Pengertian LC
Description
Pengertian LC
Document Sample


ASK : L/C (letter of credit) Quote: Original Posted By partairetak Keluarga gw punya perusahaan tambang batubara. Selama ini orang tua ga mau pembayaran L/C... Mohon pencerahan juragan semua ttg L/C... 1.amankah pembayaran melalui L/C? 2. serumit apakah pencairan L/C?kenapa banyak orang2 pada ga mau terima pembayaran L/C? 3.apakah L/C bisa juga fiktif?misalnya barang kita sudah dikirim, tapi setelah itu L/C nya ga bisa dicairkan.. 4. Adakah pihak ketiga yg mau menjamin L/C (bonding). Misalnya kita dapat L/C 1 milyar.trus, karena kita ga tau cara ngurusnya, pihak ketiga mau mencairkan cash 900 juta ke kita. Ntar dia yg ngurus L/C nya..ada ga ya, penjamin seperti ini? 5. apa beda L/C dengan SKBDN? maaf banyak tanya gan...kalo ga nanya ma agan2 di kaskus, mo nanya kemana lagi? CS bank yg ane datangi juga ga bisa memberikan jawaban yg memuaskan...liat diwikipedia, juga ga memuaskan... thx before... Jawab: krn L/C ada banyak jenisnya, gue coba fokus di Irrevocable L/C at Sight, yg banyak and umum dipake.. 1.tergantung definisi "aman" di sini.. sepanjang Issuing Bank nya itu gak fiktif and ada di negara2 yg aturannya lumayan ketat (bukan negara bermasalah macam Somalia), yah memang kemungkinan kecil bahwa barang yg loe kirim bisa diambil tanpa loe dibayar 2.prosedure pencairan pembayaran melalui L/C sebetulnya simple; kl seluruh dokumen yg loe submit ke bank itu "clean" (alias sesuai dng persyaratan L/C), maka Issuing Bank (Bank si Buyer/Bank Penerbit L/C) harus melakukan pembayaran ke bank si penjual Cuma yg sering membuat jd "rumit" adalah syarat2 dokumen yg tercantum di L/C tsb, makanya sblm si pembeli menerbitkan L/c secara resmi, si penjual harus melihat draft dr L/c tsb, utk memastikan bahwa si penjual bisa memenuhi syarat2 dokumen yg diminta oleh si pembeli 3.L/C fiktif? bisa bgt..makanya utk memastikan itu gak terjadi, sblm si penjual melakukan pengapalan, si penjual harus memastikan bahwa L/C yg dia terima dr Buyer itu diterima melalui jalur SWIFT (Inter-bank), jd pastikan bahwa L/C itu diterima oleh bank si penjual melalui SWIFT, ini akan meminimalisir resiko L/C fiktif 4.kl cash against L/C doang sih gak ada kali gan..soalnya utk menjadikan L/C itu uang kan harus ada barang yg dikapalkan, nah kl misalkan si penerima L/C tiba2 bangkrut atau wanprestasi gak bisa melakukan pengapalan and kabur stlh menerima duit cash, gimana si penjamin bisa cairin L/C tsb? yg ada adalah, bank si penjual menjadi pemberi fasilitas, jd si penjual setelah melakukan pengapalan dan mempersiapkan seluruh dokumen yg dipersyaratkan oleh L/C, bisa lsg mendapatkan pembayaran dr bank si penjual (stlh bank si penjual memastikan semua dokument yg disiapkan itu "clean" atau sesuai dng syarat di L/C) tp biasanya bank di Indonesia hanya mau memberi fasilitas ini utk perusahaan2 besar (yg rekeningnya di bank tsb melebihi jumlah uang yg dicover oleh L/C tsb) atau meminta collateral dr si penjual.. intinya sama aja, begitu L/C tsb tidak terbayar/dokumen ditolak oleh Issuing Bank atau oleh si pembeli, bank si penjual akan membekukan uang sejumlah L/C tsb di rekening si penjual atau mencairkan collateral si penjual td (ingat: bank2 di Indonesia itu biasanya mau main 100% aman ) 5.as far as I know, SKBDN itu utk transaksi di dalam negri, prinsip kerjanya sama aja spt L/C, cuma transaksi jual beli dilakukan oleh penjual dan pembeli yg berdomisili di Indonesia...CMIIW.. Jawab: gue mau tambahin satu; resiko terburuk dr L/C at Sight (yg gak fiktif and issuing Bank nya prudent) resiko terburuk yg bisa terjadi; dokument loe gak "clean", and kebetulan pembeli loe lagi gak mau ambil barang misalkan, nah bisa kejadian shipment loe ditolak, and semua dokumen akan dikembalikan ke bank loe.. apa si Buyer bisa ambil barang yg loe kirim? GAK BISA cuma since barang loe udh ada di overseas port somewhere, loe harus keluarin dana besar utk re-ship it back to your loading port..or cari pembeli lain dng segala pressurenya (not very easy kl kejadian kyk gini).. partairetak - 30/09/2009 11:37 AM #3 Tanya: Kalau untuk irrevocable l/c at sight kan biasa ada waktu 30 - 45 days. Harusnya jika dalam 30 - 45 days presentation period dokumen sudah lengkap semua, walaupun buyer nya ga ambil barang bukan nya bank tetep cairin dana kita ? Tips untuk terima L/c : 1. lihat negara nya apakah reputable atau tidak 2. lihat rating bank tersebut, lebih baik AAA seperti HSBC, Citibank, etc Jawab: 30-45 days yg loe maksud ini apa? live period dr L/C iu sendiri? atau waktu utk presentasi dokumen? jd gini, biasanya L/C dibuka dng jangka waktu, misalkan Issued date 30 Sept 2009 and expiry date November 10, 2009, disamping tanggal2 ini, ada lagi tgl yg dsbt "latest shipment date" yg berarti tanggal terakhir di mana si penjual bisa melakukan pengapalan (tanggal di sini adalah tanggal on board date di B/L), and latest shipment date selalu jatuh sebelum tanggal expiry si L/C pastinya. selain itu ada yg dsbt latest document submission date: biasanya si penjual dikasih waktu 21 days after shipment date utk men-submit/mem-presentasikan semua dokumen yg disyaratkan oleh L/C ke bank si penjual jd gak ada hubungannya antara presentation period dng pasti enggaknya dana dicairkan.. sekarang mengenai pencairan dana itu sendiri. Bank si Pembeli (Issuing Bank/Bank penerbit L/C) memiliki waktu 5 hari kerja (banking days) sesuai UCP 600..CMIIW utk mereview dokumen2 yg dikirimkan oleh si penjual (melalui bank si penjual) dan mengambil keputusan (berdasarkan keputusan di Buyer tentunya) utk menolak atau menerima dokumen2 tsb.. kl si Buyer menerima dokumen2 tsb, maka Issuing Bank and me-release seluruh dokument tsb ke si Buyer and Issuing bank akan melakukan proses pembayaran L/C tsb kl si Buyer menolak dokumen tsb, maka Issuing Bank akan mengembalikan seluruh dokumen tsb ke bank si penjual (tanpa melakukan pembayaran tentunya) jd sama sekali TIDAK ADA praktek pembayaran PASTI dilakukan setelah periode tertentu.. Tanya: Jadi tidak ada yang pasti ya, walaupun pas kita terima l/c trus di confirm juga. Ada pengalaman sendiri pas pembayaran l/c trus tiba2 di cancel ? Btw, biasa di product apa aja nih bro diablo ? Jawab: betul, tidak ada yg pasti 100%, tapi biar bagaimanapun L/C at Sight tetap dianggap sbg instrumen pembayaran export-import yg lebih baik dibanding metode2 pembayaran lainnya spt D/P (Document Against Payment) atau 100%TT, atau 50% down payment etc..dengan segala positif dan negatifnya.. akan lebih baik lagi apabila penjual bisa bernegosiasi utk meminta metode pembayaran kombinasi, contohnya: 20% (atau 30%) down payment sebelum container loading and sisanya melalui L/C at Sight. dlm hal spt ini, posisi si penjual akan lebih kuat (walaupun meminta metode pembayaran spt ini bukan hal yg mudah). pengalaman gue sendiri yg sdkt buruk dng L/C terjadi bbrp tahun lalu.. terjadi dng reguler buyer yg sudah bekerjasama 1 thn lbh dan perusahaan gue melakukan pengapalan rutin ke mereka 1 minggu sekali pada saat container sdh tiba dan shipping docs sdh ada di bank si pembeli (krn pk L/C at Sight kan), tiba2 muncul claim dr si pembeli bahwa barang yg kami kirimkan 2 bulan sebelumnya mengalami selisih di tonase/berat, invoice gue 23 ton, tp mrk claim bahwa actual volume yg mrk terima cuma 20 ton lebih sdkt. tentu gue menolak dong, krn pasal di kontrak menyebutkan claim maksimum harus dilakukan 1 bulan setelah container tiba, masa 2 bulan baru tau kl barang kurang sekian ton? kan gak masuk akal.. tp apa yg terjadi? dokumen yg udh ada di bank mrk utk pengapalan yg baru td tiba2 ditolak dng 3-4 discrepancies (dan discrepancies di sini bener2 gak masuk akal dan dicari2.perlu dicatat, dokumen tsb dikirim oleh bank gue dng status "clean" (setelah dilakukan pengecekan ketat di bank gue sblm dikirim). stlh itu gue lsg berdiskusi dng bagian L/C bank gue and you know what? bagian L/C bank gue bilang, discrepancies yg kesannya dicari2 itu 100% sah. why? soalnya discrepancy itu bisa dicari2 dng mendasarkan pd UCP (waktu itu masih UCP500) waktu itu buyer gue memberi pilihan, dokumen ditolak atau diterima tp dng potongan USD 5000 given the circumstances, akhirnya terpaksa deh gue terima.. nah itu jd pelajaran berharga bahwa L/C sama sekali bukan jaminan, even loe udh make sure dokumen yg loe kirim semuanya "clean". btw, gue di bidang plastik dan turunannya gan.. diablo's Tanya: Bisa ya dengan discrepancies yang 2 bulan lalu terus disangkut paut kan dengan shipping yang terbaru ? Apa UCP sekarang udah di revisi ? Kita lebih baik di berat tulis nya +/- 10% aja biar ad toleransi nya kalo weight nya kurang tepat. Bisa aj di kontainer tuh kehujanan, barang susut, etc.. Wah, kl sekarang sih sistemnya TT 100% after b/l shown. kira2 butuh direvisi ga ya ? ngeri2 juga ntar case nya seperti yang diatas. Untuk produk turunan plastik mungkin barang jadi nya ya ? Ad peluang2 ap lagi nih yang potential ? Jawab: discrepancy nya bukan utk shipment 2 blm sebelumnya gan.. disrepancy nya dicari2 utk shipment yg terakhir/terbaru (yg waktu itu blm terbayar and dokumen udh smp di bank pembeli), tujuannya utk mendapatkan potongan invoice, dikaitkan dng claim terhadap barang yg udh tiba 2 bulan sebelumnya (tp baru diclaim 2 bulan kemudian), begitu kira2 UCP skrg udh versi UCP 600 and ada bbrp perubahan mendasar sih (tp terus terang gue sendiri gak begitu well verse kl udh menyangkut seluruh pasal diUCP), yg gue denger katanya sih, Issuing bank sesuai UCP 600 gak bisa menolak dokumen kl cuma atas dasar typo error aja.. mengenai +/- 10%, setiap L/C umumnya selalu mencantumkan volume tolerance +/- 10% dr jumlah tg tertulis di L/C.. tp ingat, pasal ini sama sekali bukan utk memberikan toleransi utk weight yg tidak tepat.. jd begini, setiap L/C yg di issue, harus ada jumlah nominal dan jumlah volume barang sebagai acuan (contoh Amount USD 25000, volume: 23 MT), nah misalkan dlm proses loading container si penjual cuma bisa memuat 22 MT atau malah memuat smp 24 MT, bagaimana invoice harus dibuat/disesuaikan dng L/C yg mencantumkan 23 MT td? nah inilah gunanya pasal volume tolerance +/- 10% krn dlm praktek, utk barang2 tertentu, akan sangat sulit utk memastikan brp persisnya si penjual bisa memuat suatu container sblm container itu sendiri selesai dimuat TT 100% after B/L shown (maksudnya mungkin 100% TT after you send the COPY B/L ke si pembeli kan) itu punya kelemahan, si pembeli bisa back out (atau menarik kesepakatan utk membeli barang tsb) tanpa ada resiko sama sekali buat dia..sama spt dlm metode D/P (Documents Against Payment). 100% L/c at Sight akan lebih baik dr metode ini, atau even better kl bisa dinegosiasikan utk jd : 20% down payment 7 days before loading and 80% is payable against COPY B/L bukan bro..produk "turunannya" bisa spt lumps, chips, atau pop corn peluang yg potential ? banyak kali bro..cuma dlm setiap bisnis kan ada plus minusnya and tanpa knowledge yg cukup soal plus minusnya td, mending jng lsg jump into it, krn kita ini sering latah, begitu melihat satu sektor kyknya lg booming, lsg ikut2an tanpa mau mempelajari lbh jauh dulu, yg keliatan cuma cerita manisnya doang, bgtu udh terjun baru sadar; oh ternyata begini, begitu, gak enak juga ya,etc....just IMO.. diablo's View bbcode missiceres - 05/10/2009 07:02 PM #11 bro diablos;disebutin juga dong dokumen pendukungnya certificate of weighing measuring analysis kalo udah overseas biasanya consignee gak akan ngelewatin itu hal di shipping instructionnya , ikut dijelasin donk kepada suppleyer,kita khan juga memberikan rekomendasi terhadap issuing bank dan temen2 nya..... orang indonesia bae2ko.... pasti mau kasih yang bener n gak nge boongin pemilik barang/cuman fee nya gede dikit boleh khan... fee kejujuran kondisi ane sekarang lagi latihan sertifikasi untuk world sea trade - UCP600 based/jadi masih anget nih.... RGDS, missiceres generalmarinecargosurveyor&cargoinsurance View bbcode krakrikru - 05/10/2009 07:10 PM #12 Iya, betul tuh kalo ad discrepancies emang kadang2 cuman buat dapat discount. Jadi ad tips2 supaya kita punya supplying power daripada buyer ? hmm.. iya TT 100% after b/l shown jadi kalo buyer tiba2 back out, apa perusahaan dia masih bisa ambil barang di pelabuhan lagi ? belum lagi dia harus bayar biaya inap di pelabuhan nya. Selama ini sih jalan ok2 ja, tapi just in case terjadi hal2 yang ga di inginkan harus tau solution nya. iya, ad yang potential dan ad juga yang "potential" View bbcode nemesisok - 05/10/2009 08:17 PM #13 wah diskusi yg asik ni gan, gw ijin nyimak ya, pengen tau lebih banyak ttg exim nich...one day i wanna be... View bbcode ahdy prix - 05/10/2009 08:44 PM #14 wow mantep bgt deh forum ini sekarang View bbcode diablo889 - 05/10/2009 09:02 PM #15 Quote: Original Posted By missiceres bro diablos;disebutin juga dong dokumen pendukungnya certificate of weighing measuring analysis kalo udah overseas biasanya consignee gak akan ngelewatin itu hal di shipping instructionnya , ikut dijelasin donk Jawab: dokumen pendukung yg dipersyaratkan L/C yg paling umum; -Commercial Invoice in triplicate -Packing List in triplicate -Full set of original clean on board B/L ini yg pasti selalu ada di L/C, di samping itu biasanya ada additional requirement (gak selalu); -Certificate of origin -Public weight ticket (timbangan berat) -lab analysis (tergantung komoditasnya) etc err.. yg di BOLD itu maksudnya apa ya? shipping instruction kan biasanya dikeluarkan oleh Shipper (Exporter/penjual) ke shipping lines, semacam order pemesanan container and vessel space.. Quote: Original Posted By missiceres kepada suppleyer,kita khan juga memberikan rekomendasi terhadap issuing bank dan temen2 nya..... orang indonesia bae2ko.... pasti mau kasih yang bener n gak nge boongin pemilik barang/cuman fee nya gede dikit boleh khan... fee kejujuran Ic..jd perusahaan loe kasih rekomendasi soal bagus enggaknya suatu Issuing Bank (banknya si pembeli) ke si pemilik barang/penjual, gitu? Quote: Original Posted By missiceres kondisi ane sekarang lagi latihan sertifikasi untuk world sea trade - UCP600 based/jadi masih anget nih.... RGDS, missiceres generalmarinecargosurveyor&cargoinsurance wah bagus nih gan, silakan dishare knowledge soal UCP 600 nya di sini. diablo's View bbcode diablo889 - 05/10/2009 09:17 PM #16 Quote: Original Posted By krakrikru Iya, betul tuh kalo ad discrepancies emang kadang2 cuman buat dapat discount. Jadi ad tips2 supaya kita punya supplying power daripada buyer ? hmm.. iya TT 100% after b/l shown jadi kalo buyer tiba2 back out, apa perusahaan dia masih bisa ambil barang di pelabuhan lagi ? belum lagi dia harus bayar biaya inap di pelabuhan nya.Selama ini sih jalan ok2 ja, tapi just in case terjadi hal2 yang ga di inginkan harus tau solution nya. iya, ad yang potential dan ad juga yang "potential" Jawab: maksud loe "bargaining power" ya?susah sih kl utk itu, ingat prinsip ;buyer is king yah, sebisa mungkin si penjual musti menyiapkan plan B in case terjadi hal yg paling buruk. plan B itu contohnya; menyiapkan calon pembeli lain (di negara tempat tujuan ekspor tsb), jd kl ada apa2 dng pembeli A, lsg dioffer ke pembeli B relationship dng Buyer itu juga penting bgt, face to face meeting, berkunjung ke kantor si pembeli, etc itu benar2 bermanfaat (based on my experience) BOLD:selama full set original B/Lmasih ada di tangan si penjual tentu, buyer yg back out ini gak akan bisa ambil barang di pelabuhan negara dia dong.. mengenai biaya inap di pelabuhan yg lazim dsbt demurrage ini, harus hati2 gan, soalnya ada bbrp shipping lines yg menganggap siapa yg memegang B/L dia yg bertanggung jwb terhadap ongkos2 di pelabuhan (krn barang yg tidak diambil itu), makanya penting bgt utk memperjelas hal itu di kontrak yg ditanda tangani antara penjual-pembeli. kl terjadi hal spt itu: buyer back out dr kesepakatan jual beli, yg paling terbaik dikerjakan ya secepatnya cari pembeli alternatif di negara yg sama, kedua worst come to worst harus siap dng rencana terakhir: re-shipment (balik ke loading port).. diablo's View bbcode diablo889 - 05/10/2009 09:26 PM #17 Jawab: o iya satu lg, biasakan utk hanya menerima klausul ini di L/C: -documents required: 1.Full set of original clean on Board B/L, jng pernah mau terima L/C kl disebutkan bahwa 1 original B/L dikirim lsg ke si Buyer sedangkan 2 original B/L sisanya disubmit ke bank. diablo's View bbcode krakrikru - 06/10/2009 06:54 PM #18 Thanks tips2 nya, i noted it down. Jadi intinya pembeli lebih cuan daripada penjual ya ? iya sih pembeli ga beli kalo ga ad cuan. Misalnya buyer back out terus consignee nya sudah nama perusahaan buyer nya bukan ditulis " to order " apakah kita bisa ambil barang di port buyer ? Kalau misalnya kita ga urus juga barang nya, apa nama perusahaan buyer ad di black list pelabuhan tsb ? Kalau di pelabuhan tujuan ambil barang kita bisa tugasin perusahaan trucking untuk keluarin barang disitu ga ? Biaya2 reshipment biasa liat nya dimana ya ? Buyer2 nakal biasa dari negara2 kawasan india kyknya paling banyak. betul ya ? Salut experiences nya bro diablo( gimana kasi cendol ya ) View bbcode diablo889 - 06/10/2009 10:13 PM #19 Quote: Original Posted By krakrikru Thanks tips2 nya, i noted it down. Jadi intinya pembeli lebih cuan daripada penjual ya ? iya sih pembeli ga beli kalo ga ad cuan. Misalnya buyer back out terus consignee nya sudah nama perusahaan buyer nya bukan ditulis " to order " apakah kita bisa ambil barang di port buyer ? Kalau misalnya kita ga urus juga barang nya, apa nama perusahaan buyer ad di black list pelabuhan tsb ? Kalau di pelabuhan tujuan ambil barang kita bisa tugasin perusahaan trucking untuk keluarin barang disitu ga ? Biaya2 reshipment biasa liat nya dimana ya ? Buyer2 nakal biasa dari negara2 kawasan india kyknya paling banyak. betul ya ? Salut experiences nya bro diablo( gimana kasi cendol ya ) Jawab: susah utk dibilang siapa yg lebih cuan sih gan, masing2 punya bottom line nya sendiri, masing2 saling membutuhkan and dlm bisnis tentunya siapa yg bisa gain lbh banyak, tentu dia yg lebih pintar kan? utk komoditas tertentu (raw material contohnya), kadang pembeli sangat membutuhkan barang tsb dan bukan utk dijual lg, tp utk menjaga kelangsungan production line pabrik mereka..jd gak melulu persoalan siapa yg lbh cuan..after all, prinsip : buyer is king kan berlaku di semua bisnis.. sepanjang kapal/container blm tiba di pelabuhan tujuan, si shipper/exporter bisa merubah nama consignee yg tercantum di B/L (vessel manifest/shipping lines system) tentunya dng extra charge tp begitu kapal sdh tiba di pelabuhan tujuan, things would get complicated..shipping lines normalnya akan mensyaratkan shipper utk meminta surat tertulis dr consignee (yg tertera di B/L and manifest) yg menyatakan bahwa mereka setuju utk pengalihan nama tsb ini kl menyangkut pengalihan cargo ke pembeli lain.. dlm hal "apakah loe bisa mengambil barang di destination port" sementara nama si buyer yg back out itu tertera di B/L; ya bisa, asalkan loe memegang full set B/L and shipping lines office di destination port udh mencoba mengkontak consignee utk pengambilan container, tp si consignee gak bisa dihubungi atau menyatakan bahwa mereka tidak mau mengambil/merelease container tsb. soal black list itu begini.. pada umumnya aturan main di shipping lines apa bila ada kejadian container tidak direlease oleh consignee (dan shipper tidak mau re-shipment barang tsb)adl spt ini; 1.selama perusahaan consignee tidak fiktif, maka shipping lines akan mengejar consignee tuk pertanggung jawaban (extra cost di destination port,etc).apabila perusahaan consignee fiktif, maka shipping lines akan mengejar shipper 2.apabila selama jangka waktu tertentu si consignee tetap membandel maka container akan dibuka paksa dan barang itu dilelang di sana 3.consignee akan diblacklist minimal oleh si shipping lines kl utk pengeluaran barang dr destination port, tentunya loe harus memakai jasa perusahaan customs clearance di negara tsb dan mengikuti aturan2 yg ada, tp pada prinsipnya hampir semua bisa dikerjakan (kecuali dlm bbrp kasus tertentu).soal biaya re-shipment sih tergantung dr negara mana container itu nyangkut and commoditynya juga kali gan, case by case sifatnya buyer yg nakal pada prinsipnya ada di mana aja sih gan, cuma kl kita dengar pengalaman2 org lain mungkin India dan China (RRC) lebih banyak terdengar, bisa jd itu subyektif dan tidak mewakili kenyataan sebenarnya.. cendol? nanti aja kl udh ISO gan diablo's View bbcode krakrikru - 07/10/2009 07:38 PM #20 hmm.. i see i see.. Cengli juga, kalo commodities bisa juga buat speculation. Bro, kalo commodities sperti cocoa, coffee, soyabean itu harga nya tergantung hari itu punya harga pas pengapalan ? cukup rumit juga itung modal nya kalao sperti itu blum volatilitas dari mata uang juga.. mohon pencerahan nya. iya, lebih baik di jaga guanxi nya dulu agar ga terjadi hal2 yang back out sperti ini. bisa selesai masalah tapi rugi waktu dan material juga harus diperhitungkan. ISO apaan tuh, gan ? iso 2000 ? Cheers
Get documents about "