aksi Cakrabirawa dan ke dalam
merupakan aksi PR dan Gerwani.



Pada tanggal 4 Oktober inilah diketahui untuk pertama kalinya kejelasan mengenai “Gerakan 30 September”
tersebut. Gerakan itu ternyata terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang sejak tahun 1951
membengun kembali kekuatannya setelah terlibat dalam pemberontakan terhadap republic Indonesia dalam
bulan November1948 PKI madiun , jawa timur.



Rangakaian sidang mahkamah militer Luar Biasa (Mahmillub) untuk mengadili mereka yang telibat dalam kudeta
tersebut telah mengungkapakan lebih dalam lagi keterlibatan PKI. Partai ini tyerbukti merupakan dalang dan
pelaku dari aksi subversi sejak tahun 1954, yang berpuncak pada kueta berdarah pada awal bulan Oktober 1965
tersebut. Oleh karena itu “Gerakan 30 september” disebut secara lengkap sebagai “Gerakan 30 September/artai
Komunis Indonesia” atau “G30S/PKI”.



Pengungkapan peranan PKI dalam sidang mahkamah tersebut telah menimbulkan reaksi hebat dalam
masyarakat Indonesia, yang berujung dengan ditetapkannya ktetapan MPR sementara No. TAP-XXV/MPRS/1966
     tanggal 5 juli 1966 tentang pembubaran Partai Komunis Indonsia, pernyataan sebgai organisasi terlarang di
     seluruh wilayah Negara RI bagi Partai Komunis Indonesia, dan larangtan setiap kegiatan untuk menyebarkan
     atau mengembangkan paham atau ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme.



     Penumpasan G30S/PKI mencakup penumpasan secara fisik dengan menghancurkan pimpinan, organisasi dan
     gerakan bersenjatanya. Penumpasan secara konstitusional dengan melarang paham Marxisme/leninisme-
     Komunisme dan penumpasan secara ideologis dengan mengadakan penataran Kewaspadaan Nasional.



1.    Rumusan Masalah

     Dari uraian latar belakang tersebut, maka penulis merumuskan permasalahan-permasalahan sebagai berikut:



1.    Bagaimana berkembangnya PKI di Indonesia pada tahun 1950-1965?

2.    Bagaimana aksi yang dilakukan PKI melalui Gerakan 30 September di tingkat pusat?

3.    Bagaimana tindakan yang diambil oleh pemerintah dalam penumpasan G30S/PKI?

4.    Apa tuntutan massa dalam penumpasan G30S/PKI?

1.    Batasan Masalah

     Karena terbatsnya waktu dan referensi yang digunakan, maka Makalah ini hanya membahas tentang
     pemberontakan PKI pada tahun 1965 dan berkembangnya komunisme di indonesia pada tahun 1950-1965 di
     tingkat pusat, serta cara penumpasan yang dilakukan oleh pemerintah serta tuntutan –tuntutan yang dilakukan
     oleh massa untuk membubarkan PKI dan Ormas-ormasnya di Indonesia.



1.    Tujuan dan Kegunaan Penulisan

     Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:



1.    Untuk memenuhi Tugas Akhir semester ganjil Mata Kuliah Dasar-dasar Ilmu Sejarah dan sebgai syarat untuk mengikuti
      Ujian Akhir Semester I.

2.    Untuk memperoleh dan memperkaya pemahaman tentang Sejarah nasioanal yang terkait dengan sejarah perjuangan
      mempertahankan ideologi Pancasila pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

3.    Untuk ikut berperan serta dalam kegiatan ilmiah, khususnya ilmu Sejarah melalui studi kepustakaan guna memperkaya
      khazanah dunia ilmu.

4.    Untuk mempraktekan metodologi dan historiografi atau penulisan Sejarah.

     Adapun kegunaan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:



1.    Dapat mengetahui berkembangnya PKI di Indonesia pada Tahun 1950-1965.

2.    Dapat mengetahui aksi-aksi yang dilakukan oleh PKI di tingkat pusat.

3.    Dapat mengetahui tindakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam penumpasan G30S/PKI
4.     Dapat mengetahui tuntutan yang di ajukan oleh massa dalam penumpasan G30S/PKI.

5.     Dapat memahami dan menjelaskan tentang pemberontakan G30S/PKI 1965 di tingkat pusat dan penumpasannya serta
       tuntutan massa terhadap penumpasan G30S/PKI.

6.     Dapat memahami arti sebuah perjuangan.

1.     Metode Penulisan

     Sejarah sebagai ilmu,adalah susunamn pengetahuan dalam suatu sistem tertentu (a body of knowledge) yang
     disusun menurut suatu metode khusus, dengan tujuan untuk memperoleh kebenaran tentang sesuatu (Helius
     Sjamsuddin,1996:16). Dalam makalah ini digunakan metode historis dengan unsur utama kajian pustaka atau
     studi literatur sehingga sumber sejarah yang berupa bacaan atau literatur menduduki tempat yang penting.
     MenurutLouis Gottschalk (1975:34) menyatakan bahwa metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa
     secara kritis rekaman san peninggalan sejarah masa lampau kemudian merekontruksinya berdasarkan data yang
     diperoleh, sehingga dapat menghasilkan bentuk historiografi. Informasi-informasi tersebut didaptkan dengan
     studi pustaka, buku-buku penelitian sejarah, dokumentasi organisasi, karangan-karangan dari subjek yang diteliti
     akan menjadi bahan dasar dalam penulisan makalah ini. Historiografi dalam penulisan pemberontakan G30S/PKI
     1965 dan usaha pemberantasannya ini didekati dengan metode sejarah. Hal ini mengingat informasi yang akan
     direkonstruksi merupakan peristiwa masa lampau. Maka, langkah-langkah yang ditempuh adalah:



1.     Heuristik

     Heuristik adalah kegiatan menghimpun sumber-sumber atau jejak-jejak sejarah yang ada pada masa lampau.
     Untuk memperoleh sumber sejarah yang relevan dengan perumusan masalah, maka cara yang dilakukan adalah
     melalui studi literatur.



1.     Verifikasi

     Setelah langkah pengumpulan sejarah selesai maka langakah yang dilakukan selanjutnya adalah kritik sumber.
     Kritik adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menyelidikai apakah sumber sejarah itu murni, baik bentuk
     maupun isinya. Setelah ditentukan beberapa sumber yang yang mengandung permasalahan yang akan dibahas,
     kemudian dilakukan kritik terhadap sumber-sumber tersebut. Kritik ada dua macam, yaitu kritik intern dan kritik
     ekstern. Kritik intern adalah kritik yang dilakuakan terhadap isi materi , apakah sumber yang dipakai sebagai
     data tersebut dapat memberikan informasi yang dapat dipercaya atau tiadak. Sedangkan, Kritik ekstern adalah
     kritik terhadap keaslian sumber.



1.     Interpretasi

     Sumber sejarah yang terpilih kemudian di analisis dan di sintetiskan untuk mewujudkan adanya saling
     keterkaitan. Kemudian diberikan tafsiran-tafsiran dan dikorelasikan dari data pada sumber satu dengan sumber
     yang lain . hasilnya disusun secara kronologis dan sistematis, diberi batasan dan dirumuskan masalahnya dan
     siap untuk ditulis.



1.     Historiografi
     Langkah ini meruapkan langkah terakhir yang dilakukan. Historiografi adalah langkah penyusunan kisah sejarah
     berdasarkan kerangka dan rumusan masalah (Louis Gottschalk,1975:32).



1.    Garis Besar Isi

     Isi dari makalah secara garis besar adalah sebagai berikut:



     Bab I. Pendahuluan



     Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, batasan masalah, masalah, tujuan dan kegunaan penulisan,
     metode penulisan, dan garis besar makalah.



     Bab II. Berkembangnya PKI di Indonesia Tahun 1950-1965



     Pada bab ini dijelaskan berkembangnya pengaruh komunisme di Indonesiapada masa demokrasi liberal dan
     demokrasi terpimpin. Munculnya nama DN.Aidit sebagai pemimpin dalam PKI dan membuat provokasi dan ingin
     mengkomunismekan bangsa Indonesia dengan membuat partai dan menyusun program guna melaksanakan
     aksinya.



     Kemenangan PKI dalam pemilu 1955 membuat peluang PKI untuk membentuk negara dan masyarakat komunis
     yang sempat tertunda pada tahun 1948 semakin besar. Dengan kemenangan tersebut maka banyak orang-orang
     PKI yang duduk dalam sistem pemerintahan hal ini dimanfaatkan untuk mengubah ideologi bangsa dari pancasila
     menuju ke komunisme.



     Bab III. Aksi G30S/PKI ditingkat Pusat



     Pada bab ini akan menjelaskan tentang aksi-aksi yang dilakukan oleh PKI, dari aksi sabotase,teror , agitasi,
     propaganda,aksi fitnah pada tubuh Angkatan Daratbahkan sampai melakukan penculikan dan pembunuhan
     terhadap 7 perwira tinggi Angkatan Darat.



     Bab IV. Penumpasan G30S/PKI dan Tuntutan Massa Dalam Pembubarannya.



     Dalam bab ini akan dijelaskan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh panglima kostrad, penemuan lokasi dimana
     para jenazah perwira diculik dan dibunuh oleh kaki tangan PKI



     Disini juga menyebutkan bagaimana reaksi rakyat dengan tindakan spontan yang dilakukan oleh massa dan
     trituranya. Yang akhirnya Pangkostrad Mayjend TNI Soeharto diberikan mandat oleh presiden pada tanggal 3
     Oktober 1965 untuk melaksanakan pemulihan keamanan dan ketertiban.
     Pada tanggal 11 Maret 1966 dikeluarkannya perintah kepada Letjend TNI Soeharto untuk mengambil segala
     tindakan yang dianggap perluuntuk menjamin keamanan dan ketertiban serta kestabilan jalannya pemerintahan
     dan revolusi Indonesia, serta menjamin keselamatan dan kewibawaan presiden demi keutuhan NKRI.



     Bab V. Kesimpulan



     Pada bab ini memuat kesimpulan tentang terjadinya pemberontakan yang dilakukan oleh Gerakan 30 September
     yang didalangi oleh PKI.



     BAB II



     BERKEMBANGNYA PKI DI INDONESIA TAHUN 1950-1965



1.    1. Tampilnya D.N. Aidit dalam Kepemimpinan PKI, Tahun 1950

     Alam demokrasi liberal yang berlangsung di Indonesia pada kurun waktu 1950-1959 memberikan kesempatan
     kepada PKI untuk mengadakan rehabilitasi walaupun sebelumnya partai komunis itu telah melakukan
     pemberontakan. Alimin mengakifkan kembali PKI pada 4 februari 1950. Akan tetpi, kepemimpinan Alimin ini tidak
     berjalan lama karena pada Juli 1950 D.N. Aidit yang melarikan diri ke luar negeri akibat pemberontakan PKI-
     Madiun kembali lagi ke indonesia bersama M.H Lukman. Ketika mendarat di Tanjung Priok mereka dibantu oleh
     Kamarusaman bin Ahmad Mubaidah alias Sjam, yang pada saat itu mempunyai kedudukan sebgai salah seorang
     pimpinan buruh di Pelabuhan Tanjung Priok.



     Tindakan pertama D.N. Aidit adalah menyatukan kembali seluruh potensial partai. Setengah tahun kemudian
     D.N. Aidit berhasil mengambil alih kepemimpinan PKI dan mengintensifkan propaganda untuk merehabilitasi
     nama PKI dengan mengeluarkan “Buku Putih” tentang pemeberontakan Madiun. Bahkan, Alimin menuntut
     pengadilan dan penguburan kembali tokoh-tokoh PKIyang dihukum mati akibat pemberontakan PKI-Madiun,
     tetapi hal ini ditolak oleh pemerintah RI.



     Kepemimpinan D.N. Aidit menjadi semakin kuat setelah tokoh-tokoh muda lainnya, seperti Njoto dan Sudisman,
     bergabung. Pada bulan Januari 1951 CC(Comitt Central) PKI memilih politbiro baru yang terdiri atas D.N Aidit,
     M.H Lukman, Njoto, Sudisman dan Alimin. Pemimpin-pemimpin baru inilah yang kemudian berhasil membangun
     kembali dan mengembangkan PKI. Politbiro ini menjalankan Strategi Front Persatuan Nasional[1]. Sampai awal
     tahun 1952 Politbiro CC PKI memusatkan perhatian pada perumusan taktik utama, bentuk perjuangan dan
     bentuk organisasi yang kemudian diikuti oleh PKI dalam tahun-tahun berikutnya.
     Awal tahun 1951 DN Aidit jugsa merehabilitasi Mohammad Jusuf (orang yang pernah maha dikutuk oleh orang-
     orang komunis karena tindakan penyelewengan garis partai dengan melakukan pemberontakann melawan
     Pemerintah RI di bogor pada tahun 1946.) kemudian pada bulan agustus 1951 PKI menggerakkan kerusuhan-
     kerusuhan di kota Jakarta dan Bogor. Di Bogor banyak penduduk yang menjadi korban. Kabinet Sukiman
     melakukan penangkapan dan penggeledahan dirumah- rumah para pemimpin PKI. Oleh PKI peristiwa
     penangkapan dan penggeledahan ini disebut “ Razia Agustus 1951” dan dianggap sebagai provokasi pemerintah
     Sukiman dalam mencari alasan untuk membubarkan PKI. Akibat tindakan pemerintah itu, sejumlah besar
     pimpinan PKI menjadi tahanan politik dan sebagian kecil melarikan diri. Dalam operasi penangkapan ini D.N.
     Aidit berhasil lolos dan melarikan diri ke Moskow, sedangkan PKI melaksanakan gerakan bawah tanah.



     Tahun 1953 D.N. Aidit kembali ke Indonesia dari Moskow. Ia muncul dengan konsep baru yang dikenal dengan
     “Jalan Demokrasi Rakyat bagi Indonesia”. Melalui konsep ini D.N.Aidit sekaligus menegaskan jalan yang
     revolusioner di samping cara-cara parlementer.



     Dengan berdasarkanMarxisme-Leninisme dan alanisis mengenal situasi kondisi Indonesia sendiri, CC PKI di
     bawah pimpinan D.N.aidit menyusun program partai untuk mencapai tujuannya, yaitu mengkomuniskan
     Indonesia. Adapun isi program tersebut adalah sebagai berikut.



     ü Membina front persatuan nasional yang berdasarkan persatuan buruh dan kaum tani.



     ü Membangun PKI yang meluas di seluruh negara dan mempunyai karakter massa yang luas, yang sepenuhnya
     terkonsolidasi di lapangan idiologi, politik, dan organisasi.



     Dalam pelaksanaan membina font persatuan nasional,PKI merasa perlu untuk membina apa yang mereka sebut
     borjuis nasional[2] dan borjuais kecil[3] kota karena oleh PKI golongan-golongan ini dinilai sebagai sebagai
     golongan yang tertekan oleh penghisap imperalis asing.Pembinaan kedua golongan ini amat penting,di samping
     membina buruh dan tani. Namun,PKIdi bawah kepemimpinan D.N Aidit menaruh perhatian yang besar kepada
     para tani untuk dapat dimanfaatkan dalam mewujudkan konsep Demokrasi Rakyat. Dengan propaganda yang
     menarik dilancarkan bahwa petani harus merdeka,memiliki tanah atau menyewa tanah ,dan menerima upah
     dengan harga yang sesuai dengan yang di kehendakinya. Selanjutnya,D.N.Aidit berpendapat bahwa desa adalah
     sunber bahan makanan,sumber prajurit revolusioner,sebagai tempat menyembunyikan diri jika terpukul di
     perkotaan,dan sebagai basis untnk merebut kembali perkotaan.
     Dalam membangun PKI D.N.Aidit mengatakan “ Kalau kita mau menang dalam revolusi,kalau kita mau
     mengubah wajah masyarakat yang setengah jajahan menjadi Indonesia yang merdeka penuh, kalau kita mau
     ambil bagian dalam mengubah wajah dunia, maka kita harus mempunyai partai model partai komunis Uni Sofiet
     dan model partai komunis Cina”



     Jadi, jelas disini bahwa titik tolak strategi dan taktik PKI pada masa kepemimpinan D.N.Aidit ialah dengan
     memakai model partai komunis Uni soviet dan model partai komunis Cina sekaligus, disesuaikan dengan kondisi
     nyata di Indonesia.



1.     2. PKI pada Masa Demokrasi Liberal, Tahun 1950-1959

     Setelah D.N.Aidit memperoleh kesempatan merehabilitasi PKI dalam alam demokrasi liberal,dia dan kawan-
     kawannya mengambil kesimpulan bahwa untuk memperoleh kesempatan duduk dalam pemerintahan, seperti
     pada masa sebelum pemberontakan PKI-Madiun, PKI perlu mengadakan aliansi dengan kekuatan-kekuatan
     politik yang penting. Pada awal tahun lima puluhan di Indonesia terdapat Partai besar, yaitu Partai Nasional
     Indonesia ( PNI ) dan Majelis Syura Muslimin Indonesia ( MASYUMI ). Menurut jalan pikiran PKI, yang potensial
     dan harus didekati adalah PNI.
Ketika kabinet Sukiman jatuh pada tanggal 23 februari 1952 sebagai akibat persetujuan Mutual Security Asct (
MSA )[4] dengan Amerika Serikat yang ditanda tangani oleh Menteri Luar Negeri Mr.Achmad Soebardjo (Masyumi ), CC
PKI mengeluarkan pernyataan politik yang pada hakikatnya menawarkan kepada PNI untuk membentuk kabinet tanpa
Masyumi. Meskipun kemudian dalam kabinet baru yang dibentuk dibawah pimpinan Mr. Wilopo ( PNI ) ternyata terdapat
pula menteri-menteri dari Masyumi, tetapi PKI tetap menyatakan dukungannya walaupun kecewa karena Masyumi
diikutsertakan.
Pernyataan dukungan PKI itu berisi pembetitahuan kepada partai-partai pendukung kabinet bahwa PKI sedia mendukung
mereka dengan satu imbalan yang ringan, yaitu agar partai-partai politik mengahpuskan kecurigaan dan sikap anti
terhadap PKI beserta organisasi-organisasi massanya ( ormas-ormasnya ). Upaya PKI tersebut beshasil dan sejumlah
pimpinan PNI mulai bekerja sama dengan PKI. Kerja sama itu berpuncak pada usaha menjatuhkan kabinet Mr.Wilopo oleh
PNI sendiri, meskipun kabinet itu dipimpin oleh seorang tokoh PNI. Sebagai penyebabnya ialah peristiwa Tanjung Murawa
di Sumatra Utara, yakni insiden antara polisi dan penyerobot tanah perkebunan milik Negara yang didukung oleh PKI.
Peristiwa ini merupakan kesempatan bagi PNI dan PKI untuk merongrong Gubernur Sumatra Utara, Abdul hakim dan
Menteri Dalam Negeri Mr.Moh.Roem, yang kedua-duanya dari Masyumi. Akhirnya, kabinet Mr.Wilopo jatuh.
Setelah kabinet Mr.Wilopo jatuh PKI mengeluarkan pernyataan yang menuntut pembentukan kabinet baru sesuai dengan
Font Persatuan yang di dalamnya termasuk PKI, tetapi tanpa Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI). Krisis kabinet
berlangsung agak lama dan beberapa formatur telah menemuai kegagalan. Dalam pernyataan berikutnya, PKI meniadakan
tuntutanya untuk duduk di dalam kabinet baru. Setelah satu bulan, terbentuknya kabinet baru dibawah pimpunan Mr.Ali
Sastroamidjojo ( PNI ) dengan menteri-menteri dari berbagai partai kecil, tetapi tanpa Masyumi dan PSI. Kabinet ini
disebut kabinet Mr.Ali Sastroamijojo 1. Dan pernyataan PKI setelah mendukung kabinet itu disebutkan bahwa kabinet itu
sebagai suatu “Kemenangan gemilang daripada demokrasi terhadap fasisme[5]”.
Selama masa pemerintahan kabinet Mr.Ali Sastroamijojo 1, PKI memberikan dukungannya secara gigih pada PNI.
Walaupun diketahui oleh umun bahwa kabinet tersebut tidak berhasil mengatasi kesulitan ekonomi yang dihadapi bangsa
Indonesia, tetapi PKI tetap membela kabinet Mr.Ali Sastroamijojo I. Setiap kali kabinet terrancam perpecahan dari dalam,
PKI mengadakan pembelaan yang keras untuk kabinet dan menyerang kelompok-kelompok yang hendak menjatuhkannya.
Posisi PKI menjadi semakin mantap berkat aglitasi dan propaganda D.N. Aidit yang intensif sehingga pada
Pemilihan Umum tahun1995 PKI berhasil mengumpulkan enam juta suara pemilih. Dengan hasil yang dicapainya
itu, PKI masuk salah satu dari empat besar setelah PNI, Masyumi, dan Nahdatul Ulama(NU). Meskipun PKI
mendapat suara yang cukup besar dalam Pemilu, namun PKI tidak berhasil duduk dalam kabinet yang terbentuk
setelah pemilu tersebut.



Dalam suasana ysng kurang menguntungkan bagi PKI tersebut, presiden Soekarno secara terbuka menyatakan
keinginannya agar PKI diikutsertakan dalam kabinet. Presiden Soekarno berpendapat bahwa PKI perlu
dikutsertakan dalam kabinet karena partai itu telah berhasil tampil sebagai salah satu dari empat partai besar
dalm pemilu. Akan tetapi, keinginan presiden tidak terwujud karena kabinet yang terbentuk adalah kabinet
koalisi antara PNI-Masyumi-NU. Kabinet yang tersusun setelah pemilu ini dinamakan Kabinet Mr. Ali
Sastroamidjojo II. Walaupuin gagal, sikap Presiden Soekarno tersebut telah banyak menolong PKI dalam proses
perkembangan politik Indonesia selanjutnya.



Keadaan yang dihadapi kabinet Mr. Ali Sastroamidjojo II memang sulit, apalagi setelah Drs. Moh. Hatta
mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Presiden pada bulan Desember 1956. Berpisahnya Dwitunggal
Soekarno-Hatta[6] ini merupakan perkembangan yang menguntungkan bagi PKI karena setelah itu PKI lebih
leluasa geraknya didalam upaya menarik Presiden Soekarno agar lebih dekat lagi kepda PKI.
     Kemenagan yang dicapai PKI dalam Pemilu 1955 sebagai hasil aglitasi dan propaganda D.N. Aidit sungguh
     sesuatu yang luar biasa, jika diingat kembali bahwa tujuh tahun sebelumnya PKI pernah mengkhianati
     perjuangan bagsa Indonesia. Dengan kemenangan itui, PKI berusaha kembali untuk mewujudkan tujuan
     politiknya yang telah gagal mereka capai pada tahun 1948, yakni membentuk negara lain masyarakat komunis
     yang sebenarnya tidak dikenal dalam kehidupan bangsa Indonesia yang berfalsafah Pancasila. Untuk mencapai
     tujuan politik tersebut, PKI melakukan langkahnya dengan cara menanamkan pengaruhnya diberbagai bidang
     kehidupan kenegaraan, bauki dibidang ideologi, politik maupun dibidang militer.



     Dibidang ideologi, PKI telah melancarkan upaya perubahan yang mendasar terhadap pancasila. PKI berusaha
     menggati sila pertama dari pancasila, yakni “Ketuhanan Yang Maha Esa” dengan rumusan “kemerdekaan
     beragama”, seperti yang dikemukakan oleh Njpto dalam sidang-sidang Konstutuante tahun 1958. Menurut PKI
     tidak semua masyarakat Indonesia beragama monotheis, banyak di antaranya yang beragama politheis, bahkan
     ada yang tidak berahgama sama sekali. Jelaslah bahwa sejak semula PKI sudah berusaha untuk mengganti
     Pancasila denagn paham lain.



     Dibidang politik dan milter, PKI menyusun strategi politiknya dalam Kongres V yang diselenggarakan tahun 1954.
     Strategi politik itu mereka sebut Metode Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan (MKTBP). Salah satu sasaran dari
     strategi ini adalah menanampakn paham komunisme dikalangan anggota-anggota Angkatan Bersenjata Republik
     Indonesia (ABRI)sebgai kekuatan sosial politik yang menentang PKI.



     Disamping berkembangnya pengaruh PKI, ketidakpuasan yang melahirkan ketegangan-ketegangan politik terus
     meningkat. Dengan alasan untuk menyelamatkan negara dan bagsa dari perepecahan, Soekarno yang telah
     berhasil didekati oleh PKI melontarkan sebuah konsepsi yang disampaikannya pada tanggal 21 Februari 1957
     dalam pidatonya yang berjudul “Menyelamatkan Republik Indonesia”, yang kemudian dikenal sebagai “Konsepsi
     Presiden”. Dalam gagasan itu Presiden mengemukakan konsep politik yang disebut Demokrasi terpimpin. Dalam
     rangka melaksanakan konsep tersebut Preisden mengusulkan pembentukan kabinet Gotong Royong dan Dewan
     Nasional, yang didalamnya duduk wakil-wakil parpol dan semua golongan fungsional. Preiden Soekarno
     menghendaki agar orang-orang PKI duduk dalam kabinet dan Dewan Nsioanal tersebut walaupun beliau belum
     mengetahui bahwa banyak partai politik yang tidak menyetujui gagasannya. Bagi PKI, keinginan Presiden
     Soekarno itu sangat menguntungkan,. Oleh karena itu, PKI segera menyatakan dukunhgannya, terutama
     mengenai pembentukan kabinet Gotong Royong dan pelaksanaan Demokrasi Terpimpin. Dengan terbentuknya
     pemerintahan koalisi nasional, dan melalui pemerintahan koalisi nasional itulah akan dapat diwujudkannya Front
     Persatuan Nasional, yaitu adanya organisasi-organisasi yang bersimpati dan mendukung PKI.



1.    3. PKI pada Masa Demokrasi Terpimpin, Tahun 1959-1965

     Konstituante hasil pemilu 1955 tidak berhasil menyusun Undang-undang dasar baru sebagai Undang-Undang
     Dasar Sementara (UUDS). Ketidakberhasilan itu disebabkan oleh adanya perbedaan pendapat yang tajam
     mengenai dasar negara di antara anggota-anggota konstituante. Untuk mengatasi kemacetan di dalam Dewan
     Konstituante, Presiden Soekarno pada tanggal 5 Juli 1959 mengumumkan dekrit kembali ke UUD 1945. Isi dekrit
     presiden 5 Juli 1959 adalah sebagai berikut:



1.    Bubarkan Konstituante
2.    Belakunya kemabali UUD 1945 dan tidak berlakunya UUDS 1950

3.    Pembentukan MPRS dan DPAS

     Penjelasan mengenai Dekrit Presiden 5 Juli 1959 tersebut disampaikan dalam pidatonya yang berjudul
     “Penemuan Kembali Revolusi Kita”, yang di ucapakan tanggal 17 Agustus 1959.



     Presiden Soekarno selanjutnya meminta kepada Dewan Pertimbangan Agung (DPA) agar isi pidato tersebut
     dirumuskan menjadi Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Yang memimpin Panitia Kerja Dewan
     Pertimbangan Agung itu adalah D.N. Aidit, ketua CC PKI. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk memasukkan
     program-program PKI kedalam GBHN, yang kemudian dikenal sebagai “Manifesto Politik (manipol) RI[7]”. D.N.
     Aidit berussahaq memenfaatkan kedudukannya itu untuk merumuskan isi manipol sesuai dengan thesis revolusi
     PKI, yaitu “Masyarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia (MIRI)[8]” yang diruskan PKI tahun1957, dua tahun
     sebelum Presiden mengucapkan pidato “Penemuan Kembali Revolusi Kita”. Meskipun upaya PKI untuk
     mendominasi isi manipol sesuai dengan konsep MIRI mendapat hambatan yang gigih dari tokoh-tokoh anti
     komunis di DPA, namun konsep manipol akhirnya disetujui Presiden.
     Keleluasaan PKI semakin bertamabah ketika Presiden membentuk Front Nasional[9]. Pembentukan Front
     Nasional tersebut semula dimaksudkan sebagai penggerak masyarakat, tetapi dalam kenyataannya menyimpang
     dri tujuan tersebut karena badan itu menjadi sasaran penggarapan PKI untuk dibawa kedalam strategi Front
     Persatuannya. PKI bersusaha membawa Font Nasional menjadi alat politiknya dengan cara memanfaatkan
     organisasi-organisasi massa, yang menjadi anak organisasi PKI atau yang sudah dipengaruhi PKI.
     Pertengahan tahun 1960 PKI mencoba kekuatannya untuk menghadapi TNI-AD dengan melancarkan kritik dan
     tuduhan bahawa TNI-AD tidak bersungguh-sungguh dalam menumpas pemberontakan PRRI/Permesta
     (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta). Bersama dengan dilancarkannya
     kritik dan tuduhan tersebut, PKI melakukan pengacauan di beberapa daerah, seperti di sumatera Selatan,
     Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Pimpinan TNI-AD menilaia bahwa kritik dan tuduhan itu adalah upaya
     untuk mengacau keadaan, apalagi dengan adanya bukti terjadinya kekacauan oleh PKI di beberapa daerah
     tersebut. Untuk itu, TNI-AD melalui wewenagnya selaku Penguasa Perang Daerah (Peperda) menghentikan dan
     memebekukan berbagai kegiatan PKI atas dasar Undang-Undang Keadaan Bahaya yang sedang berlaku pada
     saat itu. Oleh Perpeda dilakuikan pula penangkapan dan pemeriksaan terhadap tokoh-tokoh PKI, serta melarang
     media massa PKI terbit dan beredar. Dan menyapaikan kepada preisden agar tidak percaya terhadap loyalitas
     PKI, tetpai preisden tidak mengindahkannya, bahkan sebaliknya beliau memperingatkan TNI-AD supaya fobi
     (perasaan takut terhadap sesuatu tanpa sebab tertentu) terhadap PKI.



     Keberhasilan PKI secara politik semakin memperkuat PKI untuk memperbesar dan mancapai cita-citanya. Untuk
     memperoleh perimbangan kekuatan, PKI melukan “ofensif manipolis[10]”, Kemudian dirngkatkan menjadi
     “ofensif revolusioner[11]”, yang ditujukan kepada semua kekuatan sosial politik yang tidak mereka senangi.
     Selain itu, PKI berusaha pula merangkul golongan lain yang kiranya dapat dijadikan “kawan”, Seperti Pertindo
     dan mensyusupi PNI melalui Ir.surachman, yang ketika itu menjabat sebagai Sekjen DPP PNI.
     Tahun 1964 intensitas ofensif revolusioner PKI terhadap tokoh-tokoh politik yang dianggap sebgai lawannya
     makin ditingkatkan. Secara intensif PKI melancarkan tuduhan kontra revolusi terhadap lawan-lawan politik
     mereka. Posisi PKI semakin kuat dengan dibentuknya kabinet Dwikora pada tanggal 27 Agustus 1964, yang
     didalamnya duduk beberapa tokoh PKI Sebagai Menteri Koordinator (Menko) dan menteri. Pembentukan
     Komando Tertinggi Retrooling[12]Aparatur Negara ternyata sejalan dengan PKI, karena itu pembentukan ini
     mereka sambut dengan tangan terbuka. Namun, ABRI tidak tinggal diam, dan terus mengawasi gerak-gerik PKI.
     Bagi PKI tidak ada cara lain untuk kabur dari pengawasan tersebut, kecuali dengan melancarkan fitnah dan
     kampanye menjelek-jelekkan Jendral A.H. Nasution sebagai seorang tokoh ABRI yang dikatakannya ingin
     menyabotase Nasakom.
     Sementara itu, pada tahun 1963 tersiar adanya dokumen CC PKI yang berisi program rahasia yang berjudul
     “Resume Program dan Kegiatan PKI Dewasa Ini”. Pragram itu berupa program jangka pendek yang berisis
     penilaian situasi dan rencana aksi untuk mewujudkan tujuan akhir PKI. Dokumen rahasia itu diketemukan oleh
     anggota Partai Murba. Oleh Wakil Perdana Menteri III, Dr. Chaerul Saleh, seorang tokoh Partai Murba, dokumen
     itu diserahkan kepada ketua umum DPP PNI, Mr. Ali Sastroamidjojo. Selnjutnya, dokumen itu dipaparkan dalam
     sidang kabinet pada awal Desember 1964. PKI membantahnya dan dengan berbagai dalih mengatakan bahwa
     dokumen tersebut adalah dokumen palsu, buatan kaum Trotskyst[13]yang dibantu kaum Nekolim[14] berusaha
     untuk menghancurkan PKI. Tersiarnya dokumen rahasia itu menyebabkan ketegangan Politik makin meningkat
     karena partai-partai lain mencurigai OKI. PKI tetap meyakinkan kepada Presiden bahwa dokumen itu palsu.
     Untuk meredam ketegangan, Presiden memanggil para pemimpin partai ke istana Bogor dan memerintahkan
     nmereka menyusun sebuah rumrusan menyelesaikan masalah persengketaan antar partai. Pada tanggal 12
     Desember 1964 sepuluh paarpol menandatangani sebuah deklarasi yang disebut deklasi Bogor. Deklarasi itu
     drianggap sebagai cetusan kebulatan tekad partai-partai dihadapan Pemimpin Besar Revolusi, Bung Karno. Soal
     dokumen rahasia tidak disebut-sebut dalam deklarasi tersebut dan dengan demikian masalahnya doianggap
     selesai.
     Selama tahun 1964 itu dapat dicatat sejumlah aksi yang dilakukan PKI, antara lain sebagai berikut :



1.     Gerakan riset di kecamatan-kecamatan untuk memastikan kekuatan apa yang oleh PKI disebut petani miskin.

2.     Aksi yang menuntut penyitaan milik inggris dan AS

3.     Aksi menuntut retooling, tuntutan penggantian pejabat yang anti PKI, dan aksi tunjuk hidung

4.     Pengindonesiaan Marxisme

5.     Aksi-aksi teror di berbagai daerah.

     BAB III



     AKSI G30S/PKI DI TINGKAT PUSAT



1.     1. PKI Melaksanakan Tindakan Peningkatan Situasi Ofensif Revolusioner, Tahun 1964-1965

     Setelah penyusupan kader-kader PKI ke dalam tubuh aparatur negara, termasuk ABRI, organisasi Politik, dan
     Oraganisasi kemasyarakatanmencapai taraf yang oleh PKI dinilai cukup kuat, maka PKI mulai melaksanakan
     kegiatan yang mereka sebut sebagai tahap ofensif revolusioner, hal tersebut meliputi:



1.     A. Sabotase, Aksi Sepihak dan Aksi Teror

     Upaya PKI,untuk menciptakan suasana revolusionr, selain dilakukan melalui kegiatan-kegiatan politik yang
     menghebat, juga melalui kegiatan-kegiatan sabotase, aksi sepihak dan teror.kegiatan-kegiatan tersebut antara
     lain adalah:
1) Tindakan Sabotase terhadap Transportrasis Umum Kereta Api oleh Serikat Buruh Kereta Api
Tindakan sabotase yang dilakukan kaum Komunis terhadap sarana-sarana penting Pemerintah mulai terlihat
sejak bulan Januari 1964 rangkaian kereta api rute selatan melanggar sinyal dan langsung masuk stasiun
purwokerto, jawa tengah sehingga menabrak rangkaian gerbong yang berhenti di stasiun tersebut. Tanggal 6
Februari 1964, kasus tabrakan antara dua rangkaian Kereta Api juga terjadi di Kallyasa, Sala, Jawa Tengah. Pada
tanggal 30 April 1964, peristiwa yang sama terjadi di Kroya, Jawa Tengah. Tanggal 14 Mei 1964 di Cirebon dan
Semarang, serta tanggal 6 Juli 1964 di Cipapar, Jawa Barat.



Menyususul kemudian beberapa kasus lepas dan larinya gerbong-gerbong dari rangkaian lokomotifnya di Tanah
Abang tanggal 18 agustus 1964, di Bandung tanggal 31 Agustus 1964, Tasikmalaya tanggal 11 Oktober 1964.
Seminggu kemudian tanggal 18 Oktober 1964 di daerah yang sama yaitu Tasikmalaya terjadi kasus kecelakaan
yang menimpa 20 rangkaian gerbong KA yang mengangkut peralatan Militer.



Dari hasil interogasi oleh aparat keamanan menunjukkan bahwa kasusu-kasus yang terjadi merupakan tindakan
kesengajaan (sabotase) yang bertendensi politik. Para pelaku adalah anggota Serikat Buruh Kereta Api(SBKA)
yang merupakan organisasi yang berada dibawah naungan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI).



2) Aksi-Aksi Sepihak BTI (Barisan Tani Indonesia)
Pada tanggal 23 Mei 1964, setelah kegiatan HUT ke-44 PKI yang dilaksanakan di Semarang , ketua CC PKI D.N
Aidit serta 58 tokoh PKI termasuk didalamnya Himpunan Sarjana Indonesia (HSI) yang terpengaruh oleh PKI
mengadakan gerakan Turba (Turun Kebawah) yang sekaligus melakukan penelitian yang bertujuan untuk
membuktikan bahwa petani di daerah Jawa sangat miskin dan sangat potensial untuk digerakkan mendukung
program PKI melalui aksi-aksi melawan tuan tanah di desa-desa.



Untuk dapat mempengaruhi para petani tersebut, PKI berpura-pura membantu mereka dengan cara melakukan
kampanye penuntutan Undan-undang Bagi hasil tanah pertanian. Sejalan dengan kampanye tersebut, untuk
memepertajam pertentangan kelas sesuaia dengan doktrin Marxisme-Leninisme. PKI mengkampanyekan pula
sikap anti “Tujuh Setan Desa” yaitu; tuan tanah, lintah darat, tengkulak, tukan ijon, kapitalis birokrat (kabir),
bandit desa dan pemungut/pengumpul zakat. Dalam melaksanakan kampanye melawan “Tujuh Setan Desa”, PKI
dengan gencar melakukan aksi massa dan aksi sepihak secara sistematis dan terencana, aksinya antara lain:



1)    Aksi Massa BTI di Jawa Tengah



Kasus peratama yang mengawali aksi massa oleh BTI[15] adalah terjadinya konflik fisik anttara kurang lebih
1000 orang sesama petani di desa Kingkang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten pada tanggal 26 Maret
1964. Atas hasutan tokoh-tokoh PKI setempat ratusan massa BTI melakukan pengeroyokan terhadap seorang
petani yang bernama Partosoekardjo sehubungan dengan sewa-menyewa dengan Kartodimedjo.
2)    Aksi Massa BTI di Jawa Barat
     Kemudian rentetan aksi BTI berikutnya terjdi di area kehutanan milik negara di hutan Karticala dan tugu,
     kabupaten indramayu. Pada tanggal 15 dan 16 Oktober 1964 terjadi pengeroyokan dan penganiayaan terhadap
     7 anggota polisi kehutanan, yang menjaga perkebunan milik negara.



     3)     Aksi Massa BTI di Jawa Timur



     Pada tanggal 15 Januari 1965 terjadi gerakan aksi massa yang dilakukan oleh BTI di desa Gayam, Kediri.sekitar
     1000 orang anggota BTI menyerbu dan menganiaya seorang petani bernama Soedarno yang sedang
     mengerjakan lahan sawahnya dengan alasan sawah yang dikerjakan oleh Soedarno adalah sawah sengketa.



     3) Aksi-aksi Teror
     1)     Peristiwa Kanigaro Kediri



     Tanggal 13 Januari 1965 sekitar pukul 04.30 massa anggota PKI yang di pimpin oleh Ketua Pengurus Cabang
     Pemuda Rakyat Daerah Kediri, Soerdjadi, mengadakan terot denagn melakukan penyerbuan terhadap para
     akytivis Pelajar Islam Indoneisa (PII) yang sedang mengadakan pelatihan mental di desa Kanigoro, Kediri. Pada
     kesempatan itu PKI/PR melakukan pemukulan dan penganiayaan terhadap para Kyai dan Imam masjid serta
     merusak rumah ibadah bahkan menginjak-injak kitab suci Al-Qur’an.



     2)     Aksi Massa dan Demonstrasi Anti Amerika



     Awal Desember 1964 sejumlah massa pendukung PKI mengadakan demonstrasi untuk memprotes kehadiran dan
     kegiatan Kantor Penerangan AS, United States Information Services(USIS) di seluruh indonesia. Dalam aksi
     massanya, mereka menghancurkan perpustakaan USIS yang berada di Jakarta dan Surabaya. Pada tanggal 11
     Desember 1964, Wakil Ketua Umum Panitia Aksi Pembikotan Film Amerika Ny. Oetami Soeryadarma menuntut
     agar American Motion Pictures association Of Importers (AMPAI)dibuabarkan. Untuk memperkuat tuntutan tersebut
     pada tanggal 28 Februari 1965 sejumlah massa PKI berdemonstrasi didepan ksiaman Dubes AS, Howard P.
     Jones seminggu kemudian Gerwani mengirim telegram kepada Presiden dan Menlu Dr. Soebnandrio agar
     menyatakan Pesona non Gatra[16]terhadap direktur AMPAI, Bill Palmer, dan sekaligus mengusirnya dari
     Indonesia.
     Dua minggu setelah peristiwa di kantor AMPAI Jalkarta, pada tanggal 1 April 1965 seluruh massa pendukung PKI
     menyerang villa milik Direktur AMPAI di tugu puncak, Bogor meskipun Bill Palmer tidak ada dikediamannya saat
     itu.



1.     B. Agitasi dan Propaganda

     Rangakaian aksi Massa PKI dalam rangka menciptakan situasi ofensif revolusioner lebih di tingkatkan lagi melalui
     aglitasi dan Propagandadengan tujuan untuk lebih membakar emosi massa. Dalam upaya tersebut, PKI
     menggunakan unsur pers ysng sudah didominasi PKI, antara lain Kantor Berita antara dan Persatuan Wartawan
     Indonesia (PWI). Melalui tokoh-tokoh utamanya, PKI membangkitkan semangat progresif revolusioner dengan
     melakukan pidato-pidato di segala forum kegiatan, baik pemerintahan maupun non pemerintahan.
     Slogan politik tentang keterlibatan PKI dan mewarnai kehidupan politik dimana-mana sehingga gamabaran apa
     yang di sebut sebagai situasi ofensif revolusionerbenar-benar snagat mendominasi kohidupan sosial-politik
     mkasyarakat saat itu. PKI juga memanfaatkan program pendididkan kader revolusi dan kader Nasakom yang
     diselenggarakan oleh pemerintah melalui Front Nasional.



1.    2. Aksi Fitnah Terhadap Pimpinan TNI-AD tahun 1965

     Setelah PKI secara politis berhasil memperlemah lawan-lawannya, baik parpol, ormas maupun perorangan, maka
     tinggallah satu kekuatan sebagai penghambat utama bagi pelaksanaan program politiknya, yaitu ABRI,
     khususnya TNI-AD. Karenanya PKI menyusun konsep-konsep kegiatan yang bertujuan melemahkan posisi
     pimpinan TNI-AD. Diantaranya dengan melakukan fitnah politik yangditujukan kepada TNI-AD



1.    Isu Dewan Jendral

     Dalam rangka memperburuk citra TNI-AD, PKI melancarkan isu Dewan Jendral. Isu ini disebarluaskan melalui
     anggota0anggota PKI yang aktif bekerja dalam berbagai lingkungan. Agar isu ytersebut sampai kepada Presiden,
     maka salah seorang anggota PKI yang duduk dalam DPR-GR bernama Soedjarwo Harjowisastro memberikan isu
     tersebut sebagai informasi kepada Kepala Staf BPI (Badan Pusat Intelijen), Brigjend Pol Soetarto yang juga
     merupakan anggota PKI.



     Dikatakan bahwa Dewan Jendral terdiri atas sejumlah Jendral TNI-AD, antara lain Jendral TNI A.H. Nasution,
     Letjend TNI A. Yani, Mayjend TNI Soeprapto, Mayjend TNI S. Parman, Mayjend TNI Haryono M.T, Brigjend TNI
     Sutoyo S, Brigjend TNI D.I Pandjaitan, dan Brigjend TNI Sukendro yang mempunyai sikap antipati terhadap PKI.



     Isu Dewan Jendral terus dilakukan dalam bentuk desas-sesus yang memperburuk citra TNI-AD, dan seolah-olah
     Dewan Jendral adalah kelompok Perwira Tinggi TNI-AD yang tidak loyal kepada Presiden dan mempunyai
     kegiatan politik menilai kebijaksanaan Presiden. Oraganisasi-organisasi yang bernaung dibawah PKI digunakan
     sebagai sarana untuk menyebar luaskan isu tersebut, dan mulai terdengar bulan Mei 1965.



     Lingkup penyebaran isu Dewan Jendral adalah sebagai berikut:



1.    Penyebarluasan isu yang menyatakan tentang adanya Dewan Jendral didalam tubuh TNI-AD yang mempunyai tugas
      khusus memikirkan usaha-usaha dalam rangka menghadapi kegiatan yang bersifat “kiri[17]”. Dengan isu tersebut, PKI
      ingin menciptakan kesan bahwa TNI-AD merupakan kekuatan yang bersifat “Kanan” yang anti PKI.

2.    Diisukan bahwa Dewan jendral yang disebut sebagai kekuatan kanan mempunyai tujuan yaitu meniklai kebijaksanaan
      Presiden selaku Pemimpin Besar Revolusi. Pda lingkup ini PKI ingin memberi kesan bahwa Dewan Jendral adalah sebuah
      badan dalam TNI-AD yang tidak dapat dijamin loyalitasnya kepada BPR. Tujuannnya adaah menhgadu domba antar TNI-
      AD dengan Presiden

3.    Diberitakan Dewan Jendral bekerjasama dengan imperalis, dalam rangka upaya PKI meyebarluaskan kesan kepada
      masyarakat seolah-olah TNI-AD telah mengkhianati perjuangan rakyat Indonesia. Isu ini semakin berkembang dengan
      tersiarnya “dokumen Gilchirst[18]” pad bulan Mei 1965
4.    Pada sekitar awal bulan september 1965 dilancarkan isu bahwa Dewan Jendral akan merebut kekuasaan dari presiden
      Soekarno dengan memanfaatkan pengerahan pasukan dari daerah uang didatangkan ke Jakarta dalam rangka peringatan
      HUT ABRI pad tanggal 5 Oktober 1965. Kemudian, untuk lebih meyakinkan masyarakat mengenai kebenarannya, PKI
      telah menciptakan Isu Kabinet Dewan Jendral sebgai berikut:

     1)    Perdana Menteri                      :Jendral TNI A.H. Nasution



     2)    Wakil PM/Menteri Pertahanan : Letjend TNI A. Yani



     3)    Menteri Dalam Negeri                : Hadisubeno



     4)    Menteri Luar Negeri                 : Roeslan Abdulgani



     5)    Menteri Hubungan Dagang LN: Brigjend TNI Sukendro



     6)    Menteri Jaksa Agung                 : Mayjend S. Parman



1.    Dalam rangka menyiapkan Gerakan 30 September, biro khusus secara intensif mempengaruhi iknum-oknum anggota
      ABRI yang telah dibinanya dengan Brifing-Brifing situasi politik, yang intinya :

     1)    Ada Dewan Jendral yang akan mengadakan perebutan kekuasaan dari Presiden



     2)    Perlu ada gerakan m iliter untuk mendahului rencana Dewan Jendral tersebut



     Bentuk pengembangan isu Dewan Jendral menjadi rencana matang akan adanya perwira-perwira yang
     berpikiran maju mendahului rencana Dewan Jendral.



1.    Isu Dokumen Gilchrist

     Bersamaan dengan penyebarluasan isu Dewan Jendral tersiar pula isu adanya Dokumen Gilchrist. Gilchrist, yang
     bernama lengkap Sir Andrew Gilchirst adalah duta besar Inggris di jakarta yang bertugas pada tahun 1963-
     1966.Dokumen Gilchrist diterima oleh Dr. Soebandrio pada tanggal 15 Mei 1965 melalui pos jakarta berupa
     sebuah konsep surat ketikan tanpa adnya tanda tangan atau paraf si pembuat melainkan hanyalah sebuah
     nama Gilchrist . dalam surat pengantarnya dituliskan bahwa apa yang disebut surat Gilchrist itu diperoleh dari
     rumah peristirahatan William (Bill) Palmer di puncak sewaktu diadakan pengobrak-abrikan oleh massa atas rumah
     gtersebut.
     Pada tanggal 26 Mei 1965 Dr. Soebandrio membawa konsep Gilchrist serta beberapa salinannya ke Istana
     Merdeka danm melaporkannya kepada Presiden. Segera setelah membaca surat tersebut, presiden
     memerintahkan pemanggilan para panglima Angkatan kedalam Istana Negar. Dalam pertemuan tersebut
     menaggapi pertanyaan Presiden, Men/Pangad Letjend A. Yani menerangkan bahwa dalam AD tidak ada Dewan
     Jendral yang bertugas menilai kebijaksanaan politik presiden; yang ada adala Dewan Jabatan dan Kepangkatan
     Tinggi (Wanjakti) AD, yang bertugas memberikan saran atau pendapat kepada Men/Pangad tentang jabatan dan
     Kepangkatan Perwira Tinggi AD.
     Dalam pidatonya pada HUT PKI ke-45, Dr. Soebandrio menyatakan bahwa dokumen imperialis/CIA telah jatuh
     ketangan kita dan sekarang berada di tangan PBR(Pemimpin Besar Revolusi). Olehnya kemudian
     salinan Dokumen Gilchrist itu kemudian dibagi-bagikan di luar negeri, antara lain kepda delegasidelegasi yang
     hadir pad KAA II di Aljazair, sedangkan didalam negeri salinan surat tersebut disebarluaskan oleh BPI(Badan
     Pusat Intelijen). Sementara itu, HUT PKI dirayakan secara besar-besaran dengan puncaknya pada rapat raksasa
     di gelora senayan tanggal 23 Mei 1965. Peringatan secara besar-besaran ini merupakan suatu pameran kekuatan
     yang dilakukan ditengah suasana politik yang semakin memanas.

1.        3. Aksi Bersenjata Gerakan 30 September Pada Awal Oktober 1965

     Di Jakarta, tanggal 1 Oktober 1965 sekitar pukul 01.30 letkol Inf. Untung dengan diikuti Sjam, Pomo, Brigjend
     TNI Soepardjo dan Kolonel Inf. A. Latief tiba di lubang buaya. Ia memberikan perintah pelaksanaan kepda
     semua komandan pasukan agar segera berangkat menuju ke sasaran masing-masing yang telah ditetapkan.



1.        Pembagian Tugas Pasukan Penculik

     1.    Pasukan Pasopati

     Tugas Pasukan Pasopati adalah menculik para Jendral Pimpinan TNI-AD dan membawanya ke Lubang Buaya.
     Kekuatan bersenjata yang tergabung dalam Pasukan Pasopati terdiri atas satu Batalyon Infanteri (minus) dari
     Brigare Kolonel Inf. A. Latief, satu Kompi Cakrabirawa dari Batalyon pimpinan Letkol Inf. Untung. Satu pleton
     dari batalyon infantri pimpinan Mayor Inf. Sukirno/kapten inf. Kontjoro, dan pleton-pleton sukwan PKI



     Lettu Inf. Dul Arief yang bertinfak sebagai pimpinan pasukan Pasopasti segera mengumpulkan pasukan dalam
     formasi yang telah ditentukan;



     a)       Pasukan yang ditugasi menculik Jendral TNI A.H Nasution dibawah pimpinan Pelda Djahurup, anak buah
     letkol Inf. Untung, dengan kekuatan satu kompi pasukan bersenjata dan stu pleton sukwan PKI.



     b)       Pasukan yang ditugasi Letjen TNI A. Yani di bawah Pimpinan Peltu Mukidjan, anak Buah Kol.Inf. A. Latief,
     dengan kekuatan satu kompi pasukan bersebjata dan dua regu Sukwan PKI



     c)       Pasukan yang ditugasi menculik Mayjend TNI S. Parman di bawah pimpinan Serma Satar, anak buah
     Letkol Inf. Untung, dengan kekuatan satu pleton dan satu kelompok Sukwan PKI



     d)      Pasukan yang ditugasi menculik Mayjend TNI Soeprapto dibawah pimpinan Serda sulaiman, anak buah
     Letkol Inf. Untung, dengan kekuatan satu pleton dan satu kelompok Sukwan PKI



     e)       Pasukan yang ditugasi menculik Mayjend TNI Haryono MT dipimpin oleh Serma Bungkus, anak buah Letkol
     Inf. Untug, dengan kekuatan satu pleton dan kelompok Sukwan PKI
     f)       Pasukan yang ditugasi menculik Brigjend TNI Sutojo S. dipimpin oleh Serma Sarono, anak buah Letkol Inf.
     Untung, dengan kekuatan satu pleton dan satu kelompok Sukwan PKI



     g)       Pasukan yang ditugasi menculik Brigjend TNI D.I Pandjaitan dipimpin oleh Serda Sukardjo, anak buah
     Kapten Inf. kuntjoro, dengan kekuatan satu pleton dan satu kelompok Sukwan PKI.



1.        Pasukan Bimasakti

     Kekuatan bersenjata yang dialokasikan kepada Pasukan Bimasakti terdiri atas satu Batalyon Infanteri di pimpin
     oleh Mayor Inf. Bambang Supeno, dan satu batalyon Infanteri yang dipimpinn oleh Kapten Inf. Kuncoro, empat
     Batalyon sukwan PKI, dan satu Kompi Infanteri pimpinan Kapten Inf. Suradi berasal dari Briginf pimpinan Kol.Inf
     A. Latief. Pasukan ini bertugas pokok menguasai kota Jakarta yang telah dibagi menjadi enam sektor, yaitu;



     a)       Sektor Jakarta Pusat/kompleks istana Kepres



     b)       Sektor Jatinegara



     c)       Sektor Senen dan Kemayoran



     d)      Sektor Tanjung Priok



     e)       Sektor Kemayoran Lama



     f)       Sektor Grogol



     Sejak dini hari, jum’at tanggal 1 Oktober 1965 pasukan ini telah menduduki dan menguasai objek-objek penting
     di sekitar Monas. Objek-objek yang penting dalam sarana komunikasoi juga telah dikuasai seperti gedung RRI
     Jakarta dan Gedung Telekomunikasi Jakarta Pusat



1.        Pasukan Gatotkaca

     Kekuatan bersenjata yang tergabung dalam pasukan gatotkaca terdiri atas satu batalyon pimpinan Mayor Uadara
     Soejono dan pasukan sukwan dan Sukawati PKI. Satuan ini berfungsi sebagai pasukan cadangan yang bertugas
     menampung tawanan hasil penculikan dan melakukan pembunuhan serta menguburkan korban-korban hasil
     penculikan.



1.        Aksi Penculikan

     1)       Usaha Penculikan Terhadap Jendral TNI A.H. Nasution
Pasukan yang ditugasi menculik Jendral TNI A.H Nasution dibawah pimpinan Pelda Djahurub dengan
berkendaraan truk berangkat dari Lubang Buaya pada tanggal 1 Oktober 1965 sekitar pukul 03.00 menuju ke
kediaman Jendral A.H Nasution di jalan Teuku Umar 40 Jakarta. Ketika pasukan penculik melewati kediaman
Dr.Leimena yang berdekatan dengan kediaman Jendral A.H. Nasution yaitu di Jalan Teuku Umar 36 Jakarta
mereka membunuh pengawal yang bertugas di tempat kediaman Dr.Leimena yaitu Ajun Inspektur Polisi Karel
Satsuit Tubun.



Ibu Nasution ketika mengetahui ada sejumlah orang bersenjata masuk secara paksa kedalam rumah, segera
mengunci pintu kamar dan memberitahu Jendral A.H. Nasution tentang datangnya orang-orang berseragam
yang mungkin bermaksud tidak baik. Beliau kurang yakin akan keterangan isterinya itu dan segera membuka
pintu kamar. Ketika melihat pintu dibuka, anggota penculik segera melepaskan tembakan kearahnya, dan
seketika itu beliau menjatuhkan diri kelantai, dan isterinya cepat-cepat menutup dan mengunci kamar kembali.
Tembakan pasukan penculik diarahkan langsung ke daun pintu kamar.



Sementara itu, Ade Irma Suryani putri bungsu mereka yang berumur 5 tahun oleh pengasuhnnya dilarikan keluar
kamar dengan maksud hendak diselamatkan, tetapi seorang penculik melepaskan tembakan otomatis dan
mengenai punggung Ade Irma Suryani. Jendral A.H. Nasution didorong oleh isterinya untuk keluar dari kamar
melalui pintu samping dan menuju ke pagar tembok. Sambil menggendong Putri bungsunya yang terluka, Ibu
Nasution menghadapi para penculik yang sudah nberada diruang tengah. Dan dengan memanjat dinding tembok
samping rumah, Jendral A.H. Nasution berhasil melarikan diri.



Salah seorang ajudan Jendral A.H Nasution, yakni Lettu Czi Pierre Andreas Tendean yang malam itu menginap di
paviliun, terbangun karena kegaduhan di luar kamar. Kemudian ia keluar kamar untuk memeriksa apa yang
terjadi, tetpi ia ditangkap oleh gerombolan penculik dan diseret kesalah satu kendaraan. Setelahnya pasukan
penculik itu meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke Lubang Buaya.



2)    Penculikan Terhadap Letjend TNI A. Yani



Pausukan yang bertugas menculik Men/Pangad Letjend TNI A. Yani dipimpin oleh Peltu Mukidjan berangkat dari
Lubang Buaya pukul 03.00 tanggal 1 Oktober 1965. Setiba dirumah Latjend TNI A.Yani di jalan Latuharhary 6
Jakarta, beberapa anggota penculik segera masuk pekarangan rumah. Regu pengawal yang sama sekali tidak
menaruh curiga atas kedatangan mereka seketika itu dilucuti. Sebagian pasukan penculik menuju kekediaman
Letjend A.Yani dan mengetuk pintu yang dibukakan oleh seorang pembantu, Isteri A. Yani malam itu sedang
berada di kediaman resmi Men/Pangad di Taman Suropati. Sementara puteri kedua Letjend A. Yani terbangun
mendengar adanya keributan, tetapi tidak berani keluar kamar. Yang keluar dari kamarnya adalah putera beliau
yang berumur 11 tahun, yang segera membagunkan ayahnya, dan belaupun keluar dari kamarya.



Salah seorang anggota pasukan penculik menyampaikan berita baahwa beliau dipanggil Presiden. Ketika beliau
menjawab bahwa hendak mandi dan berpakaian terlebih dahul, salah satu dari penculik melarangnya sambil
menodongkan senjatanya. Melihat sikap kuran ajar anggota penculik tersebut beliau sangat marah dan
memukulnya hingga jatuh. Beliau membalik dan hendak menutup [pintu kaca yang menghubungkan ruang
belakang dengan ruag makan, tetapi seketika itu Serda Gijadi, salah seorang anggota penculik menembakkan
senjata Thompson dari belakan dan tujuh butir peluru menembus tubuh Letjend A. Yani sehingga beliau terjatuh
dan roboh. Praka Wagimin menyeret Letjend A. Yani yang berlumuran darah keluar dari kediamannya dan
dimasukkan kedalam kendaraan, dan mereka kembali menuju kw Lubang Buaya.



3)    Penculikan Terhadap Mayjend TNI Soeprapto



Pasukan yang bertugas menculik Mayjend TNI Soeprapto di pimpin oleh Sarda Sulaiman. Berangkat dari Lubang
Buaya Tanggal 1 Oktober 1965 pukul 03.00. pasukan penculik ini mamasuki halamn rumah Mayjend Soeprapto
di jalan Besuki 19, Jakarta dan mengetuk pintu. Beliau terbangun dan setelah pasukan penculik menyatakan dari
Cakrabirawa, beliau keluar dari kamarnya dan membuka pintu. Diteras sudah menunggu beberapa paasukan
penculik. Serda Sulaiman mengatakan bahwa Mayjend Soeprapto diperintahkan untuk menghadap presiden
dengan segera. Oleh beliau diperintahkan untuk menunggu karena akan berganti pakaian. Para penculik
melarangnya dengan kasar, bahkan mendorong serta memaksanya keluar. Beberapa orang penculik memegangi
tangannya dan menaikkannnya dengan paksa ke dalam sebuah truk. Kemudian mereka kemabli menuju ke
Lubang Buaya.



4)    Penculikan Terhadap Mayjend S. Parman



Pasukan yang bertugas menculik Mayjend TNI S. Parman di pimpin oleh Serma Satar. Berangkat dari Lubang
Buaya Tanggal 1 Oktober 1965 pukul 03.00. pasukan penculik ini mamasuki kediamannya di jalan Samsurizal
32, Jakarta. Mereka memasuki pekarangan rumah dengan melompat pagar. Karena keributan itu Mayjend S.
Parman terbangun dan menduga ada perampokan dirumah tetangganya. Beliau keluar kamar dengan maksud
memberi bantuan . ketika membuka pintu depan, diluar telah menunggu para paenculik yang mengatakan
bahwa beliau dipanggil oleh Presiden. Beliau mengattakan akan memenuhi panggilan tersebut dan kembali ke
kamarnya untuk berganti pakaian. Dua orang penculik mengikutinyab dari belakang. Beliau minta agar mereka
menunggu di ruang tengah saja, tetapi mereka tidak mengindahkannya.



Ibu S. Parman mulai curiga akan tingka laku mereka yang demikian kasar. Beliau menanyakan surat perintah
panggilan dari Iatana Presiden, seorang menjawab bahwa surat perintah tersebut ada pad Pelda Yanto di luar.
Usaha Ny. S. Parman untuk melihat surat printah tersebut tidak berhasil. Karena surat peintah itu memang tidak
pernah ada. Bahkan beliau ditodong dengan sangkur. Dengan berpakaian lengkap Mayjend S. Parman kluar
kamar, sambil melangkah beliau meminta kepada istrinya agar menelpon letjend A. Yani, untuk melaporkan
kejadian tersebut. Ternayata kabel telepone telah diputus. Mayjend S. Parman dimasukkan kedalam kendraan
pasukan penculik dan dibawa ke Lubang Buaya.



5)    Penculikan Terhadap Mayjend TNI Haryono MT



Pasukan yang bertugas menculik Mayjend TNI Haryono MT di pimpin oleh Serma Bungkus. Berangkat dari
Lubang Buaya Tanggal 1 Oktober 1965 pukul 03.00. setibanya di kediaman Mayjend Haryono MT di jalan
Pramabanan 8, Jakarta. Serma Bungkus memberi tahu Ny. Haryono bahwa Mayjend Haryono dipanggil oleh
Presiden. Ny. Haryono yang tidak menaruh curiga kepada mereka kemudian membangunkan Mayjend Haryono,
     beliau menaruh curiga dan melaui Isterinya beliau meminta agar kembali lagi sektar pukul 08.00.Serma Bungkus
     memaksa agar beliau berngakat pad malam itu juga. Kerena menyadari sesuatu hal yng tidak wajar beliu
     meminta kepda isteri dan anak-anaknya pindaah kekamar sebelah. Sementar itu Serma bungkus dan beberapa
     anggota penculik berteriak-teriak meminta agar beliau keluar.



     Kerena beliau tidak memenuhi permintaan tersebut, mereka melepaskan tembakan ke pintu yang terkunci. Pintu
     terbuka dan mereka memasuki kamar tidur. Pada saat beliau berusaha merebut senjata salah seorang anggota
     penculik, tetapi gagal dan bersamaan denga itu beliau dtusuk beberapa kali dngan sangkur. Beliau roboh
     bermandikan darah dan kemudian diseret keluar dan dimasukkan kjedala truk lalu kemabli ke lubang buaya.



     6)    Penculikan Terhadap Brigjend TNI Sutojo S



     Pasukan yang bertugas menculik Brigjen TNI Sutjoo di pimpin oleh Serma Surono. Berangkat dari Lubang Buaya
     Tanggal 1 Oktober 1965 pukul 03.00.. sebagian anggota penculik memasuki bagian belakang rumah kediaman
     beliau di jalan Sumenep 17, Jakarta mlaui garasi sebelah kana. Dengan todongan sangkur mereka meminta
     kepada pembantu untuk menyerahkan kunci pintu yang menuju ke kamar tengah, setelah mmembuka pintu,
     penculik menerobos masuk dan mngatakan kepada Brigjend Sutojo, bahwa beliau di panggil presiden, kemudin
     para penculik membawa beliau dengan paksa keluar rumah dan membwanya ke Lubang Buaya.



     7)    Penculikan Terhadap Brigjend TNI D.I Pandjaitan



     Pasukan yang bertugas menculik Brigjend di pimpin oleh Serda Sukardjo. Berangkat dari Lubang Buaya Tanggal
     1 Oktober 1965 pukul 03.00. para penculik membuka pintu kediamannya yang berada di Jalan Hasannudiin 53
     jakarta dengan paksa, kemudian menembak kedua keponkan beliau yang saat itu sedang tidur dilantai atas.
     Salah seorang diatanratanya tewas, setelah itu para penculik berteriak memanggil Brigjend D.I Panjaitan agar
     keluar untuk menghadap presiden. Semula beliau tidak mau keluar, tetapi karena adanya ancaman dari para
     penculik yang akan membunuh seisi rumah jika tidak mau keluar, maka beliau keluar dan menuruni tangga
     dengan mengenakan pakaian seragam lengkap.



     Setiba dihalaman, beliau tidak dapat menahan amarahnya atas sikap para anggota pasukan penculik
     terhadapnya. Beliau dipukul dengan popor senjata hingga jatuh. Pada saat itu juga dua orang anggota penculik
     yang lain menembaknya dengan senjata otomatis.



     D.I Panjaitan gugur pada saat itu juga dan jenazahnya dimasukkan dalam satu kendaraan yang telah disediakan.
     Sementa itu, seorang anggota polisi berpangkat agen polisi ( Bharada) Sukitman yang sedang melaksanakan
     tugas patroli, karena mendengar letusan senjata api, mendatangi tempat kejadian. Setibanya ditempat itu ia
     langsung ditangkap oleh para penculik dan ikut dibawa pula ke Lubang Buaya.



1.    Konsolidasi Pelaksanaan Penculikan

1.    Penyerahan hasil penculikan
     Seluruh korban penculikan dibawa ke Lubang Buaya dan diserahkan kepada pasukan Gatotkaca. Lettu Inf. Dul
     Arief selaku pimpinan Pasukan Pasopati segera meninggalkan Lubang Buaya sekitar pukul 06.30 menuju Cenko I
     di gedung Penas untuk melaporkan hasil penculikan serta lolosnya Jenderal TNI A.H Nasution dari usaha
     penculikan tersebut. Hadir pada saat pelaporan itu para pimpinan pelaksana Gerakan 30 September, yakni Sjam,
     Pono, Kolonel Inf. A. Latief, Letkol Inf. Untung, Letkol Udara heru Atmodjo, Mayor Udara Sujono.



     Beberapa saat kemudian datang Brigjen Soepardjo, Mayor Inf Soekirno, dan Mayor Inf Bambang Soepeno.
     Ketiga perwira ini bersama Lettkol Udara Heru Atmodjo kemudian atas perintah Sjam berangkat ke Istana
     Merdeka untuk melapor, menjemput, serta membawa presiden Soekarno kepangkalan halim Perdana Kusumah.



1.    Penyiksaan dan Pembunuhan

     Sesuai dengan fungsinya sebagai komandan pasukan cadangan, Mayor Udara Gathut Soekrisno telah menyusun
     kedudukan pertahanan. Kepada satuan-satuan dibagikan peralatan dan perlengkapan berupa pakaian dan
     senjata. Oleh karena senjata yang tersedia dianggap belum mencukupi, ia memerintahkan Serma Udara Maoen
     membongkar dengan paksa gudang senjata milik Korud V yang terletak di Mampang Prapatan. Pembongkaran
     dilakukan pada tanggal 1 Oktober 1965 sekitar pukul 02.30.



     Pada tanggal 1 Oktober 1965 sekitar pukul 05.30 pasukan Gatotkaca dibawah pimpinan Mayor Udara Gathut
     Soekrisno menerima hasil penculikan dari pasukan Pasopati. Sementara itu sejak pukul 05.00 para Sukuan PKI
     yang diantarany terdapat para Sukwati Gerwani, menunggu datangnya kendaraan yang membawa para korban
     penculikan di dekat sebuah sumur tua dibasis gerakan mereka daerah Lubang Buaya. Korban penculikan terdiri
     atas empat orang yang matanya ditutup dengan kain merah dan tangannya diikat kebelakang, serta tiga orang
     lainnya dalam keadaan meninggal.



     Keempat orang yang masih hidup itu disiksa hingga akhirnya mninggal. Selanjutnya sukwan-sukwan PKI
     melemparkan korban itu ke dalam sumur. Sumur itu ditimbun dengan sampah dan tanah yang kemudian
     diatasnya ditanami pohon pisang untuk menghilangka jejak.



1.    4. Kekacaubalauan Pengendalian Oleh CC PKI

     Pada tanggal 1 Oktober 1965 sekitar pukul 01.30 Letko Inf Untung diikuti oleh anggota Cenko lainnya pergi ke
     Lubang Buaya. Setelah terlebih dahulu menjemput Kolonel Inf. A. Latiet di Cawang untuk selanjutnya meneliti
     persiapan akhir serta menyampaikan perintah-perintah dalam rangka gerakan yang akan segera dilaksanakan.



     Setelah gerakan militer untuk menculik dan membunuh para perwira tinggi TNI AD selesai dilaksanakan, maka
     Sjam yang berada di Cenko I selaku pimpinan pelaksana gerakan, memerintahkan Mayor Udara Sujono untuk
     segera melaper pada ketua CC PKI D.N. Aidit yang berada di rumah Sersan Udara Suwardi. Selanjutnya Sjam
     memerintahkan Brigjen TNI Soeparjdo bersama Letkol Heru Atmojdo, Mayor Inf Soekirno, dan Mayor Inf
     Bambang Soepeno untuk segera berangkat ke istana Merdeka dengan tugas melapor kepada presiden Soekarno
     tentang adanya gerakan dari perwira-perwira muda TNI AD untuk menyelamatkan revolusi dari kudeta Dewan
     Jenderal. Nada ucapan Sjam kepada Soepadjo mengandung perintah bahwa, apabila perlu, membawa presiden
     Soekarno dengan paksa ke Halim Perdana Kusuma.
     Sesuai dengan petunjuk D.N. Aidit selaku pimpinan tertinggi G 30 S, setelah berakhirnya siaran warta berita RRI
     Jakarta pukul 07.00 pada tanggal 1 Oktober 1965 telah disiarkan pengumuman pertama tentang adanya G 30 S.
     Sesudah pengumuman pertamaa berhasil disiarkan, pada sekitar pukul 14.00 Letkol Inf Untung mengumumkan
     lewar RRI Jakarta :



1.    Dekrit No. I tentang pembentukan dewan Revolusi Indonesia;

2.    Keputusan No. I tentang susunan Dewan Revolusi Indonesia; dan

3.    Keputusan No. 2 tentang penurunan dan kenaikan pangkat.

     Nama-nama yang tecantum dalam susunan Dewan Revolusi Indonesia tersebut merupakan gabungan antara
     nama tokoh-tokoh PKI dan nama tokoh-tokoh yang bukan pendukung PKI. Nama tooh yang bukan pendukung
     PKI pada dasarnya merupakan manipulasi PKI, karena yang bersangkutan sama sekali tidak tahu menahu dan
     bahkan tidak menyetujui G 30 S tersebut.



     Dengan demikian, Dewan Revolusi yang dibentuk oleh G 30 S merupakan upaya PKI untuk menipu rakyat
     dengan memanipulasi nama tokoh-tokoh, baik politik, masyarakat maupun ABRI yang anti komunis. Sekitar
     pukul 09.00 karena hari telah siang dan ternyata di Gedung Penas banyak pekerja Cenko I ditinggalkan oleh
     pimpinan Dewan Rewalusi daan pindah ke Cenko II, di rumah Sersan Udara Anis Suyatno. Brigjen Soepardjo
     yang ditugasi untuk menghadap presiden ternyata tidak berhasil menemui beliau di Istana Merdeka. Letkol
     Udara Heru Atmodjo kemudian kembali ke Halim Perdanakusuma dan dari Men/Pangau Laksdya Udara Omar
     Dhani ia mengetajui bahwa Presiden menuju Halim Perdanak. Kemudian, atas perintah men/Pangau Laksdya
     udara Omar Dhani, Brigjend TNI Soepardjo dijemput oleh Letkool Udara Heru Atmodjo dari istana menuju Halim
     Perdanakusuma dengan menggunakan helikopter. Presiden dengan kemauan beliau tiba dipangkalan Udara
     Halim Perdana Kusuma sekitar pukul 09.00 melauli jalan darat. Brigjend TNI soepardjo melaporkan kepada
     Persiden bahwa ia dan kawan-kawan telah mengambil tidakan terhadap perwira tinggi Peimpinan TNI-AD.



     Pada tengah hari Brigjend Soepardjo kembali ke Cenko II sambil membawa perintah presiden yang intinya agar
     menghentikan gerakan dan jangan ada pertumpahan darah. Perintah itu kemudian didiskusikan oleh pimpinan
     G30S yang berkumpul di Cenko II dan dalam diskusi tersebut Sjam berpendapat bahwa perintah tersebut dapat
     menimbulkan suasana ragu-ragu dikalangan pimpinan gerakan. Mengingat perintah tersebut tidak
     menguntungkan G30S, maka di putuskan untuk tidak mematuhi perintah Presiden tersebut. Sekitar pukul 18.00
     Cenko II menerima laporan bahwa sebagian pasukan G30S telah mundur ke Pondok Gede yang sejak semula
     ditetapkan sebagai daerah pemunduran. Pada saat yang sama. Pada saat yang sama, diterima laporan bahwa
     pasukan Kostrad dan Resimen Para Komando Angkatan Darat(RPKAD) telah bergerak untuk menguasai
     pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Situasi semakintidak menguntungkan bagi Gerakan 30 September
     ketika pukul 19.00 MayJend TNI Soeharto menyampaikan pidato radio, yang intinya menjelaskan bahwa apa
     yang menyebut dirinya Gerakan 30 September (G30S) adalah kegiatan pengkhianatan terhadap Revolusi. Untuk
     sementara, sehubungan dengan belum jelasnya nasib Letjend TNI A.Yani dan Pejabat-pejabat teras TNI-AD
     lainnya yang diculik oleh gerombolan Gerakan 30 September, beliau bertindak sebagai pimpinan sementara TNI-
     AD. Karena perkembangan baru ini, pimpinan Cenko II mengadakan pembicaraan dan menyimpulkan bahwa
     gerakan telah gagal. Oleh karenanya, diputuskan bahwa pimpinan G30S akan mundur kedaerah pemunduran
     terakhir, yaitu Pondok Gede.
     BAB IV



     PENUMPASAN G30S/PKI DAN TUNTUTAN MASSA DALAM PEMBUBARANNYA



1.        1. TINDAKAAN KOSTRAD

     1.    Penilaian Panglima Kostrad

     Pada hari Jum’at tanggal 1 Oktober 1965 pagi hari, setelah memperoleh informasi terjadinya penculikan dan
     pembunuhan terhadap pimpinan TNI-AD , pangkostrad Mayjend TNI Soeharto segera mengumpulkan staffnya di
     markas Kostrad, untuk mempelajari situasi. Dalam rapat tersebut Pangkostrad belum mendapat gambaran yang
     lengkap dan jekas tentang gerkan yang beru saja terjadi, serta belum mengetahui tempat presiden berada.
     Setelah tampilnya Letkol Inf. Untung, seorang perwira menengah TNI-AD yang pernah berdinas dalam jajaran
     Kodam VII/Doponegoro dan beliau ketahui sebagai anggota PKI, dengan pengumuman pertamannya yang
     disiarkan setelah warta berita RRI Jakarta pukul 07.00, maka Pangkostrad Mayjend TNI Soeharto mempunyai
     keyakinan bahwa Gerakan 30 September adalah gerakan PKI yang bertujuan menggulingkandan merebut
     kekuasan dari Pemerintah RI yang sah.



1.        Operasi Penumpasan

     Berdasarkan keyakinan itu, Pangkostrad Mayjend TNI Soeharto segera menyusun rencana untuk menumpas
     gerakan pengkhiatan tersebut. Beliau segera mengkonsolidasikan dan menggerakkan personil Markas Kostrad
     dan satuan-satuan lain di Jakarta yang tidak mendukung Gerakan 30 September, disertai dengan usaha
     menginsyafkan kesatuan-kesatuan yang digunakan oleh Gerakan 30 September. Imbangan kekuatan makin tidak
     menguntukan pihak Gerakan 30 September, terutama setelah sebagian besar satuan yang digunakan oleh
     beberpa perwira yang dibina PKI berhasil disadarkan dan kembali menggabungkan diri kedalam Komando dan
     pengendalian Kostrad. Setelah pasukan-pasukan yang dopengaruhi oleh G30S berhasil disadarkan, maka langkah
     selanjutnya adalah merebut RRI Jakarta dan Kantor Besar Telkom yang sejak pagi-pagi diduduki oleh pasukan
     Kapten Inf. Suradi yang berada dibawah komando Kolonel Inf. A. Latief. Pada pukul 17.00 pasukan RPKAD
     dibawah pimpinan Kolonel Inf. Sarwo Edhie Wibowo diperintahkan merebut kembali kedua objek penting
     tersebut dengan sejauh mungkin menghindari pertumpahan darah.



     Pada pukul 17.20 Studio RRI Jakarta telah dikuasai oleh RPKAD dan bersamaan dengan itu telah direbut pula
     Kantor Besar Telkom. Setelah diperoleh laporan bahwa daerah di sekitar pangkalan Uadara Halim
     Perdanakusuma digunakan sebagai basis Gerakan 30 September, operasi penumpasan diarahkan ke daerah
     tersebut. Perkembangan menjelang petang tanggal 1 Oktober 1965 berlangsung dengan cepat. Pasukan
     pendukung G 30 S yang menggunakan Pondok Gede sebagai basis segera menyadari adanya situasi yang
     semakin tidak menguntungkan gerakannya. Situasi menjadi semakin gawat bagi pasukan G 30 S setelah
     Presiden memerintahkan secara lisan kepada Brigjen TNI Soepadjo agar pasukan-pasukan yang mendukung G
     30 S menghentikan pertummpahan darah.



     Setelah RRI berhasil dikuasai kembali oleh RPKAD, pada pukul 19.00 Mayjen TNI Soeharto selaku pimpinan
     sementara AD menyampaikan pidato radio yang dapat ditangkap diseluruh wilayah tanah air. Dengan bukti-bukti
     siaran G 30 S melalui RRI Jakarta Soeharto menjelaskan bahwa telah terjadi tindakan pengkhianatan oleh apa
     yang menamakan dirinya Gerakan 30 September. Selanjutnya dijelaskan bahwa G 30 S telah melakukan
     penculikab terhadap beberapa Perwira Tinggi TNI-AD, sedangkan Presiden dan Menko Hankam/Kasab Jendral
     TNI A.H. Nasution dalam keadaan aman. Situasi Ibu Kota Negara telah dikuasai kembali dan telah dipersiapkan
     langkah-langkah untuk menumpas G 30 S tersebut. Untuk sementara pimpinan AD dipegang oleh Soeharto.
     Pidato Pangkostrad tersebut dapat menentramkan hati rakyat yang seharian penuh diliputi suasana gelisah dan
     tanda tanya.



     Pasukan pendukung G 30 S setelah melakukan perlawanan lebih kurang setengah jam, pada tanggal 2 Oktober
     1965 pukul 14.00 menghentikan perlawanannya dn melarikan diri dari Pondok Gede.



1.    Ditemukannya Tempat Penguburan Para Korban Penculikan di Lubang Buaya

     Dengan hancurnya kekuatan fisik G 30 S / PKI di Ibu Kota operasi dilanjutkan untuk mengetahui nasib para
     korban penculikan. Sukitman, anggota polisi yang ditangkap pasukan penculik pada saat dilakukannya
     penculikan terhadap Brigjen TNI D.I. Panjaitan, yang berhasil melarikan diri melaporkan kepada pasukan
     keamanan bahwa ia menyaksikan sendiri penyiksaan dan membunuhan yang dilakukan terhadap korban
     penculikan. Atas perintah Mayjen Soeharto dengan bantuan Sukitman tanggal 3 Oktober 1965 sekitar 17.00
     dapat ditemukan timbunan tanah dan sampah yang diperkirakan sebagai tempat penguburan kemudian
     dilakukan penggalian terhadap timbunan tanah dan sampah tersebut yang ternyataa adaalah sebuah sumur tua.
     Hasil penggalian membenarkan bahwa sumur tua tersebut ditemukan tanda-tanda adanya janazah sesuaai
     dengan laporan Sukitman. Atas perintah Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo, penggalian timbunan tanah dihentikan
     karena mengalami kesulitan teknis, dan lagi hal tersebut perlu dilaporkan terlebih dahulu kepada Mayjen
     Soeharto. Keesokan harinya, setelah mendapat laporan tentang ditemukannya tempat yang kemmungkinan
     besar menjadi tempat para korban penculikan dikubur, Mayjen Soeharto kemudian menuju sumur tua itu yang
     berada dilingkuangan kebun karet didaerah Lubang Buaya. Atas perintah Soeharto penggalian mulai dilakukan,
     yang pelaksanaan teknisnya dilakukan oleh anggota kesatuan Intai para Ampibi (KIPAM) dari KKU AD ( Marinir)
     bersama-sama anggota RPKAD dengan disaksikan kembali oleh mayjen Soeharto. Dalam sumur tua tersebut
     ditemukan jenazah semua korban penculikan yang berjumlah tujuh orang, Letjen TNI Ahmad yani, Mayjen TNI
     Soeprapto, Mayjen TNI S. Parman, mayjen TNI Harhono M. T, Brigjen TNI D. I Panjaitan, Brigjen TNI Soetojo S,
     serta Lettu Czi Pierre Andreas Teendean. Dengan telah ditemukannya seluruh korban penculikan dalam keadaan
     meninggal, Soeharto menyampikan pidato yang kemudian di siarkan oleh RRI Jakarta tanggal 4 Oktober 1965
     sekitar pukul 20.00. dalam pidato tersebut Soeharto mengatakan bahwa dengan kesaksian beliau sendiri secara
     langgsung telah berhasil ditemukaan jenazah 6 orang jendral dan seorang Perwira pertama yang menjadi
     korban penculikan Gerakan 30 September.



     Ketujuh jenazah tersebut dikubur dalam sebuah sumur tua di ddaerah Lubang Buaya, tempat pelatihan sukwan-
     sukwati pemuda Rakyat dan Gerwani. Hal itu terbukti dari pengakuan seorang anggota Gerwani yang berasal
     dari Jawa Ten gah yang pernah dilatih ditempat tersebut dan tertangkap di Cirebon.



     Setelah dirawat sebagaimana mestinya, para korban fitnah dan pembunuhan G 30 S kemudian disemayamkan
     diaula markas Besar TNI AD jakarta. Keesokan harinya pertepatan dengan HUT ke 20 ABRI, tanggal 5 Oktober
     1965 dengan upacara kebesaran militer jenazah para putra terbaik bangsa dimakamkan di Taman Makam
     Pahlawan Kalibata. Jendral TNI A.H Nasution bertindak selaku inspektur upacara. Dalam pidato pengantar
     jenazah para pahlawan itu, Menko Hankam/Kasab dengan terbata-bata dan penuh kesedihan menyatakan bahwa
     hari angkatan bersenjata tanggal 5 Oktober adalah hari yang selalu gemilang, tetapi pada hari itu telah dihinakan
     oleh pengkhianatan dan penganiayaan para perwira tinggi TNI AD. Beliau juga mengatakan bahwa fitnah
     terhadap ABRI merupakan perbuatan yang lebih kejam daripada pembunuhan dan mengajak segenap prajurit
     TNI untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan tersebut dengan meminta kepada rakyat agar ikhlas melepas
     para pahlawan tersebut menghadap Tuhan YME.



     Disepanjang jalan iring-iringan jenazah para pahlawan Revolusi itu, ratusan ribu rakyat mengantarkannya
     sebagai perwujudan rasa hormat, belasungakawa dan simpati.



1.        2. TUNTUTAN MASSA DALAM PEMBUBARAN PKI

     1.    1. Reaksi Partai Politik dan organisasi Massa
     Kenyataan menunjukkan bahwa setelah tersiar adanya G 30 S melalui studio RRI Jakarta pada tanggal 1 Oktober
     1965, baik parpol maupun ormas belum menentukan sikap karena sama sekali tidak mengetahui apa yang
     sebenarnya terjadi dan latar belakangnya. Mereka belum mempunyai pedoman untuk menanggapinya. Situasi
     maupun kondisi sosial politik pada saat itu memaksa mereka bertindak sangat cermat sekali agar sikap yang
     mereka ambil jangan sampai menimbulkan kerugian politis bagi partai atau golongan.



     Baru setelah mendengar siaran langsung pidato Soeharto ditempat ditemukannya para korban penculikan pada
     tanggal 4 Oktober 1965 dan siaran upacara pemakaman para pahlawan Revolusu tanggal 5 Oktober 1965,
     keluarlah pernyataan-pernyataan dan ormas yang umumnya bernada sebagai berikut:



1.        Mengucap syukur atas terhindarnya presiden Soekarno dari bahaya;

2.        Tetap berdiri penuh di belakang presiden/Pangti ABRI/Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno;

3.        Mengutuk pemberontakan dan pengkhianatan G 30 S

4.        2. Tindakan Spontan Massa terhadap PKI
     Setelah diperoleh tanda-tanda yang semakin jelas bahwa PKI adalah dalang dari pelaku Gerakan 30 September,
     mulailah terjadi aksi-aksi spontan berbagai kelompok massa pemuda, mahasiswa dan pelajar. Pada tanggal 8
     Oktober 1965 mulai terjadi aksi-aksi massa menyerbu gedung-gedung kantor PKI serta ormas-ormasnya. Aksi-
     aksi massa tersebut terjadi diberbagai daerah dan tempat-tempat dimana terdapat basis-basis kekuatan PKI
     disitu terjadi suasana tegang dan konflik fisik.



     Sementara itu tanggal 8 Oktober 1965 di taman Suropati Jakarta, partai politik dan berbagai organisasi massa
     melakukan apel kebulatan tekad untung mengamankan Pancasila. Apel kebulatan tekad tersebut juga mendesak
     Presiden untuk membubarkan PKI beserta ormas pendukungnya, membersihkan kabinet, DPR-GR, MPRS, serta
     lembaga-lembaga negara lainnya dari unsur-unsur G 30 S/PKI.



     Kegiatan penindakan terhadap PKI yang semula hanya timbul secara spontan dari masing-masing golongan
     masa, pemuda, mahasiswa dan pelajar kemudian menjadi lebih luas. Pada tanggal 2 Oktober 1965 berbagai
     partai politik yaitu NU, IPKI, Partai Katolik, Parkindo, PSII, unsur-unsur perti, dan unsur-unsur PNI, serta ormas-
     ormas aanti komunis seperti Muhamadiyah, SOSKI, dan lain-lain membentuk dan begabung menjadi fron
     Pancasila.



     Dengan memperhatikan munculnya suasana yang sama dilingkungan mahasiswa dalam menuntut pembubaran
     PKI dan menyerbu gedung-gedung PKI, tanggal 25 Oktober 1965 Menteri perguruan Tinggi dan Ilmu
     Pengetahuan (PTIP), Brigjen TNI dr. Syarif Thayeb, memanggil beberapa tokoh dari organisasi mahasiswa.
     Beliau mengatakan bahwa untuk menghadapi gerakan komunis, para mahasiswa agar tidak bergerak sendiri-
     sendiri tetapi terpadu dalam satu kesatuan aksi. Dan menganjurkan kepada mahasiswa agar membentuk
     Gerakan Mahasiswa yang terpadu dengan nama “ Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia” (KAMI). Sejak saat itulah
     terbentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia yang kemudian diikuti oleh munculnya berbagai kesatuan aksi
     lainnya. Kesatuan-kesatuan aksi ini tergabung dalam Badan Koordinasi Kesatuan Aksi. Pada tanggal 31
     Desember 1965 BKKA dan Fron Pancasila menandatangani naskah deklarasi mendukung pancasila, yang
     bertujuan menggalang persatuan antara rakyat dan ABRI sebagai Dwi Tunggal dalam mengamalkan ideologi
     pancasila secara murni serta menolak usaha pembelaan terhadap Gerakan 30 September dalam bentuk apapun.



1.    3. Tri Tuntutan Rakyat (Tritura)
     Janji yang berulang kali diucapkan Presiden Soekarno untuk memberikkan penyelesaian politik yang adil
     terhadap pemberontakan G-30-S/PKI belum juga diwujudkan. Sementara itu, gelombang demonstrasi menuntut
     pembubaran PKI kian keras dan bertambah luas. Situasi yang menjurus kearah konflik politik tersebut bertambah
     lagi dengan munculnya rasa tidak puas terhadap kesdaan ekonomi negara.



     Dalam keadan serba tidaak puas dan tidak sabar, akhirnya tercetuslah Tri-Tuntutan hati Nurani Rakyat, atau
     lebih dikenal sebagai Tri Tuntutan Rakyat, yang disingkat menjadi Tritura. Dengan dipelopori oleh KAMI dam
     KAPI, pada tanggal 12 Januari 1966 kesatuan-kesatuan aksi yang bergabung dalam fron Pancasila memenuhi
     halaman DPR GR dan mengajukan tiga buah tuntutan yang kemudian dikenal sebagai Tritura itu, yang isinya
     adalah :



1.    Pembubaran PKI;

2.    Pembersihan kabinet dari unsur-unsur G-30-S/PKI; dan

3.    Penurunan harga dan perbaikan ekonomi.

4.    3. KOMANDO PEMULIHAN KEAMANAN DAN KETERTIBAN

     Sore hari tanggal 2 Oktober 1965 setelah berhasil mengiuasai kembali keaasaan kota Jakarta, Mayend Soeharto
     menemui Presiden di Istana Bogor. Dalam pertemuan tersebut presiden memutuskan untuk secra langsung
     memegang tampuk PimpinanAngkatan Darat yang semenjak tanggak 1 Iktober 1965 untuk sementara Mayjend
     Soeharto. Sebagai pelaksana harian presiden menunjuk Mayjend Pranoto Reksosamudro untuk
     menyelenggarakan pemulihan keamanan dan ketertiban seperti sedia kala ditunjuk Mayjend Soeharto, panglima
     Kostrad.



     Keputusan tersebut disiarkan oleh Presiden dalam Pidato melalui RRI Pusat dini hari pukul 01.30 tanggal 3
     Oktober 1965. Pengangkatan Mayjend Soeharto sebagai panglima operasi pemulihan keamanan dan ketertiban
     serta pembentukan komando operasi pemulihan keamanan dan ketertiban (Kopkamtib) kemudian diatur dengan
     Kepres/Pangti ABRI/Koti Nomor 142/Koti/1965 tanggal 1 November 1965, Nomor 162/Koti/1965/tgl 12
     November 1965 dan Nomor 179/Koti/1965 tanggal 6 Desember 1965.



     Tugas pokok Kopkamtib adalah memulihkan keamanan dan ketertiban dari akibat-akibat peristiwa Gerakan 30
     September serta menegakkan kembali kewibawaan pemerintah pada umumnya dengan jalan operasi fisik,
     militer dan mental. Dalam usaha penumpasan gerakan pemberontakan ini, di mana-mana ABRI mendapat
     bantuan dari rakyat dan bekerjasama dengan organisai-organisasi politik dan organisasi-organisasi massa yang
     setia kepada pancasila.



1.    4. SURAT PERINTAH 11 MARET

     Pada tanggal 11 Maret 1966 Presiden mengeluarkan surat perintah kepada Letjen Soeharto, menteri/pangad,
     yang pokoknya berisi perintah kepada Letjen Soeharto untuk atas nama presiden/Pangti ABRI/peminpim besar
     Revolusi, mengambil sega tindakan yang dianggap perlu guna terjaminnya keamanan dan ketenangan serta
     kesetabilam pemerintahan.



     Pemberian surat perintah tersebut merupakan pemberian kepercayaan dan sekaligus pemberian wewang kepda
     Letjend Soeharto untuk mengatasi keadaan yang waktu itu serba tidak menentu. Keluarnya Surat Perintah
     tersebut disambut dengan semangat yang menggelora oleh rakyat dan durat perintah tersebut sering disebut
     “Supersemar” (Surat Perintah 11 Maret). Berdasarkan kewenangan yang bersumber pada Supersemar, dengan
     menimbang masih adanya kegiatan sisa-sisa G30S/PKI serta memperhatikan hasil-hasil pengadilan dan
     keputusan Mahkamah militer Luar Biasa terhadap tokoh-tokoh G30S/PKI, pada tanggal 12 Maret 1966 Letjend
     Soeharto atas nama Presiden/Pangti ABRI/Pemimpin Besar Revolusi menandatangani Surat Keputusan
     Prsiden/Pangti ABRI/Pemimpin Besar Revolusi/PBR. No 1/3/1966, yaitu pembubaran PKI dan organisasi-
     organisasi yang bernaungdan berlindung dibawahnya serta menyatakan sebagai organisasi terlarang di wilayah
     kekuasaan Negara RI.



1.    5. PEMBUBARAN PKI

     Berdasarkan wewenang yang bersumber pada Supersemar, Letjend Soeharto atas nama Presiden menetapkan
     pembubaran dan pelarangan PKI, termasuk semua bagian-bagian organisasinya dari tingkat pusat sampai
     kedaerah beserta semua organisasi yang se azas/ berlindung/bernaung dibawahnya, keputusan tersebut
     dituangkan dalam Keputusan Presiden/Pangti ABRI/mandataris MPR/PBR no.1/3/1966 tanggal 12 maret 1966
     dan merupakan tindakan pertama Letjen Soeharto sebagai pengemban perintah 11 Maret atau Supersemar.



     Keputusan pembubaran dan pelarangan PKI itu diamabil oleh pengemban Supersemar berdasarkan
     pertimbangan bahwa PKI telah nyata-nyata melakukan perbuatan kejahatan dan kekejaman. Bukan itu saja,
     tetapi telah dua kali pengkhianatan terhadap negara dan rakyat Indonesia yang sedanag berjuang.



     Seluruh rakyat yang menjunjung tinggi landasan falsafah dan ideologi Pancasila waktu itu serentak menuntut
     dibubarkannya PKI. Oleh karena itu, keputusan pembubaran PKI itu disambut dengan gembira dan perasaan
     lega oleh seluruh rakyat Indonesia.
BAB V



KESIMPULAN



Akhir dari Orde Lama, di tandai oleh tragedi nasional yang biasa disebut Gerakan 30 September, yang dilakukan
oleh Partai Komunis Indonesia (PKI ). Hal ini merupakan usaha mengganti Pancasila dan UUD 1945 dengan
ideologi komunis. Inilah bahaya terbesar bagi Pancasila dan UUD 1945 yang pernah dialami oleh bangsa
Indonesia.



Hari Kamis, 30 September malam 1965, PKI telah siap melakukan pemberontakan dengan pangkalan di Lubang
Buaya, termasuk daerah pangkalan Halim Perdana Kusumah. Gerakan tersebut dipelopori oleh pasukan Pasopati
di bawah pimpinan Lettu Dul Arief dan pasukan yang memakai seragam Resimen Cakrabirawa Pengawal Istana,
yang dipimpin oleh Letkol Untung Sutopo. Mereka bergerak hari Jumat, 1 Oktober 1965, pukul 03.00 dini hari
memasuki Ibukota dengan sasaran : (a) menculik dan membunuh beberapa perwira tinggi TNI-AD, dan (b)
menduduki tempat vital, seperti studio Radio Republik Indonesia, pusat telekomunikasi, dan Istana Merdeka.



Sasaran yang menjadi korban adalah Letnan Jendral Ahmad Yani (Menteri/Panglima AD), Mayor Jendral haryono
(Deputy Khusus) dibunuh di rumah kediaman kemudian dibawa ke Lubang Buaya. Lettu Piere Andreas Tendean
(Ajudan menko Hankam KASAB Jenderal A.H. Nasution), Mayor Jenderal Suprapto (Deputy Pembinaan), Mayor
Jenderal S. Parman (Asisten I), brigjen D.I. Panjaitan ( Asisten IV), Brigjen Sutoyo Siswomiharjo ( Inspektur
Kehakiman), diculik dan dibawa ke Lubang Buaya, disiksa dan dibunuh, dimasukkan sumur kering. Peristiwa
sadis tersebut selesai pukul 06.30 pagi. Dalam usaha penculikan itu Jenderal Nasution dapat menyelamatkan diri,
tetapi Ade Irma Suryani, puterinya yang masih kecil, menjadi korban membentengi ayahnya..



Dalam penyiksaan di Lubang Buaya tersebut, disaksikan oleh Sukitman (seorang anggota Poltas) yang lepas dari
tawanan pemberontak. Selanjutnya Sukitman berjasa sebagai informan dalam pencarian para korban oleh
pasukan yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto.



Tanggal 2 Oktober 1965 , saat menjelang subuh, Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), dibantu
Batayon 328 Kujang Siliwangi, berhasil merebut Pangkalan Halim Perdana Kusumah, basis G30S/PKI. Letkol
Untung Sutopo dan Dipo Nusantara Aidit (Pimpinan Sentral Komite Partai Komunis Indonesia atau CCPKI)
berhasil lolos dan melarikan diri.



Tanggal 4 Oktober 1965, dilakukan pengambilan jenazah para perwira Tinggi AD oleh anggota RPKAD dan KKO
AL, dipimpin oleh Pangkostrad Mayor Jenderal Soeharto. Pada hari berikutnya, para Perwira Tinggi AD dan
Seorang Perwira pertama korban penculikan G30S/PKI tersebut dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi dengan
Surat Keputusan No. III/KOTI/1965 dan dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata Jakarta.



Bagaimanapun, Pancasila dan UUD 1945 pulalah yang sebenarnya berhasil untuk menggagalkan G30S/PKI dan
menghancurkannnya. Hal itu artinya, bahwa G30S/PKI tersebut dapat digagalkan oleh kekuatan rakyat yang
setia kepada Pancasila dan UUD 1945. Nilai-nilai Pancasila yang pernah menyelamatkan bangsa Indonesia dari
bahaya perpecahan bangsa menjelang Proklamasi Kemerdekaan, saat ini kembali jiwa dan semangatnya
berkobar dengan seindah-indahnya untuk menyelamatkan bangsa Indonesia dari pengkhianatan G30S/PKI.
Itulah makna dari tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Yang sakti bukan Pancasila sebagai
rumusan yuridis formal, melainkan nilai-nilainya yang dipahami, dihayati, dan diamalkan secara murni dan
konsekuen dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.



Kegagalan G30S/PKI berarti berakhirnya masa pemerintahan Orde Lama, dan tangggal 1 Oktober 1965 menjadi
awal proses peralihan dari masa pemerintahan Orde lama ke Orde Baru, yaitu orde atau tatanan yang secara
murni dan konsekuen. Murni berarti sesuai dengan hakikat makna masing-masing sila dari Pancasila, tanpa
rekayasa dan jauh dari pemaksaan; konsekuen berarti tulus dan bertanggung jawab. Mulainya Orde Baru
ditengarai dengan Surat Perintah Sebelas Maret 1966 (Supersemar) dari Presiden Soekarno kepada Letnan
Jenderal Soeharto untuk mengambil tindakan-tindakan yang perlu demi keamanan bangsa dan negara. Berdasar
pada Supersemar tersebut, tanggal 12 Maret 1966 Soeharto membubarkan PKI dengan segenap Ormas
(Organisasi Massa) dan Orpol (Organisasi Politik)-nya.



DAFTAR PUSTAKA



____________.1994.Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia.Jakarta: Sekretarit Negara RI.
____________.1981.30 Tahun Indonrsia Merdeka.Jakarta:Sekretariat Kementrian Negara RI.
Gottschalk, louis.1975.Mengerti Sejarah.terjemahan Nugroho Notosusanto.Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas
Indonesia
Ismaun. Helius Sjamsuddin. 1996. Pengantar Ilmu Sejarah.Jakarta: Depdikbud Direktorat Jendral Perguruan Tinggi
Proyek Pendidikan Tenaga Akademik.
Kaswati, anggar.1998.Metodologi sejarah dan Historiografi.Yogyakarta: Beta Offset Yogyakarta.
Soegeng, A.Y.2002.Memahami Sejarah Indonesia (Materi Pendidikan Pancasila).Salatiga:Widya Sari Press.
Suwanto,dkk.1997.Sejarah Nasional dan Umum.Semarang:Aneka Ilmu.
Tim Penyusun Kamus Pusat pembinaam dan Pengembaan Bahasa. 1993.Kamus Besar Bagasa Indonesia.
Jakarta:Balai Pustaka.

[1] Organisasi-organisasi yang dibentuk sebagai pelaksanaan strategi PKI dalam usahanya memperluasa anggota
dan simpatisannya
[2] Golongan menengah dalam masyarakat yang menentang PKI
[3] Golongan usahawan kecil
[4] Undang-Undang keamanan bersama (AS 1951). Berdasarkan MSA, Amerika Serikat akan memberikan
bantuan ekonomi, teknik dan pertahanan kepada suatu negara dalam rangka memperkuat keamanan AS dan
keamanan dunia bebas dalam rangka perang dingin. Jika suatu negara setuju untuk menerima bantuan
berdasarkan program MSA, negara dapat memilih pasal 511(a) untuk bantuan pertahanan, atau pasal 511 (b)
untuk bantuan ekonomi dan teknik. Pada bulan Januari 1952 Menteri Luar Negeri Soebardjo (kabinet Sukiman)
menerima tawaran dari Dubes AS, Merle H. Cochran, mengenai masalah bantuan kepada bangsa Indonesia
berdasarkan MSA, yang karena ingin menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan perlengakapan senjata.
Menlu Soebardjo dinilai oleh DPR telah melanggar prinsip politik bebas aktif, mendapat mosi tidak percaya,
akibatnya kebinet Sukiman bubar pada bulan April 1951.
[5] Ideologi otoriter yang memuja superioritas nasional. Anti Komunisme dan Liberalisme
[6] Jiwa dan pelaksanaan kebualatan tekad Soekarno-Hatta dalam memimpin negara pada masa revolusi
kemerdekaan
[7] Berasal dari pidato Presiden pada HUT RI tanggal 17 agustus 1959 berjudul “penemuan kembali revolusi
Kita”, yang disistematisasi oleh DPA sementara menjadi manipol dan diusulkan menjadi GBHN, penetapannya
dilakukan dengan Penpres no 1 tahun 1960 kemudian dikukuhkan oleh MPRS dengan ketetapan Nomor
1/MPRS/1960, 19 November 1960. Intisari Manipol adalah UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi
terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia
[8]Thesis PKI tentang revolusi indonesia, hasil sidang pleno V CC PKI 1957. Panca Azimat Revolusi, lima azas
yang harus dipedomani untuk melaksanakan Revolusi Indonesia yaitu Nasakom, Pancasila, Manipol-Usdek,
Trisakti Tavip, Berdiri di atas kaki sendiri (berdikari)
[9] Organisasi massa yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden RI nomor 13 Tahun 1959 tanggal 31
Desember 1959, dengan tujuan menyelesaikan revolusi nasional, pembangunan semesta dan mengembalikan
Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan NKRI. Tugas FN adalah menghimpun dan mempersatukan kekuatan
revolusioner dalam masyarakat yang bekerja atas dasar Demokrasi Terpimpin. PKI berusaha mendominasi FN
karena merupakan forum perjuangan yang memenuhi selera PKI dalam rangka Penggerakan aksi massa
[10] Gerakan PKI dalam rangka mendukung Manifesto Politik (Manipol)
[11] Gerakan memperhebat dan mengobarkan aksi-aksi massa untuk memberantas lawan-lawan PKI
[12] Penggantian
[13] Pengikut Leon Trotsky, sebutan PKI terhadap tokoh-tokoh Partai Murba.
[14] Penjajahan bentuk baru yang menjadi musuh revolusi Indonesia, sesuai dengan pemahaman Demokrasi
terpimpin.
[15] Organisasi tani yang didirikan pada tahun 1946 kemudian bernaung dibawah PKI. Pada 1964-1965 BTI
adalah ujung tombak dari aksi-aksi sepihak, denagn dalih melaksanakan UUPA (landreform) dan UUPBH (bagi
hail).
[16] Orang yang tidak disukai oleh masyarakat atau lingkungan tempat dia bekerja atau melaksanakkan tugas
[17] Istilah untuk kaum Komunis
[18] Surat yang diterima oleh Waperdam I ketua BPI Dr. Soebandrio dari pengirim yang tidak dikenal. Surat itu
berisi seolah-olah TNI-AD mengadakan kerjasama dengan pihak inggris, yang pada saat itu (1965) dikategorikan
sebagai musuh (nekolim).
                                           BAB I
                                       PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
   PKI merupakan partai komunis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni
   Soviet. Anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya.
   PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota dan
   pergerakan petaniBarisan Tani Indonesia yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk
   pergerakan wanita (Gerwani), organisasi penulis dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI
   mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung.
   Pada bulan Juli 1959 parlemen dibubarkan dan Sukarno menetapkan konstitusi di bawah
   dekrit presiden - sekali lagi dengan dukungan penuh dari PKI. Ia memperkuat tangan
   angkatan bersenjata dengan mengangkat para jendral militer ke posisi-posisi yang penting.
   Sukarno menjalankan sistem "Demokrasi Terpimpin". PKI menyambut "Demokrasi
   Terpimpin" Sukarno dengan hangat dan anggapan bahwa dia mempunyai mandat untuk
   persekutuan Konsepsi yaitu antara Nasionalis, Agama dan Komunis yang
   dinamakan NASAKOM.
   Pada era "Demokrasi Terpimpin", kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum burjuis
   nasional dalam menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani, gagal
   memecahkan masalah-masalah politis dan ekonomi yang mendesak. Pendapatan ekspor
   menurun, foreign reserves menurun, inflasi terus menaik dan korupsi birokrat dan militer
   menjadi wabah.
   Pada kunjungan Menlu Subandrio ke Tiongkok, Perdana Menteri Zhou Enlai memberikan
   100.000 pucuk senjata chung. Penawaran ini gratis tanpa syarat dan kemudian dilaporkan ke
   Bung Karno tetapi belum juga menetapkan waktunya sampai meletusnya G30S. Pada bulan
   Juli 1959 parlemen dibubarkan dan Sukarno menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden -
   sekali lagi dengan hasutan dari PKI. Ia memperkuat tangan angkatan bersenjata dengan
   mengangkat para jendral militer ke posisi-posisi yang penting. Sukarno menjalankan sistem
   "Demokrasi Terpimpin". PKI menyambut "Demokrasi Terpimpin" Sukarno dengan hangat
   dan anggapan bahwa dia mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi yaitu antara
   Nasionalis, Agama dan Komunis yang dinamakan NASAKOM.
   Pada era "Demokrasi Terpimpin", kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan nasionalis dalam
   menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani, gagal memecahkan
   masalah-masalah politis dan ekonomi yang mendesak. Pendapatan ekspor menurun, foreign
   reserves menurun, inflasi terus menaik dan korupsi birokrat dan militer menjadi wabah.
B. Rumusan Masalah
   Dari latar belakang diatas rumusan masalah yang dapat diambil adalah :
1. Pengertian dari G 30S PKI
2. Faktor apa yang menyebabkan adanya G 30S PKI ?
3. Siapa saja Korban-korban G 30 S PKI
C. Tujuan
   Tujuan Pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui sejarah singkat tentang Gerakan G
   30 S PKI yang pernah dialami oleh Bangsa Indonesia, juga untuk memenuhi Salah Satu
   Tugas Mata Pelajaran di SMK Negeri 7 Garut




                                            BAB II
                                       PEMBAHASAN
A. Pengertian Umum Gerakan 30 September
   Gerakan 30 September atau yang sering disingkat G 30 S PKI, G-30S/PKI, Gestapu (Gerakan
   September Tiga Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi
   selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965 di mana enam perwira
   tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha
   percobaankudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.
1. Angkatan kelima
   Pada kunjungan Menlu Subandrio ke Tiongkok, Perdana Menteri Zhou Enlai menjanjikan
   100.000 pucuk senjata jenis chung, penawaran ini gratis tanpa syarat dan kemudian
   dilaporkan ke Bung Karno tetapi belum juga menetapkan waktunya sampai meletusnya
   G30S.
   Pada awal tahun 1965 Bung Karno atas saran dari PKI akibat dari tawaran perdana mentri
   RRC, mempunyai ide tentang Angkatan Kelima yang berdiri sendiri terlepas dari ABRI.
   Tetapi petinggi Angkatan Darat tidak setuju dan hal ini lebih menimbulkan nuansa curiga-
   mencurigai antara militer dan PKI.
   Dari tahun 1963, kepemimpinan PKI makin lama makin berusaha memprovokasi bentrokan-
   bentrokan antara aktivis massanya dan polisi dan militer. Pemimpin-pemimpin PKI juga
   menginfiltrasi polisi dan tentara denga slogan "kepentingan bersama" polisi dan "rakyat".
   Pemimpin PKI DN Aiditmengilhami slogan "Untuk Ketentraman Umum Bantu Polisi". Di
   bulan Agustus 1964, Aidit menganjurkan semua anggota PKI membersihkan diri dari "sikap-
   sikap sektarian" kepada angkatan bersenjata, mengimbau semua pengarang dan seniman
   sayap-kiri untuk membuat "massa tentara" subyek karya-karya mereka.
   Di akhir 1964 dan permulaan 1965 ribuan petani bergerak merampas tanah yang bukan hak
   mereka atas hasutan PKI. Bentrokan-bentrokan besar terjadi antara mereka dan polisi dan
   para pemilik tanah.
   Bentrokan-bentrokan tersebut dipicu oleh propaganda PKI yang menyatakan bahwa petani
   berhak atas setiap tanah, tidak peduli tanah siapa pun (milik negara=milik bersama).
   Kemungkinan besar PKI meniru revolusi Bolsevik di Rusia, di mana di sana rakyat dan partai
   komunis menyita milik Tsar dan membagi-bagikannya kepada rakyat.
   Pada permulaan 1965, para buruh mulai menyita perusahaan-perusahaan karet dan minyak
   milikAmerika Serikat. Kepemimpinan PKI menjawab ini dengan memasuki pemerintahan
   dengan resmi. Pada waktu yang sama, jendral-jendral militer tingkat tinggi juga menjadi
   anggota kabinet. Jendral-jendral tersebut masuk kabinet karena jabatannya di militer oleh
   Sukarno disamakan dengan setingkat mentri. Hal ini dapat dibuktikan dengan nama
   jabatannya (Menpangab, Menpangad, dan lain-lain).
   Menteri-menteri PKI tidak hanya duduk di sebelah para petinggi militer di dalam kabinet
   Sukarno ini, tetapi mereka terus mendorong ilusi yang sangat berbahaya bahwa angkatan
   bersenjata adalah merupakan bagian dari revolusi demokratis "rakyat".
   Aidit memberikan ceramah kepada siswa-siswa sekolah angkatan bersenjata di mana ia
   berbicara tentang "perasaan kebersamaan dan persatuan yang bertambah kuat setiap hari
   antara tentara Republik Indonesia dan unsur-unsur masyarakat Indonesia, termasuk para
   komunis".
   Rezim Sukarno mengambil langkah terhadap para pekerja dengan melarang aksi-aksi mogok
   di industri. Kepemimpinan PKI tidak berkeberatan karena industri menurut mereka adalah
   milik pemerintahan NASAKOM.
   Tidak lama PKI mengetahui dengan jelas persiapan-persiapan untuk pembentukan rezim
   militer, menyatakan keperluan untuk pendirian "angkatan kelima" di dalam angkatan
   bersenjata, yang terdiri dari pekerja dan petani yang bersenjata. Bukannya memperjuangkan
   mobilisasi massa yang berdiri sendiri untuk melawan ancaman militer yang sedang
   berkembang itu, kepemimpinan PKI malah berusaha untuk membatasi pergerakan massa
   yang makin mendalam ini dalam batas-batas hukum kapitalis negara. Mereka, depan jendral-
   jendral militer, berusaha menenangkan bahwa usul PKI akan memperkuat negara. Aidit
   menyatakan dalam laporan ke Komite Sentral PKI bahwa "NASAKOMisasi" angkatan
   bersenjata dapat dicapai dan mereka akan bekerjasama untuk menciptakan "angkatan
   kelima". Kepemimpinan PKI tetap berusaha menekan aspirasi revolusioner kaum buruh di
   Indonesia. Di bulan Mei 1965, Politbiro PKI masih mendorong ilusi bahwa aparatus militer
   dan negara sedang diubah untuk mengecilkan aspek anti-rakyat dalam alat-alat negara.
2. Isu sakitnya Bung Karno
   Sejak tahun 1964 sampai menjelang meletusnya G30S telah beredar isu sakit parahnya Bung
   Karno. Hal ini meningkatkan kasak-kusuk dan isu perebutan kekuasaan apabila Bung Karno
   meninggal dunia. Namun menurut Subandrio, Aidit tahu persis bahwa Bung Karno hanya
   sakit ringan saja, jadi hal ini bukan merupakan alasan PKI melakukan tindakan tersebut.
   Tahunya Aidit akan jenis sakitnya Sukarno membuktikan bahwa hal tersebut sengaja
   dihembuskan PKI untuk memicu ketidakpastian di masyarakat.
3. Isu masalah tanah dan bagi hasil
   Pada tahun 1960 keluarlah Undang-Undang Pokok Agraria (UU Pokok Agraria) dan Undang-
   Undang Pokok Bagi Hasil (UU Bagi Hasil) yang sebenarnya merupakan kelanjutan
   dari Panitia Agraria yang dibentuk pada tahun 1948. Panitia Agraria yang menghasilkan
   UUPA terdiri dari wakil pemerintah dan wakil berbagai ormas tani yang mencerminkan 10
   kekuatan partai politik pada masa itu. Walaupun undang-undangnya sudah ada namun
   pelaksanaan di daerah tidak jalan sehingga menimbulkan gesekan antara para petani
   penggarap dengan pihak pemilik tanah yang takut terkena UUPA, melibatkan sebagian massa
   pengikutnya dengan melibatkan backing aparat keamanan. Peristiwa yang menonjol dalam
   rangka ini antara lain peristiwa Bandar Betsi di Sumatera Utara dan peristiwa di Klaten yang
   disebut sebagai ‘aksi sepihak’ dan kemudian digunakan sebagai dalih oleh militer untuk
   membersihkannya.
   Keributan antara PKI dan Islam (tidak hanya NU, tapi juga dengan Persis dan
   Muhammadiyah) itu pada dasarnya terjadi di hampir semua tempat di Indonesia, di Jawa
   Barat, Jawa Timur, dan di propinsi-propinsi lain juga terjadi hal demikian, PKI di beberapa
   tempat bahkan sudah mengancam kyai-kyai bahwa mereka akan disembelih setelah tanggal
   30 September 1965 (hal ini membuktikan bahwa seluruh elemen PKI mengetahui rencana
   kudeta 30 September tersebut).
B. Faktor Penyebab terjadinya G 30 S PKI
1. Faktor Malaysia
   Negara Federasi Malaysia yang baru terbentuk pada tanggal 16 September 1963 adalah salah
   satu faktor penting dalam insiden ini[1]. Konfrontasi Indonesia-Malaysia merupakan salah
   satu penyebab kedekatan Presiden Soekarno dengan PKI, menjelaskan motivasi para tentara
   yang menggabungkan diri dalam gerakan G30S/Gestok (Gerakan Satu Oktober), dan juga
   pada akhirnya menyebabkan PKI melakukan penculikan petinggi Angkatan Darat.
   Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan Tunku yang menginjak-
   injak lambang negara Indonesia[2] dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan
   gerakan yang terkenal dengan sebutan "Ganyang Malaysia" kepada negara Federasi
   Malaysia yang telah sangat menghina Indonesia dan presiden Indonesia. Perintah Soekarno
   kepada Angkatan Darat untuk meng"ganyang Malaysia" ditanggapi dengan dingin oleh para
   jenderal pada saat itu. Di satu pihak Letjen Ahmad Yani tidak ingin melawan Malaysia yang
   dibantu oleh Inggris dengan anggapan bahwa tentara Indonesia pada saat itu tidak memadai
   untuk peperangan dengan skala tersebut, sedangkan di pihak lain Kepala Staf TNI Angkatan
   Darat A.H. Nasution setuju dengan usulan Soekarno karena ia mengkhawatirkan isu Malaysia
   ini akan ditunggangi oleh PKI untuk memperkuat posisinya di percaturan politik di
   Indonesia.
2. Faktor Amerika Serikat
Amerika Serikat pada waktu itu sedang terlibat dalam perang Vietnam dan berusaha sekuat
tenaga agar Indonesia tidak jatuh ke tangan komunisme. Peranan badan intelejen Amerika
Serikat (CIA) pada peristiwa ini sebatas memberikan 50 juta rupiah (uang saat itu)
kepadaAdam Malik dan walkie-talkie serta obat-obatan kepada tentara Indonesia. Politisi
Amerika pada bulan-bulan yang menentukan ini dihadapkan pada masalah yang
membingungkan karena mereka merasa ditarik oleh Sukarno ke dalam konfrontasi Indonesia-
Malaysia ini.
Salah satu pandangan mengatakan bahwa peranan Amerika Serikat dalam hal ini tidak besar,
hal ini dapat dilihat dari telegram Duta Besar Green ke Washington pada tanggal 8
Agustus1965 yang mengeluhkan bahwa usahanya untuk melawan propaganda anti-Amerika
di Indonesia tidak memberikan hasil bahkan tidak berguna sama sekali. Dalam telegram
kepada Presiden Johnson tanggal 6 Oktober, agen CIA menyatakan ketidakpercayaan kepada
tindakan PKI yang dirasa tidak masuk akal karena situasi politis Indonesia yang sangat
menguntungkan mereka, dan hingga akhir Oktober masih terjadi kebingungan atas
pembantaian di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali dilakukan oleh PKI atau NU/PNI.
                                 KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang
alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Pemberontakan G 30S/PKI”

Makalah ini berisikan tentang informasi Pemberontakan G 30S/PKI yang terjadi pada masa
PKI merajalela di Indonesia dan usaha penumpasannya. Diharapkan Makalah ini dapat
memberikan informasi kepada kita semua tentang pemberontakan ini.

Kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan Makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan Makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin.




                                                           Tulungagung, 5 Oktober 2011

                                                                               Penyusun
                                                     BAB I
                                                 PENDAHULUAN



   1.1 Latar Belakang

                PKI merupakan partai terbesar di Indonesia Dengan melakukan pendekatan kepada
         kaum berjunis, PKI berhasil menarik anggota cukup besar, tercatat pada tahun 1965, anggota
         PKI sudah mencapai 3,5 juta. Hal ini membuat PKI menjadi partai yang besar dan kuat,
         sehingga PKI ingin memperluas wilayahnya dengan melakukan pemberontakan di berbagai
         daerah di Indonesia


   1.2 Rumusan Masalah

1.2.1    1.2.1 Apa sebab terjadinya G30S/PKI?

1.2.2   1.2.2   Bagaimana proses terjadinya peristiwa G 30S/PKI?

1.2.3    1.2.3 Bagaimana persaingan PKI dengan TNI Angkatan Darat?

1.2.4    1.2.4 Bagaimana proses Penumpasan G 30S/PKI?

1.2.5    1.2.5   Apa pengaruh PKI terhadap daerah di Indonesia?

1.2.6    1.2.6 Apa penyebab kegagalan PKI?

1.2.7    1.2.7 Apa Dampak peristiwa G 30S/PKI?

1.2.8    1.2.8 Bagaimana Proses Peralihan Kekuasaan Politik Setelah Peristiwa G30S/PKI?



   1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1    1.3.1 Untuk mengetahui sebab terjadinya G30S/PKI.

1.3.2    1.3.2   Untuk mengetahui proses terjadinya peristiwa G 30S/PKI.

1.3.3    1.3.3 Untuk mengetahui persaingan PKI dengan TNI Angkatan Darat.

1.3.4    1.3.4 Untuk mengetahui Penumpasan G 30S/PKI.

1.3.5    1.3.5 Untuk mengetahui pengaruh PKI terhadap daerah di Indonesia.

1.3.6    1.3.6 Untuk mengetahui penyebab kegagalan PKI.

1.3.7    1.3.7 Untuk mengetahui Dampak peristiwa G 30S/PKI.
1.3.8   1.3.8 Untuk mengetahui Proses Peralihan Kekuasaan Politik Setelah Peristiwa G30S/PKI.
                                             BAB II
                                       PEMBAHASAN
        Peristiwa G 30S/PKI yang lebih dikenal dengan peristiwa pemberontakan yang
dilakukan PKI, bertujuan untuk menyebarkan paham komunis di Indonesia. Pemberontakan
ini menimbulkan banyak korban, dan banyak korban berasal dari para Jendral AD. Gerakan
PKI ini menjadi isu politik untuk menolak laporan pertanggungjawaban Presiden Soekarno
kepada MPRS. Dengan ditolaknya laporan Presiden Soekarno ini, maka Indonesia kembali ke
pemerintahan yang berazaskan kepada pancasila dan UUD 1945.
A. Sebab-sebab G 30S/PKI
a. PKI merupakan partai terbesar di Indonesia
        Dengan melakukan pendekatan kepada kaum berjunis, PKI berhasil menarik anggota
cukup besar, tercatat pada tahun 1965, anggota PKI sudah mencapai 3,5 juta. Hal ini
membuat PKI menjadi partai yang besar dan kuat.
PKI melakukan beberapa cara untuk mengembangkan diri, antara lain :
-        Melakukan gerakan gerilia dipedesaan dan melakuan prapaganda-prapaganda
menyesatkan.
-      Melakukan gerakan revosioner oleh kaum buruh di perkotaan.
-      Membentukan pekerja intensif dikalangan ABRI.
-      Menyusup ke berbagai organisasi lain untuk mentransparansikan organisasi PKI.
-      Mendekati Presiden Soekarno.
b. Politik luar negeri Indonesia yang lebih condong pada blok timur
Pada masa demokrasi terpimpin, indonesia menganut politik NEFO, sehingga PKI dapat
memperoleh dukungan dari Cina dan Unisoviet.
c. Konsep Naskom (Nasionalis, Agama, Komunis)
Dengan konsep ini, PKI dapat memperkuat kedudukannya di Indonesia, sehingga PKI
memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mengadakan aksi kudeta.

B. Proses Terjadinya Peristiwa G 30S/PKI
    Para pimpinan PKI telah mengalami pertemuan rahasia selama beberapa kali untuk
menyusun rencana kudeta pada tanggal 30 September 1965. Gerakan ini secara fisik
dilakukan oleh Kolonel Untung. Pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari, klonel untuk
memerintahkan anggotanya untuk menculik, menyiksan dan membunuh 7 perwira tinggi AD,
yaitu :
        1.    Letnan Jendral Ahmad Yani yang menjabat sebagai Mentri I Panglima
        Angkatan Darat.
      2.    Mayor Jendral R. Soeprapto yang menjabat sebagai Deputi II Panglima
      Angkatan Darat.
      3.     Mayor Jendral Haryono Mas Tirtodarmo yang menjabay sebagai Deputi III
      Panglima Angkatan Darat.
      4.    Mayor Jendral Suwondo Parman yang menjabat sebagai Asisten I Panglima
      Angkatan Darat.
       5.      Brigadir Jendral Donald Izaus Panjaitan (Asisten IV Panglima Angkatan
       Darat).
       6.      Brigadir Jendral Soetoyo Siswomihardjo (Inspektur Kehakiman Ioditur).
       7.     Letnan Satu Piere Andreas Tendean (Ajudan Jendral A.H. Nasution).
Jendral A.H. Nasution behasil menyelamatkan diri setelah kakinya tertembak, tetapi putrinya
Ade Irma Suryani ditembak kemudian gugur. Korban lainnya adalah Letanan Polisi Karel
Satsuit Tubun yang gugur pada saat melakukan perlawanan terhadap gerombolan yang
berusaha menculik jendral A.H. Nasution. PKI juga menyerbarkan pengruhnya di berbagai
daerah dan mengumumkan berdirinya Dewan Revolusi melalui siaran berita RRI di
Yogyakarta yang dilakukan oleh Letnan Kolonel Untung.
C. Persaingan PKI dengan Angkatan Darat
        Angkatan Darat sebagai kekuatan pertahanan negara memiliki kepentingan untuk
mempertahanakan ideologi Pancasila dari berbagai ancaman, baik dari dalam maupun dari
luar, sedangkan dari pihak PKI memiliki kepentingan untuk mendirikan negara komunis.
Persaingan yang menjadi di antara mereka dapat dilihat dalam hal-hal berikut ini,
        1.    Tindakan provokasi yang dilakukan PKI yaitu,
              1.     Menghasut kaum tani dan buruh untuk mengambil alih tanah luas milik
              perkebunan.
              2.     Menggalang demonstrasi menuntut kenaikan upah diperkebunan dan
              pabrik-pabrik.
              3.     Melakukan penyerangan baik secara politis maupun kekerasan
              terhadap berbagai kelompok yang di nilai antikomunis.
              4.     Pada Januari 1965, PKI mengajukan gagasan agar buruh dan petani
              dipersenjatai dan menjadi angkatan kelima. Tujuan PKI melakukan hal itu
              adalah untuk menggalang kekuatan menghadapi Nekolim Inggris dari dalam
              Dwikora.
              5.    Pada bulan Mei 1965, PKI mengeluarkan desas-desus munculnya
              Dewan Jendral dalam Angkatan Darat.
              6.     Tindakan Angkatan Darat dalam menghadapi PKI antaralain,
                     1.     Pada bulan September 1965, Panglima Ankatan Darat
                     memperingatkan Presiden untuk berhhati-hati terhadap tindakan yang
                     dilakukan PKI.
                     2.      Angkatan Darat secara tegas menentang pembantukan Kabinet
                     Gotong-Royong. Sebab melalui kabinet tersebut, PKI dapat bertindak
                     seluas-luasnya tanpa ada pembatasan.
                     3.      Angkatan Darat secara tegas menolak gagasan angkatan
                     kelima.
                    4.      Panglima Angkatan Darat berusaha meyakinkan Presiden akan
                    kesetiaan mereka terhadap masyarakat dalam menghadapi desas-desus
                    munculnya Dewan Jendral


D. Penumpasan G 30S/PKI
Pada tanggal 1 Oktober 1965, dilakukan operasi penumpasan G 30S/PKI yang dipimpin oleh
Mayjen Soeharto. Ada beberapa langkah penting yang dlakukan dalam penumpasan tersebut
yaitu,
       1.     Menetralisir pasukan yang bearada di Medan Merdeka yang dimanfaatkan
       PKI. Pasukan yang dimafaatkan oleh PKI berasal dari Batalyon 503/Brawijaya dan
       Batalyon 545/Diponegoro. Kedua pasukan tersebut akhirnya berhasil ditarik mundur
       dan berhasil disadarkan dari pengaruh PKI.
      2.     Pasukan RPKAD berhasil menduduki kembali gedung RRI pusat, gedung
      telekomunikasi, dan mengamankan seluruh wilayah Medan Merdeka tanpa terjadi
      bentrokan senjata atau pertumpahan darah.
      3.    Pasukan Batalyon 238 Kujang/Siliwangi berhasil menguasai Lapangan
      Banteng dan mengamankan Markas Kodam V/Jaya.
      4.     Batalyon I Kavaleri berhasil mengamankan BNI Unit I dan percetakan uang di
      daerah kebayoran.
      5.     Pada tanggal 2 Oktober 1965 pasukan RPKAD berhasil menduduki Pangkalan
      Udara Halim Perdana Kusuma dengan batuan Batalyon 238 Kujang/Siliwangi dan
      Batalyon I Kavaleri.
      6.     Pembersihaan kekampung-kampung disekitar Lubang Buaya dari pengaruh
      PKI.
      7.     Pada tanggal 3 Oktober 1965 berhasil ditemukan jenazah para Jendral yang
      menjadi korban G 30S/PKI yang kemudian dibersihkan dan disemayamkan di Markas
      Besar Angkatan Darat dan baru dimakamkan pada tanggal 5 Oktober 1965.
Untuk menentramkan segala ketakutan dan kegelisahan masyarakat, dilakukan siaran RRI
yang menghimbau agar rakyat tetap tenang dan waspada.
E. Pengaruh G 30S/PKI di Jawa Tengah dan Yogyakarta
a. Pengaruh G 30S/PKI di Jawa Tengah
       Kolonel Suhirman yang merupakan Asisten Kodam VII/Diponegoro berhasi
menguasai markas Kodam VII/Diponegoro di Jawa Tengah serta menunjuk beberapa orang
sebagai pimpinan di beberapa daerah seperti Mayor Supardi memimpin pasukan di Salatiga
dan Mayor Kadri memimpin pasukan di Solo. Mereka juga menempatkan pasukan di
beberapa tempat strategis seperti di Markas Kodam Diponegoro, RRI, dan telekomunikasi.
Letnan Kolonel Sastrobroto mengambil alih pimpinan Kodam VII/Diponegoro dan beberapa
tempat seperti,
1) Maraks Kodam Resort Militer 071/Purwokerto yang di pimpin oleh Kepala Staf Letnan
Kolonel Soemitro.
2) Makorem 072/Yogyakarta yang dipimpin oleh Kepala Seksi 5 Mayor Mulyono.
3) Markas Brigade Infantri 6 yang dipimpin oleh Komandan Kompi Markas Kapten
Mintraso.
b. Pengaruh G 30S/PKI di Yogyakarta
Pada tanggal 1 Oktober 1965 Mayor Mulyono mengumumkan dukunganya terhadap G
30S/PKI. Mereka berhasil menguasai Makorem 072 dan menculik Letnan Kolonel Sugiono.
Aksi yang mereka lakukan pertama-tama mengeluarkan perintah agar seluruh rakyat
Yogyakarta mendukung G 30S/PKI, membagi-bagikan senjata kepada anggota veteran
setempat, serta melakukan demonstrasi secara besar-besaran bersama dengan organisasi
massa di depan Makorem 072 untuk mengatakan dukungannya terhadap G 30S/PKI.
c.   Pengaruh G 30S/PKI di Solo
Pada tanggal 2 Oktober 1965 Walikota Solo Oetomo Ramelan melalui siaran di RRI
menyatakan dukungannya terhadap G30S/PKI. Mereka menduduki tempat-tempat strategis
seperti kantor RRI, telekomunikasi, dan bank-bank negara. Gerkan operasi penumpasan
dimulai pada tanggal 2 Oktober 1965 dan berhasil merebut RRI, markas Kodam Diponegoro,
dan kota-kota di Jawa Tegah yang telah dikuasai oleh PKI.
F. Faktor Penyebab Kegagalan Pemberontakan G 30S/PKI
        1.     Kesalahan perhitungan waktu oleh PKI.
      2.     Rasa percaya diri yang amat tinggi oleh PKI.
      3.    Kekacauan pada komando militer, sementara PKI berhadapan dengan ABRI,
      khususnya AD yang sangat mantap kemampuan tempurnya.
      4.     Adanya kebencian masyarakat terhadap tindakan PKI.
      5.     Tidak adanya reson dari para simpatisan PKI terhadap perubahan yang serba
      cepat dan kurang terkodinir.
G. Dampak Peristiwa G30S/PKI
   Peristiwa G30S/PKI 1965 yang terjadi di Indonesia telah memberi dampak negatif dalam
kehidupan sosial dan politik masyarakat Indonesia yaitu,
       1.     Dampak politik
      2.     Dampak Ekonomi
H. Proses Peralihan Kekuasaan Politik Setelah Peristiwa G30S/PKI
        Setelah super semar diumumkan, perjalanan politik di Indonesia mengalami masa
transisi. Kepemimpinan Soekarno kehhilangan supermasinya. MPRS kemudian meminta
Presiden Soekarno untuk mempertanggungjawabkan hasil pemerintahannya, terutama
berkaitan dengan G30S/PKI. Dalam Sidang Umum MPRS tahun 1966, Presiden Soekarno
memberikan pertanggung jawaban pemerintahannya, khususnya mengenai masalah yang
menyangkut peristiwa G30S/PKI.
                                        BAB III
                                       PENUTUP
3.1 Kesimpulan
        Peristiwa G 30S/PKI yang lebih dikenal dengan peristiwa pemberontakan yang
dilakukan PKI, bertujuan untuk menyebarkan paham komunis di Indonesia. Pemberontakan
ini menimbulkan banyak korban, dan banyak korban berasal dari para Jendral AD. Gerakan
PKI ini menjadi isu politik untuk menolak laporan pertanggungjawaban Presiden Soekarno
kepada MPRS. Dengan ditolaknya laporan Presiden Soekarno ini, maka Indonesia kembali ke
pemerintahan yang berazaskan kepada pancasila dan UUD 1945.
        Para pimpinan PKI telah mengalami pertemuan rahasia selama beberapa kali untuk
menyusun rencana kudeta pada tanggal 30 September 1965. Gerakan ini secara fisik
dilakukan oleh Kolonel Untung. Pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari, klonel untuk
memerintahkan anggotanya untuk menculik, menyiksan dan membunuh 7 perwira tinggi AD.
    Peristiwa G30S/PKI 1965 yang terjadi di Indonesia telah memberi dampak negatif dalam
kehidupan sosial dan politik masyarakat Indonesia yaitu Dampak politik dan Dampak
Ekonomi.
    Setelah super semar diumumkan, perjalanan politik di Indonesia mengalami masa transisi.
Kepemimpinan Soekarno kehhilangan supermasinya. MPRS kemudian meminta Presiden
Soekarno untuk mempertanggungjawabkan hasil pemerintahannya, terutama berkaitan
dengan G30S/PKI. Dalam Sidang Umum MPRS tahun 1966, Presiden Soekarno memberikan
pertanggung jawaban pemerintahannya, khususnya mengenai masalah yang menyangkut
peristiwa G30S/PKI.
Sejarah Terbentuknya Kristen Protestan
Posted by andrey Saroinsong 09:38, under | No comments

Reformasi Protestan


Reformasi Protestan adalah gerakan reformasi umat Kristiani Eropa yang menjadikan Protestantisme sebuah
cabang tersendiri dalam Agama Kristen di masa itu. Gerakan ini bermula pada 1517 tatkala Martin Luther
mempublikasikanSembilan Puluh Lima Tesis, dan berakhir pada 1648 dengan Perjanjian Westphalia yang
                                       [1]
meredakan Perang agama di Eropa.




Martin Luther


Martin Luther (lahir di Eisleben, Kekaisaran Romawi Suci, 10 November 1483 – meninggal di Eisleben,
Kekaisaran Romawi Suci, 18 Februari 1546 pada umur 62 tahun) adalah seorang pastur Jerman dan ahli teologi
Kristen dan pendiri Gereja Lutheran, gereja Protestan, pecahan dari Katolik Roma. Dia merupakan tokoh
terkemuka bagi Reformasi. Ajaran-ajarannya tidak hanya mengilhami gerakan Reformasi, namun juga
memengaruhi doktrin, dan budaya Lutheran serta tradisi Protestan. Seruan Luther kepada Gereja agar kembali
kepada ajaran-ajaran Alkitab telah melahirkan tradisi baru dalam agama Kristen. Gerakan pembaruannya
mengakibatkan perubahan radikal juga di lingkungan Gereja Katolik Roma dalam bentuk Reformasi Katolik.
Sumbangan-sumbangan Luther terhadap peradaban Barat jauh melampaui kehidupan Gereja Kristen.
Terjemahan Alkitabnya telah ikut mengembangkan versi standar bahasa Jerman dan menambahkan sejumlah
prinsip dalam seni penerjemahan. Nyanyian rohani yang diciptakannya mengilhami perkembangan nyanyian
jemaat dalam Gereja Kristen. Pernikahannya pada 13 Juni 1525 dengan Katharina von Bora menimbulkan
gerakan pernikahan pendeta di kalangan banyak tradisi Kristen.


SITUASI KEAGAMAAN DI EROPA



Reformasi Protestan lahir sebagai sebuah upaya untuk mereformasi Gereja Katolik, diprakarsai oleh umat Katolik
Eropa Barat yang menentang hal-hal yang menurut anggapan mereka adalah doktrin-doktrin palsu dan
malapraktek gerejawi — khususnya ajaran dan penjualan indulgensi, serta simoni, jual-beli jabatan rohaniwan —
yang menurut para reformator merupakan bukti kerusakan sistemik hirarki Gereja, termasuk Sri Paus.
Para pendahulu Martin Luther mencakup John Wycliffe dan Jan Hus, yang juga mencoba mereformasi Gereja
Katolik. Reformasi Protestan berawal pada 31 Oktober 1517, di Wittenberg, Saxonia, tatkala Martin Luther
memakukan Sembilan Puluh Lima Tesis mengenai Kuasa dan Efikasi Indulgensi pada daun pintu Gereja Semua
Orang Kudus (yang berfungsi sebagai papan-pengumuman universitas di masa itu), tesis-tesis tersebut
memperdebatkan dan mengkritisi Gereja dan Sri Paus, tetapi berkonsentrasi pada penjualan indulgensi-
indulgensi dan kebijakan-kebijakan doktrinal mengenai Purgatorium, Pengadilan Partikular, Mariologi (devosi
pada Maria, ibunda Yesus), perantaraan-doa dan devosi pada Orang-Orang Kudus, sebagian besar sakramen,
keharusan selibat bagi rohaniwan, termasuk monastisisme, dan otoritas Sri Paus. Reformator-reformator lain,
seperti Ulrich Zwingli, segera mengikuti teladan Martin Luther.
Akan tetapi selanjutnya para reformator berselisih faham dan memecah-belah pergerakan mereka menurut
perbedaan-perbedaan doktrinal — pertama-tama antara Luther dan Zwingli, kemudian antara Luther dan John
Calvin — akibatnya terbentuklah denominasi-denominasi Protestan yang berbeda-beda dan saling bersaing,
seperti Lutheran, Reformed, Puritan, dan Presbiterian. Sebab, proses, dan akibat reformasi agama berbeda-
beda di tempat-tempat lain; Anglikanisme muncul di Inggris dengan Reformasi Inggris, dan banyak denominasi
Protestan yang muncul dari denominasi-denominasi Jerman. Para reformator turut mempercepat laju Kontra
Reformasi dari Gereja Katolik. Reformasi Protestan disebut pula Reformasi Jerman atau Revolusi Protestan.




PERGUMULAN LUTHER UNTUK MENDAPATKAN KEDAMAIAN BERSAMA
ALLAH



Biarawan muda Martin Luther sepenuhnya mengabdikan dirinya pada kehidupan biara, berusaha melakukan
segala perbuatan baik untuk menyenangkan Allah dan melayani orang lain melalui doa-doa untuk jiwa-jiwa
mereka. Ia mengabdikan diri dengan puasa, menyiksa diri, berdoa selama berjam-jam, melakukan ziarah, dan
terus-menerus melakukan pengakuan dosa. Semakin ia berusaha untuk Allah tampaknya ia semakin sadar akan
keberadaannya yang penuh dengan dosa.
Johann von Staupitz, atasan Luther, menyimpulkan bahwa orang muda ini membutuhkan lebih banyak pekerjaan
untuk mengalihkannya dari rasa kuatirnya yang berlebihan. Ia memerintahkan biarawan itu untuk
mengembangkan kariernya sebagai akademisi. Pada 1507 Luther ditahbiskan menjadi imam. Pada 1508 ia mulai
mengajar teologi di Universitas Wittenberg. Luther mendapatkan gelar sarjananya dalam Studi Alkitab pada 9
Maret 1508, dan gelar sarjananya dalam Sentences karya Petrus Lombardus (buku ajar teologi yang terutama
pada Zaman Pertengahan), pada 1509. Pada 9 Oktober 1512, Martin Luther menerima gelar Doktor Teologinya
dan pada 21 Oktober 1521, ia "diterima menjadi anggota senat dosen teologi" dan diangkat menjadi Doktor
dalam Kitab Suci.


TEOLOGI LUTHER TENTANG ANUGERAH



Disiplin yang sangat ketat untuk mendapatkan gelar-gelar akademik dan mempersiapkan kuliah-kuliah,
mendorong Martin Luther untuk mempelajari Kitab Suci secara mendalam. Karena terpengaruh oleh seruan
Humanisme ad fontes("kembali ke sumbernya"), Luther menenggelamkan dirinya dalam mempelajari Alkitab dan
Gereja perdana. Dengan segera istilah-istilah seperti penyesalan dan pembenaran mendapatkan makna yang
baru bagi Luther. Ia menjadi yakin bahwa Gereja telah keliru dalam beberapa kebenaran sentral dari Kekristenan
yang diajarkan dalam Kitab Suci -- yang terpenting di antaranya adalah doktrin tentang pembenaran oleh iman
semata. Luther mulai mengajarkan bahwa keselamatan sepenuhnya adalah pemberian dari anugerah Allah
melalui Kristus yang diterima oleh iman.
Belakangan, Luther mendefinisikan dan memperkenalkan kembali prinsip tentang pembedaan yang semestinya
antara Hukum Taurat dan Injil yang mendasari teologinya tentang anugerah. Secara keseluruhan, Luther
percaya bahwa prinsip penafsiran ini merupakan titik awal yang penting dalam mempelajari Kitab Suci. Luther
melihat kegagalan untuk membedakan Hukum Taurat dan Injil yang semestinya sebagai sumber penghalam Injil
Yesus di Gereja pada masanya, yang pada gilirannya menyebabkan munculnya berbagai kesalahan teologis
yang dasariah.




SEJARAH DAN AWAL
Akar dan pendahulu abad ke-14 dan abad ke-15
        Gerakan Anti-hirarki: Katharisme, Waldensianisme, dan lainnya
        Kepausan Avignon ("Pembuangan Gereja di Babel"), Avignon, Skisma Besar
        Jan Hus, John Wycliffe, William Tyndale
        Renaisans Utara




Kemelut di Gereja Barat dan Kekaisaran Romawi Suci memuncak dengan Kepausan Avignon (1308 - 1378), dan
skisma kepausan (1378-1416), membangkitkan peperangan antara para pangeran, pemberontakan di antara
petani, dan keprihatinan yang meluas terhadap rusaknya sistem kebiaraan. Suatu nasionalisme baru juga
menantang dunia abad pertengahan yang relatif internasionalis.
Salah satu perspektif yang paling menghancurkan dan radikal pertama-tama muncul dari John Wyclif di
Universitas Oxford, kemudian dari Jan Hus di Universitas Praha. Gereja Katolik Roma secara resmi
menyimpulkan perdebatan ini di Konsili Konstanz (1414-1418). Konklaf mengutuk Jan Hus yang dihukum mati,
padahal ia datang dengan jaminan keamanan. Sementara Wyclif secara anumerta dihukum bakar sebagai
seorang penyesat.
Konstans mengukuhkan dan memperkuat konsepsi abad pertengahan yang tradisional tentang gereja dan
kekaisaran. Konsili ini tidak membahas ketegangan nasional, ataupun ketegangan teologis yang muncul pada
abad sebelumnya. Konsili tidak dapat mencegah skisma dan Perang Hus di Bohemia.
Gejolak historis biasanya melahirkan banyak pemikiran baru tentang bagaimana masyarakat seharusnya ditata.
Hal inilah yang mengakibatkan tercetusnyaReformasi Protestan.
Setelah runtuhnya lembaga-lembaga biara dan skolastisisme di Eropa pada akhir abad pertengahan, yang
diperparah oleh Pembuangan ke Babel dari Kepausan Avignon, Skisma Besar, dan kegagalan pembaruan oleh
Gerakan Konsiliar, pada abad ke-16 mulai matang perdebatan budaya yang besar mengenai pembaruan
keagamaan dan kemudian juga nilai-nilai keagamaan yang dasariah. Para ahli sejarah pada umumnya
mengasumsikan bahwa kegagalan untuk mereformasi (terlalu banyak kepentingan pribadi, kurangnya koordinasi
di kalangan koalisi pembarua), akhirnya menyebabkan gejolak yang lebih besar atau bahkan revolusi, karena
sistemnya akhirnya harus disesuaikan atau runtuh, dan kegagalan Gerakan Konsiliar melahirkan Reformasi
Protestan di Eropa bagian barat. Gerakan-gerakan reformis yang frustrasi ini merentang dari nominalisme,
ibadah modern, hingga humanisme yang terjadi berbarengan dengan kekuatan-kekuatan ekonomi, politik dan
demografi yang ikut menyebabkan ketidakpuasan yang kian meningkat terhadap kekayaan dan kekuasaan kaum
agamawan elit, membuat masyarakat semakin peka terhadap kehancuran finansial dan moral dari gereja
Renaisans yang sekular.
Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh wabah pes mendorong penataan ulang secara radikal ekonomi dan akhirnya
juga masyarakat Eropa. Namun demikian, di kalangan pusat-pusat kota yang bermunculan, bencana yang terjadi
pada abad ke-14 dan awal abad ke-15, dan kekurangan tenaga kerja yang ditimbulkannya, merupakan dorongan
kuat bagi diversifikasi ekonomi dan inovasi teknologi.
SEJARAH GEREJA MULA-
MULA


A. LATAR BELAKANG


Sebelum Yesus naik ke surga, Ia memberikan
perintah kepada para murid-Nya untuk pergi ke
Yerusalem dan menunggu di sana sampai Roh
Kudus dicurahkan ke atas mereka. Dengan kuasa
yang diberikan Roh Kudus itu Yesus berjanji
akan memperlengkapi murid-murid-Nya untuk
menjadi saksi-saksi, bukan hanya di Yerusalem
tapi juga di ke ujung-ujung bumi (Kis. 1:1-11).
Janji itu digenapi oleh Kristus dan perintah itu
ditaati oleh murid-murid-Nya.



B. PERMULAAN GEREJA


Kata "gereja" atau "jemaat" dalam bahasa
Yunani adalah ekklesia; dari kata kaleo, artinya
"aku memanggil/memerintahkan". Secara umum
ekklesia diartikan sebagai perkumpulan orang-
orang. Tetapi dalam konteks Perjanjian Baru kata
ini mengandung arti khusus, yaitu pertemuan
orang-orang Kristen sebagai jemaat untuk
menyembah kepada Kristus.

Amanat Agung yang diberikan Kristus sebelum
kenaikan ke surga (Mat. 28:19-20) betul-betul
dengan setia dijalankan oleh murid-murid-Nya.
Sebagai hasilnya lahirlah gereja/jemaat baru baik
di Yerusalem, Yudea, Samaria dan juga di
perbagai tempat di dunia (ujung-ujung dunia).


1. Gereja Di Palestina

a. Gereja pertama lahir di Yerusalem (Kis. 1:8)
b. Petrus dan beberapa murid-murid Tuhan
Yesus yang lain membawa Injil ke Yudea (Kis.
ps. 1-7).
c. Filipus dan murid-murid yang lain pergi ke
Samaria dan sekitarnya (ps. 8).


2. Gereja di luar Palestina

a. Petrus membawa Injil ke Roma.
b. Paulus ke Asia Kecil dan Eropa (Kis. ps. 10-
28).
c. Apolos ke Mesir (Kis. ps. 18).
d. Filipus ke Etiopia (Kis. ps. 8).
e. Sebelum tahun 100 M, Injil sudah tersebar ke
Siria, Persia, Afrika (Kis. 9).
f. Lalu ke ujung-ujung bumi (Siria, Persia, Gaul,
Afrika Utara, Asia & Eropa).



C. PERTUMBUHAN DAN TANTANGAN


Gereja/jemaat yang baru berdiri mengalami
pertumbuhan yang luar biasa. Kuasa Roh Kudus
sangat nyata hadir di tengah jemaat. Namun
demikian tantangan dan kesulitan juga mewarnai
pertumbuhan jemaat mula-mula itu. Tapi luar
biasa, justru karena keadaan yang sulit itu gereja
semakin berkembang.


1. Agama Negara

Kaisar Agustus mempunyai kekuasaan yang
sangat besar. Salah satu peraturan yang muncul
pada masa pemerintahannya adalah menyembah
kepada Kaisar sebagai dewa mereka, walaupun
mereka masih diijinkan melakukan penyembahan
kepada dewa-dewa/kepercayaan asal mereka
sendiri.

Namun demikian ada kekecualian untuk orang-
orang Yahudi yang mempunyai agama Yudaisme
yang menjunjung tinggi monotheisme, mereka
tidak diharuskan untuk menyembah kepada
Kaisar. Hal ini terjadi karena mereka takut kalau
orang Yahudi memberontak.

Kehadiran agama Kristen saat itu, pada mulanya
dianggap sebagai salah satu sekte agama
Yudaisme, itu sebabnya orang-orang Kristen
pertama tidak diharuskan untuk menyembah
kepada Kaisar. Tetapi setelah orang- orang
Yahudi secara terbuka memusuhi orang Kristen
(puncak peristiwa penyalipan Kristus) barulah
pemerintah Romawi melihat kekristenan tidak
lagi sebagai sekte Yudaisme tetapi agama baru.
Sejak saat itu keharusan menyembah kepada
Kaisar pun akhirnya diberlakukan untuk orang-
orang Kristen. Kepada mereka yang tidak patuh
pada peraturan ini mendapat hukuman dan
penganiayaan yang sangat berat.


2. Penganiayaan terhadap orang Kristen.
Salah satu bukti kesetiaan orang Kristen kepada
Kristus ditunjukkan dengan secara setia
menjalankan pengajaran Alkitab dan menolak
melakukan hal-hal yang bertentangan dengan
ajaran Alkitab. Karena sebab itulah orang-orang
Kristen sering harus membayar harga yang
mahal demi kepercayaan mereka kepada Kristus,
antara lain adalah dengan penganiayaan.

Beberapa penyebab penganiayaan:
a. Karena orang Kristen menolak untuk
menyembah Kaisar.
b. Karena orang Kristen dituduh melakukan hal-
hal yang menentang kemanusiaan, mis. menolak
menjadi tentara, mengajarkan tentang
kehancuran dunia, membiarkan perpecahan
keluarga, dll.
c. Karena orang Kristen dituduh mempraktekkan
immoralitas dan kanibalisme, misalnya
melakukan cium kudus, bermabuk-mabukan,
dosa inses, makan darah dan daging manusia.


3. Hasil dari penganiayaan.

Memang ada banyak orang Kristen yang mati
dalam penganiayaan dan pembunuhan, namun
demikian jumlah orang Kristen tidak semakin
berkurang malah semakin bertambah banyak.
a. Orang Kristen semakin berani. Sekalipun
dianiaya mereka tetap mempertahankan iman
mereka (mis. Surat Petrus).
b. Kekristenan semakin menyebar keluar dari
Yerusalem, yaitu ke daerah-daerah sekitarnya,
dan ke seluruh dunia.
c. Orang-orang Kristen semakin memberi
pengaruh dalam kehidupan masyarakat, sehingga
mereka betu-betul menjadi saksi yang hidup.


Disalin dari :
http://www.pesta.org/tbiblika


Top


                      Post subject:
         BP
                       Posted: Mon Nov 12, 2007 10:17 am


Merdeka dlm Kristus
                      LAHIRNYA JEMAAT
                      KRISTEN


                      Sewaktu mereka berkumpul di balik pintu
Joined: Fri Jun 09,   terkunci di Yerusalem pada hari-hari
2006 5:20 pm          pertama setelah kebangkitan Yesus, para
Posts: 8128
                      murid mengetahui bahwa lebih mudah
                      berbicara tentang mengubah dunia
                      daripada pergi keluar dan melakukannya.
                      Tetapi tidak lama kemudian, sesuatu
                      terjadi yang bukan hanya mengubah jalan
                      pikiran mereka, tetapi yang juga
                      memberanikan mereka untuk
                      menyampaikan iman mereka dengan cara
                      yang menggoncangkan seluruh dunia
                      Romawi.

                      Hanya lima puluh hari setelah kematian
                      Yesus, Petrus berdiri di depan suatu
                      kerumunan orang banyak di Yerusalem,
                      dan dengan berani menyatakan kerajaan
Allah telah datang, dan Yesuslah Raja
dan Mesiasnya. Pada waktu itu
Yerusalem penuh dengan peziarah-
peziarah yang datang dari seluruh penjuru
kekaisaran Roma untuk merayakan Pesta
Pentakosta - dan ketika Petrus berbicara,
mereka tidak hanya mengerti
pemberitaannya tetapi juga, dalam jumlah
yang luar biasa besarnya, memberikan
respons terhadapnya. Ketika Petrus
menyatakan mereka harus menjadi murid-
murid Yesus dengan bertobat dari dosa
dan menerima hidup baru yang diberikan
Allah, tiga ribu orang menerima
seruannya dan menyerahkan diri mereka
kepada Yesus (Kis. 2:14-42).

Apa yang sesungguhnya telah terjadi
sehingga murid-murid Yesus mengalami
transformasi dalam hidup mereka?
Jawabannya terdapat dalam pembukaan
pidato Petrus. Sebab ketika ia berdiri dan
berbicara kepada orang banyak itu, Petrus
mengingatkan mereka tentang suatu nats
Perjanjian Lama yang menggambarkan
bahwa datangnya abad baru adalah masa
di mana Roh Allah akan bekerja dengan
cara baru dalam hidup orang-orang.
Sewaktu nabi-nabi Perjanjian Lama
memandang ke masa depan, beberapa
dari mereka menyadari bahwa masalah
manusia tidak pernah akan selesai hingga
suatu hubungan baru dijalin antara
manusia dan Allah. Dosa dan
ketidaktaatan manusia telah
mengakibatkan kekacauan, tetapi dalam
abad baru Allah tidak hanya menuntut
ketaatan - Ia akan memberi mereka
kekuatan moral yang baru dan
kemampuan untuk menjadi manusia
seperti yang dimaksudkan Allah (Yer.
31:31-34). Dalam nubuat Yoel (2:28-32),
kekuatan baru untuk hidup ini
dihubungkan dengan pemberian Roh
Allah - dan Petrus mengambil perikop
tersebut sebagai natsnya, serta
menyatakan nats tersebut sedang dipenuhi
dalam pengalaman murid-murid Yesus.
Melalui kematian dan kebangkitan Yesus,
orang-orang sekarang dapat mempunyai
hubungan baru dengan Allah sendiri. Dari
pengalamannya sendiri, Petrus tahu
bahwa hal itu benar.

Bagi Petrus dan murid-murid lainnya,
hari itu sama seperti hari-hari
sebelumnya. Tetapi ketika mereka
menghadapi tugas yang begitu besar dan
yang tidak mungkin dilaksanakan - yang
dipercayakan Yesus kepada mereka,
tanpa disangka-sangka suatu kuasa yang
memberi hidup masuk ke dalam
kehidupan mereka. Kuasa itu merupakan
suatu dinamika moral dan spiritual yang
memperlengkapi para murid supaya
memberi kesaksian tentang iman yang
baru. Kuasa itu adalah kuasa Roh Kudus
dan akan menjadikan mereka seperti
Yesus. Tidaklah mudah menggambarkan
dalam kata-kata apa yang mereka alami.
Tetapi sebagai akibatnya, kepercayaan
mereka yang ragu-ragu dan tidak pasti
kepada Yesus dan janji-janji-Nya secara
luar biasa diteguhkan. Sejak saat itu dan
seterusnya, mereka yakin janji-janji Allah
dalam Perjanjian Lama dipenuhi dalam
hidup mereka sendiri - dan mereka sangat
yakin bahwa Yesus yang hidup ada dan
hadir bersama mereka secara unik. Jemaat
telah lahir.

Seluruh kehidupan para murid mengalami
perombakan sedemikian rupa, sehingga
tidak diperlukan argumen lain untuk
meyakinkan mereka bahwa pengalaman
mereka sehari-hari merupakan akibat
langsung dari kuasa dan kehadiran Yesus
di dalam hidup mereka. Petrus, Yohanes
dan yang lain- lainnya memiliki kuasa
guna melakukan tindakan-tindakap hebat
dalam nama Yesus (Kis. 2:43; 3:1-10) -
dan tentunya Petrus diberikan
kemampuan secara tak disangka-sangka
untuk berbicara dengan kuasa kepada
orang banyak yang berkumpul di
Yerusalem.

Sebagai akibat semuanya ini, para rasul
dan orang-orang Kristen baru begitu
dikuasai oleh cinta-kasih kepada Yesus
yang hidup dan kerinduan untuk
melayani-Nya, sehingga kebutuhan-
kebutuhan kehidupan sehari-hari
terlupakan. Orang-orang Kristen selalu
"bertekun dalam pengajaran rasul-rasul
dan dalam persekutuan. Dan mereka
selalu berkumpul untuk memecahkan roti
dan berdoa" (Kis. 2:42). Mereka malahan
menjual harta mereka dan mengumpulkan
hasil penjualan sehingga mereka dapat
hidup sebagai suatu persekutuan sejati
dari pengikut-pengikut Yesus. Mencari
uang bukan lagi merupakan haI yang
terpenting dalam hidup. Satu-satunya hal
yang penting adalah memuji Allah, dan
membawa berita yang-mengubah hidup
kepada orang-orang lain (Kis. 2:44,47;
4:32,35).



Jemaat bertumbuh.
Pada hari-hari pertama kehidupan jemaat
di Yerusalem, persahabatan terbuka dan
gaya hidup sederhana dalam jemaat purba
pasti terlihat sebagai menyingsingnya
suatu zaman yang baru. Tetapi tidak perlu
waktu lama sebelum persoalan-persoalan
lain yang lebih rumit muncul, untuk
memperingatkan Petrus dan lain-lainnya
bahwa kerajaan Allah belum tiba dalam
segala kepenuhannya. Persekutuan yang
baru tergalang merupakan bukti bahwa
umat baru sudah ada. Tetapi seturut
berlalunya waktu, ketegangan antara
masa sekarang dan masa depan yang
begitu fundamental dalam pengajaran
Yesus mempunyai dampak yang
mengganggu kelanjutan hidup
persekutuan kristen yang sedang
berkembang. Selama masa hidup Yesus,
gerakan mesianik baru yang dibangun-
Nya itu pada umumnya hanyalah
merupakan bidat setempat dalam agama
Yahudi Palestina. Semua murid
merupakan orang Yahudi. Walaupun
logika pemberitaan dan teladan perilaku
Yesus sendiri menunjukkan bahwa orang-
orang bukan-Yahudi tidak dikecualikan
dari keanggotaan persekutuan, hubungan
orang-orang Yahudi dan bukan-Yahudi
tidaklah merupakan persoalan besar pada
waktu itu. Orang-orang bukan-Yahudi
yang bertemu dengan Yesus adalah
pribadi-pribadi tersendiri (Mrk. 7:24-30;
Luk. 7:1-10). Jumlah mereka tidak besar,
dan bagaimanapun juga banyak dari
mereka mungkin sekali menghadiri
upacara-upacara agama di sinagoge,
meskipun mereka belum memeluk agama
Yahudi.

Tetapi tidak lama kemudian, para
pengikut Yesus dipaksa untuk
mencurahkan perhatian besar terhadap
seluruh persoalan hubungan antara orang-
orang percaya Yahudi dan bukan-Yahudi.
Walaupun mereka tidak menyadarinya,
peristiwa-peristiwa pada hari Pentakosta
yang direkam pada bagian Kisah Para
Rasul merupakan suatu peristiwa yang
menentukan dalam kehidupan jemaat
muda usia itu (Kis. 2). Sebab ketika
banyak di Petrus berdiri dan menerangkan
ajaran Kristen kepada orang kosmolitan,
Yerusalem, ia berhadapan dengan sidang
pendengar yang terdiri dari "orang-orang
Yahudi yang saleh dari segala bangsa di
bawah kolong langit" (Kis. 2:5). Tentu
saja mereka semua menaruh perhatian
terhadap agama Yahudi, kalau tidak
mereka tidak akan mengadakan
perjalanan ke Yerusalem guna
menghadiri perayaan keagamaan. Tetapi
tidak semua orang bukan-Yahudi di
antara mereka sudah menjadi penganut
penuh agama Yahudi yang menerima
seluruh hukum Yahudi - sedangkan
mereka yang berasal dari keluarga Yahudi
pun diberbagai tempat dari kekaisaran
Roma, mempunyai latar belakang dan
pandangan yang agak berlainan dengan
orang Yahudi yang dilahirkan dan
dibesarkan di Palestina sendiri. Mayoritas
dari orang banyak yang mendengar
khotbah Petrus pada hari Pentakosta
mungkin sekali merupakan orang-orang
Yahudi yang berbahasa Yunani, yang
telah berziarah ke Yerusalem dalam
rangka pesta agama Yahudi yang besar
itu. Banyak dari mereka yang baru untuk
pertama kalinya mengunjungi Yerusalem.
Walaupun tempat tinggal mereka sangat
jauh, mereka selalu menggandrungi
Yerusalem serta Bait Allah. Yang
merupakan tempat suci pusat agama
mereka, sama halnya bagi orang Yahudi
yang tinggal di Palestina. Petrus dan
murid-murid lainnya tidak ragu-ragu
bahwa kabar baik tentang Yesus harus
disampaikan juga kepada orang-orang
tersebut. Memang, banyak persamaan di
antara mereka. Para murid sendiri
merupakan pendukung setia dari upacara-
upacara ibadah di sinagoge. Mereka juga
      memelihara pesta-pesta agama Yahudi
      Yang besar, dan kadang-kadang mereka
      malahan berkhotbah di pelataran Bait
      Allah (Kis. 3:1-16). Hal ini merupakan
      sesuatu yang Yesus sendiri tidak dapat
      lakukan tanpa kekhawatiran akan akibat-
      akibatnya, dan walaupun Petrus dan
      Yohanes kemudian ditangkap dan dituduh
      di hadapan mahkamah agama Yahudi,
      mereka segera dibebaskan, dan satu-
      satunya pembatasan yang dikenakan ke
      atas mereka adalah supaya "sama sekali
      jangan berbicara atau mengajar lagi
      dalam nama Yesus" (Kis. 4:18). Terlepas
      dari iman mereka kepada Yesus yang
      terasa aneh, tindak-tanduk mereka pada
      umumnya dapat diterima oleh para
      penguasa Yahudi.



      Sumber :
      John Drane, Memahami Perjanjian Baru,
      BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996,
      Halaman : 256 – 259

Top
EMAAT - GEREJA (εκκλησια -
ekklêsia)
* Matius 16:18
LAI TB, Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau
adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan
mendirikanjemaat-Ku dan alam maut tidak akan
menguasainya.
KJV, And I say also unto thee, That thou art Peter,
and upon this rock I will build my church; and the
gates of hell shall not prevail against it.
TR, καγω δε σοι λεγω οτι συ ει πετρος και επι
ταυτη τη πετρα οικοδομησω μου την εκκλησιαν
και πυλαι αδου ου κατισχυσουσιν αυτης
Interlinear, kagô {dari pihakKu} de {dan} soi
{kepadamu} legô {Aku berkata} hoti su {engkau}
ei {adalah} petros {Petrus} kai {dan} epi {diatas}
tautê {ini} tê petra {batu (besar)} oikodomêsô
{Aku akan mendirikan} mou {Ku}
tên ekklêsian {jemaat} kai {dan} pulai {pintu-
pintu gerbang} hadou {dunia orang mati} ou
{tidak} katiskhusousin {akan sanggup menguasai}
autês {nya}


Kata "Jemaat" adalah kata serapan dari bahasa
Arab, menurut kamus besar bahasa Indonesia
adalah 'himpunan umat''. Kata yang sinonim
dengannya adalah 'Gereja' yang berasal dari
bahasa Portugis 'igreja', yaitu kata yang diserap
dari
para misionaris Portugis.


Kata 'jemaat/ gereja' dalam Alkitab PB bahasa asli
Yunani ditulis dengan kata 'εκκλησια - ekklêsia',
harfiah, ('εκ - ek'= keluar; dan kata 'καλεω -
kaleô' = memanggil ). Arti kontekstualnya dalam
kehidupan Kekristenan adalah'dipanggil keluar
untuk menjadi murid Kristus'.

Kata Yunani 'εκκλησια - ekklêsia' umumnya
dipakai bagi sidang umum dari penduduk kota
yang dikumpulkan secara resmi, sehingga
kata 'ekklêsia' bermakna 'pertemuan/ sidang'.
Sidang seperti ini menjadi ciri dari kota-kota
diluar Yudea, dimana Injil dimasyurkan :


* Kisah 19:39
LAI TB, Dan jika ada sesuatu yang lain yang
kamu kehendaki, baiklah kehendakmu itu
diselesaikan dalam sidangrakyat yang sah.
KJV, But if ye enquire any thing concerning other
matters, it shall be determined in a
lawful assembly.
TR, ει δε τι περι ετερων επιζητειτε εν τη εννομω
εκκλησια επιλυθησεται
Interlinear, ei {jika} de {tetapi} ti {sesuatu} peri
{yang berkenaan} eterôn {dengan hal itu}
epizêteite {kamu ingin mengetahui} en {dalam} tê
ennomô {yang sesuai dengan
hukum} ekklêsia {dewan} epiluthêsetai {itu akan
diselesaikan}


Kata 'ekklêsia' juga dipakai oleh kalangan Yahudi.
Kata Ibrani ‫ - קהל‬QAHAL, harfiah 'berkumpul
bersama'diterjemahkan 'εκκλησια -
ekklêsia' dalam Septuaginta (LXX) juga
digunakan untuk menterjemahkan kata "jemaat
Israel" yang dibentuk di Sinai dan dikumpulkan
didepan hadirat Allah pada hari-hari raya tahunan:


* Ulangan 23:3
LAI TB, Seorang Amon atau seorang Moab
janganlah masuk jemaah TUHAN, bahkan
keturunannya yang kesepuluh pun tidak boleh
masuk jemaah TUHAN sampai selama-lamanya,
KJV, An Ammonite or Moabite shall not enter
into the congregation of the LORD; even to their
tenth generation shall they not enter into the
congregation of the LORD for ever:
Biblia Hebraic Stuttgartensia (BHS), Hebrew with
vowels,
                     ‫קהל ה ה‬
  ‫ל‬       ‫לה קהל ה ה‬
Translit, LO'-YAVO' AMONI
'UMO'AVI BIQEHAL YEHOVAH (baca
ADONAY) GAM DOR ASIRI LO'-YAVO'
LAHEM BIQEHAL YEHOVAH (baca
ADONAY) AD-'OLAM
LXX, (4) ουκ εισελευσεται αμμανιτης και
μωαβιτης εις εκκλησιαν κυριου και εως δεκατης
γενεας ουκ εισελευσεται εις εκκλησιαν
κυριου και εως εις τον αιωνα
Translit, ouk eiseleusetai ammanitês kai môabitês
eis ekklêssian kuriou kai heôs dekatês lebeas ouk
eiseleusetai eis ekklêssian kuriou kai heôs eis ton
aiôna
Jewish Publication Society Tanakh (JPST), An
Ammonite or a Moabite shall not enter into the
assembly of the LORD; even to the tenth
generation shall none of them enter into the
assembly of the LORD for ever;


* Kisah 7:38
LAI TB, Musa inilah yang menjadi pengantara
dalam sidang jemaah di padang gurun di antara
malaikat yang berfirman kepadanya di gunung
Sinai dan nenek moyang kita; dan dialah yang
menerima firman-firman yang hidup untuk
menyampaikannya kepada kamu.
KJV, This is he, that was in the church in the
wilderness with the angel which spake to him in
the mount Sina, and with our fathers: who
received the lively oracles to give unto us:
TR, ουτος εστιν ο γενομενος εν τη εκκλησια εν τη
ερημω μετα του αγγελου του λαλουντος αυτω εν
τω ορει σινα και των πατερων ημων ος εδεξατο
λογια ζωντα δουναι ημιν
Interlinear, houtos {inilah} estin ho {orang yang}
genomenos {telah berada} en {dalam}
tê ekklêsia {jemaah (orang Israel)} en {di} tê
erêmô {padang gurun} meta {diantara} tou
aggelou {malaikat} tou {yang} lalountos
{berbicara} autô {kepadanya} en {di} tô orei
{gunung} sina {sinai} kai {dan} tôn paterôn
{nenek-moyang} hêmôn {kita} hos {yang}
edexato {menerima} logia {firman/nubuat} zônta
{yang hidup} dounai {untuk memberikan} hêmin
{kepada kita}

bandingkan dengan Ulangan 5:22.



Kata "GEREJA" dalam berbagai bahasa, sbb
:


1.Dutch/Belanda : Kerk
2. English/ Inggris : Church
3. French/Perancis : Eglise
4.German/Jerman : Kirche
5.Portuguese/Portugis : Igreja
6.Spanish/Spanyol : Iglesia
7.Italian/Itali : Chiesa


Kata "Church" dalam bahasa Inggris, atau kata
"Kerk" dalam bahasa Belanda, menurut beberapa
literature adalah kata serapan yang berasal dari
kata Yunani "κυριακος - kuriakos" (milik
TUHAN), dari kata "κυριος – kurios, TUHAN..


* Wahyu 1:10
LAI TB, Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh
dan aku mendengar dari belakangku suatu suara
yang nyaring seperti bunyi sangkakala.
KJV, I was in the Spirit on the Lord's day, and
heard behind me a great voice, as of a trumpet,
TR, εγενομην εν πνευματι εν τη κυριακη
ημερα και ηκουσα οπισω μου φωνην μεγαλην ως
σαλπιγγος
Translit Interlinear, egenomên {aku berada} en {di
dalam} pneumati {roh} en
{pada} tê kuriakê {(milik) TUHAN} hêmera
{hari} kai {dan} êkousa {aku mendengar} opisô
{di belakang} mou {-ku} phônên {suara} megalên
{nyaring} hôs {seperti} salpiggos
{nafiri/terompet}

"κυριακη ημερα - kuriakê hêmera", hari (milik)
TUHAN.


Kata "κυριακος - kuriakos" dalam Wahyu 1:10
ditulis dalam bentuk "feminine" (karena
merupakan nama hari) sehingga penulisannya
berubah menjadi κυριακη – kuriakê.

Hari Minggu (Lord's day) berasal dari bahasa
Latin dies dominica (bahasaPortugis
= dominggo = Lord) dan kemudian menjadi kosa
kata bahasa Indonesia yaitu Minggu : "hari
TUHAN" dalam bahasa Yunani "κυριακη ημερα -
kuriakê hêmera" (Wahyu 1:10). Jadi, tiap kali kita
menyebut "hari minggu", makna harfiahnya
sebenarnya adalah "HARI (milik) TUHAN".
Istilah Hari Minggu - Hari Tuhan – "kuriakê
hêmera" ini berkembang sejak abad 2 Masehi,
selaku peringatan akan kebangkitan Tuhan Yesus
Kristus dan keberdaulatan-Nya.
"Hari Tuhan", dengan demikian adalah gelar
yang secara khusus, cocok sekali untuk menunjuk
kepada kemenangan Tuhan Kita Yesus Kristus
dari kematian di kayu salib.

Maka kita umat milik TUHAN ( "κυριακος -
kuriakos" ) beribadah pada hari TUHAN
("κυριακη ημερα - kuriakê hêmera").



Artikel terkait :
- HÊMERA, HARI, Study kata Yunani,
di http://www.sarapanpagi.org/hari-study-k ...
8.html#p386

- HARI TUHAN – HARI MINGGU -
KURIAKE HEMERA,
di http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=1
116#1116

- Kritik lagu "HARINYA TUHAN",
di http://www.sarapanpagi.org/kritik-lagu- ...
.html#p6265
------


Jemaat (εκκλησια - ekklêsia) setempat
dikumpulkan bersama dalam nama Yesus
Kristus dan akan memiliki Kristus ditengah-
tengahnya :


* Matius 18:20
LAI TB, Sebab di mana dua atau tiga orang
berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di
tengah-tengah mereka."
KJV, For where two or three are gathered together
in my name, there am I in the midst of them.
TR, ου γαρ εισιν δυο η τρεις συνηγμενοι εις το
εμον ονομα εκει ειμι εν μεσω αυτων
Interlinear, ou {dimana} gar {sebab} eisin {ada}
duo {dua} ê {atau} treis {tiga (orang)}
sunêgmenoi {berkumpul} eis {dalam} to hemon
{Ku} onoma {nama} ekei {disitu} eimi {Aku
ada} en {di} mesô {antara} autôn {mereka}



Didalam Perjanjian Baru, ada tiga 'istilah' yang
dipakai untuk menjelaskan tentang jemaat,
yaitu 'Umat Allah','Tubuh Kristus' dan 'Bait
Roh Kudus', ketiganya saling berkaitan :
* 1 Petrus 2:9-10
2:9 LAI TB, Tetapi kamulah bangsa yang terpilih,
imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat
kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu
memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar
dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari
kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:
KJV, But ye are a chosen generation, a royal
priesthood, an holy nation, a peculiar people; that
ye should shew forth the praises of him who hath
called you out of darkness into his marvellous
light;
TR, υμεις δε γενος εκλεκτον βασιλειον ιερατευμα
εθνος αγιον λαος εις περιποιησιν οπως τας αρετας
εξαγγειλητε του εκ σκοτους υμας καλεσαντος εις
το θαυμαστον αυτου φως
Interlinear, umeis {kamu} de {tetapi} genos
{bangsa} eklekton {yang terpilih} basileion {yang
berstatus raja} hierateuma {kelompok imam}
ethnos {bangsa} hagion {yang kudus} laos
{umat} eis {yang menjadi} peripoiêsin
{kepunyaan (Allah)} hopôs {supaya} tas aretas
{pujian/ keajaiban/ kuasa (Allah)} exaggeilête
{kamu memberitakan} tou {(bagi Dia yang)} ek
{keluar dari} skotous {kegelapan} umas {kamu}
kalesantos {telah memanggil} eis {kedalam} to
thaumaston {yang ajaib} autou {Nya} phôs
{terang}

2:10 LATB, kamu, yang dahulu bukan umat
Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-
Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang
sekarang telah beroleh belas kasihan.
KJV, Which in time past were not a people, but
are now the people of God: which had not
obtained mercy, but now have obtained mercy.
TR, οι ποτε ου λαος νυν δε λαος θεου οι ουκ
ηλεημενοι νυν δε ελεηθεντες
Interlinear, oi {yang} pote {dahulu} ou {bukan}
laos {umat} nun {sekarang} de
{tetapi} laos {umat} theou {Allah} hoi {orang-
orang yang} ouk {tidak} êleêmenoi {dahulu
dikasihani} nun {sekarang} de {tetapi}
eleêthentes {dikasihani}


* 1 Korintus 12:27
LAI TB, Kamu semua adalah tubuh Kristus dan
kamu masing-masing adalah anggotanya.
KJV, Now ye are the body of Christ, and
members in particular.
TR, υμεις δε εστε σωμα χριστου και μελη εκ
μερους
Interlinear, humeis {kamu} de {adapun} este
{adalah} sôma {tubuh} khristou {Kristus} kai
{dan} melê {anggota-anggota} ek merous
{masing-masing adalah}


* 1 Korintus 6:19
LAI TB, Atau tidak tahukah kamu,
bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang
diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu
peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu bukan
milik kamu sendiri?
KJV, What? know ye not that your body is the
temple of the Holy Ghost which is in you, which
ye have of God, and ye are not your own?
TR, η ουκ οιδατε οτι το σωμα υμων ναος του εν
υμιν αγιου πνευματος εστιν ου εχετε απο θεου και
ουκ εστε εαυτων
Interlinear, ê {atau} ouk {tidakkah} oidate {kamu
tahu} hoti {bahwa} to sôma {tubuh} humôn {mu}
naos {adalah Bait} tou {didalam} en humin
{kamu} agiou {Kudus} pneumatos {Roh} estin
{tinggal} ou {yang} ekhete {kamu beroleh} apo
{dari} theou {Allah} kai {dan} ouk {tidak} este
{kamu adalah} heautôn {milik kamu sendiri?}


Kita adalah orang-orang percaya yang telah dibeli
dengan darah-Nya sendiri :Jemaat Kristus
mewujudkan realitas surgawi, yang memuliakan
karya Kristus dalam penyelamatan manusia :


* 1 Petrus 1:18-20
1:18 Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus
dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi
dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang
yang fana, bukan pula dengan perak atau emas,
1:19 melainkan dengan darah yang mahal, yaitu
darah Kristus yang sama seperti darah anak domba
yang tak bernoda dan tak bercacat.
1:20 Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan,
tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya
pada zaman akhir.


* Efesus 1:20-23
1:19 dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang
percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, 1:20
yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan
membangkitkan Dia dari antara orang mati dan
mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga,
1:21 jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan
penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-
tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di
dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan
datang.
1:22 Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di
bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya
kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang
ada.
1:23 Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu
kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan
segala sesuatu.


Amin.



Blessings in Christ,
 Bagus Pramono
 August 24, 2006.




 Artikel terkait :
 Kristologi : BATU DASAR JEMAAT,
 di http://www.sarapanpagi.org/batu-dasar-jemaat-
 vt381.html


 Top




                       Post subject:
          BP
                        Posted: Fri Aug 25, 2006 7:05 am


Merdeka dlm Kristus
                       1. Jemaat di Yerusalem


                       Jemaat dalam arti Kristiani, pertama kali
                       muncul di Yerusalem, setelah kenaikan
 Joined: Fri Jun 09,
                       Yesus ke Surga. Bagian terbesar dari jemaat
 2006 5:20 pm
 Posts: 8128
                       itu adalah kelompok murid-murid Yesus
                       yang berasal dari Galilea, bersama-sama
                       dengan mereka yang menyambut
                       pemberitaan para rasul di Yerusalem.

                       Dengan menyimak laporan dalam Kitab
                       Kisah Para Rasul, persekutuan yang baru ini
tidak serta-merta menampakkan dirinya
sebagai 'ekklêsia', tetapi melihat dirinya
sebagai sisa Israel :

a. yang terpilih dan yang ditentukan untuk
mendapat keselamatan di Sion :


* Yoel 2:32
Dan barangsiapa yang berseru kepada nama
TUHAN akan diselamatkan, sebab di
gunung Sion dan di Yerusalem akan ada
keselamatan, seperti yang telah difirmankan
TUHAN; dan setiap orang yang dipanggil
TUHAN akan termasuk orang-orang yang
terlepas."

* Kisah 2:17
Akan terjadi pada hari-hari terakhir --
demikianlah firman Allah -- bahwa Aku
akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua
manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan
perempuan akan bernubuat, dan teruna-
terunamu akan mendapat penglihatan-
penglihatan, dan orang-orangmu yang tua
akan mendapat mimpi.
dan ayat berikutnya…


b. sebagai Kemah Daud yang telah dipugar,
yang telah dijanjikan oleh Yesus sendiri
untuk dibangun :


* Kisah 15:16
Kemudian Aku akan kembali dan
membangunkan kembali pondok Daud yang
telah roboh, dan reruntuhannya akan
Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan,


* Matius 16:18
Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau
adalah Petrus dan di atas batu karang ini
Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam
maut tidak akan menguasainya.


Demikianlah Yerusalem (Sion) menjadi
tempat yang ditetapkan Allah bagi mereka
yang menantikan 'waktu pemuliaan segala
sesuatu' :


* Kisah 3:21
Kristus itu harus tinggal di sorga sampai
waktu pemulihan segala sesuatu, seperti
yang difirmankan Allah dengan perantaraan
nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu.


Secara lahirian, kelompok orang percaya
yang telah dibabtis itu dianggap sebagai
suatu "mazhab" (sekte, Yunanihaeresis)
oleh agama Yahudi. Kadang mereka
mempersamakannya dengan
kelompok "sekte orang Nasrani"


* Kisah 24:5
Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini
adalah penyakit sampar, seorang yang
menimbulkan kekacauan di antara semua
orang Yahudi di seluruh dunia yang
beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh
dari sekte orang Nasrani.

Bandingkan dengan :

* Kisah 28:22
Tetapi kami ingin mendengar dari engkau,
bagaimana pikiranmu, sebab tentang
mazhab ini kami tahu, bahwa di mana-mana
pun ia mendapat perlawanan."


Sekte Nasrani jelas berbeda dengan "jemaat
Kristus di Yerusalem", karena jelas bisa kita
lihat bahwa "sekte Nasrani"ini "berbeda
jalan". Kelompok Nasrani ini kurang atau
agak ditolelir oleh agama Yahudi kira-kira
30 tahun sejak keberadaannya di Yudea,
kecuali ketika para penguasa Yahudi
menjadi bingung oleh pergaulan bersahamat
kelompok itu dengan jemaat-jemaat non
Yahudi diluar palestina.

Tapi sifat khas Yahudi dari jemaat
Yerusalem itu harus diperhatikan, karena
para anggotanya masih mengindahkan
kewajiban-kewajiban Taurat dan kebaktian
di Bait Suci, namun kepercayaannya tetap
khas, yaitu mereka mengimani bahwa Yesus
adalah Sang Mesias 'Israel', dan bahwa
Allah sendiri telah mengukuhkan hal ini
dengan membangkitkan Yesus Kristus dari
maut setelah ia menderita demi
penyelamatan 'Israel', dan bahwa pada 'hari
TUHAN yang akbar' Ia akan dating lagi
dalam pernyataan tuntas Mesias dalam
penghakiman dank kemuliaan.

Praktek-praktek mereka yang khas termasuk
babtisan debagai tanda pertobatan yang
dilakukan didalam nama Bapa dan Anak dan
Roh Kudus. Juga persekutuan mereka yang
khas atas dasar kekeluargaan, yang oleh
Lukas dilaporkan sebagai 'memecahkan roti
dan berdoa' :


* Kisah 2:41-46
2:41 Orang-orang yang menerima
perkataannya itu memberi diri dibaptis dan
pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-
kira tiga ribu jiwa.
2:42 Mereka bertekun dalam pengajaran
rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan
mereka selalu berkumpul untuk
memecahkan roti dan berdoa.
2:43 Maka ketakutanlah mereka semua,
sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak
mujizat dan tanda.
2:44 Dan semua orang yang telah menjadi
percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan
mereka adalah kepunyaan bersama,
2:45 dan selalu ada dari mereka yang
menjual harta miliknya, lalu membagi-
bagikannya kepada semua orang sesuai
dengan keperluan masing-masing.
2:46 Dengan bertekun dan dengan sehati
mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait
Allah. Mereka memecahkan roti di rumah
masing-masing secara bergilir dan makan
bersama-sama dengan gembira dan dengan
tulus hati,


Pimpinan pertama dari jemaat di Yerusalem
diemban oleh ke-12 rasul (dari Galilea),
terleih-lebih Petrus dan Yohanes, tapi
dengan segera membukan jalan bagi
pemimpin lain yaitu Yakobus, saudara
Yesus, sebagai ketuanya :
* Galatia 2:9
Dan setelah melihat kasih karunia yang
dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus,
Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai
sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan
aku dan dengan Barnabas sebagai tanda
persekutuan, supaya kami pergi kepada
orang-orang yang tidak bersunat dan mereka
kepada orang-orang yang bersunat;
Bandingkan dengan


* Kisah 12:17
Tetapi Petrus memberi isyarat dengan
tangannya, supaya mereka diam, lalu ia
menceriterakan bagaimana Tuhan
menuntunnya ke luar dari penjara. Katanya:
"Beritahukanlah hal ini kepada Yakobus dan
saudara-saudara kita." Lalu ia keluar dan
pergi ke tempat lain.


Yakobus menjadi pemimpin jemaat
di Yerusalem hingga kematiaannya sebagai
martir + 62 Masehi, Mungkin pula
kepempimpinan Yakobus di jemaat
di Yerusalem ini, dihubungkan dengan
pengertian mesianis jemaat "takhta Daud'
(Kejadian 49:10; Yesaya 9:7; 11:1) diantara
orang orang Yahudi yang percaya, lebih
mempunyai arti harapan secara harfiah
daripada biasanya kita sadari, dan Yakobus
juga 'darikeluarga keturunan Daud' (Suku
Yehuda). Apakah ia dipandang sebagai
Pelindung atau Wali Raja yang sah, seraya
menantikan kedatangan kembali Sang
Mesias sendiri?
Sejarahwan Eusebius melaporkan, bahwa
saudara sepupu Yesus, yang
bernama Simeon bin Klopas, mengganti
Yakobus sebagai ketua, dan bahwa
Kaisar Vespasianus dari Romawi
(reff.http://id.wikipedia.org/wiki/Kekaisaran
_Romawi ) setelah menaklukkan Yerusalem
pada tahun 70Masehi telah memerintahkan
untuk mencari supaya diantara orang
Yahudi tidak seorangpun dari keluarga Daud
yang tinggal (Reff. Eusebius, Ecclesiastical
History 3.11,12).

Gereja menjadi besar (Kisah 21:20) bahkan
menyambut imam-iman dari Farisi menjadi
anggotanya :


* Kisah 21:20
Mendengar itu mereka memuliakan Allah.
Lalu mereka berkata kepada Paulus:
"Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi
telah menjadi percaya dan mereka semua
rajin memelihara hukum Taurat.
* Kisah 6:7
Firman Allah makin tersebar, dan jumlah
murid di Yerusalem makin bertambah
banyak; juga sejumlah besar imam
menyerahkan diri dan percaya.


* Kisah 15:5
Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi,
yang telah menjadi percaya, datang dan
berkata: "Orang-orang bukan Yahudi harus
disunat dan diwajibkan untuk menuruti
hukum Musa."


Pada mulanya, jemaat di Yerusalem juga
terdapat orang-orang bekas penganut
Helenis, dan Yahudi perantauan yang
berbahasa Yunani, yang biasanya datang
ke Yerusalem untuk mengikuti ibadah
di Bait Allah untuk mengikuti hari raya, atau
orang Yahudi perantauan yang berbahasa
Yunani yang telah menjadi penduduk
di Yerusalem.

Orang Yahudi perantauan ini biasanya lebih
kaya dibandingkan dengan orang Yahudi
yang ada di Yerusalem, dan menunjukkan
kesalehan dengan membawa ‘pemberian
bagi bangsa mereka' :


* Kisah 24:17
Dan setelah beberapa tahun lamanya aku
datang kembali ke Yerusalem untuk
membawa pemberian bagi bangsaku dan
untuk mempersembahkan persembahan-
persembahan.


Ketika jemaat di Yerusalem menerapkan
praktek saling-bantu, ada dermawan
seperti Barnabas, yang datang dari Siprus:


* Kisah 4:34-37
4:34 Sebab tidak ada seorang pun yang
berkekurangan di antara mereka; karena
semua orang yang mempunyai tanah atau
rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil
penjualan itu mereka bawa
4:35 dan mereka letakkan di depan kaki
rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada
setiap orang sesuai dengan keperluannya.
4:36 Demikian pula dengan Yusuf, yang
oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya
anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.
4:37 Ia menjual ladang, miliknya, lalu
membawa uangnya itu dan meletakkannya
di depan kaki rasul-rasul.
Dan sewaktudibutuhkan tenaga untuk
mengurus dana bantuan, ditunjuklah 7 orang
penatua. Dari nama ke-7 orang itu diketahui
bahwa ada diantara mereka bekas dari
kelompok Helenis :


* Kisah 6:5
Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat,
lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang
penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus,
Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan
Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi
dari Antiokhia.


Nampaknya melalui adanya unsure orang-
orang bekas dari kepercayaan Helenis inilah
Injil mengalir melintasi batas-batas yang
sempit dari Kekristenan Yahudi, dengan
adanya mereka, terjadi suatu kesempatan
besar dan penciptaan saranan bagi
pemberitaan Injil di daerah-daerah asing.



Stefanus:
Stefanus, salah satu dari 7 penatua itu,
terlibat dalam perdebatan di sebuah
sinagoge Helenis
di Yerusalem (agaknyaSaulus dari Tarsus,
adalah salah satu anggotanya). Karena
perdebatan itu, Stefanus diperhadapkan
kepada Mahkamah Agama (Sanhedrin),
dengan tuduhan menhujat Bait
Suci dan Taurat Musa. Pembelaannya
memang menunjukkan sikap liberal
terhadap sifat Bait Allah yang tak dapat
digugat. Dakwaan bagi Stefanus itu
kemudian juga merenggut nyawanya.
Hukuman ini mungkin lebih ditunjukkan
terhadap kasus demikian pada kelompok
Kristen ex-helenis, ketimbang kepada
Kekristenan yang tetap mentaati Taurat
dalam kelompok para-rasul, yang tetap
tinggal diYerusalem sewaktu 'orang-orang
Kristen lainnya' berserak diluar Palestina.


* Kisah 6:7-15
6:7 Firman Allah makin tersebar, dan
jumlah murid di Yerusalem makin
bertambah banyak; juga sejumlah besar
imam menyerahkan diri dan percaya.
6:8 Dan Stefanus, yang penuh dengan
karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-
mujizat dan tanda-tanda di antara orang
banyak.
6:9 Tetapi tampillah beberapa orang dari
jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang
Libertini -- anggota-anggota jemaat itu
adalah orang-orang dari Kirene dan dari
Aleksandria -- bersama dengan beberapa
orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia.
Orang-orang itu bersoal jawab dengan
Stefanus,
6:10 tetapi mereka tidak sanggup melawan
hikmatnya dan Roh yang mendorong dia
berbicara.
6:11 Lalu mereka menghasut beberapa
orang untuk mengatakan: "Kami telah
mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat
terhadap Musa dan Allah."
6:12 Dengan jalan demikian mereka
mengadakan suatu gerakan di antara orang
banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat;
mereka menyergap Stefanus, menyeretnya
dan membawanya ke hadapan Mahkamah
Agama.
6:13 Lalu mereka memajukan saksi-saksi
palsu yang berkata: "Orang ini terus-
menerus mengucapkan perkataan yang
menghina tempat kudus ini dan hukum
Taurat,
6:14 sebab kami telah mendengar dia
mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret
itu, akan merubuhkan tempat ini dan
mengubah adat istiadat yang diwariskan
oleh Musa kepada kita."
6:15 Semua orang yang duduk dalam sidang
Mahkamah Agama itu menatap Stefanus,
lalu mereka melihat muka Stefanus sama
seperti muka seorang malaikat.
Baca kisah selanjutnya di Kitab Kisah Para
Rasul pasal 7 yaitu sampai kepada kematuan
Stefanus.



Filipus:


Filipus, adalah juga anggota dari 7 penatua
itu, juga terlibat dalam pemberitaan Injil
di Samaria. Setelah ia membabtis seorang
sida-sida asing (dari Etiopia) di dekat kota
Filistin kuno, Gaza, (Kisah 8:26-39) ia pergi
memasyurkan Injil di daerah pantai hingga
ia sampai ke Kaisarea, kota yang sebagian
besar dihuni orang orang-orang non
Yahudi (Kisah 8:40). Tidak lama kemudian
di daerah itu pula, Petrus membabtis
seorang non Yahudi yang tidak bersunat
(Kisah 10).

Penting dicatat, bahwa orang Kristen ex-
helenislah yang pergi dari Yerusalem ke
Antiokia untuk mengabarkan Injil
kepada orang-orang non Yahudi, tanpa
penekanan apapun mengenai Taurat Musa.
Unsur Yudaisme dalam jemaat mula-
mula Yerusalem :


Setelah Stefanus, penekanan sifat Yudaisme
pada jemaat di Yerusalem berangsur-angsur
surut. Namun beberapa anggota jemaat
Yerusalem kurang menyetujui kalau Injil
diberitakan kepada orang-orang non
Yahudi tanpa kewajiban mentaati Taurat
Musa. Mereka mengunjungi jemaat-jemaat
(gereja) baru itu dan memaksakan keyakinan
dan kebiasaan agamawi mereka disana :


* Kisah 15:1
Beberapa orang datang dari Yudea ke
Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-
saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat
menurut adat istiadat yang diwariskan oleh
Musa, kamu tidak dapat diselamatkan."


* Galatia 2:12
Karena sebelum beberapa orang dari
kalangan Yakobus datang, ia makan
sehidangan dengan saudara-saudara yang
tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang,
ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka
karena takut akan saudara-saudara yang
bersunat.


* Galatia 6:12-13
6:12 Mereka yang secara lahiriah suka
menonjolkan diri, merekalah yang berusaha
memaksa kamu untuk bersunat, hanya
dengan maksud, supaya mereka tidak
dianiaya karena salib Kristus.
6:13 Sebab mereka yang menyunatkan
dirinya pun, tidak memelihara hukum
Taurat. Tetapi mereka menghendaki, supaya
kamu menyunatkan diri, agar mereka dapat
bermegah atas keadaanmu yang lahiriah.
dan ayat-ayat berikutnya.


Tapi secara resmi jemaat
di Yerusalem menyatakan persetujuan
bukan hanya atas pemberitaan Injil seperti
yang telah dilakukan Filipus di Samaria dan
pembabtisan Kornelius di kaisarea,
melainkan juga upaya gereja baru di
Antiokhia dan para utusannya.

Pada kira-kira tahun 49M, kepada jemaat
di Yerusalem dengan resmi dipertanyakan
apa yang harus dituntut dari 'orang Kristen
non-Yahudi'. Maka, ditentukanlah bahwa
orang percaya dari golongan Yahudi, yang
tentu wajibmenyunatkan anak-anak mereka
dan mentaati seluruh Taurat, tuntutan-
tuntutan ini tidak akan diterapkan kepada
orang percaya dari bangsa non Yahudi.
Namun, Kristen kelompok non Yahudi itu
diminta supaya mengadakan kelonggaran-
kelonggaran tertentu terhadap keberatan-
keberatan Yahudi, guna memungkinkan
mulusnya 'persekutuan meja' antara kedua
golongan itu, dan juga supaya
mengindahkan hukum peri hidup seksual
yang murni :


* Kisah 15:20, 29
15:20 tetapi kita harus menulis surat kepada
mereka, supaya mereka menjauhkan diri
dari makanan yang telah dicemarkan
berhala-berhala, dari percabulan, dari daging
binatang yang mati dicekik dan dari darah.
15:29 kamu harus menjauhkan diri dari
makanan yang dipersembahkan kepada
berhala, dari darah, dari daging binatang
yang mati dicekik dan dari percabulan.
Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal
ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat."


* Kisah 21:21-25
21:21 Tetapi mereka mendengar tentang
engkau, bahwa engkau mengajar semua
orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-
bangsa lain untuk melepaskan hukum Musa,
sebab engkau mengatakan, supaya mereka
jangan menyunatkan anak-anaknya dan
jangan hidup menurut adat istiadat kita.
21:22 Jadi bagaimana sekarang? Tentu
mereka akan mendengar, bahwa engkau
telah datang ke mari.
21:23 Sebab itu, lakukanlah apa yang kami
katakan ini: Di antara kami ada empat orang
yang bernazar.
21:24 Bawalah mereka bersama-sama
dengan engkau, lakukanlah pentahiran
dirimu bersama-sama dengan mereka dan
tanggunglah biaya mereka, sehingga mereka
dapat mencukurkan rambutnya; maka semua
orang akan tahu, bahwa segala kabar yang
mereka dengar tentang engkau sama sekali
tidak benar, melainkan bahwa engkau tetap
memelihara hukum Taurat.
21:25 Tetapi mengenai bangsa-bangsa lain,
yang telah menjadi percaya, sudah kami
tuliskan keputusan-keputusan kami, yaitu
mereka harus menjauhkan diri dari makanan
yang dipersembahkan kepada berhala, dari
darah, dari daging binatang yang mati
dicekik dan dari percabulan."


Peristiwa ini mencuatkan keunggulan
Yerusalem dalam ihwal kepercayaan dan
moral. Memang sepanjang angkatan
pertama, jemaat di Yerusalem menjadi
'jemaat' nomor satu, silahkan kaji ayat
dibawah ini, dimana 'jemaat' di Yerusalem
disebut :


* Kisah 18:22
Ia sampai di Kaisarea dan setelah naik ke
darat dan memberi salam kepada jemaat, ia
berangkat ke Antiokhia.


Hal itu juga bisa dilihat dari sikap Rasul
Paulus :


* Kisah 1:13
Sebab kamu telah mendengar tentang
hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa
batas aku menganiaya jemaat Allah dan
berusaha membinasakannya.


* Filipi 3:6
tentang kegiatan aku penganiaya jemaat,
tentang kebenaran dalam mentaati hukum
Taurat aku tidak bercacat.
Rasul Paulus juga menekankan hal itu
kepada jemaat-jemaat/ gereja-gereja yang ia
pelopori :


* Roma 15:27
Keputusan itu memang telah mereka ambil,
tetapi itu adalah kewajiban mereka. Sebab,
jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian
dalam harta rohani orang Yahudi, maka
wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu
melayani orang Yahudi dengan harta
duniawi mereka.


Kunjungan Rasul Paulus yang terakhir
ke Yerusalem (Kisah Kisah Para Rasul
21:18 ), kira-kira 57 Km, dilakukannya
sebagai pengakuannya atas
keunggulan Yerusalem dalam hal rohani. Ia
disambut oleh 'Yakobus dan semua tua-tua'
dan diingatkan bahwa semua anggota jemaat
‘mentaati hukum Taurat'. Tetapi kecermatan
jemaat di Yerusalem tidaklah membebaskan
jemaat itu dari kecurigaan tidak taat kepada
harapan nasional bangsa Yahudi. Yakobus
'yang Benar' itu dibunuh 'menurut hukum'
karena hasutan imam besar pada kira-kira
tahun 62M.

Ketika pecah perang dengan Roma pada
                      tahun 66M, jemaat di Yerusalem berakhir.
                      Menurut sejarahwan Eusebius, para
                      anggotanya pergi ke Pella, di Transyordan
                      (Reff. Eusebius, Ecclesiastical History 3.5).
                      Kemudian mereka pecah menjadi 2
                      golongan : Para 'Nasrani', yang setia
                      memelihara Taurat bagi diri mereka sendiri,
                      mengambil sikap toleran terhadap orang
                      percaya non Yahudi; dan para Ebionit, yang
                      mewarisi pandangan Yudaisme tentang
                      kewajiban terhadap Taurat. Generasi Kristen
                      yang kemudian menggolongkan
                      kaum Ebionit sebagai bidat.


Top


                           Post subject:
           BP
                            Posted: Fri Aug 25, 2006 10:07 am


Merdeka dlm Kristus
                           2. Jemaat di Antiokhia


                           Bisa dimengerti bila jemaat
                           di Yerusalem menganggap dirinya
Joined: Fri Jun 09, 2006
                           sebagai 'ekklêsia', yang menjadi
5:20 pm
Posts: 8128
                           sisa Israel yang telah dipugar, yaitu
                           "jemaat Allah" yang sejati. Apa yang
                           dicatat dalam Kitab Kisah Para Rasul,
                           ialah peristiwa terjadinya di
                           luar Israel suatu kelompok
campuran Yahudi dan non Yahudi, yang
disebut 'ekklêsia' di Antiokhia :


* Kisah 13:1
Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia
ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu:
Barnabas dan Simeon yang disebut Niger,
dan Lukius orang Kirene, dan Menahem
yang diasuh bersama dengan raja wilayah
Herodes, dan Saulus.


Demikianlah keadaannya,
bukan Yerusalem melainkan Antiokhia-
lah yang menjadi model dari "gereja-
baru" yang muncul di seluruh dunia.
Jemaat di Antiokhia didirikan oleh
kelompok Yahudi Helenis (Yahudi
berbahasa Yunani). Disinilah untuk
pertama-kalinya orang-orang percaya
disebut 'chistianoi', 'orang-orang Kristen',
oleh orang-orang non-Kristen tetangga
mereka :


* Kisah Para Rasul 11:26,
"Mereka tinggal bersama-sama dengan
jemaat itu satu tahun lamanya, sambil
mengajar banyak orang. Di Antiokhialah
murid-murid itu untuk pertama kalinya
disebut Kristen."
KJV : And when he had found him, he
brought him unto Antioch. And it came to
pass, that a whole year they assembled
themselves with the church, and taught
much people. And the disciples were
called Christians first in Antioch.
TR : 11:26 και ευρων αυτον ηγαγεν
αυτον εις αντιοχειαν εγενετο δε αυτους
ενιαυτον ολον συναχθηναι εν τη
εκκλησια και διδαξαι οχλον ικανον
χρηματισαι τε πρωτον εν αντιοχεια τους
μαθητας χριστιανους
Interlinear : kai {dan} eurôn {setelah
menemui} auton {dia} êgagen
{membawa} auton {dia} eis {ke}
antiocheian {Antiokhia} egeneto {(itu)
terjadi} de {lalu} autous {pada mereka}
eniauton {satu tahun} olon {genap}
sunachthênai {mereka berkumpul} en
{dengan} ekklêsia {jemaat} kai {dan}
didaxai {mengajar} ochlon {massa}
ikanon {banyak} chrêmatisai {memakai
nama/ dipanggil} te {dan} prôton {untuk
pertama kali} en {di} antiocheia
{Antipkhia} tous {itu} mathêtas {murid-
murid} christianous {orang-orang
Kristen}


Antiokhia menjadi batu loncatan bagi
pengabaran Injil di seluruh daerah sekitar
Laut Tengah. Tokoh utama
ialahBarnabas, seorang Yahudi Helenis,
tapi yang mendapat kepercayaan penuh
dari para pemimpin di Yerusalem, yang
mengutusnya mengadakan
penelitian. Barnabas-lah yang pertama
disebut 'nabi-nabi dan pengajar-pengajar'
dan salah-satunya pejabat yang kita kenal
dalam jemaat
ini. Barnabas membawa Saulus,
orang Farisi dari Tarsus, yang kemudian
bertobat menjadi rasul yang
akbar. Barnabas juga memimpin dua
perjalanan pengabaran Injil ke negerinya
sendiri di Siprus, dan
bersama Paulus mengadakan dadakan
pertama di Asia Kecil.

Ada hubungan penting antara Antiokhia
dan Yerusalem. Nabi-nabi
dari Yerusalem datang kesana dan
melayaninya. Jemaat di Antiokhia
mengungkapkan persekutuannya dengan
jemaat di Yerusalem sewaktu terjadi bala
kelaparan :


* Kisah 11:25-30
11:25 Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus
untuk mencari Saulus; dan setelah
bertemu dengan dia, ia membawanya ke
Antiokhia.
11:26 Mereka tinggal bersama-sama
dengan jemaat itu satu tahun lamanya,
sambil mengajar banyak orang. Di
Antiokhialah murid-murid itu untuk
pertama kalinya disebut Kristen.
11:27 Pada waktu itu datanglah beberapa
nabi dari Yerusalem ke Antiokhia.
11:28 Seorang dari mereka yang bernama
Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia
mengatakan, bahwa seluruh dunia akan
ditimpa bahaya kelaparan yang besar. Hal
itu terjadi juga pada zaman Klaudius.
11:29 Lalu murid-murid memutuskan
untuk mengumpulkan suatu sumbangan,
sesuai dengan kemampuan mereka
masing-masing dan mengirimkannya
kepada saudara-saudara yang diam di
Yudea.
11:30 Hal itu mereka lakukan juga dan
mereka mengirimkannya kepada penatua-
penatua dengan perantaraan Barnabas dan
Saulus.


Katika terjadi permasalahan tentang
'kalangan Yahudi yang masih teguh
berpegang pada Taurat' dan 'kalangan
yang bukan Yahudi', keputusan dari
jemaat di Yerusalem diandalkan. Anggota
                      pimpinan kenabian itu termasuk seorang
                      Afrika yang disebut Simeon, Lukius
                      orang Kirene dan seorang 'teman-asuh'
                      raja wilayah Herodes. Penulis Kitab
                      Kisah Para Rasul (Lukas) diduga berasal
                      dari Antiokhia (Prakata Anti-Marsion).
                      Namun penghormatan paling berdasar
                      bagi jemaat di Antiokhia ialah, bahwa
                      jemaat disini menyerahkan
                      'Barnabas dan Paulus' kepada kasih
                      karunia Allah untuk memulai pekerjaan
                      yang telah mereka selesaikan :


                      * Kisah 14:26
                      Dari situ berlayarlah mereka ke
                      Antiokhia; di tempat itulah mereka
                      dahulu diserahkan kepada kasih karunia
                      Allah untuk memulai pekerjaan, yang
                      telah mereka selesaikan.


Top


                      Post subject:
        BP
                       Posted: Fri Aug 25, 2006 5:55 pm


Merdeka dlm Kristus
                      3. Jemaat-jemaat hasil
                      pemberitaan Rasul Paulus
                           Adalah jelas bukan
                           hanya Paulus dan Barnabas pemberita
                           Injil dari angkatan pertama. Namun
Joined: Fri Jun 09, 2006
5:20 pm                    tidaklah jelas dilaporkan peri kegiatan
Posts: 8128
                           para pemberita lainnya, termasuk kedua-
                           belas rasul sendiri.
                           Tapi Paulus menegaskan, bahwa ia telah
                           memberitakan Injil 'dari Yeusalem
                           sampai ke Ilirikum' :


                           * Roma 15:19
                           oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-
                           mujizat dan oleh kuasa Roh. Demikianlah
                           dalam perjalanan keliling dari Yerusalem
                           sampai ke Ilirikum aku telah
                           memberitakan sepenuhnya Injil Kristus.


                           Dan Perjanjian Baru (PB) melaporkan
                           bahwa ia mendirikan beberapa gereja
                           (jemaat) atas dasar pola Antiokhia di
                           propinsi-propinsi bagian selatan Asia
                           Kecil, di Makedonia dan Yunani, di Asia
                           bagian barat, dan untuk kegiatan itu, ia
                           menjadikan Efesus sebagai basisnya. Jika
                           kita menyimak pada suratnya kepada
                           Titus, maka ia juga mendirikan jemaat di
                           Kreta.
Apakah Paulus mendirikan jemaan
(gereja) di Spanyol? (Roma 15:24)
tidaklah diketahui :


* Roma 15:24
aku harap dalam perjalananku ke Spanyol
aku dapat singgah di tempatmu dan
bertemu dengan kamu, sehingga kamu
dapat mengantarkan aku ke sana, setelah
aku seketika menikmati pertemuan
dengan kamu.


Di kota manapun Paulus mengadakan
upaya pengabaran Injil, ia (demikian juga
teman-temannya) menjadikan kota itu
sebagai batu loncatan mencapai kota-kota
lain di propinsi sekitarnya :


* Kisah 19:10
Hal ini dilakukannya dua tahun lamanya,
sehingga semua penduduk Asia
mendengar firman Tuhan, baik orang
Yahudi maupun orang Yunani.


* Kolose 1:7
Semuanya itu telah kamu ketahui dari
Epafras, kawan pelayan yang kami kasihi,
yang bagi kamu adalah pelayan Kristus
yang setia.


Dan apabila ia mendapat kesempatan
untuk berkhotbah di sinagoge Yahudi,
maka ia akan berkhotbah disitu sebagai
rabi, dan juga memanfaatkan kesempatan
itu mencapai sinagoge berikutnya asal ia
diperkenankan untuk itu.

Ada kalanya muncul suatu 'ekklêsia' yang
terpisah – kata ini kadang-kadang berbau
sinagoge (ref Yakobus 3:2) – yang terdiri
dari orang Yahudi dan orang non-
Yahudi yang bertobat, masing-masing
dengan penatua-penatua mereka sendiri
yang ditetapkan oleh rasul atau oleh
utusan rasul dari anggota yang tua yang
bertanggung jawab. Rumah-tangga
memegang peranan penting dalam
perkembangan gereja-gereja ini. Kitab
Perjanjian Lama bahasa Yunani menjadi
kitab suci dari semua jemaat/gereja ini,
dan kunci bagi penafsirannya ditujukan
kepada bagian-bagian tertentu yang
dipilih bersama-sama dengan suatu
rangkuman yang jelas dirumuskan dari
Injil (kabar baik tentang Yesus Kristus)
sendiri :
* 1 Korintus 15:1-4
15:1 Dan sekarang, saudara-saudara, aku
mau mengingatkan kamu kepada Injil
yang aku beritakan kepadamu dan yang
kamu terima, dan yang di dalamnya kamu
teguh berdiri.
15:2 Oleh Injil itu kamu diselamatkan,
asal kamu teguh berpegang padanya,
seperti yang telah kuberitakan kepadamu
-- kecuali kalau kamu telah sia-sia saja
menjadi percaya.
15:3 Sebab yang sangat penting telah
kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang
telah kuterima sendiri, ialah bahwa
Kristus telah mati karena dosa-dosa kita,
sesuai dengan Kitab Suci,
15:4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan
bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari
yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;


Tradisi-tradisi lain mengenai pelayanan
dan pengajaran Yesus diberikan kepada
setiap jemaat :


* 1 Korintus 11:2, 23-25
11:2 Aku harus memuji kamu, sebab
dalam segala sesuatu kamu tetap
mengingat akan aku dan teguh berpegang
pada ajaran yang kuteruskan kepadamu.
11:23 Sebab apa yang telah kuteruskan
kepadamu, telah aku terima dari Tuhan,
yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam
waktu Ia diserahkan, mengambil roti
11:24 dan sesudah itu Ia mengucap
syukur atasnya; Ia memecah-
mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-
Ku, yang diserahkan bagi kamu;
perbuatlah ini menjadi peringatan akan
Aku!"
11:25 Demikian juga Ia mengambil
cawan, sesudah makan, lalu berkata:
"Cawan ini adalah perjanjian baru yang
dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah
ini, setiap kali kamu meminumnya,
menjadi peringatan akan Aku!"


* 1 Korintus 7:17
Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang
tetap hidup seperti yang telah ditentukan
Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti
waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan
yang kuberikan kepada semua jemaat.


* 2 Tesalonika 2:15
Sebab itu, berdirilah teguh dan
berpeganglah pada ajaran-ajaran yang
kamu terima dari kami, baik secara lisan,
maupun secara tertulis.


Pengajaran Paulus kepada jemaat-jemaat
yang dirintisnya juga dengan pola-pola
instruksi etis yang tetap mengenai
kewajiban social dan politik, misalnya :


* Roma 13:1-4
13:1 Tiap-tiap orang harus takluk kepada
pemerintah yang di atasnya, sebab tidak
ada pemerintah, yang tidak berasal dari
Allah; dan pemerintah-pemerintah yang
ada, ditetapkan oleh Allah.
13:2 Sebab itu barangsiapa melawan
pemerintah, ia melawan ketetapan Allah
dan siapa yang melakukannya, akan
mendatangkan hukuman atas dirinya.
13:3 Sebab jika seorang berbuat baik, ia
tidak usah takut kepada pemerintah,
hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu
hidup tanpa takut terhadap pemerintah?
Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan
beroleh pujian dari padanya.
13:4 Karena pemerintah adalah hamba
Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika
engkau berbuat jahat, takutlah akan dia,
karena tidak percuma pemerintah
menyandang pedang. Pemerintah adalah
hamba Allah untuk membalaskan murka
Allah atas mereka yang berbuat jahat.


Tidak dikatakan siapa biasanya yang
membabtiskan atau yang
memimpin Perjamuan Kudus, sekalipun
kedua peraturan itu disebut dalam PB.
Berapa kali, atau pada hari apa jemaat
berkumpul, juga tidak dilaporkan,
sekalipun suatu perkumpulan untuk
'memecah-mecahkan roti' pada malam
hari pertama dari setiap pekan diadakan
di Troas :


* Kisah 20:7
Pada hari pertama dalam minggu itu,
ketika kami berkumpul untuk memecah-
mecahkan roti, Paulus berbicara dengan
saudara-saudara di situ, karena ia
bermaksud untuk berangkat pada
keesokan harinya. Pembicaraan itu
berlangsung sampai tengah malam.


Tapi hari pertama ini, tak mungkin hari
sabtu yang merupakan 'sabat',
dan Paulus tidak mau memberikan aturan-
aturan yang mengikat mengenai hal
memegang hari-hari bagi Tuhan :
* Roma 14:5
Yang seorang menganggap hari yang satu
lebih penting dari pada hari yang lain,
tetapi yang lain menganggap semua hari
sama saja. Hendaklah setiap orang benar-
benar yakin dalam hatinya sendiri.
KJV, One man esteemeth one day above
another: another esteemeth every day
alike. Let every man be fully persuaded in
his own mind.
TR, ος μεν κρινει ημεραν παρ ημεραν ος
δε κρινει πασαν ημεραν εκαστος εν τω
ιδιω νοι πληροφορεισθω
Interlinear, os {yang seorang} men krinei
{melebihkan} êmeran {suatu hari} par
{daripada} êmeran {suatu hari (yang
lain)} os de {tetapi yang lain} krinei
{menghargai} pasan {setiap} êmeran
{hari} ekastos {masing-masing} en
{dalam} tô idiô {sendiri} noi {pendapat}
plêrophoreisthô {hendaklah ia diyakinkan
sepenuhnya}


* Kolose 2:16
"Karena itu janganlah kamu biarkan
orang menghukum kamu mengenai
makanan dan minuman atau mengenai
hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat;"
KJV, Let no man therefore judge you in
meat, or in drink, or in respect of an
holyday, or of the new moon, or of the
sabbath days:
TR, μη ουν τις υμας κρινετω εν βρωσει η
εν ποσει η εν μερει εορτης η νουμηνιας η
σαββατων
Interlinear, mê {tidak} oun {oleh karena
itu} tis {seseorang} humas {kalian}
krinetô {ia menghakimi} en {dalam}
brôsei {makanan} ê {atau} en {dalam}
posei {minuman} ê {atau} en {dalam}
merei {bagian} heortês {hari raya} ê
{atau} noumênias {bulan baru} ê {atau}
sabbatôn {sabat}


Para anggota kelompok Yahudi agaknya
masih setia pada kebiasaan Yahudi yang
tidak diikuti oleh kelompok non-Yahudi.
Bukti yang paling lengkap bagi apa yang
terjadi bila jemaat berkumpul ialah di 1
Korintus pasal 11 s/d 14.

Antar jemaat yang didirikan Paulus tidak
ada diatur pola hubungan, sekalipun
diantara jemaat setempat dengan jemaat
di tempat lain ada hubungan, Paulus
mengatakan hubungan antar jemaat cukup
didasarkan dalam kasih-persaudaraan
sebagai sesame umat Allah :
* 1 Tesalonika 4:10
Tentang kasih persaudaraan tidak perlu
dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri
telah belajar kasih mengasihi dari Allah.


Paulus sebagai pendiri jemaat,
menempatkan dirinya sebagai gembala
jemaat, yang konsisten dalam
memberikan teladannya kepada setiap
jemaat yang didirikannya/ yang
dipeloporinya :


* 1 Korintus 4:15-16
4:15 Sebab sekalipun kamu mempunyai
beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu
tidak mempunyai banyak bapa. Karena
akulah yang dalam Kristus Yesus telah
menjadi bapamu oleh Injil yang
kuberitakan kepadamu.
4:16 Sebab itu aku menasihatkan kamu:
turutilah teladanku!


Dengan itu, semua jemaat diharapkan
menghormati kewibawaan Paulus dalam
soal kepercayaan/ iman kepada Kristus.
Demikianlah peranan Surat-
surat Paulus dan kunjungan-kujungan
pengajarannya misalnya kepada Timotius
– yang sungguh bersifat rohani dan
bersifat nasehat, dan bukan paksaan :


* 2 Korintus 10:8
Bahkan, jikalau aku agak berlebih-lebihan
bermegah atas kuasa, yang dikaruniakan
Tuhan kepada kami untuk membangun
dan bukan untuk meruntuhkan kamu,
maka dalam hal itu aku tidak akan
mendapat malu.


* 2 Korintus 13:10
Itulah sebabnya sekali ini aku menulis
kepada kamu ketika aku berjauhan
dengan kamu, supaya bila aku berada di
tengah-tengah kamu, aku tidak terpaksa
bertindak keras menurut kuasa yang
dianugerahkan Tuhan kepadaku untuk
membangun dan bukan untuk
meruntuhkan.


Penataan dan ketertiban setempat,
ditetapkan sendiri oleh masing-masing
gereja :


* 2 Korintus 2:5-10
2:5 Tetapi jika ada orang yang
menyebabkan kesedihan, maka bukan
hatiku yang disedihkannya, melainkan
hati kamu sekalian, atau sekurang-
kurangnya -- supaya jangan aku melebih-
lebihkan --, hati beberapa orang di antara
kamu.
2:6 Bagi orang yang demikian sudahlah
cukup tegoran dari sebagian besar dari
kamu,
2:7 sehingga kamu sebaliknya harus
mengampuni dan menghibur dia, supaya
ia jangan binasa oleh kesedihan yang
terlampau berat.
2:8 Sebab itu aku menasihatkan kamu,
supaya kamu sungguh-sungguh
mengasihi dia.
2:9 Sebab justru itulah maksudnya aku
menulis surat kepada kamu, yaitu untuk
menguji kamu, apakah kamu taat dalam
segala sesuatu.
2:10 Sebab barangsiapa yang kamu
ampuni kesalahannya, aku
mengampuninya juga. Sebab jika aku
mengampuni, -- seandainya ada yang
harus kuampuni --, maka hal itu kubuat
oleh karena kamu di hadapan Kristus,


Tidak ada jemaat yang lebih tinggi
daripada jemaat yang lainnya, sekalipun
                           semuanya mengakui jemaat
                           di Yerusalemsebagai sumber 'berkat-
                           berkat rohani'.


Top


                           Post subject:
           BP
                            Posted: Sat Aug 26, 2006 3:30 pm


Merdeka dlm Kristus
                           4. Jemaat-jemaat lain


                           Asal-usul jemaat-jemaat lain yang disebut
                           dalam Perjanjian Baru (PB) hanyalah
Joined: Fri Jun 09, 2006
                           berdasarkan penyimpulan. Di Roma ada
5:20 pm
Posts: 8128
                           sejumlah orang percaya yang terdiri
                           dari Yahudi dan non Yahudi, menjelang
                           tahun 56M, ketika Rasul Paulussuratnya
                           kepada jemaat itu. Kita tidak tahu asal-
                           usulnya. 'Pendatang-pendatang dari
                           Roma, baik Yahudi maupun non Yahudi,
                           penganut agama Yahudi (kaum proselit)
                           'hadir pada hari Pentakosta (Kisah 2:10),
                           dan diantara mereka orang-orang yang
                           dikirimi salam pada Roma pasal 16 ada
                           seorang atau dua orang yang terpandang
                           diantara para rasul', Andronikus dan
                           Yunius, saudara sebangsa dengan Rasul
                           Paulus, yang telah menjadi Kristen
                           sebelum dia. Apakah ini petunjuk
penghormatan yag menyatakan bahwa
mereka telah membawa Injil ke Roma?
'Saudara-saudara' datang
menjemput Paulus dan teman-temannya
ketika mereka tiba di Roma, tapi
pengetahuan kita tentang gereja di Roma,
susunannya dan kedudukannya tidak ada
catatan mengenai hal ini.


* Kisah 2:10
Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-
daerah Libia yang berdekatan dengan
Kirene, pendatang-pendatang dari
Roma,


* Roma 16:1-16
16:1 Aku meminta perhatianmu terhadap
Febe, saudari kita yang melayani jemaat
di Kengkrea,
16:2 supaya kamu menyambut dia dalam
Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi
orang-orang kudus, dan berikanlah
kepadanya bantuan bila diperlukannya.
Sebab ia sendiri telah memberikan
bantuan kepada banyak orang, juga
kepadaku sendiri.
16:3 Sampaikan salam kepada Priskila
dan Akwila, teman-teman sekerjaku
dalam Kristus Yesus.
16:4 Mereka telah mempertaruhkan
nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka
bukan aku saja yang berterima kasih,
tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi.
16:5 Salam juga kepada jemaat di rumah
mereka. Salam kepada Epenetus, saudara
yang kukasihi, yang adalah buah pertama
dari daerah Asia untuk Kristus.
16:6 Salam kepada Maria, yang telah
bekerja keras untuk kamu.
16:7 Salam kepada Andronikus dan
Yunias, saudara-saudaraku sebangsa,
yang pernah dipenjarakan bersama-sama
dengan aku, yaitu orang-orang yang
terpandang di antara para rasul dan yang
telah menjadi Kristen sebelum aku.
16:8 Salam kepada Ampliatus yang
kukasihi dalam Tuhan.
16:9 Salam kepada Urbanus, teman
sekerja kami dalam Kristus, dan salam
kepada Stakhis, yang kukasihi.
16:10 Salam kepada Apeles, yang telah
tahan uji dalam Kristus. Salam kepada
mereka, yang termasuk isi rumah
Aristobulus.
16:11 Salam kepada Herodion, temanku
sebangsa. Salam kepada mereka yang
termasuk isi rumah Narkisus, yang ada
dalam Tuhan.
16:12 Salam kepada Trifena dan Trifosa,
yang bekerja membanting tulang dalam
pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis,
yang kukasihi, yang telah bekerja
membanting tulang dalam pelayanan
Tuhan.
16:13 Salam kepada Rufus, orang pilihan
dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya,
yang bagiku adalah juga ibu.
16:14 Salam kepada Asinkritus, Flegon,
Hermes, Patrobas, Hermas dan saudara-
saudara yang bersama-sama dengan
mereka.
16:15 Salam kepada Filologus, dan Yulia,
Nereus dan saudaranya perempuan, dan
Olimpas, dan juga kepada segala orang
kudus yang bersama-sama dengan
mereka.
16:16 Bersalam-salamlah kamu dengan
cium kudus. Salam kepada kamu dari
semua jemaat Kristus.



Alamat surat 1 Petrus menunjukkan,
bahwa ada sekelompok jemaat tersebar di
pantai selatan Laut Hitam dan daerah
pedalamannya ('Pontus, Galatia,
Kapadokia, Asia dan Bitinia') ,
beranggotakan baik Yahudi maupun non
Yahudi. Inilah daerah yang tidak boleh
dimasuki Paulus (Kisah 16:6-8 ), yang
dapat mengandung arti, bahwa daerah-
daerah itu menjadi tempat orang-orang
lain meletakkan landasan, barangkali
Petrus sendiri.


* Kisah 16:6-8
16:6 Mereka melintasi tanah Frigia dan
tanah Galatia, karena Roh Kudus
mencegah mereka untuk memberitakan
Injil di Asia.
16:7 Dan setibanya di Misia mereka
mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi
Roh Yesus tidak mengizinkan mereka.
16:8 Setelah melintasi Misia, mereka
sampai di Troas.


Tetapi dalam Surat 1 Petrus, kita tidak
mengetahui hal-hal yang membedakan
jemaat-jemaat ini dengan jemaat-jemaat
lainnya. Pengawasan dan pertanggung-
jawaban untuk 'menggembalakan domba'
di setiap tempat dilaksanakan oleh
penatua :


* 1 Petrus 5:1-4
5:1 Aku menasihatkan para penatua di
antara kamu, aku sebagai teman penatua
dan saksi penderitaan Kristus, yang juga
akan mendapat bagian dalam kemuliaan
yang akan dinyatakan kelak.
5:2 Gembalakanlah kawanan domba
Allah yang ada padamu, jangan dengan
paksa, tetapi dengan sukarela sesuai
dengan kehendak Allah, dan jangan
karena mau mencari keuntungan, tetapi
dengan pengabdian diri.
5:3 Janganlah kamu berbuat seolah-olah
kamu mau memerintah atas mereka yang
dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah
kamu menjadi teladan bagi kawanan
domba itu.
5:4 Maka kamu, apabila Gembala Agung
datang, kamu akan menerima mahkota
kemuliaan yang tidak dapat layu.


Ini memacetkan pengetahuan kita tentang
pendirian gereja/jemaat pada zaman PB.
Informasi ini agak lebih banyak mengenai
gereja-gereja di bagian barat Asia muncul
dalam kitab Wahyu.


* Wahyu 1:4, 11
1:4 Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat
yang di Asia Kecil: Kasih karunia dan
damai sejahtera menyertai kamu, dari
Dia, yang ada dan yang sudah ada dan
yang akan datang, dan dari ketujuh roh
yang ada di hadapan takhta-Nya,
1:11 katanya: "Apa yang engkau lihat,
tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan
kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke
Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke
Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke
Laodikia."


Ada pendapat yang menayrankan bahwa
gereja-gereja telah didirikan paling tidak
di Alexandria dan di Mesopotamia
bahkan mungkin lebih ke timur lagi, pada
abad pertama itu, tapi tidak ada bukti
yang pasti tentang hal ini.

Mengenai hidup organisasi jemaat/gereja
pada umumnya, sedikit sekali yang kita
ketahui, kecuali yang berkaitan
dengan jemaat Yerusalem, yang tidak
menjadi pola bagi gereja-gereja lainnya.
Namun apa yang kita ketahui meyakinkan
bahwa kesatuan mereka terletak dalam
Injil sendiri, penerimaan atas kitab-kitab
Perjanjian Lama (PL) dan pengakuan
bahwa Yesus
ialah TUHAN dan KRISTUS. Perbedaan-
perbedaan organisasi, bentuk-bentuk
pelayanan, pola-pola pemikiran, tingkatan
moral dan prestasi rohani barangkali lebih
besar daripada yang biasanya kita sadari.
Tiada satu jemaat/ gereja di PB pun, atau
semua gereja bersama-sama – sekalipun
mereka itu tidak membentuk suatu
kesatuan yang nampak – yang
mempunyai kuasa apapun atas
kepercayaan kita sekarang ini.
Kewibawaan Allah sendirilah yang
menjadi panutan dari setiap gereja, bukan
kewibawaan suatu gereja tertentu yang
menjadi panutan gereja yang lain. Karena
jemaat dimanapun, Kristus-lah yang
selalu menjadi pusat dari setiap jemaat
yang beranggotakan orang-orang percaya
:


* 1 Korintus 3:11
Karena tidak ada seorang pun yang dapat
meletakkan dasar lain dari pada dasar
yang telah diletakkan, yaitu Yesus
Kristus


* Efesus 1:22-23
1:22 Dan segala sesuatu telah diletakkan-
Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah
diberikan-
1:23 Jemaat yang adalah tubuh-Nya,
yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi
semua dan segala sesuatu.
* Efesus 5:23
karena suami adalah kepala isteri sama
seperti Kristus adalah kepala jemaat.
Dialah yang menyelamatkan tubuh.


* 1 Korintus 12:13-14
12:13 Sebab dalam satu Roh kita semua,
baik orang Yahudi, maupun orang
Yunani, baik budak, maupun orang
merdeka, telah dibaptis menjadi satu
tubuh dan kita semua diberi minum dari
satu Roh.
12:14 Karena tubuh juga tidak terdiri dari
satu anggota, tetapi atas banyak anggota.



Amin.



Blessings in Christ,
BP
August 26, 2006



Sumber :
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini 1, p 332-
334
                           dan beberapa sumber lain


 Top


                       Post subject: Re: JEMAAT - GEREJA, studi kata
         BP
                        Posted: Fri Jan 30, 2009 9:41 am

                       KOMENTAR :
Merdeka dlm Kristus    Quote:
                       Di beberapa bagian PB dalam naskah
                       Yunani, transliterate ekklesia. Dalam
                       bahasa inggris church.
                       Sometimes/muchtimes kata church
                       diterjemahkan sebagai gereja dalam
 Joined: Fri Jun 09,
 2006 5:20 pm
                       bahasa indonesia.
 Posts: 8128

                       Tapi di terjemahan LAI tidak satupun
                       ekklesia/church diterjemahkan sebagai
                       gereja. Kebanyakan diterjemahkan
                       sebagai jemaat. Dalam istilah
                       ekklesia/church, IMO lebih berarti ke
                       kumpulannya, tapi terjemahan menjadi
                       jemaat, IMO mengaburkan
                       makna menjadi jemaat dalam
                       kebersamaan sekaligus dalam arti
                       individu. Kata lain kongregasi/gereja
                       kayaknya lebih cocok daripada kata
                       jemaat.

                       Just sharing saja .....
JAWAB :


Kata "Jemaat" adalah kata serapan dari
bahasa Arab, menurut kamus besar bahasa
Indonesia adalah 'himpunan umat''.
Tanya : adakah perbedaannya yang mendasar
dengan "kongregasi"?


Kata Yunani 'εκκλησια - ekklêsia' umumnya
dipakai bagi sidang umum dari penduduk
kota yang dikumpulkan secara resmi,
sehingga
kata 'ekklêsia' bermakna 'pertemuan/ sidang'.
Sidang seperti ini menjadi ciri dari kota-kota
diluar Yudea, dimana Injil dimasyurkan :


* Kisah 19:39
LAI TB, Dan jika ada sesuatu yang lain yang
kamu kehendaki, baiklah kehendakmu itu
diselesaikan dalam sidangrakyat yang sah.
KJV, But if ye enquire any thing concerning
other matters, it shall be determined in a
lawful assembly.
TR, ει δε τι περι ετερων επιζητειτε εν τη
εννομω εκκλησια επιλυθησεται
Interlinear, ei {jika} de {tetapi} ti {sesuatu}
peri {yang berkenaan} eterôn {dengan hal
itu} epizêteite {kamu ingin mengetahui} en
{dalam} tê ennomô {yang sesuai dengan
hukum} ekklêsia {dewan} epiluthêsetai {itu
akan diselesaikan}


Kata 'εκκλησια - ekklêsia', bukan kata baru
yang khusus untuk umat Kristiani sehingga
mutlak harus diterjemahkan "gereja" (yang
lebih bersifat spesifik bagi umat Kristiani).

Kata 'ekklêsia' juga dipakai oleh kalangan
Yahudi. Kata Ibrani ‫ - קהל‬QAHAL,
harfiah 'berkumpul
bersama'diterjemahkan 'εκκλησια -
ekklêsia' dalam Septuaginta (LXX) juga
digunakan untuk menterjemahkan kata
"jemaat Israel" yang dibentuk di Sinai dan
dikumpulkan didepan hadirat Allah pada
hari-hari raya tahunan:


* Ulangan 23:3
LAI TB, Seorang Amon atau seorang Moab
janganlah masuk jemaah TUHAN, bahkan
keturunannya yang kesepuluh pun tidak
boleh masuk jemaah TUHAN sampai
selama-lamanya,
KJV, An Ammonite or Moabite shall not
enter into the congregation of the LORD;
even to their tenth generation shall they not
enter into the congregation of the LORD for
ever:
Biblia Hebraic Stuttgartensia (BHS), Hebrew
with vowels,
              ‫קהל ה ה‬
  ‫לה קהל‬            ‫ל‬      ‫הה‬
Translit, LO'-YAVO' AMONI
'UMO'AVI BIQEHAL YEHOVAH (baca
ADONAY) GAM DOR ASIRI LO'-YAVO'
LAHEM BIQEHAL YEHOVAH (baca
ADONAY) AD-'OLAM
LXX, (4) ουκ εισελευσεται αμμανιτης και
μωαβιτης εις εκκλησιαν κυριου και εως
δεκατης γενεας ουκ εισελευσεται
εις εκκλησιαν κυριου και εως εις τον αιωνα
Translit, ouk eiseleusetai ammanitês kai
môabitês eis ekklêssian kuriou kai heôs
dekatês lebeas ouk eiseleusetai eis ekklêssian
kuriou kai heôs eis ton aiôna
Jewish Publication Society Tanakh
(JPST), An Ammonite or a Moabite shall not
enter into the assembly of the LORD; even
to the tenth generation shall none of them
enter into the assembly of the LORD for
ever;


Jadi, dimana letak pengaburan
makna 'ekklêsia' yang diterjemahkan
"jemaat"?[/QUOTE]
TANYA:
Quote:
Darimana asal kata Gereja menurut
Alkitab LAI? Dan ayat mana kata
"ekklesia" yang kiranya lebih cocok
diterjemahkan menjadi Gereja? Mungkin
bisa menjadi awal diskusi selanjutnya.


JAWAB:


Bahasa Portugis mempengaruhi terjemahan
ke dalam bahasa Indonesia
Yunani Potugis Indonesia
'εκκλησια - ekklêsia' -> igreja (Portugis) ->
gereja (Indonesia)

Sekarang kita lihat bagaimana kata 'εκκλησια
- ekklêsia' menjadi "igreja"?


a. GEREJA :

Berdasarkan gramatical dan pronounciaton
di http://199.33.141.196/courses/idm2002/l
... ation.html
Kata Portugis igreja, diucapkan "isreya"

i -> i
g -> s
r -> r
e -> e
j -> y
a -> a

Kata ekklêsia' -> menjadi/ diucapkan "igreja
(isreya)" -> mirip orang Jepang susah/ tidak
bisa mengucapkan 'L'.
Kalau "teori" ini benar, inilah asal usul
kata 'gereja' dalam bahasa Indonesia.



b. CHURCH


Sebenarnya, kita tidak akan pernah
menemukan padanan istilah 'church' ini di
kitab PB dan PL dalam bahasa aslinya.
"Kesalahan" ini berasal dari tidak di-
upadatenya perubahan fungsi karakter
Alfabet dari 'Old English' dan 'Medium
English' ke dalam 'Modern English' pada
kata 'church'.
Pada "Old English", karakter 'ch' bersuara
sama dengan karakter 'k' pada Modern
English saat ini, bandingkan kata dalam
bahasa Belanda , 'Kerk'
Kata "Church" dalam bahasa Inggris, atau
kata "Kerk" dalam bahasa Belanda, menurut
beberapa literature adalah kata serapan yang
berasal dari kata Yunani "κυριακος -
kuriakos" (milik TUHAN)
Lihat :
http://www.etymonline.com/index.php?sea
... hmode=none
http://www.answers.com/main/ntquery?s=ch
urch&gwp=13


Maka, kata 'church' = 'kurk'. Dari
kata 'kurk' inilah kita bisa menelusuri asal-
usul kata 'kurk' dari bahasa Yunani"κυριακος
- kuriakos" yang artinya 'milik
Tuhan', belonging to the Lord: - Lord’s.


* 1 Korintus 11:20
LAI TB, Apabila kamu berkumpul, kamu
bukanlah berkumpul untuk makan
perjamuan (milik) Tuhan.
KJV, When ye come together therefore into
one place, this is not to eat
the Lord's supper.
TR, συνερχομενων ουν υμων επι το αυτο
ουκ εστιν κυριακον δειπνον φαγειν
Translit interlinear, sunerkhomenôn {ketika
berkumpul} oun {karena itu} humôn
{kalian} epi to auto {ke tempat yg sama}
ouk {tidak} estin {itu adalah} kuriakon
{yang dimiliki Tuhan} deipnon {jamuan
malam} phagein {makan}

κυριακον – kuriakon, berasal dari
kata "κυριακος - kuriakos"


Bandingkan juga ayat ini :


* Wahyu 1:10
LAI TB, Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh
Roh dan aku mendengar dari belakangku
suatu suara yang nyaring seperti bunyi
sangkakala.
KJV, I was in the Spirit on the Lord's day,
and heard behind me a great voice, as of a
trumpet,
TR, εγενομην εν πνευματι εν τη κυριακη
ημερα και ηκουσα οπισω μου φωνην
μεγαλην ως σαλπιγγος
Translit Interlinear, egenomên {aku berada}
en {di dalam} pneumati {roh} en
{pada} tê kuriakê {(milik) TUHAN}
hêmera {hari} kai {dan} êkousa {aku
mendengar} opisô {di belakang} mou {-ku}
phônên {suara} megalên {nyaring} hôs
{seperti} salpiggos {nafiri/terompet}
"κυριακη ημερα - kuriakê hêmera", hari
(milik) TUHAN.

Kata "κυριακος - kuriakos" dalam Wahyu
1:10 ditulis dalam bentuk "feminine" (karena
merupakan nama hari) sehingga
penulisannya berubah menjadi κυριακη –
kuriakê.

Hari Minggu (Lord's day) berasal dari
bahasa Latin dies dominica (bahasaPortugis
= dominggo = Lord) dan kemudian menjadi
kosa kata bahasa Indonesia
yaitu Minggu : "hari TUHAN" dalam bahasa
Yunani "κυριακη ημερα - kuriakê
hêmera" (Wahyu 1:10). Jadi, tiap kali kita
menyebut "hari minggu", makna harfiahnya
sebenarnya adalah "HARI (milik) TUHAN".

Istilah Hari Minggu - Hari Tuhan –
 "kuriakê hêmera" ini berkembang sejak
abad 2 Masehi, selaku peringatan akan
kebangkitan Tuhan Yesus Kristus dan
keberdaulatan-Nya.
"Hari Tuhan", dengan demikian adalah
gelar yang secara khusus, cocok sekali untuk
menunjuk kepada kemenangan Tuhan Kita
Yesus Kristus dari kematian di kayu salib.

Maka kita umat milik TUHAN ("κυριακος -
kuriakos") beribadah pada hari TUHAN
("κυριακη ημερα - kuriakê hêmera").


Jadi jelas, kata 'church' ('kurk') sendiri di
ambil dari bahasa Yunani "κυριακος -
kuriakos" dan bukan dari kata'εκκλησια -
ekklêsia' seperti dalam Matius 16:18.


* Matius 16:18
LAI TB, Dan Aku pun berkata kepadamu:
Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang
ini Aku akan mendirikanjemaat-Ku dan
alam maut tidak akan menguasainya.
BIS, Sebab itu ketahuilah, engkau adalah
Petrus, batu yang kuat. Dan di atas alas batu
inilah Aku akan membangungereja-Ku,
yang tidak dapat dikalahkan; sekalipun oleh
maut!
KJV, And I say also unto thee, That thou art
Peter, and upon this rock I will build
my church; and the gates of hell shall not
prevail against it.
TR, καγω δε σοι λεγω οτι συ ει πετρος και
επι ταυτη τη πετρα οικοδομησω μου την
εκκλησιαν και πυλαι αδου ου κατισχυσουσιν
αυτης
Translit interlinear, kagô {dari pihakKu} de
{dan} soi {kepadamu} legô {Aku berkata}
hoti su {engkau} ei {adalah} petros {Petrus}
                     kai {dan} epi {diatas} tautê {ini} tê petra
                     {batu (besar)} oikodomêsô {Aku akan
                     mendirikan} mou {Ku}
                     tên ekklêsian {jemaat} kai {dan} pulai
                     {pintu-pintu gerbang} hadou {dunia orang
                     mati} ou {tidak} katiskhusousin {akan
                     sanggup menguasai} autês {nya}


                     Terjemahan KJV diatas "secara kontekstual"
                     benar, tetapi tidak secara harfiah.
                     Terjemahan Indonesia LAI TB dan BIS
                     "secara harfiah" benar, 'εκκλησια -
                     ekklêsia', gereja, himpunan umat, the
                     assembly (of the LORD).


Top


                           Post subject: Re: JEMAAT - GEREJA, studi kata
           BP
                            Posted: Wed Apr 06, 2011 10:40 am

                           Bantahan :
Merdeka dlm Kristus        Quote:
                           Pengertian saudara jadi 'ngaco'
                           karena saudara ini mengikuti ajaran
                           'Gereja.'
                           Apa dasarnya saudara mengartikan
                           "Assembly" atau "Conggretion" sama
Joined: Fri Jun 09, 2006
5:20 pm
                           dengan "Church"?
Posts: 8128

                           Asal kata 'Church' (Inggris) berasal
dari kata Yunani Κίρκη
(Kirkē) atau Cir•ce (sûrˈ sē) Latin,
yang berhubungan dengan mythology
Yunani.




Gereja dalam berbagai bahasa:

1. Jerman : Kirche
2. Belanda : Kerk
3. Inggris : Church
4. Itali : Chiesa
5. Perancis : Eglise
6. Spanyol : Iglesia
7. Portugis : Igreja
8. Indonesia : Gereja

Kutip dari http://catholic-
resources.org/Bible/NT-Theology-
Ecclesiology.htm

Quote:
Church - Like the German word
"Kirche" or Dutch "Kerk," the English
word "church" etymologically derives
from the Greek word κυριακος
(kyriakon), meaning "belonging to
the Lord" (at first, "the Lord's people"
or "the Lord's community"; only later
"the Lord's house"). The equivalent
words in Latin (ecclesia), French
(eglise), and Spanish (iglesia), and
the related English adjective
"ecclesial" all derive from the Greek
εκκλησια (ekklesia = "assembly,
congregation, gathering"; from the
preposition εκ = "out of" and the
verb καλεω = "to call"). Thus, an
"ecclesial" community is literally a
group of people "called out" of their
homes to "assemble" or
"congregate" (gather together) so
that they can live and pray and
worship together as one
community.


Menambahi penjelasan dari situs tersebut,
dibawah ini semoga lebih dapat
memberikan pengertian yang baik dan
benar:


http://www.thefreedictionary.com/Church

Quote:
[b]church (chûrch)
-cut-
[Middle English chirche, from Old
English cirice, ultimately from
Medieval Greek krikon, from Late
Greek kuriakon (doma), the Lord's
(house), neuter of Greek kuriakos,
of the lord, from kurios, lord; see
keua- in Indo-European roots.]


Old English : cirice (baca kirike) yang
kemudian berubah chirche (baca
"chirch") yang kemudian berubah lagi
menjadi "Church", berasal dari kata
Yunani κυριακος – kuriakos (milik
Tuhan).

Istilah kuriakos ini dipakai oleh Rasul
Yohanes untuk menyebut hari Minggu
(hari pertama dalam suatu pekan, hari
dimana Tuhan YESUS bangkit, lihat
penjelasannya
di http://www.sarapanpagi.org/hari-tuhan-
hari-minggu-kuriake-hemera-
vt564.html#p16211 HARI MINGGU,
yaitu: harinya Dominggo, hari milik
Tuhan), kita lihat ayatnya:

* Wahyu 1:10
LAI TB, Pada hari (milik) Tuhan aku
dikuasai oleh Roh dan aku mendengar
dari belakangku suatu suara yang nyaring
seperti bunyi sangkakala.
KJV, I was in the Spirit on the
Lord's day, and heard behind me a great
voice, as of a trumpet,
TR, εγενομην εν πνευματι εν τη κυριακη
ημερα και ηκουσα οπισω μου φωνην
μεγαλην ως σαλπιγγος
Translit Interlinear, egenomên {aku
berada} en {di dalam} pneumati {roh} en
{pada} tê kuriakê {(milik) Tuhan}
hêmera {hari} kai {dan} êkousa {aku
mendengar} opisô {di belakang} mou {-
ku} phônên {suara} megalên {nyaring}
hôs {seperti} salpiggos {nafiri/terompet}


Kata Yunani κυριακη – kuriakê adalah
bentuk 'feminine' dari kata κυριακος –
kuriakos, milik Tuhan. (Dalam tata bahasa
Yunani untuk nama-nama hari selalu
menggunakan bentuk feminine,
maka kuriakos menjadi κυριακη –
kuriakê).

Kemudian kata "kuriakos" ini dipakai
sebagian orang untuk memberi istilah
bagi tempat/ suatu perkumpulan orang-
orang Kristen yang melakukan ibadahnya
pada hari kuriakê (Minggu, milik
Tuhan).
                            Kemudian "kuriakos" mengalami
                            perubahan pelafalan dalam bahasa-bahasa
                            lainnya, misalnya dalam bahasa Belanda
                            berubah menjad "Kerk," dalam bahasa
                            Jerman "Kirche," dan dalam Old English
                            disebut cirice (baca kirike) yang
                            kemudian mengalami perubahan lafal
                            menjadi chirche (baca "chirch") dan
                            berubah lagi menjadi "Church".

                            Maka Anda tak perlulah mengait2kan
                            kata "Church" dengan istilah2 mitologis,
                            karena kita masing-masing didalam
                            tempat yang disebut "Church" atau
                            "Gereja" atau "Kerk" atau "Kirche" kita
                            sama-sama menyembah Allah yang
                            dengan kasihNya telah inkarnasi ke bumi
                            di dalam diri Tuhan YESUS KRISTUS.


 Top


                       Post subject: Re: JEMAAT - GEREJA, studi kata
         BP
                        Posted: Wed Apr 06, 2011 10:44 am


Merdeka dlm Kristus
                       EKKLÊSIA - STUDY KATA




 Joined: Fri Jun 09,
2006 5:20 pm
Posts: 8128




               1. STUDI BENTUK


               Single :
               Nominatif : η εκκλησια – HÊ EKKLÊSIA
               Genitif : της εκκλησιας - TÊS EKKLÊSIAS
               Datif : τη εκκλησια - TÊ EKKLÊSIA
               Akusatif : την εκκλησιαν - TÊN
               EKKLÊSIAN

               Jamak:
               Nominatif : αι εκκλησιαι - HAI EKKLÊSIAI
               Genitif : των εκκλησιων - TÔN
               EKKLÊSIÔN
               Datif : ταις εκκλησιαις - TAIS EKKLÊSIAIS
               Akusatif : τας εκκλησιας - TAS
               EKKLÊSIAS
- "Nominatif" adalah kasus yang menandai
nomina atau yang sejenisnya sebagai subyek;
bentuk nomina yang timbul sebagai subyek;
bagian nomina dari suatu predikat atau
sebagai keterangan pada bagian kalimat.
- "Genitif" adalah kasus penanda hubungan
asal-usul, sumber, atau milik.
- "Datif" adalah kata yang menduduki fungsi
sebagai obyek tidak langsung dari verba.
- "Akusatif" adalah kasus yang menunjukkan
fungsi sebagai obyek langsung atau obyek
berpreposisi dalam kalimat.


Dalam bentuk nominatif tunggal, η
εκκλησια – HÊ EKKLÊSIA

* Kisah Para Rasul 19:32
LAI TB, Sementara itu orang yang
berkumpul di dalam gedung itu berteriak-
teriak; yang seorang mengatakan ini dan
yang lain mengatakan itu,
sebab kumpulan (EKKLÊSIA) itu kacau-
balau dan kebanyakan dari mereka tidak tahu
untuk apa mereka berkumpul.
KJV, Some therefore cried one thing, and
some another: for the
assembly (EKKLÊSIA) was confused: and
the more part knew not wherefore they were
come together.
TR, αλλοι μεν ουν αλλο τι εκραζον ην γαρ η
εκκλησια συγκεχυμενη και οι πλειους ουκ
ηδεισαν τινος ενεκεν συνεληλυθεισαν
Translit, alloi men oun allo ti ekrazon ên
gar hê ekklêsia sugkekhumenê kai hoi
pleious ouk êdeisan tinos eneken
sunelêlutheisan


Dalam bentuk genitif tunggal, της
εκκλησιας - TÊS EKKLÊSIAS

* Kisah Para Rasul 11:22
LAI TB, Maka sampailah kabar tentang
mereka itu kepada jemaat (EKKLÊSIA) di
Yerusalem, lalu jemaat itu mengutus
Barnabas ke Antiokhia.
KJV, Then tidings of these things came unto
the ears of the church (EKKLÊSIA) which
was in Jerusalem: and they sent forth
Barnabas, that he should go as far as
Antioch.
TR, ηκουσθη δε ο λογος εις τα ωτα της
εκκλησιας της εν ιεροσολυμοις περι αυτων
και εξαπεστειλαν βαρναβαν διελθειν εως
αντιοχειας
Translit, êkousthê de ho logos eis ta ôta tês
ekklêsias tês hierosolumois peri autôn kai
exapesteilan barnaban dielthein heôs
antiokheias
Dalam bentuk datif tunggal, τη εκκλησια -
TÊ EKKLÊSIA

* Kisah Para Rasul 2:47
LAI TB, sambil memuji Allah. Dan mereka
disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari
Tuhan menambah
jumlah mereka(EKKLÊSIA) dengan orang
yang diselamatkan.
KJV, Praising God, and having favour with
all the people. And the Lord added to the
church (EKKLÊSIA) daily such as should be
saved.
TR, αινουντες τον θεον και εχοντες χαριν
προς ολον τον λαον ο δε κυριος προσετιθει
τους σωζομενους καθ ημεραν τη εκκλησια
Translit, ainountes ton theon kai ekhontes
kharin pros holon ton laon ho de kurios
prosetithei tous sôzomenous kath hêmeran tê
ekklêsia

								
To top