PERAN TERNAK SEBAGAI KOMPONEN USAHATANI PADI UNTUK PENINGKATAN

Document Sample
PERAN TERNAK SEBAGAI KOMPONEN USAHATANI PADI UNTUK PENINGKATAN Powered By Docstoc
					     PERAN TERNAK SEBAGAI KOMPONEN USAHATANI PADI UNTUK PENINGKATAN
                            PENDAPATAN PETANI

                                    MH. Togatorop dan Wayan Sudana
                    Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Bogor


                                                    ABSTRAK

           Suatu pengkajian telah dilakukan untuk mengetahui peran serta komponen ternak sebagai salah satu komponen
usahatani padi untuk peningkatan pendapatan petani yang bersangkutan. Pengkajian ini dilakukan di Desa Parakan dan
Karangjaya, Kabupaten Karawang Jawa Barat dan Desa Tolai dan Tindaki, Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah.
Pengumpulan data dilakukan melalui survei dengan teknik wawancara yang menggunakan kuesioner terstruktur dengan
30 orang responden untuk masing-masing desa contoh. Responden dipilih secara acak, sedangkan desa dan kelompok
tani dipilih secara sengaja, yaitu yang berada di sekitar program Prima Tani. Data yang dikumpulkan kemudian diedit dan
ditabulasi untuk selanjutnya dianalisis secara deskriptif dan financial. Hasil yang diperoleh, antara lain: Tingkat
pendidikan kepala keluarga dan istri di Desa Tolai dan Tindaki (daerah transmigrasi) lebih tinggi daripada di Desa
Parakan dan Karangjaya (daerah non transmigrasi). Tani tanaman pangan masih dominan diusahakan petani responden di
masing-masing desa contoh yang terpilih. Penguasaan ternak di Desa Parakan dan Karangjaya yang telah diusahakan
petani didominasi ayam buras diikuti itik dan entok, sedangkan di Desa Tolai dan Tindaki ternak babi dan diikuti ayam
buras. Lahan sawah irigasi, ternyata 59% petani responden dengan rata-rata penguasaan 0,40 ha sudah status milik di
Desa Parakan dan Karangjaya, sedangkan di Desa Tolai dan Tindaki jauh lebih tinggi, yaitu 91% petani responden
dengan penguasaan rata-rata 1,47 ha. Kontribusi pendapatan dari ternak di Desa Tolai dan Tindaki 9,36% lebih tinggi
daripada di Desa Parakan dan Karangjaya hanya 1,16%. Hal ini kemungkinan sebagai akibat penguasaan ternak yang
dominan adalah ayam buras dan babi serta pemeliharaan sangat ekstensif, sedangkan pemilikan ternak besar tidak ada.
Pendapatan dari ternak ini cukup berperan dalam peningkatan pendapatan petani daripada hanya mengandalkan tanaman
pangan (padi dan palawija), yaitu untuk Desa Parakan dan Karangjaya serta Desa Tolai dan Tindaki berturut-turut hanya
57,20% dan 43,94% dari seluruh pendapatan yang diterima petani responden.

Kata kunci : ternak, komponen, usahatani, pendapatan


                                                PENDAHULUAN

         Perkembangan luas panen padi sawah secara nasional selama kurun waktu 1995 hingga 2003
menunjukkan perkembangan yang kurang menggembirakan dengan indikator pertumbuhan rata-rata per
tahun hanya 0,96 persen dan diikuti perkembangan produksi 1,2 persen pertahunnya (BPS, 2004). Padahal
kalau dilihat dari aspek konsumsi beras secara nasional di kota maupun di desa adalah cukup tinggi, yakni
sekitar 97-100 persen. Selanjutnya rata-rata konsumsi beras masyarakat per kapita menunjukkan kenaikan
dari 108,89 kg pada tahun 1996 mejadi 120,97 kg pada tahun 1999 (BPS, 2000)
         Selanjutnya pertumbuhan produksi beras akhir-akhir ini menunjukkan perlambatan baik di sentra
produksi beras di Jawa maupun di luar Jawa. Irawan dkk (2003), melaporkan melambatnya laju produksi
padi ini, disebabkan melambatnya laju pertumbuhan produktivitas per satuan luas lahan. Surono (2001)
mengatakan bahwa produksi padi pada prinsipnya ditentukan oleh dua variabel, yaitu luas panen dan hasil
per hektar (produktivitas). Di samping itu laju peningkatan mutu inovasi teknologi usahatani padi oleh petani
yang lambat dan terjadi degradasi kesuburan lahan sawah karena menurunnya kandungan bahan organic
dalam tanah serta punahnya mikroorganisme pembentuk unsur N. Dengan demikian keberadaan ternak dalam
usahatani padi ini sangat membantu untuk memperbaiki struktur kesuburan dan dapat menahan penyerapan
air melalui pupuk kandang dari ternak.
        Di sisi lain keberadaan ternak sebagai komponen dalam usahatani padi yang dikelola petani
bersangkutan dapat memberikan kontribusi peningkatan penerimaannya dan pada akhirnya dapat
meningkatkan pendapatan petani tersebut. Dengan demikian tujuan dari pengkajian yang dimanifestasikan
dalam tulisan ini untuk mengetahui sejauhmana peran ternak sebagai komponen usahatani padi dalam
peningkatan pendapatan petani.


                                                 METODE PENGKAJIAN

         Pengkajian dilakukan dengan metode survei dengan menggunakan kuisioner terstruktur. Lokasi
penelitian adalah di wilayah pengembangan program Prima Tani, yakni lahan sawah irigasi di Provinsi Jawa
Barat dan Sulawesi Tengah.
         Teknik pengambilan sampel responden (petani) 30 orang dilakukan secara acak, sedangkan desa dan
kelompok tani dipilih “purpossive” (secara sengaja), yaitu disekitar Program Prima Tani. Desa terpilih adalah
Desa Parakan dan Desa Karangjaya Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat. Sedangkan Provinsi Sulawesi
Tengah adalah Desa Tolai dan Desa Tindaki Kabupaten Parigi Moutong. Data yang di kumpulkan adalah
data primer (petani) dan sekunder, antara lain: karakteristik petani, pemilikan asset pertanian, teknologi
pertanian yang dilakukan, produktivitas usahatani, pendapatan petani.
         Semua data yang dikumpulkan di edit dan ditabulasi ke dalam tabel analisis yang dipersiapkan.
Selanjutnya data tersebut dianalisis secara deskriptif dan financial.


                                       HASIL DAN PEMBAHASAN

1.    Karakteristik Responden
a.    Umur, Pendidikan, dan Potensi Tenaga Kerja Keluarga
       Kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia yang dalam hal ini petani responden merupakan faktor
utama yang perlu diperhatikan dalam proses produksi usaha tani yang dikelolanya. Kondisi umur, pendidikan
dari responden sangat mempengaruhi kualitasnya disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Karakteristik Anggota Keluarga Petani Responden di Desa Contoh Kabupaten Karawang Jawa Barat dan Parigi
         Moutong Sulawesi Selatan, Tahun 2005

                                                                     Desa contoh
                    Uraian                       Parakan dan Karangjaya     Tolai dan Tindaki Kabupaten
                                                  Kabupaten Karawang               Parigi Moutong
     1.  Umur (th)
         a. Kepala keluarga                               45,23                             40,18
         b. Isteri                                        37,65                             35,60
   2.    Pendidikan (th)
         a. Kepala keluarga                                4,10                              8,59
         b. Isteri                                         3,75                              6,79
   3.    Rataan jumlah anggota                             5,19                              5,94
         keluarga (jiwa)
   4.    Jumlah anggota keluarga                           2,54                              3,13
         produktif (15-64 th) / jiwa
   5.    Rasio beban tanggungan                            2,96                              1,11
Sumber data : Data Primer (Diolah)

         Dari data yang disajikan pada Tabel 1, ternyata rata-rata umur kepala keluarga (KK) dan isteri
responden di Desa Parakan dan Karangjaya berturut-turut 45,23 tahun dan 37,65 tahun lebih tinggi daripada
di Desa Tolai dan Tindaki berturut-turut 40,18 tahun dan 35,60 tahun. Lain halnya dengan rata-rata
pendidikan dilihat dari lamanya mengikuti pendidikan tersebut, yaitu untuk KK dan isteri responden di Desa
Tolai dan Tindaki berturut-turut 8,59 tahun dan 6,97 tahun lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata
pendidikan bagi KK dan isteri di Desa Parakan dan Karangjaya berturut-turut 4,10 tahun dan 3,75 tahun.
Data ini menggambarkan kualitas responden relatif lebih baik / tinggi di Desa Tolai dan Tindaki daripada
responden di Desa Parakan dan Karangjaya.
         Rataan jumlah anggota keluarga responden di Desa Parakan dan Karangjaya (5,19) hampir sama
dengan rata-rata jumlah anggota keluarga di Desa Tolai dan Tindaki (5,94). Sedangkan jumlah anggota
keluarga yang produktif di Desa Parakan dan Karangjaya lebih rendah (2,54) daripada di Desa Tolai dan
Tindaki (3,13) (Tabel 1).

b.    Sumber Mata Pencaharian
        Di desa contoh pengkajian baik kepala keluarga dan isteri mempunyai mata pencaharian utama dan
sampingan (Tabel 2). Sektor pertanian terutama. Tanaman pangan masih menjadi mata pencaharian utama
KK responden baik di Desa Parakan dan Karangjaya, yakni 93,33 persen maupun responden di Desa Tolai
dan Tindaki 95 Persen (Tabel 2).
Tabel 2. Jenis Pekerjaan Utama dan Sampingan Petani Responden di desa Contoh Kabupaten Karawang Jawa Barat dan
         Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah, Tahun 2005

                                                          Desa Contoh (%)
                           Parakan dan Karangjaya Kabupaten            Tolai dan Tindaki Kabupaten Parigi
     Jenis Pekerjaan                   Karawang                                     Moutong
                         Kepala Keluarga           Isteri           Kepala Keluarga             Isteri
                        Utama Sampingan Utama Sampingan Utama Sampingan Utama Sampingan
 1. Tanaman Pangan      93,33          1,67    55,00          6,67    95,00          3,13    63,33          4,76
 2. Hortikultura            -          3,33     1,67             -        -             -        -             -
 3. Peternakan              -          1,67        -             -        -          3,13        -             -
 4. Perkebunan              -             -        -             -        -         42,19        -         19,05
 5. Buruh pertanian         -         31,67     5,00         23,33        -         18,75        -         12,70
 6. Perdagangan             -          8,33    13,33          3,33        -          3,13     5,00             -
 7. Jasa                 3,33         10,00     3,33             -        -          3,13     3,33          1,59
 8. Buruh non tani       1,67          6,67     1,67          3,33        -          1,56        -             -
 9. Lain-lain            1,67             -    20,00         61,67     5,00         24,98    28,34         61,90
Sumber : Data primer (Diolah)

          Hal ini menunjukkan produksi tanaman pangan (beras) bagi petani masih dominan sebagai sumber
kalori dan protein. Hasil ini sejalan dengan laporan Irawan (2004), ternyata secara nasional sekitar 55 persen
konsumsi kalori dan 45 persen konsumsi protein rumah tangga berasal dari beras. Pekerjaan sampingan
responden ternyata buruh tani menjadi pilihannya baik KK maupun isteri di Desa Parakan dan Karangjaya
berturut-turut 31,67 persen dan 23,33 persen, sedangkan di Desa Tolai dan Tindaki 18,75 persen dan 12,70
persen (Tabel 2). Sektor jasa, baik KK maupun isteri responden di Desa Parakan dan Karangjaya menjadi
pilihan utama, sedangkan di Desa Tolai dan Tindaki hanya isteri yang memilih pekerjaaan utama dan sektor
jasa tersebut bagi KK responden hanya sebagai sampingan saja.

2.    Penguasaan lahan
         Lahan adalah aset produktif dan sumberdaya utama (land based resource) bagi petani dalam usaha
taninya. Penguasaan lahan responden pada pengkajian ini disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3.    Luas penguasaan lahan petani responden berdasarkan status di desa contoh Kabupaten Karawang Jawa Barat
            dan Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah, Tahun 2005

                                                       Desa Contoh (%)
                            Parakan dan Karangjaya Kabupaten      Tolai dan Tindaki Kabupaten Parigi
        Jenis lahan
                                        Karawang                               Moutong
                            Milik    Sewa     Sakap    Gadai      Milik      Sewa     Sakap     Gadai
 Sawah      luas (ha)        0,40         -        0,82       0,53        1,47        3,0        1,31        -
 iriasi     Petani (%)         59         -         21         20          91          2          7          -
 Ladang/    luas (ha)        0,02         -        0,15       0,10          -          -           -         -
 tegalan    Petani (%)         15         -         2          2            -          -           -         -
 Kebun      luas (ha)        0,01         -          -        0,01        0,79         -           -         -
            Petani (%)         10         -          -         2           72          -           -         -
 Kolam      luas (ha)           -         -          -          -         0,04         -           -         -
            Petani (%)          -         -          -          -          5           -           -         -
Sumber : Data primer (Diolah).

         Tabel 3 menunjukkan penguasaan lahan sawah irigasi sebagian besar status milik (59 persen)
dengan rata-rata pemilikan 0,40 ha di Desa Parakan dan Karangjaya lebih rendah daripada di Desa Tolai dan
Tindaki status milik 91 persen dengan rata-rata pemilikan 1,47 ha. Petani yang tidak memiliki sawah irigasi
di Desa Parakan dan Karangjaya 41 persen, selanjutnya di Desa Tolai dan Tindaki hanya 9 persen. Petani
yang tidak memiliki ini mendapatkan lahan untuk dikelola melalui sewa, sakap dan gadai (Tabel 3). Mengacu
kepemilikan luas lahan ini, petani tidak akan dapat menggantungkan sebagai sumber pendapatan satu-satunya
dari usaha tani padi, sehingga banyak petani berupaya mencari tambahan pendapatan, antara lain sebagai
buruh tani, beternak, bekerja di sektor jasa, dan sektor perdagangan.
        Selanjutnya kalau dari aspek pengelompokan kelas pemilikan luasan sawah irigasi di lokasi
pengkajian disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Persentase Pemilikan Lahan Sawah Petani Responden Berdasarkan Kelas Luasan di Desa Contoh Kabupaten
         Jawa Barat dan Parigi Mountong Sulawesi Tengah, Tahun 2005

                                                             Desa Contoh (%)
         Kelas Luasan (ha)
                                         Parakan dan Karangjaya              Tolai dan Tindaki
 1. < 0,25                                          20                                   2
 2. 0,25 – 0,49                                     26                                   3
 3. 0,50 – 0,99                                     29                                   27
 4. > 1,00                                          25                                   68
Sumber : Data primer (Diolah).

          Penyebaran petani responden menurut pengelompokan pemilikan luasan lahan di Desa Parakan dan
Karangjaya adalah hampir sama di empat kelas luasan, walaupun petani responden memiliki lahan kelas 0,50
– 0,99 ha tertinggi (29 persen) dibandingkan dengan kelas lainnya. Lain halnya di Desa Tolai dan Tindaki,
ternyata petani responden memiliki luas >1 ha paling dominan (68 persen) diikuti luas pemilikan 0,50 – 0,99
ha (27 persen); 0,25 – 0,49 ha (3 persen); dan pemilikan <0,25 ha hanya 2 persen (Tabel 4). Sedangkan
distribusi luas penguasaan lahan oleh petani responden berdasarkan jenis lahan di Desa Parakan dan
Karangjaya, tertinggi sawah irigasi 95 persen, diikuti ladang/tegalan 3 persen dan kebun 3 persen.
Selanjutnya di Desa Tolai dan Tindaki penguasaan petani responden menurut jenis lahan sawah irigasi,
kebun, dan kolam berturut-turut 68 persen, 31 persen dan 1 persen.

3.    Keragaan Teknologi Usahatani Padi
         Teknologi usahatani dalam pengkajian ini meliputi aspek pola tanam, varietas, teknik tanam,
kualifikasi benih, dan penggunaan jenis pupuk. Keragaan teknologi usahatani padi merupakan salah satu
indikator tingkat pengetahuan dan intensitas pengelolaan lahan padi yang dilakukan oleh petani.
        Selanjutnya petani responden di Desa Parakan dan Karangjaya menerapkan teknik pola tanam padi
– padi – bera 66 persen; padi – padi – palawija 17 persen; padi – padi – sayuran 12 persen, dan 5 persen
menerapkan pola tanam padi – bera – bera. Dengan pola tanam seperti di atas, memberikan kesempatan
perbaikan keadaan fisik kimia tanah (recovery) untuk mencegah kondisi “soil fatique”, sehingga
produktivitas lahan bias tetap terpelihara (Sitorus, 2004). Lain halnya dengan petani responden di Desa Tolai
dan Tindaki, melakukan teknik pola tanam padi – padi – bera sepanjang tahun 100 persen, disebabkan
penyediaan air irigasi yang mendukung. Teknologi usahatani yang telah dilakukan petani responden di desa
contoh pengkajian disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Persentase Petani Responden Yang Melakukan Teknologi Usahatani di Desa Contoh Kabupaten Karawang
         Jawa Barat dan Kabupaten Parigi Montong, Tahun 2005.

                                                                Desa contoh (%)
 No                Teknologi              Desa Parakan dan Karangjaya         Desa Tolai dan Tindaki
                                              Kabupaten Karawang             Kabupaten Parigi Moutong
 1.   Varietas : a. Unggul                              98                                    32
                  b. Lokal                               2                                    68
 2.   Teknik tanam : a. Tabela                           2                                    13
                        b. Tapin                        98                                    87
 3.   Kualifikasi benih :
        a. Berlabel                                    100                                    10
        b. Tidak berlabel                                                                     90
 4.   Penggunaan pupuk :
        a. Satu jenis   : MH                             8                                    36
                           MK                            9                                    49
        b. Dua jenis    : MH                            46                                    43
                           MK                           48                                    33
        c. Tiga jenis : MH                              31                                    18
                           MK                           32                                    13
        d. Empat jenis : MH                             15                                     3
                           MK                           11                                     5
Sumber : Data primer (Diolah), MH = Musim hujan, MK = Musim kemarau, Tapin = Tanam pindah
         Petani responden, baik di Desa Parakan dan Karangjaya maupun di Desa Tolai dan Tindaki sudah
melakukan teknologi usahatani padi seperti penggunaan varietas unggul, benih berkualifikasi, pupuk, dan
teknik tanam (Tabel 5). Di Desa Parakan dan Karangjaya 100 persen petani responden menggunakan benih
berkualifikasi, sedangkan di Desa Tolai dan Tindaki hanya 10 persen dan 90 persen menggunakan benih
tidak berlabel, kemungkinan kebiasaan petani dan atau kurangnya penyuluhan ke petani serta sumber benih
yang kurang. Berdasarkan peta status fosfat dan kalium tanah lokasi dengan status fosfat dan kalium sedang
memerlukan pemupukan fosfat dan kalium berturut-turut 75 kg/ha dan 50 kg/ha untuk memperoleh hasil padi
optimum (Sofyan, 2004). Adyana dan Suhaeti (2000) rendahnya adopsi teknologi disebabkan faktor, antara
lain (1) teknologi kurang sesuai dengan kebutuhan petani dan (2) keterbatasan modal petani sehingga
mengakibatkan rendahnya akses petani terhadap input produksi.

4.   Pemeliharaan Ternak
         Kenyataan menunjukkan, ternak merupakan aset penting bagi petani, antara lain: (1) sebagai
tabungan hidup (pendapatan), (2) sumber tenaga kerja, (3) alat transportasi, dan (4) sumber protein hewani.
Keberadaan ternak bagi petani responden sudah sangat dirasakan baik yang mempunyai lahan sempit sebagai
tambahan pendapatan, maupun sebagai pengelolaan lahan sawah. Sebagai tabungan, ternak merupakan suatu
aset produktif karena setiap saat dapat dijual untuk keperluan keluarga. Pemilikan ternak di desa contoh
pengkajian disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Pemilikan Ternak Petani Responden di Desa Contoh Kabupaten Karawang Jawa Barat dan Kabupaten Parigi
         Moutong, Tahun 2005
                                                             Desa contoh
         Jenis ternak                 Kabupaten Karawang                 Kabupaten Parigi Moutong
                                 Rataan (ekor)   Persentase petani   Rataan (ekor)   Persentase petani
 1. Sapi potong                        -                   -                  2                  7
 2. Domba                              6                  13                  -                  -
 3. Ayam ras
    a. Petelur                         -                   -                 24                   5
    b. Pedaging                        -                   -                 800                  2
 4. Ayam buras                        9                   63                 22                  58
 5. Itik                              15                  18                 32                   8
 6. Entok                             13                  18                  6                   2
 7. Babi                               -                   -                  6                  85
Sumber : Data primer (Diolah)

          Petani responden di Desa Parakan dan Karangjaya tidak ada yang memiliki ternak ruminansia besar
(sapi, kerbau), hanya memiliki ruminansia kecil domba dengan rata-rata pemilikan 6 ekor dari 13 persen
petani yang memiliki. Sedangkan di Desa Tolai dan Tindaki petani rata-rata pemilikan 2 ekor sapi potong
dari 7 persen petani yang memiliki (Tabel 6). Selanjutnya di Desa Parakan dan Karangjaya, dan Tolai dan
Tindaki yang dominan dipelihara petani responden adalah ayam buras dengan rata-rata pemilikan berturut-
turut rata-rata pemilikan 9 ekor dan 22 ekor dari 63 persen dan 58 persen petani yang memiliki. Sedangkan
ternak itik dan entok juga dipelihara petani responden di desa contoh pengkajian. Ternak ayam ras (petelur
dan pedaging) hanya di Desa Tolai dan Tindaki dipelihara petani responden (Tabel 6).
         Integrasi ternak ke dalam usahatani padi sangat diperlukan, karena dampaknya sangat penting
terhadap pemeliharaan siklus bahan organic tanah melalui rantai pakannya yang pada akhirnya pemeliharaan
produktivitas lahan. Di Desa Tolai dan Tindaki petani responden yang memiliki dan memelihara sapi dan
babi menghasilkan bahan organik yang cukup banyak untuk meningkatkan produktivitas lahan sawah. Dalam
banyak hal, pupuk kandang (kotoran babi) sangat cocok untuk pemupukan sayur-sayuran dataran rendah,
sehingga mempunyai nilai ekonomi dan pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani. Setyorini et
al., (2004) melaporkan pupuk kandang sebagai sumber hara akan memberi manfaat bagi tanaman dengan
pemberian sekitar 5 – 10 ton per hektar.

5.   Pendapatan Rumahtangga
         Mengukur tingkat kesejahteraan penduduk, ternyata distribusi pendapatan, salah satu indikator yang
perlu diperhatikan. Distribusi pendapatan petani responden di desa contoh pengkajian disajikan pada Tabel
7.
Tabel 7. Pendapatan Petani Responden di Desa Contoh Kabupaten Karawang Jawa Barat dan Kabupaten Parigi
         Moutong, Tahun 2005

                                                                Desa Contoh
                                        Desa Parakan dan Karangjaya         Desa Tolai dan Tindaki
               Uraian
                                            Kabupaten Karawang             Kabupaten Parigi Moutong
                                         Rp (x 1000)          (%)          Rp (x 1000)         (%)
 1. Pertanian
    a. Padi + palawija                       7.248          57,20               6.075          43,94
    b. Hortikultura                          1.389          10,96                   8           0,06
    c. Perkebunan                               45           0,36               4.622          33,43
    d. Peternakan                              147           1,16               1.295           9,36
    e. Perikanan                                 -              -                 232           1,68
 2. Buruh pertanian                            925           7,30                 706           5,10
 3. Buruh non pertanian                      2.918          23,02                 889           6,43
Sumber : data primer (diolah)

         Rataan pendapatan dari subsektor pangan (padi + palawija) masih dominan yang diperoleh petani
responden baik di Desa Parakan dan Karangjaya, maupun di Desa Tolai dan Tindaki berturut-turut 57,20
persen dan 43,97 persen. Selanjutnya diikuti sebagai buruh non pertanian (23,02 persen) dan hortikultura
(10,96 persen) di Desa Parakan dan Karangjaya, sedangkan di Desa Tolai dan Tindaki diikuti pendapatan
dari perkebunan (33,43 persen) dan 9,36 persen dari peternakan (Tabel 7). Rendahnya pendapatan dari
subsektor peternakan ini sejalan dengan pemilikan ternak di kedua desa contoh pengkajian adalah dominan
ternak ayam buras (Tabel 6), dan pemeliharaan yang sangat intensif. Walaupun demikian masih memberikan
kontribusi terhadap pendapatan petani responden, dan sangat diharapkan daripada hanya mengandalkan
pendapatan hanya dari tanaman pangan, walupun budidaya intensif masih kurang produktif.


                                              KESIMPULAN

Berdasarkan analisis tersebut di atas disimpulkan bahwa.
1.    Tani tanaman pangan merupakan mata pencaharian utama petani responden di Desa Parakan dan
      Karangjaya, serta Desa Tolai dan Tindaki berturut-turut 93,3 persen dan 95,0 persen.
2.    Penguasaan lahan sawah irigasi di Desa Parakan dan Karangjaya 59 persen petani responden sudah
      status milik dengan rata-rata pemilikan 0,40 hektar. Sedangkan di Desa Tolai dan Tindaki 91 persen
      status milik dengan rata-rata pemilikan 1,47 hektar.
3.    Kontribusi pendapatan dari ternak di Desa Tolai dan Tindaki 9,36 persen lebih rendah daripada di Desa
      Parakan dan Karangjaya 1,16 persen. Hal ini sejalan atau kemungkinan sebagai akibat pemilikan ternak
      di kedua desa contoh dominan ternak non ruminansia (babi dan ayam buras) disamping pemeliharaannya
      masih sangat ekstensif.
4.    Keberadaan ternak sebagai komponen usahatani sangat diharapkan untuk kontribusi penerimaan
      (pendapatan) petani disamping sebagai sumber pupuk kandang (organik) dalam upaya memperbaiki
      kesuburan tanah melalui perbaikan tekstur tanah tersebut.


                                           DAFTAR PUSTAKA

Adnyana, M.O. dan R.N. Suhaeti. 2000. Survei pendasaran pengembangan teknologi spesifik lokasi.
       Lembaga Penelitian IPB – Badan Litbang Pertanian, Bogor
Badan Pusat Statistik. 2000. Statistik Indonesia Dalam Susenas 2000, Jakarta
Badan Pusat Statistik. 2000. Statistik Indonesia Dalam F. Kasrino, E. Pasandaran dan A.M. Fagi. Penyunting.
       Ekonomi padi dan beras Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan, Jakarta
Irawan, B., B.Winarso, I. Sadikin, dan G.S. Hardono. 2003. Analisis faktor penyebab perlambatan produksi
        komoditas tanaman utama. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Badan
        Litbang Pertanian, Bogor
Irawan, B. 2004. Dinamika produktivitas dan kualitas budidaya padi sawah.           Pusat Penelitian dan
        Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Badan Litbang Pertanian, Bogor
Setyorini, D., L.R. Widowati dan S. Rochayati. 2004. Teknologi pengelolaan hata tanah sawah intensifikasi.
         Tanah sawah dan teknologi pengelolaannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan
         Agroklimat. Badan Litbang Pertanian, Bogor. Hal 137 – 168.
Sitorus, S.R.P. 2004. Evaluasi Sumberdaya Lahan. PT. Tarsito, Bandung
Sofyan, A., Nurjaya dan A. Kasrino. 2004. Status hara tanah sawah untuk rekomendasi pemupukan. Tanah
        sawah dan teknologi pengelolaannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat.
        Badan Litbang Pertanian, Bogor. Hal. 83 – 114
Surono, S. 2001. Perkembangan produksi dan kebutuhan impor beras serta kebijakan pemerintah untuk
        melindungi petani. Dalam A. Suryana dan Sudi Mardyanto. Penyunting Bunga Ramapi Ekonomi
        Beras. LPEM – FE UI, Jakarta. Hal. 41 – 58

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:109
posted:9/11/2012
language:Unknown
pages:7