RESPONS SELEKSI SIFAT TOLERANSI SALINITAS UDANG GALAH (

Document Sample
RESPONS SELEKSI SIFAT TOLERANSI SALINITAS UDANG GALAH ( Powered By Docstoc
					KETERBATASAN VARIASI GENETIK PADA POPULASI IKAN LEMURU (SARDINELLA
LEMURU BLEEKER) : KERAGAMAN GENETIK PADA POPULASI YANG HOMOGEN
                      1)         1)                       2)                3)
Gusti Ngurah Permana , Haryanti , Mochamad Muchlisin           dan Sukoso
1)
   Balai Besar Reset Perikana Budidaya Laut Gondol-Bali
2)
   Balai Pendidikan dan Pelatihan perikanan Banyuwangi
3)
   Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang

Struktur populasi ikan lemuru, Sardinella lemuru menggunkan sampel dari perairan pantai dari
Perairan Utara Jawa Timur (Brondong-Lamongan), Perairan Selatan Jawa Timur (Prigi - Trenggalek),
Perairan Selat Bali (Muncar - Banyuwangi), Perairan Selat Lombok (Lembar – Lombok Barat) dan
Perairan Selat Sunda (Bakauheuni – Lampung Selatan). Sample dianalisis menggunakan protein
elektroforesis (satu kontrol dari selat sunda dengan geographic outlier). Elektroforesis protein yang
dikodekan pada 15 loci genetik mengungkapkan rendahnya nilai variasi genetik, variasi dari
frekuensi allele yang kecil di antara sampel, dan jarak genetik yang rendah antara sampel. Aliran Gen
tinggi dan yang secara efektif membuat homogen variasi genetik di antara lokasi sampling, hal ini
menandakan bahwa satu populasi tunggal, populasi panmictic ikan lemuru terjadi sedikitnya dari
perairan selatan Jawa ke selat Bali. Sebagai alternatif, analisa electrophoresis mungkin belum
mendeteksi substruktur yang terjadi. Itu tampak bahwa untuk ikan kaleng, yang perihal lain clupeids,
protein elektroforesis adalah bermanfaat dalam menentukan pola evolusi dari struktur populasi.

Kata kunci: Jarak genetik, populasi, Sardinella lemuru, variasi genetik


EVALUASI  GENETIK   PADA    POPULASI                             KOMPOSIT        UDANG        GALAH
(MACROBRACHIUM ROSENBERGII)

Lies Emmawati Hadie dan Wartono Hadie
Pusat Riset Perikanan Budidaya

Heritabilitas untuk karakter dressing out pada populasi udang galah memiliki nilai yang tinggi. Oleh
karena itu, perbaikan mutu genetik dalam karakter tersebut akan berhasil apabila dilakukan melalui
program seleksi. Udang galah yang digunakan untuk membentuk populasi dasar berasal dari tiga
lokasi, yaitu Cimanuk (Tanjung air, Jawa Barat), Kalipucang (Pamarican, Jawa Barat), dan Musi
(Palembang, Sumatera Selatan). Seleksi dilakukan dengan struktur seleksi famili. Tetua di seleksi
berdasarkan nilai pemuliaan individu. Untuk memproduksi F1 dalam populasi komposit digunakan
metode pemijahan secara alami. Larva udang galah dipelihara dengan sistem air jernih tanpa
plankton, pendederan pasca-larva dilakukan dalam bak beton dan pembesaran juwana udang
dilakukan di kolam tanah. Estimasi respon terhadap seleksi dilaksanakan pada waktu udang
mencapai umur lima bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam program pemuliaan udang
galah telah dihasilkan populasi komposit dengan nilai heritabilitas pada karakter dressing out sebesar
0.56+0.07; diferensial seleksi 13.74 dan intensitas seleksi 4.05. Dari nilai parameter genetik tersebut
perkiraan perbaikan mutu genetik adalah sebesar 7.69 % per generasi. Implementasi populasi
komposit ini akan mencegah degradasi gen pada populasi udang galah dan mendukung konsep
manajemen genetik yang efisien di masa yang akan datang.

Kata kunci: Komposit, populasi, seleksi, udang


RESPONS  SELEKSI  SIFAT  TOLERANSI      SALINITAS                                UDANG        GALAH
(MACROBRACHIUM ROSENBERGII) PADA GENERASI KEDUA

Wartono Hadie
Peneliti Pusat Riset Perikanan Budidaya, Jakarta, tono_hadi@yahoo.com

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons seleksi udang galah yang dipelihara dalam
salinitas hingga generasi kedua. Udang galah dipelihara dalam lingkungan air payau dengan salinitas
0‰, dan 15‰. Penelitian dilakukan hingga generasi kedua dalam lingkungan yang sama. Metoda
seleksi pada generasi pertama dan kedua dilakukan dengan seleksi keluarga (family selection).
Seleksi pada masing-masing generasi dilakukan pada karakter pertumbuhan dalam masing-masing
lingkungan salinitas. Secara keseluruhan respons seleksi kelenturan harapan untuk semua
genotipe mencapai 5.26 g per generasi dan respons seleksi kelenturan kenyataan untuk semua
genotipe mencapai 8.24 g per generasi di atas rataan tetua. Hasil seleksi ini berlaku pada lngkungan
hingga salinitas 15‰.

Kata kunci: Generasi kedua, Macrobrachium rosenbergii, pertumbuhan, respon seleksi, salinitas


PERKEMBANGAN EMBRIO DAN                         LAMA       INKUBASI        TELUR    UDANG     HIAS
(NEOCARIDINA HETEROPODA)

Bastiar Nur dan Asep Permana
Balai Riset Budidaya Ikan Hias Jl. Perikanan No. 13 Pancoran Mas, Depok 16436
Email : tiary_n@yahoo.co.id


Udang Neocaridina heteropoda merupakan salah satu spesies udang hias berukuran kecil, memiliki
warna yang menarik dan banyak diminati oleh para hobiis sehingga sangat potensial untuk
dikembangkan, namun belum banyak diketahui data embriologinya. Penelitian bertujuan untuk
mengetahui tahapan perkembangan embrio serta masa pengeraman (inkubasi) telur udang hias
dalam lingkungan terkontrol. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan mengamati
tahapan perkembangan embrio serta masa inkubasi telur udang hias. Perkembangan embrio diamati
menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40 kali yang dilakukan setiap dua hari. Hasil
pengamatan menunjukkan bahwa perkembangan embrio udang hias N. heteropoda terdiri atas tiga
tahapan yaitu: tahap sebelum nauplius (pre-nauplius), nauplius dan setelah nauplius (post-nauplius).
                                                                                           o
Telur udang hias menetas menjadi larva setelah 13 hari masa inkubasi pada suhu 27,6 – 29,4 C.

Kata kunci: Masa inkubasi, Neocaridina heteropoda, perkembangan embrio


KERAGAMAN GENETIK                  IKAN     HIAS     LAUT       BALONG          PADANG   (PREMNAS
EPIGRAMMATA)

Sari Budi Moria S., K.M. Setiawati, J.H. Hutapea Dan I.K. Wardana
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol, Bali
PO.Box 140 Singaraja Bali, 81101. Telp: 0362-92278; Fax:0362-92272
Email : moriasembiring@yahoo.co.id


Ikan hias laut Balong Padang (Premnas epigrammata) merupakan salah satu jenis ikan hias laut
yang banyak digemari, karena warna tubuhnya yang menarik. Studi analisa keragaman genetik ikan
hias laut Balong Padang dilakukan dalam upaya membantu pengembangan perbenihan dan
budidaya ikan laut di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman genetik
ikan hias tersebut menggunakan analisis individu dengan total sampel yang dianalisa sebanyak 15
ekor. Penelitian ini menggunakan metode Random Amplified Polymorphism DNA (RAPD). Data
dianalisis menggunakan metode Tools for Population Genetic Analysis (TFPGA). Dari 7 primer yang
dicobakan, hanya 4 primer (OPF 1; 2; 5 dan 7) yang mampu mengamplifikasi dan menghasilkan nilai
rata-rata keragaman genetik sebesar 0.671. Hal ini menunjukkan bahwa ikan hias laut Balong
Padang dapat digunakan dalam pengembangan perbenihan dan budidaya ikan hias sehingga
kelestarian terumbu karang dapat dipertahankan.

Kata Kunci: Ikan hias laut balong padang, Keragaman genetik, RAPD
ISOLASI GEN VIRULENSI STREPTOCOCCUS INNIAE SEBAGAI BAHAN DASAR
PEMBUATAN VAKSIN DNA STREPTOCOCCUS IKAN NILA

Sutanti, Irvan Faizal, Ratu Siti Aliah, M.Husni Amarullah, Dody Irawan dan Suhendar I Sachoemar
Pusat Teknologi Produksi Pertanian – Badan Pengkajian dan Penerapan teknologi (BPPT), Jakarta

Salah satu masalah utama dalam budidaya ikan nila adalah penyakit akibat bakteri Streptococcus
iniae. Penggunaan vaksin konvensional yaitu berupa bakteri yang dilemahkan/dimatikan dapat
menimbulkan resiko rentannya terhadap bakteri ini akibat terinfeksi secara langsung oleh bakteri
pada ikan nila. Oleh karena itu, diperlukan upaya pembuatan vaksin yang bersifat generik, aman, dan
tidak menimbulkan resiko infeksi bakteri penyakit. Penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan gen
virulen S.iniae sebagai bahan dasar untuk pengembangan produksi vaksin DNA untuk pengendalian
Streptococcosis pada ikan Nila. Penelitian ini meliputi beberapa tahapan antara lain: ekstraksi DNA
bakteri Steptococcus innae, isolasi gen virulensi S.iniae, verifikasi hasil isolasi gen, Purifikasi, dan
Sekuensing. Gen virulensi S.iniae telah berhasil diisolasi dan dipurifikasi dengan ukuran 1800 bp
serta didukung dengan data hasil sekuensing yang memberikan hasil homologi yang tinggi dengan
gen virulensi S.iniae di GeneBank.

Kata kunci: Ikan Nila, Streptococcus iniae, Streptococcosis, vaksin DNA, virulence


PEMIJAHAN INDUK IKAN KERAPU BEBEK, CROMILEPTES ALTIVELIS,
GENERASI KE-2 (F-2) DALAM MENUNJANG TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN LAUT

Tridjoko
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol
Tel / Fax : ( 0362 ) 92278 / 92272
Po Box 140 Singaraja Bali

Penggunaan induk ikan kerapu bebek, Cromileptes altivelis untuk hatcheri selama ini dipenuhi dari
hasil penangkapan di alam. Sedangkan induk hasil budidaya masih belum dimanfaatkan untuk
dipijahkan di panti-panti pembenikan ikan kerapu. Padahal induk hasil budidaya dapat juga
dipijahkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemijahan ikan kerapu bebek generasi ke-
2 (F-2) pada media pemeliharaan secara terkontrol. Lima puluh ekor induk kerapu bebek F-2 dengan
berat tubuh antara 700 - 1100 gr/ekor dan panjang total : 30 - 37 cm, yang dipelihara dalam bak
                                               3
beton berbentuk bulat dengan volume 75 m dan kedalaman air 2 meter. Bak tersebut dilengkapi
dengan airasi dan system air mengalir dengan laju pergantian air antara 300 – 450%/hari .
Pengamatan dilakukan terhadap tingkat kematangan gonad dan pemijahan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa gonad ikan kerapu bebek F-2 yang dipelihara di bak terkontrol dapat
berkembang dengan baik, dapat memijah dan menghasilkan benih F-3. Namun kualitas dan kuantitas
telur serta benih yang dihasilkan masih kurang baik.

Kata kunci: Induk kerapu bebek F-2, larva generasi ke-3, pemijahan,perkembangan gonad


PEMELIHARAAN SERTA PENGAMATAN PERTUMBUHAN DAN KEMATANGAN
GONAD IKAN KERAPU RAJA SUNU (PLECTROPOMA LAEVIS) DI BAK
PEMELIHARAAN

Bejo Slamet dan Ketut Suwirya
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut - Gondol
Kotak Pos 140 Singaraja, Bali. bedjoselamet@yahoo.co.id

Ikan kerapu raja sunu (Plectropoma laevis) merupakan salah satu jenis ikan kerapu yang bernilai
ekonomis tinggi di pasar Asia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pemeliharaan serta
pertumbuhan dan perkembangan kematangan gonad calon induk ikan kerapu raja sunu di bak
                                                                              3
pemeliharaan. Pemeliharaan calon induk dilakukan di bak beton volume 100 m dengan sirkulasi air
300-400% per hari dan diberi pakan campuran ikan dan cumi-cumi (2:1) I kali per hari sampai
kenyang (2-5% biomass per hari). Hasil penelitian pada pemeliharaan selama 8 bulan menunjukkan
bahwa ikan kerapu raja sunu pada pemelihaan di bak terkontrol dapat hidup dengan baik dan
mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat dibanding kerapu sunu jenis lain. Hasil pengamatan
perkembangan gonad selama 8 bulan menunjukkan bahwa persentase jumlah induk betina yang
matang gonad yaitu mengandung telur dalam gonad (oocyt) dengan diameter >400 um pada bulan
April dapat mencapai 3 ekor, pada bulan Mei 5 ekor, Juni 6 ekor, Juli 5 ekor, Agustus 6 ekor,
September 4 ekor, Oktober 4 ekor dan Nopember 3 ekor yang memperlihatkan bahwa puncak
musim matang gonad adalah pada bulan Mei sampai Agustus.

Kata kunci: Kerapu raja sunu, pemeliharaan, pematangan, Plectropoma laevis.


IMPLEMENTASI INDEKS SELEKSI DALAM PENINGKATAN PERTUMBUHAN UDANG
GALAH (MACROBRACHIUM ROSENBERGII)

Lies Emmawati Hadie & Wartono Hadie
Pusat Riset Perikanan Budidaya

Beberapa karakter penting pada udang galah memiliki heritability yang tinggi, maka upaya perbaikan
mutu genetik udang tersebut dapat berhasil bila menggunakan metode seleksi. Penelitian ini
bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan udang galah dengan metode indeks seleksi. Udang uji
yang digunakan berasal dari Kalipucang, kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Struktur seleksi
berdasarkan nilai total fenotipe. Induk udang di seleksi berdasarkan skor individu. Perbenihan udang
galah dilakukan dengan sistem air jernih. Pendederan pasca-larva dilaksanakan di dalam bak beton
dan uji pertumbuhan dilakukan di kolam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi udang yang di
seleksi mempunyai pertumbuhan 28,87 % lebih tinggi dibandingkan dengan populasi kontrol. Korelasi
genetik antara karakter bobot dan persentase karapas mencapai 0,319, dan korelasi fenotipe
mencapai 0,388. Respon terhadap seleksi memperlihatkan peningkatan mutu genetik sebesar 1,82 %
per generasi.


DISTRIBUSI TINGKAT   KEMATANGAN    GONAD    (TKG)                              KERANG      TOTOK
(POLYMESODA EROSA) DARI SEGARA ANAKAN CILACAP
            1              2                  2
Ani suryanti Supriharyono dan Ita Widowati
1 Mahasiswa Program DD Beasiswa Unggulan MSDP Konsentrasi Perencanaan dan Pengelolaan Sumberdaya
   Kelautan Universitas Diponegoro Semarang Email: yanti_ajb@yahoo.co.id
2 Staf Pengajar Program Studi Ilmu Kelautan, Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas
   Perikanan dan Ilmu Kelautan serta Program DD Beasiswa Unggulan MSDP Konsentrasi Perencanaan dan
   Pengelolaan Sumberdaya Kelautan Universitas Diponegoro Semarang

Spesies Polymesoda erosa banyak dijumpai di hutan mangrove Segara Anakan Cilacap. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui distribusi tingkat kematangan gonad kerang Totok dari Segara
Anakan Cilacap. Sampel diambil dari enam stasiun yaitu: Pulau Tiranggesit, Gombol, Ujung Alang,
Kembangkuning, Sapuregel dan Jojok Segara Anakan Cilacap. Pengambilan sampel kerang dengan
                                                                  2
metode transek kuadrat, transek yang dibuat berukuran 5 X 5 m sebanyak tiga transek di setiap
stasiun. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Januari 2010. Pengamatan Tingkat Kematangan
Gonad dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. Hasil penelitian menunjukan bahwa kerang
totok ada pada stadia unidentified dan gonad jantan serta betina ada pada tiga tingkat kematangan
gonad. Sampel kerang yang diperoleh selama penelitian pada setiap stasiun umumnya didominasi
oleh Tingkat Kematangan Gonad 3.

Kata kunci: Distribusi, Cilacap, Polymesoda erosa, TKG.


KARAKTERISASI GENETIK IKAN TENGADAK (BARBONYMUS SCHWANENFELDII)
DARI BERBAGAI LOKASI DI KALIMANTAN BARAT DENGAN METODE RAPD
           1                    1                            2
Iskandariah , Irin Iriana Kusmini , dan Anang Hari Kristanto
1
  Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, BRKP KKP. Jl. Sempur No.1, Bogor
e-mail korespondensi: iskandariah.3010@gmail.com
2
  Pusat Riset Perikanan Budidaya, Jakarta
Ikan Tengadak merupakan ikan perairan umum asli Kalimantan yang potensial untuk dikembangkan.
Penelitian mengenai karakterisasi genetik ikan Tengadak telah dilakukan di Laboratorium Molekuler
Biologi, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor. Populasi ikan tengadak yang diamati
diambil dari 3 lokasi di Kalimantan Barat yaitu Sintang, Kapuas Hulu dan Sekadau. Tujuan penelitian
ini adalah untuk mengetahui karakter genetik dan kekerabatan ikan Tengadak dengan menggunakan
metode RAPD (Random Amplified Polymorphism DNA). Hasil analisis menunjukkan bahwa
persentase polimorfisme berkisar antara 43,4783%-78,2609%, dengan nilai heterozigositas 0,1831-
0,2279 dan jarak genetik antar populasi 0,3759-0,4832. Jarak genetik terjauh antara Tengadak
Sekadau dengan Tengadak Kapuas hulu dan terdekat antara Tengadak Sintang dengan Kapuas
Hulu.

Kata kunci: Barbonymus schwanenfeldii,genetik, RAPD, populasi, tengadak.


KERAGAAN REPRODUKSI UDANG WINDU (PENAEUS MONODON FABRICIUS, 1798)
ASAL SULAWESI SELATAN


Sharifuddin Bin Andy Omar dan Hamzah Sunusi
Laboratorium Biologi Perikanan, Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas
Hasanuddin, Jalan Perintis Kemerdekaan KM. 10, Makassar 90245, Telpon/Faks: 0411-586025, E-mail:
sb_andyomar@yahoo.com


Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang keragaan reproduksi induk udang asal
perairan Pinrang, Takalar, dan Siwa (Sulawesi Selatan) yang meliputi frekuensi pemijahan, derajat
pemijahan, fekunditas, tingkat penetasan, dan diameter telur. Derajat perkembangan gonad dan
derajat pemijahan seluruh induk yang digunakan sebesar 100% dan memijah minimal tiga kali.
Pemijahan pertama berkisar 3 – 18 hari, pemijahan kedua 6 – 23 hari, dan pemijahan ketiga 9 – 35
hari setelah ablasi. Rerata fekunditas udang windu asal Pinrang adalah 849,130 ± 191,587 butir telur,
asal Siwa 894,722 ± 172,361 butir telur, dan asal Takalar 339,789 ± 93,571 butir telur. Fekunditas
                                                             -1
relatif udang asal Pinrang adalah 5314 – 10,836 butir telur g bobot tubuh, asal Siwa 6085 – 10,260
             -1                                                                -1
butir telur g bobot tubuh, dan terendah asal Takalar (1865 – 4651 butir telur g bobot tubuh). Telur-
telur udang windu asal Takalar memiliki tingkat penetasan yang tertinggi, dengan rerata 80,86 ±
10,17%, dan diikuti oleh telur asal Pinrang 77,61 ± 19,37% dan telur asal Siwa 65,51 ± 8,34%.
Diameter telur asal Pangkajene Kepulauan berkisar 275 – 310 mikron dengan rata-rata 299.39 ± 5.36
mikron, sedangkan diameter telur asal Siwa berkisar 250 – 320 mikron dengan rata-rata 288.58 ±
15.97 mikron.

Kata kunci: Keragaan reproduksi, Sulawesi Selatan, udang windu


ANALISIS KERAGAMAN GENETIK IKAN GURAME DI TASIKMALAYA DENGAN
MENGGUNAKAN PENANDA GENETIK RAPD-PCR

Yuniar Mulyani dan M. Untung K. Agung
Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Universitas Padjadjaran
Jl. Raya Jatinangor KM.21 Jatinangor, Bandung UBR. 40600
Telp/Fax (022) 87701519/87701518, E-mail : y_mulyaniag@yahoo.com

Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Padjadjaran, pada bulan April 2008 sampai November 2008. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui keragaman genetik dan peta sidik jari (fingerprint) dari beberapa strain gurame
dengan menggunakan penanda DNA metode RAPD (Random Ampliflied Polymorphism DNA).
Sampel ikan Gurame sebagai sumber DNA diambil dari sentra benih di Tasikmalaya. DNA yang telah
diisolasi diamplifikasi dengan RAPD-PCR menggunakan dua primer acak yaitu OPG-02 dan OPG-16.
DNA amplifikasi diperiksa dengan elektroforesis pada gel agarosa 1% dengan menggunakan marker
DNA Lambda yang telah dipotong dengan enzim EcoRI dan HindIII. Hasil elektroforesis menunjukkan
pola larik yang diterjemahkan ke dalam bentuk data numerik (1/0) dan dianalisis menggunakan
program NTSYS-pc. Hasil analisis UPGMA memperlihatkan adanya keragaman genetik dari lima
jenis gurame yang diteliti dan hubungan kekerabatan kelima strain gurame tersebut.

Kata kunci : Fingerprint, gurame Keragaman genetik, program NTSYS-pc, RAPD-PCR


DOMESTIKASI IKAN RASBORA (RASBORA AXELRODI SP) UNTUK MENUNJANG
BUDIDAYA IKAN HIAS

Nurhidayat
Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok
Jl. Perikanan No. 13, Pancoran Mas, Kota Depok Telp : (021)-7520482
e-mail :nhmasdayat@gmail.com

Rasbora sp. merupakan salah satu ikan hias air tawar Indonesia yang mempunyai nilai ekonomis
penting. Sampai saat ini pemenuhan kebutuhan pasar masih mengandalkan hasil tangkapan dari
alam. Permintaan Rasbora sp. yang terus meningkat dapat mengakibatkan berkurangnya
sumberdaya di alam bahkan bisa mengalami kepunahan. Penelitian ikan hias rintisan dilakukan untuk
menjawab kebutuhan teknologi dalam memenuhi permintaan pasar ikan Rasbora axelrodi dan
menghindari kepunahan plasma nutfah. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat reproduksi dan
sintasan ikan Rasbora axelrodi yang dipelihara dalam substrat berbeda. Satuan percobaan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah: A. Melati air, B. enceng gondok C. tali plastik dan D. Kontrol
(hidryla). Parameter yang diamati meliputi kematangan gonad, reproduksi, larva, sintasan benih dan
kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan pertambahan panjang tertinggi diperoleh perlakuan A. 1.46
cm/ekor, diikuti perlakuan D. 0.85 cm, B. 0.70 cm/ekor dan C. 0.44 cm/ekor. Sedangkan pertumbuhan
bobot tertinggi diperoleh perlakuan B. dan C dengan berat 0.07 gram/ekor diikuti A. 0.06 gram/ekor
dan D. 0.04 gram/ekor. Selama pemeliharaan diperoleh nilai sintasan yang diperoleh di akhir
penelitian yaitu tali plastik 83.33% diikuti oleh ganggang 80.6%, enceng gondok 53.3% dan tanaman
air 47.8%. Kualitas air selama pemeliharaan masih dalam kisaran yang baik untuk ikan Rasbora sp.
Bulan kelima pemeliharaan ikan dengan substrat tali plastik memijah namun benih yang dihasilkan
masih sedikit hal ini dikarenakan ikan yang memijah sudah masuk masa tidak produktif.

Kata kunci: kematangan gonad, reproduksi, sintasan, substrat


DERAJAT FERTILISASI, PENETASAN DAN DEFORMITAS LARVA PATIN HASIL
HIBRIDISASI ANTARA BETINA PATIN SIAM (PANGASIANODON HYPOPHTHALMUS)
DENGAN JANTAN PATIN NASUTUS (PANGASIUS NASUTUS)

Bambang Iswanto dan Evi Tahapari
Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar
Jl. Raya 2 Sukamandi Subang Jawa Barat 52613 Telp./Fax. 0260-520500
e-mail: bambang_is031@yahoo.co.id

Upaya pengembangan budidaya patin nasutus maupun patin jambal sebagai komoditas ekspor patin
daging putih sulit direalisasikan karena keterbatasan fekunditasnya. Salah satu upaya yang dilakukan
adalah melalui hibridisasi dengan betina patin siam. Hibridisasi antara betina patin siam dengan
jantan patin nasutus sedang dilakukan dan dalam tahap evaluasi. Penelitian ini dilakukan untuk
mengevaluasi potensi hibrida tersebut berkaitan dengan kapasitas produksi dalam upaya produksi
massalnya melalui evaluasi derajat fertilisasi, penetasan dan deformitas larva. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa hibrida tersebut potensial untuk dikembangkan karena derajat fertilisasi dan
penetasannya tinggi, sedangkan derajat deformitas larvanya rendah sehingga mendukung dalam
upaya produksi massalnya. Derajat fertilisasi hibrida tersebut berkisar 90,18-97,58% (rata-rata
93,223,26%), tidak berbeda nyata (P > 0,05) dari patin siam (berkisar 78,38-98,85%, rata-rata
91,448,11%) maupun patin nasutus (berkisar 60,37-96,05%, rata-rata 80,2313,55%). Derajat
penetasannya berkisar 81,01-95,85% (rata-rata 86,645,32%), tidak berbeda secara nyata (P > 0,05)
dari patin siam (berkisar 64,57-89,93%, rata-rata 80,6710,32%) dan secara nyata (P < 0,05) lebih
tinggi dari patin nasutus (berkisar 30,49-79,05%, rata-rata 54,3719,23%). Derajat deformitasnya
berkisar 0,00-4,67% (rata-rata 2,721,71%), tidak berbeda secara nyata (P > 0,05) dari patin siam
(berkisar 0,00-7,08%, rata-rata 3,502,39%) dan secara nyata (P < 0,05) lebih rendah dari patin
nasutus (berkisar 7,41-57,63%, rata-rata 28,6619,12%).

Kata kunci: Deformitas, fertilisasi, hibrida, patin siam, patin nasutus, penetasan.


PEMATANGAN GONAD IKAN KELABAU (OSTEOCHILUS MELANOPLEURA BLKR)
MELALUI MANIPULASI LINGKUNGAN
         1                           1
Sidi Asih dan Gleni Hasan Huwoyon
1
  Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar. Jl. Sempur no. 1 Bogor.
Telp. 0251-8313200 Fax. 0251-8327890. E-mail korespondensi: gleni_hh@yahoo.com

Penelitian pematangan gonad ikan Kalabau (Osteochilus melanopleura blkr) yang berasal dari alam
Sungai Kapuas dilakukan di dua lokasi yaitu di Unit Pembenihan Ikan Sentral (UPIS) Anjungan,
Pontianak mengunakan sebanyak 25 ekor induk betina 0,5-2,2 kg (± 1,308) dan 15 ekor induk jantan
                                                                                                 3
0,75 -1,75 kg (± 0,0854) yang dipelihara di dalam wadah berupa waring berukuran 4x4x2 m
sebanyak 2 buah. Sedangkan pada Instalasi Riset Perikanan Air Tawar Cijeruk, Bogor, sebanyak
25 ekor betina 0,33-2,2 kg (± 0,9304) dan jantan 5 ekor yang dipelihara dalam bak beton ukuran
          3
2x5x1 m sebanyak 2 buah. Pakan yang diberikan berupa pakan komersial dengan kadar protein
35% diberikan 2% dari bobot biomas sebanyak 3 kali sehari. Hasil pematangan di Inris Cijeruk
diketahui 8 ekor induk berukuran 0,38-0,87 kg belum ada telur, 0,81-1,2 kg mulai ada oosyte atau
folekel <0,2 mm dan ukuran 1,32-16,62 kg belum matang dengan ukuran oosit 0,38-1,28 mm dan 8
ekor induk 1,9-2,4 kg mulai matang dengan diameter oosit 1,30-1,32 mm dengan posisi inticell telur
(central-periveral). Pematangan di Unit Pembenihan Ikan Sentral (UPIS) Anjungan, Pontianak
diketahui 15 ekor telah matang gonad atau TKG IV dengan posisi inti telur central (GVBD), 10 ekor
mengandung oosit kurang dari 0,2 mm. Induk ukuran 1,1-2,2 kg yang matang dipijahkan dengan
ransangan hormonal ovaprim dengan dosis 0,6 ml per kg induk. Gonado-Somatic Index untuk ikan
kelabau adalah 13,4-27,58%. Parameter lingkungan yang tepat dominan untuk pematangan kalabau
adalah suhu 27-31ºC dan cukup oksigen dapat merangsang pematangan gonada lebih serempak
dalam populai selama 4 bulan.

Kata kunci: Diameter, gonad, kalabau, Osteochilus melanopleura


ISOLASI DAN IDENTIFIKASI LEVEL EKSPRESI GEN TRANSFERRIN PADA IKAN NILA
(OREOCHROMIS NILOTICUS) MENGGUNAKAN REAL-TIME PCR
                  1)            1)               1)           2)
Bagus T. Nugroho , Irvan Faizal , Ratu Siti Aliah , Alimuddin ,
                     1)             1)                            1)
M.Husni Amarullah , Dody Irawan dan Suhendar I Sachoemar
1)
   Pusat Teknologi Produksi Pertanian – Badan Pengkajian dan Penerapan teknologi (BPPT), Jakarta
2)
   Fakultas Perikanan dan lmu Kelautan – Institut Pertanian Bogor


Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan budidaya air tawar utama yang mempunyai sifat
eurihaline dimana memungkinkan ikan ini bisa dibudidayakan pada air dengan kisaran salinitas yang
tinggi. Gen transferrin memberikan pengaruh pada ketahanan ikan nila terhadap salinitas). Pada
penelitian ini, gen transferrin diisolasi dari liver beberapa strain ikan nila (Merah, GESIT-Genetically
Supermale Indonesian Tilapia, Umbulan, Chitra Lada, Putih) dan diberikan perlakuan salin shock
pada pada kisaran salinitas 0 ppt, 15 ppt, 25 ppt dan 35 ppt. Selanjutnya, identifikasi level ekspresi
gen transferrin dilakukan untuk memberikan suatu rekomendasi yang tepat mengenai kisaran
salinitas optimum dan strain ikan nila yang cocok untuk dibudidayakan pada air bersalinitas tinggi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan metoda isolasi RNA untuk menghasilkan cDNA library yang
selanjutnya dilakukan perbandingan level ekspresi gen transferrin pada salinitas yang berbeda
menggunakan SYBR Green qPCR (quantitativePCR atau Real-Time PCR). Level ekspresi dihitung
berdasarkan perbedaan Ct (Cycle Threshold) gen transferrin yang didapatkan dengan nilai ekspresi
gen β-actin sebagai referensi (∆Ct). Nilai ∆Ct yang tertinggi sebesar 14.18 didapatkan pada strain
ikan GESIT pada salinitas 15-25 ppt yang menunjukkan level ekspresi gen transferrin tertinggi pada
strain uji.
Kata kunci: Gen transferrin, level ekspresi, Oreochromis niloticus, Real-Time PCR.

KERAGAAN BIOREPRODUKSI PERSILANGAN
EMPAT STRAIN IKAN NILA (BEST, NIRWANA, RED NIFI DAN MERAH LIDO)
                       2          1                   1                          1
Kadek Prana Mahardika , Sutrisno , Otong Zenal Arifin dan MH. Fariduddin Ath-thar
1
  Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor, Jl. Sempur No. 1 Bogor
2
  Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor
email : mhfariduddinaththar@yahoo.co.id

Permintaan Ikan Nila yang semakin meningkat dan target pencapaian kenaikan produksi budidaya
ikan Indonesia sebesar 353% pada 2014 menuntut perbaikan kualitas strain-strain ikan nila. Salah
satu cara yang dapat dilakukan untuk melakukan perbaikan kuailtas strain-strain ikan nila tersebut
adalah dengan melakukan persilangan untuk mendapatkan ikan nila dengan kualitas yang lebih baik.
Salah satu parameter yang dapat digunakan untuk melihat keunggulan ikan nila hasil persilangan
adalah keragaan bioreproduksi. Pada penelitian ini didapatkan hasil perbandingan keragaan
bioreproduksi yaitu jumlah larva, sintasan benih dan komposisi warna dari ikan hasil persilangan.
Empat strain dasar yang digunakan sebagai bahan persilangan adalah : ikan nila BEST, Red NIFI,
NIRWANA dan nila merah lokal. Persilangan dilakukan secara resiprokal sehingga menghasilkan 16
jenis persilangan.

Kata kunci: Ikan nila, persilangan, sebaran warna benih, sintasan


UJI KAPASITAS PRODUKSI LARVA TIGA JENIS IKAN RAINBOW ASAL PAPUA

Siti Subandiyah, Gigih Setia Wibawa, Tutik kadarini, dan Rina Hirnawati
Balai Riset Budidaya Ikan Hias
Jl. Perikanan No 13 Pancoran Mas Depok

Ikan Rainbow adalah merupakan salah satu jenis ikan hias asli Indonesia endemik Papua yang
mempunyai banyak jenis. Dimana habitatnya mulai rusak karena terjadinya eksploitasi sumberdaya
yang semakin tidak terkontrol. Hal ini dapat menimbulkan kepunahan, untuk menanggulangi kejadian
tersebut maka perlu dilakukan penelitian, pengamatan tentang pemijahan pembenihan sehingga bisa
mengatasi masalah kepunahan spesies ikan rainbow asal Papua. Penelitian bertujuan untuk
mengetahui kemampuan produksi dari 3 jenis ikan rainbow asal Papua. Penelitian dilakukan dengan
memelihara 3 jenis ikan asal Papua yaitu rainbow asal sungai Gelap, danau Kurumoi dan sungai
Sawiat, dalam container dari fiberglass bervolume 1000 L yang diisi air sepertiganya, jumalah induk
betina 20 ekor dan induk jantan 10 ekor .pakan yang diberikan adalah pakan buatan berupa pellet
dan pakan alami yaitu cacing darah atau Bloot worm sekemyangnya, sebagai shelter untuk
meletakkan telur adalah enceng gondok. Dari hasil pengamatan 3 jenis ikan rainbow asal Papua
yang dapat menghasilkan larva adalah Rainbow asal danau Kurumoi,diikuti sungai Gelap dan terakhir
adalah rainbow asal sungai Sawiat.

Kata kunci: Induk, larva, produksi


PERTUMBUHAN DAN POLA REPRODUKSI IKAN BADA RASBORA ARGYROTAENIA
PADA RASIO KELAMIN YANG BERBEDA

Djamhuriyah S.Said dan Novi Mayasari
Pusat Penelitian Limnologi-LIPI
Komplek LIPI Cibinong Jl. Raya Bogor Km 46,6 Cibinong-Bogor 16911
Telp. 021 8757071 Fax. 021 8757076
E-mail:    koosaid@yahoo.com

Ikan Rasbora argyrotaenia merupakan ikan asli Indonesia yang tersebar di daerah Sumatera,
Kalimantan, dan Jawa. Ikan tersebut memiliki beberapa nama daerah dan khusus di Danau Maninjau
Sumatera Barat dikenal dengan nama ikan bada. Secara alami ikan tersebut hidup bergerombol
(schooling fish). Ikan bada merupakan ikan konsumsi lokal sebagai sumber protein, dan pada skala
nasional berpotensi sebagai ikan hias. Penelitian ini mencoba memproduksi ikan bada secara ex-situ
agar budidaya ikan ini dapat optimal. Salah satu teknologi yang diterapkan yaitu rasio kelamin terbaik
untuk pemijahan optimal. Penelitian dilakukan di Pusat Penelitian Limnologi-LIPI, Cibinong pada
bulan Juni-Juli 2009. Rasio kelamin ikan jantan dan betina (♂:♀) yang diuji adalah: 1:1; 2:1: 3:1 dan
4:1. Pemijahan dilakukan secara individual maupun massal. Parameter pengamatan meliputi derajat
pembuahan (FR), derajat penetasan (HR), sintasan 7 hari (SR 7) hingga 21 hari pertama (SR21). Ikan
bada menyenangi kawin secara massal pada rasio kelamin jantan:betina = 2:1. Nilai FR(%) yang
dicapai sebesar 92,29 (85,7—98,61)%; nilai HR(%): 60,61 (51,72—69,01)%; SR7 (%) sebesar 100%,
dan SR21 sebesar 88,61 (81,63—95,56)%. Pertumbuhan dalam 3 bulan pengamatan mencapai 30,74
mm dengan sintasan akhir sebesar 60%.

Kata Kunci: Pertumbuhan, Rasbora argyrotaenia, rasio kelamin, reproduksi

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:130
posted:9/11/2012
language:Unknown
pages:9