MODEL SENTRA PENGEMBANGAN AGRIBISNIS - DOC

Document Sample
MODEL SENTRA PENGEMBANGAN AGRIBISNIS - DOC Powered By Docstoc
					                                            0




            ANALISIS KESESUAIAN LAHAN
                       SENTRA PENGEMBANGAN SENGON
       DI KECAMATAN WAJAK & PONCOKUSUMO

       I. PENDAHULUAN

        Pembangunan perekonomian nasional diarahkan untuk mencapai dua sasaran
pokok, yaitu (1) memenuhi kebutuhan dasar penduduk dan (2) mencapai struktur
ekonomi yang seimbang. Strategi yang ditempuh untuk mencapai sasaran tersebut
ialah melalui "Trilogi Pembangunan" yang terdiri atas tiga unsur yang terpadu dalam
suatu kesatuan, yaitu (1) pertumbuhan yang tinggi, (2) pemerataan hasil-hasil pertanian,
dan (3) stabilitas yang tinggi. Sesuai dengan kebijakan ini maka pembangunan sektor
pertanian menjadi prioritas utama .
        Pembangunan sektor pertanian diarahkan pada sasaran pokok, yaitu (1)
mencapai dan mempertahankan swasembada pangan khususnya beras, (2)
menyediakan kebutuhan pangan secara beragam untuk meningkatkan kualitas gizi
masyarakat, (3) menyediakan bahan baku industri dalam negeri, (4) meningkatkan
penerimaan devisa negara melalui peningkatan ekspor dan pengu rangan impor, (5)
menciptakan lapangan kerja, (6) meningkatkan kesejahteraan petani, (7) membantu
pemeliharaan stabilitas ekonomi nasional melalui pengendalian harga komoditas
pertanian dan men dorong pertumbuhan produksi sektor pertanian.
        Dalam kerangka pelaksanaan pembangunan pertanian telah dicanangkan
strategi "Tri Matra Pembangunan Pertanian" yang terdiri atas tiga wahana
pembangunan terpadu, yaitu (1) usahatani terpadu, (2) komoditas terpadu, dan (3)
wilayah terpadu.       Usaha-usaha pokok yang ditempuh untuk melaksanakan
pembangunan pertanian ialah (1) intensifikasi usahatani, (2) ekstensifikasi usahatani, (3)
diversivikasi produksi dan konsumsi komoditas pertanian, dan (4) rehabilitasi dan
konservasi sumberdaya pertanian. Pembangunan pertanian lebih difokuskan pada
pencapaian pertumbuhan sasaran agregat yang tinggi seperti pening katan produksi
(khususnya produksi pangan), peningkatan penyerapan tenagakerja, peningkatan
ekspor dan peningkatan Produk Domestik Bruto.           Pembangunan pertanian telah
berhasil mencapai sasaran pertumbuhan agregatif . Namun demikian ternyata pola
pembangunan seperti itu mempunyai kelemah an-kelemahan seperti (1) kurang
memperhatikan aspek peningkatan pendapatan petani, (2) kurang memperhatikan
dampak lingkungan, dan (3) kurang memperhatikan keterkaitan pembangunan lintas
sektoral.
        Beberapa masalah dan kendala yang dipandang masih harus diperhatikan dalam
pembangunan pertanian adalah seperti berikut.

(1). Sumberdaya Manusia
     Salah satu kendala utama yang masih perlu ditanggulangi adalah kualitas
     sumberdaya manusia masyarakat agribisnis, khususnya petani kecil. Rumahtangga
                                           1

     tani masih banyak yang miskin dan belum cukup memperoleh pendidikan.
     Perbaikan kualitas sumber daya masyarakat tani merupakan tujuan utama
     sekaligus menjadi wahana pendorong pembangunan pertanian yang paling tepat.
(2). Pengentasan Kemiskinan
     Jumlah penduduk miskin diperkirakan masih cukup banyak, sebagian besar dari
     mereka ini tinggal di wilayah pedesaan dan menggantungkan hidupnya terutama
     pada usahatani.
(3). Diversifikasi Usahatani
     Pembangunan pertanian masih terfokus pada komoditas pangan, khususnya padi.
     Sumberdaya lahan dan sarana penunjang yang banyak dicurahkan untuk
     mendorong produksi padi telah menyebabkan lambannya pertumbuhan usahatani
     lainnya. Oleh karena itu diversifikasi produksi komoditas pertanian berjalan lebih
     lamban. Hal ini dapat mengakibatkan ketidak-efisienan alokasi sumber daya yang
     pada akhirnya dapat memperlambat pembangunan pertani an secara agregat.
     Diversifikasi produk komoditas pertanian harus lebih digalakkan dengan tetap
     memperhatikan pemenuhan kebutuhan pangan.
(4). Pemusatan Pembangunan Pertanian
     Pembangunan pertanian masih terlalu terpusat di P. Jawa, sebagian besar
     komoditas pangan dan peternkaan dihasilkan di Pulau Jawa. Pembangunan
     prasarana pengairan dan penyuluhan juga dipusatkan di P. Jawa. embangunan
     pertanian haruslah dialihkan ke luar P. Jawa, program-program pembangunan
     harus dirancang sedemikian rupa untuk dapat mencapai suatu struktur produksi
     regional yang optimal. Dalam kaitan inilah perlu disusun suatu Peta Wilayah Potensi
     Komoditas.
(5). Deregulasi dan Peran Suasta
     Peran dukungan dan subsidi pemerintah dalam mencapai keber hasilan
     pembangunan pertanian sangatlah besar. Pada masa yang akan datang kondisi
     seperti ini tidak akan dapat dipertahankan lagi. Suasana agribisnis di masa
     mendatang dicirikan oleh persiangan yang sangat ketat, baik di pasar domestik
     maupun di pasar internasional. Agribisnis akan lebih banyak diserahkan kepada
     suasta secara bebas. Persaingan bebas ini tentu dapat menimbulkan tekanan
     berat bagi usahatani kecil.
(6). Pengembangan Agroindustri
     Pembangunan pertanian dipandang belum terlalu berhasil mendorong
     pembangunan agroindustri yang terkait erat dengan sektor pertanian domestik.
     Mengingat keterbatasan sumber daya lahan yang ada, maka usapa peningkatan
     pendapatan petani dan penduduk pedesaan secara umum haruslah dengan
     mengembangkan usaha-usaha non pertanian. Oleh karena itu pengembangan
     agro industri yang terkait dengan sektor pertanian dan berlokasi di pedesaan
     merupakan tantangan yang harus diprioritaskan.
(7). Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan
     Pembangunan pertanian yang dilaksanakan terutama berfokus pada upaya
     intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensi fikasi melalui penggunaan pupuk kimia dan
     pestisida ternyata dapat berdampak pada kualitas lingkungan. Kebutuhan akan
     konservasi dan perlindungan lingkungan sudah merupakan keharusan.
(8). Luasan Usahatani
     Agribisnis komoditas tanaman bebasis pada sumberdaya lahan. Sebagian besar
     petani menguasai lahan kurang dari setengah hektar, sehingga kegiatan
                                            2

    usahataninya kurang memadai untuk menopang kehidupan yang layak bagi rumah
    tangga tani.

        Penjabaran pembangunan pertanian dilandasi oleh pemikiran-pemikiran yang
secara simultan memadukan kepen tingan mikro dan makro. Dalam kerangka
pemikiran makro, pemba ngunan pertanian merupakan bagian integral dari pembangun
an nasional secara keseluruhan, yang dalam pelaksanaannya tidak dapat dilepaskan
keterkaitannya dengan perkembangan kehidupan politik kenegaraan maupun
perkembangan keadaan secara global. Keter kaitan antara pembangunan pertanian
dengan pembangunan wilayah pedesaan adalah salah satu bentuk nyata integrasi
pembangunan pertanian dengan pembangunan secara keseluruhan. Perkembagan
teknologi komunikasi dan transportasi yang terjadi selama ini memperkuat
berkembangnya isu globalisasi yang memang tidak dapat terelakkan adanya. Dalam
sekala mikro, pembangunan pertanian pada akhirnya berhubungan dengan kegiatan
agribisnis di tingkat usahatani, yang pada gilirannya tidak dapat dipisahkan dari individu-
individu atau keluarga petani sebagai pengelola usahatani. Aspek-aspek yang berkaitan
dengan pendapatan dan keejahteraan petani dengan demi kian menjadi penting untuk
mendapatkan pemahaman terendiri dalam kegiatan pembangunan pertanian. Undang-
undang sistem budidaya tanaman secara tegas menekankan orientasi pada pendapatan
atau kesejahtaraan petani, melebihi orientasi kepada produksi.
        Faktor lain yang juga perlu diperhatikan dalam kegiatan pembangunan pertanian
adalah faktor-faktor yang terkait dengan perubahan-perubahan dalam perekonomian
Indonesia. Hal ini berkaitan dengan prinsip dasar pembangunan yang berkisar pada
kegiatan untuk mengantisipasi adanya perubahan, serta upaya untuk mengintegrasikan
perubahan-perubahan itu dalam program-program pembangunan. Dari sudut pandang
permintaan, empat perubahan utama yang perlu dipertimbangkan ialah (1) perubahan
kependudukan, baik yang menyangkut komposisi penduduk, distribusi penduduk,
maupun       adanya kecenderungan urbanisasi penduduk, (2) perubahan tingkat
pendapatana masyarakat, (3) perubahan harga komoditas pertanian, komoditas non
epertanian dan jasa, (4) perubah an tuntutan tentang kualitas produk pertanian. Dari
sudut penawaran, terdapat faktor-faktor yang tidak dapat diubah (atau perubahannya
memerlukan biaya tinggi), serta faktor-faktor yang dapat diubah atau memang berubah
menhurut waktu.        Termasuk kategori pertama ialah investasi fisik, lokasi/areal
pertanaman dalam sekala regional. Sedang kan kategori ke dua meliputi teknologi
budidaya pertanian, dan inter vensi pemerintah. Apabila pembangunan pertanian
dipandang sebagai suatu proses yang produktif untuk menghasilkan sejumlah output
tertentu, maka potensi pembangunan pertanian adalah faktor-faktor yang dapat
dipandang sebagai input bagi proses pembangunan itu sendiri. Beberapa potensi
penting dapat diperkirakan dapat ikut menjadi penentu keberhasilan pembangunan
pertanian adalah (1) sumberdaya alam, (2) sumberdaya manusia, (3) potensi pasar, (4)
potensi IPTEK dan (5) potensi kelembagaan.
        Sumberdaya alam dominan adalah lahan, air, kelautan dan perairan umum serta
sumberdaya fosil bumi dalam bentuk minyak dan gas. Lahan yang masih etersedia
untuk perluasan kegiatan pertanian tidak kurang dari 20 juta ha. Lahan ini mempunyai
kemiringan 0-15 persen dan berupa hutan, semak belukar dan padang rumput atau
alang-alang. Tantangan yang dihadapi ialah cukup tingginya biaya yang diperlukan
untuk membuka lahan pertanian baru, demikian juga biaya untuk melakukan reklamasi
lahan pertanian yang ada.
                                          3

        Sumberdaya manusia Indonesia secara kuantitatif merupakan potensi yang tidak
dapat diabaikan. Meskipun proporsi yang terlibat dalam sektor pertanian cenderung
menurun, tetapi secara absolut jumlahnya meningkat. Dengan keragaman ini maka
peluang pasar bagi produk-produk pertanian dan industri cukup besar. Keterbatasan
jumlah angkatan kerja yang dapat digolongkan sebagai tenaga teram pil atau tenaga
terlatih membuka peluang untuk upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia
dalam kaitannya dengan pembangunan pertanian.
        Potensi kelembagaan penunjang pembangunan pertanian cukup besar di
Indonesia, dalam banyak hal kelembagaan epenunjang pembangunan ini bukan dinilai
terlalu berlebihan. Kelompok tani, P3A, KUD, Kelompencapir, Kelompok peternak,
Wanita Tani, dan kelemba gaan lainnya membuka peluang untuk menunjang keber
hasilan pembangunan pertanian. Peluang itu dapat diwujudkan dalam bentuk
keterkaitan/koordinasi kegiatan kelompok atau kelembagaan. Penyempurnaan tata kerja
hubungan-hubungan tersebut membuka peluang untuk lebih mengaktifkan lembaga-
lemba ga tersebut dalam mendorong pembangunan pertanian.
        Peluang-peluang ekonomi lain yang memerlukan penanganan lebih mendalam
adalah peluang ekspor beberapa komoditas andalan, peluang peningkatan kualtas
produk pertanian dan olahannya, peluang pengembangan agroindustri, serta peluang
diversifikasi agribisnis komoditas yang diperlukan untuk megisi permintaan domestik
dan pasar internasional. Secara khusus peluang pengembangan kegiatan produksi
bidang perikanan dan peternakan masih memerlukan pena nganan tersendiri.
        Dengan mengacu pada tujuan, wawasan dan pendekatan epembangunan
pertanian yang ada selama ini, sektor pertanian mencakup lima aspek penting, yaitu
(1). Meningkatkan kualitas, cakupan dan kemantapan swasembada pangan dalam
     rangka meningkatkan gizi masyarakat
(2). Meningkatkan pendapatanm dan kesejahteraan petani, terutama dalam rangka
     penanggulangan kemiskinan dan ketimpangan distri busi pendapatan
(3). Perluasan kesempatan kerja dan peningkatan produktivitas tenaga kerja di sektor
     pertanian
(4). Pengembangan sumberdaya pertanian, untuk meningkatkan peng hasilan devisa,
     melalui upaya diversivikasi komoditas pertanian secara horisontal maupun vertikal
(5). Peningkatakan peran serta dan kemampuan masyarakat tani dalam kelembagaan
     ekonomi dan sosial di sektor pertanian dan di wilayah pedesaan.
        Dalam rangka untuk mencapai keberhasilan pembangunan pertanian tersebut,
ada lima wawasan pembangunan pertanian, yaitu (1) Wawasan Agribisnis, (2)
Wawasan industrialisasi pertanian, (3) Wawasan pendapatan dan kesejahteraan petani,
(4) Wawasan keter paduan dan keterkaiotan, dan (5) Wawasan kelestarian lingkungan.
        Kebijaksanaan pembangunan berdasarkan wawasan sistem agribisnis, orientasi
pengembangan komoditas diper luas untuk mencakup keseluruhan sistem agribisnis,
bukan sekedar peningkatan produksi. Wawasan sistem agribisnis ini menunjuk pada
keserasian kegiatan sistem usaha pertanian sejak dari penyediaan sarana produksi,
teknologi produksi dan sistem usahatani, kegiatan panen dan pasca panen, sistem
pemasaran dan perdagangan, sampai dengan               kegiatan-kegiatan agro industri.
Wawasan ini erat kaitannya dengan perlunya integrasi kegiatan- kegiatan tersebut
dalam suatu sistem, sehingga masalah-masalah yang dihadapi dalam pemba ngunan
pertanian dapat diupayakan pemecahannya secara sistematik, terarah dan beterpadu.
        Wawasan industrialisasi pedesaan menunjuk pada suatu proses transformasi
pertanian ke arah proses produksi yang lebih bersifat padat ilmu dan teknologi dalam
                                         4

memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan pembangunan
pertanian. Termasuk dalam wawas an industrialisasi pertanian ini pengertian tentang
masalisasi produksi epertanian, dan aspek-aspek kehidupan masya rakat seperti
persepsi, tata nilai, kelembagaan, organisasi dan lainnya. Wawasan industri alisasi
epertanian ini pada gilirannya akan menuntut adanya restruk turisasi sistem produksi
pertanian, sehingga kendala-kendala yang bersuber dari keterbatasan yang dihadapi
petani pedesaan dapat diatasi.
        Wawasan pendapatan dan kesejahteraan petani menunjuk pada perlunya selalu
mempertimbangkan kepentingan petani dalam meramu ekebijaksanaan pembangunan
epertanian. Hal ini diperlukan untuk mencegah adanya program-program pembangunan
pertanian yang berdampak positif bagi pembangunan pertanian secara kese luruhan,
tetapi dalam pelaksanaannya justru merugikan kepentingan petani.
        Wawasan keterpaduan dan keterkaitan berhubungan dengan perlunya integrasi
kegiatan, program, maupun institusi yang menjadi bagian dari proses pembangunan
epertanian. Pada PJPT I wawasan ini dirasa masih belum dapat dilaksanakan dengan
baik. Mengingat epembangunan pertanian pada PJPT II semakin tinggi komplek
sitasnya, maka wawasan keterpaduan dan eketerkaitan ini perlu terus diupayakan
pelaksanaannya. Keterpaduan kegiatan antar instansi lingkup Departemen Pertanian
serta keterpaduan kegiatan Depar temen Pertanian dengan Departemen dan Lembaga
lainnya yang berkaitan dengan pertanian.
        Wawasan pelestarian lingkungan, yang dpaat diperluas menjadi wawasan
pelestarian lingkungan dan sumberdaya alam, mengacu pada semakin tingginya
kepentingan untuk mempertahankan dan memper baiki keadaan lingkungan yang
dalam banyak ahl menjadi eterpengaruh keadaannya dengan pelaksanaan kegiatan
pembangunan pertanian. Keseimbangan antara ketersediaan sumber daya yang ada
dengan tingkat penggunaannya perlu         terus dijaga, sehingga dampak negatif
pembangunan pertanian terhadap keles tarian lingkungan dan sumberdaya alam dapat
ditekan sekecil mungkin.
        Strategi pembangunan pertanian diartikan sebagai perakitan antara tujuan,
sasaran, dan isntrumen kebijaksa naan sehingga secara keseluruhan menjadi sesuatu
yang utuh.

        (1). Pembangunan Pertanian yang Berkelanjutan
        Pembangunan jangka panjang harus dipandang sebagai suatu proses
pembangunan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, penekanan strategi pembangunan
pertanian adalah pembangunan yang berkelnajutan dengan periodisasi 25 tahun. Hal
ini mengisyaratkan bahwa      pembangunan pertanian merupakan         suatu proses
manajemen pemba ngunan dengan tujuan, sasaran, instrumen dan hal-hal lain yang
berhubungna dengna proses tersebut. Elemen-elemen yang saling berhubungan
dikelola melalui suatu proses yang berkesinambungan yang dikoordinasikan melalui
mekanisme adminsitratif dan mekanisme pasar dalam arti luas. Oleh karena itu proses
pembangunan pertanian merupakan suatu medium yang sangat strategis untuk
dipahami dan snagat penting untuk ditangani dengan baik mengingat peccapaian tujuan
atau sasaran yang dikehendaki terganting dari keberhasilan kita dalam mengelola
proses pembangunan.
        Proses pembangunan harus dipandang sebagai proses yang dinamik, yang
berarti bahwa dalam prosesnya senantiasa terkandung unsur resiko dan ketidak-
pastian. Peningkatan IPTEK pertanian dalam arti seluas-luasnya merupakan asset dan
                                           5

modal dasar untuk menu runkan derajat ketidak-tahuan dalam menangani proses
pembangunan, sehingga diharapkan kegagalan atau kekurang-berhasilan dapat
dikurangi. Peranan pemerintah dalam menumbuhkan partisipasi petani sangat menonjol
dan dampaknyapun sangat dirasakan. Hal seperti ini dipandang sangat tepat, terutama
kalau dikaitkan dengan kondisi petani dan pertanian serta kondisi pangan nasional.
         Pembangunan pertanian      harus dilakukan secara berkelanjutan, dimana
sumberdaya pembangunan pertanian yang tersedia sangat terbatas dan harus dapat
digunakan dlaam jangka panjang dengan memberi manfaat yang semakin besar. Oleh
karena itu teknologi yang dihasilkan harus memperhatikan aspek keberlanjutan
pembangunan pertanian dan aspek lainnya yang terkait, yaitu aspek produktivitas,
stabilitas dan pemerataan pembangunan pertanian.

        (2). Instrumen Strategis dalam Kebijaksanaan Pembangunan Pertanian
        Industrialisasi pertanian dalam arti yang seluas-luasnya harus dijadikan suatu
proses adaptasi dan inovasi masyarakat indonesia dalam menghadapi prubahan dunia.
Instrumen strategis berikut ini dianggap sangat relevan untuk mendorong tumbuhnya
industrialisasi pertanian di Indonesia dengan cepat tetapi terarah pada sasaran yang
telah ditetapkan.

(a). Pengembangan sumberdaya manusia
     Citra tentang pertanian sebagai aktivitas "mencangkul" perlu segera ditinggalkan.
     Pertanian sebagai suatu proses produksi yang kompleks perlu ditangani oleh
     manusia dengan kemampuan intelektual dan mentalitas yang tinggi. Oleh karena
     itu, pengembangan sumber daya manusia perlu diartikan dalam arti luas, termasuk
     membina sikap mental dan kemampuan intelektual aparat epemerintah, pendidik,
     pedagang komoditas pertanian, pengusaha industri pengolahan hasil pertanian,
     penyuluh dan petani. Corak, gaya dan esensi pengem bangan sumberdaya
     manusia ini perlu ditata disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi yang ada.
(b). Investasi
     Investasi diarahkan pada komoditas strategis termasuk sarana dan prasarana
     penunjangnya dilihat dari segi ekepentingan untuk emningkatkan pendapatan
     petani dan eperluasan kesempatan kerja di pedesaan. Dengan kata lain, investasi
     yang perlu dikembangkan adalah bentuk-bentuk investasi yang mampu
     memberikan pengganda pendapatan dan tenaga kerja yang tinggi. Investasi ini
     tidak terbatas pada investasi pada produksi primer dan pengembangan
     sumberdaya, tetapi lebih penting lagi investasi pada bidang industri pengolahan dan
     pemasaran. Dalam bidang pengembangan sumberdaya, pada masa mendatang
     investasi di bidang perikanan tangkap, lahan kering, rawa dan pasnag surut perlu
     ditingkatkan.
(c). Inovasi kelembagaan
     Kepastian siapa yang menanggung beaya dan siapa yang memperoleh manfaat
     adalah ditentukan oleh kelembagaan. Oleh karena itu, distribusi pendapatan atau
     insentif tergantung pada bentuk kelembagaan yang diberlakukan. Untuk menjamin
     pembangunan pertanian yang berkelanjutan, inovasi kelembagaan perlu diarahkan
     pada perekayasaan kelembagaan yang dapat menjamin petani mem peroleh nilai
     tambah dari jasa produksinya yang cukup tinggi dan fair.
     Inovasi kelembagaan dapat diartikan sebagai penataan kelem bagaan pada tingkat
     nasional atau tingkat daerah dengan pengertian dapat berupa deregulasi atau
                                           6

     regulasi demi tercapainya suatu tujuan          tertentu seperti efisiensi alokasi
     sumberdaya. Oleh karena kepen- tingan petani senantiasa berada di atas
     kepentingan lain, maka dalam setiap deregulasi atau regulasi harus didahulukan
     kepentingan petani, termausk kompensasi yang perlu diberikan kepadanya.
     Integrasi antara kelompok tani dengan koperasi pada tingkat desa dan tingkat yang
     lebih tinggi masih memerlukan penyempurnaan untuk lebih meningkatkan
     pendapatan petani dan ekonomi pedesaan.
(d). Kebijaksanaan Harga
     Nilai riil komoditas pertanian terhadap komoditas non pertanian pada umumnya
     terus menurun. Harga komoditas pertanian umumnya juga berfluktuasi menurut
     musim dan memiliki marjin yang cukup besar antara harga pada tingkat petani
     dengan harga pada tingkat konsu men. Disamping itu, harga komoditas pertanian,
     termausk inputnya, pada umumnya tidak terlepas dari intervensi pemerintah.
     Dengan adanya sistem perdagangan global, maka kebijaksanaan harga komo ditas
     pertanian di Indonesia akan menjadi isu yang sangat penting khususnya apabila
     tujuan untuk meningkatkan pendapatan petani dijadikan tujuan pokok. OLeh
     karena itu, kebijaksanaan harga perlu dijadikan instrumen untuk mendorong alokasi
     sumberdaya yang lebih efisien tetapi tidak terlepas dari azas keadilan, kemerataan
     dan fairness.
(e). Peranan Suasta dan Pemerintah
     Peranan pemerintah akan bergeser intensitasnya dari :"aktor langsung" ke arah
     'dinamisator, stabilisator, dan kepastian hukum" bagi para pelaku ekonomi.
     Dengan demikian porsi ekonomi dimana kope rasi petani dan suasta memiliki
     keunggulan, dapat diberikan kepada pelaku-pelaku ekonomi ini.              Peranan
     pemerintah diarahkan pada upaya-upaya strategis seperti penanggulangan
     kemiskinan dan pencip taan distribusi pendapatan yang semakin merata.
(f). Perdagangan luar negeri dan dalam negeri
     Perdagangan luar negeri lebih diarahkan untuk emningkatkan devisa dan
     penciptaan pengganda pendapatan dan kesempatan kerja yang besar pada
     perekonomian daerah dan petani. Salah satu implikasinya ialah komoditas yang
     diperdagangkan di pasar luar negeri seyogyanya merupakan komoditas hasil
     olahan. Dengan demikian nilai tambah dari proses pengolahan dapat dinikmati oleh
     masyarakat Indonesia.


       Tujuan pembangunan pertanian di masa mendatang ialah mem-bangun
pertanian tangguh yang efisien dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.
Dengan demikian pertanian mampu secara optimal meningkatkan pendapatan epetani,
meningkatkan gizi masya rakat, mening katkan devisa negara dan mendorong
pertumbuhan kesem-patan berusaha dan kesempatan kerja di pedesaan.
       Upaya-upaya ini perlu dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian
sumberdaya dan lingkungan hidup. Sektor pertanian dihadapkan pada semakin
terbatasnya ketersediaan sumberdaya dan resiko kemerosotan kualitas sumberdaya
alam sehingga menuntut pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam secara tepat.
Sektor pertanian diharapkan juga mampu menjamin berkelanjutan pemba ngunan
pertanian yang memberikan peningkatan kesejahteraan para pelakunya.
       Konversi lahan pertanian di Jawa untuk kegiatan non pertanian menyebabkan
produksi pertanian harus bergeser ke areal di luar P. Jawa yang memiliki kualitas relatif
                                           7

lebih rendah. Produktivitas lahan tersebut diperkirakan lebih rendah dibandingkan
dengan produktivitas lahan di Jawa. Wilayah tersebut ditandai oleh keterbatasan
sarana/ prasarana dan kurnagnya insentif ekonomi. Pemanfataan secara optimal
potensi sumberdaya pertanian dan keunggulan kompetitif komoditas pertanian,
dikembangkan usaha pertanian dalam sutau sistem agribisnis yang utuh dan dalam
kerangkia pembangunan berkelanjutan.
        Pembangunan pertanian sangat jelas memerlukan suatu peningkatan kualitas
sumberdaya manusia, baik melalui pening katan gizi maupun melalui peningkatan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Penelitian dan pengembangan pertanian mempunyai pelu -
ang yang sangat besar dalam mengarahkan dan mendorong keber hasilan proses
industrialisasi pertanian. Sumber daya yang tersedia bagi penelitian dan pengembangan
pertanian adalah terbatas, sehingga perlu dialokasikan secara optimal kepada berbagai
program penelitian. Sektor pertanian harus dibangun menjadi suatu industri pertanian
yang tangguh dan efisien. Industri pertanian berarti adanya "kesatuan terpadu" antara
industri hulu, sistem usaha perta nian, agroindustri dan pemasraan dalam suatu sistem
agribisnis. Melalui industri pertanian yang tangguh dan efisien sumberdaya pertanian
memberikan nilai tambah lebih besar sesuai dengan potensi optimal yang ada.
        Penelitian dan pengembangan pertanian diharapkan mampu menghasilkan
inovasi, baik yang berupa inovasi teknis, ekonomi, dan inovasi sosial yang relevan
dengan keperluan pembangunan. Inovasi yang dihasilkan berorien-tasi kepada
kebutuhan konsumen yang dapat diklasifikasikan berdasarkan sasaran komoditas,
wilayah dan kelom pok masyarakat. Suatu analisis antisipasi keperluan dan permintaan
konsumen harus selalu mendasari penyusunan program penelitian dan pengembangan
pertanian. Kemampuan di bidang ini telah ada, namun perlu lebih dikembangkan di
masa yang akan datang.
        Pembangunan pertanian mempunyai multi tujuan yang harus dicapai dimana
peningkatan produksi merupakan sasaran antara atau dengan kata lain peningkatan
produksi merupakan alat untuk menca pai tujuan yang mencakup peningkatan
kesejahteraan pelaku produksi pertanian, peningkatan gizi masyarakat, peningkatan
devisa, dan peningkatan kesempatan kerja. Pencapaian tujuan ini harus memper
hatikan keberlanjutan sumberdaya alam dan kelestarian lingkungan hidup.
        Penelitian dan pengembangan pertanian harus mampu membe rikan alternatif
cara dimana "melalui suatu sistem usaha pertanian dapat dicapai suatu kondisi yang
lebih baik bagi para pelaku usaha pertanian dan bagi masyarakat secara keseluruhan".
Sistem usaha pertanian yang mengintegrasikan faktor produksi lahan, tenagakerja,
modal dan teknologi/manajemen sangat dipengaruhi oleh kondisi spesifik wilayah, yang
mencakup bio-fisik, ekonomi, dan sosial. Sektor pertanian hingga saat ini masih
diartikan sebagai "sistem usaha pertanian" yang sangat berkaitan erat dengan sistem
lainnya seperti industri hulu, industri hilir, pemasraan/perdagangan dan permintaan datri
konsumen. Keseluruhan sistem yang berkaitan dengan sektor pertanian tersebut
sangat dipengaruhi oleh kondisi sumberdaya, kelembagaan, dan kebijaksanaan
pembangunan pertanian.            Dari keseluruhan sistem agribisnis seperti yang
diabstraksikan di atas, dapat diambil beberapa aspek atau bidang kajian penting, yaitu:

      (a). Sistem Agribisnis dan Perdagangan/pemasaran
      Penelitian ini diarahkan untuk melihat keterkaitan antara berbagai subsistem
dalam agribisnis untuk lebih mendorong pengem bangan sistem budidaya pertanian.
                                            8

Penelitian juga mencakup prospek pengembangan berbagai komoditas dikaitkan
dengan prospek permin taan dan penawarannya baik di dalam maupun di luar negeri.
        Penelitian pengembangan sistem agribisnis termasuk upaya untuk memantap-
kan sentra-sentra produksi pertanian yang memung kinkan adanya keterkaitan yang
efisien dengan agroindustri (industri hilir) dan juga penyediaan sarana produksi (industri
hulu). Dalam rangka agribisnis ini sangat penting diketahui adalah analisis biaya dari
berbagai sistem usaha pertanian dalam rangka meningkatkan efisiensi dan daya saing
komoditas. Penelitian lembaga keuangan pedesaan menjadi sangat strate gis untuk
membantu mendorong mobilisasi sumber ana yang tersedia di pedesaan secara lebih
efisien dan efektif.

        (b). Sumberdaya manusia dan kelembagaan
        Sumberdaya manusia merupakan subyek pembangunan. Penelitian mengenai
perilaku sumberdaya manusia menjadi sangat penting baik sebagai individu, anggota
kelompok maupun dalam rangka mengkaitkan antara usahatani keluarga, perusahaan
pertanian dan agroindustri untuk meningkatkan "responsivitas" terhadap perubah an
pasar. Penelitian mengenai gender dalam rangka mendorong peningkatan nilai tambah
sumberdaya manusia mendapat perhatian yang lebih besar. Termasuk dalam bidang ini
ialah penelitian kelembagaan untuk menmdorong pembangunan pertanian. Penelitian di
bidang kelembagaan ini a.l. mencakup: (1) sistem penyuluhan pertanian yang
berkaitand engna otonomi daerah, (2) sistem komuni kasi dengan dunia usaha, (3).
sistem nilai masyarakat pedesaan untuk mendorong pembangunan pertanian, (4)
sistem kerjasama petani untuk meningkatkan skala ekonomi, (5) pengembangan
"contract farming" dan kajian "demokratisasi" pengambilan keputusan dan sistem
budaya pertanian.

       (c). Pengelolaan sumberdaya alam dan Lingkungan Hidup
       Sumberdaya lahan semakin terbatas dan adanya kecende rungan pemanfaatan
harus semakin bergeser ke lahan yang berma salah. Penelitian diarahakan semakin
lebih banyak kepada upaya pemanfaatan wilayah tersebut, termasuk wilayah lahan
kering. Penelitian sumberdaya harus mampu memberikan indikasi potensi dan peluang
bagi pengembangan sistem usaha pertanian pada suatu wilayah tertentu. Penelitian
perlu dapat memberikan informasi menge nai karakteristik sumberdaya alam tersebut
dan memberikan perkiraan mengenai arah pengelolaan dimasa mendatang.

       (d). Sistem usaha pertanian (atau usahatani)
       Kebijaksanaan pembangunan pertanian berdasarkan sistem agribnisnis.
Orientasi pengembangan komoditas yang saat ini lebih diarahkan pada peningkatan
produksi, diperluas sehingga mencakup keseluruhan sistem agribisnis. Penelitian
diarahkan untuk menghasil kan berbagai alternatif sistem usaha pertanian dengan
sekala ekono mi yang efisien, yang spesifik untuk berbagai kondisi agroekologi.
Pengem bangan sistem usaha pertanian dilakukan dengan memper hatikan prinsip
keunggulan wilayah. Penelitian juga meliputi penggunaan alat dan mesin pertanian
untuk meningkatkan nilai tambah .
       Penelitian komoditas dan komponennya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi
dan produktivitas suatu komoditas, dimana komoditas tersebut selanjutnya dirang kum
dalam suatu sistem usaha pertanian. Penelitian prapanen, panen dan pasca panen
tetap diper lukan untuk emningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi. Penelitian
                                            9

sekala ekonomi usaha dan cara pengusaha annya semakin penting mengingat semakin
terbatasnya sumberdaya perta nian, sedangkan bentuk pengelolaan tersebut harus
dapat memberi kan pendapatan yang layak bagi para pelakunya. Pola-pola keterkait an
antara usahatani keluarga dan perusahaan pertanian masih perlu dikem bangkan lebih
lanjut dengan prinsip saling mendukung dan menguntungkan.

        (e). Pengembangan agroindustri
        Kondisi sistem budidaya tanaman sangat tergantung pada perkembangan
agroindustri. Penelitian agroindustri diarahkan untuk memperbaiki pola pengembangan
agro-industri yang dapat memper baiki distribusi pendapatan, termasuk perbaikan pola
keterkaitan antara usahatani keluarga dan perusahaan agroindustri serta bentuk agro
industri yang sesuai di pedesaan. Penelitian agroindustri yang perlu diselenggarakan
adalah dalam rangka penentuan lokasi agroindustri dikaitkan dengan sentra
pengembangan komoditas, penelitian sekala ekonomi agroindustri, penelitian
keterkaitan antar sektor dalam agroindustri, penelitian pengembangan produk dan
dampak kebijak sanaan makro terhadap perkembangan agroindustri (a.l perkreditan,
perpajakan dan nilai tukar).

       (f). Rintisan dan pengembangan produk
       Penelitian bioteknologi merupakan salah satu peneli tian rintisan yang perlu
mendapat perhatian. Bioteknologi merupakan alternatif baru yang dapat memban tu
mengatasi berbagai masalah yang melalui cara konven sional sulit atau tidak dapat
dilakukan. Melalui penelitian biuoteknologi ditujukan untuk meningkatkan produksi dan
produktivitas tanaman, ternak dan ikan melalui biak sel/jaringan, hibridisasi sel somatik.



       II. KONSEPSI PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN SENGON


      Sengon adalah tanaman yang telah lazim dikenal masyarakat di Jawa Timur.
Oleh karean itu sengon dapat dipelihara oleh setiap anggota masyarakat, tidak
memerlukan teknologi tinggi dan dengan cara sederhana dapat berkembang biak
dengan baik. Dengan demikian untuk meningkatkan populasi, dan produksi buah
sengon, akan dilaksanakan Sentra Pengembangan Agibisnis Komoditas Unggulan
(SPAKU) Sengon.

       1. Konsepsi.
       Pengembangan komoditas sengon dapat dilakukan dengan sistem usahatani
berkelompok dan terpusat pada sentra unggulan sengon dengan kegiatan peningkatan
produksi secara terpadu, berskala ekonomi, berkelanjutan dengan kemandirian dan
beroreantasi agribisnis.

      2. Arah
      SPAKU- Sengon diarahkan dalam mengembangkan sentra-sentra produksi dan
pembibitan yang berorientasi Agribisnis/ Agroindustri.

       3. Dasar Penentuan Lokasi.
                                           10

      Penentuan lokasi komoditi unggulan ini dengan persyaratan sebagai berikut:
(1) Bahwa SPAKU Sengon merupakan kegiatan ekonomi produktif.
(2) Mempunyai sumberdaya wilayah yang relatif siap dimanfaatkan dan potensinya
    memadai.
(3) Adanya partisipasi aktif dari masyarakat yang telah familier dengan komoditas
    unggulan dan teknologinya telah dikuasai.
(4) Memberikan hasil dengan nilai tambah yang memadai.
(5) Merupakan substitusi import dan apabila mungkin diekspor.

      4. Tujuan dan Sasaran.
      Berdasarkan konsepsi tersebut di atas, maka tujuan dan sasaran dari sentra
pengembangan agribisnis komoditi unggulan ini adalah sebagai berikut:

          (1) Tujuan.
a.   Meningkatkan populasi tanaman yang telah ada, produksi primer kayu sengon dan
     hasil sampingan (tanaman sela), serta produk-produk ikutannya, secara lokal dan
     regional, bahkan kalau memungkinkan secara nasional.
b.   Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani (dan pengelola SPAKU) melalui
     peningkatan skala usaha kecil menuju ke arah komersial dengan pendekatan
     Agribisnis.
c.   Menciptakan sentra-sentra pembibitan sengon dan pusat pelayanan inovasi teknologi
     serta informasi pasar.
d.   Menciptakan Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA) Sengon yang dijiwai oleh
     semangat kemitraan dan koperatif
e.   Mendorong berkembangnya koperasi pedesaan dengan kegiatan produktifnya
     agribisnis komoditas sengon dan mampu bermitra-usaha dengan pihak luar/suasta
     yang terkait.


         (2) Sasaran.

       a. Sasaran Kualitatif
       Sasaran dari SPAKU sengon ini adalah berkembangnya kelompok- kelompok
petani sengon yang dapat dibina menuju usaha kelompok agribisnis yang mandiri dan
kemudian berkembang ke arah terbentuknya koperasi agribisnis/agroindustri berbasis
sengon.

       b. Sasaran Kuantitatif
       Sasaran kuantitatif SPAKU sengon ini adalah:
(a) Membangun Pusat Pembibitan dan Pelayanan Informasi Teknologi (PPPIT) yang
    meliputi, pembangunan pos petugas pengendali 2 unit, kebun koleksi satu unit,
    kebun pembibitan dua unit, rumah kaca 5 unit, yang dilengkapi dengan genset,
    instalasi air dan listrik, alat pengolahan tanah dan alsintan, dan beberapa
    perlengkapan kebun; serta ruang data dan pengolahan informasi agro-teknologi,
    dan ruang pertemuan komunikasi agribisnis.
(b) Pengadaan bibit sengon unggul dengan jumlah tertentu, misalnya sebanyak 500-
    1000 batang untuk setiap kultivar unggul yang akan dikoleksi.
                                          11

(c) Selanjutnya bibit sengon tersebut dikembangkan di PPPIT dengan menggunakan
     metode perbanyakan vegetatif dan generatif secara berkesinambungan di lokasi
     kebun bibit, dan bibit yang dihasilkan disebarkan kepada petani.
(d) Sasaran petani anggota KUBA sengon ditetapkan secara bertahap, misalnya setiap
     tahapan 200 RTP, masing-masing memiliki lahan tegalan 0.25-1.0 ha, menerima
     bibit sengon 500-1000 batang terdiri dari beberapa macam kultivar unggul.
(e). Sasaran areal pembangunan SPAKU sengon adalah 1000 ha kebun inti dan 500
     ha areal dampak milik rakyat.


       5. Tahapan Kemandirian SPAKU Sengon

        Dalam rangka pembinaan terhadap kelompok tani (KUBA) sengon sehingga
dapat mencapai kemandirian, maka bantuan fisik dan keuangan dari pemerintah
diharapkan dapat berakhir pada akhir tahun ke-3 atau ke-4. Selanjutnya pemerintah
hanya akan membina secara fungsional (melalui FORKA Sengon) agar KUBA tersebut
mencapai kemandirian bahkan dapat dikembangkan ke arah terbentuknya koperasi
agribisnis/agroindustri berbasis komoditas sengon, yang selanjutnya mampu melakukan
kemitraan dengan mitra-usaha Swasta setempat.
        Tahapan kemandirian tersebut dimaksud seperti diuraikan pada bagan berikut .



       III. OPERASIONALISASI PENYEBARAN DAN PENGEMBANGAN
            KOMODITAS SENGON


       3.1. Pola Penyebaran

        Penyebaran komoditas sengon dapat dilaksanakan melalui dua pola, yaitu :
(1) Gerakan pembangunan rumah dan tanaman (Gerbang Rutan) yaitu penyebaran dan
    pengembangan tanaman sengon dengan sistem pemeliharaan berada dalam
    lokasi/lahan pemukiman penduduk (lahan pekarangan).
(2) Gerakan pembangunan wilayah pertanaman (Gerbang Wiltan) yaitu penyebaran dan
    pengembangan tanaman        dimana lokasi pemeliharaannya terpisah dengan
    pemukiman penduduk yang tergabung dalam suatu hamparan.
        Secara skematis kedua model tersebut digambarkan dalam bagan berikut .

       3.2. Penyebaran Bibit Sengon
       Penyebaran sengon dapat ditempuh melalui dua tahap, yaitu :

       (1) Operasional Penyebaran Bibit Tanaman

       a. Tahap produksi bibit dengan bibit induk kultivar terpilih pada kebun koleksi
dan kebun bibit melalui pembangunan PPPIT. Adapun fungsi PPPIT ini adalah :
(a) Aklimatisasi atau penyesuaian kondisi dan lingkungan dalam upaya memperkecil
    tingkat kematian tanaman sebelum disebarkan kepada anggota KUBA Sengon.
                                          12

(b) Pembesaran bibit sampai umur tertentu untuk disebarkan ke petani annggota
    KUBA Sengon.
(c) Pelayanan informasi (agro-teknologi dan pasar) dan percontohan bagi masyarakat
    dan sekaligus sebagai tempat latihan kerja.
(d) Melaksanakan penyebaran bibit tanaman ke petani yang akan menerima paket
    Agribisnis.
(e) Membina petani anggota KUBA Sengon menjadi spesialis-spesialis produksi bibit
    sengon dan produksi buah konsumsi.
(f) Meningkatkan pendapatan wilayah non pajak melalui penjualan hasil produksi
    sengon.

       b. Tahap Penyebaran dan Pembinaan

       Tahap penyebaran dan pembinaan, yaitu penyebaran tanaman kepada petani
yang bergabung dalam kelompok KUBA Sengon. Petani anggota KUBA ini dibina
sehingga mampu menumbuhkan sentra produksi dan pembibitan sengon kultivar
unggul. Apabila telah tercipta sentra-sentra pembibitan di pedesaan, maka peranan
PPPIT akan dapat dialihkan kepada pelayanan informasi teknologi dan informasi pasar.
Adapun mekanisme dalam pelaksanaannya penyebaran tanaman dapat diabstraksikan
dalam bagan berikut .


      (2) Komponen Komoditi Unggulan Sengon
      Untuk meningkatkan produksi sengon melalui sentra pengembangan agribisnis
komoditi tanaman ini dipersyaratakan tersedianya beberapa komponen penting.

       a. PPPIT
       Pusat pelayanan ini merupakan tempat pusat pembibitan, pembesaran dan
perbanyakan bibit, serta informasi teknologi dan pasar hasil produksi, maka diperlukan
sarana antara lain :
(a) Kebun Induk Koleksi Kultivar Unggul
(b) Kebun pembibitan sengon
(c) Rumah kaca permanen dengan instalasi air bersih dan listrik
(d) Ruang / gudang peralatan dan Saprodi
(e) Komoditas penunjang: tanaman sela jagung, kacang-kacangan
(f) Tanaman Induk: beberapa macam kultivar
(g) Alsintan, termasuk hand tractor
(h) Instalasi air dan listrik
(i) Ruang data dan pengolahan informasi yang dilengkapi dengan fasilitas komunikasi
    yang memadai.

       b. Intensifikasi Teknologi/SAPRODI
       Upaya perbaikan produktivitas tanaman dilakukan dengan memberikan saprodi
sesuai dengan rekomendasi teknis sehingga dapat meningkatkan produksi tanaman .

       c. Program Inovasi Teknologi Budidaya Tanaman
                                          13

       Upaya menekan gangguan hama dan penyakit tanaman sengon dilakukan
dengan cara pemantauan epidemiologi, pelayanan diagnosa penyakit secara teratur dan
terpadu.

       d. Distribusi dan redistribusi
       Untuk mempercepat terwujudnya sentra pengembangan agribisnis komoditas
sengon, maka upaya penyebaran tanaman maupun redistribusinya akan dilaksanakan
secara berke-sinambungan.

        e. Diversifikasi
        Guna meningkatkan produktifitas lahan di lokasi sentra pengembangan
agribisnis komoditi sengon, harus dilakukan intensifikasi sistem pengelolaan usahatani
tanaman dengan melibatkan tanaman penunjang seperti palawija (sebagai tanaman
sela ketika sengon masih muda), tanaman sela ini lazimnya jagung atau kacang-
kacangan sewaktu tanaman sengon masih muda. Melalui deversifikasi yang intensif ini
diharapkan dapat diperoleh peningkatan produktifitas maupun skala pemilikan.

       f. Pelatihan SDM
       Guna meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan petugas lapangan maupun
petani anggota KUBA Sengon, harus dilakukan pelatihan-pelatihan, baik yang
menyangkut teknologi budidaya, manajemen usahatani, maupun manajemen
pemasaran hasil.

        g. Pembinaan kelompok KUBA Sengon
        Untuk meningkatkan transformasi teknologi kepada petani, pembinaan anggota
KUBA harus dilakukan secara kontinyu dan intensif. Pembentukan kelompok KUBA dan
recruitmen anggota harus melibatkan tokoh masyarakat setempat dan memperhatikan
ikatan-ikatan sosial-tradisional yang telah ada.

       (3) Sistem Distribusi Bibit

       a. Distribusi bibit
       Distribusi bibit tanaman dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
(a) Penyebaran melalui KUBA untuk selanjutnya kelompok ini menyebarkan kepada
    kelompok lain yang terdiri dari 25-30 RTP.
(b) Penyebaran langsung ke petani yang bergabung dalam KUBA.

       b. Paket Agribisnis
       Setiap petani menerima satu paket, komponen paket tersebut terdiri dari bibit
sengon siap tanam sebanyak 150-500 batang sesuai dengan luas lahan yang dimilikinya
(Populasi yang disarankan 500 tanaman setiap hektar) dan pupuk sesuai dengan
anjuran. Selama dua tahun pertama dapat subsidi benih dan saprodi untuk tanaman
sela jagung atau kacang-kacangan. Disamping itu petani mendapat latihan terlebih
dahulu sebelum menerima paket, penyuluhan dan pembinaan serta bantuan alat olah
tanah.

       c. Pola pengembalian
                                         14

      Petani penerima paket berkewajiban mengembalikan 150-500 bibit sengon siap
tanam. Jangka waktu pengembalian dua tahun setelah tanaman berproduksi/dapat
dipanen dan dilakukan melalui penandatanganan surat perjanjian.

      d. Mekanisme Pengembalian
      Kayu sengon dapata dipanen umur 8-10 tahun, sebagian hasil panen ini (senilai
dengan harga 150-500 bibit sengon) disetor ke PPPIT dengan dikoordinir oleh ketua
kelompok.


      3.3. Lokasi

       Lokasi sentra pengembangan agribisnis komoditas unggulan tanaman ini adalah
wilayah kecamatan tertentu yang memenuhi syarat. Penetapan lokasi proyek
(Kecamatan) ditetapkan oleh Dinas /Instansi yang berwenang.


      3.4. Petani dan KUBA Sengon

     Petani peserta proyek ditetapkan oleh Kepala Dinas /Instansi terkait dengan
mengakomodasikan saran/masukan-masukan dari tokoh masyarakat setempat.

      (1) Syarat-syarat petani peserta :
a. Bertempat tinggal tetap di lokasi proyek disertai surat keterangan domisili Kepala
    Desa.
b. Diutamakan belum mendapat /menjadi peserta proyek sejenis.
c. Bersedia menjadi anggota kelompok KUBA. Sengon
d. Mempunyai pengalaman dan ketrampilan memelihara tanaman sengon dan
    sannggup melakukan usahatani secara serius.
e. Sanggup menyediakan lahan, tenagakerja dan memelihara tanaman dengan baik.
f. Bersedia mengikuti petunjuk, bimbingan dan latihan dari Dinas dan instansi terkait.
g. Mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas /Instansi Dati II untuk menjadi
    peserta SPAKU dan menjadi anggota KUBA Sengon.
h. Bersedia menandatangani Surat Perjanjian Kerja dengan Dinas /Instansi
    berwenang.

(2) Adapun tugas dan syarat anggota KUBA Sengon sebagai berikut
a. Petani peserta dikelompokkan dalam kelompok usaha bersama agribisnis (KUBA)
    yang terdiri dari 25 -30 RTP.
b. Setiap KUBA Sengon membentuk pengurus yang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan
    Bendahara.
c. Pengurus berkewajiban ikut membina dan mengaktifkan anggota kelompok serta
    mengkoordinasikan kegiatan pengembangan usahatani sengon dari anggotanya.
d. Pengurus berkewajiban menyampaikan laporan perkembangan tanaman dari
    anggotanya kepada petugas setempat.
e. Setiap anggota kelompok wajib mencatat perkembangan kebunnya pada kartu
    kebun dan data keadaan tanaman melalui kartu tanaman.
                                         15

       (3) Petani yang telah memenuhi persyaratan ditetapkan oleh Surat Keputusan
Kepala Dinas /Instansi berwenang Kabupaten Dati II.


       3.5. Forum Komunikasi Agribisnis (FORKA) Sengon

       Forum ini berfungsi untuk memantau dan mengendalikan perkembangan SPAKU
Sengon sehingga mampu mencapai hasil yang diinginkan. Forum ini beranggotakan
para ketua KUBA Sengon, perwakilan instansi pemerintah yang terkait, suasta dan
tokoh masyarakat.


       IV. PELAKSANAAN KEGIATAN MENURUT TAHAPAN

        Anggaran Sentra Pengembangan Agribisnis Unggulan Komoditi Sengon pada
T.A tertentu dapat dimasukkan dalam DIP dengan besaran tertentu.

       Pelaksanaan dan Penggunaan Dana

       1. Peralatan/perlengkapan dan Alsintan

       (1) Komponen PPPIT

        a. Rumah kaca
        Biaya yang tersedia dipergunakan untuk pembangunan rumah kaca sebanyak 2-
3 unit dengan disain baku yang bisa memuat 500-1000 bibit setiap unit , ini digunakan
pada waktu bibit masih muda sebelum dipindahkan ke lapangan.

       b. Pengadaan Wadah Pembibitan
       Biaya yang tersedia digunakan untuk membeli pot atau polibag yang akan
digunakan untuk memelihara bibit.

       c. Peralatan kebun bibit dan kebun koleksi
       Biaya yang tersedia dengan besaran tertentu dapat dipergunakan untuk
pembelian peralatan kebun yang dibutuhkan antara lain adalah : alat olah tanah,
sprayer, alat pemupukan dan lain-lain. Peralatan kebun ini sebanyak beberapa unit
untuk kebutuhan PPPIT.

       d. Perlengkapan Pos Terpadu
       Biaya pengadaan perlengkapan pos terpadu dipergunakan untuk membeli
peralatan yang membantu petugas dalam melaksanakan administrasi antara lain : meja
kerja, kursi, meja dan kursi tamu, lemari arsip, papan tulis dll disesuaikan dengan
kebutuhan pos terpadu.

      e. Pengadaan Genset
      Genset digunakan untuk penerangan PPPIT dan inkubator buah sengon
sebelum instalasi listrik PLN masuk atau selama aliran listrik PLN padam.
                                           16

      f. Pengadaan Mixer
      Biaya pengadaan mixer yang digunakan untuk mencampur tanah, dan rabuk
kandang serta media pembibitan lainnya.

       g. Pengadaan hand tractor
       Biaya pengadaan alat ini disesuaikan dengan harga berlaku, kegunaannya
dipakai sebagai percontohasn dan peragaan untuk mengolah tanah kebun sengon di
PPPIT.


       h. Perlengkapan Petugas
       Biaya perlengkapan petugas disesuaikan dengan jumlah eptugas dan satuan
harga yang berlaku, dipergunakan untuk membeli perlengkapan petugas yang terdiri
antara lain : sepatu lapangan, jas hujan, senter, topi, baju lapangan dan lain-lain sesuai
dengan kebutuhan petugas lapangan.
       (1) Pengadaan kendaraan roda 2
             Kendaraan roda 2 untuk petugas lapangan digunakan dalam rangka
             pembinaan sentra pegnembangan agribisnis komoditas unggulan sengon di
             lapangan dan di PPPIT.
       (2). Fasilitas ruang data dan informasi
             Pengadaan fasilitas komputer dan tilpun serta perlengkapan penunjangnya
             diperuntukkan untuk kelancaran administrasi dan pembuatan laporan serta
             penyampaian informasi dalam rangka kegiatan sentra pengembangan
             agribisnis komoditi sengon.
       (3) Perlengkapan Ruang Pertemuan Agribisnis
             Biaya pengadaan perlengkapan-perlengkapan ruang pertemuan agribisnis
             dipergunakan untuk membeli peralatan antara lain : meja kerja, kursi, meja
             dan kursi tamu, lemari arsip, papan tulis dll disesuaikan dengan kebutuhan
             ruang pertemuan.

       2. Gedung dan Bangunan

       Komponen PPPIT :

       (1) Pembangunan pos petugas 1 unit.
           Pembangunan pos petugas yang dimaksud adalah bangunan untuk pos
           penjagaan dan rumah penjaga/kantor. Dana yang diperlukan sesuai dengan
           kebutuhan yang direncanakan, misalnya seluas bangunan 50 M2.
       (2) Ruang / gudang.
           Gudang makanan digunakan untuk menyimpan makanan tanaman sengon
           maupun perlengkapan lainnya.
       (3) Ruang Genset
           Ruang genset digunakan untuk tempat genset dengan luas 4 M2, dana yang
           diperlukan disesuaikan dengan disain teknis.
       (4) Instalasi air dan listrik
           Dana ini digunakan untuk memasang instalasi air dan listrik, yang
           kegunaannya untuk memenuhi kebutuhan fasilitas air dan listrik di PPPIT.
       (5) Pemagaran
                                         17

           Biaya pemagaran bangunan PPPIT disesuaikan dengan luas areal dan
           disain teknis pagar. Pemagaran bangunan kandang di PPPIT dapat
           menggunakan bahan pagar bisa dari kawat berduri, tiang besi, sehingga
           dapat    melindungi/sebagai     pengaman    bangunan     kandang,    atau
           menggunakan disain pagar hidup.
       (6) Kebun bibit /kebun koleksi sengon
           Biaya pembuatan kebun sengon ini dengan luas tertentu disesuaikan dengan
           disain teknis. Kebun ini digunakan untuk pemeliharaan bibit, pemeliharaan
           tanaman koleksi, dan pohon produksi sebagai percontohan.
       (7) Rumah kaca untuk Penampungan Bibit
           Biaya pembuatan rumah kaca disesuaikan dengan disain teknis. Rumah
           kaca ini digunakan untuk pembesaran bibit sementara waktu sampai
           berumur tertentu baru disebar ke patani, dengan lantai dari semen atau
           tanah yang dipadatkan.

       3. Agroinput

       (1) Komponen PPPIT

       a. Pengadaan Bibit Sengon
       Pengadaan bibit sengon sebanyak 500-1000 bibit yang terdiri dari 50-100 bibit
setiap kultivar unggul. Pengadaan sengon dengan umur minimal 6 bulan. Dalam
pengadaan tanaman ini diusahakan memilih bibit yang produktif dengan memperhatikan
karakteristik visualnya. Jenis sengon yang diadakan adalah jenis unggul dimana sumber
bibit dapat berasal dari Kabupaten setempat atau dari sumber bibit yang bisa
dipertanggung jawabkan.
                                              18




       BIBIT DAN PEMBIBITAN SENGON (Sumber: http://jualbibitkayu.files.wordpress.com/)
PT. BUMN Hijau Lestari II dibentuk untuk melestarikan lahan dan air melalui suatu kegiatan usaha
berbasis lingkungan sehingga diperoleh manfaat yang berkelanjutan secara ekonomi, sosial dan
ekologi, tanpa mengabaikan kemungkinan memupuk keuntungan dari usaha tersebut.
Tujuan dari pembentukan badan usaha ini adalah menciptakan suatu ikatan usaha BUMN di
bidang agroindustri, perkebunan, kehutanan dan jasa penunjang lain yang secara bersama-sama
melakukan kegiatan kemitraan dalam pelestarian dan kegiatan usaha yang bersifat melestarikan
tanah dan air (eco-business).
Selain untuk tujuan penghijauan, PT. BUMN Hijau Lestari II juga melayani penyedian bibit kayu
(Sengon, Sengon Salomon, dan Jabon) untuk instansi dan masyarakat umum.
Harga Bibit per tanggal 27 Oktober 2010 :
       Sengon Rp. 1.500,- *
       Sengon Solomon Rp.2.500,- *
       Jabon Rp.2.000,- *
       * Minimal order 10.000 bibit (Negosiasi)

Keterangan :
Sengon Solomon adalah Sengon kualitas unggul dimana kecepatan tumbuhnya jauh lebih cepat
daripada sengon biasa/laut.
INFO LEBIH LANJUT HUBUNGI :
      CP : Bpk. Hariyono (081336669759)
      Website: http://www.bumnhijaulestari.com
      E-mail: jualbibitkayu@gmail.com
                                         19

       b. Saprodi
       Biaya saprodi untuk pembelian pupuk, pestisida rabuk kandang/kompos, benih
palawija dan bibit sengon. Pupuk dan pestisida digunakan untuk memelihara tanaman di
PPPIT (kebun koleksi dan kebun bibit) , dan diberikan kepada petani untuk
membesarkan sengon selama setahun bulan dan memelihara tanaman sela.

      (2). Program Perlindungan Tanaman

       a. Peralatan
       Biaya untuk peralatan ini dpaat digunakan untuk pembelian sprayer beberapa
unit dan kelengkapannya , dan lain-lain peralatan gudang disesuaikan dengan
kebutuhan.

      b. Obat-obatan, Pestisida
      Obat-obatan tersebut digunakan pada pengobatan/ pencegahan gangguan
hama dan penyakit sengon di PPPIT maupun pada petani anggota KUBA Sengon.




      V.   RANCANGAN KEGIATAN

        Untuk mewujudkan Sentra Pengembangan Agribisnis Komoditas Sengon di
wilayah Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, maka berbagai kegiatan dalam seluruh
subsistem-subsistem agribisnis termasuk subsistem penunjangnya perlu direnca-nakan.
Perwujudan Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang sebagai sentra pengembangan
agribisnis komoditas Sengon akan memerlukan waktu sekitar 5 sampai dengan 10
tahun, dimana 5 tahun adalah kebutuhan waktu untuk pembangunan kebun
(penanaman) dan 10 tahun adalah kebutuhan waktu untuk pembinaan KUBA.
        Berikut ini diuraikan kegiatan-kegiatan yang ditargetkan untuk dapat
dilaksanakan dalam kurun waktu 5 - 10 tahun. Rancangan kegiatan ini difokuskan
pada pengembangan 1000 Ha kebun Sengon monokultur sebagai inti dan sekitar 500
ha Sengon pekarangan sebagai plasma dari SPAKU Sengon.
        Rancangan kegiatan ini memberikan gambaran kegiatan-kegiatan pokok yang
akan ditangani melalui proyek sejak penanaman sampai dengan pemeliharaan tahun ke
4 karena tanaman Sengon baru dapat di panen pada tahun ke 5.

      5.1. Pengadaan dan Penyaluran Agroinput

       5.1.1. Pengadaan dan Penyaluran Bibit Sengon
       Sesuai target/sasaran, dalam kurun waktu lima tahun akan dikembangkan 1000
Ha tanaman Sengon, pada lima kecamatan terpilih. Untuk itu dibutuhkan bibit Sengon
klon 21 sebanyak minimal 250.000 bibit ditambah 5 - 10 % perkiraan kebutuhan
cadangan bibit untuk sulaman tanaman yang mati.
       Pengadaan bibit untuk kebutuhan pengembangan sentra Sengon tersebut
diharapkan dapat dipenuhi dari penangkar-penangkar setempat.

      5.1.2. Pengadaan dan Penyaluran Saprodi
                                                   20



       1. Pupuk
       Sesuai dengan agroekosistem/kondisi lahan ke lima Kecamatan terpilih sebagai
lokasi sentra agribisnis Sengon, maka rencana pengadaan pupuk yang dibutuhkan
untuk tanaman Sengon mulai tanam sampai dengan pemeliharaan tanaman menjelang
panen adalah sebagaimana disajikan dalam Tabel 5.1.

Tabel 1. Rencana Pengadaan Pupuk Sentra Agribisnis Sengon Kabupaten Malang

Jenis                             Kebutuhan, kg/ha                        Pengadaan
Pupuk      Pena-                        Pemeliharaan                        untuk
           naman             Th.I     Th.II     Th.III           Th.IV     1000 Ha

Urea         62.5            125          125           250      250        812500
ZA           62.5            125          125           250      250        812500
TSP          62.5            125          125           125      200        637500
KCl          62.5            125          125           125      200        637500

        Pengadaan pupuk ini diusulkan disalurkan melalui/oleh KUD.

        2. Pestisida

       Beberapa hama dan penyakit yang umumnya menyerang tanaman Sengon
adalah wereng Sengon atau sikada, penggerek batang dan buah, lalat buah dan
antrakaose. Untuk mencegah dan memberantas hama penyakit yang mungkin dapat
menyerang tanaman Sengon, maka dalam kurun waktu berlangsungnya pembangunan
sentra (1000 Ha) diperlukan pengadaan pestisida sebesar 125000 liter dengan rincian
sebagaimana tabel berikut :
       Jumlah kebutuhan pengadaan agroinput (pupuk dan pestisida) untuk tanaman
Sengon s/d tanaman berproduksi optimal (tahun ke 25) dapat dilihat pada paket
budidaya tanaman.

  Tabel 2.     Pengadaan Pestisida Sentra Agribisnis Sengon Kabupaten Malang

Jenis                                    Kebutuhan, kg/ha                 Pengadaan

                     Saat                       Pemeliharaan                untuk
                    tanam          P1           P2       P3         P4     1000 ha
Basudin               0.0          5.0          5.0      5.0       10.0     25000
Azodrin               0.0          5.0          5.0      5.0       10.0     25000
Metil Cugero          0.0          5.0          5.0      5.0       10.0     25000
Benlate/
Dithare M-45           0.0         10.0         10.0      15.0     15.0     50000


        3. Pengadaan benih tanaman sela
                                         21

       Sebagaimana diuraikan pada Bab IV, bahwa sebagai penghasilan tambahan
bagi petani sebelum Sengon berproduksi, maka akan dibudidayakan tanaman kedele
dan jagung sebagai tanaman sela. Dengan memperhitungkan pergiliran tanaman, maka
kebutuhan benih jagung dan kedelai untuk tanaman sela pada areal seluas 1000 Ha
dapat dihitung berdasarkan paket usahatani yang berlaku.


      5.2. Pengadaan Sarana, Prasarana dan Alsintan

        Alsintan yang dibutuhkan pada saat tanaman diproduksi sampai dengan panen
adalah alat pengolah tanah dan penyiangan.
        Perkiraan kebutuhan pengadaan alsintan untuk pengembangan SPAKU Sengon
di Kabupaten Malang adalah satu unit per rumahtangga.
        Sarana yang sangat diperlukan dalam pengembangan komoditas Sengon ini
yaitu pengairan yang diupayakan melalui pembuatan sumur galian sebanyak 2 unit/ha
kebun.
        Prasarana utama yang perlu dibangun adalah jalan kebun sepanjang 100 m/ha
kebun dalam waktu 5 tahun.



      5.3. Pemantapan Kelembagaan

      Kelembagaan yang harus ada di lokasi SPAKU meliputi kelembagaan petani,
kelembagaan ekonomi dan kelembagaan aparatur.

       5.3.1. Kelembagaan Pengelola SPAKU Sengon
a. Setiap petani menjadi anggota KUBA Sengon.
b. Setiap KUBA Sengon tani beranggotakan 20 petani.
c. Setiap petani menguasai sekitar 1 Ha lahan untuk Sengon.
d. Setiap 15 KUBA Sengon oleh 1 PPL.
e. Setiap PPL mengelola 5 Ha kebun inti yang berfungsi sebagai kebun produksi, pusat
   informasi teknologi budidaya Sengon, yang dilengkapi dengan SAUNG (gubuk
   tempat pertemuan kelompok tani).
f. Setiap petani juga menjadi anggota Koperasi Petani Sengon/KUD.
g. Setiap KUD menjadi mitra sumber dana yang terdiri dari BRI, BPD, BUMN, BUMS.

       (A) Kondisi Pada Saat Ini

       1. Sosial Ekonomi
a. Rataan pendapatan per kapita per tahun para pemilik Sengon (petani lahan kering)
   di wilayah Malang masih harus ditingkatkan untuk mencapai tingkat kesejah teraan
   yang lebih baik
b. Fluktuasi pendapatan bersifat musiman dan sangat tergantung pada dinamika pa-
   sar/harga Sengon di pasaran serta fluktuasi pasar/harga saprodi, terutama pupuk
   dan pestisida;
c. Rataan anggota keluarga 4 - 5 orang, dengan 2 - 3 orang anak.
                                        22

       2. Teknologi Pemeliharaan Tanaman Sengon (Produksi)
a. Jumlah dan kualitas pohon sangat beragam dan kualitasnya umumnya rendah
b. Populasi pohon Sengon 5 - 10 pohon
c. Luas pekarangan 500-1000 m persegi untuk menanam tanaman Sengon dan
   ditanami dengan aneka tanaman tahunan lainnya
d. Sasaran produksi : buah Sengon ;
e. Tenaga kerja keluarga: suami-istri, dan anak-anak .

      3. Kelembagaan Produksi Primer: Petani lahan kering

a. Hubungan antara anggota kelompok tani yang ada sekarang bersifat tradisional
b. Usaha pemeliharaan tanaman dengan sistem kebun campuran kurang intensif;
c. Setiap kelompok tani beranggotakan 20-30 RTP dan dipimpin oleh seorang ketua
   dan seorang sekretaris dan seorang bendahara; namun demikian aktivitas kelompok
   ini masih sederhana
d. Kelompok tani yang ada sekarang belum membentuk Koperasi formal yang
   beranggotakan semua RTP (Rumah Tangga Petani)

      (B) Permasalahan dan Peluang Pengembangan

1.   Keterbatasan penguasaan informasi, modal dan tek-nologi mengakibatkan operasi
     pemeliharaan tanaman sangat terbatas dan hasil buah Sengonnya juga masih
     relatif rendah. Peluang inovasi teknologi dapat dilakukan melalui pembinaan
     kelompok tani (KUBA =kelompok Usaha Bersama Agribisnis) secara intensif
     sehingga mempunyai akses yang lebih besar terhadap kemudahan-kemudahan
     yang disediakan oleh peme rintah atau investor swasta.
2.   Fluktuasi harga buah Sengon pada tingkat petani masih cukup besar dan
     "bargaining power" dalam mekanisme pasar relatif sangat lemah , karena
     informasi pasar yang dikuasai sangat terbatas dan daerah pemasarannya sangat
     terbatas. Informasi pasar yang memadai diharapkan dapat memperbaiki situasi
     ini. Rintisan kemitraan dengan kelembagaan suasta yang bergerak dalam bidang
     pemasaran buah Sengon diharapkan dapat membantu petani memasarkan hasil
     buahnya. Dalam kaitan ini perlu adanya lembaga pengumpul (pengepul) di desa
     sebagai "perwakilan" dari perusahaan suasta tersebut yang berperan sebagai
     pedagang desa. Lembaga pengepul inilah yang berhubungan langsung dengan
     KUBA.
3.   Salah satu kendala serius yang masih dihadapi para petani ialah dalam
     pengadaan saprodi, terutama bibit Sengon yang unggul, sedangkan pupuk dan
     pestisida telah dapat tersedia secara lokal dengan harga yang layak. Jalinan
     kemitraan juga perlu dikembangkan dengan melibatkan agen-agen dari produsen
     bibit/penangkar bibit yang bersertifikat, serta kios-kios/toko pertanian yang
     merupakan perwakilan dari produsen saprodi, seperti pupuk daun, hormon /zat
     trumbuh dan pestisida.
4.   Khusus dalam kaitannya dengan pembinaan dan pengembangan KUBA Sengon
     diperlukan suatu "Forum Komunikasi Agribisnis Sengon (FORKA Sengon)" yang
     beranggotakan wakil-wakil dan dinas/instansi terkait, koperasi/KUD, Suasta,
     ketua-ketua KUBA dan tokoh masyarakat. Fungsi dan tugas FORKA ini adalah
                                        23

     membahas segenap permasalahan pengembangan KUBA Sengon dan mencari
     alternatif penanganannya.

      (C). Hopotesis Disain Agro-Teknologi

       Usaha pemeliharaan Sengon dengan sistem KUBA disarankan dengan
perbaikan paket agrtoteknologi alternatif sebagai berikut :
1. Sistem perkebunan Sengon permanen dengan peme-liharaan tanaman secara
   intensif
2. Menggunakan bibit Sengon jenis unggul, misalnya Gadung atau Arumanis
3. Kebun monokultur lebih disarankan apabila memung kinkan.
4. Pengawasan kesehatan dan kesuburan tanaman dila-kukan dengan menerapkan
   praktek budidaya tanaman secara intensif.
5. Recording buku harian individu tanaman Sengon dan pengawasan periode
   pembungaan dan pembuahan kalau memungkinkan.
6. Menerapkan teknologi penanaganan pasca panen buah untuk menyeragamkan
   pematangan buah atau me-nangguhkan proses pematangan melalui manipulasi
   teknologi kemasan.


      (D). Kelayakan Disain Kebun Sengon

       1. Kelayakan Teknis
       Kebun monokultur digunakan secara khusus untuk memproduksi buah-buah
Sengon yang kualitasnya bagus dan seragam; sedangkan pengelolaan kebun dapat
mengikuti rekomendasi yang ada. Tanaman selama selama lima tahun pertama adalah
kedelai atau jagung yang dikelola secara intensif.

        2. Kelayakan Ekonomi
        Sekala ekonomi minimum bagi rumah tangga petani adalah 0.5-1.0 ha dengan
jumlah pohon produktif 100-200 pohon.
        Peningkatan produksi dan pendapatan usahatani Sengon mulai tahun ke V
diharapkan telah cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga secara
memadai (telah melampaui batas ambang kemiskinan); Fluktuasi pendapatan dan
produksi hampir merata dari tahun ke tahun tahun. Penyerapan tenaga kerja
memungkinkan mempekerjakan tenagakerja luar keluarga ; Secara ekonomi layak;
        Beberapa faktor penunjang kelayakan ekonomi tersebut adalah :
a. Menambah sasaran produksi, yaitu grading buah-buah Sengon untuk pasar lokal,
    regional dan kota-kota besar.
b. Meningkatkan hasil buah Sengon secara bertahap setiap tahun hingga sasaran akhir
    tahun ke X dengan sekala usaha 100-200 pohon produktif setiap rumahtangga yang
    memiliki lahan kering 0.5 -1.0 ha.
c. Mengurangi fluktuasi produksi dan pendapatan dengan jalan disiplin usaha dan
    pemantauan/pemeliharaan tanaman produktif secara intensif.
d. Menciptakan adanya pola usaha bersama (KUBA) secara berkelompok dengan
    pangsa yang relatif sama.

      3. Kelayakan Sosial
                                           24

       Usaha pemeliharaan Sengon secara berkelompok telah lazim dilakukan dengan
kerjasama yang serasi; dengan demikian proyek SPAKU Sengon ini tidak akan
menimbulkan konflik sosial dan mengganggu sistem kelompok yang telah serasi.

       (E). Rekayasa Kelembagaan

1. Petani yang terikat pinjaman dengan pedagang/pelepas uang harus melunasi untuk
   melepaskan ikatan tersebut;
2. Respon terhadap inovasi teknologi masih harus ditingkatkan, karena keterbatasan
   akses individu petani terhadap sumber informasi inovasi, peluang- peluang bisnis
   dan informasi pasar yang ada;
3. Respon terhadap KUD umumnya rendah dan terkesan bahwa peran KUD dalam
   membantu pemasaran hasil buah serta penyediaan modal belum banyak dirasakan
   oleh masyarakat petani ;
4. Respon terhadap perkreditan formal rendah, hal ini disebab- kan pengalaman
   sebelumnya dimana penyaluran kredit kurang aspiratif, terlalu birokratif, bunga tinggi
   dan tidak sesuai dengan kebutuhan petani .

        Berdasarkan atas beberapa kendala tersebut, maka strategi rekayasa
kelembagaan yang perlu disarankan adalah sebagai berikut :
1. Menciptakan usaha berkelompok dari RTP yang memungkinkan berkongsi dengan
    pangsa yang relatif seimbang;
2. Meningkatkan peran serta PTL, PPL, dan tokoh masyarakat dalam pembinaan
    KUBA Sengon;
3. Mengurangi secara bertahap ketergantungan petani pada pedagang/ lembaga
    pemasaran sehingga meningkatkan posisi tawar- menawar dalam pemasaran hasil ;
4. KUBA-KUBA Sengon perlu membentuk koperasi petani Sengon yang berfungsi
    sebagai jembatan penghubung antara kelompoktani Sengon dengan dunia luar, baik
    dunia bisnis, birokrasi dan perbankan, maupoun sumber inovasi teknologi
5. Memperkenalkan kredit yang ditempuh dengan sistem bagi hasil, serta mengatur
    sistem bagi hasil yang lebih seimbang dengan melibatkan lembaga antara , yaitu
    Koperasi petani Sengon atau KUD.

         (F). Justifikasi Kelembagaan
         Ikatan antara sesama petani dan antara petani dalam lembaga tradisional yang
ada, serta antara petani dengan tokoh masyarakat sangat kuat. Pada sisi lain
keterbatasan penguasaan modal dan informasi teknologi dirasakaan sebagai kendala
pokok bagi pengembangan agribisnis Sengon. Oleh karena itu usaha yang sekarang
dilakukan masih terkesan tradisional dengan sekala usaha yang relatif rendah.
         Sistem kredit bagi hasil dengan lembaga antara KUBA dan Koperasi Petani
Sengon dimaksudkan untuk mengurangi keterbatasan modal usaha.
         Dengan demikian perbankan formal, seperti Bank Jatim, sebagai penyedia
fasilitas kredit diharapkan mampu menjalin kerjasama kemitraan dengan para petani .


       G. Pranata
                                          25

        Tugas dan tanggung masing-masing komponen organisasi yang diusulkan
tersebut diuraikan sebagai berikut :
a. Investor PEMERINTAH:
- Menyediakan fasilitas kredit bagi hasil dalam bentuk paket agribisnis Sengon
    intensif untuk KUBA melalui koperasi petani Sengon;
- Menjalin kerjasama kemitraan dalam permodalan dengan koperasi petani dengan
    jalan menyediakan kemudahan-kemudahan birokrasi dan administrasi;
- Menjalin kerjasama konsultatif dengan Koperasi petani Sengon, khususnya dalam
    pelatihan manajemen permodalan bagi usaha agribisnis Sengon.

b. Suasta: Pedagang buah/Produsen Saprodi :
- Diharapkan bersedia sebagai mitra kerja Koperasi Petani Sengon atau KUBA
   Sengon, dengan jalan menunjuk perwakilannya di desa ;
- Menjalin kerjasama kemitraan dengan jalan menyediakan informasi-informasi pasar
   dan transfer teknologi inovatif .

c. Petugas Penyuluhan/Teknis Lapangan (PPL/PTL) :
- Bertanggung jawab terhadap pelatihan dan penyuluhan untuk lebih meningkatkan
   akses petani kecil terhadap peluang-peluang ekonomi yang ada dan penguasaan
   teknologi;
- Menjalin kerjasama konsultatif dan kemitraan dengan instansi terkait dan tokoh
   masyarakat setempat dalam pelaksanaan transfer teknologi dan pembinaan
   pengelolaan usaha
d. Koperasi Petani Sengon
- Mengawasi, mengkoordinasikan dan membina pelak sanaan sistem usaha agribisnis
   yang dilakukan oleh KUBA Sengon ;
- Membantu KUBA dalam operasionalisasi kegiatan pembinaan agribisnis Sengon ;
- Membina mekanisme kerja pengembalian kredit sehingga dapat memenuhi aspirasi
   petani dan sumber kredit ;
- Menjalin     kerjasama    kemitraan  dengan    suasta  pedagang     telur  dan
   produsen/pedagang SAPRODI ;
- Membina dan mengembangkan mekanisme tabungan sukarela dari para petani.

e. Petani Sengon
- Melaksanakan usaha agribisnis Sengon melalui KUBA
- Menjalin kerjasama kemitraan       dengan instansi/ investor melalui mekanisme
   "kerjasama yang saling meng-untungkan";
- Mengikuti pelatihan teknologi sebelum/selama opera-sionalisasi kegiatan;
- Memasarkan hasil produksinya kepada lembaga pe-masaran yang bermitra dengan
   KUBA
- Pengelolaan pemilikan alat produksi (jika kredit telah lunas), tetap berusaha secara
   kongsi di bawah pengawasan dan pembinaan KUBA dan Koperasi;
- Menjalin kerjasama dengan Koperasi Petani Sengon melalui program tabungan
   bebas sebagai dana untuk perawatan alat-alat produksi.

       (H). Strategi Implementasi

       1. Aspek Kelembagaan
                                            26

a. Pengaturan adanya usaha agribisnis Sengon secara berkelompok (KUBA) dilakukan
   dengan sistem kredit bagi hasil ;
b. Sarana alat produksi dan SAPRODI menjadi milik RTP yang berkelompok menjadi
   KUBA
c. Pembagian hasil diatur sedemikian rupa, sehingga saling menguntungkan semua
   pihak secara proporsional
d. Pada tahap awal, pemilihan kelompok sasaran perlu diarahkan pada pribadi-pribadi
   yang memiliki status sosial hampir sama/merata dan respon terhadap mekanisme
   pembinaan ;
e. Perlu dijalin kerjasama kemitraan yang harmunis antara instansi pemerintah,
   investor suasta, pedagang/ pengolah/produsen SAPRODI, Koperasi dan tokoh
   masyarakat desa melalui forum komunikasi agribisnis (FORKA). Kunci keberhasilan
   pembinaan sangat tergantung pada peran serta semua pihat terkait, termasuk
   petani.

         2. Operasionalisasi Teknis
         Rekapitulasi pengaturan teknis yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan
kredit bagi hasil adalah sebagai berikut :
a. Jumlah Jumlah tanaman produktif yang dipelihara minimum 100 pohon setiap RTP ;
b. Jumlah RTP dalam usaha kelompok ± 25-30 RTP;
c. Ketentuan bagi hasil dalam pengembalian kredit dan perguliran berdasarkan asas
    saling menguntungkan;
d. Nilai kredit/modal yang diinvestasikan disesuaikan dengan kebutuhan.

        3. Operasionalisasi Pengorganisasian.
        Pengorganisasian yang perlu diakukan untuk menunjang program ini adalah :

               Tahapan kegiatan                               Pelaksana
  No.
  1     Pengaturan kerjasama investor dengan Petani   Investor dan Di nas/Instansi
  2.    Penentuan pedagang sebagai komponen                     FORKA
        pembinaan
  3.    Pengaturan kerjasama antar kelembagaan                  FORKA
        yang terkait
  4.    Pelatihan PPL tentang teknologi yang akan            Dinas/BLPP
        diintroduksikan.
  5.    Penentuan/seleksi RTP untuk usaha kelom-            Instansi/Tokoh
        pok dalam KUBA Sengon                                 masy/Desa
  6.    Pelatihan Petani                                     PPL/FORKA
  7.    Operasionalisasi kegiatan usaha agribisnis
        secara berkelompok/berkongsi :
        a. Pemeliharaan ayam                                    RTP
        b. Pembeli hasil produksi telur                       Pengepul
        c. Pengatur dan pengawas bagi hasil                  Ketua KUB
        d. Pengawasan harga                                   Koperasi
        e. Pembelian Saprodi                                Koperasi; RTP
        f. Penanggung jawab bagi hasil                      Koperasi, KUB
        g. Penambahan modal usaha                           Koperasi, KUB
  8.    Pengaturan usaha bersama petani setelah             Koperasi+KUB
        kredit lunas
                                         27



      (I). Enforcement dan Pemantauan

        Dalam rangka untuk mengamankan dan membantu kelancaran kredit bagi hasil
untuk petani kecil tersebut perlu dikembangkan pola insentif dan penalti yang
melibatkan Koperasi, KUBA, aparat pemerintahan desa, dan kelembagaan lain yang
terkait. Dalam hubungan ini pendekatan persuasif sangat diperlukan.


      5.3.2. Kelembagaan Ekonomi/Keuangan
      Kelembagaan ekonomi yang diperlukan adalah : BRI, BPD, BUMN, Swasta,
KUD, Pedagang dan Arisan/pengajian.

      5.3.3. Kelembagaan Aparatur
      Kelembagaan aparatur, berdasarkan fungsinya dapat dibagi menjadi :
      a. Lintas sektoral
         Misalnya : LKMD, Forum Musyawarah LKMD.
      b. Struktural sektoral
        - Mantri Tani, berfungsi untuk administrasi tanaman sengon atau
          SIMKM (Sistem Informasi Manajemen Kebun Sengon)
        - Kepala Dinas Tk. II
        - Kepala Dinas Tk. I
        - Kakanwil Dep. Pertanian Propinsi Jawa Timur
      c. Struktural fungsional
        - PPL Sengon, dibekali ketrampilan teknis dan
          manajerial dan dengan modal kredit usahatani.
        - PPS di tingkat BIPP Kabupaten.
      d. Balai Latihan Kerja dan Diklat Petani
        - Sekolah Lapangan (SL) Agribisnis Sengon di lokasi sentra.
        - BLPP di Tingkat Kabupaten

       5.4. Peningkatan Pengolahan dan Pemasaran
       Salah satu aspek sangat penting dalam pemba-ngunan sentra agribisnis
adalah pengolahan/pemasaran hasil. Memasuki perdagangan bebas, aspek-aspek
penting dari produk usahatani atau produk agroindustri yang akan dipasarkan adalah :
       a. Kuantitas (volume produksi) yang berskala ekonomi
       b. Kontinuitas (ketersediaan sepanjang waktu)
       c. Kualitas/mutu yang tinggi
       d. Harga (efisiensi) yang kompetitif

      5.4.1. Peningkatan pengolahan meliputi :
      a. Pengadaan alat pengolahan hasil (Cold storage)
      b. Pelatihan pengolahan hasil bagi petani (pe-makaian bahan kimia untuk
          penyeragaman pemasakan)
      c. Pelatihan peningkatan mutu hasil (SLAM/ Sekolah Lapang Agribisnis
          Sengon)
      d. Magang petani di perusahaan agroindustri
      e. Magang di BLPP
                                         28



       5.4.2. Peningkatan pemasaran meliputi :

       a. Pengembangan sistem informasi pasar Melalui Radio Komunikasi Informasi
           Pertanian (RKIP) Wonocolo Surabaya.
       b. Temu Usaha
       c. Magang di perusahaan agribisnis
       d. Studi banding ke daerah pemasaran


       5.5. Dukungan Sektor Terkait

        Pembangunan Sentra Agribisnis Komoditas Unggulan memerlukan dukungan
sektor lain yang terkait seperti :
 a. Pembangunan jalan kebun (Dep. PU)
 b. Pembangunan Irigasi /sumur (Dep. PU)
 c. Pengembangan Koperasi/KUD (Dep. Koperasi dan PPK)
 d. Pembangunan Pasar Lelang, pasar induk (Dep. Perda gangan)
 e. Pembangunan Industri Pengolahan Hasil (Dep. Perin-dustrian)

       5.6. Analisis Faktor Pendorong dan Penghambat
       Dalam rangka pembangunan sentra pengembangan komoditi unggulan Sengon
di Kabupaten Malang, perlu dianalisis faktor pendorong dan penghambat.

       1. Faktor pendorong
          Meliputi sosioteknologi, agroekosistem cacah, infra struktur memadai,
          kelembagaan agro-support mendukung, supra struktur politis kondusif.

       2. Faktor penarik
          Meliputi pemasaran prospektif, trend kenaikan pendapatan, kesadaran gizi
          masyarakat, GKD, perkembangan struktur ekonomi.

       3. Faktor penghambat
          Meliputi pemilihan lahan sempit, kesulitan air, orientasi subsistensi,
          keragaman poliklonal, musiman dan binial bearing (pembuahan tidak teratur),
          volume besar dan berat serta mudah rusak.


       5.7. Pengorganisasian Proyek

       5.7.1. Koordinasi Perencanaan Proyek

       1. Kegiatan
       Tahapan kegiatan-kegiatan tahunan seperti dijabarkan pada Bab VI merupakan
rencana kegiatan untuk pengembangan sentra agribisnis Sengon di Kabupaten Malang
yang perlu disepakati oleh fungsi perencanaan pada Kanwil Departemen Pertanian
Propinsi Jawa Timur, Bappeda Tingkat I Propinsi Jawa Timur, Dinas Pertanian Tanaman
Pangan dan Hortikultura Tk. I dan Tk. II serta Bappeda Kabupaten Malang, dan disetujui
                                         29

oleh Departemen Pertanian dan Pemda Kabupaten Malang serta Dinas-dinas sektor
terkait lainnya.

       2. Pendanaan
       Biaya pembangunan sentra produksi Sengon selama 5 - 10 tahun diusulkan
untuk dapat dialokasikan tidak saja dari dana APBN tetapi juga dari dana APBD Tk. I
atau APBD Tk. II. Dengan sistem/pola pendanaan :
       - Pemeliharaan th. I = APBN
       - P II - P III - P IV = APBD I dan II

      5.7.2. Pelaksanaan
      Pengembangan sentra agribisnis Sengon di Kabu-paten Malang ini dilaksanakan
oleh Unit Pelayanan Pengembangan (UPP) sentra agribisnis Sengon yang berada di
bawah tanggung jawab Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Tk. II Kabupaten
Malang.

       5.7.3. Pengendalian
       Pengendalian kegiatan pengembangan sentra agri bisnis Sengon (selama masa
konstruksi proyek) di Kabupaten Malang dilaksanakan oleh Tim Teknis Pembangunan
Pertanian Propinsi Jawa Timur. FORKA Sengon (Forum Komunikasi Agribisnis Sengon)
dibentuk dan diharapkan dapat berfungsi penuh selama pasca proyek.

        5.7.4. Monitoring dan Evaluasi
        Evaluasi pelaksanaan kegiatan tahunan (on going) dilaksanakan secara terpadu
oleh Kanwil Deptan Propinsi Jawa Timur, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan
Hortikultura Tk. I dan Tk. II Kabupaten Malang, Bappeda Kabupaten Malang serta
Dinas- dinas sektor terkait di Kabupaten Malang.
        Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan tahunan bertujuan memantau
kegiatan tahunan agar sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan
merekomendasi penyesuaian-penyesuaian yang perlu dilaksanakan seandainya demi
tercapainya tujuan pengembangan sentra agribisnis Sengon. Evaluasi dampak (ex post)
akan dilaksanakan setelah 5 - 10 tahun berjalan yang melibatkan Instansi Pertanian
tingkat Pusat.
        Evaluasi dampak bertujuan melihat/menganalisa dampak yang timbul akibat
adanya kegiatan pembangunan sentra agribisnis Sengon. Diharapkan dampak yang
timbul adalah dampak positif yaitu antara lain : meningkatnya pendapatan petani
khususnya dan perekonomian desa pada umumnya.


       VI. PENGORGANISASIAN

        Kegiatan Sentra Pengembangan Agribisnis Komoditi Unggulan Sengon
merupakan salah satu upaya terobosan baru dari Pemerintah, sehingga penanganannya
diperlukan secara terpadu dari berbagai instansi terkait. Agar program tersebut dapat
terlaksana sesuai dengan target dan sasaran yang diinginkan, maka dipandang perlu
untuk dibentuk suatu Tim Pelaksanaan Koordinasi Tingkat Daerah, yaitu FORKA
Sengon.
                                         30

       Dalam pelaksanaan kegiatan ini terlibat berbagai unsur baik di tingkat pusat
maupun tingkat daerah sesuai dengan fungsinya masing-masing. Untuk itu perlu
dilakukan koordinasi sejak perencanaan/persiapan, pelaksanaan dan pengawasan.


       VII. PENGAWASAN DAN PELAPORAN

      Pengawasan dan Pengendalian Sentra Pengembangan Agribisnis Komoditas
Unggulan (SPAKU) Sengon ini dilaksanakan dengan 2 cara, yaitu :

       7.1. Pengawasan
       Pengawasan dan pengendalian yang insidentil, yang dilaksanakan dengan
supervisi/kunjungan ke lapangan. Hal ini dapat dilakukan oleh :
(1) Direktorat Jenderal Perkebunan
(2) Kantor Wilayah Departemen Pertanian propinsi.
(3) Dinas Perkebunan Propinsi Dati I.
(4) Dinas Peerkebunan Dati II.
(5) Tim Pembina Profesional dan Tim Teknis Komoditi Unggulan.
(6). FORKA Sengon.

       7.2. Pelaporan
       Pengawasan dan pengendalian berkala yang dilaksanakan dengan penyampaian
laporan. Seperti disebutkan dalam Petunjuk Pelaksanaan/Juklak, maka bentuk sistem
pelaporan untuk memonitor keberhasilan proyek ditetapkan oleh Dinas/Instansi Tingkat
I. Sedangkan arus penyampaian pelaporan dilaksanakan sebagai berikut :
(1) Petugas Pertanian Kecamatan menyampaikan laporan kepada Kepala Dinas
     Perkebunan Dati II setiap bulan.
(2) Kepala Dinas Perkebunan Dati II menyampaikan laporan kepada Kepala Dinas
     Perkebunan Dati I, Kepala Kantor Wilayah Departemen Pertanian , dan Bupati
     Kepala Daerah setiap bulan.
(3) Kepala Dinas Perkebunan Dati I menyampaikan laporan kepada Gubernur.


       VIII. AGRO-EKO-TEKNOLOGI SENGON

       Botani Sengon

       Sengon dalam bahasa latin disebut Albazia Falcataria, termasuk famili
Mimosaceae, keluarga petai – petaian. Di Indonesia, sengon memiliki beberapa nama
daerah seperti berikut : Jawa : jeunjing, jeunjing laut (sunda), kalbi, sengon landi,
sengon laut, atau sengon sabrang (jawa). Maluku : seja (Ambon), sikat (Banda), tawa
(Ternate), dan gosui (Tidore). Bagian terpenting yang mempunyai nilai ekonomi pada
tanaman sengon adalah kayunya. Pohonnya dapat mencapai tinggi sekitar 30–45 meter
dengan diameter batang sekitar 70 – 80 cm.
       Bentuk batang sengon bulat dan tidak berbanir. Kulit luarnya berwarna putih
atau kelabu, tidak beralur dan tidak mengelupas. Berat jenis kayu rata-rata 0,33 dan
termasuk kelas awet IV - V. Kayu sengon digunakan untuk tiang bangunan rumah,
papan peti kemas, peti kas, perabotan rumah tangga, pagar, tangkai dan kotak korek
                                           31

api, pulp, kertas dan lain-lainnya. Tajuk tanaman sengon berbentuk menyerupai payung
dengan rimbun daun yang tidak terlalu lebat. Daun sengon tersusun majemuk menyirip
ganda dengan anak daunnya kecil-kecil dan mudah rontok. Warna daun sengon hijau
pupus, berfungsi untuk memasak makanan dan sekaligus sebagai penyerap nitrogen
dan karbon dioksida dari udara bebas.
         Sengon memiliki akar tunggang yang cukup kuat menembus kedalam tanah,
akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan tidak menonjol kepermukaan
tanah. Akar rambutnya berfungsi untuk menyimpan zat nitrogen, oleh karena itu tanah
disekitar pohon sengon menjadi subur.
         Dengan sifat-sifat kelebihan yang dimiliki sengon, maka banyak pohon sengon
ditanam ditepi kawasan yang mudah terkena erosi dan menjadi salah satu kebijakan
pemerintah melalui DEPHUTBUN untuk menggalakan ‘Sengonisasi’ di sekitar daerah
aliran sungai (DAS) di Jawa, Bali dan Sumatra.
         Bunga tanaman sengon tersusun dalam bentuk malai berukuran sekitar 0,5 – 1
cm, berwarna putih kekuning-kuningan dan sedikit berbulu. Setiap kuntum bunga mekar
terdiri dari bunga jantan dan bunga betina, dengan cara penyerbukan yang dibantu oleh
angin atau serangga.
         Buah sengon berbentuk polong, pipih, tipis, dan panjangnya sekitar 6 – 12 cm.
Setiap polong buah berisi 15 – 30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil dan jika sudah tua
biji akan berwarna coklat kehitaman,agak keras, dan berlilin.

       Habitat Sengon: Tanah

        Tanaman Sengon dapat tumbuh baik pada tanah regosol, aluvial, dan latosol
yang bertekstur lempung berpasir atau lempung berdebu dengan kemasaman tanah
sekitar pH 6-7.

       Iklim
       Ketinggian tempat yang optimal untuk tanaman sengon antara 0 – 800 m dpl.
Walapun demikian tanaman sengon ini masih dapat tumbuh sampai ketinggian 1500 m
di atas permukaan laut. Sengon termasuk jenis tanaman tropis, sehingga untuk
tumbuhnya memerlukan suhu sekitar 18 ° – 27 °C.

       Curah Hujan
       Curah hujan mempunyai beberapa fungsi untuk tanaman, diantaranya sebagai
pelarut zat nutrisi, pembentuk gula dan pati, sarana transpor hara dalam tanaman,
pertumbuhan sel dan pembentukan enzim, dan menjaga stabilitas suhu. Tanaman
sengon membutuhkan batas curah hujan minimum yang sesuai, yaitu 15 hari hujan
dalam 4 bulan terkering, namun juga tidak terlalu basah, dan memiliki curah hujan
tahunan yang berkisar antara 2000 – 4000 mm.

       Kelembaban
       Kelembaban juga mempengaruhi setiap tanaman. Reaksi setiap tanaman
terhadap kelembaban tergantung pada jenis tanaman itu sendiri. Tanaman sengon
membutuhkan kelembaban sekitar 50%-75%.

       Keragaman Penggunaan dan Manfaat Kayu sengon
                                          32

       Pohon sengon merupakan pohon yang serba guna. Dari mulai daun hingga
perakarannya dapat dimanfaatkan untuk beragam keperluan.

       Daun
       Daun Sengon, sebagaimana famili Mimosaceae lainnya merupakan pakan
ternak yang sangat baik dan mengandung protein tinggi. Jenis ternak seperti sapi,
kerbau, dan kambing menyukai daun sengon tersebut.

        Perakaran
        Sistem perakaran sengon banyak mengandung nodul akar sebagai hasil
simbiosis dengan bakteri Rhizobium. Hal ini menguntungkan bagi akar dan sekitarnya.
Keberadaan nodul akar dapat membantu porositas tanah dan openyediaan unsur
nitrogen dalam tanah. Dengan demikian pohon sengon dapat membuat tanah
disekitarnya menjadi lebih subur. Selanjutnya tanah ini dapat ditanami dengan tanaman
palawija sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani penggarapnya.

       Kayu
       Bagian yang memberikan manfaat yang paling besar dari pohon sengon adalah
batang kayunya. Dengan harga yang cukup menggiurkan saat ini sengon banyak
diusahakan untuk berbagai keperluan dalam bentuk kayu olahan berupa papan papan
dengan ukuran tertentu sebagai bahan baku pembuat peti, papan penyekat, pengecoran
semen dalam kontruksi, industri korek api, pensil, papan partikel, bahan baku industri
pulp kertas dll.

       Pembibitan Sengon

       a). Benih

        Pada umumnya tanaman sengon diperbanyak dengan bijinya. Biji sengon yang
dijadikan benih harus terjamin mutunya. Benih yang baik adalah benih yang berasal dari
induk tanaman sengon yang memiliki sifat-sifat genetik yang baik, bentuk fisiknya tegak
lurus dan tegar, tidak menjadi inang dari hama ataupun penyakit. Ciri-ciri penampakan
benih sengon yang baik sebagai berikut:
        • Kulit bersih berwarna coklat tua
        • Ukuran benih maksimum
        • Tenggelam dalam air ketika benih direndam, dan
        • Bentuk benih masih utuh.
        Selain penampakan visual tersebut, juga perlu diperhatikan daya tumbuh dan
daya hidupnya, dengan memeriksa kondisi lembaga dan cadangan makanannya
dengan mengupas benih tersebut. Jika lembaganya masih utuh dan cukup besar, maka
daya tumbuhnya tinggi.

       b) Kebutuhan Benih
       Jumlah benih sengon yang dibutuhkan untuk luas lahan yang hendak ditanami
dapat dihitung dengan menggunakan rumus perhitungan sederhana berikut :
       • Luas kebun penanaman sengon 1 hektar (panjang= 100 m dan lebar= 100 m)
       • Jarak tanam 3 x 2 meter
       • Satu lubang satu bibit sengon
                                          33

       • Satu kilogram benih berisi 40.000 butir
       • Daya tumbuh 60 %
       • Tingkat kematian selama di persemaian 15 %
       Dengan demikian jumlah benih = 100 / 3 x 100/2 x 1 = 1.667 butir. Namun
dengan memperhitungkan daya tumbuh dan tingkat kematiannnya, maka secara
matematis dibutuhkan 3.705 butir. Sedangkan operasionalnya, untuk kebun seluas satu
hektar dengan jarak tanam 3 x 2 meter dibutuhkan benih sengon kira-kira 92,62 gram,
atau dibulatkan menjadi 100 gram.

         c) Perlakuan benih
         Sehubungan dengan biji sengon memiliki kulit yang liat dan tebal serta segera
berkecambah apabila dalam keadaan lembab, maka sebelum benih disemaikan ,
sebaiknya dilakukan treatment guna membangun perkecambahan benih tersebut, yaitu :
Benih direndam dalam air panas mendidih (80 C) selama 15 – 30 menit. Setelah itu,
benih direndam kembali dalam air dingin yang telah diberi pupuk untuk
merangsang kecambah agar lebih cepat muncul, rendam kurang lebih 24 jam, lalu
ditiriskan. untuk selanjutnya benih siap untuk disemaikan.

        d) Pemilihan Lokasi Persemaian
        Keberhasilan persemaian benih sengon ditentukan oleh ketepatan dalam
pemilihan tempat. Oleh karena itu perlu diperhatikan beberapa persyaratan memilih
tempat persemaian sebagai berikut :
        • Lokasi persemaian dipilih tempat yang datar atau dengan derajat kemiringan
maksimum 5 %.
        • Diupayakan memilih lokasi yang memiliki sumber air yang mudah diperoleh
sepanjang musim ( dekat dengan mata air, dekat sungai atau dekat persawahan).
        • Kondisi tanahnya gembur dan subur, tidak berbatu/kerikil, tidak mengandunh
tanah liat.
        • Berdekatan dengan kebun penanaman dan jalan angkutan, guna menghindari
kerusakan bibit pada waktu pengangkutan.
        Untuk memenuhi kebutuhan bibit dalam jumlah besar perlu dibangun
persemaian yang didukung dengan sarana dan prasarana pendukung yang memadai,
antara lain bangunan persemaian, sarana dan prasarana pendukung, sarana produksi
tanaman dll. Selain itu ditunjang dengan ilmu pengetahuan yang cukup diandalkan.

       Langkah-Langkah Penyemaian Benih Sengon
       Terlepas dari kegiatan pembangunan dan penyediaan sarana dan prasarana
pendukung maka langkah-langkah penyemaian benih dapat dibagi benjadi tahap –
tahap kegiatan sebagai berikut:
       a) Penaburan
       Kegiatan penaburan dilakukan dengan maksud untuk memperoleh prosentase
kecambah yang maksimal dan menghasilkan kecambah yang sehat. Kualitas kecambah
ini akan mendukung terhadap pertumbuhan bibit tanaman, kecambah yang baik akan
menghasilkan bibit yang baik pula dan hal ini akan dapat membentuk tegakan yang
berkualitas.
       Bahan dan alat yang perlu diperhatikan dalam kegiatan penaburan adalah
sebagai berikut :
       • Benih
                                          34

        • Bedeng tabur/bedeng kecambah
        • Media Tabur, campuran pasir dengan tanah 1 : 1
        • Peralatan penyiraman
        • Tersedianya air yang cukup.
        Teknik pelaksanaan, bedeng tabur dibuat dari bahan kayu/bambu dengan atap
rumbia dengan ukuran bak tabur 5 x 1 m ukuran tinggi naungan depan 75 cm belakang
50 cm.. kemudian bedeng tabur disi dengan media tabur setebal 10 cm , usahakan agar
media tabur ini bebas dari kotoran/sampah untuk menghindari timbulnya penyakit pada
kecambah. Penaburan benih pada media tabur dilakukan setelah benih mendapat
perlakuan guna mempercepat proses berkecambah dan memperoleh prosen kecambah
yang maksimal. Penaburaan dilakukan pada waktu pagi hari atau sore hari untuk
menghindari terjadinya penguapan yang berlebihan.
        Penaburan ini ditempatkan pada larikan yang sudah dibuat sebelumnya, ukuran
larikan tabur ini berjara 5 cm antar larikan dengan kedalaman kira – kira 2,0 cm.
Usahakan benih tidak saling tumpang tindih agar pertumbuhan kecambah tidak
bertumpuk. Setelah kecambah berumur 7 – 10 hari maka kecambah siap untuk
dilakukan penyapihan.

       Penyapihan Bibit
       Langkah-langkah kegiatan penyapihan bibit antara lain adalah :
       • Siapkan kantong plastik ukuran 10 x 20 cm, dan dilubangi kecil-kecil sekitar 2
          – 4 lubang pada bagian sisi-sisinya.
       • Masukkan media tanam yang berupa campuran tanah subur, pasir dan
          pupuk kandang (1:1:1).Jika tanah cukup gembur, jumlah pasir dikurangi.
       • Setelah media tanam tercampur merata, kemudian dimasukkan ke dalam
          kantong plasik setinggi ¾ bagian, barulah kecambah sengon ditanam, setiap
          kantong diberi satu batang kecambah.
       . Kemudian tanam kecambah. Ulangi setiap 10 – 14 hari sekali sampai
          tanaman siap untuk di tanam di lahan (pada usia 6 bulan).
       • Kantong plastik yang telah berisi anakan, diletakkan dibawah para-para yang
          diberi atap jerami atau daun kelapa, agar tidak langsung tersengat terik
          matahari.
       • Pada masa pertumbuhan anakan semai sampai pada saat kondisi bibit layak
          untuk ditanam di lapangan perlu dilakukan pemeliharaan secara intensip.

        c) Pemeliharaan
        Pemeliharaan yang dilakukan terhadap bibit dipersemaian adalah sebagai
berikut :
        Penyiraman, penyiraman yang optimum akan memberikan pertumbuhan yang
optimum pada semai / bibit. Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari maupun
siang hari dengan menggunakan nozle. Selanjutnya pada kondisi tertentu, penyiraman
dapat dilakukan lebih banyak dari keadaan normal, yaitu pada saat bibit baru dipindah
dari naungan ke areal terbuka dan hari yang panas.
        Pemupukan, pemupukan dilakukan dengan mengIKUTI REKOMENDASI YANG
ADA.

       Penyulaman
                                         35

       Penyulaman dilakukan apabila bibit ada yang mati dan perlu dilakukan dengan
segera agar bibit sulaman tidak tertinggal jauh dengan bibit lainnya.

       Penyiangan
       Penyiangan terhadap gulma, dilakukan dengan mencabut satu per satu dan bila
perlu dibantu dengan alat pencungkil, namun dilakukan hati –hati agar jangan sampai
akar bibit terganggu.

       Pengendalian Hama dan Penyakit
       Beberapa hama yang biasa menyerang bibit adalah semut, tikus rayap, dan
cacing, sedangkan yang tergolong penyakit ialah kerusakan bibit yang disebabkan oleh
cendawan.

       Seleksi bibit
       Kegiatan seleksi bibit merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum bibit
dimutasikan ke lapangan, maksudnya yaitu mengelompokan bibit yang baik dari bibit
yang kurang baik pertumbuhannya. Bibit yang baik merupakan prioritas pertama yang
bisa dimutasikan kelapangan untuk ditanam sedangkan bibit yang kurang baik
pertumbuhannya dilakukan pemeliharaan yang lebih intensip guna memacu
pertumbuhan bibit sehingga diharapkan pada saat waktu tanam tiba kondisi bibit
mempunyai kualitas yang merata.

       Penyiapan Lahan
       Penyiapan lahan pada prinsipnya membebaskan lahan dari tumbuhan
pengganggu atau komponen lain dengan maksud untuk memberikan ruang tumbuh
kepada tanaman yang akan dibudidayakan. Cara pelaksanaan penyipan lahan
digolongkan menjadi 3 cara, yaitu cara mekanik, semi mekanik dan manual. Jenis
kegiatannya terbagi menjadi dua tahap ;
       • Pembersihan lahan, yaitu berupa kegiatan penebasan terhadap semak
          belukar dan padang rumput. Selanjutnya ditumpuk pada tempat tertentu agar
          tidak mengganggu ruang tumbuh tanaman.
       • Pengolahan tanah, dimaksudkan untuk memperbaiki struktur tanah dengan
          cara mencanggkul atau membajak (sesuai dengan kebutuhan).

      Penanaman bibit sengon

      Jenis kegiatan yang dilakukan berupa :
      • Pembuatan dan pemasangan ajir tanam
      • Ajir dapa dibuat dari bahan bambu atau kayu dengan ukuran, panjang 0,5 – 1
m, lebar 1 – 1,5 cm. Pemasangangan ajir dimaksudkan untuk memberikan tanda
dimana bibit harus ditanam, dengan demikian pemasangan ajir tersebut harus sesuai
dengan jarak tanam yang digunakan
      • Pembuatan lobang tanam, lobang tanam dibuat dengan ukuran 30 x 30 x 30
         cm tepat pada ajir yang sudah terpasang.
      • Pengangkutan bibit, ada dua macam pengangkutan bibit yaitu pengankuatan
         bibit dari lokasi persemaian ketempat penampungan bibit sementara di
         lapangan (lokasi penanaman), dan pengangkutan bibit dari tempat
         penampungan sementara ke tempat penanaman.
                                        36

      • Penanaman bibit, pelaksanaan kegiatan penanaman harus dilakukan secara
        hati – hati agar bibit tidak rusak dan penempatan bibit pada lobang tanam
        harus tepat ditengah-tengah serta akar bibit tidak terlipat, hal ini akan
        berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit selanjutnya.

      Pemeliharaan tanaman sengon muda

      Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan berupa kegiatan:
      • Penyulaman, yaitu penggantian tanaman yang mati atau sakit dengan
         tanaman yang baik, penyulaman pertama dilakukan sekitar 2-4 minggu
         setelah tanam, penyulaman kedua dilakukan pada waktu pemeliharaan tahun
         pertama (sebelum tanaman berumur 1 tahun). Agar pertumbuhan bibit
         sulaman tidak tertinggal dengan tanaman lain, maka dipilih bibit yang baik
         disertai pemeliharaan yang intensif.
      • Penyiangan, Pada dasarnya kegiatan penyiangan dilakukan untuk
         membebaskan tanaman pokok dari tanaman penggagu dengancara
         membersihkan gulma yang tumbuh liar di sekeliling tanaman, agar
         kemampuan kerja akar dalam menyerap unsur hara dapat berjalan secara
         optimal. Disamping itu tindakan penyiangan juga dimaksudkan untuk
         mencegah datangnya hama dan penyakit yang biasanya menjadikan rumput
         atau gulma lain sebagai tempat persembunyiannya, sekaligus untuk
         memutus daur hidupnya. Penyiangan dilakukan pada tahun-tahun permulaan
         sejak penanaman agar pertumbuhan tanaman sengon tidak kerdil atau
         terhambat, selanjutnya pada awal maupun akhir musim penghujan, karena
         pada waktu itu banyak gulma yang tumbuh.
      • Pendangiran, pendangiran yaitu usaha mengemburkan tanah disekitar
         tanaman dengan maksud untuk memperbaiki struktur tanah yang berguna
         bagi pertumbuhan tanman.
      • Pemangkasan, melakukan pemotongan cabang pohon yang tidak berguna
         (tergantung dari tujuan penanaman).
      • Penjarangan , penjarangan dillakukan untuk memberikan ruang tumbuh yang
         lebih leluasa bagi tanaman sengon yang tinggal. Kegiatan ini dilakukan pada
         saat tanaman berumur 2 dan 4 tahun, Penjarangan pertama dilakukan
         sebesar 25 %, maka banyaknya pohon yang ditebang 332 pohon per hektar,
         sehingga tanaman yang tersisa sebanyak 1000 batang setiap hektarnya dan
         penjarangan kedua sebesar 40 % dari pohon yang ada ( 400 pohon/ha ) dan
         sisanya 600 pohon dalam setiap hektarnya merupakan tegakan sisa yang
         akan ditebang pada akhir daur. Cara penjarangan dilakukan dengan
         menebang pohon-pohon sengon menurut sistem "untu walang" (gigi
         belakang) yaitu : dengan menebang selang satu pohon pada tiap barisan dan
         lajur penanaman.

       Sesuai dengan daur tebang tanaman sengon yang direncanakan yaitu selama 5
tahun maka pemeliharaan pun dilakukan selama lima tahun. Jenis kegiatan
pemeliharaan yang dilaksanakan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan tanaman.
Pemeliharaan tahun I sampai dengan tahun ke III kegiatan pemeliharaan yang
dilaksanakan dapat berupa kegiatan penyulaman, penyiangan, pendangiran,
pemupukan dan pemangkasan cabang. Pemeliharaan lanjutan berupa kegiatan
                                            37

penjarangan dengan maksud untuk memberikan ruang tumbuh kepada tanaman yang
akan dipertahankan, presentasi dan prekuensi penjarangan disesuaikan dengan aturan
standar teknis kehutanan yang ada.




        (Sumber: http://nihon-kiseki.blogspot.com/2010/11/pengelolaan-hama-terpadu-
                                  tanaman-sengon_07.html)




                              Kayu sengon siap diolah (Sumber:
       http://1.bp.blogspot.com/_LTFtTbIQoLc/TOJz2N1A73I/AAAAAAAAAc0/5eyevi
                      R9CaU/s1600/pemotongan%2Bkayu%2Bsengon.jpg)
                                          38

        Banyak orang mengatakan budidaya sengon atau albasia tidak ubahnya seperti
berkebun emas. Keuntungan dari investasi tersebut sangat tinggi pada usia panen 5 th
s/d 7 th yang akan datang. Tak heran banyak investor yang bergerak di luar bidang non
agrobisnis saat ini mulai banyak menggarap ceruk bisnis yang satu ini.

       Kebutuhan Dana Investasi Kayu Sengon/Hektar (+/- 4000 Batang)

Estimasi Perhitungan Biaya :
            Pembelian Bibit Rp. 8.000.000
            Ongkos Tanam Rp. 4.000.000
            Biaya Perawatan Rp. 9.000.000
            Biaya Penyulaman 20% estimasi Rp. 5.250.000
            Lain-lain Rp. 2.000.000
            Total Biaya Rp. 28.250.000
      Catatan :
         Perhitungan ini tanpa menghitung biaya sewa lahan.
         Estimasi tersebut di atas bisa berbeda untuk satu daerah dengan daerah yang
          lain.
         Perhitungan estimasi hanya dibuat secara garis besar.

       Biaya Perawatan
Biaya Perawatan meliputi biaya pembersihan lahan dan pemberian pupuk serta
pengendalian hama setiap 6 bulan sekali. Pekerjaan akan melibatkan tenaga kerja
sebanyak 5 orang. Terdiri 1 (satu orang) pengawas dan 4 (empat) orang pekerja.
Diperkirakan akan memakan waktu 7 hari kerja untuk setiap 1 hektar lahan.

Proyeksi biaya perawatan selama 5 tahun adalah sebesar Rp. 9.000.000.

Perhitungan Biaya Perawatan :
            Upah tenaga kerja per orang : Rp. 20.000/hari
            Jumlah tenaga kerja : 5 orang
            Jumlah hari kerja : 7 hari
            Jumlah biaya per 6 bulan : Rp. 700.000
            Jumlah biaya 5 Tahun : Rp. 7.000.000
            Kebutuhan Pupuk : Rp. 2.000.000
            Jumlah Biaya Perawatan : Rp. 9.000.000

       Biaya Penyulaman
       Biaya penyulaman adalah estimasi atas kemungkinan tanaman yang kurang
sehat atau mati. Apabila perkiraan tanaman yang mati sebesar 25% dari total 4000
batang. Maka jumlah penyulaman sebanyak 1000 tanaman. Apabila biaya perawatan
dan biaya bibit per batang adalah sebesar Rp. 5.250 [Rp. 12.000.000 + Rp. 9.000.000) :
4.000 batang], maka biaya penyulaman diperkirakan akan menyerap dana sekitar Rp.
5.250.000.

        Pemasaran
        Pemasaran kayu sengon relatif lebih mudah, karena kayu sengon merupakan
jenis kayu yang tingkat konsumsinya tinggi. Kebutuhan kayu sengon di samping untuk
                                         39

dijual sebagai kayu papan dapat pula digunakan sebagai kayu kaso, palet, bahan
pembuat peti dan lain sebagainya. Ranting kayu sengon dapat pula dijual sebagai kayu
bakar dan bahan baku pembuatan kertas (pulp).

       Pemasaran sengon di beberapa wilayah biasanya dilakukan oleh tengkulak atau
langsung dijual ke pabrik pemotongan kayu (sawmill). Harga pasar kayu sangat
beragam dan berbeda antara daerah satu dengan lainnya. Saat ini harga satu batang
pohon sengon usia tanam 5 tahun dapat dijual seharga Rp. 300.000 s/d Rp. 500.000.
Sedangkan jika sudah dibuat papan atau balok dapat dijual seharga Rp. 1.000.000 s/d
1.200.000 per m3.

       Perhitungan Hasil Investasi
       Jumlah tanaman per hektar lahan adalah berkisar 4000 batang dan prediksi
susut sebesar 25% atau sejumlah 1.000 batang. Maka setiap hektar lahan akan
menghasilkan kayu yang dapat dipanen sebanyak 3000 batang. Apabila dijual kepada
tengkulak (tebang ditempat) tanpa mengeluarkan ongkos tebang dan ongkos angkut
sebatang pohon dapat dijual seharga Rp. 500.000 (harga umum rata-rata saat ini th
2010).

       Maka perhitungannya menjadi sebagai berikut :

3.000 batang x Rp. 300.000 = Rp. 900.000.000 (Jadi selama 5 tahun masa tanam akan
menghasilkan 3.000 batang kayu sengon per hektar lahan).

Apabila diambil harga jual termurah yaitu sebesar Rp. 300.000 per m3, maka hasil
investasi kayu sengon selama 5 tahun adalah sebesar Rp. 900.000.000. Hasil
perhitungan tersebut berdasarkan estimasi terendah.

Sebagai informasi, harga pasaran kayu sengon saat ini per batang dengan usia tanam 4
tahun adalah sebesar Rp. 500.000. Di samping itu investor dapat memilih untuk menjual
kayu dengan cara jual di tempat, yaitu dijual gelondongan tanpa biaya angkut dengan
harga jual sebesar Rp. 300.000 atau menjual kayu olahan dengan tambahan biaya
angkut dan biaya pengolahan.

Kayu sengon olahan dapat dipasarkan dengan harga Rp. 1.000.000 s/d Rp. 1.200.000
per m3.

       Prediksi Hasil Produksi Panen
       Dengan penentuan umur tebang habis per tahun pada umur daur 5 tahun, maka
jumlah produksi kayu yang akan diperoleh baik dari hasil penjarangan maupun
tebangan akhir dengan perhitungan sebagai berikut :

       1.     Hasil Penjarangan I (25 %)
              = 332 x 0,03 m ³ x 1000 Ha = 9.960 m ³

       2. Hasil Penjarangan II (40 %)
             = 400 x 0,15 m ³ x 1000 Ha = 60.000 m ³
                                  40

Hasil Tebangan Akhir
= 600 x 0,3 m ³ x 1000 Ha = 180.000 m ³




                     Hasil kayu sengon (Sumber:
      http://embundaun.wordpress.com/category/tanaman-industri/)
                                          41


       IX. Agroteknologi tanaman sela sayuran pada perkebunan
                   sengon muda (umur 0-3 tahun)


       1. BAWANG MERAH (Allium sp.)

        1.1. Pendahuluan
        Tanaman bawang merah dapat tumbuh baik pada tanah-tanah yang subur,
banyak mengandung bahan organik, tidak tergenang air, aerasinya cukup baik, dan pH
5.5-6.5. Jika pH tanah kurang dari 5.5 biasanya pertumbuhan tanaman kerdil akibat
gangguan oleh Al-dd. Sedangkan kalau pH tanah lebih dari 6.5, biasanya umbinya kecil-
kecil karena defisien Mn. Saat tanam yang baik adalah akhir musim hujan (Maret/April)
dan musim kemarau (Juni/Mei). Penanaman pada musim penghujan menghendaki
drainase tanah yang bagus dan pengendalian hama dan penyakit yang intensif. Bawang
merah yang dikenal dengan nama "Brambang" adalah Allium ascalonicum L. yang
umumnya ditanam di dataran rendah pada musim kemarau. Sedangkan "bawang
Bombay" adalah Allium cepa L, yang biasanya ditanam di dataran tinggi yang beriklim
sejuk (Doorenbos dan Kassam, 1978; SP2UK, 1992).

       1.2. Budidaya Tanaman

       (1). Perbanyakan tanaman
       Tanaman diperbanyak dengan umbi lapisnya, di Indonesia tidak pernah
diperbanyak dengan biji.

        (2). Bertanam
        Pengolahan tanah dilakukan sedalam 40 cm, diberi pupuk kandang atau kompos
sekitar 10-20 ton/ha. Bedengan dibuat dengan lebar sekitar 60 cm dengan lebar parit
20-40 cm.

         (3). Perlakuan benih/bibit
         Umbi bibit dipilih yang berukuran kecil hingga medium, bulat normal, dan telah
diistirahatkan 1-2 bulan dalam gudang. Umbi basah tidak baik untuk bibit. Umbi bibit ini
dipotong ujungnya sebanyak 1/3 hingga 1/2, bagian bawah atau pangkalnya untuk bibit.
Setelah pemotongan segera bibit ditanam dalam posisi berdiri tegak dengan jarak 20
x20 cm. Setiap bvedengan memuat 3-4 baris tanaman, penanaman tidak terlalu dalam,
permukaan irisan umbi bibit cukup tertutup lapisan tanah gembur yang tipis. Bibit muali
tumbuh seminggu kemudian. Kebutuhan bibit brambang sekitar 200 000 umbi bibit atau
1200 kg setiap hektar.

       (4). Pemupukan
       Setelah tanaman berumur tiga minggu semenjak tanam, mulai diberi pupuk
buatan N, P, dan K dengan kisaran dosis: 75-180 kg N/ha, 0-90 kg P/ha dan 0-100 kg
K/ha. Jenis pupuk yang digunakan biasanya urea, ZA, DS, TSP, KCl atau pupuk
lengkap NPK 15:15:15. Pemberian pupuk dilakukan pada saat mendangir atau
menyiang, ditempatkan di sekitar tiap tanaman sejauh 5-10 cm.

       (5). Pengendalian hama dan penyakit
                                          42

a. Ulat daun yang sering memotong ujung-ujung daun dan hama bodas yang menyeran
   daun hingga kering. Hama ini dapat dikendalikan dengan Bayrusil 0.2% atau jenis
   insektisida lainnya.
b. Cendawan busuk umbi menyerang umbi, baik di lapangan maupun setelah di
   gudang, hingga umbi menjadi busuk. Hal ini sering terjadi kalau kondisi lahan terlalu
   basah dan kudang kurang kering. Gangguan penyakit dikendalikan dengan Bubur
   Bordeaux (BB) atau KOC 1-2% atau Dithane M.45 0.2% yang disiramkan pada setiap
   tanaman atau disemprotkan.
c. Penyakit mati pucuk (Phytophtora porri) yang menyebabkan ujung daun tanaman
   berwarna kuning, kemudian berubah menjadi putih dan kering. Penyakit ini dapat
   dikendalikan dengan BB 2% atau Dithane M.45 0.2%.
d. Penyakit becak daun (Alternaria porri) dikendalikan dengan semprotan Dithae M.45
   atau Antracol 0.2%.

       1.3. Hasil Tanaman
       Tanaman dapat dipanen setelah batangnya lemas dan daun-daunnya kering,
biasanya setelah umur 2.5-3.5 bulan setelah tanam. Panen dila-kukan dengan
mencabut tanaman. Setiap umbi bibit dapat menghasilkan 4-6 umbi anakan. Tanaman
yang baik dapat mencapai hasil 100-120 kuintal umbi basah/ha.


       2. BAWANG PUTIH (Allium cepa)

        2.1. Pendahuluan
        Pada kondisi normal tanaman ini membentuk umbi pada musim pertumbuhan
pertama dan berbunga pada musim ke dua. Hasil umbi dikendalikan oleh panjang hari
dan panjang hari yang kritis berkisar antara 11 - 16 jam tergantung pada varietas
tanaman. Tanaman tumbuh baik pada kondisi iklim yang medium, tanpa kondisi ekstrim
suhu dan tanpa hujan yang berlebihan.         Untuk periode pertumbuhan initialnya
diperlukan cuaca dingin dan cukup air, sedangkan selama fase pemasakan diperlukan
cuara hangat dan kering untuk mendapatkan hasil yang banyak dengan kualitas yang
baik. Rataan suhu harian yang optimum berkisar antara 15 dan 20 oC. Seleksi varietas
tanaman       yang sesuai sangat penting, terutama dalam hubungannya dengan
persyaratan panjang hari. Misalnya varietas dari daerah iklim sedang yang long-day,
kalau ditanam di daerah tropis dengan short day akan menghasilkan pertum buhan
vegetatif saja tanpa menghasilkan umbi. Panjangnya musim pertumbuhan beragam
dengan kondisi iklim, tetapi umumnya antara 130-175 hari mulai dari tabur benih hingga
panen.
        Tanaman ini dapat disemaikan dulu dan dipindahkan setelah umur 30-35 hari,
penanaman benih langsung di lapangan juga dapat dilakukan. Tanaman biasanya
ditanam dalam barisan atau pada bedengan dengan dua baris atau lebih dalam setiap
bedengan dan jarak tanamnya 0.3-0.5 x 0.05-0.1 m. Suhu tanah yang optimum untuk
perkecambahan adalah 15-25oC. Untuk produksi umbi yang bagus, tanaman tidak
boleh berbunga karena hasil umbinya jelek. Umbi dapat dipanen kalau daun-daunnya
telah mengering. Untuk inisiasi pembungaan diperlukan suhu rendah (kurang dari 14oC
- 16oC) dan kelembaban yang rendah. Akan tetapi pembungaan hanya sedikit
terpengaruhi oleh panjang hari.
                                          43

       Tanaman ini dapat ditanam pada banyak tipe tanah tetapi yang terbaik adalah
tekstur tanah medium. pH optimum berkisar antara 6 dan 7. Kebutuhan pupuk
biasanya 60-100 kg N/ha, 25-45 kg P/ha dan 45-80 kg K/ha. Tanaman sangat peka
terhadap salinitas tanah, dan penurunan hasil pada berbagai tingkat salnitas tanah
adalah: 0% pada ECe=1.2 mmhos/cm; 10% pada ECe=1.8; 25% pada ECe=2.8; 50%
pada ECe=4.3 dan 100% pada ECe=7.5 mmhos/cm (Doorenbos dan Pruitt, 1977;
Doorenbos dan Kassam, 1978).

       2.2. Kebutuhan air
       Untuk mencapai hasuil optimum tanaman onion memerlukan 350-550 mm air.
Koefisien tanaman (kc) yang menghubungkan evapotranspirasi referensi dengan
kebutuhan air (ETm) untuk berbagai fase pertumbuhannya adalah:
       Fase initial, 15-20 hari                  0.40-0.6
       Fase perkembangan tanaman, 25-35 hari     0.70-0.8
       Fase pertengahan musim , 25-45 hari       0.95-1.1
       Fase akhir musim tumbuhan, 35-45 hari     0.85-0.9
       Fase panen tanaman,                       0.75-0.85.

        2.3. Suplai air dan hasil tanaman
        Tanaman sangat peka terhadap kondisi defisit air tanah. Untuk mencapai hasil
yang tinggi, penurunan kandungan air tanah tidak boleh melebihi 25% air tanah
tersedia. Kalau tatan tetap relatiuf basah, pertumbuhan akar direduksi dan ini sangat
cocok untuk pembentukan umbi. Irigasi harus diskontinyu kalau tanaman telah
mendekati masak untuk membiarkan tajuknya mengering dan juga untuk mencegah
terjadinya flush ke dua pertumbuhan akar.
        Periode pertumbuhan onion yang total musim tumbuhnya 100-140 hari adalah:
        Periode 0: Periode kecambahan mulai dari tabur hingga transplanting, 30-35 hari
        Periode 1: Pertumbuhan vegetatif, 25-30 hari
        Periode 3: Pembentukan hasil, pembesaran umbi, 50-80 hari
        Periode 4: Pemasakan, 25-30 hari

        Tanaman paling peka terhadap defisit air selama periode pembentukan hasil,
terutama selama periode pertumbuhan umbi yang cepat yang terjadi sekitar 60 hari
setelah transplanting.      Tanaman juga sangat peka kekeringan selama masa
transplantasi. Untuk tanaman penghasil biji, ternyata periode pembungaan juga sangat
peka terhadap defisit air. Selama periode pertumbuhan vegetatif (periode 1) tanaman
agak kurang peka terhadap defisit air tanah. Untuk mendapatkan hasil yang banyak dan
kualitas yang baik, tanaman memerlukan suplai air yang terkendali dan sering selama
musim pertumbuhannya; akan tetapi irigasi yang berlebihan mengakibatkan
pertumbuhan terhambat.
        Untuk mendapatkan ukuran umbi yang besar dan bobot yang tinggi, defisit air
tanah terutama selama periode pembentukan hasil (Periode pembesaran umbi) tidak
boleh terjadi. Kalau supali air terbatas, maka penghematan air dapat dilakukan selama
periode pertumbuhan vegetatif dan periode pemasakan. Akan tetapi pada kondisi
eketerbatasan air seperti ini maka strategi pertanaman harus diarahkan untuk
memaksimumkan produksi per hektar lahan.

       2.4. Penyerapan air
                                          44

       Tanaman mempunyai sistem perakraan yang dangkal dan                   akar-akar
terkonsentrasi pada tanah klapisan atas sedalam 0.3 m. Pada umumnya 100%
penyerapan air terjadi dari lapisan tanah atas sedalam 0.3-0.5 m (D=0.3-0.5 m ). Untuk
memenuhi seluruh kebutuhan air tanaman (ETm) tanah harus dijaga tetap lembab; pada
laju evapotranspirasi 5-6 mm/hari ternyata laju penyerapan air mulai menurun kalau
25% dari air tanah tersedia telah habis (p = 0.25).

        2.5. Jadwal irigasi
        Tanaman ini menghendaki irigasi ringan dan sering yang dimulai kalau sekitar
25% air tanah tersedia dalam lapisan tanah atas 0.3 m telah dihabiskan oleh tanaman.
Irigasi setiap 2-4 hari lazim dipraktekkan. Irigasi yang berlebihan seringkali mengaki-
batkan gangguan penyakit seperti mildew dan busuk putih. Irigasi dapat dihentikan 15-
25 hari sebelum panen. Metode irigasi yang sering dilakukan adalah furrow dan basin.

       2.6. Hasil dan Kualitasnya
       Irigasi yang sering diperlukan untuk mencegah pecahnya umbi dan
pembentukan 'doubles'. Demikian juga suplai air yang cukup sangat diperlukan untuk
mencapai kualitas hasil yang tinggi. Hasil umbi yang baik pada kondisi irigasi adalah
35-45 ton/ha. Efisiensi penggunaan air untuk hasil panen (Ey) umbi dengan kadar air
85-90% adalah sekitar 8-10 kg/m3.

       2.7. Budidaya Tanaman

      (a). Syarat tumbuh tanaman
      Tanaman ini menghendaki tanah-tanah yang gembur, tipe iklim B, C, dan D
(Schmidt & Ferguson)

       (b). Bibit Tanaman
       Perbanyakan tanaman dengan siung, siung ini siap tanam kalau tunas telah
mencapai lebih dari tiga per empat siung yaitu setelah disimpan 6-8 bulan. Lahan satu
hektar memerlukan bibit umbi 600-700 kg.
       Kultivar yang dianjurkan adalah sbb:
Daerah dengan ketinggian hingga 500 m dpl adalah Lumbu Putih
Daerah dengan ketinggian tempat 500-1000 m dpl, adalah Lumbu Putih, Lumbu Kuning,
   Lumbu Hijau, Filipina dan Shantung.
Daerah dengan ketinggian lebih dari 1000 m dpl, adalah Lumbu hijau, Lumbu kayu,
   Shantung dan Tawangmangu.

       (c). Penanaman bibit
       Pengolahan tanah dilakukan dengan mencangkul atau dibajak, dibiarkan 1-2
minggu, kemudian dibuat bedengan dengan lebar 100- 120 cm, lebar parit 30-40 cm.
Umbi bibit dipisahkan menjadi siung, dipisahkan antara siung besar dan kecil, agar
pertanaman seragam masing-masing ukuran dikelom pokkan sendiri-sendiri.
Disarankan hanya digunakan bibit siung yang besar-besar saja.
       Penananam bibit siung dengan jarak tanam 10x10 cm atau 10 x 15 cm. Setelah
siung ditanam ditutup dengan jerami mulsa setebal 5 cm. Waktu penanaman pada
akhir musim hujan pada lahan sawah dan awal musim hujan pada alahan tegalan.
                                          45

       (d). Pemupukan dilakukan sbb:

Umur tanaman        ZA       TSP     KCl       Rabuk kandang     Cara aplikasi
Saat tanam          -        90      90        10-20 ton/ha      Dicampur tanah
15 HST              300      30      -         -                 Disebar merata
30 HST              300      -       -         -                 Disebar merata
45 HST              300      -       -         -                 Disebar merata
Keterangan: Dosis pupuk kg/ha (SP2UK-P2LK Jatim, 1991)

      (e). Pemeliharaan
      Penyiraman dilakukan setiap hari hingga umur dua bulan; penyiangan dilakukan
pada umur 30, 45 dan 60 HST; parit dibersihkan dan diperbaiki dengan cangkul.

        (f). Hama dan penyakit
1. Trips, dapat dikendalikan dengan Azodrin, Lebaycid dengan dosis 2-4 ml per liter
   air.
2. Ulat daun, dapat dikendalikan dengan Azodrin, Tamaron atau Curacron dengan
   dosis 2-4 ml per liter air.
3. Alternaria dan Phytophthora, dapat dikendalikan dengan Dithane M-45 atau
   Anthracol dengan dosis 2-4 g/liter air.

        (g). Panen dan pascapanen
        Panen bawang putih dilakukan setelah daun mulai mengering dan menguning,
pada kultivar Lumbu Hijau berkisar 110-125 hari setelah tanam. Hasil panenan dijemur,
setelah kering tanah yang melekat pada umbi dibersihkan, akar dan beberapa helai
daun dibuang. Pengelompokkan umbi menurut ukuran besar, sedang dan kecil. Masing-
masing kelompok umbi diikat menjadi ikatan seberat 1 kg, selanjutnya setiap ikatan
dijadikan satu untuk mempermudah penyimpanan dalam sigiran. Untuk keperluan bibit,
umbi disimpan di sigiran dan disemprot dengan pestisida. Umbi untuk konsumsi dapat
dilakukan pengasapan selama 34 jam hingga kulit berwarna kecoklatan (suhu di bawah
65oC).


       3. KUBIS (Brassica oleracea )

       3.1. Pendahuluan
       Tanaman kubis diperkirakan berasal dari daerah pantai selatan dan barat Eropa.
Untuk produksi yang tinggi tanaman ini mensyaratkan ilkim dingin dan humid. Total
panjangnya musim poertumbuhan beragam antara 90 hingga 200 hari, tergantung pada
kondisi iklim, varietas dan saat tanam, tetapi utnuk produksi yang baik ternyata periode
pertumbuhannya sekitar 120-140 hari. Kebanyakan varietas kubis tahan terhadap
kondisi dingin selama waktu yang singkat, tetapi kondisi dingin pada waktu yang lama
sangat berbahaya. Tanaman dengan daun-daun yang lebih kecil kurang dari 3 cm
mampu bertahan pada kondisi suhu rendah dalam waktu lama, tetapi kalau daun-
daunnya besar 5-7 cm maka tanaman akan mulai tumbuh generatif dan ini
menghasilkan kualitas yang jelek. Pertum buhan yang optimum dapat terjadi pada
rataan suhu harian sekitar 17oC dengan rataan suhu maksimum harian 24oC dan
rataan suhu minimum 10oC. Rataan lembab relatif udara jharus dalam kisaran 60-
                                         46

90%. Umumnya tanah-tanah lempung atau yang lebih berat sesuai bagi tanaman kubis.
Pada kondisi curah hujan yang tinggi, tanah- tanah lempung berpasir dan tanah-tanah
berpasir lebih sesuai karena drainagenya bagus. Kebutuhan pupuk sangat tinggi: 100-
150 kg/ha N, 50-65 kg/ha P dan 100-130 kg/ha K.
        Kubis agak peka terhadap salinitas tanah. Hasil tanaman menurun pada
berbagai tingkat salinitas tanah: penurunan 0% pada ECe = 1.8; 10% pada ECe=2,8;
25% pada ECe=4.4; 50% pada ECe=7.0 dan 100% pada ECe=12 mmhos/cm.
        Jarak tanam tergantung pada ukuran kole yang diperlukan untuk pasar, biasanya
antara 0.3-0.5 m untuk ukuran kole 1-1.5 kg dan 0.5-0.9 m untuk ukuran kole 3 kg.
Produksi optimum dapat dicapai dengan kepadatan tanaman 30 000 hingga 40 000
tanaman/ha. Penanaman dapat dilakukan dengan penaburan benih secraa langsung
dengan populasi 3 kg/ha, atau dengan transplanting bibit dari pesemaian.
        Kubis dicirikan oleh pertumbuhan yang lambat selama separuh pertama periode
pertumbuhannya, yang bisanya memerlukan waktu 50 hari untuk jenis genjah dan 100
hariuntuk varietas yang umurnya panjang. Selama periode pertumbuhan selanjutnya
(pembentukan hasil dan pemasakan) tanaman melipat-duakan bobotnya selama periode
50 hari. Pada awal eperiode pembentukan hasil( periode 3), pembentukan kole mulai
terjadi yang diikuti oleh penurunan peranan daun-daun. Kole yang masak penuh
dihasilkan selama periode pemasakan 10-20 hari (periode 4). Tergantung pada
varietasnya, kole dapat berbentuk bundar atau meruncing, hijau atau kemerahan, halus
atau bergelombang. Rotasi tanaman disarankan tiga tahunan untuk mengendalikan
gangguan penyakit dari tanah.

       3.2. Kebutuhan air
       Kebutuhan air beragam antara 380 - 500 mm tergantung pada kondisi iklim dan
lamanya musi pertumbuhan tanaman. Transpirasi tanaman meningkat selama musim
perutmbuhan tanaman dengan puncaknya          terjadi pada akhir musim.      Dalam
hubungannya dengan evapotranspirasi referensi (ETo), koefisien tanaman (kc) untuk
kubis adalah sbb:
Fase initial, selama 20-30 hari                   0.40-0.5
Fase perkembangan tanaman, 30-35 hari             0.70-0.8
Fase pertengahan musim , 20-30 hari       0.95-1.1
Fase akhir musim tanaman, 10-20 hari      0.90-1.0
Fase panen tanaman ,                      0.80-0.95.

        3.3. Suplai air dan Hasil Tanaman
        Respon terhadap suplai air meningkat dengan musim perkembangan tanaman.
Selama perkembangan tanaman lambat pada periode vegetatif (1), hasil tanaman
hanya sedikit terpengaruhi oleh defisit air. Kalau pertumbuhan yang cepat terjadi
selama periode pembentukan (periode 3) maka pengaruh ekekurangan air sangat besar
hingga mendekati akhir musim pertumbuhan. Pada kondisi suplai air yang terbatas,
total produksi yang tinggi dapat dicapai dengan jalan memperluas areal dan memenuhi
kebutuhan air tanaman sebagian saja.

       3.4. Penyerapan air
       Tanaman kubis mempunyai sistem perakaran yang sangat ekstensif. Sebagian
besar akar ditemukan pada lapisan tanah atas sedalam 0.4-0.5 m dan kepadatan akar
menurun dengan cepat semakin ke arah dalam. Biasanya 100% air diekstraks dari
                                         47

lapisan tanah permukaan ini (D=0.4-0.5 m) . Pada kondisi ETm=5-6 mm/hari, laju
penyerapan air oleh tanaman mulai menurun kalau air tanah tersedia telah berkurang
sekitar 35% (p= 0.35).

        3.5. Jadwal irigasi
        Frekuensi irigasi beragam antara 3 dan 12 hari tergantung pada kondisi iklim,
perkembangan tanaman, dan tipe tanah. Kalau suplai air terbatas, irigasi awal tidak
perlu dilakukan kecuali jika hal ini dapat diteruskan hingga akhir periode pertumbuhan
tanaman. Penghematan air sebaiknya dilakukan pada awal musim pertum-buhan
tanaman.

       3.6. Metode Irigasi
       Metode irigasi yang dapat digunakan adalah furrow, sprinkler, dan trickle.
Tampaknya di negara-negara maju se-makin banyak dilakukan "subsoil irrigation".
Dengan cara ini, kedalaman water table dipertahankan pada 0.3 - 0.7 m pada tanah-
tanah lempung berpasir halus, dan kedalaman 0.7 - 1,1 m pada tanah- tanah lempung.

       3.7. Hasil dan Kualitas Hasil
       Pada kondisi tadah hujan, hasil tanaman yang normal sekitar 25- 35 ton/ha kole
segar, dan maksimumnya sekitar 50 ton/ha kalau dipupuk dan disemprot pestisida
dengan baik. Pada kondisi iklim yang ideal dan irigasi yang bagus, serta perawatan
tanaman yang memadai, hasil dapat mencapai 85 ton/ha. Efisiensi penaggunaan air
untuk produksi kole (Ey) sekitar 12-20 kg/m3.
       Rataan kandungan air pada kole kubis adalah 90%, dengan vitamin B, C dan Ca
dan P cukup banyak. Kalau tanaman meng-alami kekurangan air terutama selama akhir
musim tumbuhnya, akan dihasilkan kole yang kecil-kecil dan kualitasnya jelek.


       4. KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris)

        4.1. Persyaratan Umum
        Hasil tanaman ini dapat dikonsumsi sebagai buah polong segar sebagai sayuran
atau biji keringnya. Tanaman dapat tumbuh tumbuh dengan baik pada daerah-daerah
dengan curah hujan medium, tetapi kurang cocok di daerah yang beriklim basah (humid
dan wet tropics). Hujan yang berlebihan dan cuaca panas menyebabkan bunga dan
polong rontok dan merangsang /meningkatkan gangguan penyakit. Rataan suhu harian
optimum adalah 15-20oC, rataan suhu harian tidak boleh kurang dari 10oC dan tidak
lebih dari 27oC. Suhu yang tinggi meningkatkan kandungan serat pada polong.
Perkecambahan benih memerluikan suhu tanah 15oC atau lebih, dan pada suhu tanah
18oC perkecambahan benih berlangsung sekitar 12 hari, dan pada 25oC sekitar 7 hari.
Kebanyakan varietas kacang ini tidak terpengaruh oleh panjang hari. Total panjang
periode pertumbuhan beragam dengan penggunaan hasil panen, untuk sayuran hijau
dapat dipanen pada 60-90 hari dan untuk biji kering sekitar 90-120 hari.
        Tanaman ini tidak menghendaki persyaratan tanah yang spesifik, tetapi tanah
yang gembur, solum dalam, pH 5.5 - 6.0 sangat sesuai. Kebutuhan pupuk untuk
produksi buah yang baik adalah 20-40 kg N/ha, 40-60 kg P/ha, dan 50-120 kg K/ha.
Tanaman ini mampu memfiksasi nitrogen dari udara guna memenuhi kebutuhannya,
namun demikian pupuk starter nitrogen sangat diperlukan untuk pertumbuhan awalnya.
                                         48

Tanaman sangat peka terhadap gangguan penyakit dari tanah dan harus ditanam
dalam sistem pergiliran (rotasi).
        Penugalan benih dapat dilakukan 5-7 cm, jarak tanamnya tergantung varietas.
Tipe varietas yang tegak biasanya jarak tanamnya 5-10 x 50-75 cm, sedangkan tipe
merambat 10-15 x 90-150 cm.
        Tanaman ini sangat peka terhadap kondisi salinitas tanah. Penurunan hasil
akibat salinitas adalah: 0% pada ECe 1.0; 10% pada ECe 1.5; 25% pada ECe 2.3; 50%
pada ECe 3.6 dan 100% pada ECe 6.5 mmhos/cm.

       4.2. Kebutuhan Air
       Kebutuhan air bagi tanaman dengan periode tumbuh 60-120 hari berkisar antara
300 dan 500 mm tergantung pada kondisi iklim dan cuaca. Kebutuhan air selama
periode pemasakan ditentukan oleh tujuan panen, yaitu polong hijau segar atau biji
keringnya.    Kalau ditanam untuk konsumsi sayuiran hijau segar, total periode
pertumbuhan tanaman relatif pendek dan selama periode pemasakan, yang
berlangsung sekitar 10 hari, evapotranspirasinya relatif kecil karena daun-daun sudah
mulai mengering. Kalau tanaman ditanam untuk dipanen biji keringnya, maka periode
pemasakannya lebih lama dan penurunan evapotranspirasi tanaman relatif lebih besar.
Periode pertumbuhan juga tergantung pada jumlah petik, kalau dilakukan 3 atau 4 kali
petik maka periode panen sekitar 20-30 hari.
       Koefisien tanaman (kc) yang menghubungkan evapo-transpirasi referensi (ETo)
dengan kebutuhan air (ETm) untuk berbagai fase pertum buhan tanaman (untuk panen
sayuran hijau) adalah:

a. Selama fase initial selama 15-20 hari:         0.30-0.40
b. Fase perkembangan selama 15-20 hari:           0.65-0.75
c. Fase pertengahan musim tumbuh selama 20-30 hari: 0.95-1.05
d. Fase akhir musim tumbuh selama 5-20 hari:              0.90-0.95
e. Fase panen:                                            0.85-0.90.
       Untuk tanaman yang dipanen biji keringnya adalah:
a. Selama fase initial selama 15-20 hari:        0.30-0.40
b. Fase perkembangan selama 15-20 hari:          0.70-0.80
c. Fase pertengahan musim tumbuh selama 35-45 hari: 1.05-1.20
d. Fase akhir musim tumbuh selama 20-25 hari:    0.65-0.75
e. Fase panen:                                           0.25-0.30

         4.3. Suplai air dan hasil tanaman
         Suplai air yang diperlukan untuk mencapai hasil maksimum (polong segar dan
biji kering) adalah serupa selama periode pertumbuhan tetapi beragam selama periode
pemasakan. Untuk hasil polong hijau, suplai air diteruskan hingga menjelang panen
akhir, tetapi untuk hasil biji kering suplai air harus dihentikann sekitar 20-25 hari
sebelum panen hasil. Kalau ingin dipanen sekaligus satu kali maka pemberian air
dikonsentrasikan pada periode panen, ini dapat dicapai dengan jalan pengaturan waktu
pemberian air sedemikian rupa sehingga terjadi defisit air ringan selama periode
pemasakan dan air tanah dibiarkan menurun hingga 50% dari total air tersedia,
perlakuan ini dapat mempercepat pemasakan.
         Periode pertumbuhan untuk tanaman kacang ini adalah:
                                            Polong hijau Biji kering
                                           49

0 Perkecambahan                           10-15 hari      10-15 hari
1 Vegetatif hingga bunga pertama          20-25            20-25
2 Pembungaan, termasuk pembentukan
  polong                                  15-25            15-25
3 Pembentukan hasil (Perkembangan
  polong dan pengisian biji)              15-20            25-30
4 Pemasakan                                  0-5           20-25
                                 --------------   -------------
                                            60-90          90-120 hari

        Defisit air yang parah selama periode vegetatif (1) umumnya akan menghambat
pertumbuhan tanaman dan menyebabkan pertumbuhan tidak seragam. Selama
periode pembungaan (2) dan pembentukan hasil (3) irigasi yang sering dapat
megakibatkan respon tertinggi terhadap produksi, walaupun kelebihan air akan
meningkatkan gangguan penyakit dan terutama busuk akar. Kalau pupuk nitrogen
diberikan dalam bentuk pupuk mineral, maka irigasi harus diikuti dengan dosis pupuk
yang cukup untuk memaksimumkan hasil.
        Kalau suplai air terbatas, penghematan air dapat dilakukan selama periode
vegetatif (1) dan untuk produksi biji kering penghematan air juga dapat dilakukan
selama periode pemasakan tanpa mempengaruhi hasiln asalkan defisit air masih pada
tingkat moderat.

        4.4. Penyerapan air
        Akar tunggang tanaman kacang ini dapat mencapai kedalaman 1-1.5 m. Sistem
perakaran lateral sangat ekstensif dan terutama terkonsentrasi pada lapisan tanah
permukaan 0.3 m. Pada fase perkecambahan perakarannya mencapai kedalaman
sekitar 0.07 m, pada awal pembungaan sekitar 0.3 - 0.4 m, dan pada saat pemasakan
1 - 1,5 m. Penyerapan air terjadi terutama pada kedalaman lapisan tanah atas 0.5-0.7
m (D=0.5-0.7 m). Pada kondisi dimana ETm sebesar 5 - 6 mm/hari, 40-50% dari total air
tanah tersedia dapat lenyap sebelum penyerapan air terpengaruh (p = 0.4-0.5).


       4.5. Jadwal irigasi
       Kalau tanaman kacang ditanam dengan tambahan air irigasi, maka suplai air
harus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan air selama periode perkecambahan (0)
dan awal fase periode pembungaan (2). Kalau tanaman ditanam dengan sistem irigasi
penuh, penurunan kandungan air tanah selama periode pembungaan (2) dan periode
pembentukan hasil (3) tidak boleh melebihi 40-50% dari total air tanah tersedia (p = 0.4-
0.5). Kalau tanaman untuk produksi biji kering maka penurunan kandungan air tanah
selama periode pemasakan (4) tidak boleh melebihi 60-70%. Stress air dalam
tanaman dapat terdeteksi dengan mata karena daun menjadi hijau tua kebiruan.

         4.6. Hasil dan Kualitas
         Defisit air selama periode pembentukan hasil (3) mengakibatkan polong kecil,
pendek, tidak berwarna dengan bentuk biji yang tidak teratur. Juga kandungan serat
pada polong lebih tinggi dan biji kehilangan ketegarannya. Hasil komersial yang baik
dalam lingkungan irigasi yang baik adalah 6 - 8 ton/ha polong segar dan 1.5 - 2 ton/ha
biji kering. Efisiensi penggunaan air untuk hasil panen (Ey) biji segar yang mengandung
                                          50

80-90% air adalah 1.5 - 2.0 kg/m3 dan untuk biji kering yang mengandung sekitar 10%
air adalah 0.3-0.6 kg/m3.


       5. KACANG HIJAU (Phaseolus radiatus L. )

         5.1. Pendahuluan
         Tanaman ini menghendaki iklim panas selama musim pertumbuhannya, namun
masih dapat tumbuh di berbagai daerah di Indonesia. Di daerah yang curah hujannya
tinggi, problem seriusnya adalah gangguan hama dan penyakit. Biasanya ditanam pada
musim kemarau. Tanaman dapat tumbuh pada berbagai tipe tanha, namun tanah yang
idela adalah tanah lempung yang kaya bahan organik dan drainasenya bagus, pH tanah
5.8-6.5 (SP2UK, 1992).

        5.2. Budidaya Tanaman
(a). Varietas: No. 129, Betet, Merak, Walet, Gelatik, Parkit, dan Merpati.
(b). Penyiapan lahan: Tanah berat harus diolah hingga gembur; tanah tegalan bekas
     tanaman jagung, kedelai atau gogo perlu pengolahan minimal.
(c). Penanaman benih: Ditugal dengan jarak tanam 40 x 15 cm dan diisi dua benih
     setiap lubang tanam
(d). Pemupukan:
     Pada tanah yang kurus diberi pupuk 45 kg Urea, 45-90 kg TSP, 50 kg KCl/ha.
     pupuk diberikan pada saat tanam, disebar merata atau larikan di samping lubang
     tanam.
(e). Penyiangan: dilakukan dua kali yaitu pada umur 2 dan empat minggu setelah tanam
     dengan tangan atau cangkul. Herbisida pratumbuh yang dapat digunakan adalah
     Lasso, Roundup, dan Goal pada daerah yang mahal tenagakerja.
(f). Pengendalian hama dan penyakit:
     Lalat bibit dapat dikendalikan dengan Azodrin pada umur tujuh hari setelah tanam.
     Ulat daun dan penggerek polong, dapat dikendalikan dengan menyemprot Thiodan,
     Dursban, Decis, dan Basudin.
     Penyakit busuk batang, puru dan embun tepung dapat disemprot dengan Benlate,
     Dithane M.45, Baycor, Belsene MX 200.

        5.3. Produksi
        Tanda-tanda kacang hijau siap dipanen adalah kalau polongnya telah berwarna
coklat hingga hitam. Panen polong kemudian dikeringkan dan bijinya dirontokkan,
kemudian dijemur 2-3 hari. Biji kering matahatri yang mengandung air 12-14% dapat
disimpan.
        Beberapa varitas unggul adalah Arta Ijo, Siwalik, Bhakti, dan No. 129. Rataan
varitas unggul dapat menbghasilkanbiji 10 kw/ha, sedangkan varitas lokal sekitar 5
kw/ha.


       6. LOMBOK
          (Capsicum annum dan Capsicum frutescens)

       6.1. Pendahuluan
                                         51

        Tanaman cabai (lombok) diperkirakan berasal dari daerah tropika Amerika.
Tanaman ini tumbuh baik pada kondisi iklim dengan musim tumbuhnya mempunyai
suhu 18-27oC selama siang hari dan 15- 18oC selama malam hari. Suhu malam yang
rendah mengakibatkan lebih banyaknya percabangan dan lebih banyak bunga; suhu
malam yang hangat mempercepat pembungaan dan efek ini lebih jelas kalau intensitas
cahaya meningkat.
        Lombok banyak ditanam pada kondisi lahan tadah hujan dan hasil yang tinggi
diperoleh dengan curah hujan 600-1250 mm, tersebar merata sepanjang musim
pertumbuhannya. Curah hujan yang tinggi selama periode pembungaan menyebabkan
kerontokam bunga dan fruit-set yang buruk, dan selama periode pemasakan terjadi
pembusukan buah.
        Tanah-tanah yang teksturnya ringan dengan kapasitas penahanan air yang
mencukupi dan drainage yang baik sangat disenangi lombok. pH optimum adalah 5.5 -
7.0 dan tanah masam memerlukan pengapuran. Penggenangan, meskipun hanya
sebentar, dapat menyebabkan kerontokan daun. Kebutuhan pupuk adalah 100-170 kg
N/ha, 25-50 kg P/ha dan 50-100 kg K/ha.
        Tanaman agak peka terhadap slainitas tanah,             kecuali pada fase
perkecambahan sangat peka. Penurunan hasil pada berbagai kondisi salinitas tanah
adalah: 0% pada ECe=1.5 mmhos/cm; 10% pada ECe=2.2; 25% pada ECe = 3.3; 50%
pada ECe = 5.1 dan 100% pada ECe = 8.5 mmhos/cm. Biji yang ditabur di bedengan
pesemaian menghendaki suhu tanah optimum 20-24oC. Kecambah bibit yang tingginya
10-20 cm dipindahkan ke lapangan setelah umur 25-35 hari. Panjangnya total musim
pertumbuhan beragam dengan kondisi iklim dan varietas, tetapi pada umumnya
berlangsung 120-150 hari dari saat tabuh benih hingga panen. Bibit kadangkala
dipangkas 10 hari sebelum transplanting untuk merangsang percabangan. Jarak
tanam 0.4- 0.6 x 0.6-0.9 m. Untuk produksi buah lombok konsumsi kalengan seringkali
digunakan jarak tanam yang lebih rapat. Pembungaan mulai terjadi pada umur 1-2 bulan
setelah transplanting dengan petik buah hijau pertama satu bulan kemudian. Setelah
itu buah lombok merah yang masak dipanen dengan interval 1-2 minggu hingga umur
tiga bulan.

       6.2. Kebutuhan air
       Total kebutuhan air (ETm) adalah 600-900 mm, bahkan hingga 1250 mm untuk
musim pertumbuhan yang panjang dan beberapa kali petik. Koefieisn tanaman (kc)
adalah 0.4 setelah transplanting, 0.95- 1.1 selama pertumbuhan penuh, dan untuk
produksi lombok segar 0.8-0.9 saat panen.

         6.3. Suplai air dan Hasil Tanaman
         Untuk mendapatkan hasil yang banyak, suplai air yang cukup dan tanah yang
relatif lembab diupersyaratkan selama total periode pertum buhan tanaman. Reduksi
suplai air selama periode pertumbuhan pada umumnya mempunyai efek buruk
terhadap hasil dan reduksi terbesar terjadi kalau ada kekurangan air secara kontinyu
hingga saat petik buah pertama,. Masa awal periode pembungaan sangat peka
terhadap keku rangan air dan penurunan kadar air tanah dalam zone perakaran selama
periode ini tidak boleh melebihi 25%. Kekurangan air sebelum dan selama awal
pembungaan mereduksi jumlah buah. Efek defisit air terhadap hasil selama periode ini
lebih besar pada kondisi suhu tinggi dan kelembaban rendah. Irigasi yang terkendali
                                            52

sangat penting untuk mencapai produksi yang tinggi karena tanaman peka terhadap
kelebihan dan kekurangan irigasi
       Kalau kualitas air irigasinya buruk (saline) maka hsil petik buah pertama
berkurang tetapi efek ini kurang tampak jelas pada hasil petik selanjutnya. Sprinkling
dengan air irigasi saline mengakibatkan daun terbakar dan busuk buah. Defisit air
selama periode pembentukan hasil mengakibatkan hasil buah yang keriput dan
bentuknya jelek. Kualitas kepedasan buah hingga batas-batas tertentu dipengaruhi oleh
suplai air. Pada kondisi suplai air yang terbatas, total produksi ditingkatkan oleh
pemenuhan kebutuhan air tanaman secara penuh pada areal lahan yang terbatas.

        6.4. Penyerapan air
        Tanaman lombok mempunyai akar utama yang patah pada saat transplanting
dan kemudian menumbuhkan banyak akar-akar lateral. Kedalaman akar dapat meluas
hingga 1m tetapi pada kondisi irigasi ternyata akar terkonsentrasi pada lapisan tanah
atas sedalam 0.3 m. Biasanya 100% penyerapan air terjadi dalam keda;laman lapisan
tanah 0.5 - 1.0 m (D = 0.5-1.0 m). Pada kondisi evapoytranspirasi maksimum 5-6
mm/hari, 25-30% total air tersedia dapat dihabiskan sebelum terjadi reduksi penyerapan
air (p=0.25-0.30).

        6.5. Jadwal Irigasi
        Untuk mendapatkan hasil yang optimum penurunan air tanah tidak boleh
melebihi 30-40% total air tersedia. Frekuensi irigasi 4- 7 hari lazim dilakukan. Kalau
suplai air terbatas, irigasi harus mencukupi hingga panen buah pertama dan setelah itu
air dapat dihemat.

         6.6. Metode Irigasi
         Metode irigasi pada pertanaman lombok adalah irigasi permukaan, sprinkler dan
drip. Pada sistem irigasi sprinkler ternyata hasil buah cenderung lebih banyak pada
aplikasi ringan dibandingkan dengan aplikasi berat. Akan tetapi, kalau kualitas air irigasi
jelek, intensitas berat dan jumlah yang banyak umumnya lebih disenangi dengan irigasi
sprinkler karena dapat mereduksi kebakaran daun. Untuk mendapatkan hasil yang
banyak biasanya lebih sesuai dengan drip irrigation.

        6.7. Hasil dan kualitas hasil
        Hasil buah sangat beragam dengan kondisi iklim dan panjangnya musim
pertumbuhan, yaitu jumlah petik buah. Pada kondisi irigasi komersial dapat diperoleh
ahsil buah 10-15 ton/ha buah segar dan 20-25 ton/ha dapat diperoleh pada kondisi iklim
yang sesuai. Akan tetapi persentase hasil buah yang dapat dipasarkan sangat
beragam. Efisiensi penggunaan air (Ey) untuk buah lombok segar yang mengandung
90% air beragam antara 1.5 - 3.0 kg/m3.

       6.8. Budidaya Tanaman
       (a). Syarat tumbuh:
       Tanaman lombok dapat tumbuh di dataran rendah hingga pada ketinggian 1500
m dpl. Tanaman ini menghendaki iklim kering, akan tetapi dapat ditanam pada musim
hujan di lahan tegalan dan tidak becek; membutuhkan cahaya matahari yang cukup,
sehingga sebaiknya ditanam tanpa naungan. Lombok menghendaki tanah yang subur,
gembur dengan drainase yang baik dan pH tanah antara 5-6 (SP2UK, 1992).
                                          53



       (b). Bibit tanaman
       Bibit lombok yang dibutuhkan sebanyak 250-500 g benih per hektar. Benih
disemaikan dengan luas 0.5 x 2 meter setiap 3 gram benih (1 sendok teh). Bibit yang
telah berumur 30-35 hari atau tanaman muda telah berduan 3-4 helai siap untuk
dipindah dan ditanam di kebun.

       (c). Penanaman bibit
       Tanah diolah hingga strukturnya gembur dan tidak menahan air, yaitu dengan
cangkul sedalam 30 cm sebanyak dua kali atau lebih. Selang waktu pengolahan tanah
pertama dengan penanaman adalah 7- 14 hari. Kemudian dibuat lubang tanam dengan
cangkul sedalam 15 cm, panjang 20-25 cm, lebar 20-25 cm, jarak antar lubang tanam
60 x 80 cm. Setiap lubang diisi rabuk kandang sebanyak 0.5-1 kg yang dicampur
dengan tanah, kemudian disiram dengan air sekitar satu liter.
       Pada setiap lubang tanam ditanam bibit 2-3 batang, 2-3 minggu setelah tanam
dilakukan penjarangan dan disisakan satu tanaman yang paling sehat/baik, sedangkan
tanaman lainnya dicabut.

       (d). Pemeliharaan tanaman:
       Pupuk yang diberikan adalah rabuk kandang 0.5 kg sebagai pupuk dasar, Urea 4
g, TSP 4 g dan KCl 2 g setiap tanaman yang diberikan pada umur satu bulan.
Pemupukan berikutnya dilakukan dua minggu kemudian dengan jumlah dan cara seperti
pada pemupukan yang pertama.
       Penyiangan dilakukan 2-3 kali tergantung keadaan rumput, dimulai sejak 20 hari
setelah tanam. Kegiatan penyiangan        dapat juga dilakukan sekaligus     dengan
penggemburan tanah lapisan atas dan pembumbunan.




       (e). Pengendalian hama dan penyakit
       Ulat dapat dikendalikan dengan Dursban 20 EC, Bayrusil 25 EC dan Hostation
40 EC dengan dosis 2 ml per liter air. Trips dapat dikendalikan dengan Phosvel 300 EC,
Bayrusil dan Lebaycid dengan dosis 2 ml per liter air. Lalat buah menyerang buah, dapat
dikendalikan dengan pergiliran tanaman atau dikendalikan dengan Diazinon 10 EC,
Decis dengan dosis 0.15 ml per liter air. Busuk daun, dapat dikendalikan dengan
Dithane M-45 2 g/l air. Antraknose yang disebabkan oleh Gloesponia sp. dapat
dikendalikan dengan Dithane M-45 atau Antracol 70 WP dengan dosis 2 g/l air.
Penyakit layu, dapat dikendalikan dengan rotasi tanaman . Penyakit virus dapat
dikendalikan dengan memberantas vektornya.

       (f). Panen dan pascapanen
       Pemungutan hasil pertama dapat dilakukan setelah tanaman berumur 3-4 bulan;
pemetikan dilakukan setelah buah 60% berwarna merah.
                                         54

       7. BAYAM (Amaranthus sp.)

        7.1. Pendahuluan
        Bayam mengandung vitamin A, C dan sedikit vitamin B, banyak kalsium, P, dan
Fe. Tanaman dapat tumbuh sepanjang tahun mulai dari dataran rendah hingga dataran
tinggi. Pada tanah-tanah yang pH nya kurang dari 6.0 biasanya pertumbuhannya kerdil,
sedangkan pada atanah yang pH nya lebih dari 7.0 akan terjadi khlorosis. Saat tanam
yang terbaik adalah awal musim hujan (Oktober/Nopember) atau awal musim kemarau
(Maret/April).
        Dua jenis bayam yang lasim dibudidayakan adalah:
1. Bayam cabutan yang juga disebut bayam sekul (Amaranthus tricolor L.). Jenis ini
   ada yang batangnya berwarna kemerahan (bayam merah) dan ada yang hijau
   keputihan (bayam putih). Bayam putih lebih enak.
2. Bayam tahun atau bayam sekop atau kakap (Amaranthus hybridus L.) daunnya
   lebar-lebar. Dua varietas yang sangat dikenal adalah A. paniculatus dan A.
   caudatus. Varietas caudatus mempunyai daun agak panjang dengan ujungnya
   runcing dan hijau atau merah tua. Bunganya dalam rangkaian panjang dan
   terkumpul pada ujung batang. Varietas paniculatus daunnya lebih lebar, hijau,
   dengan rangkaian bunga panjang dan lebih teratur, bunganya tersebar di setiap
   ketiak daun atau cabang.

       7.2. Budidaya tanaman

      (1). Perbanyakan tanaman
      Bayam diperbanyak dengan biji, disebar di pesemaian atau ditanam langsung di
lapangan.

        (2). Bertanam
        Pengolahan tanah sedalam 20-30 cm, diberi pupuk kandang atau kompos
sebanyak 10 ton/ha atau 1 kg setiap meter persegi. Bedengan dibuat dengan lebar satu
meter. Biji ditaburkan menurut barisan yang membujur dari tumur ke barat dengan jarak
barisan 20 cm. Setiap bedengan memuat lima barisan tanaman dan setelah 3-5 hari biji
bayam mulai tumbuh.
        Setelah berumur dua minggu setiap pagi tanaman digoyang kekiri dan ke kanan
dengan sapu lidi sampai tampak lemas. Dengan cara ini tanaman tumbuh kuat dan
cepat dan hama berlarian. Setelah tanaman setinggi 15 cm (berumur sebulan) dapat
dijarangkan dengan mencabut tanaman yang sudah besar dan terlalu rapat. Setelah
umur 1.5 bulan dan tinggi tanaman 20 cm dapat dicabut seluruhnya.
        Pada lahan pekarangan biasanya ditanam A. hybridus, penanaman dengan
memindahkan tanaman muda yang tingginya 10 cm dari pesemaian ke tempat yang
telah disiapkan dengan jarak tanam 20 x 40 cm. Panen dilakukan dengan memetik daun
atau memotong ujung batang/cabang sebelum berbunga. Dengan cara ini tanaman
dapat bertahan hingga umur setahun.

        (3). Perlakuan benih/bibit
        Pesemaian A. hybridus ditempatkan di lokasi yang teduh, kebutuhan benis
sekitar 5-10 kg/ha.
                                          55

      (4). Pemeliharaan
      Perawatan yang perlu diperhatikan adalah menggem burkan tanah sekitar
tanaman sambil membuang gulma.         Pestisida tidak harus digunakan untuk
mengendalikan ulat daun.

      (5). Produksi
      Rataan tanaman bayam dapat menghasilkan 10-25 ku/ha tergantung tingkat
kesuburan tanah.


       8. KACANG PANJANG (Vigna sinensis)

        8.1. Pendahuluan
        Tanaman ini banyak digemari masyarakat karena rasanya enak, gurih, banyak
mengandung vitamin A, B dan C. Syarat pokok bagi pertumbuhannya ialah tanah
gembur dan porus, cukup mampu menahan air tersedia, pH 5.5-6.5, kaya bahan
organik. Waktu tanam yang sesuai adalah awal dan akhir musim hujan (SP2UK, 1992).
        Ada dua golongan kacang panjang yang dikenal masya-rakat, yaitu:
a. Kacang lanjaran, batangnya membelit lanjaran dari kayu atau bambi.
   a.1. Kacang lanjaran biasa, batangnya membelit dan panjang, buahnya panjang
        hingga 40 cm, hijau ketika masih muda dan menjadi putih kalau tua. Bijinya
        bulat panjang, ada kalanya melengkung agak pipih, warnanya ada yang kuning,
        coklat, hitam, putih dan kemerahan, ukuran bijinya 5-6 mm x 5-9 mm.
   a.2. Kacang usus, batangnya seperti kacang lanjaran, hanya buahnya panjang selaki
        hingga lebih 80 cm. BUah muda keputihan dan buah tua kekuningan. Bijinya
        bulat panjang, ada kalanya melengkung agak pipih, warnanya putih atau blorok
        atau putih bernoda merah, besartnya biji 5-6 mm x 8-9 mm.
b. Kacang panjang yang bukan lanjaran dan tidak membelit
   b.1. Kacang tunggak, kacang tolo (Vigna unguigulata) atau kacang dadap.
        Batangnya pendek dan tidak membelit, hanya ujungnya yang membelit dan tidak
        diberi lanjaran, buahnya pendek (10 cm), hijau dan kaku, bijinya bulat panjang
        agak pipih dengan ujung yang agak lonjong, besarnya antara 4-6 mm x 7-8 mm,
        warna bijinya kuning kecoklatan.
   b.2. Kacang uci atau kacang endel (Gigna umbellata), setengah membelit, bijinya
        kecil berbentuk bulat panjang dengan warna macam-macam merah, hijau, hitam
        dll. Besarnya biji 1.5 - 2mm x 5-6 mm. Daunnya agak kasar dan kaku.
   b.3. Kacang hibrida atau kacang harapan, hasil perkawinan antara kacang lanjaran
        dengan kacang tunggak. Tanaman tidak membelit, buahnya panjang-panjang
        (mencapai 25 cm) dan bentuknya menyerup.

       8.2. Budidaya tanaman

(1). Perbanyakan
     Tanaman diperbanyak dengan biji dan ditanam langsung ke lahan tanpa
     pesemaian.
(2). Bertanam
     Pengolahan tanah dengan cangkul dan kemudian diratakan. Lubang tanam dibuat
     dengan tugal pada jarak 30x 60 cm untuk kacang lanjaran, 20 x 30 cm untuk
                                         56

     kacang lainnya. Setiap lubang diisi dua butir benih dan ditutup dengan tanah
     gembur . Benih akan tumbuh dalam waktu lima hari. Setelah tinggi tanaman 25 cm
     segera diberi lanjaran bambu setinggi dua meter.
(3). Perlakuan benih
     Kebutuhan benih setiap hektar lahan sekitar 15-20 kg untuk kacang lanjaran dan
     20-25 kg untuk kacang tunggak, 12 kg biji untuk kacang uci dan 30 kg biji untuk
     kacang harapan.
(4). Pemupukan
     Dosis pupuk yang dianjurkan urea 1-2 kuintal setiap hektar, 240 kg DS atau TSP,
     dan 160 kg ZK atau KCl. Pupuk ditugalkan disamping tanaman berajark 5 cm dari
     batang.
(5). Pemeliharaan
     Perawatan yang diperlukan adalah membelitkan batang pada lanjaran, Hama
     tungau dan kutu daun bila perlu dikendalikan dengan pestisida.

       8.3. Produksi
       Buah muda dapat dipanen setelah tanaman berumur dua bulan, panen
selanjutnay dilakukan setiap minggu berlangsung hingga 3.5 atau 4 bulan. Kacang
tunggak dan kacang uci dipanen setelah buahnya kering. Kacang lanjaran dapat
menghasilkan 30 kuintal buah muda setiap hektar, sedangkan kacang tunggak dan
kacang uci dapat menghasilkan 15 kuintal biji kering setiap hektar.
                                          57

       DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Budidaya Sengon (Albazzia falcataria). www.lablink.or.id. Diakses pada
       tanggal 4 Oktober 2010.
Anonim. 2008. Pengendalian hama dan penyakit tanaman kehutanan.
       http://elqodar.multiply.com/journal/item/17/Pengendalian_Hama_Dan_Penyakit_
       Tanaman_Kehutanan. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2010.
Jumali. 2009. Penyakit Karat Tumor/Karat Puru Pada Sengon Laut (Uromycladium
       spp.). http://pertahanan.slemankab.go.id/index. php/artikel/214-penyakit-karat-
       tumorkarat-puru-pada-sengon-laut uromycladium-spp. Diakses pada tanggal 4
       Oktober 2010.
Prasetyo, Eko. 2010. Cara Praktis Menanggulangi Hama dan Penyakit Sengon.
       http://www.ekopras.com/2010/03/04/cara-praktis-menanggulangi-hama-dan-
       penyakit-sengon/. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2010.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:201
posted:9/11/2012
language:Unknown
pages:58