MODUL I - DOC by 0Q54ap1

VIEWS: 0 PAGES: 15

									     MODUL 5 SEMINAR MSDM
PENERAPAN BALANCE SCORE CARD &
        MANAJEMEN SDM




            DOSEN
       Drs. Sudradjad, MM




   UNIVERSITAS MERCU BUANA
  PENERAPAN BALANCE SCORE CARD &
                       MANAJEMEN SDM



Perkembangan Terkini Implementasi Balanced Scorecard
Balanced Scorecard telah mengalami perkembangan pesat selama satu dekade
sejak saat diujicobakan pertama kali pada tahun 1990. Pada awal tahun 2000,
Balanced Scorecard telah menjadi inti sistem manajemen strategik (strategic
management system), tidak hanya bagi eksekutif, namun bagi seluruh personel
perusahaan, terutama dalam perusahaan yang telah memanfaatkan secara intensif
teknologi informasi dalam operasi bisnisnya. Balanced Scorecard memberikan
rerangka yang jelas dan masuk akal bagi seluruh personel untuk menghasilkan
kinerja keuangan melalui perwujudan berbagai kinerja nonkeuangan. Dengan
teknologi informasi, Balanced Scorecard dikomunikasikan ke seluruh personel, dan
dengan teknologi informasi, koordinasi dalam mewujudkan berbagai sasaran
strategik yang telah ditetapkan dapat dilakukan.
     Untuk memberikan gambaran perkembangan terkini implementasi Balanced
Scorecard, berikut ini diuraikan dampak teknologi informasi terhadap personel dan
organisasi perusahaan. Dampak terhadap personel dan organisasi perusahaan ini
pada gilirannya mempengaruhi perkembangan implementasi Balanced Scorecard
dalam pengelolaan perusahaan.


Dampak Teknologi Informasi terhadap Personel dan Organisasi Perusahaan
     Balanced Scorecard diciptakan dalam Jaman Teknologi Informasi suatu jaman
yang di dalamnya komputer dan telekomunikasi dimanfaatkan secara ekstensif dan
intensif dalam harnpir semua aspek kehidupan manusia, khususnya dalam bisnis.
Dampak teknologi informasi terhadap personel dan organisasi dilukiskan pada
Gambar 1.5. Pada gambar tersebut terlihat bahwa pemanfaatan teknologi informasi
mengakibatkan pergeseran jenis pekerjaan dari pekerjaan yang lebih mengandalkan
pada tenaga kerja (labor) atau otot ke pekerjaan yang menuntut pengetahuan
(knowledge – based works) atau pekerjaan otak. Teknologi komputer dan
telekomunikasi hanya akan produktif di tangan pekerja yang mengandalkan pada
pengetahuan, sehingga di masa depan, pekerja yang akan dominan dalam
perusahaan adalah pekerja pengetahuan (knowledge workers) pekerja yang



Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB                             Drs. Sudradjad, MM
                                                                SEMINAR MSDM
menggunakan pengetahuannya dalam menghasilkan produk dan jasa bagi
customers.
     Jenis pekerjaan dan tipe pekerja yang akan dominan di Jaman Teknologi
Informasi ini akan menuntut otonomi dan wewenang yang lebih besar dalam
organisasi. Knowledge – based works sangat berbeda dengan pekerjaan yang
mengandalkan otot. Agar produktif, knowledge – based works memerlukan suasana
kerja yang memacu kreativitas, mendorong semangat bereksperimen, dan menerima
kegagalan sebagai sesuatu yang layak untuk dipelajari. Dalam perusahaan yang di
dalamnya knowledge – based works mendominasi proses pembuatan produk dan
jasa, pengetahuan menjadi alat produksi utama. Dan oleh karena pengetahuan
berada di dalam benak knowledge workers, maka kemampuan perusahaan untuk
memacu komitmen karyawan dalam memanfaatkan pengetahuan mereka untuk
kepentingan organisasi merupakan penentu keberhasilan perusahaan dalam Jaman
Teknologi Informasi ini.
     Dalam Jaman Teknologi Informasi ini, personel perusahaan menuntut lebih
banyak otonomi dan wewenang. Hal ini dimungkinkan karena teknologi informasi
menyediakan fasilitas shared database sehingga information sharing dapat secara
optimum dilaksanakan dalam perusahaan dan antarperusahaan (dalam network).
Melalui fasilitas information sharing ini seluruh personel memiliki kesempatan untuk
akses ke pusat informasi, sehingga mereka menjadi berdaya untuk mengambil
keputusan atas pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka. Information sharing
ini pulalah yang meningkatkan tuntutan tentang otonomi dan wewenang di kalangan
karyawan, sehingga karyawan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam
membangun masa depan perusahaan.




Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB                                Drs. Sudradjad, MM
                                                                   SEMINAR MSDM
                                  Teknologi
                                  Informasi

          Knowledge -
          based works



                             Knowledge
                           workers menjadi
                              dominan




                                   Menuntut otonomi
                                  dan wewenang lebih
                                        besar



                                       Perubahan
                                       organisasi


                Learning
              organization                    Boundaryless
                                              organization


                                 Empowered                    Jejaring
              Tim lintas         employees                   (Network)
             fungsional



                                         Koordinasi melalui
                                        komunikasi, persuasi,
                                          dan kepercayaan
                                               (trust)



             Gambar 1.5 Dampak Teknologi Informasi terhadap
                 Personel Perusahaan dan Organisasi




Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB                              Drs. Sudradjad, MM
                                                                 SEMINAR MSDM
       Pada Gambar 1.5 tersebut juga terlihat tuntutan otonomi dan wewenang lebih
besar oleh karyawan berdampak mendalam terhadap organisasi. Organisasi
berubah menjadi learning organisation dan boundaryless organisation.
       Dalam Jaman Teknologi Informasi yang di dalamnya knowledge workers
dominan dalam penyediaan produk dan jasa bagi customers, produk dan jasa
bersaing di pasar berbasis kandungan pengetahuan (knowledge content) yang
terdapat di dalamnya. Dengan demikian penyediaan value bagi customers ditentukan
oleh    pembelajaran    (learning)     dan   pengelolaan   pengetahuan   (knowledge
management). Daya saing perusahaan diperoleh melalui kemampuan untuk belajar
lebih cepat dan berbagi pengetahuan (knowledge sharing) dengan lebih efektif
dibandingkan dengan persaingan.1 Organisasi harus didesain menjadi learning
organization suatu organisasi yang seluruh anggotanya memiliki kemampuan untuk
belajar dengan cepat (baik belajar hal baru maupun belajar dari kegagalan yang
dialami) dan untuk melakukan knowledge sharing secara efektif.
       Boundaryless organisation adalah organisasi dengan batas – batas horisontal,
vertikal, eksternal, dan geografis yang sehat. Menipisnya batas horisontal
mengakibatkan berkurangnya birokrasi sehingga organisasi menjadi lebih datar dan
karyawan menjadi lebih berdaya (empowered employees). Menipisnya batas vertikal
menjadikan terwujudnya kerja sama lintas fungsional dalam memenuhi kebutuhan
customers yang kompleks. Sumber daya organisasi difokuskan untuk menyediakan
produk dan jasa bagi pemenuhan kebutuhan customers. Menipisnya batas eksternal
menjadikan perusahaan lebih berfokus ke penyediaan produk dan jasa yang menjadi
kompetensi intinya (core competence). Untuk memenuhi kebutuhan customers yang
kompleks, perusahaan harus membangun jejaring organisasi (organisation network),
yang di dalamnya setiap perusahaan yang menjadi anggota jejaring memiliki
kompetensi inti yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan customers yang
kompleks. Dengan jejaring organisasi, perusahaan akan mampu menghasilkan value
terbaik bagi customers, yang akan menjanjikan peningkatan daya saing perusahaan
– perusahaan yang tergabung dalam jejaring (network) dalam memasuki lingkungan
bisnis yang kompetitif dan turbulen.
       Dalam organisasi yang menggunakan tim lintas fungsional dalam menghasilkan
produk dan jasa bagi customers, yang mengandalkan karyawan yang berdaya untuk
memberikan layanan bagi customers, dan yang menggunakan jejaring organisasi
dalam menjalankan bisnisnya, koordinasi tidak lagi dijalankan rnelalui "command and
control mode" namun koordinasi dilaksanakan melalui komunikasi, persuasi, dan
kepercayaan (trust). Kekohesivan organisasi yang menggunakan tim lintas
fungsional, dan yang mempekerjakan karyawan yang berdaya, serta yang

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB                                Drs. Sudradjad, MM
                                                                   SEMINAR MSDM
menggunakan jejaring organisasi dalam mewujudkan tujuan organisasi ditentukan
seberapa jelas misi dan visi organisasi dirumuskan dan seberapa berhasil
pengkomunikasian misi dan visi organisasi menjadi shared mission and shared
vision bagi seluruh personal organisasi dan seluruh organisasi dalam jejaring.
Keberhasilan organisasi dalam mewujudkan visi organisasi ditentukan oleh
ketepatan strategi yang dipilih dan keberhasilan pengkomunikasian strategi tersebut
kepada seluruh personel organisasi dan seluruh organisasi dalam jejaring. Persuasi
menjadi pilihan untuk menggantikan komando, karena dalam Jaman Teknologi
Informasi, knowledge workers menjadi dominan dalam mewujudkan visi organisasi.
Pemberdayaan karyawan yang dilandasi oleh trust – based relationship antara
manajer dan karyawan merupakan sarana untuk memacu komitmen karyawan dalam
mengubah strategi menjadi tindakan nyata. Jejaring organisasi menghasilkan value
bagi customers juga berlandaskan trust – based relationship yang dibangun oleh
organisasi yang tergabung dalam jejaring tersebut.


Dampak Teknologi Informasi terhadap Pemanfaatan Balanced Scorecard dalam
Perencanaan Strategik (Strategic Planning)
Pada Gambar 1.5 terlihat bahwa teknologi mengubah secara radikal tipe pekerja
yang dominan dalam menghasilkan kekayaan di perusahaan dan strategi yang
digunakan untuk mengelola jejaring organisasi. Tipe pekerja yang dibutuhkan untuk
menjalankan bisnis yang berbasis teknologi informasi adalah knowledge workers
yang menuntut lebih banyak otonomi dan wewenang. Strategi pengelolaan
boundaryless organisation adalah dengan koordinasi melalui komunikasi, persuasi,
dan kepercayaan (trust).
     Knowledge workers, dengan pengetahuan yang ada di dalam benaknya,
membutuhkan      pemberdayaan      untuk   memungkinkan   mereka     memanfaatkan
pengetahuan yang mereka miliki untuk menghasilkan value bagi customers. Dan
pemberdayaan ini hanya dapat terwujud melalui pembangunan trust – based
relationship   antara   manajer   dengan   knowledge   workers.   Jika   pada   awal
perkembangannya, Balanced Scorecard hanya dimanfaatkan oleh manajemen
puncak untuk memperluas perspektif rencana strategik yang mereka susun, pada
perkembangannya yang terakhir ini, Balanced Scorecard sudah dimanfaatkan untuk
menghasilkan konsensus dari knowledge workers dalam menetapkan berbagai
sasaran strategik yang akan diwujudkan oleh organisasi dalam mewujudkan visi
oiganisasi. Rerangka Balanced Scorecard digunakan untuk mengkomunikasikan
berbagai sasaran strategik yang akan diwujudkan di masa depan oleh organisasi.
Rerangka Balanced Scorecard juga dimanfaatkan untuk memberikan otonomi lebih

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB                                Drs. Sudradjad, MM
                                                                   SEMINAR MSDM
besar bagi knowledge workers untuk menjabarkan berbagai sasaran strategik
masing – masing knowledge workers ke dalam kartu skor rnereka, dan memberi
wewenang lebih besar kepada mereka dalam memilih berbagai inisiatif strategik
untuk mewujudkan sasaran-sasaran strategik yang mereka tetapkan. Balanced
Scorecard memberikan kemudahan bagi seluruh personel perusahaan di dalam
mengkoordinasikan perwujudan berbagai sasaran strategik perusahaan melalui
komunikasi, persuasi, dan trust.


Pemanfaatan Rerangka Balanced Scorecard dalam Setiap Tahap Sistem
Manajemen Strategik
Pada tahap perkembangannya yang terkini, Balanced Scorecard dimanfaatkan untuk
setiap tahap sistem manajemen strategik, sejak tahap perumusan strategi sampai
dengan tahap implementasi dan pemantauan. Gambar 1.6 memperlihatkan
pemanfaatan rerangka Balanced Scorecard dalam setiap tahap sistem manajemen
strategik.
      Pada tahap perumusan strategi (strategy formulation) Balanced Scorecard
digunakan untuk memperluas cakrawala dalam menafsirkan hasil penginderaan
terhadap trend perubahan lingkungan makro dan lingkungan industri ke perspektif
yang luas : keuangan, customer, proses bisnis / intern, serta pembelajaran dan
pertumbuhan. Melalui empat perspektif Balanced Scorecard, manajemen rnampu
menafsirkan dampak trend perubahan lingkungan bisnis yang kompleks terhadap
misi, visi, dan tujuan (goals) perusahaan. Di samping itu, pada tahap perumusan
strategi, rerangka Balanced Scorecard juga dimanfaatkan untuk melakukan analisis
SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, and threats). Analisis SWOT
dilaksanakan melalui empat perspektif Balanced Scorecard : keuangan, customer,
proses bisnis / intern, serta pembelajaran dan pertumbuhan. Melalui empat
perspektif Balanced Scorecard tersebut, manajemen dapat secara komprehensif
memperoleh garnbaran kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan
serta peluang dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan di masa depan.
Kekomprehensivan wawasan manajemen tentang trend yang terjadi di lingkungan
makro dan lingkungan industri serta kekomprehensivan analisis SWOT akan
menjanjikan efektivitas misi, visi, dan tujuan yang dipilih untuk membangun masa
depan perusahaan. Di samping itu, kekomprehensivan tersebut juga menjanjikan
efektivitas strategi yang dipilih untuk mewujudkan misi, visi, dan tujuan perusahaan.
Pembahasan lebih mendalam tentang pemanfaatan Balanced Scorecard dalarn
tahap perumusan strategi disajikan dalam Bab 3 Sistem Perumusan Strategi.



Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB                                Drs. Sudradjad, MM
                                                                   SEMINAR MSDM
                                                Rerangka Balance Scorecard
                                                diterapkan untuk menafsirkan
                    Perumusan
                                                     dampak hasil analisis
                      Strategi
                                               lingkungan makro dan industri
                                                   dan untuk analisis SWOT

                    Perencanaan
                      Strategi
                                               Rerangka Balance Scorecard
                                                     digunakan untuk
                    Penyusunan                  menerjemahkan strategi ke
                     Program
                                                 dalam action plans yang
                                                komprehensif dan koheren

                    Penyusunan
                     Anggaran
                                               Rerangka Balance Scorecard
                                               digunakan untuk pengukuran
                 Implementasi                  secara komprehensif kinerja
                                                        personel


                    Pemantauan


       Gambar 1.6 Perkembangan Terkini Peran Balanced Scorecard dalam
                 Setiap Tahapan Sistem Manajemen Strategik


     Pada tahap perencanaan strategik (strategic planning), rerangka Balanced
Scorecard digunakan untuk menerjemahkan strategi ke dalam sasaran-sasaran
strategik yang komprehensif, koheren, seimbang, dan terukur. Dalam tahap
perencanaan strategik ini pula dirumuskan inisiatif strategik untuk mewujudkan
sasaran-sasaran strategik. Pembahasan lebih mendalam tentang pemanfaatan
Balanced Scorecard dalam tahap perencanaan strategik disajikan dalam Bab 4
Sistem Perencanaan Strategik aengan Rerangka Balanced Scorecard.
     Pada   tahap    penyusunan   program   (programming),   rerangka   Balanced
Scorecard digunakan untuk menjabarkan inisiatif strategik di empat perspektif ke
dalam program. Dengan rerangka Balanced Scorecard dapat dihasilkan rencana
jangka panjang yang komprehensif, yang mencakup perspektif keuangan, customer,

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB                             Drs. Sudradjad, MM
                                                                SEMINAR MSDM
proses bisnis / intern, serta pembelajaran dan pertumbuhan. Pembahasan lebih
mendalam tentang pemanfaatan Balanced Scorecard dalam tahap penyusunan
program disajikan dalam Bab 5 Sistem Penyusunan Program dengan Rerangka
Balanced Scorecard.
     Pada tahap penyusunan anggaran (budgeting), rerangka Balanced Scorecard
digunakan untuk menjabarkan program ke dalam anggaran, sehingga anggaran
yang dihasilkan juga bersifat komprehensif. Lingkup buku ini hanya terbatas pada
pemanfaatan rerangka Balanced Scorecard dalam perencanaan laba jangka
panjang, oleh karena itu, pemanfaatan Balanced Scorecard dalam penyusunan
anggaran tidak dibahas lebih lanjut dalam buku ini. Pembahasan lebih mendalam
tentang sistern manajemen strategik dan peran Balanced Scorecard pada setiap
tahap sistem manajemen strategik disajikan dalam Bab 2 Balanced Scorecard
sebagai Inti Manajemen Strategik.
     Pada tahap eksperimen (1990 – 1992), Balanced Scorecard difokuskan untuk
memperluas kinerja eksekutif. Pada tahap perkembangannya terkini, Balanced
Scorecard tidak hanya difokuskan ke kinerja eksekutif, namun meluas ke kinerja
seluruh personel (manajer dan karyawan) perusahaan. Pada tahap implementasi
dan tahap pemantauan, rerangka Balanced Scorecard digunakan untuk menilai
secara komprehensif kinerja personel. Oleh karena sejak perencanaan strategik,
penyusunan program, sampai ke penyusunan anggaran, personel telah menyusun
rencana yang komprehensif untuk mewujudkan masa depan perusahaan, maka
penindaklanjutan rencana dan penilaian kinerja personel perlu dilakukan secara
komprehensif pula.


Keunggulan Balanced Scorecard
     Dalam Bab 1 ini mulai disajikan berbagai keunggulan Balanced Scorecard
untuk membuka cakrawala pembaca centang berbagai peluang yang terkandung
dalam Balanced Scorecard untuk melipatgandakan kinerja keuangan perusahaan.
Dalam Bab 2 dan Bab 3 akan disajikan pula berbagai keunggulan Balanced
Scorecard, sejalan dengan semakin rinci dan kompleksnya pengetahuan tentang
Balanced Scorecard yang diuraikan dalam bab-bab tersebut. Pengetahuan tentang
keunggulan Balanced Scorecard akan membuka peluang bagi pembaca untuk
memanfaatkan secara optimum alat manajemen tersebut dalam mendongkrak
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kinerja keuangan.
     Balanced Scorecard memiliki keunggulan yang menjadikan sistem manajemen
strategik sekarang berbeda secara signifikan dengan sistem manajemen strategik
dalam manajemen tradisional. Perbedaan tersebut disajikan dalam Gambar 1.7.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB                            Drs. Sudradjad, MM
                                                               SEMINAR MSDM
      Dari Gambar 1.7 tersebut dapat terlihat bahwa Balanced Scorecard dapat
menjadikan sistem manajemen strategik kontemporer memiliki karakteristik yang
berbeda dengan karakteristik sistem manajemen strategik tradisional. Manajemen
strategik tradisional hanya berfokus ke sasaran-sasaran yang bersifat keuangan,
sedangkan sistem manajemen strategik kontemporer mencakup perspektif yang luas
: keuangan, customer, proses bisnis / intern, dan pembelajaran dan pertumbuhan.
Berbagai sasaran strategik yang dirumuskan dalam sistem manajemen strategik
tradisional tidak koheren satu dengan lainnya, sedangkan berbagai sasaran strategik
dalam sistem manajemen strategik kontemporer dirumuskan secara koheren. Di
samping itu, Balanced Scorecard bahkan menjadikan sistem manajemen strategik
kontemporer memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh sistem manajemen
strategik tradisional, yaitu dalam karakteristik keterukuran dan keseimbangan.
      Keunggulan pendekatan Balanced Scorecard dalam sistem perencanaan
strategik adalah mampu menghasilkan rencana strategik yang memiliki karakteristik
sebagai berikut: (1) komprehensif, (2) koheren, (3) seimbang, (4) terukur.


Komprehensif
Balanced Scorecard memperluas perspektif yang dicakup dalam perencanaan
strategik, dari yang sebelumnya hanya terbatas pada perspektif keuangan, meluas
ke tiga perspektif yang lain : customers, proses bisnis / intern, serta pembelajaran
dan   pertumbuhan.     Perluasan    perspektif   rencana      strategik    ke    perspektif
nonkeuangan tersebut menghasilkan manfaat berikut ini :
a. Menjanjikan kinerja keuangan yang berlipatganda dan berjangka panjang.
b. Memampukan        perusahaan     untuk    memasuki      lingkungan        bisnis   yang
   kompleks.
 Sistem Manajemen Strategik dalam           Sistem Manajemen Strategik dalam
 Manajemen Tradisional                      Manajemen Kontemporer
 Hanya berfokus ke perspektif keuangan      Mencakup perspekti yang komprehensif
                                            : keuangan, customer, proses bisnis /
                                            intern,   serta      pembelajaran         dan
                                            pertumbuhan


 Tidak koheren                              Koheren
                                            Terukur
                                            Seimbang
Gambar 1.7     Beda Sistem Manajemen Strategik dalam Manajemen Tradisional
               dengan Sistem Manajemen Strategik dalam Manajemen Kontemporer

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB                                       Drs. Sudradjad, MM
                                                                          SEMINAR MSDM
     Balanced Scorecard rnemotivasi personel untuk mengarahkan usahanya ke
sasaran-sasaran strategik yang menjadi penyebab utama dihasilkannya kinerja
keuangan. Untuk menghasilkan kinerja keuangan, personel hams mewujudkan
sasaran dari perspektif customer. Perusahaan harus mampu menghasilkan produk
dan jasa yang menghasilkan value terbaik bagi customers. Produk dan jasa yang
menghasilkan value bagi customers harus dihasilkan dari proses yang produktif dan
cost effective. Proses yang produktif dan cost effective harus dijalankan oleh
personel yang produktif dan berkomitmen. Kinerja keuangan yang dihasilkan dari
perspektif customers, proses, serta pembelajaran dan pertumbuhan tersebut
merupakan kinerja keuangan yang sesungguhnya, yang berasal dari usaha nyata
dalam bisnis, sehingga kinerja keuangan yang demikian akan berlipatganda dan
berjangka panjang. Bandingkan kinerja keuangan nyata tersebut dengan kinerja
keuangan semu (artificial) yang diperoleh dari selisih kurs mata uang, atau dari
bunga bank yang tinggi. Oleh karena kinerja keuangan dapat dijelaskan dengan
nyata penyebabnya, personel dapat mengulangi sukses yang diperolehnya di lain
kesempatan.
     Kekomprehensivan sasaran strategik merupakan respon yang pas untuk
memasuki lingkungan bisnis yang kompleks. Dengan mengarahkan sasaran –
sasaran strategik ke empat perspektif, rencana strategik perusahaan mencakup
lingkup yang luas, yang memadai untuk menghadapi lingkungan bisnis yang
kompleks. Jika sasaran strategik hanya diarahkan ke perspektif keuangan, lingkup
rencana strategik yang dihasilkan dari sistem perencanaan strategik akan terlalu
sempit, sehingga tidak memadai untuk menghadapi lingkungan bisnis yang
kompleks.


Faktor      Apa      Yang       Memacu        Kebutuhan   Perusahaan      Untuk
Mengimplementasikan Balanced Scorecard ?
     Balanced Scorecard metupakan alat manajemen kontemporer (contemporary
management tool). Kebutuhan perusahaan untuk mengimplementasikan Balanced
Scorecard dipacu oleh faktor – faktor berikut ini:
1. Lingkungan bisnis yang dimasuki oleh pemsahaan sangat kompetitif dan
   turbulen.
2. Sistem manajemen yang digunakan oleh perusahaan tidak pas dengan tuntutan
   lingkungan bisnis yang dimasuki oleh perusahaan.


Lingkungan Bisnis yang Sangat Kompetitif dan Turbulen

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB                             Drs. Sudradjad, MM
                                                                SEMINAR MSDM
Lingkungan bisnis yang dimasuki oleh perusahaan sangat kompetitif dan turbulen.
Lingkungan bisnis seperti ini menuntut kemampuan perusahaan untuk :
a. Membangun keunggulan kompetitif melalui distinctive capability.
b. Membangun dan secara berkelanjutan memutakhirkan peta perjalanan untuk
   mewujudkan masa depan perusahaan.
c. Menempuh langkah – langkah strategik dalam membangun masa depan
   perusahaan.
d. Mengerahkan dan memusatkan kapabilitas dan komitmen seluruh personel
   dalam membangun masa depan perusahaan.


Membangun keunggulan kompetitif melalui distinctive capability. Di dalam
lingkungan bisnis yang kompetitif, produk dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan
hanya akan dipilih oleh customer jika memiliki keunggulan tertentu dibandingkan
dengan persaingan. Keunggulan hanya dapat diwujudkan melalui usaha cerdas,
terencana, sistematik, dari dengan langkah – langkah besar serta berjangka panjang.
Balanced Scorecard menyediakan rerangka untuk membangun keunggulan
kompetitif melalui empat perspektif : keuangan, customer, proses bisnis / intern, dan
pembelajaran dan pertumbuhan. Diperlukan usaha cerdas, terencana, sistematik,
dan waktu lama untuk membangun kepercayaan dan kepuasan customer, hubungan
kemitraan dengan pemasok, serta kapabilitas dan komitmen personel.


Membangun dan secara berkelanjutan memutakhirkan peta perjalanan untuk
mewujudkan masa depan perusahaan. Lingkungan bisnis yang kompetitif pasti
akan      bergolak karena berbagai perubahan yang diciptakan oleh para produsen
untuk menarik perhatian customer. Untuk memasuki lingkungan yang bergolak
seperti    itu,   perusahaan   memerlukan   peta perjalanan   yang    secara   akurat
mencerminkan kondisi lingkungan bisnis yang akan dimasuki oleh perusahaan. Oleh
karena lingkungan bisnis senantiasa bergolak, peta perjalanan yang digunakan oleh
perusahaan untuk membangun masa depannya tidak akan berumur panjang peta
perjalanan perlu dimutakhirkan secara berkelanjutan agar menggambarkan secara
pas kondisi lingkungan bisnis yang akan dimasuki oleh perusahaan. Manajemen
memerlukan sistem untuk membangun dan secara berkelanjutan memutakhirkan
peta perjalanan untuk mewujudkan masa depan perusahaan.


Menempuh langkah – langkah strategik dalam membangun masa depan
perusahaan. Lingkungan bisnis yang kompetitif menuntut perusahaan untuk
menempuh langkah – langkah strategik dalam membangun masa depannya.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB                                  Drs. Sudradjad, MM
                                                                     SEMINAR MSDM
Langkah – langkah kecil tidak akan mampu rnenjadikan perusahaan mencapai
keunggulan kompetitif yang dituntut oleh persaingan. Untuk memotivasi personel
dalam memikirkan dan melaksanakan langkah – langkah strategik, perusahaan
membutuhkan sistem manajemen strategik. Sistem manajemen ini menjanjikan
dihasilkannya langkah – langkah strategik untuk membangun masa depan
perusahaan.


Mengerahkan dan memusatkan kapabilitas dan komitmen seluruh personel
dalam membangun masa depan perusahaan. Lingkungan bisnis yang turbulen
menjadikan masa depan sangat kompleks dan sulit untuk diprediksi dengan tepat.
Dibutuhkan pemikiran dari banyak pihak dan banyak ahli untuk membuat skenario
masa depan yang diperkirakan akan terjadi. Perusahaan membutuhkan sistem
manajemen yang mampu menampung dan mensintesakan berbagai pemikiran dari
seluruh personel perusahaan untuk membangun skenario masa depan perusahaan.
Masa depan perusahaan terlalu kompleks untuk dipikirkan oleh sebagian kecil
personel perusahaan. Di samping itu, lingkungan bisnis yang kompetitif menuntut
kekohesivan seluruh personel dalam menghadapi lingkungan seperti itu, sehingga
perusahaan memerlukan sistem manajemen yang mampu mengerahkan dan
memusatkan kapabilitas dan komitmen seluruh personel dalam membangun masa
depan perusahaan.


Sistem Manajemen yang Tidak Pas dengan Tuntutan Lingkungan Bisnis
Sistem manajemen yang tidak pas dengan tuntutan lingkungan bisnis sebagaimana
yang digambarkan di atas memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Sistem manajemen yang digunakan hanya mengandaikan anggaran tahunan
   sebagai alat perencanaan masa depan perusahaan.
b. Tidak terdapat kekoherenan antara rencana jangka panjang (atau dikenal dengan
   istilah corporate plan) dengan rencana jangka pendek dan implementasinya.
c. Sistem manajemen yang digunakan tidak mengikutsertakan secara optimum
   seluruh personel dalam membangun masa depan perusahaan.


Sistem manajemen yang digunakan hanya mengandalkan anggaran tahunan
sebagai alat perencanaan masa depan perusahaan. Jika dalam lingkungan bisnis
yang kompetitif dan turbulen sekarang ini perusahaan hanya mengandalkan
anggaran tahunan sebagai alat perencanaan masa depannya, perusahaan akan
sangat rentan dalam persaingan. Anggaran tahunan hanya akan menghasilkan
langkah – langkah kecil ke depan yang hanya mempunyai masa pelaksanaan satu

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB                                Drs. Sudradjad, MM
                                                                   SEMINAR MSDM
tahun atau kurang. Langkah – langkah strategik hanya dapat direncanakan dengan
baik jika perusahaan menggunakan sistem perencanaan jangka panjang yang
didesain untuk itu. Sistem perumusan strategi, sistem perencanaan strategik, dan
sistem penyusunan program merupakan sistem manajemen yang sangat dibutuhkan
oleh perusahaan untuk memikirkan dan merumuskan langkah – langkah strategik
dalam membangun masa depan perusahaan.


Tidak terdapat kekoherenan antara rencana jangka panjang (atau dikenal
dengan    istilah   corporate     plan)   dengan   rencana   jangka   pendek   dan
implementasinya. Banyak perusahaan telah menyusun rencana jangka panjang
(berupa corporate plan), namun jarang sekali rencana jangka panjang tersebut
diterjemahkan ke dalam rencana jangka pendek. Terdapat matarantai yang hilang,
yang seharusnya menghubungkan antara penyusunan rencana jangka panjang
dengan rencana jangka pendek. Sebetulnya sistem manajemen dalam perusahaan-
perusahaan ini lebih baik dibandingkan dengan sistem manajemen perusahaan-
perusahaan yang hanya mengandalkan anggaran tahunan untuk membangun masa
depan mereka. Namun, karena rencana jangka panjang tidak koheren dengan
rencana jangka pendek, pada dasarnya perusahaan – perusahaan ini juga hanya
mengandalkan anggaran tahunan untuk membangun masa depan mereka.
Ketidakkoherenan antara rencana jangka panjang dengan rencana jangka pendek ini
menyebabkan perusahaan tidak responsif terhadap perubahan lingkungan bisnis
yang diperkirakan akan terjadi.


Sistem manajemen yang digunakan tidak mengikutsertakan secara optimum
seluruh personel dalam membangun masa depan perusahaan. Dalam
manajemen tradisional, masa depan perusahaan dirumuskan oleh manajemen
puncak dengan bantuan staf perencanaan. Manajemen menengah dan bawah serta
karyawan mengimplementasikan rencana jangka panjang dan rencana jangka
pendek yang telah dirumuskan oleh manajemen puncak dan staff tersebut. Sistem
manajemen seperti ini cocok untuk lingkungan bisnis yang stabil, yang di dalamnya
prediksi masih dapat diandalkan untuk memperkirakan masa depan perusahaan.
Untuk menghadapi lingkungan bisnis yang kompetitif dan turbulen, masa depan
perusahaan sangat sulit untuk diprediksikan. Dibutuhkan penginderaan secara terus
menerus terhadap trend perubahan yang terjadi dalam lingkungan bisnis dan
diperlukan kecepatan respon terhadap trend perubahan yang teridentifikasi.
Penginderaan secara terus menerus dan kecepatan respon terhadap trend
perubahan hanya dapat dilakukan oleh perusahaan jika perusahaan menggunakan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB                               Drs. Sudradjad, MM
                                                                  SEMINAR MSDM
sistem manajemen yang melibatkan secara optimum seluruh personel dalam
membangun masa depan perusahaan.




Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB                    Drs. Sudradjad, MM
                                                       SEMINAR MSDM

								
To top