ANALISIS USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH MBA ITB Business Review

Document Sample
ANALISIS USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH MBA ITB Business Review Powered By Docstoc
					       ANALISIS USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) :
           UMKM SEBAGAI PASAR POTENSIAL PERBANKAN

                        Udin Wiratno dan Wawan Dhewanto

Pengertian UMKM
SME (Small Medium Enterprise) atau yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan
usaha kecil dan menengah (UKM) adalah bentuk kegiatan usaha yang sudah tidak asing
lagi dalam lingkup perekonomian. Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2008 yang termasuk
kedalam UMKM adalah usaha yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut:
     memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
        tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
     memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta
        rupiah).

Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut:
    memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
       sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak
       termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
    memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta
       rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus
       juta rupiah).

Usaha Menengah adalah sebagai berikut:
    memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
      sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak
      termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
    memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima
      ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh
      milyar rupiah).
                  Tabel 1 Kriteria Usaha Mikro Kecil dan Menengah
                            USAHA                                   USAHA
 KRITERIA UMKM                             USAHA KECIL
                            MIKRO                                MENENGAH
Kekayaan Bersih         Paling banyak   Lebih dari Rp. 50 juta Lebih dari Rp. 500 juta
(tidak termasuk tanah   Rp. 50 juta     sampai dengan paling sampai dengan paling
& bangunan)                             banyak Rp. 500 juta banyak Rp. 10 Milyar
Hasil Penjualan         Paling banyak   Lebih dari Rp.300       Lebih dari Rp. 2,5
Tahunan                 Rp.300 juta     juta sampai dengan      Milyar sampai dengan
(Omset/tahun)                           paling banyak Rp. 2,5   paling banyak Rp. 50
                                        Milyar                  Milyar

Selain pengertian UMKM yang dikeluarkan resmi oleh pemerintah, BPS juga
mengeluarkan pengertian Industri Kecil dan Menengah atau yang lebih dikenal IKM.
Menurut BPS yang termasuk IKM yaitu:
     Kerajinan rumah tangga, dengan jumlah tenaga kerja di bawah 3 orang termasuk
       tenaga kerja yang tidak dibayar.
     Usaha kecil, dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 5 - 9 orang.
       Usaha menengah, sebanyak 20-99 orang.

Deperindag juga mengeluarkan kriteria yang termasuk UMKM. Atas dasar pandangan
yang berbeda setiap orang dapat menentukan kriteria UMKM, dimulai dari pemerintah
sampai pada peneliti. Namun, bank sebagai pihak yang menyalurkan kredit, ketentuan
UMKM harus jelas. Sebagai acuan, bank dapat menentukan kriteria kredit UMKM atas
dasar tiga poin di atas. Yang perlu diperhatikan dalam penentuan kriteria kredit UMKM
oleh perbankan adalah bahwa penentuan kriteria UMKM berdasarkan nilai ekonomi akan
mengalami perubahan seiring dengan kemajuan ekonomi suatu negara. Sebagai contoh
kriteria penentuan jumlah modal yang termasuk kedalam UMKM di negara maju berbeda
dengan negara berkembang.
Usaha kecil dan menengah atau UMKM bisa disebut juga usaha rakyat. Istilah ini muncul
karena adanya stigma bahwa usaha kecil dan menengah biasanya usaha yang dijalankan
secara tradisional, keberadaannya mendominasi perekonomian nasional dan tersebar
sampai pelosok nusantara. Pasar UMKM sangat luas sehingga untuk melihat potensinya
harus dilakukan penelusuran lebih mendalam.

Keadaan UMKM Nasional
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh BPS tahun 2006 jumlah usaha kecil dan
menengah di Indonesia mencapai 94,6% yaitu sebesar 48.929.636 usaha. Sedangkan
jumlah usaha besar di Indonesia hanya 5,4% yaitu berjumlah 143.162 usaha. Jenis usaha
UMKM dapat dikelompokan berdasarkan bidang usaha.




Statistik Usaha Kecil dan Menengah 2006 -2007, Kementerian Koperasi dan UMKM.
http://www.depkop.go.id/documents/cat_view/35-statistik/37-statistik-ukm/186-statistik-ukm-2008/200-
pdf.html
    Gambar 1 Proporsi Sektor Ekonomi UMKM Berdasarkan Jumlah Unit Usaha
                                  Tahun 2006

           Kelompok UMKM yang bergerak dibidang pertanian, peternakan, kehutanan
            dan perikanan mencapai 53,57% dengan jumlah 26.211.606 usaha.
           Kelompok UMKM dibidang perdagangan, hotel dan restoran mencapai 27,19%
            dengan jumlah 13.303.968 usaha.
           Kelompok UMKM yang bergerak dalam bidang industri pengolahan
            menempati posisi ke dua mencapai 16,58% dengan jumlah 3.219.570 usaha.
           Kelompok UMKM yang bergerak di bidang penyediaan akomodasi makanan
            dan minuman menempati posisi ketiga terbesar mencapai 13,30% dengan
            jumlah 2.994.858 usaha.
           Sedangkan UMKM yang bergerak dalam bidang usaha listrik dan air bersih
            menempati kelompok usaha paling sedikit yaitu 0,03% dengan jumlah 10.677
            usaha.

Bentuk usaha UMKM yang paling besar adalah bidang pedagang besar dan eceran (retail).
Usaha perdagangan dalam lingkup UMKM cenderung sederhana karena biasanya tidak
memberikan nilai tambah pada produk yang diperdagangkan. Bisnis yang dijalankan oleh
pelaku usaha masing sedikit yang menghasilkan produk baru dan hanya sebatas pada
pendistribusian barang. Bisnis dalam bidang perdagangan lebih mengandalkan keunggulan
pada rantai pasok dan tempat (place) yang strategis. Profit margin pada usaha perdagangan
besar dan eceran kecil (retail). Sistem bisnis pada usaha perdagangan besar dan eceran
mengandalkan volume usaha dan kecepatan transaksi perdagangan.
Untuk industri pengolahan makanan berlaku sebaliknya. Industri pengolahan makan
mempunyai profit margin yang besar. Volume bisnis pada usaha ini relatif kecil dan
bersifat sangat localize namun profit marginnya tinggi. Pengembangan paling mudah pada
industri pengolahan makanan untuk usaha rumah makan lebih banyak dilakukan dengan
friendchise.




Sensus Ekonomi 2006, BPS.
http://www.bps.go.id/aboutus.php?se=0
                       Gambar 2 Persentase UMKM Menurut Pulau

Bisnis UMKM yang menghasilkan produk, misalnya bidang industri pengolahan masih
sedikit yang sadar terhadap pengembangan dan pengelolaan brand untuk memperkuat citra
produk yang dihasilkan. Masih kurangnya kesadaran akan pencintraan produk (brand
building) dan penciptaan value added pada rantai distribusi bagi bidang usaha perdagangan
menyebabkan UMKM kurang mempunyai daya saing.
    1. Sebanyak 14.362.905 usaha atau 63,80% kegiatan usaha UMKM terkonsentrasi di
        pulau Jawa dengan komposisi sebaran 4.3% terdapat di Jawa barat, 4.1% terdapat
        di Jawa Timur. Land area di pulau Jawa kurang dari 10% dengan tingkat populasi
        sekitar 50%.
    2. Sebanyak 3.995.678 usaha atau 17,75% kegiatan usaha UMKM terkonsentrasi di
        pulau Sumatra dengan bidang usaha pertanian dan perkebunan. Land area di
        Sumatera kurang dari 22% dengan tingkat populasi sekitar 20%.
    3. Sebanyak 1.574.011 usaha atau 6,99% kegiatan usaha UMKM terkonsentrasi di
       Sulawesi dengan bidang usaha utama pertanian perkebunan dan perikanan. Land
       area di pulau Sulawesi kurang dari 9% dengan tingkat populasi sekitar 8%.

Land area menunjukan potensi sumber daya yang dimiliki oleh suatu daerah. Dilihat dari
sumber daya alamnya daerah yang potensial untuk mengembangkan UMKM diantaranya
yaitu Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Papua. Jawa dan Bali merupakan daerah sentra
UMKM, populasi kedua wilayah tersebut sangat tinggi sedangkan sumber daya alamnya
atau land area sudah jauh berkurang. Dari data diatas tren pengembangan UMKM akan
berpindah dari pulau Jawa ke Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan.
Jumlah UMKM yang sangat banyak hingga mencapai 48.929.636 mengindikasikan
UMKM adalah kekuatan ekonomi nasional. Peran UMKM dalam perekonomian dapat
dilihat dari nilai barang yang dihasilkan, kontribusi untuk menghasilkan devisa dan
penyerapan tenaga kerja yang diserap oleh industri kecil dan menengah.

Peran UKM dalam Perekonomian
Selama ini usaha kecil dan menengah telah menjadi tumpuan perekonomian nasional.
Jumlah usaha kecil dan menengah mencapai 48.929.636 unit usaha menguasai sekitar 99%
kegiatan ekonomi nasional. Walaupun nilai barang yang dihasilkan per unit usaha kecil
namun dengan jumlah yang sangat banyak UMKM mampu menghasilkan nilai produk
yang sangat tinggi.

Kontribusi UKM terhadap PDB
Pada krisis ekonomi 1998 ketika sektor moneter jatuh, perekonomian digerakan oleh
kegiatan usaha kecil dan menengah. Pada saat sekarang ketika krisis finansial global
memukul perekonomian nasional kegiatan usaha UMKM menjadi penopang
perekonomian nasional. Karena jumlahnya yang sangat banyak usaha kecil mampu
memberi kontribusi besar terhadap PDB.




Usaha Kecil dan Menengah Tahun 2006 – 2007, Kementrian Koperasi dan UMKM.
http://www.depkop.go.id/documents/cat_view/35-statistik/37-statistik-ukm/186-statistik-ukm-2008/200-
pdf.html
                   Gambar 3 Persentase Kontribusi UKM terhadap PDB

Secara keseluruhan pada tahun 2005 dan 2006 usaha kecil dan menengah memberikan
kontribusi terhadap PDB mencapai 53,54% dan 53,28% dimana kondtribusi usaha kecil
sebesar 37% dan usaha menengah sebesar 15%. Sedangkan kontribusi usaha besar
terhadap PDB pada tahun 2005 dan 2006 sebesar 46,46% dan 46,72%.
Nilai barang yang dihasilkan industri kecil pada tahun 2006 mencapai 1.258 triliun industri
dan menengah 521 triliun. Dilihat dari nilai barang yang dihasilkan pasar industri kecil
lebih besar dibandingkan dengan industri menengah. Namun keberadaan industri kecil
sulit dijangkau karena tersebar didesa sampai kota. Industri menengah merupakan
downstream dari industri besar sehingga keberadaannya tidak jauh dari industri besar.
Keberadaan industri menengah lebih terkonsentrasi di kota besar. Sedangkan keberadaan
industri kecil cenderung independen dalam hal keterkaitannya dengan industri lainnya.
Keberadaan industri kecil membentuk komunitas sendiri dengan channel yang terbatas.




Usaha Kecil dan Menengah Tahun 2006 – 2007, Kementerian Koperasi dan UMKM.
http://www.depkop.go.id/documents/cat_view/35-statistik/37-statistik-ukm/186-statistik-ukm-2008/200-
pdf.html
               Gambar 4 Kontribusi UKM dan Usaha Besar terhadap PDB

Potensi usaha kecil dan menengah terlihat dari nilai barang yang dihasilkan per tahun.
Jumlah kontribusi usaha kecil dan menengah terhadap PDB nilainya mencapai 1.779
triliun. Data tersebut menunjukan usaha kecil dan menengah merupakan pasar potensial
bagi perbankan. Aktivitas usaha UMKM yang terpecah menjadi usaha kecil yang tersebar
diberbagai daerah juga merupakan pasar potensial bagi penawaran jasa bank dengan
memberikan kemudahan transaksi untuk meningkatkan usaha.

Kontribusi UMKM terhadap Nilai Ekspor
Dilihat dari sisi makro ketika terjadi krisis ekonomi 1998 dan krisis finansial global 2008
usaha kecil dan menengah adalah jenis usaha yang tahan terhadap tekanan ekonomi global.
Dengan nilai barang yang dihasilkan mencapi 1.258 triliun usaha kecil menjadi penopang
perekonomian nasional. Hal itu dikarenakan lingkup kegiatan usaha usaha kecil bersifat
lokal. Kegiatan usaha usaha kecil tidak berhubungan langsung dengan kegiatan ekonomi
global. Pernyataan diatas diperkuat oleh data sebagai berikut:




Sensus Ekonomi Tahun 2006 -2007, Kementerian Koperasi dan UMKM.
http://www.depkop.go.id/documents/cat_view/35-statistik/37-statistik-ukm/186-statistik-ukm-2008/200-
pdf.html
              Gambar 5 Kontribusi UKM Terhadap Nilai Ekspor Nasional
Kontribusi usaha kecil dan menengah terhadap nilai ekspor nasional sebesar 30 triliun.
Persentase kontribusi usaha kecil dan menengah terhadap nilai ekspor hanya sebesar
0,04%. Nilai ekspor nasional didominasi oleh usaha besar yaitu 656 triliun atau 84%.
Kontribusi UMKM terhadap nilai ekspor yang kecil dan berbanding terbalik dengan
kontribusi terhadap PDB menunjukan kegiatan ekonomi nasional selama ini ditopang oleh
UMKM.
UMKM tidak menghasilkan devisa namun tingkat produktivitas UMKM mampu
menggerakan ekonomi lokal dengan meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga
mendorong tingkat konsumsi dan investasi. Hal ini dapat dilihat dari penyerapan tenaga
kerja yang dihasilkan oleh UMKM.




Sensus Ekonomi Tahun 2006 -2007, Kementerian Koperasi dan UMKM.
http://www.depkop.go.id/documents/cat_view/35-statistik/37-statistik-ukm/186-statistik-ukm-2008/200-
pdf.html
    Gambar 6 Jumlah Tenaga Kerja Usaha Kecil dan Menengah Tahun 2005-2006

Pada tahun 2006, UMKM mampu menyerap tenaga kerja sebesar 85.416.493 orang atau
96,18 persen dari total penyerapan tenaga kerja yang ada, jumlah ini meningkat sebesar
2,62 persen atau 2.182.700 orang dibandingkan tahun 2005. Kontribusi usaha kecil tercatat
sebanyak 80.933.384 orang atau 91,14 persen dan usaha menengah sebanyak 4.483.109
orang atau 5,05 persen. Untuk usaha kecil sektor perhutanan dan perikanan, pertanian,
peternakan, tercatat memiliki peran terbesar dalam penyerapan tenaga kerja yaitu
sebanyak 37.965.878 orang atau 46,91 persen dari total tenaga kerja yang diserap.
Data diatas menyatakan bahwa UMKM adalah usaha padat karya. UMKM menyerap
tenaga kerja sekitar 51%. Dipandang dari sisi makro usaha padat karya memberikan
keuntungan ekonomi berupa penyerapan tenaga kerja sehingga jumlah pengangguran
berkurang. Jenis usaha padat karya UMKM menyimpan peluang tersembunyi bagi
perbankan.

Penyaluran Kredit Perbankan terhadap Sektor UMKM
Dalam dunia perbankan, BRI adalah bank pertama yang serius dan konsisten menggarap
pasar UMKM. Keseriusan BRI membuahkan hasil dengan menjadi bank dengan laba
tertinggi pada tahun 2008. Di tengah krisis ekonomi nasabah dan debitur UMKM menjadi
penopang BRI sehingga selama ini bank tersebut cenderung tidak terpengaruh oleh
keadaan ekonomi global.
Produk UMKM Perbankan
Keberhasilan BRI menjadi salah satu faktor bagi perbankan nasional untuk segera
mengakuisisi pasar UMKM. Pertumbuhan kredit UMKM tidak terlepas dari keberadaan
produk UMKM. Untuk mengakuisisi pasar UMKM bank mengembangkan produk khusus
UMKM. Melalui diversifikasi produk UMKM yang menawarkan fitur dan layanan
berbeda satu dengan lainnya pelaku usaha UMKM dapat dengan mudah mendapatkan
fasilitas dari bank yang sesuai dengan kebutuhannya. Sekarang setiap bank mempunyai
produk yang khusus untuk melayani pasar UMKM.
                                                 Tabel 2 Produk UMKM Perbankan Nasional
     BANK            PRODUK SME                                              FITUR                                                  TARGET SEGMEN
                                             Limit kredit di atas Rp. 100 juta sampai dengan Rp. 5 Milyar
                                                                                                                   Pelaku usaha UMKM yang membutuhkan kredit
               Kredit Investasi              Kredit diberikan dalam valuta Rupiah atau valuta asing
                                                                                                                   investasi.
                                             Jangka waktu panjang (lebih dari 1 tahun)
                                             Limit kredit diatas Rp 100 juta s/d Rp 5 Miliar.
                                             Kredit dapat diberikan dalam valuta Rupiah atau valuta asing.
                                                                                                                   Pelaku usaha UMKM yang membutuhkan kredit nodal
               Kredit Modal Kerja            Jangka waktu sampai dengan maksimal 1 tahun dan dapat
                                                                                                                   kerja.
                                             diperpanjang sesuai kebutuhan.
                                             Sifat kredit revolving atau non revolving
                                             Proses cepat dan mudah                                                Pemilik deposito Bank Mandiri dalam bentuk badan
               Kredit Agunan Deposito
                                             Pembiayaan dapat berupa valuta Rupiah maupun valuta asing.            usaha maupun perorangan.
                                             Limit kredit di atas Rp. 100 juta sampai dengan Rp. 5 milyar          Pasar tradisional & modern
                                                                                                                   Pusat Niaga / perdagangan/bisnis (mall / plaza / trade
               Kredit Multi Guna Usaha       Kredit diberikan dalam valuta Rupiah
                                                                                                                   center / pusat grosir)
                                             Jangka waktu kredit maksimal 10 tahun                                 Di komplek pertokoan, perkantoran, perumahan
                                             Kredit Investasi dan Kredit Modal Kerja kepada Koperasi dengan
                                                                                                                   Koperasi Karyawan dan Non Koperasi Karyawan.
                                             limit sesuai kebutuhan koperasi
               Kredit Koperasi Mandiri       Kredit kepada anggota koperasi dengan limit sesuai kemampuan          Pembiayaan kepada koperasinya dan kepada anggota
                                             membayar                                                              koperasinya.
Bank Mandiri                                 Dapat tanpa agunan
                                             Jangka waktu 1 tahun dan dapat diperpanjang                           Individu atau badan usaha yang membutuhkan modal
               Kredit Wirausaha Mandiri      Suku bunga lebih ringan apabila seluruh transaksi dilakukan di        kerja dengan limit di atas Rp. 100 juta sampai dengan
                                             rekening giro                                                         Rp. 2 milyar
                                                                                                                   Petani/peternak/pekebun/nelayan/pembudidaya ikan
               Kredit Ketahanan Pangan dan
                                             Limit kredit maksimal Rp. 25 juta                                     yang tergabung dalam kelompok tani/kelompok usaha
               Energi (KKP-E)
                                                                                                                   bersama/kelompok pembudidaya ikan
                                             Jangka waktu kredit modal kerja sesuai siklus usaha dan tidak dapat
                                                                                                                   Petani/peternak/pekebun/nelayan/pembudidaya ikan
                                             diperpanjang dan jangka waktu kredit investasi sesuai siklus usaha
                                                                                                                   sebagai anggota koperasi
                                             dan maksimum 5 tahun
                                             Suku bunga lebih ringan dari kredit umum karena mendapat subsidi
                                                                                                                   Koperasi Primer dalam rangka pengadaan pangan
                                             dari pemerintah
                                             Komoditi yang dibiayai Kelapa Sawit dan Karet
                                             Luas lahan minimal 2 ha, maksimal 4 ha per petani
                                             Suku bunga, setinggi-tingginya LPS + 5%, suku bunga kepada petani     Perkebunan rakyat melalui perluasan, peremajaan dan
               Kredit Pengembangan Energi
                                             10%                                                                   rehabilitasi tanaman perkebunan yang didukung kredit
               Nabati (KPEN-RP)
                                             Agunan adalah kebun petani plasma yang dibiayai                       investasi
                                             Jenis kredit adalah Kredit Investasi
                                             Pengelolaan kebun plasma 'single management' dengan kebun inti
RaboBank
                      Pembiayaan Resi Gudang    N/A                                                                  Pembiayaan trading komuditas.
Indonesia
                                                Kredit Usaha Kecil (KUK) dengan pagu kredit Rp. 50 jt s.d 500 jt.    Pelaku usaha UMKM yang membutuhkan dana 50
BII                   Kredit UMKM
                                                Kredit Usaha Menengah dengan pagu kredit Rp. 500 jt s.d 5 miliar     sampai 5 miliar.
                      Danamon Simpan Pinjam
                                                Akses perbankan untuk usaha mikro dan kecil.                         Penghasilan bulanan Rp.400 rb hingga Rp. 2.5 juta
Bank Danamon          (DSP)
                      UMKM & Commercial         Rp. 500 juta s/d Rp. 5 Milyar                                        Usaha kecil dan menengah.
CIMB Niaga            UMKM                      N/A                                                                  Usaha kecil dan menengah.
                                                                                                                     UMKM yang menjadi rekanan baik perusahaan
                      UMKM Rekanan              Plafon 70% dari nilai proyek.
                                                                                                                     pemerintah maupun swasta.
                                                Pembiayaan sebesar 80% dari total biaya diluar pembelian tanah dan   Modal Kerja dan investasi untuk angkutan BBM, SPBU,
                      Hiswana Migas
                                                biaya perijinan                                                      agen minyak tanah, gas elpiji dan pelumas.
                                                                                                                     KI / KMK kepada petani, peternak, nelayan, petani ikan,
Bank Bukopin          Kredit Ketahanan Pangan   N/A
                                                                                                                     kelompok (tani, peternak, nelayan, dan petani ikan)
                      Kredit Ketahanan Pangan
                                                N/A                                                                  Koperasi dan atau Kelompok Tani
                      Tebu Rakyat
                                                Perdagangan, termasuk pembelian kios untuk usaha
                      Kredit Pundi                                                                                   N/A
                                                BPR, Koperasi atau PJTKI untuk diteruskan kepada Sasaran
OCBC NISP            Kredit usaha kecil         N/A                                                                  N/A
UOB Buana            Kredit usaha kecil         N/A                                                                  N/A
BCA                  UMKM                       N/A                                                                  N/A
BNI                  UMKM                       N/A                                                                  N/A
 Sumber: Website Bank Responden
Dalam persaingan mengakuisisi pasar UMKM perbankan menawarkan berbagai produk
untuk meningkatkan layanan terhadap pelaku usaha UMKM. Pengembangan produk
perbankan untuk pasar UMKM seperti pada tabel di atas menggambarkan bahwa
perbankan nasional menyadari potensi UMKM dan serius menggarap pasar tersebut.
Tingkat persaingan perbankan dalam mengakuisisi pasar UMKM sudah mulai meningkat.
Perkembangan peningkatan persaingan perbankan dalam merambah segmen UMKM harus
disikapi cerdik oleh perbankan. Mengingat pasar UMKM yang sangat luas dan masih
banyak potensi usaha yang belum terlihat, perbankan tidak boleh terjebak pada persaingan
yang terkonsentrasi hanya pada salah satu sektor usaha.

Perkembangan Kredit UMKM
Pada tahun 2003 perbankan nasional mulai meyadari potensi pasar UMKM. Langkah BRI
yang konsisten melayani pasar UMKM mulai diikuti oleh bank lainnya. Penyaluran kredit
perbankan kepada sektor UMKM pada tahun 2003 mencapai Rp. 125.878 miliar. Hingga
tahun 2008 total kredit yang disalurkan pada pasar UMKM mencapai Rp. 263.369 miliar.
Penyaluran kredit perbankan pada sektor UMKM terus mengalami peningkatan dari tahun
ke tahun seiring dengan banyaknya bank yang mulai merambah pasar UMKM.




Indikator Perbankan Indonesia, Bank Indonesia.
http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Indikator+Perbankan/
    Gambar 7 Perkembangan Penyaluran Kredit Perbankan pada Sektor UMKM

Diperkirakan penyaluran kredit perbankan pada sektor UMKM untuk tahun 2009 juga
akan terus mengalami pertumbuhan. Pasar UMKM menjadi solusi tunggal penyaluran
kredit supaya bank tidak kelebihan beban operasional dengan tetap menyalurkan kredit
ditengah krisis finansial global. Bagi perbankan pasar UMKM juga merupakan solusi
untuk mengurangi resiko kredit yang terkonsentrasi pada industri tertentu.
Pasar UMKM bagi perbankan masih cukup besar. Penyaluran kredit sebesar Rp. 263.369
miliar masih cukup kecil dibanding dengan nilai produk yang dihasilkan oleh sektor
UMKM yang mencapai Rp. 1.779 triliun.
Pasar UMKM mempunyai cakupan luas. Untuk menyederhanakan pasar UMKM dapat
dibagi berdasarkan sektor ekonomi. Berdasarkan data Bank Indonesia tahun 2007-2008
penyaluran kredit perbankan pada pasar UMKM terkonsentrasi di sektor perdagangan.
Sampai pada bulan Januari 2009 penyaluran kredit perbankan pada sektor perdagangan
mencapai Rp. 152.115 miliar. Penyaluran kredit pada sektor perindustrian sampai ada
bulan Januari 2009 mencapai Rp. 44.707 miliar. Sedangkan penyaluran kredit UMKM
pada sektor jasa dunia usaha mencapai Rp. 40.022 miliar.
Statistik Perbankan Indonesia, Bank Indonesia.
http://www.bi.go.id/web/id/Statistik/Statistik+Perbankan/Statistik+Perbankan+Indonesia/
        Gambar 8 Penyaluran Kredit Perbankan Nasional per Sektor Ekonomi

Nilai barang yang dihasilkan UMKM per sektor ekonomi menunjukan produktivitas yang
menjadi potensi bagi penyaluran kredit perbankan. Sektor perdagangan dan perindustrian
adalah sektor yang paling banyak mendapatkan penyaluran kredit. Sektor perdagangan
adalah segmen terbesar ke dua pada pasar UMKM dengan jumlah unit usaha mencapai
13.303.968 usaha. Nilai barang yang disampaikan pada sektor perdagangan dan usaha
pengolahan mencapai 569,9 triliun dan 524 triliun.




Berita Resmi Statistik, BPS.
http://www.bps.go.id/aboutus.php?search=1
                Gambar 9 PDB UMKM per Sektor Ekonomi dalam Triliun

Berdasarkan jumlah usaha, tingkat PDB per sektor ekonomi dan penyaluran kredit
perbankan, segmen UMKM yang potensial bagi penyaluran kredit perbankan diantaranya
yaitu:
     Penyaluran kredit perbankan pada sektor pertanian, peternakan dan kehutanan
       masih sedikit yaitu sebesar Rp. 17.884 miliar padahal jumlah unit usaha pada
       sektor ini mencapai 26.211.606 usaha dan PDB yang dihasilkan pada tahun 2007
       mencapai Rp. 524,0 triliun. Peluang penyaluran kredit pada sektor pertanian,
       peternakan dan kehutanan masih cukup luas.
     Dalam jumlah unit usaha perdagangan menempati posisi kedua namun dari sisi
      barang yang dihasilkan per tahun sektor perdagangan menempati posisi pertama
      yaitu mencapai Rp. 569,9 triliun. Peluang peyaluran kredit pada sektor
      perdagangan masih cukup luas mengingat penyerapan kredit masih sedikit yaitu
      hanya Rp. 145.438 miliar.
     Untuk sektor perindustrian nilai barang yang dihasilkan pada tahun 2007 mencapai
      Rp. 255,4 triliun. Penyaluran kredit pada sektor perindustrian mencapai Rp.
      24.686 miliar.
     Sektor konstruksi, keuangan dan pengangkutan menghasilkan nilai barang sebesar
      Rp. 201,7, Rp. 194,0 dan Rp. 135,9 triliun. Penyaluran kredit pada sektor
      konstruksi dan pengangkutan masih relatif kecil yaitu sebesar Rp. 1.645,3 dan Rp.
      8.180 miliar.

Dari nilai barang yang dihasilkan dan perkembangan penyaluran kredit perbankan kepada
sektor UMKM, sektor perdagangan, perindustrian, pertanian, pengangkutan dan keuangan
masih mempunyai pasar yang luas untuk target penyaluran kredit perbankan.
Sektor perindustrian termasuk didalamnya adalah industri pengolahan makanan yang mana
keberadaan industri tersebut mencapai 3.219.570 unit usaha. Sektor usaha perdagangan
didominasi oleh perdagangan hasil bumi, makanan dan retail. Jumlah usaha lebih kecil dari
usaha pertanian namun nilai barang yang dihasilkan lebih besar dari sektor pertanian,
kehutanan dan pertenakan. Hal tersebut menunjukan produktivitas pada sektor
perdagangan lebih besar dibanding produktivitas pada sektor pertanian.




Statistik Perbankan Indonesia, Bank Indonesia.
http://www.bi.go.id/web/id/Statistik/Statistik+Perbankan/Statistik+Perbankan+Indonesia/
                         Gambar 10 NPL Penyaluran Kredit UMKM

Resiko di tiap-tiap sektor industri pada industri kecil dan menengah dapat dilihat dari NPL
masing-masing sektor berbanding dengan total kredit yang disalurkan oleh perbankan.
    Tingkat NPL tertinggi penyaluran kredit pada industri kecil dan menengah di
       sektor konstruksi mencapai 888 miliar.
    Tingkat NPL tertinggi penyaluran kredit pada industri kecil dan menengah di
       sektor perdagangan, restoran dah hotel mencapai 6.301 miliar.
    Tingkat NPL tertinggi penyaluran kredit pada industri kecil dan menengah di
       sektor perindustrian mencapai 3.774 miliar
NPL masing-masing sektor pada kredit UMKM menunjukan tingkat kemacetan kredit
yang disalurkan. Sektor jasa sosial dan sektor jasa dunia usaha pada industri kecil dan
menengah mempunyai tingkat resiko kredit macet yang tinggi.

Tingkat Risiko Pasar UMKM
UMKM merupakan pasar potensial perbankan baik unuk penyaluran kredit maupun untuk
akuisisi dana pihak ke tiga. Setelah melihat pasar UMKM persektor ekonomi melalui
tingkat nilai barang yang dihasilkan, besarnya kredit yang sudah disalurkan dan tingkat
NPL disimpulkan sektor usaha pada industri kecil dan menengah yang potensial bagi
perbankan adalah sebagai berikut:
                             Tabel 3 Potensi SME per Sektor
                                     Total Kredit      Total NPL
                       PDB 2007
   Sektor Ekonomi                    January 2009 January 2009 NPL/Kredit Kredit/PDB
                        (triliun)
                                       (miliar)         (miliar)
 Pertanian                 524,06           19.082            1.134        0,059        0,036
 Pertambangan                51,79            1.657             100        0,060        0,032
 Perindustrian             255,47           44.707            3.774        0,084        0,175
 Listrik                      2,82              549               8        0,015        0,195
  Konstruksi               201,77           15.797              888        0,056        0,078
 Perdagangan               569,99          152.115            6.301        0,041        0,267
 Pengangkutan                135,9            8.442             394        0,047        0,062
 Jasa dunia Usaha          194,08           40.022            1.108        0,028        0,206
 Jasa social               185,42             7.601             270        0,036        0,041
 Lain-lain                    N/A          335.009            6.736        0,020         N/A
Statistik Perbankan Indonesia, Bank Indonesia.
http://www.bi.go.id/web/id/Statistik/Statistik+Perbankan/Statistik+Perbankan+Indonesia/

     Sektor perdagangan dengan nilai barang yang dihasilkan sebesar 569,99 triliun
      dengan tingkat kemacetan sebesar 0,047% dari total kredit adalah pasar yang
      paling potensial bagi perbankan.
     Sektor jasa dunia usaha dan jasa sosial dapat menjadi pasar potensial perbankan.
      Nilai barang yang dihasilkan pada sektor tersebut mencapai 194,08 triliun dan
      185,42 triliun dengan tingkat kemacetan sebesar 0,028% dan 0,036%.

Karakteristik UMKM
Tidak seperti industri besar yang keberadaannya terkonsentrasi di kota, keberadaan
UMKM tersebar menyeluruh dari daerah pedesaan, urban maupun perkotaan. Dalam
struktur perekonomian UMKM adalah cikal bakal dari industri besar. Di negara maju
persentase industri kecil dan menengah yang menjadi perusahaan besar lebih tinggi
dibandingkan dengan UMKM di negara berkembang. Di Indonesia sendiri selama ini
pemerintah maupun pelaku bisnis bangga dengan usaha kecil dan menengah. Rasa bangga
tersebut tidak diiringi semangat mengembangkan usaha kecil dan menengah menjadi
perusahaan besar. Pada umumnya usaha kecil dan menengah mempunyai kendala di
bidang sebagai berikut:
     Permodalan : Disamping kurang mencukupinya jaminan yang dimiliki oleh
        usaha kecil dan menengah untuk meminjam modal ke bank, di daerah selama ini
        sulit mendapatkan akses modal karena kurangnya informasi mengenai permodalan.
        Faktor lain penyebab permasalahan permodalan pada usaha kecil dan menengah
       adalah adanya persepsi dikalangan pelaku UMKM bahwa meminjam ke bank
       mempunyai risiko yang lebih besar dan memberatkan.
      Manajerial : Manajemen menjadi permasalahan yang paling utama dalam
       pengembangan usaha kecil dan menengah. Visi dan misi serta pengelolaan bisnis
       usaha kecil dan menengah tidak dilakukan dengan sistem manjemen dan
       perancanaan bisnis dengan baik. Hal tersebut menyebabkan kebanyakan usaha
       kecil dan menengah tidak dapat berkembang. Manajemen masih dikelola secara
       tradisional dimana harta pribadi dan modal usaha masih tercampur. Tidak adanya
       pemisahan harta pribadi dengan modal usaha menggambarkan tidak adanya
       rencana bisnis dan investasi untuk mengembangkan usaha. Tata kelola keuangan
       pribadi dan usaha yang tercampur juga seringkali menjadi penyebab kebangkrutan
       pada bisnis UMKM dimana penggunaan modal usaha untuk kepentingan pribadi
       tidak terkontrol dengan baik.
      Networking : Kebanyakan usaha kecil dan menengah terutama di daerah tidak
       mempunyai akses langsung ke pasar. Industri kecil dan menengah sulit untuk
       melakukan ekspansi pasar lebih luas. Sehingga lingkup usaha industri kecil dan
       menengah hanya bersifat lokal. Networking menjadi salah satu unsur modal
       intangiable yang menentukan perkembangan bisnis UMKM. Melalui networking
       pelaku bisnis dapat mengembangkan wacana bisnis guna pengembangan bisnis di
       masa yang akan datang.
      Leadership : Leadership dalam lingkup ini adalah karakter dan pengetahuan
       pelaku bisnis UMKM dalam mengelola usahanya. Leadership dalam UMKM
       bukan menyangkut jenis-jenis gaya kepemimpinan. Leadership dalam UMKM
       menyangkut apakah pelaku sekaligus pemimpin bagi usahanya berkeinginan
       membesarkan usahanya, apa yang dicita-citakan oleh pemilik usaha yang dalam hal
       ini sekaligus sebagai pengelola mengenai perkembangan usahanya kedepan,
       apakah pelaku mempunyai semangat belajar untuk mencapai cita-citanya.
      Inovasi         : Dalam lingkungan bisnis modern inovasi menjadi faktor utama
       peningkatan daya saing. Kebanyakan usaha kecil dan menengah dan industri di
       Indonesia masih kurang sadar dengan peningkatan daya saing. Persepsi mengenai
       inovasi membutuhkan biaya besar merupakan kendala bagi pengembangan inovasi
       baik dari sisi pengembangan produk, sistem distribusi, organisasi dan teknologi.

Faktor utama yang menjadi kendala usaha kecil dan menengah adalah pengelolaan usaha
atau manajerial. Secara berurutan kendala usaha kecil dan menegah yang kedua sampai ke
lima yaitu networking, leadership, inovasi dan permodalan. Karena usaha kecil dan
menengah mendominasi perekonomian dimana keberadaanya mencapai 94% dari
keseluruhan usaha maka kelima faktor utama kendala usaha kecil dan menengah tersebut
sering dikatakan sebagai faktor umum yang menjadi kendala untuk meningkatkan daya
saing industri nasional.

Karakteristik Bisnis UMKM
Bentuk dan sistem bisnis UMKM sangat unik dimana keberadaan UMKM terdapat
dimana-mana, dikelola dengan tradisional dan turun temurun, serta tidak didukung dengan
knowledge untuk menambah nilai ekonomi suatu produk, namun demikian bisnis yang
dijalankan secara sederhana ini mendominasi perekonomian nasional. Berdasarkan bentuk
dan sistem bisnis tersebut seringkali UMKM dipersepsikan sebagai segmen yang tidak
menarik seperti sebagai berikut:
      UMKM sebagai sektor yang complicated, high risk dan low profit. UMKM atau
       yang biasa disebut usaha kecil dan menengah sering kali tidak dikelola secara
       profesional. Pengelolaan harta pribadi dan aset usaha seringkali digabung menjadi
       satu. Keadaan tersebut yang menyebabkan bank selama ini cenderung untuk
       menjauhi segmen UMKM.
      Seringkali memiliki jaminan terbatas. Usaha kecil dan menengah seringkali tidak
       memiliki jaminan yang cukup untuk plafon pinjaman yang diajukan.
      UMKM sangat sulit untuk menjadi bisnis yang besar (korporasi). Para pelaku
       bisnis yang termasuk dalam golongan UMKM sering kali merasa puas atas prestasi
       yang telah diraih berkaitan dengan usahanya. Faktor yang membuat UMKM
       kesulitan untuk menjadi besar diantaranya terbatasnya channel dengan dunia luar,
       keterbatasan modal, dan keterbatasan pengetahuan.

Seharusnya UMKM atau yang sering disebut sebagai usaha kecil dan menengah dapat
menjadi besar namun berbagai kendala manajemen dan permodalan menyebabkan usaha
kecil dan menengah ini seringkali kali kalah bersaing dengan perusahaan besar. Walaupun
berbagai kendala untuk maju yang menghadang industri kecil dan menengah sangat
banyak namun industri tersebut tetap mempunyai prospek yang cerah bagi penyaluran
kredit perbankan. Pada umumnya industri kecil dan menengah mempunyai lingkup bisnis
bersifat lokal, namun bagi industri tertentu khususnya yang berhubungan dengan
kerajinan, banyak industri kecil yang mempunyai pasar ekspor. Dari penjabaran diatas
disimpulkan perilaku industri kecil secara umum adalah sebagai berikut:
     Karena pasarnya yang bersifat lokal dengan skala usaha yang relatif kecil, kedua
        hal tersebut menjadikan industri kecil dan menengah cenderung tidak terpengaruh
        oleh keadaan ekonomi global.
     Pengelolaan perusahaan belum dijalankan secara profesional. Bentuk manajemen
        masih bersifat family business.
     Belum ada visi dan misi yang jelas mengenai rencana jangka panjang perusahaan.
        Hal ini menyebabkan kontinuitas usaha UMKM biasanya terkendala oleh
        regenerasi saat peralihan pengelolaan usaha dari generasi perintis ke generasi
        penerus.
     Usaha kecil dan menengah menyerap tenaga kerja lebih banyak dari usaha besar.

Seperti diungkapkan didepan, perilaku dan karakter usaha kecil dan menengah berbeda
dengan usaha besar. Perilaku yang tercermin dari pengelolaan bisnis, permodalan,
networking dan leadership dan inovasi menggambarkan karakter usaha kecil dan
menengah bahwa unik dan komplek.
        Tabel 4 Karakteristik dan Strategi Pendekatan Bank terhadap UMKM
                              KARAKTERISTIK BISNIS
   Modal kecil (terbatas).
   Perputaran modal cepat.
   Tidak ada pemisahan antara harta pribadi dengan harta usaha.
   Manajemen tradisional (pencatatan, pelaporan dan SOP belum memenuhi setandar
   ISO).
   Lingkup bisnis bersifat lokal.
   Jenis usaha padat karya.
   Kesinambungan usaha tidak pasti (regenerasi tidak jelas).
   Keberadaanya tersebar di desa sampai kota.
Positioning bank pada segmen UMKM dapat ditentukan berdasarkan perilaku dan
karakteristik bisnis UMKM. Positioning bank terhadap segmen usaha kecil dan menengah
diimplementasikan melalui pendekatan-pendekatan seperti pada tabel diatas.

Potensi UMKM bagi Perbankan
Selama ini perbankan hanya bertumpu pada industri besar baik dalam penyaluran kredit
maupun dalam akuisisi dana pihak ketiga. Konsekuensi perilaku perbankan diatas adalah
dana pihak ketiga maupun penyaluran kredit terkonsentrasi pada industri atau perusahaan
tertentu. Dana yang diperoleh bank menjadi mahal ketika akuisisi DPK terkonsentrasi pada
suatu kelompok nasabah atau debitur. Bank harus membutuhkan dana yang besar dan
pemantauan ekstra untuk meminimalisir risiko likuiditas mengingat keadan ekonomi
global sangat berpengaruh terhadap industri besar.
Seperti yang terjadi sekarang, bank mengalami kesulitan likuiditas sebagai dampak dari
krisis finansial global. Dampak krisis finansial global terhadap industri besar terasa pada
penurunan permintaan dari luar negeri yang terus menurun. Pada titik tertentu dimana
pendapatan perusahaan tidak bisa menutup biaya produksi maka pembayaran utang pada
bank akan tertunda. Kejadian tersebut akan menaikan NPL, mengurangi laba, dan
meningkatkan risiko likuiditas bank. Untuk meminimalisir risiko bank harus memecah
portofolio kredit maupun kolektibilitas dana pihak ketiga. Usaha kecil dan menengah
adalah solusi atas peningkatan risiko bank sebagai dampak dari globalisasi ekonomi.
Dilihat dari PDB tahun 2005 sampai 2007 usaha kecil dan menengah berkontribusi besar
dalam struktur PDB. Usaha kecil dan menengah secara berkontribusi sebesar 3,33% untuk
tahun 2005, 3,21% untuk tahun 2006 dan 3,57% untuk tahun 2007.




Perkembangan Indikator Makro UKM Tahun 2008, Berita Resmi Statistik, BPS.
http://www.bps.go.id/aboutus.php?tabel=1&id_subyek=11
                 Gambar 11 Sumber Pertumbuhan Ekonomi 2005 - 2007

Pada tahun 2006 usaha kecil dan menengah berkontribusi 3,21% dari PDB nasional yang
besarnya 5,51%. Sedangkan pada tahun 2007 usaha kecil dan menengah berkontribusi
3,57% dari PDB nasional yang besarnya 6,32%. Data diatas menunjukkan walaupun
akselerasi pertumbuhan kelompok usaha kecil dan usaha besar pada umumnya tidak
secepat usaha menengah, namun dengan peranannya yang cukup besar dalam penciptaan
nilai tambah nasional sumbangan kedua kelompok usaha ini terhadap laju pertumbuhan
ekonomi menjadi cukup signifikan peranannya.

Peran UMKM dalam Ekonomi Lokal
Sebelum terjun ke segmen UMKM bank harus memahami perputaran ekonomi lokal. Hal
ini dikarenakan ketika bank terjun ke segmen UMKM berarti bank masuk ke dalam
perputaran ekonomi lokal suatu daerah yang perilaku dan karakternya berbeda dengan
industri besar.
Dalam lingkup perekonomian usaha kecil dan menengah merupakan sektor yang
menggerakan kegiatan ekonomi lokal. Pergerakan ekonomi lokal dimotori usaha kecil dan
menengah. Sebagai titik sirkulasi kegiatan ekonomi usaha kecil dan menengah mampu
menjaga tingkat daya beli masyarakat. Sirkulasi ekonomi yang dimulai dari produksi,
distribusi dan konsumsi yang bersifat lokal menghasilkan pendapatan dasar masyarakat.
Proses ini dapat dilakukan dengan pertukaran sumber daya alam murni maupun melalui
proses produksi untuk menghasilkan nilai tambah suatu barang.
Kemampuan perputaran ekonomi lokal tergantung pada seberapa jauh kebutuhan
masyarakat dapat terpenuhi oleh aktivitas ekonomi tersebut. Dengan mendasarkan
pemenuhan kebutuhan yang dapat dipenuhi dengan aktivitas ekonomi berarti kekuatan
ekonomi lokal terletak pada sumber daya alam dan pengelolaannya. Ketika kebutuhan
dasar (makan minum pakaian dan perumahan) terpenuhi kebutuhan yang bersifat physical
(hiburan, kenyamanan, prestis) menjadi kebutuhan baru. Setelah kebutuhan baru terpenuhi
akan muncul keinginan baru yang harus dipenuhi juga. Perputaran ekonomi lokal tidak
dapat memenuhi semua kebutuhan dan keinginan masyarakat yang terus bertambah. Untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan tersebut ekonomi lokal harus berinteraksi dengan
otoritas ekonomi lokal lainnya sehingga tercipta koneksi yang membentuk perputaran
ekonomi global.
Perputaran ekonomi lokal terbentuk atas dasar pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Oleh karena itu bentuk kegiatan pada ekonomi lokal didominasi oleh pertukaran barang
atau kegiatan usaha perdagangan. Jadi terbentuknya usaha kecil dan menengah dimulai
dari pemenuhan atas kebutuhan dasar masyarakat dengan melakukan kegiatan pertukaran
barang dan jasa. Peran sentral usaha kecil dan menengah dalam ekonomi lokal adalah
pemenuhan atas kebutuhan dasar yang menghasilkan pendapatan dan konsumsi dasar
masyarakat.

Peranan UMKM bagi Bank dalam Perekonomian
Bank memegang peran sebagai penyedia kebutuhan uang seiring dengan peningkatan
kebutuhan masyarakat. Kebutuhan akan uang berbanding lurus dengan peningkatan
pemenuhan kebutuhan masyarakat. Perusahaan besar adalah konektor kegiatan ekonomi
lokal dengan ekonomi global. Keberadaan perusahaan besar sebagai konektor dengan
sendirinya mentransmisikan kegiatan produksi, konsumsi dan distribusi menjadi bentuk
baru yang disebut itegrasi ekonomi global.




   Gambar 12 Sirkulasi Bisnis UMKM dengan Bank dan Pengaruhnya terhadap
                                Perekonomian
Keseimbangan porsi kegiatan ekonomi lokal yang dimotori oleh usaha kecil dan menengah
dan ekonomi global yang dimotori oleh perusahaan besar sangat penting untuk menjaga
stabilitas eknomi. Ketidakseimbangan pertumbuhan, jumlah uang dan kegiatan bisnis
kedua kegiatan ekonomi diatas akan menjadi gap yang akan menimbulkan lack of capital
sehingga pada saat ekonomi lokal tidak bisa menopang kegiatan ekonomi global atau
sebaliknya perekonomian akan mengalami penyesuaian yang biasa disebut dengan depresi
ekonomi.
Dalam struktur ekonomi bank mempunyai peranan vital. Selain mendistribusikan modal
bank juga sebagai economic guard berjalannya laju perputaran ekonomi. Di era globalisasi
seperti sekarang sangat tepat jika sebuah bank terjun ke segmen usaha kecil dan menengah
untuk mengurangi risiko atas kegiatan ekonomi global.

Permasalahan UMKM dalam Hubungannya dengan Bank
Usaha kecil dan menengah sering kali mempunyai masalah dalam hubungannya dengan
bank. Permasalahan yang umum terjadi antara bank dengan usaha kecil dan menengah
adalah permasalahan persepsi dan misunderstanding antara keduabelah pihak. Bank
seringkali menyamakan karakter bisnis UMKM dengan karakter bisnis segmen korporasi.
Hal ini menyebabkan pendekatan yang dimulai dari prosedur produk yang ditawarkan serta
administrasi yang ditawarkan oleh bank menjadi kendala bagi usaha kecil dan menengah
dalam menjalin hubungan dengan bank. Kendala usaha kecil dan menengah dalam
berhubungan dengan bank diantaranya yaitu:
     Harus memiliki jaminan untuk memperoleh kredit bank
     Jenis jaminan tertentu saja yang dapat diterima
     Bank tidak terlalu memperdulikan usaha kecil karena tidak memiliki kemampuan
        finansial yang besar
     Birokrasi yang berbelit-belit
     Kurangnya kepercayaan perbankan terhadap usaha kecil
     Bunga yang tinggi
     Administrasi yang rumit
     Kurangnya pelayanan untuk usaha kecil
     Persyaratan yang bermacam-macam
     Tidak mengetahui prosedur untuk memperoleh kredit bank
     Prosesnya lama

Komunikasi yang belum didasari saling pengertian menjadi masalah ketika bank
menyalurkan pembiayaan ke segmen usaha kecil dan menengah. Baik bank maupun
pelaku usaha kecil dan menengah tidak dapat mengidentifikasi kebutuhan dan kemampuan
kredit yang diajukan. Permasalahan yang sering dihadapi setelah penyaluran kredit kepada
pelaku usaha maupun penyelesaian kredit bermasalah diantaranya adalah sebagai berikut:
     Tingginya bunga yang dibebankan
     Pendapatan yang semakin berkurang
     Pasar semakin sulit
     Debitur tidak memiliki aset yang sesuai sebagai jaminan
     Proses peminjaman modal kurang ditanggapi
     Terbatasnya modal
     Tidak memiliki dana segar
     Terlalu banyak persyaratan dari bank
Adanya misunderstaning antara bank dengan UMKM adalah tantangan bagi bank yang
akan merambah segmen tersebut. Bank dapat memenuhi ketidakpuasan layanan perbankan
dari incumbent.

Bank Merambah Segmen UMKM
Setelah berbagai dampak krisis ekonomi yang disebabkan oleh gejolak ekonomi dari luar
negeri perbankan mulai melirik segmen UMKM supaya ketergantungan penyaluran kredit
maupun penghimpunan dana tidak tergantung pada investor atau ekonomi luar negeri.
Keberhasilan BRI menjadi inspirasi perbankan untuk merambah segmen UMKM.
Tentunya bank sekarang tidak bisa menggunakan strategi yang sama ketika BRI masuk
menggarap segmen UMKM pada 30 tahun silam.

Strategi Bisnis
Lingkungan bisnis pada tiga puluh tahun yang lalu tentunya berbeda dengan lingkungan
bisnis sekarang. Perubahan lingkungan bisnis tentunya membawa peluang dan ancaman.
Peluang bagi yang dapat memanfaatkannya dan ancaman bagi yang tidak siap menghadapi
perubahan. Sebelum merambah segmen UMKM sebaiknya sebuah bank menetapkan
terlebih dahulu strategi bisnis. Formulasi strategi meliputi pengamatan lingkungan,
identifikasi peluang dan strategi implementasi. Untuk identifikasi peluang dan pengamatan
lingkungan adalah sebagai berikut:
     Loyalitas dan Profitabilitas UMKM
        Dalam hubungannya dengan bank UMKM adalah konsumen yang loyal dan
        profitable. Ketika BCA mencoba merambah pedesaan dengan menawarkan layanan
        kemudahan transaksi dan bunga rendah (dibawah bank BRI), kebanyakan pelaku
        usaha atau usaha kecil dan menengah tetap setia menjalin hubungan dengan Bank
        BRI. Kejadian diatas menyatakan bahwa pengaruh bunga terhadap segmen UMKM
        tidak terlalu signifikan dan dalam hubungannya dengan bank segmen UMKM lebih
        mengutamakan kualitas yang bersifat kekeluargaan. Hal tersebut menegaskan
        bahwa UMKM merupakan segmen yang profitable. Walaupun dikenakan biaya
        bunga yang tinggi dan dengan volume bisnis yang kecil UMKM masih dapat
        menjadi konsumen bank.
     Perubahan Teknologi
        Perbankan merupakan industri yang sangat erat kaitannya dengan teknologi
        informasi dan komunikasi. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi
        memberi pengaruh pada kemudahan transaksi perbankan. BCA adalah salah satu
        bank yang mengandalkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai daya saing
        untuk menghadapi persaingan dengan bank lain. Strategi BCA diikuti oleh Bank
        Mandiri, Bank Danamon, Bank BII dan bank lainnya yang menggunakan teknologi
        untuk meningkatkan daya saing perusahaan. ATM, eBanking, dan credit card
        adalah beberapa contoh produk perbankan yang memanfaatkan teknologi untuk
        memudahkan transaksi sebagai bentuk layanan moderen yang sudah umum
        ditawarkan.
     Perubahan Struktur dan Perilaku Masyarakat
        Salah satu faktor yang paling dominan mempengaruhi perubahan perilaku
        masyarakat adalah teknologi. Untuk menawarkan jasa yang cocok dengan
        kebutuhan dan keinginan masyarakat, bank harus mengetahui perilaku masyarakat.
        Perubahan perilaku masyarakat perlu diidentifikasi oleh bank. Merujuk pada
        perkembangan sekarang perubahan perilaku masyarakat yang ada hubungannya
        dengan bisnis perbankan adalah sebagai berikut:
            o Kemudahan dan keamanan layanan transaksi (tidak suka membawa uang
              kas banyak).
            o Membentuk suatu komunitas dengan identitas tertentu yang mempererat
              hubungan antar anggota komunitas.
            o Menginginkan layanan yang customize yang sesuai dengan karakter
              individu atau masyarakat tertentu.

Celah yang Dapat Dimanfaatkan Bank untuk Masuk ke Segmen UMKM
Dari perubahan perilaku masyarakat mengenai hubungannya dengan bank seperti telah
dijabarkan diatas dapat ditarik celah peluang yang dapat dimanfaatkan bank dalam
merambah segmen UMKM.
                                              Keterbatasan jaminan yang sesuai dengan kriteria
                                               bank.
                                              Birokrasi dan administrasi yang panjang.
                                              Bunga yang tinggi.
                                              Layanan kurang.
                                              Proses lama.
                                              Persyaratan banyak.




Layanan Pokok                                                                                          Vaule Added
Difersifikasi produk (Funding and                        Customer Need and Want                        Layanan pendamingan transaksi.
Lending).                                                 Payanan pendampingan                         Layanan pendampingan bisnis.
Perampingan proses dan prosedur.                             Proses yang cepat                         Layanan khusus kemudahan transaksi
Penilaian jaminan disesuaikan dengan                      Jaminan yang gampang                         bagi nasabah atau debitur yang
                                                         Birokrasi dan administrasi
tingkat pinjaman.                                                  pendek                              potensial dan loyal.




                      Klaster                                                                               Klaster
                     Industri A                                                                            Industri X




                                                                Dtatabase
                      Klaster                                                                               Klaster
                                                                  Bank
                     Industri B                                                                            Industri Y




                        Komunitas Bisnis                    Pendampingan Usaha                    Layanan Transaksi




   Gambar 13 Konsep Jasa Layanan Perbankan dalam Lingkup Klaster Industri

UMKM adalah segmen retail dengan volume usaha kecil. Produk jasa perbankan yang
ditawarkan pada segmen UMKM harus memenuhi kebutuhan dan menjadi problem
solving UMKM yang selama ini dialami dalam hubungannya dengan bank. Value added
ditawarkan sebagai bentuk diferensiasi produk bank. Secara umum layanan yang dapat
ditawarkan bank kepada segmen UMKM diantaranya:
     Layanan Transaksi Keuangan: Menyediakan layanan transaksi usaha secara
       aman dan nyaman. Hal ini dapat dilakukan dengan memasang mesin ATM di
       lokalsi-lokasi bisnis UMKM seperti didekat pasar tradisional.
     Layanan Komunikasi: Layanan komunikasi diberikan untuk membantu pelaku
       usaha UMKM dalam hubungannya dengan bank. Komunikasi dapat dilakukan
     pada saat penawaran produk, transaksi dan setelah transaksi baik funding maupun
     lending.
    Layanan Pendampingan: Layanan pendampingan yang ditawarkan bank dapat
     berupa saran bisnis dan manajemen. Komunikasi antara bank dengan pelaku
     UMKM harus di-maintain dan ditingkatkan sehingga terbentuk suasana
     kekeluargaan namun dengan hubungan yang mengedepankan profesionalitas.

Strategi layanan pada segmen retail adalah fleksibilitas dan durabilitas. Untuk melakukan
pendekatan pada segmen UMKM bank harus mengedepankan pendekatan personal dan
membangun komunikasi dengan meningkatkan intensitas kunjungan. Untuk menjangkau
segmen UMKM bank harus membuka cabang atau unit di lokasi sentra UMKM yang
kebanyakan terdapat di daerah.




                  Tabel 5 Layanan Perbankan untuk Segmen SME

Berdasarkan konsep diatas bank dapat menawarkan jasa perbankan dengan model baru
sesuai dengan layanan keuangan yang dibutuhkan usaha kecil dan menengah. Dengan
memanfaatkan teknologi komputerisasi dan informasi bank dapat melakukan langkah-
langkah sebagai berikut untuk menambah nilai (value added) dari jasa yang ditawarkan.
     Bank dapat menggalang atau membuat klaster nasabah atau debitur usaha kecil dan
       menengah.
     Berdasarkan data debitur atau nasabah bank dapat membangun multidimensional
       networking antara nasabah atau debitur yang tergolong UMKM dengan industri
       atau lembaga lainnya untuk meningkatkan daya saing UMKM.
     Menyediakan layanan terpadu untuk akses pasar melalui layanan UMKM maupun
       yang menayangkan etalase produk dari nasabah atau debitur yang tergolong usaha
       kecil dan menengah.
      Mengadakan pertemuan pasar dengan mengundang debitur maupun nasabah
       dengan yang tergolong UMKM maupun usaha besar.

Layanan yang ditawarkan oleh bank harus dapat memenuhi kebutuhan segmen UMKM.
Berdasarkan karakter dan kebutuhan UMKM, sebenarnya UMKM membutuhkan layanan
jasa perbankan baik funding maupun lending yang terintegrasi. Layanan yang terintegrasi
yaitu layanan yang memberikan kemudahan transaksi, pembelajaran dalam hubungannya
dengan bank, peningkatan pengetahuan dari sisi manajemen dan bisnis serta meningkatkan
networking antar komunitas bisnis. Layanan perbankan tersebut harus dikomunikasikan
secara sederhana melalui pendekatan kekeluargaan.
Perbankan sudah memandang usaha kecil dan menengah sebagai pasar potensial dalam
penyaluran kredit maupun pengumpulan dana pihak ketiga. Bank BRI adalah pelopor
masuknya perbankan ke pasar tersebut. Sekarang Bank BRI menjadi market leader pada
pasar usaha kecil dan menengah. Melalui keuletan mengembangkan jaringan cabang yang
sampai ke pelosok desa, Bank BRI berhasil menguasai pasar UMKM. Dengan menjadi
bank terbesar ketiga di Indonesia dan masuk 500 Fortune dengan kategori perusahaan yang
mencapai laba tertinggi, kesetiaan BRI terhadap pasar UMKM membuktikan bahwa pasar
UMKM adalah pasar yang potensial bagi perbankan.

Melalui pemahaman pasar, pelaku usaha (konsumen/nasabah/debitur) bank dapat
menentukan mekanisme layanan yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan pasar
UMKM. Aspek penilaian dan prosedur adalah mekanisme penting untuk menunjang
layanan dan keberhasilan bank dalam mengakuisisi pasar UMKM. Sampai saat ini belum
ada mekanisme yang efektif dan efisien untuk mengembangkan prosedur dan penilaian
penentuan kelayakan bagi usaha kecil dan menengah. Mengingat peran sentral atas
mekanisme tersebut kerangka penilaian diatas dapat dijadikan acuan untuk pengembangan
lebih lanjut guna mendapatkan mekanisme sistem yang efektif untuk melayani pasar
UMKM.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:438
posted:9/10/2012
language:Unknown
pages:22