evaluasi kemampuan Lahan by ubxKoBx

VIEWS: 326 PAGES: 31

									                                      1



         KAIDAH ANALISIS KESESUAIAN LAHAN
                     (LAND CAPABILITY ANALYSIS)
                (diabstraksikan oleh: Prof Dr Ir Soemarno,MS)

      1. Pendahuluan

        Lahan merupakan lingkungan fisik yang meliputi iklim, relief, tanah,
hidrologi, dan vegetasi. Faktor-faktor ini hingga batas tertentu mempengaruhi
potensi dan kemampuan lahan untuk mendukung suatu tipe penggunaan
tertentu.
        Tipe penggunaan lahan ("major kind of land use") adalah golongan
utama dari penggunaan lahan pedesaan, seperti lahan pertanian tadah
hujan, lahan pertanian irigasi, lahan hutan, atau lahan untuk rekreasi. Tipe
pemanfaatan lahan ("land utilization type, LUT") adalah suatu macam
penggunaan lahan yang didefinisikan secara lebih rinci dan detail
dibandingkan dengan tipe penggunaan lahan. Suatu LUT terdiri atas
seperangkat spesifikasi teknis dalam konteks tatanan fisik, ekonomi dan
sosial yang tertentu. Beberapa atribut utama dari LUT a.l. adalah:
(1). Produk, termasuk barang (tanaman, ternak, kayu), jasa (misalnya.
      fasilitas rekreasi), atau benefit lain (misalnya cagar alam, suaka alam)
(2). Orientasi pasar, subsisten atau komersial
(3). Intensitas penggunaan kapital
(4). Intensitas penggunaan tenagakerja
(5). Sumber tenaga (manusia, ternak, mesin dengan menggu nakan bahan
      bakar tertentu)
(6). Pengetahuan teknis dan perilaku pengguna lahan
(7). Teknologi yang digunakan (peralatan dan mesin, pupuk, ternak,
      metode penebangan, dll)
(8). Infrastruktur penunjang
(9). Penguasaan dan pemilikan lahan
(10). Tingkat pendapatan.

       "Karakterisik lahan" merupakan atribut lahan yang dapat diukur atau
diestimasi. Misalnya kemiringan, curah hujan, tekstur tanah, kapasitas air
tersedia, biomasa vegetasi, dll. Sedangkan "Kualitas lahan" adalah
kompleks atribut lahan yang mempunyai peranan spesifik dalam
menentukan tingkat kesesuaian lahan untuk suatu penggunaan tertentu.
Contohnya ketersediaan air, resistensi erosi, bahaya banjir, dan
aksesibilitas. "Kriteria diagnostik" adalah suatu peubah yang mem-punyai
pengaruh tertentu terhadap hasil (atau input yang diperlukan ) pada
penggunaan tertentu, dan peubah ini juga berfungsi sebagai dasar untuk
menilai kesesuaian suatu bidang lahan bagi penggunaan tersebut. Peubah
ini bisa berupa kualitas lahan, karakteristik lahan, atau fungsi dari beberapa
karakteristik lahan.
       Beberapa macam kualitas lahan yang berhubungan dengan
pertumbuhan dan produktivitas tanaman adalah: (i) hasil tanaman, (ii)
ketersediaan air, (iii) ketersediaan hara, (iv) ketersediaan oksigen dalam
                                      2



zone perakaran, (v) kondisi bagi per-kecambahan, (vi) kemudahan
pengolahan, (vii) salinitas atau alkalinityas, (viii) toksisitas tanah, (ix)
ketahanan terhadap erosi, (x) bahaya banjir, (xi) rejim suhu, dan (xii)
Fotoperiodik.
       Beberapa kualitas lahan yang berhubungan dengan produktivitas
hutan adalah (i) bahaya kebakaran, (ii) hama dan penyakit, (iii) faktor lokasi
yang mempengaruhi perkembangan tanaman muda, (iv) tipe dan jumlah
jenis kayu indigenous. Dalam konteks evaluasi sumberdaya lahan dikenal
ada dua macam istilah, yaitu "kapabilitas" (kemampuan) lahan dan
"suitabilitas" (kesesuaian) lahan. Kemam puan lahan dianggap sebagai
kapasitas inherent dari sumberdaya lahan untuk mendu kung
penggunaannya secara umum; sedangkan kesesuaian lahan mencerminkan
kesesuaian bidang lahan bagi penggunaan yang spesifik. Pendapat lain
menyatakan bahwa kemampuan lahan lebih mengarah kepada aspek
konservasi, sedangkan kesesuaian lahan lebih mengarah kepada
produktivitas.
       Khusus dalam hubungannya dengan aktivitas pemba-ngunan dalam
sektor pertanian dikenal istilah "penggunaan lahan pertanian" dan "evaluasi
lahan pertanian" yang melibatkan berbagai macam kegiatan.              Dalam
hubungan ini, kesesuaian lahan juga bermakna sebagai kecocokan suatu
bidang lahan bagi penggunaan tertentu. Perbedaan tingkat kesesuaian ini
ditentukan oleh hubungan-hubungan (aktual atau yang diantisipasi) antara
benefit dan input yang berhubungan dengan penggunaan lahan tersebut.
Dengan demikian ada dua macam klasifikasi kese-suaian lahan, yaitu
kesesuaian aktual dan kesesuaian potensial.

      2. Evaluasi Sumberdaya Lahan

       Kegiatan evaluasi lahan dan survei tanah, sangat dianjurkan dalam
rangka untuk merencanakan dan mengkoordinir upaya perbaikan dan
pengelolaan lahan pada masing-masing tipe penggunaan atau usahatani.
Kegiatan evaluasi lahan ini mesuplai petani dengan informasi secara tepat
dan akurat tentang apa yang seyogyanya dikerjakan, dan perbaikan apa saja
yang diperlukan untuk pengelolaan lahannya. Termasuk ke dalam evaluasi
tersebut adalah penelitian dan penilaian tentang tekstur tanah lapisan atas,
tekstur tanah lapisan bawah, kedalaman solum dan subsoil, warna tanah
lapisan atas, struktur tanah, keadaan batu-batuan, mudahnya diolah,
permeabilitas subsoil, drainase permukaan, drainase internal profil tanah,
kemiringan, derajat erosi, bahaya erosi bila tanah diolah, faktor-faktor yang
digunakan untuk menentukan kelas lahan, dan kelas kapabilitas lahan.
Disamping itu, semua tanah-tanah pertanian diuji kesuburan, reaksi tanah,
dan kondisi alkalinitas/ salinitasnya.




      2.1.   Parameter evaluasi lahan
                                       3



      Sebagian besar teknik evaluasi lahan adalah seragam dalam
melukiskan sifat lahan internal dan eksternal. Berikut adalah beberapa
parameter yang lazim digunakan.

      2.1.1. Sifat Fisik Lahan dan Tanah

Tekstur lapisan atas     Keadaan batu      Erosi
Kasar                      Bebas           Tanpa-sedikit
Sedang                     Sedikit         Sedang
Halus                      Sedang          Parah
                           Banyak          Sangat parah

Tekstur subsoil     Hambatan pengolahan    Bahaya erosi
                                           bila diolah
 Kasar                     Tidak sulit     Tidak ada
 Sedang                    Sulit           Ringan
 Halus                     Sangat sulit    Sedang
                                           Parah

Kedalaman topsoil      Permeabilitas       Faktor untuk
dan subsoil                subsoil         kelas lahan:

  Dalam                    Sangat lambat   Tekstur
  Agak dalam               Lambat          Permeabilitas
  Dangkal                  Sedang          Kedalaman
  Sangat dangkal           Cepat           Slope
                                           Erosi
                                           Drainase

Warna topsoil       Drainase permukaan   Kelas Lahan
                                             Kelas I
  Terang           Jelek                     Kelas II
  Sedang           Sedang                    Kelas III
  Gelap            Baik                      Kelas IV
                   Berlebihan                Kelas VI
                                             Kelas VII
                                             Kelas VIII
Struktur tanah :         Drainase internal:
  Pipih                  Berlebihan
  Prismatik              Baik
  Kolumnar               Cukup
  Kubus                  Jelek
  Granuler                     Slope :
  Butir lepas                  Hampir datar         Curam
  Masif                        Landai               Sangat curam
                               Agak miring
      2.1.2. Praktek konservasi dan pengelolaan yang dianjurkan
                                       4




      (a). Metode Vegetatif:
      1. Rotasi tanaman selama satu atau dua tahun
      2. Rotasi tanaman selama tiga atau empat tahun
      3. Rotasi tanaman selama lima tahun atau lebih
      4. Pastur permanen
      5. Hutan permanen
      6. Jangan membakar residu tanaman
      7. Strip-cropping
      8. Pengelolaan residu tanaman
      9. Tanam rumput dan/atau legum yang dianjurkan
      10. Lindungi dari pembakaran
      11. Penggembalaan/perumputan terkendali
      12. Pengendalian tumbuhan liar yang merusaK
      13. Pengendalian belukar dan pepohonan
      14. Cagar alam
      15. Saluran air berumput
      16. Pupuk hijau
      17. Bera (lahan dikosongkan, tidak digarap).


      (b). Metode Mekanik:
      1. Teras atau sabuk gunung
      2. Perataan lahan
      3. Strip cropping
      4. Pembersihan batu dan belukar
      5. Terrasering
      6. Irigasi
      7. Bangunan penguat terras
      8. Saluran pengendali /pembuangan
      9. Sistem drainase
      10. Mulsa penutup permukaan tanah



      3. Klasifikasi Kesesuaian Lahan

       3.1. Kerangka Klasifikasi menurut Metoda FAO (1976)
       "Kesesuaian lahan" adalah keadaan tingkat kecocokan dari sebidang
lahan untuk suatu penggunaan tertentu. Kelas kesesuaian suatu bidang
lahan ini dapat berbeda-beda tergantung pada tataguna lahan yang
diinginkan. Metode FAO ini dapat dipakai untuk klasifikasi kuantitatif maupun
kualitatif tergantung dari data yang tersedia. Kerangka dari sistem klasifikasi
kesesuaian lahan ini terdiri dari empat kategori, yaitu:
  1. Order: keadaan kesesuaian secara global
  2. Kelas: keadaan tingkatan kesesuaian dalam order
                                     5



 3. Sub-Kelas: keadaan tingkatan dalam kelas didasarkan pada jenis
       pembatas atau macam perbaikan yang harus dijalankan.
 4. Unit: keadaan tingkstan dalam sub kelas didasarkan pada sifat
       tambahan yang berpengaruh dalam pengelolaannya.

       3.1.1. Kesesuaian lahan pada tingkatan kelas
       Kelas kesesuaian lahan adalah pembagian lebih lanjut dari order dan
menggambarkan tingkat-tingkat kesesuaian dari suatu order. Simbol Kelas
ini berupa nomor urut yang ditulis di belakang simbol order, dimana nomor
urut ini menunjukkan tingkatan kelas yang menurun dalam satu order.
Banyaknya kelas dalam setiap order sebenarnya tidak terbatas, tetapi
dianjurkan hanya memakai tiga kelas dalam order S dan dua kelas dalam
order N. Jumlah kelas tersebut harus berdasarkan kepada keperluan
minimum untuk mencapai tujuan- tujuan penafsiran.
       Jika tiga kelas yang dipakai dalam order S dan dua kelas dalam order
N, maka uraiannya adalah sbb:

(1). Kelas S1: Sangat sesuai (Highly suitable).
     Lahan tidak mempunyai pembatas yang serius untuk menerapkan
     pengelolaan yang diberikan atau hanya mempunyai pembatas yang
     tidak berarti secara nyata berpengaruh terhadap produksinya dan tidak
     akan menaikkan masukan di atas yang telah biasa diberikan.

(2). Kelas S2. Cukup Sesuai (Moderately suitable).
     Lahan mempunyai pembatas-pembatas yang agak serius untuk
     mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan. Pembatas
     tersebut akan mengurangi produksi atau keuntungan dan meningkatkan
     masukan yang diperlukan.

(3). Kelas S3 : Hampir Sesuai (Marginally suitable).
     Lahan mempunyai pembatas-pembatas yang serius untuk mem-
     pertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan. Pembatas
     akan mengurangi produksi dan keuntungan atau lebih meningkatkan
     masukan yang diperlukan.

(4). Kelas N1 : Tidak sesuai pada saat ini (Currently not suitable).
     Lahan mempunyai pembatas yang lebih serius, tetapi masih
     memungkinkan untuk diatasi, hanya tidak dapat diperbaiki pada tingkat
     pengelolaan dengan modal normal. Keadaan pembatas sedemikian
     seriusnya sehingga mencegah penggunaan secara berkelangsungan
     dari lahan.

(5). Kelas N2 : Tidak sesuai untuk selamanya (Permanently not
     suitable). Lahan mempunyai pembatas permanen untuk mencegah
     segala kemungkinan penggunaan berke-langsungan pada lahan
     tersebut.
                                    6



       3.1.2. Kesesuaian lahan pada tingkatan sub-kelas
       Sub-kelas kesesuaian lahan mencerminkan jenis pembatas atau
macam perbaikan yang diperlukan dalam suatu kelas. Setiap kelas dapat
dipecahkan menjadi satu atau lebih sub-kelas tergantung dari jenis
pembatas yang ada. Jenis pembatas ini ditunjukkan dengan simbol huruf
kecil yang ditaruh setelah simbol kelas. Misalnya kelas S 2 yang mempunyai
pembatas kedalaman efektif (s) akan menurunkan sub-kelas S2s. Biasanya
hanya ada satu simbol pembatas di dalam setiap subkelas. Akan tetapi bisa
juga dalam subkelas mempunyai dua atau tiga simbol pembatas dengan
catatan    jenis pembatas yang paling dominan ditempatkan pertama.
Misalnya dalam subkelas S2t,s, maka pembatas topografi (t) adalah
pembatas dominan dan pembatas kedalaman efektif (s) adalah pembatas ke
dua atau tambahan.

        3.1.3. Kesesuaian lahan pada tingkatan unit
        Kesesuaian lahan pada tingkat unit merupakan pembagian lebih
lanjut dari subkelas. Semua unit yang berada dalam satu subkelas
mempunyai tingkatan yang sama dalam kelas dan mempunyai jenis
pembatas yang sama pada tingkat-an subkelas. Unit yang satu berbeda
dengan unit yang lain dalam sifat-sifat atau aspek-aspek tambahan dari
pengelolaan yang diperlukan dan sering merupakan pembedaan detail dari
pembatas-pembatasnya. Diketahuinya pembatas secara detail memudahkan
penafsiran dalam mengelola rencana suatu usahatani.
        Kesesuaian lahan pada tingkat unit, pemberian simbolnya dibedakan
oleh angka-angka arab yang dipisahkan oleh tanda penghubung dari simbol
subkelas, misalnya S2 e-1, S2 e-2. Unit dalam satu subkelas jumlahnya
tidak terbatas. Contoh penamaan dari mulai order hingga unit adalah sbb:


        Order S (sesuai)                Subkelas S2t




                            S2t-2




         Kelas S2 (cukup sesuai         Unit 2 dari subkelas S2t
                                     7



      3.2. Kesesuaian Lahan untuk Padi sawah

       Untuk penilaian kesesuaian lahan tanaman padi sawah ini digunakan
modifikasi dari sistem Steele dan Robinson (1972). Pada sistem ini aslinya
dikenal lima kelas :
P-I: Lahan sangat sesuai untuk tanaman padi sawah
P-II: Lahan cukup sesuai untuk tanaman padi sawah
P-III: Lahan hampir sesuai untuk tanaman padi sawah
P-IV: Lahan kurang sesuai untuk tanaman padi sawah
P-V: Lahan tidak sesuai untuk tanaman padi sawah.
       Untuk menyesuaikan dengan kerangka pada metode FAO (1975),
korelasinya adalah sbb:
       Kelas P-I menjadi kelas S1.
       Kelas P-II menjadi Kelas S2
       Kelas P-III menjadi Kelas S3
       Kelas P-IV menjadi Kelas N1
       Kelas P-V menjadi Kelas N2.

       Sebagai pedoman dalam penilaian ditambahkan kriteria kuantitatif
dari besaran faktor pembatas kesuburan.

     3.2.1. Kesesuaian pada tingkat kelas
     Pedoman pengelompokkan menjadi kelas kesesuaian lahan untuk
tanaman padi sawah mengikuti kriteria berikut ini.

(1). Kelas S1 : Lahan sangat sesuai untuk tanaman padi sawah.
     Pada umumnya lahan ini sedikit sekali pembatasnya dengan sifat-sifat
     mempunyai kedalaman efektif 75 cm, teksturnya lebih halus dari
     berlempung halus (fine loamy), permeabilitas lambat, hampir datar dan
     drainase    agak terhambat hingga terhambat. Mempunyai tingkat
     kesuburan tanah sangat tinggi atau sedang dan tidak mempunyai atau
     mengandung kadar garam atau bahan-bahan beracun dalam jumlah
     yang membahayakan . Air mudah ditahan pada tanah-tanah ini dengan
     alat pengontrol air yang biasa dipakai. Air irigasi cukup, paling tidak
     untuk satu kali tanam selama setahun tanpa adanya resiko kerusakan
     oleh kekeringan atau banjir.

(2). Kelas S2: Lahan cukup sesuai untuk tanaman padi sawah
     Pembatas adalah kecil dan termasuk satu atau lebih dari pembatas-
     pembatas berikut ini:
     1. Kedalaman efektif 50-75 cm
     2. Sebaran besar butir berliat, berlempung halus atau berdebu halus
     3. Permeabilitas 0.5 - 2.0 cm/jam
     4. Tingkat kesuburan tanah rendah
     5. Salinitas 1500-2500 mmhos/cm
     6. Reaksi tanah yang sedikit membatasi produksi (pH pada lapisan 0-
         30 cm adalah 4.5-5.0 atau 7.5-8.0)
                                      8



    7. Kemiringan 1-3%
    8. Sedikit berkerikil yang menghambat pertumbuhan tanaman
    9. Kadang-kadang ada sedikit kekurangan air
    10.Kadang-kadang ada kerusakan sedang yang disebabkan oleh
        banjir/genangan

    Air pada lahan ini dapat ditahan di tempat tanpa kesulitan. Air irigasi
    cukup tersdia untuk satu kali tanam dalam setahun. Dapat mengalami
    sedikit /sebentar menderita kekurangan air tanah tetapi produksi tidak
    begitu banyak berpengaruh oleh adanya kekeringan. Kadar hara dapat
    menjadi faktor pembatas akan tetapi biasanya masih dapat diatasi
    dengan pemupukan.

(3). Kelas S3: Lahan hampir sesuai untuk tanaman padi sawah.
     Lahan ini mempunyai satu atau lebih dari pembataspembatas berikut:
     1. Kedalaman efektif 25-50 cm
     2. Permeabilitas 2.0 - 6.5 cm/jam
     3. Tingkat kemasaman yang ekstrim (pH lapisan 0.30 cm adalah 4.0-
         4.5)
     4. Sebaran besar butir (tekstur) berdebu kasar dan berlempung kasar
     5. Lereng 3-5%
     6. 50-80% wilayah rata tanpa mikro relief
     7. Sedikit berkerikil dan berbatu
     8. Resiko sedang dalam periode < 4 tahun, dalam 10 tahun yang
         disebabkan oleh sedikit kekurangan air
     9. Drainase sangat terhambat atau sedang
     10. Sedang (tapi sering) kerusakan oleh banjir/genangan sewaktu-waktu
         kerusakan dapat menjadi hebat.

    Perlengkapan dan fasilitas pengendali air mungkin diperlukan untuk
    menahan air. Air irigasi cukup tersedia untuk satu kali tanam pada
    kebanyakan tahun, tetapi periode kering dapat menyebabkan kerusakan
    sedang pada tanah yang mempunyai kapasitas memegang air rendah.
    Dalam beberapa hal pemupukan diperlukan untuk mempertinggi hasil
    tanaman.

(4). Kelas N1: Lahan tidak sesuai pada saat ini.
     Lahan mempunyai pembatas satu atau lebih dari faktor-faktor berikut ini:
     1. Kedalaman efektif 10-25 cm
     2. Sebaran besar butir (tekstur) berskeletal
     3. Permeabilitas 6.5-25 cm/jam
     4. Kesuburan tanah sangat rendah
     5. Reaksi tanah pada kedalaman 0-30 cm adalah 3.5-4.0 atau 8.0-8.5
     6. Salinitas 2500-4000 mmhos/cm
     7. Kemiringan 5-8%
     8. Relief mikro: 40-50% pada wilayah datar
     9. Adanya resiko yang serius disebabkan oleh adanya kekurangan air
                                      9



    10. Drainase cepat
    11. Banjir/genangan sering terjadi dan mem-bahayakan

(5). Kelas N2: Lahan tidak sesuai untuk tanaman padi sawah
     Lahan mempunyai banyak pembatas yang sukar diatasi, sehingga
     membuatnya tidak sesuai untuk tanaman padi sawah. Pembatasnya
     termasuk lereng terjal, dan keadaan topografi yang tidak memungkinkan
     untuk mengumpulkan atau menahan air, kedalaman efektif dangkal
     sekali dan sangat berbatu, teksturnya berpasir dan berskeletal,
     permeabilitas sangat cepat, salinitas tinggi dan bahay banjir/genangan
     yang sangat membahayakan. Kebanyakan lahan-lahan dari kelas ini
     pada daerah tinggi atau bergunung. Lahan ini mungkin sesuai untuk
     padangrumput atau hutan.

       3.2.2. Kesesuaian pada tingkat subkelas
       Kelas kesesuaian untuk tanaman padi sawah juga dapat dirinci lagi
menjadi satu atau lebih subkelas tergantung dari jenis pembatasnya. Faktor
yang biasa menjadi pembatas dalam subkelas pada lahan untuk tanaman
padi sawah ialah:
s : Pembatas pada zone perakaran (kedalaman efektif,                  tekstur,
     permeabilitas dan adanya batu)
n : kesuburan tanah
m : Kekurangan air untuk tumbuhnya tanaman. Ini dapat disebabkan oleh
     sumber airnya, yaitu hujan, sungai dan air lainnya yang tidak cukup
     pada periode pertumbuhan tanaman
f : Banjir/genangan (frekuensi dan lamanya), kedalaman air genangan dan
     kecepat-an air harus dipertimbangkan dalam penentuan pembatas ini.
t : Pembatas topografi berupa lereng yang persentase kemiringannya
     tinggi (> 5%) dan ke-tinggian tempat lebih dari 750 m dpl, serta adanya
     mikro relief yang nyata yang membatasi pertumbuhan tanaman.
     Keadaan topografi seperti ini tidak memungkinkan untuk mengum-
     pulkan air tanpa masukan (input) yang tinggi dan sulitnya penggunaan
     alat-alat mekanis.
x: Salinitas atau alkalinitas, pembatas ini berupa kandungan garam yang
     tinggi se-hingga mem-batasi pertumbuhan tanaman.
a : Reaksi tanah. Lahan mempunyai ke-masaman yang tinggi atau yang
     rendah yang sukar diatasi.


      3.3. Kesesuaian untuk Pertanian Lahan Kering
      Pada dasarnya digunakan metode yang dikemukakan oleh Robinson
dan Soepraptohardjo (1975) dalam " A Proposed Land Capability Appraisal
System for Agricultural Use in Indonesia".
                                        10



      3.3.1. Kesesuaian lahan pada tingkat kelas
      Pedoman untuk mengelompokkan ke dalam kelas kesesuaian lahan
tanaman pangan dan tanaman tahunan dapat mengikuti tabel kriterianya
masing-masing.

       3.3.2. Kesesuaian lahan pada tingkat subkelas
       Beberapa jenis pembatas baik untuk tanaman pangan maupun
tanaman tahunan pada lahan kering yang merupakan kriteria subkelasnya
adalah:
s : Pembatas pada zone perakaran, berupa kedalaman efektifnya kurang,
     teksturnya agak kasar hingga sangat kasar, kapasitas memegang air
     rendah dan berbatu.
n : kesuburan tanah sangat rendah dan susah diatasi.
a : reaksi tanah yang sangat masam dan susah untuk diatasi
x : salinitas dan alkalinitas, yaitu kandungan garam yang tinggi dan akan
     dapat mempengaruhi tanaman.
d : kelas drainase alamiah, yaitu berupa kelebihan air yang disebabkan
     oleh muka air tanah (water table) yang tinggi, permeabilitas lambat,
     atau aliran permukaan yang lambat atau kombinasi ketiganya.
f : banjir, harus diperhatikan frekuensi, lama, dalam, kecepatan air dan
     juga kemungkinan masuknya air asin.
e : erosi, ketahanan terhadap erosi, tingkat kerusakan erosi terdahulu dan
     besarnya persentase lereng adalah faktor yang perlu diperhatikan
t : relief, harus diperhatikan persentase lereng dan atau relief mikro.
r : tipe hujan; jumlah curah hujan setiap tahun dan distribusinya karena
     mempengaruhi upaya-upaya pemeliharaan tanaman.

       (1). Kriteria Evaluasi kesuburan Tanah

 KTK                  (me/100 g liat)             KB            (%)

 Sngt tinggi                > 40              Sngt tinggi        > 70
 Tinggi               25 - 40                    Tinggi        51 - 70
 Sedang                   17 - 24               Sedang         36 - 50
 Rendah                    5 - 16               Rendah         20 - 35
 Sangat rendah              <5               Sangat rendah       < 20
 Bahan organik               %C               P-tersedia;    ppm P2O5
 Sngt tinggi                >5                Sngt tinggi        > 35
 Tinggi                  3.01 - 5                Tinggi         26-35
 Sedang                 2.01 - 3.0              Sedang          16-25
 Rendah                1.00 - 2.00              Rendah          10-15
 Sangat rendah            < 1.00             Sangat rendah       < 10

      Untuk tanah-tanah yang megandung "cat clay" di antara kedalaman
satu meter, pH pada kedalaman 30 cm dipakai untuk menilai status
kesuburan.
                               11




Kelas pH           pH (H2O) pada kedalaman 0-30 cm
Agak rendah                    4.3 - 4.5
Agak rendah -                  4.0 - 4.2
rendah
Rendah                          < 4.0

    (2). Kunci untuk perkiraan kesuburan tanah

KTK KB             BO            P           Status kesuburan
ST-T ST           ST-S         ST-S             Sangat tinggi
ST-T ST           S-R          S -R                Tinggi
ST-T S              S          ST-S                Tinggi
ST-T ST             R          S-SR               Sedang
ST-T S            S-R          S-SR               Sedang
ST-T SR             S            S                Rendah
S    ST           ST-S          ST              Sangat tinggi
S    ST             S            S                 Tinggi
S    ST             R          S-SR               Sedang
S    S              S          S-SR               Sedang
S    S              R          ST-S               Sedang
S    S              R          S-SR               Rendah
S    SR             S          ST-S               Rendah
S    SR             R          S-SR            Sangat rendah
R    ST             S          ST-S                Tinggi
R    ST             R          S-SR               Sedang
R    S              S          ST-S               Sedang
R    S              R          S-SR               Rendah
R    ST            SR          S-SR               Rendah
R    S             SR          S-SR            Sangat rendah
R    SR             R          S-SR            Sangat rendah
SR   ST             S            R                Rendah
SR   S-SR          SR           SR             Sangat rendah
                                        12



Tabel 1. Pedoman kriteria pengelompokkan kelas kesesuaian lahan untuk
        tanaman pangan lahan kering

Faktor yang dipakai    Si                    Kelas kesesuaian lahan
dalam                  m-
mengevaluasi           bol
kelas kesesuaian              S1         S2            S3         N1       N2
1. Kedalaman                  > 75        > 50         > 25       > 10     lainnya
efektif                       cm
2. Tekstur zone        s      (a)        (b)                  (   (d)      (e)
perakaran*)                                      c)
3. Pori air tersedia          Tinggi     Tinggi- Tg-              Tg-      Tg-sngt
                                         sedang rendah            rndah    rendah
4. Kesuburan           n      ST- Sd     ST - Rd ST- SR           ST-SR    ST-SR
tanah**)
5. Reaksi tanah        a      5.0-7.0    4.5-8.0       4.0-8.0    <4.0     <3.0 -
(pH)                                                                       >8.0
6. Salinitas tanah     x      <1.5       <2.5          <4.0       >4.0     Lainnya
DHL x 103
(mmhos/cm)
7. Kelas drainase      d      Sdang/     Sdang/        Agk      Cepat      Sgat
                                                       cpat-               cepat
                              baik       baik          agak     Sngt       Sngt
                                                       terhaba terham      terhaba
                                                       t       bat         t

 8.           f   Jarang: <    Kerusaka        Kerusaka       Sering      Jarang
 Kerusak-         1x           n sedang        n sedang       terjadi     sampai
 an banjir        dalam 10     kadang-         mungkin -      kerusaka    sering
                  tahun        kadang          sering: <      n serius;   kerusaka
                               <3 x dlm        4 x dalam      memerluk    n yang
                               10 th           10 th          an          serius
                                                              penga-
                                                              turan air

 9. Erosi     e   Tdk ada        Sedang        Berat          Sangat      Sangat
                  /sedikit                                    berat       berat
 10.          t   <3%          Relief          Relief         <15% ba-    Diperluka
 Lereng/rel       /relief      mikro <         mikro          nyak        n pera
 ief mikro        mikro        8%              <8%                        taan/tera
                               sedikit         sedang                     s >15%
                                                                          lereng
                                                                          kompleks
 11. Tipe     r   A1; A2       A;B1;B2;        A;B;C;         A;B;C;D;    A;B;C;D;
 Hujan;                        B3              D1;D2          E1; E2      E.
 Oldeman
 et al.
                                             13



Keterangan: *) tekstur tanah pada zone perakaran:
(a) Berliat, berlempung halus, berdebu halus
(b) Berliat, berlempung halus, berdebu halus
(c) Berliat, berlempung halus dan kasar, berdebu halus dan kasar
(d) Berliat, berlempung halus dan kasar, berdebu halus dan kasar, berskeletal
(e) ............................. " ............................, berpasir dan berskeletal
**) penilaian kesuburan tanah seperti penjelasan di atas.




Tabel 4.2. Pedoman kriteria pengelompokkan kelas kesesuaian lahan untuk
        tanaman tahunan lahan kering

Faktor yang        Sim                    Kelas kesesuaian lahan
dipakai dalam      bol
mengevaluasi
kelas                     S1           S2          S3           N1           N2
kesesuaian

 1.                       >100 cm > 75             > 50         > 25         lainnya
Kedalaman
efektif
 2. Tekstur        s      (a)          (b)         (c)          (d)          (e)
zone
perakaran*)
 3. Pori air              Tinggi       Tinggi-     Tg-          Tg-          Tg-sngt
tersedia                               sedang      rendah       rendah       rendah
 4. Kesuburan      n      ST -         ST - Rd     ST - SR      ST - SR      ST - SR
tanah**)                  Sdg
 5. Reaksi         a      pH 5.0-      4.5-8.0     4.0-8.0      pH<4.0       pH<4.0-
tanah                     7.0                                                >8.0
6. Salinitas       x      <1.5         <2.5        <4.0         >4.0         Lainnya
tanah DHL x
103
(mmhos/cm)
 7. Kelas          d      sedang/      sedang/     agak         cepat -      Sangat
drainase                  baik         baik        cepat-       sngt         cepatsn
                                                   agak         terhamb      gt
                                                   terhamb      at           terhamb
                                                   at                        at
8. Kerusakan       f      <3x      <4x             Sering       Sering       Serius
banjir                    dalam    dlm 10          tapi         sekali       sekali-
                          10 tahun th              tak          serius       sngt
                                                   serius                    serius
                                       14



9. Erosi        e    Tidak       Sedang-    Berat -    Berat-    Sangat
                     ada/sedi   agak        sngt      sangat     berat
                     kit        berat       berat     berat
10.             t    <8%        < 8%        <15%      < 30%      > 30%
Lereng/relief
mikro
11. Tipe        r    A,B        A,B,C1,     A,B,C,D   A,B,C,D,   A,B,C,D,
Hujan,                          C2,C3       1,D2,D3   E1,E2      E
    Oldeman
et al.

Untuk tanah
Histosol:

12. Jenis       k    Saprik     Saprik      Saprik    Hemik      Fibrik
gambut
13.             g    <50 cm     < 50        < 50      < 100      Lainnya
Ketebalan
gambut
14.             n    ST- Sdg    ST - Rd     ST-SR     ST - SR    --
Kesuburan
tanah
15.                  c
Toksisitas
                     >150 cm    >100        >100      >50        Lainnya
(kedalaman
cat clay)
16. Salinitas   x    <1.5       <2.5        <4.0      <4.0       Lainnya
DHL x 103

(mmhos/cm)



      3.4. Evaluasi Lahan Hutan

       Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, "area lahan tertentu"
dapat disebut sebagai 'Satuan Pemetaan Lahan' atau 'Satuan Peta
Lahan'. Area ini merupakan area lahan yang dipetakan dengan karakteristik
atau kriteria tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya.
       Tipe pemanfaatan lahan (Land Utilization Type, LUT) merupakan
spesifikasi lebih lanjut dari Tipe Utama Penggunaan Lahan. LUT ini ditandai
oleh seperangkat spesifikasi teknis, dalam suatu tatanan fisik, ekonomi, dan
sosial yang ada. Atribut kelengkapan dari LUT meliputi data atau asumsi-
asumsi tentang tujuan dan produk, persyaratan fisik dan ukuran pemilikan
lahan, persyaratan infrastruktur, kapital dan tenagakerja, teknologi dan
sumber enerji yang digunakan, taraf pengelolaan dan penguasaan lahan.
                                      15




      3.4.1. Tipe Pemanfaatan Lahan untuk Hutan
      Beberapa atribut penting bagi LUT untuk hutan adalah produk, slope,
tenagakerja, kapital, taraf teknologi dan pengelolaan. Beberapa definisi
penting disajikan berikut ini:

      (1). Tingkat Produksi
      Rendah              : 0 - 5.0 m3/ha/tahun
      Moderat             : 5.1 - 10.0
      Medium              : 10.1 - 15.0
      Tinggi              : 15.1 - 25.0
      Sangat Tinggi       :    > 25.0

      (2). Slope
             0 - 3.0 %        15.1 - 30.0 %
             3.1 - 5.0 %      30.1 - 50.0 %
             5.1 - 8.0 %      50.1 - 70.0 %
             8.1 - 15.0 %     70.1 - 100 %
                                   > 100 %

      (3). Input tenagakerja per hektar per tahun:
             Rendah        : 0.00 - 0.25 TOK/ha/tahun
             Medium        : 0.26 - 1.00
             Tinggi        : 1.10 - 3.00
             Sangat tinggi        :    > 3.00

      (4). Input tenagakerja total
             Rendah        : 0.00 - 5.00
             Moderat       : 6.00 - 25.00
             Medium        : 26.00 - 100.00
             Tinggi        : 101.00 - 500.00
             Sangat tinggi         :    > 500.00

      (5). Investasi kapital, Rp/ha/th
      Rendah         :       0.00 - 2 500.00
      Moderat        : 2 501.00 - 25 000.00
      Medium         : 25 001.00 - 250 000.00
      Tinggi         : 250 001.00 - 2 500 000.00
      Sangat tinggi :               > 2 500 000.00

      (6). Investasi kapital total, Rp x 1000
             Rendah         :    0 - 500
             Moderat        : 501 - 5 000
             Medium         : 5 001 - 50 000
             Tinggi         : 50 001 - 500 001
             Sangat tinggi           :    > 500 001
                                        16



      (7). Teknologi

 A.    Tradisional        manusia dengan peralatan yang dioperasikan
                          secara 'tangan' (handtools); tenagakerja ternak.
 B.    Semi-              Tenagakerja manusia dengan motor; traktor
       tradisional        pertanian; sedikit tenagakerja manusia dengan
                          handtools .

 C.    Semi-maju          Mesin-mesin yag dirancang secara khusus; hampir
                          tidak ada tenagakerja manusia.

 D     Teknologi          Mesin-mesin multi-fungsi yang dirancang untuk
       Maju               menggantikan semua tenagakerja manusia.

      (8). Tingkat pengelolaan

 A    Rendah         Satu tingkat dalam organisasi lokal; belajar pengetahuan
                     melalui proses pewarisan dan cobacoba; tidak ada
                     sistem perencanaan untuk produktivitas dan pengemban-
                     gannya; kendali anggaran dilakukan secara harian
                     dengan uang tunai atau barang; pengalaman operasional
                     hanya dengan teknologi tradisional.
 B    Medium         Dua tingkat dalam organisasi lokal; latihan kerja; sasaran
                     jangka panjang diketahui; rencana kerja tahunan; sistem
                     pemantauan yang ekstensif terhadap produktivitas dan
                     pengembangan; anggaran tunai tahunan; pengalaman
                     operasional dengan teknologi tradisional dan semi
                     tradisional.
 C    Tinggi         Tiga tingkat dalam organisasi lokal; ada beberapa jasa
                     pelengkap; tenagakerja terlatih dan semi terlatih; ada
                     rencana jangka panjang dan rencana kerja tahunan;
                     proses pelaporan; kendali anggaran tahunan; sistem
                     pemantauan untuk produktivitas dan pengembangan;
                     pengalaman operasional dengan teknologi semi maju.
 D    Sangat         Tiga tingkat atau lebih dalam organisasi lokal; jasa
      tinggi         pelengkap sangat banyak; tenagakerja terlatih dan sering
                     mengikuti latihan kerja; rencana jangka panjang dan
                     rencana kerja tahunan jelas; sistem pelaporan dan
                     pemantauan dengan komputer; sistem kendali anggaran
                     permanen; pengalaman operasional dengan teknologi
                     semi-maju dan maju.


      3.4.2. Tipe-tipe LUT Hutan
      Ada banyak tipe LUT Hutan yang dapat dideskripsikan, beberapa di
antaranya adalah: Hutan lindung tetap, Hutan konservasi air alamiah, Hutan
konservasi tanah alamiah, Hutan produksi alamiah: pengelolaan ekstensif,
                                    17



Hutan produksi alamiah: pengelolaan intensif, Hutan tanaman kaju komersial
(timber), Hutan tanaman kayu pulp, Hutan tanaman kayu bakar, Hutan
tanaman bambu, Hutan rakyat, Wanatani (agroforestry), Hutan tanaman
konservasi tanah, Hutan wisata.

       3.4.3. Tujuan Tipe Pemanfaatan Lahan untuk Hutan
       Berbagai tipe pemanfaatan lahan untuk hutan mempunyai spesifikasi
yang jelas mengenai tujuan pengelolaannya. Beberapa hal pokok dijelaskan
dalam Tabel 3 berikut ini.

      Tabel 3. Tujuan tipe-tipe pemanfaatan lahan untuk hutan

        No. Tipe                                Tujuan
     Pemanfaatan
 1. Hutan lindung tetap   Konservasi hutan alam pegunungan sebagai
  pendidikan              sumber plasma nutfah dan untuk kepentingan
                          penelitian dan
 2. Hutan konser vasi     Pengamanan kesinambungan suplai air, untuk
    air alamiah           pertanian dan domestik.
 3. Hutan konservasi      Konservasi tanah terhadap erosi dalam rangka un-
    tanah alamiah         tuk mencegah kerusakan mekanik dan sedimentasi
                          pada sistem penampung dan penyaluran air, sangat
                          penting ada lereng yang curam dan mudah longsor.
 4. Hutan produksi        Produksi kayu gergajian dan hasil kayu tambahandi
    alamiah dengan        hutan alam pegunungan dengan tingkat produksi
    pengelolaan           rendah
    ekstensif
 5. Hutan produksi        Produksi kayu gergajian dan kayu lain dengan
    alamiah yang          produktivitas medium, dengan preservasi
    intensif              fisiognomihutan.
 6. Hutan tanaman         Produksi kayu gergajian untuk kebutuhan lokal dan
    kayu timber           ekspor.
 7. Hutan tanaman         Produksi kayu pulp sangat fleksibel dengan biaya
    kayu pulp             murah.
 8. Hutan tanaman         Produksi kayu bakar dengan biaya murah
    kayu bakar
 9. Hutan bambu           Produksi material multiguna &sekaligus
                          untukkonservasi tanah
 10. Hutan rakyat         Produksi kayu campuran di sekitar wilayah desa
 11. Agro-hutani /        Sistem hutan tanaman dengan ternak dan
   Wanatani               budidayatanaman pertanian menggunakan sistem
                          rotasi yangterkendali
 12. Hutan tanaman        Vegetasi penutup tanah di daerah yang sangat peka
   konservasi             erosi dalam rangka untuk mengamankan daerah di
                          bawahnya-
 13. Hutan wisata         Menciptakan fasilitas wisata di kawasan hutan.
                                    18



     3.4.4. Persyaratan Tipe Pemanfaatan Lahan Hutan

      Beberapa persyaratan pokok bagi setiap tipe pemanfaatan lahan
hutan disajikan dalam Tabel 4.

     Tabel 4. Persyaratan pokok bagi setiap tipe pemanfaatan lahan hutan

   No. Tipe                              Persyaratan
Pemanfaatan
    Lahan
1.Hutan          Fisik : Tipe-tipe vegetasi alamiah yang relatif tidak
lindung tetap    terganggu, luas minimum setiap tipe vegetasi 50-100 ha,
                 lokasi dan deskripsi tipe-tipe vegetasi Non-fisik : input
                 tenagakerja rendah, investasi kapital rendah, teknologi
                 tradisional; taraf pengelolaan medium, perlindungan
                 terhadap gangguan, petak observasi permanen,
                 pemantauan perkembangan vegetasi, latihan dan
                 pendidikan.
2.Hutan          Fisik: Distribusi hutan seimbang per Sub DAS, air alamiah
konservasi       , luas total minimum 7000 ha; data setiap sub-DAS
                 tentang kekurangan/kelebihan air dan debit air di batas
                 hutan. Non fisik: input tenagakerja rendah; investasi
                 kapital moderat; teknologi semi-tradisional, semi-maju
                 atau maju; taraf pengelolaan medium, pengalaman dalam
                 konservasi air dan pemantauan perkembangan hutan,
                 konservasi tajuk dan perakaran, perlindungan terhadap
                 gangguan, pemantauan curah hujan dan debit air di batas
                 hutan.

 3. Hutan alamFisik : komposisi vegetasi; klasifikasi erodibilitas DAS
  untuk       Non-Fisik: Input tenagakerja rendah; investasi kapital
  konservasi  moderat; teknologi semi-tradisional atau semi-maju; taraf
  tanah       pengelolaan medium, pemantauan curah hujan,
              sedimentasi dan perkembangan vegetasi, stimulasi tajuk,
              topsoil yang strukturnya bagus dan perakaran yang
              dalam,     perlindungan     terhadap       gangguan,     ada
              perencanaan jalan dan metode pemanenan.
 4. Hutan     Fisik : data tentang komposisi dan dimensi vegetasi,
  produksi    estimasi tebang pilih; satuan-satuan hutan > 5 ha pada
  alamiah     kemiringan > 100%, data tentangdata tentang kelas
  yangekstens lereng, akses dari desa terdekat.
  if          Non-fisik: input tenagakerja rendah; investasi kapital
              rendah hingga moderat; teknologi semi-tradisional; taraf
              pengelolaan      rendah hingga medium, pemantauan
              perkembangan hutan, perencanaan, perlakuan silvikultur,
              perlindungan terhadap gangguan, pengetahuan metode
              panen dan konservasi, pelatihan personil. Lanjutan.
                                    19



5. Hutan         Fisik : data tentang komposisi dan dimensi vegetasi,
 produksi        estimasi tebang pilih; satuan-satuan hutan-> 25 ha pada
 alamiah         lereng <70%, data tentang kelas ke miringan, sistem
 yang intensif   jalan yang terencana dengan aksesibilitas potensial yang
                 bagus.
                 Non-fisik: input tenagakerja rendah hingga medium;
                 investasi kapital medium hingga tinggi; teknologi semi-
                 maju; taraf pengelolaan tinggi, perencanaan perlakuan
                 silvikultur, perlindungan terhadap gangguan, pengeta-
                 huan tentang metode pembangunan jalan dan
                 pemanenan, pelatihan personil.

6. Hutan         Fisik : data komposisi spesies, potensial dan dimensi
   tanaman       silvikultur, syarat tumbuh spesies tentang iklim, tanah dan
   kayu timber   hidrologi; tergantung pada teknologi yang digunakan
                 pada kemiringan hingga 50% atau 70%, sebaiknya pada
                 permukaan lahan yang tidak kasar dan aksesibilitasnya
                 baik.
                 Non-fisik: input tenagakerja rendah; rataan tingkat biaya
                 medium; teknologi tradisional, semi-tradisional atau semi-
                 maju; taraf pengelolaan medium atau tinggi, perencanaan
                 yang intensif terhadap perlakuan silvikultur dan operasi
                 panen, supervisi yang bagus dan intensif, fsilitas transpor
                 yang baik, pelatihan personil.
7. Hutan         Fisik : data komposisi dan dimensi spesies; pada slope >
   tanaman       50% tidak peka terhadap erosi, potensi produktivitasnya
   kayu pulp     baik, asesibilitasnya baik dan permukaan tanah tidak
                 kasar; unit-unit minimum > 5 ha, skala usaha > 500 ha.-
                 Non-fisik : input tenagakerja rendah; investasi kapital
                 moderat, rataan tingkat biaya medium; teknologi semi
                 tradisional atau semi- maju; taraf pengelolaan medium
                 hingga tinggi,       perencanaan yang baik dan intensif
                 terhadap perlakuan silvikultur dan operasi pemanenan,
                 fasilitas transportasi yang baik, pelatihan personil.
8. Hutan         Fisik: data tentang komposisi spesies dan potensial hasil;
   tanam an      pada slope< 50% pada wilayah di dekat desa.
   kayu bakar
                 Non-fisik : input tenagakerja medium; investasi kapital
                 rendah, rataan tingkat biaya medium hingga tinggi;
                 teknologi tradisional; tingkat pengelolaan rendah atau
                 medium, pada areal yang dapat tererosi operasi
                 pemanenan lebih ekstensif.
9. Hutan         Fisik : data komposisi spesies dan potensial hasil;
   tanam an      sebaiknya padatanah-tanah yang subur.
   bambu
                                  20



               Non-fisik: input tenagakerja rendah hingga medium;
               investasi kapital rendah; teknologi tradisional; taraf
               pengelolaan rendah hingga medium, penelitian tentang
               sistem pengelolaan dan potensial hasil.

10.Hutan      Fisik: data tentang komposisi spesies, potensi dan
rakyat        dimensi silvikultur; pada slope hingga 50%; DI sekitar
              wilayah desa.
              Non-fisik: input tenagakerja rendah hingga medium;
              investasi kapital rendah; teknologi tradisional atau semi-
              tradisional; taraf pengelolaan medium, perencanaan dan
              implementasinya di bawah supervisi lembaga kehutanan.
11.     Agro- Fisik: data tentang kompoisi spesies, potensial, dimensi
hutani        dan hasil tanaman hutan dan tanaman pertanian,
              pengetahuan tentang kompetisi antara spesies pohon
              dan tanaman pertanian; pada tanah-tanah yang tingkat
              kesuburannya moderat dan peka erosi; pada slope <
              30%; aksesibilitas internal dan eksternalnya baik.
              Non-fisik: input tenagakerja medium; investasi kapital
              rendah hingga medium; teknologi tradisional atau semi-
              tradisional; taraf pengelolaan medium atau tinggi,
              perencanaan yang baik dan intensif terhadap
              penggunaan lahan ini, termasuk sistem penelitian dan
              pengelolaannya.
12. Hutan     Fisik: data komposisi spesies, potensi dan dimensi
tana-man      silvikultur,data     penutupan tajuk dan penutupan
konserva si   permukaan tanah; pada areal yang sangat peka erosi,
tanah         dengan slope > 70%.
              Non-fisik: input tenagakerja rendah; investasi kapital
              rendah; teknologi tradisional; taraf pengelolaan medium,
              pengetahuan tentang perlakuan silvikultur dan konservasi
              tanah.
13.Hutan      Fisik: komposisi vegetasi yang sesuai, berselang- seling
wisata        dengan tempat terbuka; kondisi iklim yang nyaman, lokasi
              kamping atau slope <15%, aksesibilitas eksternal dan
              internal yang bagus, fasilitas rekreasi yang memadai.
              Non-fisik: input tenagakerja medium hingga tinggi;
              investasi kapital medium hingga tinggi; teknologi
              tradisional atau semi- tradisional; taraf pengelolaan
              medium hingga tinggi, pengetahuan tentang pemanfaatan
              kawa san hutan untuk wisata.
                                    21



      3.4.5. Evaluasi Tingkat Kesesuaian Lahan
      Pada dasarnya tahap akhir dari proses evaluasi lahan adalah
"matching" kualitas satuan lahan dengan persyaratan dari suatu 'Tipe
Pemanfaatan Lahan'. Setiap satuan lahan mempunyai informasi tentang
berbagai parameter kualitas lahan. Informasi ini dapat dihimpun dari sumber
data sekunder dan data primer melalui survei lapangan.

      (1). Kriteria Kualitas Lahan
      Tiga macam kualitas lahan yang pokok adalah (i) aksesibilitas
eksternal, (ii) vegetasi, dan (iii) kelas kemiringan lahan.
      Kriteria yang berhubungan dengan kualitas lahan yang digunakan
dalam prosedur 'matching' disajikan dalam Tabel 4.5, 4.6 dan 4.7.


Tabel 5.     Evaluasi tingkat kesesuaian kualitas lahan "aksesibilitas
             eksternal" untuk setiap Pemanfaatan Lahan (LUT); S =
             umumnya sesuai; NS = tidak sesuai; n.r. = tidak relevan)

 No. LUT                Sngat            Mudah       Sulit      Sangat
 Deskripsi              mudah                                    sulit
 1. Hutan lindung        NS               NS          S           S
 tetap
 2. Hutan alam           n.r              n.r         n.r          n.r
 konservasi air
 3. Hutan alam           n.r              n.r        n.r.          n.r
 konservasi tanah
 4. Hutan produksi
 alamiah:
 Pengelolaan              S               S           S           NS
 ekstensif
 Tradisional
 Semi tradisional         S               S           S           NS
 Maju                     S               S          NS           NS
 5. Hutan produksi alamiah
 Pengelolaan intensif :
 Tradisional                 S              S         S           NS
 Semi tradisional            S              S         S           NS
 Semi maju                   S              S        NS           NS
 Maju                        S             NS        NS           NS
 6. Hutan tanaman Timber
 Tradisional                 S              S         S           NS
 Semi tradisional            S              S        NS           NS
 Semi maju                   S              S        NS           NS
 7. Hutan tanaman kayu pulp
 Semi tradisional            S              S        NS           NS
 Semi maju                   S              S        NS           NS
                                    22



  8. Hutan tanaman kayu       S          S          S         NS
  bakar
  9. Ht tanaman bambu         S          S         NS         NS
  10. Hutan rakyat            S          S          S         NS
  11. Agro-hutani             S          S         NS         NS
  12. Hutan tanaman           S          S          S         NS
       konservasi tanah
   13. Hutan wisata           S          S         NS         NS
Keterangan: Tradisional dan semi tradisional: hanya akses dengan jalan
kaki. Maju dan semi maju: akses kendaraan.


Tabel 6. Evaluasi tingkat kesesuaian kualitas lahan "vegetasi" untuk setiap
         LUT.


   No LUT                           Fase degradasi hutan alam:
            A    B     C     D      E     F     G      Ht tn
    1       S1   S2    S3    NS     NS    NS    NS     NS
    2       S1   S1    S2    S2     NS    S3    S3     NS
    3       S    S     S     S      S     S     S      NS
    4            NS    S     S      S     NS    S      S     NS
    5     NS           S     S      NS    NS    S      S     NS
    6     
    7      |
    8      |
    9      |
    10     |---- n.r
    11     |
    12    
    13    S      S      S      S  NS    S     S      S
Keterangan: S = umumnya sesuai; S1 = sangat sesuai; S2 = sesuai; S3 =
hampir sesuai; n.r = tdk relevan.
                                     23



Tabel 7. Evaluasi kesesuaian karakteristik lahan "slope" untuk setiap LUT

  No LUT                                   Kelas Slope:
 Teknologi
                         <30%      30-50      50-70       70-100     >100
   1       n.r
   2       n.r
   3                       NS         S3         S2         S2        S1
   4     Tradisional        S1        S1         S2         S3        NS
        Semi-               S1        S2         S3         NS        NS
  tradisional
        Maju                S1       NS          NS         Ns        NS
    5    Tradisional        S1        S1         S2         S3        NS
        Semi                S1        S2         S3         NS        NS
  tradisional
        Semi maju           S1        S2         NS         NS        NS
        Maju                S1       NS          NS         NS        NS
    6    Tradisional        S1        S1         S2         S3        NS
        Semi                S1        S2         S3         NS        NS
  tradisional
        Semi maju           S1        S2         NS         NS        NS
    7    Semi               S1        S2         S3         NS        NS
  tradisional
        Semi maju           S1        S2         NS         NS        NS
    8                       S1        S1         S2         S3        NS
    9                       S1        S1         S2         S3        NS
   10                       S1        S1         S2         S3        NS
   11                       S1        S2         S3         NS        NS
   12                       S3        S3         S2         S2        S1
   13                       S1        S2         S2         S3        NS
Keterangan: n.r. = tidak relevan; NS = tidak sesuai; S1 = sangat sesuai; S2 =
sesuai; S3 = hampir sesuai.


       4. Evaluasi Lahan Untuk Penggunaan Non Pertanian

       4.1. Evaluasi Lahan untuk Daerah Wisata/Rekreasi

       4.1.1. Lapangan tempat bermain (play ground)
       Tempat bermain dalam hal ini adalah tanah lapang yang dapat
digunakan untuk bermain sepakbola, bola voli, badminton, baseball, dan
olah raga permainan lainnya. Dengan demikian permukaan lahan akan
terus diinjak-injak oleh para pemain dan penonton. Oleh karena itu dierlukan
daerah yang datar, drainasenya baik, mempunyai tekstur dan konsistensi
yang mampu mendukung permukaan tanah menjadi teguh, juga tidak
berbatu. Kriteria evaluasi disajikan dalam Tabel 4.8.
                                         24



       Tabel 8. Kriteria evaluasi kesesuaian lahan untuk tempat bermain

 Sifat Tanah                 Kelas kesesuaian dan faktor penghambat
                           Baik              Sedang                Buruk
 Drainase             Cepat, agak        Agak baik dan          Agak jelek,
 tanah                 cepat, baik         agak jelek,      jelek, sngat jelek-
                                                              dan agak baik
                     Air tanah lebih     Air tanah lebih     Air tanah kurang
                        dari 75cm           dari 50cm               50cm
 Bahaya banjir        Tidak pernah        Sekali dalam           Lebih satu
                                           dua tahun        kali dlm 2 tahun.
 Prmeabilitas        Sgat cepat, sdg    Agk lambat, lmbt     Sangat lambat-
 Kemiringan               0-2%                 2-6%                 > 6%
 Tekstur tanah         lp,lph,lpsh             lli,llip,           lip, lid,
 permukaan*)               l, ld               llid, pl       li,p,pl,tnh org.
 Dalamnya               > 100 cm              50-100              < 50 cm
 batuan
 Kerikil dan
 kra-
 kal (0.2-25cm)           0%                    < 20%                  > 20%
 Batu ( > 25               0                   0.01-3%                 > 3%
 cm)
 Batuan                    0                 0.01-0.1%                > 0.1%
Keterangan: *) lp = lempung berpasir; lph = lempung berpasir halus; lpsh =
lempung berpasir sangat halus; l = lempung; ld = lempung berdebu; lli =
lempung liat; llip = lempung liat berpasir; llid = lempung liat berdebu; pl =
pasir berlempung; lip = liat berpasir; lid = liat berdebu; li = liat; p = pasir; pl =
pasir berlempung.

        4.1.2. Lahan tempat berkemah (camping ground)
        Tempat berkemah adalah tempat untuk menginap dengan meng-
gunakan tenda, beserta kendaraan kemah dan segenap aktivitas di luar
perkemahan "(outdoor living)". Dalam kondisi seperti ini tanah harus dapat
dilewati berulang-kali oleh manusia atau secara terbatas oleh kendaraan.
Kriteria evaluasinya disajikan dalam Tabel 9.
                                       25



       Tabel 9. Kriteria evaluasi untuk tempat berkemah

 Sifat tanah                            Kesesuaian lahan

                           Baik                Sedang              Buruk
 Drainase*)            c, ac,b,ab                ab, aj.          aj, j, sj.
                      Air tanah le-          Air tanah le-     Air tanah ku
                     bih dari 75cm          bih dari 50cm       rang 50cm
 Banjir                  Tanpa              Tanpa dalam        Banjir dalam
                     musim kemah            musim kemah
 Permeabilitas       Sangat cepat,          Agak lambat,        Sangat lam-
                         sedang                 lambat              Bat
 Kemiringan                0-8%                  8-15%            > 15%
 Tekstur tanah         lp,lph,lpsh                lli,llip,       lip,lid,
 permukaan                  l, ld              llid, pl, p      pasir lepas
                      (bukan pasir           (mudah ter-
                          lepas)            bang,organik
 Kerikil dan             0-20%                 20-50%             > 50%
 kerakal
 Batu                     0-0.1%             0.1 - 3%             > 3%
 Batuan                    0.01              0.01-0.1            > 0.1%
*) c = cepat; ac = agak cepat; b = baik; ab = agak baik; aj = agak jelek; j =
jelek; sj = sangat jelek.


       4.1.3. Daerah untuk piknik
       Daerah untuk piknik adalah daerah semacam taman yang secara
intensif digunakan untuk berpiknik. Kendaraan yang melewati jalan- jalan
dalam taman tersebut dibatasi inten-sitasnya. Kriteria untuk evaluasi
kesesuaian lahannya disajikan dalam Tabel 10.

        4.1.4. Jalan setapak (paths dan trails)
        Jalan setapak yang dimaksud adalah jalan setapak yang sering
digunakan untuk lintas alam (cross country). Daerah ini akan digunakan
sebagai jalan setapak seperti dalam keadaan aslinya dan tidak ada
pemindahan material tanah, baik dengan penggalian maupun penimbunan.
Kriteria evaluasi kesesuaian lahan disajikan dalam Tabel 11.
                                     26



      Tabel 10. Kriteria evaluasi lahan untuk daerah piknik

 Sifat tanah                         Kesesuaian lahan:
                       Baik               Sedang                     Buruk
Drainase           c, ac, b, ab.       ab, aj. Muka               j, sj. Muka
                  Muka air tanah        air tanah ku             air tanah ku-
                     > 50 cm            rang 50 cm            rang 50 cm hingga
                                                                 permukaan
Banjir               Tanpa               Banjir 1-2 ka-           Banjir lebih
                                      li selama musim             2 kali sela-
                                                piknik             ma piknik
Kemiringan           0-8%                      8-15%                 > 15%
Tekstur          lp,lph,lpsh,            lli,llip, llid,pl,         lip,lid,li,
tanah
permukaan             l, ld           p, (tidak lepas)        p(lepas), organik
Kerikil/kerak       0-20%                 20-50%                       > 50%
al
Batu                 0-3%                   3 -15                  > 15%
Batuan             0-0.1%                  0.1-3%                  > 3%
      Sumber: USDA, 1971


      Tabel 11. Kesesuaian lahan untuk jalan setapak

Sifat tanah                          Kesesuaian Lahan:
                         Baik             Sedang                      Buruk
Drainase              c,sc,b,ab.        aj. Muka air               j,sj. Muka
                   Muka air tanah        tanah < 50            air tanah<50cm,
                   lebih dari 50cm                            sering dekat dngn
                                                                  permukaan
Banjir             Sekali setahun       2-3 kali atau                Lebih 3
                                      kurang setahun              kalisetahun
Kemiringan              0-15%             15-25%                       >25%
Tekstur tanah        lp,lph,lpsh,          llid,llip,                lip,lid,li,
permukaan                 l, ld              lli ,pl               p, organik
Kerikil/kerakal         0-20%             20-50%                      > 50%
Batu dan
Batuan                 0-0.1%                0.1-3%                    > 3%

      Sumber: USDA, 1971


      4.2. Kesesuaian Lahan untuk Gedung Tempat Tinggal
      Bangunan gedung tempat tinggal yang dimaksud di sini adalah
bangunan gedung yang bebannya tidak lebih dari tiga lantai. Penentuan
kesesuaian lahannya didasarkan pada kemampuan tanah sebagai
                                      27



penopang pondasi bangunan (Tabel 12). Sifat lahan yang berpengaruh
adalah daya dukung tanah, dan sifat-sifat tanah yang berkaitan dengan
biaya penggalian dan konstruksi. Daya dukung tanah ditentukan oleh
kerapatan (density), tata air tanah (wetness), bahaya banjir, plastisitas dan
tekstur, potensi mengembang dan mengkerut. Sedangkan biaya penggalian
tanah untuk pondasi ditentukan oleh tata air tanah, kemiringan, kedalaman
tanah hingga ke hamparan batuan, dan keadaan batu di permukaan (USDA,
1971).

      Tabel 12. Kriteria kesesuaian untuk tempat tinggal

 Sifat tanah                        Kesesuaian lahan:
                          Baik            Sedang           Buruk
 Drainase                  Bangunan dengan ruang bawah tanah:
                       Baik hingga        Sedang        Agak buruk-
                       sangat baik                       terhambat
                                 Tanpa ruang bawah tanah:
                      Sedang hingga    Buruk hingga     Terhambat
                        Sngt cepat      Agak buruk

 Air tanah                       Dengan ruang bawah tanah:
 musiman
 ( > 1 bulan )           > 150 cm           > 75            < 75
                                 Tanpa ruang bawah tanah:
                         > 57 cm            > 50            < 50
 Banjir                   Tanpa            Tanpa       Jarang-sering
 Lereng                   0 - 8%          8 - 15%         > 15%
 Potensi                  Rendah          Sedang           Tinggi
 mengembang
 dan mengkerut
 Besar butir*)       GW,GP,SP,GM              ML, CL,       GC,SM,SC,CL
                                           CH,MG,OL,OH     dengan PI>= 15
                                           dengan PI<15
 Batu kecil           Tanpa-sedikit           Sedang  Agak banyak-
                                                      sangat banyak
 Batu besar               Tanpa          Sedikit        Sedang-sgt
                                                         banyak
 Dalamnya                       Tanpa ruang bawah tanah:
 hamparan
 batuan                  > 150 cm              100-150         <100 cm
                                    Dengan ruang bawah tanah:
                           > 100 cm               50-100       < 50 cm
*) LL = liquid limit; PI = indeks plastisitas; GW = gravel GP = gravel, SP =
        pasir; SM = pasir berlempung; CL = liat; ML = lempung; CH = liat
        berdebu; MG= lempung berdebu;
                                      28



       4.3. Kesesuaian Lahan Untuk Pembuatan Jalan
       Dalam bab ini yang dimaksud dengan Jalan adalah jalan yang terdiri
atas (i) tanah setempat yang telah diratakan (tebal penggalian atau
pengurugan tanah kurang dari 6 meter) dan disebut "subgrade"; (ii) lapisan
dasar (base) yang terdiri atas kerikil, batu pecahan, penstabil tanah dari
kapur atau semen; (iii) lapisan permukaan yang fleksibel (aspal) atau keras
(beton), atau kerikil yang direkatkan seperti di pedesaan. Jalan ini dilengkapi
dengan saluran drainase di kedua sisinya.
       Sifat-sifat tanah yang dipertimbangkan dalam perencanaan dan
pembuatan jalan adalah kekuatan tanah, stabilitas tanah dan jumlah tanah
galian-urugan yang tersedia (USDA, 1971). Kriteria evaluasi kesesuaian
lahan disajikan dalam Tabel 13.

Tabel 13. Kriteria evaluasi lahan untuk pembangunan jalan

 Sifat tanah                         Kesesuaian lahan

                        Baik                 Sedang              Buruk
 Drainase            c, ac,b,ab                  aj               j, sj
 Banjir                Tanpa               kung dari se        Lebih dari
                                           kali dlm 5 th         sekali
 Lereng                0-8%                   8-15%              >15%
 Dalamnya             >100 cm                50-100               <50
 hampar-
 an batuan
 Subgrade:
 Indeks                  0-4                   5-8                 >8
 AASHO
 Unified          GW,GP,SW,SP,          GM,GC,SM,            >= 15,CH,MH
                   CL dengan PI        SC < 15 , CL            OH,OL,Pt
                                          dgn PI
 Potensi          Rendah                 Sedang                  Tinggi
 mengem-
 bang-
 mengkerut
 Batu               0-3%                      3-15%             > 15%
 Batuan           0-0.01%                   0.01-0.1%           > 0.1%
 besar
      Sumber: USDA, 1971


      4.4. Kesesuaian Lahan untuk Tempat Penimbunan Sampah
             (berbentuk galian).

       Tempat penimbunan sampah berbentuk galian merupakan suatu
galian untuk menimbun sampah setiap hari, kemudian ditutupi dengan
lapisan tanah setebal kira-kira 15 cm. Bahan tanah penutup diperoleh dari
                                    29



tanah bekas galian tersebut.       Setelah galian tanah penuh sampah,
permukaan ditutup dengan lapisan tanah setebal sekitar 60 cm. Kesesuaian
suatu bidang tanah untuk tempat penimbunan sampah dipengaruhi oleh tata
air tanah (drainase tanah, kedalaman permukaan air bumi , dan
permeabilitas tanah), lereng, tekstur, kedalaman hamparan batuan, dan
jumlah batu di permukaan tanah (USDA, 1971). Kemungkinan terjadi
pencemaran terhadap air bumi oleh tempat penimbunan sampah dapat
ditunjukkan oleh kedalaman muka air bumi dan permeabilitas tanah. Air
bumi akan tercemar apabila dekat dengan dasar galian penimbunan sampah
dan apabila tanahnya permeabel. Untuk mencegah pencemaran terhadap
air bumi pada tanah yang sarang (permeabel), dasar dan dinding galian
harus dipadatkan. Kriteria evaluasinya disajikan dalam Tabel 14.


Tabel 14.     Kriteria kesesuaian tempat penimbunan sampah berbentuk
              galian

Sifat tanah                          Kesesuaian lahan
                        Baik             Sedang                Buruk
Dalamnya air
bumi musiman         >= 180 cm               >= 180            < 180
(g)

Drainase (d)          c,ac,b,ab               aj,ab             j, sj
Ancaman banjir         Tanpa                 Jarang            Sering
(f)
Permeabilitas       <= 5 cm/jam               <= 5              >5
(p)

Lereng (s)             0-15%                 15-25%            > 25%

Tekstur hingga    Lmpung berpasir         Lempung liat      Liat,gambut
ke-
dalaman 150       lempung, lmpng         berdebu, lmpung     kerikil,liat
cm (t)            berdebu, lmpung             berliat       berdebu, liat
                    liat berpasir                          berpasir, pasir
                                                            berlempung

Dalamnya               >= 180              >= 180 cm           < 180
hamparan
batuan (i)

Batu (sb)            0-0.1%                  0.1-3%            > 3%
Batu besar (sr)      0-0.01%                0-0.01%           > 0.01%
      Sumber: USDA, 1971
                                       30



       4.5. Kesesuaian Lahan untuk Tempat Pembuangan Sampah
Terbuka
       Sampah dibuang di atas permukaan tanah. Material tanah yang
digunakan untuk menutup tempat sampah, yang dilakukan setiap hari atau
setelah smapah penuh dida-tangkan dari tempat lain. Kriteria evaluasi
kesesuaian lahan disajikan dalam Tabel 15.

Tabel 15.      Kriteria evaluasi kesesuaian lahan untuk tempat pembuangan
               sampah secara terbuka

 Sifat tanah                                Kesesuaian lahan:
                              Baik               Sedang           Buruk
 Kedalaman                  > 150 cm            100-150           < 100
 groundwater
 Drainase tanah         c,ac,b,ab                   aj             j, sj
 Banjir                  Tanpa                   Jarang           Sering
 Permeabilitas         < 5 cm/jam              < 5 cm/jam          >5
 Lereng                   0-8%                    8-15             > 15
      Sumber: USDA, 1971


      Tabel 16. Kriteria kesesuaian lahan untuk septic-tank

 Sifat tanah                            Kesesuaian lahan
                           Baik              Sedang               Buruk
 Permeabilitas          Cepat,agak          Peralihan              Agak
                       cepat-sedang         sedang -          lambat,lambat
                                          agak lambat         agk cepat- sdg
 Konduktivitas         > 25 mm/jam            15-25                < 15
 hidraulik
 Perkolasi            < 18 menit/cm             18-24             > 24
 Dalamnya air           > 180 cm               120-180            < 120
 bumi
 Banjir                Tidak pernah            Jarang       Kadang-kadang
                                                              atau sering
 Lereng                    0-8%                 8-15             > 15
 Dalamnya
 lapisan
 kedap air,              >180 cm               120-180            <120
 batuan
 Banyaknya batu          Tanpa -               Sedang       Agak banyak -
 kecil                   Sedikit                            Sangat banyak
 Batu besar               Tanpa                Sedikit      Sedang-sangat
                                                               banyak

      Sumber: USDA, 1971
                                   31



      4.4.6. Kesesuaian lahan untuk Septic-tank
      Penentuan kelas kesesuaian didasarkan atas kemampuan tanah
untuk menyerap aliran dari septic-tank. Kemampuan tanah ini ditentukan
oleh permeabilitas, tinggi muka air bumi, dalamnya tanah hingga hamparan
batuan, perkolasi tanah, bahaya banjir, lereng dan keadaan batu di
permukaan. Kriteria evaluasi kesesuaian lahan disajikan dalam Tabel 16.

      Penentuan kelas kesesuaian didasarkan atas kemampuan tanah
untuk menyerap aliran dari "septic-tank". Kemampuan tanah ini ditentukan
oleh permeabilitas, tinggi muka air bumi, dalamnya tanah hingga hamparan
batuan, perkolasi tanah, bahaya banjir, lereng dan keadaan batu di
permukaan.

								
To top