EFISIENSI PEMASARAN BUAH MANGGIS DI KECAMATAN LINGSAR, LOMBOK BARAT by gg2zRNML

VIEWS: 180 PAGES: 6

									  EFISIENSI PEMASARAN BUAH MANGGIS DI KECAMATAN LINGSAR, LOMBOK
                              BARAT

                             Muji Rahayu, Kunto Kumoro, Suyudi, dan Yunus
                         Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat


                                                   ABSTRAK

           Penelitian bertujuan untuk: (1) Mengetahui sistem pemasaran buah manggis di Kecamatan Lingsar Lombok
Barat; (2) Mengetahui efisiensi pemasaran buah manggis; (3) Mengetahui jenis pengguna (konsumen) dan wilayah
pemasarannya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deksriptif, sedangkan pengumpulan data dilakukan
dengan teknik survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Sistem pemasaran buah manggis di Kecamatan Lingsar,
Lombok Barat meliputi sistem tebasan dan sistem eceran; (2) Pemasaran buah manggis di Kecamatan Lingsar, Lombok
Barat belum efisien; (3) Jenis pengguna (konsumen) buah manggis didominasi oleh konsumen ekspor dan wilayah
distribusi buah manggis asal Kecamatan. Lingsar mencakup wilayah Kota Mataram, Kabupaten/Kota di Provinsi NTB,
Bali, dan ekspor (melaui Bali)
Kata kunci: efisiensi, sistem pemasaran, manggis



                                              PENDAHULUAN

        Pilihan terhadap sektor pertanian sebagai basis pembangunan nasional dalam kondisi
perekonomian saat ini dinilai sangat tepat (Sudaryanto et al., 1991). Hal ini disebabkan sektor
pertanian mempunyai peranan yang penting dengan justifikasi sebagai berikut: (1) kontribusi yang
dominan terhadap GDP, kesempatan kerja, dan berusaha, serta ekspor; (2) keunggulan komparatif
wilayah masih tetap bertumpu kepada penguasaan sumberdaya alam sebagai negara agraris dan
maritim; (3) pengembangan agribisnis wilayah sejalan dengan upaya membangun ketahanan
pangan yang mengakomodasi keragaman bahan pangan, budaya, dan kelembagaan lokal; dan (4)
pembangunan pertanian mampu memselaraskan dimensi pertumbuhan, pemerataan, dan
keberlanjutan pembangunan dalam arti luas.
        Seiring dengan semakin ketatnya persaingan antar negara, sektor pertanian dituntut pula
agar dapat memacu pusat-pusat pertumbuhan baru yang dapat memberi pengaruh yang signifikan
terhadap pembangunan ekonomi nasional. Salah satu pusat pertumbuhan baru yang sangat
potensial dikembangkan pada masa kini dan masa depan adalah subsektor hortikultura. Subsektor
ini memegang peranan penting dalam pertanian Indonesia secara umum. Komoditas hortikultura
merupakan komoditas yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi serta dibutuhkan untuk
pemenuhan kebutuhan vitamin dan mineral lainnya. Dengan masih rendahnya tingkat konsumsi
komoditas hortikultura, maka peluang pengembangannya masih cukup besar (Azhari, 2004;
Suryana, 2004).
         Beberapa pendekatan yang perlu dilakukan dalam pengembangan komoditas hortikultura
adalah perubahan orientasi produksi dari orientasi subsisten ke orientasi komersial. Perubahan
prioritas produksi dari komoditas primer ke komoditas sekunder (Rahayu, 2004). Salah satu
komoditas hortikultura yang dapat digunakan dan dikembangkan untuk orientasi tersebut adalah
komoditas buah-buahan. Hal ini disebabkan kerana komoditas ini memiliki keunggulan komparatif
dan kompetitif baik di pasar dalam negeri maupun di pasar internasional. Prospek komoditas
bauah-buahan di masa depan cukup prospektif sejalan dengan meningkatnya taraf hidup dan
bertambahnya jumlah penduduk. Selain itu, juga disebabkan semakin meningkatnya kesadaran gizi,
gaya hidup, dan daya beli masyarakat terutama di kota-kota besar (Azhari, 2004).
        Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu komoditas buah-buahan yang
memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dan nilai gizi yang tidak kalah pentingnya dengan buah-
buahan lainnya, serta dapat dikembangkan untuk orientasi agribisnis. Permintaan buah manggis
dari dalam maupun luar negeri terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai contoh volume ekspor
manggis Indonesia pada tahun 1997 sebesar 1.808 ton meningkat menjadi 7.182 ton pada tahun
2000 dan terus meningkat hingga sekarang (Wagiyono, 2002). Sementara itu luas panen dan
produksi manggis juga terus mengalami peningkatan. Tahun 1997 luas panen sebesar 3.593 ha
dengan produksi 17.475 ton meningkat menjadi 5.192 ha dengan produksi 26.400 ton.
        Nusa Tenggara Barat (NTB) khususnya Kaupaten Lombok Barat merupakan salah satu
sentra produksi manggis di Indonesia yang lauas penen dan produksinya terus mengalami
peningkatan. Pada tahun 1997 kuas panen manggis di Kabupaten Lombok Barat mencapai 10.302
pohon dengan produksi sebesar 90,8 ton meningkat menjadi 11.362 pohon dengan produksi sebesar
213,3 ton pada tahun 2002. Luas panen dan produksi manggis di daerah ini masih dapat
ditingkatkan asalkan dikelola secara intensif sesuai dengan teknologi yang direkomendasikan
(Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kab. Lombok Barat, 2003).
         Untuk mempercepat pengembangan komoditas pertanian, khususnya manggis, pemerintah
Kabupaten Lombok Barat sejak tahun 2000 menetapkan Kecamatan Lingsar sebagai salah satu
sentra produksi manggi. Hal ini disebabkan wilayah ini sangat cocok untuk pertumbuhan dan
perkembangan manggis serta didukung oleh kondisi iklim yang memenuhi persyaratan tanaman
tersebut. Meskipun jumlah produksi manggis di daerah ini mengalami peningkatan, namun belum
menjamin pendapatan petani manggis mengalami peningkatan. Hal ini antara lain sangat ditentukan
oleh sistem pemasarannya.
         Berdasarkan uraian di atas, yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1)
bagaiman sistem pemasaran manggis di Kecamatan Lingsar Lombok Barat; (2) apakah pemasaran
buah mangga tersebut sudah efisien; dan (3) siapa saja jenis pengguna dan wilayah pemasarannya.
Untuk menjawab pemasalahan tersebut, maka perlu di lakukan penelitian tentang "Efisiensi
Pemasaran Buah Manggis di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat" dengan tujuan sbb: (1)
mengetahui sistem pemasaran buah manggis di Kecamatan Lingsar Lombok Barat; (2) mengetahui
efisiensi pemasaran buah manggis; dan (3) mengetahui mengetahui jenis pengguna (konsumen) dan
wilayah pemasarannya.


                                   METODE PENELITIAN

        Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, sedangkan
pengumpulan data dilakukan dengan teknik survei. Daerah sampel penelitian ditentukan secara
Purposive Sampling yaitu Desa Batu Mekar dan Desa Mangkalan atas pertimbangan bahwa kedua
desa tersebut memiliki lahan kebun manggis terluas dan jumlah rumah tangga petani produsen
manggis terbanyak.
        Jumlah sampel responden ditentukan secara Quota Sampling yaitu dengan menetapkan
sebanyak 30 rumah tangga petani, sedang penentuan jumlah responden dilakukan secara
Proportional Random Sampling yaitu 20 rumah tangga petani dari Desa Batu Mekar dan 10
rumahtangga petani dari Desa Mangkalan. Sementara penentuan responden lembaga pemasaran
dilakukan dengan cara Snow Ball Sampling. Jenis data dalam penelitian ini meliputi data kuantitatif
dan data kualitatif, sedangkan sumber data berupa data primer dan data sekunder.
        Variabel yang diukur dalam penelitian ini meliputi: jumlah produksi, nilai penjualan,
volume penjualan, harga jual, harga beli, volume pembelian, biaya pemasaran keuntungan yang
diperoleh lembaga pemasaran, margin pemasaran, dan lembaga pemasaran. Analisis data yang
digunakan adalah analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan pada
pengkajian saluran pemasaran dan jenis konsumen, share petani, distribusi keuntungan. Analisis
kuantitatif digunakan untuk menganalisis margin pemasaran, dan volume penjualan.
                                         HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik
       Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi: umur, tingkat pendidikan, jumlah
tanggungan keluarga, dan pengalaman berusaha. Rinciannya disajikan pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Karakteristik Responden pada Pemasaran Buah Manggis di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, 2004

                    Uraian                    Petani/Produsen               Lembaga Pemasaran
     1.    Umur (tahun)
           Rata-rata                                 41                               45
           Kisara                               30 - 58                          35 - 56
     2.    Tingkat Pendidikan
           < SD                                      12                               4
           >SD                                       18                              10
     3.    Tanggungan Keluarga (orang)
           Rata-rata                                 5                               4
           Kisaran                                 3-7                             2-8
     4.    Pengalaman Berusaha
           Rata-rata                                 17                               12
           Kisaran                              15 - 20                           8 - 10

Sistem Pemasaran Buah Manggis
        Sistem pemasaran buah manggis ditingkat petani ada dua macam, yaitu sistem tebasan dan
sistem penjualan per satuan unit (ditimbang). Sistem tebasan adalah pembelian ketika buah masih
berada di atas pohon, baik ketika manggis telah tua maupun dalam kondisi setengah masak,
sehingga sistem seperti ini dapat merugikan petani bila tidak ahli menaksir jumlah buah yang ada
di pohon. Sedangkan sistem eceran adalah pembelian oleh lembaga pemasaran dengan melakukan
penimbangan (per unit satuan kg, kw atau ton) dan sistem ini tidak menanggung risiko kesalahan
menaksir jumlah buah di pohon. Sistem pemasaran ditingkat lembaga perantara yaitu dari
pedagang pengumpul desa ke pedagang besar sistem per satuan unit (ditimbang), sedangkan
pengumpul desa ke pengecer juga dengan dengan sistem per satuan unit (ditimbang).
       Harga dasar jual buah manggis lebih banyak ditentukan oleh pedagang besar, sedangkan
pedagang perantara dan pedagang lainnya akan menyesuaikan meskipun terdapat pula proses tawar
menawar. Selanjutnya yang lebih banyak dengan konsumen akhir adalah pedagang pengecer, dan
biasanya pedagang pengecer tidak hanya menjual buah manggis, tetapi juga buah-buahan lain,
sehingga volume penjualannya di tingkat pengecer tidaklah besar.

Saluran Pemasaran Buah Manggis
      Terdapat 5 (lima) macam saluran pemasaran buah manggis pada sentra produksi di
Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, (Gambar 1) yaitu:
I.        Petani – Pedagang Pengumpul Desa (PPD) – Pedagang Besar (PB) – Pengecer.
II. Petani – Pedagang Pengumpul Desa (PPD) – Pedagang Besar (PB) – Eksportir.
III. Petani – Pedagang Besar (PB) – Pengecer
IV. Petani – Pedagang Besar (PB) – Eksportir
V. Petani – Pedagang Pengumpul Desa (PPD) – Pengecer
          Gambar 1. Saluran Pemasaran Buah Manggis di Kecamatan Lingsar Lombok Barat, 2004.

Efisiensi Pemasaran Buah Manggis
         Efisiensi pemasaran adalah kemampuan jasa-jasa pemasaran untuk dapat menyampaikan
suatu produk dari produsen ke konsumen secara adil dengan memberikan kepuasan pada semua
pihak yang terlibat untuk suatu produk yang sama. Kriteria efisiensi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah: margin pemasaran, share petani (produsen), distribusi keuntungan, dan
volume penjualan. Efisiensi pemasaran buah manggis di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat
seperti tertera pada Tabel 2.
Tabel 2. Margin Pemasaran, Share Produsen, Distribusi Keuntungan, dan Volume Penjualan Buah Manggis di
         Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, 2004.

                                                        Saluran Pemasaran
              Kriteria
                                      I           II           III          IV          V
  1.   Margin pemasaran             1000        7000          500           4000       500
  2.   Share produsen (%)            73         33,33         87,5           65        85,7
  3.   Distribusi keuntungan        0,66         0,54         0,76          0,88       0,66
  4.   Volume penjualan (kg)        150           50           45            105       120

         Berdasarkan kriteria efisiensi pemasaran, maka pemasaran buah manggis di Kecamatan
Linsar, Lombok Barat belum efisien. Namun dari ke lima saluran tersebut, maka saluran yang
paling efisien dibandingkan dengan saluran lainnya adalah saluran pemasaran III. Hal ini
ditunjukkan oleh margin pemasaran yang paling kecil, share petani (produsen), dan distribusi
kuntungan yang paling besar dibandingkan dengan saluran lainnya. Kelemahan pada saluran
pemasaran III adalah rendahnya volume buah manggis yang dapat dipasarkan. Keadaan ini
mengisyaratkan bahwa apabila dalam keadaan persediaan produksi yang melimpah, maka saluran
III tidak akan mampu memasarkan seluruh produk buah manggis sehingga akan menimbulkan
masalah baru, yaitu penurunan harga buah manggis. Dalam kondisi seperti ini, maka saluran I dan
IV adalah sangat perlu dipertimbangkan untuk digunakan karena saluran ini mempunyai omzet
penjualan yang paling tinggi, share produsen cukup tinggi, margin pemasaran relatif kecil,
walaupun distribusi keuntungan cukup rendah. Berarti pembagian keuntungan antara lembaga
pemasaran yang terlibat tidak merata.

Konsumen dan Distribusi Buah Manggis
         Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna (konsumen) buah manggis
yang berasal dari Kecamatan Lingsar Lombok Barat adalah konsumen di luar daerah/luar negeri
(78%), sedangkan sisanya 22% dikonsumsi oleh konsumen lokal di Kota Mataram dan sekitarnya.
Wilayah distribusi buah manggis yang berasal dari Kecamatan Lingsar, Lombok Barat sampai saat
ini adalah wilayah Kota Mataram dan kabupaten/kota yang ada di NTB, Bali dan ekspor (melalui
Bali).. Untuk lebih jelasnya wilayah distribusi buah manggis disajikan pada Gambar 2.




Gambar 2. Bagan Wilayah Distribusi Buah Manggis yang Berasal dari Lingsar Lombok Barat, 2004.


                                          KESIMPULAN

1. Sistem pemasaran buah manggis di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat meliputi: sistem
   tebasan dan sistem eceran;
2. Pemasaran buah manggis di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat belum efisien;
3. Jenis pengguna (konsumen) buah manggis didominasi oleh konsumen ekspor dan wilayah
   distribusi buahnya mencakup wilayah Kota Mataram, Kabupaten/Kota di Provinsi NTB, Bali
   dan ekspor (melaui Bali)


                                       DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2004. Sinkronisasi Pelaksanaan Pengembangan Hortikultura 2004. Departemen Pertanian,
      Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.
Azhari, D.H., 2004. Dukungan Pengolahan dan Pemasaran Hasil terhadap Pengembangan
       Agribsinis Hortikultura. Makalah Disampaikan pada Pertemuan Sinkronisasi Pelaksanaan
       Pengembangan - Hortikultura 2004. Cisarua Bogor, 24 – 27 Mei 2004.
Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan, 2003. Laporan Tahunan Dinas Pertanian
       Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Lombok Barat, Tahun 2003. Mataram.
Sudaryanto, T., I W. Rusastra, E. jamal, dan A. Syam. Pengembangan Teknologi Pertanian
       Partisipatif Dalam Mendukung Pemberdayaan Petani dan Pengembangan Agribisnis.
       Makalah diampaikan pada Peresmian Gedung BPTP Bali dan Ekspose Teknologi Pertanian
       5 Tahun IPPTP Denpasar, 5 September 2001. Denpasar.
Suryana, A. 2004. Dukungan Penyediaan Teknologi Bagi Pengembangan Hortikultura. Makalah
       Disampaikan pada Pertemuan Sinkronisasi Pelaksanaan Pengembangan Hortikultura 2004.
       Cisarua Bogor, 24 – 27 Mei 2004.

								
To top