Modul / Tatap Muka I by S5k2Kcs

VIEWS: 21 PAGES: 17

									                                                Modul 7

                         PENINGKATAN DAYA SAING DAN
                                     KEWIRAUSAHAAN




            DAYA SAING PEREKONOMIAN INDONESIA


            Daya Saing Perekonomian Indonesia Sebelum Krisis Ekonomi 1997
                   Pada tahun 1990-an sampai masa sebelum krisis ekonomi yang terjadi
            mulai pertengahan 1997, kinerja daya saing perekonomian Indonesia berada pada
            masa keemasan. Bahkan John Naishbitt dalam bukunya Megatrends Asia
            menyebutkan bahwa Indonesia akan menjadi “Macan Asia” yang cukup penting.
            Julukan semacam ini diberikan kepada Negara-negara yang menguasai ekonomi
            di Asia. Pada era pra krisis ekonomi ini indicator ekonomi makro Indonesia sangat
            baik. Product Domestic Bruto (PDB) riil tahunan tumbuh rata-rata mendekati 7%
            dari 1987-1997. PDB juga mencapai lebih dari $1,000 di tahun 1996. Sektor
            property berkembang pesat, serta sector perbankan juga tumbuh cepat sebagai
            dampak liberalisasi sector perbankan pada 1980-an. Selain indicator ekonomi,
            pembangunan manusia Indonesia pada era tersebut juga berjalan pesat
            sebagaimana laporan dari UNDP yang mengatakan bahwa antara tahun 1975-
            1997, Indonesia mencapai perkembangan paling tinggi dalam hal ‘pembangunan
            manusia’ dibanding beberapa Negara Asia lain seperti Singapura, Korea Selatan,
            dan Hong Kong untuk kategori Negara yang bermula dari tahap ‘pembangunan
            manusia rendah’.


            Daya Saing Perekonomian Indonesia Setelah Krisis Ekonomi 1997
                   Masa keemasan ekonomi Indonesia mulai memudar terutama sejak pasca
            krisis ekonomi tahun 1997. Keterpurukan Indonesia pasca krisis ekonomi
            mengungkap beberapa kelemahan structural dalam ekonomi Indonesia, yang
            berimbas pada penurunan daya saing perekonomian Indonesia disbanding
            Negara Asia lainnya. Keterpurukan dan penurunan daya saing tersebut masih




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB           Syafril Yurisno, SE.,MM.   PEREKONOMIAN INDONESIA   1
            berlangsung hingga saat ini. Hasil survey beberapa kali menunjukkan rendahnya
            daa saing ekonomi Indonesia. Penurunan daya saing ekonomi Indonesia ini
            disebabkan oleh berbagai alasan. World Economic Forum (2005) menyebutkan
            daya saing Indonesia yang makin melemah disebabkan lemahnya kepastian
            hukum dan peraturan di Indonesia. Studi oleh Bank Dunia (2006) menyimpulkan
            bahwa masalah perizinan dan korupsi telah menurunkan minat investor asing
            untuk berinvestasi di Indonesia. UNDP (2005) melaporkan bahwa Indeks
            Pembangunan Manusia Indonesia ada pada peringkat 110 dari 177 negara yang
            disurvey. Transparency International (2005) menyimpulkan bahwa tingginya
            korupsi di Indonesia terlihat dari Indeks Persepsi Korupsi di mana Indonesia ada
            pada peringkat 137 dari 159 negara yang disurvei menunjukkan buruknya
            pengelolaan birokrasi di Indonesia. Penurunan daya saing Indonesia di pasar
            global juga cenderung      mengalami penurunan. Pada tahun 1997 Indonesia
            menempati rangking 15 dari 47 negara yang disurvei, dan di tahun 2004 berada di
            urutan 69 dari 104 negara. Tahun 2005 Indonesia semakin terpuruk di urutan 74
            dalam hal daya saing global, jauh tertinggal dari Negara tetangga seperti Thailand,
            Malaysia, dan Singapura. Kepastian hukum dan peraturan masih dianggap
            sebagai salah sati aspek utama penyebab penurunan daya saing ekonomi
            tersebut. Buruknya daya saing perekonomian Indonesia, di mata investor asing
            menjadi salah satu aspek pemicu buruknya citra perekonomian Indonesia.
                   Indonesia   mengalami     kemunduran     luar   biasa   dalam   melahirkan
            perusahaan dan industry kelas dunia. Globalisasi yang telah menjadi kemestian
            adalah arena yang akan menghukum mereka yang tidak siap dan tidak tanggap
            seperti bangsa kita terhadap fenomina ini. Persoalan peningkatan daya saing
            ekonomi ini adalah persoalan serius yang mesti diperhatikan dalam mendesain
            program pemulihan ekonomi kita ke depan.
                   Daya saing yang      buruk menyebabkan sebuah perekonomian sangat
            rentan terhadap gejolak eksternal dan karenanya mudah sekali didera krisis yang
            berkepanjangan. Sebaliknya jika daya saing sebuah perekonomian baik,
            perekonomian akan mampu segera pulih dari krisis bahkan bangkit kembali untuk
            menjadi perekonomian yang tangguh dan terhormat. Bukti empiris memang
            menunjukkan bahwa Negara-negara segera bangkit perekonomiannya adaah
            Negara-negara yang daya saing ekonominya terus membaik, contohnya Malaysia
            dan Jepang.




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB            Syafril Yurisno, SE.,MM.   PEREKONOMIAN INDONESIA    2
                   Membangun ekonomi bukanlah persoalan sederhana. Ia harus ditunjang
            industrial base yang tangguh, sayangnya untuk Negara kita yang terjadi bukanlah
            sebuah proses re-industrialisasi yang lebih terencana dan terfokus untuk
            menangguhkan fondasi ekonomi dan kemudian berangsur-angsir pulih, tetapi
            sebuah proses yang kini populer dengan sebutan de-industrialisasi. Hal ini
            menegaskan bahwa perekonomian Indonesia memang memiliki potensi serius
            untuk terus berjibaku dalam krisis berkepanjangan yang tak berujung.




            Potret Daya Saing Global Indonesia
            Nilai Inti Pembangunan
                   Permasalahan utama dalam pembangunan ekonomi Indonesia adalah
            kualitas SDM. Rendahnya kualitas SDM menyebabkan rendahnya daya saing
            global bangsa Indonesia. Daya saing bangsa yang kuat menurut pendapat dari
            Todaro, apabila nilai inti pembangunan Indonesia dapat dipenuhi : sustenance
            (kemampuan      untuk    mencukupi    kebutuhan-kebutuhan      dasar),   freedom
            (kemerdekaan, kebebasan dari sikap menghamba), self esteem (jati diri) dan
            tersedianya banyak pilihan.
            Kolonialisme dan Inferiorisme
                   Rendahnya kualitas SDM akibat pembodohan terstruktur sejak berabad-
            abad lamanya. Tahun 2006 Human Development Index (HDI) Indonesia hanya
            menduduki rangking 69 dari 104 negara. Penjajahan selama lebih dari 3,5 abad
            menjadikan bangsa Indonesia inferior dan selalu pasrah pada keadaan, rendah
            diri dan tidak kreatif. Kalaupun mau berusaha, cukup puas hanya pada tataran
            pencapaian rata-rata (mediocore achievement).
                   Perkembangan kualitas SDM Indonesia tidak terlepas dari sejarah
            intervensi pemerintah dalam dunia pendidikan. Pada masa kolonialisme,
            penduduk sengaja dibuat bodoh dengan hanya mengizinkan anak orang-orang
            yang pro-pemerintah colonial yang dapat bersekolah. Hasilnya mayoritas
            penduduk Indonesia buta huruf (il-literate) dan bermental rendah (inferior). Pada
            masa orde lama hingga orde baru pendidikan tidak pernah mendapatkan prioritas
            dalam program pembangunan nasional.
            Sumber Daya Alam




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB           Syafril Yurisno, SE.,MM.   PEREKONOMIAN INDONESIA   3
                   Perekonomian Indonesia tidak bisa menggantungkan daya saingnya dari
            keunggulan komparatif apalagi hanya dengan mengeksploitasi sumber daya alam
            yang tidak terbarukan. Saat ini stok sumber daya alam tidak terbarukan seperti
            minyak bumi, gas, maupun batubara Indonesia telah menipis. Demikian juga
            sumber daya alam yang dapat diperbarui juga telah banyak rusak dan
            membutuhkan waktu yang amat lama untuk dapat dikembalikan kepada keadaan
            semula.     Rusak   dan     gundulnya    hutan    telah   menjadi   isu     yang    cukup
            memprihatinkan. Bahkan kerusakan alam yang demikian parahnya justru
            menyebabkan bencana lain muncul, seperti tanah longsor dan banjir, yang
            menambah terpuruknya daya saing perekonomian Indonesia.
            Teknologi

            Indeks teknologi ini diukur antara lain dari posisi negara bersangkutan dalam
            penguasaan     teknologi    dibandingkan    negara-negara      maju,      inovasi   bisnis,
            pengeluaran untuk riset dan pengembangan (R&D), serta kolaborasi dengan
            perguruan tinggi setempat dalam R&D. Sementara, indeks transfer teknologi
            diukur dari tingkat alih teknologi oleh investor asing, baik melalui penanaman
            modal langsung maupun pemberian lisensi untuk teknologi asing. Dalam hal
            penguasaan teknologi Indonesia juga masih kalah dibandingkan dengan Negara
            tetangga, meskipun Indonesia memiliki cadangan sumber daya alam yang cukup
            untuk membuat industry teknologi sendiri. Hal ini disebabkan karena kualitas SDM
            Indonesia yang kurang diberdayakan untuk memajukan sector teknologi.

            Iklim Usaha

            Variabel situasi makroekonomi meliputi sejumlah komponen, yakni stabilitas
            makroekonomi, peringkat utang negara dan belanja pemerintah. Untuk stabilitas
            makroekonomi, Indonesia peringkat ke-45. Sementara, untuk peringkat utang,
            Indonesia urutan ke-74, dan belanja pemerintah urutan ke-19.

            Sementara, MCI yang dikembangkan Michael E Porter mengukur daya saing
            fundamental    secara      komparatif,   dengan    menggunakan         indikator-indikator
            mikroekonomi seperti operasi dan strategi perusahaan, serta kualitas iklim usaha
            di dalam negeri pada negara bersangkutan.

            Kualitas iklim usaha di sini meliputi antara lain kualitas infrastruktur fisik,
            infrastruktur administratif, sumber daya manusia, infrastruktur teknologi, pasar




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB               Syafril Yurisno, SE.,MM.   PEREKONOMIAN INDONESIA         4
            modal, kondisi permintaan, ada-tidaknya industri terkait dan industri pendukung,
            ada-tidaknya insentif usaha dan persaingan (struktur pasar).

            Hingga saat ini iklim usaha di Indonesia belum dapat dikatakan kondusif.
            Kurangnya kepercayaan pihak asing menyebabkan larinya para investor asing ke
            luar negeri. Buruknya iklim usaha di Indonesia tercermin dari kompleks dan
            berbelit-belitnya birokrasi. Sistem perizinan dengan prosedur yang panjang
            membuat para investor harus mengeluarkan dana ekstra untuk memangkas
            birokrasi dengan cara-cara yang tidak terpuji seperti suap.

            Sarana infrastruktur yang buruk, seperti rusaknya jalan-jalan sangat menghambat
            aktivitas perekonomian. Hal ini memberikan gambaran buruk bagi para investor
            bahwa pajak yang mereka bayarkan kepada Negara tidak memberikan imbal balik
            bagi kelangsungan usaha mereka.

            Industri Manufaktur

                   Industri   manufaktur    boleh    jadi   merupakan     sosok    yang   paling
            menggambarkan problematika perekonomian Indonesia dewasa ini. Di era dunia
            datar (flat world) yang dipicu oleh globalisasi dan liberalisasi, industri manufaktur
            berada di lini terdepan dalam pertarungan menghadapi persaingan mondial. Hal
            ini disebabkan industri manufaktur merupakan satu dari tiga sektor tradables. Dua
            sektor lainnya ialah pertanian serta pertambangan & galian.
                   Sesuai dengan namanya, produk-produk yang dihasilkan sektor tradables
            diperdagangkan secara bebas, baik di pasar internasional maupun pasar
            domestik. Untuk menembus pasar internasional, produk-produk sektor ini harus
            berhadapan dengan produk-produk serupa dari negara-negara lain; sementara itu
            untuk memperoleh tempat di pasar domestik, produk-produk ini harus mumpuni
            menghadang penetrasi barang-barang sejenis yang diimpor. Di antara sektor
            tradables sendiri, industri manufakturlah yang paling keras menghadapi
            persaingan. Karena karakteristik alamiahnya, derajat mobilitas produk-produk
            manufaktur lebih tinggi ketimbang produk-produk pertanian dan pertambangan.
                      Sekedar perbandingan, sektor-sektor yang tergolong non-tradables,
            yang terdiri dari sektor jasa (dalam artian luas, meliputi juga konstruksi dan
            utilitas), praktis tak menghadapi persaingan head to head di pasar domestik.




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB             Syafril Yurisno, SE.,MM.    PEREKONOMIAN INDONESIA    5
            Misalnya: sektor listrik, gas, dan air bersih; komunikasi, pendidikan, rumah sakit,
            dan jasa angkutan.
                      Mengingat intensitas perdagangannya sangat tinggi, industri manufaktur
            menghadapi hampir segala persoalan di hampir semua “medan laga”, baik di
            lingkungan internal, industri maupun eksternal. Juga terkena imbas langsung dari
            persoalan-persoalan yang dihadapi di lingkup pasar domestik mapun pasar
            internasional. Tingkat efisiensi dan produktivitas yang tinggi di tingkat perusahaan
            semata tak bisa menjamin keberhasilan seandainya faktor-faktor eksogen tak
            mendukung, misalnya: kualitas infrastruktur yang buruk, korupsi dan pungutan liar,
            birokrasi yang bobrok, kerangka institusi yang lemah, kualitas sumber daya
            manusia yang rendah, serta risiko bisnis dan politik yang tinggi.
                      Di masa lalu, persoalan-persoalan yang pelik dan sama sekali tak bisa
            dikendalikan oleh perusahaan tak begitu menjadi masalah. Karena, seluruh
            persoalan tersebut,    yang    bermuara pada peningkatan kos           (cost),   bisa
            ditransmisikan ke dalam harga. Harga yang lebih mahal tak berdampak signifikan
            pada daya saing, mengingat pemerintah menerapkan larangan ataupun
            pembatasan impor untuk melindungi industri dalam negeri.
                      Dengan makin terseretnya kita ke dalam arus liberalisasi, praktik-praktik
            perlindungan    yang    berlebihan—bahkan      untuk    beberapa    kasus,   sedikit
            perlindungan sekalipun tak dimungkinkan—industri manufaktur harus berjibaku
            menerjang segala hambatan internal dan lebih cerdik dalam menyiasati
            hambatan-hambatan eksternal. Tuntutan yang harus dipenuhi juga kian berat. Tak
            cukup sekedar berbenah untuk lebih baik (good is good enough), melainkan harus
            berupaya untuk selalu menjadi yang terbaik atau di antara kelompok terbaik,
            menawarkan keunikan, serta cepat tanggap terhadap perubahan yang muncul dari
            segala arah, tak terduga, dan kian cepat.
                    Ditambah dengan situasi yang kian tak tertata (ungoverned), secara
            alamiah sektor non-tradables maju pesat; sebaliknya, sektor tradables, termasuk
            industri manufaktur, mengalami kemunduran relatif. Kecenderungan demikian
            telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, yang membuat daya tahan
            perekonomian tak kunjung membaik secara berarti. Salah satu indikasinya ialah
            peringkat daya saing perekonomian Indonesia dalam lima tahun terakhir terus
            menerus turun. Pada tahun 2003 kita berada pada peringkat 49 dari 51 negara




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB             Syafril Yurisno, SE.,MM.   PEREKONOMIAN INDONESIA     6
            dan pada tahun 2007 terperosok ke urutan 54 dari 55 negara (International
            Institute for Management Development, World Competitiveness Yearbook, 2007).
            .         Indikasi kedua terlihat dari komposisi ekspor yang semakin didominasi
            oleh komoditas primer dan produk-produk manufaktur berbasis sumber daya alam
            dengan tingkat pengolahan yang minim. Hal inilah yang menyebabkan indeks
            perdagangan intra-industri kita sangat rendah dan jauh tertinggal dibandingkan
            negara-negara Asean-4 lainnya (Malaysia, Filipina, dan Thailand). Terlihat pula
            dari kenyataaan bahwa di tengah kecenderungan komposisi ekspor negara-
            negara tetangga yang semakin konvergen, kita lain sendiri. Kalau di negara-
            negara tetangga koefisien komposisi ekspor sekitar 0,7 (koefisien bergerak antara
            0 hingga 1), Indonesia hanya 0,2. Faktor pendorong dari proses pendalaman
            industri dan penguatan ekspor adalah peranan parts and components. Sekedar
            perbandingan, sumbangan parts and component terhadap eksor total Indonesia
            hanya belasan persen, padahal di negara-negara Asean-4 lainnya berkisar antara
            30-65 persen.
                    Pendalaman dan pematangan proses industrialisasi yang terjadi di negara-
            negara tetangga dimungkinkan oleh sentuhan penanaman modal asing langsung.
            Negara-negara tetangga menjadi bagian dari sistem global production network
            mereka, antara lain karena peran negara semakin besar dalam mendorong
            alokasi sumber daya produktif yang sejalan dengan tuntutan supply chain
            management dari perusahaan-perusahaan transnasional. Di era “dunia datar”,
            memang peran negara bertambah vital dalam meningkatkan daya saing
            perekonomian.
                    Salah satu faktor yang sangat strategis untuk meningkatkan daya saing
            perekonomian ialah kapasitas dalam melakukan inovasi dan penyesuaian
            (capacity to innovate and adjust). Faktor inilah yang menghasilkan produk-produk
            baru lewat kegiatan research and development (R&D). Lagi-lagi, Indonesia sangat
            tertinggal.
                    Data    terbaru   yang   diterbitkan   Bank   Dunia   (2007)   menunjukkan,
            pengeluaran untuk R&D di Indonesia hanya 0,3 miliar dollar AS setahun.
            Bandingkan dengan Malaysia yang pada tahun yang sama membelanjakan 1,5
            miliar dollar AS, dan negara kecil Singapura sebesar 2,2 miliar dollar AS. Jangan
            bandingkan dengan China yang menghabiskan 72 miliar dollar AS untuk kegiatan
            R&D. Lebih ironis lagi, untuk kasus Indonesia, dari jumlah dana untuk R&D yang




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB              Syafril Yurisno, SE.,MM.   PEREKONOMIAN INDONESIA   7
            sedikit itu, 84,5 persen diserap oleh sektor pemerintah, sedangkan sektor dunia
            usaha (business) hanya 14,3 persen. Sebaliknya, di China, yang notabene negara
            komunis, porsi pemerintah sangat kecil (29 persen), sedangkan sektor swasta
            sangat mendominasi dengan porsi 62,4 persen. Bagaimana mungkin kita bisa
            bersaing kalau daya inovasi sangat rendah, sebagaimana tercermin dari dana
            untuk R&D hanya 0,1 persen dari PDB (produk domestik bruto), sementara
            negara-negara tetangga rata-rata menyisihkan lebih dari 10 kali lipat atau di atas 1
            persen dari PDB mereka.
                     Peraga menunjukkan anatomi yang memengaruhi daya saing, yang
            bersumber dari internal perusahaan maupun dari lingkungan luar. Perlu dicatat
            bahwa daya saing yang tinggi baru memiliki makna apabila menciptakan lapangan
            kerja dan kemakmuran yang berarti bagi masyarakat banyak. Jadi tak sekedar
            mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional. Dalam kaitan ini,
            memajukan industri manufaktur tak bisa dilakukan dengan jalan pintas seperti
            dengan membangun kawasan ekonomi khusus, dengan menawarkan perlakuan
            yang serba istimewa sehingga terlepas dari konteks nasional. Cara begini hanya
            menghasilkan enclaves, sehinggaa tidak menyelesaikan akar persoalan dan tidak
            menawarkan penyelesaian yang menyeluruh. Kita tak bisa serta merta meniru
            China yang membangun kawasan-kawasan khusus di awal penerapan kebijakan
            pintu terbuka. Karena, China bermula dari kondisi isolasi dan perencanaan
            terpusat ala sistem komunisme tulen yang tidak memberlakukan mekanisme
            pasar.
                     Sedemikian banyak indikasi yang membawa pada kesimpulan bahwa
            selama era reformasi gerak industri manufaktur kita terseok-seok. Apakah
            industrialisasi sudah mencapai tingkat optimal, sehingga kita biarkan saja peranan
            sektor industri manufaktur menurun dan digantikan oleh peningkatan sektor jasa
            sebagaimana pola yang dijumpai di negara-negara maju?
                     Rasanya, tidak. Pengalaman di banyak negara menunjukkan bahwa
            peranan sektor industri manufaktur terhadap PDB akan terus naik hingga
            mencapai 35 persen. Baru setelah itu lambat laun turun, dan perannnya
            digantikan oleh sektor jasa. Dewasa ini sumbangan industri manufaktur terhadap
            PDB di Indonesia masih di bawah 28 persen, dengan kecenderungan yang sudah
            menurun. Ini akibat logis dari pertumbuhan manufaktur yang setelah reformasi,




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB             Syafril Yurisno, SE.,MM.   PEREKONOMIAN INDONESIA    8
            terutama dalam lima tahun terakhir, hampir selalu lebih rendah daripada
            pertumbuhan PDB.
                         Sebetulnya, pada paruh pertama 2007 ada tanda-tanda pemulihan
            pertumbuhan industri manufaktur. Sayangnya awal yang baik ini tak bertahan
            lama. Memasuki triwulan ketiga 2007, pertumbuhan manufaktur kembali merosot
            menjadi 4,5 persen, turun dari 5,5 persen pada triwulan sebelumnya. Hal ini terjadi
            justru ketika pertumbuhan PDB menguat dari 6,3 persen menjadi 6,5 persen.
            Kembali meredupnya momentum akselerasi pertumbuhan manufaktur disebabkan
            oleh kenaikan kos energi yang tajam, sementara hambatan-hambatan struktural
            yang dihadapi sektor ini tak kunjung terselesaikan dengan tuntas. Praktis, industri
            manufaktur tak lagi memiliki energi cadangan untuk menghadapi gejolak
            eksternal.
                         Masih adakah peluang bagi industri manufaktur untuk menjadi lokomotif
            pertumbuhan dan sekaligus memperkokoh struktur perekonomian Indonesia? Tak
            ada keraguan sama sekali. Setidaknya dalam 15 tahun ke depan kita masih
            memiliki ruang gerak yang cukup leluasa untuk kembali meningkatkan dinamika
            perkembangan industri manufaktur, hingga sumbangannya terhadap PDB
            mencapai sekitar 35 persen.
                         Landasan optimisme terletak pada dua faktor utama, yakni: karunia
            sumber daya alam yang relatif melimpah dan beragam sebagai sumber bahan
            baku bagi beragam industri dan potensi pasar domestik yang cukup besar.
                         Untuk mewujudkan potensi yang selama ini terabaikan—untuk tak
            mengatakan kita matikan sendiri, sadar ataupun tak sadar—ada satu prasyarat
            pokok. Pertama, merumuskan kebijakan industrial yang dipadukan dengan
            kebijakan pertanian dan kebijakan energi. Kebijakan industrial tak bisa lagi
            berjalan sendiri. Dengan kebijakan terpadu, kekuatan kita akan terhimpun secara
            maksimal, yang akan terwujud dalam bentuk kekuatan daya saing yang kokoh.
            Tidak mustahil dalam waktu tak sampai 20 tahun ke depan, Indonesia bakal
            menjadi kekuatan ekonomi besar mendampingi China dan India. Jika China
            bertumpu pada industri manufaktur dan India pada teknologi informasi, Indonesia
            bertopang pada perpaduan sumber kekuatan pertanian dan energi.
                         Prasyarat lainnya tergambar pada peraga. Seluruh elemen di segala lini
            harus diperkuat. Cara pandang kita dalam menyelesaikan masalah tak bisa lagi
            linear. Paradigma baru harus dikuakkan.




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB              Syafril Yurisno, SE.,MM.   PEREKONOMIAN INDONESIA   9
            Potret Daya Saing Global
                     Daya Saing Global menurut Executive Summary WEF adalah kemampuan
            nilai tukar mata uang suatu Negara (exchange rate) mempengaruhi produktivitas
            nasional. Daya saing diartikan sebagai akumulasi dari berbagai factor, kebijakan
            dan kelembagaan yang memepengaruhi produktivitas suatu Negara sehinggan
            akan emenetukan tercapainya kesejahteraan rakyat dalam system perekonomian
            nasional. Produktivitas adalah penentu utama tingkat ROI (return on Investment)
            dan agregasi pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian semakin kompetitif daya
            saing sebuah system perekonomian maka pembangunan akan tumbuh lebih cepat
            dalam waktu menengah dan panjang.
                     Daya saing juga dapat dilihat dari kebijakan makroekonomi. Pada era orde
            baru, pertumbuhan ekonomi cukup tinggi (7-9%), namun karena terjadi salah
            kelola (mismanaging) dan salah arah kebijakan (misguiding) public finance
            dengan diberlakukannya DFI (Direct Foreign Investment) sehingga pada saat
            krisis akibatnya Negara yang menanggung Utang pihak swasta. Faktor-faktor lain
            sebagai penentu daya saing global diantaranya: kesempatan berusaha, system
            peradilan yang fair, pajak yang bermanfaat, birokrasi, inovasi teknologi dan
            pendidikan, hubungan internasional dan hak cipta. Terjadinya pergantian
            pemerintahan, kerusakan infrastruktur (akibat banyaknya bencana alam, tsunami,
            gempa bumi, dan banjir) dan hancurnya pasar uang menyebabkan daya saing
            perekonomian Indonesia terpuruk.


            Pelaku Ekonomi Harus Gencarkan Daya Saing

                     Para pelaku ekonomi baik pemerintah selaku regulator maupun pengusaha
            sendiri, harus meningkatkan daya saing bidang ekonomi. Pentingnya memacu
            daya saing agar posisi Indonesia lebih kompetitif dalam percaturan ekonomi
            global. Pernyataan-pernyataan pemerintah yang mengklaim telah melakukan
            berbagai perbaikan regulasi dalam rangka menciptakan iklim investasi dianggap
            kurang tepat. Hal itu sangat subjektif. investor asing akan melihat sendiri hasil
            rating   dari   lembaga   pemeringkat    internasional   yang    terpercaya.   Data
            menunjukkan, daya saing pelaku ekonomi kita baik dari segi kebonafidan
            pengusaha maupun produktivitas tenaga kerja masih sangat rendah. Demikian
            pula, masih minim kemampuan daya saing masyarakat dalam hal produktivitas




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB             Syafril Yurisno, SE.,MM.   PEREKONOMIAN INDONESIA   10
            modal sosial maupun daya saing negara dalam sistem tata kelola yang baik,
            stabilitas politik, kemudahan berbisnis dan terpenuhinya perjanjian internasional.

                   Mengutip    hasil     pemeringkatan    Moody      dan   Standard   and   Poor
            memperlihatkan untuk kemudahan berbisnis, Indonesia menduduki ranking 131
            pada tahun 2005 dari 175 negara. Pada tahun 2006, ranking tersebut melorot
            menjadi 135. Untuk urusan lisensi usaha, Indonesia menduduki ranking 131
            dengan waktu pengurusan 224 hari, sedangkan dalam hal produktivitas tenaga
            kerja pengusaha Indonesia dinilai sulit memecat pekerja yang indeksnya di bawah
            50 dengan skala 0 - 100. Apalagi dalam hal melakukan pembayaran pajak,
            Indonesia menduduki ranking 133 dan pengurusan perizinan menghabiskan waktu
            576 jam. Pengurusan pembayaran saja sampai demikian, apalagi restitusi pajak
            lima tahun pun tidak akan kembali Demikian halnya untuk kepastian dalam
            melaksanakan      kontrak,     Indonesia     menduduki    peringkat    145   dengan
            menghabiskan waktu 570 hari. Lemahnya daya saing tersebut semakin kompleks
            karena aparatur pemerintah pun sangat lemah dalam melakukan koordinasi.
            Ditambah dengan infrastruktur ekonomi dan sosial yang kurang memadai.

            Partisipasi Masyarakat

                   Pemerintah harus mengubah kebijakan dengan lebih memberi perhatian
            pada peningkatan peran masyarakat ketimbang meningkatkan kesejahteraan para
            aparat negara. Pemerintah saat ini dihadapkan pada permasalahan yang pelik
            yakni tingginya tingkat pengangguran dan angka kemiskinan. Pada zaman Orde
            Baru, pemerintah sudah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap
            peningkatan kesejahteraan aparat pemerintah, tetapi hasilnya tidaklah maksimal.
            Sebab itu, sepantasnya kalau pemerintah saat ini harus kembali ke peningkatan
            kesejahteraan rakyat, sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

                   Selain masalah kemiskinan dan pengangguran, besarnya stok utang
            pemerintah menyebabkan dana yang digunakan untuk pembangunan masyarakat
            sangat kecil. Sebab itu, pemerintah hendaknya mengambil suatu terobosan
            penyelesaian utang dengan melakukan negoisasi ke negara-negara donor agar
            mendapat kemudahan grace period (tidak membayar utang dalam kurun waktu
            tertentu). Persoalan terbesar yang dihadapi perekonomian Indonesia saat ini
            adalah besarnya stok utang dan upaya untuk memerangi kemiskinan.




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB              Syafril Yurisno, SE.,MM.    PEREKONOMIAN INDONESIA   11
                   Terkait dengan persoalan utang Indonesia pada sejumlah pihak, maka
            sikap yang harus dan wajib dimiliki oleh masyarakat sebagai wujud partisipasinya
            bagi peningkatan daya saing perekonomian Indonesia adalah sikap kemandirian.
            Apabila kemandirian telah menjadi suatu karakter dan semangat bangsa yang
            independen       dan   memiliki   keberanian,   maka   langkah     berikutnya   adalah
            menguatkan semangat kemandirian tersebut menjadi keunggulan kompetitif yang
            benar-benar riil, yaitu kemandragunaan, suatu keunggulan daya saing yang
            berbasis Intelectual Capital. Bila daya saing kemandirian membutuhkan suatu
            pembangunan karakter anak bangsa, maka daya saing kemandragunaan
            membutuhkan pengembangan system pendidikan (selain system kesehatan dan
            distribusi pendapatan nasional) yang mampu menghasilkan anak bangsa
            berkualitas tinggi.

            Pendidikan

                   Pendidikan di setiap tahapan menjadi hal penting dalam peningkatan daya
            saing bangsa. Pendidikan tinggi sebagai bagian akhir dari proses peningkatan
            daya saing ini akan sangat menentukan peran dalam meningkatkan daya saing
            ekonomi suatu bangsa dan Negara, sekaligus mengentaskan kemiskinan yang
            sekarang ini menjadi “program” popular Negara berkembang dimana pun,
            termasuk Indonesia. Oleh karena itu diperlukan upaya peningkatan daya saing
            secara berkelanjutan melalui pengembangan kompetensi sumber daya manusia
            (SDM), yang diharapkan akan terus menciptakan nilai tambah bagi perekonomian
            nasional. Program sertifikasi kompetensi bisa menjadi sarana penjamin mutu
            peningkatan daya saing berkelanjutan.

            KEWIRAUSAHAAN

                   Istilah    kewirausahaan      kata   dasarnya     berasal    dari   terjemahan
            ‘enterpreneur’ yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan arti between taker atau
            go-between. Istilah entrepreneur digunakan untuk menggambarkan seorang actor
            sebagai orang yang memimpin proyek produksi. Secara ekonomi, wirausaha
            dinyatakan sebagai orang yang mendobrak system ekonomi yang ada dengan
            memperkenalkan barang dan jasa yang baru, dengan menciptakan bentuk
            organisasi baru atau mengolah bahan baku baru. Dari definisi tersebut wirausaha
            adalah orang yang melihat adanya peluang kemudian menciptakan sebuah




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB               Syafril Yurisno, SE.,MM.   PEREKONOMIAN INDONESIA    12
            organisasi   untuk    memanfaatkan      peluang   tersebut.     Sedangkan    proses
            kewirausahaan adalah meliputi semua kegiatan fungsi dan tindakan untuk
            mengejar dan memanfaatkan peluang dengan menciptakan suatu organisasi.
            Istilah wiraushaa dan wiraswasta sering digunakan secara bersamaan, walaupun
            memiliki substansi yang agak berbeda.

            Sifat-sifat yang Perlu Dimiliki Wirausahawan

                   Seorang wirausahawan hendaknya seseorang yang mampu menatap
            masa depan dengan lebih optimis. Ciri-ciri yang dimiliki oleh seorang wirausaha
            adalah:

               1. Percaya diri

               2. Berorientasi tugas dan hasil

               3. Pengambil resiko

               4. Kepemimpinan

               5. Keaslian

               6. Berorientasi masa depan

               7. Kreatifitas

               8. Inovasi

               9. Cara pengambilan keputusan

               10. Sikap tanggap terhadap perubahan

               11. Bekerja ekonomis dan efisien

                   Bygrave, menggambarkan wirausaha dengan konsep 10 D, yaitu:

                Dream;         mempunyai   visi   terhadap   masa        depan   dan   mampu
                   mewujudkannya

                Decisiveness; tidak bekerja lambat, membuat keputusan berdasar
                   perhitungan yang tepat




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB            Syafril Yurisno, SE.,MM.     PEREKONOMIAN INDONESIA   13
                Doers; membuat keputusan dan melaksanakannya

                Determintation; melaksanakan kegiatan dengan penuh perhatian

                Dedication; mempunyai dedikasi tinggi dalam berusaha

                Devotion; mencintai pekerjaan yang dimiliki

                Details; memperhatikan factor-faktor kritis secara rinci

                Destiny; bertanggung jawab terhadap nasib dan tujuan yang hendak
                   dicapai

                Dollars; motivasi bukan hanya uang

                Distribute;    mendistribusikan      kepemilikannya       terhadap   orang   yang
                   dipercayai

                   Kelemahan wirausaha Indonesia menurut Heidjrachman Ranu Pandjojo
                   yang perlu diperbaiki adalah :

                  Sifat mental yang meremehkan mutu

                  Sifat mental yang suka menerabas

                  Sifat tidak percaya diri

                  Sifat tidak disiplin murni

                  Sifat mental yang suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh

                   Jalan yang harus ditempuh untuk mengembangkan profesi wirausaha
                   adalah:

                Mau bekerja keras (capacity for hard work)

                Bekerja sama dengan orang lain (getting things done with and through
                   people)

                Penampilan yang baik (good appearance)

                Yakin (feel confident)




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB               Syafril Yurisno, SE.,MM.    PEREKONOMIAN INDONESIA   14
                Pandai membuat keputusan (making sound decision)

                Mau menambah ilmu pengetahuan (college education

                Ambisi untuk maju (ambition drive)

                Pandai berkomunikasi (ability to communication)

                   Karakteristik wirausaha yang sukses adalah:

                Komitmen tinggi terhadap tugas

                Mau bertanggung jawab

                Mempertahankan minat kewirausahaan dalam diri

                Peluang untuk mencapai obsesi

                Toleransi terhadap resiko dan ketidakpastian

                Yakin pada diri sendiri

                Kreatif dan fleksibel

                Ingin memperoleh balikan segera

                Enerjik tinggi

                Motivasi untuk lebih unggul

                Berorientasi masa depan

                Mau belajar dari kegagalan

                Kemampuan memimpin

               Sifat   kewirausahan      ini   apabila   dikembangkan     akan    menumbuhkan
            perusahaan-perusahan baik kecil, menengah maupun besar yang dapat turut
            memeriahkan    dunia   wirausaha       Indonesia,   yang   secara    langsung   akan
            meningkatkan daya saing perekonomian Indonesia. Sehingga dominasi ekonomi
            sector riil kita tidak hanya dipegang oleh investor swasta luar negeri tetapi juga
            dapat dikendalikan oleh pemain dari negeri sendiri. Jiwa wirausaha disertai
            kemampuan modal dan skill SDM yang memadai akan dapat membangkitkan




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB              Syafril Yurisno, SE.,MM.   PEREKONOMIAN INDONESIA   15
            perekonomian Indonesia dari keterpurukan untuk dapat bersaing dengan Negara
            tetangga. Daya saing ekonomi sebuah Negara lebih merupakan kemampuan dari
            perusahaan dan industry dari sebuah perekonomian untuk menghasilkan produk
            dan jasa yang mampu bersaing di pasar internasional.

               Ekonomi yang memiliki daya saing adalah ekonomi yang mampu melahirkan
            perusahaan-perusahaan kelas dunia, tidak hanya mampu menahan gempuran
            pesaing-pesaing asing di pasar domestic tapi juga mampu melakukan penetrasi
            dan memenangkan persaingan di pasar-pasar internasional.

            Kesimpulan

                   Daya saing perekonomian kita mengalami penurunan karena tidak
            seimbanganya variable makro dan mikro ekonomi. Meskipun kini telah
            mengindikasikan perbaikan yang tampak dari stabilnya nilai rupiah, terkendalinya
            laju inflasi dan cadangan devisa yang memadai, tetapi variable mikro kita keropos
            yang terlihat dari daya saing yang melemah dan berakibat pada pengangguran,
            rendahnya daya beli serta angka kemiskinan yang bertambah. Sejumlah
            perusahaan asing pun pindah ke Negara lain yang disebabkan karena naiknya
            upah dan biaya produksi.

                   Untuk mendongkrak perekonomian Indonesia di dunia internasional
            diperlukan keberanian dari pemerintah untuk mengkomunikasikan kepada
            masyarakat bagwa tak ada penyelesaian singkat dlaam menyelesaikan kemelut
            ekonomi kita. Pada saat yang ini reformasi dan vitalisasi sector perpajakan terus
            dilakukan untuk meningkatkan kemandirian fiscal dan mengurangi ketergantungan
            pada pinjaman luar negeri. Serta harus pula dimulai pembangunan industrial base
            yang tangguh, jangan hanya industry assembling dan foot-loose industries.

                   Kualitas SDM, kondusifnya situasi politik di dalam negeri serta iklim usaha
            yang nyaman memungkinkan daya saing perekonomian kita untuk dapat menarik
            para investor untuk menginvestasikan modalnya ke Indonesia. Pemerintah telah
            melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan daya saing perekonomian
            Indonesia diantaranya dengan memberikan berbagai fasilitas bagi para investor,
            salah satunya pemberian insentif di sector perpajakan bagi perusahaan-
            perusahaan yang memenuhi syarat sesuai PP no 1 Tahun 2007 untuk




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB            Syafril Yurisno, SE.,MM.   PEREKONOMIAN INDONESIA   16
            memperbaiki iklim investasi.     Walaupun masih banyak kekurangan, tetapi
            pemerintah juga telah menaikkan anggaran bagi belanja sector pendidikan dalam
            APBN tahun ini. Infrastruktur yang ada juga mulai diperhatikan walaupun sering
            terjadi tumpang tindih terhadap siapa yang berhak memperbaiki infrastruktur rusak
            sehubungan dengan adanya otonomi daerah.

                   Daya saing perekonomian Indonesia akan membaik jika semua indicator
            makroekonomi menunjukkan kestabilan dan perbaikan, dan juga keseriusan
            pemerintah untuk memberikan upaya perbaikan perekonomian Indonesia yang
            masih belum membaik ini. Niat baik dari pemerintah untuk memperbaiki
            perekonomian nasional menjadi harapan rakyat yang senantiasa ditunggu-tunggu.
            Semua berpulang kepada kemauan politik dan kerendahan hati pemerintah serta
            elemen-elemen bangsa yang lain untuk terus menumbuhkembangkan semangat
            pengabdian pada kepentingan bangsa dan masyarakat. Bukan mementingkan
            kelompok dan golongan serta partai secara sempit menjalankan politics as usual,
            dimana nafsu berkuasa kadang mengalahkan akal sehat dan dorongan untuk
            berkarya.




PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB           Syafril Yurisno, SE.,MM.   PEREKONOMIAN INDONESIA   17

								
To top