MODEL SENTRA PENGEMBANGAN AGRIBISNIS by A4A11h

VIEWS: 84 PAGES: 40

									                MODEL RANCANG-BANGUN
                   SENTRA PENGEMBANGAN AGRIBISNIS
                 KOMODITAS UNGGULAN (SPAKU) SENGON
       DI KECAMATAN WAJAK & PONCOKUSUMO
                   Bahan kajian MK. Metode Pemnghembangan Wilayah
                                  Diabstraksikan oleh
                                Prof Dr Ir Soemarno MS
                            PMPSLP PPSUB September 2011


       I. PENDAHULUAN

        Pembangunan perekonomian nasional pada PJPT I selama 1968 - 1993
diarahkan untuk mencapai dua sasaran pokok, yaitu (1) memenuhi kebutuhan dasar
penduduk dan (2) mencapai struktur ekonomi yang seimbang. Strategi yang ditempuh
untuk mencapai sasaran tersebut ialah melalui "Trilogi Pembangunan" yang terdiri
atas tiga unsur yang terpadu dalam suatu kesatuan, yaitu (1) pertumbuhan yang tinggi,
(2) pemerataan hasil-hasil pertanian, dan (3) stabilitas yang tinggi. Sesuai dengan
kebijakan ini maka pembangunan sektor pertanian menjadi prioritas utama selama
PJPT I.
        Selama PJPT I pembangunan sektor pertanian diarahkan pada sasaran pokok,
yaitu (1) mencapai dan mempertahankan swasembada pangan khususnya beras, (2)
menyediakan kebutuhan pangan secara beragam untuk meningkatkan kualitas gizi
masyarakat, (3) menyediakan bahan baku industri dalam negeri, (4) meningkatkan
penerimaan devisa negara melalui peningkatan ekspor dan pengu rangan impor, (5)
menciptakan lapangan kerja, (6) meningkatkan kesejahteraan petani, (7) membantu
pemeliharaan stabilitas ekonomi nasional melalui pengendalian harga komoditas
pertanian dan men dorong pertumbuhan produksi sektor pertanian.
        Dalam kerangka pelaksanaan pembangunan pertanian telah dicanangkan
strategi "Tri Matra Pembangunan Pertanian" yang terdiri atas tiga wahana
pembangunan terpadu, yaitu (1) usahatani terpadu, (2) komoditas terpadu, dan (3)
wilayah terpadu.       Usaha-usaha pokok yang ditempuh untuk melaksanakan
pembangunan pertanian ialah (1) intensifikasi usahatani, (2) ekstensifikasi usahatani, (3)
diversivikasi produksi dan konsumsi komoditas pertanian, dan (4) rehabilitasi dan
konservasi sumberdaya pertanian. Pembangunan pertanian selama PJPT I lebih
difokuskan pada pencapaian pertumbuhan sasaran agregat yang tinggi seperti pening
katan produksi (khususnya produksi pangan), peningkatan penyerapan tenagakerja,
peningkatan ekspor dan peningkatan Produk Domestik Bruto. Pembangunan pertanian
selama PJPT I telah berhasil mencapai sasaran pertumbuhan agregatif . Namun
demikian ternyata pola pembangunan seperti itu mempunyai kelemah an-kelemahan
seperti (1) kurang memperhatikan aspek peningkatan pendapatan petani, (2) kurang
memperhatikan dampak lingkungan, dan (3) kurang memperhatikan keterkaitan
pembangunan lintas sektoral.

                                                 1
        Beberapa masalah dan kendala yang dipandang masih harus diperhatikan dalam
pembangunan pertanian selama PJPT II adalah seperti berikut.
(1). Sumberdaya Manusia
     Salah satu kendala utama yang masih perlu ditanggulangi pada PJPT II adalah
     kualitas sumberdaya manusia masyarakat agribisnis, khususnya petani kecil.
     Rumahtangga tani masih banyak yang miskin dan belum cukup memperoleh
     pendidikan. Perbaikan kualitas sumber daya masyarakat tani merupakan tujuan
     utama sekaligus menjadi wahana pendorong pembangunan pertanian yang paling
     tepat selama PJPT II.
(2). Pengentasan Kemiskinan
     Jumlah penduduk miskin pada awal PJPT II diperkirakan masih cukup banyak,
     sebagian besar dari mereka ini tinggal di wilayah pedesaan dan menggantungkan
     hidupnya terutama pada usahatani.
(3). Diversifikasi Usahatani
     Pembangunan pertanian selama PJPT I masih terfokus pada komoditas pangan,
     khususnya padi.      Sumberdaya lahan dan sarana penunjang yang banyak
     dicurahkan untuk mendorong produksi padi telah menyebabkan lambannya
     pertumbuhan usahatani lainnya. Oleh karena itu diversifikasi produksi komoditas
     pertanian berjalan lebih lamban. Hal ini dapat mengakibatkan ketidak-efisienan
     alokasi sumber daya yang pada akhirnya dapat memperlambat pembangunan
     pertani an secara agregat. Diversifikasi produk komoditas pertanian harus lebih
     digalakkan selama PJPT II dengan tetap memperhatikan pemenuhan kebutuhan
     pangan.
(4). Pemusatan Pembangunan Pertanian
     Pembangunan pertanian selama PJPT II masih terlalu terpusat di P. Jawa,
     sebagian besar komoditas pangan dan peternkaan dihasilkan di Pulau Jawa.
     Pembangunan prasarana pengairan dan penyuluhan juga dipusatkan di P. Jawa.
     embangunan pertanian selama PJPT II haruslah dialihkan ke luar P. Jawa,
     program-program pembangunan harus dirancang sedemikian rupa untuk dapat
     mencapai suatu struktur produksi regional yang optimal. Dalam kaitan inilah perlu
     disusun suatu Peta Wilayah Potensi Komoditas.
(5). Deregulasi dan Peran Suasta
     Peran dukungan dan subsidi pemerintah dalam mencapai keber hasilan
     pembangunan pertanian selama PJPT II sangatlah besar. Pada masa yang akan
     datang kondisi seperti ini tidak akan dapat dipertahankan lagi. Suasana agribisnis
     di masa mendatang dicirikan oleh persiangan yang sangat ketat, baik di pasar
     domestik maupun di pasar internasional. Agribisnis akan lebih banyak diserahkan
     kepada suasta secara bebas. Persaingan bebas ini tentu dapat menimbulkan
     tekanan berat bagi usahatani kecil.
(6). Pengembangan Agroindustri
     Pembangunan pertanian selama PJPT I dipandang belum terlalu berhasil
     mendorong pembangunan agroindustri yang terkait erat dengan sektor pertanian
     domestik. Mengingat keterbatasan sumber daya lahan yang ada, maka usapa
     peningkatan pendapatan petani dan penduduk pedesaan secara umum haruslah
     dengan mengembangkan usaha-usaha non pertanian.                 Oleh karena itu
     pengembangan agro industri yang terkait dengan sektor pertanian dan berlokasi di
     pedesaan merupakan tantangan yang harus diprioritaskan dalam PJPT II.
(7). Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan

                                                2
     Pembangunan pertanian yang dilaksanakan pada PJPT I terutama berfokus pada
     upaya intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensi fikasi melalui penggunaan pupuk
     kimia dan pestisida ternyata dapat berdampak pada kualitas lingkungan.
     Kebutuhan akan konservasi dan perlindungan lingkungan sudah merupakan
     keharusan.
(8). Luasan Usahatani
     Agribisnis komoditas tanaman bebasis pada sumberdaya lahan. Sebagian besar
     petani menguasai lahan kurang dari setengah hektar, sehingga kegiatan
     usahataninya kurang memadai untuk menopang kehidupan yang layak bagi rumah
     tangga tani.

         Penjabaran pembangunan pertanian pada PJPT II dilandasi oleh pemikiran-
pemikiran yang secara simultan memadukan kepen tingan mikro dan makro. Dalam
kerangka pemikiran makro, pemba ngunan pertanian merupakan bagian integral dari
pembangun an nasional secara keseluruhan, yang dalam pelaksanaannya tidak dapat
dilepaskan keterkaitannya dengan perkembangan kehidupan politik kenegaraan
maupun perkembangan keadaan secara global. Keter kaitan antara pembangunan
pertanian dengan pembangunan wilayah pedesaan adalah salah satu bentuk nyata
integrasi pembangunan pertanian dengan           pembangunan secara keseluruhan.
Perkembagan teknologi komunikasi dan transportasi yang terjadi selama ini
memperkuat berkembangnya isu globalisasi yang memang tidak dapat terelakkan
adanya. Dalam sekala mikro, pembangunan pertanian pada akhirnya berhubungan
dengan kegiatan agribisnis di tingkat usahatani, yang pada gilirannya tidak dapat
dipisahkan dari individu-individu atau keluarga petani sebagai pengelola usahatani.
Aspek-aspek yang berkaitan dengan pendapatan dan keejahteraan petani dengan demi
kian menjadi penting untuk mendapatkan pemahaman terendiri dalam kegiatan
pembangunan pertanian. Undang-undang sistem budidaya tanaman secara tegas
menekankan orientasi pada pendapatan atau kesejahtaraan petani, melebihi orientasi
kepada produksi.
         Faktor lain yang juga perlu diperhatikan dalam kegiatan pemba ngunan
pertanian pada PJPT II adalah faktor-faktor yang terkait dengan perubahan-perubahan
dalam perekonomian Indonesia. Hal ini berkaitan dengan prinsip dasar pembangunan
yang berkisar pada kegiatan untuk mengantisipasi adanya perubahan, serta upaya
untuk mengintegrasikan          perubahan-perubahan itu dalam program-program
pembangunan. Dari sudut pandang permintaan, empat perubahan utama yang perlu
dipertimbangkan ialah (1) perubahan kependu- dukan, baik yang menyangkut komposisi
penduduk, distribusi penduduk, maupun adanya kecenderungan urbanisasi penduduk,
(2) perubahan tingkat pendapatana masyarakat, (3) perubahan harga komoditas
pertanian, komoditas non epertanian dan jasa, (4) perubah an tuntutan tentang kualitas
produk pertanian. Dari sudut penawaran, terdapat faktor-faktor yang tidak dapat diubah
(atau perubahannya memerlukan biaya tinggi), serta faktor-faktor yang dapat diubah
atau memang berubah menhurut waktu. Termasuk kategori pertama ialah investasi
fisik, lokasi/areal pertanaman dalam sekala regional. Sedang kan kategori ke dua
meliputi teknologi budidaya pertanian, dan inter vensi pemerintah. Apabila
pembangunan pertanian dipandang sebagai suatu proses yang produktif untuk
menghasilkan sejumlah output tertentu, maka potensi pembangunan pertanian adalah
faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai input bagi proses pembangunan itu sendiri.
Beberapa potensi penting dapat diperkirakan dapat ikut menjadi penentu keberhasilan

                                               3
pembangunan pertanian pada PJPT II adalah (1) sumberdaya alam, (2) sumberdaya
manusia, (3) potensi pasar, (4) potensi IPTEK dan (5) potensi kelembagaan.
        Sumberdaya alam dominan adalah lahan, air, kelautan dan perairan umum serta
sumberdaya fosil bumi dalam bentuk minyak dan gas. Lahan yang masih etersedia
untuk perluasan kegiatan pertanian tidak kurang dari 20 juta ha. Lahan ini mempunyai
kemiringan 0-15 persen dan berupa hutan, semak belukar dan padang rumput atau
alang-alang. Tantangan yang dihadapi ialah cukup tingginya biaya yang diperlukan
untuk membuka lahan pertanian baru, demikian juga biaya untuk melakukan reklamasi
lahan pertanian yang ada.
        Sumberdaya manusia Indonesia secara kuantitatif merupakan potensi yang tidak
dapat diabaikan. Meskipun proporsi yang terlibat dalam sektor pertanian cenderung
menurun, tetapi secara absolut jumlahnya meningkat. Dengan keragaman ini maka
peluang pasar bagi produk-produk pertanian dan industri cukup besar. Keterbatasan
jumlah angkatan kerja yang dapat digolongkan sebagai tenaga teram pil atau tenaga
terlatih membuka peluang untuk upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia
dalam kaitannya dengan pembangunan pertanian pada PJPT II.
        Potensi kelembagaan penunjang pembangunan pertanian cukup besar di
Indonesia, dalam banyak hal kelembagaan epenunjang pembangunan ini bukan dinilai
terlalu berlebihan. Kelompok tani, P3A, KUD, Kelompencapir, Kelompok peternak,
Wanita Tani, dan kelemba gaan lainnya membuka peluang untuk menunjang keber
hasilan epembangunan pertanian pada PJPT II. Peluang itu dapat diwujudkan dalam
bentuk keterkaitan/koordinasi kegiatan kelompok atau kelembagaan. Penyempurnaan
tata kerja hubungan-hubungan tersebut membuka peluang untuk lebih mengaktifkan
lembaga-lemba ga tersebut dalam mendorong pembangunan pertanian pada PJPT II.
        Peluang-peluang ekonomi lain yang memerlukan penanganan lebih mendalam
adalah peluang ekspor beberapa komoditas andalan, peluang peningkatan kualtas
produk pertanian dan olahannya, peluang pengembangan agroindustri, serta peluang
diversifikasi agribisnis komoditas yang diperlukan untuk megisi permintaan domestik
dan pasar internasional. Secara khusus peluang pengembangan kegiatan produksi
bidang perikanan dan peternakan masih memerlukan pena nganan tersendiri.
        Dengan mengacu pada tujuan, wawasan dan pendekatan epembangunan
pertanian yang ada selama ini, maka PJPT II sektor pertanian mencakup lima aspek
penting, yaitu
(1). Meningkatkan kualitas, cakupan dan kemantapan swasembada pangan dalam
     rangka meningkatkan gizi masyarakat
(2). Meningkatkan pendapatanm dan kesejahteraan petani, terutama dalam rangka
     penanggulangan kemiskinan dan ketimpangan distri busi pendapatan
(3). Perluasan kesempatan kerja dan peningkatan produktivitas tenaga kerja di sektor
     pertanian
(4). Pengembangan sumberdaya pertanian, untuk meningkatkan peng hasilan devisa,
     melalui upaya diversivikasi komoditas pertanian secara horisontal maupun vertikal
(5). Peningkatakan peran serta dan kemampuan masyarakat tani dalam kelembagaan
     ekonomi dan sosial di sektor pertanian dan di wilayah pedesaan.
        Dalam rangka untuk mencapai keberhasilan pembangunan pertanian tersebut,
ada lima wawasan pembangunan pertanian, yaitu (1) Wawasan Agribisnis, (2)
Wawasan industrialisasi pertanian, (3) Wawasan pendapatan dan kesejahteraan petani,
(4) Wawasan keter paduan dan keterkaiotan, dan (5) Wawasan kelestarian lingkungan.



                                               4
        Kebijaksanaan pembangunan pertanian PJPT II berdasarkan wawasan sistem
agribisnis, orientasi pengembangan komoditas diper luas untuk mencakup keseluruhan
sistem agribisnis, bukan sekedar peningkatan produksi. Wawasan sistem agribisnis ini
menunjuk pada keserasian kegiatan sistem usaha pertanian sejak dari penyediaan
sarana produksi, teknologi produksi dan sistem usahatani, kegiatan panen dan pasca
panen, sistem pemasaran dan perdagangan, sampai dengan kegiatan-kegiatan agro
industri. Wawasan ini erat kaitannya dengan perlunya integrasi kegiatan- kegiatan
tersebut dalam suatu sistem, sehingga masalah-masalah yang dihadapi dalam pemba
ngunan pertanian dapat diupayakan pemecahannya secara sistematik, terarah dan
beterpadu.
        Wawasan industrialisasi pedesaan menunjuk pada suatu proses transformasi
pertanian ke arah proses produksi yang lebih bersifat padat ilmu dan teknologi dalam
memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan pembangunan
pertanian. Termasuk dalam wawas an industrialisasi pertanian ini pengertian tentang
masalisasi produksi epertanian, dan aspek-aspek kehidupan masya rakat seperti
persepsi, tata nilai, kelembagaan, organisasi dan lainnya. Wawasan industri alisasi
epertanian ini pada gilirannya akan menuntut adanya restruk turisasi sistem produksi
pertanian, sehingga kendala-kendala yang bersuber dari keterbatasan yang dihadapi
petani pedesaan dapat diatasi.
        Wawasan pendapatan dan kesejahteraan petani menunjuk pada perlunya selalu
mempertimbangkan kepentingan petani dalam meramu ekebijaksanaan pembangunan
epertanian. Hal ini diperlukan untuk mencegah adanya program-program pembangunan
pertanian yang berdampak positif bagi pembangunan pertanian secara kese luruhan,
tetapi dalam pelaksanaannya justru merugikan kepentingan petani.
        Wawasan keterpaduan dan keterkaitan berhubungan dengan perlunya integrasi
kegiatan, program, maupun institusi yang menjadi bagian dari proses pembangunan
epertanian. Pada PJPT I wawasan ini dirasa masih belum dapat dilaksanakan dengan
baik. Mengingat epembangunan pertanian pada PJPT II semakin tinggi komplek
sitasnya, maka wawasan keterpaduan dan eketerkaitan ini perlu terus diupayakan
pelaksanaannya. Keterpaduan kegiatan antar instansi lingkup Departemen Pertanian
serta keterpaduan kegiatan Depar temen Pertanian dengan Departemen dan Lembaga
lainnya yang berkaitan dengan pertanian.
        Wawasan pelestarian lingkungan, yang dpaat diperluas menjadi wawasan
pelestarian lingkungan dan sumberdaya alam, mengacu pada semakin tingginya
kepentingan untuk mempertahankan dan memper baiki keadaan lingkungan yang
dalam banyak ahl menjadi eterpengaruh keadaannya dengan pelaksanaan kegiatan
pembangunan pertanian. Keseimbangan antara ketersediaan sumber daya yang ada
dengan tingkat penggunaannya perlu         terus dijaga, sehingga dampak negatif
pembangunan pertanian terhadap keles tarian lingkungan dan sumberdaya alam dapat
ditekan sekecil mungkin.
        Strategi pembangunan pertanian pada PJPT II diartikan sebagai perakitan
antara tujuan, sasaran, dan isntrumen kebijaksa naan sehingga secara keseluruhan
menjadi sesuatu yang utuh.

       (1). Pembangunan Pertanian yang Berkelanjutan
       Pembangunan jangka panjang harus dipandang sebagai suatu proses
pembangunan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, penekanan strategi pembangunan
pertanian adalah pembangunan yang berkelnajutan dengan periodisasi 25 tahun. Hal

                                              5
ini mengisyaratkan bahwa       pembangunan pertanian merupakan           suatu proses
manajemen pemba ngunan dengan tujuan, sasaran, instrumen dan hal-hal lain yang
berhubungna dengna proses tersebut. Elemen-elemen yang saling berhubungan
dikelola melalui suatu proses yang berkesinambungan yang dikoordinasikan melalui
mekanisme adminsitratif dan mekanisme pasar dalam arti luas. Oleh karena itu proses
pembangunan pertanian merupakan suatu medium yang sangat strategis untuk
dipahami dan snagat penting untuk ditangani dengan baik mengingat peccapaian tujuan
atau sasaran yang dikehendaki terganting dari keberhasilan kita dalam mengelola
proses pembangunan.
         Proses pembangunan harus dipandang sebagai proses yang dinamik, yang
berarti bahwa dalam prosesnya senantiasa terkandung unsur resiko dan ketidak-
pastian. Peningkatan IPTEK pertanian dalam arti seluas-luasnya merupakan asset dan
modal dasar untuk menu runkan derajat ketidak-tahuan dalam menangani proses
pembangunan, sehingga diharapkan kegagalan atau kekurang-berhasilan dapat
dikurangi. Peranan pemerintah dalam menumbuhkan partisipasi petani sangat menonjol
dan dampaknyapun sangat dirasakan. Hal seperti ini dipandang sangat tepat, terutama
kalau dikaitkan dengan kondisi petani dan pertanian serta kondisi pangan nasional.
         Pembangunan pertanian      harus dilakukan secara berkelanjutan, dimana
sumberdaya pembangunan pertanian yang tersedia sangat terbatas dan harus dapat
digunakan dlaam jangka panjang dengan memberi manfaat yang semakin besar. Oleh
karena itu teknologi yang dihasilkan harus memperhatikan aspek keberlanjutan
pembangunan pertanian dan aspek lainnya yang terkait, yaitu aspek produktivitas,
stabilitas dan pemerataan pembangunan pertanian.

        (2). Instrumen Strategis dalam Kebijaksanaan Pembangunan Pertanian
        Industrialisasi pertanian dalam arti yang seluas-luasnya harus dijadikan suatu
proses adaptasi dan inovasi masyarakat indonesia dalam menghadapi prubahan dunia.
Instrumen strategis berikut ini dianggap sangat relevan untuk mendorong tumbuhnya
industrialisasi pertanian di Indonesia dengan cepat tetapi terarah pada sasaran yang
telah ditetapkan.

(a). Pengembangan sumberdaya manusia
     Citra tentang pertanian sebagai aktivitas "mencangkul" perlu segera ditinggalkan.
     Pertanian sebagai suatu proses produksi yang kompleks perlu ditangani oleh
     manusia dengan kemampuan intelektual dan mentalitas yang tinggi. Oleh karena
     itu, pengembangan sumber daya manusia perlu diartikan dalam arti luas, termasuk
     membina sikap mental dan kemampuan intelektual aparat epemerintah, pendidik,
     pedagang komoditas pertanian, pengusaha industri pengolahan hasil pertanian,
     penyuluh dan petani. Corak, gaya dan esensi pengem bangan sumberdaya
     manusia ini perlu ditata disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi yang ada.
(b). Investasi
     Investasi diarahkan pada komoditas strategis termasuk sarana dan prasarana
     penunjangnya dilihat dari segi ekepentingan untuk emningkatkan pendapatan
     petani dan eperluasan kesempatan kerja di pedesaan. Dengan kata lain, investasi
     yang perlu dikembangkan adalah bentuk-bentuk investasi yang mampu
     memberikan pengganda pendapatan dan tenaga kerja yang tinggi. Investasi ini
     tidak terbatas pada investasi pada produksi primer dan pengembangan
     sumberdaya, tetapi lebih penting lagi investasi pada bidang industri pengolahan dan

                                                6
       pemasaran. Dalam bidang pengembangan sumberdaya, pada masa mendatang
       investasi di bidang perikanan tangkap, lahan kering, rawa dan pasnag surut perlu
       ditingkatkan.
(c).   Inovasi kelembagaan
       Kepastian siapa yang menanggung beaya dan siapa yang memperoleh manfaat
       adalah ditentukan oleh kelembagaan. Oleh karena itu, distribusi pendapatan atau
       insentif tergantung pada bentuk kelembagaan yang diberlakukan. Untuk menjamin
       pembangunan pertanian yang berkelanjutan, inovasi kelembagaan perlu diarahkan
       pada perekayasaan kelembagaan yang dapat menjamin petani mem peroleh nilai
       tambah dari jasa produksinya yang cukup tinggi dan fair.
       Inovasi kelembagaan dapat diartikan sebagai penataan kelem bagaan pada tingkat
       nasional atau tingkat daerah dengan pengertian dapat berupa deregulasi atau
       regulasi demi tercapainya suatu tujuan          tertentu seperti efisiensi alokasi
       sumberdaya. Oleh karena kepen- tingan petani senantiasa berada di atas
       kepentingan lain, maka dalam setiap deregulasi atau regulasi harus didahulukan
       kepentingan petani, termausk kompensasi yang perlu diberikan kepadanya.
       Integrasi antara kelompok tani dengan koperasi pada tingkat desa dan tingkat yang
       lebih tinggi masih memerlukan penyempurnaan untuk lebih meningkatkan
       pendapatan petani dan ekonomi pedesaan.
(d).   Kebijaksanaan Harga
       Nilai riil komoditas pertanian terhadap komoditas non pertanian pada umumnya
       terus menurun. Harga komoditas pertanian umumnya juga berfluktuasi menurut
       musim dan memiliki marjin yang cukup besar antara harga pada tingkat petani
       dengan harga pada tingkat konsu men. Disamping itu, harga komoditas pertanian,
       termausk inputnya, pada umumnya tidak terlepas dari intervensi pemerintah.
       Dengan adanya sistem perdagangan global, maka kebijaksanaan harga komo ditas
       pertanian di Indonesia akan menjadi isu yang sangat penting khususnya apabila
       tujuan untuk meningkatkan pendapatan petani dijadikan tujuan pokok. OLeh
       karena itu, kebijaksanaan harga perlu dijadikan instrumen untuk mendorong alokasi
       sumberdaya yang lebih efisien tetapi tidak terlepas dari azas keadilan, kemerataan
       dan fairness.
(e).   Peranan Suasta dan Pemerintah
       Peranan pemerintah akan bergeser intensitasnya dari :"aktor langsung" ke arah
       'dinamisator, stabilisator, dan kepastian hukum" bagi para pelaku ekonomi.
       Dengan demikian porsi ekonomi dimana kope rasi petani dan suasta memiliki
       keunggulan, dapat diberikan kepada pelaku-pelaku ekonomi ini.              Peranan
       pemerintah diarahkan pada upaya-upaya strategis seperti penanggulangan
       kemiskinan dan pencip taan distribusi pendapatan yang semakin merata.
(f).   Perdagangan luar negeri dan dalam negeri
       Perdagangan luar negeri lebih diarahkan untuk emningkatkan devisa dan
       penciptaan pengganda pendapatan dan kesempatan kerja yang besar pada
       perekonomian daerah dan petani. Salah satu implikasinya ialah komoditas yang
       diperdagangkan di pasar luar negeri seyogyanya merupakan komoditas hasil
       olahan. Dengan demikian nilai tambah dari proses pengolahan dapat dinikmati oleh
       masyarakat Indonesia.




                                                  7
        Tujuan pembangunan pertanian di masa mendatang ialah mem-bangun
pertanian tangguh yang efisien dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.
Dengan demikian pertanian mampu secara optimal meningkatkan pendapatan epetani,
meningkatkan gizi masya rakat, mening katkan devisa negara dan mendorong
pertumbuhan kesem-patan berusaha dan kesempatan kerja di pedesaan.
        Upaya-upaya ini perlu dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian
sumberdaya dan lingkungan hidup. Sektor pertanian dihadapkan pada semakin
terbatasnya ketersediaan sumberdaya dan resiko kemerosotan kualitas sumberdaya
alam sehingga menuntut pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam secara tepat.
Sektor pertanian diharapkan juga mampu menjamin berkelanjutan pemba ngunan
pertanian yang memberikan peningkatan kesejahteraan para pelakunya.
        Konversi lahan pertanian di Jawa untuk kegiatan non pertanian menyebabkan
produksi pertanian harus bergeser ke areal di luar P. Jawa yang memiliki kualitas relatif
lebih rendah. Produktivitas lahan tersebut diperkirakan lebih rendah dibandingkan
dengan produktivitas lahan di Jawa. Wilayah tersebut ditandai oleh keterbatasan
sarana/ prasarana dan kurnagnya insentif ekonomi. Pemanfataan secara optimal
potensi sumberdaya pertanian dan keunggulan kompetitif komoditas pertanian,
dikembangkan usaha pertanian dalam sutau sistem agribisnis yang utuh dan dalam
kerangkia pembangunan berkelanjutan.
        Pembangunan pertanian pada PJP II sangat jelas memerlukan suatu peningka-
tan kualitas sumberdaya manusia, baik melalui pening katan gizi maupun melalui
peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian dan pengembangan pertanian
mempunyai pelu -ang yang sangat besar dalam mengarahkan dan mendorong keber
hasilan proses industrialisasi pertanian dalam PJP II. Sumber daya yang tersedia bagi
penelitian dan pengembangan pertanian adalah terbatas, sehingga perlu dialokasikan
secara optimal kepada berbagai program penelitian. Pada PJP II sektor pertanian harus
dibangun menjadi suatu industri pertanian yang tangguh dan efisien. Industri pertanian
berarti adanya "kesatuan terpadu" antara industri hulu, sistem usaha perta nian,
agroindustri dan pemasraan dalam suatu sistem agribisnis. Melalui industri pertanian
yang tangguh dan efisien sumberdaya pertanian memberikan nilai tambah lebih besar
sesuai dengan potensi optimal yang ada.
        Penelitian dan pengembangan pertanian diharapkan mampu menghasilkan
inovasi, baik yang berupa inovasi teknis, ekonomi, dan inovasi sosial yang relevan
dengan keperluan pembangunan. Inovasi yang dihasilkan berorien-tasi kepada
kebutuhan konsumen yang dapat diklasifi-kasikan berdasarkan sasaran komoditas,
wilayah dan kelom pok masyarakat. Suatu analisis antisipasi keperluan dan permintaan
konsumen harus selalu mendasari penyusunan program penelitian dan pengembangan
perta-nian. Kemampuan di bidang ini telah ada, namun perlu lebih dikembangkan di
masa yang akan datang.
        Pembangunan pertanian mempunyai multi tujuan yang harus dicapai dimana
peningkatan produksi merupakan sasaran antara atau dengan kata lain peningkatan
produksi merupakan alat untuk menca pai tujuan yang mencakup peningkatan
kesejahteraan pelaku produksi pertanian, peningkatan gizi masyarakat, peningkatan
devisa, dan peningkatan kesempatan kerja. Pencapaian tujuan ini harus memper
hatikan keberlanjutan sumberdaya alam dan kelestarian lingkungan hidup.
        Penelitian dan pengembangan pertanian harus mampu membe rikan alternatif
cara dimana "melalui suatu sistem usaha pertanian dapat dicapai suatu kondisi yang
lebih baik bagi para pelaku usaha pertanian dan bagi masyarakat secara keseluruhan".

                                                 8
Sistem usaha pertanian yang mengintegrasikan faktor produksi lahan, tenagakerja,
modal dan teknologi/manajemen sangat dipengaruhi oleh kondisi spesifik wilayah, yang
mencakup bio-fisik, ekonomi, dan sosial. Sektor pertanian hingga saat ini masih
diartikan sebagai "sistem usaha pertanian" yang sangat berkaitan erat dengan sistem
lainnya seperti industri hulu, industri hilir, pemasraan/perdagangan dan permintaan datri
konsumen. Keseluruhan sistem yang berkaitan dengan sektor pertanian tersebut
sangat dipengaruhi oleh kondisi sumberdaya, kelembagaan, dan kebijaksanaan
pembangunan pertanian.            Dari keseluruhan sistem agribisnis seperti yang
diabstraksikan di atas, dapat diambil beberapa aspek atau bidang kajian penting, yaitu:

        (a). Sistem Agribisnis dan Perdagangan/pemasaran
        Penelitian ini diarahkan untuk melihat keterkaitan antara berbagai subsistem
dalam agribisnis untuk lebih mendorong pengem bangan sistem budidaya pertanian.
Penelitian juga mencakup prospek pengembangan berbagai komoditas dikaitkan
dengan prospek permin taan dan penawarannya baik di dalam maupun di luar negeri.
        Penelitian pengembangan sistem agribisnis termasuk upaya untuk memantap-
kan sentra-sentra produksi pertanian yang memung kinkan adanya keterkaitan yang
efisien dengan agroindustri (industri hilir) dan juga penyediaan sarana produksi (industri
hulu). Dalam rangka agribisnis ini sangat penting diketahui adalah analisis biaya dari
berbagai sistem usaha pertanian dalam rangka meningkatkan efisiensi dan daya saing
komoditas. Penelitian lembaga keuangan pedesaan menjadi sangat strate gis untuk
membantu mendorong mobilisasi sumber ana yang tersedia di pedesaan secara lebih
efisien dan efektif.

        (b). Sumberdaya manusia dan kelembagaan
        Sumberdaya manusia merupakan subyek pembangunan. Penelitian mengenai
perilaku sumberdaya manusia menjadi sangat penting baik sebagai individu, anggota
kelompok maupun dalam rangka mengkaitkan antara usahatani keluarga, perusahaan
pertanian dan agroindustri untuk meningkatkan "responsivitas" terhadap perubah an
pasar. Penelitian mengenai gender dalam rangka mendorong peningkatan nilai tambah
sumberdaya manusia mendapat perhatian yang lebih besar. Termasuk dalam bidang ini
ialah penelitian kelembagaan untuk menmdorong pembangunan pertanian. Penelitian di
bidang kelembagaan ini a.l. mencakup: (1) sistem penyuluhan pertanian yang
berkaitand engna otonomi daerah, (2) sistem komuni kasi dengan dunia usaha, (3).
sistem nilai masyarakat pedesaan untuk mendorong pembangunan pertanian, (4)
sistem kerjasama petani untuk meningkatkan skala ekonomi, (5) pengembangan
"contract farming" dan kajian "demokratisasi" pengambilan keputusan dan sistem
budaya pertanian.

       (c). Pengelolaan sumberdaya alam dan Lingkungan Hidup
       Sumberdaya lahan semakin terbatas dan adanya kecende rungan pemanfaatan
harus semakin bergeser ke lahan yang berma salah. Penelitian diarahakan semakin
lebih banyak kepada upaya pemanfaatan wilayah tersebut, termasuk wilayah lahan
kering. Penelitian sumberdaya harus mampu memberikan indikasi potensi dan peluang
bagi pengembangan sistem usaha pertanian pada suatu wilayah tertentu. Penelitian
perlu dapat memberikan informasi menge nai karakteristik sumberdaya alam tersebut
dan memberikan perkiraan mengenai arah pengelolaan dimasa mendatang.


                                                 9
        (d). Sistem usaha pertanian (atau usahatani)
        Kebijaksanaan pembangunan pertanian berdasarkan sistem agribnisnis.
Orientasi pengembangan komoditas yang saat ini lebih diarahkan pada peningkatan
produksi, diperluas sehingga mencakup keseluruhan sistem agribisnis. Penelitian
diarahkan untuk menghasil kan berbagai alternatif sistem usaha pertanian dengan
sekala ekono mi yang efisien, yang spesifik untuk berbagai kondisi agroekologi.
Pengem bangan sistem usaha pertanian dilakukan dengan memper hatikan prinsip
keunggulan wilayah. Penelitian juga meliputi penggunaan alat dan mesin pertanian
untuk meningkatkan nilai tambah .
        Penelitian komoditas dan komponennya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi
dan produktivitas suatu komoditas, dimana komoditas tersebut selanjutnya dirang kum
dalam suatu sistem usaha pertanian. Penelitian prapanen, panen dan pasca panen
tetap diper lukan untuk emningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi. Penelitian
sekala ekonomi usaha dan cara pengusaha annya semakin penting mengingat semakin
terbatasnya sumberdaya perta nian, sedangkan bentuk pengelolaan tersebut harus
dapat memberi kan pendapatan yang layak bagi para pelakunya. Pola-pola keterkait an
antara usahatani keluarga dan perusahaan pertanian masih perlu dikem bangkan lebih
lanjut dengan prinsip saling mendukung dan menguntungkan.

        (e). Pengembangan agroindustri
        Kondisi sistem budidaya tanaman sangat tergantung pada perkembangan
agroindustri. Penelitian agroindustri diarahkan untuk memperbaiki pola pengembangan
agro-industri yang dapat memper baiki distribusi pendapatan, termasuk perbaikan pola
keterkaitan antara usahatani keluarga dan perusahaan agroindustri serta bentuk agro
industri yang sesuai di pedesaan. Penelitian agroindustri yang perlu diselenggarakan
adalah dalam rangka penentuan lokasi agroindustri dikaitkan dengan sentra
pengembangan komoditas, penelitian sekala ekonomi agroindustri, penelitian
keterkaitan antar sektor dalam agroindustri, penelitian pengembangan produk dan
dampak kebijak sanaan makro terhadap perkembangan agroindustri (a.l perkreditan,
perpajakan dan nilai tukar).

       (f). Rintisan dan pengembangan produk
       Penelitian bioteknologi merupakan salah satu peneli tian rintisan yang perlu
mendapat perhatian dalam PJP II. Bioteknologi merupakan alternatif baru yang dapat
memban tu mengatasi berbagai masalah yang melalui cara konven sional sulit atau
tidak dapat dilakukan. Melalui penelitian biuoteknologi ditujukan untuk meningkatkan
produksi dan produktivitas tanaman, ternak dan ikan melalui biak sel/jaringan, hibridisasi
sel somatik.




                                                 10
        II. KONSEPSI PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN SENGON

      Sengon adalah tanaman yang telah lazim dikenal masyarakat di Jawa Timur.
Oleh karean itu sengon dapat dipelihara oleh setiap anggota masyarakat, tidak
memerlukan teknologi tinggi dan dengan cara sederhana dapat berkembang biak
dengan baik. Dengan demikian untuk meningkatkan populasi, dan produksi buah
sengon, akan dilaksanakan Sentra Pengembangan Agibisnis Komoditas Unggulan
(SPAKU) Sengon.

       1. Konsepsi.
       Pengembangan komoditas sengon dapat dilakukan dengan sistem usahatani
berkelompok dan terpusat pada sentra unggulan sengon dengan kegiatan peningkatan
produksi secara terpadu, berskala ekonomi, berkelanjutan dengan kemandirian dan
beroreantasi agribisnis.

      2. Arah
      SPAKU- Sengon diarahkan dalam mengembangkan sentra-sentra produksi dan
pembibitan yang berorientasi Agribisnis/ Agroindustri.

        3. Dasar Penentuan Lokasi.
        Penentuan lokasi komoditi unggulan ini dengan persyaratan sebagai berikut:
(1)   Bahwa SPAKU Sengon merupakan kegiatan ekonomi produktif.
(2)   Mempunyai sumberdaya wilayah yang relatif siap dimanfaatkan dan potensinya
      memadai.
(3)   Adanya partisipasi aktif dari masyarakat yang telah familier dengan komoditas
      unggulan dan teknologinya telah dikuasai.
(4)   Memberikan hasil dengan nilai tambah yang memadai.
(5)   Merupakan substitusi import dan apabila mungkin diekspor.

      4. Tujuan dan Sasaran.
      Berdasarkan konsepsi tersebut di atas, maka tujuan dan sasaran dari sentra
pengembangan agribisnis komoditi unggulan ini adalah sebagai berikut:

        (1) Tujuan.
a. Meningkatkan populasi tanaman yang telah ada, produksi primer kayu sengon dan
   hasil sampingan (tanaman sela), serta produk-produk ikutannya, secara lokal dan
   regional, bahkan kalau memungkinkan secara nasional.
b. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani (dan pengelola SPAKU) melalui
   peningkatan skala usaha kecil menuju ke arah komersial dengan pendekatan
   Agribisnis.
c. Menciptakan sentra-sentra pembibitan sengon dan pusat pelayanan inovasi teknologi
   serta informasi pasar.
d. Menciptakan Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA) Sengon yang dijiwai oleh
   semangat kemitraan dan koperatif
e. Mendorong berkembangnya koperasi pedesaan dengan kegiatan produktifnya
   agribisnis komoditas sengon dan mampu bermitra-usaha dengan pihak luar/suasta
   yang terkait.


                                              11
         (2) Sasaran.

       a. Sasaran Kualitatif
       Sasaran dari SPAKU sengon ini adalah berkembangnya kelompok- kelompok
petani sengon yang dapat dibina menuju usaha kelompok agribisnis yang mandiri dan
kemudian berkembang ke arah terbentuknya koperasi agribisnis/agroindustri berbasis
sengon.

          b. Sasaran Kuantitatif
          Sasaran kuantitatif SPAKU sengon ini adalah:
(a)    Membangun Pusat Pembibitan dan Pelayanan Informasi Teknologi (PPPIT) yang
       meliputi, pembangunan pos petugas pengendali 2 unit, kebun koleksi satu unit,
       kebun pembibitan dua unit, rumah kaca 5 unit, yang dilengkapi dengan genset,
       instalasi air dan listrik, alat pengolahan tanah dan alsintan, dan beberapa
       perlengkapan kebun; serta ruang data dan pengolahan informasi agro-teknologi,
       dan ruang pertemuan komunikasi agribisnis.
(b)    Pengadaan bibit sengon unggul dengan jumlah tertentu, misalnya sebanyak 500-
       1000 batang untuk setiap kultivar unggul yang akan dikoleksi.
(c)    Selanjutnya bibit sengon tersebut dikembangkan di PPPIT dengan menggunakan
       metode perbanyakan vegetatif dan generatif secara berkesinambungan di lokasi
       kebun bibit, dan bibit yang dihasilkan disebarkan kepada petani.
(d)    Sasaran petani anggota KUBA sengon ditetapkan secara bertahap, misalnya setiap
       tahapan 200 RTP, masing-masing memiliki lahan tegalan 0.25-1.0 ha, menerima
       bibit sengon 500-1000 batang terdiri dari beberapa macam kultivar unggul.
(e).   Sasaran areal pembangunan SPAKU sengon adalah 1000 ha kebun inti dan 500
       ha areal dampak milik rakyat.


         5. Tahapan Kemandirian SPAKU Sengon

        Dalam rangka pembinaan terhadap kelompok tani (KUBA) sengon sehingga
dapat mencapai kemandirian, maka bantuan fisik dan keuangan dari pemerintah
diharapkan dapat berakhir pada akhir tahun ke-3 atau ke-4. Selanjutnya pemerintah
hanya akan membina secara fungsional (melalui FORKA Sengon) agar KUBA tersebut
mencapai kemandirian bahkan dapat dikembangkan ke arah terbentuknya koperasi
agribisnis/agroindustri berbasis komoditas sengon, yang selanjutnya mampu melakukan
kemitraan dengan mitra-usaha Swasta setempat.
        Tahapan kemandirian tersebut dimaksud seperti diuraikan pada bagan berikut .




         III. OPERASIONALISASI PENYEBARAN DAN PENGEMBANGAN
              KOMODITAS SENGON


                                                12
       1. Pola Penyebaran

        Penyebaran komoditas sengon dapat dilaksanakan melalui dua pola, yaitu :
(1) Gerakan pembangunan rumah dan tanaman (Gerbang Rutan) yaitu penyebaran dan
    pengembangan tanaman sengon dengan sistem pemeliharaan berada dalam
    lokasi/lahan pemukiman penduduk (lahan pekarangan).
(2) Gerakan pembangunan wilayah pertanaman (Gerbang Wiltan) yaitu penyebaran dan
    pengembangan tanaman        dimana lokasi pemeliharaannya terpisah dengan
    pemukiman penduduk yang tergabung dalam suatu hamparan.
        Secara skematis kedua model tersebut digambarkan dalam bagan berikut .

       2. Penyebaran Bibit Sengon
       Penyebaran sengon dapat ditempuh melalui dua tahap, yaitu :

       (1) Operasional Penyebaran Bibit Tanaman

       a. Tahap produksi bibit dengan bibit induk kultivar terpilih pada kebun koleksi
dan kebun bibit melalui pembangunan PPPIT. Adapun fungsi PPPIT ini adalah :
(a) Aklimatisasi atau penyesuaian kondisi dan lingkungan dalam upaya memperkecil
    tingkat kematian tanaman sebelum disebarkan kepada anggota KUBA Sengon.
(b) Pembesaran bibit sampai umur tertentu untuk disebarkan ke petani annggota
    KUBA Sengon.
(c) Pelayanan informasi (agro-teknologi dan pasar) dan percontohan bagi masyarakat
    dan sekaligus sebagai tempat latihan kerja.
(d) Melaksanakan penyebaran bibit tanaman ke petani yang akan menerima paket
    Agribisnis.
(e) Membina petani anggota KUBA Sengon menjadi spesialis-spesialis produksi bibit
    sengon dan produksi buah konsumsi.
(f) Meningkatkan pendapatan wilayah non pajak melalui penjualan hasil produksi
    sengon.

       b. Tahap Penyebaran dan Pembinaan

       Tahap penyebaran dan pembinaan, yaitu penyebaran tanaman kepada petani
yang bergabung dalam kelompok KUBA Sengon. Petani anggota KUBA ini dibina
sehingga mampu menumbuhkan sentra produksi dan pembibitan sengon kultivar
unggul. Apabila telah tercipta sentra-sentra pembibitan di pedesaan, maka peranan
PPPIT akan dapat dialihkan kepada pelayanan informasi teknologi dan informasi pasar.
Adapun mekanisme dalam pelaksanaannya penyebaran tanaman dapat diabstraksikan
dalam bagan berikut .


      (2) Komponen Komoditi Unggulan Sengon
      Untuk meningkatkan produksi sengon melalui sentra pengembangan agribisnis
komoditi tanaman ini dipersyaratakan tersedianya beberapa komponen penting.

       a. PPPIT

                                               13
       Pusat pelayanan ini merupakan tempat pusat pembibitan, pembesaran dan
perbanyakan bibit, serta informasi teknologi dan pasar hasil produksi, maka diperlukan
sarana antara lain :
(a) Kebun Induk Koleksi Kultivar Unggul
(b) Kebun pembibitan sengon
(c) Rumah kaca permanen dengan instalasi air bersih dan listrik
(d) Ruang / gudang peralatan dan Saprodi
(e) Komoditas penunjang: tanaman sela jagung, kacang-kacangan
(f) Tanaman Induk: beberapa macam kultivar
(g) Alsintan, termasuk hand tractor
(h) Instalasi air dan listrik
(i) Ruang data dan pengolahan informasi yang dilengkapi dengan fasilitas komunikasi
    yang memadai.

       b. Intensifikasi Teknologi/SAPRODI
       Upaya perbaikan produktivitas tanaman dilakukan dengan memberikan saprodi
sesuai dengan rekomendasi teknis sehingga dapat meningkatkan produksi tanaman .

       c. Program Inovasi Teknologi Budidaya Tanaman
       Upaya menekan gangguan hama dan penyakit tanaman sengon dilakukan
dengan cara pemantauan epidemiologi, pelayanan diagnosa penyakit secara teratur dan
terpadu.

       d. Distribusi dan redistribusi
       Untuk mempercepat terwujudnya sentra pengembangan agribisnis komoditas
sengon, maka upaya penyebaran tanaman maupun redistribusinya akan dilaksanakan
secara berke-sinambungan.

        e. Diversifikasi
        Guna meningkatkan produktifitas lahan di lokasi sentra pengembangan
agribisnis komoditi sengon, harus dilakukan intensifikasi sistem pengelolaan usahatani
tanaman dengan melibatkan tanaman penunjang seperti palawija (sebagai tanaman
sela ketika sengon masih muda), tanaman sela ini lazimnya jagung atau kacang-
kacangan sewaktu tanaman sengon masih muda. Melalui deversifikasi yang intensif ini
diharapkan dapat diperoleh peningkatan produktifitas maupun skala pemilikan.

       f. Pelatihan SDM
       Guna meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan petugas lapangan maupun
petani anggota KUBA Sengon, harus dilakukan pelatihan-pelatihan, baik yang
menyangkut teknologi budidaya, manajemen usahatani, maupun manajemen
pemasaran hasil.

        g. Pembinaan kelompok KUBA Sengon
        Untuk meningkatkan transformasi teknologi kepada petani, pembinaan anggota
KUBA harus dilakukan secara kontinyu dan intensif. Pembentukan kelompok KUBA dan
recruitmen anggota harus melibatkan tokoh masyarakat setempat dan memperhatikan
ikatan-ikatan sosial-tradisional yang telah ada.


                                               14
      (3) Sistem Distribusi Bibit

       a. Distribusi bibit
       Distribusi bibit tanaman dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
(a) Penyebaran melalui KUBA untuk selanjutnya kelompok ini menyebarkan kepada
    kelompok lain yang terdiri dari 25-30 RTP.
(b) Penyebaran langsung ke petani yang bergabung dalam KUBA.

       b. Paket Agribisnis
       Setiap petani menerima satu paket, komponen paket tersebut terdiri dari bibit
sengon siap tanam sebanyak 150-500 batang sesuai dengan luas lahan yang dimilikinya
(Populasi yang disarankan 500 tanaman setiap hektar) dan pupuk sesuai dengan
anjuran. Selama dua tahun pertama dapat subsidi benih dan saprodi untuk tanaman
sela jagung atau kacang-kacangan. Disamping itu petani mendapat latihan terlebih
dahulu sebelum menerima paket, penyuluhan dan pembinaan serta bantuan alat olah
tanah.

      c. Pola pengembalian
      Petani penerima paket berkewajiban mengembalikan 150-500 bibit sengon siap
tanam. Jangka waktu pengembalian dua tahun setelah tanaman berproduksi/dapat
dipanen dan dilakukan melalui penandatanganan surat perjanjian.

      d. Mekanisme Pengembalian
      Kayu sengon dapata dipanen umur 8-10 tahun, sebagian hasil panen ini (senilai
dengan harga 150-500 bibit sengon) disetor ke PPPIT dengan dikoordinir oleh ketua
kelompok.

      3. Lokasi

       Lokasi sentra pengembangan agribisnis komoditas unggulan tanaman ini adalah
wilayah kecamatan tertentu yang memenuhi syarat. Penetapan lokasi proyek
(Kecamatan) ditetapkan oleh Dinas /Instansi yang berwenang.


      4. Petani dan KUBA Sengon

     Petani peserta proyek ditetapkan oleh Kepala Dinas /Instansi terkait dengan
mengakomodasikan saran/masukan-masukan dari tokoh masyarakat setempat.

      (1) Syarat-syarat petani peserta :
a. Bertempat tinggal tetap di lokasi proyek disertai surat keterangan domisili Kepala
    Desa.
b. Diutamakan belum mendapat /menjadi peserta proyek sejenis.
c. Bersedia menjadi anggota kelompok KUBA. Sengon
d. Mempunyai pengalaman dan ketrampilan memelihara tanaman sengon dan
    sannggup melakukan usahatani secara serius.
e. Sanggup menyediakan lahan, tenagakerja dan memelihara tanaman dengan baik.
f. Bersedia mengikuti petunjuk, bimbingan dan latihan dari Dinas dan instansi terkait.

                                               15
g. Mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas /Instansi Dati II untuk menjadi
    peserta SPAKU dan menjadi anggota KUBA Sengon.
h. Bersedia menandatangani Surat Perjanjian Kerja dengan Dinas /Instansi
    berwenang.

(2) Adapun tugas dan syarat anggota KUBA Sengon sebagai berikut
a. Petani peserta dikelompokkan dalam kelompok usaha bersama agribisnis (KUBA)
    yang terdiri dari 25 -30 RTP.
b. Setiap KUBA Sengon membentuk pengurus yang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan
    Bendahara.
c. Pengurus berkewajiban ikut membina dan mengaktifkan anggota kelompok serta
    mengkoordinasikan kegiatan pengembangan usahatani sengon dari anggotanya.
d. Pengurus berkewajiban menyampaikan laporan perkembangan tanaman dari
    anggotanya kepada petugas setempat.
e. Setiap anggota kelompok wajib mencatat perkembangan kebunnya pada kartu
    kebun dan data keadaan tanaman melalui kartu tanaman.

       (3) Petani yang telah memenuhi persyaratan ditetapkan oleh Surat Keputusan
Kepala Dinas /Instansi berwenang Kabupaten Dati II.


      5. Forum Komunikasi Agribisnis (FORKA) Sengon

       Forum ini berfungsi untuk memantau dan mengendalikan perkembangan SPAKU
Sengon sehingga mampu mencapai hasil yang diinginkan. Forum ini beranggotakan
para ketua KUBA Sengon, perwakilan instansi pemerintah yang terkait, suasta dan
tokoh masyarakat.




                                            16
       IV. PELAKSANAAN KEGIATAN MENURUT TAHUN ANGGARAN

        Anggaran Sentra Pengembangan Agribisnis Unggulan Komoditi Sengon pada
T.A tertentu dapat dimasukkan dalam DIP dengan besaran tertentu.

       Pelaksanaan dan Penggunaan Dana

       1. Peralatan/perlengkapan dan Alsintan

       (1) Komponen PPPIT

        a. Rumah kaca
        Biaya yang tersedia dipergunakan untuk pembangunan rumah kaca sebanyak 2-
3 unit dengan disain baku yang bisa memuat 500-1000 bibit setiap unit , ini digunakan
pada waktu bibit masih muda sebelum dipindahkan ke lapangan.

       b. Pengadaan Wadah Pembibitan
       Biaya yang tersedia digunakan untuk membeli pot atau polibag yang akan
digunakan untuk memelihara bibit.

       c. Peralatan kebun bibit dan kebun koleksi
       Biaya yang tersedia dengan besaran tertentu dapat dipergunakan untuk
pembelian peralatan kebun yang dibutuhkan antara lain adalah : alat olah tanah,
sprayer, alat pemupukan dan lain-lain. Peralatan kebun ini sebanyak beberapa unit
untuk kebutuhan PPPIT.

       d. Perlengkapan Pos Terpadu
       Biaya pengadaan perlengkapan pos terpadu dipergunakan untuk membeli
peralatan yang membantu petugas dalam melaksanakan administrasi antara lain : meja
kerja, kursi, meja dan kursi tamu, lemari arsip, papan tulis dll disesuaikan dengan
kebutuhan pos terpadu.

      e. Pengadaan Genset
      Genset digunakan untuk penerangan PPPIT dan inkubator buah sengon
sebelum instalasi listrik PLN masuk atau selama aliran listrik PLN padam.

      f. Pengadaan Mixer
      Biaya pengadaan mixer yang digunakan untuk mencampur tanah, dan rabuk
kandang serta media pembibitan lainnya.

       g. Pengadaan hand tractor
       Biaya pengadaan alat ini disesuaikan dengan harga berlaku, kegunaannya
dipakai sebagai percontohasn dan peragaan untuk mengolah tanah kebun sengon di
PPPIT.


       h. Perlengkapan Petugas


                                              17
       Biaya perlengkapan petugas disesuaikan dengan jumlah eptugas dan satuan
harga yang berlaku, dipergunakan untuk membeli perlengkapan petugas yang terdiri
antara lain : sepatu lapangan, jas hujan, senter, topi, baju lapangan dan lain-lain sesuai
dengan kebutuhan petugas lapangan.


       (1) Pengadaan kendaraan roda 2
       Kendaraan roda 2 untuk petugas lapangan digunakan dalam rangka pembinaan
sentra pegnembangan agribisnis komoditas unggulan sengon di lapangan dan di PPPIT.

       (2). Fasilitas ruang data dan informasi
       Pengadaan fasilitas komputer dan tilpun serta perlengkapan penunjangnya
diperuntukkan untuk kelancaran administrasi dan pembuatan laporan serta
penyampaian informasi dalam rangka kegiatan sentra pengembangan agribisnis
komoditi sengon.

       (3) Perlengkapan Ruang Pertemuan Agribisnis
       Biaya pengadaan perlengkapan-perlengkapan ruang pertemuan agribisnis
dipergunakan untuk membeli peralatan antara lain : meja kerja, kursi, meja dan kursi
tamu, lemari arsip, papan tulis dll disesuaikan dengan kebutuhan ruang pertemuan.

       2. Gedung dan Bangunan

       Komponen PPPIT :

       (1) Pembangunan pos petugas 1 unit.
       Pembangunan pos petugas yang dimaksud adalah bangunan untuk pos
penjagaan dan rumah penjaga/kantor. Dana yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan
yang direncanakan, misalnya seluas bangunan 50 M2.

     (2) Ruang / gudang.
     Gudang makanan digunakan untuk menyimpan makanan tanaman                     sengon
maupun perlengkapan lainnya.

        (3) Ruang Genset
        Ruang genset digunakan untuk tempat genset dengan luas 4 M2, dana yang
diperlukan disesuaikan dengan disain teknis.

       (4) Instalasi air dan listrik
       Dana ini digunakan untuk memasang instalasi air dan listrik, yang kegunaannya
untuk memenuhi kebutuhan fasilitas air dan listrik di PPPIT.

       (5) Pemagaran
       Biaya pemagaran bangunan PPPIT disesuaikan dengan luas areal dan disain
teknis pagar. Pemagaran bangunan kandang di PPPIT dapat menggunakan bahan
pagar bisa dari kawat berduri, tiang besi, sehingga dapat melindungi/sebagai pengaman
bangunan kandang, atau menggunakan disain pagar hidup.


                                                 18
        (6) Kebun bibit /kebun koleksi sengon
        Biaya pembuatan kebun sengon ini dengan luas tertentu disesuaikan dengan
disain teknis. Kebun ini digunakan untuk pemeliharaan bibit, pemeliharaan tanaman
koleksi, dan pohon produksi sebagai percontohan.

       (7) Rumah kaca untuk Penampungan Bibit
       Biaya pembuatan rumah kaca disesuaikan dengan disain teknis. Rumah kaca ini
digunakan untuk pembesaran bibit sementara waktu sampai berumur tertentu baru
disebar ke patani, dengan lantai dari semen atau tanah yang dipadatkan.

       3. Agroinput

       (1) Komponen PPPIT

       a. Pengadaan Bibit Sengon
       Pengadaan bibit sengon sebanyak 500-1000 bibit yang terdiri dari 50-100 bibit
setiap kultivar unggul. Pengadaan sengon dengan umur minimal 6 bulan. Dalam
pengadaan tanaman ini diusahakan memilih bibit yang produktif dengan memperhatikan
karakteristik visualnya. Jenis sengon yang diadakan adalah jenis unggul dimana sumber
bibit dapat berasal dari Kabupaten setempat atau dari sumber bibit yang bisa
dipertanggung jawabkan.

       b. Saprodi
       Biaya saprodi untuk pembelian pupuk, pestisida rabuk kandang/kompos, benih
palawija dan bibit sengon. Pupuk dan pestisida digunakan untuk memelihara tanaman di
PPPIT (kebun koleksi dan kebun bibit) , dan diberikan kepada petani untuk
membesarkan sengon selama setahun bulan dan memelihara tanaman sela.

       (2) Program Perlindungan Tanaman

       a. Peralatan
       Biaya untuk peralatan ini dpaat digunakan untuk pembelian sprayer beberapa
unit dan kelengkapannya , dan lain-lain peralatan gudang disesuaikan dengan
kebutuhan.

      b. Obat-obatan, Pestisida
      Obat-obatan tersebut digunakan pada pengobatan/ pencegahan gangguan
hama dan penyakit sengon di PPPIT maupun pada petani anggota KUBA Sengon.




       4. Pembinaan Sumberdaya Manusia

       (1) Gaji Upah

       a. Tunjangan Tim Pembina Profesional

                                              19
        Biaya tunjangan tim pembina profesional diberikan kepada Tim berupa imbalan
jasa per bulan. Mekanisme penunjukan dan penetapan Tim Pembina Profesional akan
diatur lebih lanjut melalui kebijaksanaan Pemerintah daerah.

        b. Tunjangan/Ops. tim Teknis Komoditas Unggulan
        Biaya tunjangan tim teknis komoditas unggulan diberikan kepada Tim berupa
imbalan jasa per bulan.
        Mekanisme penunjuan dan penetapan Tim Pembina Profesional akan diatur
lebih lanjut melalui kebijaksanaan Pemerintah daerah.

     c. Petugas Lapangan
     Dana yang disediakan diberikan kepada petugas lapangan (PPL/Petugas
Kecamatan) sebagai imbal jasa dalam rangka pembinaan petani sengon di lapangan.

       (2) Perjalanan
       a. Pelatihan Petugas di Pusat/Instruktur (PPL) dalam rangka pelatihan.
       Latihan petugas lapangan yang menangani dan membina petani sengon. Dana
yang disediakan disesuaikan dengan kebutuhan.

     b. Konsultasi Pemandu Lapangan/penyuluh ke sumber teknologi.
     Konsultasi pemandu lapangan/penyuluh ke sumber teknologi digunakan oleh
PPS/PPL atau petugas komoditi unggulan ke sumber teknologi.

        c. Operasional tim teknis
        Biaya yang disediakan dapat dipergunakan dalam rangka bimbingan ke PPPIT,
lokasi Proyek, Petani dan Kelompok Petani .

         d. Bimbingan dari Propinsi.
         Bimbingan propinsi yang dimaksud adalah bimbingan dari Dinas Perkebunan
Dati I, dan Kanwil Deptan ke Kabupaten, lokasi Proyek, Petani dan Kelompok Petani .

       e. Bimbingan/monitoring petugas Kabupaten/ Bimbingan Petugas Daerah.
       Bimbingan Kabupaten/ Petugas Daerah dilakukan oleh Dinas Perkebunan Dati II,
Bagian proyek ke lokasi Proyek, Petani dan Kelompok Petani. Dana ini digunakan
dalam rangka pembinaan petani dan kelompok tani yang menyangkut tehnis maupun
administratif. Pembinaan dimaksud dalam hal pemeliharaan tanaman , pemupukan
tanaman , pengetahuan penyakit, pemanfaatan hasil produksi dan lain-lain.

       f. Operasional/ Bimbingan Tim Pembina Profesional
       Dana ini dipergunakan untuk Tim pembina profesional dalam rangka bimbingan
ke lokasi PPPIT maupun ke petani penggaduh sengon.

        g. Bimbingan (Monitoring) Pusat/ Narasumber Pusat
        Biaya yang disediakan dapat dipergunakan untuk bimbingan maupun pembinaan
dari Pusat dalam rangka kelancaran pelaksanaan kegiatan sentra pengembangan
agribisnis komoditi unggulan sengon.

      h. Konsultasi ke Pusat

                                             20
       Kegiatan konsultasi ini dimaksud untuk membahas permasalahan-permasalahan
tehnis serta perencanaan selanjutnya di pusat, untuk kegiatan ini dilaksanakan apabila
ada surat pemanggulan dari pusat.

        i. Bimbingan, Monitoring dan Evaluasi
        Bimbingan, Monitoring dan Evaluasi yang dimaksud adalah bimbingan dari Dinas
Perkebunan Dati I, Kanwil Deptan, Bagian Proyek dan Dinas Perkebunan Dati II, ke
lokasi Proyek, Petani dan Kelompok Petani .

       (3) Lain-lain

a. Diklat / Pelatihan Manajemen Agribisnis
   Diklat pelatihan agribisnis yang dimaksud adalah pendidikan pelatihan petani nelayan
    untuk melatih petani sengon. Materi pelatihan petani terdiri dari : (a) Pengetahuan
    tentang budidaya pemeliharaan tanaman; (b) Pengetahuan tentang pascapanen dan
    pemasaran; (c) Pengetahuan tentang penanganan penyakit/hama tanaman; (d)
    Pengetahuan pemanfaatan hasil produksi tanaman :Agroindustri; (e) Analisa
    kelayakan usaha agribisnis komoditas Sengon; dan (f) Dan lain-lain yang masih
    diperlukan.
    Instruktur pelatihan petani berasal dari Dinas Propinsi Dati I, Dinas Dati II dan
    instansi terkait yang berada di daerah. Silabus pelatihan petani dirancang sesuai
    kebutuhan.
b. Pertemuan, supervisi, penyusunan rencana FORKA
    Biaya yang disediakan dapat dipergunakan untuk supervisi dan penyusunan rencana
    kegiatan FORKA untuk mengetahui kegiatan yang sedang berjalan dan menyusun
    rencana tahun anggaran berikutnya.
c. Seleksi petani anggota KUBA
    Calon anggota KUBA yang ingin mendapatkan tanaman diwajibkan mengajukan
    surat permohonan ke Kepala Dinas Perkebunan Dati II. Dinas membentuk tim
    seleksi petani, yang bertugas melakukan seleksi petani calon anggota KUBA
    Sengon.
    Berdasarkan laporan dari tim seleksi petani, Kepala Dinas Perkebunan Dati II,
    menetapkan calon anggota KUBA Sengon.
d. Seleksi lokasi
    Lokasi penyebaran sengon ditentukan lebih dahulu dan lokasi ditetapkan oleh
    Kepala Dinas Perkebunan Dati I atas usul Kepala Dinas Perkebunan Dati II.
e. Ops. Pembantu Petugas/ Pembinaan Petugas
    Biaya operasional pebantu petugas diberikan kepada pembantu petugas yakni
    (Ketua Kelompok/PPL/Petugas Kecamatan/ Tenaga Lepas) di PPPIT sebagai
    imbalan jasa.
    Tenaga pembantu petugas adalah tenaga yang ditunjuk oleh Dinas Perkebunan Dati
    II, untuk membantu petugas.
f. Eksploitasi kendaraan roda dua
    Dana yang disediakan dapat digunakan untuk perbaikan atau service, penggantian
    onderdil, pembelian bahan bakar dan lain-lain untuk kendaraan roda 2 sentra
    pengembangan agribisnis komoditas unggulan sengon.
g. Rekening listrik
    Biaya ini digunakan untuk pembayaran rekening listrik di lokasi PPPIT.

                                                21
h. Eksploitasi Hand Tractor
   Biaya eksploitasi ini digunakan untuk perbaikan atau service, penggantian onderdil,
   dan lain-lain.
i. Eksploitasi Sprayer/Pompa air
   Biaya eksploitasi digunakan untuk perbaikan atau service, penggantian onderdil, dan
   lain-lain.
j. Eksplotasi genset
   Eksploitasi genset digunakan untuk perbaikan atau service, penggantian onderdil,
   pembelian bahan bakar, dan lain-lain.
k. Operasional Perlindungan Tanaman dan penyebaran.
   Biaya pada operasional perlindungan tanaman dan penyebaran bibit dapat
   digunakan dalam rangka operasional perlindungan tanaman sengon di PPPIT,
   petani dan biaya operasional penyebaran tanaman ke petani.
   Penyebaran tanaman dilaksanakan secara bertahap disesuaikan dengan bibit
   sengon yang dibesarkan di PPPIT.
l. Bantuan peralatan kebun
   Dana yang disediakan untuk bantuan perlengkapan kebun sengon untuk 200 RTP
   yang diberikan kepada petani, dalam bentuk bibit sengon sebagai tanaman pokok,
   cangkul dan alat olah tanah lainnya dan perlengkapan lainnya sesuai dengan
   kebutuhan di daerah.
m. Kartu rekording
   Biaya yang disediakan dapat dipergunakan untuk pencetakan/perbanyakan kartu
   petani, Berita Acara Penerimaan Paket Agribisnis, Surat Perjanjian Kredit dan lain-
   lain.
n. Perawatan Kebun koleksi/bibit/rumahkaca
   Biaya operasional ini digunakan untuk perawatan fasilitas yang ada di PPPIT.
o. Pelatihan Petugas
   Biaya pelatihan petugas dapat dipergunakan untuk pelatihan petugas apabila
   diperlukan.




       V. PENGORGANISASIAN

        Kegiatan Sentra Pengembangan Agribisnis Komoditi Unggulan Sengon
merupakan salah satu upaya terobosan baru dari Pemerintah, sehingga penanganannya
diperlukan secara terpadu dari berbagai instansi terkait. Agar program tersebut dapat
terlaksana sesuai dengan target dan sasaran yang diinginkan, maka dipandang perlu
untuk dibentuk suatu Tim Pelaksanaan Koordinasi Tingkat Daerah, yaitu FORKA
Sengon.



                                               22
       Dalam pelaksanaan kegiatan ini terlibat berbagai unsur baik di tingkat pusat
maupun tingkat daerah sesuai dengan fungsinya masing-masing. Untuk itu perlu
dilakukan koordinasi sejak perencanaan/persiapan, pelaksanaan dan pengawasan.




                                             23
      VI. PENGAWASAN DAN PELAPORAN

      Pengawasan dan Pengendalian Sentra Pengembangan Agribisnis Komoditas
Unggulan (SPAKU) Sengon ini dilaksanakan dengan 2 cara, yaitu :

       6.1. Pengawasan
       Pengawasan dan pengendalian yang insidentil, yang dilaksanakan dengan
supervisi/kunjungan ke lapangan. Hal ini dapat dilakukan oleh :
(1) Direktorat Jenderal Perkebunan
(2) Kantor Wilayah Departemen Pertanian propinsi.
(3) Dinas Perkebunan Propinsi Dati I.
(4) Dinas Peerkebunan Dati II.
(5) Tim Pembina Profesional dan Tim Teknis Komoditi Unggulan.
(6). FORKA Sengon.

       6.2. Pelaporan
       Pengawasan dan pengendalian berkala yang dilaksanakan dengan penyampaian
laporan. Seperti disebutkan dalam Petunjuk Pelaksanaan/Juklak, maka bentuk sistem
pelaporan untuk memonitor keberhasilan proyek ditetapkan oleh Dinas/Instansi Tingkat
I. Sedangkan arus penyampaian pelaporan dilaksanakan sebagai berikut :
(1) Petugas Pertanian Kecamatan menyampaikan laporan kepada Kepala Dinas
     Perkebunan Dati II setiap bulan.
(2) Kepala Dinas Perkebunan Dati II menyampaikan laporan kepada Kepala Dinas
     Perkebunan Dati I, Kepala Kantor Wilayah Departemen Pertanian , dan Bupati
     Kepala Daerah setiap bulan.
(3) Kepala Dinas Perkebunan Dati I menyampaikan laporan kepada Gubernur.




                                              24
       Lampiran 1. Agroteknologi tanaman sela sayuran pada perkebunan
                   sengon muda (umur 0-3 tahun)


       1. BAWANG MERAH (Allium sp.)

        1.1. Pendahuluan
        Tanaman bawang merah dapat tumbuh baik pada tanah-tanah yang subur,
banyak mengandung bahan organik, tidak tergenang air, aerasinya cukup baik, dan pH
5.5-6.5. Jika pH tanah kurang dari 5.5 biasanya pertumbuhan tanaman kerdil akibat
gangguan oleh Al-dd. Sedangkan kalau pH tanah lebih dari 6.5, biasanya umbinya kecil-
kecil karena defisien Mn. Saat tanam yang baik adalah akhir musim hujan (Maret/April)
dan musim kemarau (Juni/Mei). Penanaman pada musim penghujan menghendaki
drainase tanah yang bagus dan pengendalian hama dan penyakit yang intensif. Bawang
merah yang dikenal dengan nama "Brambang" adalah Allium ascalonicum L. yang
umumnya ditanam di dataran rendah pada musim kemarau. Sedangkan "bawang
Bombay" adalah Allium cepa L, yang biasanya ditanam di dataran tinggi yang beriklim
sejuk (Doorenbos dan Kassam, 1978; SP2UK, 1992).

       1.2. Budidaya Tanaman

       (1). Perbanyakan tanaman
       Tanaman diperbanyak dengan umbi lapisnya, di Indonesia tidak pernah
diperbanyak dengan biji.

        (2). Bertanam
        Pengolahan tanah dilakukan sedalam 40 cm, diberi pupuk kandang atau kompos
sekitar 10-20 ton/ha. Bedengan dibuat dengan lebar sekitar 60 cm dengan lebar parit
20-40 cm.

         (3). Perlakuan benih/bibit
         Umbi bibit dipilih yang berukuran kecil hingga medium, bulat normal, dan telah
diistirahatkan 1-2 bulan dalam gudang. Umbi basah tidak baik untuk bibit. Umbi bibit ini
dipotong ujungnya sebanyak 1/3 hingga 1/2, bagian bawah atau pangkalnya untuk bibit.
Setelah pemotongan segera bibit ditanam dalam posisi berdiri tegak dengan jarak 20
x20 cm. Setiap bvedengan memuat 3-4 baris tanaman, penanaman tidak terlalu dalam,
permukaan irisan umbi bibit cukup tertutup lapisan tanah gembur yang tipis. Bibit muali
tumbuh seminggu kemudian. Kebutuhan bibit brambang sekitar 200 000 umbi bibit atau
1200 kg setiap hektar.

       (4). Pemupukan
       Setelah tanaman berumur tiga minggu semenjak tanam, mulai diberi pupuk
buatan N, P, dan K dengan kisaran dosis: 75-180 kg N/ha, 0-90 kg P/ha dan 0-100 kg
K/ha. Jenis pupuk yang digunakan biasanya urea, ZA, DS, TSP, KCl atau pupuk
lengkap NPK 15:15:15. Pemberian pupuk dilakukan pada saat mendangir atau
menyiang, ditempatkan di sekitar tiap tanaman sejauh 5-10 cm.

       (5). Pengendalian hama dan penyakit

                                                25
a. Ulat daun yang sering memotong ujung-ujung daun dan hama bodas yang menyeran
   daun hingga kering. Hama ini dapat dikendalikan dengan Bayrusil 0.2% atau jenis
   insektisida lainnya.
b. Cendawan busuk umbi menyerang umbi, baik di lapangan maupun setelah di
   gudang, hingga umbi menjadi busuk. Hal ini sering terjadi kalau kondisi lahan terlalu
   basah dan kudang kurang kering. Gangguan penyakit dikendalikan dengan Bubur
   Bordeaux (BB) atau KOC 1-2% atau Dithane M.45 0.2% yang disiramkan pada setiap
   tanaman atau disemprotkan.
c. Penyakit mati pucuk (Phytophtora porri) yang menyebabkan ujung daun tanaman
   berwarna kuning, kemudian berubah menjadi putih dan kering. Penyakit ini dapat
   dikendalikan dengan BB 2% atau Dithane M.45 0.2%.
d. Penyakit becak daun (Alternaria porri) dikendalikan dengan semprotan Dithae M.45
   atau Antracol 0.2%.

       1.3. Hasil Tanaman
       Tanaman dapat dipanen setelah batangnya lemas dan daun-daunnya kering,
biasanya setelah umur 2.5-3.5 bulan setelah tanam. Panen dila-kukan dengan
mencabut tanaman. Setiap umbi bibit dapat menghasilkan 4-6 umbi anakan. Tanaman
yang baik dapat mencapai hasil 100-120 kuintal umbi basah/ha.


       2. BAWANG PUTIH (Allium cepa)

        2.1. Pendahuluan
        Pada kondisi normal tanaman ini membentuk umbi pada musim pertumbuhan
pertama dan berbunga pada musim ke dua. Hasil umbi dikendalikan oleh panjang hari
dan panjang hari yang kritis berkisar antara 11 - 16 jam tergantung pada varietas
tanaman. Tanaman tumbuh baik pada kondisi iklim yang medium, tanpa kondisi ekstrim
suhu dan tanpa hujan yang berlebihan.         Untuk periode pertumbuhan initialnya
diperlukan cuaca dingin dan cukup air, sedangkan selama fase pemasakan diperlukan
cuara hangat dan kering untuk mendapatkan hasil yang banyak dengan kualitas yang
baik. Rataan suhu harian yang optimum berkisar antara 15 dan 20 oC. Seleksi varietas
tanaman       yang sesuai sangat penting, terutama dalam hubungannya dengan
persyaratan panjang hari. Misalnya varietas dari daerah iklim sedang yang long-day,
kalau ditanam di daerah tropis dengan short day akan menghasilkan pertum buhan
vegetatif saja tanpa menghasilkan umbi. Panjangnya musim pertumbuhan beragam
dengan kondisi iklim, tetapi umumnya antara 130-175 hari mulai dari tabur benih hingga
panen.
        Tanaman ini dapat disemaikan dulu dan dipindahkan setelah umur 30-35 hari,
penanaman benih langsung di lapangan juga dapat dilakukan. Tanaman biasanya
ditanam dalam barisan atau pada bedengan dengan dua baris atau lebih dalam setiap
bedengan dan jarak tanamnya 0.3-0.5 x 0.05-0.1 m. Suhu tanah yang optimum untuk
perkecambahan adalah 15-25oC. Untuk produksi umbi yang bagus, tanaman tidak
boleh berbunga karena hasil umbinya jelek. Umbi dapat dipanen kalau daun-daunnya
telah mengering. Untuk inisiasi pembungaan diperlukan suhu rendah (kurang dari 14oC
- 16oC) dan kelembaban yang rendah. Akan tetapi pembungaan hanya sedikit
terpengaruhi oleh panjang hari.


                                                26
       Tanaman ini dapat ditanam pada banyak tipe tanah tetapi yang terbaik adalah
tekstur tanah medium. pH optimum berkisar antara 6 dan 7. Kebutuhan pupuk
biasanya 60-100 kg N/ha, 25-45 kg P/ha dan 45-80 kg K/ha. Tanaman sangat peka
terhadap salinitas tanah, dan penurunan hasil pada berbagai tingkat salnitas tanah
adalah: 0% pada ECe=1.2 mmhos/cm; 10% pada ECe=1.8; 25% pada ECe=2.8; 50%
pada ECe=4.3 dan 100% pada ECe=7.5 mmhos/cm (Doorenbos dan Pruitt, 1977;
Doorenbos dan Kassam, 1978).

       2.2. Kebutuhan air
       Untuk mencapai hasuil optimum tanaman onion memerlukan 350-550 mm air.
Koefisien tanaman (kc) yang menghubungkan evapotranspirasi referensi dengan
kebutuhan air (ETm) untuk berbagai fase pertumbuhannya adalah:
       Fase initial, 15-20 hari                  0.40-0.6
       Fase perkembangan tanaman, 25-35 hari     0.70-0.8
       Fase pertengahan musim , 25-45 hari       0.95-1.1
       Fase akhir musim tumbuhan, 35-45 hari     0.85-0.9
       Fase panen tanaman,                       0.75-0.85.

        2.3. Suplai air dan hasil tanaman
        Tanaman sangat peka terhadap kondisi defisit air tanah. Untuk mencapai hasil
yang tinggi, penurunan kandungan air tanah tidak boleh melebihi 25% air tanah
tersedia. Kalau tatan tetap relatiuf basah, pertumbuhan akar direduksi dan ini sangat
cocok untuk pembentukan umbi. Irigasi harus diskontinyu kalau tanaman telah
mendekati masak untuk membiarkan tajuknya mengering dan juga untuk mencegah
terjadinya flush ke dua pertumbuhan akar.
        Periode pertumbuhan onion yang total musim tumbuhnya 100-140 hari adalah:
        Periode 0: Periode kecambahan mulai dari tabur hingga transplanting, 30-35 hari
        Periode 1: Pertumbuhan vegetatif, 25-30 hari
        Periode 3: Pembentukan hasil, pembesaran umbi, 50-80 hari
        Periode 4: Pemasakan, 25-30 hari

        Tanaman paling peka terhadap defisit air selama periode pembentukan hasil,
terutama selama periode pertumbuhan umbi yang cepat yang terjadi sekitar 60 hari
setelah transplanting.      Tanaman juga sangat peka kekeringan selama masa
transplantasi. Untuk tanaman penghasil biji, ternyata periode pembungaan juga sangat
peka terhadap defisit air. Selama periode pertumbuhan vegetatif (periode 1) tanaman
agak kurang peka terhadap defisit air tanah. Untuk mendapatkan hasil yang banyak dan
kualitas yang baik, tanaman memerlukan suplai air yang terkendali dan sering selama
musim pertumbuhannya; akan tetapi irigasi yang berlebihan mengakibatkan
pertumbuhan terhambat.
        Untuk mendapatkan ukuran umbi yang besar dan bobot yang tinggi, defisit air
tanah terutama selama periode pembentukan hasil (Periode pembesaran umbi) tidak
boleh terjadi. Kalau supali air terbatas, maka penghematan air dapat dilakukan selama
periode pertumbuhan vegetatif dan periode pemasakan. Akan tetapi pada kondisi
eketerbatasan air seperti ini maka strategi pertanaman harus diarahkan untuk
memaksimumkan produksi per hektar lahan.

       2.4. Penyerapan air

                                                27
       Tanaman mempunyai sistem perakraan yang dangkal dan                   akar-akar
terkonsentrasi pada tanah klapisan atas sedalam 0.3 m. Pada umumnya 100%
penyerapan air terjadi dari lapisan tanah atas sedalam 0.3-0.5 m (D=0.3-0.5 m ). Untuk
memenuhi seluruh kebutuhan air tanaman (ETm) tanah harus dijaga tetap lembab; pada
laju evapotranspirasi 5-6 mm/hari ternyata laju penyerapan air mulai menurun kalau
25% dari air tanah tersedia telah habis (p = 0.25).

        2.5. Jadwal irigasi
        Tanaman ini menghendaki irigasi ringan dan sering yang dimulai kalau sekitar
25% air tanah tersedia dalam lapisan tanah atas 0.3 m telah dihabiskan oleh tanaman.
Irigasi setiap 2-4 hari lazim dipraktekkan. Irigasi yang berlebihan seringkali mengaki-
batkan gangguan penyakit seperti mildew dan busuk putih. Irigasi dapat dihentikan 15-
25 hari sebelum panen. Metode irigasi yang sering dilakukan adalah furrow dan basin.

       2.6. Hasil dan Kualitasnya
       Irigasi yang sering diperlukan untuk mencegah pecahnya umbi dan
pembentukan 'doubles'. Demikian juga suplai air yang cukup sangat diperlukan untuk
mencapai kualitas hasil yang tinggi. Hasil umbi yang baik pada kondisi irigasi adalah
35-45 ton/ha. Efisiensi penggunaan air untuk hasil panen (Ey) umbi dengan kadar air
85-90% adalah sekitar 8-10 kg/m3.

       2.7. Budidaya Tanaman

      (a). Syarat tumbuh tanaman
      Tanaman ini menghendaki tanah-tanah yang gembur, tipe iklim B, C, dan D
(Schmidt & Ferguson)

       (b). Bibit Tanaman
       Perbanyakan tanaman dengan siung, siung ini siap tanam kalau tunas telah
mencapai lebih dari tiga per empat siung yaitu setelah disimpan 6-8 bulan. Lahan satu
hektar memerlukan bibit umbi 600-700 kg.
       Kultivar yang dianjurkan adalah sbb:
Daerah dengan ketinggian hingga 500 m dpl adalah Lumbu Putih
Daerah dengan ketinggian tempat 500-1000 m dpl, adalah Lumbu Putih, Lumbu Kuning,
   Lumbu Hijau, Filipina dan Shantung.
Daerah dengan ketinggian lebih dari 1000 m dpl, adalah Lumbu hijau, Lumbu kayu,
   Shantung dan Tawangmangu.

       (c). Penanaman bibit
       Pengolahan tanah dilakukan dengan mencangkul atau dibajak, dibiarkan 1-2
minggu, kemudian dibuat bedengan dengan lebar 100- 120 cm, lebar parit 30-40 cm.
Umbi bibit dipisahkan menjadi siung, dipisahkan antara siung besar dan kecil, agar
pertanaman seragam masing-masing ukuran dikelom pokkan sendiri-sendiri.
Disarankan hanya digunakan bibit siung yang besar-besar saja.
       Penananam bibit siung dengan jarak tanam 10x10 cm atau 10 x 15 cm. Setelah
siung ditanam ditutup dengan jerami mulsa setebal 5 cm. Waktu penanaman pada
akhir musim hujan pada lahan sawah dan awal musim hujan pada alahan tegalan.


                                                28
       (d). Pemupukan dilakukan sbb:

Umur tanaman        ZA       TSP     KCl       Rabuk kandang     Cara aplikasi
Saat tanam          -        90      90        10-20 ton/ha      Dicampur tanah
15 HST              300      30      -         -                 Disebar merata
30 HST              300      -       -         -                 Disebar merata
45 HST              300      -       -         -                 Disebar merata
Keterangan: Dosis pupuk kg/ha (SP2UK-P2LK Jatim, 1991)

      (e). Pemeliharaan
      Penyiraman dilakukan setiap hari hingga umur dua bulan; penyiangan dilakukan
pada umur 30, 45 dan 60 HST; parit dibersihkan dan diperbaiki dengan cangkul.

        (f). Hama dan penyakit
1. Trips, dapat dikendalikan dengan Azodrin, Lebaycid dengan dosis 2-4 ml per liter
   air.
2. Ulat daun, dapat dikendalikan dengan Azodrin, Tamaron atau Curacron dengan
   dosis 2-4 ml per liter air.
3. Alternaria dan Phytophthora, dapat dikendalikan dengan Dithane M-45 atau
   Anthracol dengan dosis 2-4 g/liter air.

        (g). Panen dan pascapanen
        Panen bawang putih dilakukan setelah daun mulai mengering dan menguning,
pada kultivar Lumbu Hijau berkisar 110-125 hari setelah tanam. Hasil panenan dijemur,
setelah kering tanah yang melekat pada umbi dibersihkan, akar dan beberapa helai
daun dibuang. Pengelompokkan umbi menurut ukuran besar, sedang dan kecil. Masing-
masing kelompok umbi diikat menjadi ikatan seberat 1 kg, selanjutnya setiap ikatan
dijadikan satu untuk mempermudah penyimpanan dalam sigiran. Untuk keperluan bibit,
umbi disimpan di sigiran dan disemprot dengan pestisida. Umbi untuk konsumsi dapat
dilakukan pengasapan selama 34 jam hingga kulit berwarna kecoklatan (suhu di bawah
65oC).


       3. KUBIS (Brassica oleracea )

       3.1. Pendahuluan
       Tanaman kubis diperkirakan berasal dari daerah pantai selatan dan barat Eropa.
Untuk produksi yang tinggi tanaman ini mensyaratkan ilkim dingin dan humid. Total
panjangnya musim poertumbuhan beragam antara 90 hingga 200 hari, tergantung pada
kondisi iklim, varietas dan saat tanam, tetapi utnuk produksi yang baik ternyata periode
pertumbuhannya sekitar 120-140 hari. Kebanyakan varietas kubis tahan terhadap
kondisi dingin selama waktu yang singkat, tetapi kondisi dingin pada waktu yang lama
sangat berbahaya. Tanaman dengan daun-daun yang lebih kecil kurang dari 3 cm
mampu bertahan pada kondisi suhu rendah dalam waktu lama, tetapi kalau daun-
daunnya besar 5-7 cm maka tanaman akan mulai tumbuh generatif dan ini
menghasilkan kualitas yang jelek. Pertum buhan yang optimum dapat terjadi pada
rataan suhu harian sekitar 17oC dengan rataan suhu maksimum harian 24oC dan
rataan suhu minimum 10oC. Rataan lembab relatif udara jharus dalam kisaran 60-

                                                29
90%. Umumnya tanah-tanah lempung atau yang lebih berat sesuai bagi tanaman kubis.
Pada kondisi curah hujan yang tinggi, tanah- tanah lempung berpasir dan tanah-tanah
berpasir lebih sesuai karena drainagenya bagus. Kebutuhan pupuk sangat tinggi: 100-
150 kg/ha N, 50-65 kg/ha P dan 100-130 kg/ha K.
        Kubis agak peka terhadap salinitas tanah. Hasil tanaman menurun pada
berbagai tingkat salinitas tanah: penurunan 0% pada ECe = 1.8; 10% pada ECe=2,8;
25% pada ECe=4.4; 50% pada ECe=7.0 dan 100% pada ECe=12 mmhos/cm.
        Jarak tanam tergantung pada ukuran kole yang diperlukan untuk pasar, biasanya
antara 0.3-0.5 m untuk ukuran kole 1-1.5 kg dan 0.5-0.9 m untuk ukuran kole 3 kg.
Produksi optimum dapat dicapai dengan kepadatan tanaman 30 000 hingga 40 000
tanaman/ha. Penanaman dapat dilakukan dengan penaburan benih secraa langsung
dengan populasi 3 kg/ha, atau dengan transplanting bibit dari pesemaian.
        Kubis dicirikan oleh pertumbuhan yang lambat selama separuh pertama periode
pertumbuhannya, yang bisanya memerlukan waktu 50 hari untuk jenis genjah dan 100
hariuntuk varietas yang umurnya panjang. Selama periode pertumbuhan selanjutnya
(pembentukan hasil dan pemasakan) tanaman melipat-duakan bobotnya selama periode
50 hari. Pada awal eperiode pembentukan hasil( periode 3), pembentukan kole mulai
terjadi yang diikuti oleh penurunan peranan daun-daun. Kole yang masak penuh
dihasilkan selama periode pemasakan 10-20 hari (periode 4). Tergantung pada
varietasnya, kole dapat berbentuk bundar atau meruncing, hijau atau kemerahan, halus
atau bergelombang. Rotasi tanaman disarankan tiga tahunan untuk mengendalikan
gangguan penyakit dari tanah.

       3.2. Kebutuhan air
       Kebutuhan air beragam antara 380 - 500 mm tergantung pada kondisi iklim dan
lamanya musi pertumbuhan tanaman. Transpirasi tanaman meningkat selama musim
perutmbuhan tanaman dengan puncaknya          terjadi pada akhir musim.      Dalam
hubungannya dengan evapotranspirasi referensi (ETo), koefisien tanaman (kc) untuk
kubis adalah sbb:
Fase initial, selama 20-30 hari                   0.40-0.5
Fase perkembangan tanaman, 30-35 hari             0.70-0.8
Fase pertengahan musim , 20-30 hari       0.95-1.1
Fase akhir musim tanaman, 10-20 hari      0.90-1.0
Fase panen tanaman ,                      0.80-0.95.

        3.3. Suplai air dan Hasil Tanaman
        Respon terhadap suplai air meningkat dengan musim perkembangan tanaman.
Selama perkembangan tanaman lambat pada periode vegetatif (1), hasil tanaman
hanya sedikit terpengaruhi oleh defisit air. Kalau pertumbuhan yang cepat terjadi
selama periode pembentukan (periode 3) maka pengaruh ekekurangan air sangat besar
hingga mendekati akhir musim pertumbuhan. Pada kondisi suplai air yang terbatas,
total produksi yang tinggi dapat dicapai dengan jalan memperluas areal dan memenuhi
kebutuhan air tanaman sebagian saja.

       3.4. Penyerapan air
       Tanaman kubis mempunyai sistem perakaran yang sangat ekstensif. Sebagian
besar akar ditemukan pada lapisan tanah atas sedalam 0.4-0.5 m dan kepadatan akar
menurun dengan cepat semakin ke arah dalam. Biasanya 100% air diekstraks dari

                                              30
lapisan tanah permukaan ini (D=0.4-0.5 m) . Pada kondisi ETm=5-6 mm/hari, laju
penyerapan air oleh tanaman mulai menurun kalau air tanah tersedia telah berkurang
sekitar 35% (p= 0.35).

        3.5. Jadwal irigasi
        Frekuensi irigasi beragam antara 3 dan 12 hari tergantung pada kondisi iklim,
perkembangan tanaman, dan tipe tanah. Kalau suplai air terbatas, irigasi awal tidak
perlu dilakukan kecuali jika hal ini dapat diteruskan hingga akhir periode pertumbuhan
tanaman. Penghematan air sebaiknya dilakukan pada awal musim pertum-buhan
tanaman.

       3.6. Metode Irigasi
       Metode irigasi yang dapat digunakan adalah furrow, sprinkler, dan trickle.
Tampaknya di negara-negara maju se-makin banyak dilakukan "subsoil irrigation".
Dengan cara ini, kedalaman water table dipertahankan pada 0.3 - 0.7 m pada tanah-
tanah lempung berpasir halus, dan kedalaman 0.7 - 1,1 m pada tanah- tanah lempung.

       3.7. Hasil dan Kualitas Hasil
       Pada kondisi tadah hujan, hasil tanaman yang normal sekitar 25- 35 ton/ha kole
segar, dan maksimumnya sekitar 50 ton/ha kalau dipupuk dan disemprot pestisida
dengan baik. Pada kondisi iklim yang ideal dan irigasi yang bagus, serta perawatan
tanaman yang memadai, hasil dapat mencapai 85 ton/ha. Efisiensi penaggunaan air
untuk produksi kole (Ey) sekitar 12-20 kg/m3.
       Rataan kandungan air pada kole kubis adalah 90%, dengan vitamin B, C dan Ca
dan P cukup banyak. Kalau tanaman meng-alami kekurangan air terutama selama akhir
musim tumbuhnya, akan dihasilkan kole yang kecil-kecil dan kualitasnya jelek.


       4. KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris)

        4.1. Persyaratan Umum
        Hasil tanaman ini dapat dikonsumsi sebagai buah polong segar sebagai sayuran
atau biji keringnya. Tanaman dapat tumbuh tumbuh dengan baik pada daerah-daerah
dengan curah hujan medium, tetapi kurang cocok di daerah yang beriklim basah (humid
dan wet tropics). Hujan yang berlebihan dan cuaca panas menyebabkan bunga dan
polong rontok dan merangsang /meningkatkan gangguan penyakit. Rataan suhu harian
optimum adalah 15-20oC, rataan suhu harian tidak boleh kurang dari 10oC dan tidak
lebih dari 27oC. Suhu yang tinggi meningkatkan kandungan serat pada polong.
Perkecambahan benih memerluikan suhu tanah 15oC atau lebih, dan pada suhu tanah
18oC perkecambahan benih berlangsung sekitar 12 hari, dan pada 25oC sekitar 7 hari.
Kebanyakan varietas kacang ini tidak terpengaruh oleh panjang hari. Total panjang
periode pertumbuhan beragam dengan penggunaan hasil panen, untuk sayuran hijau
dapat dipanen pada 60-90 hari dan untuk biji kering sekitar 90-120 hari.
        Tanaman ini tidak menghendaki persyaratan tanah yang spesifik, tetapi tanah
yang gembur, solum dalam, pH 5.5 - 6.0 sangat sesuai. Kebutuhan pupuk untuk
produksi buah yang baik adalah 20-40 kg N/ha, 40-60 kg P/ha, dan 50-120 kg K/ha.
Tanaman ini mampu memfiksasi nitrogen dari udara guna memenuhi kebutuhannya,
namun demikian pupuk starter nitrogen sangat diperlukan untuk pertumbuhan awalnya.

                                               31
Tanaman sangat peka terhadap gangguan penyakit dari tanah dan harus ditanam
dalam sistem pergiliran (rotasi).
        Penugalan benih dapat dilakukan 5-7 cm, jarak tanamnya tergantung varietas.
Tipe varietas yang tegak biasanya jarak tanamnya 5-10 x 50-75 cm, sedangkan tipe
merambat 10-15 x 90-150 cm.
        Tanaman ini sangat peka terhadap kondisi salinitas tanah. Penurunan hasil
akibat salinitas adalah: 0% pada ECe 1.0; 10% pada ECe 1.5; 25% pada ECe 2.3; 50%
pada ECe 3.6 dan 100% pada ECe 6.5 mmhos/cm.

       4.2. Kebutuhan Air
       Kebutuhan air bagi tanaman dengan periode tumbuh 60-120 hari berkisar antara
300 dan 500 mm tergantung pada kondisi iklim dan cuaca. Kebutuhan air selama
periode pemasakan ditentukan oleh tujuan panen, yaitu polong hijau segar atau biji
keringnya.    Kalau ditanam untuk konsumsi sayuiran hijau segar, total periode
pertumbuhan tanaman relatif pendek dan selama periode pemasakan, yang
berlangsung sekitar 10 hari, evapotranspirasinya relatif kecil karena daun-daun sudah
mulai mengering. Kalau tanaman ditanam untuk dipanen biji keringnya, maka periode
pemasakannya lebih lama dan penurunan evapotranspirasi tanaman relatif lebih besar.
Periode pertumbuhan juga tergantung pada jumlah petik, kalau dilakukan 3 atau 4 kali
petik maka periode panen sekitar 20-30 hari.
       Koefisien tanaman (kc) yang menghubungkan evapo-transpirasi referensi (ETo)
dengan kebutuhan air (ETm) untuk berbagai fase pertum buhan tanaman (untuk panen
sayuran hijau) adalah:

a. Selama fase initial selama 15-20 hari:         0.30-0.40
b. Fase perkembangan selama 15-20 hari:           0.65-0.75
c. Fase pertengahan musim tumbuh selama 20-30 hari: 0.95-1.05
d. Fase akhir musim tumbuh selama 5-20 hari:              0.90-0.95
e. Fase panen:                                            0.85-0.90.
       Untuk tanaman yang dipanen biji keringnya adalah:
a. Selama fase initial selama 15-20 hari:        0.30-0.40
b. Fase perkembangan selama 15-20 hari:          0.70-0.80
c. Fase pertengahan musim tumbuh selama 35-45 hari: 1.05-1.20
d. Fase akhir musim tumbuh selama 20-25 hari:    0.65-0.75
e. Fase panen:                                           0.25-0.30

         4.3. Suplai air dan hasil tanaman
         Suplai air yang diperlukan untuk mencapai hasil maksimum (polong segar dan
biji kering) adalah serupa selama periode pertumbuhan tetapi beragam selama periode
pemasakan. Untuk hasil polong hijau, suplai air diteruskan hingga menjelang panen
akhir, tetapi untuk hasil biji kering suplai air harus dihentikann sekitar 20-25 hari
sebelum panen hasil. Kalau ingin dipanen sekaligus satu kali maka pemberian air
dikonsentrasikan pada periode panen, ini dapat dicapai dengan jalan pengaturan waktu
pemberian air sedemikian rupa sehingga terjadi defisit air ringan selama periode
pemasakan dan air tanah dibiarkan menurun hingga 50% dari total air tersedia,
perlakuan ini dapat mempercepat pemasakan.
         Periode pertumbuhan untuk tanaman kacang ini adalah:
                                            Polong hijau Biji kering

                                               32
0 Perkecambahan                           10-15 hari      10-15 hari
1 Vegetatif hingga bunga pertama          20-25            20-25
2 Pembungaan, termasuk pembentukan
  polong                                  15-25            15-25
3 Pembentukan hasil (Perkembangan
  polong dan pengisian biji)              15-20            25-30
4 Pemasakan                                  0-5           20-25
                                 --------------   -------------
                                            60-90          90-120 hari

        Defisit air yang parah selama periode vegetatif (1) umumnya akan menghambat
pertumbuhan tanaman dan menyebabkan pertumbuhan tidak seragam. Selama
periode pembungaan (2) dan pembentukan hasil (3) irigasi yang sering dapat
megakibatkan respon tertinggi terhadap produksi, walaupun kelebihan air akan
meningkatkan gangguan penyakit dan terutama busuk akar. Kalau pupuk nitrogen
diberikan dalam bentuk pupuk mineral, maka irigasi harus diikuti dengan dosis pupuk
yang cukup untuk memaksimumkan hasil.
        Kalau suplai air terbatas, penghematan air dapat dilakukan selama periode
vegetatif (1) dan untuk produksi biji kering penghematan air juga dapat dilakukan
selama periode pemasakan tanpa mempengaruhi hasiln asalkan defisit air masih pada
tingkat moderat.

        4.4. Penyerapan air
        Akar tunggang tanaman kacang ini dapat mencapai kedalaman 1-1.5 m. Sistem
perakaran lateral sangat ekstensif dan terutama terkonsentrasi pada lapisan tanah
permukaan 0.3 m. Pada fase perkecambahan perakarannya mencapai kedalaman
sekitar 0.07 m, pada awal pembungaan sekitar 0.3 - 0.4 m, dan pada saat pemasakan
1 - 1,5 m. Penyerapan air terjadi terutama pada kedalaman lapisan tanah atas 0.5-0.7
m (D=0.5-0.7 m). Pada kondisi dimana ETm sebesar 5 - 6 mm/hari, 40-50% dari total air
tanah tersedia dapat lenyap sebelum penyerapan air terpengaruh (p = 0.4-0.5).


       4.5. Jadwal irigasi
       Kalau tanaman kacang ditanam dengan tambahan air irigasi, maka suplai air
harus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan air selama periode perkecambahan (0)
dan awal fase periode pembungaan (2). Kalau tanaman ditanam dengan sistem irigasi
penuh, penurunan kandungan air tanah selama periode pembungaan (2) dan periode
pembentukan hasil (3) tidak boleh melebihi 40-50% dari total air tanah tersedia (p = 0.4-
0.5). Kalau tanaman untuk produksi biji kering maka penurunan kandungan air tanah
selama periode pemasakan (4) tidak boleh melebihi 60-70%. Stress air dalam
tanaman dapat terdeteksi dengan mata karena daun menjadi hijau tua kebiruan.

         4.6. Hasil dan Kualitas
         Defisit air selama periode pembentukan hasil (3) mengakibatkan polong kecil,
pendek, tidak berwarna dengan bentuk biji yang tidak teratur. Juga kandungan serat
pada polong lebih tinggi dan biji kehilangan ketegarannya. Hasil komersial yang baik
dalam lingkungan irigasi yang baik adalah 6 - 8 ton/ha polong segar dan 1.5 - 2 ton/ha
biji kering. Efisiensi penggunaan air untuk hasil panen (Ey) biji segar yang mengandung

                                                 33
80-90% air adalah 1.5 - 2.0 kg/m3 dan untuk biji kering yang mengandung sekitar 10%
air adalah 0.3-0.6 kg/m3.


       5. KACANG HIJAU (Phaseolus radiatus L. )

         5.1. Pendahuluan
         Tanaman ini menghendaki iklim panas selama musim pertumbuhannya, namun
masih dapat tumbuh di berbagai daerah di Indonesia. Di daerah yang curah hujannya
tinggi, problem seriusnya adalah gangguan hama dan penyakit. Biasanya ditanam pada
musim kemarau. Tanaman dapat tumbuh pada berbagai tipe tanha, namun tanah yang
idela adalah tanah lempung yang kaya bahan organik dan drainasenya bagus, pH tanah
5.8-6.5 (SP2UK, 1992).

        5.2. Budidaya Tanaman
(a). Varietas: No. 129, Betet, Merak, Walet, Gelatik, Parkit, dan Merpati.
(b). Penyiapan lahan: Tanah berat harus diolah hingga gembur; tanah tegalan bekas
     tanaman jagung, kedelai atau gogo perlu pengolahan minimal.
(c). Penanaman benih: Ditugal dengan jarak tanam 40 x 15 cm dan diisi dua benih
     setiap lubang tanam
(d). Pemupukan:
     Pada tanah yang kurus diberi pupuk 45 kg Urea, 45-90 kg TSP, 50 kg KCl/ha.
     pupuk diberikan pada saat tanam, disebar merata atau larikan di samping lubang
     tanam.
(e). Penyiangan: dilakukan dua kali yaitu pada umur 2 dan empat minggu setelah tanam
     dengan tangan atau cangkul. Herbisida pratumbuh yang dapat digunakan adalah
     Lasso, Roundup, dan Goal pada daerah yang mahal tenagakerja.
(f). Pengendalian hama dan penyakit:
     Lalat bibit dapat dikendalikan dengan Azodrin pada umur tujuh hari setelah tanam.
     Ulat daun dan penggerek polong, dapat dikendalikan dengan menyemprot Thiodan,
     Dursban, Decis, dan Basudin.
     Penyakit busuk batang, puru dan embun tepung dapat disemprot dengan Benlate,
     Dithane M.45, Baycor, Belsene MX 200.

        5.3. Produksi
        Tanda-tanda kacang hijau siap dipanen adalah kalau polongnya telah berwarna
coklat hingga hitam. Panen polong kemudian dikeringkan dan bijinya dirontokkan,
kemudian dijemur 2-3 hari. Biji kering matahatri yang mengandung air 12-14% dapat
disimpan.
        Beberapa varitas unggul adalah Arta Ijo, Siwalik, Bhakti, dan No. 129. Rataan
varitas unggul dapat menbghasilkanbiji 10 kw/ha, sedangkan varitas lokal sekitar 5
kw/ha.


       6. LOMBOK
          (Capsicum annum dan Capsicum frutescens)

       6.1. Pendahuluan

                                               34
        Tanaman cabai (lombok) diperkirakan berasal dari daerah tropika Amerika.
Tanaman ini tumbuh baik pada kondisi iklim dengan musim tumbuhnya mempunyai
suhu 18-27oC selama siang hari dan 15- 18oC selama malam hari. Suhu malam yang
rendah mengakibatkan lebih banyaknya percabangan dan lebih banyak bunga; suhu
malam yang hangat mempercepat pembungaan dan efek ini lebih jelas kalau intensitas
cahaya meningkat.
        Lombok banyak ditanam pada kondisi lahan tadah hujan dan hasil yang tinggi
diperoleh dengan curah hujan 600-1250 mm, tersebar merata sepanjang musim
pertumbuhannya. Curah hujan yang tinggi selama periode pembungaan menyebabkan
kerontokam bunga dan fruit-set yang buruk, dan selama periode pemasakan terjadi
pembusukan buah.
        Tanah-tanah yang teksturnya ringan dengan kapasitas penahanan air yang
mencukupi dan drainage yang baik sangat disenangi lombok. pH optimum adalah 5.5 -
7.0 dan tanah masam memerlukan pengapuran. Penggenangan, meskipun hanya
sebentar, dapat menyebabkan kerontokan daun. Kebutuhan pupuk adalah 100-170 kg
N/ha, 25-50 kg P/ha dan 50-100 kg K/ha.
        Tanaman agak peka terhadap slainitas tanah,             kecuali pada fase
perkecambahan sangat peka. Penurunan hasil pada berbagai kondisi salinitas tanah
adalah: 0% pada ECe=1.5 mmhos/cm; 10% pada ECe=2.2; 25% pada ECe = 3.3; 50%
pada ECe = 5.1 dan 100% pada ECe = 8.5 mmhos/cm. Biji yang ditabur di bedengan
pesemaian menghendaki suhu tanah optimum 20-24oC. Kecambah bibit yang tingginya
10-20 cm dipindahkan ke lapangan setelah umur 25-35 hari. Panjangnya total musim
pertumbuhan beragam dengan kondisi iklim dan varietas, tetapi pada umumnya
berlangsung 120-150 hari dari saat tabuh benih hingga panen. Bibit kadangkala
dipangkas 10 hari sebelum transplanting untuk merangsang percabangan. Jarak
tanam 0.4- 0.6 x 0.6-0.9 m. Untuk produksi buah lombok konsumsi kalengan seringkali
digunakan jarak tanam yang lebih rapat. Pembungaan mulai terjadi pada umur 1-2 bulan
setelah transplanting dengan petik buah hijau pertama satu bulan kemudian. Setelah
itu buah lombok merah yang masak dipanen dengan interval 1-2 minggu hingga umur
tiga bulan.

       6.2. Kebutuhan air
       Total kebutuhan air (ETm) adalah 600-900 mm, bahkan hingga 1250 mm untuk
musim pertumbuhan yang panjang dan beberapa kali petik. Koefieisn tanaman (kc)
adalah 0.4 setelah transplanting, 0.95- 1.1 selama pertumbuhan penuh, dan untuk
produksi lombok segar 0.8-0.9 saat panen.

         6.3. Suplai air dan Hasil Tanaman
         Untuk mendapatkan hasil yang banyak, suplai air yang cukup dan tanah yang
relatif lembab diupersyaratkan selama total periode pertum buhan tanaman. Reduksi
suplai air selama periode pertumbuhan pada umumnya mempunyai efek buruk
terhadap hasil dan reduksi terbesar terjadi kalau ada kekurangan air secara kontinyu
hingga saat petik buah pertama,. Masa awal periode pembungaan sangat peka
terhadap keku rangan air dan penurunan kadar air tanah dalam zone perakaran selama
periode ini tidak boleh melebihi 25%. Kekurangan air sebelum dan selama awal
pembungaan mereduksi jumlah buah. Efek defisit air terhadap hasil selama periode ini
lebih besar pada kondisi suhu tinggi dan kelembaban rendah. Irigasi yang terkendali


                                              35
sangat penting untuk mencapai produksi yang tinggi karena tanaman peka terhadap
kelebihan dan kekurangan irigasi
       Kalau kualitas air irigasinya buruk (saline) maka hsil petik buah pertama
berkurang tetapi efek ini kurang tampak jelas pada hasil petik selanjutnya. Sprinkling
dengan air irigasi saline mengakibatkan daun terbakar dan busuk buah. Defisit air
selama periode pembentukan hasil mengakibatkan hasil buah yang keriput dan
bentuknya jelek. Kualitas kepedasan buah hingga batas-batas tertentu dipengaruhi oleh
suplai air. Pada kondisi suplai air yang terbatas, total produksi ditingkatkan oleh
pemenuhan kebutuhan air tanaman secara penuh pada areal lahan yang terbatas.

        6.4. Penyerapan air
        Tanaman lombok mempunyai akar utama yang patah pada saat transplanting
dan kemudian menumbuhkan banyak akar-akar lateral. Kedalaman akar dapat meluas
hingga 1m tetapi pada kondisi irigasi ternyata akar terkonsentrasi pada lapisan tanah
atas sedalam 0.3 m. Biasanya 100% penyerapan air terjadi dalam keda;laman lapisan
tanah 0.5 - 1.0 m (D = 0.5-1.0 m). Pada kondisi evapoytranspirasi maksimum 5-6
mm/hari, 25-30% total air tersedia dapat dihabiskan sebelum terjadi reduksi penyerapan
air (p=0.25-0.30).

        6.5. Jadwal Irigasi
        Untuk mendapatkan hasil yang optimum penurunan air tanah tidak boleh
melebihi 30-40% total air tersedia. Frekuensi irigasi 4- 7 hari lazim dilakukan. Kalau
suplai air terbatas, irigasi harus mencukupi hingga panen buah pertama dan setelah itu
air dapat dihemat.

         6.6. Metode Irigasi
         Metode irigasi pada pertanaman lombok adalah irigasi permukaan, sprinkler dan
drip. Pada sistem irigasi sprinkler ternyata hasil buah cenderung lebih banyak pada
aplikasi ringan dibandingkan dengan aplikasi berat. Akan tetapi, kalau kualitas air irigasi
jelek, intensitas berat dan jumlah yang banyak umumnya lebih disenangi dengan irigasi
sprinkler karena dapat mereduksi kebakaran daun. Untuk mendapatkan hasil yang
banyak biasanya lebih sesuai dengan drip irrigation.

        6.7. Hasil dan kualitas hasil
        Hasil buah sangat beragam dengan kondisi iklim dan panjangnya musim
pertumbuhan, yaitu jumlah petik buah. Pada kondisi irigasi komersial dapat diperoleh
ahsil buah 10-15 ton/ha buah segar dan 20-25 ton/ha dapat diperoleh pada kondisi iklim
yang sesuai. Akan tetapi persentase hasil buah yang dapat dipasarkan sangat
beragam. Efisiensi penggunaan air (Ey) untuk buah lombok segar yang mengandung
90% air beragam antara 1.5 - 3.0 kg/m3.

       6.8. Budidaya Tanaman
       (a). Syarat tumbuh:
       Tanaman lombok dapat tumbuh di dataran rendah hingga pada ketinggian 1500
m dpl. Tanaman ini menghendaki iklim kering, akan tetapi dapat ditanam pada musim
hujan di lahan tegalan dan tidak becek; membutuhkan cahaya matahari yang cukup,
sehingga sebaiknya ditanam tanpa naungan. Lombok menghendaki tanah yang subur,
gembur dengan drainase yang baik dan pH tanah antara 5-6 (SP2UK, 1992).

                                                  36
       .
       (b). Bibit tanaman:
       Bibit lombok yang dibutuhkan sebanyak 250-500 g benih per hektar. Benih
disemaikan dengan luas 0.5 x 2 meter setiap 3 gram benih (1 sendok teh). Bibit yang
telah berumur 30-35 hari atau tanaman muda telah berduan 3-4 helai siap untuk
dipindah dan ditanam di kebun.

       (c). Penanaman bibit
       Tanah diolah hingga strukturnya gembur dan tidak menahan air, yaitu dengan
cangkul sedalam 30 cm sebanyak dua kali atau lebih. Selang waktu pengolahan tanah
pertama dengan penanaman adalah 7- 14 hari. Kemudian dibuat lubang tanam dengan
cangkul sedalam 15 cm, panjang 20-25 cm, lebar 20-25 cm, jarak antar lubang tanam
60 x 80 cm. Setiap lubang diisi rabuk kandang sebanyak 0.5-1 kg yang dicampur
dengan tanah, kemudian disiram dengan air sekitar satu liter.
       Pada setiap lubang tanam ditanam bibit 2-3 batang, 2-3 minggu setelah tanam
dilakukan penjarangan dan disisakan satu tanaman yang paling sehat/baik, sedangkan
tanaman lainnya dicabut.

       (d). Pemeliharaan tanaman:
       Pupuk yang diberikan adalah rabuk kandang 0.5 kg sebagai pupuk dasar, Urea 4
g, TSP 4 g dan KCl 2 g setiap tanaman yang diberikan pada umur satu bulan.
Pemupukan berikutnya dilakukan dua minggu kemudian dengan jumlah dan cara seperti
pada pemupukan yang pertama.
       Penyiangan dilakukan 2-3 kali tergantung keadaan rumput, dimulai sejak 20 hari
setelah tanam. Kegiatan penyiangan        dapat juga dilakukan sekaligus     dengan
penggemburan tanah lapisan atas dan pembumbunan.

       (e). Pengendalian hama dan penyakit
       Ulat dapat dikendalikan dengan Dursban 20 EC, Bayrusil 25 EC dan Hostation
40 EC dengan dosis 2 ml per liter air. Trips dapat dikendalikan dengan Phosvel 300 EC,
Bayrusil dan Lebaycid dengan dosis 2 ml per liter air. Lalat buah menyerang buah, dapat
dikendalikan dengan pergiliran tanaman atau dikendalikan dengan Diazinon 10 EC,
Decis dengan dosis 0.15 ml per liter air. Busuk daun, dapat dikendalikan dengan
Dithane M-45 2 g/l air. Antraknose yang disebabkan oleh Gloesponia sp. dapat
dikendalikan dengan Dithane M-45 atau Antracol 70 WP dengan dosis 2 g/l air.
Penyakit layu, dapat dikendalikan dengan rotasi tanaman . Penyakit virus dapat
dikendalikan dengan memberantas vektornya.

       (f). Panen dan pascapanen
       Pemungutan hasil pertama dapat dilakukan setelah tanaman berumur 3-4 bulan;
pemetikan dilakukan setelah buah 60% berwarna merah.


       7. BAYAM (Amaranthus sp.)

      7.1. Pendahuluan
      Bayam mengandung vitamin A, C dan sedikit vitamin B, banyak kalsium, P, dan
Fe. Tanaman dapat tumbuh sepanjang tahun mulai dari dataran rendah hingga dataran

                                                37
tinggi. Pada tanah-tanah yang pH nya kurang dari 6.0 biasanya pertumbuhannya kerdil,
sedangkan pada atanah yang pH nya lebih dari 7.0 akan terjadi khlorosis. Saat tanam
yang terbaik adalah awal musim hujan (Oktober/Nopember) atau awal musim kemarau
(Maret/April).
        Dua jenis bayam yang lasim dibudidayakan adalah:
1. Bayam cabutan yang juga disebut bayam sekul (Amaranthus tricolor L.). Jenis ini
   ada yang batangnya berwarna kemerahan (bayam merah) dan ada yang hijau
   keputihan (bayam putih). Bayam putih lebih enak.
2. Bayam tahun atau bayam sekop atau kakap (Amaranthus hybridus L.) daunnya
   lebar-lebar. Dua varietas yang sangat dikenal adalah A. paniculatus dan A.
   caudatus. Varietas caudatus mempunyai daun agak panjang dengan ujungnya
   runcing dan hijau atau merah tua. Bunganya dalam rangkaian panjang dan
   terkumpul pada ujung batang. Varietas paniculatus daunnya lebih lebar, hijau,
   dengan rangkaian bunga panjang dan lebih teratur, bunganya tersebar di setiap
   ketiak daun atau cabang.

       7.2. Budidaya tanaman

      (1). Perbanyakan tanaman
      Bayam diperbanyak dengan biji, disebar di pesemaian atau ditanam langsung di
lapangan.

        (2). Bertanam
        Pengolahan tanah sedalam 20-30 cm, diberi pupuk kandang atau kompos
sebanyak 10 ton/ha atau 1 kg setiap meter persegi. Bedengan dibuat dengan lebar satu
meter. Biji ditaburkan menurut barisan yang membujur dari tumur ke barat dengan jarak
barisan 20 cm. Setiap bedengan memuat lima barisan tanaman dan setelah 3-5 hari biji
bayam mulai tumbuh.
        Setelah berumur dua minggu setiap pagi tanaman digoyang kekiri dan ke kanan
dengan sapu lidi sampai tampak lemas. Dengan cara ini tanaman tumbuh kuat dan
cepat dan hama berlarian. Setelah tanaman setinggi 15 cm (berumur sebulan) dapat
dijarangkan dengan mencabut tanaman yang sudah besar dan terlalu rapat. Setelah
umur 1.5 bulan dan tinggi tanaman 20 cm dapat dicabut seluruhnya.
        Pada lahan pekarangan biasanya ditanam A. hybridus, penanaman dengan
memindahkan tanaman muda yang tingginya 10 cm dari pesemaian ke tempat yang
telah disiapkan dengan jarak tanam 20 x 40 cm. Panen dilakukan dengan memetik daun
atau memotong ujung batang/cabang sebelum berbunga. Dengan cara ini tanaman
dapat bertahan hingga umur setahun.

        (3). Perlakuan benih/bibit
        Pesemaian A. hybridus ditempatkan di lokasi yang teduh, kebutuhan benis
sekitar 5-10 kg/ha.

      (4). Pemeliharaan
      Perawatan yang perlu diperhatikan adalah menggem burkan tanah sekitar
tanaman sambil membuang gulma.         Pestisida tidak harus digunakan untuk
mengendalikan ulat daun.


                                              38
      (5). Produksi
      Rataan tanaman bayam dapat menghasilkan 10-25 ku/ha tergantung tingkat
kesuburan tanah.


       8. KACANG PANJANG (Vigna sinensis)

        8.1. Pendahuluan
        Tanaman ini banyak digemari masyarakat karena rasanya enak, gurih, banyak
mengandung vitamin A, B dan C. Syarat pokok bagi pertumbuhannya ialah tanah
gembur dan porus, cukup mampu menahan air tersedia, pH 5.5-6.5, kaya bahan
organik. Waktu tanam yang sesuai adalah awal dan akhir musim hujan (SP2UK, 1992).
        Ada dua golongan kacang panjang yang dikenal masya-rakat, yaitu:
a. Kacang lanjaran, batangnya membelit lanjaran dari kayu atau bambi.
   a.1. Kacang lanjaran biasa, batangnya membelit dan panjang, buahnya panjang
        hingga 40 cm, hijau ketika masih muda dan menjadi putih kalau tua. Bijinya
        bulat panjang, ada kalanya melengkung agak pipih, warnanya ada yang kuning,
        coklat, hitam, putih dan kemerahan, ukuran bijinya 5-6 mm x 5-9 mm.
   a.2. Kacang usus, batangnya seperti kacang lanjaran, hanya buahnya panjang selaki
        hingga lebih 80 cm. BUah muda keputihan dan buah tua kekuningan. Bijinya
        bulat panjang, ada kalanya melengkung agak pipih, warnanya putih atau blorok
        atau putih bernoda merah, besartnya biji 5-6 mm x 8-9 mm.
b. Kacang panjang yang bukan lanjaran dan tidak membelit
   b.1. Kacang tunggak, kacang tolo (Vigna unguigulata) atau kacang dadap.
        Batangnya pendek dan tidak membelit, hanya ujungnya yang membelit dan tidak
        diberi lanjaran, buahnya pendek (10 cm), hijau dan kaku, bijinya bulat panjang
        agak pipih dengan ujung yang agak lonjong, besarnya antara 4-6 mm x 7-8 mm,
        warna bijinya kuning kecoklatan.
   b.2. Kacang uci atau kacang endel (Gigna umbellata), setengah membelit, bijinya
        kecil berbentuk bulat panjang dengan warna macam-macam merah, hijau, hitam
        dll. Besarnya biji 1.5 - 2mm x 5-6 mm. Daunnya agak kasar dan kaku.
   b.3. Kacang hibrida atau kacang harapan, hasil perkawinan antara kacang lanjaran
        dengan kacang tunggak. Tanaman tidak membelit, buahnya panjang-panjang
        (mencapai 25 cm) dan bentuknya menyerup.

       8.2. Budidaya tanaman

(1). Perbanyakan
     Tanaman diperbanyak dengan biji dan ditanam langsung ke lahan tanpa
     pesemaian.
(2). Bertanam
     Pengolahan tanah dengan cangkul dan kemudian diratakan. Lubang tanam dibuat
     dengan tugal pada jarak 30x 60 cm untuk kacang lanjaran, 20 x 30 cm untuk
     kacang lainnya. Setiap lubang diisi dua butir benih dan ditutup dengan tanah
     gembur . Benih akan tumbuh dalam waktu lima hari. Setelah tinggi tanaman 25 cm
     segera diberi lanjaran bambu setinggi dua meter.
(3). Perlakuan benih


                                               39
     Kebutuhan benih setiap hektar lahan sekitar 15-20 kg untuk kacang lanjaran dan
     20-25 kg untuk kacang tunggak, 12 kg biji untuk kacang uci dan 30 kg biji untuk
     kacang harapan.
(4). Pemupukan
     Dosis pupuk yang dianjurkan urea 1-2 kuintal setiap hektar, 240 kg DS atau TSP,
     dan 160 kg ZK atau KCl. Pupuk ditugalkan disamping tanaman berajark 5 cm dari
     batang.
(5). Pemeliharaan
     Perawatan yang diperlukan adalah membelitkan batang pada lanjaran, Hama
     tungau dan kutu daun bila perlu dikendalikan dengan pestisida.

        8.3. Produksi
Buah muda dapat dipanen setelah tanaman berumur dua bulan, panen selanjutnay
dilakukan setiap minggu berlangsung hingga 3.5 atau 4 bulan. Kacang tunggak dan
kacang uci dipanen setelah buahnya kering. Kacang lanjaran dapat menghasilkan 30
kuintal buah muda setiap hektar, sedangkan kacang tunggak dan kacang uci dapat
menghasilkan 15 kuintal biji kering setiap hektar.




                                              40

								
To top