mucocele di rongga mulut by justsharedoc

VIEWS: 819 PAGES: 5

More Info
									                                  MUCOCELE


I. Definisi Mucocele
       Mucocele adalah sebuah pembengkakan jaringan ikat dalam mulut yang
terjadi karena adanya trauma pada kelenjar saliva atau penyumbatan saluran kelenjar
saliva minor, sehingga menyebabkan pecahnya saluran kelenjar saliva dan
menyebabkan keluarnya mucin ke jaringan lunak di sekitarnya. Mucocele
dikalasifikasikan menjadi 2 tipe yaitu tipe extravasasi dan tipe retensi. Mucocele
berbeda dengan kista karena tidak dibatasi oleh sel epitel. Paling sering terjadi pada
bibir bawah (60-80% pada seluruh kasus), daerah lain seperti pipi, ventral lidah, dasar
mulut dan ventral area. Mucocele jarang terjadi pada bibir atas, palatum (langit-langit)
lunak. Mucocele biasanya tampak berwarna kebiru-biruan dan sering ditemukan pada
anak-anak dan dewasa muda




       Kelenjar dalam mulut banyak yang menghasilkan saliva. Saliva tesebut
mengandung air, lendir, dan enzim. Saliva dikeluarkan dari kelenjar saliva melalui
saluran kecil yang disebut duct (pembuluh). Terkadang salah satu saluran ini
terpotong. Saliva kemudian mengumpul pada titik yang terpotong itu dan
menyebabkan pembengkakan, atau mucocele.
II. Penyebab
       Mucocele ekstravasasi disebabkan oleh adanya trauma pada duktus ekskretoris
kelenjar saliva minor sehingga terjadi ruptur pada duktus kelenjar saliva minor
sehingga terjadi ekstravasasi / pengeluaran mukous dan akumulasi saliva ke jaringan
submukous di sekitarnya dan terjadi reaksi inflamasi yang kemudian menimbulkan
pembengkakan. Trauma yang terjadi biasanya pada bibir yang sering tergigit pada
saat sedang makan dan sering pada bibir bawah. Mucocele tipe ekstravasasi lebih
banyak dijumpai daripada tipe retensi.
       Mucocele tipe retensi disebabkan oleh sumbatan saluran kelenjar saliva minor
oleh kalkuli/ sialolitiasis, kontraksi jaringan parut di sekitar cedera saluran kelenjar
saliva minor dan tumor invasif. Penyumbatan saluran kelenjar saliva menyebabkan
aliran saliva menjadi rendah sehingga dalam waktu lama terjadi akumulasi saliva dan
pelebaran duktus sehingga menimbulkan pembengkakan.


III. Gejala Klinis
       Mucocele biasanya tidak menimbulkan rasa nyeri. Namun, mucocele dapat
menjadi cukup mengganggu. Dimana mucosel ini akan dapat terlihat ketika makan
maupun berbicara. Mucocele kecil dan berdinding tipis suatu saat ini dapat pecah
sehingga akan melepaskan cairan yang berwarna kekuning-kuningan. Sementara jika
berdinding tebal akan dapat bertahan lebih lama. Hal ini dapat menyebabkan
gangguan emosional.

IV. Gambaran Klinis

       Mucocele sering diartikan dengan kista namun sebenarnya keduanya berbeda.
Mucocele merupakan lesi yang berisi cairan yang dilapisi oleh jaringan ikat atau
jaringan granulasi sedangkan kista dilapisi oleh jaringan epitel. Mucocele extravasasi
biasanya sering pada bibir bawah yang diakibatkan oleh trauma. Selain itu dapat juga
terjadi pada pipi, lidah, dasar mulut, retromolar pad. Sedangkan mucocele tipe retensi
lebih sering dijumpai pada palatum dan dasar mulut.
       Pembengkakan yang berbentuk kubah, dengan diameter 1-2 mm hingga lebih.
Mucocele paling sering terjadi pada anak-anak dan orang dewasa muda, namun dapat
terjadi di segala usia termasuk bayi yang baru lahir dan orang lansia. Mucocele dapat
hilang timbul yang kadang-kadang pecah sehingga cairannya keluar. Permukaan
mukosa dapat terlihat kebiruan dan translusen. Ciri khas lesi ini adalah lunak namun
pada beberapa kasus mucocele dapat terasa keras saat dipalpasi.


V. Diagnosa Banding
       Diagnosa banding mucocele yaitu neoplasma kelenjar saliva, neoplasma
jaringan lunak, malformasi vaskular, lesi vesikubulosa.

VI. Gambaran Histologis

       Secara histologis, gambaran mucocele jika dilihat dengan mikroskop dengan
pandangan melintang akan tampak jaringan granulasi / jaringan lunak yang dikelilingi
musin. Pada awal terjadinya inflamasi, biasanya akan tampak neutrofil dan histiosit.

VII. Diagnosa
       Penegakan diagnosa yang tepat dilakukan melalui anamnesa dan pemeriksaan
fisik yang adekuat. Anamnesa dilakukan untuk mengetahui apakah pasien pernah
mengalami riwayat trauma di daerah lesi. Mungkin si pasien memiliki kebiasaan
menggigit bibir atau terkena trauma oleh benda lain atau sering meletakkan beberapa
obat sehingga mempengaruhi kelenjar saliva dengan menekan aktivitas          kelenjar
saliva dan menyebabkan mucocele. Mucocele terjadi hanya di mana daerah yang
memiliki kelenjar saliva minor. Beberapa mucoceles tampak berwarna biru.
       Dokter gigi mungkin perlu mengambil jaringan yang bengkak untuk dikirim
ke laboratorium. Laboratorium menentukan apakah jaringan tersebut adalah mucocele
atau jaringan yang mengarah keganasan. Dalam kasus tertentu, penegakan diagnosis
memerlukan radiografi, ultrasonografi atau alat bantu diagnostik canggih seperti
Computed Tomography (CT) dan Magnetik Resonance Imaging (MRI).


VII. Pencegahan
       Mucocele adalah penyakit yang umum terjadi. Trauma adalah penyebab
utama. Pencegahan dilakukan dengan menghentikan kebiasaan menggigit bibir.

IX. Perawatan

       Mucocele adalah lesi yang tidak berumur panjang, bervariasi dari beberapa
hari hingga beberapa minggu, dan dapat hilang dengan sendirinya. Namun banyak
juga lesi yang sifatnya kronik dan membutuhkan pembedahan eksisi. Pada saat
dieksisi, dokter gigi sebaiknya mengangkat semua kelenjar saliva minor yang terlibat
dan yang berdekatan untuk mencegah rekurensi dan dilakukan pemeriksaan
mikroskopis untuk menegaskan diagnosa dan menentukan apakah ada kemungkinan
tumor kelenjar saliva. Tindakan pembedahan eksisi memiliki kelemahan karena dapat
memberikan trauma baru pada duktus kelenjar saliva minor sehingga memungkinkan
terjadi mucocele yang baru, jaringan parut dan menimbulkan ketidaknyaman. Selain
tindakan pembedahan, mucocele juga dapat diangkat dengan laser, electrosurgery,
cryosurgery, medication (gamma-linolenic acid [GLA], micromarsupialization, dan
“watchful waiting” jika tidak menimbulkan masalah pada pasien. Perawatan dengan
alat laser lebih memuaskan karena menimbulkan kerusakan jaringan yang minimal
terutama pada lapisan otot dibawahnya, tidak menimbulkan pendarahan maupun
jaringan parut.

X. Prognosa

Prognosa penyakit ini cukup baik sepanjang perawatan penyakit ini dapat dilakukan
dengan adekuat dan tepat.

								
To top