KONSEP HUTAN PENDIDIKAN KEMSAYARAKATAN by 504KNTQ

VIEWS: 126 PAGES: 18

									                                                                                             1




           MODEL KONSEPTUAL HUTAN PENDIDIKAN
                   KEMASYARAKATAN
                                            Oleh:
                                  Prof Dr Ir Soemarno MS
                                        Agustus 2002


                                    I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
        Berbeda halnya dengan sumberdaya hutan di luar pulau Jawa, di pulau Jawa sangat
terkait dengan kepentingan masyarakat sekitarnya yakni lebih kurang 6.000 desa dengan
penduduk padat terdapat di sekitar wilayah hutan. dimana sebagian besar kehidupan
masyarakatnya sangat tergantung pada lahan pertanian dan kehutanan. Kondisi lahan pertanian
yang marginal, kurangnya lapangan pekerjaan dan terbatasnya keterampilan menyebabkan
rendahnya tingkat sosial ekonomi masyarakat sehingga mendorong terjadinya pencurian kayu;
penggembalaan liar dan bibrikan di lahan hutan.
        Melihat kondisi demikian, maka pemerintah dalam pengelolaan hutan telah mencoba
melibatkan masyarakat di sekitar hutan secara aktif sebagai mitra kerja untuk meningkatkan
kesejahteraan mereka melalui kegiatan : tumpangsari, subsidi temak dan pembinaan industri
rumah tangga. Upaya yang dilakukan ini di kenal dengan istilah Prosperity Approach yang
kemudian dikembangkan menjadi Program Pembangunan Masyarakat Desa Hutan . Program
pembinaan masyarakat pedesaan di sekitar butan yang telah dilaksanakan selama ini meskipun
telah berhasil memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga petani di sekitar masyarakat
pedesaan, akan tetapi masih banyak kekurangan dan masih belum mampu mengangkat
masyarakat miskin,
        Sejalan dengan terjadinya pergeseran paradigma pembangunan ke arah demokratisasi
ekonomi serta adanya krisis ekonomi, dilain pihak banyaknya jumlah penduduk miskin di
kawasan hutan, telah menimbulkan kesan dan pergeseran penilaian masyarakat di sekitar hutan
bahwa pengelolaan hutan bersifat footlose industry (tidak berdampak ekonomi pada wilayah
disekitarnya). Akibatnya apabila tidak ada upaya -upaya mengantisipasinya, maka dalam jangka
panjang menimbulkan permasalahan pokok yakni: kerusakan hutan; tingkat erosi yang cukup
tinggi dan kemiskinan masyarakat di sekitar hutan. Atas dasar permasalahan tersebut, diperlukan
kajian khusus untuk mencari model pembinaan masyarakat di sekitar hutan sehingga dapat
memaksimalkan dalam memberdayakan masyarakat di kawasan hutan agar fungsi hutan akan
lebih mempunyai social benefit bagi masyarakat dan pengembangan wilayah di kawasan hutan.
        Berdasarkan kenyataan tersebut, maka yang menjadi permalahan adalah bagaimana
menyusun model pengelolaan hutan yang mampu menjawab tantangan paradigma baru yakni :
effisiensi pengelolaan dan kelestarian sumberdaya dengan lebih memberdayakan masyarakat
sekitar hutan sekaligus berdampak terhadap pembangunan wilayah di sekitar hutan.        Pada
umumnya pembangunan pertanian dipandang sebagai tujuan utama dari perkembangan
kehidupan pedesaan, setidak-tidaknya dilihat dalam kerangka nasional. Tujuan pembangunan
pertanian pada dasamya bertujuan untuk meningkatkan posisi sosial ekonomi masyarakat
                                                                                               2


pedesaan. Faktor-faktor terpenting yang pengaruhnya menentukan dalam realisasi tujuan di atas
adalah (Schoorl, 1980):(1) perbandingan manusia dan tanah, (2) kepadatan dan pertambahan
penduduk, (3) perkembangan industri dan urbanisasi, (4) sistem kebudayaan, (5) struktur sosial,
(6)     struktur Agraria, (7) penggunaan metode dan teknik baru, (8) adanya fasilitas informasi
dan komunikasi yang baik, (9) faktor infrastruktur pertanian yang baik, Berdasarkan
pendekatan tersebut diatas, maka secara rinci strategi, instrumen dan kelompok sasaran dalam
perumusan model pengelolaan hutan yang memberdayakan rakyat dan wilayah di sekitar hutan
di sajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Strategi, Instrumen dan Kelompok Sasaran Strategi _ Instrumen _Kelompok
Sasaran___

1. Pengelolaan hutan sistem        Agro-forestry dengan     sistem agribisnis_1. Paket teknologi
agro- forestry berdasarkan      intensitas cahaya

2. Manajemen kerjasama antar kelompok tani dan        Pengelolan hutan
3. Penanganan pasar
4. Penanganan kebutuhan sarana produksi
5. Penyediaan fasilitas kredit pertanian
6. Pembinaan & penyuluhan
7. Penangan pasca panen dan pengolahan hasil

_ Petani kecil/buruh tani   Bina Kelompok Agroforestry___

2. Pawijaya menjadi lembaga pendidikan tinggi terkemuka yang mendidik dan mengantarkan
generasi muda terpilih untuk menjadi lulusan yang kompeten dalam bidangnya, memiliki
kemampuan berpikir analitis dan berkompetensi tinggi untuk berkembang menjadi individu yang
matang secara mental, mempunyai adaptabilitas tinggi, mampu berkompetisi, profesional serta
tanggap terhadap kebutuhan dan permasalahan yang ada di masyarakat.

      Dalam segi penelitian serta sekaligus untuk pengabdian masyarakat, hutan pendidikan ini
diharapkan menjadi tempat mengembangkan ilmu dan teknologi yang berguna untuk
mendukung pembangunan berkelanjutan, ramah lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Universitas Brawijaya bukanlah menara gading yang tidak berakar pada kepentingan
dan kebutuhan masyarakat. Pendidikan tinggi seharusnya menjadi pusat pengembangan ide,
konsep, model dan rekayasa sebagai bentuk kepeduliannya untuk memecahkan permasalahan
masyarakat yang semakin kompleks serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitarnya.
Oleh karena itu, sumbangan pemerintah dalam bentuk hutan seluas seratus hektar perlu
disambut baik guna peningkatan sarana pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat
dalam bentuk Hutan Pendidikan.
1.3. Tujuan
       Secara umum tujuan kegiatan ini adalah pengembangan suatu kawasan hutan untuk
ditanami pepohonan dan tanaman lainnya sehingga menjadi suatu sistem yang mempunyai
fungsi menyerupai hutan alami (tertutup dan stabil) dan memungkinkan dilakukan beraneka
kegiatan tanpa mengurangi fungsinya dalam rangka untuk mendukung kegiatan Tri Dharma
                                                                                             3


Perguruan Tinggi pada berbagai bidang keilmuan. Sedangkan tujuan spesifiknya adalah:
1. Mencetak hutan pendidikan yang dapat digunakan untuk menunjang kegiatan pendidikan
   berbagai bidang keilmuan antara lain bidang pertanian, kehutanan, perkebunan, peternakan
   dan perikanan, keteknikan, sosial ekonomi beserta aspek-aspeknya
2. Mengembangkan ilmu pengetahuan dasar dan terapan terutama melalui pemberdayaan
   keaneka ragaman hayati Indonesia dan lingkungannya, dan sekaligus digunakan untuk
   kegiatan eco-tourism.
3. Sebagai laboratorium untuk mengembangkan hutan dengan rekayasa teknologi yang
   produktif, lestari dan efisien serta rekayasa sosial yang mampu memberdayakan masyarakat
   sekitar hutan. Rancangan modelnya secara spesifiknya berupa : (a) model agroforestry
   dalam suatu sistem mixed farming yang layak secara tehnis, sosial, ekonomis dan lestari, (b)
   model aktifitas usaha ekonomi off farm baik pengembangan pertanian arti luas maupun
   non pertanian, dan (c)model sistem pembangunan wilayah pedesaan di sekitar hutan.
4. Membentuk agroforestry dalam suatu sistem mixed farming yang berorentasi komersial
   sekaligus untuk percontohan bagi pengembangan hutan dan masyarakat.
5. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan terutama dari segi terutama ssosial
   ekonomi dan partisipasi.

1..3 . Manfaat
        Manfaat umum dari hutan pendidikan Universitas Brawijaya ini adalah terbentuknya
suatu kawasan stabil yang berfungsi sebagai penyangga lingkungan (iklim, air, biologi), yang
dapat diambil untuk kebutuhan kehidupan manusia. Sedangkan manfaat spesifiknya adalah :
1. Bagi Pemerintah/Perhutani: sebagai acuan model pengelolaan hutan dengan rekayasa
    teknologi dan rekayasa sosial yang terus berkembang sehingga mampu: (1) meningkatkan
    efesiensi pengelolaan hutan, (2) memperbaiki dan mempertahankan kelestarian sumberdaya
    hutan, (3.) memperkecil resiko pencurian hutan.
2. Bagi Masyarakat, manfaat yang diperoleh adalah : (1) sebagai percontahan model
    pengelolaan hutan rakyat, (2) menyediakan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan
    masyarakat sekitar hutan.
3. Bagi Pemerintah Daerah, manfaat yang diperoleh adalah : (1) Sebagai wahana penyuluhan
    yang efektif dan efisien untuk menumbuhkan rasa memiliki hutan dari masyarakat.
    perekonomian wilayah, dan (2) meningkatan Pendapatan Asli Daerah
4. Bagi Universitas Brawijaya, manfaat yang diperoleh: sebagai wahana penerapan Tri Dharma
    Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian untuk menemukan teknologi baru dan
    wahana pengabdian pada masyarakat baik secara institusi maupun individu dari kalangan
    akademisi.

                             II. KERANGKA KONSEPTUAL

        Sampai saat ini dalam pengelolaan hutan dijumpai permasalahan yang berkaitan
dengan masyarakat sekitar hutan. Pada dasarya masalah yang dihadapi di desa-desa dekat hutan
tidak banyak berbeda dengan masalah di desa-desa lainnya di Indonesia, khususnya di Jawa dan
Madura. Perum Perhutani (1995) mengemukakan beberapa permasalahan desa-desa yang berada
di sekitar wilayah hutan adalah : kondisi lahan pertanian yang marginal; kurangnya lapangan
pekerjaan dan terbatasnya keterampilan. Kondisi yang demikian tersebut menyebabkan
                                                                                              4


rendahnya tingkat sosial ekonomi masyarakat dan mendorong masyarakat untuk ekspansi ke
dalam hutan secara tidak bertanggung jawab dalam bentuk pencurian kayu. Sedangkan Hadi
Pumomo (1985) mengemukakan permasalahan di daerah pedesaan yang berbatasan dengan hutan
(dengan mengambil kasus di DAS Konto) sebagal berikut : (1) Tanah subur akan tetapi sangat
peka terhadap erosi ,(2) Topografi berbukit dengan lereng gunung yang curam dan curah hujan
yang cukup tinggi, sehingga faktor penyebab erosi sangat tinggi. (3) Angka pemilikan tanah
sangat kecil. Sekalipun tanah subur tetapi belum mencukupi kebutuhan hidup petani. Kehadiran
hutan yang relatif luas menimbulkan kecenderungan untuk berekspansi ke dalam hutan secara
ilegal dalam bentuk pencurian kayu dan hasil hutan lainnya.

        Masalah yang selalu dihadapi Perum Perhutani dalam mengelola hutan di Pulau Jawa dan
Madura antara lain kerusakan hutan yang disebabkan oleh pencurian kayu. Tingkat kerusakan
hutan akibat pencurian kayu ini, disinyalir oleh Menteri Kehutanan akibat adanya kemiskinan
masyarakat pedesaan di sekitar hutan. Sehingga untuk mengurangi tingkat kerusakan hutan harus
diupayakan pengurangan kemiskinan. Nilai kerugian akibat pencurian kayu cukup besar, sebagai
contoh yang terjadi di Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Bojonegoro menunjukkan tingkat
kerugian pada tahun 1991 sebesar Rp. 101.179.000,- dan pada tahun 1995 meningkat menjadi
Rp. 141.982.790,-
        Untuk mengatasi permasalahan tersebut diatas, Perum Perhutani melibatkan masyarakat
di sekitar hutan secara aktif sebagai mitra kerja untuk meningkatkan kesejahteraan mereka
melaui kegiatan : tumpangsari; subsidi temak dan pembinaan industri rumah tangga. Upaya yang
dilakukan Perum Perhutani tersebut di kenal dengan istilah Prosperity Approach yang kemudian
dikembangkan menjadi program Pembangunan Masyarakat Desa Hutan (PN4DH) pada tahun
1982. PMDH disini adalah semua kegiatan yang ditujukan untuk dan berdampak meningkatkan
kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah hutan dalam rangka keberhasilan pembangunan
perhutanan. Program ini meliputi kegiatan di kawasan hutan dan di luar kawasan hutan berupa
perbaikan biofisik pedesaan, peningkatan pendapatan, keterampilan dan pengetahuan masyarakat
melalul berbagai penyuluhan dan pelatihan (Bratamihada, 1990). Komponen PMDH terdiri dari
program perhutanan sosial dan program bantuan teknis, ekonomi. Program perhutanan sosial
meliputi program agroforestry
        Hasil penelitian Universitas Brawijaya (1996) ditemukan beberapa kelemahan program
Pembangunan Masyarakat Desa Hutan (PMDH) yang dilaksanakan Perum Perhutani sebagai
berikut: (1) Sistem agroforestry yang ada pada saat ini belum layak secara sosial ekonomi, (2)
Bantuan sosial ekonomi yang dilaksanakan pada saat ini belum efektif menyentuh kelompok
sasaran, (3) Dalam mengelola program PMDH, Perum Perhutani masih bekerja sendirian (one
man show) belum dapat bekerja sama secara terintegrasi dengan lembaga (instansi sektoral) yang
lain. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dwi Novita Lestanti (1998) di KPH Bojonegoro
menunjukkan bahwa program PMDH masih menunjukkan beberapa kelemahan antara lain : (1)
usahatani tanaman pangan di kawasan hutan, dengan memperhitungkan secara perusahaan
temyata tidak efisien; (2) penggunaan faktor-faktor produksi belum mencapai tingkat optimal; (3)
sistem pemasaran komoditas pangan belum effisien hal ini ditunjukkan dengan distribusi margin
yang belum merata; (4) infonnasi harga di tingkat konsumen belum ditransmisikan sepenuhnya
kepada petani produsen.
        Berdasarkan kelemahan-kelemahan yang dikemukakan diatas, dalam usaha meningkatkan
secara maksimal kegiatan pembinaan masyarakat di sekitar hutan, diperlukan suatu kegiatan
                                                                                           5


penelitian dan percontohan yang berkelanjutan untuk menghasilkan hutan yang produktif,
lestari serta mampu memberdayakan masayarakat di sekitar hutan.


                        III. KERANGKA OPERASIONALISASI

        Hutan merupakan lahan tertutup yang ditumbuhi pepohonan dan semak-semak. Jadi
ada unsur lahan (kawasan) dan penutp tanah berupa pepohonan yang membentuk susunan
berlapis (multistorey) baik tajuk maupun perakarannya (above and below ground), sehingga
sistem ini tertutp dan stabil. Oleh karena itu sumberdaya hutan merupakan sumberdaya alam
yang mempunyai ekternalitas lingkungan, apabila pengelolaannya tidak dilakukan secara hati-
hati maka akan menimbulkan kerusakan lingkungan (air, tanah, dan udara). Sehingga dengan
demikian sumberdaya hutan tergolong public investment dimana pengelolaannya tidak saja
dirorientasikan meningkatkan produksi hasil hutan        tetapi harus dirorientasikan untuk
memperbaiki kualitas lingkungan. Kenyataan ini membawa konsekuensi pengelolaannya harus
dilakukan oleh pemerintah (diawasi pemerintah) yang ditujukan tidak saja pada inter generasi
namun juga antar generasi. Kebijakan ini ditempuh dimana pengelolaan hutan di Jawa
diserahkan pada perusahaan negara Perhutani sedangkan di luar Jawa melalui Inhutani.
        Berdasarkan kenyataan banyaknya masyarakat miskin di kawasan hutan, maka dalam
rangka meningkatkan social benefit fungsi hutan, maka strategi utama yang dapat dilakukan
diuraikan dalam Gambar 1 berikut:
                                                                                         6




     Penduduk miskin
                                                          Pendapatan dari hutan
                                      Lahan hutan

        Penyediaan
       lahan Untuk               Intensitas penggunaan
         aktifitas                        lahan
        Agribisnis
                                  Pengolaaan hutan            Efisiensi Pengolaan
                                 model Agroforestry            sumberdaya hutan
     Kesempatan kerja,           dengan sistem mixed
     pendapatan masy.                 farming
                                                                  Kelestarian
                                                               sumberdaya hutan
      Kesadaran akan
      manfaat hutan
                                 Bagian keuntungan
                                  untuk pembinaan
                                     usaha kecil
     Kesempatan kerja
         off farm


                                  Pajak pendapatan
       Pembangunan                   hasil hutan
     pedesaan (fasilitas
          umum)



                               Pengembangan ekonomi wilayah
                                  masyarakat kawasan hutan




Gambar 1. Strategi Utama dalam Perumusan Model Pengelolaan Hutan yang Akses
          dalam Memberdayakan Ekonomi Wilayah




       Berdasarkan pendekatan di atas, maka ada empat konsep yang perlu diperhatikan
dalam perumusan model pengelolaan hutan yang memberdayakan masyarakat dan wilayah,
yakni: (1) pengelolaan hutan dengan model agroforestry melalui sistem mixed farming, (2)
pengembangan agribisnis, (3) pengembangan aktifitas off farm, dan (4) pembangunan
pedesaan. Secara rinci keempat aspek tersebut diuraikan sebagai berikut

                                 Konsep Agroforestry
      Model pengelolaan hutan dengan melibatkan masyarakat hutan saat ini dikenal dengan
Konsep Agroforestry. Berbagal definisi agroforestry telah banyak dikemukakan antara lain :
                                                                                            7


King dan Chandler (1978) mengartikan agroforestry sebagai pola pengolahan lahan yang dapat
mempertahankan dan bahkan menaikkan produktivitas lahan secara keseluruhan, yang
merupakan campuran kegiatan kehutanan, pertanian, peternakan dan perikanan baik secara
bersamaan maupun berurutan, dengan mempergunakan i-nanagemen praktis yang disesuaikan
dengan pola budaya penduduk setempat. Achlil (1981) mengemukakan bahwa agroforestry suatu
bentuk usahatani dalam rangka pengelolaan hutan serbaguna yang menyerasikan antara
kepentingan produksi dan kepentingan pelestarian, berupa pengusahaan secara bersama atau
secara berurutan jenis-jenis tanaman pertanian atau lapangan penggembalaan dengan jenis-jenis
tanaman kehutanan pada suatu lahan hutan.            Selanjutnya Soemarwoto, et al (1979)
mendefinisikan agroforestry sebagai suatu sistem tata guna lahan yang permanen dimana
tanaman semusim maupun tahunan ditanam bersama atau dalam rotasi membentuk suatu tajuk
yang berlapis-lapis. Jadi secara keseluruhan agroforestry adalah suatu sistem penggunaan lahan
yang merupakan perpaduan kegiatan kehutanan, pertanian, petemakan dan atau perikanan, kearah
usahatani terpadu sehingga tercapai optimalisasi dan diversifikasi penggunaan lahan.
Pengembangan sistem agroforestry diharapkan dapat memecahkan masalah penggunaan lahan
sehingga kebutuhan manusia yang beraneka ragam seperti pangan; sandang; kayu dan lingkungan
hidup yang sehat dapat terpenuhi.
        Menurut Ombo Satjapradja (1981) manfaat sistem aigroforestry adalah : Pertama, dalam
bentuk agroforestry didapat tanaman yang tidak homogen dan tidak seumur yang terdiri dari dua
strata atau lebih. Dengan bentuk pola tanam demikian, tajuk tegakan dapat menutup tanah,
terhindar dari erosi dan produktivitas tanah dapat dipertahankan. Kedua, para petani yang
berimukim di sekitar hutan dapat mengolah lahan dengan tanaman palawija dan hijauan makanan
ternak disamping menanam komoditi utama (pohon) kehutanan. Dengan demikian sistem
agroforestry dapat memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat
sekitar hutan. Ketiga, dengan melaksanakan sistem agroforestry, akan didapat bentuk hutan
serbaguna atau usahatani terpadu di luar kawasan hutan yang dapat memenuhi kebutuban
majemuk seperti kayu pertukangan; bahan pangan; madu, obat-obatan, hijauan makanan ternak
dan lingkungan hidup yang sehat serta kebutuhan lain yang mendesak dari penduduk. Dengan
demikian dapat meningkatkan produktivitas lahan.

                                     Konsep Agribisnis

        Dalam rangka mendukung keberhasilan agroforestry tersebut, maka dalam
pengelolaannya haruslah didasarkan pada pendekatan Agribisnis. Menurut Cramer dan Jensen
(1994) agribisnis adalah seluruh kegiatan yang menyangkut aspek pendistribusian aspek input
produksi, kegiatan usahatani, penyimpanan, pengolahan dan pendistribusian sampai pada
konsumen akhir dari produk-produk pertanian. Menurut Mustadjab (1997), dalam konsep
pembangunan ekonomi, agribisnis meliputi empat sub sektor. Pertama : Sub sektor agribisnis
hulu (up stream agribusiness) yaitu kegiatan industri dan perdagangan yang menghasilkan sarana
produksi pertanian primer seperti bibit, pupuk, pestisida dan alat-alat pertanian. Kedua : Sub
sektor usahatani (on farm agribusiness) yakni kegiatan ekonomi yang menggunakan sarana
produksi pertanian primer untuk menghaslikan komoditas pertanian primer. Ketiga : Sub sektor
agribisnis hilir (down-stream agribuviness) yakni kegiatan ekonomi mengolah komoditas
pertanian primer menjadi produk olahan beserta perdagangan dan distribusinya. Keempat : Sub
sektor jasa penunjang kegiatan pertanian (agro supporting institutions) yakni kegiatan yang
                                                                                                8


menyediakan jasa bagi agribisnis seperti perbankan, penelitian dan pengembangan, transportasi
dan sebagainya.
        Sistem agribisnis merupakan kegiatan yang kompleks yang dimulai dari pengadaan dan
penyaluran sarana produksi sampai produk-produk yang dihasilkan oleh suatu usahatani atau
agribisnis yang saling berkaitan satu sama lain. Dalam agribisnis terdapat sub sistem yang terdiri
dari : (a) Sistem pengadaan dan penyaluran sarana produksi, teknologi dan pengembangan
sumberdaya pertanian, (b) Sub sistem produksi pertanian atau usahatani, (c) Sub sistem
pengolahan hasil-hasil pertanian atau agribisnis dan (d) Sub sistem pemasaran hasil-hasil
pertanian.
        Penyediaan dan penyaluran sarana produksi mencakup semua kegiatan yang meliputi
perencanaan, pengolahan, pengadaan dan penyaluran sarana produksi untuk memperlancar
penerapan teknologi dalam usahatani dan manfaatkan sumberdaay pertanian secara optimal.
Teknologi yang dimaksud adalah teknik-teknik bercocok tanam, penggunaan bibit baru yang
lebih baik, penggunaan pupuk dan pestisida. Untuk mendorong terciptanya sistem agribisnis
yang dinamis, khususnya yang i-nenunjang teriaksananya usahatani yang baik dan menjamin
pemasaran hasil pertanian serta pengolahan hasil pertanian diperlukan jasa dari pemerintah dan
kelembagaan seperti jasa transporters]', jasa kcuangan, jasa penyaluran dan perdagangan serta
'asa penyuluhan. Sektor jasa akan menghubungkan aktivitas subsistem yang terkait dalam
agribisnis.
        Pengembangan agribisnis haruslah diawali dengan perencanaan yang terdiri dari
perencanaan lokasi, komoditas, teknologi, pola usahatani beserta skala usahanya untuk mencapai
tingkat produksi yang optimal. Dalam pada itu dalam pengolahan hasil, diperluas dan diperbaiki
dari pengolahan sederhana sampai dengan pengolahan lanjut yang laku dipasaran yang lebih luas.
Dalam subsistem pemasaranpun harus berubah yaitu dari pemasaran traditional lokal, diperluas
sampal ke regional dan ekspor. Untuk maksud tersebut diperlukan ketrampilan pemasaran,
informasi pasar dan promosi.
Dalam kegiatan agribisnis haruslah banyak menerima informasi pasar untuk input maupun
output. Agribisnis merubah dan meningkatkan usahatani yang bersifat lokal, mikro menjadi
usahatani yang lebih besar dan luas berskala usaha yang lebih besar, dapat menjangkau ruang
lingkup yang lebih luas, sehingga membutuhkan modal yang besar dan ini akan bersaing dengan
usaha lain. Agribisnis yang maslh dalam tahap awal dan perkembangan membutuhkan dukungan
pembinaan berupa pendidikan dan pelatihan serta kemitraan usaha.


            Konsep pengembangan Usaha off Farm dan Pembangunan Pedesaan
        Apabilala konsep agroforestry diterima sebagai sistem pengelolaan hutan, maka perlu
dirumuskan kebijaksanaan dasar pengelolaan hutan yang dapat menunjang keberhasilan konsep
tersebut. Agus Pakpahan dan Erwidodo (1981) mengemukakan beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan dalam penyusunan kebijaksanaan sistem perhutanan adalah : (1) Pola
pengusahaan hutan perlu dikaitkan dengan pola pengembangan wilayah terutama dengan industri
dan pasar, (2)Tujuan pengusahaan hutan yang berasaskan basil yang maksimurn dan lestari perlu
diperluas dengan memasukkan suatu prinsip maksimisasi kesempatan kerja dan pendapatan
masyarakat, (3)Tujuan pengusahaan hutan perlu memasukkan asas maksimisasi lingkungan
hidup.
      Secara teoritis pembangunan masyarakat pedesaan di sekitar hutan, merupakan subsistem
                                                                                              9


dari pembangunan desa. Mosher dalam bukunya Thinking About Rural Development (1976)
mengemukakan bahwa kegiatan esssensial yang harus ditangani yaitu:(1) Program yang berkaitan
dengan pertanian meliputi : (a)       penyediaan pasar untuk memasarkan hasil produksi
pertanian, (b) penyediaan fasilitas pelayanan kebutuhan sarana produksi pertanian, (c)
penyediaan fasilitas kredit pertanian, (d) pengadaan percobaan-percobaan lokal (verification
Trials), (e) pengadaan jalan, untuk fasilitas transport dari wilayah usahatani; (2) Program yang
berkaitan dengan kegiatan di luar sektor pertanian, meliputi : (a) pengembangan industri
pedesaan, (b) penyediaan fasilitas kesehatan, c) pelayanan masalah Keluarga Berencana, (d)
penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, (e)penyediaan fasilitas kegiatan keagamaan, (f)
kegiatan penyuluhan tentang keluarga sejahtera, (g) penyediaan fasilitas yang berkaitan dengan
kebutuhan masyarakat umum.
       Pada umumnya pembangunan pertanian dipandang sebagai tujuan utama dari
perkembangan kehidupan pedesaan, setidak-tidaknya dilihat dalam kerangka nasional.
Pembangunan pertanian pada dasamya bertujuan untuk meningkatkan posisi sosial ekonomi
masyarakat pedesaan. Faktor-faktor terpenting yang pengaruhnya menentukan dalam realisasi
tujuan di atas adalah (Schoorl, 1980):(1) perbandingan manusia dan tanah, (2) kepadatan dan
pertambahan penduduk, (3) perkembangan industri dan urbanisasi, (4) sistem kebudayaan, (5)
struktur sosial, (6)   struktur Agraria, (7) penggunaan metode dan teknik baru, (8) adanya
fasilitas informasi dan komunikasi yang baik, (9) faktor infrastruktur pertanian yang baik,
         Berdasarkan pendekatan tersebut diatas, maka secara rinci strategi, instrumen dan
kelompok sasaran dalam perumusan model pengelolaan hutan yang memberdayakan rakyat dan
wilayah di sekitar hutan di sajikan dalam Tabel 1 sebagai berikut:
                                                                                       10


Tabel 1. Strategi, Instrumen dan Kelompok Sasaran
            Strategi                   Instrumen                Kelompok Sasaran
1. Pengelolaan hutan sistem 1. Paket teknologi agro-         Petani kecil/buruh tani
    Agro-forestry dengan        forestry berdasarkan
    sistem agribisnis           intensitas cahaya
                             2. Manajemen kerjasama
                                antar kelompok tani dan
                                Pengelolan hutan
                             3. Penanganan pasar
                             4. Penanganan kebutuhan
                                sarana produksi
                             5. Penyediaan fasilitas         Bina Kelompok
                                kredit pertanian             Agroforestry
                             6. Pembinaan & penyuluhan
                             7. Penangan pasca panen &
                                pengolahan hasil
2. Pengembangan usaha di 1. Paket teknologi/usaha             Pemuda desa (karang
   luar hutan(off farm)         off farm (agribisnis atau     Taruna dan kelompok
                                non pertanian ) yang          wanita desa (PKK)
                                mampu diakses masy.
                                Miskin
                             2. Kredit bergulir dari dana
                                bagian keuntungan
                             3. Penanganan pasar
                             4. Penanganan kebutuhan         Bina kelompok
                                sarana produksi              Usaha off farm
                             5.Pembinaan & penyuluhan
                             6. Pembinaan kelompok
                                usaha kecil
3. Pengembangan Pedesaan 1. Redistribusi pajak untuk          Lembaga Ketahanan
    (fasilitas umum kawa-       pembangunan wilayah          Masyasyarakat Desa
     san hutan )             2.Manajemen         kerjasama   (LKMD) dan Pemerintahan
                               dengan Kantor Bangdes         Desa/Kecamatan
                             3. Bidang yang mungkin
                               ditangani adalah: fasilitas
                                 kesehatan,      pelayanan
                                 masalah KB, sarana dan
                                 prasarana     pendidikan,
                                 jalan, air bersih, penyu-
                                 luhan tentang keluarga
                                 sejah-tera, fasilitas yg    Bina BPD/pemerintah
                                 berkaitan      kebutuhan    desa
                                 masyarakat.
                                                                                           11


        Sehingga dalam kaitannya dengan hutan pendidikan ini, maka ditujukan untuk
mencapai hutan impian, yakni pengembangan suatu kawasan hutan untuk ditanami pepohonan
dan tanaman lainnya sehingga menjadi suatu sistem yang mempunyai fungsi menyerupai hutan
alami (tertutup dan stabil) dan memungkinkan dilakukan beraneka kegiatan seperti kegiatan
komersial baik di bidang pertanian maupun non pertanian, kegiatan pendidikan, pelatihan,
penelitian, percontohan, maupun kegiatan wisata alam (eco-tourism), konservasi palsma nutfah,
dan konservasi lahan.
        Berdasarkan pendekatan ini maka hutan impian terkandung unsur-unsur :
1. Terbentuk hutan alami (tertutup dan stabil) yang mempunyai fungsi untuk menjaga
   lingkungan (udara, biologi, air, udara)
2. Campuran kegiatan kehutanan, pertanian, peternakan dan perikanan baik secara bersamaan
   maupun berurutan.
3. Digunakan untuk usaha komersial dengan tetap menjaga kelestariannya
4. Dusahakan dengan          melibatkan partisipasi masyarakat dan mampu meningkatkan
   kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan
5. Dapat digunakan untuk kegiatan lain seperti eco-tourism
6. Berfungsi untuk melindungi palsma nutfah


          IV. DISAIN UMUM HUTAN PENDIDIKAN KEMASYARAKATAN

4.1. Desain Umum Hutan Pendidikan
     Hutan pendidikan ini terbagi dalam 3 desain utama yakni : (1) tempat konservasi plasma
    nutfah, (2) laboratorium agroforestry, dan (3) hutan produksi agroforestry. Sebagai tempat
    konservasi plasma nutfah diharapkan berfungsi dalam pemberdayaan flora, fauna, mikroba
    untuk menunjang konservasi serta pemanfaatan area untuk menerapkan konsep biologi
    modern dan melestarikan keaneka ragaman hayati. Untuk laboratorium diharapkan dapat
    berfungsi untuk penelitian konservasi lahan dan penelitian untuk agroforestry dengan
    model mixed farming, serta berfungsi untuk kegiatan praktikum mahasiswa. Sedangkan
    desain untuk hutan produksi diharapkan berfungsi untuk hutan produksi dengan corak
    komersial dengan berbagai tipe agroforestry, dan sebagai sarana hutan percontohan on farm
    agroforestry dan off farm agroforestry, serta berfungsi sebagai sarana untuk pemberdayaan
    masyarakat sekitar hutan melalui kegiatan on farm agro-forestry dan off farm.
                                                                                                   12




                                HUTAN PENDIDIKAN


                                                                         Hutan produksi
  Tempat konservasi                   Laboratorium                        agroforestry
    plasma nutfah                      agroforestry
 1.   Pemberdayaan        flora, 1.   Penelitian untuk konser-   1.   Hutan produksi dengan
      fauna, mikroba untuk            vasi lahan                      berbagai tipe agroforestry
      menunjang konservasi       2.   Penelitian untuk agro-     2.   Hutan percontohan on
 2.   Pemanfaatan area untuk          forestry dengan model           farm agroforestry dan off
      menerapkan konsep bio-          mixed farming                   farm agroforestry
      logi modern dan meles- 3.       Kegiatan praktikum         3.   Pemberdayaan masyarakat
      tarikan keaneka ragaman         /penelitian mahasiswa           sekitar hutan melalui
      hayati                                                          kegiatan on farm agro-
 3.   Kegiatan      praktikum/                                        forestry dan off farm
      penelitaian mahasiswa                                      4.   Agrowisata




                         Gambar 2.      Desain umum Hutan Pendidikan Unibraw

4.2. Desain Umum Agroforestry
        Agroforestry adalah suatu sistem penggunaan lahan yang merupakan perpaduan kegiatan
kehutanan, pertanian, peternakan dan atau perikanan, kearah usahatani terpadu sehingga tercapai
optimalisasi dan diversifikasi penggunaan lahan. Pengembangan sistem agroforestry diharapkan
dapat memecahkan masalah penggunaan lahan sehingga kebutuhan manusia yang beraneka
ragam seperti pangan; sandang; kayu dan lingkungan hidup yang sehat dapat terpenuhi. Namun
mengingat pada daerah sekitar umumnya masyarakat miskin, maka dalam rancangan
agroforestry dirancang dengan sistem agroforestry plus, yakni desain on farm agroforestry dan
off farm agroforestry. Secara umum model umum hutan produksi dalam hutan pendidikan
Unibraw dapat dilihat dalam Lampiran 1. Sedangkan contoh desain agroforestry dapat dilihat
dalam Lampiran 2, 3, 4, 5 dan 6.
        Untuk mewujudkan hutan Wonoguru Unibraw dilakukan beberapa tahap sebagaimana
dapat dilihat pada Gambar 3.
                                                                                         13




                                       Survai Dasar



     Analisis kesesuaian lahan hutan              Analisis kesesuaian pengembangan
     untuk pengembangan pertanian                 usaha di luar lahan hutan of f -farm
              dalam arti luas                      sektor pertanian dan non pertanian


   Penemuan alternatif komoditi yang              Penemuan alternatif komoditi yang
      layak teknis dikembangkan                    layak teknis dikembangkan untuk
                                                            usaha off-farm


     Alternatif Model agroforestry                Alternatif Model usaha off farm bagi
         sistem mixed farming                           masyarakat sekitar hutan


        Uci coba alternatif Model                 Uci coba Model usaha off farm bagi
    agroforestry sistem mixed farming                  masyarakat sekitar hutan


   Evaluasi kelayakan teknis,                     Evaluasi kelayakan teknis, ekonomi,
   ekonomi, sosial, dan managerial                sosial, dan managerial




      Tidak layak                         Layak                       Tidak layak



    Model agroforestry sistem mixed                   Model usaha off farm yang layak
      farming yang layak untuk                            untuk dikembangkan
            dikembangkan


                                 HUTAN WONOGURU
                                     UNIBRAW



                            Model percontohan daerah lain



Gambar 3. Tahapan kegiatan pembuatan hutan produksi di Hutan Pendidikan Unibraw


4.3. Desain Umum Tempat Konservasi Plasma Nutfah
                                                                                                            14




    Tabel 3. Desain pengembangan kawasan konservasi in situ plasma nutfah dan
             ekosistemnya

Keterangan         Tanah kritis          Daya dukung tanah      Daya dukung tanah     Daya dukung
                   terbuka, kesuburan    rendah                 sedang                tinggi
                   rendah
Konservasi lahan   Sangat ketat          Sangat ketat           Sangat ketat          Ketat. Pemeliha-
                   berdasarkan           didukung oleh          didukung oleh         raan lahan dan
                   karakter lokasi       beragam pohon dan      beragam tanaman       tanaman hutan
                                         herba pioner           tumbuh cepat          campuran,
                                                                                      berbagai umur dan
                                                                                      tinggi tajuk.
Kawasan            Penentuan flora       Penghijauan dan        Penghijauan atau      Pemeliharaan
perlindungan       sesuai karakter       penutupan tanah        reboisasi dengan      tanaman
keanekaragaman     lokasi                oleh bibit beragam     beragam tanaman       penghijauan atau
hayati lokal dan                         pohon dan herba        herba, semak dan      reboisasi bernilai
pengembangan                             pioner: rumput,        pohon tumbuh          ekonomi dan
konsep Biologi                           legum lokal            cepat.                ekologi
Konservasi
                                                                Mendorong             Melindungi
                                                                terciptanya habitat   keharmonisan
                                                                kehidupan liar        habitat, flora dan
                                                                                      fauna liar yang
                                                                                      datang di perairan,
                                                                                      savana atau hutan
Reintroduksi dan   Penentuan flora dan   Penghijauan dan        Penghijauan atau      Pemeliharaan
pemberdayaan       fauna sesuai          penutupan tanah        reboisasi dengan      beragam tanaman
keanekaragaman     karakter lokasi       oleh bibit beragam     beragam tanaman       bernilai ekonomi
hayati langka                            tumbuhan pioner:       herba, semak dan      dan ekologi
                                         rumput, legum          pohon langka
                                         langka dan bernilai                          Membangun taman
                                         ekonomi hasil          Mendorong             burung (cucak ijo,
                                         konservasi ex situ     terciptanya habitat   ayam hutan..),
                                                                untuk penangkaran     kebun binatang liar
                                                                kehidupan liar        (rusa, kelinci..)
                                                                                      mini
Kegiatan Tri       Tempat praktikum,     Tempat praktikum,      Tempat praktikum,     Pembangunan base
Dharma             penelitian            penelitian dan lahan   penelitian dan        camp dengan
Perguruan Tinggi                         percontohan            lahan percontohan     sarana multimedia
                                                                                      untuk pendidikan,
                                                                                      penelitian dan
                                                                                      lahan percontohan

                                                                                      Pengembangan
                                                                                      ecotourism

                                                                                      Pembangunan
                                                                                      camping ground
                                                                                                        15


4.4. Desain Umum Laboratorium Agroforestry
       Laboratorium agroforestry sebagai salah satu pendukung sarana hutan pendidikan
diharapkan mempunyai tiga fungsi yakni kegiatan untuk konservasi tanah dengan
memanfaatkan model tanaman campuran (mixed farming) berupa tanaman semusim, tanaman
tahunan berupa tegakan pohon hutan untuk menghasilkan kayu olahan, hortikultura untuk
menghasilkan buah-buahan , dan legume untuk menghasilkan kayu bakar dan bahan organik
untuk mempertahankan kesuburan tanah, rumput-rumputan berfungsi ganda untuk penguat teras
dan pakan ternak serta beternak lebah sebagai hasil samping. Bila kondisi memungkinkan,
khususnya hutan di wilayah pantai berupa hutan bakau dapat dijadikan laboratorium untuk
kegiatan penelitian aspek perikanan. Kegiatan ini diharapkan dapat bermanfaat untuk
melindungi erosi pantai dan sekaligus dapat meningkatkan hasil perikanan bagi masyarakat di
kawasan hutan bakau. Lokasi laboratorium agroforestry dirancang dalam empat bentuk
wilayah berdasarkan kelerangan lahan yang diharapkan dapat mewakili kawasan hutan
pendidikan pada lahan berkapur. Bentuk wilayah berombak (3-8 %) dirancang untuk tanaman
pangan lebih dominan dibandingkan tanaman tegakan pohon , hal ini dengan pertimbangan
resiko kerusakan lahan akibat erosi relatif rendah; sedangkan bentuk wilayah bergunung (
>30%) lebih diarahkan ke penelitian berupa pohon-pohonan dengan pertimbangan tegakan
pohon yang lebih permanen dapat berfungsi sebagai regulasi fungsi hidrologi dan juga
produksi kayu olahan serta buaha-buahan. Secara ringkas bentuk wilyah , model penelitian di
hamparan agroforestry dan tujuannya pada laboratorium agroforestry hutan pendidikan
Unibraw dapat dilihat dalam Tabel sebagai berikut :


Tabel 4. Model penelitian dan kegiatan praktikum mahasiswa pada laboratorium
         agroforestry di hutan pendidikan Universitas Brawijaya

Bentuk wilayah   Model penelitian di hamparan               Tujuan kegiatan
Berombak         Kombinasi tanaman semusim 60% +           Memecahkan kebutuhan kesempatan kerja
(3-8 %)          pohon-pohonan 30 % + penanaman            Meningkatkan variasi hasil pangan, buah
                 rumput di teras gulud 10 %                dan kayu
                 Bila dekat pantai , tanaman bakau         Melindungi abrasi (erosi pantai)
Bergelombang     Kombinasi tanaman semusim 30 % +          Penerapan prinsip konservasi tanah dan air
(8-15 %)         pohon-pohonan (hutan dan buah-buahan )    Meningkatkan produksi hijauan ternak,
                 40 % + rumput ternak dengan teras gulud   kayu, dan kayu bakar
                 , teras bangku dan upaya lainnya          Evaluasi degradasi lahan akibat erosi
                 Penelitian erosi dan dampaknya pada       Evaluasi     neraca      air di    kawasan
                 lingkungan                                agroforestry
                 Penelitian neraca air di kawasan          Evaluasi         kesuburan    tanah    dan
                 agroforestry                              produktifitas lahan
Berbukit         Kombinasi tanaman semusim 10 % +          Penerapan prinsip konservasi tanah dan air
(15-30%)         pohon-pohonan (hutan dan hortikultura)    Meningkatkan produksi hijauan ternak,
                 60 % + rumput-rumputan 30 %               kayu, kayu bakar dan buah-buahan
                 Penelitian erosi dan dampaknya pada       Evaluasi degradasi lahan akibat erosi
                 lingkungan                                Evaluasi     neraca      air di    kawasan
                 Penelitian neraca air di kawasan          agroforestry
                 agroforestry                              Evaluasi         kesuburan    tanah    dan
                                                           produktifitas lahan
Bergunung        Kombinasi hutan 70 % + tanaman            Menjaga          stabilitas     lingkungan
(>30%)           hortikultura 20 % + rumput-rumputan 10    agroforestry, utamanya untuk fungsi-fungsi
                                                                                   16


%                                     hidrologi
Penelitian erosi dan dampaknya pada   Meningkatkan hasil kayu bakar, kayu
lingkungan                            olahan, buah-buahan dan hasil samping
Penelitian neraca air di kawasan      madu dari ternak lebah
agroforestry bagian atas              Evaluasi terhadap peningkatan pendapatan
Penelitian beternak lebah             masyarakat di sekitar kawasan agroforestry
                                                                                              17


4.5. Rencana Umum Kegiatan
        Rencana umum kegiatan pembuatan hutan pendidikan ini dapat dalam jangka pendek (
1- 5 tahun), menengah ( 6- 10 tahun) dan jangka panjang ( > 10 tahun ).
Rencana jkegiatan pembuatan hutan pendidikan jangka pendek dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Rencana umum kegiatan pembuatan hutan pendidikan Unibraw

            Keterangan                TAHUN I     TAHUN II       TAHUN     TAHUN    TAHUN V
                                                                   III       IV
1. Survai dasar (data base)           Xx
    -Survai biofisik
    -survai sosial ekonomi
2. Rancangan Teknik                   Xx
    Rancangan sosial
3. Perencanaan peruntukan lahan dan     Xx
    pembuatan sarana dan parasarana
4. Penemuan alternatif komo-diti             xx
    yang layak dikembang-kan
5. Penemuan alternatif paket                      xx
    teknologi agroforestry
6. Uji coba model agroforestry                     xx
7. Pengembangan agroforestry dalam                      xx xx   xxxxxxx   xxxxxxx   xxxxxxx
    skala kecil
8. Pengembangan hutan pro-duksi                                 xxxxxxx   xxxxxxx   xxxxxxx
    dengan mixed farming
9. Pengembangan laboratori-um                                   xxxxxxx   xxxxxxx   xxxxxxx
    agroforestry
10.Pengembangan konservasi plasma                 xxxxxxx       xxxxxxx   xxxxxxx   xxxxxxx
    nutfah
11.Pengembangan kegiatan off farm                               xxxxxxx   xxxxxxx   xxxxxxx
12. Agrowisata                                                                      xxxxxxx
13.Pemberdayaan masyarakat sekitar    xxxxxxx     xxxxxxx       xxxxxxx   xxxxxxx   xxxxxxx
    hutan



4.7. Kriteria Lahan Hutan pendidikan yang diusulkan

       Lahan hutan untuk dijadikan Hutan Pendidikan oleh Universitas Brawijaya Malang,
diusulkan untuk memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Luas lahan minimal 100 hektar
2. Lokasi lahan hutan didalam satu kesatuan yang tidak terpisah-pisah
3. Lokasi lahan hutan sangat disenangi apabila berbatasan dengan pantai atau terdapat
    sungai di dalamnya dalam rangka untuk membuat Hutan Pendidikan yang terpadu
    berbagai disiplin ilmu atau kegiatan yang terpadu.
4. Lokasi lahan hutan perlu diupayakan tidak berjauhan dengan lokasi penduduk, dalam
    rangka untuk membuat hutan sistem agroforestry yang mampu meningkatkan partisipasi
    masyarakat.
                                                                                                            18




Lampiran 1. Desain umum untuk hutan produksi di Hutan pendidikan Unibraw

Keterangan                   Tanaman tegakan             Tanaman tegakan            Tanaman tegakan
                           dengan kanopi relatif       dengan kanopi relatif      dengan kanopi relatif
                              terbuka banyak              terbuka sedang             terbuka sedikit
                          (penetrasi sinar > 60 %)    (penetrasi sinar > 40-60   (penetrasi sinar < 40 %)
                                                                 %)
Kosenservasi lahan        sangat ketat berdasar      Ketat berdasar              ketat berdasar tanaman
                          kemiringan dengan          kemiringan dengan           inti (tegakan)
                          upaya rumput dan legum     upaya rumput dan legum
Usaha produktif           tanaman semusim yang       Tanaman semusim yang        tanaman semusim yang
                          memerlukan intensitas      memerlukan intensitas       memerlukan intensitas
                          cahaya tinggi              cahaya sedang               cahaya rendah
Partisipasi masyarakat    tinggi dengan pola mitra   tinggi dengan pola mitra    tinggi dengan pola mitra
dalam kegiatan on farm    melalui bagi hasil         melalui bagi hasil          melalui bagi hasil
                          melalui tanaman sela,      melalui tanaman sela,       melalui tanaman sela,
                          tegakan dan upahan         tegakan dan upahan          tegakan dan upahan
                                                                                 serta pengembangan
                                                                                 ternak lebah
Partisipasi masyarakat    sebagian kecil dalam       dalam peternakan            dalam peternakan
dalam kegiatan off farm   peternakan domba dan       domba dan unggas            domba dan unggas
                          unggas dengan              dengan memanfaat-kan        dengan memanfaat-kan
                          memanfaat-kan hijauan      hijauan pakan ternak        hijauan pakan ternak
                          pakan ternak (HMT)         (HMT) pada areal            (HMT) pada areal
                          pada areal konservasi      konservasi dan kegiatan     konservasi dan kegiatan
                                                     industri rumah tangga       industri rumah tangga

								
To top