lapisan bumi by TeuKieHeedictator

VIEWS: 749 PAGES: 42

									        BENTUK MUKA BUMI DAN PENYEBABNYA

Makalah ini disusun untuk memenuhi sebagian tugas mata kuliah Geofisika yang diampu
                      oleh ibu Daru Wahyuningsih, S.Si, M.Pd




                                  Disusun Oleh:


                         Linda Novitayani            (K2309044 )




         FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

                    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

                                SURAKARTA

                                      2012


                                                                              1
BENTUK MUKA BUMI

    Bentuk muka bumi yang menjadi tempat tinggal manusia akan memberikan beberapa
kemungkinan sebagai penunjang kehidupan yang terdapat di suatu wilayah. Maka bumi
memiliki bentuk yang bermacam-macam dan selalu mengalami perubahan dari waktu ke
waktu.

    Perubahan bentuk muka bumi disebabkan oleh adanya tenaga yang berasal dari dalam
bumi yang disebut tenaga endogen dan tenaga yang berasal dari luar bumi yang disebut
tenaga eksogen. Akibat adanya kedua tenaga itulah yang menyebabkan permukaan bumi
memiliki bentuk yang tidak sama. Ada yang berupa gunung, pegunungan, dataran
tinggi,dataran rendah, bukit, lembah, dan sebagainya. Perbedaan tinggi rendah permukaan
bumi itu disebut relief.

    Untuk mempelajari bentuk muka bumi, maka geomorfologi adalah ilmu yang tepat
dalam mengkaji berbagai kenampakan bentuk muka bumi. Geomorfologi berasal dari kata
geomorf yang berarti bentuk lahan dan logos yang berarti ilmu. Jadi geomorfologi adalah
ilmu atau uraian mengenai bentuk muka bumi. Cooke (1974) mengatakan bahwa
geomorfologi adalah studi bentuk lahan dan proses-proses              yang mempengaruhi
pembentukannya dan menyelidiki hubungan antara bentuk dan proses dalam tatanan
keruangannya. Sedangkan menurut Verstappen (1983) geomorfologi merupakan ilmu
pengetahuan alam tentang bentuk lahan pembentuk muka bumi, baik di atas maupun di
bawah permukaan air laut dan menekankan pada asal mula dan perkembangan di masa
mendatang serta konteksnya dengan lingkungan. Berdasarkan pengertian-pengertian di atas
dapat disimpulkan bahwa geomorfologi mempelajari bentuk lahan muka bumi.

A. TENAGA ENDOGEN DAN EKSOGEN
    1) TENAGA ENDOGEN

    Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan
perubahan pada kulit bumi. Tenaga endogen ini sifatnya membentuk permukaan bumi
menjadi tidak rata. Mungkin saja di suatu daerah dulunya permukaan bumi rata (datar), tetapi
akibat tenaga endogen ini berubah menjadi gunung, bukit atau pegunungan. Pada bagian lain
permukaan bumi turun menjadikan adanya lembah atau jurang.Secara umum, tenaga endogen
dibagi dalam tiga jenis yaitu tektonisme, vulkanisme,dan seisme atau gempa.



                                                                                    2
     a.   Tektonisme
     Tektonisme adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan terjadinya
dislokasi (perubahan letak) patahan dan retakan pada kulit bumi dan batuan. Listofer
terpecah-pecah menjadi sekitar 12 lempeng. Dinamakan lempeng, karena bagian listofer itu
mempunyai ukuran yang besar di kedua dimensi horizontal (panjang dan lebar), tetapi
berukuran kecil pada arah vertical. Lempeng-lempeng itu masing-masing mempunyai gerak
pergeseran mendatar.
     Akibat arah pergeseran yang tidak sama, terjadi tiga jenis batas pertemuan antara
lempeng-lempeng itu, yaitu dua lempeng saling menjauh (divergent-junctions), dua lempeng
saling bertumbukan (subduction zones), dua lempeng saling berpapasan (transform fault).




a.   Di daerah dua lempeng saling menjauh terdapat beberapa fenomena, yaitu:
     1) Peregangan lempeng yang disertai tumbukan kedua tepi lempeng tersebut,
     2) Pembentukan tanggul dasar samudra (mid ocean ridge) di sepanjang tempat
          peregangan lempeng-lempeng tersebut,
     3) Aktivitas vulkanisme laut dalam yang menghasilkan lava basa berstruktur bantal dan
          dinamakan lava bantal serta hamparan lelehan lava yang encer, dan
     4) Aktivitas gempa.
     Daerah tanggul dasar samudera terdapat di tempat dua lempeng merenggang.
Terbentuknya tanggul itu akibat produk vulkanisme yang bertumpuk sepanjang celah.
Tanggul seperti itu terdapat di lautan Atlantik, memanjang dari dekat Kutub Utara sampai
mendekati Kutub Selatan. Celah itu menjadikan benua Amerika bergerak saling menjauh
dengan benua Eropa dan Afrika.
     Di Samudera Pasifik terdapat tanggul di bagian tenggara samudera ini, membujur ke
utara sampai ke Teluk California. Di bagian selatan Samudera Hindia, tanggul seperti itu
memanjang dari barat ke timur, mendorong lempeng dasar Samudera Hindia atau lempeng
Indo-Australia kea rah utara. Pergeseran lempeng tersebut mendorong anak benua India yang
berasal dari dekat Antartika hingga bertabrakan dengan lempeng benua Asia dan
menyebabkan pembentukan Pegunungan Himalaya.

                                                                                    3
b.   Di daerah dua lempeng saling bertumbukan
     Di daerah tumbukan dua lempeng terjadi beberapa fenomena, yaitu :
     1) Lempeng dasar samudera menunjam ke bawah lempeng benua
     2) Terbentuk palung laut di tempat tumbukan itu
     3) Pembengkakan tepi lempeng benua yang merupakan deretan pegunungan
     4) Terdapat aktivitas vulkanisme, intrusi, dan ekstrusi
     5) Merupakan daerah hiposentra gempa dangkal dan dalam
     6) Penghancuran lempeng akibat pergesekan lempeng
     7) Timbunan sedimen campuran yang dalam geologi dikenal dengan nama batuan
         bancuh atau mélange (Bahasa Perancis)
     Lempeng dasar samudera yang lebih tipis itu didesak ke bawah oleh lempeng benua yang
lebih tebal dan kaku. Di tempat ini terbentuk palung laut, yaitu dasar laut yang dalam dan
memanjang. Palung laut Aleut, Jepang, Guam, dan Mindanao (Mariana) merupakan tempat
lempeng dasar Samudera Pasifik yang menunjam ke bawah lempeng benua Asia. Palung
Jawa di sebelah selatan Pulau Jawa merupakan tempat pertemuan antra lempeng dasar
Samudera Hindia dengan lempeng benua Asia.
     Pegunungan di pantai barat Amerika, deretan pulau Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara
itu adalah akibat dari pembengkakan lempeng benua. Di sepanjang pegunungan dan pulau-
pulau itu bermunculan puncak gunung api. Di situ pula sering terjadi gempa bumi yang
kadang-kadang sangat kuat dan meminta korban.
     Di dasar palung itu terjadi perusakan lempeng benua akibat pergesekan dua lempeng dan
terjadi pula pengendapan batuan yang berasal dari laut dalam maupun yang diendapkan dari
darat. Endapan campuran itulah yang dinamakan batuan bancuh atau mélange itu. Bongkahan
lempeng benua yang hancur akibat pergesekan akan menambah campuran bancuh itu.
c.   Di daerah dua lempeng saling berpapasan/pergeseran mendatar
     Di daerah seperti itu terdapat aktivitas vulkanisme yang lemah disertai gempa yang tidak
kuat. Gejala pergeseran itu tampak pada tanggul                dasar samudera    yang tidak
berkesinambungan, melainkan terputus-putus. Tanggul dasar samudera di bagian tengah
Samudera Atlantik ternyata terputus-putus akibat dari pergeseran mendatar itu.
 Berdasarkan kecepatan gerak dan luas daerah, tektonisme dibedakan atas gerak
     orogenesa dan epirogenesa
     a) Gerak orogenesa adalah gerakan pada lapisan kulit bumi secara horizontal maupun
        vertikal akibat pengangkatan dan penurunan permukaan bumi yang terjadi sangat


                                                                                     4
     cepat dan meliputi wilayah yang sempit. Gerakan ini menyebabkan terbentuknya
     pegunungan seperti pembentukan deretan lipatan pegunungan muda Sirkum Pasifik.
   b) Gerak epirogenesa adalah gerakan pada lapisan kulit bumi secara horizontal maupun
     vertical akibat pengangkatan dan penurunan permukaan bumi yang terjadi sangat
     lambat serta meliputi wilayah yang sangat luas. Bila permukaan bumi bergerak turun,
     sehingga permukaan laut tampak seolah-olah naik, maka gerak epirogenesa disebut
     gerak epirogenesa positif. Contohnya terjadi di pantai Timor dan pantai Skandinavia.
     Sebaliknya gerak epirogenesa negatif terjadi apabila permukaan bumi naik, sehingga
     tampak seolah-olah permukaan air laut turun. Contohnya terjadi di Teluk Hudson.




                              Gambar 1.Gerak epirogenesa positif




                            Gambar 2.Gerak epirogenesa negative

 Proses Tektonisme Berdasarkan Bentuknya
   1) Lipatan (fold)

       Lipatan adalah suatu kenampakan yang diakibatkan oleh tekanan horizontal dan
   tekanan vertikal pada kulit bumi yang plastis, sehingga permukaan bumi mengalami
   pengerutan. Lapisan yang melengkung membentuk lipatan ke atas disebut punggung
   lipatan (antiklinal), sedangkan lapisan yang melengkung membentuk lipatan ke bawah
   disebut lembah lipatan (sinklinal). Lembah sinklinal yang sangat luas disebut
   geosinklinal. Daerah ladang minyak bumi di Indonesia umumnya terletak pada daerah
   geosinklinal yang oleh J.H.F Umgrove disebut idiogeosinklinal. Adakalanya sebuah
   daerah lipatan terjadi dari beberapa antiklinal dan sinklinal. Deretan semacam itu
   masing-masing disebut antiklinorium dan sinklinorium.

       Setelah mengalami pengikisan, sebuah antiklinal dapat menjadi puncak pegunungan
   yang berderet memanjang. Akan tetapi, sebuah antiklinal dapat pula menjadi lembah,

                                                                                 5
sedangkan sinklinal berubah menjadi puncak pegunungan. Gejala seperti ini dinamakan
pembalikan relief. Pembalikan relief terjadi akibat bagian puncak lipatan itu terdiri atas
batuan yang mudah dierosikan sementara batuan pada sinklinal lebih tahan terhadap
erosi, sehingga bertahan menjadi puncaak pegunungan.

    Kubah adalah hasil tenaga endogen yang terbentuk sebuah tonjolan yang dikelilingi
lembah. Sebaliknya, cekungan adalah bagian yang berbentuk lekukan yang dikelilingi
bagian yang lebih tinggi. Sebuah kubah dapat juga mengalami proses pembalikan relief.

     Lipatan (fold) terdiri atas berbagai bentuk, di antaranya sebagai berikut :

 Lipatan tegak (symmetrical fold), terjadi karena pengaruh tenaga radial, kekuatannya
  sama atau seimbang dengan tenaga tangensial.
 Lipatan miring (asymmetrical fold), terjadi karena arah tenaga horizontal tidak sama
  atau tenaga radial lebih kecil daripada tenaga tangensial.
 Lipatan rebah (overturned fold), terjadi karena tenaga horizontal berasal dari satu
  arah.
 Lipatan menutup (recumbent fold), terjadi karena hanya tenaga tangensialsaja yang
  bekerja.
 Sesar sungkup ( overthrust ), terjadi karena adanya pergerakan pada sepanjang kerak
  bumi




2) Patahan

    Patahan adalah gejala retaknya kulit bumi yang tidak plastis akibat pengaruh tenaga
horizontal dan tenaga vertical yang relatif cepat. Daerah retakan seringkali mempunyai
bagian-bagian yang terangkat atau tenggelam. Jadi, selalu mengalami perubahan dari
keadaan semula, kadang bergeser dengan arah mendatar, bahkan mungkin setelah terjadi
retakan, bagian-bagiannya tetap berada di tempatnya. Sebuah patahan dicirikan oleh
bidang pergeseran (escarpment). Ada beberapa jenis patahan yaitu :


                                                                                   6
 Tanah naik ( horst ) yaitu daratan yang terletak lebih tinggi dari daerah sekelilingnya.
    Horst terjadi akibat gerak tektogenesa horizontal memusat, yaitu tekanan dari dua
    arah atau lebih yang menimbulkan kerak bumi terdorong naik.




 Tanah turun ( graben atau slenk ) yaitu kenampakan daratan yang letaknya lebih
    rendah dari daerah di sekelilingnya. Graben terjadi karena tarikan dari dua arah yang
    mengakibatkan kerak bumi turun.




   Sesar yaitu patahan yang diakibatkan oleh gerak horizontal yang tidak frontal dan
    hanya sebagian saja yang bergetar. Sesar ini dibagi menjadi 2, yaitu desktral dan
    sinistral. Desktral yaitu jika kita berdiri di depan potongan sesar, potongan itu akan
    bergeser ke kanan. Sinistral yaitu jika kita berdiri di depan potongan sesar, potongan
    itu akan bergeser ke kiri. Sesar termasuk juga patahan (kecuali sesar sungkup yang
    termasuk lipatan). Sesar terjadi karena pergerakan kerak bumi.




   Blok mountain yaitu kumpulan pegunungan yang terdiri atas beberapa patahan. Blok
    mountain terjadi akibat tenaga endogen yang berbentuk retakan-retakan di suatu
    daerah.




                                                                                  7
Akibat Dari Patahan dan Lipatan Dapat Membentuk Keragaman Muka Bumi

   a) Pegunungan adalah kumpulan dari gunung-gunung yang membentuk permukaan
        bumi seolah-olah bergelombang dengan lembah dan lekukan di antara gunung-
        gunung tersebut. Kita mengenal pegunungan lipatan dan pegunungan patahan.
   b) Dataran tinggi adalah daerah datar yang berada pada ketinggian di atas 700 m.
        Dataran ini bisa terbentuk dari daratan rendah yang mengalami pengangkatan
        dengan bentuk datar
   c) Plato atau plateau adalah permukaan bumi yang berupa dataran tinggi dengan
        bagian atas relative rata dan telah mengalami erosi.
   d) Depresi adalah bagian permukaan bumi yang mengalami penurunan.Bentuk depresi
        yang memanjang disebut slenk, sedangkan yang membulat disebut basin. Misalnya
        depresi Jawa Tengah.
   e) Palung laut adalah bagian luar bumi yang terdapat di dasar laut dengan kedalaman
        lebih dari 5000 m. Bentuknya memanjang dan sempit sebagai akibat dari proses
        penenggelaman terus-menerus. Seperti palung laut Mindanau
   f)   Lubuk laut adalah bagian luar bumi yang terdapat di dasar laut yang membulat
        dengan kedalaman lebih dari 5000 m. Misalnya Lubuk Laut Sulu.
   g) Punggung laut adalah suatu bukit di dasar laut, sebagian dari punggung laut ada
        juga yang muncul ke permukaan air laut. Seperti Punggung Laut Sibolga.
   h) Ambang laut adalah pembatas pada dasar laut yang memisahkan dua laut dalam.
        Misalnya Selat Gilbatar.
   i)   Shelf adalah bagian laut yang dalamnya kurang dari 200 m. Misalnya Shelf Laut
        Jawa.
   b. Vulkanisme




        Vulkanisme adalah segala aktivitas magma dari lapisan dalam litosfer yang bergerak
   ke lapisan yang lebih atas atau sampai keluar ke permukaan bumi. Gerakan magma itu



                                                                                   8
terjadi karena mengandung gas yang merupakan sumber tenaga magma untuk menekan
batuan di sekitarnya.
 Magma dan Aktivitasnya
    Magma ialah batuan cair pijar bersuhu tinggi di dalam kulit bumi yang terjadi dari
berbagai mineral dan mengandung gas yang larut di dalamnya. Magma terjadi akibat
adanya tekanan di dalam bumi yang sangat besar. Walaupun suhunya cukup tinggi, tetapi
batuan tetap padat. Jika terjadi pengurangan tekanan, misalnya adanya retakan,
tekanannya pun akan menurun sehingga batuan tadi menjadi cair pijar atau disebut
magma.
    Di dalam litosfer, magma menempati suatu kantong yang dinamakan dapur magma.
Kedalaman dan besar dapur magma itu sangat bervariasi. Ada dapur magma yang
letaknya sangat dalam, ada pula yang dekat dengan permukaan bumi. Perbedaan letak ini
merupakan penyebab perbedaan kekuatan letusan yang terjadi. Pada umumnya, dapur
magma yang dalam menimbulkan letusan yang lebih kuat daripada yang letaknya lebih
dangkal. Besar dan kecilnya volume dapur magma berpengaruh terhadap lamanya
aktivitas gunung api yang bersumber dari magma tersebut.
    Seperti batuan beku, magma juga dapat dibedakan berdasarkan perbedaan susunan
mineral yang dikandung magma tersebut, antara lain (1) magma asam yaitu yang banyak
mengandung kuarsa (SiO2) ;(2) magma basa yaitu yang kurang mengandung kuarsa.
Basa berwarna lebih tua daripada yang asam karena mengandung banyak mineral yang
berwarna tua, seperti muskovit dan biotit. Contoh magma yang asam ialah granit dan
diorite, yang basa ialah gabro dan basalt.
    Magma bisa bergerak ke segala arah, bahkan bisa sampai ke permukaan bumi.
Pergerakan magma dibedakan menjadi 2, yaitu :
 Intrusi magma adalah aktivitas magma di dalam lapisan litosfera, memotong atau
    menyisip litosfer dan tidak mencapai permukaan bumi.
 Ekstrusi magma adalah magma yang keluar melalui sebuah saluran magma dan
    membentuk gunung-gunung , dari ektrusi magma ini akan melahirkan gunung api.
 Intrusi Magma
    Dari dapur magma dengan kekuatan tekanan gas dan kemampuan melarutkan batuan
yang bersinggungan, magma bergerak ke lapisan lain. Arah ke lapisan di atasnya atau ke
lapisan yang lebih lunak. Gerakan magma juga dapat terjadi karena mendapatkan
bantuan dari retakan-retakan pada batuan di sekitarnya. Retakan itu mungkin terjadi
akibat tekanan gas magma itu sendiri mungkin pula karena tektonisme atau gempa.
                                                                               9
    Aktivitas magma di dalam lapisan litosfer yang memotong atau menyisip di antara
lapisan-lapisan litosfer, tetapi tidak mencapai permukaan bumi dinamakan plutonisme
atau intrusi magma.
    Intrusi magma itu menghasilkan bentukan-bentukan :
   Batolit, yaitu batuan beku yang terbentuk di dalam dapur magma karena penurunan
    suhu yang sangat lambat
   Lakolit, yaitu atuan beku yang berasal dari resapan magma di antara dua lapisan
    litosfer dan membentuk bentukan seperti lensa cembung
   Keping intrusi atau sills, yaitu sisipan magma yang membeku di antara dua lapisan
    litosfer, relative tipis, dan melebar
   Gang atau dikes, yaitu batuan hasil intrusi magma yang memotong lapisan-lapisan
    litosfer dengan bentuk pipih atau lempeng
   Apofisis, yaitu gang yang relative kecil merupakan cabang gang
   Diatrema, yaitu batuan pengisi pipa letusan berbentuk silinder mulai dari dapur
    magma sampai ke permukaan bumi.




    Bentukan intrusi magma itu bergantung pada jenis magmanya, yang merupakan
sumber mineral mempunyai arti ekonomis. Bahan galian logam kebanyakan terdapat di
dalam batuan intrusi atau pada batuan litosfer di sekitar intrusi magma, karena
mengalami metamorphosis

 Ekstrusi Magma

    Vulkanisme dalam arti sempit berarti ekstrusi magma. Dari dapur magma melalui
diatrema, magma menyusup ke atas sampai ke permukaan bumi. Proses keluarnya
magma itu dinamakan letusan atau erupsi. Erupsi dibedakan menjadi 2 yaitu erupsi
leleran (efusif) dan erupsi ledakan (eksplosif).

    Ciri erupsi efusif adalah adanya leleran lava di permukaan bumi, sedangkan pada
erupsi eksplosif disemburkan butiran magma yang kemudian menjadi padat dan

                                                                              10
dinamakan eflata atau piroklastika. Adapun tenaga pendorong erupsi itu adalah gas
magmatic.

    Ada 3 macam benda vulkanik, yaitu :

1) Benda Cair, terdiri dari :
        Lava, yaitu magma yang telah meleleh di permukaan bumi
        Lahar panas, yaitu leleran lumpur panas yang terjadi dari magma bercampur air,
         airnya berasal dari danau kapundan
        Lahar hujan/dingin, yaitu aliran lumpur yang terjadi dari efflata yang
         dihanyutkan aliran air hujan di lereng gunung.
2) Benda padat yaitu efflata atau piroklastika. Menurut besar butirnya ada beberapa
    macam efflata dari yang besar sampai yang kecil, yaitu bom, lapili, kerikil vulkanik,
    dan abu vulkanik. Batu apung juga termasuk efflata yaitu batuan berongga yang
    berasal dari buih magma dengan cepat membeku pada saat buih itu terlempar ke atas
    Menurut bahan asal pembentuknya eflata dibagi 2, yaitu :
        Efflata otogen, bahannya dari magma yang terlempar ke atas pada saat erupsi
         dan kemudian membeku
        Eflata alogen, bahannya berasal dari batuan litosfer pada dinding diatrema yang
         terbawa keluar oleh erupsi eksplosif
3) Yang berbentuk gas, di antaranya
        solfatar, yaitu gas belerang (H2S) yang keluar dari lubang
        fumarol, yaitu tempat yang mengeluarkan uap air(H2O)
        mofet, yaitu tempat yang mengeluarkan gas asam arang (CO2), seperti
         pegunungan Dieng dan gunung Tangkuban Perahu
    Ekstrusi magma inilah yang menyebabkan terjadinya gunung api. Ekstrusi magma
tidak hanya terjadi di daratan, tetapi juga bisa terjadi di lautan. Oleh karena itu, gunung
berapi bisa terjadi di dasar lautan.
    Berdasarkan bentuk lubang tempat erupsi, dapat dibedakan tiga macam erupsi, yaitu:
1) Erupsi linier, terjadi jika magma keluar lewat celah-celah retakan atau patahan
    memanjang sehingga membentuk deretan gunung berapi. Misalnya Gunung Api
    Lakidi Eslandia, dan deretan gunung api di Jawa Tengah dan Jawa Timur.




                                                                                   11
2) Erupsi areal, terjadi apabila letak magma dekat dengan permukaan bumi, sehingga
    magma keluar meleleh di beberapa tempat pada suatu areal tertentu. Misalnya Yel-
    low Stone National Park di Amerika Serikat yang luasnya mencapai 10.000 km
3) Erupsi sentral, terjadi magma keluar melalui sebuah lubang (saluran magma) dan
    membentuk gunung-gunung yang terpisah. Misalnya Gunung Krakatau, Gunung
    Vesucius, dan lain-lain.




    Berdasarkan sifat erupsi dan bahan yang dikeluarkannya, ada 3 macam gunung
berapi sentral, yaitu:




    a.   Gunung Api Perisai
         Gunung api ini terjadi karena magma yang keluar sangat encer. Magma yang
         encer ini akan mengalir ke segala arah sehingga membentuk lereng sangat
         landai. Ini berarti gunung ini tidak menjulang tinggi, tetapi melebar. Sudut
         kemiringan lereng antara 1-10°C. Contohnya: Gunung Maona Loa dan Maona
         Kea di Kepulauan Hawaii.
    b.   Gunung Api Maar
         Gunung api ini terjadi akibat adanya letusan eksplosif. Bahan yang dikeluarkan
         relatif sedikit, karena sumber magmanya sangat dangkal dan sempit. Gunung
         api ini biasanya tidak tinggi dan terdiri dari timbunan bahan padat (efflata). Di
         bekas kawahnya seperti sebuah cekungan yang kadang-kadang terisi air dan
         tidak mustahil menjadi sebuah danau. Misalnya Danau Klakah di Lamongan
         atau Danau Eifel di Prancis.

                                                                                  12
    c.   Gunung Api Strato
         Gunung api ini terjadi akibat erupsi campuran antara eksplosif dan efusif yang
         bergantian secara terus menerus. Hal ini menyebabkan lerengnya berlapis-lapis
         dan terdiri dari bermacam-macam batuan. Gunung api inilah yang paling banyak
         ditemukan di dunia termasuk di Indonesia. Misalnya gunung Merapi, Semeru,
         Merbabu, Kelud, dan lain-lain
   Tipe Letusan




    Berdasarkan kedalaman dapur magma, volume dapur magma, dan kekuatan tekanan
magmatic dihasilkan bermacam-macam tipe letusan, antara lain :
a) Tipe Hawaii
    Lava yang keluar sangat cair, sehingga mengalir ke segala arah. Contohnya : letusan
    di gunung api kepulauaan Hawaii, seperti Kilauea dan Mauna Loa
b) Tipe Stromboli
    Kekentalan magma sama dengan tipe Hawaii, hanya dapur magma lebih dalam dan
    tekanan gas lebih tinggi. Tipe ini menunjukkan letusan gas yang tidak begitu kuat,
    tapi terus-menerus dan banyak melemparkan efflata. Contohnya : Vesuvius (Italia)
    dan Stromboli (gunung api laut di lepas pantai Italia)
c) Tipe Vulkano
    Dengan magma cair kental dan dapur magma yang bervariasi dari dangkal sampai
    dalam, sehingga tekanannya sedang sampai tinggi. Tipe ini merupakan tipe letusan
    gunung api pada umumnya. Dalam perkembangannya hampir semua gunung api
    strato melalui tipe ini. Letusannya terdiri atas hembusan gas magmatic dengan om,
    lapili, dan abu vulkanik. Di atas hasil letusan itu terbentuk awan kol bunga,
    sementara dari lubang kepundan keluar leleran lava. Letusan gunung Bromo, Raung,
    dan Semeru termasuk tipe volcano lemah. Etna dan Vesivius pada suatu periode
    termasuk tipe volcano kuat.


                                                                               13
d) Tipe Perret
    Dengan kekentalan yang sama dengan tipe volcano, tetapi magma yang sangat
    dalam dan tekanan gas yang sangat tinggi, lahirlah tipe letusan yang paling dahsyat
    pada zaman historis, yaitu tipe Perret. Ciri utama tipe ini ialah letusan tiangan (fase)
    gas yang sangat tinggi dan dihiasi awan kol bunga di ujungnya. Letusan Krakatau
    1883 merupakan tipe yang paling kuat dengan fase gas setinggi 50 km. Letusan
    Vesuvius tahun 1906 juga tipe ini dengan fase gas setinggi 10 km dan akibatnya
    pernah menimbuni kota Pompei.
e) Tipe Merapi, St Vincent, dan Mt Pelee
        Ketiganya merupakan tipe letusan dengan magma yang kental, berturut-turut
    dari tekanan gas yang rendah ke tinggi. Ciri utama dari ketiga tipe ini adalah sumbat
    lava yang menutupi lubang kepundan. Hal itu terjadi karena magma kental segera
    membeku pada saat mencapai permukaan gunung api. Akibatnya letusan yang
    terjadi berupa awan pijar (nuee ardente) bersuhu tinggi yang meluncur di lereng
    gunung diikuti lawina pijar, yaitu pecahan sumbat lava yang masih panas berguling-
    guling di lereng itu.
        Gunung Merapi di Jawa Tengah termasuk salah satu kelompok ini, lawina pijar
    yang tertimbun di lerengnya menyebabkan aliran lahar hujan/dingin setiap tahun. St
    Vincent (1902) dan Kelud (1919) mengalirkan lahar panas dan meminta banyak
    korban.
        Mt Pelee di pulau Martinique (1902-1903) mengeluarkan awan pijar bersuhu
    200°C, meluncur sampai ke kota St Pierre yang berjarak 6 km dalam waktu 40 detik.
    Dalam sekejap kota itu berubah menjadi kota mati.
    Tanda-tanda akan terjadi letusan gunung api adalah sebagai berikut:

 Kenaikan suhu udara disekitar gunung secara drastis.
 Sering terjadi gempa sebagai aktivitas gunung api.
 Bau belerang lebih menyengat dari biasanya.
 Tumbuhan disekitar gunung pada layu.
 Munculnya uap air panas.
 Karbondioksida muncul lebih berlebihan.
   Gejala Pasca Vulkanis
    Gunung api melakukan aktivitasnya mulai kegiatan yang lemah, meningkat ke lebih
kuat,sampai pada suatu waktu mencapai puncaknya yaitu letusan. Namun sebuah gunung

                                                                                    14
api akhirnya akan berhenti dari kegiatannya. Gunung api seperti ini biasanya dinyatakan
telah mati.Gunung api yang dinyatakan mati bukan berarti hilang seluruh kegiatannya.
Di sini magmadalam periode pendinginan, masih tetap menunjukkan sisa kegiatannya.
Kegiatan itu sering disebut gejala pasca vulkanis. Pasca vulkanis ini dapat dibedakan
dalam beberapa bentuk gejala antara lain sumber gas, sumber air panas, sumber air
mineral (mahdani),dan geyser.
a.   Sumber gas
     Gas yang dikeluarkan bisa berupa sumber gas belerang (solfatar), sumber gas uap
air atau fumarol, dan sumber gas asam arang atau disebut mofet. Gas belerang banyak
ditemukan di kepundan gunung api. Sumber uap air (fumarol) yang keluar dengan
tekanan tinggi dikenal sebagai tenaga geotermal. Sumber uap air ini bisa digunakan
untuk pembangkit tenaga listrik, misalnya di Kamojang Jawa Barat, Dieng Jawa Tengah,
dan lain-lain. Sedangkan gas asam arang sangat berbahaya karena dapat mematikan
mahluk hidup. Sumber gas asam arang dapat muncul sembarang waktu di kepundan
gunung api manapun. Oleh karena itu, biasanya petugas Dinas Pengawasan Gunung Api
dari posnya di sekitar gunung, bisa memantau secara terus menerus kegiatan gunungapi
tersebut,sehingga   dapat   memperingatkan     penduduk    setempat   ketika   gunung
mengeluarkan gas beracun tersebut. Namun ada kalanya gas racun ini keluar secara tiba-
tiba ,seperti yang terjadi tahun 1979 di kawah Timbangan dan Nila Dieng Jawa Tengah
yang menewaskan sekitar 149 jiwa.
b.   Sumber air panas
     Air tanah berasal dari hujan yang meresap ke dalam tanah. Begitu pula di gunung
api, air hujan meresap ke dalam bergerak ke bagian yang lebih dalam dan mendekati
batuan yang masih panas (sisa kegiatan vulkanis). Akibatnya air menjadi panas,bahkan
sampai mendidih. Melalui celah-celah batuan di bagian bawah air itu keluar sebagai mata
air panas.Misalnya, sumber air panas di Garut dan Cianjur Jawa Barat, Baturaden Jawa
Tengah, Tretes Jawa Timur, dan di tempat lainnya.
c.   Sumber air mineral
     Seperti halnya sumber air panas, sumber air mineral terjadi karena pemanasan air
oleh sisa kegiatan vulkanik. Namun, dalam sumber air ini terlarut zat kimia produk
gunung api, sehingga air itu mengandung belerang atau zat kimia lain. Sumber air
mineral ini banyak ditemukan di daerah sekitar gunung api yang aktif atau yang sudah
istirahat, misalnya di Maribaya dan Ciater sekitar gunung Tangkuban Perahu Jawa Barat.


                                                                                15
d.   Geyser
     Geyser adalah sumber mata air panas yang memancar secara berkala. Geyser terjadi
karena gas panas yang asalnya dari batuan magma memanaskan bagian bawah air yang
terdapat dalam celah di dalam bumi. Uap air yang terjadi tidak dapatmengadakan
sirkulasi sampai ke permukaan bumi sehingga terjadilah akumulasi uap air setempat.
Ketika ada jalan keluar ke permukaan bumi terjadilah pancaran air dengan suhu yang
cukup tinggi. Contoh geyser yang sangat terkenal terdapat di Yellow Stone National Park
California Amerika Serikat.
    Manfaat Vulkanisme
     Kegiatan gunung berapi memiliki banyak manfaat bagi mahluk hidup, khususnya
manusia. Manfaat tersebut di antaranya:
a) Menyuburkan tanah
     Penduduk Indonesia sebagian besar berada di pulau Jawa. Salah satu alasannya
adalah pulau Jawa tanahnya subur. Kesuburan tanah ini diakibatkan oleh banyaknya
gunung api yang terdapat di pulau Jawa. Ini salah satu manfaat kegiatan vulkanisme.
Gunung api bisa menyuburkan tanah karena ketika gunung meletus banyak
mengeluarkan abu. Abu vulkanik ini pada awalnya menutupi daerah pertanian dan
merusak tanaman yang ada. Namun, dalam jangka waktu setahun atau dua tahun saja,
tanah ini menjadi jauh lebih subur. Kesuburan ini dapat bertahan lama bahkan bisa
puluhan tahun. Selain itu, tanah hancuran bahan vulkanik sangat banyak mengandung
unsur hara yang menyuburkan tanah.
b) Bahan galian
     Bahan galian yang sangat berharga banyak dihasilkan gunung api. Pada saat gunung
api masih aktif dihasilkan bahan galian, seperti : belerang, pasir, batu bangunan,tras, batu
apung, dan sebagainya. Sedangkan pada saat gunung api yang istirahat dapat dihasilkan
bahan tambang, seperti : emas, perak, besi, timah, marmer, danlainnya. Di samping itu,
banyak pula batuan malihan akibat persinggungan magma dengan mineral tertentu,
sehingga terbentuk cadangan mineral baru yang lebih berharga, seperti tembaga, batu
pualam, dan kokas.
c) Obyek wisata
     Memang gunung api bisa menjadi obyek wisata alam yang menarik. Di sini kita bisa
menyaksikan kepundan yang menarik, pemandangan yang indah, hawa yang sejuk dan
segar, aroma bau belerang, atau keanehan dan keindahan lain yanghanya bisa ditemukan
di sekitar gunung api.
                                                                                    16
d) Penangkap air hujan
     Gunung api juga bermanfaat sebagai penangkap hujan yang baik. Dengan tanahnya
yang subur, berakibat pada tumbuh suburnya berbagai tumbuhan dan hutan yang lebat.
Ini berarti gunung berapi menjadi tempat reservoir air tanah yang sangat baik. Hutan
lebat ini bisa menghasilkan mata air yang sangat berguna terutama sebagai sumber air di
musim kemarau. Sedangkan musim hujan, hutan dapat menyerap airdan menahan
erosi/longsor sehingga dapat mencegah terjadinya banjir. Selain memberikan manfaat,
ternyata vulkanisme juga membawa permasalahan.
    Permasalahan Vulkanisme
     Pengaruh kegiatan vulkanisme selain yang menguntungkan tadi, ternyata bisa
menimbulkan masalah terutama terhadap lingkungan di sekitarnya. Gunung api
khususnya saat meletus dapat membahayakan dan mengancam jiwa. Bahaya tersebut di
antaranya:
1) Pada waktu terjadi letusan, semburan lapili, dan pasir panas dapat merusak
     bangunan, lahan pertanian, tanaman, bahkan hewan di sekitar gunung api. Abu
     vulkanik yang bisa menyebar secara luas juga dapat mengganggu dan
     membahayakan penerbangan. Aliran lava dan lahar panas dapat merusak bangunan
     dan lahan pertanian yang dilaluinya.
2) Gas beracun yang dikeluarkan pada saat erupsi dapat mengancam makhluk hidup
     termasuk manusia. Misalnya pada saat letusan kawah Timbangan dan Sinila tahun
     1979, sekitar 149 jiwa manusia meninggal akibat menghirup gas beracun
3) Bahan yang dikeluarkan gunung berapi biasanya menumpuk di puncak dan lereng-
     lereng gunung. Pada waktu hujan, bahan-bahan ini terbawa oleh air hujan menjadi
     lahar dingin. Lahar dingin akan merusak daerah yang dilaluinya, seperti sungai,
     lahan pertanian, rumah, dan lain-lain. Misalnya lahar dingin gunung Merapi di Jawa
     Tengah sering melanda daerah Magelang dan Yogyakarta.
c.   Seisme (Gempa)

     Gempa terjadi akibat getaran kulit bumi yang disebabkan oleh kekuatan dari dalam
bumi. Kerak bumi ini merupakan lempengan yang kaku. Di daerah yang labil, lapisan
litosfer ini mengalami perubahan letak. Misalnya di satu bagian terangkat ke atas,
sedangkan di bagian sebelahnya menurun atau bertahan pada kedudukannya.
Pelengkungan pada perbatasan antara dua bagian yang bergeser ini menimbulkan
ketegangan yang lama-kelamaan akan patah yang mendadak. Patahan yang mendadak

                                                                                17
itulah yang menimbulkan getaran gempa. Gempa bumi yang paling parah biasanya
terjadi di perbatasan lempengan kompresional dan transional. Gempa bumi fokus dalam
kemungkinan besar terjadi karena materi lapisan litosfer yang terjepit ke dalam
mengalami transisi fase ke dalam lebih dari 600 km.

    Ada tiga macam gelombang gempa, antara lain :

   Gelombang longitudinal, yaitu gelombang gempa yang merambat dari sumber
    gempa ke segala arah dengan kecepatan 7-14 km per detik. Gelombang ini pertama
    dicatat dengan seismograf dan pertama kali dirasakan orang di daerah gempa,
    sehingga juga disebut gelombang primer. Kemudian, gelombang longitudinal diikuti
    oleh gelombang transversal.
   Gelombang transversal, yaitu gelombang yang sejalan dengan gelombang primer
    dengan kecepatan 4-7 km per detik, dinamakan juga gelombang sekunder.
   Gelombang panjang atau gelombang permukaan, yaitu gelombang gempa yang
    merambat di permukaan bumi dengan kecepatan sekitar 3,5-3,9 km per detik.
    Gelombang inilah yang banyak menimbulkan kerusakan.
    Indonesia adalah daerah pertemuan rangkaian Mediterania dan rangkaian Sirkum
Pasifik dengan proses pembentukan pegunungan yang masih berlangsung. Itu sebabnya
di Indonesia banyak terjadi gempa bumi.
    Pusat gempa di dalam bumi disebut hiposentrum. Dari hiposentrum ini getaran
diteruskan ke segala arah. Jika penyebabnya patahan kerak bumi, maka hiposentrumnya
berbentuk garis. Akan tetapi, jika gunung api atau tanah roboh, hiposentrumnya
berbentuk titik. Dari hiposentrum gelombang primer dan sekunder dirambatkan ke segala
arah. Persebaran hiposentrum gempa di bumi seletak dengan pertemuan dua lempeng
kerak bumi, terutama di tempat penujaman dan pemekaran dasar samudera. Tempat
hiposentrum ada yang dalam sekali dan ada yang dangkal. Di Indonesia terdapat
hiposentrum yang dalamnya lebih 500 km. Contohnya di bawah laut Flores yang
dalamnya ± 720 km.

    Pusat gempa pada permukaan bumi di atas hiposentrum disebut episentrum. Pada
episentrum getaran gempa pertama kali muncul ke permukaan bumi. Dari episentrum
getaran permukaan mulai dirambatkan secara horizontal ke segala arah. Kerusakan
terbesar terdapat di sekitar daerah episentrum. Di Indonesia, episentrum kebanyakan



                                                                              18
terdapat di bawah permukaan laut, sehingga kerusakan yang terjadi di daratan tidak
begitu besar. Setelah ada gempa, daerah-daerah yang mengalami getaran dapat dipetakan.

    Pada peta gempa ada beberapa macam garis yang disebut :
1) Pleistoseista, yaitu garis yang mengelilingi daerah yang mendapat kerusakan
    terhebat dari gempa bumi. Pleistoseista ini mengelilingi episentrum, sebab daerah di
    sekitar episentrum mengelilingi mengalami kerusakan yang terhebat. Isoseista yang
    pertama juga merupakan pleistoseista.
2) Isoseista, yaitu garis yang menghubungkan tempat-tempat di permukaan bumi yang
    menderita kerusakan yang sama akibat sebuah gempa. Garis tersebut biasanya
    berbentuk lingkaran atau elips sekitar episentrum. Kadang dapat juga isoseista
    berbentuk garis patah, karena perbedaan kepadatan batuan pada kerak bumi yang
    dilalui gelombang gempa. Setiap isoseista diberi angka Romawi. Jarak terdekat
    dengan episentrum diberi angka paling besar, berangsur mengecil ke arah luar.
3) Homoseista, yaitu garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat di
    permukaan bumi yang mencatat gelombang primer pada waktu yang sama.
    Homoseista kebanyakan berbentuk lingkaran atau elips. Oleh karena itu, dengan tiga
    tempat yang terletak pada satu homoseista kita dapat menentukan letak episentrum.
   Istilah-Istilah Yang Berkaitan Dengan Gempa Bumi
1) Seismologi adalah ilmu yang mempelajari gempa bumi
2) Seismograf adalah alat pencatat gempa
3) Seismogram adalah gambaran getaran bumi yang dicatat oleh seismograf dalam
    bentuk garis patah-patah. Semakin lama getaran sampai di tempat, semakin panjang
    pita seismograf menggambarkan seismogram.
   Klasifikasi Gempa
 Berdasarkan faktor penyebabnya, gempa ada tiga macam yaitu:
    1.   Gempa tektonik merupakan jenis gempa yang terkuat dan bisa meliputi wilayah
         yang luas. Gempa tektonik disebabkan oleh gerak tektonik yang merupakan
         akibat dari gerak orogenetik. Daerah yang seringkali mengalami gempa tektonik
         adalah daerah pegunungan lipatan muda, yaitu rangkaian Pegunungan
         Mediterania dan Sirkum Pasifik. Bahaya gempa ini sangat besar sekali sebab
         akibat gempa yang timbul, tanah dapat mengalami retakan, terbalik bahkan
         dapat bergeser. Karena gempa ini selalu mengakibatkan perpindahan tanah,
         maka gempa ini disebut gempa dislokasi. Gempa bumi tektonik yang bersumber

                                                                                19
        dari di dasar laut, biasanya sering diikuti dengan gelombang besar atau yang
        sering disebut dengan tsunami, semakin besar gempa bumi semakin besar pula
        kemungkinan timbul tsunami.
   2.   Gempa vulkanik yaitu gempa yang terjadi sebelum atau pada saat gunung berapi
        meletus. Apabila gunung api akan meletus, maka timbulah tekanan gas dari
        dalam. Tekanan ini menyebabkan terjadinya getaran yang kita sebut gempa
        bumi. Gempa ini hanya terasa di daerah sekitar gunung berapi, sehingga tidak
        begitu kuat jika dibandingkan dengan gempa tektonik. Bahaya gempa ini relatif
        kecil, tetapi sangat terasa di sekitarnya.
   3.   Gempa runtuhan yaitu gempa yang terjadi akibat runtuhnya atap gua yang
        terdapat di dalam litosfer, seperti gua kapur atau terowongan tambang. Pada
        umumnya di pegunungan kapur terdapat gua yang disebabkan oleh korosi. Jika
        gua atau lubang tersebut runtuh, maka timbullah gempa bumi. Gempa ini relatif
        lemah dan hanya terasa di sekitar tempat runtuhan terjadi. Namun, bahaya yang
        ditimbulkangempa bumi ini relatif kecil
 Berdasarkan intensitasnya, gempa dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
   1.   Macroseisme, yaitu gempa yang intensitasnya besar dan dapat diketahui tanpa
        alat
   2.   Microseisme, yaitu gempa yang intensitasnya kecil sekali dan hanya dapat
        diketahui dengan menggunakan alat saja
 Berdasarkan letak terjadinya, gempa dibedakan menjadi 2 macam,yaitu :
   1.   Gempa episentrum yaitu gempa yang terjadi di tepi kerak / lempeng samudra
        maupun lempeng benua.
   2.   Gempa hiposentrum yaitu gempa yang terjadi pada kedalaman tertentu pada
        lempeng samudra maupun lempeng benua.
 Berdasarkan letak kedalaman hiposentrumnya dibedakan menjadi tiga macam
   gempa, yaitu :
   1.   Gempa dangkal, yaitu gempa yang kedalaman hiposentrumnya kurang dari 60
        km.
   2.   Gempa intermediet / menengah, yaitu gempa yang kedalaman hiposentrumnya
        antara 60 - 300 km.
   3.   Gempa dalam, yaitu gempa yang kedalaman hiposentrumnya lebih dari 300 km




                                                                              20
 Berdasarkan bentuk episentrumnya, dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
      1.   Gempa linier yaitu episentrumnya berupa garis. Contohnya, gempa tektonik
           karena patahan.
      2.   Gempa sentral yaitu episentrumnya berbentuk suatu titik. Contohnya, gempa
           vulkanik dan gempa runtuhan.
 Berdasarkan jarak episentrumnya, gempa dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :
      1.   Gempa setempat/lokal memiliki jarak episentrum kurang dari 10.000 km.
      2.   Gempa jauh memiliki jarak episentrum sekitar 10.000 km.
      3.   Gempa sangat jauh memiliki jarak episentrum sekitar 10.000 km
 Berdasarkan letak episentrumnya, gempa dapat dibedakan menjadi dua macam,
      yaitu :
      1.   Gempa laut memiliki letak episentrum di dasar laut atau permukaan laut
      2.   Gempa darat memiliki letak episentrum di daratan.
     Lokasi Episentrum
      Lokasi episentrum (pusat gempa) pada suatu tempat dapat ditentukan dengan
menggunakan beberapa cara, antara lain :
 Menggunakan tiga tempat yang terletak pada satu homoseista.
 Menggunakan tiga seismograf yang ditempatkan pada sebuah stasiun gempa.
 Menggunakan tiga tempat yang telah diketahui jarak episentralnya. Jika dari stasiun A
     diketahui jaraknya adalah XA, dari stasiun B adalah XB, dan dari stasiun C adalah XC.
     Dengan titik A, B, dan C sebagai pusat lingkaran, dibuat lingkaran yang masing-
     masing beradius XA, XB, dan XC. Ketiga lingkaran itu berpotongan di sebuah titik.
     Maka titik itu merupakan episentrum yang dicari.

Jarak episentral dapat dihitung dengan menggunakan rumus Hukum Laska.

     D = {(S – P) – 11} x 1 Megameter
Keterangan:
D                  : Jarak episentral

S-P                 : Selisih waktu antara gelombang primer dan sekundernya yang dicatat
                   pada seismograf dalam satuan menit.

11                 : Satu menit merupakan pengurangan tetap.
1 megameter        : 1.000 kilometer.


                                                                                    21
   Alat Pencatat Gempa (Seismograf)

    Getaran gempa itu ada yang horizontal dan ada yang vertical, sehingga alat
pencatatnya juga ada dua macam, yaitu :

1) Seismograf Horisontal
          Seismograf horisontal terdiri atas massa stasioner yang digantung pada tiang
    dan dilengkapi engsel di tempat massa itu digantungkan serta jarum di bagian
    bawah massa itu. Jika ada gempa, massa itu tetap diam (stasioner), sekalipun tiang
    serta silinder dibawahnya ikut bergetar dengan bumi. Akibatnya, terdapat goresan
    pada silindir berlapis jelaga. Goresan pada silinder itu terbentuk garis patah yang
    dinamakan seismogram.
2) Seismograf Vertikal
          Pada seismograf vertikal, massa stasioner digantungkan pada pegas, gunanya
    untuk menormalkan gravitasi bumi. Pada waktu getaran vertikal berlangsung, tempat
    massa itu digantung serta silinder alat pencatat ikut bergoyang, namun massa tetap
    stasioner, sehingga terdapat seismogram pada alat pencatat.
          Di sebuah stasiun gempa dipasang dua seismograf horizontal yang masing-
    masing berarah timur-barat dan utara-selatan. Dengan dua seismograf ini tercatat
    getaran berarah timur-barat dan selatan-utara, sehingga dari resultannya orang dapat
    menentukan arah episentrum. Dibantu oleh sebuah seismograf vertikal yang
    dipasang bersama bersama kedua seismograf tadi, dapat ditntukan letak episentrum
    gempa tersebut.
          Untuk mencatat getaran yang lemah, diperlukan seismograf yang sangat peka.
    Namun, getaran getaran yang terlalu kuat membuat seismograf tidak mampu
    membuat catatan, kerena tangkai alat pencatat itu terpelanting ke luar dari silinder
    pencatat.
   Skala Gempa

    Ada beberapa macam skala gempa yang digunakan untuk mengetahui beberapa
besar intensitas getaran gempa itu. Tabel 1.1 melukiskan penentuan skala berdasarkan
yang dirasakan dan dilihat




                                                                                22
                   Tabel 1.1 Skala Mercalli yang Telah Disesuaikan dengan Kondisi Di
                                              Indonesia
Derajat                                       Uraian

   I.     Getaran tidak dirasakan kecuali dengan keadaan luar biasa oleh beberapa
          orang.

  II.     Getaran dirasakan oleh beberapa orang diam, lebih-lebih di rumah tingkat atas.
          Benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

  III.    Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Kendaraan yang sedang berhenti terasa
          bergerak, seakan-akan ada truk yang lewat. Lamanya dapat diamati.

 IV.      Kalau terjadi siang hari, banyak orang di dalam rumah dan sedikit orang yang
          di luar merasakan getaran. Jika malam hari, beberapa orang dapat terbangun.
          Barang pecah belah pecah-pecah dan pintu bergerak. Kendaraan yang diparkir
          bergerak.

  V.      Getaran dirasakan oleh hamper semua orang. Yang tidur pun terbengun.
          Barang-barang pecah, dan terbelanting. Tiang, pohon, dan sebangsanya tampak
          tergoyang kuat. Jarum jam dapat terhenti.

 VI.      Kebanyakan orang panic lari ke luar, karena merasa getaran kuat. Kerusakan
          ringan pada cerobong asap pabrik. Meja kursi bergerak dan plester dinding
          terlepas.

 VII.     Semua orang ke luar rumah. Kerusakan ringan sampai sedang pada bangunan
          yang kuat. Banyak kerusakan pada bangunan yang tidak kuat. Cerobong asap
          pecah. Terasa oleh oaring yang sedang naik kendaraan.

 VIII.    Kerusakan pada bangunan yang kuat dengan lubang-lubang dan retakan.
          Kerusakan berat pada bangunan yang tidak kuat. Dinding dapat lepas dari
          rangsang rumah. Cerobong asap pabrik dan monument roboh. Meja kursi
          terlempar, air menjadi keruh, dan orang naik sepeda montor terganggu.

 IX.      Kerusakan pada bangunan yang kuat dengan retakan dan lubang-lubang,
          rangka rumah bengkok-bengkok, lokasi rumah bergeser, serta pipa dan tanah



                                                                                  23
           putus.

  X.       Bangunan kuat dari kayu rusak, kerangka rumah lepas dari fondasi, tanah
           retak, rel KA melengkung, tebing dan tepian sungai rongsor, serta air banjir.

 XI.       Bangunan hanya sedikit yang masih berdiri, jembatan rusak, tanah retak dan
           merosot, rel KA bengkok-bengkok, dan pipa dalam tanah rusak sama sekali.

 XII.      Permukaan bumi hancur sama sekali dan tampak bergelombang. Pamandangan
           kabur dan benda-benda terlempar ke udara.

       Karena Jepang memiliki derajat gempa yang kuat, maka skala yang disusun oleh
Omori dimulai dengan derajat kerusakan yang cukup kuat dan berakhir dengan skala VII
yang setaraf dengan skala XII Mercalli.

                                     Tabel 1.2 Skala Omori

Derajat                                        Uraian
   I        Getaran-getaran lunak dirasakan oleh banyak orang, akan tetapi tidak
            semuanya
   II       Getaran sedang, semua orang terbangun, karena bunyi jendela, pintu, dan
            barang-barang pecah
  III       Getaran agak kuat, jam dinding berhenti, pintu dan jendela terbuka
  IV        Getaran kuat, gambar dinding berjatuhan, dinding tembok retak-retak
   V        Getaran sangat kuat, dinding dan atap rumah roboh
  VI        Rumah yang kuat roboh
  VII       Kerusakan menyeluruh
       Charles F. Richter, seorang seismologist dari California Institute of Technology,
pada tahun 1935 mengembangkan sebuah skala untuk mengukur magnitud gempa yang
diberi nama Skala Richter, dengan kisaran nilai terkecil adalah nol dan nilai terbesar
tidak ditentukan (bersifat "terbuka").

       Magnitud (magnitude) adalah ukuran kuantitatif berupa jumlah energi yang
dilepaskan dari pusat gempa. Cara penentuan magnitud gempa dengan Skala Richter
(Gambar 1.3) ialah dengan menghitung amplitud maksimum gelombang gempa dan
menandakannya pada garis skala 'amplitud' (sebelah kanan). Selisih waktu kedatangan
gelombang Primer (P wave) dan Sekunder (S wave) ditandakan pada garis skala 'jarak

                                                                                    24
gelombang P-S' (sebelah kiri). Tarik garis yang menghubungkan kedua titik tersebut.
Magnitud gempa adalah titik yang memotong garis skala 'magnitud' (garis di tengah)
(Monroe et al., 2007).




    Gambar 1.3. Penentuan magnitud gempa dengan Skala Richter dilakukan secara
     kuantitatif menggunakan garis-garis skala: amplitud, selisih waktu kedatangan
   gelombang P dan S, sehingga didapat nilai magnitud gempa (Monroe et al., 2007).

    Selama ini nilai terbesar yang tercatat adalah gempa dengan skala M 9.5 yang
pernah terjadi di Chili pada 22 Mei 1960. Skala magnitud selama ini lebih umum
digunakan, termasuk oleh pemberitaan media, meskipun banyak juga yang menggunakan
skala MMI.

    Sebagai penduduk yang sadar akan bahaya gempa, sebaiknya Anda mengetahui
tindakan apa yang sebaiknya dilakukan jika pada suatu saat terjadi gempa. Tindakan
yang harus dilakukan di antaranya adalah sebagai berikut:

1) Jangan panik
2) Segera keluar dari bangunan
3) Jauhi bangunan tinggi, tebing, kabel listrik, barang-barang yang terbuat dari kaca,
    dan bendungan
4) Jika mengalami kesukaran keluar dari bangunan, berlindunglah di bawah benda kuat,
    misalnya kolong meja
5) Matikan segera lampu, kompor minyak atau gas, serta listrik agar terhindar dari
    bahaya kebakaran
6) Hentikan kendaraan Anda, jika Anda sedang mengemudikannya

                                                                               25
    7) Jauhi daerah pantai, karena bukan tidak mungkin gempa itu akan menimbulkan
         tsunami
        Efek Gempa

         Peristiwa gempa bumi memiliki efek destruktif yang meluas. Ada beberapa
    peristiwa yang ditimbulkan oleh sebab gempa, yaitu runtuhnya bangunan akibat getaran
    (gedung-gedung, jembatan, dll), kerusakan infrastruktur, jatuhnya bebatuan atau tanah
    longsor, kebakaran, tanah atau jalan terbelah, dan lain-lain. Jika sumber gempa bumi
    berada di dasar lautan, maka berpotensi menimbulkan gelombang tsunami yang tidak
    saja menghantam pesisir pantai, tetapi juga mencapai beberapa km ke daratan. Semua
    peristiwa yang diakibatkan oleh gempa ini menambah efek bagi makhluk hidup, terutama
    manusia. Faktor yang mempengaruhi efek gempa, antara lain: magnitud gempa,
    kedalaman hiposentrum, jarak dari episentrum, durasi gempa, kepadatan populasi,
    kondisi geologi kawasan, dan jenis konstruksi (Monroe et al., 2007).

    2) TENAGA EKSOGEN

    Tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar bumi. Tenaga ini bersifat merusak
dan mengikis kulit bumi, terutama pada bagian-bagian yang tinggi, tetapi sebaliknya tenaga
eksogen mengisi bagian-bagian yang rendah. Faktor yang berperan sebagai tenaga eksogen
adalah air, angin, organisme, sinar matahari, dan es. Tenaga eksogen bisa menyebabkan
terjadinya pelapukan (weathering), erosi, denudasi, tanah longsor, dan tanah menjalar (soil
creep). Jadi dengan adanya tenaga eksogen, litosfer mengalami kerusakan kemudian
dibangun lagi oleh tenaga endogen, lalu dirusak lagi oleh tenaga eksogen, selanjutnya
dibangun lagi oleh tenaga endogen, dan seterusnya.

a) Pengikisan / Erosi

    Erosi adalah suatu bagian dari proses geomorfologi, yaitu proses pelepasan dan
terangkatnya material bumi oleh tenaga geomorfologis. Menurut Arsyad (1989), erosi adalah
pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah daru suatu tempat ke tempat lain
oleh media alami. Media dapat berupa aliran sungai, angin, gerakan massa tanah, dan lain-
lain. Erosi sering juga disebut dengan pengikisan, baik berupa air, angin atau gletser.

    Adapun faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya erosi adalah sifat hujan,
kemiringan lerang dari jaringan aliran air, tanaman penutup tanah, dan kemampuan tanah
untuk menahan dispersi dan untuk menghisap kemudian merembeskan air ke lapisan yang
                                                                                          26
lebih dalam. Morgan (1980) menyebutkan bahwa erosi merupakan interaksi antara faktor
iklim, topografi, tanah, vegetasi, dan aktivitas manusia yang dinyatakan dengan persamaan
sebagai berikut:

    E = f(c.t.v.s.h)

    di mana,

    E : erosi          c : iklim      t : topografi       v : vegetasi

    f : fungsi         s : tanah      h : manusia.

    Jenis-jenis erosi menurut Morgan (1979) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

   Erosi percik, yakni proses percikan partikel-partikel tanah halus yang disebabkan oleh
    pukulan tetes air hujan terhadap tanah dalam keadaan basah.
   Erosi lembar, yakni erosi yang terjadi karena pengangkutan/pemindahan lapisan tanah
    yang hampir merata di tanah permukaan oleh tenaga aliran perluapan. Kekuatan jatuh
    tetes-tetes hujan dan aliran perluapan merupakan penyebab utama erosi lembar.
   Erosi alur, merupakan erosi yang terjadi karena adanya proses erosi dengan sejumlah
    saluran kecil (alur) yang kedalamannya
   Erosi parit, merupakan proses terbentuknya sama seperti erosi alur, akan tetapi tenaga
    erosinya berupa aliran limpasan, dan alur-alur yang terbentuk sudah sedemikian dalam
    sehingga sudah tidak dapt dihilangkan dengan pengolahan tanah secara biasa.

    Erosi terjadi karena beberapa sebab, antara lain :

1) Tenaga air / gelombang
     Erosi oleh Sungai
       Air yang mengalir di sungai melakukan erosi terhadap batuan yang dilaluinya, baik
    pada bagian tepi maupun pada bagian dasar sungainya. Proses erosi sungai dapat
    menentukan tingkat usia sungai.
    a) Stadium Muda (young stream).
       Sungai dikatakan dalam stadium muda apabila terjadi ketidakseimbangan antara
       proseserosi dan sedimentasi, di mana erosi jauh lebih besar dibandingkan dengan
       sedimentasi. Tanda-tandanya adalah
        proses erosi sangat aktif, baik erosi ke bawah maupun erosi ke samping.


                                                                                      27
   lembahnya mempunyai lereng yang terjal (berbentuk huruf V)
   banyak dijumpai air terjun (waterfall)
   pengikisan vertikal lebih kuat dibandingkan dengan pengikisan horizontal
b) Stadium Dewasa (mature stream)
  Sungai dikatakan dalam stadium dewasa apabila sudah terdapat keseimbangan antara
  proses erosi dan sedimentasi. Tanda-tandanya adalah :
   kecepatan alirannya berkurang
   lerengnya tidak tidak terlalu tajam (berbentuk huruf U)
   erosi ke bawah sudah tidak begitu kuat
c) Stadium Tua (old stream)
  Sungai dikatakan dalam stadium tua apabila pada bagian hilirnya terjadi pengendapan
  yang sangat besar, sedangkan di bagian hulunya hanya terjadi sedikit sekali atau sama
  sekalisudah tidak ada erosi. Tanda-tandanya adalah :
   proses erosi sangat kecil, sedangkan proses sedimentasi sangat besar
   terdapatnya dataran banjir (flood plain), yaitu daerah di kiri dan kanan sungai
     apabilasungai mengalami banjir akan tergenang dan terdapat endapan-endapan
     material, sewaktu air telah surut endapan material tersebut tertinggal
   dijumpai adanya meander
 Erosi oleh air laut (abrasi)
a) Desakan yang kuat dari gelombang yang memecah pantai mempunyai pengaruh
  langsung pada pantai dan secara tidak langsung menekan air yang terjebak di dalam
  retakan batuan dan batuan itu mengalami retakan lebih besar lagi ketika air kembali
  ke laut.
b) Pecahan-pecahan batuan di dalam air menggelinding pada dasar cliff yang akhirnya
  melahirkan proses korasi. Proses ini bisa terjadi di pantai-pantai yang terdiri atas
  batuan yang mudah larut, misalnya batu kapur. Akibat erosi dari pelarutan kalsium
  karbonat oleh air menyebabkan batuan menjadi melemah dan akhirnya hancur.
c) Cliff atau tebing pantai Cliff adalah pantai dengan batuan keras yang terjal dengan
  pegunungan yang curam.Perjaan erosi laut terjadi pada zona yang relatif sempit dan
  datar sehingga cliff tidak stabil dan runtuh. Jika muka cliff yang mundur tertinggal
  oleh dasar yang telah dierosi, maka disebut wave cut platform. Pada tempat ini
  material hasil erosi diendapkan.



                                                                               28
    d) Cave (gua), arch, stack, dan stump. Pengerjaan erosi laut mencapai batuan yang
       lembut di sepanjang dasar cliff, seperti pada garis patahan atau sejenisnya karena
       erosi ini mungkin terjadi bentuk yang disebut cave (gua). Jika cave ini terbentuk pada
       kedua sisi erosi yang berkelanjutan akan terus menerobos dan kedua gua itu bersatu
       sehingga terjadilah arch. Arch ini terus menerus terkena erosi, yang tertinggal hanya
       tiang-tiang batu yang berdiri jauh dari cliff ini yang disebut stack. Erosi pada dasar
       stack terus berlangsung sehingga stack itu runtuh dan terdapat di bawah permukaan
       air laut dan ini yang disebut stump.
    e) Pantai fjord adalah pantai yang berlekuk-lekuk jauh menjorok ke arah daratan (seperti
       teluk yang sempit), tebingnya sangat curam, lembahnya berbentuk huruf V dan
       biasanya dasar lautnya dalam, tetapi ambangnya dangkal

    Bentuk sisa dari erosi yang diakibatkan oleh air dan gelombang berupa jereng-jereng
pegunungan, bukit-bukit, dasar pantai yang datar dan tanjung dengan ujung yang curam.
Sedangkan hasil endapan berupa delta, kipas-kipas aluvial, dataran banjir, gosong pasir
( bars ) dan dasar laut yang dangkal.

2) Tenaga angin
    Bentuk erosi dari angin berupa lubang-lubang hasil tiupan angin (blow holes). Bentuk
sisa dari erosi angin berupa batu jamur (pedestal rocks) dan bentuk endapannya berupa bukit-
bukit pasir (sand dunes) dan endapan lebih halus dari pasir (loess)
3) Tenaga gletser

    Es yang meluncur di lereng pegunungan dapat menyebabkan erosi yang disebut erosi
gletser. Bentuk dari erosi gletser antara lain ledok berundak (cirques) dan palung glasial.
Bentuk sisa dari erosi ini adalah puncak bukit yang mirip tanduk (matterhorn peaks) serta
jereng-jereng yang kasar dan tajam. Sedangkan hasil endapan dari erosi ini adalah morena,
drumlin dan esker.

4) Tenaga Organisme atau makhluk hidup

    Organisme tenaga penggerak erosi yaitu binatang dan manusia. Erosi oleh organisme
berupa liang-liang galian binatang. Bentuk endapan dari erosi organisme berupa karang koral
dan sarang binatang.




                                                                                     29
b) Pelapukan

    Pelapukan atau weathering (weather) merupakan proses alami yang terjadi di muka bumi.
Pada proses pelapukan terjadi perusakan dan penghancuran batuan penyusun kerak bumi
karena pengaruh cuaca (suhu,curah hujan, kelembaban, atau angin). Karena itu pelapukan
adalah penghancuran batuan dari bentuk gumpalan menjadi butiran yang lebih kecil bahkan
menjadi hancur atau larut dalam air. Pelapukan di setiap daerah berbeda beda tergantung
unsur unsur daridaerah tersebut. Misalnya di daerah tropis yang pengaruh suhu dan air
sangatdominan, tebal pelapukan dapat mencapai seratus meter, sedangkan daerahsub tropis
pelapukannya hanya beberapa meter saja. Macam-macam pelapukan, sebagai berikut:

1) Pelapukan fisik

Proses pelapukan ini sangat dipengaruhi kondisi alam. Pelapukan fisik terjadi oleh adanya
tenaga panas, gletser, angin dan air hujan. Pelapukan fisik terjadi secara alami tanpa adanya
campur tangan manusia. Proses pelapukan batuan oleh alam merupakan contoh dari
pelapukan fisik. Penghancuran batuan ini bisa disebabkan oleh akibat pemuaian, pembekuan




air, perubahan suhu tiba-tiba, atau perbedaan suhu yang sangat besar antara siang dan malam.
Untuk lebih jelasnya bagaimana perubahan itu, perhatikan berikut ini:

 Akibat pemuaian

    Bahwa batuan ternyata tidak homogen, terdiri dari berbagai mineral, dan mempunyai
koefisien pemuaian yang berlainan. Oleh karena itu, dalam sebuah batu pemuaiannya akan
berbeda, bisacepat atau lambat. Pemanasan matahari akan terjadi peretakan batuan sebagai
akibat perbedaan kecepatan dan koefisien pemuaian tersebut.

 Akibat pembekuan air

                                                                                     30
    Batuan bisa pecah/hancur akibat pembekuan air yang terdapat didalam batuan. Misalnya
di daerah sedang atau daerah batas salju, pada musim panas, air bisa masuk ke pori-pori
batuan. Pada musim dingin atau malam hari air di pori-pori batuan itu menjadi es. Karena
menjadi es, volume menjadi besar, akibatnya batuan menjadi pecah.

 Akibat perubahan suhu tiba-tiba

    Kondisi ini biasanya terjadi di daerah gurun. Ketika ada hujan disiang hari menyebabkan
suhu batuan mengalami penurunandengan tiba-tiba. Hal ini dapat menyebabkan hancurnya
batuan.

 Perbedaan suhu yang besar antara siang dan malam

    Penghancuran batuan terjadi akibat perbedaan suhu yang sangat besar antara siang dan
malam. Pada siang hari suhu sangat panas sehingga batuan mengembang. Sedangkan pada
malam hari temperatur turun sangat rendah (dingin). Penurunan temperatur yang sangat cepat
itu menyebabkan batuan menjadi retak-retak, pecah, dan akhirnya hancur berkeping-keping.

    Pelapukan seperti ini bisa diperhatikan di daerah gurun. Di daerah Timur Tengah (Arab)
temperatur siang hari bisa mencapai 60°C, sedangkan pada malam hari turun drastis dan bisa
mencapai 2°C. Pada saat turun hujan,terjadi penurunan suhu, yang menyebabkan batuan
menjadi pecah.

2) Pelapukan kimiawi

    Pelapukan yang terjadi karena proses kimiawi sehingga batuan menjadi lapuk disebut
batuan sedimen. Pelapukan kimiawi tampak jelas terjadi pada pegunungan kapur (Karst).
Pelapukan ini berlangsung pada batuan kapur yang terkena air dengan suhu yang tinggi. Air
yang banyak mengandung CO2 (zat asam arang) dapat dengan mudah melarutkan batu kapur
(CaCO3). Peristiwa ini merupakan pelarutan dan dapat menimbulkan gejala karst.

Di Indonesia pelapukan yang banyak terjadi adalah pelapukan kimiawi. Hal ini karena di
Indonesia banyak turun hujan. Air hujaninilah yang memudahkan terjadinya pelapukan
kimiawi. Batuan kapur mudah larut oleh air hujan. Oleh karena itu, jika diperhatikan pada
permukaan batuan kapur selalu ada celah-celahyang arahnya tidak beraturan. Hasil pelapukan
kimiawi di daerah karst biasa menghasilkan karren, ponor, sungai bawah tanah, stalagtit,
tiang-tiang kapur, stalagmit, atau gua kapur. Gejala atau bentuk-bentuk alam yang terjadi di
daerah karst, di antaranya:
                                                                                    31
1) Dolina

    Dolina adalah lubang-lubang yang berbentuk corong. Dolina dapat terjadi karena erosi
(pelarutan) atau karena runtuhan. Dolina terdapat hampir di semua bagian pegunungan kapur
di Jawa bagian selatan, yaitu di pegunungan Seribu.

2) Gua dan Sungai di Dalam Tanah

    Di dalam tanah kapur mula-mula terdapat celah atau retakan. Retakan akan semakin
besar dan membentuk gua-gua atau lubang-lubang, karena pengaruh larutan. Jika lubang-
lubang itu berhubungan, akan terbentuklah sungai-sungai di dalam tanah.

3) Stalaktit

    Adalah kerucut-kerucut kapur yang bergantungan pada atap gua.Terbentuk tetesan air
kapur dari atas gua. Stalakmit adalah kerucut-kerucut kapur yang berdiri pada dasar gua.
Contohnnya stalaktit dan stalakmit di gua Tabuhan dan gua Gong di Pacitan, Jawa Timur
serta gua Jatijajar di Kebumen, Jawa Tengah.

4) Karren

    Di daerah kapur biasanya terdapat celah-celah atau alur-alur sebagai akibat pelarutan
oleh air hujan. Gejala ini terdapat di daerah kapur yang tanahnya dangkal. Pada perpotongan
celah-celah ini biasanya terdapat lubang kecil yang disebut karren.

5) Ponor

    Ponor adalah lubang masuknya aliran air ke dalam tanah padadaerah kapur yang relatif
dalam. Ponor dapat dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu dolin dan pipa karst. Dolin
adalah lubang di daerah karst yang bentuknya seperti corong. Dolin ini dibagi menjadi 2
macam, yaitu dolin korosi dan dolin terban. Dolin korosi terjadi karena proses pelarutan
batuan yang disebabkan oleh air. Di dasar dolin diendapkan tanah berwarna merah (terra
rossa).Sedangkan dolin terban terjadi karena runtuhnya atap gua kapur




                                                                                    32
                                                                   Dolin Terban




                                                                    Dolin Korosi




3) Pelapukan organis atau biologis

     Pelapukan yang disebabkan oleh makhluk hidup. Manusia juga merupakan salah satu
faktor yang dapat memicu terjadinya pelapukan. Binatang yang dapat melakukan pelapukan
antara lain cacing tanah dan serangga. Di batu-batu karang daerah pantai sering terdapat
lubang-lubang yang dibuat oleh binatang. Pengaruh yang disebabkan oleh tumbuh-tumbuhan
ini dapat bersifat mekanik atau kimiawi. Pengaruh sifat mekanik yaitu berkembangnya akar
tumbuh-tumbuhan di dalam tanah yang dapatmerusak tanah disekitarnya. Pengaruh zat
kimiawi yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akar-akar serat makanan menghisap
garammakanan. Zat asam ini merusak batuan sehingga garam-garaman mudah diserap oleh
akar. Manusia juga melalui aktifitas penebangan pohon, pembangunan maupun penambangan.

c)   Pengangkutan Material ( mass wasting )

     Pengangkutan material terjadi karena adanya gaya gravitasi bumi atau kejenuhan air,
sehingga terjadi pengangkutan atau perpindahan material dari satu tempat ke tempat lain.
Mass wasting biasa terjadi pada lereng yang labil. Faktor-faktor yang mempengaruhi mass
wasting (gerakan massa batuan), yakni:

    Kemiringan lereng, di mana semakin besar kemiringannya maka peluang terjadi gerakan
     massa batuan akan semakin besar dikarenakan gaya berat semakin besar pula.
    Relief lokal, terutama yang mempunyai kemiringan lereng cukup besar misalnya kubah,
     perbukitan mempunyai peluang yang besar untuk terjadi mass wasting.
    Ketebalan hancuran batuan di atas batuan dasar, makin tebal maka peluang untuk
     terjadinya mass wasting dikarenakan permukaan yang labil makin besar pula.
    Iklim.
    Gempa bumi.
    Vegetasi.



                                                                                   33
    Proses pengangkutan material berlangsung dalam empat jenis pergerakan material yaitu :

1) Jenis pergerakan pelan ( lambat ) (slow flowage)
     Rayapan merupakan bentuk dari jenis pergerakan pelan ( lambat ) pada proses mass
        wasting. Rayapan adalah gerakan tanah dan puing batuan yang menuruni lereng
        secara pelan.
     Talus creep adalah rayapan puing-puing hasil pelapukan yang tertimbun di suatu
        lereng. Terjadi karena pengaruh gravitasi, yang tertimbun di suatu lereng. Terjadi
        karena pengaruh gravitasi, yang dibantu oleh air sebagai pendorong.
     Rock creep yaitu gerakan massa batuan secara lambat menuruni lereng disebabkan
        karena gravitasi.
2) Jenis pergerakan cepat (rapid flowage)
    Gerakan ini dikontrol oleh kejenuhan air pada massa batuan.
     Earth flow adalah aliran massa batuan yang jenuh air menuruni lereng .
     Mud flow yakni aliran hancuran batuan halus yang bercampur dengan air melalui
        lembah-lembah (saluran), terjadi di daerah beriklim kering.

    Jenis pergerakan ini dapat dibagi, sebagai berikut :

     Aliran tanah, yaitu gerakan berlumpur yang mengandung air menuruni lereng dengan
       kemiringan kecil.
     Aliran lumpur, yaitu gerak puing batuan yang mengandung air menuruni saluran
       secara pelan hingga cepat
     Gugur puing, yaitu puing-puing batuan yang meluncur di dalam saluran sempit,
       menuruni lereng curam
3) Longsor lahan ( landslide )

    Gerakan tersebut dapat dibagi menjadi :

     Luncur, yaitu gerakan penggelinciran dari satu atau beberapa unit puing batuan
     Longsor puing, yaitu peluncuran puing batuan yang tidak terpadatkan dan
       berlangsung cepat
     Jatuh puing, yaitu puing batuan yang jatuh hampir bebas dari suatu permukaan yang
       vertical atau menggantung
     Longsor batu, yaitu massa batuan yang secara individu meluncur menuruni
       permukaan lapisan

                                                                                       34
     Jatuh batu, yaitu blok-blok batuan yang jatuh secara bebas dari lereng curam
4) Amblesan ( subsidensi )

    Yaitu pergeseran tempat ke arah bawah tanpa permukaan bebas dan tidak menimbulkan
pergeseran horizontal. Terjadi karena perpindahan material secara pelan di daerah massa
yang ambles.

    Cara untuk mencegah gerakan mass wasting, adalah sebagai berikut:

        Menanami lereng dengan vegetasi
        Membuat teras-teras pada lereng
        Bangunan di dekat lereng dibuatkan beton penahan
        dan usaha-usaha yang lain
d) Sedimentasi

    Sedimentasi adalah peristiwa pengendapan material batuan yang telah diangkut oleh
tenaga air atau angin tadi. Pada saat pengikisan terjadi, air membawa batuan mengalir ke
sungai, danau, dan akhirnya sampai di laut. Pada saat kekuatan pengangkutannya berkurang
atau habis, batuan diendapkan di daerah aliran air tadi. Karena itu pengendapan ini bisa
terjadi di sungai,danau, dan di laut.

    Proses sedimentasi oleh sungai, yaitu :

 Floodplain merupakan endapan atau dataran banjir. Menurut tempatnya dapat dibedakan
    menjadi channel bar, delta bar, meander bar, dan tanggul alam.
     Channel bar adalah endapan yang terdapat di tengah lembah sungai.
     Delta bar adalah endapan di muara anak sungai pada sungai induk.
     Meander bar adalah endapan yang terdapat di tikungan dari meander.
     Tanggul alam adalah punggungan rendah di tepi sungai yang terbentuk akibat banjir.
 Delta merupakan endapan yang terdapat di muara sungai dan memiliki bentuk seperti
    delta atau segitiga.

    Pengendapan yang terjadi di sungai disebut sedimen fluvial. Hasil pengendapan ini
biasanya berupa batu giling, batu geser, pasir, kerikil, dan lumpur yang menutupi dasar
sungai. Bahkan endapan sungai ini sangat baik dimanfaatkan untuk bahan bangunan atau
pengaspalan jalan. Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang bermata pencaharian mencari
pasir, kerikil, atau batu hasil endapan itu untuk dijual. Di danau juga bisa terjadi endapan

                                                                                     35
batuan. Hasil endapan ini biasanya dalam bentuk delta, lapisan batu kerikil, pasir, dan lumpur.
Proses pengendapan di danau ini disebut sedimen limnis .Pengendapan yang terjadi di darat,
misalnya guguk pasir di pantai berasal dari pasir yang terangkat ke udara pada waktu ombak
memecah di pantai landai, lalu ditiup angin laut ke arah darat, sehingga membentuk timbunan
pasir yang tinggi. Contohnya, guguk pasir sepanjang pantai Barat Belanda yang menjadi
tanggul laut negara itu. Di Indonesia guguk pasir yang menyerupai di Belanda bisa ditemukan
di pantai Parang Tritis Yogyakarta. Sungai yang mengalir dengan membawa berbagai jenis
batuan akhirnya bermuara di laut, sehingga di laut terjadi proses pengendapan batuan yang
paling besar. Hasil pengendapan di laut ini disebut sedimen marin.

    Pengendapan di laut dapat menghasilkan, antara lain:

1) Delta.
    Delta terjadi di muara sungai yang lautnya dangkal dan sungainya membawa banyak
    bahan endapan. Bentuk delta dapat dikelompokkan dalam 4 macam, yaitu:
     Delta lobben, bentuknya menyerupai kaki burung. Biasanya tumbuh cepat besar,
       karena sungai membawa banyak bahan endapan. Contohnya delta Missisippi.
     Delta tumpul, bentuknya seperti busur. Keadaannya cenderung tetap (tidak bertambah
       besar), misalnya delta Tiger dan Nil.
     Delta runcing, bentuknya runcing ke atas menyerupaikerucut. Delta ini makin lama
       makin sempit.
     Estuaria, yaitu bagian yang rendah dan luas dari mulutsungai.
2) Endapan kapur, yang terdiri dari sisa binatang karang, lokan, atau rangka ikan. Endapan
    kapur ini biasanya terjadi di laut dangkal.
3) Endapan pasir silikon, dihasilkan dari bangkai plankton yang berangka silikon. Endapan
    ini terjadi di dasar laut yang dalam.

    Batuan endapan yang berasal dari hasil penghancuran itu adakalanya mengalami
penyatuan kembali menjadi gumpalan besar karena terikat oleh zat kapur atau oksida
silicon.“Perekat”nya itu disebut grondmassa. Jika yang diikatnya terdiri dari kerikil runcing,
tajam dan menghasilkan bongkahan, maka pengendapan ini disebut breksi. Namun apabila
bongkahan itu terdiri dari batu-batu bulat akan menghasilkan konglomerat.
    Sedimentasi atau pengendapan yang dilakukan secara terus menerus dalam jangka waktu
lama dapat mengubah permukaan bumi menjadi dataran yang lebih tinggi. Pengikisan oleh
tenaga air atau mungkin angin di daerah pegunungan mengakibatkan adanya pengendapan di

                                                                                       36
daerah yang agak rendah, sehingga lama kelamaan berubah menjadi dataran tinggi. Misalnya
Dataran Tinggi Dieng, Dataran Tinggi Gayo.Di daerah sekitar pantai yang lautnya dangkal
sedimentasi dapat menghasilkan dataran rendah. Sungai yang secara terus menerus membawa
bahan endapan akan mengendap di laut sehingga menjadikan sebuah daratan. Misalnya
dataran rendah Pulau Jawa, atau pantai Timur Sumatera merupakan daratan hasil sedimentasi.
B. BENTUK MUKA BUMI DI DARATAN

    Seperti telah dijelaskan dalam bahasan sebelumnya, perbedaan bentuk muka bumi ini
disebabkan oleh tenaga endogen dan eksogen. Untuk memahami lebih jauh tentang bentuk
muka bumi khususnya di daratan, Anda pelajari penjelasan berikut.

1) Gunung

    Gunung adalah bentuk muka bumi yang berbentuk kerucut atau kubah yang berdiri
sendiri. Pada beberapa gunung ditemukan juga yang bersambung dengan gunung lainnya,
tapi bentuk terpisahnya masih jelas. Umumnya gunung merupakan gunung berapi. Gunung
berapi ini ada yang masih utuh dengan kepundan di tengahnya, misalnya gunung Ciremai,
gunung Muria, gunung Dompo Batang, dan banyak lagi gunung lainnya. Ada pula gunung
berapi yang hanya merupakan sisa dari gunung api lama yang telah terpotong-potong oleh
letusan yang hebat pada masa lampau, misalnya gunung Burangrang yang merupakan sisa
gunung api Sunda di Jawa Barat, dan Pulau Sertung yaitu bagian sisi gunung Krakatau.

    Bentuk gunung menjulang tinggi, yang berguna sebagai penahan awan. Akibatnya
daerah yang ada di daerah bawah dan sekitar gunung bisa sering terjadi hujan. Adanya hujan
ini bisa menjadikan hutan. Hutan dapat berfungsi menyimpan air,akibatnya di sekitar hutan
sering ditemukan mata air dan sungai-sungai yang sangat bermanfaat bagi kehidupan
makhluk hidup.

2) Pegunungan

    Pegunungan merupakan suatu jalur memanjang yang berhubungan antara puncak yang
satu dengan puncak lainnya, misalnya Pegunungan Yura di Perancis dan Pegunungan Panini
di Inggris. Di Indonesia juga banyak ditemukan pegunungan.

    Pegunungan terbentuk pada waktu terjadinya gerak kerak bumi yang dalam dan luas.
Karena itu daerah pegunungan biasanya relatif luas. Secara sederhana dapat kita bedakan
pegunungan tua dan pegunungan muda. Pegunungan tua merupakan pegunungan yang relatif

                                                                                   37
rendah dengan puncaknya yang relatif tumpul dan lerengnya landai. Misalnya Pegunungan
Skandinavia dan Pegunungan Australia Timur yang terbentuk pada zaman Primer
(Paleozoikum). Sedangkan pegunungan muda, pada umumnya tinggi dengan puncaknya yang
runcing dan lerengnya relatif curam. Pegunungan lipatan yang paling muda adalah hasil
pengangkatan zaman tertier, misalnya dua deretan pegunungan di Indonesia, yaitu :

        Sirkum Pasifik, yang melalui Sulawesi, Maluku, Papua dan Halmahera
        Sirkum Mediterania yang melalui Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores,
         Solor, Alor, Weter, Damar, Nila, Seua, Manuk, Kepulauan Banda dan berakhir di
         Pulau Ambon
 a) Pegunungan Lipatan
     Pegunungan lipatan disebabkan oleh terlipatnya lapisan (strata) sedimen yang besar
     karena tekanan dari dalam bumi. Akibat proses pelipatan ini, lebar lapisansedimen
     menciut sedangkan tebalnya bertambah. Lapisan sedimen yang terlipat itu disebut lipatan
     atas atau disebut juga antiklinal. Sedangkan lapisan sedimen yang terlipat ke bawah
     dinamakan lipatan bawah atau sinklinal
 b) Pegunungan oleh Pengangkatan Kerak Bumi
     Ada pegunungan yang disebabkan oleh pengangkatan kerak bumi. Pengangkatan kerak
     bumi ini khususnya sepanjang garis sesar atau garis retakan. Oleh karenaitu, gunung ini
     disebut gunung bungkah atau horst.
 c) Pegunungan Sisa
     Pegunungan ini terjadi apabila pegunungan yang tinggi terkikis oleh denudasi dalam
     jangka waktu yang lama. Gunung semacam ini sering juga disebut gunung denudasi atau
     gunung relik. Denudasia dalah peristiwa terbukanya atau terkelupasnya batuan asli pada
     peristiwa pelapukan.
3) Dataran Tinggi

     Dataran luas yang letaknya di daerah tinggi atau pegunungan disebut dataran tinggi.
Dataran tinggi terbentuk sebagai hasil erosi dan sedimentasi. Dataran tinggi dinamakan juga
plato (plateau), misalnya Dataran Tinggi Dekkan, Dataran Tinggi Gayo, Dataran Tinggi
Dieng, Dataran Tinggi Malang, atau Dataran Tinggi Alas. Dataran tinggi bisa juga terjadi
oleh bekas Kaldera luas, yang tertimbun material dari lereng gunung sekitarnya. Misalnya
Dataran Tinggi Dieng (Jawa Tengah) yang diduga oleh proses seperti itu.

4)   Dataran Rendah

                                                                                    38
     Dataran rendah adalah tanah yang keadaannya relatif datar dan luas sampai ketinggian
sekitar 200 m dari permukaan laut. Tanah ini biasanya ditemukan di sekitar pantai, tetapi ada
juga yang terletak di pedalaman. Di Indonesia banyak dijumpai dataran rendah, misalnya
pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa Barat, pantaiselatan Kalimantan, Irian Jaya bagian
barat, dan lain-lain. Dataran rendah terjadiakibat proses sedimentasi. Di Indonesia dataran
rendah umumnya hasil sedimentasisungai. Dataran rendah ini disebut dataran aluvial. Dataran
aluvial biasanyaberhadapan dengan pantai landai laut dangkal. Dataran ini biasanya tanahnya
subur,sehingga penduduknya lebih padat bila dibandingkan dengan daerah pegunungan.

5) Lembah

     Lembah adalah daerah rendah yang terletak di antara dua pegunungan atau dua gunung.
Lembah juga merupakan daerah yang mempunyai kedudukan lebih rendah dibandingkan
daerah sekitarnya. Lembah di daerah pegunungan lipatan sering disebut sinklin. Lembah di
daerah pegunungan patahan disebut graben atau slenk. Sedangkan lembah di daerah yang
bergunung-gunung disebut lembah antar pegunungan

BENTUK MUKA BUMI AKIBAT PROSES DENUDASI

     Denudasi       adalah   proses   pengelupasan   batuan   induk   yang   telah   mengalami
prosespelapukan atau akibat pengaruh air sungai, panas matahari, angin, hujan, embun beku
danes yang bergerak ke laut. Pada umumnya denudasi terdapat pada lereng-lereng
pegunungan yang dipengaruhi oleh gaya berat dan erosi sehingga bagian terluar terangkat dan
daerah tersebut akan mengalami ketandusan karena tidak mempunyai lapisan tanah lagi.Pada
daerah kapur terjadi pelapukan kimiawi (bukan organis), daerah kapur berupa daerah
pegunungan dengan perbedaan suhu antara siang dan malam tidak terlalu besar. Iklim hujan
tropis terjadi banyak hujan akibatnya tingkat erosi tinggi. Karena tingkat erosi yang tinggi
mengakibatkan perubahan bentang alam yang ditunjukkan oleh adanya :

1.   bukit sisa
2.   lahan kritis
3.   dataran fluvia
C. BENTUK MUKA BUMI DI LAUTAN

     Permukaan dasar laut semula dianggap dalam keadaan datar dan tidak mempunyai
bentuk, tetapi beberapa ilmu pengetahuan lainnya telah membuktikan bahwa topografi dasar
laut memiliki bentuk yang kompleks seperti daratan. Relief dasar laut tidak begitu besar
                                                                                        39
variasinya dibandingkan dengan relief daratan. Hal ini disebabkan karena lemahnya erosi dan
sedimentasi. Relief dasar laut terdiri dari bentukan-bentukan berupa:

1.   Palung laut atau trog adalah daerah ingressi di laut yang bentuknya memanjang.
     Contohnya, Palung Mindanau (10.830 meter), Palung Sunda (7.450 meter),
     dansebagainya.
2.   Lubuk laut atau “basin” terjadi akibat tenaga tektonik, merupakan laut ingressi dan
     bentuknya bulat. Contohnya, Lubuk Sulu, Lubuk Sulawesi, Lubuk Banda, dan
     sebagainya.
3.   Gunung laut adalah gunung yang kakinya ada di dasar laut. Kadang-kadang puncak
     gunung laut muncul tinggi di atas laut. Contohnya, Gunung Krakatau, Maona Loa di
     Hawaii.
4.   Punggung laut merupakan satuan atau deretan bukit di dalam laut. Contohnya, punggung
     laut Sibolga.
5.   Ambang laut atau drempel adalah punggung laut yang memisahkan dua bagian laut atau
     dua laut yang dalam. Contohnya, Ambang Laut Sulu, Ambang Laut Sulawesi, Ambang
     Laut Gibraltar, dan sebagainya. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar dibawah ini




                              Gambar Relief Dasar Laut

     Secara umum dasar laut terdiri atas empat bagian. Pembagian ini dimulai dari bagian
daratan menuju ke tengah laut, adalah sebagai berikut:

a)   Landasan Benua (Continental Shelf)



                                                                                     40
     Continental shelf (landasan benua) adalah dasar laut yang berbatasan dengan benua.Di
dasar laut ini sering ditemukan juga lembah yang menyerupai sungai. Continental shelf
letaknya paling tepi yang mengalami penurunan landai mulai dari pantai ke arah tengah
lautan. Kemiringan ke arah laut umumnya kurang dari satu derajat. Beberapa lembah sungai
yang terdapat di continental shelf merupakan bukti bahwa dulunya continental shelf
merupakan bagian daratan yang kemudian tenggelam dan mempunyai kedalaman antara 0-
200 m.

b) Lereng Benua (Continental Slope)

     Continental slope (lereng benua) ialah relief dasar laut yang letaknya berbatasan dengan
continental shelf, ke arah laut lerengnya menjadi curam membentuk continental shelf. Daerah
continental slope bisa mencapai kedalaman 1.500 m dengan sudut kemiringan biasanya tidak
lebih dari 5 derajat. Zona ini mencapai kedalaman antara 200-2.000 m.

c)   Deep Sea Plain

     Deep sea plain ialah relief dasar laut yang letaknya berbatasan dengan continental slope.
Relief di zona ini bentuknya bervariasi, mulai dari yang rata sampai yang berpegunungan
atau berbentuk plato. Deep sea plain meliputi dua pertiga seluruh dasar laut dan terletak pada
kedalaman antara 2.000-3.000 m, mulai dari yang rata sampai pada puncak vulkanik yang
menyembul di atas permukaan laut sebagai pulau yang terisolasi.

d) The Deeps

     The deeps merupakan kebalikan dari deep sea plain. Hanya sebagian kecil dasar lautan
sebagai the deeps. The deeps permukaan laut adalah dasar laut dengan ciri adanya palung laut
(trog) dan mencapai kedalaman yang besar, misalnya di Samudera Pasifik mencapai
kedalaman lebih dari 6.000 m.




                                                                                      41
                                     DAFTAR PUSTAKA
Moch.Munir. 2003. Geologi Lingkungan. Malang : Bayumedia Publishing

Moh. Ma’mur Tanudidjaja. 1996. Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa. Jakarta: Depdikbud
Monroe, S.J., Wicander, R., dan Hazlett. 2007. Physical geology: exploring the earth. Edisi
ke-6. Thomson Brooks/Cole.
R.Soekardjo. 1992. Geologi I. Surakarta : UNS Press
Sheldon Judson and L. Doon Leet. 1954. Geology Physical (Second Edition). New Jersey :
Prentice-hall, Inc

Prof.Dr.H.Bayong Tjasyono HK.,DEA. 2008. Ilmu Kebumian dan Antariksa. Bandung : PT
Remaja Rosdakarya
Tim Penyusun. 2004. Geografi SMA Jilid 1. Jakarta : Erlangga
Walter Brown and Norman Anderson. 1977. Earth Science a Search For Understanding.
USA: J. B Lippincott company

http://afghanaus.com/tenaga-endogen-dan-eksogen/

http://www.crayonpedia.org/mw/BAB.8_BENTUK_PERMUKAAN_BUMI

http://e-
dukasi.net/index.php?mod=script&cmd=Bahan%20Belajar/Materi%20Pokok/view&id=325&uniq=all

http://herugio1.blogspot.com/2010/01/bentuk-muka-bumi-definisi-bumi-yang.html

http://www.pesonageografi.com/bentuk-muka-bumi-dari-tenaga-endogen-proses-tektonisme

http://www.pesonageografi.com/bentuk-muka-bumi-dari-tenaga-endogen-proses-vulkanisme

http://www.pesonageografi.com/bentuk-muka-bumi-dari-tenaga-endogen-proses-gempa

http://www.pesonageografi.com/bentuk-muka-bumi-yang-dihasilkan-oleh-tenaga-eksogen

http://socialeone.blogspot.com/2011/04/bentuk-muka-bumi-akibat-diatropisme-dan.html

http://soerya.surabaya.go.id/AuP/e-DU.KONTEN/edukasi.net/Fenomena.Alam/Erosi.Alam/all.htm

http://www.scribd.com/doc/29227525/Aneka-Bentuk-Dan-Potensi-Muka-Bumi

http://www.scribd.com/doc/28739009/BENTUK-MUKA-BUMI

http://www.scribd.com/doc/51647181/BENTUK-MUKA-BUMI-2

http://www.yvcrr.com/2011/11/bentuk-muka-bumi.html




                                                                                      42

								
To top