Docstoc

tarian jepang

Document Sample
tarian jepang Powered By Docstoc
					                         tarian jepang/japan dance

Tari Awa


Tari Awa (阿波踊り Awa Odori?) adalah tari asal Provinsi Awa (Prefektur Tokushima), Jepang
yang ditarikan secara beramai-ramai di berbagai kota dan desa di Prefektur Tokushima untuk
menyambut perayaan Obon. Setiap tahun tanggal 12-15 Agustus, tari Awa dilangsungkan di
tengah kota Tokushima.
Penari Awa menari dalam kelompok-kelompok yang disebut ren sambil berpawai di jalan-jalan.
Satu kelompok penari bisa terdiri dari lusinan penari. Tari Awa adalah sejenis Bon Odori. Penari
wanita menari dengan posisi tubuh tegak dan tangan yang digerak-gerakkan di atas kepala. Pria
menari dengan pinggul direndahkan, serta gerakan tangan dan kaki yang dinamis.
Musik pengiring menggunakan alat musik yang terdiri dari shamisen, perkusi (taiko dan
tsuzumi), genta (kane), dan flute (yokobue). Lagu yang dimainkan adalah lagu populer dari
zaman Edo yang berjudul "Yoshikono". Liriknya berupa ajakan kepada penonton untuk turut
menari, "Erai yatcha, erai yatcha, yoi yoi yoi yoi, odoru ahō ni miru ahō, onaji ahō nara
odorana son son." Lagu "Yoshikono" hanya digunakan untuk mengiringi kelompok tari Awa
yang terkenal, sedangkan kelompok tari Awa yang lain menari dengan diiringi seruan "Yatto sā
Yatto saā".
Selain dipertunjukkan di Prefektur Tokushima, kelompok tari Awa asal Tokushima sering
berkeliling di kota-kota besar di Jepang (khususnya di wilayah Kanto). Di distrik Suginami-ku,
Tokyo, tari Awa diselenggarakan kuil Kōenji bersama pusat perbelanjaan di dekatnya.



Asal-usul


Festival tari Awa sudah diselenggarakan sejak 400 tahun yang lalu, dan merupakan salah satu
dari 3 matsuri terbesar di Shikoku. Tari Awa sering dikatakan berasal dari gerakan tari disertai
pengucapan doa agama Buddha. Penjelasan lain mengatakan bahwa penguasa Istana Tokushima
yang bernama Hachisuka Iemasa memerintahkan penduduk Tokushima untuk menari beramai-
ramai setelah istana selesai dibangun. Menurut cerita yang lain, tari Awa mulai ditarikan orang
sejak Tokushima dijadikan wilayah administrasi (han) tersendiri.

  Kelompok tari

Di Prefektur Tokushima terdapat lebih dari 1.000 kelompok tari Awa (ren), dan sekitar 350
kelompok di antaranya dimiliki perusahaan atau pengusaha. Kelompok tari yang sudah mapan
biasanya menjadi
anggota Asosiasi Promosi Tari Awa (Awa Odori Shinkō Kyōkai) atau Asosiasi Tari Awa
Prefektur Tokushima (Tokushima-ken Awa Odori Kyōkai).
Selain itu, di Tokushima terdapat banyak kelompok kecil yang beranggotakan orang yang
memang berminat menari, klub ekstrakurikuler mahasiswa, atau grup tari yang disponsori
perusahaan atau pusat perbelanjaan. Pada tahun 2006, festival tari Awa di kota Tokushima
diikuti oleh 960 kelompok tari. Ditambah dengan penonton yang ikut menari, orang yang menari
di jalan-jalan kota Tokushima diperkirakan berjumlah di atas 100 ribu orang.

  Kostum tari

                            Penari wanita

      Penari wanita mengenakan yukata dan topi anyaman (amigasa) yang hampir menutupi
       wajah bagian atas. Alas kaki yang digunakan adalah sandal dari kayu yang disebut geta.
      Pada gerakan tari untuk wanita, kaki dan tangan digerakkan secara anggun.
      Berlainan dengan yukata yang dikenakan sehari-hari, penari Awa mengenakan yukata
       berikut pakaian dalam (juban), rok dalam (susoyoke), dan penutup lengan yang disebut
       tekko.

                              Penari pria

Tari yang dibawakan penari pria yang mengenakan setelan happi (hanten) dengan celana pendek
disebut Hanten Odori (tari hanten). Pria bisa juga mengenakan yukata dengan kain yukata di
bagian kaki diangkat ke bagian pinggang, sehingga celana pendek yang dikenakan terlihat. Bila
mengenakan yukata, maka tarian tersebut disebut Yukata Odori (tari Yukata).
      Anak perempuan sering memakai kostum penari laki-laki, dan menarikan gerakan tari
       Awa untuk pria. Sebaliknya, pria tidak menarikan gerakan tari Awa untuk wanita.
      Pada gerakan tari untuk pria, tangan dan kaki bergerak dengan bebas dan dinamis.
      Penari sering pria menggunakan uchiwa (kipas bundar) dan tenugui (saputangan panjang)
       sebagai perlengkapan menari.

 Jongmyo Jerye

  Tarian

Tari Ilmu atau Tarian Baris
Tarian yang dipentaskan dalam Upacara Agung Jongmyo dinamakan Ilmu atau "Tari Baris".[19]
Tarian ini ditarikan dengan berbaris oleh kelompok penari berjumlah 64 orang dengan iringan
musik pada saat berlangsungnya prosedur upacara di dalam kuil.[19] Dinasti Goryeo mengadopsi
tari ini dari Cina, yang formasinya terdiri dari 64 orang penari, masing-masing penari
membentuk 8 baris, sehingga disebut juga Palilmu (Tari Delapan Baris).[13] Pada masa
pemerintahan Raja Sejong, Ilmu ditarikan di perayaan-perayaan istana dan pada masa
pemerintahan Raja Sejo, tari ini mulai dipentaskan dalam ritual Upacara Jongmyo.[13]

Konsep tarian ini merupakan gabungan daripada dua buah energi, yin dan yang, yang
dilambangkan dengan 2 buah kelompok penari, Munmu dan Mumu..Munmu yang disebut juga
Botaepyeong-ji-mu berarti tarian Ilmu yang merepresentasikan pencapaian dan prestasi raja yang
telah mensejahterakan rakyatnya, sementara Mumu atau Jeongdae-eop-ji-mu merupakan tarian
yang melambangkan keagungan dan kecakapan armada militer raja.

  Kyōgen

Kyōgen bisa berarti:

   1. Teater humor tradisional Jepang yang merupakan perkembangan unsur humor
       pertunjukan Sarugaku. Kyōgen dan Noh merupakan seni tradisional Jepang yang sama-
       sama berakar dari Sarugaku. Sejak zaman Meiji, istilah Nōgaku atau Nohgaku sering
       digunakan untuk menyebut Noh dan Kyōgen.
   2. Salah satu jenis pertunjukan Kabuki yang disebut Kabuki-kyōgen atau cukup disebut
       Kyōgen.

   Noh adalah teater musikal dengan menggunakan topeng yang disebut omote dalam istilah
noh. Dalam noh, abstraksi dan simbolisme diekspresikan secara kuat melalui unsur gerak tari,
dengan sebagian besar cerita yang bertemakan tragedi. Sebaliknya, sebagian besar peran dalam
kyōgen tidak diperankan memakai topeng. Kyōgen mengembangkan lebih lanjut unsur-unsur
komedi dan seni meniru gerak-gerik (pantomim) yang ada pada Sarugaku, termasuk naskah
dialog dan penggambaran karakter secara realistik. Sebagian besar cerita yang dipentaskan dalam
kyōgen adalah cerita satir, cerita yang menertawakan kegagalan, dan cerita humor.

  Asal-usul

Kyōgen berasal dari "kyōgen-kigo" (kyōgen-kigyo) yang merupakan istilah agama Buddha untuk
kata berbunga-bunga atau cerita yang tidak masuk akal. Istilah kyōgen-kigyo sering dipakai
kritikus sastra sewaktu mengkritik cerita roman dan puisi. Istilah ini kemudian digunakan untuk
salah satu unsur Sarugaku berupa pertunjukan monomane (seni meniru gerak-gerik dan cara
berbicara secara humor). Sejalan dengan perkembangan Sarugaku, istilah "kyōgen" akhirnya
dipakai untuk sebagai sebutan untuk teater humor pada pementasan Noh.
Dalam konteks sehari-hari, istilah "kyōgen" dalam bahasa Jepang bisa berarti tindakan untuk
menipu orang lain (orang yang pura-pura dirampok disebut kyōgen-gōtō), berbohong atau
bercanda, atau tarian yang memancing tawa.

  Nama peran

Sama halnya seperti Noh, peran utama dalam kyōgen disebut Shite. Peran pembantu disebut
Ado, berbeda dengan Noh yang menyebutnya sebagai Waki. Jika ada lebih dari 2 peran Ado,
maka peran tersebut disebut Ado 1 dan Ado 2. Selain itu, istilah Ado hanya digunakan untuk
peran pembantu yang paling menonjol, sedangkan selebihnya disebut Tsukgi-ado (sebutan
menurut aliran Ōkura) atau Ko-ado (sebutan menurut aliran Izumi). Peran pembantu yang naik
ke panggung secara berkelompok disebut Tachishū, sedangkan pimpinan kelompok peran
pembantu disebut Tachigashira. Sebutan untuk peran seperti disebut di atas sebenarnya kurang
jarang dipakai, kyōgen lebih mengenal sebutan untuk karakter yang tampil dalam cerita,
misalnya: Shu atau Teishu (majikan), Tarōkaja (pesuruh laki-laki), atau Suppa (peran penjahat).

 Jenis

Secara garis besar, kyōgen dikelompokkan menjadi 3 jenis:

        Betsu-kyōgen

Penampilan aktor kyōgen yang memainkan karakter Sanbasō dalam pementasan cerita noh yang
berjudul Okina .

        Hon-kyōgen

Pementasan kyōgen secara tunggal dan bukan merupakan bagian pertunjukan noh, kalau disebut
kyōgen biasanya mengacu pada hon-kyōgen.

        Ai-kyōgen

Kyōgen yang dipentaskan sebagai bagian pertunjukan Noh.
Hon-kyōgen masih dikelompokkan menjadi beberapa jenis yang bisa berbeda-beda menurut
zaman dan aliran. Di tahun 1792, Ōkura Torahirobon mengelompokkan hon-kyōgen menjadi:

        Waki-kyōgen adalah cerita bertemakan kebahagiaan dan keberuntungan.

        Daimyō-kyōgen adalah cerita bertemakan tuan dan majikan, daimyō menjadi peran
         utama dalam cerita.

        Shōmyō-kyōgen adalah cerita bertemakan tuan dan majikan, pesuruh laki-laki yang
         disebut tarōkaja menjadi peran utama.

        Mukojo-kyōgen (聟女狂言?, kyōgen wanita dan menantu pria)
Cerita tentang menantu pria sebagai peran utama yang menumpang di rumah mertua, atau cerita
humor kehidupan sehari-hari seperti istri yang mengakali suami atau suami yang tidak bisa
diandalkan.

        Oniyamabushi-kyōgen (鬼山伏狂言?, kyōgen jin dan pertapa)


Cerita dengan raja kematian Yamarāja atau jin (oni) sebagai peran utama (termasuk cerita jin
yang menyamar jadi manusia), dan Yamabushi (pertapa yang berasal dari gunung) sebagai peran
utama.

        Shukkezatō-kyōgen (出家座頭狂言?)


Cerita dengan peran utama pendeta, pendeta baru, atau zatō (tunanetra pengembara yang
berpakaian mirip pendeta).

        Atsume-kyōgen (集狂言?, kyōgen serbaneka)


Cerita dengan tema yang tidak termasuk ke dalam hon-kyōgen yang lain.

  Aliran

Sesuai dengan tradisi Iemoto, kyōgen sejak zaman Edo terbagi menjadi tiga aliran utama: aliran
Ōkura, aliran Izumi, dan aliran Sagi. Sekarang hanya tinggal 2 aliran kyōgen yang tersisa, aliran
Ōkura dan aliran Izumi. Di paruh kedua zaman Muromachi hingga awal zaman Edo juga
terdapat aliran Nanto-negi yang berintikan seniman kalangan Jin-nin (Jinin). Pada waktu itu,
sebagian besar kuil Shinto memiliki kelompok Sarugaku dan menggaji orang yang disebut Jinin
untuk bekerja sebagai seniman sekaligus pesuruh. Menurut catatan sejarah, aliran Nanto-negi
tercatat sangat populer di zaman Muromachi, tapi ketenarannya mulai memudar di awal zaman
Edo sampai akhirnya terserap ke dalam aliran yang besar. Berbagai aliran kecil yang tidak
terkenal juga ikut punah, dan hanya meninggalkan naskah kyōgen yang sebagian sempat
diterbitkan sebagai buku bacaan di zaman Edo.

  Aliran Ōkura
Aliran Ōkura merupakan satu-satunya aliran penerus tradisi Sarugaku Yamato. Keluarga Ōkura
Yaemon Tora Akira yang pentas secara turun temurun di gedung teater Komparu-za mendirikan
aliran ini di paruh kedua zaman Muromachi.
Sekarang aliran Ōkura terdiri dari keluarga Yamamoto Tōjirō (berpusat di Tokyo), keluarga
Ōkura Yatarō (garis keturunan utama), keluarga Shigeyama Sengorō (berpusat di Kyoto), dan
keluarga Shigeyama Chūzaburō (berpusat di Kyoto), kelompok Zenchiku Chūichirō (berpusat di
Osaka dan Kobe), dan Zenchiku Jūrō yang berpusat di Tokyo.

  Aliran Izumi

Aliran Izumi didirikan Yamawaki Izumo no Kami Motonori asal Kyoto di awal zaman Edo.
Sekarang aliran Izumi terdiri dari tiga percabangan keluarga: keluarga Nomura Matasaburō
(berpusat di Nagoya, disebut juga faksi Nomura), keluarga Nomora Manzō (berpusat di Tokyo,
disebut juga faksi Miyake), dan Kyōgenkyōdōsha (berpusat di Nagoya, disebut faksi Nagoya).
   Nihon buyō
     Nihon buyō (日本舞踊?, tari Jepang) adalah terjemahan bahasa Jepang untuk istilah
bahasa Inggris Japanese dance. Istilah "buyō" pertama kali diperkenalkan oleh budayawan
Tsubouchi Shōyō dan Fukuchi Genichirō yang yang mengacu pada dua kelompok besar tari
klasik Jepang: mai (舞?) dan odori (踊?).
Mai adalah menari diiringi nyanyian atau musik tradisional dengan seluruh bagian telapak kaki
yang tidak pernah diangkat melainkan diseret-seret (suriashi), walaupun kadang-kadang ada juga
gerakan menghentakkan kaki. Gerakan tari bisa dilakukan dengan berputar di dalam ruang gerak
yang sempit atau seluruh panggung sebagai ruang gerak. Jenis-jenis tari yang tergolong ke dalam
Mai: Kagura, Bugaku, Shirabyōshi, Kusemai, Kōwakamai, Noh (Nōgaku), Jiutamai.
Odori adalah menari diiringi nyanyian atau musik tradisional dengan kaki yang dapat bergerak
bebas disertai hentakan kaki untuk mengeluarkan suara, ditambah gerakan tangan yang
disesuaikan dengan ritme musik. Nenbutsu Odori dan Bon Odori merupakan contoh tari Jepang
yang disebut Odori.

   Aliran

Pada saat ini ada sekitar 200 aliran tari Jepang, dengan 5 aliran utama sebagai berikut:
      Hanayagi-ryū

Didirikan tahun 1849 oleh Hanayagi Jusuke yang berguru kepada Nishikawa Senzō IV.
Hanayagi Jusuke adalah seorang koreografer ternama untuk Kabuki-buyō (tari yang dilakukan
sewaktu pertunjukan Kabuki). Hanayagi-ryū merupakan aliran nihon buyō terbesar di Jepang
berdasarkan jumlah murid dan mempunyai Natori sebanyak 15.000 orang. Natori adalah sebutan
untuk penari senior yang lulus ujian, menerima "nama panggung" dari guru, dan kadang-kadang
diberi hak untuk mengajar.

      Fujima-ryū

Didirikan oleh Fujima Kanbē di sekitar tahun 1704-1710. Fujima Kanemon III mendirikan aliran
cabang yang disebut Matsumoto-ryū.

      Nishikawa-ryū

Dimulai sejak zaman Genroku oleh Nishikawa Senzō II. Aliran ini mempunyai sejarah lebih dari
300 tahun dan sekarang sudah mencapai generasi ke-10.

      Bando-ryū

Didirikan oleh seorang koreografer sekaligus aktor kabuki terkenal bernama Bando Mitsugoro
III, putra dari Bando Mitsugoro I.
   Onikenbai.
Tarian ini ditarikan dengan memakai topeng Oni (raksasa Jepang). Tarian ini identik dengan
gerakan menghentak tanah yang melambangkan Oni yang membantu manusia untuk mengusir
roh jahat di dalam tanah, agar panen dapat berhasil. Kemudian dilanjutkan dengan tarian
Nanazumai, yang berarti tarian tujuh kepala. Tarian ini melambangkan siklus pertanian yang
merupakan mata pencaharian pokok penduduk Jepang pada zaman dahulu. Tarian ini ditarikan
dengan membawa 7 alat yang berbeda, yang masing-masing menceritakan fase-fase dalam
pertanian.
   Arauma
Arauma adalah tarian tradisional Jepang
yang berasal dari Porpinsi Aomori, kota Okawadi. Tarian ini ditarikan
untuk melambangkan rasa syukur atas hasil pertanian dan rasa terima
kasih penduduk Okawadai kepada kuda-kuda. Arauma ditarikan berpasangan
oleh pria dan wanita. Pria menjai uma (kuda), sedangkan wanita menjadi haneto. Tarian ini
diiringi musik taiko (gendang), fue (seruling), dan chappa (simbal), dimana iring-iringan menari
berak-arakan sambil menerukan "Rassera~! Rassera~!"

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:335
posted:9/9/2012
language:Indonesian
pages:9