Docstoc

Paper Analisis Laporan Keuangan PT. Bukit Asam

Document Sample
Paper Analisis Laporan Keuangan PT. Bukit Asam Powered By Docstoc
					                                   BAB I
                                PENDAHULUAN


1.1   Latar Belakang Masalah

              Untuk memahami suatu laporan keuangan secara utuh maka terlebih
      dahulu harus     memahami latar belakang penyusunan dan penyajian laporan
      keuangan, baru kemudian menganalisis laporan keuangan itu sendiri.
              Laporan keuangan disusun dengan tujuan untuk menyediakan informasi
      yang berhubungan dengan posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi
      keuangan suatu perusahaan. Laporan keuangan bermanfaat bagi sejumlah besar
      pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi yang digunakan untuk mencapai
      tujuan perusahaan.
      Adanya pihak–pihak yang memerlukan laporan keuangan membuat perusahaan
      harus mencantumkan data–data yang sebenarnya dalam laporan keuangan.
      Adapun pihak–pihak yang memerlukan laporan keuangan diantaranya adalah :
               Pihak Ekstern      : investor, kreditor, pemasok, shareholders dan
                  pemerintah.
               Pihak Intern       : pimpinan perusahaan, manajemen dan akuntan
                  perusahaan.
              Dalam melakukan analisis laporan keuangan maka diperlukan adanya alat
      ukur yang disebut rasio. Pengertian Rasio adalah suatu rumusan secara matematis
      dari hubungan antara suatu jumlah dengan jumlah tertentu lainnya. Rasio–rasio
      tersebut antara lain :
      1. Rasio likuiditas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk dapat membayar
          kewajiban finansialnya yang segera harus dapat dipenuhi atau hutang – hutang
          jangka pendeknya.
      2. Rasio solvabilitas adalah tingkat kemampuan perusahaan untuk dapat
          membayar semua kewajiban–kewajiban keuangan atau hutangnya (baik
          jangka pendek maupun jangka panjang) dari aktiva yang dapat diandalkan


                                                         Analisis laporan Keuangan   1
         perusahaan dalam keadaan solvable apabila perusahaan itu mempunyai aktiva
         yang cukup besar untuk membayar semua hutang- hutangnya.
      3. Rasio    profitabilitas   adalah     tingkat   kemampuan    perusahaan     dalam
         menghasilkan laba, efisiensi dan efektifitas penggunaan aktiva dan kinerja
         operasi perusahaan.
             Dari uraian diatas, maka kami memutuskan untuk menganalisis laporan
      keuangan PT BUKIT ASAM                (PERSERO)Tbk dan anak perusahaan untuk
      mengetahui kondisi keuangan perusahaan dengan melakukan analisis trend,
      analisis common size dan analisis rasio.


1.2   Perumusan Masalah
             Beberapa masalah yang berkaitan dengan analisis ratio keuangan pada PT
      BUKIT ASAM (PERSERO) Tbk dan anak perusahaan. Periode 2008-2011
      sebagai berikut :
         1. Analisa Rasio Likuiditas.
                   Bagaimana perkembangan likuiditas perusahaan selama periode
             2008-2011?
         2. Analisa Rasio Solvabilitas.
                   Bagaimana perkembangan solvabilitas perusahaan selama periode
             2008-2011?
         3. Analisa Rasio Profitabilitas.
                   Bagaimana perkembangan profitabilitas perusahaan selama periode
             2008-2011?
         4. Analisis Rasio Aktivitas
                   Bagaimana perkembangan aktivitas perusahaan selama periode
             2008-2011?




                                                            Analisis laporan Keuangan   2
1.3 Tujuan Analisis
             2. Analisa Rasio Likuiditas
                      Untuk mengetahui perkembangan likuiditas PT BUKIT ASAM Tbk
                 dan anak perusahaan selama periode 2008-2011
             3. Analisa Rasio Solvabilitas
                      Untuk mengetahui perkembangan solvabilitas PT BUKIT ASAM
                 Tbk dan anak perusahaan selama periode 2008-2011
             4. Analisa Rasio Profitabilitas
                  Untuk mengetahui perkembangan kemampuan memperoleh laba PT
             BUKIT ASAM Tbk dan anak perusahaan selama periode 2008-2011
   1.4    Manfaat Analisis
                 Dengan melakukan analisis laporan keuangan, diharapkan informasi-
          informasi mengenai perusahaan yang tercermin secara kuantitatif dalam laporan
          keuangan dapat berguna bagi :
             1. Bagi Manajemen
                      Dapat digunakan untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan
                 periode yang lalu sehingga dapat menyusun anggaran dan perencanaan
                 yang lebih baik, memperbaiki system pengawasan dan pengendallian
                 perusahaan serta menentukan kebijakan-kebijakan yang mengarahkan
                 perusahaan menjadi kokoh dari segi ekonomi untuk masa yang akan
                 datang.
             2. Bagi Investor
                      Dapat digunakan sebagai informasi dalam mengambil keputusan
                 untuk melakukan investasi pada perusahaan tersebut, apakah perusahaan
                 mempunyai prospek yang cukup baik atau tidak.
             3. Bagi Mahasiswa
                      Dapat digunakan sebagai media pembelajaran agar mampu
                 menganalisis suatu laporan keuangan sehingga mendapat tambahan
                 pengetahuan dalam bidang akuntansi.



                                                           Analisis laporan Keuangan   3
1.5   Metode Pengumpulan Data
         1. Metode Daftar Pustaka
                   Kami menganalisis laporan keuangan perusahaan berdasarkan rumus
             dan pembahasan yang bersumber dari buku analisis laporan keuangan dan
             handout yang diberikan dosen pembimbing.
         2. Metode Dokumentasi
                   Metode dokumentasi kami terapkan dalam pengumpulan data
             laporan keuangan perusahaan. Dengan melakukan browsing melalui
             internet kami mencari sumber laporan keuangan perusahaan, kemudian
             mencetak hasilnya dalam bentuk hardcopy agar laporan keuangan mudah
             untuk dianalisis.


1.6   Metode Analisa Data
               Dalam menganalisa data, kami akan menggunakan analisa data kualitatif
      dan kuantitatif.
         1. Metode Analisa Kualitatif
                   Yaitu metode penalaran dengan menguraikan data dalam bentuk
             keterangan atau penjelasan.
         2. Metode Anallisa Kuantitatif
                   Yaitu   metode   penalaran   untuk   menganalisa    data    dengan
             menggunakan rumus-rumus sesuai dengan masalah yang akan diteliti.




                                                        Analisis laporan Keuangan   4
1.7    Sejarah PT BUKIT ASAM (PERSERO), Tbk

    Sejarah pertambangan batubara di Tanjung Enim dimulai sejak zaman kolonial
Belanda tahun 1919 dengan menggunakan metode penambangan terbuka (open pit
mining) di wilayah operasi pertama, yaitu di Tambang Air Laya.

    Selanjutnya mulai 1923 beroperasi dengan metode penambangan bawah tanah
(underground mining) hingga 1940, sedangkan produksi untuk kepentingan komersial
dimulai pada 1938.

     Seiring dengan berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda di tanah air, para karyawan
Indonesia kemudian berjuang menuntut perubahan status tambang menjadi pertambangan
nasional. Pada 1950, Pemerintah RI kemudian mengesahkan pembentukan Perusahaan
Negara Tambang Arang Bukit Asam (PN TABA).

      Pada 1981, PN TABA kemudian berubah status menjadi Perseroan Terbatas
dengan nama PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk, yang selanjutnya disebut
Perseroan. Dalam rangka meningkatkan pengembangan industri batubara di Indonesia,
pada 1990 Pemerintah menetapkan penggabungan Perum Tambang Batubara dengan
Perseroan.

      Sesuai dengan program pengembangan ketahanan energi nasional, pada 1993
Pemerintah menugaskan Perseroan untuk mengembangkan usaha briket batubara.

       Pada 23 Desember 2002, Perseroan mencatatkan diri sebagai perusahaan publik di
Bursa Efek Indonesia dengan kode “PTBA”.




                                                         Analisis laporan Keuangan   5
                                       BAB II

                           ANALISIS DAN PEMBAHASAN




1. ANALISIS TREND

  A. ANALISIS

      Neraca Konsolidasi

                                                           Tahun
              Nama Rekening
                                           2008        2009          2010       2011
  ASET LANCAR
  Kas dan setara kas                            100%   154,81%     166,16%     223,27%
  Piutang usaha
    Pihak ketiga                                100%   138,84%     124,30%     109,02%
    Pihak yang mempunyai
    hubungan istimewa                           100%    99,55%      57,48%      79,01%
  Persediaan, bersih                            100%    97,58%     100,86%     153,52%
  Aset lancar lainnya                           100%   154,99%      89,27%     182,60%
  Jumlah aset lancar                            100%   137,04%     134,26%     179,98%

  ASET TIDAK LANCAR
  Investasi pada perusahaan asosiasi            100%    97,34%     211,93%     319,98%
  Properti pertambangan, bersih                 100%   100,00%      94,21%      87,82%
  Aset tetap (setelah dikurangi
  akumulasi penyusutan)                         100%    96,77%     239,89%     297,05%
  Beban eksplorasi dan
  pengembangan tangguhan, bersih                100%   124,00%     126,21%     189,51%
  Aset pajak tangguhan, bersih                  100%   145,53%     183,95%     225,05%
  Aset tidak lancar lainnya                     100%   181,84%     347,82%     307,72%
  Jumlah aset tidak lancar                      100%   111,96%     179,51%     228,88%
  JUMLAH ASET                                   100%   132,29%     142,84%     188,43%

  KEWAJIBAN LANCAR
  Hutang usaha
    Pihak ketiga                                100%    86,00%     111,62%     178,17%
    Pihak yang mempunyai

                                                              Analisis laporan Keuangan   6
  hubungan istimewa                  100%    64,07%    48,15%    162,66%
Biaya yang masih harus dibayar       100%   122,54%   116,16%    194,00%
Hutang pajak                         100%    76,58%    35,13%     73,38%
Bagian kewajiban jangka
panjang yang akan jatuh
tempo dalam waktu satu tahun
Penyisihan reklamasi lingkungan
dan penutupan tambang                100%    93,10%   150,50%    145,68%
Penyisihan imbalan kerja             100%   187,13%   229,24%    225,03%
Kewajiban lancar lainnya             100%    39,28%    36,27%     19,43%
Jumlah kewajiban lancar              100%   102,03%    84,80%    141,30%

KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
Kewajiban jangka panjang setelah
  dikurangi bagian yang akan jatuh
  tempo dalam waktu satu tahun
  Penyisihan reklamasi lingkungan
  dan penutupan tambang              100%   125,17%   144,27%    169,52%
  Penyisihan imbalan kerja           100%   137,20%   173,19%    221,17%
  Lainnya                            100%    69,35%    27,60%      0,00%
Jumlah kewajiban jangka
  panjang                            100%   134,94%   167,77%    211,57%
JUMLAH KEWAJIBAN                     100%   112,99%   112,43%    164,70%
HAK MINORITAS                        100%   106,21%    93,70%      0,00%

EKUITAS
Modal saham                          100%   100,00%   100,00%    100,00%
Tambahan modal disetor, bersih       100%   100,00%   100,00%    100,00%
Saldo laba
  Telah ditentukan penggunaannya     100%   175,54%   301,12%    366,40%
  Belum ditentukan penggunaannya     100%   150,73%   108,15%    166,73%
Jumlah ekuitas                       100%   142,60%   159,24%    204,22%

JUMLAH KEWAJIBAN
DAN EKUITAS                          100%   132,29%   142,83%    188,43%




                                                Analisis laporan Keuangan   7
Laporan Laba Rugi

              Keterangan              2008      2009      2010       2011
Penjualan                               100%   123,99%   109,60%    146,64%
Harga pokok penjualan                   100%   111,34%   115,54%    143,85%
Laba kotor                              100%   137,21%   103,40%    149,54%
Beban usaha
  Penjualan dan pemasaran               100%   112,35%   128,03%    131,22%
  Umum dan administrasi                 100%   137,77%   131,47%    180,02%
  Eksplorasi                            100%   129,65%   140,82%    180,51%
Jumlah beban usaha                      100%   125,00%   129,90%    155,76%
Laba usaha                              100%   142,27%    92,39%    146,95%
Pendapatan/(beban) lain-lain
Pendapatan bunga                        100%   187,91%   227,07%    301,97%
Pendapatan sewa                         100%    47,72%    89,10%    158,70%
Provisi atas uang muka pihak ketiga
  tak terpulihkan                       100%     0,00%     0,00%      0,00%
Penyisihan piutang tak tertagih         100%    92,65%    21,27%     70,89%
Lainnya, bersih                         100%   436,11%   906,85%    319,31%
Pendapatan lain-lain, bersih            100%   382,87%   531,08%      0,00%
Bagian laba/(rugi) bersih dari
  perusahaan asosiasi                   100%   321,38%   -533,56%     0,00%
Laba sebelum pajak penghasilan          100%   147,43%    101,88%   159,07%
Pajak penghasilan                       100%   123,37%     71,76%   116,01%
Laba sebelum hakminoritas               100%   159,18%    116,58%   180,10%
Hak minoritas atas laba bersih
  anak perusahaan                       100%    23,27%   145,40%     32,59%
Laba bersih                             100%   159,72%   117,63%    180,69%




                                                   Analisis laporan Keuangan   8
2. ANALISIS COMMON-SIZE




     Neraca Konsolidasi

                                                        Tahun
             Nama Rekening
                                       2008      2009           2010      2011
  ASET LANCAR
  Kas dan setara kas                    49,81%    58,29%         57,94%    59,02%
  Piutang usaha
    Pihak ketiga                         5,04%     5,29%          4,39%     2,92%
    Pihak yang mempunyai
    hubungan istimewa                   17,50%    13,17%          7,04%     7,34%
  Persediaan, bersih                     6,88%     5,07%          4,86%     5,60%
  Aset lancar lainnya                    1,83%     2,14%          1,14%     1,77%
  Jumlah aset lancar                    81,05%    83,97%         76,19%    76,99%

  ASET TIDAK LANCAR
  Investasi pada perusahaan asosiasi     2,06%     1,52%          3,06%     3,50%
  Properti pertambangan, bersih          3,26%     2,46%          2,15%     1,52%
  Aset tetap (setelah dikurangi
  akumulasi penyusutan)                  6,29%     4,60%         10,56%     9,91%
  Beban eksplorasi dan
  pengembangan tangguhan, bersih         4,25%     3,98%          3,76%     4,27%
  Aset pajak tangguhan, bersih           2,81%     3,09%          3,62%     3,36%
  Aset tidak lancar lainnya              0,27%     0,37%          0,66%     0,44%
  Jumlah aset tidak lancar              18,94%    16,03%         23,81%    23,01%
  JUMLAH ASET                          100,00%   100,00%        100,00%   100,00%

  KEWAJIBAN LANCAR
  Hutang usaha
    Pihak ketiga                         1,03%     0,67%          0,80%     0,97%
    Pihak yang mempunyai
    hubungan istimewa                    0,10%     0,05%          0,03%     0,09%
  Biaya yang masih harus dibayar        10,55%     9,77%          8,58%    10,86%
  Hutang pajak                           9,22%     5,34%          2,27%     3,59%
  Bagian kewajiban jangka
  panjang yang akan jatuh
  tempo dalam waktu satu tahun

                                                     Analisis laporan Keuangan      9
Penyisihan reklamasi lingkungan
dan penutupan tambang                  0,41%     0,29%      0,43%        0,32%
Penyisihan imbalan kerja               0,50%     0,70%      0,80%        0,59%
Kewajiban lancar lainnya               0,35%     0,10%      0,09%        0,04%
Jumlah kewajiban lancar               22,16%    17,09%     13,16%       16,62%

KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
Kewajiban jangka panjang setelah
  dikurangi bagian yang akan jatuh
  tempo dalam waktu satu tahun
  Penyisihan reklamasi lingkungan
  dan penutupan tambang                1,98%     1,87%      2,00%        1,78%
  Penyisihan imbalan kerja             9,07%     9,40%     10,99%       10,64%
  Lainnya                              0,02%     0,01%      0,00%        0,00%
Jumlah kewajiban jangka
  panjang                             11,06%    11,29%     12,99%       12,42%
JUMLAH KEWAJIBAN                      33,23%    28,38%     26,15%       29,04%
HAK MINORITAS                          1,30%     1,04%      0,85%        0,00%

EKUITAS
Modal saham                           18,86%    14,26%     13,21%       10,01%
Tambahan modal disetor, bersih         0,50%     0,38%      0,35%        0,26%
Saldo laba
  Telah ditentukan penggunaannya      18,14%    24,07%     38,24%       35,27%
  Belum ditentukan penggunaannya      27,96%    31,86%     21,17%       24,75%
Jumlah ekuitas                        65,47%    70,57%     72,99%       70,96%

JUMLAH KEWAJIBAN
DAN EKUITAS                          100,00%   100,00%    100,00%      100,00%




                                                   Analisis laporan Keuangan   10
   Laporan Laba Rugi

              Keterangan              2008      2009        2010         2011
Penjualan                               100%    100,00%    100,00%      100,00%
Harga pokok penjualan                  51,08%    45,87%     53,85%       50,11%
Laba kotor                             48,92%    54,13%     46,15%       49,89%
Beban usaha
  Penjualan dan pemasaran              7,14%      6,47%       8,34%       6,39%
  Umum dan administrasi                6,99%      7,77%       8,39%       8,59%
  Eksplorasi                           0,23%      0,24%       0,29%       0,28%
Jumlah beban usaha                    14,36%     14,47%      17,02%      15,25%
Laba usaha                            34,56%     39,66%      29,13%      34,64%
Pendapatan/(beban) lain-lain
Pendapatan bunga                       1,50%      2,26%       3,09%       3,07%
Pendapatan sewa                        0,34%      0,13%       0,28%       0,37%
Provisi atas uang muka pihak ketiga
  tak terpulihkan                      0,78%      0,00%       0,00%       0,00%
Penyisihan piutang tak tertagih        0,45%      0,34%       0,09%       0,22%
Lainnya, bersih                        0,14%      0,49%       1,16%       0,30%
Pendapatan lain-lain, bersih           0,78%      2,43%       3,80%       0,00%
Bagian laba/(rugi) bersih dari
  perusahaan asosiasi                  0,01%      0,04%       0,07%       0,03%
Laba sebelum pajak penghasilan        35,36%     42,04%      32,87%      38,36%
Pajak penghasilan                     11,60%     11,54%       7,60%       9,18%
Laba sebelum hakminoritas             23,76%     30,50%      25,27%      29,19%
Hak minoritas atas laba bersih
  anak perusahaan                      0,09%      0,02%       0,13%       0,02%
Laba bersih                           23,67%     30,48%      25,40%      29,19%




                                                    Analisis laporan Keuangan   11
3. ANALISIS RASIO




 Rasio Likuiditas


No                 Rasio              2008         2009           2010          2011
1    Modal Kerja                    3.596.527    5.402.483     5.498.225     6.946.837

2    Current Rasio                    3,66         4,91           5,79          4,63

3    Account Receivable Turn Over     7,45         6,21           6,32          9,72
4    Collection Period              48,99 hari   58,78 hari    57,75 hari    37,55 hari
5    Inventory Turn Over              10,66        9,89           10,22         9,92
6    Inventory Turn Over In Days    34,24 hari   36,9 hari     35,71 hari    36,79 hari
7    Operating Cycle                83,23 hari   95,68 hari    93,46 hari    74,34 hari
8    Quick (Acid Test Rasio)          3,27         4,50           5,27          4,17
9    Cash Rasio                       2,25         3,41           4,40          3,55
10   Account Payable Turn Over        53,28        64,49          64,90        54,26

11   Payment Period                   6,85         5,66           5,62          6,73




                                                           Analisis laporan Keuangan   12
 Rasio Solvabilitas


  No                 Rasio           2008   2009            2010         2011
 1      Debt Rasio                   0,33   0,28            0,26         0,29
 2      Debt Equity Rasio            0,51   0,40            0,36         0,41
 3      Debt to Tangible Net Worth   0,51   0,40            0,36         0,41
 4      Time Interest Earned          -      -                -            -




 Rasio Profitabilitas


 No                  Rasio           2008    2009            2010         2011
 1     Gross Profit Margin           0,49    0,54            0,46         0,50
 2     Operating Profit Margin       0,35    0,40            0,29         0,38
 3     Net Profit Margin             0,24    0,30            0,25         0,29
 4     Total Asset Turn Over         0,72    0,63            0,47         1,05
 5     Operating Asset Turn Over     1,18    1,26            0,94         1,05
 6     Asset To Equity               1,53    1,42            1,37         1,41
 7     Duppont Return On Asset       0,28    0,38            0,24         0,31
 8     Duppont Return On Equity      0,43    0,56            0,33         0,42
 9     Return On Investment          0,37    0,48            0,28         0,35
 10    Return On Operating Asset     0,28    0,38            0,24         0,31




                                                   Analisis laporan Keuangan    13
B. PEMBAHASAN
  1. Rasio Likuiditas



                a. Current ratio


                Current ratio = (Aktiva Lancar/ Utang lancar)


                         Tahun       Rasio     Perubahan
                         2008         3,658         -

                         2009         4,912       1,254

                         2010         5,791       0,879

                         2011          4,63       1,161




                Dilihat dari empat periode current ratio yang di analisis dapat disimpulkan
     bahwa perusahaan kelebihan aktiva. Hal ini disebabkan karena jumlah kas dan
     setara kas disajikan sangat besar, persediaan pun bernilai banyak. Menurut konsep
     current ratio jika perbandingannya lebih dari dua maka perusahaan memiliki
     aktiva yang berlebih, yang seharusnya kelebihan aktiva tersebut dapat digunakan
     untuk operasional perrusahaan dan menambah laba namun perusahaan tidak
     melakukanya, sehingga perusahaan kehilangan opportunity revenue. Persediaan
     yang menumpuk mengindikasikan bahwa penjualan yang kurang maksimal.
     Namun perusahaan dapat dengan mudah menutup utang lancar yang jauh lebih
     sedikit.




                                                             Analisis laporan Keuangan   14
        b. Quick Ratio




Quick Ratio =        (Kas+Surat Berharga+Piutang)
                           Hutang Lancar

                             Tabel 3.12
                   Perkembangan Quick Ratio

                   Tahun      Rasio Perubahan

                    2008      3,27         -

                    2009      4,50        1,23

                    2010      5,27        0,77

                    2011      4,17        1,10




        Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa perusahaan kelebihan
aktiva. Pada tahun 2010 rasionya adalah 5,27, ini berarti utang lancar bukan
masalah yang penting bagi perusahaan karena dapat dengan mudah menutupnya.
Jika ini dibiarkan maka tahun 2011 rasionya akan lebih tinggi, hal ini tidak baik
karena terlalu banyak aktiva yang menganggur dan tidak produktif untuk
menghasilkan laba perusahaan agar menjadi lebih tinggi. Menurut konsep quick
ratio perbandingan antara (kas+surat-surat berharga+piutang dagang) dengan
utang lancar tidak terlalu tinggi. Seharusnya piutang yang berlebih tersebut dapat
dengan segera di konversikan menjadi kas, Selanjutnya kas yang didapat tersebut



                                                    Analisis laporan Keuangan   15
sebaiknya di gunakan untuk penambahan aktiva tetap perusahaan (kegiatan
investasi) sehingga laba perusahaan akan meningkat signifikan.




        c. Cash Ratio



Cash Ratio = (Aktiva Lancar-Persediaan-Piutang)/ Hutang Lancar

                            Tabel 3.13

                    Perkembangan Cash Ratio

                            Rasio   Perubahan
                  Tahun
                    2008     2,25         -

                    2009     3,41        1,16

                    2010      4,4        0,99

                    2011     3,55
                                         0,85


        Menurut data di atas jumlah cash on hand pada perusahaan terlalu besar.
Jika dilihat dari kemampuan perusahaan untuk menutup utang lancer dapat
dikatakan baik, karena jika sewaktu-waktu semua utang lancar perusahaan tersebut
harus dilunasi sekaligus, perusahaan masih memiliki backup dana yang memadai
untuk kegiatan operasional perusahaan. Namun kelebihan aktiva tersebut
seharusnya di investasikan saja ke instrument investasi yang dapat menghasilkan
return tinggi untuk perusahaan.




                                                    Analisis laporan Keuangan   16
        d. Receivable Turnover Ratio



        Receivable Turnover Ratio = Penjualan / Rata-rata Piutang

                               Tabel 3.14

             Perkembangan Receivable Turnover Ratio

                    Tahun       Rasio Perubahan

                        2008    7,45x         -

                        2009    6,21x       -1,24

                        2010    6,32x       0,11

                        2011    9,72x       3,4



        Berdasarkan data diatas rasio perputaran piutang dagang terlalu kecil, ini
dikarenakan jika rasio tersebut dikonversikan menjadi hari. Sehingga rata-rata
pengumpulan piutang dalam empat tahun adalah sekitar 56 hari. Secara eksplisit
keadaan tersebut kurang baik karena piutang dagang butuh waktu 56 hari untuk
dikonversikan menjadi kas. Namun dalam kasus ini tidak dapat disimpulkan
bahwa keadaan tersebut bisa dikatakan relevan atau tidak, karena tidak diketahui
kebijakan mengenai pengumpulan piutang perusahaan. Jadi sebaiknya system
penagihan piutang di evaluasi kembali agar receivable turnover ratio dapat
berputar lebih cepat.


                                                    Analisis laporan Keuangan   17
       e. Inventory Turnover Ratio


       Inventory Turnover Ratio=HPP/Rata-rata persediaan
                        Tabel 3.15
            Perkembangan inventory turnover ratio
                  Tahun     Rasio Perubahan

                   2008      10,66       -

                   2009      9,89      -0,77

                   2010      10,22      0,33

                   2011      9,92       0,30



       Berdasarkan data di atas persediaan berputar terlalu rendah. Jika
dikonversikan menjadi hari,maka rata-rata perputaran persediaan dalam empat
tahun adalah 36,5 hari. Ini dapat dilihat dari jumlah persediaan yang posturnya
cukup besar di kolom aktiva perusahaan. Menurut analisis kami perputaran
persediaan yang terlalu rendah tersebut adalah kurang baik. Seharusnya
persediaan dapat berputar lebih cepat karena semakin cepat perputarannya maka
penjualan semakin besar, sehingga laba yang diperoleh semakin besar pula.




                                                    Analisis laporan Keuangan   18
       f. Working Capital


           Working Capital=aktiva lancer-utang lancar
                           Tabel 3.16
                 Perkembangan working capital
                   Tahun       Rasio     Perubahan

                    2008     3.596.527       -

                    2009     5.402.483 1.805.956

                    2010     5.498.225    95.742

                    2011     6.946.837 1.448.612



       Berdasarkan empat periode sejak 2008-2011 dapat disimpulkan bahwa
modal kerja bersih sangat melimpah. Hal ini disebabkan karena jumlah asset
perusahaan sangat besar. Semakin besar angka modal kerja,berarti semakin besar
tingkat proteksi terhadap kreditor jangka pendek dan semakin besar kepastian
bahwa utang jangka pendek akan dilunasi tepat waktu. Meskipun menyenangkan
bagi kreditor jangka pendek untuk melihat angka modal kerja besar, akan tetapi
akan kesenangan mereka baru akan penuh bila mereka memperoleh kepastian
bahwa modal kerja berputar pada tingkat kecepatan yang tinggi dan utang akan
dapat dibayar meski dalam kondisi operasi yang sulit sekali pun. Alasanya,modal
kerja yang tinggi tidak memberikan jaminan bahwa utang akan dapat dibayar
pada saat jatuh temponya. Tingginya angka modal kerja dapat disebabkan oleh
persediaan yang telah usang atau tidak laku terjual dan pengumpulan piutang
yang membutuhkan waktu cukup panjang, sehingga sinkronisasi adalah sangat
penting.




                                                     Analisis laporan Keuangan   19
2. Rasio Solvabilitas


          a. Debt Ratio
                        Debt Ratio = Total Hutang / Total Aktiva

                                            Tabel 3.21

                                    Perkembangan Debt Ratio

                                   Tahun     Rasio Perubahan

                                    2008      0,332        -

                                    2009      0,284      -0,048

                                    2010      0,262      -0,022

                                    2011      0,290      0,028




                        Menurut data di atas diperoleh informasi bahwa debt to asset dari tahun ke
              tahun semakin kecil, ini berarti aktiva yang di biayai oleh dana asing atau utang
              adalah semakin sedikit. Dengan semakin kecilnya rasio tersebut maka akan
              menjanjikan para investor untuk menanamkan modalnya kepada perusahaan
              tersebut, dikarenakan perusahaan dapat mengendalikan rasio tersebut agar selalu
              terlihat kecil dan menyenangkan dimata investor.




                                                                    Analisis laporan Keuangan   20
b. Debt To Total Equity Ratio



          Debt To Total Equity Ratio = Total Hutang / Total Modal

                                Tabel 3.22

               Perkembangan Debt To Total Equity Ratio

                     Tahun       Rasio Perubahan

                      2008       0,51          -

                      2009        0,4        -0,11

                      2010       0,36        -0,04

                      2011       0,41        0,05



          Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa perubahan rasio
   berfluktuasi. Semisal tahun 2012,kreditor PT BUKIT ASAM Tbk memberikan
   sebesar Rp.0,41 untuk setiap Rp.1 aktiva yang didanai oleh pemilik. Kreditor
   jangka panjang pada umumnya lebih menyukai angka debt to equity ratio yang
   kecil. Semakin kecil angka rasio berarti semakin besar jumlah aktiva yang didanai
   oleh pemilik perusahaan atau dengan modal sendir, dan semakin besar pula
   penyangga resiko kreditor.




                                                      Analisis laporan Keuangan   21
c. Long Term debt to equity ratio


     Long Term debt to equity ratio= ( Total utang jangka panjang/total modal)
                           Tabel 3.23
             Perkembangan Long Term debt to equity ratio


                      Tahun        Rasio Perubahan

                       2008        0,169     -

                       2009        0,160   -0,009

                       2010        0,178   0,018

                       2011         0      0,178




          Berdasarkan data diatas rasio long term debt to equity berfluktuasi. Ini
   dipengaruhi dari tingkah laku kreditor jangka panjang yang mununggu dan
   mengamati terlebih dahulu perusahaan tersebut. Kemungkinan pihak kreditor
   jangka panjang ingin melihat postur antara besarnya total asset dengan liabilitas
   serta melihat juga kemampuan perusahaan dalam melunasi utang lancar maupun
   utang jangka panjang. Semakin kecil rasio diatas adalah semakin bagus ditinjau
   daro solvabilitas perusahaan.




                                                      Analisis laporan Keuangan   22
d. Financial Leverage Ratio


       Financial Leverage Ratio = Total aset / total equitas
                         Tabel 3.24
             Perkembangan financial leverage ratio


                     Tahun      Rasio Perubahan

                      2008      1,527        -

                      2009      1,417      -0,107

                      2010      1,370      -0,047

                      2011      1,410       0,04




            Berdasarkan data diatas mengukur seberapa banyak dana yang berasal
   dari modal sendiri untuk membiayai aktiva perusahaan. Tahun 2009 dan 2010
   mengalami penurunan rasio, menurut kami keadaan ini kurang baik karena
   pembiayaan dari modal sendiri lebih kecil sehingga dibutuhkan dana dari luar
   untuk menutupnya. Rasio tersebut yang paling bagus adalah yang paling tinggi
   dibandingkan rasio serupa yang berdasar pada liabilitas perusahaan.




                                                       Analisis laporan Keuangan   23
4. Rasio Profitabilitas


       a.   Gross Profit Margin Ratio

                   Gross Profit Margin Ratio = Laba Kotor/penjualan

                                       Tabel 3.31

                          Perkembangan gross profit margin ratio

                               Tahun     Rasio Perubahan

                                2008     0,49         -

                                2009     0,54       0,05

                                2010     0,46       -0,08

                                2011     0,50       0,04




                   Atas dasar tabel diatas dapat diketahui bahwa gross profit margin
            berfluktuasi tiap tahun. Rasio tersebut yang paling bagus adalah yang tertinggi
            dalam hal ini yang terbaik adalah ditahun 2009. Rasio ini mengukur berapa
            rupiah penjualan untuk menghasilkan Rp.1 laba kotor dan juga untuk mengukur
            efisiensi mengenai biaya produksi perusahaan pada empat periode tersebut.
            Semakin tinggi rasio tersebut maka laba kotor yang dihasilkan semakin banyak
            serta semakin efisien pula biaya produksi yang dikeluarkan. Perlu diketahui
            bahwa jika gross profit margin tersebut rendah maka akan berimplikasi pada net
            profit margin perusahaan. Ada beberapa cara untuk meningkatkan rasio gross
            profit margin, yang pertama meningkatkan harga jual produk. Dengan
            meningkatnya harga jual produk maka rasio gross profit margin akan lebih tinggi
            dan alternative ke 2 mengefisienkan biaya produksi tentunya tanpa mengorbankan
            kualitas produk yang dihasilkan. Dengan kombinasi tersebut maka gross profit

                                                               Analisis laporan Keuangan   24
   margin akan meningkat sehingga akan berdampak bagus pada pengambilan
   keputusan manajer di periode yang akan datang.




b. Net Profit Margin

     Net profit margin = Laba bersih / penjualan

                              Tabel 3.32

                   Perkembangan net profit margin

                     Tahun      Rasio Perubahan

                       2008     0,24         -

                       2009      0,3       0,06

                       2010     0,25       -0.05

                       2011     0,29       0,04




          Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa net profit margin dari
   tahun 2008-2011 mengalami trend kenaikan,namun di tahun 2010 mengalami
   penurunan dibandingkan      tahun 2009. Kemungkinan penurunan ini karena
   penjualan yang lebih kecil atau biaya terlalu besar dan kurang bisa diefisienkan.
   Net profit margin sendiri adalah mengukur seberapa besar tingkat kembalian
   keuntungan setelah pajak dari penjualan. Kuncinya ada dua untuk meningkatkan
   kembali net profit margin di tahun-tahun mendatang yaitu meningkatkan
   penjualan dan mengefisienkan biaya produksi, biaya operasi, dan biaya bunga.
   Profit margin yang tinggi menandakan kemampuan perusahaan menghasilkan
   laba yang tinggi pada tingkat penjualan tertentu. Profit margin yang rendah
   menandakan penjualan yang terlalu rendah untuk biaya yang tertentu, atau biaya

                                                      Analisis laporan Keuangan   25
     yang terlalu tinggi pada tingkat penjualan tertentu atau kombinasi keduanya dan
     disimpulkan bahwa di tahun 2010 terjadi ketidak efisienan manajemen.




c.   Operating Profit Margin

            Operating profit margin = laba operasi / penjualan bersih

                                Tabel 3.33
                  Perkembangan operating profit margin

                       Tahun      Rasio Perubahan

                        2008      0,35         -

                        2009       0,4       0,05

                        2010      0,29       -0,11

                        2011      0,38       0,09




            Atas dasar data diatas sudah secara jelas diketahui bahwa operating profit
     margin di tahun 2010 mengalami penurunan,ini berkaitan dengan rasio gross
     profit margin dan rasio net profit margin. Ketiga rasio ini saling berhubungan,
     jadi dapat disimpulkan bahwa ditahun 2010 semua yang berkaitan dengan
     kemampuan penjualan untuk menghasilkan laba adalah menurun dibandingkan
     tahun-tahun sebelumnya. Penyebabnya kemungkinan ketidakefisienan manajemen
     dalam mengendalikan biaya.




                                                        Analisis laporan Keuangan   26
d. Return On Asset




         Returrn On Asset = Laba bersih / Total asset

                              Tabel 3.34

                   Perkembangan Return On Asset

                     Tahun     Rasio Perubahan

                      2008      0,34         -

                      2009      0,38       0,04

                      2010      0,24       -0,14

                      2011      0,31       0,07




         Berdasarkan perhitungan rasio diatas diketahui bahwa ROA di tahun 2010
  mengalami penurunan. Ini bisa terjadi karena adanya dua kemungkinan, yang
  pertama laba terlalu rendah atau total asset yang rendah. Kesimpulanya adalah
  laba yang kurang maksimal meskipun asset yang di miliki adalah sangat besar.
  Kemampuan total aktiva pada tahun 2010 untuk menghasilkan laba bersih
  menurun dibandingkan periode-periode sebelumnya. Salah satu cara untuk
  meningkatkan ROA adalah menjual aktiva yang tidak produktif guna
  meningkatkan laba yang lebih besar. Aktiva yang tidak produktif tidak seharusnya
  dipertahankan oleh perusahaan, karena hanya akan membebani perhitungan return
  on assets itu sendiri. Semakin banyak aktiva tidak produktif tidak dijual oleh
  perusahaan, maka return on assets akan semakin rendah. Maka manajer perlu
  mengidentifikasi ulang mana aktiva produktif dan yang tidak produktif.




                                                      Analisis laporan Keuangan   27
e.     Return On Investment

       Return On Investment = Laba Bersih+Biaya Bunga(1-Tax Rate)

                                    Rata-rata Total Asset

                           Tabel 3.35

              Perkembangan Return on investment

                  Tahun     Rasio Perubahan

                   2008      0,11         -

                   2009      0,14       0,03

                   2010      0,09       -0,05

                   2011      0,35       0,26




       Rasio return on investment digunakan untuk mengukur hubungan antara
laba yang diperoleh perusahaan dengan investasi yang digunakan untuk
menghasilkan laba tersebut. ROI perusahaan dari tahun 2008 sampai 2009 sangat
baik dan terus meningkat, namun pada tahun 2010 ROI perusahaan mengalami
penurunan dikarenakan laba bersih perusahaan juga menurun. Dan pada tahun
2011 ROI perusahaan kembali naik dengan drastic yaitu sebesar 0,35.




                                                  Analisis laporan Keuangan   28
f. Return On Equity

          Return On Equity = Laba Bersih Setelah Pajak – Dividen Saham

                                      Rata- rata modal saham biasa

                             Tabel 3.36

                   Perkembangan Return On Equity

                    Tahun     Rasio Perubahan

                      2008     0,51         -

                      2009     0,56       0,05

                      2010     0,33       -0,23

                      2011     0,42       0,09




          Rasio Return On Equity menggambarkan besarnya laba yang benar-benar
   tersedia untuk pemegang saham biasa. Perusahaan selama tahun 2008 sampai
   dengan tahun 2009 mampu menghasilakan laba cukup memuaskan, akan tetapi di
   tahun 2010 Return On Equity menurun. Seandainya saja perusahaan mampu
   meningkatkan laba maka setiap utang akan memyebabkan naiknya angka ROE,
   hal ini tentu menguntungkan bagi para pemegang saham biasa.




                                                    Analisis laporan Keuangan   29
5. Ratio Aktivitas

      a. Total Asset Turnover

                 Total Asset Turnover = Penjualan / Aktiva Rata-rata

                                     Tabel 3.37

                        Perkembangan Total Asset Turnover

                            Tahun     Rasio Perubahan

                             2008      0,72         -

                             2009      0,63       -0,09

                             2010      0,47       -0,16

                             2011      1,05       0,58



                 Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2008 dan
          2011 mengalami trend positif, namun pada tahun 2009 – 2010 mengalami
          penurunan. Ratio ini yang paling baik adalah yang paling besar. Ratio ini
          mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan
          berdasarkan aktiva tetap yang dimiliki perusahaan, dan juga ratio ini mengukur
          sejauh mana efektifitas perusahaan menggunakan aktiva tetapnya.




                                                            Analisis laporan Keuangan   30
b. Fixed Asset Turnover




          Fixed Asset Turnover = Penjualan / Aktiva Tetap Rata-rata

                              Tabel 3.38

                 Perkembangan Fixed Asset Turnover
                     Tahun     Rasio Perubahan

                      2008      7,02         -

                      2009      7,30       0,28

                      2010      4,69       -2,61

                      2011      4,48       -0,21




          Berdasarkan data diatas diketahui bahwa di tahun 2010 dan 2011 terjadi
   penurunan rasio fixed asset turnover. Hal ini disebabkan ketidak efektifan asset
   tetap untuk menghasilkan satu rupiah penjualan, sehinnga manajemen harus
   mengevaluasi kembali strategi pemasarannya dan pengeluaran modalnya.




                                                      Analisis laporan Keuangan   31
                                            BAB III
                                          PENUTUP


   Kesimpulan
            Setelah dilakukan Analisis Laporan Keuangan pada PT Bukit Asam, Tbk. yang
    meliputi analisis rasio likuiditas, analisis rasio solvabilitas, analisis rasio profitabilitas dan
    rasio aktivitas, dapat diperoleh suatu kesimpulan bahwa dari segi rasio likuiditas
    perusahaan kinerjanya sangat memuaskan karena rasionya tinggi. Namun dibalik
    tingginya rasio itu ada beberapa point kelemahan yang bisa kami ambil, yang pertama
    adalah pengumpulan piutang. Piutang baru dapat dikonversi menjadi kas membutuhkan
    waktu rata-rata 56 hari,jangka waktu itu menurut kami terlalu lama karena dikhawatirkan
    taksiran piutang tidak tertagih tinggi. Yang kedua adalah perputaran persediaan yang
    terlalu rendah dapat mengakibatkan persediaan menumpuk karena tidak laku terjual dan
    akan terjadi penurunan nilai persediaan. Yang ketiga kelebihan aktiva lancar terhadap
    utang lancar tidak baik karena yang seharusnya dana aktiva berlebih tersebut dapat
    digunakan untuk operasional perusahaan dan menambah laba namun perusahaan tidak
    melakukanya sehingga perusahaan akan kehilangan potensi pendapatan yang seharusnya
    dapat diterima.
            Selanjutnya dari segi rasio solvabilitas dapat disimpulkan bahwa perusahaan
    mampu membiayai sebagian besar aktiva dengan modal sendiri. Karena presentase
    pembiayaan dari modal sendiri lebih besar dibandingkan dana yang berasal dari luar atau
    utang, hal ini mengakibatkan rasio solvabilitas yang bernilai kecil sehingga total aktiva
    keseluruhan dapat mampu menutup semua utang-utangnya.
            Dari segi rasio profitabilitasnya perusahaan dari tahun 2008-2009 kinerjanya
    cukup bagus, namun pada tahun 2010 terjadi penurunan penjualan dan juga kenaikan
    harga pokok penjualan. Penurunan penjualan kemungkinan disebabkan oleh turunya
    order penjualan terhadap produk PT BUKIT ASAM Tbk , dan yang kedua adalah adanya
    kenaikan harga pokok penjualan, ini dikarenakan harga bahan baku untuk membuat
    produk naik, sehingga mau tidak mau perusahaan harus menaikkan harga pokok

                                                                     Analisis laporan Keuangan     32
    penjualanya. Kedua faktor ini secara tidak langsung berimplikasi pada unsur-unsur rasio
    profitablilita yang lain seperti penurunan pada operating profit margin, net profit margin,
    return on assets, return on investment, dan return on equity.
            Dari perhitungan terhadap rasio aktivitas dapat disimpulkan bahwa terjadi ketidak
    efisienan aktiva untuk menghasilkan penjualan, khususnya di tahun 2010.
            Berdasarkan empat analisis rasio diatas dapat disimpulkan bahwa perusahaan
    seharusnya mengevaluasi kembali kinerjanya baik untuk jangka pendek maupun jangka
    panjang di periode selanjutnya agar tidak mengalami penurunan rasio kembali.




   Saran

         Atas dasar perhitungan empat rasio yang meliputi rasio likuiditas, rasio solvabilitas,
    rasio profitabilitas, dan rasio aktivitas, kami PT BUKIT ASAM Tbk merekomendasikan
    beberapa hal yang bisa diperhatikan dan dijadikan rujukan, agar perusahaan tersebut di
    periode mendatang kinerjanya lebih baik.

         Adapun Saran dan rekomendasi tersebut ialah :

                   1. Merekomendasikan agar kelebihan aktiva lancar dapat dipergunakan
                       untuk operasional perusahaan, sehingga dapat menambah laba.

                   2. Menyarankan agar turnover         persediaan agar ditingkatkan supaya
                       penjualan penjualan perusahaan dapat meningkat, sehingga laba
                       perusahaan pun meningkat.

                   3. Menyarankan agar perputaran persediaan dapat dipercepat agar
                       memungkinkan taksiran piutang tidak tertagih lebih kecil dan waktu
                       konversi piutang ke kas menjadi lebih cepat.

                   4. Menyarankan agar pembiayaan aktiva melalui modal sendiri dan
                       mengurangi jumlah utang.



                                                                    Analisis laporan Keuangan   33
5. Menyarankan agar aktiva yang tidak berdaya guna agar di hapuskan
   saja, karena akan mengurangi return on assets.

6. Menyarankan agar penjualan dapat ditingkatkan, paling tidak rasio-
   rasio seperti operating profit margin, gross profit margin, net profit
   margin, return on assets, return on investment, dan return on equity
   lebih baik daripada tahun 2010.

7. Menyarankan agar harga pokok produksi dapat di efisienkan tentunya
   dengan tidak mengorbankan kualitas produk itu sendiri.

8. Menyarankan supaya biaya-biaya operasional dapat ditekan agar laba
   perusahaan lebih maksimal.

9. Menyarankan     guna    memaksimalkan      asset   perusahaan    untuk
   menghasilkan penjualan yang lebih tinggi di periode – periode
   selanjutnya.

   Demikian saran dan rekomendasi dari kami semoga dapat memberikan
   kontribusi yang bermanfaat bagi perusahaan.




                                            Analisis laporan Keuangan   34
                                DAFTAR PUSTAKA




      Prastowo D. Dwi. 2008. Analisis Laporan Keuangan Konsep dan Aplikasi Edisi Kedua.
Yogyakarta : UPP STIM YKPN

      Hanafi Mamduh M. 2009. Analisis Laporan Keuangan Edisi Keempat. Yogyakarta : UPP
STIM YKPN

      Handout Analisis Laporan Keuangan

      www.Google.com




                                                            Analisis laporan Keuangan   35

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Stats:
views:2749
posted:9/14/2012
language:Malay
pages:35
Description: contoh tugas paper analisis laporan keuangan