SEJARAH MASYARAKAT DESA JEROWARU: SEBUAH KAJIAN SEJARAH SOSIAL by CF2084S

VIEWS: 0 PAGES: 159

									SEJARAH SISTEM KEKERABATAN MASYARAKAT DESA
   JEROWARU: SEBUAH KAJIAN SEJARAH SOSIAL




                      SKRIPSI

          Ditulis Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

           Guna Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan




                      LALU MURDI
                      NPM 06351758




        PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

 JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS)

   SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
            (STKIP) HAMZANWADI SELONG
                        2010




                               i
SEJARAH SISTEM KEKERABATAN MASYARAKAT DESA
   JEROWARU: SEBUAH KAJIAN SEJARAH SOSIAL




                      SKRIPSI

          Ditulis Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

           Guna Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan




                      LALU MURDI
                      NPM 06351758




        PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

 JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS)

   SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
            (STKIP) HAMZANWADI SELONG
                        2010




                               ii
                                 ABSTRAK
Lalu Murdi. Sejarah Sistem Kekerabatan Masyarakat Dese Jerowaru: Sebuah
Kajian Sejarah Sosial. Skripsi : Program Studi Pendidikan Sejarah Stkip
Hamzanwadi Selong, 2010.
       Setiap bangsa, setiap suku, setiap kelompok sosial maupun jenjang sosial
tertentu dalam masyarakat memiliki identitas tersendiri yang membedakannya
dengan bangsa lain, suku lain maupun tingkat sosial yang berbeda. Untuk
mengetahui identitas tersebut tidak lain adalah memahami identitas social serta
sejarah dari bangsa, suku, maupun golongan sosial tersebut. Karena lewat
sejarahnya kita akan mengetahui identitas tersebut melalui apa yang pernah
manusia lakukan, pikirkan, dan rasakan. Oleh karena itu James Harvey Robinson
(Helius Sjamsuddin : 2007) mengatakan bahwa “ history in the broades sense of
the word, is all that we know about everything that ma ever done, or thought, or
felt “. Adapun sejarah yang dikaji dalam penelitian ini adalah sejarah sistem
kekerabatan antara dua golongan sosial yang berbeda dalam lintas sejarah dan
kekinian. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini dan
mengidentifikasi bagaimana sejarah sistem kekerabatan masyarakat desa
Jerowaru. Subjek dalam penelitian ini adalah tokoh pemerintah, tokoh
masyarakat, tokoh adat, serta oarang-orang yang dianggap mengetahui tentang
informasi yang dibutuhkan. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah
data tentang sejarah desa Jerowaru, sejarah bangsawan Jerowaru, adat-istiadat,
serta proses pergeseran adat-istiadat tersebut. Dalam penelitian ini alat yang
digunakan dalam mengumpulkan data adalah observasi, wawancara, serta
dokumentasi.
       Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di desa Jerowaru terdapat dua
golongan yang berbeda idetitas sosial yang dikenal dengan golongan perwangse
dan golongan jajarkarang. Adapun golongan perwangse ini, ada yang merupakan
bangsawanasli dan bangsawan pendatang. Dari kedua golongan sosial yang
berbeda ini memiliki ideitas yang berbeda pula baik dalam bahasa, adat-istiadat,
sistem perkawinan, status sosial dan lain-lain. Golongan perwangse memiliki
status sosial yang lebih tinggi daripada jajarkarang, dan sudah barang tentu
identitasnya juga berbeda. Namun seiring berjalannya watu karena beberapa
faktor seperti pendidikan, ekonomi, maupun sosial kemasyarakatan status
bangsawan yang tinggi tersebut mengalami pergesera dan terjadilah semacam
erosi budaya. Jadi dapat disimpulkan bahwa golongan bangsawan di desa
Jerowaru pernah menjadi golongan sosial yang paling berpengaruh, namun karena
beberapa faktor statusnya menurun. Atau singkatnya telah terjadi pergeseran
budaya dan sistem kekerabatan pada masyarakat desa Jerowaru dari tahun 1970-
an sampai sekarang.
Kata Kunci : Sejarah, Sistem Kekerabatan, Sjarah Sosial




                                       iii
              HALAMAN PERSETUJUAN


      SEJARAH MASYARAKAT DESA JEROWARU:
          SEBUAH KAJIAN SEJARAH SOSIAL


                          SKRIPSI

        Ditulis Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna
          Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Sejarah

                             Oleh :

             Nama             : Lalu Murdi
             NPM              : 06351758
             Tgl. Lahir       : 09 Juni 1987
             Alamat           : Batu Tambun
             Angkatan         : 2006/2007



                           Menyetujui

     Pembimbing I                              Pembimbing II




JUJUK FERDIANTO, M.Pd                   Dra. SRI SETYAWATI M
    NIS. 330 29 11 079                     NIS. 330 29 11 016


                          Mengetahui
             Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah




                      MUHTASAR, M.Pd
                      NIS. 330 29 11 087




                               iv
                                        DAFTAR TABEL

                                                     v

                                                                                                     Halaman

Tabel 4.1    Indikator Perekonomian Masyarakat Desa Jerowaru Tahun
             2009/2010....................................................................................   44

Tabel 4. 2   Indikator Pendidikan Masyarakat Desa Jerowaru Tahun
             2009/2010....................................................................................   46

Tabel 4. 3   Nama-Nama Masyaraka Bangsawan Kadus Jerowaru Bat .........                                      57

Tabel 4. 4   Nama-Nama Masyarakat Bangsawan Gubuk Nenek ..................                                   60

Tabel 4. 5   Nama-Nama Masyarakat Bangsawan .........................................




                                                     v
                        DAFTAR LAMPIRAN


1. Daftar Informan

2. Draf Wawancara

3. Daftar Istilah

4. Photo-Photo Penelitian

5. Sketsa Peta Desa Jerowaru

6. Surat Pengantar Izin Penelitian Dari Ketua Stkip

7. Surat Rekomendasi Izin Penelitian Dari Bapeda

8. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian Dari Kepala Desa Jerowaru

9. Surat Penunjukan Dosen Pembimbing Sekripsi

10. Blanko Kegiatan Konsultasi

11. Surat Pernyataan Keaslian Skripsi




                                    vi
                              KATA PENGANTAR


        Puji dan Syukur tak lupa penulis panjatkan ke hadirat Allah Tuhan Yang

Maha Esa yang telah melimpahkan rakhmat, petunjuk dan pertolongan-Nya

sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.


       Skripsi ini mengungkap Sejarah Masyarakat Desa Jerowaru dalam Kajian

Sejarah Sosial.


       Skripsi ini tersusun berkat bimbingan dan saran berbagai pihak, untuk itu

penulis tak lupa penyampaian penghargaan dan terimakasih kepada :s


1. Bapak Drs. H. Muh. Suruji selaku ketua STKIP HAMZANWADI Selong

2. Bapak Pembantu Ketua 1 Drs. Edy Waluyo, Ibu Pembantu Ketua II Ir. Hj. Siti

  Rohmi Djalilah, dan Bapak Pembantu ketua III Muhsipuddin M.pd serta semua

  civitas akademika STKIP HAMZANWADI Selong yang telah memberikan

  kemudahan-kemudahan         selama       penulis   mengikuti   studi   di   STKIP

  HAMZANWADI Selaong.

3. Bapak Muhtasar, M.pd selaku Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah dan

  Bapak Sahrul Amar, M.pd selaku Sekertaris Program Studi Pendidikan Sejarah

  dan staf dosen Program Studi Pendidikan Sejarah yang telah banyak

  memberikan bimbingan, bantuan dan petunjuk selama penulis mengikuti studi

  pada Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP HAMZANWADI Selong.

4. Bapak Jujuk Ferdianto, M.pd. dan Ibu Dra. Sri Setyawati M. sebagai dosen

  pembimbing (I dan II) yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan



                                           vii
  pikiran guna memberikan arahan dan bimbingan dalam menyelesaikan skripsi

  ini.

5. Rekan-rekan seprofesi yang telah banyak membantu baik tenaga dan pikiran

  dalam penulisan skripsi ini.

6. Ibunda, Ayahanda, Kakanda, dan adikku tercinta yang senantiasa dengan tabah

  dan sabar memberikan dorongan dan motivasi selama mengikuti studi hingga

  penyusunan skripsi ini berakhir.

7. Semua pihak yang telah membantu hingga skripsi ini dapat terselesaikan.

         Semoga bantuan, bimbingan dan dorongan yang diberikan semua pihak

senantiasa mendapatkan ganjaran yang setimpal dari Allah SWT.

         Sesungguhnya, dilihat dari isi, kajian maupun tata penulisannya skripsi ini

tergolong belum sempurna, karena itu merupakan kehormatan bagi penulis jika

ada saran dan kritik yang sifatnya membangun. Saran dan kritik itu akan

senantiasa penulis catat sebagai penambah wawasan dan hasanah pemikiran.

         Akhirnya dengan mohon ridha Allah SWT penulis berharap smoga skripsi

ini bisa bermanfaat bagi semua pihak, hususnya bagi siapa saja yang berminat

dengan sejarah.



                                                       Pancor, 7 Nopember 2010




                                         viii
                                                  DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL........................................................................................                    i
ABSTRAK .......................................................................................................         ii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ..............................................                                           iii
HALAMAN PERSETUJUAN .........................................................................                          iv
HALAMAN PENGESAHAN ..........................................................................                           v
DAFTAR TABEL ............................................................................................              vi
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................                  vii
KATA PENGANTAR .....................................................................................                  viii
DAFTAR ISI ....................................................................................................         x
BAB I        PENDAHULUAN
             A. Latar Belakang ............................................................................             1
             B. Identifikasi Masalah ....................................................................               7
             C. Focus Masalah ..............................................................................            8
             D. Rumusan Masalah ........................................................................                9
             E. Tujuan Penelitian ..........................................................................            9
             F. Mamfaat Penelitian .......................................................................            10
BAB II KAJIAN PUSTAKA
             A. Deskripsi Teori .............................................................................         11
                  1. Sistem Kekerabatan..................................................................             11
                  2. Sejarah ......................................................................................   16
                  3. Adat-Istiadat Masyarakat .........................................................               23
             B. Kerangka Berfikir .........................................................................           30


BAB III METODE PENELITIAN
             A. Pendekatan Penelitian ..................................................................              31



                                                            ix
      B. Jenis Dan Metode Penelitian .......................................................                   31
           a. Heuristic ..................................................................................     32
                 1. Observasi ...........................................................................      32
                 2. Wawancara ........................................................................         33
                 3. Dokumentasi .....................................................................          35
           b. Kritik .......................................................................................   37
           c. Interpretasi ...............................................................................     40
          d. Histriografi ...............................................................................      41
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
      A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ...........................................                           43
      B. Sejarah Singkat Penduduk Awal Desa Jerowaru ........................                                  47
      C. Strtifikasi Sosial Masyarakat Jerowaru .......................................                        55
      D. System Kekerabatan Masyarakat Desa Jerowaru .......................                                   71
      E. Perubahan System Kekerabatan Desa Jerowaru .........................                                  82
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
      A. Kesimpulan ................................................................................           88
      B. Saran ............................................................................................    91
DAFRAR PUSTAKA
LAMPIRAN -LAMPIRAN




                                                     x
                                     BAB I

                               PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

          Manusia sebagai individu maupun sebagai masyarakat merupakan

   bagian yang sangat kompleks untuk dibicarakan. Karena seperti yang kita

   ketahui bahwa suatu masyarakat mempunyai bentuk-bentuk struktur sosial

   seperti kelompok-kelompok sosial, kebudayaan, lembaga sosial, stratifikasi

   sosial, kekuasaan dan lain sebagainya. Akan tetapi semua itu mempinyai

   derajat yang berbeda-beda dalam beberapa aspek sosial di atas yang

   menyebabkan pola prilaku, adat-istiadat maupun budaya masyarakat yang

   berbeda-beda tergantung dari tempat serta situasi dan kondisi yang dihadapi

   masyarakat sebagai bagian dari anak lingkungan bahkan anak zamannya.

          Salah satu dari struktur sosial dalam masyarakat adalah stratifikasi

   sosial, dimana keberadannya menjadi bagian yang tidak kalah penting dalam

   sejarah hidup manusia yaitu adanya golongan atas (upper class), golongan

   menengah (middle class) dan kelas menengah (lower class) yang secara umum

   mewarnai kehidupan masyarakat mulai dari zaman prasejarah, zaman Hindu-

   Budha sampai saat ini adalah adanya strata sosial dalam kehidupan

   masyarakat, yang sekaligus merupakan bagian yang kompleks dari perbedaan

   kelompok di tengah-tengah masyarakat, baik itu stratifikasi sosial yang

   horizontal maupun pelapisan sosial yang vertikal telah mewarnai kehidupan

   manusia baik dengan kita sendiri maupun tidak.

          Terdapat dua macam sistem pelapisan sosial yang kita kenal, yaitu

   sistem pelapisan sosial yang bersifat tertutup ( closed social stratification) dan




                                         1
sistem pelapisan sosial yang bersifat terbuka (open social stratification) (

Soerjono Soekanto:1990), dimana yang disebut pertama sudah mengakar

dalam sejarah kehidupan manusia dan yang terakhir secara umum baru

berkembang sejak zaman modern.

       Stratifikasi sosial yang ada di Indonesia pada umumnya jika dilihat

dari sistem pelapisan social tertutup ( closed social stratification) dalam

konteks sejarah maka secara jelas dapat dikatakan bahwa kedatangan agama

Hindu dari India, berdirinya kerajaan-kerajaan besar di Indonesia yang

bercorak Hindu telah membawa dan memperkenalkan stratifikasi social yang

jelas seperti adanya beberapa golongan atau golongan status social dalam

masyarakat seperti golongan Brahmana, golongan Ksatria, golongan Waisya,

dan yan terakhir adalah golongan Sudra. Dimana dari keempat macam

golongan dalam strata social masyarakat di India tersebut terdapat juga di

Indonesia meskipun tidak seketat di India dalam implementasi perbedaan

golongan strata sosialnya. Jadi bisa dikatakan walaupun dalam hal stratifikasi

sosial ini juga berpengaruh pada kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Indonesia

tidak pernah menyentuh kehidupan masyarakat secara kseluruhan melainkan

hanya berpengaruh di kalangan Istana saja. Sedangkan di dalam kehidupan

masyarakat luas pada umumnya stratifikasi sosial ini tidak begitu

berpengaruh. Adapun yang sampai saat ini stratifikasi soaial yang dibawa dari

India ini berdasarkan gelarnya dapat kita lihat pada masyarakat Bali, dimana

walaupun berbeda nama gelarnya namun memiliki makna dan maksud yang

sama. Adapun keempat gelar strata social yang di maksud yaitu golongan




                                    2
Brahmana, golongan Ksatria, golongan Waisya (triwangsa) dan golongan

Sudra (Jaba) (Soerjono Soekanto, 1990:258).

       Walaupun gelar tersebut tidak memisahkan setiap strata social secara

ketat tetapi sangat berarti dalam melihatnya secara berbeda dalam adat-istiadat

yang dikembangkam sesuai dengan tingkatan sosialnya. Di samping itu

hukum adat-istiadatnya juga menetapkan hak-hak bagi pemakai gelar tersebut,

misalnya dalam memakai gelar, perhiasan-perhiasan, pakaian-pakaian adat

sesuai dengan golongan sosialnya. Perkembangan sistem kasta di Bali

umumnya terlihat jelas dalam sistem perkawinan. Seorang gadis suatu kasta

tertentu umumnya dilarang bersuamikan dari kasta yang lebih rendah

(Soerjono Soekanto, 1990: 258).

       Lain halnya dengan sistem pelapisan sosial (stratifikasi social ) yang

terbuka ( open social stratification ), dimana di dalamnya pengembangan

tingkat statusnya bukan atas dasar apa yang diwariskan secara turun temurun,

namun prestasi seseorang, kemampuan seseorang serta kepemilikan seseorang

dan lain sebagainya merupakan tolak ukur dalam tinggi rendahnya tingkat

status seseorang yang pada suatu saat bisa berubah sesuai sesuai dengan

kemampuan seseorang mempertahankan apa yang dimilikinya. Namun

setiadaknya masyarakat yang pernah mengembangkan sistem ini karena tidak

ada ukuran yang membedakan secara ketat dalam setiap golongan maka bisa

dikatakan mulai sejak kedatangan Islam, masuknya imprealisme barat sampai

saat ini, baik pada masyarakata umum maupun pada masyarakat bangsawan

pada khususnya.




                                     3
        Adanya stratifikasi sossial ini terdapat dihampir semua lapisan

masyarakat yang secara tidak sadar hal tersebut, namun keberadaannya tidak

terkapling seperti pada masyarakat yang berlapiskan kasta seperti India yang

begitu ketat, walaupun di Indonesia juga terdapat pelapian sosial tersebut

namun keberadaannya masih ada toleransi dengan tingkatan di bawahnya. Di

Nusa Tenggara Barat (NTB) misalnya pernah berdiri beberapa kerajaan

sebagai tolak ukur dalam status sosial, seperti kerajaan Selaparang, kerajaan

Pejanggik, kerajaan Langko, kerajaan Pujut, kerajaan Pene dan lain

sebagainya masih menyisakan adanya bukti sejarah tentang adanya pelapisan

sosial yang ditambah lagi dengan adanya pengaruh kerajaan Karang Asem

Bali.

        Gelar Lalu, Raden (laki-laki) ataupun Baiq, Dende, dan Lale

(perempuan) adalah gelar-gelar bangsawan di NTB sekaligus dan Bape pada

golongan bangsawan yang lebih rendah. Gelar-gelar yang disebut di atas ini

merupakan serumpun status sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan

golongan yang lain, dan khususnya di pulau Lombok ini menunjukkan adanya

sertifikasi sosial dalam masyarakat, meskipun secara vertikal untuk saat ini

tidak lagi menjadi pembeda dalam masyarakat, namun dalam kelompoknya

menjadi kelas atau status sosial yang berbeda dibandingkan dengan

masyarakat pada umumnya.

        Adanya Perwangse dan Jajar Karang merupakan salah satu bukti

bahwa di Lombok juga setelah kerajaan-kerajaan yang disebut di atas sudah

tidak ada lagi golongan bangsawan ini masih eksis melaksanakan adat-istiadat




                                    4
sesuai dengan golongannya membedakannya dengan golongan di bawahnya.

Salah satunya adalah di desa Jerowaru, yang dulunya sebelum tahun 70-an

masih    memperlihatkan    adanya       stratifikasi   sosial   tertutup     dalam

masyarakatnya.

        Terkait dengan kedatangan bangsawan di desa Jerowaru               dan asal

usulnya, seperti banyak informasi mengatakan ada yang menyebutnya sebagai

bangsawan pendatang dan bangsawan asli. Adapun oleh masyarakat sering

disebut bangsawan pendatang adalah bangsawan yang berasal dari beberapa

tempat seperti Kopang, Kediri, Pagutan dan lain sebagainya. Sedangkan yang

dikatakan sebagai bangsawan asli Jerowaru adalah bangsawan yang saat ini

tinggal di gubuk Tembok, merupakan keturunan bangsawan kerajaan Pene

yang satu wilayah dengan desa Jerowaru.

        Perpindahan bangsawan terutama yang berasal dari kawasan Mataram

ini memang secara menyakinkan belum dapat kita pastikan, apakah

perpindahannya ke Jerowaru setelah dikuasainya kerajaan-kerajaan Lombok

pada umumnya atau sesudahnya. Namun jika setelah penguasaan kerajaan

Lombok dikuasai baru mereka pindah maka bisa dikatakan sudah dimulai

sejak tahun 1744 (166 saka) setelah puri Karang Asem Mataram berdiri

sebagai pusat pemerintahan dengan Gusti Angluran Karang Asem sebagai

rajanya (Muhsipuddin, 2004: 10).

        Perpindahannya ke desa Jerowaru tujuan utama sebenarnya belum

dapat diketahui secara pasti apakah karena keinginan mencari tanah dan

tempat tinggal yang baru atau terdesak atau seperti yang dikatakan Lalu




                                    5
Lukman meskipun seluruh kerajaan di Lombok berada dalam kekuasaan

kerajaan Karang Asem Bali namun dalam system pemerintahannya termasuk

cara menjalankan pemerintahan sampai tingkat yang paling bawah diserahkan

kepada orang-orang kepercayaan dan petugas Sasak yang pada umumnya

merupakan bangsawan ataupun keturunan dari bangsawan-bangsawan yang

dulunya menjadi penguasa atau pejabat pemerintah ( L. Lukman, 2005:28-29).

Oleh karena itu karena tidak adanya bukti yang dapat dirujuk secara pasti

maka dapat disimpulkan tujuan kedatangannya ke desa Jerowaru.

          Kehidupan para bangsawan di desa Jerowaru untuk saat ini atau

setidaknya sejak tahun 70-an cukup berbeda dengan sebagian bangsawan yang

masih kental memegang adat-istiadat lamanya. Namun yang jelas bisa

dikatakan bahwa adat-istiadat bangsawan di desa Jerowaru yang dulunya

merupakan kelas tersendiri dalam stratifikasi sosial masyarakat disana yang

saat ini mulai hilang dengan sendirinya seiring dengan perkembangan zaman.

          Umumnya sejak awal kedatangannya sampai kira-kira generasi ketiga

dihitung mundur dari sekarang para bangsawan memiliki tanah yang cukup

luas sehingga hal ini menunjukkan juga status sosialnya yang cukup tinggi

sekaligus ditunjang oleh statusnya sebagai bangsawan yang saat ini sangat

dihormati. Namun bagaimanapun dengan proses waktu yang terus berjalan

sampai saat ini status kebangsawanan di desa jerowaru yang ditunjukkan

dengan adat-istiadat, bahasa, sistem perkawinan maupun kepemilikannya atas

tanah sampai saat ini sudah tidak begitu menonjol atau bisa dikatakan sudah

terjadi    proses   pergeseran.   Oleh   karena   adanya   proses   pergeseran




                                     6
   tersebut maka sangat perlu untuk dikaji seperti adat-istiadat, bahasa, sistem

   perkawinan,dan lain-lain yang diterapkan pada awal kedatangannya. Proses

   interaksi dengan masyarakat maupun saat ini dalam kedudukannya sebagai

   golongan bangsawan yang dahulunya merupakan stratifikasi tersendiri dalam

   kehidupa masyarakat.

          Pergeseran ini perlu dikaji bukan untuk membahas masalah pergesera

   itu saja namun yang penting disini juga karena adanya penghilangan yang

   cukup drastis dari beberapa aspek dari budaya yang dikembangkan oleh

   bangsawan, padahal seperti yang dikatakan Widjaya bahwa suatu bentuk

   proses perubahan sosial dari kebudayaan yang terwujud dalam masyarakat

   yang berkebudayaan primitive maupun maju, yaitu adanya proses imitasi

   yang dilakukan oleh generasi muda terhadap generasi yang lebih tua, hal

   tersebut dilakukan dengan belajar mencari apa yag dilihat ( Widjaya, 1985:

   106). Namun melhat realitas dan pergeseran dari bebrapa aspek pada golongan

   bangsawan tersebut maka dapat dikatakan proses imitasi tersebut tidak

   berjalan secara sempurna.



B. Identifikasi Masalah

      1. Dari manakah asal usul bangsawan di desa Jerowaru?

      2. Apakah tujuan kedatangan para bangsawan ke desa Jerowaru?

      3. Bagaimanakah     aplikasi   adat-istiadat,   bahasa,   maupun   system

         perkawinan pada golongan bangsawan di desa Jerowaru?




                                       7
     4. Bagaimanakah system kekerabatan dan pewarisan dari adat-istiadat

         bangsawan di desa Jerowaru?

     5. Seperti apakah bentuk stratifikasi sosial pada masyarakat di desa

         Jerowaru?

      6. Apakah yang menjadi perbedaan antara masyarakat biasa dengan

         bangsawan dalam stratifikasi sosial?

      7. Faktor apa saja yang mengakibatkan terjadinya perubahan dalam

         beberapa aspek kehidupan sosial bangsawan?



C. Batasan Masalah

      Mengingat masalah yang teridentifikasi relatif banyak dan karena

   keterbatasan peneliti, maka penelitian ini dibatasi sebagai berikut:

       1. Batasan Masalah

                   Alasan    peneliti   mengambil     judul   “   Sejarah   Sistem

          Kekerabatan Masyarakat Desa Jerowaru: Sebuah Kajian Sejarah

          Sosial” ini adalah untuk mengamati dan mengetahui lebih jauh tentang

          stratifikasi sosial di desa Jerowaru baik dalam lintas sejarah maupun

          kekinian, sekaligus mengamati proses pergeseran status bangsawan di

          desa Jerowaru.

       2. Batasan Spasial

          Penulis sengaja mengambil lokasi di desa Jerowaru karena secara

          faktual di sana masih banyak terdapat golongan bangsawan sekaligus

          secara emosional dan kedekatan secara geografis mudah dijangkau

          oleh peneliti.



                                         8
    3. Batasan Temporal

      Penulis membatasi temporal pada penelitian ini berkisar pada tahun

      1970 sampai tahun 2010, karena penulis ingin mengkaji bagaimana

      perubahan dalam stratifikasi sosial sebelum tahun 70-an dan

      sesudahnya di desa Jerowaru.



D. Rumusan Masalah

        Berdasarkan identifikasi dan fokus masalah di atas, maka dapat

   dirumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut:

      1. Bagaimanakah penerapan sistem adat-istiadat bangsawan pada

         golongan bangsawan di desa Jerowaru terkait dengan sistem

         kekerabatannya?

      2. Bagaimanakah perubahan pola kekerabatan pada golongan

         bangsawan di desa Jerowaru?



E. Tujuan Penelitian

        Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:

      1. Untuk mengetahui dan menggambarkan system kekerabatan pada

         masyarakat di desa Jerowaru.

      2. Untuk mengetahui dan menggambarkan bagaimana proses

         terjadinya pergeseran sistem kekerabatan di desa Jerowaru

         kecamatan Jerowaru.




                                   9
F. Manfaat Penelitian

   1. Manfaat Teoritis

              Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat positif

      terhadap pengembangan wawasan kita, walaupun hasil tulisan ini

      bukan sebagai text book to thinking namun hanya sebagai guide of line

      dalam stratifikasi sosial pada masing-masing kelompok kekerabatan di

      desa Jerowaru.

              Sekaligus   dari   hasil   penelitian   ini   diharapkan   dapat

      memberikan motivasi dan dorongan bagi peneliti lain untuk

      dimanfaatkan sebagai bahan acuan ataupun perbandingan dalam

      melakukan penelitian yang lebih mendalam dan lebih lengkap.

   2. Manfaat Praktis

      a. Bagi masyarakat umum hasil penelitian ini dapat dijadikan

           masukan dan wawasan tentang dinamika stratifikasi sosial dalam

           kelompok kekerabatan di desa Jerowaru serta pengaruhnya dalam

           kehidupan sehari-hari.

      b.   Bagi golongan bangsawan pada khususnya hasil penelitian ini

           dapat dijadikan masukan dan wawasan dalam kiprahnya selaku

           anggota masyarakat.

      c.   Bagi institusi dan pemerintah, hasil penelitian ini dapat dijadikan

           acuan sekaligus refrensi untuk mencermati beberapa pola

           stratifikasi sosial yang ada dalam masyarakat.




                                    10
                                          BAB II
                                    KAJIAN PUSTAKA


A. Deskripsi Teori

   1. Sistem Kekerabatan

          Sistem atau yang biasa disebut metode merupakan cara yang teratur

   untuk melakukan sesuatu. Sedangkan kerabat adalah keluarga,sanak famili,

   teman sejawat (teman kerja) (Sutan Rajasa,2002: 298). Jadi dengan begitu

   dapat dikatakan bahwa sistem kekerabatan merupakan cara untuk mengatur

   atau cara dalam mengatur hubungan sesama keluarga, sanak famili, teman

   sejawat maupun teman kerja berdasarkan adanya aturan yang dibuat bersama

   secara turun temurun maupun berkala.


          Untuk mengenal lebih jauh mengenai sistem kekerabatan tersebut

   sebelumnya       kita    harus    terlebih    dahulu    memahami       lahirnya   sistem

   kekerabatan tersebut yakni rumah tangga dan keluarga inti. Koentjaraningrat

   (2005) misalnya menjelaskan bahwa rumah tangga yang merupakan

   keluarga inti      adalah      pemegang atau inti         dari sistem kekerabatan.

   Lebih lanjut seperti yang dikatakan Koentjaraningrat bahwa pasangan suami

   istri membentuk suatu kesatuan sosial yang mengurus ekonomi rumah

   tangganya. Rumah tangga biasanya terdiri dari satu keluarga inti, tapi mungkin

   juga   terdiri    dari   dua     sampai      tiga   keluarga   inti   (Koentjaraningrat,

   2005: 103). Sedangkan yang termasuk keluarga inti adalah suami, istri dan

   anak-anak mereka yang belum menikah, anak tiri dan anak yang secara

   resmi diangkat sebagai anak, memiliki hak yang kurang lebih sama dengan



                                                11
hak anak kandung, dan karena itu dapat dianggap pula sebagai anggota dari

suatu keluarga inti (Koentjaraningrat, 2003: 106). Jadi secara sederhana dapat

dikatakan semakin meluasnya kekerabatan maka akan semakin kompleks pula

sistem     kekerabatannya,    dalam    artian   kadang-kadang   budaya    yang

dikembangkan oleh suatu kerabat yang serumpun kadang-kadang berbeda

dengan kelompoknya yang satu kerabat, bisa karena perpindahan tempat

tinggal maupun adanya pengaruh lingkungan, sosial, ekonomi maupun

pendidikan. Namun bagaimanapun sistem kekerabatan yang disusun dalam

suatu masyarakat dapa kita lihat dari status maupun tingkatan strata sosialnya

dalam kehidupan masyarakat.


         Adanya keluarga ini seperti yang djelaskan di atas walaupun di masing-

masing kelompok masyarakat berbeda-beda, namun merupakan satu kesatuan

yang dalam antropologi dan sosiologi seperti yang dikatakan Murdock dan

dikutip oleh Koentjaranignrat (2005) disebutnya sebagai kingroup. Ada pun

satu kelompok (kingroup) adalah kesatuan yang diikat oleh sekurang-

kurangnya 6 unsur, yaitu:


         1. System norma-norma yang mengatur tingkah laku warga kelompok.


         2. Rasa kepribadian kelompok yang disadari semua warganya.


         3. Interaksi yang intensif antar warga kelompok


         4. Sistem hak dan kewajiban mengatur interaksi antar warga kelompok


         5. Pemimpin yang mengatur kegiatan-kegiatan kelompok




                                      12
      6. System hak dan kewajiban terhadap harta produktif atau harta pusaka

          tertentu. Dengan demikian hubungan kekerabatan merupakan unsur

          pengikat bagi suatu kelompok kekerabatan (Koentjarningrat,

          2005:109).


      Dari keenam elemen yang ada dalam satu kesatuan kelompok

kekerabatan diatas tidaklah selalu sama ditempat dan status sosial yang lain.

Misalnya pada masyrakat bangsawan di Lombok pada umumnya atau

bangsawan di Jerowaru khususnya, dari keenam unsur pengikat diatas begitu

mewarnai kehidupan masyarakat baik secara vertikal maupun hierarkis. Selain

adanya perbedaan bentuk tergantung kelompok sosial adanya unsur-unsur

yang melebur dalam kehidupan masyarakat secara umum walaupun bukan

tergolong satu rumun kekerabatan yang sesuai dengan strata sosialnya, namun

adanya unsur yang melebur ini di akibatkan oleh adanya interaksi sosial yang

cukup intensif antara golongan starata sosial yang berbeda, jelasnya antara

golongan bangsawan Mamiq dan Amaq misalnya di Jerowaru.


      Ketidaksamaan setiap kelompok dalam praktik pada setiap kelompok

kekerabatan dalam masyarakat terkait dengan adanya enam unsur diatas, maka

Murdock (Koentjaraningrat, 2005) membedakan lagi tiga kategori kelompok

kekerabatan berdasarkan fungsi-fungsi sosialnya, yaitu kelompok kekerabatan

berkoprasi   (corporate    kingroups),kelompok     kekerabatan   kadangkala

(occasinal kingroups) dan yang ketiga adalah kelompok kekerabatan menurut

adat (circum scriptive kingroups) yang kadang kala tidak memiliki salah satu




                                   13
atau dua dari keenam elemen pengikat kekerabatan diatas. Kelompok-

kelompok ini bentuknya sudah demikian besar, sehingga warganya sering kali

tidak saling mengenal. Mereka umumnya hanya mengetahui tentang

kekerabatan seseorang (sebagai warga kelompok) berdasarkan tanda-tanda

yang ditentukan oleh adat. Rasa kepribadian kelompok sering kali juga

ditentukan oleh tanda-tanda adat tersebut (Koentjaraningrat, 2005:110).

      Dari ketiga kategori yang disebutkan oleh Murdock di atas, kategori

ketiga dapat dimasukkan dalam melihat ataupun mengkaji jenis kategori

kelompok kekerabatan dalam masyarakat golongan bangawan di desa

Jerowaru. Di mana walaupun kadang-kadang sesama warga dalam satu

kelompok kekerabatan seringkali tidak saling mengenal. Namun bagaimanpun

setidaknya ada adat-istiadat yang sama yang mengkategorikannya menjadi

satu kelompok kekerabatan masyarakat       dalam status sosial yang berbeda

sebagai golongan bangsawan.

    a. Prinsip-prinsip keturunan yang mengikat kelompok sosial

             Seseorang disebut berkerabat dengan seseorang apabila orang

      tersebut mempunyai ikatan darah atau (gen) dengan orang lain

      sebagai individu tadi, baik melalui ibunya maupun melalui ayahnya.

      Walaupun orang-orang yang masih mempunyai hubungan darah

      tertentu sangat besar jumlahnya, mereka masing-masing tentu hanya

      mengenal beberapa saja diantara kerabat terdekatnya, dan mengetahui

      seluk-beluk ikatan kekerabatannya dengan mereka, karena dari seluruh

      kerabat yang dimiliki seseorang (yaitu kerabat biologisnya). Hanya




                                    14
sebagian kecilnya saja yang merupakan kerabat sosiologisnya. Bagi

seorang   individu,   kerabat        sosiologisnya   itu   dapat   dibedakan

berdasarkan:

1.   Adanya hubungan kekerabatan;

2.   Kesadaran akan hubungan kekerabatannya:

3.   Pergaulan berdasarkan hubungan kekerabatan (Koentjaraningrat,

     2005:123)

       Hubungan kekerabatan yang ditentukan oleh prinsip-prinsip

keturunan yang bersifat selektif mengikat sejumlah kerabat yang

bersama-sama memiliki hak dan kewajiban tertentu, misalnya hak waris

atas harta peninggalan, gelar, pusaka, lambing-lambing dan lainnya.

Selain itu ada juga hak atas suatu kedudukan, kewajiban untuk

melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan bersama, serta

kewajiban unutk melakukan kegiatan-kegiatan produktif secara

bersama-sama (Koentjaraningrat, 2005:123)


       Adapun hubungan kekerabatan yang mengikat sejumlah kerabat

secara bersama-sama di desa Jerowaru, khususnya pada golongan

bangsawan dapat dilihat misalnya dalam hak waris atas harta, gelar,

serta adat-istiadat terutama dalam hal perkawinan menjadi sebuah

pengikat yang secara jelas dapat di bedakan dengan system kekerabatan

dalam starata sosial yang lain.




                                15
      b. Sopan-santun Dalam Pergaulan Kekerabatan

                Adat sopan santun memang sangat berpengaruh pada sikap orang

        terhadap individu, khususnya setiap kerabat yang dihadapinya.

        Bagaimana adat-istiadat sopan santun pergaulan di jalankan dapat

        dipahami dengan mengamati pola pergaulan setiap individu maupun

        golongan sosial kerabatnya. Ego, sebagai pusat kelompok kerabat,

        diamati sikapnya terhadap anak-anaknya, terhadap istri (atau istri-

        istrinya), terhadap ayahnya, terhadap ibunya dan lain sebagainya

        (Koentjaraningrat, 2005:137-38).

                Dari pengalaman pribadi kita mengetuhui bahwa sikap dan

        tingkah laku kita berbeda terhadap setiap kelas terhadap kerabat kita

        tersebut. Dalam hampir semua masyarakat suku bangsa di dunia sopan

        santun menentukan bagaimana orang harus bertingkah laku dan sikap

        terhadap setiap kelas kerabatnya (Koentjaraningrat, 2005:138).

                Apa yang dikatakan Koentjaraningrat di atas dalam kehidupan

        sehari-hari masyarakat di Desa Jerowaru khususnya golongan

        bangsawan serta masyarakat pada umumnya juga memilki adapt sopan

        santun tersendiri baik dalam golongannya (kelas) maupun kerabatnya

        misalnya dalam hal berbicara, bergaul, maupun dalam bertingkah laku

        dalam kegiatan dan hubungan sosial sehari-hari.

2. Sejarah

   a. Pengertian Sejarah

             Istilah “sejarah” berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata

      Syajaratun yang memiliki arti “pohon kayu”. Pengertian pohon kayu



                                     16
disini   menunjukan     adanya     suatu     kejadian,   perkembangan   atau

pertumbuhan tentang suatu hal atau peristiwa dalam suatu kesinambungan

(kontinuitas) (Dadang Supardan, 2007: 341). Dalam bahasa lain,

peristilahan sejarah disebut juga histore (Perancis), geschite (Jerman),

histoire atau geschiedenis (Belanda), serta history (inggris) (Dudung

Abdurrahman, 1999: 2). Semuanya sama-sama mengandung pengertian

yang sama, yaitu masa lampau umat manusia. Sehingga menurut

pengertian yang paling umum, kata sejarah atau history berarti masa

lampau umat manusia.


Menurut Abromowitz (Supardan, 2007: 342) bahwa”…history is a

chronology of ivents”. Selanjutnya Costa (Supardan, 2007: 342)

mendifinisikan sejarah sebagai “…record of the whole human experience”.

Jadi menurut Costa bahwa sejarah pada hakikatnnya merupakan catatan

seluruh pengalaman baik secara individu maupun secara kolektif bangsa/

nation dimasa lalu tentang kehidupan umat manusia. Selain itu dalam

kamus umum bahasa Indonesia oleh W. J. S Poerwadarminta (Tamburaka,

2002: 32) disebutkan bahwa sejarah mengandung tiga pengertian, yaitu:


(1). Kesustraan lama; silsilah; asal-usul.


(2). Kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.


(3). Ilmu pengetahuan, cerita pelajaran tentang kejadian dan peristiwa

    yang benar-benar terjadi pada masa lampau.




                                  17
      Dari beberapa keterangan diatas, jelas pendapat mengenai

perhatian terhadap peristiwa-peristiwa masa lalu berada dibawah ruang

lingkup penulisan sejarah, yang muncul lambat laun selama berabad-

abad. Namun untuk lebih jelasnya perlu dikutif beberapa definisi sejarah

menurut beberapa ahli diantaranya:

     1.   Prof. Bernheim (Rustam E. Tamburaka: 2002) mendifinisikan

          sejarah sebagai “diegerchite ist de wisenchaft von die

          entwietlung der menrechen bettetiegung als soziele warssen”.

          Artinya   sejarah    adalah   pengetahuan     yang    mempelajari

          tentang perbuatan manusia dalam perkembangannya sebagai

          mahluk sosial.

      2. James Hervey Robinson (Helius Sjamsuddin: 2007) mengatakan

          bahwa sejarah, dalam arti yang luas adalah semua yang kita

          ketaahui tentang setiap hal yang pernah manusia lakukan , atau

          pikirkan, atau rasakan. (“history in the brodes sense of the world,

          is all that we know everything than man ever done, or thought or

          felt”)

     3. R. G.kolingwood (rustam E. tamburaka: 2007) damal bukunya

          yang berjudul       “the of history”, sebagai orang dialis dia

          menemukan dua dalil tentang sejarah yaitu:

          Pertama; sejarah mempunyai arti yang kokoh untuk mempelajari

          alam pikiran manusia dan pengalaman-permgalamannya.




                                  18
            Kedua: sejarah bersipat unik, langsung dan dekat. Pengertian

            sejarah dapat menerobos hakikat yang mendalam dari kejadian

            yang sedang dipelajari serta dapat menghayati peristiwa yang

            sebenarnya dari alam. Mengerti sejarah berati menyelami untuk

            melihat dengan jelas pikiran pikiran yang didalamnya.

       4     Prof. DR. Sartono Katordirdjo (Rusmen E. Tamburaka

            :2007) membagi sejarah menjadi dua pengertian yaitu: sejarah

            dalam arti bsubjektif dan sejarah arti objektif. Sejarah dalam

            arti subjektif adalah suatu kontrakjsi bangunan yang disusun

            penulis sebagai suatu uraian atau cerita. Sedangkan sejarah dalam

            arti yang objektif menujukkan kepada kajian atau peristiwa itu

            sendiri, ialah proses sejarah dalam aktualitasnya. Kejadian itu

            sekali terjadi dan tidak dapat berulang kembali.

           Dari beberapa definisi sejarah menurut para hali di atas, dapat

      diambil suatu kesimpulan bahwa sejarah adalah peristiwa masa lampau

      umat manusia yang hanya sekali terjadi (objektif) namun bisa

      dikonstuksi dalam penulisan sejarah sebagai manifestasi dari

      kehidupan manusia baik dalam kehidupannya sekarang maupun yang

      akan datang.

b. Sejarah sosial


           Sejalan dengan perkembangan ilmu sejarah sampai saat ini telah

   muncul berbagai cabang ilmu sejarah menurut teman-teman yang

   memberikan sifat atau karaktistik tertentu pada berbagai ragam




                                   19
historiografi yang dihasilkan, diantara ada yang dikatagorikan sebagai

sejarah sosial, sejarah ekonomi, sejarah politik, sejarah kebudayaan,

sejarah mentalitas, sejarah intelektual, sejarah demografi dan lain

sebagainya, (helius sjamsuddin, 2007: 306). Sedangkan dalam tulisan ini

akan dibahas mengenai sejarah dengan mengunakan pendekatan sejarah

sosial masyarakat yang sering jugak disebut sejarah sasyarakat yang

terpinggirkan. Sehingga masyarakat dalam penulisan sejarah tidak sebagai

manusia-manusia tanpa sejarah.


           Sebagai mana yang terkandung dari tema sejarah yang di usungnya

yaitu sejarah sosial, maka sudah barang tentu didalamnya mengkaji sejarah

tentang sejarah masyarakat (kemasyarakatan) (sjamsuddin, 2007: 307).


           Adapun definisi sejarah sosial dan/atau sosiologi sejarah sebagai

sejarah masyarakat, seringkali para sajarawan sendiri membuat definisi

masing-masing yang tidak jauh berbeda, namun maksudnya sama yaitu

mengkaji masyarakat. Beberapaa definisi yang di makdud tentang sejarah

sosial memenurut beberapa ahli adalah sebabai berikut:


1. G. m. trevrlan (sjamsuddin: 2007) menyebut sejarah rakyat dengan

    menghilangkan politiknya(the histoty of a people with the politics left

    out)


2    Asa brings (sjamsuddin: 2007) menyebutkan bahwa sejarah sosial

    mengkaji sejarah dari orang-orang mikin atau kelas bawah, gerakan-

    gerakan sosial, sebagai kegiatan manusia seperti tingkah laku, adat-



                                   20
  istiadat, kehidupan sehari-hari , sejarah sosial dalam hubungan dengan

  sejarah ekonomi


3. Desin smith (helius Sjamuddin:2007) mendefinisikan sejarah sosiah

  sebagai kajiaan tentang masa lalu untuk mengetahui bagaimana

  masyarakat-masyarakat bekerja dan berubah .


        Sehubungan dengan beberapa definisi sejarah sosial diatas, ada

kalanya juga sejarah sosial juga diartikan sebagai sejarah berbagai gerakan

sosial, antara lain menycakup gerakan petani, buruh, mahasiswa, proses

sosial dan lain sebagainya (saartono katordirdjo, 1993: 158).


        Dari   bebeerapa    pendapat    ahli   diatas   dapat   disimpulkan

bahwasejarah sosial merupakan sejarah dari mayarakat bahwa pada

umumnya baik itu merupakan kegiatan sehari-hari, kegiatan ekonomi, adat-

istiadat, stratifikasi sosial dan lain sebagainya. Sekaligus mengkaji

bagaimana masyarakat-masyarakt tersebut dalam kehidupan sosialnya,

pekerjaannya maupun perubahannya dalam lintas sejarah…


        Dengan mengunakan ilmu-ilmu sosial , sejarawan mempunyai

kemampuan menerangkan yang lebih jelas, sekalipun kadang-kadang harus

terikat pada model teoritisnya. Dan pada akhirnya sejarah sosial dapat

mengambil paktor sosial sebagai bahan kajiannya (kuntowijoyo, 2003: 41).

        Salah satu tema pokok dari bidang sejarah sosial sudah barang

tentu yialah perubahan dalam konteks sejarahnya, dan merupakan dalam

satu konsep yang sangat luas cakupannya, sesungauhnya proses sejarah



                                 21
  dalam keseluruhannya, apa bila dikaji dari perspektif sejarah sosialnya,

  merupakan proses perubahan sosial dalam berbagai dimensi atau aspeknya.

          Dipandang sebagainya proses modernisasi, prubahan sosial, yang

  kadang-kadang menjadi permasalahan sosial adalah adanya proses

  akulturasi. Artinya proses yang menycakup usaha masyarakat menghadapi

  pengaruh kultur dari luar dengan mencari bentuk penyesuaian komuditi

  berdasarkan kondisi berdasarkan nilai atau itiologi baru, suatu penyesuaian

  berdasarkan kondisi, disposisi, dan reprensi cultural, yang kesemuanya

  merupakan factor-faktor cultural yang menentukan sikap terhadap

  pengaruh baru (Sartono Kartodirdji, 1993: 160).

          Sehubungan dengan pendapat di atas maka kehidupan sosial

  masyarakat di desa Jerowaru juga mengalami proses yang di sebut sebagai

  proses perubahan ini, atau lebih tepat dikatakan terjadinya proses adaptasi

  dengan pengaruh luar akibat adanya kontak sosial dalam masyarakt dan

  dalam beberapa aspek kehidupan.

C. mampat ilmu sejarah

          Sejarah selalu dikaitkan dengan peristiwa atau kejadian masa

  lampau umat manusia, selaku sebuah cerita, sejarah menberikan suatu

  keadaan yang sebelumnya terjadi, berbeda dengan dongeng yang juga

  berbentuk cerita, tetapi hanya pelibur lara, sedangkan cerita sejarah,

  sumbernya adalah kejadian masa lampau/ masa dilamberdasarkan

  peningalan sejarah. Peningalan tersebut berupahasil perubahan manusia

  sebagai mahluk sosial (Rustam E. Tamburaka 2007: 7). Dari pengalaman




                                  22
      manuaia tersbut kita dapat bercermin dan pemiliki perubahan-perubahan

      nama yang dapat dijadikan inspirasi dan perbuatan dan tindakan mana yang

      seharusnya dihindari.

             Dengan demikian, mamfaat yang dapat kita petik dengan

      mengetahui sejarah adalah kita dapat lebih berhati-hati agar kegagalan

      yang pernah perjadi tidak terulang kembali. Sehing tetaplah kata kompuse,

      seorang filsof cina berkata “ sejarah mendidik kita supaya bertindak

      bijaksana. Selanjutnya Cicero (seorang ahli sejarah yunani) mengatakan “

      history its magisstra vitae” artinya sejarah bermamfaat sebagai guru yang

      baik (bijaksana). Sehingga terciptalah sebuah cerita sejarah yang berdasar

      pada kenyataan, dalam bentuk peningalan atau sumber sejarah (Rustam

      E.Tamburaka, 2002: 7).

4. Adat-istiadat masyarakat

   a. Idiom adat

             Keanekaragaman budaya Indonesia dari daerah satu dengan daerah

   yang lain menujukkan arti yang penting adat istiadat sebagai perujudan

   budaya local. Dimana adat-istiadat memiliki makna yang luas, dan

   dimanapun di Indonesia adat-istiadat ini mempunyai penapsiran mampu

   manafestasi yang berlainan (Erni Budiwanti, 2008 : 47).

      Adat-istiadat mendapatkan kesalihan nya dari masa lampao, yaitu ketika

   para nenek moyang kita menegakkan perantata yang diikuti tnpa batas waktu,

   kalau bukan masalah selamanya. Seperti yang dikatakan Alisyahbana bahwa

   adat addat merasuki hmpir segala asfek kehidupan komunitas yang




                                      23
mengakibatkan seluruh perilahu individu sangat dibatasi dan dikondifisikan

(Budiwanti, 2000: 48).

           Adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat selain memiliki local

jenius juga bisa dipengaruhi kebudayaan luar lainnya. Di Lombok misalnya

secara umum pengaruh Islam (abad ke XVI), Bai/ Hindu-Budha (abad ke-

XIII), serta Makasar, yang semuanya itu meninggalkan dampak dan pengaruh

yang berbeda-beda pada masyarakat di Lombok (Ahmad Amin, 1978: 21).

b. Perwangse dan Jajar Karang


           Sebelum kedatangan orang Bali di pulau Lombok hanya ada

organisasi politik kecil yang melampoi batas-batas desa. Tetapi didalam desa

tersebut satu golongan sudah terbentuk dengan sendirinya, yaitu: (1)

Aristokrasi, yang pada mulanya adalah penduduk-penduduk desa terkemuka,

(2) para petani bebas (kaula), (3)buruh tani (panjak) (Kraan, 1870: 9). Inilah

yang dianggap sebagi cikal bakal terbentuknya kasta di Lombok sebelum

diperkenalkan adanya sistem kasta yang dibawa dan diadopsi dari pengaruh

Bali.


           Erni Budiwanti (2000) menulis bahwa di Lombok secara umum

dan Lombok Timur pada hususnya terdapat dua kelompok sosial yang berbeda

dalam strata sosia, yaitu golongan Bangsawan (perwangse) dan orang biasa

(jajar karang), dimana status seseorang sebagai perwangse atau jajarkarang

dapat diidentifikasi dari gelar yang disandangnya. Gelar mengawali nama diri

dan digunakan dalam komunkasi sehari-hari, seperti Rahadiah atau Raden

(Budiwanti, 2002: 249).



                                   24
          Pada golongan bangsawan di Jerowaru kedudukan bangsawan

yang paling tinggi kita kenal adalah gelar Mamik, Lalu ataupun Baiq,

sedangkan gelar Raden dan Dende salama sekali tidak ada. Hal ini sangat

cocok dengan apa yang dikatakan Erni Budiwanti terjadi akibat adanya

percamouran perkawinan dengan masyarakat biasa (Budiwanti, 2002: 249).

Untuk lebih jelasnya terdapat perbedaan dan persamaan adat-istiadat yang

sudah menjadi bagian yang mendasar dalam golongan perwange dengan

golongan jajarkarang diantaranya, ayitu:


1. Sistem Perkawinan


         Perbedaan status yang membedakan golongan perwangse dengan

   golongan jajarkarang salah satunya adalah dalam masalah perkawinan

   atau sistem perkawinan. Untuk mempertahankan kekerabatan mereka, dan

   mempertahankan status serta privelase mereka, golongan bangsawan pada

   awalnya mencegah anak atau saudara perempuan mereka kawin dengan

   orang yang golongan sosialnya berbeda atau status sosialnya lebih rendah.

   Kaum wanita mereka lebih banyak yang kawin secara endogami,

   sehaingga perkawinan antara misan, sepupu, baik paralel (dengan anak

   saudara laki-laki ayah atau saudara perempuan ibu) maupun sepupu silang

   (dengan anak saudara laki-laki ibu atau saudara perempuan ayah),

   merupakan perkawinan yang lebih dianjurkan di kalangan kaum

   bangsawan (Budiwanti, 2002: 250).




                                   25
     Namun jika terjadi perkawinan kaum bangsawan wanita dengan pria

dari masyarakat biasa, maka dari pihak laki-laki itu harus membayar

sajikrame tergantung tingkatan kebengsawanan wanita tersebut (Erni

Budiwanti, 2002: 251). Begitu juga pada masyarakat desa Jerowaru ketika

terjadi pernikahan untuk saat ini dan sudah dimulai sejak kuarang lebih

tahun 1970-an, dan terjadi pernikahan seperti yang disebutkan di atas

maka diharuskan membayar sajikrame tersebut.


     Perbedaan sistem perkawinan pada masyarakat desa Jerowaru baik

pada bangsawan maupun masyarakat biasa pada saat ini sebenarnya dalam

prosesinya tidak ada perbedaan sama sekali, hanya saja yang berbeda

adalah isi daripada setiap prosesianya tersebut. Misalnya ketika anak dari

golongan bangsawan kawin dengan anak masyarakat biasa, maka adanya

keharusan membayar sajikrame padapihak laki-laki tersebut


     Salah satu tradisi lain dalam adat-istiadat perkawinan masyarakat

Lombok adalah kwin lari. Kawin lari atau nikah lari ini dalam bahasaa

sasak disebut “melaian”, dan hal ini kadang-kadang menurut kebanyakan

dari adat-istiadat yang berlaku pada kebanyakan masyarakat merupakan

cara dalam pengambilan perempuan yang lebih ideal ketimbang meminta

pada orang ruanya. Rencana pernikahan memang atas dasar persetujuan

keluarga kedua belah pihak namun yang lebih dominan masyarakat

menggunakan tradisi melaian ini. Dalam hal ini sesuai dengan apa yang

dikatakan Solichin salam (1992) dipengaruhi oleh adat-istiadat Bali yang

memperkenalkan adanya sistem kasta secara lebih jelas. Namn di Desa



                                26
   Jerowaru melaian adalah shal yang biasa dalam sistem perkawinan, baik

   pada golongan bangsawan maupun pada masyarakat biasa. Meskipun

   hususnya pada kaum bangsawan banyak yang menggunakan lamaran

   dengan persetujuan dari keluarga kedua belah pihak


2. Bahasa Sehari-Hari


        Penggunaan bahasa di Lombok umumnya dikenal adanya bahasa

   halus dan bahasa kasar. Bahasa kasar adalah bahasa sehari-hari yang

   dipergunakan oleh kasta yang lebih tinggi (perwangse) terhadap kasta

   yang lebih rendah (jajarkarang). Sedangkan bahasa halus dipergunakan

   oleh kasta-kasta lebih rendah terhadap kasta yang lebih tinggi. Selain

   adanya kedua bahasa diatas ada juga yang dikenal dengan sebutan bahasa

   antara/ pertengahan yang juga dipergunakan dalam bahasa pergaulan

   kekeluargaan. Misalnya seorang anak yang menyuruh anaknya makan

   mengatakan ngelor atau medahar bukan mangan atau bekakenan untuk

   kata makan (Ahmad Amin dkk, 1978: 24). Dan jika aturan tersebut

   dilanggar, Ahmad Amin (1978) melanjutkan maka orang tersebut

   dinamakan kasoan atao noak, dalam hal ini bahasa pergaulan sehari-hari

   masyarakat dari kedua golongan inilebih banyak untuk saat ini

   menggunakan bahasa pertengahan sekaligus bahasa kasar sebagai bahasa

   yang lebih dominan menjadi bahasa pergaulan sehari-hari, meskipun

   bahasa halus masih dipergunakan oleh golongan minoritas dan tempat

   yang tepat.




                                  27
3. Pergaulan Sehari-Hari


        Abdurrahman (1989) telah mengidentifikasi beberapa tata kelakuan

   pada lingkungan masyarakat di pulau Lombok, seperti tata kelakuan di

   lingkungan pergaulan antara suami dan istri, tata kelakuan di lingkungan

   pergaulan antara ayah dan anak, dengan masyarakat sekitar dan lainnya.

   Dicontohkan    oleh     Abdurahman   (1989)   misalnya   dalam   tatacara

   berpakaian, disini akan tampak jelas bahwa sang suami pantang akan

   menggunakan pakaian istrinya terutama kain batiknya (sasak : bendang ).


        Tidak terkecuali pada masyarakat Desa Jerowaru yang mana banyak

   dari masyarakatnya yang masih mempertahankan adapt istiadat lama yang

   baik (sasak : rit ) dalam beberapa segi kehidupan,seperti sopan santun

   dalam berbicara, sopan santun dalm bertingkahlaku maupun cara bergaul

   sesama orang tua, sebaya dan anak-anak. Terutama pada golongan

   bangsawan tata krama ini sangat di perioritaskan, meskipun dari beberapa

   aspek adat-istiadat yang pernah dikembangkannya saat ini sebagian sudah

   luntur ataupun berkurang.




                                  28
                                 BAB III


                       METODE PENELITIAN


A. Pendekatan dan Metode Penelitian

          Dalam penelitian ini akan mengkaji tentang sistem kekerabatan

   masyarakat di Desa Jerowaru, maka dengan demikian data-data yang akan

   dikumpulkan dalam penelitian ini          adalah    berbentuk    keterangan-

   keterangan, kalimat-kalaimat, foto-foto, serta informasi yang berkaitan

   dengan bagaimana wujud kekerabatan pada masyarakat. Mengingat bahwa

   data-data yang dikumpulkan tersebut berupa dokumen-dokumen tertulis,

   informasi, kejadian-kejadian, dan foto-foto yang akan dianalisis dalam

   tinjauan sejarah, maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan

   pendekatan kualitatif.


          Danzin    dan     Lincoln    sebagaimana    dikutip   oleh   Moleong

   menyatakan bahwa penelitian kualitatif             adalah penelitian yang

   menggunakan penelitian latar alamiah dengan maksud menafsirkan

   fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai

   metode yang ada. Lebih lanjut, Moleong menyatakan bahwa penelitian

   kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk mengetahui fenomena

   tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya: perilaku,

   persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain (Moleong, 2007: 6).


          Penelitian kualitatif dari sisi definisi lainnya dikemukakan bahwa

   hal ini merupakan penelitian yang memanfaatkan wawancara terbuka



                                      29
untuk menelaah dan memahami sikap, pandangan, perasaan dan perilaku

individu atau sekelompok orang (Moleong, 2007: 6).


       Penelitian kualitatif didasarkan pada upaya membangun pandangan

mereka yang diteliti secara rinci, dibentuk dengan kata-kata, gambaran

holistik dan rumit. Definisi ini lebih melihat perspektif emik dalam

penelitian yaitu memandang atau upaya membangun pandangan subjek

penelitian yang rinci, dibentuk dengan kata-kata, gambaran holistik dan

rumit (Moleong, 2007: 6).


       Sedangkan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini

adalah metode sejarah. Adapun metode sejarah dalam pengertian yang

lebih umum adalah penelitian suatu atas masalah dengan mengaplikasikan

jalan pemecahannya dari perspektif historis (Abdurrahman, 1999: 43).

Pengertian yang lebih khusus, sebagaimana dikemukakan oleh Gibert J.

Graham dalam bukunya Abdrrahman (1999), bahwa metode penelitian

sejarah adalah seperangkat aturan dan prinsip sistematis untuk

mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara epektif, menilainya secara

kritis, dan mengajukan sintesis. Sedangkan Abdurrahman sendiri

menjelaskan metode sejarah sebagai proses menguji dan menganalisis

kesaksian sejarah guna menemukan data yang otentik dan dapat dipercaya.

Serta usaha sintesis atas data semacam itu menjadi kisah sejarah yang

dapat dipercaya (Abdurrahman, 1999: 4).




                              30
           Alasan peneliti menggunakan metode sejarah dalam penelitian ini

   karena dalam penelitian ini mengkaji perkembangan serta perubahan yang

   terjadi pada masyarakat desa Jreowaru terutama dalam latar sosialnya

   seperti perkembangan adat-istiadatnya, perubahan sistem perkawinan pada

   golongan bangsawan, perubahan dalam bahasa sehari-hari yang digunakan

   telah menarik peneliti untuk meneliti mengapa hal itu terjadi yang pada

   akhirnya     menari     peneliti    untuk    mengetahui       perubahan      serta

   perkembangannya, karena jika berbicra mengenai perkembangan maupun

   perubahan berarti kita berbicara dalam litas sejarah.




B. Metode Penelitian

           Karena dalam penelitan menggunakan metode penelitian sejarah

   maka jalan kerja penelitian ini juga menggunakan metode sejarah seperti

   tersebut diatas yaitu heuristik, kritik, interpretasi data, serta historiografi.


   a. Heuristik


              Heuristik   yaitu berasal dari kata yunani heurishein, artinya

     memperoleh. Menurut G. J. Reiner seperti yang ditulis Dudung

     Abdurrahman (1900), heuristik adalah suatu tehnik, suatu seni, dan

     bukan suatu ilmu. Heuristik seringkali merupakan suatu keterampilan

     dalam menemukan, mengenali dan memperinci bibliografi atau

     mengklasifikasi dan merawat catatan-catatan. Lebih jelasnya seperti apa

     yang dikatakan Carrad bahwa heuristik adalah merupakan langkah awal



                                      31
sebagai sebuah kegiatan mencari sumber-sumber, mendapatkan data,

atau materi sejarah atau evidensi sejarah (Sjamsuddin, 2007: 86). Dari

kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa heuristik merupakan

langkah pertama dalam penulisan sejarah yaitu dengan pengumpulan

data sebanyak mungkin untuk dijadikan sumber penelitian sejarah.


       Adapun macam-macam fakta yang dikumpulkan dalam heuristik

ini seperti adat-istiadat bangsawan, pegaulan sehari-hari, setratifikasi

sosial, perubahan adat istiadat serta bahasa yang digunakan oleh

golongan bangsawan di desa Jerowaru serta beberapa fakta yang sesuai

dengan rumusan masalah seperti diajukan pada bagian sebelumnya.


       Karena heuristik merupakan kegiatan pengumpulan data-data

sejarah, maka ada beberapa tehnik dalam pengumpulan data tersebut

yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:


1. Observasi

           Observasi atau pengamatan adalah kegiatan manusia dengan

   menggunakan pancaindra lainnya seperti telinga, penciuman, mulut

   dan kulit. Karena itu, observasi adalah kemampuan seorang untuk

   menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja pencarian mata

   serta dibantu dengan pancaindra lainnya (Burhan Bungin, 2008:

   115). Sedangkan Sutrisno Hadi mengatakan bahwa observasi

   merupakan suatu proses yang komplek, suatu proses yang tersusun

   dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantaranya yang




                              32
  terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan (Sugiono,

  2008: 145).


         Dalam penelitian ini proses pelaksanaan pengumpulan data

  yang dilakukan oleh peneliti yaitu observasi nonpartisipan (non

  participant observasion). Dalam hal ini tidak terlibat secara langsung

  terlibat sebagai anggota dari masyarakat tersebut, namun hanya

  sebagai pengamat independen. Dengan cara ini walaupun secara

  tidak langsung terlibat seperti masyarakat biasanya, namun dengan

  cara ini peneliti juga dapat mengamati bagaimana prilaku

  masyarakat, pergaulan masyarakat dengan masyarakat lain, serta

  bagaimana interaksi sosial pada masyarakat di desa Jerowaru.


         Adapun     fakta-fakta   yang   didapatkan     peneliti   selama

  melakukan observasi berkisar pada bagaima proses interaksi antara

  dua kelompok sosial yang berbeda, mengamati beberapa perbedaan

  yang menonjol antara golongan bangsawan dengan masyarakat biasa

  dalam hal bangunan terutama lumbung padi, memperhatikan tata

  krama pada golongan bangsawan, serta beberapa aspek dari segi

  lahiriah yang dapat peneliti dapatkan selama melakukan observasi.


1. Wawancara

         Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu,

  percakapan dilakukan oleh dua pihak orang, yaitu pewawancara

  (interviewer)   yang     mengajukan      pertanyaan      terwawancara




                             33
(interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu

(Moleong, 2007: 186). Jadi disini terdapat elemen yang penting yaitu

interviewer dan interviewee.


       Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak

terstruktur dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face)

maupun dengan menggunakan telepon). Dan dalam penelitian ini

menggunakan wawancara terstruktur sebagai tehnik pengumpulan

data. Oleh karena itu seperti apa yang dikatakan Sugiyono, seorang

peneliti dalam melakukan wawancara, pengumpulan data setelah

penyiapan instrumen penelitian berupa pertanyaan tertulis yang

alternatif jawabannya pun telah disiapkan. Dengan terstruktur ini

setiap responden diberi peranyaan yang sama, dan pengumpul data

mencatatnya (Sugiyono, 141: 2008). Sedangkan metode wawancara

yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara

bertahap, karena karakter utama dari wawancara ini adalah dilakukan

secara bertahap dan pewawancara tadak harus terlibat dalam

kehidupan sosial formal. Sistem datang dan pergi dalam wawancara

ini mempunyai kelebihan dalam mengembangkan objek-objek baru

dalam wawancara berikutnya karena pewawancara memperoleh

waktu yang panjang diluar informan untuk menganalisis hasil

wawancara yang telah dilakukan serta dapat mengoreksinya (Burhan

Bungin, 2008: 110).




                          34
          Untuk mendapatkan data dari informan melelui wawancara

   ini meliputi, menemukan informan di lapangan dilakukan dengan

   menentukan orang-orangnya dengan alasan orang yang dipilih

   sebagai informan benar-benar tahu tentang sejarah mengenai asal-

   usul, proses interaksi, status sosial dan lain sebagainya. Adapun

   beberapa informasi dan dan fakta yang ingin peneliti dapatkan dalam

   wawancara       ini   berupa     asal-usul   bangsawan        Jerowaru,

   perkembangannnya,        pelaksanaan   adat-istiadatnya,     bagaimana

   implementasi adat-istiadat yang dikembangkan, bgaimana sistem

   perkawinan,     bahasa    yang   digunakan   dengan        menggunakan

   pengumpulan data melelui wawancara ini. Serta beberapa informasi

   lainnya yang sesuai dengan tema dalam penelitian ini.


          Berbagai pihak yang peneliti minta keterangannya dalam

   penelitian ini diantaranya, pejabat pemerintah yang ada di desa

   Jerowaru, tokoh adat, tokoh masyarakat, para bangsawan serta

   masyarakat biasa pada umumnya yang tahu tentang informasi yang

   penulis cari.


2. Dokumentasi

          Metode dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan

   data yang digunakan dalam metodologi penelitian ilmu sosial. Pada

   intinya metode dokumenter adalah metode yang digunakan untuk

   menelusuri data historis. Dengan demikian, pada penelitian sejarah,




                               35
data dokmenter memang berperan sangat penting (Burhan Bungin,

2008: 121).


         Metode penelitian ini merupakan salah satu yang harus digali

oleh seorang peneliti sejarah, karena sebenarnya sejumlah besar fakta

tentang sejarah tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi

guna dijadikan kata-kata dan fakta historis.


         Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-

sura, catatan-catatan harian, cendramata, surat harian, laporan dan

sebagainya. Sifat utama dari data ini tidak terbatas dari ruang dan

waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui

hal-hal yang pernah terjadi pada masa silam.kumpulan data dalam

bentuk tulisan ini disebut dokumen dalam arti luas. Adapun barang-

barang yang termasuk dokumen diantaranya adalah artepak, caset

tape, mikrofilm, dise, CD, flashdisk dan sebagainya (Burhan Bungin,

2008: 122). Secara detail bahan dokumenter terbagi beberapa macam

yaitu:


a. otobiografi

b. surat pribadi, buku-buku atau catatan harian, memorial

c. kliping

d. dokumen pemerintah maupun suasta

e. cerita roman dan cerita rakyat

f. data server dan flashdisk




                           36
g. data tersimpan di web site dan lain-lain.

       Selain macam-macam bahan dokumenter diatas, bahan

dokumenter ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu dokumen pribadi dan

dokumen resmi.


a. Dokumen Pribadi


            Dokumen pribadi adalah catatan atau karangan seseorang

   secara tertulis tentang tindakan, pengalaman, da kepercayaannya.

   Maksud mengumpulkan dokumentasi pribadi ialah untuk

   memperoleh kejadian nyata tentang situasi sosial dan berbagai

   faktor dis ekitar subjek penelitian (Sugiyono, 2008: 217).

   Dokumen pribadi ini bisa berupa buku harian, otobiografi dan

   sebagainya.


b. Dokumen Resmi


            Dokumen resmi terbagi terbagi atas dokumen intern dan

   dokumen       intern.   Dokumen   intern    dapat   berupa   memo,

   pengumuman instruksi, ataupun dari lembaga untuk kalangan

   sendiri seperti risalah atau laporan rapat,keputusa pemimpin

   kantor, konvensi yaitu kebiasaab-kebiasaan yang berlangsung di

   suatu lembaga dan sebagainya. Sedangkan dokumen ekstern

   berupa     bahan-bahan     informasi   yang    dikeluarkan    suatu

   pemerintahan (Burhan Bungin, 2008: 123).




                            37
                   Dalam penelitian ini dokumen yang akan dikaji sebagai

            bahan penulisan sejarah yang terkait dengan kebutuhan peneliti

            tidak begitu banyak maka peneliti dalam hal ini hanya

            menggunakan kitab kuno yang disebut sebagai Takepan untuk

            menelusuri sejarah tersebut, lebih dari itu ada juga monografi

            desa serta salinan daftar pemilih tetap pemilihan umum

            kabupaten Lombok timur tahun 2009/2019. Adapun dari takepan

            itu untuk mengetahui tentang sejarah awal masyarakat desa

            Jerowaru,   kemudian      dari     monografi   desa   yaitu   untuk

            memperoleh data yang jelas mengenai desa Jerowaru secara

            umum dari beberapa aspek dalam kekiniannya. Dan yang terakhir

            adalah daftar pemilih tetap tadi, yaitu digunakan untuk

            memastikan mengenai konsentrasi tempat tinggal bangsawan

            yang cendrung tinggal         di   satu   tempat   dengan sesama

            golongannya. Selain bahan dokumen yang berupa buku-buku

            diatas tadi, peneliti juga menggunakan foto-foto sebagai bahan

            kajian dokumenter ini.


b. Kritik


            Setelah sumber sejarah dalam berbagai katagorinya itu

 terkumpul, tahap yang berikutnya adalah verifikasi atau lazim disebut

 juga dengan kritik untuk memperoleh keabsahan sumber. Dalam hal ini

 yang harus jug adiuji adalah keabsahan tentang keaslian sumber

 (otensitas) yang dilakukan melalui kritik ekstern, dan keabsahan tentang



                                     38
kesahihan sumber (kredibilitas) yang ditelusuri melalui kritik intern.

Berikut ini kedua teknik verifikasi tersebut akan dijelaskan satu-persatu:


1. Keaslian Sumber (otensitas)

           Otensitas dari sumber ini minimal dapat diuji berdasarkan

    lima pertanyaan pokok sebagai berikut:


   1. Kapan sumber itu dibuat ?


   2. Dimana sumber itu dibuat ?


   3. Siapa yang membuat ?


   4. Dari bahan apa sumber itu dubuat ?


   5. Apakah sumber itu dalam bentuk yang asli?


              Kelima pertanyaan ini masih minimal untuk mengajukan

       pertanyaan dalam menentukan keabsahan dari dokumen sejarah

       yang   diteliti   untuk   dijadikan   sumber    penulisan   sejarah

       (Abdurrahman, 1999: 26). Lebih dari itu jika yang kita teliti

       tersebut adalah informasi dari informan dan bukan dokumen

       maka dalam hal ini Lucet sebagaimana dikutif Helius Sjamsudin

       (2007) mengatakan bahwa sebelum smber-sumber sejarah dapat

       digunakan dengan aman, paling tidak ada lima pertanyaan yang

       harus dijawab dengan memuaskan:


   1. Siapa yang mengatakan itu?




                                 39
2. Apakan satu atau dengan cara lain kesaksian itu telah diubah?

3. Apa sebenarnya     yang dimaksud oleh orang itu dengan

 kesaksiannya itu?

4. Apakan orang yang memberikan keterangan itu seorang saksi mata

 (witnes) yang kompeten, apakah dia mengetahui faktor itu?

        Oleh karena itu pada dasarnya kritik eksternal harus

   menegakkan fakta dari kesaksia bahwa :


a. Kesaksian itu benar-benar diberikan oleh orang ini atau pada

   waktu ini (authenticity)

b. Kesaksian yang telah diberikan itu telah bertahan tanpa ada

 perunahan (uncorupted), tanpa ada suatu tambahan-tambahan atau

 penghilangan-penghilangan yang substansial (itegriti) (Helius

 Sjamsudin, 2007: 134).

       Karena fakta yang peneliti cari berkisar pada tahun 1970-an,

 maka tergolong sejarah yang kontemporek, sebab orang-orang yang

 terlibat langsung pada saat itu masih hidup jadi bisa dikatakan

 kesaksiannya karena merupakan sumber primer sangat bisa

 dipercaya, sekaligus dengan jalan memadukan diantara beberapa

 partanyaan yang sama dan diajukan pada informan yang berbeda,

 kemudian jika ada dari sebagian kecil dari informan yang

 pendapatnya berbeda serta penulis kurang meyakini pendapatnya

 karena sebagian besar bersaksi sama maka pendapat satu orang




                          40
     atau dua orang diantara sepuluh orang tersebut gugur dengan

     sendirinya.


2. Kesahihan Sumber (kredibilitas)

            Kritik internal sebagaimana yang disarankan oleh istilahnya

   menekankan aspek kedalaman yaitu isi dari sumber, kesaksian

   (testimoni). Oleh karenanya seperti yang ditulis Helius Sjamsudin

   (2007) dalam kritik intern ini seorang peneliti harus memutuskan

   apakah kesaksian itu dapat diandalkan (reliable) atau tidak.

   Keputusan ini didasarkan atas penemuan dua penyidikan (inquiry),

   yaitu:


    a. Arti sebenarnya dari kesaksian itu harus dipahami?


    b. Setelah fakta kesaksian dibuktikan dan setelah arti sebenarnya

       dari isinya telah dibuat sejelas mungkin, selanjutnya kredibelitas

       saksi harus ditegakkan.


              Adapun berkenaan dengan sumber lisan, bila ingin teruji

      kredibilitasnya sebagai fakta sejarah, maka harus memenuhi

      sebagaimana syarat-syarat yang diajukan Garraghan sebagaimana

      dikutif Dudung Abdurrahman (1999) sebagai berikut:


   a. Syarat-syarat umum: sumber lisan (tradisi) harus didukung olek

     saksi berantai dan disampaikan oleh pelopor pertama yang

     terdekat. Sejumlah saksi itu harus sejajar dan bebas, serta mampu

     mengungkapkan fakta yang teruji kebenarannya.



                                 41
     b. Syarat-syarat khusus: sumber lisan mengandung kejadian penting

       yang diketahui umum; telah menjadi kepercayaan umum pada

       masa tertentu; selama masa tertentu itu tradisi dapat berlanjut tanpa

       protes atau penolakan perseorangan; lamanya tradisi relatif

       terbatas; merupakan aflikasi dari penelitian yang kritis; dan tradisi

       tidak pernah ditola oleh pemikiran kritis.


                  Dalam hal kredibilitas sumber ini peneliti sebagaimana

       penjelasan diatas dalam sumber lisan menggunakan saksi yang

       berantai, bahkan saksi tersebut merupakan sumber primer yang

       secara langsung mengalami dan merasakan mengenai fakta yang

       peneliti tanyakan terkait dengan sejarah masyarakat desa jerowaru

       tersebut. Dan dari beberapa saksi yang berantai itu jika seperti yang

       sudah dijelaskan diatas menyimpang dari pendapat umum maka

       kesaksiaanya tersebut ditolak untuk dijadikan sumber sejarah, yang

       sudah barang tentu dalam hal ini ke kredibelan informan tersebut

       juga peneliti ketahui.




c. Interpretasi


          Interpretasi atau penafsiran data sejarah seringkali disebut juga

  dengan analisis sejarah. Kata analisis sendiri berarti menguraikan, dan

  secara terminologis berbeda dengan sintesis yang berarti menyatukan.

  Namun keduanya seperti yang dikatakan Kuntowijoyo dalam bukunya



                                 42
Dudung Abdurrahman (1999) bahwa analisis dan sintesis dipandang

sebagai metode-metode utama dalam interpretasi.


       Lebih jelasnya bahwa interpretasi data atau analisis data adalah

proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh

dari hasil wawancara, catatan lapangtan, dan dokumentasi dengan cara

mengorganisasikan dalam katagori,menjabarkan kedalam unit-unit,

melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang

penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga

mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2008:

244). Dengan begitu analisis sejarah itu sendiri, seperti yang dikatakan

Berkhofer (Abdurrahan:1999) bertujuan melakukan sintesis atas

sejumlah fakta yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah dan

bersama-sama dengan teori-teori disusunlah fakta itu kedalam suatu

interpretasi yang menyeluruh.


       Karena didalam penulisan sejarah sering juga terjadi interpretasi

tidak sesuai atau bahkan terlalu meluas maka soerang peneliti

dianjurkan memusatkan perhatiannya pada pos-pos tertentu yang

membicarakan suatu maslah, misalnya: dengan mempelajari tokoh-

tokoh, longkungan kejadian yang melingkupinya dan sebagainya.

Selanjutnya perhatian diarahkan kepada analisis mengenai apa yang

dipikirkan orang, diucapkan dan diperbuat orang yang menimbulkan

perubahan melalui dimensi waku (abdurrahman, 1999: 61-62).




                             43
          Adapun yang dilakukan peneliti dalam tahap iterpretasi data ini

   adalah mensintesiskan beberapa fakta agar sesuai dengan teori yang

   digunakan. Misalnya ada teori yang mengatakan bahwa kekerabatan

   ditentukan oleh keturunan yang selektif, dimana dalam kekerabatannya

   memiliki hak atas gelar, lambing, kepemilikan dan lain-lain, begitu juga

   fakta yang didapatkan mencari titik temu antara teori tersebut dengan

   hasil penelitian yang akan dijelaskan.


d. Historiografi


          Sebagai fase terakhir dalam penulisan sejarah, historiografi ini

  merupakan cara penulisan, pemaparan atau pelaporan hasil penelitian

  sejarah yang telah dilakukan. Layaknya laporan ilmiah, penulisan hasil

  penelitian sejarah itu hendaknya dapat memberikan gambaran yang jelas

  mengenai proses penelitian, sejak awal (fase perencanaan) sampai

  dengan tahap terakhir (penarikan kesimpulan). Jadi dengan penulisan

  sejarah itu akan ditentukan mutu penelitian sejarah itu sendiri

  (Abdurrahman,1999: 67).


          Diantara syarat umum yang harus diperhatikan peneliti didalam

  pemaparan sejarah, seperti yang dikatakan Hasan Usman dalam bukunya

  Dudung Abdurrahman (1999), adalah:


  1. Peneliti harus memiliki kemampuan mengungkapkan bahasa secara

  baik.




                                 44
2. Terpenuhinya kesatuan sejarah, yakni suatu penulisan sejarah itu

  sendiri sebagai bagian dari sejarah yang lebih umum, karena ia

  didahului oleh masa dan diikuti oleh masa pula. Dengan perkataan

  lain, penulisan itu ditempatkannya sesuai dengan perjalanan sejarah.


3. Menjelaskan apa yang ditemukan oleh peneliti dengan menyajikan

  bukti-buktinya dan membuat garis-garis umum yang akan diikuti

  secara jelas oleh pemikiran pembaca.


4. Keseluruhan pemaparan sejarah haruslah argumentatf, artinya usaha

    menyerahkan ide-idenya dalam merekonstruksi masa lampau itu

    didasarkan atas bukti-bukti tersendiri, buktri yang cukup lengkap,

    dan fakta-fakta akuarat.


        Penyajian penelitian secara garis besar terdiri atas tiga bagian:

(1) pengantar, (2) hasil penelitian, (3) kesimpulan. Setiap bagian

biasanya terjabarkan dalam bab-bab atau sub bab yang jumlahnya tidak

ditantukan swecara singkat. Asalkan antara satu bab dengan bab yang

lain harus ada pertalian yang jelas (Abdurrahman, 1999: 69).


        Jenis historiografi yang digunakan oleh peneliti adalah

histiiriografi kritis, karena selain menggunakan pendekatan sosial yang

merupakan bagian dari tema sejarah kritis yang multi disipliner (multy

approach), sekaligus dalam melihat hubungan status sosial di jerowaru

menggunakan dua pendekatan baik dari golongan bangsawan maupun

masyarakat biasa tentang sejarahnya sehingga dalam penulisannya pada



                               45
       tahap historiografi tidak terjadi bias atau melihat dengan satu kacamata

       saja. Sekaligus dalam penulisan ini selain mampu menghadirkan nuansa

       sejarahnya sekaligus nuansa sosial, budaya, ekonomi dan pendididak

       tercakup di dalamnya.


                                   BAB IV


                HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Gambaran Umum Lokasi Penalitian

         Desa Jerowaru merupakan salah satu dari 4 (empat) Desa yang ada di

  kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur. Dengan luas 35,22 km dengan

  perincian untuk persawahan 2,320 Ha, perkebunan 532 Ha,perumahan atau

  pekarangan 406 Ha, perkuburan 41 Ha, dan lain-lain 282 Ha.

         Desa Jerowaru terdiri dari 6 dusun definnitif dan 3 dusun perwakilan

  yaitu kadus Jerowaru daye (utara), kadus Jerowaru lauk (selatan), kadus

  Jerowaru timuk (timur), kadus Montong Wasi, dan kadus Sepapan. Sedangkan

  yang termasuk kadus perwakilan adalah kadus Jor, kadus Muhajirin, dan kadus

  Telong-Elong.

         Adapun batas-batas desa Jerowaru adalah sebagai berikut: (a). sebelah

  utara berbatasan dengan desa Sepit, (b) sebelah timur berbatasan dengan desa

  Tanjung Luar, (c). sebelah selatan berbatasan dengan desa Pemongkong dan

  (d). sebelah barat berbsatasan dengan desa Sukaraja.

         Total jumalah penduduk dari semua dusun yang ada di desa Jerowaru

  adalah 18.307 jiwa, dengan 5.372 kepala keluarga (KK), sedangkan




                                       46
    perinciannya adalah sebagai berikut: (a) laki-laki dengan jumlah 8.579 jiwa, (b)

    perempuan 9.728 jiwa.

              Perkebunan dan pertanian merupakan sektor pendapatan terbesar di

    desa Jerowaru, selain peternakan, perkebunan, perikanan dan perdagangan.

    Dilihat dari ukuran perkembangannya terutama dalam bidang pertanian

    memang ada kemajuan dari tahun ketahun bila dibandingkan dengan kebelum

    keadaan sebelumnya, namun dalam sektor ini yang menjadai kendala utama

    adalah sarana dan prasarana di bidang irigasi atau pengairan dan ketidak

    sesuaiannya harga kebutuhan petani denagan harga hasil produksi. Adapun

    hasil pertanian yang sangat menopang kehidupan petani di desa Jerowaru

    adalah hasil tanaman tembakau, selain padi dan semangka. Indikator

    perekonomian masyarakat di desa Jerowaru dapat dilihat pada tabel dibawah

    ini.

              Tabel 4.1 indikator perekonomian masyarakat Desa Jerowaru 2009/

    2010

No         Indikator    Sub. Indikator       Thn. 2009            Thn. 2010

1          Pendapatan   Sumber pendapatan

                        1. Pertanian         Rp. 35.201.125.000   Rp. 41.878.550.000

                        2. Kehutanan         Rp. 400.000.000      Rp. 600.000.000

                        3. Perkebunan        Rp. 61.325.600.000   Rp. 72.246.600.000

                        4. Peternakan        Rp.11.324.057.000    Rp. 12.146.183.500

                        5. Perikanan         Rp. 4.180.866.000    Rp. 4.952.197.000

                        6. Perdagangan       Rp. 6.098.100.000    Rp. 8.105.400.000

                        7. Jasa              Rp. 3.441.800.000    RP. 4.855.000.000




                                            47
                   8. Industri rumah

                     tangga              Rp. 526.000.000   Rp. 794.000.000

       (Sumber : monografi desa Jerowaru tahun 2009/ 20010)

       Sedangkat tingkat pendidikan di desa Jerowaru masih bisa dibilang

rendah, sehingga peningkatannya masih sangat diperlukan dukungan dari

pemerintah, pihak swsata maupun dukungan dari masyarakat. Untuk itu

pendidikan masyarakat desa Jerowaru perlu ditingkatkan lagi, karena

keberhasilan dari suatu pembngunan sangat tergantung dari pendidikan

penduduknya. Peningkatan pedidikan penduduk merupakan salah satu indikator

penting dalam penentuan pencapaian angka indeks pembangunan manusia

(IPM) yang tinggi. Permasalahan dalam bidang pendidikan ini disebabkan oleh

kualitas sumber daya manusia yang masih rendah karena tingkat pendidikan

yang belum memadai. Namun dalam melaksanakan sistem pendidikan nasional

dan pendidikan dasar sembilan tahun, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa

dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia (SDM) baik melalui

pendidikan formal maupun melalui pendidikan informa.

       Pemerintah desa Jerowaru selalu mendukung kegiatan-kegiatan yang

dilaksanakan oleh masyarakat, tokoh agama, melalui organisasi sosial

masyarakat atau pun pendidikan swasta, sehingga tercermin dengan tersedianya

sarana dan prasarana pendidikan sebagai berikut:

a. Sekolah Dasar              : 14 buah

b. Madrasah Ibtida’yah        : 2 buah

c. SMPN Negeri                : 1 buah




                                    48
d. Madrasah Tsanawiyah       : 5 buah

e. Madrasah Aliyah            : 2 buah

f. PKBM (Paket A, B dan C) : 2 buah

g. TK                         : 2 buah

h. PAUD                       : 4 buah

     (sumber: monografi desa Jerowaru tahun 2009/ 2010).

        Untuk lebih jelasnya, data tingkat perkembangan pendidikan antara

tahun 2009/ 2010 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

        Tabel 4.2 indikator perkembangan pedidikan masyarakat desa

Jerowaru.

No Indikator           Sub. Indikator        Thn. 2009       Thn. 2010

1.    Tingkat          1. Buta Hurup         3187 orang      2337 orang

      pendidikan       2. Tidak Tamat SD     721 orang       600 orang

      penduduk usia 3. Tamat SD              1562 orang      1487 orang

      15 tahun         4. Tamat SLTP         2644 orang      2608 orang

                       5. Tamat SLTA         3485 orang      3782 orang

                       6. Tamat D-1          481 orang       522 orang

                       7. Tamat D-2          841 orang       783 orang

                       8. Tamat D-3          1682 orang      2087 orang

                       9. Tamat S1           601 orang       1174 orang

        (Sumber: monografi desa Jerowaru tahun 2009/ 2010)


        Selain dalam bidang ekonomi maupun pendidikan diatas masih sangat

banyak dari gejala-gejala sosial pada masyarakat Jerowaru yang bisa di




                                      49
  identifikasi, namun gejala sosial yang masih menjadi penomena sosial pada

  masyarakat Jerowaru adalah masalah kawin cerai yang cukup tinggi, dan hal ini

  sudah merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat sampai saat ini

  yang secara tidak sadar akan berpengaruh terhadap anak keturnannya. Dampak

  yang cukup dirasakan dalam hal ini adalah banyaknya anak dari hasil broken

  home yang kawin pada usia dini.

B. Sejarah Singkat Penduduk Awal Desa Jerowaru

         Bale Belek yang ada di Jerowaru Daye (utara) menurut Takepan yang

  ada di Bale Belek merupakan rumah yang dihuni pertama kali di desa Jerowaru.

  Pembuatannya menurut takepan yang selalu dibaca setiap tahun tersebut dibuat

  pada abad ke- XIII yaitu kurang lebih pada tahun 1257 yang lalu, atau sekitar

  753 tahun silam. Pembuatan Bale Belek ini menurut Babad tersebut

  menunjukkan bahwa pembuatannya berlangsung satu hari saja yang dimulai

  dari jam enam pagi dan berahir pada jam enam sore hari yang bersamaan juga

  dengan dibangunnya Bale Belek yang ada di Senyiur. Pemimpin pembuatan

  Bale Belek ini adalah Datu Dewe Maspanji atau yang dikenal juga dengan

  nama Dewe Maspanji Raeng Jagat Manujae Lemper Subur Makmur Datu

  Tunggal Lek Dunie ie Sak Laek ie Sak nani ie Sak Lemak. Kedatangan Datu

  Dewe Mas Panji dengan rombongannya berasal dari arah selatan Jerowaru

  tepatnya di pantai Serewe, Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru sekarang.

  Sesampainya di painggir pantai, Raden Mas Panji istirahat bersama

  pengikutnya sebelum melanjutkan perjalanannya. Sebelum berangkat terlebih

  dahulu Datu Maspanji melepas dua busur panahnya sebagai petunjuk tempat




                                      50
mereka akan membangun tempat tinggal, kedua anak panahnya kemudian jatuh

pada tempat yang tidak terlalu jauh, yang satunya jatuh di Jerowaru dan yang

satunya lagi jatuh di Senyiur. Arah dan tempat jatuhnya busur panah inilah

yang nantinya akan dijadikan patokan untuk membuat tempat tinggal.

Sedangkan mengenai jumlah orang yang menyertai Datu Maspanji tdak

diketahui secara pasti, namun secara logika jika benar karena dari buku sumber

ini banyak sekali hal-hal yang tidak masuk akal, seperti bisa memanah dari

Serewe sampai Jerowaru bahkan sampai Senyiur, namun kita abaikan hal itu

dulu, maka bisa dikatakan jumlah pengikutnya banyak sekali sekaligus dengan

ahli pertukangan yang cukup berpengalaman sehingga pembangunannya bisa

diselesaikan dalam satu hari (wawancara Marjun, kamis 8 juli 2010).

       Lebih lanjut dari kisah Datu Dewe Maspanji ini tidak terlalu jauh

diketahui karena menurut babadnya kemudian dia menghilang. Selanjutnya

yang menghuni Bale Belek setelah penghuninya tidak ada lagi adalah Pe Belek,

sedangkan yang di Senyiur dihuni oleh kakak dari Pe Belek, yang mana kedua-

duanya berasal dari Islam Pena.

       Sebelum membahas lebih lanjut Pe Belek dan Pe Balak terlebih dahulu

akan dibahas mengenai kerajaan Pena yang merupakan asal usul Pe Belek dan

Pe Balak.

       Sebuah fakta sejarah di daerah tandus Lombok Timur bagian selatan

berdiri sebuah kerajaan yaitu kerajaan Pena. Kerajaan tersebut awalnya

berpusat di bukit Pena, desa Batu Nampar Jerowaru. Penyebaran agama Islam




                                    51
dan perpaduannya dengan adat istiadat di daerah kering itu tidak terlepas dari

peranan kerajaan kecil tersebut.

          Lebih lanjut Mastam dalam karangannya yang berjudul “ Peranan

Kalangan Istana dalam Perjuangan Adat Agama di Lombok Timur “

mengatakan bahwa secara konkrit Pena lebih tepat di sebut sebagai keulamaan

dari pada sebagai kerajaan Islam. Bahkan para budayawan lebih suka

menyebutnya sebagai basis penyebaran agama Islam dari pada pusat politik.

Hal tersebut didukung dengan peninggalan yang berupa situs Pena yang di

dalamnya tidak terdapat benda-benda yang menunjukkan bekas bangunan

istana.

          Pena seperti yang dikatakan Mastam diperintah oleh seorang Pemban (

raja kecil, datu ) yang sekaligus menjadi ulama agama Islam. Datu yang

terkenal adalah Raden Suryajaya Supeno. Dia digantikan oleh pangeran

Mimjimak yang bergelar Pemban Tanggal Peras atau Baru Tanggan. Berbeda

dengan Selaparang “ seri kedua “ Pena tidak banyak mendapat perhatian secara

langsung dari para ulama di tanah Jawa.

          Maka kalangan bangsawan banyak yang berguru ke Jawa untuk belajar

pada para wali. Mereka mempelajari cara menyebarkan agama Islam yang

disesuaikan dengan adat Sasak. Maka peradaban masyarakat Lombok bagian

selatan pun lebih bernuansa mengenal budaya leluhur dibandingkan dengan

wilayah timur.

          Misalnya kesesnian wayang, tari-tarian, pakaian dan tata krama. Untuk

kepentingan itu, pangeran Tata Samin atau Sangupati sempat belajar ke Solo




                                      52
dan Demak sebagai pusat penyebaran agama Islam yang berbasis budaya Jawa.

Kemudian dengan pola yang sama Ia menyebarkan agama Islam di sekitar

Sakra. Sebelum akhirnya meninggal dan dimakamkan di Mengkuru, ia mampu

mengembangkan tradisi kesenian Sasak. Konon, ia pun berhasil memberantas

tradisi main judi dan minum tuak masyarakat sekitar.

        Meskipun tak sekaliber Selaparang dan Pejanggik, namun kemajuan

yang dicapai Pena cukup meresahkan pihak musuh. Pena mengalami

kemunduran karena sumber-sumber air di bawah bukit yang dikuasai pasukan

Langko. Ketika itu menantu Banjar Getas telah menjadi penguasa di negeri

dengan gelar Prabu Anom Langko.

        Upaya pengisolasian Pena itu terkenal dengan sebutan Politik Rerepik

Aik. Akibat langsung dari pemblokadean ini adalah kesulitan mendapatkan air

minum     bagi   para   bangsawan   yang   tinggal     di   atas   bukit.   Dalam

perkembangannya, terjadi perpindahan pusat kegiatan dari bukit Pena ke

Wangkek di desa yang sama maupun ke tempat-tempat lain yang

memungkinkan keamanan bagi para bangsawan maupun rakyatnya. Tidak

terkecuali desa Jerowaru sekarang merupakan tujuann isolasi dari akibat

blokade yang dilakukan oleh kerajaan Langko tersebut.

        Pe Belek yang merupakan bangsawan Pena beserta rekan-rekannya

tinggal di sekitar Bale Belek yang sudah ada. Adapun pengikut-pengikutnya

yang lain memisahkan dirinya di tempat khusus yang nantinya dikenal denagn

nama gubuk Tembok. Inilah keturunan asli Jerowaru. Adapun Pe Belek yang

diperkirakan sebagai pemimpin para bangsawan ke desa Jerowaru menurunkan




                                    53
dua orang keturunan yaitu Dewi Ringgit dan Raden Panji. Raden Panji setelah

memiliki keluarga kemudian pindah ke rumah Pelambik sekarang yang

merupakan bagian dari kadus Jerowaru timuk (timur). Adapun peninggalan

yang menjadi bukti adalah adanya Bale Belek di Pelambik, sedangkan Dewi

Ringgit sendiri tetap tinggal di Bale Belek lama di Jerowaru pusat. Sebagai

bukti dari pihak laki-laki maupun perempuan tinggal di mana, sampai saat ini

oleh masyarakat serta buku Takepan di Bale Belek, adanya rambut-rambut

perempuan yang cukup banyak di sana. Sedangkan di Bale Belek Pelambik

ditemukan sebilah keris yang mana menandakan bahwa anak Pe Belek yaitu

Raden Panji yang tinggal di sana.

       Dewi Ringgit yang tinggal di Bale Belek pusat menurunkan empat orang

anak, keempat anaknya tersebut memiliki kepribadian yang berbeda-beda.

Keempat anaknya itu adalah Datuk Masjid, Datuk Labang, Datuk Kebon dan

Datuk Sabo. Lebih jelasnya perbedaan kepribadian dari anak-anak Dewi

Ringgit adalah sebagai berikut, yaitu :

a. Datuk Masjid

           Sematan nama yang diberikan kebiasaan dari apa yang dikerjakan

    setiap hari dan menjadi kepribadian orang yang memiliki nama tersebut.

    Menurut keterangan, dia merupakan seorang ahli ibadah, bahkan lebih

    banyak menghabiskan hidupnya untuk beribadah di Masjid. Sampai-

    sampai hanya pulang ke rumahnya sekedar untuk makan, kemudian pergi

    lagi untuk beribadah ke Masjid.




                                      54
         Keturunan dari Datuk Masjid ini menurut Sineraf (kadus Jerowaro

   Daye) dan Marjun (mangku Bale Belek), namun belum diketahui secara

   pasti termasuk keturunannya yang ke berapa. Beliau adalah TGH. Jahye

   yang merupakan bapak dari TGH Mutawalli pendiri pondok pesantren

   Darul Aitam Jerowaru. Sedangkan TGH Mutawalli memiliki an banyak

   putra maupun putri, salah satunya adalah TGH.M. Sibawaihi dan Lalu

   Abdul Mukib serta keluarganya yang lain.

b. Datuk Labang

         Kebiasaan dan kepribadian Datuk Labang sangat berbeda dengan

   kepribadian dan kebiasaan sehari-hari saudaranya yang lain. Aktifitas yang

   sering dilakukannya adalah ikut berperang. Namun tidak diketahui sescara

   pasti dengan siapa dan pihak mana dia berperang. Namun ada

   kemungkinan karena keluarganya pernah bermusuhan dengan kerajaan

   yang berada di utara Pane yaitu kerajaan Langko. Jadi tidak menutup

   kemungkinan untuk membalas atau sekedar untuk membantu keluarganya

   yang masih terisolasi di sekitar kawasan kerajaan Pene. Konon, biasanya

   ketika pulang ke rumahnya selalu berlumuran dengan darah-darah

   musuhnya. Karena tidak ada sumber kapan bangsawan Pene ini sudah

   bebas dari isolasi yang diakibatkan blokade kerajaan Langko maka

   jelasnya dengan siapa dan pihak mana Datuk Labang ini berperang belum

   bisa dibuktikan secara jelas.

         Adapun yang diperkirakan keturunan dari Datuk Labang seperti

   seperti yang dikatakan Mamik Tanom ( keturunan Datuk Labang ) dan




                                   55
   Marjun diantaranya adalah Mamik Keran, Mamik Tanom, dan Mamik

   Sungkal serta saudara-saudara lainnya, yang saat ini tinggal di sekitar

   gubuk Tembok bersama keturunan keluarga bangsawan lainnya.




c. Datuk Kebon

         Kemungkinan besar sematan nama yang diberikan kepada Datuk

   Kebon tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang terjadi dengan Datuk

   Masjid. Jika kegiatan sehari-hari Datuk Masjid selalu beribadah ke masjid,

   sementara itu Datuk Labang disibukkan dengan ikut berperang, Datuk

   Kebon disibukkan oleh kegiatan rutinitas hariannya adalah bertani (

   berkebon). Setiap tanah yang diperkirakan bisa ditanami tanaman

   kebutuhan sehari-hari selalu diusahakan oleh Datuk Kebon untuk

   ditanami. Bahkan bukan hanya berkisar di kawasan desa Jerowaru saja

   melainkan Keruak, Sepit, Mendane, Senyiur ada juga tanah garapannya.

   Menurut Marjun ada juga keturunan dari Datuk Kebon yang sampai saat

   ini tinggal di kawasan yang di sebut di atas.

d. Datuk Sabo

         Dengan gubuk Bawak Sabo yang oleh masyarakat sana diperkirakan

   di tempat tersebut banyak sekali ditanam pohon Sabo oleh tokoh yang

   dikenal sesuai kebiasaaannya ini yaitu menanam Sabo. Meskipun saat ini

   sudah tidak banyak lagi,namun di sekitar gubuk Bawak Sabo bukti

   tersebut masih ada berupa adanya pohon Sabo dan sisa-sisanya.




                                    56
      Uraian sejarah singkat di atas memberikan gambaran mengenai asal

usul para bangsawan ini,khususnya yang berada di Jerowaru bat ( barat )

terutama di gubuk Tembok dan Pelambik. Walaupun di tempat          yang

disebut terakhir terdapat perbedaan dalam implementasi adat-istiadat

nenek moyangnya. Adapun persebaran bangsawan ini ke Pelambik

bertepatan dengan berpindahnya Raden Panji.sebelah satu yang menjadi

permasPedalemalahan sekarang adalah asal usul dari bangsawan yang ada

di gubuk pedaleman ( gubuk Nenek ) (wawancara Sinerap dan Marjun,

sabtu 10 juli 2010).

      Mamik Karniati yang merupakan salah satu dari komunitas

bangsawan yang tinggal di gubuk Nenek mengatakan bahwa sampai saat

ini masih ada hubungan kekerabatan antara bangsawan yang ada di

Jerowaru khususnya di gubuk Nenek dengan bangsawan yang ada di

Gerung, Kediri, Pagutan, dan Kopang masih ada. Begitu juga dengan apa

yang dikatakan Mamik Jamudin (80) bahwa asal usul dari bangsawan yang

ada di gubuk Pedaleman ini bukan berasal dari satu tempat saja melainkan

seperti yang dikatakan mamik Karniati di atas. Dari uraian di atas dapat

diambil dua kemungkinan, yaitu : (1) Bangsawan yang ada di gubuk

Nenek berasal dari berbagai tempat seperti Gerung, Kediri, Pagutan,

Kopang dan lain-lain. (2) Bisa saja walaupun saat ini masih ada hubungan

kekerabatan dengan tempat-tempat yang disebut tadi namun berasal dari

satu tempat kemudian menyebar ke tempat lain. Misalnya asal muasal

pertamanya yaitu dari Kopang kemudian menyebar ke Kediri, Pagutan dan




                               57
   lain-lain maka otomatis walaupun berpisah tempat tinggal namun masih

   memiliki hubungan kekerabatan. Namun yang lebih jelas kesimpulan yang

   pertama akan lebih kuat yang kemungkinan walaupun berasal dari daerah

   yang berbeda namun memiliki tingkatan sosial yang sama pada akhirnya

   membentuk komunitas tersendiri di tempat yang disebut gubuk Pedaleman

   (wawancara Mamik Jamudin dan Mamik Karniati,

C. Stratifikasi Sosial Masyarakat Desa Jerowaru

      Stratifikasi social pada masyarakat desa Jerowaru selain berbentuk

   stratifikasi social terututup ( closed social setratification ) dari sejarahnya,

   sekaligus juga terdapat stratifikasi social terbuka ( open social

   setratificaation ) untuk saat ini, bahkan menurut sebagian besar

   narasumber sudah mulai terasa sejak tahun 1970-1980-an. Stratifikasi

   sosial tertutup pernah mewarnai kehidupan masyarakat desa Jerowaru

   pada saaat masih sangat       dihormatinya status kebangsawanan, dimana

   sangat banyak sekali perbedaan antara golongan masyarakat bangsawan

   dengan golongan biasa baik dalam bidang ekonomi, sosial maupun

   budaya. Dalam bidang ekonomi misalnya sebelum tahun 1970-1980-an

   golongan bangsawan rata-rata memiliki sawah yang cukup luas bila

   dibandingkan dengan masyarakat biasa pada umumnya, dalam bidang

   sosial sudah barang tentu sangat dihormati, bahkan dalam bidang adat-

   istiadat terdapat juga perbedaan yang dapat dikatakan menonjol, semua ini

   kata mantan kepala desa Jerowaru yang pernah menjabat selama lima

   periode, berlaku kurang lebih dari tahun 70-80-an ke bawah. Sementara




                                     58
dari tahun 70-80-an sudah dirasakannya kelonggaran-kelonggaran dalam

adat istiadat bangsawan oleh masyarakat biasa yang mana ditunjukkan

dengan beberapa sebab seperti berkurangnya kepemilikan atas tanah ynag

sangat luas, berkurangnya pendidikan dari golongan bangsawan serta

mulai berkembangnya masyarakat biasa baik dalam bidang pendidikan

maupun ekonomi, dan juga ditandai dengan berkurangnya adat-istiadat

yang dahulunya menjadi aturan yang diharuskan (rit) bagi golongan

bangsawan.

  Golongan bangsawan di desa Jerowaru konsentrasi tempat tinggalnya

berbeda dengan masyarakat biasa pada umumnya. Terdapat dua tempat

yang dikenal sangat memegang teguh adat-istiadat kebangsawanannya

yaitu di gubuk Nenek atau yang biasa dikenal dengan gubuk Pedaleman

dan gubuk Tembok di kadus Jerowaru, sedangkan gubuk Nenek berada di

kadus Jerowaru bat (barat). Selain itu mereka juga bergaul dengan

golongannya untuk sehari-harinya, begitu juga dengan golongan

masyarakat biasa yang seolah-olah terdapat sekat yang memisahkan antara

golongan bangsawan dengan golongan masyarakat biasa dan sampai saat

ini adanya konsentrasi pemisahan tempat tinggal antara golongan

bangsawan dengan golongan masyarakat biasa masih bisa ditunjukkan.

Pada umumnya dapat dilihat dari masih berkumpulnya tempat tinggal

golongan bangsawan di satu tempat meskipun untuk saat ini gubuk yang

ditempati    golongan   bangsawan   dan   dahulunya   hanya   ditempati

golongannya saja sudah ada masyarakat biasa. Secara sederhana dapat




                               59
dikatakan bahwa selama tahun 70-an adanya stratifikasi sosial tertutup ini

benar-benar dirasakan (wawancara Lalu Abdul Hamid, kamis 15 juli

2010).

    Dari keenam kadus yang terdaftar secara administratif dan tiga kadus

perwakilan, dimana konsentrasi tempat tinggal golongan bangsawan ini

yaitu di kadus Jerowaru timuk (timur), Jerowaru bat (barat) dan kadus

Jerowaru daye (utara). Sementara di kadus-kadus lain hanya segelintiran

orang saja. Misalnya saja di kadus Jerowaru Bat. Dari 1047 warganya

yang terbagi menjadi enam RT yaitu RT gubuk Tengak, RT gubuk Nenek,

RT gubuk Gora, RT gubuk Sekilat dan RT gubuk Tutuk. Konsentrasi

tempat tinggal keluarga bangsawan sampai saat ini yaitu di RT gubuk

Nenek atau biasa disebut dengan istilah Pedaleman. Adapun bangsawan di

kadus Jerowaru Bat adalah 61 orang, dengan perincian seperti tertera pada

table di bawah ini.

    Tabel 4.3 Nama-nama penduduk bangsawan kadus Jerowaru Bat.

No Nama Lengkap                      Umur              Status

1     Lalu Rasdin                    25 tahun          Belum kawin

2     Bq. Serah                      20 tahun          Sudah kawin

3     H. L. Lukmanul Hakim           58 tahun          Sudah kawin

4     Mamik Sumiati                  56 tahun          Sudah kawin

5     Lalu Muhlis                    22 tahun          Sudah kawin

6     Mamik Abdul Munir              31 tahun          Sudah kawin

7     Mamik Raehanun                 49 tahun          Sudah kawin




                                60
8    Lalu Mashur                    21 tahun   Belum kawin

9    Lalu Zakaria                   29 tahun   Sudah kawin

10   Baiq Ayuni                     38 tahun   Sudah kawin

11   Baiq Rahmawati                 23 tahun   Sudah kawin

12   L. Wire Bakti                  18 tahun   Sudah kawin

13   Mamik Aluh Harida              43 tahun   Sudah kawin

14   Baiq Aluh Harida               24 tahun   Belum kawin

15   Mamik Ida                      41 tahun   Sudah kawin

16   Baiq Masni                     31 tahun   Sudah kawin

17   Baiq Mundre                    31 tahun   Sudah kawin

18   Mamik Muhur                    74 tahun   Sudah kawin

19   Baik Lamijah                   33 tahun   Sudah kawin

20   Lalu Agus Satriadi             24 tahun   Sudah kawin

21   Lalu Zulkarnain                26 tahun   Sudah kawin

22   Lalu Satrah                    57 tahun   Sudah kawin

23   Lalu Agus Satriawan            24 tahun   Belum kawin

24   Baiq Rusniati                  33 tahun   Sudah kawin

25   Mamik Mahrap                   71 tahun   Sudah kawin

26   Lalu Maswan                    35 tahun   Sudah kawin

27   Bq. Mulyana Darma Yanti        26 tahun   Belum kawin

28   Lalu Sahirudin                 23 tahun   Belum kawin

29   Bq. Helisnaeni                 30 tahun   Belum kawin




                               61
30   Lalu Khaerul Furqan         18 tahun   Sudah kawin

31   Lalu Ishak                  45 tahun   Belum kawin

32   Baik Asporiah               33 tahun   Belum kawin

33   Bq. Suara Warti             24 tahun   Belum kawin

34   Baiq Jumakiyah              30 tahun   Sudah kawin

35   Lalu Hasbullah              41 tahun   Sudah kawin

36   Lalu Umar                   50 tahun   Sudah kawin

37   Baiq Hadijah                45 tahun   Sudah kawin

38   L. Juliadi Satriawan        31 tahun   Sudah kawin

39   Bq. Mustika Riani           30 tahun   Sudah kawin

40   Baiq Asriani                33 tahun   Sudah kawin

41   Baiq Is Pujaiah             29 tahun   Sudah kawin

42   Baiq Zurijah                31 tahun   Sudah kawin

43   Lalu Burhanudin             20 tahun   Belum kawin

44   Lalu Zul Pahri              31 tahun   Sudah kawin

45   Baik Zakiyah                24 tahun   Sudah kawin

46   Baiq Rini                   18 tahun   Belum kawin

47   Lalu Jaelani                25 tahun   Sudah Kawin

48   Lalu Abd. Hanan             45 tahun   Sudah kawin

49   Bq. Ainul Mariana           22 tahun   Belum kawin

50   Lalu Mustafa Kamal          20 tahun   Belum kawin

51   Baiq Saodah                 49 tahun   Sudah kawin




                            62
52     Lalu Dodik                     19 tahun         Belum kwin

53     Lalu Purnama Haji              19 tahun         Belum kawin

54     Lalu Darman Huri               30 tahun         Sudah kawin

55     Lalu Darwisah                  46 tahun         Sudah kawin

56     Bq. Nurwati                    19 tahun         Belum kawin

57     Mamik Sumaini                  72 tahun         Sudah kawin

58     Mamik Jamudin                  80 tahun         Sudah kawin

59     Baiq Jaminah                   18 tahun         Belum kawin

60     Mamik Jamirah                  23 tahun         Sudah kawin

61     Lalu Agus                      20 tahun         Sudah kawin

(Sumber: Salinan daftar pemilih tetap pemilihan umum kabupaten Lomb-
        timur tahun 2009.)

     Lebih khusus lagi dari keenam puluh satu warga di kadus Jerowaru Bat

(barat) yang tergolong bangsawan ini 80%nya tinggal di RT gubuk Nenek.

Dari 101 jumlah warga di gubuk Nenek terdapat 48 warga yang tergolong

bangsawan. Jadi dari 61 warga bangsawan di kadus Jerowaru bat (barat)

terdapat 43 warga berada di gubuk Pedaleman, hingga jelas dari data yang

ada menunjukkan pernah adanya konsentrasi bangsawan. Untuk lebih

jelasnya nama warga yang tergolong bangsawan dan tinggal di gubuk

Nenek dapat dilihat dari table di bawah ini.

     Tabel 4. 4 Nama penduduk bangsawan Jerowaru bat gubuk Nenek.

No Nama Lengkap                       Umur              Status

1      Lalu Zakaria                   29 tahun          Sudah kawin




                                 63
2    Bq. Ayuni                      38 tahun   Sudah kawin

3    Bq. Rahmawati                  23 tahun   Belum kawin

4    Lalu Wire Bakti                18 tahun   Belum kawin

5    Mamik Aluh Harida              43 tahun   Sudah kawib

6    Mamik Ida                      41 tahun   Sudah kawin

7    Baiq Masni                     33 tahun   Sudah kawin

8    Baiq Mundre                    31 tahun   Sudah kawin

9    Mamik Muhur                    74 tahun   Sudah kawin

10   Baiq Lamijah                   33 tahun   Sudah kawin

11   Lalu Agus Satriadi             24 tahun   Sudah kawin

12   Mamik Rustam                   66 tahun   Sudah kawin

13   Lalu Zulkarnaen                26 tahun   Sudah kawin

14   Lalu Satrah                    57 tahun   Sudah kawin

15   Lalu Agus Satriawan            24 tahun   Sudah kawin

16   Bq. Rusniati                   33 tahun   Belum kawin

17   Mamik Mahrap                   71 tahun   Sudah kawin

18   Lalu Maswan                    35 tahun   Sudah kawin

19   Bq. Mulyana Darma Yanti        26 tahun   Sudah kawin

20   Lalu Sahirudin                 23 tahun   Belum kawin

21   Bq. Hajjah Karniati            55 tahun   Sudah kawin

22   Bq. Helis Naeni                30 tahun   Belum kawin

23   Lalu Kaherul Furqon            18 tahun   Belum kawin




                               64
24   Lalu Ishak                    45 tahun   Sudah kawin

25   Baiq Asporiah                 33 tahun   Belum kawin

26   Bq. Suara Warti               24 tahun   Belum kawin

27   Baiq Jumakyah                 30 tahun   Belum kawin

28   Lalu Sahabullah               41 tahun   Sudah kawin

29   H. L. Umar                    51 tahun   Sudah kawin

30   Bq. Hadijah                   45 tahun   Sudah kawin

31   Lalu Juliadi Sariyawan        31 tahun   Sudah kawin

32   Baiq Mustika Yani             30 tahun   Sudah kawin

33   Baiq Asriani                  31 tahun   Sudah kawin

34   Bq. Is Pujaiah                29 tahun   Sudah kawin

35   Baiq Zarijah                  31 tahun   Sudah kawin

36   H. L. Karniati                59 tahun   Sudah kawin

37   Lalu Burhanudin               20 tahun   Belum kawin

38   Lalu Dodik                    20 tahun   Belum kawin

39   Baik Haeruni                  32 tahun   Sudah kawin

40   Lalu Purnama Hajji            21 tahun   Sudah kawin

41   Lalu Zul Fahri                31 tahun   Sudah kawin

42   Baiq Zakiyah                  24 tahun   Sudah kawin

43   Baiq Rini                     18 tahun   Belum kawin

44   Lalu Jaelani                  25 tahun   Belum kawin

45   Lalu Abdul Hanan              45 tahun   Sudah kawin

46   Baiq Ainul Mariana            22 tahun   Belum kawin




                              65
47     Lalu Mustofa Kamal            20 tahun           Belum kawin

48     Baiq Saodah                   49 tahun           Sudah kawin

(Sumber: Salinan daftar pemilih tatap pemilihan umum kabupaten Lombok
        timur tahun 2009)

     Nama-nama di atas menunjukkan hal yang cukup jelas, sesuai dengan

apa yang dkatakan Mamik Karniati bahwa sebelum tahun 80-an di gubuk

Nenek ini hanya dihuni oleh golongan bangsawan saja, meskipun untuk

saat ini sudah pula ditempati oleh golongan masyarakat biasa.

     Selain konsentrasi bangsawan di RT gubuk Nenek, terdapat juga di

kadus Jerowaru daye (utara) tepatnya di RT gubuk Tembok, yang mana

sebelum tahun 70-an seperti dikatakan Sineref dan Mamik Karniati tempat

ini dahulunya dikelilingi tembok sebagai pemisah tempat tinggal antara

golongan bangsawan dengan golongan jajar karang. Namun saat ini yang

tinggal hanya puing-puingnya saja karena sudah dimasuki juga oleh

masyarakat biasa. Sedangkan di kadus Jerowaru timuk (timur) konsentrasi

bangsawan terdapat di Pelambik.

     Kadus Jerowaru daye dengan jumlah warga 909 orang dengan 96 orang

termasuk bangsawan yang tersebar di 12 gubuk (RT) yaitu Bale Belek,

Gubuk Lando, Gubuk Bawak Sabo, Tete Batu, Gubuk Ponpes, Panseng,

Otak Dese, Heler, Gubuk Tembok, Karang Temu, Gubuk Nunang, dan

gubuk Jerowaru daye sendiri. Dibandingkan dengan kadus Jerowaru bat

persebaran bangsawan umtuk saat inidi kadus Jerowaru Daye sudah mulai

merata, meskipun di Gubuk Tembok setidaknya masih tersisa kalau tempat

tersebut pernah dijadikan konsentrasi tempat tinggal bagi golongan



                                66
bangsawan. Karena dari semua gubuk yang ada di kadus Jerowaru Bat

persebarannya yang paling banyak sampai saat ini adalah di gubuk

Tembok, yaitu 33 orang dari jumlah bangsawan yang ada.

     Tabel 4. 5 Nama-nama penduduk bangsawan gubuk Nenek.

No Nama Lengkap                      Umur           Status

1      Mamik Herianto                42 tahun       Sudah kawin

2      Baiq Darmini                  41 tahun       Sudah kawin

3      Lalu haji muh. Satrah         61 tahun       Sudah kawin

4      H. L. Wiredarme               51 tahun       Sudah kawin

5      Bq. Roni harmawati            21 tahun       Belum kawin

6      Baiq Wasiah                   44 tahun       Sudah kawin

7      Mamik Elmiwati                41 tahun       Sudah kawin

8      Bq. Elniwati                  20 tahun       Belum kawin

9      H. L. Ahmad Amin              63 tahun       Sudah kawin

10     Lalu Samsul Bahri             25 tahun       Sudah kawin

11     Bq. Wiradatul Hidayani        23 tahun       Sudah kawin

12     Lalu Makbul                   22 tahun       Sudah kawin

13     Lalu Herman                   28 tahun       Belum kawin

14     Baiq Etik Fitriani            21 tahun       Belum kawin

15     Lalu Abdul Hamid S.Pd         37 tahun       Sudah kawin

16     Lalu Kusuma Utama             24 tahun       Sudah kawin

17     Lalu Kamarudin                31 tahun       Sudah kawin




                                67
18     Mamik Seruni                 50 tahun        Sudah kawin

19     Lalu Zaenal Abidin           47 tahun        Sudah kawin

20     Lalu Ratnawe                 73 tahun        Sudah kawin

21     Lalu Junaidi                 40 tahun        Sudah kawin

22     Mamik Sofyan                 44 tahun        Sudah kawin

23     Lalu Masrun                  42 tahun        Sudah kawin

24     Lalu Haeruman                46 tahun        Sudah kawin

25     Bq. Hajjah Wisnu             47 tahun        Sudah kawin

26     Lalu Harmaen                 44 tahun        Sudah kawin

27     Baiq Rukmini                 40 tahun        Sudah kawin

28     Baiq Masirah                 45 tahun        Sudah kawin

29     Lalu Indi Sekar              29 tahun        Sudah kawin

30     Mamik Sekar                  64 tahun        Sudah kawin

31     Mamik Suartum                60 tahun        Sudah kawin

32     Mamik Husna                  53 tahun        Sudah kawin

33     Mamik Sukirman               56 tahun        Sudah kawin

(Sumber. Salinan daftar pemilih tetap pemilihan umum kabupaten Lombok
        timur tahun 2009)

     Sedangkan di kadus Jerowaru Timuk dari 1065 warganya terdapat 71

masyarakatnya yang termasuk bangsawan sekaligus juga Bape dan

persebarannya cukup merata di setiap gubuk, karena di kadus Pelambik

tidak ada konsentrasi khusus tempat tinggal para bangsawan. Jadi dari

keenam kadus difinitif dan tiga kadus perwakilan di desa Jerowaru

terdapat tiga kadus yang menjadi konsentrasi tempat tinggal para



                               68
bangsawan meskipun di kadus-kadus yang lain juga ada, namun

jumlahnya sangat minim. Misalnya di kadus Montong Wasi dengan

jumlah warganya yang begitu banyak, hanya empat orang yang termasuk

golongan bangsawan, begitu juga dengan empat kadus lainnya (Sumber:

Monografi desa Jerowaru tahun 2009/ 2010).

  Ketika kita berbicara mengenai setratifikasi sosial maka sudah barang

tentu terdapat beberapa hal yang membedakan dengan golongan yang lain

baik di atas golongannya maupun setrata yang berada di bawah

golongannya. Di bawah ini akan kita bahas apa saja yang membedakan

antara golongan bangsawan dengan masyarakat biasa, khususnya sebelum

tahun 70-an dalam kehidupan bermasyarakat.

  1. Kekayaan dan ekonomi

      Mamik Mahrap mengatakan bahwa sebelum tahun 60 ke bawah

      rata-rata golongan bangsawan memiliki sawah yang cukup luas

      sebagai sumber mata pencaharian, sedangkan sebagai buruhnya

      adalah masyarakat biasa. Meskipun seperti yang dikatakan Mamik

      Samsumi (60) pada sebelum tahun 70-an hanya dikenal satu kali

      panen dalam satu tahun. Namun setidaknya mereka lebih banyak

      memiliki hasil tanaman untuk dijual maupun untuk keperluan hidup

      sehari-hari bila dibandingkan dengan sebagian dari masyarakat

      biasa yang hanya sebagai buruh atau hanya memiliki sawah yang

      sedikit. Bisa dikatakan seperti apa yang diinformasikan Mamik

      Karniati bahwa para bangsawan ini hanya bekerja menjadi buruh di




                              69
sawahnya sendiri. Sinerep (51) yang saat ini menjabat sebagai kadus

Jerowaru daye (utara) mengatakan ketika masih muda dan memiliki

teman yang cukup banyak dari keturunan bangsawan (Lalu) rata-

rata tidak ada yang mengambil upah di sawah orang lain seperti

kebiasaan yang dilakukan anak masyarakat biasa yang kebanyakan

sebagai buruh di sawah orang lain.

Terdapat beberapa faktor penyebab rata-rata para bangsawan di desa

Jerowaru memiliki tanah atau sawah yang cukup luas yaitu :

a. Mengambil tanah milik orang lain

   Seperti yang dikatakan Mamik Sekar (62) jika ada orang yang

   memiliki tanah atau sawah namun tidak pernah dikerjakan,

   ditanami ataupun diolah dan hanya sekedar di tanda bahwa atas

   namanya yang memiliki tanah tersebut, maka biasanya tanah

   yang seperti ini sering diambil orang lain terutama dalam hal ini

   golongan bangsawan yang sering melakukannya (wawancara

   Mamik Sekar, selasa 20 juli 2010).

b. Keuletan dan Ketekunan

   Lalu Satrah (57) mengatakan bahwa walaupun rata-rata para

   bangsawan memiliki tanah yang cukup luas, namun jika terdapat

   tanah yang tidak ada pemiliknya walaupun masih berupa hutan

   biasanya dijadikan sebagai sawah atau rau. Hal ini sekaligus

   juga banyak dilakukan masyarakat biasa (wawancara Lalu

   Satrah, selasa 20 juli 2010).




                          70
c. Sosial Kemasyarakatan

   Golongan bangsawan kata Lalu Abdul Hamid (45) kadus

   Jerowaru bat (barat) ketika ada acara Roah,Begawe maupun

   Zikiran dalam jamuan makannya selain tempatnya duduk

   dibedakan, makanannya juga berbeda. Bagi para bangsawan

   biasanya diberikan pesajik (makanan) yang lebih banyak dan

   berbeda dari masyarakat biasa, dan biasanya menggunakan

   taplak yang lebih bagus. Selain yang disebutkan di atas dalam

   pergaulan sehari-hari ketika masyarakat biasa bertemu dengan

   Mamik-Mamik di jalan, biasanya dilakukan penghormatan

   dengan cara sedikit menundukkan kepala sekaligus dengan

   mngucapkan kata nurge sekaligus dengan menggunakan bahasa

   halus sebisanya. Selain yang sifatnya umum seperti Besiru

   (nyiru), gotong royong dan sebagainya. Adapun seperti yang

   sudah dijelaskan di atas, karena konsentrasi tempat tinggal dari

   para bangsawan ini otomatis juga lebih banyak bergaul dengan

   sesama bangsawannya. Adapun bentuk sosial kemasyarakatan

   bersama    yang    sering    dilakukan   bersama-sama   dengan

   masyarakat secara umum adalah upacara Selamet Dese yang

   dilakukan setiap tahun sekali bahkan sampai saat ini dengan

   memotong seekor Sapi atau Kerbau kemudian diadakan Roah

   atau Zikiran di Bale Belek (wawancara Lalu Abdul Hamid,

   selasa 20 juli 2010).




                           71
2. Adat Istiadat

       Adat istiadat merupakan cermin dari lokal genius yang

   dikembangkan oleh masyarakat secara turun- temurun, walaupun

   akan selalu terdapat modifikasi sesuai dengan perkembangan

   zaman. Masyarakat Desa Jerowaru yang dalam setratifikasi

   sosialnya terdapat dua golongan yang berbeda, dimana masing-

   masing dari golonganya mengikuti adat- istiadat yang berlaku sesuai

   dengan adat-istiadat yang ditinggalkan oleh nenek moyangnya,

   meskipun terdapat banyak kesamaan walaupun dari golongan

   setratifikasi sosial yang berbeda, hal ini selain disebabkan kesamaan

   tempat tinggal secara geografis maupun persamaan- persamaan

   yang lain seperti agama, pola pikir dan lain sebagainya.

       Dalam hal adat- istiadat di Desa Jerowaru karena terdapat dua

   golongan sosial yang berbeda, maka terdapat perbedaan- perbedaan

   yang dapat kita identifikasi, namun hal ini akan dijelaskan pada

   bagian sistem kekerabatan, karena akan menyangkut peraturan yang

   dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari oleh masing-masing

   golongan dan ditularkan secara kekerabatan sesuai dengan

   golongannya. Adapun contoh kecil dari adanya perbedaan tersebut

   dapat dilihat pada saat menggunakan pakaian adat, dalam hal ini

   sesuai dengan adat bangsawan, para bangsawan harus menggunakan

   Leang (Sabuk Tamper) yang lebih panjang dari pada Leang

   masyarakat biasa dan hal ini ukurannya sudah dibuatkan sama, yang




                             72
ukurannya harus di bawah lutut. Selebihnya perbedaan-perbedaan

adat-istiadat di desa Jerowaru secara panjang lebar akan dibahas

pada bagian sistem kekerabatan.

   Lebih jelas jika diklasifikasikan sesuai dengan setrata sosialnya,

maka di desa Jerowaru terdapat tingkatan-tingkatan setrata sosial

yaitu sebagai berikut :

   1. Golongan Bangsawan (Mamik)

       Posisis setrata sosial Mamik ini berada di atas golongan

       Bape maupun masyarakat biasa yang dahulunya dikenal

       dengan nama Jajar Karang. Di mana di desa Jerowaru sesuai

       dengan setrata sosialnya merupakan golongan yang paling

       tinggi sebab tidak ada Raden atau golongan yang lebih

       tinggi lainnya yang tinggal di sana. Seperti dikatakan di atas

       bahwa bahwa dari segi ekonomi,sosial maupun adat-istiadat

       terdapat perbedaan dengan golongan yang ada di bawahnya.

   2. Golongan bangsawan (Bape)

       Bape merupakan golongan tersendiri di desa Jerowaru,

       kedudukan setrata sosialnya berada satu tingkat di bawah

       Mamik dan satu tingkat di atas Amak, namun jelas golongan

       Bape ini termasuk golongan bangsawan, namun posisisnya

       di bawah Mamik. Secara pasti belum bisa diidentifikasi

       perbedaan yang jelas antara mamik dan Bape ini. Pada

       masyarakat biasa




                          73
                    juga mengenal namanya Bape, namun hal ini merupakan

                    sebutan bagi adaik dari ayah orang yang memanggil

                    tersebut. Namun yang jelas seperti yang dikatakan Lalu

                    Abdul Hamid dan Mamik Karniati bahwa golongan Bape ini

                    anaknya bergelar Lalu, namun jika sudah memilki anak akan

                    bergelar seperti orang tuanya yaitu Bape lagi, sesuai dengan

                    gelar kebangsawanan orang tuanya.

                 3. Masyarakat Biasa (jajar karang) (wawancara Lalu Abdul

                    Hamid dan Mamik Karniati, selasa 3 agustus 2010).


D. Sistem Kekerabatan Masayarakat Bangsawn Desa Jerowaru

         Suatu kelompok seperti yang dikatakan Koentjaraningrat adalah

  kesatuan individu yang diikat oleh sekurang-kurangnya 6 unsur, salah satunya

  yaitu adanya system norma-norma yang mengatur tingkah laku warga

  kelompok. Jadi dalam system kekerabatan bukan hanya kita tahu adanya

  hubungan kekerabatan dalam kelompok tersebut, tetapi menyangkut juga

  norma-norma ataupun adat-istiadat yang mengatur dalam kehidupan sosialnya.

  Baik itu dalam keluarga inti, keluarga luas, klen kecil maupun klen besar.

         Ketika membahas mengenai system kekerabatan ini maka yang akan

  menjadi pembahasan kita sangat luas sekali, namun disini karena berkaitan

  dengan sejarah system kekerabatan pada masyarakat bangsawan Jerowaru

  maka yang akan menjadi bahasan adalah bagaimana system kekerabatan

  masyarakat bangsawan Jerowaru sebelum tahun 1970 -1975-an, termasuk




                                       74
system perkawinan, adat-istiadat atau norma-norma, bahasa yang digunakan

dan lain-lai, memungkinkan untuk dikaji lebih dalam.




a. System Perkawinan

         Setiap kelompok masyarakat yang berbeda baik di bedakan oleh jarak

    geografis, golongan, maupun agama memiliki system perkawinan, adat-

    istiadat maupun bahasa yang berbeda. Contoh kecil pada masyarakat

    Jerowaru yang walaupun secara spasial tempat tinggalnya bersamaan,

    namun karena memiliki golongan sosial yang berbeda maka terdapat juga

    perbedaan dari beberapa aspek yang disebut tadi, meskipun pesamaan itu

    tidak bisa di hilangkan.

    1.       Pasangan Ideal Menurut Sistem Kekerabatan Pada Golongan

      Bangsawan Desa Jerowaru.

           Sudah menjadi ciri umum bahwa keluarga dekat termasuk misan

      maupun sepupu sangat dianjurkan untuk menjadi pasangan hidup bagi

      anak-anaknya, yang bukan hanya di Jerowaru namun juga di tempat lain

      kadang-kadang banyak yang mengidealkan pasangan anak-anaknya

      adalah kerabat dekat. Bangsawan jerowaru dalam hal mencari pasangan

      hidup (suami/ istri) bagi anak-anaknya terutama yang perempuan sering

      menjadi bagian dari interfensi dari orang tuanya, tidak seperti anak laki-

      laiki yang boleh menentukan pasangannya sendiri secara bebas.




                                     75
   Terkait dengan hal diatas Mamik Sekar dan Mamik Karniati

mengatakan bahwa bagi anak-anak perempuan sebelum tahun 1970 -

1975-an kalaupun tidak kawin dengan keluarga dekatnya, paling tidak

mereka harus menikah dengan laki-laki yang golongannya sederajat,

yang dalam hal ini tentu adalah anak dari bangsawan juga (wawancara

Mamik Sekar Dan Mamik Karniati, rabu 11 agustus 2010).

   Apabila hal tersebut tidak di indahkan dan anak perempuan tersebut

kawain dengan cara dilarikan oleh anak dari masyarakat biasa maka anak

tersebut hususnya di Gubuk Tembok dan Gubuk Nenek dilakukan

pembuangan (beteteh) oleh keluarganya. Bahkan walaupun yang

mengambil anaknya tersebut berasal dari golongan bangsawan namun

tempat tinggalnya jauh dari Jerowaru dan keluarga dari pihak perempuan

akan mencari tahu tentang kebenaran golongan sosialnya sebelum

nantinya diberikan izin untuk dinikahkan.

   Husus bagi bangsawan di Jerowaru ketika membawa pulang seorang

perempua ke ruamah calon pengantin laki-laki, yang pertama ada yang

disebut melaian dan yang kedua dengan cara ngelamar. Tradisi melaian

bukan hanya pada golongan bngsawan akan tetapi merupakan budaya

umum masyarakat lintas golongan. Sedangkan dengan cara melamar

(ngelamar) biasanya dilakukan oleh golongan bangsawan.

   Melaian dalam adat sasak bukan kerena orang tua gadis tersebut

tidak setuju, melainkan merupakan suatu cara yang oleh sebagian

masyarakat dipandang paling ideal, karena ada anggapan bahwa jika




                              76
anaknya diambil dengan cara diminta sering dianggap suatu penghinaan

dan diibaratkan seperti meminta barang dagangan saja. Namun anggapan

itu tidak semuanya benar di setiap masyarakat, di desa Jerowaru

misalnya tradisi melaian ini selain merupakan adat tersendiri buakan

berarti jika diminta dengan baik-baik ada anggapan yang negatif,

melainkan adanya kebiasaan pendukung yang melegalkan melaian ini.

Jelasnya di desa Jerowaru teradisi melaian adalah merupakan tradisi

bersama baik pada golongan bangsawan maupun masyarakat biasa.

Husus bagi anak bangsawan melaian dilakukan kadang-kadang atas

dasar ketidak setujuan orang tua si gadis dan biasanya disinilah terjadi

apa yang disebut beteteh, lain halnya jika dengan menggunakan tradisi

melaian namun laki-lakinya dari golongan bangsawan tidak akan

menjadi suatu masalah (wawancara Mamik Karniati, rabu 11 agustus

2010).

   Dalam prakteknya terdapat interpensi dari orang tua bangsawan

hususnya bagi anak perempuan terutama dalam hal perkawinan ini,

bahkan sampai terjadi beteteh bagi yang kawin dengan bukan golongan

bangsawan. Namun seperti yang dikatakan Lalu Ratnawe (73) pada

umumnya anak gadis pada saat itu sangat patuh dan taat pada perintah

orang tuanya, apalagi menyangkut pasangan hidup yang begitu penting

sehingga seorang gadis harus mengikuti sistem adat yang sesuai dengan

tingkatan sosial orang tuanya. Sehingga ada kesadaran tersendiri dalam

menentukan pasangan hidup, daripada nantinya selain dikeluarkan dari




                              77
     keluarga sekaligus dianggap melanggar aturan dalam adat-istiadat, dan

     otomatis sedikit tidak ada perasaan durhaka pada orang tuanya, sehingga

     seperti yang dikatakan Mamik Karniati mereka pada umumnya sangat

     patuh dan menaati kepurusan orang tuanya. Tidak sama halnya dengan

     dengan anak laki-laki yang diperbolehkan menentukan istrinya dari

     kalangan manapun (wawancara Lalu Ratnawe, kamis 19 agustus 2010).

        Walaupun di desa Jerowawru dikenal istilah beteteh, namun terdapat

     perbedaan antara istilah beteteh dengan bangsawan di tempat lain yang

     sangat kental adat kebangsawanannya dan membuang sama skali anak

     perempuannya jika kawin dngan bukan sesama bangsawan. Marjun

     mengatakan bahwa walaupun di desa Jerowaru dikenal adanya beteteh

     namun tidak dibuang seumur hidup, artinya jika perempuan tersebut

     sudah bercerai dengan suaminya yang bukan dari golongan bangsawan

     bisa saja diterima dalam keluarganya, walaupun secara tidak langsung.

     Misalnya setelah bercerai ada saja keluarga ibu atau ayahnya yang

     memberikannya tempat tinggal dan dari sinilah sedikit demi sedikit akan

     menjadi bagian dari keluarga asalnya (wawancara Marjun, kamis 8 juli

     2010).

b. Prosesi Adat Dalam Sistem Perkawinan

     Secara garis besar urutan prosesi dalam perkawinan antara golongan

   perwangse dan jajarkarang ini terdapat kesamaan, dan                yang

   membedakannya hanyalah isi dari setiap prosesi yang dilaksanakan.

   Singkatnya dimulai dari pengambilan pengantin perempuan, kemudian




                                  78
dilanjutkan dengan besejati, kemudian nyelabar, disusun kemudian

dengan prosesi bait wali, rebak pucuk, sorong serah dan diakhiri dengan

acara nyongkolan (nyokor). Lebih jelasnya dibawah ini akan diuraikan satu

persatu dari urutan prosesi tersebut yaitu sebagai berikut:

  a. Melaian (mengambil pengantin perempuan)

      Proses pertama yang dilakukan ialah membawa pengantin

      perempuan kerumah keluarga memepelai laki-laki, karena pada

      malam pertama husus bagi perempuan yang satu desa tidak boleh

      dibawa langsung pulang kerumah calon suaminya, kecuali

      perempuan tersbut berasal dari luar desanya.

  b. Besejati

      Dalam prosesi ini pihak laki-laki mengirim utusan kerumah

      pengantin prempuan untuk memeberitahukan kemana dan dengan

      siapa anaknya kawin. Walaupun kadang-kadang dari piha

      perempuan sudah tahu, namun prosesi adat harus dilakukan. Prosesi

      ini dilakukan setelah     dua malam atau paling tidak tiga malam

      sesudah pengantin perempuan tinggal dirumah calon suaminya.

  c. Nyelabar

      Nyelabar adalah prosesi dimana didalamnya dibicarakan mengenai

      biaya yang harus dikeluarkan oleh pihak laki-laki. Dalam prosesi ini

      diwakili oleh tokoh adat, dimana semua keluarga dekat dari pihak

      perempuan hadir untuk memusyawarahkannya. Tidak pada saat




                                 79
   besejati yang hanya pemberitahuannya kepada orang tua pengantin

   perempuannya saja.

d. Bait Wali

   Adapun yang dibahas dalam hal ini setelah diputuskannya jumlah

   biaya yang harus dikeluarkan oleh pihak laki-laki dalam acara

   Nyelabar, prosesi bait wali ini memutuskan penentuan waktu akad

   nikah akan dilaksanakan.

e. Rebak Pucuk

   Dalam prosesi ini dilakukan pemegatan akhir dari biaya yang harus

   dikluarkan oleh pihak laki-laki, karena biasanya secara umum biaya

   yang harus dikeluarkan tidak bisa diputuskan pada saan mengambil

   wali, maka setelah itu dalam acara rebak pucuk ini benar-benar

   diputuskan mengnai biaya yang harus di keluarkan oleh pihak laki-

   laki sebelum di nikahkan.

f. Sorong serah

   Istilah sorong serah ini sesuai juga dengan makna yang terkandung

   ari namanya yaitu merupakan proses pemegatan dari prosesi adat

   yang harus dilakukan. Dimana bisa dikatakan termasuk titik final

   dari prosesi pernikahan. Dalam sorong serah inilah terdapat

   golongan bangsawan dengan masyarakat biasa. Dimana dalam

   prosesi ini ada yang disebut bayah aji (harga) sesuai dengan

   golongan sosialnya. Golongan bangsawan harus membayar aji

   sebanyak enam puluh enam ribu rupaiah, sedangkan masyarakat




                               80
   biasa hanya membayar aji sebanyak empat puluh empat ribu rupiah.

   Selain perbedaan bayah aji diatas pada golongan bangsawan juga

   dikenal dengan adanya bewacan dalam acara sorong serah ole

   golongan bangsawan yang mana hal ini tidak berlaku bagi

   masyarakan biasa pada saat itu.

g. Nyongkolan (nyokor).

   Prosesi paling akhir dari beberapa adat yang harus di selesaikan

   dalam perkawinan adalah acara nyongkolan ini.

   Selain prosesi diatas ada juga prosesi lain yang manaprosesi ini

   biasanya dilakukan oleh golongan bangsawan dan masyarakat dan

   memiliki kekayaan yang cukup banyak yaitu apa yang disebut

   sebagai gantiran. Dimana dalam prosesi ini pihak pengantin

   perempuan diberikan segala kelengkapan untuk keperluan dalam

   begawe dan hal ini dibicarakan dalam acara selabar.    Bedanya

   dengan selabar biasa dalam hal ini adalah tidak ada lagi barang

   yang haus dicari untuk keperluan begawe bagi pihak perempuan

   karena semuanya sudah disediakan oleh pihak pengantin laki-laki.

   Sedangkan kalau selabar biasa hanya menyepakati jumlah uang

   yang harus dikeluarkan tanpa tanpa kelengkapan yang lain seperti

   dalam gantiran. Mamik Karniati mengatakan bahwa gantiran ini

   biasanya dilakukan oleh golongan bangsawan dan masyarakat biasa

   yang kaya (wawancara Sinerap dan Mamik Karniati, 26 agustus

   2010).




                            81
b. Bahasa

            Bahasa   menunjukkan    identitas   sebua   bangsa,   kelompok

   masyarakat maupun tingkat status sosial. Sesuai juga dengan apa yang

   dikatakan Mamik Karniati bahwa bahasa menunjukkan status sosial

   tersendiri pada masyarakat desa Jerowaru sebelum tanun 1970-an. Bahkan

   setiap anak dari golongan bangsawan hususnya di gubuk Pedaleman dan

   gubuk Tembok harus bisa berbahasa halus dan itulah yang diusahakan

   oleh masing-masing orang tua mereka dalam komunikasi sehari-hari.

            Bahasa halus bukan hanya digunakan sebagai bahasa dalam wacan

   saja seperti saat ini, melainkan dijadikan bahasa pergaulan sehari-hari

   sesama bangsawan. Salah satu sebab juga anak bangsawan cepat

   menguasai bahasa halus ini karena lingkungan yang menumbuhkannya

   selalu menggunakan bahasa halus sehingga peroses pembiasaan secara

   tidak sadar mempengaruhi generasi mudanya dalam hal bahasa. Namun

   karena semakin terbukanya dari masyarakat yang bisa dikatakan inklusif

   berubah menjadi eksklusif dan tejadilah kontak sosial yang lebih dominan

   dengan masyarakat biasa sehingga dengan pergaulan tersebut sedikit demi

   sedikit berpengaruh terhadap melemahnya bahasa halus (wawancara

   Mamik Karniati, 26 agustus 2010).

c. Adat-istiadat

         Adat-istiadat yang merupakan norma-norma sosial merupakan

   peraturan hidup sehari-hari yang berlaku secara turun temurun sekaligus

   juga menjadi bagian dari perbedaan status sosial pada masyarakat yang




                                   82
berbeda secara hierarkis dalam masyarakat. Mengenai adat-istiadat ini

sedikit tidak sudak dibahas pada bagian sebelumnya, namun disini akan

dibahas sedikit mengenai adat-istiadat tersebut terutama yang terkait

dengan sistem kekerabatan yang berlaku secara turun- temurun.

      Dalam hal adat-istiadat ini yang akan menjadi kajian dalam bagian

ini terkait dengan dende-denda (denda) dan pergaulan sosial, karena adat-

istiadat lainnya sudah dibahas sebelumnya.adapun dende- dende yang

dimaksud dalam hal ini seperti dende pati, dende ngampasaken, dende gile

bibir, dan dende gile tangan.

      Adapun dende pati seperti yang dikatakan Lalu Abdul Hamid dan

Mamik Karniati terjadi apabila seorang laki-laki memaksa perempuan

dengan unsur paksaan bahkan sampai mencium maupun memegang bag

ian-bagian yang dilarang pada perempuan yang masih gadis. Dalam hal ini

kalau perempuan tidak setuju untuk dinikahkan maka jatuhlah dende pati

tersebut, dengan dende sebanyak empat puluh satu ribu rupiah.

      Sedangkan dende gile bibir dikenakan apabila seorang menyumpah

oarang lain dengan kata-kata kotor maka jatuhlah dende padanya sebanyak

sembilan sampai sepuluh ribu rupiah. Selanjutnya adalah dende gile

tangan, dalam hal ini walaupun tanpa disengaja seorang laki-laki

menyentuh bagian yang dilarang pada perempuan maka didenda sebanyak

dende pada gile bibir. Adapun dende ngampasaken terjadi apabila

pengantin baik laki-laki maupun perempuan sebelum prosesi adat selesai,

atau sorong serah belum dilakukan walapun rumah pengantin laki-laki




                                83
   berdekatan dengan rumah pengantin perempuan maka didenda sebanyak

   sembilan sampai sepuluh ribu rupiah seperti pada denda yang disebutkan

   sebelumnya (wawancara Mamik Karniati dan L. abd. Hamid, rabu 11

   agustus 2010).

        Selain dende-dende yang disebut diatas, saling hormat-menghormati

   antara sesama merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pergaulan

   hidup bersama terutama dengan orang yang lebih tua, baik antara

   bangsawa denga sesama bangsawan maupun dengan masyarakat biasa.

   Misalnya berkata dengan lemah lembut, sopan santun dalam bertutur kata

   dn lain sebagainya. Dalam sopan santun misalnya ketika kita lewat di

   rumah orang maka kita harus bilang tabek walaupun rumahnya cukup jauh

   dari jalan kita lewat tersebut. Begitu juga jika ada orang midang, walaupun

   ada atau tidaknya orang dalam rumah dekat jalan yang dilewati tersebut

   tetap harus mengatakan tabek, kalau tidak maka dikataka endek ketaon

   base (tidak tahu adat) secara langsung.

d. Pembagian Hak Waris

        Pembagian hak waris di desa Jerowaru hususnya pada keluarga

   bangsawan tidak terdapat aturan yang tetap. Merupakan kebisaan umum,

   biasanya dalam pembagian sawah misalnya pembagian sawah biasanya

   hanya diberikan kepada anak laki-laki saja, sementara anak perempuan

   pada umumnya tidak mendapatkan bagian namun hanya diberi hasil panen

   oleh saudara-saudaranya yang laki-laki setelah panen. Namun ada juga




                                   84
   diantara sebagian masyarakat yang memberikan hak waris pada anak

   perempuan setengah dari bagian laki-laki atau bahkan lebih kurang.

        Sedangkan untuk rumah yang ditemapat tinggal orang tuanya

   biasanya menjadi bagian hak waris anak yang paling bungsu. Adapun

   saudaranya yang lain harus membuat rumah sendiri walaupun kadang-

   kadang dengan bantuan orang tuanya juga.

        Barang lain yang biasanya juga menjadi warisan adalah benda-benda

   pusaka milik keluarga, misalnya keris, tombak (jungkat), cincin dan

   lainnya serta benda-benda tersebut dipercayai memiliki kekuatan magis,

   dalam hal pewarisannya juga tidak memiliki peraturan yang tetap dan

   tergantung dari karakter atau kepribadian dari mereka yang nantinya akan

   menjadi pewaris benda-benda pusaka tersebut. Tidak menjadi ukuran baik

   itu anak sulung maupun anak bungsu, yang penting dianggap pantas untuk

   mewarisinya maka dialah yang akan mewarisi benda pusaka tersebut

   (wawancara Mamik Karniati, rabu 11 agustus 2010).

e. Sosial Kemasyarakatan

        Tekait dengan sosial kemasyarakatan ini ada beberapa hal yang perlu

   dibahas yaitu Banjar, Besiru, dan Gotong royong. Untuk lebih jelasnya

   dibahas satu-persatu dari sistem sosial kemasyarakatan.

   1. Banjar/ Bebanjar

      Bebanjar/ banjar ini merupakan perkumpulan kemasyarakatan untuk

      mengumpulkan beberapa jenis keperluan dalam acara begawe (gawe),

      baik itu gawe mate (kematian) maupun gawe idup (perkawinan,




                                   85
   nyunatan, maupun nyelamatan). Banjar ini di Jerowaru banyak

   macamnya dan barang yang dikeluarkan juga berbeda tergantung

   kelompok banjarnya. Karena itu biasanya kelompok banjar dinamakan

   sesuai dengan jenis barang yang dikeluarkan anggotanya. Misalnya

   jika kelompok banjar tersebut mengeluarkan kelapa maka banjarnya

   juga dinamakan banjar nyiur (kelapa). Adapun banjar ini sampai

   sekarang masih menjadi bagian dari sistem sosial masyarakat yang

   kemungkinan akan terus dipetahankan karena dampaknya sangat

   membantu kelompoknya yang sangat membutuhkan.

2. Besiru

   Besiru merupakan salah satu dari kegiatan sosial kemasyarakatan yang

   saat ini sudah tidak ada lagi dan hanya menjadi kenang-kenangan

   dalam memori orang tua yang pernah mengalami kegiatan sosial besiru

   tersebut. Besiru merupakan salah satu cara untuk membantu saudara

   yang lain hususnya dalam pekerjaan sawah, an hal ini secara

   bergantian tergantung orang yang pernah ikut beberja di sawahnya.

   Sebenarnya sistem besiru ini tidak terlalu berbeda praktiknya dengan

   banjar dan gotong royong, hanya saja yang membedakannya adalah

   jika dalam banjar yang terlibat adalah jasa dan barang sedangkan

   dalam besiru hanya tenaga saja.

3. Gotong Royong

   Sebenarnya gotong royong ini tidak terlalu jauh berbeda dengan

   kegiatan sosial diatas. Selain yang sifatnya kolektif seperti dalam acara




                                86
          selamatan dese maupun acara nede ujan di Bale Bele, gotong royong

          yang sampai saat ini berkembang dalam masyarakat adalah dalam

          pembangunan rumah, masjid dan bangunan-bangunan kepentingan

          bersama. Contoh kecil dalam pembuatan rumah, biasanhya setiap

          orang yang tahu dan lewat di tempat orang yang sedang membangun

          tersebut maka dia akan langsung bekerka akan langsung bekerja.

          Bahkan karena begitu banyak orang yang membantunya bekerja

          kadang-kadang rumah tersebut sudah berdiri sampai dua hari. Hanya

          yang menjadi beban bagi pemilik adalah makanan yang harus

          disediakan bagi orang-orang yang bekerja tersebut (wawancara Mmik

          Mahrap, senin 2 agustus 2010).


E. Perubahan Sistem Kekerabatan Bangsawan Desa Jerowaru

         Perubahan selalu akan terjadi di setiap masyarakat sesuai dengan

  perkembangan zaman       dimana dia berada. Memasuki abad ke 20 yang

  dinamakan abad teknologi ini telah mengubah sudut pandang setiap orang yang

  kebanyakan menjadi indivdualis sehingga banyak dari adat-adat nenek moyang

  yang sudah    di kembangkan secara kolektif dalam kelompoknya sebagian

  hanya tingal dalam cerita. Sudah barang tentu juga hal tersebut tidak sesuai

  dengan zaman dan rasionalitas berfikir.


  1. Faktor-Faktor Terjadinya Perubahan


            Perubahan terjadi disebabkan oleh banyak factor yang intinya dapat

    dibagi menyadi dua factor yaitu factor enteren dan exteren. Yang mana




                                       87
keduanya selalu ada dalam setiap perubahan sekaligus setiap perubahan

akan selalu membawa dua dampak yang berbeda yaitu dampak fositip dan

dampak negatif . begitu juga dengan yang terjadi di Desa Jerowaru yang

sebelum 70 an masih megang adat istiadat nenekmoyang khususnya

golongan bangsawan disini sudah berubah secara drastic meskipun sebagian

masih ada namun hal itu jugak tidak lepas dari modipikasi yang sesuai

dengan perkembamgan zaman. Adapun factor yang mempengaruhi perubah

tursebut adalah:


a. Factor ekstern


         Diantara fakor ekstern yang mempengaruhi pergeseran dalam adat-

  istiadat bangsawan Desa Jerowaru adalah sebagai berikut:


  1. Factor ekonomi


     Lalu Haji Muh Satrah (61) dan mamik karniati mengatakan sejak tahun

     60 an disaat terjadi keritis ekonomi di Desa Jerowaru akibat

     kekurangan air dan gagal panen dan ditambah lgi pada tahun 65-66

     saat PKI melancarkan serangannya secara nasional, desa Jerowaru juga

     kena imbasnya secara ekponomi, karna kurangnya stok beras dan

     bahan makanan lainnya adnya masalah ekonomi di atas juga

     berpengaruh dalam system perekonomian masyarakat yang walapun

     panda dasarnya para bangsawan ini memiliki tanah yang cukup luas

     namun karna mereka kekurangan air seperti yang disebutkan diatas

     tadi dan kurangnya bantuan pemerintah yang menyemabkan terjadinya



                                88
  gagal panen sehingga mengalami juga seritis ekonomi yang

  menyebabkan secara ekonomi setatusnya mulai berkurang dan ikut

  bekrja seperti masyarakat biasa secara umum, mwskipun setelah tahun-

  tahun tegang tersebut keadaan ekonomi ini biasa diamati (wawancara

  H. L. Muh Satrah, selasa 12 juli 2010).


4. Factor pendidikan


  Lebih Lanjut Lalu Haji Muh. Satrah Dan Lalu Abd. Hamid terkait

  denga pendidikan ini mengatakan pada awalnya golongan bangsawan

  tidak begitu peduli dengan pendidikan ini akan mengeser           satus

  kebangsawanannya sehingga pendidikan banyak yang menganggapnya

  secara   apriori,    dan   gengsi   serta   prestise   kebangsawanannya

  membuatnya tidak sadar akan pentingnya pndidikan ini . sehingga

  pada kesempatan lain masyarakat bias memeliki pendidikan tinggi

  serta social akan lebih tinggi dan setatus sosialnya bukan lagi status

  kebangsawanan menjadi ukuran dari adanya prestise social ini .andai

  kata pun dari golongan bangsawan banyak mengancam yang banyaak

  mengancam pendidikan pasti banyak dari adat-istiadatnya yang akan

  mereka miniamalisir atau modisifikasi sesuai denganperkembangan

  zamannya. Bukan hanya itu mereka yang akan menjadi social baru

  yang bukan hanya secara mederen memiliki pendidikan tingi yang

  menjadi kekas social tersendiri melainkan memiliki setatus tersensiri

  dengan gelar kebangsawanannya. Namun inilah yang menjadi

  penghambatnya yaitu adanya perasaan status sosial yang lebih tinggi



                                89
     dari status kebangsawanannya yang tampa disadari adanya orang-

     orang terdidik di kalangan masyarakat biasa berubah menjadi golongan

     sosial tersendiri dalam masyarakat. Yang bukan         hanya sangat

     dihormati sekaligus juga dijadikan sebagai tauladan, terutana orang-

     orang yang memiliki ilmu agama. perkembangan ilmu pengetahuan ini

     bukan hanya berdampak pada lahirnya ilmu pengetahuan secara teori,

     perkembangan teknologi dan informasi dalam segala bidang membuat

     pola fikir masyarakat berbeda sehingga para bangsawan ini tidak lagi

     dianggap gebagai golongan yang tinggi melainkan merupakan seperti

     masyarakat biasa yang hanya nama dan gelarnya yang berbeda.

     Sehingga keberadaannya tidak seperti saat sebelumnya sangat begitu di

     hormati (Lalu Muh. Satrah dan Lalu Abdul Hamid, selasa 12 juli

     2010).


b. Fakpor intern


         Selain factor ekstern di atas yang menyebab kan terjadinya

  perubahan dalam status kebangsawanan tresebut terdapat juga fektor intrn

  atau factor dalam yang berpengaruh terhadap perubahan tersebut. Adapun

  factor intern ini adalah adanya penghilangan gelardari kebangsawanan

  karna sudah tidak dianggap relevan lagi dengan zaman. Bahkan seperti

  dikatakan mamik sekar bahwa saat ini banyak dari golongan bangsawan

  yang sudah menghilangkan gelar kebangsawanan (wawancara Mamik

  Sekar, selasa 24 agustus 2010).




                                    90
2. Bentuk-Bentuk Perubahan Dalam Status Bangsawanan


         Perubahan yang dimaksud di sini tidak terlepas dari beberapa item

  yang sudah di sebutkan diatas seperti system perkawinan, bahasa maupun

  adat-istiadat, beberapa item yang disebut jadi akan di bahas secara satu

  persatu terkait dengan sejauh mana perubahannya.


  a. Sistem perkawinan


              Salah satu dari kesahan adat-istiadat perkawinwn bangsawan

    tradisional adahal adanya pembuangan (betelah) jika anaknya kawin

    dengan bukan sesame bangsawan khususnya bagi anak perempuan.

    Namun hal ini sudah luntir bahkan golongan bangsawan pada tahun 75-

    80an masih menerapkannya lama kelamaan semakin tidak kelihatan yang

    kemudian berubagh menjadi penurunan bangse bagi anak perempuan

    yang kawin dengan laki-laki dari golongan masyarakat tersebut, adapun

    penurunan bangse ini suaminya harus membayar sorong serah sesuai

    dengan aji krame golongan bangsawan. Hal ini berbanding terbalik

    apabila laki-laki golongan bangsawan mengambil anak perempuan

    masyarakat biasa maka aji kramenya sesuaai dengan aji krame

    masyarakat biasa tetapi setatus kebangsawanannya tetap, tidak seperti

    dari masyarakat biasa yang membayar aji krame untuk menurunkan

    setatus istrinya


  b. Bahasa




                                   91
          Bahasa halus dulunya menjadi identitas tersendiri pada golongan

  bangsawan, tidak terkecuali pada bangsawan Jerowaru. Namun suatu

  yang kontras terlihat saat ini      jika di Jerowaru, generasi golongan

  bangsawan ini sudah hampir seperti sikatakan Lalu Abd. hamid tidak ada

  lagi yang bisa berbahasa halus dengan baik apalagi untuk menjadi bahasa

  pergaulan sehari-hari. Bahkan bahasa halus ini di Jerowaru bisa dikatakan

  sudah menjadi bahasa utama yang bukan hanya sebagai tanda dari

  edintitas kelas sosial, karna banyak dari masyarakat biasa yang

  menguasai dengan baik bahasa halus ini, bahkan bayak di golongan

  masyarakat biasa yang mengunakan bahasa halaus walapun secara

  sederhana. Dalam artian bahasa halus yang digunakan adalah bahasa

  halus pertangahan sesua dengan kebututuhan percakapan sehari-hari.


c. pergaulan sehari-hari


          Mamik Karniati mengatakan bahwa saat ini telah terjadi erosi

  kebudayaan dan hal ini tidak bias dibantah, karna adat-adat orang tua

  terdahulu seolah-olah di telan bumi yang diganti dengan modifikasi yang

  sesuai daangan perkembangan zaman, walapun dengan secara praktik

  banyak juga adat-istiadat tesebut yang masis berlaku, khusus bagi

  golongan bangsawan yang dulu sangat di hormati, seperti yang di

  katakana Mamik Karniati sampai-sampai jarang masyarakat biasa berani

  bertemu dengan golongan bangsawan karna begitu di hormatinya, begitu

  juga dengan kebetulan bertemu dijalan harus mengucapkan kata nurge

  sebagai oenghormatan, yang saat ini sudah tidak ada lagi bahkan dalam



                                 92
      pergaulan sehari-harinya tidak ada perbedaan kecuali pada adat-istiadat

      khusus seperti dalam system perkawinan seperti yang di sebutkan di atas.




                                  BAB V

                                PENUTUP



A. Kesimpulan
          Bangsawan merupakan salah satu tingkatan sosial di Desa Jerowaru

  dan sudah barang tentu keberadaannya mengindikasikan adanya setratifikasi

  sosial yang dulunya sangat nyata. Karena perbedaan status sosial antara

  bangsawan dengan masyarakat biasa maka adat-istiadatnya juga banyak yang

  berbeda meskipun memiliki juga banyak kesamaan secara geografis tinggal di

  spasaial yang sama,namun dalam adat istiadat yang berbeda tersebut berbeda

  juga pewarisannya secara sistem kekerabatan dari generasi ke generasi.

          Mengenai asal usul dari bangsawan desa jerowaru ada yang sering

  disebut bangsawan asli dan bangsawan pendatang. Adapun yang disebut

  sebagai bangsawan asli adalah bangsawan yang tinggal di gubuk tembok

  karena merupakan keturunan dari bangsawan kerajaan pene, sedangkan yang

  dikatakan bangsawan pendatang adalah bangsawan yang berada di Gubuk

  Nenek berasal dari beberapa tempat seperti, Kopang, kediri, Pagutan, rempung

  dan lain-lain.




                                     93
        Sebelum kedatangan bangsawan di Jerowaru terlebih dahulu Jerowaru

dihuni oleh seorang yang bernama Datu Dewe Maspanji yang datang dengan

rombongannya dari arah selastan Jerowaru tepatnya di Serewe sekarang. Pada

hari pertama kedatangannya dia membangun Bale Belek di dua tempat yaitu di

Jerowaru dan Senyiur, yang dimulai pada jam 6 pagi sampai jam 6 sore,

namun beliau tidak tinggal lama di jerowaru kemudian menghilang dan

digantika oleh Pe Belek yang merupakan keturunan dari bangsawan Kerajaan

pene serta rombongannya yang saat ini tinggal di gubuk tembok. Pe Belek

memiliki anak dua orang yaitu Dewi Ringgit dan Raden Paji, adapun raden

panji setelah memiliki keluarga pindah ke pelambik dan tempat tinggalnya

sekarang disebut Bale Belek Pelambik yang sekaligus merupakan kerabat deri

bangsawan pelambik sekarang selain yang berasal dari Gubuk Nenek.

Sedangkan Dewi Ringgit Tetap tinggal di Bale Belek Jerowaru dam memiliki

anak 4 oarang yatu Datuk Masjid, Datuk Labang, Datuk Kebon dan Datuk

Sabo.

        Perkembangan bangsawan di jerowaru menyisakan kenangan sejarah

tersendiri karena seperti bangsawan yang lain pernah menerapkan adat istiadat

sesuai dengan status sosial kebangsawanannya, baik dari segi bahasa, sistem

perkawinan, pembagian hak waris, pergaulan sehari-hari dalam pewarisan ke

generasi ke generasi yang memiliki sistem kekerabatan yang sama. Pewarisan

budaya dari generasi-kegenerasi memang tidak berjalan mulus bahkan sering

terjadi perubahan sesuai dengan perkembangan zaman, salah satu contoh

misalnya disaat adat-istiadat bangsawan masih berlaku dikenal istilah beteteh




                                   94
ketika anak bangsawan kawin dengan anak dari masyarakat biasa, dan saat ini

karena tidak sesuai dengan zaman yang tinggal hanya penurunan bangse,

dalam arti menurunkan status kebangsawanan anak perempuan tersebut

menjadi masyarakat biasa. Adapun dari segi bahasa dulunya anak bangsawa

diharuskan bisa berbahasa halus namun sekarang sudah tidak lagi, begitu juga

dengan adat-istiadat yang lain menunjukkan adanya perubahan yang sangat

signifikan.

        Secara setratifikasi sosial di Desa Jerowaru terdapat tiga tingkatan

secara close social stratification yaitu bangsawan Mamik pada tingkat sosial

yang paling atat, disusun Bangsawan Bape pada posisi kedua dan Jajar

Karang pada posisi terkhir. Adapun Bangsawan Bape ini di Jerowaru tidak

begitu banyak, hanya terdapat di Gubuk Pelambik.

        Selain dari status sosial bangsawan memiliki status sosial yang tinggi,

dari segi ekonomi dan kepemilikan tanah juga lebih unggul daripada

masyarakat biasa. Dalam kepemilikan tanah misalnya bisa dikatakan

bangsawan berada dalam urutan teratas, akrena hal ini jug adidukung oleh

beberapa hal seperti: 1.peninggalan yang cukup banyak dari orang tuanya, 2.

Adanya ketekunan dan keuletan membuka tanah baru, 3. Mengambil tanah

orang lain yang tidak di garap dan hanya ditanda saja.

        Dalam adat-istiadat antara masyarakat biasa dengan bangsawan

terdapat perbedaan yang nantinya inilah yang diwarisi secara turun temurun

dalam kekerabatannya. Dalam sistem perkawinan misalnya dalam adat-istiadat

bangsawan ada yang dikenal dengan beteteh, selain itu berbeda juga isi dari




                                    95
resepsi adat istiadatnya dalam sebagian prosesi, seperti menggunakan wacan

pada saat sorong serah bagi golongan bangsawa. Selain perbedaan dalam

sistem perkawinan ini dalam bidang bahasa misalnya sebelum tahun 70-an

anak-anak bangsawan diharuskan bisa berbahasa halus. Begitu juga dalam

pergalan sehari-hari terdapat tata krama yang harus dipatuhi.

        Adapun penyebab mundurnya status bangsawan yang secara umum

terlihat sejak tahun 70-an baik dilihat dari status sosial tertutup maupun

terbuka dapat di klasifikasikan menjadi dua sebab yaitu sebab internal dan

sebab eksternal. Yang pertama adalah penyebab internal misalnya banyak dari

bangsawan saat ini yang sudah tidak lagi nyaman dengan gelarnya sebagai

Lalu atau Mamik sehingga ada juga yang menghilangkan gelarnya dan

menghilangkannya terutama dalam catatan sipil. Sedangkan fator yang kedua

yaitu faktor eksternal yaitu pendidikan dan ekonomi. Kedua fakyor ini sangat

berpengaruh terhadap penurunan status bangsawan yang pada intinya bisa

dikatakan digerus untuk mengikuti perubahan zaman.

        Dalam bidang sosial kemasyarakatan di Jerowaru ada juga dikenal

dengan Besiru, bebanjar dan gotong royong, hal ini berlaku selain kerabat

dekat termasuk juga masyarakat secara umum. Besiru merupakan salah satu

dari kebiasaan masyarakat terutama kerabat dekat ataupun tetangga dekat

untuk sama-sama bekerja di salah satu sawah warganya, begitu juga

sebaliknya jika dia bekerja maka orang yang pernah ditolongnya akan ikut

juga bekerja disawahnya. Begitu juga halnya dengan bebanjar dan gotong

royong merupakan aktifitas sosial masyarakat secara kolektif.




                                    96
B. Saran

           Adat-istiadat sebagai sarana pendukung dari norma-norma sosial

  sebagai aturan dalam masyarakat memang harus dilestarikan bahkan dijaga

  terutama adat-istiadat yang sangat bermanfaat bagi keserasian dalam

  bermasyarakat, karena seperti yang kita ketahui saat ini sifat individualisti

  sudah sangat menonjol sekali oleh karena itu penulis mengharapkan di desa

  Jerowaru akan selalu menjaga norma-norma adat yang baik untuk kehidupan

  bermasyarakat dan membuang beberapa dari adat-istiadat yang sekiranya

  kurang bermanfaat, karena adat-istiadat yang baik selain akan dikenal sebagai

  identitas kelompok yang baik sekaligus akan membentuk masyarakat yang

  memiliki kesadaran kolektif tinggi disaat individualistis merasuki jiwa-jiwa

  masyarakat. Oleh karenanya menjaga dan memelihara lokal genius kita adalah

  memelihara identitas sosial kemasyarakatan kita juga.




                                      97
98
                             DAFTAR PUSTAKA



Muhammad, Abdulkadir. 2005. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Citra Aditya Bakti,
     Jakarta.

May, Abdurrahman dkk. 1989. Tata Kelakuan di Lingkungan Pergaulan di
     Lingkungan Keluarga dan Masyarakat NTB. DEPDIKBUD, Mataram.

Amin, Ahmad dkk. 1978. Adat Istiadat Daerah Nusa Tenggara Barat.
      DEPDIKBUD.

Kran, Alfonso Van der. 1999. Lombok: Penjajahan dan Keterbelakangnnya.
      Lengge, Mataram.

Bungin, Burhan. 2008. Penelitian Kuantitatif. Kencana, Jakarta.

Depdikbud. 1983. Geografi Budaya Daerah Nusa Tenggara Barat.

Abdurrahman, Dudung. 1999. Metode Penelitian Sejarah. Logos Wacana Ilmu,
      Jakarta.

Budiwanti, Erni. 2002. Islam Sasak. LKIS, Yogyakarta.

Sjamsuddin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah. Ombak, Yogyakarta.

Koentjaraningrat. 1996. Pengantar Antropologi I. Rineka Cipta, Jakarta.

Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta.

Lukman, Lalu. 2005. Pulau Lombok Dalam Sejarah.

Lexy J. Moleong. 2007. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Remaja Rosdakarya,
       Bandung.

Muhsipuddin. 2004. Kilas Balik 100 Tahun Pendidikan di Lombok Timur.

Tamburaka, Rustam E.. 2002. Pengantar Ilmu Sejarah. Teori Filsafat Sejarah,
      Sejarah Filsafat dan IPTEK. Rineka Cipta, Sejarah.

Kartodirdjo, Sartono. 1993. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah.
       Gramedia, Jakarta.

Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Grafindo Persada, Jakarta.

Salam, Solechin. 1992. Lombok Pulau Perawan. Kuning Mas, Jakarta.




                                       99
Rajasa, Sutan. 2002. Kamus Ilmiah Populer. Karya Utama, Surabaya.

Widjaya. 1981. Individu, Keluarga dan Masyarakat. Akademika Pressindo,
      Palembang.




                                    100
101
102
                   DAFTAR INFORMAN



1. Nama             :   Lalu Abdul Hamid
   Umur             :   47 tahun
   Alamat           :   Kadus Jerowaru Bat
   Jenis kelamin    :   Laki-laki
   Pekerjaan        :   Kadus Jerowaru Bat

2. Nama             : Mamik Karniati
   Umur             : 59 tahun
   Alamat           : Jerowaru Bat, Dusun Gubuk Nenek
   (pedaleman).
   Jenis kelamin    : Laki-laki
   Pekerjaan        : Mantan Kepala Desa selama Lima Priode

3. Nama             :   Marjun
   Umur             :   55 tahun
   Alamat           :   Kadus Jerowaru Daye
   Jenis kelamin    :   Laki-laki
   Pekerjaan        :   Mangku Bale Belek

4. Nama             :   Sinerap
   Umur             :   53 tahun
   Alamat           :   Kadus Jerowaru Daye (utara)
   Jenis kelamin    :   Laki-laki
   Pekerjaan        :   Kadus Jerowaru Daye

5. Nama             :   Mamik Jamudin
   Umur             :   80 tahun
   Alamat           :   Kadus Jerowaru Bat (barat)
   Jenis kelamin    :   Laki-laki
   Pekerjaan        :   Petani




                             103
6. Nama            :   Mamik Mahrap
   Umur            :   71 tahun
   Alamat          :   Kadus Jerowaru Bat (barat)
   Jenis kelamin   :   Laki-laki
   Pekerjaan       :   Petani

7. Nama            :   Mamik Samsumi
   Umur            :   55 tahun
   Alamat          :   Batu Tambun
   Jenis kelamin   :   Laki-laki
   Pekerjaan       :   Petani

8. Nama            :   Mamik Sekar
   Umur            :   62 tahun
   Alamat          :   Pelambik
   Jenis kelamin   :   Laki-laki
   Pekerjaan       :   Petani

9. Nama            :   H. L. Satrah
   Umur            :   61 tahun
   Alamat          :   Nenek
   Jenis kelamin   :   Laki-laki
   Pekerjaan       :   Pertani

10.Nama            :   Lalu Ratnawe
   Umur            :   73 tahun
   Alamat          :   Gubuk Tembok, Kadus Jerowaru Daye
   Jenis kelamin   :   Laki-laki
   Pekerjaan       :   Petani




                             104
Lam. 1

                  HASIL WAWANCARA PENELITIAN SEJARAH
            MASYARAKAT DESA JEROWARU: SEBUAH KAJIAN
                                     SEJARAH SOSIAL
Nama                   : Mamik Karniati
Alamat                 : jerowaru Bat, Dusun Gubuk Nenek (pedaleman)
Umur                   : 59
Jenis kelamin          : laki-laki
Jabatan                : mantan kepala desa jerowaru selama 5 priode


   1. Pertanyaan : kalau dilihat dari adanya hubungan kekerabatan bangsawan

         Jerowaru   berasal dari mana saja pak?

         Respon          : Kalau berbicara mengenai adanya hubungan kekerabatan,

         sampai saat ini kita (bangsawan hususnya jerowaru gubuk nenek) masih

         memiliki hubungan kekerabatan dengan bangsawan yang ada di kopang,

         kediri, pagutan, gerung, kilang serta kuripan. Namunyang paling banyak

         berasal dari kopang.

   2. Pertanyaan : Faktor apa saja yang mendorong para bangsawan ini pindah

         ke jerowaru

         Respon          : sejauh ini belum bisa saya katakan secara pasti tujuan

         kedatangannya, namun kemungkinan besar untuk mencari tanah ataupu

         lahan baru untuk bertani, karna sepaerti yang kami tau dari cerita-cerita

         orang tua rata-rata bangsawan yang datang kesinni memiliki tanah yang

         cukup luas, dimana hal ini didapatkan dari usahanya membuka lahan-lahan

         baru.



                                          105
3. Pertanyaan : selain tempat-tempat yang bapak sebut tadi, apakah ada juga

   yang berasal dari desa-desa sekitar sisni ?

   Respon       : memang ada! Kalau bangsawan gubuk Tembok merupakan

   keturunan dari bangsawan kerajaan Pene, tapi saya tidak bisa

   menjelaskannya panjang lebar, silahkan cari sejarahnya di Sinerap,

   mangku Bale Belek, disana bukunya sudah ada.

4. Pertanyaan : ada yang mengatakan bahwa di Desa Jerowaru adat-istiadat

   bangsawan pernah       diterapkan, namun yang paling ketat adalah di

   pedaleman dan Gubuk Tembok, benarkah itu pak ?

   Respon        : memang benar! Dapat dikatakan bahwa kedua tempat tadi

   bisa dikatakan merupakan sentral dari penerapan adat-istiadat bangsawan

   di Desa Jerowaru, karna diluar pedaleman dan gubuk tembok walaupun

   termasuk Bangsawan, contohnya di Pelambik pada saat di kedua tempat

   yang tadi itu masih rit, disana sudah mulai longgar, misalnya tidak ada

   memang benar! Dapat dikatakan bahwa kedua tempat tadi bisa dikatakan

   merupakan sentral dari penerapan adat-istiadat bangsawan di Desa

   Jerowaru, karna diluar pedaleman dan gubuk tembok walaupun termasuk

   Bangsawan, contohnya di Pelambik pada saat di kedua tempat yang tadi

   itu masih rit, disana sudah mulai longgar, misalnya tidak ada pembuangan

   anak gadis ketika kawin dengan masyarakat biasa, padahal bangsawan

   yang ada di Pelambik berasal dari sini juga sebagian, meskipun tidak

   sedikit yang datang dari luar.




                                    106
5. Pertanyaan : bagaimana pandangan bapak mengenai adat-istiadat hususnya

   bangsawan yang sudah luntur dan mulai tahun berapa hal itu dirasakan ?

   Respon       : saya melihatnya saat ini adalah erosi budaya, karna banyak

   sekali budaya- budaya kita yang bagus untuk membendung arus budaya

   luar yang serba bebas sudah terlupakan. Adanya kemunduran daria adat

   istiadat ini mulai terasa sejak tahun 70 – 75-an sampai sekarang semakin

   merosot. Meskipun ada juga dari adat-istiadat lama yang kurang bagus

   namun adat-istiadat yang baik juga ikut terkena erosi budaya luar

6. Pertanyaan : cotohnya apa saja adat-istiadat yang menurut bapak itu baik ?

   Respon       : misalnya hormat pada yang lebih tua, tidak menggunakan

   kata-kata kotor, adanya gotong royong, menghormati sesama tetangga dan

   bnayak lagi yang tidak bisa saya sebut satu-persatu.

7. Pertanyaan : saya pernah mendengar kalau bangsawan di jerowaru ada

   juga yang bergelar Bape? Apa perbedaannya pak?

   Respon      : betul! Tapi dibandingakan dengan Mamik, Bape ini sangat

   sedikit di Jerowaru, hanya terdapat di Pelambik. Selain itu juga kedudukan

   Bape ini berada di bawah Mamik namun lebih tinggi dari Amak.

8. Pertanyaan : bagimana kedudukan atau status sosial ini bisa berubah pak?

   Respon        : saya juga kurang tau tentang itu, namun yang jelas status

   sosialnya berada di bawah bangsawan Mamik, namun anaknya bergelar

   lalu, tapi setelah memiliki anak gelarnya bukan Mamik tapi Bape sesui

   dengan gelar orang orang tuanya.




                                   107
9. Pertanyaan : dari beberapa adat-istiadat yang sudah luntur tersebut dalam

   hal apa saja yang paling bapak rasakan perubahannya?

   Respon              : banyak sekali item-item tersebut yang bisa kita

   identifikasikan baik dalam bahasa, pergaulan sehari, sistem perkawinan,

   maupun adat-istiadat umum lainya.

10. Pertanyaan : bisa bapak jelaskan dari segi bahasa?

   Respon      : bahasa menunjukkan identitas, baik golongan, bangsa maupun

   status sosial. Pada awalnya setiap bangsawan mengharuskan anak-anaknya

   untuk belajar dan bisa berbahasa halus sebagai bahasa sehari-hari, namun

   setelah tahun 70-an seperti yang saya katakan tadi intensitan anak-anak

   bangsawan ini semakin berkurang yang memakai bahasa halus, bahkan

   sampai saat ini hanya digunakan sebagai bahasa pembayun saja dan

   banyak juga masyarakat biasa yang lebih faham dengan bahasa halus ini,

   terutama mereka yang menjadi pembayun.

11. Pertanyaan : selain dari bahasa tadi ada juga dalam sistem perkawinan,

   bisa bapak jelaskan?

   Respon        : memang dalam sistem perkawinan ini ada juga sistem

   perkawinan bangsawan yang tidak sesui dengan zaman, misalnya saja

   didalam peraturan bangsawan anak perempuan mereka harus kawin

   dengan sesama bangsawan yang dikenal dengan sebutan beteteh, yang

   mana saat ini hanya tinggal penurunan bangse saja, selain perbedaan

   bayar aji pada saat sorong serah dan ngewacan.




                                   108
12. Pertanyaan : apakah ada perlawanan pak dari para perempuan yang banyak

   sekali tertekan oleh adat-istiadat yang berlaku?

   Respon        : secara umumnya memang jarang, karena saat itu terutama

   anak-anak perempuan sangat patuh dan taat pada perintah orang tuanya,

   dan bisa dikatakan inilah ciri-ciri anak-anak perempuan pada saat itu,

   apalagi mengenai penjodohannya, meskipun ada juga yang melanggar

   namun jumlahnya sangat sedikit sekali.

13. Pertanyaan : pasangan yang ideal menurut bangsawan itu yang mana pak?

   Respon          : bagi bangsawan Jerowaru pasangan yang ideal adalah

   keluarga terdekat yaitu misan, sepupu atupun keluarga terdekat lainnya,

   atau setidaknya yang memiliki golongan sosial yang sederajat yaitu

   sesama bangsawan.

14. Pertanyaan : bisa bapak sebutkan urutan prosesi dalam sistem pernikahan

   pada masyarakat Jerowaru ?

   Respon         : biasasanya secara umum setelah wanita tersebut di bawa

   kerumah calon suaminya setelah tiga hari maka diadakan acara besaji,

   dilanjutkan dengan selabar, kemudian mengambil wali, setelah itu sorong

   serah dan terakhir adalah nyokoran atau nyongkolan.

15. Pertanyaan : bisa bapak jelaskan masing-masing dari prosesi tersebut dan

   perbedaan antara golongan bangsawan dengan masyarakat biasa?

   Respon         : yang pertama saya akan jelaskan dari awal sebelum

   pengambilan perempuan sekaligus perbedaannya. Bagi bangsawan selain

   mengenal adat istiadat melaian di jerowaru juga biasanya dilakukan




                                   109
lamaran oleh orang tua calon pengantin laki-laki yang dalam hal ini sudah

barang tentu dengan sesama bangsawannya, makanya kalau anaknya

kawin dengan orang yang cukup jauh dan belum diketahui statusnya maka

biasanya orang tua si gadis akan mempertanyakan status sosialnya

walaupun laki-laki tersebut mengaku sebagai bangsawan. Namun bagi

masyarakat biasa biasanya tidak mempermasalahkan dengan golongan

manapun dia kawin dan hanya mengenal melaian (mencuri gadis) untuk

membawa kerumahnya. Setelah perempun tersebut tinggal di rumah calon

suaminya selama 3 hari dari pihak laki-laki mengirim utusan ke keluarga

perempuan tersebut untuk memberi tahukan kemana dan dengan siapa

anaknya kawin, yang mana prosesi ini dinamakan Besejti tadi. Setelah

prosesi besejati dilakukan selanjutnya adalah prosesi selabar, dimana

dalam prosesi ini adalah pembicarakan bagaimana sikap dan kesanggupan

pihak perempuan dengan perkawinan anaknya, yang dalam hal ini

dibicarakan banyaknya uang yang harus dikeluarkan oleh pihak pengantin

laki-laki sebelum wali diberikan. Jika sudah terjadi kesepakatan antara

kedua belah pihak maka uang selabarnya dibawakan saat mengambil wali,

pada saat bait wali ini ditentukan juga hari prosesi pernikahannya. Prosesi

selanjutnya adalah acara sorong serah yang biasanya dirangkaikan dengan

acara nyongkolan. Dalam acara sorong serah inilah dilakukan pengesahan

mempelai secara adat dan merupakan puncak dari prosesi-prosesi yang

ada, dimana didalamnya juga ada yang disebut dengan bayah aji

tergantung golongannya, untuk bangsawan membayar aji sebanyak 66 ribu




                                110
   rupiah, sementara masyarakat biasa hanya 44 ribu rupiah. Didalam acara

   sorong serah ini biasanya golongan bangsawan ditandai dengan bewacan.

   Sebelum pembacaan wacan selesai dan pemutusan adat belum dilakukan

   maka pengantinnya belum boleh kerumah pengantin perempuan. Setelah

   selesai acara sorong serah yang dirangkai dengan nyongkolan, biasanya

   satu hari setelah acra nyongkolannya dilakukan acara besok nae oleh

   keluarga besar pengantin laki-laki.

16. Pertanyaan : selain yang bapak jelaskan tadi masih ada tidak pak

   perbedaannya yang lain?

   Respon          : ada juga yang dikenal dengan gantiran pada golongan

   bangsawan dan masyarakt biasa yang kaya, karna pada saat berlakunya

   gantiran ini rata-rata kekayaan bangsawan lebih banyak daripada

   masyarakat biasa pada umumnya. Adapun gantiran ini dibicarakan pada

   saat selabar, yang mana pihak laki-laki bersedia memberikan kelengkapan

   bahan untuk begawe bagi keluarga pengantin perempuan selain uang

   kesepakatan yang harus diberikan. Selain itu ada juga perbedaan yang

   sangat menonjol lainnya yaitu pada saat membayar aji pada saat prosesi

   sorong serah sampai saat ini, dimana jika pengantin perempuannya dari

   keluarga bangsawan maka bagi suaminya harus membayar sebanyak aji

   golongan bangsawan 66 ribu rupiah sebagai penurunan bangse dari

   bangsawan kemudian berstatus masyarakat biasa serta tidak berhak lagi

   menamakan anak keturunannya lalu atau Baik lagi. Sedangkan apabila

   laki-lakinya saja yang berasal dari golongan bangsawan maka sebaliknya




                                   111
   akan membayar 44 ribu seperti masyarakat biasa namun tidak kehilangan

   statusnya sebagai golongan bangsawan.

17. Pertanyaan : adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat pasti ada juga

   yang melanggarnya, apa saja sangsinya jika pelanggaran itu terjadi, dan

   apa saja jenis pelanggaran dan dendanya pak?

18. Respon    : kalau dilam sistem perkawinan sudah saya jelaskan mengenai

   adanya pembuangan (beteteh), namun ada juga pelanggaran dalam tata

   krama maupun adat istiadat yang dilanggar, misalnya dari dendenya ada

   namanya dende pati, yang mana dende peti ini berlaku jiaka seorang laki-

   laki melakukan negok (memegang bagin yang dilarang pada perempuan)

   karena wanita tersebut tidak mau menikah dengannya, maka dengan jala

   itu pria tersebut dapat memilikinya namun jika wanita tersebut tidak mau

   maka laki-laki tersebut akan mendapat denda sebanyak 41 ribu rupiah,

   angka yang sangat banyak dengan ukuran saat itu. Ada juga namanya

   dende ngampasaken, yang mana dende ini berlaku apabila ada pengantin

   yang adat istiadatnya belum selesai sudah kerumah orang pengantin

   perempan walaupun berdekatan tempat tinggal maka jika ini terjadi akan

   didenda sebanyak 9 sampai 10 ribu rupiah. Masih ada lagi namanya dende

   gile bibir, berlaku jika seorang laki-laki menyumpah seorang wanita

   dengan kata-kata menyebut kemaluan perempuan tersebut maka berlaku

   dende gile bibir sebanyak 9 sampai 10 ribu juga. Kemudian ada yang

   namanya dende gile tangan apabiala ada laki-laki yang secara tidak

   sengaja disentuh kekelaminannya dan dilihat oleh orang lain atau dia




                                  112
   sendiri yang mengatakan itu maka akan berlaku dende gile tangan ini, dan

   dendanya sama seperti dende gile bibir maupun dende ngampasaken.

19. Pertanyaan : selain dari segi bahasa dan sistem perkawinan yang bapak

   jelaskan tadi ada juga dari sistem adat istiadat yang lain, bisa bapak

   jelaskan?

   Respon        : contoh yang lain dalam adat berpakaian saat menggunakan

   pakaian adat misalnya, antara bangsawan terdapat perbedaan juga, dimana

   bangsawan menggunakan leang yang lebih panjang daripada masyarakat

   biasa. Selain itu dalam kehidupan sosial sehari-hari golongan bangsawan

   ini sangat dihormati bahkan sampai-sampai ada yang takut untuk bertemu,

   dan jika bertemu di jalan maka biasanya mengatakan nurge sebagai

   penghormatan. Ada juga yang lain, ketika ada jamuan makan dalam acara

   begawe atau roah pesajik antara bangsawan dan masyarakat biasa

   dibedakan.

20. Pertanyaan    : seperti yang bapak katakan sebelumnya rata-rata para

   bangsawan di Desa Jerowaru memiliki sawah yang cukup luas, bagaimana

   mereka mendapatkannya pak?

   Respon        : ada beberapa sebab hal ini terjadi, 1). Jika ada orang yang

   memiliki tanah namun tidak diolah, apalagi ditanami tanaman maka tanah

   yang seperti ini biasanya mereka yang mengambil, karna dianggap tanah

   yang tidak ada pemiliknya meskipun sudah diketahui bahwa ada yang

   memili namun atas namanya saja. 2). Adanya ketekunan dari para

   bangsawan ini untuk membuka tanah yang belum ada pemiliknya sama




                                   113
   sekali, bahkan sampai membuka hutan. 3). Hal ini sudah barang tentu

   yaitu peninggalan orang tuanya yang cukup banyak.

21. Pertanyaan    : kalau pembagian hak waris pada golongan bangsawan

   bagaimana pak ?

   Respon        : dalam hal ini sama saja dengan masyarakat pada umumnya,

   yaitu satu bagian untuk laki-laki dan setengah bagian untuk perempuan,

   namun hal ini berlaku bagi orang-orang yang sadar akan hukum agama,

   bahkan disini kadang-kadang perempuan tidak mendapatkan hak waris

   sama sekali terutama berupa sawah, karena banyak yang beralasan bahwa

   akan mendapatkan sawah dari suaminya.

22. Pertanyaan : kalau berupa barang-barang berharga atau benda pusaka

   seperti keris, dan lainnya seperti apa pewarisannya.

23. Respon   : pewarisan barang-barang pusaka seperti keris maupun barang-

   barang berharga itu pewarisannya tidak ada aturan yang tetap, melainkan

   tergantung dari karakter dan sifat yang ditunjukkan oleh anak-anaknya

   tersebut, jadi tidak ditentukan secara adat siapa-siapa yang berhak sebagai

   pewarisnya.

24. Pertanyaan : menurut pengalaman, dan apa yang bapak rasakan mengenai

   menurunnya adat istiadat bangsawan di jerowaru, faktor apa saja yang

   mengakibatkannya?

   Respon        : ada banyak faktor yang melatar belakanginya baik faktor

   ekonomi, pendidikan maupun sosial budaya. Dalam bidang ekonomi

   misalnya hal ini sudah mulai terasa sejak tahun 60-an ketika terjadi




                                   114
   bencana kekeringan yang ditambah lagi dengan kurangnya bahan makanan

   sejak tahun 65-an yang kata orang diakibatkan karena adanya ulah PKI,

   meskipun hal ini pada tahun-tahun sesudahnya bisa diatasi, sudah mulai

   terasa bawa adanya penurunan status bangsawan dari segi ekonomi. Selain

   dalam bidang ekonomi, bidang pendidikan juga sangat menentukan karena

   pada awalnya para bangsawan ini cukup apatis dengan dunia pendidikan,

   terutama dalam hal ini yang berada di kedua anak pertama maupun yang

   terakhir yang akan mendapatkannya.

   gubuk yang sudah saya sebutkan tadi, namun diluar kedua gubuk yang

   disebut diatas walaupun dari keluarga bangsawan tapi terbuka dengan

   perkembangan zamannya bahkan ketika di gubuk nenek dan gubuk

   tembok masih apatis dengan dunia pendidikan, banyak dari bangsawan

   yang dari pelambik misalnya yang sudah menjadi ustad dan belajar ke

   pagutan.   Jadi   adanya   gengsi    status   sosial   ini   menyebabkan

   keterbelakangan bangsawan dalam bidang pendidikan, mereka tidak sadar

   bahwa suatu saat pendidikan ini akan menjadi bomerang bagi adat-istiadat

   yang tidak sesuai dengan zaman. Ada juga faktor sosial budaya seperti

   masuk dan berkembangnya budaya luar yang kadang-kadang tanpa adanya

   filterisasi sehingga kadang-kadang unsur lokal genius kita sedikit sekali

   yang kelihatan.

25. Pertanyaan : bagaimanakah peranan TGH. Muh. Mutawalli ketika adat-

   istiadat bangsawan masih berlaku terutama waktu masih dikenal adanya

   sistem beteteh?




                                  115
Respon       : sistem dakwah almarhum TGH mutawalli adalah dengan

pendekatan budaya, sehingga beliau dalam hal ini tidak pernah

mempermasalahkan    mengenai   adat-istiadat   yang   berlaku   didalam

masyarakat, meskipun secara tidak langsung menurut saya dibangunnya

yayasan Darul Yatama Walmasakintidak terkecuali untuk meluruskan adat

istiadat yang jelek, yang memang secara implisit tidak tersirat namun

sedikit demi sedikit telah mengubah kesadaran masyarakat yang sangat

mengagungkan adat-istiadat nenek moyang.




                             116
Lam. 2

            HASIL WAWANCARA PENELITIAN SEJARAH MASYARAKAT

                            DESA JEROWARU: SEBUAH KAJIAN

                                      SEJARAH SOSIAL


Nama                    : Lalu Abdul Hamid


Umur                    : 47 tahun


Alamat                   : Kadus Jerowaru Bat


Pendidikan              : MA Muallimin NW Pancor


Jenis kelamin           : Laki-laki


Pekerjaan               : Kadus Jerowaru Bat


   1. Pertanyaan         : mengnurut bapak dan mungkin ada yang pernah bapak

         dengar dari orang-orang tua, dari mana para bangsawan di Desa Jerowaru

         ini berasal?

         Respon     : mengenai asal usulnya memang saya kurang tau, namun ada

         yang mengatakan kalau bangsawan yang di gubuk pedaleman berasal dari

         banyak tempat seperti kopang, kediri, pagutan dan lain sebagainya.

         Sedangkan yang lain saya kurang tau karena sedikit bahkan tidak ada

         informasi tentang hal tersebut.

   2. Pertanyaan : buakan ahanya Mamik sebagai golongan bangsawan di

         jerowaru tapi ada juga yang bergelar Bape, bagaimana ini pak?




                                           117
   Respon        : memang ada Bape juga selain Mamik di Jerowaru namun

   jumlahnya tidak begitu banyak bahkan hanya ada di pelambik. Yang mana

   kedudukan dari Bape ini lebih rendah dari Mamik namun lebih tinggi dari

   Amak. Namun satu hal yang sangat aneh saya rasakan bahwa anaknya

   juga bergelar Lalu namun setelah punya anak maka dipanggil bape.

   Sedangkan bagaimana dan sebab apa penurunan dari Mamik ke Bape saya

   juga kurang begitu tau.

3. Pertanyaan    : bagaimana bapak melihat adat-istiadat pada golongan

   bangsawan sampai saat ini?

   Respon         : memang terdapat perubahan dari tahun 70-an misalnya,

   namun sampai saat ini bangsawan masih bisa dikatakan dihormati

   meskipun dalam kenyataannya tidak lagi seperti tahun 70-75-an!

4. Pertanyaan : apakah di Jerowaru pernah dilaksanakan sistem adat-istiadat

   seperti pada bangsawan pedalaman di tempat lain?

   Respon       : sebelum tahun 70-an seperti yang saya katakan tadi memang

   di Jerowaru yang pernah menerapkan adat-istiadat tersebut secara

   konsikwen adalah bangsawan pedaleman atau yang dikenal dengan Gubuk

   Nenek. Yang mana sampai sekarang dapat dilihat di selatan dan baratnya

   masjid, disanalah yang merupakan tempat konsentrasi dari golongan

   bangsawan ini, sehingga kelihatan juga sedikit eksklusif karna lebih

   dominan bergaul dengan sesama bangsawannya saja.

5. Pertanyaan : apakah sistem beteteh seperti pada bangsawan di desa lain

   pernah berlaku di desa Jerowaru.




                                  118
   Respon     : saya rasa disetiap bangsawan sebelum adanya keterbukaan

   selalu menerapkan itu. Di Desa Jerowaru sebelum tahun 70-an dan juga

   seperti yang dikatakan orang-orang tua sistem beteteh ini pernah berlaku

   dan saat ini sudah tidak ada lagi, hanya saja diganti dengan penurun

   bangse (penurunan status)

6. Pertanyaan : salah satu ciri has dari bangsawan adalah menggunakan

   bahasa halus, sedangaka di Jerowaru bagaimana pak?

   Respon      : memang sebelum tahun 70/80-an anak-anak bangsawan

   diharuskan menggunakan bahasa halus dalam pergaulannya sehari- hari,

   karna seperti yang anda katakan tadi merupakan salah satu dari identitas

   bangsawan, yang saat ini kadang-kadang bahasa halus tersebut hanya

   berk-laku saat acra ngewacan dalam sorong serah.

7. Pertanyaan : bagaimana hubungan sosial sehari-hari antara masyarakat

   biasa dengan bangsawan pedaleman di jerowaru ketika adat-astiadatnya

   masih kental?

   Respon          : karena konsentrasi tempat tinggalnya di satu tempat maka

   bangsawan di pedaleman lebih banyak bergaul dengan sesama bangsawan

   meskipun hubungan sosial dengan masyarakat yang lain tetap lancar,

   namun ketika karisma bangsawan ini masih tinggi kadang-kadang

   masyarakat biasa tidak berani ketemu dan begitu bertemu dengan

   bangsawan selalu mengungkapkan nurge. Selain kalau ada yang pergi

   midang ke rumah bangsawan maka sebelum masuk dari sekitar 5 meter

   dari rumah tersebut harus sedah mengucapkan salam dan masuk dengan




                                    119
   caraduduk ngesot, hal ini berlaku baik anak masyarakat maupun

   bangsawan yang pergi midang. Begitu juga dengan waktu midang tidak

   boleh sebelum malem dan batasnya sampai jam sepuluh, bahkan kadang-

   kadang kalau lebih dari jam sepuluh malam di kenakan denda.

8. Pertanyaan : sekarang ini bisa dikatakan bahwa adat istiadat bangsawan

   sudah luntur, menurut bapak faktor-faktor apa saja yang paling bapak

   rasakan?

   Respon         : saya rasa ini adalah konsekwensi dari perkembangan zaman

   bahwa kita harus mengikuti perkembangan zaman, namun berlebihan juga

   tidak bagus karena banyak juga adat-istiadat terdahulu yang sangat bagus

   seperti gotong royong, menghormati orang yang lebih tua, dan lain

   sebagainya. Namun yang paling saya rasakan adalah akibat adanya

   pendidikan yang merata, sehingga masyarakat bisa berkenalan dengan

   budaya luar yang lebih masuk akal dan lebih terbuka sehingga jika ada

   adat-istiadat yang sangat kaku itulah yang ditinggalkan, meskipun kadang-

   kadang kita salah jalan sampai-sampai identitas kita yang sangat bagus

   dibuang secara percuma dan menerima budaya luar tanpa adanya

   pilterisasi.

9. Pertanyaan : ada tidak pak dende-dende ataupun konsekwensi dari

   pelanggaran adat yang bapak tau?

   Respon           : banyak! Salah satunya jika laki-laki menyumpah wanita

   yang belum kawin, begitu juga dengan laki-laki tersebut dengan menyebut




                                    120
   salah satu kemaluannya dan didengar orang banyak atau wanita tersebut

   yang melapor maka biasanya mereka dinikahkan.

10. Pertanyaan : bagaimana pembagian hak waris terutama tanah pada

   Bangsawan di Desa Jerowaru pak?

   Respon      : dalam hal ini memang tidak ada aturan yang baku karna ada

   yang membagi anak-anaknya yang mengikuti ajaran agama sampai ada

   juga anak perempuannya yang tidak mendapatkan hak waris, namun hal

   ini tidak pernah menjadi pertentangan dikemudian hari karena adanya

   kesadaran kekeluargaan dan biasanya kalau wanita tersebut tidak

   mendapatkan sawah maka setiap panen diberikan hasil tanah tersebut oleh

   saudara-saudaranya, yang dalam istilah mereka mendapatkan bagian yang

   sudah masak atau barang hasil panen.




                                 121
Lam.3

  HASIL WAWANCARA PENELITIAN SEJARAH MASYARAKAT DESA

                         JEROWARU: SEBUAH KAJIAN


                                    SEJARAH SOSIAL


Nama                  : Marjun
Alamat                : Kadus Jerowaru Daye
Umur                  : 55 tahun
Jenis kelamin        : laki- laki
Pekerjaan            : Mangku Bale Belek
   1. Pertanyaan : mengenai sejarah desa Jerowaru banyak dibahas di buku

         Takepan yang ada di bale belek Jerowaru, bisa bapak ceritakan mengenai

         sejarah lahirnya desa jerowaru!

         Respon       : bale belek ini adalah rumah yang pertama kali dibangun di

         Jerowaru, dan yang membangunnya adalah Datu Dewe Maspanji (Datu

         Dewe Maspanji Raeng Jagat Manujae Lemper subur Makmur datu

         Tunggal Lek Dunie Ie Sak Laek ie Sak Uik ie Sak Lemak). Kedatangan

         maspanji dari arah selatan kecamatan Jerowaru sekarang, tepatnya di

         Serewe, ketika sampe di Serewe dia berhenti sebentar utuk istirahat,

         kemudian sebelum melanjutkan perjalananya terlebih dahulu dia melempar

         panahnya ke arah utara sebagai petunjuk dimana dia akan membuat tempat

         tinggalnya, salah satunya jatuh di Jerowaru dan Senyiur, setelah anak

         panahnya jatuh ditempat yang saya sebut tadi kemudian Raden Maspanji

         melanjutkan perjalanan mencari tempat jatuhnya anak panah yang




                                           122
dilemparnya tadi. Pembangunan Bale Belek ini berlangsung dari jam 6

pagi sampai jam 6 sore hari. Menurut buku takepan di Bale Belek

pembuatannya pada kuranh lebih 753 tahun silam. Namun setelah Raden

Maspanji tinggal di Bale Belek kemudian beliau menghilang dan tidak

diketahui jejaknya. Untuk sementara Bale Belek tidak berpenghuni,

kemudian yang menghuninya adalah Pe Belek yang merupakan keturunan

dari bangsawan Kerajaan Pene. Adapun Pe Belek memiliki dua orang anak

yaitu Dewi ringgit dan Raden Panji. Pe Belek juga memiliki kakak yang

sama-sama pidah ke arah timur dan kakakny yaitu Be Balak tinggal di

Senyiur. Dewi ringgit sendiri tinggal di bale Belek yang ada di Jerowaru

walaupun dia sudah bekerja, sedangkan adiknya setelah berkeluarga

pindah ke Pelambik sekarang dan disanalah dia membuat rumah yang

sekarang dikenal sebagai Bale Belek Pelambik. Dewi Ringgit mempunyai

anak empat orang yaitu Datuk Masjid, Datuk Labang, Datuk Kebon dan

yang paling Bungsu yaitu    Datuk Sabo. Anaknya yang pertama yaitu

Datuk masjid, sesuai dengan namanya kebiasaanya yaitu beribadah ke

masjid bahkan beliau hanya pulang makan saja. Adapun keturunan dari

Datuk Masjid ini adalah TGH. Mutawalli dan TGH. Sibawaihai.

Sedangkan anaknya yang kedua yaitu Datuk Labang, kebiasaan dari Datuk

Labang ini adalah pergi berperang, namun tidak diketahui secara jelas

dengan siapa dia berperang. Sedangakan yang ketiga adalah datuk Kebon,

dimana kebiasaan dari anaknya yang ini adalah bertanai, dimanapun

sekitar kawasan jerowaru ada tanah yang kiranya bisa ditanami dia




                              123
   mencoba untuk menanaminya. Sedangkan yang keempat adalah Datuk

   Sabo, dimana kebiasaannya adalah menanam pohon sabo sehingga di

   jerowaru daye sampai-sampai ada yang dijuluki gubuk Sabo.

2. Pertanyaan : ada tidak pak nama yang lain sebelum dinamakan Jerowaru?

   Respon      : ya memang ada, ada tiga nama yang terkenal sebagai sebutan

   desa jerowaru yaitu Dese Aru Arak, kemudian Dese Jerobaru dan terkhir

   yaitu Dese Jerowaru.

3. Pertanyaan : terkait dengan bangsawan di Desa Jerowaru ini, bisa bapak

   jelaskan mengenai sejarahnya?

   Respon      : husus bangsawan yang ada di jerowaru Gubuk tembok bisa

   dikatakan merupakan bangsawan asli Desa Jerowaru karna merupakan

   keturunan dari bangsawan kerajaan pene, yang dulunya merupakan bagian

   dari daerah kecamatan Jerowaru. Kaitan antara kerajaan pene dengan

   bangsawan Jerowaru nanti bukunya bisa anda kopi.

4. Pertanyaan : salah satu sistem perkawinan dalam golongan bangsawan

   adalah harus kawim dengan sesama bangsawan, dan jika tidak maka maka

   anak perempuan tersebut dibuang dari keluarganya, apakah di gubuk

   tembok berlaku seperti itu juga pak?

   Respon        : memang ada, dan beteteh itu memang ada sama seperti di

   Gubuk Nenek, namun jika anak perempuan tersebut cerai dengan

   suaminya, sebelum diterima menjadi bagian dari keluarga besarnnya lagi,

   terlebih dahulu diterima oleh keluarga dekatnya yang lain seperti Bibi atau

   pamannya.




                                   124
5. Pertanyaan : kapan bapak merasakan adanya perubahan dalam adat-

   istiadat bangsawan?

   Respon       : sekitar tahun 70-an perubahan ini memang sudah terasa dan

   dari beberapa aspek dalam adat-istiadatnya sudah mulai menunjukkan

   adanya perubahan tersebut.

6. Pertanyaan   : ada yang mengatakan bahwa dahulunya jika ada orang

   midang kerumah bangsawan terdapat perbedaan jika ada yang midang

   kerumah masyarakat biasa, apakah bapak pernah menemukannya?

   Respon       : memang seperti itulah adat-istiadat yang berlaku, jika kita

   midang kerumah bangsawan maka sebelum 5 meter kita masuk rumahnya

   terlebih dahulu kita mengucapkan salam sekaligus masukknya dengan cara

   tokol ngesot (berjalan dengan cara duduk), bahkan ketika masuk adat

   masuk yang paling bagus adalah dengan masuk hadap belakang.




                                 125
Lam. 4

  HASIL WAWANCARA PENELITIAN SEJARAH MASYARAKAT DESA

                        JEROWARU: SEBUAH KAJIAN


                                   SEJARAH SOSIAL


Nama                   : Sinerap
Alamat                : kadus Jerowaru Daye (utara)
Umur                  : 53 tahun
Jenis kelamin        : laki-laki
Jabatan              : Kadus Jerowaru Daye
  1. Pertanyaan : bisa bapak jelaskan mengenai sejarah Desa Jerowaru?

         Respon         : bangunan yang pertama sebagai bukti sejarah di Desa

         Jerowaru adalah Bale Belek dan Masjid Jerowaru yang dahulunya masih

         dikelilingi oleh hutan. Penghuni Bale Belek ini adalah Amak Belek ( pe

         belek) dan istrinya Inak Belek. Adapun menurut takepan Pe Belek ini

         memiliki anak sebanyak 4 orang yaitu :

         a. Datuk Masjid

            Dikatakan Datuk Masjid karena kebiasaanya beribadah ke masjid,

            bahkan beliau hanya pulang makan saja kerumahnya. Diperkirakan

            dari cerita-cerita orang tua Datuk masjid merupakan nenek moyang

            dari TGH. Jahye yang menurunkan TGH. Muh. Mutawalli, dan TGH.

            Mutawalli menurunkan TGH. Sibawaihi dan keluarganya.

         b. Datuk Labang




                                        126
       Kebiasaan datuk labang sangat berbeda dengan Datuk Masjid, jika

       Datuk Masjid kebiasaannya adalah beribadah sementara Datuk Labang

       kebiasaannya adalah pergi berperang, bahkan hanya pulang satu kali

       dalam seminggu dengan berlumurkan darah. Dengan pihak mana ida

       berperang saya kurang tau, atau kemungkinan besar dengan pihak

       musuh yang pernah memusuhi kerajaan pena. Yang diperkirakan

       sebagai keturunannya adalah Mamik Keran, Mamik Tanom, dan

       Mamik Sungkal yang sekarang tinggal di Gubuk Nenek.

    c. Datu Kebon

       Sebab dinamakan datuk Kebon dikarenakan keuletannya dalam

       pertanian, bahkan setiap dia menemukan tempat yang memiliki air

       disanalah dia menanman. Diantara anak keturunannya saat ini berada

       Mendane, Senyiur, Keruak dan Sepit.

    d. Datuk Sabo

       Karena kebiasaan dari orang-orang terdahulu menamakan seseorang

       sesuai dengan kebiasaannya, seperti kebiasaan dari datok Sabo adalah

       menanam tanaman sabo makanya dinamakan dengan Datuk Sabo.

2. Pertanyaan   : Terkait dengan bangsawan di Desa Jerowaru bisa bapak

   jelaskan mengenai asal usulnya?

    Respon      : jelasnaya bangsawan di Desa Jerowaru, ada yang disebut

    sebagai bangsawan pendatang dan bangsawan asli, yang sering disebut

    sebagi bngsawan pendatang adalah bangsawan yang ada di Gubuk Nenek

    (pedaleman) karena berasal dari luar daerah kecamatan Jerowaru, mereka




                                     127
    berasal dari kopang, kediri, Gerung, dan Kuripan. Sedangkan yang di Bale

    Belek berasal dari keturunan Bangsawan Kerajaan Pene dan termasuk

    dalam kawasan Jerowaru, karena itu sering dinamakan bangsawan asli

    Jerowaru.

3. Pertanyaan : perkembangan zaman juga berpengaruh terhadap perubahan

   adat-istiadat bangsawan, dalam hal apa saja yang bapak rasakan paling

   signifikan dalam adanya perubahan tersebut?

    Respon      : banyak hal memang perubahan tersebut berpengaruh terhadap

    adat-istiadat namun yang saya rasakan perubahannya cukup signifikan

    adalah dalam sistem perkawinan. Didalam sistem perkawinan yang

    dahulunya dikenal adanya istilah beteteh sekarang tidak ada lagi, hanya

    saja perbedaannya dengan masyarakat biasa terletak pada banyaknya

    bayah aji dalam sorong serah dan bewacan pada acara sorong serah.

    Dalam bayah aji ini 66 ribu untuk bangsawan dan 44 ribu untuk

    masyarakat biasa.

4. Pertanyaan : dari segi bahasa bagaimana bapak rasakan perubahannya?

    Respon        : memang bahasa halus ini sampai sekarang masih mejadi

    bagan penting dari masyarakat jerowaru meskipun sudah menipis, namun

    sedkit tidak masih di anggap penting walaupun hanya sebagian kecil saja

    dalam bahasa pergaulan masyarakat sehari-hari, selain adanya bahasa

    halus walaupun dengan menggunakan bahasa biasa tapi merupakan ciri-

    ciri dari masyarakat Jerowaru yaitu lemah lembut dalam berbicara dan

    bertutur kata. Namun bahasa halus yang lengkap dalam percakapan sehari-




                                   128
    hari baik bagi golongan bangsawan sudah tidak ada lagi, jadi seperti yang

    saya katakan tadi hanya dipakai sebagian saja sebagai nbahasa sehari-hari

    seperti kata tiang, geh, sampun, medaran dan lain sebagainya.

5. Pertanyaan   : salah satu yang menjadi ciri has dari bangsawan dahulu

   adalah membuang anaknya jika kawin dengan laki-laki yang bukan dari

   golongan bangsawan, apakah anak perempuan tersebut dibuang langsung

   dari keluarganya tanpa bisa diterima lagi sebagai keluarga, atau seperti apa

   pak?

    Respon       : sepengetahuan saya juga seperti yang anda katakan kalau

    bangsawan dahulu mengenal namanya beteteh, begitu juga di jerowaru.

    Seperti cerita- cerita dari orang-orang tua dan sedikit pengalaman

    walaupun di Jerowaru ada istilah Beteteh ini namun tidak pernah

    membuang secara langsung walaupun dahulunya ada juga seperti itu,

    namun biasanya setelah bercerai, biasanya ada saja keluarga dari ibu atau

    mamiknya yang kasian dan mengajaknya tinggal bersama, lama kelamaan

    biasanya diterima kembali menjadi bagian dari keluarga besar ayahnya.

6. Pertanyaan : bagaimana bapak merasakan perubahan sopan santun di Desa

   Jerowaru?

    Respon       : sopan santun merupakan bagian yang penting juga dalam

    kehidupan sehari-hari di Jerowaru, meskipun saat ini hal itu sudah mulai

    menurun, namun setidaknya masih bisa dilihat dan dirasakan sendiri, baik

    sopan santun dalam berbicara, lewat di depan rumah orang misalnya.

    Apalagi sopan santun ini dulunya bagi bangsawan sangat dianjurkan,




                                   129
    misalnya harus bertutur kata lemah lembut, menghormati orang yang lebih

    tua, mengucapkan Tabek ketika lewat didepan rumah orang lain, dan lain

    sebagainya yang tidah bisa saya sebutkan secara satu-persatu.

7. Pertanyaan : nasih mengenai sistem perkawinan, apakah laki-laki juga

   kalau menikah tetap membayar aji seperti biasanya ketika kawin dengan

   sesama bangsawan pak?

    Respon           : disinilah letak perbedaannya juga, jika laki-laki biasa

    mengambil Golongan bangsawan saat ini tidak lagi dikenal yang namanya

    Beteteh tapi penurun Bangse dan harus membayar aji sebanyak aji dari

    bangsawan, sementara jika laki-laki bangsawan kawin dengan perempuan

    biasa maka membayarnya juga dengan aji masyarakat biasa. Jadi dalam

    hal ini ada peraturan adat yang terbalik.

8. Pertanyaan : kalau tidak keberatan, bisa bapak sebutkan urutan dari prosesi

   perkawinan baik bangsawan maupun masyarakat biasa di Desa Jerowaru?

    Respon        : dalam hal prosesi ini sebenarnya tidak berbeda, hanya saja

    isinya yang berbeda. Diantara urutan prosesi tersebut adalah yang pertama

    mengambil perempuan atau dalam istilah umumnya adalah melaian,

    dilanjutkan dengan acara Besejati dan nyelabar, kemudian Bait Wali,

    setelah itu rebak pucuk yang dilanjutkan dengan sorong serah, baru

    kemudian nyongkolan atau nyokor.

9. Pertanyaan : bisa bapak jelaskan satu persatu apa saja yang dilakukan

   dalam setiap prosesi tersebut?




                                     130
    Respon           : dalam acara besejati dari pihak pengantin laki-laki

    memberitahukan kemana dan dengan siapa anaknya kawin, sedangkan

    selabar adalah menjejaki kesanggupan orang tua dari pengantin

    perempuan termasuk didalamnya membicarakan uang jaminan dari pihak

    laki-laki yang aka dibawakan disaat pengambilan wali, namun jika saat

    mengambil wali, uang yang disepakati belum tercukupi maka mengambil

    walinya gagal dan diselesaikan saat acra rebak pucuk sekaligus

    menentukan kapan kesiapan dari walinya untuk menikahkan anaknya.

    Selanjutnya adalah acara sorong serah yang pernah saya jelakan tadi dan

    terakhir adalah nyongkolan.

10. Pertanyaan : bagaimana pengalaman bapak saat bergaul dengan anak-anak

   bangsawan saat bapak masih muda?

    Respons    : saat saya masih muda karena saat itu pergaulan kita juga bisa

    dikatakan dengan siapapun, dalam kehidupan sehari-hari memang seperti

    biasa seperti saat ini anak muda berteman, namun perbedaannya hanyalah

    pada saat saya masih muda tidak ada anak golongan bangsawan yang pergi

    beburuh ke sawah orang lain seperti kita pada umumnya. Karena pada saat

    saya masih muda sampai anak-anaknya masih disegani, dikarenakan

    mereka juga memiliki sawah yang cukup luas untuk bekerja tanpa harus

    beburuh seperti kita yang anak-anak masyarakat biasa.




                                   131
Lam. 5

            HASIL WAWANCARA PENELITIAN SEJARAH MASYARAKAT

                         DESA JEROWARU: SEBUAH KAJIAN

                                    SEJARAH SOSIAL


Nama                   : Mamik Jamudin
Alamat                : Kadus Jerowaru Bat ( barat)
Umur                  : 80 tahun
Jenis kelamin        : laki-laki
Pekerjaan            : petani
   1. Pertanyaan : menurut cerita maupun keterangan dari orang tua yang

         pernah bapak dengar, darimanakah asal usul dari bangsawan gubuk nenek

         yang sebenarnya?

         Respon      : karena tidak ada catatan tertulis dan hanya kita tau dari cerita

         dari para sesepuh yang saat ini telah meninggal dunia, mereka mengatakan

         bahwa hususnya bangsawan di gubuk Nenek ini berasal dari tempat yang

         berbeda, namun yang lebih banyak berasal dari kopang, selain itu ada juga

         yang berasal dari Kuripan, Kediri, Gerung, dan pagutan. Sedangkan

         Bangsawan yang ada di Gubuk Tembok sering disebut bangsawan asli

         Jerowaru, adapun tempat ketiga yang banyak bangsawannya adalah di

         Pelambik, namun disini menurut orang-orang tua selain ada yang datang

         dari luar ada juga merupakan bangsawan dari Gubuk Tembok dan Gubuk

         Nenek.




                                         132
2. Pertanyaan : banyak yang mengatakan bahwa dulunya rata-rata bangsawan

   memiliki tanah yang cukup luas, bisa bapak ceritakan hal itu sesui dengan

   pengalaman bapak?

   Respon        : memang betul seperti itu, bahkan bisa dikatakan dulunya

   rata-rata bangsawan memiliki tanah atau sawah yang cukup luas

   dibandingkan dengan yang dimiliki oleh masyarakat biasa pada umumnya.

   Saya juga merasakan hal itu, karena juga sudah lahir pada saat adat-

   istiadat bangsawan masih berlaku, jadi kedua orang tua saya juga memiliki

   tanah yang cukup luas. Jadi berkaitan dengan adat-istiadat bangsawan

   sedikit tidak pernah saya temukan.

3. Pertanyaan : salah satunya pak?

   Respon         : salah satunya adalah sisitem perkawinan, ada juga adat-

   istiadat dalam pergauklan sehari-hari yang sangat berbeda dengan apa

   yang kita sama-sama lihat sekarang maupun dari segi bahasa.

4. Pertanyaan : sekarang ini bisa dikatakan adat-istiadat bangsawan bisa

   dikatakan sudah sedikit sekali yang masih bertahan, menurut bapak hal ini

   menurut yang bapak raskan disebabkan oleh paktor apa saja?

   Respon       : sejauh ini, dan dari pengalaman serta apa yang saya rasakan

   ada dua faktor yang sangat berpengaruh dalam hal ini yaitu paktor

   pendidikan dan adanya budaya luar yang masuk, hal ini tentu juga

   datangnya dari pendidikan. Karna adat-adat bangsawan banyak yang tidak

   sesuai dengan zamannya kaka seperti inilah yang terjadi dan tidak mampu

   bertahan. Jangankan adat-istiadat yang sengaja diciptakan oleh manusai




                                     133
yang mampu bertahan di zaman teknologi saat ini, yang datangnya dari

tuhan dalam bentuk agamapun tercemar.




                             134
Lam. 6


  HASIL WAWANCARA PENELITIAN SEJARAH MASYARAKAT DESA

                         JEROWARU: SEBUAH KAJIAN


                                   SEJARAH SOSIAL


Nama                 : Mamik Mahrap
Alamat               : Jerowaru Bat
Umur                  : 71 tahun
Jenis kelamin        : laki-laki
Pekerjaan            : petani
   1. Pertanyaan : dahulunya bangsawan sangat dihormati, bukan karena status

         sosialnya saja yang tinggi namun secara ekonomi juga mendukung, apa

         saja yang menyebabkan perekonomian bangsawan lebih bagus daripada

         golongan dibawahnya?

         Respon        : salah satunya karena secara umum memiliki sawah yang

         cukup luas dari peninggalan orang tuanya, sekaligus juga sekitar tahun 90-

         an masih banyak tanah yang belum ada pemiliknya

   2. Pertanyaan : apa saja bentuk kegiatan sosial kemasyarakatan yang

         biasanya dilakukan secara kolektif baik oleh bangsawan maupun

         masyarakat biasa yang sifatnya membantu sesama individu sebagai

         anggota dari masyarakat?

         Respon         : ada banyak bentuk kegiatan sosial kemasyarakatan ini

         dilakukan, kalau di Jerowaru misalnya kita kenal adanya Banjar atau yang

         biasa disebut Bebanjar, Besiru, dan gotong Royong, saya rasa ketiga hal




                                        135
   itulah yang paling pokok dalam kegiatan sosial kemasyarakatan di

   Jerowaru, meskipun untuk saat ini sudah ada perubahan bahkan saudah

   ada yang hilang namun setidaknya hal itu dahulunya pernah menjadi

   bagian dari ciri hasa masyarakat Desa Jerowaru dalam bidang sosial

   kemasyarakatan secara kolektif.

3. Pertanyaan : kalau boleh, bisa bapak jelaskan satu persatu dari bentuk-

   bentuk sosial kemasyarakatan yang bapak sebut tadi serta bagaimana

   implementasi (praktik) nya ?

   Respon    : 1. Banjar (bebanjar), merupakan perkumpulan masyarakat

   untuk mengumpulkan beberapa jenis keperluan dalam acara begawe

   (gawe), baik untuk gawe mate (kematian) maupun gawe Idup

   (perkawinan, nyunatan maupun nyelamatan), dalam hal banjar ini

   pembentukan kelompoknya tergantung kesepakatan dari orang-orang yang

   membuat banjar tersebut, ada kelompok banjar yang mengeluarkan beras

   maka dinamakan banjar beras, dan seterusnya, dan banjar ini hanya

   satukali dipakai oleh masing-masing anggota atau mirip dengan arisan,

   selebihnya biasanya untuk keperluannya lagi kadang-kadang membentuk

   kelompok banjar baru dengan kelompok yang baru ataupun sama dan

   dalam barang yang berbeda, misanya ragi-ragian dan lain-lain. Namun

   barang-barang dalam bebanjar ini adalah untuk keperluan dalam acara

   gawe saja. Bukan hanya itu, biasanya anggota banjar langsung bekerja

   ditempat gawe tersebut, baik sebagai ancang-ancang dan lainnya, satu hal

   lagi sampai saat ini banjar ini masih berlaku diJerowaru karna dirasakan




                                     136
sangat mendukung jika ada hajatan begawe tersebut. 2. Besiru, kegiatan

Besiru ini saat ini sudah tidak ada lagi, dan hanya menjadai kenang-

kenangan    orang    tua   kita.     Besiru   merupakan   kegiatan   sosial

kemasyarakatan yang dilakukan secara kolektif juga, namun perbedaannya

dalam hal besiru ini lebih dekat dengan kegiatan di sawah. Dimana

masing-masing orang yang tergabung dalam kelompok masyarakat ikut

setra bekerja di salah satu sawah warganya, begitu juga nantinya jika ada

pekerjaan di sawah warga yang menolongnya tadi maka dia akan

membantu juga. 3. Gotong Royong, dalam hal gotong royong ini

tendensinya ke pembngunan seperti rumah, masjid, membersihkan

lingkungan, menggali parit dan lain sebagainya. Sebenarnya gotong

royong ini tidak jauh berbeda dengan kedua jenis kegiatan sosial yang

pernah saya jelaskan diatas, hanya saja perbedaannya seperti yang saya

jelaskan tadi terletak pada jenis implementasinya.




                                   137
Lam. 7

  HASIL WAWANCARA PENELITIAN SEJARAH MASYARAKAT DESA

                            JEROWARU: SEBUAH KAJIAN


                                  SEJARAH SOSIAL


Nama                 : Mamik Samsumi
Alamat               : Batu Tambun
Umur                 : 55 tahun
Jenis kelamin       : laki-laki
Pekerjaan           : petani
   1. Pertanyaan: sepengetahuan bapak berdasarkan cerita dari orang-orang tua

         atau sumber jika ada, bangsawan Jerowaru berasal dari mana?

         Respon       : kalau berbicara mengenai asal usul dari bangsawan Jerowaru

         memeng secara pasti dengan bukti seperti buku atau catatan-catatan

         lainnya memang tidak ada, tapi sampai saat ini hususnya bangsawan yang

         ada di Gubuk Nenek banyak memiliki kerabat di beberapa tempat seperti

         Kopang, Kuripan, Gerung, kediri, Pagutan, dan lain sebagainya yang tidak

         bisa dipastikan.

   2. Pertanyaan : biasanya pak dulunya apakah sama seperti saat ini di

         Jerowaru mengenal dua kali panen?

         Respon        : sebelum adanya gugur ancah, atau sebelum Soeharto jadi

         presiden kita di Jerowaru hanya mengenal satu kali panen, dikarenakan

         pengetahuan kita kurang serta tidak adanya bibit yang bisa dipanen secra

         cepat, baru kemudian sekitar tahun 70-an kita mengenal istilah gugur




                                        138
   ancah disertakan juga pembagian bibit dan peralatan-peralatan dalam

   pertanian seperti cangkul, parang, sabit, dan keperluan pertannian lainya.

   Bahkan ketika pertama kali diberikan olaeh pemerintah banyak yang tidak

   berani mengambilnya, ada yang mengira jika mereka mengambinya maka

   akan dibunuh atau dijual, karena masih adanya ketakutan akibat peristiwa

   65 dalam masyarakat.

3. Pertanyaan : jika sebelum tahun 70-an perekonomian bangsawan cukup

   baik, mengapa hal itu terjadi pak padahal panennya satu kali saja?

   Respon        : dalam hal ini kita berbicara rata-rata pada saat itu, karena

   bangsawan memiliki sawah yang cukup banyak maka otomatis hasil

   panenenya juga akan lebih banyak walaupun satu kali panen, jadi

   perbandingan rata-ratanya yang kita lihat.

4. Pertanyaan: ada tidak pak nasihat orang-orang tua pada anaknya dalam hal

   sawah dan harta lainnya?

   Respon : ada nasihat panting yang selalu terdengar dari orang tua dari

   dahulu sampai saat ini yaitu “ engkah bae sampe bejual tanak, mum mele

   arisan sandak dari pede bejual sengak endek arak eak dait isik bai-balok

   lemak” artinya jangan sampai menjual tanah, kalau mau lebih baik di

   gadaikan daripada dijual, karena yang ada yang akan diwariskan pada cucu

   maupun cicit saya nantinya. Merupakan nasihat yang sederhana namun

   sangat bermakna. Lalu apa arti dari nasihat tersebut, mengapa tidak

   menyebut anaknya namun langsung menyebut cucu atau cicitnya, artinya

   pada saat itu tidak ada hak anaknya tersebut secara permanen karena




                                   139
   sawah tersebut adalah warisan yang bukan untuk dijual tapi merupakan

   harta warisan yang diwariskan secara turun-temurun.

5. pertaanyaan: tapi bagaimana praktiknya pak?

   Respon         : pada kenyataanya memang jauh dari nasihat tersebut

   meskipun sebagian ada juga yang menurut, namun karena didorong

   kebutuhan yang kadang-kadang sifatnya spele tanah pun dijual. Selain itu

   karena di Jerowaru dan sekitarnya dikenal dengan kawin cerainya,

   biasanya banyak dari orang-orang maupun bangsawan yang memiliki

   tanah yang cukup luas di jualnya, karena jarang kita menemukan di

   Jerowaru yang kawin satu kali, paling tidak tiga sampai lima kali, dan ini

   membutuhkan biaya yang banyak yang pada intinya menjual tanahnya,

   imbasnya banyak dari keturunannnya saat ini tidak memiliki tanah,

   padahal dulunya tanahnya banyak sekali.




                                  140
Lam. 8

            HASIL WAWANCARA PENELITIAN SEJARAH MASYARAKAT

                         DESA JEROWARU: SEBUAH KAJIAN

                                   SEJARAH SOSIAL


Nama                 : Mamik Sekar
Alamat               : Pelambik, Desa Jerowaru
Umur                  : 62 tahun
Jenis kelamin        : laki-laki
Pekerjaan            : petani
   1. Pertanyaan : dahulunya bangsawan terkenal selain karena ststus sosialnya,

         namun juga kepemilikannya atas tanah, bagaimana biasanya bangsawan

         ini medapatkan tanah yang cukup luas tersebut pak ?

         Respon          : selain adanya warisan dari orang tuanya, dan keuletan

         bekerja, karena pada tahun 90-an masih banyak tanah yang belum ada

         pemiliknya atau ada pemiliknya tapi tidak pernah digarap apalagi di

         tanami maka biasanya akan diambil oleh orang lain yang sanggup

         mengerjakannya dalam hal ini biasanya dilakukan oleh bangsawan.

         Memag tidak sedikit yang melapor ke pihak pemerintah, tapi kalah dengan

         alasan tidak mempergunakan tanah sesuai fungsinya dan pemerintah

         mendukung orang yang menggarapnya walaupun pada awalnya atas nama

         orang lain, namun biasanya tergantikan oleh orang yang menanaminya

         tersebut.

   2. Pertanyaan: ada tidak pak faktor dari dalam yang bapak rasakan

         berpengaruh juga dalam menurunnya adat-istiadat bangsawan?



                                        141
   Respon          : seiring melemahnya status kebangsawanan terjadi juga

   pelepasan status oleh sebagian bangsawan walaupun dalam jumlah yang

   sedikit, hal ini menunjukkan bahwa pada saat ini bangsawan dan gelarnya

   hanya sebagai simbol masa lalu yang tidak ada relevansinya dengan masa

   depan, mengapa ada yang sampai melepaskan gelar kebangsawanannya,ini

   indikasi bahwa gelar bangsawan untuk saat ini tidak lebih dari label

   sejarah yang telah melahirkan nama tersebut.

3. Pertanyaan: apakah di Pelambik pernah juga memparaktikkan adat –

   istiadat bangsawan yang kental seperti halnya bangsawan yang ada di

   Gubuk Tembok dan Gubuk Nenek?

   Respon      : sepengetahuan saya dan dari cerita orang-orang tua terdahulu,

   dapat    dikatakan   kalau   di   pelambik   tidak   pernah   secara   ketat

   mengimplementasikan adat-istiadat sebagai aturan bangsawan walaupun

   ada juga yang mengikuti adat-istiadat yang cukup ketat tersebut namun

   jumlahnya tidak menckup secara umum bngsawan, karena bisa dikatakan

   bangsawan di pelambik adalah bangsawan-bangsawan yang tidak terlalu

   terikat oleh adat-istiadat bangsawan yang sangat saklek.




                                     142
Lam. 9


  HASIL WAWANCARA PENELITIAN SEJARAH MASYARAKAT DESA

                        JEROWARU: SEBUAH KAJIAN


                                   SEJARAH SOSIAL


Nama                 : H.L.Satrah
Alamat                : Gubuk Nenek
Umur                  : 61
Jenis kelamin        : laki-laki
Pekerjaan            : petani
   1. Pertanyaan : salah satu perbedaan bangsawan dengan masyarakat biasa

         dulunya terletak pada kepemilikannya atas tanah, selain adanya hak waris

         dari orang tuanya faktor apa saja yang mendukungnya?

         Respon         : memang pada dasarnya selain dihormati dengan status

         sosianya mereka juga memiliki tanah yang cukup banyak, jadi selain dari

         adanya warisan dari orang tuanya faktor yang lain adalah keuletannya

         dalam bekerja maupun mencari tanah yang belum dibuka atau belum ada

         pemiliknya, karana dulu masih banyak tanah yang belum ada pemiliknya.

   2. Pertanyaan : menurut pengalaman dan yang bapak rasakan faktor apa saja

         yang menyebabkan menurunnya status bangsawan baik dari segi status

         sosial dan ekonomi ?

         Respon         : bagi saya paktor pendidikan sangat berpengaruh karna

         banyak berkenalan dengan dunia luar yang lebih demokratis. Sedangkan

         dalam bidang ekonomi yang saya rasakan karena selain pendidikan kurang




                                        143
dan banyak dari bangsawan ini yang sering kawin cerai maka seringkali

tanahnya dijual, bukan hanya itu saja pada akhirnya juka ada kepentingan

mendesak yang memerlukan uang justru tanahnya yang menjadi korban,

sehingga pada akhirnya secara ekonomi dan pendapatan tidak ada lagi

sumbernya kecuali menjadi burh tani atau bangunan.




                              144
Lam. 10

  HASIL WAWANCARA PENELITIAN SEJARAH MASYARAKAT DESA

                          JEROWARU: SEBUAH KAJIAN


                                  SEJARAH SOSIAL


Nama                 : Lalu Ratnawe
Alamat               : Gubuk Tembok
Umur                 : 73 tahun
Jenis kelamin       : laki-laki
Pekerjaan           : patani
   1. Pertanyaan: bisa bapak ceritakan sedikit pengalaman bapak ketika masih

         muda dan adat-istiadat bangsawan masih berlaku terutama dalam hal

         sopan santun?

         Respon          : sudah barang tentu hal ini merupakan sebuah keharusan,

         misalnya ketika kita lewat di kerumunan orang atau didepan rumah orang

         maka kita harus bilang tabek walaupun rumahnya cukup jauh dari jalan

         kita lewat tersebut, begitu juga ketika kita midang, jika kita lewan dirumah

         orang, walaupun orangnya tidak ada kita diharuskan mengucapkan kata

         tabek kalau tidak kadang-kadang kita di katakan endek ketaon base (tidak

         tau adat) secara langsung.

   2     Pertanyaan : bagaimana pandangan bapak saat masih ketatnya pelaksanaan

         adat-istiadat di Jerowaru mengenai reaksi perempuan terhadap ketenuan

         orang tuanya yang kadang-kadang ikut campur dalam masalah

         perkawinannya?




                                         145
   Respon          : perlu digaris bawahi, bukan kadang-kadang ya! Tapi

   merupakan sesuatu yang harus bagi para orang tua terdahulu, karena kalau

   orang tua yang memilih berarti adanya perasaan kecocokan dalam hal ini

   tentunya dalam tanda kuti jika anaknya setuju juga, misalnya jika anaknya

   punya pacar 5 orang namun hanya satu yang yang dianggap baik oleh

   orang tuanya dan memiliki status sosial yang sama maka jika anaknya

   setuju maka biasanya dikawnkan. Bahakan saat itu bisa dikatakan anak

   perempuan sangat taat dan patuh pada orang tauanya, apalagi masalah

   perkawinan yang memerlukan pemikiran yang cukup matanang

3. Pertanyaan: Kalau dalam pergaulan sehari-hari pada saat masih sangat

   dihormatinya bangsawan apakan konsentrasi pergaulan masyarakat hanya

   berkisar pada sesama bangsawan saja?

   Respon       : walaupun daikatakan bangsawan sangat dihormati bukan

   berarti secara sosial akan tertutup dan tidak bergaul dengan masyarakat

   lain, kalau seperti itu pemahaman kita tentang bangsawan tersebut belum

   sampai disana. Karena dikatakan sangat dihormati terutama dalam hal

   kata-kata, maupun tingkah laku yang ditunjukkan ketika bersama, dan bisa

   dikatakan kalau dahulunya memang antara bangsawan dan masyarakat

   biasa sama-sama menjunjung tinggi adat-istiadat, sehingga ada kesan

   pemeliharaan bersama meskipum seiring berjalannya waktu mulai

   tergeser.




                                  146
                         DAFTAR ISTILAH

A. Amak : ayah
B. Baik : Sebutan bagi anak bangsawan Mamik yang perempuan.
     Bait Wali : salah satu prosesi dalam sistem perkawinan pada saat
                 penentuan waktu akad nikah pada orang tua perempuan.
     Banjar : salah satu perkumpulan barang untuk keperluan gawe seperti
              beras, kelapa dan lain sebagainya yang mencakup kebutuhan
              gawe.
     Bayah aji : ketentuan yang harus dibayar pada acara sorong serah.
     Begawe : Gawe
     Besejati : memberitahukan pada keluarga pengantin perempuan mengenai
                kemana dan dengan siapa anaknya kawin.
     Beteteh : membuang
     Besiru : sama seperti arisan, akan tetapi menggunakan tenaga manusia dan
              hanya untuk keperluan bertani.
D.   Daye : utara
     Dende : denda
     Dende Pati: merupakan dend yang diberlakukan jika seorang melakukan
                  pemaksaan pada seorang perempuan untuk dinikahinya.
     Dende ngampasaken
     Dende gile bibir : denda yang diberlakukan saat berkata kotor terutama
                      menyebut kemaluan perempuan yang masih gadis.
     Dende gile tangan : denda yang diberlakukan jika laki-laki menyentuh
                         bagian yang terlarang pada perempuan dengan tidak
                         sengaja sekalipun
E.    Endek ketaon base : sebutan bagi orang yang melanggar adat
G.   Gantiran : pemberian kelengkapan untuk keperluan begawe pada pihak
     perempuan
     Gawe idup : gawe hidup ( perkawinan, nyunatan dan roah
     Gawe mate : gawe mati/ kematian
     Gubuk nenek : salah satu nama gubuk di Jrowaru yang didominasi
     golongan bangsawan.
     Gubuk tembok : sama seperti gubuk nenek.
J.   Jajar karang : masyarakat biasa
     Jungkat : tombak
L.    Lale : sebutan untuk kalangan wanita keturunan keturunan Raden
     Leang : sabuk yang digunakan unuk mengikat sarung tamper saat
             menggunakan pakaian adat



                                   147
     Lauk : selatan
M.    Mamik : sebutan bagi bangsawan Lalu yang sudah memiliki anak
     Melaian : melarikan, adat sasak dalam mengambil perempuan dengan cara
                dilarikan tanpa sepengetahuan dari keluarganya maupun orang
                tuanya.
N.    Nyiur : kelapa
     Nyongkolan : prosesi terakhir dalam sistem perkawinan, yaitu dengan
                    beramai-rame menggunakan pakaian adat ke rumah
                    pengantins perempuan.
P.    Perwangse : kaum bangsawan
      Pesajik : hidangan
R.    Raden : gelar kebangsawanan yang lebih tinggi dari Mamik
     Rebak pucuk : prosesi penentuan biaya yang harus dikeluarkan pihak laki-
     laki dalam perkawinan setelah prosesi bait wali
     Rerepek aik : politik dengan cara menjauhkan musuh dari sumber air yang
               dilakukan kerajaan langko terhadap kerajaan pene
     Roah : sebutan untuk begawe
S.    Sabuk tamper : leang
     Saji krame : pembayaran adat dalam perkawinan, bayaran sajikrame
                  tegantung golongan sosialnya
     Selamet dese : selamat desa
     Sorong serah : prosesi penentuan untuk memegat adat-istiadat dalam
                     prosesi pernikahan dan disinilah sajikrame ditentukan.
T.   Takepan : semacam buku yang dikarang tentang sejarah dari sutu tempat
                 dan lain sebagainya
     Timuk : timur
     Tabek : salah satu isyarat permisi jika lewat didepan orang atau didepan
              rumah orang lain




                                   148
149

								
To top