Docstoc

Keselamatan Kerja

Document Sample
Keselamatan Kerja Powered By Docstoc
					Indonesia Australia Partnership for Skills Development

Batam Institutional Development Project

Paket Pembelajaran dan Penilaian
Kode Unit : BSDC-0201

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
(Occupational Health and Safety)

( Desember 2001 )

Daftar Isi
BAB 1 PENGANTAR ......................................................................................................... 1 Selamat Berjumpa di Buku Pedoman ini !................................................................... 1 Persyaratan Minimal Kemampuan Membaca, Menulis & Berhitung ........................... 1 Definisi ........................................................................................................................ 1 Berapa Lama Mencapai Kompetensi ? ....................................................................... 2 Simbol ......................................................................................................................... 2 Terminologi ................................................................................................................. 2 BAB 2 ARAHAN BAGI PELATIH ...................................................................................... 5 Peran Pelatih............................................................................................................... 5 Strategi Penyajian ....................................................................................................... 5 Alat Bantu yang Dibutuhkan untuk Menyajikan Kompetensi Ini.................................. 5 Peraturan .................................................................................................................... 6 Sumber-sumber untuk Mendapatkan Informasi Tambahan ........................................ 6 BAB 3 STANDAR KOMPETENSI...................................................................................... 7 Judul Unit .................................................................................................................... 7 Deskripsi Unit .............................................................................................................. 7 Kemampuan Awal ....................................................................................................... 7 Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja ............................................................. 7 Variabel ....................................................................................................................... 8 Pengetahuan dan Keterampilan Pokok....................................................................... 9 Konteks Penilaian ....................................................................................................... 9 Aspek Penting Penilaian ............................................................................................. 9 Keterkaitan dengan Unit Lain.................................................................................... 10 Kompetensi Kunci yang akan Didemonstrasikan dalam Unit Ini ............................... 10 Tingkat Kemampuan yang Harus Ditunjukkan dalam Menguasai Kompetensi ini .... 10 BAB 4 A B C STRATEGI PENYAJIAN ...................................................................................... 11 Rencana Materi ................................................................................................. 11 Cara Mengajarkan Standar Kompetensi............................................................ 13 Materi Pendukung untuk Pelatih........................................................................ 21 Lembar Informasi........................................................................................... 22 Tugas............................................................................................................. 64 Transparansi.................................................................................................. 76 BAB 5 CARA MENILAI UNIT INI ...................................................................................... 95 Apa yang Dimaksud dengan Penilaian ? .................................................................. 95 Apa yang Dimaksud dengan Kompeten?.................................................................. 95 Pengakuan Kompetensi yang Dimiliki ....................................................................... 95 Kualifikasi Penilai ...................................................................................................... 95 Ujian yang Disarankan .............................................................................................. 96 Checklist yang Disarankan Bagi Penilai.................................................................. 102 Lembar Penilaian .................................................................................................... 103

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Bab 1

Pengantar

BAB 1

PENGANTAR

Selamat Berjumpa di Buku Pedoman ini !
Buku Paket Pembelajaran dan Penilaian ini menggunakan sistem pelatihan berdasarkan kompetensi untuk mengajarkan keterampilan ditempat kerja, yakni suatu cara yang secara nasional sudah disepakati untuk penyampaian keterampilan, sikap dan pengetahuan yang dibutuhkan dalam suatu proses pembelajaran. Penekanan utamanya adalah tentang apa yang dapat dilakukan seseorang setelah mengikuti pelatihan. Salah satu karakteristik yang paling penting dari pelatihan yang berdasarkan kompetensi adalah penguasaan individu secara aktual di tempat kerja. Pelatih harus menyusun sesi-sesi kegiatannya sesuai dengan : • • • • kebutuhan peserta pelatihan persyaratan-persyaratan organisasi waktu yang tersedia untuk pelatihan situasi pelatihan.

Strategi penyampaian dan perencanaan sudah dipersiapkan oleh pelatih untuk peserta pelatihan. Masalah yang disarankan akan memberikan suatu indikasi tentang apa yang harus dicantumkan dalam program tersebut untuk memenuhi/mencapai standar kompetensi. Strategi pembelajaran dan penilaian yang dipersiapkan dalam unit ini tidaklah bersifat wajib namun digunakan sebagai pedoman. Peserta pelatihan didorong untuk memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman industri mereka. Contoh-contoh produk industri lokal atau hasil pengembangan sumber-sumber yang mereka miliki, dapat membantu dalam menyesuaikan materi dan memastikan relevansi pelatihan.

Persyaratan Minimal Kemampuan Membaca, Menulis & Berhitung
Untuk melaksanakan pelatihan secara efektif dan agar dapat mencapai standar kompetensi diperlukan tingkat kemampuan minimal dalam membaca, menulis dan menghitung berikut: Kemampuan membaca dan menulis Kemampuan menghitung Kemampuan baca, interpretasi dan membuat teks. Kemampuan menggabungkan informasi untuk dapat menafsirkan suatu pengertian Kemampuan minimal untuk menggunakan matematika dan simbol teknik, diagram dan terminologi dalam konteks umum dan yang dapat diprediksi serta dimungkinkan untuk mengkomunikasikan keduanya yaitu antara matematik dan teknik.

Definisi
Seseorang yang berkeinginan untuk memperoleh kompetensi seharusnya berkenan menamakan dirinya sebagai peserta latih. Dalam situasi pelatihan, anda dapat ditempatkan sebagai siswa, pelajar atau sebagai peserta, sehingga seorang pengajar kompetensi ini adalah sebagai pelatih. Sebaliknya, dalam situasi pelatihan anda juga dapat ditempatkan sebagai guru, mentor, fasilitator atau sebagai supervisor.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 1

Bab 1

Pengantar

Berapa Lama Mencapai Kompetensi ?
Dalam sistem pelatihan berdasarkan kompetensi, fokusnya harus tertuju kepada pencapaian suatu kompeterisi/keahlian, bukan pencapaian pada pemenuhan waktu tertentu; dengan demikian dimungkinkan peserta pelatihan yang berbeda memerlukan waktu yang berbeda pula untuk mencapai suatu kompetensi tertentu.

Simbol
Dalam keseluruhan paket pelatihan akan kita lihat beberapa simbol. Berikut penjelasan tentang simbol : Simbol Keterangan Handout ( Pegangan Peserta )

HO

OHT

Overhead Transparansi yang dapat digunakan dalam penyampaian materi pelatihan Penilaian kompetensi yang harus dikuasai

Penilaian Tugas
Tugas / kegiatan diselesaikan. atau aktivitas yang harus

Terminologi
Akses dan Keadilan Mengacu kepada fakta bahwa pelatihan harus dapat diakses oleh setiap orang tanpa memandang umur, jenis kelamin, sosial, kultur, agama atau latar belakang pendidikan. Penilaian Proses formal yang memastikan pelatihan memenuhi standar-standar yang dibutuhkan oleh industri. Proses ini dilaksanakan oleh seorang penilai yang memenuhi syarat (cakap dan berkualitas) dalam kerangka kerja yang sudah disetujui secara Nasional. Penilai Seseorang yang telah diakui/ditunjuk oleh industri untuk menilai/menguji para tenaga kerja di suatu area tertentu. Kompeten Mampu melakukan pekerjaan dan memiliki keterampilan, pengetahuan dan sikap yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan secara efektif ditempat kerja serta sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan. Pelatihan Berdasarkan Kompetensi Pelatihan yang berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menguasai suatu kompetensi/ keahlian secara terukur dan mengacu pada standar yang sudah ditetapkan.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 2

Bab 1

Pengantar

Aspek Penting Penilaian Menerangkan fokus penilaian dan poin-poin utama yang mendasari suatu penilaian. Konteks Penilaian Menetapkan dimana, bagaimana dan dengan metode apa penilaian akan dilaksanakan. Elemen Kompetensi Elemen atau Sub-Kompetensi adalah keterampilan-keterampilan yang membangun suatu unit kompetensi. Acuan Penilaian Acuan penilaian adalah garis pedoman tentang bagaimana sebuah unit kompetensi harus dinilai. Adil Tidak merugikan para peserta tertentu. Fleksibel Tidak ada pendekatan tunggal terhadap penyampaian dan penilaian unjuk kerja dalam sistem pelatihan berdasarkan kompetensi. Penilaian Formatif Kegiatan penilaian berskala kecil yang dilakukan selama pelatihan, yaitu untuk membantu dalam memastikan bahwa pelajaran dilaksanakan secara baik dan adanya umpan balik kepada peserta tentang kemajuan yang mereka capai. Kompetensi Kunci Kompetensi yang menopang seluruh unjuk kerja dalam suatu pekerjaan. Ini meliputi: mengumpulkan, menganalisis, mengorganisasikan dan mengkomunikasikan ide-ide dan informasi, merencanakan dan mengorganisasikan aktifitas, bekerja dengan orang lain dalam sebuah tim, memecahkan masalah penggunaan teknologi, menggunakan ide-ide teknikmatematis . Kompetensi-kompetensi ini digolongkan ke dalam tingkat yang berbeda sebagai berikut: Tingkat kemampuan kompetensi ini Tingkat 1 2 yang harus ditunjukkan Karakteristik Tugas-tugas rutin dalam prosedur sudah tercapai dan secara periodik kemajuannya diperiksa oleh supervisor. Tugas-tugas yang Iebih luas dan lebih kompleks dengan peningkatan kemampuan diri untuk menangani pekerjaan secara otonomi. Supervisor melakukan pemeriksaan atas penyelesaian pekerjaan. Bertanggung jawab atas aktifitas-aktifitas yang kompleks dan non-rutin yang diarahkan dan bertanggung jawab atas pekerjaan orang lain. dalam menguasai

3

Strategi Penyajian Strategi penyajian adalah dengan menyediakan informasi yang diperlukan tentang bagaimana melaksanakan pelatihan berdasarkan program yang dilaksanakan di tempat kerja dan/atau di tempat pelatihan/ organisasi yang bersangkutan.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 3

Bab 1

Pengantar

Keterkaitan dengan Unit Lain Menerangkan peran suatu unit dan tempatnya dalam susunan kompetensi yang ditetapkan oleh industri. Hal ini juga memberikan pedoman tentang unit lain yang dapat dinilai bersama. Standar Kompetensi Nasional Kompetensi-kompetensi yang sudah disepakati secara nasional dan standar-standar penampilan kerja yang dijadikan acuan oleh segala pihak dalam melakukan suatu pekerjaan. Kriteria Unjuk kerja Kriteria-kriteria atau patokan yang digunakan untuk menilai apakah seseorang sudah mencapai suatu kompetensi dalam suatu unit kompetensi. Variabel Penjelasan tentang rincian tempat pelatihan dengan perbedaan konteks yang mungkin dapat diterapkan pada suatu unit kompetensi tertentu. Reliabel Menggunakan metode-rnetode dan prosedur-prosedur yang menguatkan terhadap standar kompetensi dan tingkatannya diinterpretasikan serta diterapkan secara konsisten kepada seluruh konteks dan seluruh peserta pelatihan. Valid Penilàian terhadap fakta-fakta dan kriteria unjuk kerja yang sama akan menghasilkan hasil akhir penilaian yang sama dari penilai yang berbeda. Pengakuan Kemampuan yang Dimiliki (RCC- Recognition of Current Competence) Pengakuan akan keterampilan, pengetahuan dan kemampuan sesseorang yang telah dicapainya. (lihat RPL) Pengakuan Terhadap Pengalaman Belajar (RPL- Recognition of Prior Learning) Pengakuan terhadap hasil belajar sebelum mempelajari suatu unit kompetensi untuk mendukung pencapaian unit kompetensi tersebut. Hal tersebut biasanya adalah kompetensi yang berkaitan dengan standar kompetensi industi dan juga berkaitan dengan pembelajaran dan pelatihan sebelumnya. (lihat RCC) Penilaian Sumatif Penilaian ini dilakukan setetah pelatihan unit kompetensi selesai, yakni untuk memastikan bahwa peserta pelatihan sudah mencapai kriteria unjuk kerja. Peserta Orang yang menerima / mengikuti pelatihan. Pelatih Orang yang memberikan pelatihan. Pengetahuan dan Keterampilan Pokok Definisi atau uraian tentang keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu keahlian/keterampilan pada tingkat yang telah ditetapkan Deskripsi Unit Gambaran umum tentang program pembelajaran/ kompetensi yang hendak dicapai.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 4

Bab 2

Arahan Bagi Pelatih

BAB 2

ARAHAN BAGI PELATIH

Peran Pelatih
Salah satu peran anda sebagai pelatih atau guru adalah memastikan standar pelayanan yang tinggi melalui pelatihan yang efektif. Untuk memastikan bahwa anda siap bekerja pada kompetensi ini dengan peserta pelatihan, pertimbangkanlah pertanyaan-pertanyaan berikut ini: • • • • Seberapa yakin anda tentang pengetahuan dan ketrampilah anda sendiri yang dibutuhkan untuk menyampaikan setiap elemen? Apakah ada informasi atau peraturan baru yang mungkin anda butuhkan untuk diakses sebelum anda memulai pelatihan? Apakah anda merasa yakin untuk mendemonstrasikan tugas-tugas praktik? Apakah anda akan sanggup menerangkan secara jelas tentang pengetahuan pendukung yang dibutuhkan oleh peserta pelatihan untuk melakukan pekerjaan mereka secara tepat? Apakah anda menyadari situasi ruang Iingkup industri dimana kompetensi ini mungkin diterapkan? Apakah anda menyadari tentang bahasa, kemampuan membaca dan menulis serta keterampilan memahami dan menggunakan matematika peserta pelatihan yang dibutuhkan untuk mendemonstrasikan kompetensi dalam standar kompetensi ini ? Apakah anda menyadari tentang kemampuan membaca gambar peserta pelatihan yang dibutuhkan untuk mendemonstrasikan kompetensi dalam standar kompetensi ini ? Sudahkah anda pertimbangkan isu-isu yang wajar dan dapat diterima dalam merencanakan penyampaian program pelatihan ini?

• •

•

•

Strategi Penyajian
Variasi kegiatan pelatihan yang disarankan untuk penyampaian kompetensi ini meliputi : • • • • • • • • pengajaran ( tatap muka ) tugas-tugas praktik tugas-tugas proyek studi kasus melalui media (video, referensi, dll ) kerja kelompok bermain peran dan simulasi. kunjungan/ kerja industri

Pelatih harus memilih strategi pelatihan yang Iayak untuk kompetensi yang sedang diberikan, baik situasi maupun kebutuhan pesertanya. Contohnya, jika praktik industri atau magang tidak memungkinkan, beragam simulasi, demonstrasi dan penggunaan multi media mungkin cukup memadai.

Alat Bantu yang Dibutuhkan untuk Menyajikan Kompetensi Ini
Ruang kelas atau ruang belajar memenuhi syarat minimum untuk penyampaian teori kepada peserta pelatihan, papan tulis, OHP dan perlengkapannya, flip chart dan perlengkapannya, dan alat-alat lain yang diperlukan.
Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc Page 5

Bab 2

Arahan Bagi Pelatih

Peraturan
Perhatikan peraturan-peraturan atau hukum yang relevan serta panduan yang dapat mempengaruhi kegiatan anda, dan yakinkan bahwa peserta pelatihan anda mengikutinya.

Sumber-sumber untuk Mendapatkan Informasi Tambahan
Sumber-sumber informasi meliputi beberapa kategori berikut ini : Sumber bacaan yang dapat digunakan : Judul: Pengarang: Penerbit: Tahun Terbit: Judul: Pengarang: Penerbit: Tahun Terbit: Judul: Pengarang: Penerbit: Tahun Terbit: Judul: Pengarang: Penerbit: Tahun Terbit Occupational Health and Safety Maree Wheelen Western Metropolitan College of TAFE 1990 Keselamatan Kerja dan Tata Laksana Bengkel Tia Setiawan dan Harun Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. 1980 Petunjuk Praktis Keselamatan Kerja Soedjono Bhratara Karya Aksara – Jakarta 1985 Himpunan Peraturan Perundang-undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Tim Penyusun Departemen Tenaga Kerja RI. 1999

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 6

Bab 3

Standar Kompetensi

BAB 3

STANDAR KOMPETENSI

Dalam sistem pelatihan, Standar Kompetensi diharapkan dapat menjadi panduan bagi peserta pelatihan atau siswa untuk dapat : • • • • mengidentifikasikan apa yang harus dikerjakan peserta pelatihan mengidentifikasikan apa yang telah dikerjakan peserta pelatihan memeriksa kemajuan peserta pelatihan meyakinkan bahwa semua elemen ( Sub-Kompetensi ) dan kriteria unjuk kerja telah dimasukkan dalam pelatihan dan penilaian.

Judul Unit
Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Deskripsi Unit
Unit ini merupakan unit yang bertujuan untuk mempersiapkan seorang teknisi las dan teknisi lainnya memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja tentang keselamatan dan kesehatan kerja serta penerapannya di industri.

Kemampuan Awal
Peserta pelatihan harus telah memiliki kemampuan awal berikut : Nil

Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja
Sub Kompetensi / Elemen 1.0 Mengidentifikasi undang-undang dan peratuan tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Kriteria Unjuk Kerja 1.1 Isi undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja dijelaskan. 1.2 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per.03/MEN/1998 tentang tata cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan dijelaskan. 1.3 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dijelaskan

2.0 Mengidentifikasi bahaya di tempat kerja. 3.0 Menjelaskan tata laksana industri.

2.1 Potensi bahaya di tempat diidentifkasi. 2.2 Beberapa cara untuk mengontrol dan mencegah bahaya diuraikan. 3.1 Cara tata laksana industri yang dapat mengurangi bahaya dijelaskan. 3.2 Maksud gambar simbol keselamatan kerja dijelaskan.

4.0 Menjelaskan polusi pada industri.

4.1 Sumber polusi pada suatu lingkungan industri dijelaskan. 4.2 Tindakan pencegahan dan pengontrolan polusi diuraikan.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 7

Bab 3

Standar Kompetensi

Sub Kompetensi / Elemen 5.0 Menjelaskan keselamatan pribadi.

Kriteria Unjuk Kerja 5.1 Penyebab cedera pribadi dan sikap kerja yang aman diuraikan. 5.2 Prosedur pencegahan dengan perlengkapan pelindung yang tepat diuraikan. 5.3 Tindakan keselamatan dan perlindungan kebakaran dijelaskan 5.4 Prosedur pengungsian dan tindakan pertolongan pertama diterangkan.

Variabel
Unit ini bermaksud memberikan pengetahuan, sikap kerja serta keterampilan tentang keselamatan dan kesehatan kerja yang bersifat umum untuk keahlian yang relevan dengan pekerjaan las dan fabrikasi logam. a. b. c. Sasarannya adalah segala macam pekerjaan bengkel pada industri-industri manufaktur di lingkungan Pulau Batam dan Bintan serta Indonesia umumnya. Penekanan dari unit ini adalah hal-hal yang mendasar tentang aturan dan sikap keselamatan dan kesehatan kerja. Pelatihan dapat dilaksanakan di bengkel pelatihan atau di industri yang relevan dengan persyaratan ; • • d. Tersedia bengkel yang memenuhi persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja, juga ruang guru yang sebaiknya berdekatan dengan bengkel tersebut. Tersedia alat-alat keselamatan dan kesehatan kerja.

• Tersedia sumber-sumber belajar dan media pembelajaran. Permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja yang perlu diperhatikan : • Pemakaian peralatan keselamatan dan kesehatan kerja seperti : pakaian yang cocok, sepatu kerja, helm las dan/ atau kaca mata pengaman ( bila diperlukan ). • Lingkungan kerja yang sehat dan aman dengan ventilasi dan sistem pengisap udara yang memadai. • Pencahayaan yang cukup.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 8

Bab 3

Standar Kompetensi

Pengetahuan dan Keterampilan Pokok
Pokok-pokok pengetahuan dan keterampilan yang harus dinilai penguasaan dan penampilannya adalah sebagai berikut :
Undang-undang dan Peraturan tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) : - Syarat-syarat keselamatan kerja - Pengawasan dan Pembinaan keselamatan dan kesehatan kerja - Hak dan kewajian tenaga kerja dan pengurus. - Tata cara pelaporan kecelakaan - Pemeriksaan kecelakaan - Tujuan, sasaran dan penerapan sistem manajemen K3 - Audit sistem manajemen K3 dan mekanisme pelaksanaan audit Bahaya di Tempat Kerja : - Jenis-jenis bahaya - Pencegahan dan pengontrolan bahaya. Tata Laksana Industri : - Tata laksana yang baik - Penyimpanan bahan - Gambar simbol keselamatan kerja. Polusi pada Industri : - Polusi serat dan debu serta pencegahan - Polusi bahan kimia serta pencegahan. - Polusi kebisingan serta pencegahan Keselamatan Pribadi : - Tindakan keamanan kerja - Perlengkapan dan pakaian pelindung serta program ditempat kerja - Keselamatan dan perlindungan kebakaran - Prosedur pengungsian darurat

- Pertolongan pertama pada kecelakaan.

Konteks Penilaian
Unit ini dapat dilakukan penilaiannya oleh lembaga pelatihan, asosiasi atau industri tempat bekerja. Penilaian seharusnya meliputi penilaian kemampuan praktik/unjuk kerja dan penilaian pokok-pokok pengetahuan dengan beberapa metoda penilaian.

Aspek Penting Penilaian
Fokus penilaian unit ini akan tergantung pada kebutuhan sektor industri yang mencakup dalam program pelatihan, yaitu :
Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc Page 9

Bab 3

Standar Kompetensi

• • • •

Adanya integrasi antara teori-praktik. Penekanan pelatihan adalah prosedur-prosedur dan teknik-teknik yang benar disamping hasilnya. Metode-metode penilain sebaiknya terdiri dari proses dan hasil. Aplikasi seharusnya berhubungan dengan kegiatan manufaktur dan perawatan.

Keterkaitan dengan Unit Lain
Unit ini merupakan unit lanjutan yang membekali pengetahuan dan keterampilan untuk proses las busur manual yang akan dipelajari pada tingkat berikutnya. Perlu hati-hati dalam pengembangan pelatihan untuk memenuhi persyaratan pelatihan unit ini. Untuk pra-pelatihan kejuruan secara umum, lembaga pelatihan harus menyediakan program pelatihan yang dapat mencakup semua industri agar tidak terjadi prasangka hanya untuk satu sektor industri saja. Kondisi unjuk bekerja akan membantu memenuhi maksud ini. Sedangkan untuk penyelenggaraan pelatihan bagi industri yang khusus, perlu diupayakan pelatihan khusus juga agar apa yang dibutuhkan industri tersebut dapat dipenuhi.

Kompetensi Kunci yang akan Didemonstrasikan dalam Unit Ini
Kompetensi Umum dalam Unit Ini Mengumpulkan, Mengelola dan Menganalisa Informasi Mengkomunikasikan Ide-ide dan Informasi Merencanakan dan Mengorganisir Aktifitas-aktifitas Bekerja dengan Orang Lain dan Kelompok Tingkat 1 1 1 1 Kompetensi Umum dalam Unit Ini Menggunakan Ide-ide dan Teknik Matematika Memecahkan Masalah Menggunakan Teknologi Tingkat 1 1 1

Tingkat Kemampuan yang Harus Ditunjukkan dalam Menguasai Kompetensi ini
Tingkat
1 2

Karakteristik
Melakukan tugas-tugas rutin berdasarkan prosedur yang baku dan tunduk pada pemeriksaan kemajuannya oleh supervisor. Melakukan tugas-tugas yang Iebih luas dan lebih kompleks dengan peningkatan kemampuan untuk pekerjaan yang dilakukan secara otonom. Supervisor melakukan pemeriksaan atas penyelesaian pekerjaan. Melakukan aktifitas-aktifitas yang kompleks dan non-rutin, yang diatur sendiri dan bertanggung jawab atas pekerjaan orang lain.

3

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 10

Bab 4

Strategi Penyajian

A

Rencana Materi

BAB 4 A

STRATEGI PENYAJIAN

Rencana Materi
Penyajian bahan, pengajar, peserta dan penilai harus yakin dapat memenuhi seluruh rincian yang tertuang dalam standar kompetensi. Isi perencanaan merupakan kaitan antara kriteria unjuk kerja dengan pokok-pokok keterampilan dan pengetahuan .
Elemen Jenis Variabel 1.1 Isi undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja dijelaskan. 1.2 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per.03/MEN/1998 tentang tata cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan dijelaskan. 1.3 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dijelaskan Topik Pelatihan Undang-undang dan peraturan tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) : - Syarat-syarat keselamatan kerja - Pengawasan dan Pembinaan keselamatan dan kesehatan kerja - Hak dan kewajiban tenaga kerja dan pengurus. - Tata cara pelaporan kecelakaan - Pemeriksaan kecelakaan - Tujuan, sasaran dan penerapan sistem manajemen K3 - Audit sistem manajemen K3 dan mekanisme pelaksanaan audit • • • • Kegiatan Penyajian Tanya-jawab Diskusi Latihan Tampilan • Handout • OHT • Tugas

Catatan: 1. 2.

1.0 Mengidentifikasi undangundang dan peraturan tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

2.0 Mengidentifikasi bahaya di tempat kerja.

2.1 Potensi bahaya di tempat diidentifkasi. 2.2 Beberapa cara untuk mengontrol dan mencegah bahaya diuraikan 3.1 Cara tata laksana industri yang baik dapat mengurangi bahaya dijelaskan.

Bahaya di Tempat Kerja : - Jenis-jenis bahaya - Pencegahan dan pengontrolan bahaya Tata Laksana Industri : - Tata laksana yang baik

• Penyajian • Tanya jawab • Diskusi • Latihan • Penyajian • Tanya jawab • Diskusi

• Handout • OH • Tugas • Handout • OHT • Tugas
Page 11

3.0 Menjelaskan tata laksana industri.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Bab 4

Strategi Penyajian

A

Rencana Materi

Elemen

Jenis Variabel 3.2 Maksud gambar simbol keselamatan kerja dijelaskan.

Topik Pelatihan - Penyimpanan bahan - Gambar simbol keselamatan kerja Polusi pada Industri : -Polusi serat dan debu serta pencegahan - Polusi bahan kimia serta pencegahan. - Polusi kebisingan serta pencegahan

Kegiatan • Latihan • Penyajian • Tanya jawab • Diskusi • Latihan

Tampilan

4.0 Menjelaskan polusi pada industri.

4.1 Sumber polusi pada suatu lingkungan industri dijelaskan. 4.2 Tindakan pencegahan dan pengontrolan polusi diuraikan.

• Handout • OHT • Tugas

5.0 Menjelaskan keselamatan pribadi.

5.1 Penyebab cedera pribadi dan sikap kerja yang aman diuraikan. 5.2 Prosedur pencegahan dengan perlengkapan pelindung yang tepat diuraikan. 5.3 Tindakan keselamatan dan perlindungan kebakaran dijelaskan 5.4 Prosedur pengungsian dan tindakan pertolongan pertama diterangkan.

Keselamatan Pribadi : - Tindakan keamanan kerja - Perlengkapan dan pakaian pelindung serta program ditempat kerja - Keselamatan dan perlindungan kebakaran - Prosedur pengungsian darurat - Pertolongan pertama pada kecelakaan

• Penyajian • Tanya jawab • Diskusi • Latihan

• Handout • OHT • Tugas

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 12

Bab 4

Strategi Penyajian

B

Cara Mengajarkan Standar Kompetensi

B

Cara Mengajarkan Standar Kompetensi

Sesi ini menunjukkan hand-out, tugas / praktik dan transparansi yang cocok/sesuai dengan standar kompetensi. Keterampilan, pengetahuan dan sikap Bagaimana saya akan menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada seperti apakah yang saya inginkan untuk siswa? dimiliki siswa.? 1.1 Isi undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja dijelaskan. Instruktur menjelaskan dan memberi tugas tentang maksud dan tujuan undang-undang keselamatan kerja, pasal demi pasal. Tugas dapat diberikan dalam bentuk latihan dan diskusi

HO 2 s.d. 9 OHT 1 & 2 Tugas 1 s.d. 4

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 13

Bab 4

Strategi Penyajian

B

Cara Mengajarkan Standar Kompetensi

Keterampilan, pengetahuan dan sikap Bagaimana saya akan menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada seperti apakah yang saya inginkan untuk siswa? dimiliki siswa.? 1.2 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per.03/MEN/1998 tentang tata cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan dijelaskan. Instruktur menjelaskan dan memberi tugas tentang maksud dan tujuan peraturan tata cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan, pasal demi pasal. Tugas dapat diberikan dalam bentuk latihan dan diskusi

HO 9 s.d. 13 OHT 3 Tugas 5

1.3 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dijelaskan

Instruktur menjelaskan dan memberi tugas tentang maksud dan tujuan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja, pasal demi pasal. Tugas dapat diberikan dalam bentuk latihan dan diskusi

HO 14 s.d. 19 OHT 4 Tugas 6

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 14

Bab 4

Strategi Penyajian

B

Cara Mengajarkan Standar Kompetensi

Keterampilan, pengetahuan dan sikap Bagaimana saya akan menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada seperti apakah yang saya inginkan untuk siswa? dimiliki siswa.? 2.1 Potensi bahaya di tempat diidentifkasi. Instruktur menerangkan dan memberi tugas tentang jenis-jenis bahaya, dan dapat juga memberikan contoh. Tugas dapat diberikan dalam bentuk latihan, berkunjung dan diskusi

HO 20 OHT 5 & 6 Tugas 7
2.2 Beberapa cara untuk mengontrol dan mencegah bahaya diuraikan. Instruktur menjelaskan dan memberi tugas tentang pengontrolan dan pencegahan bahaya. Tugas dapat diberikan dalam bentuk latihan, berkunjung dan diskusi

HO 21 s.d. 26 OHT 7 Tugas 8 s.d. 10

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 15

Bab 4

Strategi Penyajian

B

Cara Mengajarkan Standar Kompetensi

Keterampilan, pengetahuan dan sikap Bagaimana saya akan menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada seperti apakah yang saya inginkan untuk siswa? dimiliki siswa.? 3.1 Cara tata laksana industri yang baik dapat mengurangi bahaya dijelaskan. Instruktur menjelaskan dan memberikan tugas tentang manfaat tata laksana industri yang baik, juga cara penyimpanan bahan. Tugas dapat diberikan dalam bentuk latihan, berkunjung dan diskusi

HO 27 s.d. 29 OHT 8 & 9 Tugas 11 & 12
3.2 Maksud gambar simbol keselamatan kerja dijelaskan. Instruktur menerangkan dan memberikan tugas tentang arti gambar simbol keselamatan kerja. Tugas dapat diberikan dalam bentuk latihan, berkunjung dan diskusi

HO 29 & 30 OHT 10 Tugas 13

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 16

Bab 4

Strategi Penyajian

B

Cara Mengajarkan Standar Kompetensi

Keterampilan, pengetahuan dan sikap Bagaimana saya akan menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada seperti apakah yang saya inginkan untuk siswa? dimiliki siswa.? 4.1 Sumber polusi pada suatu lingkungan industri dijelaskan. Instruktur menjelaskan tentang istilah pada polusi dan sumber polusi serta memberi tugas yang relevan. Tugas dapat diberikan dalam bentuk latihan, berkunjung dan diskusi

HO 31 s.d. 34 OHT 11 & 12 Tugas 14 s.d. 16
4.2 Tindakan pencegahan dan pengontrolan polusi diuraikan. Instruktur memberikan penjelasan dan memberikan tugas tentang tindakan pencegahan dan pengontrolan polusi. Tugas dapat diberikan dalam bentuk latihan, berkunjung dan diskusi

HO 31 s.d. 34 OHT 12 Tugas 14 s.d. 16

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 17

Bab 4

Strategi Penyajian

B

Cara Mengajarkan Standar Kompetensi

Keterampilan, pengetahuan dan sikap Bagaimana saya akan menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada seperti apakah yang saya inginkan untuk siswa? dimiliki siswa.? 5.1 Penyebab cedera pribadi dan sikap kerja yang aman diuraikan. Instruktur menjelaskan istilah tentang keselamatan dan cara kerja yang meyebabkan cedera pribadi. Juga memberikan tugas yang relevan. Tugas dapat diberikan dalam bentuk latihan, berkunjung dan diskusi

HO 35 & 36 OHT 13 s.d. 15 Tugas 17
5.2 Prosedur pencegahan dengan perlengkapan pelindung yang tepat diuraikan. Instruktur menjelaskan dan memberi tugas tentang jenis-jenis dan fungsi perlengkapan pelindung diri dan persyaratan perlengkapan pada tempat kerja. Tugas dapat diberikan dalam bentuk latihan, berkunjung dan diskusi

HO 36 & 37 OHT 16 Tugas 18

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 18

Bab 4

Strategi Penyajian

B

Cara Mengajarkan Standar Kompetensi

Keterampilan, pengetahuan dan sikap Bagaimana saya akan menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada seperti apakah yang saya inginkan untuk siswa? dimiliki siswa.? 5.3 Tindakan keselamatan dan perlindungan kebakaran dijelaskan Instruktur memberikan penjelasan tentang tindakan keselamatan dan perlindungan dari kebakaran yang meliputi : jenis alat pemadam, fungsi dan perawatannya, juga kesiapan menghadapi kebakaran. Berikan tugas yang relevan. Tugas dapat diberikan dalam bentuk latihan, berkunjung dan diskusi

HO 37 s.d. 41 OHT 17 & 18 Tugas 19

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 19

Bab 4

Strategi Penyajian

B

Cara Mengajarkan Standar Kompetensi

Keterampilan, pengetahuan dan sikap Bagaimana saya akan menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada seperti apakah yang saya inginkan untuk siswa? dimiliki siswa.? 5.4 Prosedur pengungsian dan tindakan pertolongan pertama diterangkan. Instruktur menjelaskan prosedur pengungsian darurat dan tindakan pertolongan pertama, memberikan tugas tentang pengungsian darurat dan pertolongan pertama pada kecelakaan . Tugas dapat diberikan dalam bentuk latihan, berkunjung dan diskusi

HO 41 & 42 OHT 19 Tugas 20 & 21

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 20

Bab 4

Strategi Penyajian

C

Materi Pendukung untuk Pelatih

C

Materi Pendukung untuk Pelatih
1. Lembar Informasi (Handout) : Merupakan pegangan peserta pelatihan yang berisi materi/teori penunjang dan informasi yang sesuai dengan kriteria unjuk kerja yang melingkupinya. Tugas : Merupakan latihan keterampilan praktik yang harus dicapai berkenaan dengan kemampuan yang sesuai dengan rincian kompetensi pada deskripsi unit. Transparansi (Overhead Transparancy /OHT) : Isinya melingkupi setiap kriteria unjuk kerja yang dilengkapi dengan pokok-pokok sajian dan/ atau gambar-gambar yang diperlukan untuk penyampaian materi.

Materi pendukung bagi guru dibagi dalam tiga hal, yaitu:

2.

3.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 21

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

Lembar Informasi

HO 1

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
(Occupational Health and Safety)

BSDC-0201

Nama Peserta No. Identitas

: …………………… : ………..…

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 22

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 2 1. UNDANG-UNDANG DAN PERATURAN TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
a. Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

1) Tentang Istilah Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan : (1) Tempat kerja, ialah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, di mana tenaga kerja bekerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk suatu keperluan suatu usaha dan di mana terdapat sumber atau sumbersumber bahaya sebagai mana terperinci pada pasal 2, termasuk tempat kerja semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut. (2) Pengurus ialah orang yang mempunyai tugas memimpin langsung suatu tempat kerja atau bagian yang berdiri. (3) Pengusaha ialah : a) Orang atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan sesuatu usaha bukan miliknya dan untuk keperluan itu mempergunakan tempat kerja. b) Orang atau badan hukum yang menjalankan sesuatu usaha milik sendiri dan untuk keperluan itu mempergunakan tempat kerja. c) Orang atau badan hukum yang di Indonesia mewakili orang atau badan hukum termaksud pada a) dan b), jikalau yang diwakili berkedudukan di luar Indonesia. (4) Direktur ialah pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja untuk melaksanakan undang-undang ini. (5) Pegawai Pengawas, ialah pegawai teknis berkeahlian khusus dari Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja. (6) Ahli keselamatan kerja, ialah tenaga teknis berkeahlian khusus dari luar Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja untuk mengawasi ditaatinya undang-undang ini.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 23

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 3
2) Ruang Lingkup
Pasal 2 (1) Yang diatur oleh undang-undang ini ialah keselamatan kerja dalam segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air, yang berada dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia. (2) Ketentuan pada ayat (1) tersebut berlaku pada tempat kerja di mana : a) Dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin, pesawat, alat, perkakas, peralatan atau instalasi yang berbahaya atau dapat menimbulkan kecelakaan, kebakaran atau peledakan. Dibuat, diolah, dipakai, dipergunakan, diperdagangkan, diangkut atau disimpan bahan atau barang yang dapat meledak, mudah terbakar, menggigit, beracun, menimbulkan infeksi, bersuhu tinggi. Dikerjakan pembangunan, perbaikan, perawatan, pembersihan atau pembongkaran rumah, gedung atau bangunan lainnya yang termasuk bangunan perairan, saluran atau terowongan di bawah tanah dan sebagainya atau dimana dilakukan pekerjaan persiapan. Dilakukan usaha : pertanian, perkebunan, pembukaan hutan, pengolahan kayu atau hasil hutan lainnya, peternakan, perikanan dan lapangan kesehatan. Dilakukan usaha perkembangan dan pengolahan emas, logam atau bijih logam lainnya, batu-batuan, gas minyak atau mineral lainnya, baik dipermukaan atau di dalam bumi, maupun di dasar perairan. Dilakukan pengangkutan barang, binatang atau manusia, melalui terowongan, di permukaan air, dalam air maupun di udara. Dikerjakan bongkar muat barang muatan kapal, perahu, dermaga, dek, stasiun atau gudang. Dilakukan penyelaman, pengambilan benda dan pekerjaan lain di dalam air. Dilakukan pekerjaan pada ketinggian di atas permukaan tanah atau perairan. Dilakukan pekerjaan di bawah tekanan udara atau suhu yang tinggi dan rendah. Dilakukan pekerjaan yang mengandung bahaya tertimbun tanah, kejatuhan, terkena pelantingan benda, terjatuh atau terperosok, hanyut atau terpelanting. Dilakukan pekerjaan di dalam tangki, sumur atau lubang.
Page 24

b)

c)

d)

e)

f) g) h) i) j) k) l)

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 4
m) Terdapat atau menyebar suhu, kelembaban, debu, kotoran, api, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara atau getaran. n) o) p) q) r) Dilakukan pembuangan atau pemusnahan sampah atau limbah. Dilakukan pemancaran, penyiaran atau penerimaan radio, radar, televisi atau telepon. Dilakukan pendidikan, pembinaan, percobaan, penyelidikan atau riset (penelitian) yang menggunakan alat teknis. Dibangkitkan, diubah, dikumpulkan, disimpan, dibagi-bagikan atau disalurkan, listrik, gas, minyak atau air. Diputar film, dipertunjukan sandiwara, atau diselenggarakan rekreasi lainnya yang memakai peralatan, instalasi listrik atau mekanik.

(3) Dengan peraturan perundang-undangan dapat ditunjukkan sebagai tempat kerja, ruangan atau lapangan lainnya yang dapat membahayakan keselamatan atau kesehatan yang bekerja dan atau berada di ruangan atau lapangan itu dapat diubah perincian tersebut pada ayat (2)

3) Syarat-syarat Keselamatan Kerja
Pasal 3 (1) Dengan peraturan perundang-undangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk : a) b) c) d) e) f) g) Mencegah dan mengurangi kecelakaan. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian lain yang berbahaya. Memberi pertolongan pada kecelakaan Memberi alat perlindungan diri kepada para pekerja. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca sinar atau radiasi, suara dan getaran.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 25

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 5
h) i) j) k) l) Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik fisik maupun phychis, peracunan, infeksi dan penularan. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban.

m) Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya . n) o) p) q) r) Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau barang. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan penyimpanan barang. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

(2) Dengan peraturan perundangan dapat diubah perincian seperti tersebut pada ayat (1) sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknik dan teknologi serta pendapat baru di kemudian hari. Pasal 4 (1) Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja dalam perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemakaian, penggunaan pemeliharaan dan penyimpanan bahan, barang produk teknis dan aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan. (2) Syarat-syarat tersebut memuat prinsip-prinsip teknis ilmiah menjadi suatu kumpulan ketentuan yang disusun secara teratur, jelas dan praktis yang mencakup bidang konstruksi, bahan, pengolahan dan pembuatan, perlengkapan alat-alat perlindungan, pengujian dan pengesahan pengepakan atau pembungkusan, pemberian tanda-tanda pengenal atas bahan, barang, produk teknis dan aparat produksi guna menjamin keselamatan barang-barang itu sendiri, keselamatan tenaga kerja yang melakukannya dan keselamatan umum.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 26

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 6
(3) Dengan peraturan perundangan dapat dirubah perincian seperti tersebut pada ayat (1) dan (2), dengan peraturan perundangan ditetapkan siapa yang berkewajiban memenuhi dan mentaati syarat-syarat keselamatan kerja tersebut.

4) Pengawasan
Pasal 5 (1) Direktur melakukan pengawasan umum terhadap undang-undang ini, sedang para pegawai pengawas dan ahli keselamatan kerja ditugaskan menjalankan pengawasan langsung terhadap ditaatinya undang-undang ini dan membantu pelaksanaannya. (2) Wewenangan dan kewajiban direktur, pegawai pengawasan dan ahli keselamatan kerja dalam melaksanakan undang-undang ini diatur dengan peraturan perundangan. Pasal 6 (1) Barang siapa tidak dapat menerima direktur dapat mengajukan permohonan banding kepada panitia Banding. (2) Tata permohonan banding, susunan Panitia Banding, tugas panitia Banding dan lainnya ditetapkan oleh Menteri Tenaga Kerja. (3) Keputusan Panitia Banding tidak dapat dibanding lagi. Pasal 7 Untuk pengawasan berdasarkan undang-undang ini, pengusaha harus membayar menurut ketentuan-ketentuan yang akan diatur dengan peraturan perundangan. Pasal 8 (1) Pengurus diwajibkan memeriksa kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan fisik dari tenaga kerja yang akan diterimanya maupun akan dipindahkan sesuai dengan sifat pekerjaan yang diberikan padanya. (2) Pengurus diwajibkan memeriksa semua tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya, secara berkala kepada dokter yang ditunjuk oleh pengusaha dan dibenarkan oleh direktur. (3) Norma-norma mengenai pengujian kesehatan ditetapkan dengan peraturan perundangan.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 27

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 7

5) Pembinaan Pasal 9
(1) Pengurus diwajibkan menunjuk dan menjelaskan kepada setiap tenaga kerja baru tentang : a) b) c) d) Kondisi dan bahaya serta yang dapat timbul dalam tempat kerjanya. Semua pengamanan dan alat perlindungan yang diharuskan dalam tempat kerjanya. Alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan. Cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya.

(2) Pengurus hanya dapat mempekerjakan tenanga kerja yang bersangkutan setelah ia yakin bahwa tenaga kerja tersebut telah mengalami syarat-syarat tersebut di atas (3) Pengurus diwajibkan menyelenggarakan pembinaan bagi semua tenaga kerja yang di bawah pimpinannya dalam mencegah kecelakaan dan pemberantasan kebakaran serta peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja, pula dalam pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan. (4) Pengurus diwajibkan memenuhi dan mentaati semua syarat dan ketentuan yang berlaku bagi usaha dan tempat kerja yang dijalankan.

6) Panitia Pembinaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Pasal 10 (1) Menteri tenaga Kerja berwenang membentuk Panitia Pembina keselamatan dan Kesehatan Kerja guna memperkembangkan kerja sama, saling pengertian dan partisipasi efektif dari pengusaha atau dan tenaga kerja di tempat kerja untuk melaksanakan tugas dan kewajiban bersama dibidang keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka melancarkan usaha berproduksi.

(2) Susunan Panitia Keselamatan dan Kesehatan Kerja, tugas dan lainnya ditetapkan
oleh Menteri Tenaga Kerja.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 28

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 8
7) Kecelakaan dan Cara Melaporkan
Pasal 11 (1) Pengurus diwajibkan melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi di tempat kerja yang dipimpinnya, kepada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja. (2) Tata cara melaporkan dan memeriksa kecelakaan oleh pegawai termaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan perundangan. (contoh terlampir).

8) Kewajiban dan Hak Tenaga Kerja Pasal 12 (1) Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai dan atau ahli keselamatan kerja. (2) Memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan. (3) Memenuhi dan mentaati semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan (4) Meminta kepada pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan. (5) Menyertakan keberatan kerja pada pekerja dimana syarat keselamatan dan kesehatan kerja serta alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal khusus ditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas yang masih dapat dipertanggungjawabkan.

9) Kewajiban bila memasuki tempat kerja. Pasal 13 Barang siapa akan memasuki sesuatu tempat kerja, diwajibkan menaati semua petunjuk keselamatan kerja dan memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 29

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 9
10) Kewajiban Pengurus
Pasal 14. Pengurus diwajibkan : (1) Secara tertulis menempatkan di tempat kerja yang dipimpinnya semua syarat keselamatan kerja yang diwajibkan, undang-undang ini dan semua peraturan pelaksanaannya yang berlaku bagi tempat kerja yang bersangkutan, pada tempat yang mudah dilihat dan dibaca dan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja. (2) Memasang di tempat kerja yang dipimpinnya, semua gambar keselamatan kerja diwajibkan dan semua bahan pembinaan lainnya, pada tempat yang mudah dilihat dan terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja. (3) Menyediakan secara cuma-cuma semua alat perlindungan diri yang diwajibkan pada tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut, disertai petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja.

b.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 03/MEN/98 tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan

1) Pengertian Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan : (1) Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau harta benda. (2) Kejadian berbahaya lainnya ialah suatu kejadian yang potensial, yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja kecuali kebakaran, peledakan dan bahaya pembuangan limbah. (3) Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, di mana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan di mana terdapat sumber-sumber bahaya.
Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc Page 30

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 10

(4) Pengurus adalah orang yang mempunyai tugas memimpin langsung suatu tempat kerja atau bagiannya yang berdiri sendiri. (5) Pegawai pengawas adalah pegawai sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 ayat (5) UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. (6) Pengurus adalah : a) Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri ; b) Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya; c) Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dirmaksud dalam huruf a) dan b) yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia. (7) Menteri adalah Menteri yang membidangi ketenagakerjaan.

2) Tata Cara Pelaporan Kecelakaan Pasal 2 (1) Pengurus atau pengusaha wajib melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi di tempat kerja dipimpinnya. (2) Kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari : a) Kecelakaan Kerja; b) Kebakaran atau peledakan atau bahaya pembuangan limbah; c) Kejadian berbahaya lainnya.

Pasal 3 Kewajiban melaporkan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) berlaku bagi pengurus atau pengusaha yang telah dan yang belum mengikutsertakan pekerjaannya ke dalam program jaminan sosial tenaga kerja berdasarkan Undang-undang No. 3 tahun 1992.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 31

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 11

Pasal 4 (1) Pengurus atau pengusaha sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 wajib melaporkan secara tertulis kecelakaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (2) huruf a), b), c) dan d) kepada Kepala Kantor Departemen Tenaga Kerja setempat dalam waktu tidak lebih dari 2 x 24 (dua kali dua puluh empat) jam terhitung sejak terjadinya kecelakaan dengan formulir laporan kecelakaan sesuai contoh bentuk 3 KK2 A lampiran 1. (2) Penyampaian laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara lisan sebelum dilaporkan secara tertulis.

Pasal 5 (1) Pengurus atau pengusaha yang telah mengikutsertakan pekerjaannya pada program jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 3, melaporkan kecelakaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (2) huruf a) dan b) dengan tata cara pelaporan sesuai peraturan Menteri Tenaga Kerja No. PER-05/MEN/1993. (2) Pengurus atau pengusaha yang belum mengikutsertakan pekerjaannya pada program jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 3, melaporkan kecelakaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (2) huruf a) dan b) dengan tata cara pelaporan sesuai peraturan Menteri Tenaga Kerja No. PER-04/MEN/1993.

3) Pemeriksaan Kecelakaan Pasal 6

(1) Setelah menerima laporan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1), dan
pasal 5, Kepala Kantor Departemen Tenaga Kerja memerintahkan pegawai pengawas untuk melakukan pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan.

(2) Pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus dilaksanakan terhadap setiap kecelakaan yang dilaporkan oleh pengurus atau pengusaha.

(3) Pemeriksaan dan pekerjaan kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 32

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 12

Pasal 7 Pegawai pengawas dalam melaksanakan pemeriksaan dan pengkajian mempergunakan formulir laporan pemeriksaan dan pengkajian sesuai lampiran II untuk kecelakaan kerja, lampiran III untuk penyakit akibat kerja, lampiran IV untuk peledakan, kebakaran dan bahaya pembuangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 limbah dan lampiran V untuk bahaya lainnya. Pasal 8 (1) Kepala Kantor Departemen Tenaga Kerja berdasarkan hasil pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 pada tiap-tiap akhir bulan menyusun analisis laporan kecelakaan dalam daerah hukumnya dengan menggunakan formulir sebagaimana lampiran VI peraturan ini. (2) Kepala Kantor Departemen Tenaga Kerja harus menyampaikan analisis laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Kepala Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja setempat selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya. Pasal 9 (1) Kepala Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja berdasarkan analisis laporan kecelakaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 menyusun analisis kecelakaan dalam daerah hukumnya dengan menggunakan formulir sebagaimana lampiran VII peraturan ini. (2) Analisis kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuat untuk tiap bulan (3) Kepala Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja harus segera menyampaikan analisis kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Menteri atau Pejabat yang ditunjuk. Pasal 10 Cara pengisian formulir sebagaimana dimaksud dalam lampiran II, III, IV, V, VI, dan VII sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 ayat (1), pasal 8 ayat (1) dan pasal 9 ayat (1) diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 33

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 13

Pasal 11 Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan berdasarkan analisis laporan kecelakaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) menyusun analisis laporan kekerapan dan keparahan kecelakaan tingkat nasional.

4) S a n k s i Pasal 12 Pengurus atau pengusaha yang melanggar ketentuan pasal 2, pasal 4 ayat (1), diancam dengan hukuman sesuai dengan ketentuan pasal 15 ayat (2) UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

5) Pengawasan Pasal 13 Pengawasan terhadap ditaatinya Peraturan Menteri ini dilakukan oleh pegawai pengawas ketenagakerjaan.

6) Ketentuan Penutup Pasal 14 Dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri ini, maka formulir bentuk 3 KK2 dalam Peraturan Menteri No. PER-04/MEN/1993 dan Peraturan Menteri No. PER05/MEN/1993 dinyatakan tidak berlaku.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 34

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 14

c.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. PER.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

1) Ketentuan Umum Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan : (1) Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang selanjutnya disebut Sistem Manajemen K3 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumberdaya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan krja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif; Tempat kerja adalah setiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, di mana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan di mana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara yang berada di dalam wilayah kekuasaan hokum Republik Indonesia; Audit adalah pemeriksaan secara sistematik dan independen, untuk menentukan suatu kegiatan dan hasil-hasil yang berkaitan sesuai dengan pengaturan yang direncanakan, dan dilaksanakan secara efektif dan cocok untuk mencapai kebijakan dan tujuan perusahaan; Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang mempekerjakan pekerja dengan tujuan mencari laba atau tidak, baik milik swasta maupun milik negara; Direktur ialah pejabat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1970; Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan adalah pegawai teknik berkeahlian khusus dari Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri;

(2)

(3)

(4) (5) (6)

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 35

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 15

(7)

Pengusaha adalah : a) Orang atau badan hukum yang menjalankan sesuatu usaha milik sendiri dan untuk keperluan itu mepergunakan tempat kerja; b) Orang atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan sesuatu usaha bukan miliknya dan untuk keperluan itu mepergunakan tempat kerja; c) Orang atau badan hukum yang di Indonesia mewakili orang atau badan hukum termaksud pada huruf a) dan b), jika kalau yang diwakili berkedudukan di luar Indonesia.

(8) (9)

Pengurus adalah orang yang mempunyai tugas memimpin langsung tempat kerja atau lapangan yang berdiri sendiri;

Tenaga kerja adalah tiap orang yang mampu melakukan pekerjaan, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat;

(10) Laporan Audit adalah hasil audit yang dilakukan oleh Badan Audit yang berisi fakta yang ditemukan pada saat pelaksanaan audit di tempat kerja sebagai dasar untuk menerbitkan sertifikat pencapaian kinerja Sistem Manajemen K3; (11) Sertifikat adalah bukti pengakuan tingkat pemenuhan penerapan peraturan perundangan Sistem Manajemen K3; (12) Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab dalam bidang ketenagakerjaan.

2) Tujuan dan Sasaran Sistem Manajemen K3 Pasal 2 Tujuan dan sasaran Sistem Manajemen K3 adalah menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsusr manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja, serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 36

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 16

3) Penerapan Sistem Manajemen K3 Pasal 3

(1) Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang
atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran dan penyakit akibat kerja, wajib menerapkan Sistem Manajemen K3.

(2) Sistem Manajemen K3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib dilaksanakan
oleh Pengurus, Pengusaha dan seluruh tenaga kerja sebagai satu kesatuan.

Pasal 4 (1) Dalam penerapan Sistem Manajemen K3 sebagaimana dimaksud dalam pasal 3, Perusahaan wajib melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai berikut : a) Menerapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dan menjamin komitmen terhadap penerapan Sistem Manajemen K3. Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan sasaran penerapan keselamatan dan kesehatan kerja; Menerapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja secara efektif dengan mengembangkan kemampuan dan mekanisme pendukung yang diperlukan untuk mencapai kebijakan, tujuan dan sasaran keselamatan dan kesehatan kerja; Mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja keselamatan dan kesehatan kerja serta melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan; Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan Sistem Manajemen K3 secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja keselamatan dan kesehatan kerja.

b)

c)

d)

e)

(2)

Pedoman penerapan Sistem Manajemen K3 sebagaimana dimaksud ayat (1) sebagaimana tercantum dalam lampiran I Peraturan Menteri ini.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 37

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 17

4) Audit Sistem Manajemen K3 Pasal 5 (1) Untuk pembuktian penerapan Sistem Manajemen K3 sebagaimana dimaksud pasal 4, perusahaan dapat melakukan audit melalui badan audit yang ditunjuk oleh Menteri. Audit Sistem Manajemen K3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi unsur-unsur sebagai berikut : a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) l) (3) Pembangunan dan pemeliharaan komitmen ; Strategi pendokumentasian ; Peninjauan ulang desain dan kontrak ; Pengendalian dokumen ; Pembelian ; Keamanan bekerja berdasarkan Sistem Manajemen K3 ; Standar Pemantauan ; Pelaporan dan perbaikan kekurangan ; Pengelolaan material dan pemindahannya ; Pengumpulan dan penggunaan data ; Pemeriksaan sistem manajemen ; Pengembangan keterampilan dan kemampuan;

(2)

Perubahan atau penambahan sesuai perkembangan unsur-unsur sebagaimana dimaksud ayat (2) diatur oleh Menteri. Pedoman teknis audit Sistem Manajemen K3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) sebagaimana tercantum dalam lampiran II Peraturan Menteri ini.

(4)

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 38

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 18
5) Kewenangan Direktur Pasal 6 Direktur berwenang menetapkan perusahaan yang dinilai wajib untuk diaudit berdasarkan pertimbangan tingkat risiko bahaya.

6) Mekanisme Pelaksanaan Audit Pasal 7 (1) Audit Sistem Manajemen K3 dilaksanakan sekurang-kurangnya satu kali dalam tiga tahun. (2) Untuk pelaksanaan audit, Badan Audit harus : a) b) Membuat rencana tahunan audit ; Menyampaikan rencana tahunan audit kepada Menteri atau Pejabat yang ditunjuk, pengurus tempat kerja yang akan diaudit dan Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja setempat ; Mengadakan koordinasi dengan Kantor Wilayah Departemen Tenaga Kerja setempat ;

c)

(3)

Pengurus tempat kerja yang akan diaudit wajib menyediakan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk pelaksanaan audit Sistem Manajemen K3.

Pasal 8 (1) Badan Audit wajib menyampaikan laporan audit lengkap kepada Direktur dengan tembusan yang disampaikan kepada pengurus tempat kerja yang diaudit. Laporan audit lengkap sebagaimana dimaksud ayat (1) menggunakan formulir sebagaimana tercantum dalam lampiran III Peraturan Menteri ini. Setelah menerima laporan Audit Sistem Manajemen K3 sebagaimana dimaksud ayat (2), Direktur melakukan evaluasi dan penilaian. Berdasarkan hasil evaluasi dan penilaian tersebut pada ayat (3), Direktur melakukan hal-hal sebagai berikut : a) Memberikan sertifikat dan bendera penghargaan sesuai dengan tingkat pencapaiannya atau;
Page 39

(2)

(3)

(4)

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 19

b)

Menginstruksikan kepada Pegawai Pengawas untuk mengambil tindakan apabila berdasarkan hasil audit ditemukan adanya pelanggaran atas peraturan perundangan.

7) Sertifikat K3 Pasal 9 (1) Sertifikat sebagaimana dimaksud pasal 8 ayat (4) huruf a), ditanda tangani oleh Menteri dan berlaku untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun. Jenis sertifikat dan bendera penghargaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebagaimana tercantum dalam lampiran IV Peraturan Menteri ini.

(2)

8) Pembinaan dan Pengawasan Pasal 10 Pembinaan dan pengawasan terhadap penerapan Sistem Manajemen K3 dilakukan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk.

9) Pembiayaan Pasal 11 Biaya pelaksanaan audit Sistem Manajemen K3 dibebankan kepada perusahaan yang diaudit.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 40

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 20 2. BAHAYA TEMPAT KERJA
a. Jenis-jenis Bahaya
1) Bahaya Fisik Bahaya fisik termasuk sesuatu yang mungkin secara langsung dapat membuat cedera. Jenis bahaya ini termasuk : • • • Gerakan bagian peralatan seperti mesin bubut atau sabuk konveyor. Bising, getaran, pencahayaan, debu, tekanan udara. Penanganan manual dan pengangkatan.

2) Bahaya bahan kimia Hal ini dapat disebabkan oleh : • Gas, Asap, Cairan, dan zat berbahaya lainnya.

3) Bahaya Ergonomi 'Ergonomi' adalah melakukan sesuatu untuk digunakan dengan cara yang tepat dan mudah. Bahaya ergonomi terjadi jika desain peralatan yang buruk atau tata letak peralatan yang tidak tepat, sebab dapat menyebabkan cedera. 4) Bahaya Radiasi Bahaya radiasi dapat ditimbulkan oleh berbagai peralatan : • • • • • Radiasi microwave (gelombang mikro) pergeseran radio transmitter berdaya tinggi atau kesalahan pemanas microwave. Cahaya laser berdaya tinggi Pemanas infra-red berdaya tinggi Sinar gamma dari zat radio aktif Radiasi ultra-violet dari matahari.

5) Bahaya Psikologi Bahaya psikologi terjadi jika orang-orang tertekan (stress) atau tidak senang pada pekerjaan. 6) Bahaya Biologi Bahaya biologi dapat menyebabkan sakit dan menularkan infeksi dari kuman, dan lain sebagainya
Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc Page 41

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 21
b. Prinsip Pencegahan atau Pengontrolan Bahaya
Walaupun setiap bahaya punya perlakuan secara individu, ada beberapa prinsip yang seharusnya diingat : • Dimana mungkin eliminir bahaya Untuk contoh, hentikan penggunaan bahan kimia yang berbahaya. Mengeliminir bahaya seharusnya selalu menjadi tujuan pertama dalam membuat tempat kerja yang aman. • Jika anda tidak bisa mengeliminir bahaya, cari cara yang aman untuk mengerjakannya. Ini dapat berarti pengontrolan dalam beberapa cara, untuk contoh; tutup kebisingan mesin dengan kotak penyekat, atau pastikan keefektifan pengaman yang ditempatkan disekitar bagian mesin yang bergerak. Itu dapat juga berarti keamanan proses atau bahan, seperti pemindahan bahan untuk mesin lebik baik dengan motorisasi konveyor dibandingkan dengan tangan, atau penggantian bahan kimia yang berbahaya dengan bahan yang aman. Dalam semua situasi anda seharusnya memastikan hal berikut : • Prosedur dan sistim kerja yang aman Ini dapat termasuk : - Melatih dan mensupervisi pekerja. - Mempunyai surat izin melakukan pekerjaan yang ditetapkan. - Melakukan rotasi pekerjaan. - Tatalaksana yang baik (lihat Topik 3). • Gunakan peralatan dan pakaian pelindung Alat keselamatan seperti kaca mata debu, masker, sarung tangan, pelindung telinga, dan alat pernafasan seharusnya digunakan dengan tepat. Pakaian kerja harus aman dan nyaman bekerja dekat mesin yang berputar, rambut panjang harus diatur dengan pengikat rambut atau pakai topi.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 42

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 22
c. Bahaya dan Pencegahan / Pengontrolan
1) Pengaturan kerja Cara kerja yang tidak teratur dapat menimbulkan masalah keselamatan. Contohnya pekerjaan berulang, kerja berpindah-pindah dan selalu lembur, bisa membuat rasa tertekan (stress) pekerja. Peralatan, area kerja, perabot dan benda-benda yang tidak sesuai dengan keperluan pekerja dan pekerjaan, juga dapat menyebabkan pekerja merasa tertekan (stress) dan risiko bisa terjadi. Rancang kembali pekerjaan dan sistim kerja ; • Berikan pekerja keterampilan baru • Lindungi pekerja dari tekanan (stress) dan risiko celaka • Tingkatkan efesiensi • Kembangkan prosedur keselamatan secara menyeluruh Pengaturan kerja dapat ditingkatkan dengan cara berikut : • • • • • • • Pekerja seharusnya mempunyai variasi tugas untuk melakukan pekerjaan. Pekerjaan seharusnya dirotasi. Beban kerja yang berat seharusnya dikurangi. Dimana beban kerja ringan, pekerja seharusnya diberikan pekerjaan lain untuk dikerjakan. Tetapkan istirahat atau lakukan istirahat yang seharusnya. Pekerja seharusnya punya pendapat tentang bagaimana pekerjaan mereka dilaksanakan. Permesinan, alat potong dan perlengkapan seharusnya di rancang atau dimodifikasi, atau disesuaikan dengan pekerja dan pekerjaan.

2) Gerakan m e s i n Gerakan bagian mesin dapat berbahaya. Bahaya yang disebabkan oleh mesin dapat dicegah atau dikontrol dengan cara berikut : • Pengaman harus dirancang sepantasnya, terjaga pada tempatnya dan berfungsi.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 43

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 23
• Ketika menggunakan mesin, pekerja seharusnya memakai pakaian kerja yang aman (seperti lengan pendek), dan semua perhiasan harus dilepas. Rambut panjang diatur pakai pengikat rambut dan PPE (personal protective equipment) dipakai dimana perlu. • • Mesin seharusnya tidak digunakan jika bermasalah. Sekitar area kerja mesin seharusnya punya penerangan yang baik dan terjaga kebersihan serta bebas sampah/kotoran. 3) Pengaruh kebisingan Kebisingan yang terlalu keras, terlalu tinggi atau terdengar terlalu sering dapat merusak pendengaran pekerja. Batas normal pendengaran manusia untuk tingkat kebisingan adalah ± 80 – 90 desibel. Sebagai perbandingan tingkat kebisingan dapat dilihat pada topik 4 (Polusi pada Industri) Mengapa kebisingan berbahaya : • • • • Dapat membuat pekerja kehilangan beberapa atau semua pendengaran. Kebisingan atau kehilangan pendengaran dapat membuat pekerja susah berkonsentrasi; ini dapat menyebabkan kecelakaan. Pekerja dengan kehilangan pendengaran mungkin tidak sadar mendekati bahaya. Kebisingan atau kehilangan pendengaran dapat menyebabkan kelelahan, sakit kepala dan stress. Bagaimana bahaya dapat dicegah atau dikontrol : • Pemberi kerja dapat mengurangi kebisingan di pabrik yaitu meletakan mesin dalam kotak peredam suara atau dibelakang pelindung suara untuk menghentikan penyebaran kebisingan. • • Mesin dirancang dengan tingkat kebisingan sesuai standar kebisingan normal. Alat ukur yang menyatakan batas kebisingan dapat ditempatkan pada area kerja atau dibawa oleh pekerja. • Pekerja sewaktu-waktu dapat mengambil jarak dari pekerjaan sehingga mereka tidak kontak dengan kebisingan sepanjang waktu.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 44

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 24
• Pekerja harus memakai pelindung telinga atau penutup (ear plugs). Pelindung telinga atau ear plugs harus dalam kondisi baik dan diperiksa secara tetap untuk pemakaian dan perawatan. Pelindung itu harus dibersihkan atau diganti sesuai dengan jenis dan cara perawatannya (Pelindung dari busa dapat dicuci dan diganti perminggu, sedangkan dari karet cukup dibersihkan setiap akan atau setelah dipakai). • Pendengaran pekerja seharusnya diperiksa atau diuji secara tetap.

4) Penanganan manual Bilamana secara fisik pekerja memindahkan sesuatu, maka disebut sedang melakukan penanganan manual Mengapa penanganan manual dapat berbahaya : • • • • • • • • • Punggung, terutama bagian bawah dapat cedera Persendian dan urat tendon pada kaki, lengan dan punggung dapat tertarik tegang (keseleo) Sambungan pada lutut, pergelangan kaki, pergelangan tangan, siku dan bahu dapat terjadi peradangan. Syaraf bisa rusak Tulang bisa patah Nyeri otot dan tegang dapat terjadi Dapat menyebabkan hernia (perut turun) Jantung dan pernafasan dapat menjadi buruk Kelelahan dari kerja fisik dapat menyebabkan kecelakaan.

Penyebab utama cedera dari kejadian penanganan manual adalah : Kelebihan penggunaan tenaga, pengulangan tindakan, sikap badan jelek dan penggunaan perabot dan bangku yang salah ketinggian atau rancangan.
(Lebih jelasnya posisi atau cara pengangkatan manual yang benar, lihat Paket Pembelajaran dan Penilaian Penanganan Material )

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 45

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 25

5) Reaksi bahan kimia Bahan kimia dapat berbentuk padat, cairan atau gas. Peraturan Barang-barang Berbahaya (Gudang dan Penanganan), 1989, menjelaskan bagaimana tingkatan dari bahan kimia diketahui sebagai klasifikasi 'Barang Berbahaya'. Penggolongan barang berbahaya termasuk : • • • Racun Gas Cairan mudah terbakar

Bahan kimia digunakan secara luas pada industri sehingga penting untuk mengetahui cara penanganan yang aman dan penggunaan semua bahan kimia. Risiko untuk pekerja dengan penggunaan bahan kimia dapat ditentukan oleh bagaimana bahan kimia digunakan, seberapa sering digunakan dan dalam kondisi bagaimana digunakan. Pada tempat kerja seharusnya tersedia daftar bahan kimia, yang berisikan semua bahan kimia, dimana bahan tersebut disimpan dan digunakan. Informasi tentang kandungan bahan kimia ada pada lembaran data keselamatan bahan (Material Safety Data Sheet / MSDS).
(Contoh MSDS dapat dilihat pada Paket Pembelajaran dan Penilaian Penanganan Material)

Lembaran ini berisikan keterangan sebagai berikut : • • • • Apa zat yang dikandung. Informasi tentang bagaimana zat tersebut dapat berbahaya Tindakan pengamanan untuk penggunaannya. Informasi tentang penangan zat tersebut secara aman.

Ada personal tertentu atau pembimbing ditempat kerja yang memanfaatkan MSDS, tetapi semua pekerja dapat melihatnya dan seharusnya mengetahui maksudnya. Pada tempat kerja, pekerja dapat mengamati MSDS di pusat kesehatan atau minta supervisor area kerja untuk memperlihatkannya. Setiap penggunaan bahan kimia, supervisor atau ahli K3 seharusnya memberikan penjelasan sebelum digunakan. Undang-undang dan Kode Praktik membicarakan tentang 'exposure standars' (standar kontak langsung). Ada batas aturan, perkiraan waktu pekerja dapat kontak langsung dengan bahan kimia selama hari kerja setiap minggu. Setiap bahan kimia mempunyai perbedaan terhadap exposure standars. Informasi tentang exposure standars dapat ditemukan pada MSDS.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 46

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 26
Mengapa bahan kimia dapat berbahaya • • Bahan kimia dapat terbakar atau memerihkan (iritasi) kulit, mata, hidung dan tenggorokan. Bahan kimia dalam bentuk asap, uap, kabut, semprotan, debu, kukus dan cairan dapat terhirup atau terhisap menjadi radang paru-paru dan kulit. Bahan kimia beracun, dapat menyebabkan luka bakar, radang paru-paru, asthma, bronchitis, mati lemas atau penyakit lainnya. Bahan kimia dapat terminum atau terhisap kedalam usus menyebabkan keracunan, pingsan dan sakit, bahkan kematian. • Bahan kimia dapat menyebabkan kebakaran atau ledakan.

•

6) Alkohol dan penggunaan obat bius Bila pekerja berada dalam kondisi stress bekerja, biasanya mempunyai masalah dirumah atau kekhawatiran lainnya, penyalah-gunaan alkohol, resep obat atau obat bius. Pekerja yang meminum atau menggunakan pengobatan atau obat bius akan mempengaruhi pekerjaan mereka sendiri dan bekerja dengan berisiko membahayakan diri sendiri dan orang disekitarnya. Bekerja dengan perasaan tidak enak akibat pengaruh minuman keras sebelumnya atau dibawah pengaruh obat bius dan alkohol dapat menyebabkan kecelakaan. Hal itu dapat juga berpengaruh pada tanggapan atau respon seseorang untuk masalah keselamatan atau keadaan darurat. Pusat kesehatan pada tempat kerja seharusnya menginformasikan tentang bahaya penggunaan sembarangan obat bius, alkohol dan obat sejenis yang dapat mempengaruhi kesadaran seseorang. Ada petunjuk dan saran penting pada tempat kerja serta perlu diketahui juga untuk masyarakat, yaitu melarang pekerja yang minum alkohol dan menggunakan obat bius.

7) Bahaya lain ditempat kerja Tergantung pada sifat perusahaan dan tempat kerja, adanya variasi bahaya lain yang mungkin berpotensi menyebabkan cedera atau sakit. Beberapa bahaya yang nyata diantaranya adalah : Area gudang Bengkel mesin Konstruksi - truk forklift (alat pengangkat) - pencahayaan/penglihatan - berlebihan panas, berlebihan dingin, atau ketinggian

Kelistrikan/elektronik - kena sengat listrik
Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc Page 47

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 27 3. TATA LAKSANA INDUSTRI
Banyak kecelakaan tidak dapat dihindari pada tempat kerja, karena pekerja dan perusahaan tidak memberikan perhatian pada tata laksana yang baik. Pelaksanaan tata laksana industri yang baik dapat membuat tempat kerja aman. Tata laksana industri berarti menata semua tempat kerja seperti; area gudang, ruang kerja, tempat produksi dan jalan masuk agar bersih, rapi dan dalam kondisi baik; sehingga kecelakaan, cedera dan kebakaran tidak terjadi.

a. Kegiatan Tata Laksana.
Mengapa tata laksana industri seharusnya dilakukan dengan baik ?, sebab dapat : • • • • • Memperkecil kecelakaan dan cedera yang terjadi di pekerjaan. Risiko kebakaran berkurang. Pekerja lebih merasa aman bekerja. Tempat kerja menjadi lebih efesien. Meningkatkan produktivitas.

Tata laksana yang baik seharusnya bagian dari rutinitas harian. Rancangan tempat kerja yang baik, sistim keamanan kerja, pelatihan yang tepat dan supervisi pekerja, membuat kemungkinan tata laksana dilakukan dengan efisien. Perawatan mesin dan peralatan yang tepat, fasilitas gudang, pakaian pelindung dan perlengkapan juga bagian penting dari tata laksana yang baik. Pemeriksaan keselamatan berkala dari tempat kerja seharusnya dilakukan dan daftar tugas tata laksana seharusnya dijaga untuk meyakinkan tata laksana dilakukan sebagaimana mestinya. Berikut ini adalah daftar hal yang utama dari tata laksana yang seharusnya diperiksa pada tempat kerja : • • Tempat kerja dan seluruh area kerja dijaga kebersihannya; Tempat kerja, toilet, ruang istirahat dan area ruang makan harus memenuhi standar kesehatan (hygenic); • Area kerja punya penerangan dan ventilasi yang baik;
Page 48

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 28
• Jalan masuk seperti gang, jalan terusan, tangga dan jalan yang landai dijaga kebersihan dari rintangan dan sampah; • Jalan masuk dengan jelas ditandai dengan batas kuning, putih, biru dan atau garis merah; Lantai dan permukaan lainnya bersih dan kering dengan tidak ada bukti tumpahan, gemuk dan kotoran; • • • • • • • • • • • Stop kontak, tombol dan saluran tenaga listrik dalam kondisi baik; Saluran listrik jangan bersentuhan dengan permukaan yang basah atau merintangi jalan masuk; Bahan dan hasil produk ditumpuk atau disusun dengan rapi; Peralatan dan perlengkapan disimpan pada rak dan laci; Barang-barang yang berbahaya seperti bahan kimia dan bahan yang mudah terbakar (yang mudah dimakan api) disimpan dengan aman dalam lemari tahan api (flameable); Barang bekas dan sampah di tempatkan pada tempat sampah dan dibuang; Gambar simbol keselamatan kerja, tanda peringatan dan tanda alarm dalam keadaan bersih dan mudah dilihat; Pintu darurat dan perlengkapan dibuat dengan jelas dan mudah dicapai; Peralatan pemadam kebakaran dalam keadaan siap pakai; Papan pengumuman terbaru; Bahan bekas mudah terbakar diletakkan dalam kotak tertutup dan dibuang dengan aman;

•

Tata laksana yang baik termasuk penyimpanan bahan dengan tepat, seperti pada daftar diatas.

b. Penyimpanan Bahan
Bahan harus disimpan dengan aman sehingga bahan tidak rusak atau membahayakan orang. Penyimpanan bahan secara sembarangan sangat berbahaya. Debu, sampah dan sisa pembuangan dapat diletakkan jauh dari gudang bahan dan bahaya api. Bahan yang ditumpuk tidak teratur bisa jatuh, sehingga merusak bahan dan membahayakan pekerja.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 49

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 29
Beberapa hal penting penyimpanan bahan adalah : • • • • • • • Seharusnya mudah bagi pekerja, forklifts dan peralatan penanganan mekanik seperti trolleys (kereta) dan drumlifters untuk bergerak didalam dan sekitar area gudang. Bahan dapat disimpan pada rak, laci, dan kotak-kotak. Fasilitas penyimpanan khusus, seperti lemari tahan api dan kaleng/teromol keamanan, diperlukan untuk barang-barang yang berbahaya. Bahan kimia, secara jelas ada label dan disimpan ditempat yang aman yaitu kering, ventilasi baik, area jauh dari pekerja. Jenis bahan kimia seharusnya dipisahkan. Batas tingkatan Asap, debu dan radiasi seharusnya dimonitor pada lokasi gudang dan pada area kerja. Bau yang menyengat, gumpalan awan dan debu dari asap seharusnya diselidiki.

C. Gambar Simbol Keselamatan Kerja

Gambar simbol keselamatan adalah tanda yang ditampilkan pada tempat kerja untuk : • • • • Tanda Larangan / Pencegahan kecelakaan ; Gambar lingkaran dengan diagonal merah diatas warna dasar putih. Contoh; dilarang merokok. Tanda Peringatan bahaya keselamatan dan kesehatan kerja; Berbentuk segi tiga dengan warna hitam diatas warna dasar putih. Contoh; mudah terbakar atau awas api Tanda Pemberitahuan /Tempat segi empat , Contoh; tempat PPPK Tanda Perintah/Pemberitahuan kepada pekerja dimana perlengkapan keselamatan khusus harus dipakai; Gambar putih diatas warna dasar biru. Contoh; gunakan kaca mata perlengkapan keadaan darurat tersimpan; Berbentuk

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 50

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 30

Tanda-tanda ini mempunyai gambar diatasnya sehingga dapat diketahui apa maksudnya walaupun pekerja tidak bisa bahasa Inggris dengan baik. Ini penting bahwa setiap pekerja mengetahui tanda keselamatan tanpa ragu-ragu. Manfaatkan gambar simbol keselamatan untuk tempat kerja dari Departemen Tenaga Kerja untuk mempelajari semua standar tanda keselamatan yang dpergunakan ditempat kerja, seperti berikut ini :

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 51

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 31 4. POLUSI PADA INDUSTRI
Pada umumnya ada tiga bentuk polusi yang mempengaruhi pekerja pada tempat kerja di industri, yaitu : Polusi dari serat (fiber) dan debu, polusi dari bahan kimia, dan polusi kebisingan. Pada bagian berikut dijelaskan masing-masing polusi dan pencegahannya.

a. Polusi Dari Serat dan Debu
1) Penyebab polusi Debu dapat ditimbulkan dari proses kerja seperti debu dari serat bahan gelas atau debu dapat masuk ketempat kerja karena di kirim yaitu melalui kantong tepung kimia. Debu partikel padat terbawa oleh udara. Aerosol dapat berupa cairan, gas atau partikel padat yang sangat halus disebarkan oleh udara. Aerosol mungkin datang dari semprotan cairan (cat aerosol), kandungan yang terbakar (peranan bahan bakar) atau asap, dimana tersebarnya partikel jelaga di udara. 2) Mengapa serat dan debu berbahaya : • • • • Debu dan serat dapat terhisap kedalam paru-paru. Beberapa debu mineral dapat menggores paru-paru dan menyebabkan penyakit Alergi dan kesulitan bernafas dapat terjadi Kanker dapat berkembang

3) Bagaimana bahaya dapat dicegah dan dikontrol : • • • • • • • • • • Alat pembuangan gas (exhaust) dan ventilasi pembuangan dapat membuang debu dan serat partikel. Serat mineral yang berbahaya seharusnya dapat diganti dengan yang aman. Penggunaan alat tangan dapat mengurangi debu dibandingkan alat listrik. Alat listrik harus punya ventilasi pembuangan setempat yang pas. Pekerja dapat melakukan pekerjaan yang bervariasi untuk mengurangi kontak secara terus menerus dengan debu dan serat. Area kerja seharusnya terjaga kebersihannya untuk menghindari debu dan serat yang terbentuk. Pembuangan serat seharusnya ditempatkan dalam kontainer yang bersegel. Pemantauan udara untuk melihat tingkatan serat seharusnya dilakukan; jika tingkatan serat diatas standar yang ditetapkan, tindakan harus segera diambil. Masker seharusnya dipakai oleh pekerja yang kontak langsung dengan bahaya serat dan debu hingga tempat kerja dapat dibuat lebih aman. Alat pernafasan diperlukan untuk penggunaan temporer atau dalam keadaan darurat.
Page 52

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 32
b. Polusi dari Bahan Kimia
Bahan kimia yang keras, bau yang tajam atau mempunyai warna tersendiri dan pemberian label yang jelas dapat menjadi peringatan kepada pekerja tentang apa zatnya. Tetapi hal tersebut tidak selalu mudah untuk mendeteksi polusi kimia lebih dini. 1) Beberapa cara polusi kimia menyerang secara perlahan pada pekerja : • • • Gas yang tidak berwarna atau tidak berbau dapat terbentuk pada ruang terbatas dan bisa menyebabkan mati lemas. Uap dengan bau yang enak dapat membuat mabuk, sehingga berefek mematikan dalam beberapa menit. Serbuk kimia yang ditangani bertahun-tahun dapat berefek jelek dikemudian hari, seperti kanker atau sakit liver kronis.

Maka dari itu jangan sembarangan jika menggunakan bahan kimia dalam proses kerja atau menanganinya. Jangan mengira tidak membahayakan; sebab bahan kimia tidak berbau, atau karena telah bekerja bertahun-tahun menggunakan bahan kimia dan belum pernah mencelakakan. Pekerja seharusnya mengetahui aturan yang berhubungan dengan risiko bahan kimia yang digunakan, dengan mengikuti semua petunjuk yang dibolehkan untuk penggunaan bahan kimia. Peranan lembaran data keamanan bahan (Material Safety Data Sheet / MSDS) cukup penting. Adanya ahli K3 ditempat kerja yang dapat membantu untuk membaca dan memahami informasi pada MSDS, sangat bermanfaat melindungi diri pekerja. 2) Langkah pencegahan dan pengontrolan polusi kimia : • • • • • Bila mungkin, hentikan penggunaan bahan kimia berbahaya ditempat kerja. Ganti bahan kimia dengan yang aman kandungan zatnya. Menutupi proses kerja atau penyimpanan kontainer untuk kandungan bahan kimia (yaitu menutupi wadah, penanganan dari jauh/ pakai remote). Sistim ventilasi industri dirancang dengan baik, agar dapat menghilangkan asap dan uap. Udara ditempat kerja harus dimonitor dan semua udara kotor dinetralkan. Pakaian dan perlengkapan pelindung seperti masker muka, alat pernafasan dan pelindung kepala (helm) dipakai hingga tempat kerja aman. Semua pelindung roda gigi harus sesuai standar yang aman. Secara berkala kesehatan pekerja dimonitor.

•

3) Tumpahan, Bocoran dan sisa pembuangan Tumpahan dan bocoran kandungan bahan kimia yang berbahaya harus selalu diperlakukan dengan cara yang tepat, sesuai penjelasan pada MSDS.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 53

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 33

Beberapa alasan mengapa bocoran dan tumpahan bahan kimia harus diperlakukan dengan tepat : • • • • • Jika kandungan bahan kimia tumpah atau bocor, mengalir kedalam drainase, hal itu akan mengotori saluran air masyarakat. Gas toxic secara ceroboh tertumpah keudara, dapat berefek pada kesehatan banyak orang di masyarakat. Gas toxic dihasilkan dari bahan kimia yang terbakar, dapat menyebabkan kerusakan kulit dan gangguan pernafasan. Untuk waktu lama dapat terjadi gangguan kesehatan. Ledakan cairan yang mudah terbakar pada pabrik yang terbakar dapat dengan serius membahayakan pemadam kebakaran dan wilayah hunian terdekat. Pembuangan bahan kimia bekas harus dikontrol secara tepat. Pada MSDS diberikan petunjuk cara pembuangan yang harus diikuti sesuai peraturan.

Harus dipahami bahwa bekerja dengan bahan kimia meliputi tanggung jawab untuk melindungi semua masyarakat dari timbulnya bahaya. Potensi risiko untuk masyarakat biasanya dari sumber alami yang penting, seperti udara dan air. Polusi harus dipertanggungjawabkan pada semua tempat kerja untuk memastikan bahwa standar keselamatan sesuai peraturan untuk melindungi pekerja dan masyarakat luas.

c. Kebisingan
1) Sumber kebisingan • Setiap orang punya perbedaan pendapat tentang kapan kebisingan dianggap terlalu keras dan apa jenis kebisingan yang dapat diterima. Suara kendaraan bermotor konstan diterima orang disekitar kota, secara berangsur-angsur menjadi biasa dengan tingkat kebisingan tersebut, sedangkan bagi orang-orang dari sekitar pinggiran merupakan suatu yang menyakitkan. Memainkan musik keras dirumah, di jalan dan ditoko menyebabkan keluhan sejumlah besar orang, karena merasa terganggu. Undang-undang telah mengatur kontrol dan standar kebisingan yang diizinkan untuk mengatur orang-orang yang menimbulkan ketidak amanan dan anti-sosial tingkat kebisingan. Industri di banyak tempat telah menjadi begitu bising sehingga hampir semua pekerja industri mengalami tingkat kebisingan yang berbahaya dari suara mesin pon, kompresor, dan kebisingan industri lainnya.

•

•

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 54

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 34

2) Tingkat kebisingan Desibel (dB) adalah ukuran intensitas suara, sebagai perbandingan tingkat kebisingan adalah : • • • • • • • • • Pesawat terbang take off Melewati / ambang batas pendengaran Truk besar Disco Kebisingan pabrik Kebisingan jalan raya Kebisingan kantor Gemerisik daun Sunyi sepi (batas tidak dapat didengar) 180 dB 130 dB 120 dB 110 dB 100 dB 80 dB 60 dB 20 dB 0 dB

3) Mengatasi kebisingan. Pada bagian berikut ini dijelaskan empat cara dasar untuk mengatasi kebisingan : • • • • Perencanaan tata ruang yang baik Penggunaaan bahan bangunan dan akustik yang tepat Pembuatan penyekat atau bagian pembendung Penggunaan getaran suara

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 55

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 35 5. KESELAMATAN PRIBADI
Semua pekerja perlu menyadari keselamatan pribadi mereka ditempat kerja. Keselamatan pribadi ditempat kerja dapat terjamin dengan dihindarinya faktor bahaya sebelum menyebabkan cedera. Bila bahaya tidak dapat dihindari langkah yang harus diambil adalah mengurangi risiko cedera. Perlengkapan dan pakaian pelindung harus selalu dipakai untuk keselamatan ditempat kerja, atau khususnya saat perawatan dan situasi darurat.

a. Tindakan Keamanan Kerja
Banyak aktivitas berikut yang menjadi pertimbangan untuk bekerja dengan aman • • • • • • • Memodifikasi peralatan atau mesin tanpa kewenangan; Melakukan pekerjaan yang tidak dilatih untuk dilakukan; Melakukan pekerjaan yang keterampilannya atau kewenangan tidak dipunyai; Tidak memperhatikan aturan keselamatan sebab menurut pribadi hal itu menjadi penghambat dalam melakukan pekerjaan. Melakukan pekerjaan selalu dengan cara sendiri, walaupun metoda bekerja dengan aman telah dikembangkan. Mengambil jalan pintas dalam melaksanakan, walaupun jalan pintas tersebut melanggar petunjuk prosedur bekerja yang aman. Tidak menggunakan alat pengaman walaupun diperlukan waktu mengerjakan pekerjaan.

Jadi jelaslah bahwa semua aktivitas tersebut tidak aman dan sangat potensial menimbulkan bahaya. Ini adalah daftar untuk bekerja dengan aman. Hal berikut ini seharusnya dipelajari dengan seksama dan dipraktikan secara rutin. • • • • • • • • Pikirkan tentang apa yang dapat terjadi sebelum melakukannya. Jangan melakukan sesuatu yang dapat melukai diri sendiri atau orang lain. Ikuti aturan dan petunjuk keselamatan dan kesehatan kerja. Ketahui tanda peringatan dan pahami maksudnya dan lakukan seperti yang disarankan. Laporkan praktik kerja dan situasi yang diperkirakan tidak aman. Laporkan kesalahan atau peralatan dan perlengkapan yang tidak aman. Selalu mengunakan peralatan dan perlengkapan dengan benar untuk melakukan pekerjaan. Laporkan semua kecelakaan dan cedera sekecil apapun jika kemungkinan terjadi.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 56

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 36
• • • Jangan melakukan sesuatu yang belum dilatih, tidak punya keterampilan atau kewenangan melakukannya. Kerja sama dan partisipasi dalam program ini membuat tempat kerja aman. Berikan gagasan tentang bagaimana mesin, perlengkapan dan praktik kerja dapat dibuat aman.

b. Perlengkapan dan Pakaian Pelindung Pekerja serta Program di Tempat Kerja
1) Perlengkapan dan Pakaian Pelindung Pekerja Perlengkapan dan pakaian pelindung digunakan untuk melindungi pekerja dari kontak langsung dengan bahan kimia atau perantaranya yang dapat membahayakan kesehatan. • Pelindung telinga : Pelindung telinga atau sumbat melindungi pendengaran dari bahaya tingkat kebisingan. Bentuk pelindung pendengaran, sesuai untuk tempat kerja dan pekerjaan, dan seharusnya dipilih berdasarkan ukuran tingkat kebisingan pada lokasi kerja. Pelindung mata : Kaca mata, kaca pengaman, perisai muka dan helm dapat melindungi sensitif area mata dari kerusakan. Kaca plastik yang tahan tumbukan dan perisai muka akan melindungi dari pecahan yang beterbangan serta perisai tahan zat kimia diperlukan ketika menangani bahan kimia. Masker las dipakai dengan benar untuk pengelasan. Masker las dan perisai seharusnya tidak berkabut. Pelindung kulit : Sarung tangan pengaman dan krim pelapis melindungi kulit dari kerusakan dan menahan peresapan bahan kimia kedalam tubuh. Pakaian kerja dari kulit atau metalik cocok melindungi seluruh tubuh dan jas kerja digunakan untuk melindungi badan. Pakaian harus di pas dengan baik. • Pelindung pernafasan : Penutup muka, saringan udara dan alat pernafasan dengan pembersih udara digunakan untuk melindungi paru-paru dan sistim pernafasan. Alat pernafasan harus dipaskan secara perorangan dan dipilih sesuai kondisi tempat kerja. Penyaring yang benar diperlukan pada alat pernafasan, tergantung apakah pekerja kontak dengan bahan kimia, debu, serat atau jenis kotoran lainnya. Alat pernafasan seharusnya diperiksa setiap waktu sebelum digunakan. Alat pernafasan seharusnya diperiksa secara tetap untuk kebersihan umumnya dan khususnya kerusakan katup, lembaran penutup, seal, peluru, tali pengikat dan penjepit. Alat ini harus dibersihkan sesudah digunakan untuk menghindari penularan dan disimpan pada kantong plastik tertutup. Pelindung kaki : Sepatu boot (safety boots) melindungi kaki Pelindung kepala : Jaring rambut dan penutup, menjaga rambut pada tempat kerja sehingga tidak membahayakan.

•

•

• •

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 57

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 37
• Tempat lemari uap (fume cabinets), pancuran air untuk keselamatan (safety showers) dan pencuci mata darurat (emergency eye wash) juga disediakan sebagai penjagaan pertama dalam kasus kegagalan pelindung. Pakaian pelindung, perlengkapan (seperti alat pernafasan dan lemari uap) dan fasilitas dasar pertolongan pertama seharusnya tersedia ditempat kerja.

2) Program Perlengkapan dan Pakaian Pelindung Pekerja di Tempat kerja Perlengkapan dan pakaian pelindung ditempat kerja selalu diprogram agar benda tersebut secara pasti dipergunakan untuk mengoptimalkan faktor keselamatan. Berikut ini hal penting sebagai pertimbangan : • Benda-benda pelindung penggunaannya harus sesuai dengan persyaratan pekerjaan seteliti mungkin. Untuk contoh, penggunaan alat pernafasan dengan saringan debu tidak akan melindungi pekerja yang menangani bahan kimia. Benda-benda pelindung seharusnya sesuai dengan persyaratan standar yang berlaku Pekerja seharusnya dilatih secara benar dalam penggunaan dan perawatan perlengkapan dan pakaian pelindung. Perlengkapan perlu dirawat sebagaimana mestinya : yaitu disimpan dengan aman dan dijaga kebersihan serta direparasi dengan baik. Semua perlengkapan dan pakaian pelindung harus dipakai sebagaimana mestinya; untuk contoh, alat pernafasan dan pelindung telinga perlu tertutup dengan rapat dan sesuai tubuh sehingga terpakai dengan baik. Kenyamanan pekerja menggunakan perlengkapan dan pakaian adalah penting; berarti ketidaknyamanan atau ketidakcocokan dapat menyebabkan pekerja menolak menggunakan alat keselamatan. Memonitor lingkungan tempat kerja dan memonitor kesehatan seharusnya dilakukan secara tetap untuk meyakinkan program perlindungan memadai.

• • • •

•

•

c. Keselamatan dan Perlindungan Kebakaran
Bebarapa hal yang harus diketahui tentang kebakaran dan perlindungannya adalah : 1) Golongan Kebakaran • Api kelas A; kebakaran benda padat yang mengandung karbon; seperti papan, kertas, batu bara dan serbuk gergaji. • Api kelas B; kebakaran benda cair mengandung bahan yang mudah terbakar seperti bensin, minyak cat, solar, dll. • • • Api kelas C; kebakaran bahan gas yang mudah terbakar seperti asitelin, LPG. Api kelas D; kebakaran dari bahan logam Api kelas E; kebakaran kelistrikan dan meliputi perlengkapannya.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 58

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 38
2) Bahan dasar untuk pemadam kebakaran : • • • • • Air - di cat merah Karbon dioksida (CO2) - di cat merah dengan adanya pita hitam Cairan uap BCF (Bromo Chloro di Fluoromethane) - di cat kuning Busa - di cat biru Serbuk kering - di cat merah dengan adanya pita putih.

3) Penggunaan bahan /alat pemadam Untuk kebakaran kelas A, gunakan : • • Pasir, air jika tidak dekat aliran listrik

Untuk kebakaran kelas B, gunakan : BCF, Busa, Karbon dioksida atau Busa kering

Dilarang menggunakan air untuk memadamkan kebakaran bahan cair! Untuk kebakaran kelas C, : • Alat pemadam kebakaran untuk bahan gas yang mudah terbakar, seharusnya dijaga agar tabung gas tetap dingin dengan menggunakan air pakai selang atau alat pemadam, dan bila mungkin matikan suplai (kiriman) gas.

Untuk kebakaran kelas D, gunakan : • • Serbuk kering - di cat merah dengan adanya pita putih

Untuk kebakaran kelas E, gunakan : BCF, Karbon dioksida, Bahan kimia kering. Jika mungkin, pertama matikan sumbertenaga. Jangan mengunakan air atau busa pemadam untuk kebakaran kelistrikan. 4) Mengenal Alat Pemadam Portable Alat pemadam portable (yang mudah dipindah) biasanya mudah ditempatkan pada tempat rawan kebakaran. Adapun jenis dan simbol pada tabungnya adalah sbb. : • • • Tabung bersimbol huruf A terletak dalam segi tiga warna hijau, dipakai untuk kebakaran kelas A (kebakaran bahan padat mengandung karbon) Tabung bersimbol huruf B terletak dalam persegi panjang warna merah, dipakai untuk kebakaran kelas B (kebakaran bahan cair mudah terbakar) Tabung bersimbol huruf C terletak dalam lingkaran warna biru, dipakai untuk kebakaran kelas E (kebakaran kelistrikan)

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 59

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 39
• Tabung bersimbol huruf D terletak dalam bintang warna kuning, dipakai untuk kebakaran kelas D (kebakaran bahan logam) Pelat identifikasi alat pemadam kebakaran.

5) Kesiapan menghadapi kebakaran Semua bahan yang mudah terbakar harus dinamai, disimpan dan ditangani sebagaimana mestinya. Secara tetap latihan pemadaman seharusnya dilaksanakan sehingga pekerja terbiasa dengan prosedur keselamatan kebakaran dan mengetahui apa yang dilakukan jika terjadi kebakaran. Adapun yang diperlukan adalah : •

Pahami prosedur pencegahan kebakaran dimana anda bekerja - petugas keadaan darurat, prosedur pengungsian. Semua pekerja seharusnya mengetahui prosedur untuk pengungsian darurat dan dimana pintu keluar . Ketahui tempat semua perlengkapan untuk menghadapi kebakaran. Pelajari tempat semua alarm (sirine) kebakaran. Mampu menggunakan peralatan dan mengikuti latihan kebakaran dengan keyakinan. Menjaga peralatan menghadapi kebakaran dan rute jalan keluar bebas dari hambatan. Menjaga jalan masuk untuk tangga dan perancah/penyangga (scaffolding) bebas, dimana jalan ketangga tidak terhalang.

• • • • •

6) Pengkondisian alat pemadam kebakaran Secara lengkap peralatan pemadam harus terjaga dan mudah diambil. Menurut peraturan, alat pemadam harus dinamai dan dirawat sebagaimana mestinya. • • • Jaga alat pemadam kebakaran dari pengaruh panas dan dingin yang ekstrim (perbedaan yang mencolok). Jangan pernah mengembalikan alat pemadam kebakaran setelah digunakan ketempatnya, sebelum dinamai dan diisi kembali. Pastikan berfungsinya alat pemadam kebakaran, dan segera ditempatkan dengan seksama pada tempat yang mudah diraih agar dapat melayani reaksi bahaya kebakaran.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 60

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 40
7) Menghadapi kebakaran Jika kebakaran terjadi, segera lakukan tindakan yang tepat dan segera keluar, kurangi bahaya untuk kehidupan dan jaga kerusakan agar minimum. Jika menemukan kebakaran, ingat enam langkah KESELAMATAN ini :

•

Bunyikan alarm segera

Beberapa menit pertama setelah kebakaran mulai, adalah vital untuk mengontrolnya

•

Beritahu kebakaran

pasukan

pemadam

Yang terbaik pasukan pemadam datang ketika api masih terkontrol dibandingkan setelah api besar tidak terkontrol

•

Beritahu setiap mengamankan

orang

untuk

Seseorang menyaksikan pasukan pemadam dapat langsung memadamkan api tanpa menunda • Hadapi kebakaran dengan peralatan yang tersedia

Kebakaran kecil dapat segera dikontrol

•

Mengungsi jika perlu

Kebakaran besar bisa membahayakan hidup

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 61

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 41
• Jangan memasuki kembali gedung yang sedang terbakar

Asap dan gas didalam gedung yang sedang terbakar adalah berbahaya dan sering mematikan

Catatan:

Ketika bocoran gas terbakar, jangan coba untuk memadamkannya sebelum kebocoran dihentikan.

d. Prosedur Pengungsian Darurat
Situasi darurat di tempat kerja memungkinkan semua orang di area kerja atau seluruh pabrik mengungsi. Pencemaran udara di pabrik dari kebocoran gas, kebakaran, ancaman bom atau keadaan darurat di sekitar lokasi pabrik berada, dapat dan diharuskan setiap orang meninggalkan pabrik segera. Pabrik mempunyai prosedur pengungsian yang diperlukan pekerja untuk bertindak berdasarkan peringatan suara sirene, dan untuk diikuti perintahnya dengan cara seksama, sesuai persetujuan rencana pengungsian. Latihan pengungsian secara tetap harus dilakukan, sehingga pekerja memahami tentang peringatan sirene dan rencana tindakan keadaan darurat.

e. Pertolongan Pertama
Para petugas PPPK (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) harus mengetahui kepada siapa, di mana, dan bagaimana harus bertindak memberikan pertolongan pertama. Pada umumnya bila korban ada didekat petugas PPPK, maka dapat langsung diberi pertolongan. Tetapi bila berada jauh, maka petugas PPPK harus memutuskan apakah mengirimkan dokter, ambulans, atau yang lain. Selanjutnya, petugas PPPK melanjutkan tindakan-tindakan sebagai berikut : • • • • Petugas PPPK memberikan laporan secara terperinci mengenai korban dan pertolongan pertama yang telah diberikan kepada dokter. Mandor/Pengawas harus bertanggung jawab dan melaporkan kejadian yang dialami korban. Untuk urusan selanjutnya ditangani oleh bagian adminstrasi. Pimpinan atau atasan harus ikut menanggung dan memberikan keputusan untuk segera menyelidiki sebab-sebabnya.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 62

Bab 4

Strategi Penyajian

Lembar Informasi

HO 42
Selain petugas PPPK, harus tersedia juga perlengkapan pertolongan pertama lain atau obatobatan yang disimpan dalam kotak PPPK, misalnya : • • • kapas; obat luka baru, perubalsem; dan borwater, pembalut luka, tensoplas, dan obat-obatan lain.

D samping kotak PPPK, slogan atau poster perlu juga sebagai alat bantu untuk mengingatkan pekerja pada waktu bekerja. Walaupun tindakan pertolongan pertama tidak tercakup dalam modul ini, setiap orang seharusnya telah berlatih dasar-dasar pertolongan pertama.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 63

Bab 4

Strategi Penyajian

Tugas

Tugas

Tugas 1 Istilah dan Ruang lingkup
1. Sebutkan maksud tempat kerja dalam undang-undang Keselamatan Kerja tahun 1970 2. Diskusikan apa saja ruang lingkup yang dicakup dalam undang-undang Keselamatan Kerja tahun 1970.

Tugas 2 Persyaratan Keselamatan Kerja
1. Dengan apa ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja, 2. Buatlah daftar semua persyaratan keselamatan kerja

Tugas 3 Pengawasan, Pembinaan dan Panitia K3
1. Siapa saja yang melakukan pengawasan terhadap undang-undang keselamatan kerja dan sejauh mana kewenangan masing-masing. Diskusikan tentang susunan dan tugas Panitia Banding. 2. Apa saja kewajiban pembinaan pengurus terhadap tenaga kerja baru. Diskusikan tugas pembinaan lainnya dari pengurus. 3. Sebutkan fungsi Panitia K3, dan diskusikan susunan kepanitiaan K3 yang sebaiknya.

Tugas 4 Kewajiban dan Hak Tenaga Kerja serta Pengurus
Petunjuk : 1. Diskusikan kewajiban dan hak tenaga kerja menurut undang-undang Keselamatan Kerja.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 64

Bab 4

Strategi Penyajian

Tugas

2. Sebutkan kewajiban pengurus terhadap dokumen undang-undang Keselamatan Kerja dan peraturan pelaksanaannya, terhadap gambar keselamatan kerja dan alat perlindungan diri untuk tenaga kerja.

Tugas 5 Tata cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan
Petunjuk : 1. Jelaskan tata cara pelaporan suatu kecelakaan kerja. Diskusikan dengan grup belajar anda tentang format laporan dan pengisiannya. 2. Sebutkan prosedur pemeriksaan kecelakaan dan jenis pemeriksaan yang dilakukan. Diskusikan juga format-format laporan pemeriksaan.

Tugas 6 Penerapan dan Audit Sistem Manajemen K3
Petunjuk : 3. Jelaskan ketentuan-ketentuan yang wajib dilakukan oleh perusahaan dalam penerapan Sistem Manajemen K3. Diskusikan dengan grup belajar anda. 4. Sebutkan unsur-unsur audit Sistem Manajemen K3 dan diskusikan mekanisme pelaksanaan audit.

Tugas 7 Jenis-jenis Bahaya di Tempat Kerja
1. Apa jenis-jenis cedera, penyakit atau kesakitan yang dapat disebabkan oleh : a) Gerakan bagian peralatan ? b) Kebisingan ? c) Getaran ? d) Pencahayaan ? e) D e b u ?
Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc Page 65

Bab 4

Strategi Penyajian

Tugas

f) Tekanan udara ? g) Penanganan manual dan pengangkatan ? 2. Berikan contoh dari masing-masing bahaya bahan kimia, dan cedera/penyakit yang disebabkan oleh : a) G a s b) A s a p c) Cairan d) Zat berbahaya lainnya 3. Seberapa bahaya psikologi yang bisa anda sebutkan ? 4. Sebutkan seberapa bahaya biologi yang mungkin terjadi ditempat kerja, yang mungkin menimbulkan kasus.

Tugas 8 Pencegahan Dan Pengontrolan Bahaya Sistim Kerja
1. Mengapa sistim kerja yang aman termasuk rotasi pekerjaan ? 2. Bicarakan dalam grup belajar anda tentang perancangan/mengatur kembali sistim pekerjaan yang anda lakukan, atau peralatan yang anda gunakan. Bagaimana hal itu dapat dilakukan .

Tugas 9 Pencegahan dan Pengontrolan Bahaya Pemesinan, Kebisingan dan Penanganan Manual
Petunjuk 1 : • • Apakah ada beberapa praktik buruk yang digunakan pada tempat kerja anda ? Data hal tersebut dan diskusikan dengan grup belajar anda. Diskusikan dengan pembimbing dan grup belajar anda beberapa fakta bahaya pada pemesinan ditempat kerja anda. Bagaimana anda dapat menjamin bahwa bahaya dapat dicegah atau dikontrol.

Petunjuk 2 : • Minta pembimbing untuk memutar video tentang kebisingan atau mengunjungi tempat kerja dan amati tentang kebisingan.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 66

Bab 4

Strategi Penyajian

Tugas

•

Apakah kebisingan suatu masalah ditempat kerja anda ?. Ada beberapa cara pemeriksaan efek kebisingan atau mengurangi kebisingan yang terlihat, yang digunakan ditempat kerja anda ?. Seharusnya itu dilakukan ?. Diskusikan hal itu dengan pembimbing dan grup belajar anda.

• •

Petunjuk 3 : Diskusikan dengan grup anda semua perbedaan bentuk penanganan manual yang anda lakukan dalam minggu tertentu.

Petunjuk 4 : • Minta pembimbing anda untuk menampilkan video tentang penanganan manual atau berkunjung ke tempat kerja. Ada berapakah praktik buruk yang dilihat, digunakan ditempat kerja anda ? Yang mana ? Diskusikan hal tersebut dengan grup anda, dan berikan saran cara untuk menghindarinya.

•

Tugas 10 Pencegahan dan Pengontrolan Bahaya Kimia
Petunjuk 1 : Pembimbing anda akan menyajikan beberapa lembaran data keselamatan bahan (Material Safety Data Sheet / MSDS) dari tempat kerja anda. Bicarakan dengan pembimbing dan grup belajar anda tentang zat apa yang dikandungnya, apa efeknya kepada kesehatan dan apa tindakan pengamanan yang dilakukan ketika menggunakannya. Petunjuk 2 : Kerjakan dengan pembimbing dan grup belajar anda, untuk mendata semua cara berdasarkan pemikiran anda untuk pencegahan atau pengontrolan bahaya bahan kimia. Gunakan kategori berikut (lihat kembali bagian gagasan 'Pencegahan dan pengontrolan bahaya') • • • • • Mengeliminir bahaya Cara bekerja yang aman dari bahaya Prosedur dan sistim kerja yang aman Penggunaan peralatan dan pakaian pelindung

Petunjuk 3 : Minta pembimbing anda memutarkan video tentang penanganan bahan kimia atau mengunjungi tempat kerja dan amati tentang penanganan bahan kimia. Apa yang disarankan untuk peningkatan diarea tempat kerja anda ? Diskusikan hal itu dengan grup belajar anda

• •

Petunjuk 4 : Kerjakan dengan pembimbing dan grup belajar anda untuk mendata kemungkinan efek penyalah-gunaan obat bius atau alkohol pada tempat kerja anda.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 67

Bab 4

Strategi Penyajian

Tugas

Tugas 11 Tata Laksana yang baik
Petunjuk 1 : • Tanyakan pada pembimbing apakah perusahaan anda punya Daftar Pemeriksaan Keselamatan Kerja. Jika ada, tentukan area kerja di pabrik dan isi daftar untuk area tersebut dengan menandai Ya/Tidak dilaksanakan pada lembaran yang disediakan dan buatlah komentar yang sesuai. Jika mungkin, kerjakan tugas ini dengan rekan yang lain dalam grup belajar anda. Jika perusahaan anda tidak mempunyai daftar, buatlah daftar tersebut dengan kerjasama grup.

• •

Petunjuk 2 : Sekarang lihat video tentang tata laksana tempat kerja, atau kunjungi tempat kerja dan amati tentang tata laksana area produksi, bengkel atau area kerja lainnya. Diskusikan hasil pengamatan grup dan tuliskan beberapa hal dengan seksama dibawah judul berikut ini : • • • • • Jalan masuk bersih Tempat kerja rapi Tangga Alas kaki tepat Oli tumpah

Tugas 12 Penyimpanan Bahan
Petunjuk : Bicarakan dengan rekan yang lain dalam grup belajar anda mengenai situasi berikut. Pada masingmasing kasus kecelakaan apa yang dapat terjadi dan apa yang seharusnya dilakukan pekerja untuk menghindari kecelakaan. Tulis jawaban anda ! • • • • Pekerja menggunakan trolley (kereta) untuk membawa beberapa bahan, tetapi tidak mengikuti jalur jalan yang telah ditandai. Pekerja diberitahu bahwa beberapa kain lap yang telah di celupkan kedalam bahan pelarut terbentang diatas lantai area kerja. Saluran tenaga listrik dapat terletak melintasi permukaan yang lembab dengan aman, hal itu berbahaya jika melintasi jalur jalan atau gang. Bahan kimia dapat dengan aman disimpan dalam lemari tahan api pada area kerja.
Page 68

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Bab 4

Strategi Penyajian

Tugas

• •

Tumpahan, gemuk atau sampah tergeletak di area kerja. Alat bantu mekanik disimpan ditempat yang mudah didatangi

Tugas 13 Gambar Simbol Keselamatan Kerja
Petunjuk : • Manfaatkan Gambar Simbol Keselamatan untuk Tempat kerja dari Departemen Tenaga Kerja untuk mempelajari mengenai semua standar tanda keselamatan yang dipergunakan di tempat kerja. Jika anda merasa percaya diri bahwa anda mampu mengidentifikasi semua tanda-tanda, tutup buku dan tulislah maksud dari masing-masing gambar simbol tersebut.

•

Tugas 14 Polusi Serat Dan Debu Pada Lingkungan Industri
Petunjuk : Tugas ini dicobakan hanya jika relevan dengan perusahaan anda. Cari data tentang partikel serat dan debu yang dihasilkan dari proses kerja dan atau bahan yang digunakan pada area kerja, termasuk bahan isolasi, pelapis dan pembungkus. Identifikasi jenis debu dan serat, jika perlu minta penjelasan kepada petugas keselamatan dan kesehatan kerja tentang masalah kesehatan yang disebabkan oleh debu dan serat. Lengkapi berikut ini, sebagai contoh yang telah dilakukan. Anda hanya perlu melakukan satu contoh untuk masing-masing area kerja. contoh : Kelistrikan : Debu atau Bahaya Serat • • • Jenis Polusi : Isolasi Serat mineral keramik yang jelek untuk isolasi panas. Penyebab Bahaya : Penanganan yang jelek atau kontak langsung dengan partikel serat yang ada di udara. Efek Kesehatan : Iritasi kulit, serangan asma atau kanker paru-paru.

a. Elektronik : Debu atau Bahaya Serat • • • Jenis Polusi : Penyebab Bahaya : Efek Kesehatan :
Page 69

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Bab 4

Strategi Penyajian

Tugas

b. Pekerjaan Logam : Debu atau Bahaya Serat • • • • • • • • • Jenis Polusi : Penyebab Bahaya : Efek Kesehatan :

c. Plastik : Debu atau Bahaya Serat Jenis Polusi : Penyebab Bahaya : Efek Kesehatan :

d. Perawatan Pabrik : Debu atau Bahaya Serat Jenis Polusi : Penyebab Bahaya : Efek Kesehatan :

Tugas 15 Pencegahan Dan Pengontrolan Polusi Bahan Kimia
Petunjuk : Pada tugas ini anda perlu bicara kepada petugas keselamatan dan kesehatan kerja, pekerja dimasing-masing area berikut (yang relevan untuk pabrik anda) dan berkenaan dengan MSDS. Untuk masing-masing area kerja (relevan untuk perusahaan anda), pilih bahan kimia dan jelaskan hal berikut : • • • Hubungan bahaya kesehatan dengan kandungan bahan kimia; Bagaimana menangani kandungan zat tersebut dengan aman; Tindakan pengamanan untuk penggunaannya.

a. Elektronik : Bahaya Kimia Data bahan kimia, gas, bahan pelarut dan bahan campuran digunakan pada Elektronik. 1) ………………………(nama kandungan bahan kimia) • • • Bahaya kesehatan : Penanganan keselamatan, termasuk pembuangan sisa : Tindakan pengamanan :

b. Pengerjaan Logam : Bahaya Kimia Data bahan kimia, gas, bahan pelarut dan bahan campuran digunakan pada Pengerjaan Logam. 1) ………………………(nama kandungan bahan kimia)
Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc Page 70

Bab 4

Strategi Penyajian

Tugas

• • •

Bahaya kesehatan : Penanganan keselamatan, termasuk pembuangan sisa : Tindakan pengamanan :

c. Plastik : Bahaya Kimia Data bahan kimia, gas, bahan pelarut dan bahan campuran digunakan pada Plastik. 1) ………………………(nama kandungan bahan kimia) • • • Bahaya kesehatan : Penanganan keselamatan, termasuk pembuangan sisa : Tindakan pengamanan :

d. Perawatan Pabrik : Bahaya Kimia Data bahan kimia, gas, bahan pelarut dan bahan campuran digunakan pada Perawatan Pabrik. 1) ………………………(nama kandungan bahan kimia) • • • Bahaya kesehatan : Penanganan keselamatan, termasuk pembuangan sisa : Tindakan pengamanan :

Tugas 16 Pencegahan dan pengontrolan polusi kebisingan
Petunjuk : a. Cari informasi tentang berapa tingginya tingkat kebisingan yang diizinkan pada pabrik. • Tingkat kebisingan yang diizinkan pada pabrik adalah :

b. Kunjungi pabrik dan tanyakan kepada pengurus keselamatan dan kesehatan kerja, berapa takaran kebisingan sehari-hari pada tempat atau pabrik tersebut. • Takaran kebisingan sehari-hari pada pabrik adalah :

c. Temukan dari pihak manajemen apa mereka punya rencana memperbaiki bahaya kebisingan pada pabrik dan kapan mereka melakukan perbaikannya. Tulis jawaban anda disini. • • Manajemen merencanakan perbaikan tingkat kebisingan oleh : Perbaikan ini direncanakan untuk membuat :

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 71

Bab 4

Strategi Penyajian

Tugas

Tugas 17 Tindakan Keamanan Kerja
1. Dari tiga aktivitas berikut ini menunjukan cara dan sikap kerja. Untuk masing-masing terangkan pendapat anda, dan kemungkinan apa yang dapat terjadi (kecelakaan apa?). 1) aktivitas : Memodifikasi peralatan atau mesin tanpa kewenangan • • Bagaimana pendapat anda (Berbahaya atau tidak) Kemungkinan kejadian?.

2) aktivitas : Melakukan pekerjaan tanpa aturan keselamatan sebab aturan dianggap menghambat proses pekerjaan. • • • • Bagaimana pendapat anda (Berbahaya atau tidak) Kemungkinan kejadian?.

3) aktivitas : Tidak menggunakan alat pengaman Bagaimana pendapat anda (Berbahaya atau tidak) Kemungkinan kejadian?.

2. Berapa banyak aktivitas berikut yang menjadi pertimbangan bagi anda untuk bekerja dengan aman ?. Diskusikan dalam grup. • • • • • • Sedang bekerja bercanda dengan pekerja lain termasuk mengganggu mesin atau alat pengaman; Menarik perhatian sekitar dengan pura-pura berkelahi atau berkelakar dengan kasar; Minum alkohol saat istirahat siang dan kemudian kembali bekerja pada mesin dengan merasa sedikit melayang atau gembira tidak terkendali; Lari turun tangga dan terpeleset pada jalur tangga; Menghilangkan tanda dilarang merokok di toilet atau area lain yang dilarang merokok. Merasa jemu dengan pekerjaan atau dengan supervisor sehingga melakukan sabotase terhadap peralatan atau mesin sehingga sesuatu berjalan lambat.

Untuk masing-masing terangkan mengapa hal itu berbahaya dan apa kecelakaan / cedera yang ditimbulkannya.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 72

Bab 4

Strategi Penyajian

Tugas

Tugas 18 Perlengkapan dan Pakaian Pelindung serta Program di Tempat Kerja
1. Sebutkan berikut ! masing-masing alat perlengkapan dan pakaian pelindung berdasarkan gambar

A B

C

D E

F

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 73

Bab 4

Strategi Penyajian

Tugas

Tugas 19 Keselamatan dan Perlindungan Kebakaran
Petunjuk : Anda mungkin perlu bantuan pengurus keselamatan dan kesehatan kerja atau petugas kepegawaian untuk melengkapi tugas berikut : 1) Adakah pabrik anda mempunyai sistim 'sprinkler' otomatis jika terjadi kebakaran YA / TIDAK Jika ya, bagaimana pengaturan cara kerjanya ketika mulai kebakaran ? 2) Apa jenis alat pemadam yang digunakan untuk kebakaran awal dari kandungan bahan berikut ini : • • • • Kesalahan pengawatan pada instalasi kelistrikan. Gas LPG bocor Kain lap masuk kedalam bahan pelarut Kotak-kotak bekas pengepakan

3) Buatlah peta area kerja anda dan tanda penempatan alat pemadam kebakaran (dan jenis alat pemadam) dan pintu keluar. Ini adalah contoh dari apa yang seharusnya dibuat. Gambar denah

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 74

Bab 4

Strategi Penyajian

Tugas

Tugas 20 Prosedur Pengungsian Darurat
Petunjuk : Anda mungkin perlu bantuan perwakilan keselamatan dan kesehatan kerja atau petugas kepegawaian untuk melengkapi tugas berikut : 1) Adakah lebih dari satu jenis sirene atau suara tanda peringatan ditempat kerja anda untuk keadaan darurat ? YA / TIDAK 2) Jika ya, berapa banyak jenis tanda peringatan yang ada dan apakah maksud masingmasingnya ? 3) Ketika anda mendengar suara tanda peringatan apa yang harus anda lakukan ? Jelaskan langkah per langkah. 4) Siapa pengawas kebakaran dan / atau keadaan darurat di area kerja dan / atau di pabrik ? 5) Apa tugas pengawas untuk keadaan darurat ?

Tugas 21 Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK)
1) Tanda atau simbol PPPK adalah ?. 2) Apa saja tindakan utama dalam pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan. 3) Apa saja isi Kotak PPPK ?.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 75

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 1
Transparansi

UNDANG-UNDANG KESELAMATAN KERJA Jika anda telah lengkap mempelajari unit ini, anda akan mampu untuk :
• • • • • Mengidentifikasi istilah dan ruang lingkup wilayah dan jenis pekerjaan yang dijamin undang-undang keselamatan kerja (pasal 1 dan 2) Menjelaskan dengan peraturan perundang-undangan menetapkan syarat-syarat untuk keselamatan kerja (pasal 3 dan 4). Memahami siapa yang diwajibkan untuk mengawasi pelaksanaan undang-undang keselamatan kerja (pasal 5 ,6,7 dan 8). Menjelaskan bagaimana pembinaan terhadap pelaksanaan undang-undang keselamatan kerja (pasal 9 dan 10). Menguraikan kewajiban dan hak tenaga kerja serta pengurus, agar keselamatan dan kesehatan kerja terjamin (pasal 11,12 dan 13).

Mengapa ini penting ?
Keselamatan dan kesehatan anda serta yang lainnya, tergantung atas diketahuinya tanggung jawab anda, dan apa yang dilakukan tentang masalah keselamatan dan kesehatan yang timbul. Anda juga perlu mengetahui langkah-langkah apa yang dilakukan jika anda atau yang lainnya mempunyai permasalahan di tempat kerja.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 76

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 2

Falsafah Keselamatan Kerja
“Menjamin keadaan, keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah manusia serta hasil karya dan budayanya, tertuju pada kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan manusia pada khususnya”.

Sasaran Keselamatan kerja:
1. 2. 3. 4. 5. Mencegah terjadinya kecelakaan. Mencegah timbulnya penyakit akibat/pekerjaan Mencegah/mengurangi kematian Mencegah/mengurangi cacat tetap Mengamankan material, konstruksi, pemakaian, pemeliharaan bangunanbangunan, alat-alat kerja, mesin-mesin, pesawat-pesawat, instalasiinstalasi dan sebagainya. Meningkatkan produktivitas kerja tanpa memeras tenaga kerja dan menjamin kehidupan produksinya. Mencegah pemborosan tenaga kerja, modal, alat-alat dan sumber-sumber produksi lainnya sewaktu kerja dan sebagainya, Menjamin tempat kerja yang sehat, bersih, nyaman, dan aman sehingga menimbulkan kegembiraan semangat dalam bekerja. Memperlancar, meningkatkan, dan mengamankan produksi, industri serta pembangunan.

6. 7. 8. 9.

Semua sasaran itu bertujuan meningkatkan taraf hidup (standard of living) dan kesejahteraan umat manusia.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 77

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 3

Tata Cara Pelaporan Kecelakaan
Pengurus atau pengusaha wajib melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi di tempat kerja dipimpinnya. Kewajiban melaporkan berlaku bagi pengurus atau pengusaha yang telah dan yang belum mengikutsertakan pekerjaannya ke dalam program jaminan sosial tenaga kerja wajib melaporkan secara tertulis kepada Kepala Kantor Departemen Tenaga Kerja setempat dalam waktu tidak lebih dari 2 x 24 jam. Penyampaian laporan dapat dilakukan secara lisan sebelum dilaporkan secara tertulis.

Pemeriksaan Kecelakaan
Setiap setelah menerima laporan kecelakaan dari pengurus atau pengusaha, Kepala Kantor Depnaker memerintahkan pegawai pengawas untuk melakukan pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan. Kepala Kantor Depnaker berdasarkan hasil pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan pada setiap akhir bulan menyusun analisis laporan kecelakaan dan menyampaikan kepada Kakanwil Depnaker selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya. Kakanwil Depnaker berdasarkan analisis laporan kecelakaan menyusun analisis kecelakaan setiap bulan dan kepada Menteri atau Pejabat yang ditunjuk. Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan berdasarkan analisis laporan kecelakaan menyusun analisis laporan kekerapan dan keparahan kecelakaan tingkat nasional.
Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc Page 78

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 4

Penerapan Sistem Manajemen K3
Untuk menjamin orang lain yang proses produksi perlu penerapan Kerja keselamatan dan kesehatan tenaga kerja maupun berada di tempat kerja, serta sumber produksi, dan lingkungan kerja dalam keadaan aman, maka Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan

Audit Sistem Manajemen K3
Untuk pembuktian penerapan Sistem Manajemen K3, maka perlu diaudit unsur-unsur :
1) Pembangunan dan pemeliharaan komitmen ; 2) Strategi pendokumentasian ; 3) Peninjauan ulang desain dan kontrak ; 4) Pengendalian dokumen ; 5) Pembelian ; 6) Keamanan bekerja berdasarkan Sistem Manajemen K3 ; 7) Standar Pemantauan ; 8) Pelaporan dan perbaikan kekurangan ; 9) Pengelolaan material dan pemindahannya ; 10) Pengumpulan dan penggunaan data ; 11) Pemeriksaan sistem manajemen ;
12) Pengembangan keterampilan dan kemampuan;

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 79

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 5

Bahaya di Tempat Kerja
Tujuan : • Menggambarkan jenis-jenis bahaya di tempat kerja • Mengidetifikasi bahaya yang dapat menyebabkan kesalahan dan cedera pada tempat kerja anda, dan menjelaskan bagaimana bahaya dapat dicegah dan dikontrol. • Menjelaskan apa yang dimaksud dengan lembaran data keselamatan bahan (Material Safety Data Sheet / MSDS) dan bagaimana menggunakannya.

Mengapa ini penting ? Semua pekerja perlu menyadari bahaya di tempat kerja, sehingga mereka dapat bekerja kearah pengurangan kecelakaan, cedera dan sakit.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 80

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 6

Jenis-jenis Bahaya :
1. Bahaya Fisik :
• Gerakan peralatan atau bagian mesin • Bising, getaran, pencahayaan, debu, tekanan udara

• Penanganan manual dan pengangkatan 2. Bahaya Bahan Kimia :
• Gas, asap, cairan, dan zat berbahaya lainnya

3. Bahaya Ergonomi :
• Desain peralatan buruk atau tata letak yang salah

4. Bahaya Radiasi :
• Radiasi microwave • Cahaya laser daya tinggi • Pemanas infra-red daya tinggi • Sinar gamma dari zat radio aktif • Radiasi ultra violet dari matahari

5. Bahaya Psikologi :
• Stress, atau tidak senang pada pekerjaan

6. Bahaya Biologi :
• Inspeksi kuman, virus penyakit

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 81

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 7

Prinsip Pencegahan atau Pengontrolan Bahaya : • Bila mungkin, eliminir bahaya • Jika bahaya tidak bisa dieliminir, cari cara yang aman untuk mengerjakan • Pastikan prosedur dan sistim kerja yang aman • Gunakan peralatan dan pakaian pelindung

Bahaya dan Pencegahan : • Pengaturan Kerja • Gerakan Mesin • Pengaruh Kebisingan • Penanganan Manual • Reaksi bahan Kimia • Alkohol dan Penggunaan Obat Bius • Bahaya lain ditempat Kerja

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 82

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 8

Tata Laksana Industri
Tujuan : • Menjelaskan apa maksud Tata Laksana Industri • Menjelaskan bagaimana tata laksana yang baik dapat membuat tempat kerja aman. • Menjelaskan bahaya apa yang dapat disebabkan oleh tata laksana yang buruk. • Menjelaskan apa maksud gambar simbol keselamatan kerja.

Mengapa ini penting ?
Banyak kecelakaan tidak dapat dihindarkan pada tempat kerja, terjadi karena pekerja dan perusahaan tidak memberikan perhatian pada tata laksana yang baik.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 83

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 9

Manfaat Tata Laksana Yang Baik : • Memperkecil kecelakaan dan cedera yang terjadi di tempat kerja • Risiko kebakaran berkurang • Pekerja lebih percaya diri bekerja dengan aman • Tempat kerja menjadi lebih efesien

Beberapa Hal Penting Dalam Penyimpanan Bahan :
• Mudah diambil dan diangkut • Bahan tersimpan pada rak, laci atau kotak masingmasing. • Barang berbahaya tersimpan pada tempat khusus yang aman • Bahan kimia diberi label dengan jelas, terpisah sesuai jenisnya dan disimpan pada tempat yang memenuhi persyaratan • Lokasi gudang dan area kerja selalu dimonitor batas tingkatan asap, debu dan radiasi. Bau yang menyengat, gumpalan awan dan debu dari asap harus diselidiki.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 84

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 10

Contoh Gambar Simbol Keselamatan

• Tanda Larangan / Pencegahan kecelakaan ; Gambar lingkaran dengan diagonal merah diatas warna dasar putih. Contoh; dilarang merokok. • Tanda Peringatan bahaya keselamatan dan kesehatan kerja; Berbentuk segi tiga dengan warna hitam diatas warna dasar putih. Contoh; mudah terbakar atau awas api • Tanda Pemberitahuan /Tempat perlengkapan keadaan darurat tersimpan; Berbentuk segi empat , Contoh; tempat PPPK • Tanda Perintah/Pemberitahuan kepada pekerja dimana perlengkapan keselamatan khusus harus dipakai; Gambar putih diatas warna dasar biru. Contoh; gunakan kaca mata

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 85

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 11

Polusi pada Industri
Tujuan :
• Menjelaskan istilah-istilah pada polusi. • Menjelaskan sumber-sumber polusi.

• Menjelaskan cara pencegahan dan pengontrolan polusi.

Mengapa ini Penting ?
Banyak polusi yang terjadi pada industri dan menyebabkan terganggunya lingkungan dan membahayakan manusia dan habitat makhluk lainnya secara luas.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 86

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 12

Polusi pada Lingkungan Industri
• Polusi dari serat (fiber) dan debu • Polusi dari bahan kimia • Polusi kebisingan

Pencegahan dan Pengontrolan
Polusi pada tempat kerja industri utamanya disebabkan oleh timbulnya bahaya serat dan debu, kandungan kimia dan tidak amannya tingkat kebisingan. Lima Prinsip Pencegahan dan Pengontrolan dijelaskan pada unit 2 yaitu : • Lenyapkan • Ganti (bahan) • Kontrol • Prosedur dan sistim kerja yang aman • Perlengkapan dan pakaian pelindung.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 87

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 13

Keselamatan Pribadi
Tujuan :
• Mengenalkan sikap aman dan tidak aman di tempat kerja. • Menggambarkan sikap, prosedur dan praktik kerja yang mungkin menyebabkan cedera diri sendiri atau orang lain. • Mendata cara yang dapat meminimalkan risiko dan cedera. • Mendata barang perlengkapan dan pakaian pelindung • Memilih dengan tepat alat pemadam kebakaran yang sesuai dengan jenis kebakaran/bahan yang terbakar. • Menjelaskan prosedur pengungsian tempat kerja dan pertolongan pertama pada kecelakaan.

Mengapa ini penting ?
Semua pekerja perlu menyadari keselamatan pribadi mereka di tempat kerja. Anda telah siap mempelajari bahaya yang ada di tempat kerja dan polusi yang mungkin timbul dari bahan kimia dan pemesinan. Sekarang anda akan belajar bagaimana anda dapat meminimalkan risiko untuk diri sendiri dari faktor tersebut.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 88

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 14

Tindakan Keamanan Kerja
Aktivitas yang perlu dipertanyakan untuk bekerja dengan aman ? • Memodifikasi peralatan atau mesin tanpa kewenangan; • Melakukan pekerjaan yang tidak dilatih untuk melakukan; • Melakukan pekerjaan kewenangan; yang tidak punya keterampilan atau

• Tidak memperhatikan aturan keselamatan sebab menurut pribadi hal itu menjadi penghambat dalam melakukan pekerjaan. • Melakukan pekerjaan selalu seperti cara sendiri, walaupun metoda bekerja dengan aman telah dikembangkan. • Mengambil jalan pintas ketika mengerjakan, walaupun jalan pintas melanggar petunjuk prosedur bekerja yang aman. • Tidak menggunakan alat pengaman walaupun diperlukan waktu mengerjakan pekerjaan.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 89

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 15

Tindakan Bekerja dengan Aman
Daftar berikut ini seharusnya dipraktikan secara rutin. dipelajari dengan seksama dan

• Pikirkan tentang apa yang dapat terjadi sebelum melakukannya. • Jangan melakukan sesuatu yang dapat melukai diri sendiri atau orang lain. • Ikuti aturan dan petunjuk keselamatan • Ketahui tanda peringatan dan pahami maksudnya dan lakukan seperti yang ditunjukan. • Laporkan praktik kerja dan situasi yang diperkirakan tidak aman. • Laporkan kesalahan atau peralatan dan perlengkapan yang tidak aman. • Selalu mengunakan peralatan dan perlengkapan dengan benar untuk pekerjaan yang dilakukan. • Laporkan semua kecelakaan dan cedera sekecil apapun jika kemungkinan terjadi. • Jangan melakukan sesuatu yang belum dilatih, keterampilan atau kewenangan melakukannya. tidak punya

• Kerja sama dan partisipasi dalam program ini membuat tempat kerja aman. • Berikan gagasan tentang bagaimana pemesinan, perlengkapan dan praktik kerja dapat dibuat aman.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 90

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 16

Perlengkapan dan Pakaian Pelindung

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 91

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 17

Keselamatan Kebakaran

dan

Perlindungan

Tabel Golongan Kebakaran dan Bahan Pemadam
Golongan Kebakaran
Kelas A

Kebakaran mengandung

Bahan/alat pemadam

Bahan padat mengandung karbon; Air (tabung warna merah) seperti papan, kertas, batu bara dll. Bahan cair yang mudah terbakar BCF (kuning), Busa (biru), CO2 seperti bensin, minyak cat , solar , (merah/ dengan pita hitam, dll. Busa/bahan kimia kering (merah/ dengan pita putih Bahan gas yang mudah terbakar -Jaga tabung gas tetap dingin seperti asitelin, LPG dengan menggunakan air pakai selang atau alat pemadam -Matikan suplai (kiriman) gas.

Kelas B

Kelas C

Kelas D

Bahan logam

Serbuk kering (merah/ dengan pita putih) dan BCF (kuning), CO2 (merah/ dengan pita hitam, Busa/bahan kimia kering (merah/ dengan pita putih)

Kelas E

Bahan kelistrikan perlengkapannya.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 92

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 18

Enam Langkah Keselamatan Menghadapi Kebakaran :
1. 2.

3.

4.

5.

6.

Catatan: Ketika bocoran gas terbakar, jangan coba untuk memadamkannya sebelum kebocoran dihentikan.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 93

Bab 4

Strategi Penyajian

Transparansi

OHT 19

Ringkasan
Keselamatan dan kesehatan kerja, kebakaran dan prosedur pengungsian keadaan darurat tidak dapat dianggap enteng. Anda tidak dapat menunggu terjadinya masalah dan kemudian baru memutuskan bagaimana menanganinya. Berdasarkan tempat kerja anda kembangkan prosedur dan tetapkan petugas sebagai ahli pertolongan pertama, pengawas kebakaran, perwakilan keselamatan dan kesehatan kerja dan lainnya. Yakinkan anda mengetahui prosedur yang tepat untuk tempat kerja anda, dan siapa yang ditunjuk sebagai petugas.

Catatan : Walaupun tindakan pertolongan pertama tidak diuraikan dalam unit ini, setiap orang seharusnya telah berlatih dasardasar pertolongan pertama.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 94

Bab 5

Cara Menilai Unit Ini

BAB 5

CARA MENILAI UNIT INI

Apa yang Dimaksud dengan Penilaian ?
Penilaian adalah proses pengumpulan bukti-bukti hasil ujian/pekerjaan dan pemberian nilai atas kemajuan peserta pelatihan dalam mencapai kriteria unjuk kerja seperti yang dimaksud dalam Standar Kompetensi. Bila pada nilai yang ditetapkan telah tercapai ( sesuai dengan kriteria ), maka dinyatakan bahwa kompetensi sudah dicapai . Penilaian lebih untuk mengidentifikasi pencapaian dan penguasaan kompetensi peserta pelatihan dari pada hanya untuk membandingkan prestasi peserta terhadap peserta lain.

Apa yang Dimaksud dengan Kompeten?
Tanyakan pada diri Anda sendiri : “Kemampuan kerja apa yang benar-benar dibutuhkan oleh peserta pelatihan”? Jawaban terhadap pertanyaan ini akan mengatakan kepada Anda tentang apa yang kita maksud dengan kata “kompeten”. Untuk menjadi kompeten dalam suatu pekerjaan yang berkaitan dengan keterampilan berarti bahwa orang tersebut harus mampu untuk : • • • • • menampilkan keterampilan pada level (tingkat) yang dapat diterima mengorganisasikan tugas-tugas yang dibutuhkan. merespon dan bereaksi secara layak bila sesuatu salah memenuhi suatu peranan dalam sesuatu rangkaian tugas-tugas pada pekerjaan mentransfer/mengimplementasikan keterampilan dan pengetahuan pada situasi baru.

Bila Anda menilai kompetensi ini Anda harus mempertimbangkan seluruh issue di atas untuk mencerminkan sifat kerja yang nyata .

Pengakuan Kompetensi yang Dimiliki
Prinsip penilaian terpadu memberikan pengakuan terhadap kompetensi yang ada tanpa memandang dari mana kompetensi tersebut diperoleh. Penilai mengakui bahwa individuindividu dapat mencapai kompetensi dalam berbagai cara: • • kualifikasi terdahulu belajar secara informal.

Pengakuan terhadap kompetensi yang ada dengan mengumpulkan bukti-bukti kemampuan untuk dinilai apakah seseorang telah memenuhi standar kompetensi, baik memenuhi standar kompetensi untuk suatu pekerjaan maupun untuk kualifikasi formal.

Kualifikasi Penilai
Dalam kondisi Iingkungan kerja, seorang peniIai industri yang diakui akan menentukan apakah seorang pekerja mampu melakukan tugas yang terdapat dalam unit kompetensi ini . Untuk menilai unit ini mungkin Anda akan memilih metode yang ditawarkan dalam pedoman ini, atau mengembangkan metode Anda sendiri untuk melakukan penilaian. Para penilai harus memperhatikan petunjuk penilaian dalam standar kompetensi sebelum memutuskan metode penilaian yang akan dipakai.
Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc Page 95

Bab 5

Cara Menilai Unit Ini

Ujian yang Disarankan
Umum Unit Kompetensi ini, secara umum mengikuti format berikut: (a) (b) Menampilkan pokok keterampilan kompetensi/kriteria unjuk kerja. dan pengetahuan untuk setiap sub-

Berhubungan dengan sesi praktik atau tugas untuk memperkuat teori atau mempersiapkan praktik dalam suatu keterampilan.

Hal ini penting sekali, di mana peserta dinilai (penilaian formatif) pada setiap elemen kompetensi. Mereka tidak boleh melanjutkan unit berikutnya sebelum mereka benar-benar menguasai (kompeten) pada materi yang sedang dilatihkan . Sebagai patokan disini seharusnya paling sedikit satu penilaian tugas untuk pengetahuan pokok pada setiap elemen kompetensi. Setiap sesi praktik atau tugas seharusnya dinilai secara individu untuk tiap Sub-Kompetensi. Sesi praktik seharusnya diulang sampai tingkat penguasaan yang disyaratkan dari sub kompetansi dicapai. Tes pengetahuan pokok biasanya digunakan tes obyektif. Sebagai contoh, pilihan ganda, komparasi, mengisi/melengkapi kalimat. Tes essay dapat juga digunakan dengan soal-soal atau pertanyaan yang relevan dengan unit ini. Penilaian untuk unit ini, berdasar pada dua hal yaitu: • • pengetahuan dan keterampilan pokok hubungan dengan keterampilan praktik.

Untuk penilaian unit “Keselamatan dan Kesehatan Kerja “ disarankan hal-hal sebagai berikut:

Penilaian Pengetahuan Pokok
Penilaian Teori Sub-Kompetensi/Elemen 1 : Peraturan Kerja Tes berdasarkan pada soal-soal berikut : Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut berdasarkan pilhan yang tepat ! Pertanyaan 1 sampai 5, lingkari salah satu BETUL atau SALAH 1. Pengertian tempat kerja dalam undang-undang keselamatan kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja melakukan pekerjaan. BETUL 2. SALAH

Ruang lingkup yang dicakup oleh undang-undang no 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja adalah mengatur pekerja Indonesia, walaupun bekerja di negara lain. BETUL SALAH

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 96

Bab 5

Cara Menilai Unit Ini

3.

Kewajiban melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi di tempat kerja oleh pengurus atau pengusaha meliputi yang telah dan yang belum mengikutsertakan pekerjaannya ke dalam program jaminan sosial tenaga kerja. BETUL SALAH

4.

Pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan dilakukan oleh pegawai pengawas setelah Kepala Kantor Departemen Tenaga Kerja menerima laporan kecelakaan dari pengurus atau pengusaha. BETUL SALAH

5.

Sistem Manajemen K3 wajib diterapkan oleh perusahaan yang proses atau bahan produksinya mengandung potensi bahaya peledakan, kebakaran, pencemaran dan penyakit akibat kerja, walaupun tenaga kerjanya dibawah batas ketentuan (kurang dari serratus orang). BETUL SALAH

Berikan tanda cek ( V ) pada kotak dekat jawaban yang terbaik. 6. Untuk pembuktian penerapan Sistem Manajemen K3, perusahaan dapat melakukan audit melalui Badan Audit yang ditunjuk oleh : (a) (b) (c) Pengusaha. Pengawas. Menteri

Sub-Kompetensi/Elemen 2 : Bahaya di tempat kerja Tes berdasarkan pada soal-soal berikut : Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut berdasarkan pilhan yang tepat !

Pertanyaan 1 sampai 5, lingkari salah satu BETUL atau SALAH. 1. Pekerja seharusnya menyadari bahaya ditempat kerja. BETUL 2. SALAH

Bahaya dapat mengarah pada kecelakaan, cedera atau sakit BETUL SALAH

3.

Semua bahaya tempat kerja dapat dihilangkan. BETUL SALAH
Page 97

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Bab 5

Cara Menilai Unit Ini

4.

Pekerja yang telah minum alkohol atau sedang melakukan pengobatan dapat mencederai diri sendiri atau orang lain. BETUL SALAH

5.

Berlebihan panas atau dingin, kesengat listrik dan ketinggian juga berbahaya. BETUL SALAH

Sub-Kompetensi/Elemen 3 : Tata Laksana Indusri Tes berdasarkan pada soal-soal berikut : Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut berdasarkan pilhan yang tepat ! Pertanyaan 1 sampai 5, lingkari salah satu BETUL atau SALAH 1. Bahan yang mudah terbakar mudah dimakan api BETUL 2. SALAH

Jalan masuk seharusnya dengan jelas ditandai dengan garis hijau. BETUL SALAH

3.

Simbol keselamatan segi-tiga 'tengkorak dan tulang bersilang' digambar diatas latar belakang kuning, peringatan bahaya biologi. BETUL SALAH

4.

Lingkaran biru indikasi simbol keselamatan dimana peralatan pelindung harus dipakai. BETUL SALAH

5.

Tata laksana industri adalah tanggung jawab dari staf kebersihan. BETUL SALAH

Berikan tanda cek ( V ) pada kotak dekat jawaban yang terbaik. 6. Saluran tenaga listrik seharusnya tidak terhampar melintang dipermukaan lembab/basah sebab : (a) (b) (c) Bisa tersengat listrik. Sekering/pengaman bisa putus. Menambah beban listrik yang digunakan.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 98

Bab 5

Cara Menilai Unit Ini

Sub-Kompetensi/Elemen 4 : Polusi pada Indusri Tes berdasarkan pada soal-soal berikut : Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut berdasarkan pilhan yang tepat ! Pertanyaan 1 sampai 5, lingkari salah satu BETUL atau SALAH 1. Dengan debu dan serat di udara cukup aman bekerja. BETUL 2. SALAH

Semua bahaya bahan kimia dengan mudah identifikasi. BETUL SALAH

3.

Ketika membuang sisa/sampah bahan kimia, harus dikontrol sebagaimana mestinya. BETUL SALAH

4.

Kebisingan keras yang terus menerus dapat menyebabkan kehilangan pendengaran. BETUL SALAH

5.

Polusi di pabrik kita dapat dikontrol atau dicegah. BETUL SALAH

Sub-Kompetensi/Elemen 5 : Keselamatan Pribadi Tes berdasarkan pada soal-soal berikut : Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut berdasarkan pilhan yang tepat ! Pertanyaan 1 sampai 5, lingkari salah satu BETUL atau SALAH 1. Anda seharusnya selalu memikirkan tentang apa yang dapat terjadi sebelum anda melakukan sesuatu. BETUL 2. SALAH

Pekerja seharusnya dengan benar dilatih menggunakan dan merawat pakaian dan perlengkapan keselamatan. BETUL SALAH

3.

Kenyamanan pekerja menggunakan pakaian dan perlengkapan keselamatan tidak penting. BETUL SALAH

4.

Pemadam kebakaran karbon dioksida cocok untuk kebakaran kelistrikan. BETUL SALAH

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 99

Bab 5

Cara Menilai Unit Ini

5.

Sesuatu yang pertama dilakukan dalam kasus kebakaran adalah memberitahu pasukan pemadam kebakaran. BETUL SALAH

Berikan tanda cek ( V ) pada kotak dekat jawaban yang terbaik. 6. Kaca-mata dan kaca pelindung keselamatan lainnya mungkin disediakan untuk melindungi dari : (a) (b) (c) (d) Pecahan beterbangan. Bahaya bahan kimia. Cahaya yang hebat/tajam (yaitu dalam pengelasan). Semua hal diatas.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 100

Bab 5

Cara Menilai Unit Ini

Ringkasan Penilaian Pengetahuan dan Keterampilan
Gunakan tugas-tugas ini untuk menetapkan apakah peserta pelatihan telah menguasai pokokpokok pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan.
Pokok-pokok Pengetahuan dan Keterampilan 1.0 Mengidentifikasi undang-undang dan peratuan tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Tugas-tugas Penilaian Ya 1.1 Isi undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja dijelaskan. 1.2 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per.03/MEN/1998 tentang tata cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan dijelaskan. 1.3 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dijelaskan 2.0 Mengidentifikasi bahaya di tempat kerja. 3.0 Menjelaskan tata laksana industri. 2.1 Potensi bahaya di tempat diidentifkasi. 2.2 Beberapa cara untuk mengontrol dan mencegah bahaya diuraikan. 3.1 Cara tata laksana industri yang baik dapat mengurangi bahaya dijelaskan. 3.2 Maksud gambar simbol keselamatan kerja dijelaskan. 4.0 Menjelaskan polusi pada industri. 4.1 Sumber polusi pada suatu lingkungan industri dijelaskan. 4.2 Tindakan pencegahan dan pengontrolan polusi diuraikan. 5.1 Penyebab cedera pribadi dan sikap kerja yang aman diuraikan. 5.2 Prosedur pencegahan dengan perlengkapan pelindung yang tepat diuraikan. 5.3 Tindakan keselamatan dan perlindungan kebakaran dijelaskan 5.4 Prosedur pengungsian dan tindakan pertolongan pertama diterangkan. Tidak Perlu Latihan Lanjutan

5.0 Menjelaskan keselamatan pribadi.

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 101

Bab 5

Cara Menilai Unit Ini

Checklist yang Disarankan Bagi Penilai
Modul : Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Nama Peserta : Nama Penilai : yang cukup yang Catatan tentang …. …. …. …. …. …. ….

Apakah telah memberikan bukti-bukti menunjukkan bahwa peserta dapat :

Menjelaskan isi Undang-undang dan peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) meliputi : - Syarat-syarat keselamatan kerja

- Pengawasan dan Pembinaan keselamatan dan kesehatan kerja - Hak dan kewajian tenaga kerja dan pengurus. - Tata cara pelaporan kecelakaan - Pemeriksaan kecelakaan - Tujuan, sasaran dan penerapan sistem manajemen K3 - Audit sistem manajemen K3 dan mekanisme pelaksanaan audit Mengidentifikasi potensi dan mengatasi bahaya di tempat kerja : - Jenis-jenis bahaya - Pencegahan dan pengontrolan bahaya. Menjelaskan cara tata laksana industri, diantaranya : - Tata laksana yang baik - Penyimpanan bahan - Gambar simbol keselamatan kerja. Menjelaskan sumber dan pengontrolan polusi pada industri : - Polusi serat dan debu serta pencegahan - Polusi bahan kimia serta pencegahan. - Polusi kebisingan serta pencegahan Menjelaskan penyebab cedera dan prosedur keselamatan pribadi yakni : - Tindakan keamanan kerja - Perlengkapan dan pakaian pelindung serta program ditempat kerja - Keselamatan dan perlindungan kebakaran - Prosedur pengungsian darurat - Pertolongan pertama pada kecelakaan.

…. ….

…. …. ….

…. …. ….

…. …. …. …. ….

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 102

Bab 5

Cara Menilai Unit Ini

Lembar Penilaian Unit : BSDC 0201 / Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nama Peserta Pelatihan Nama Penilai
Peserta yang Dinilai :

: …………………………………… : ………….………………..……….
Kompeten Kompetensi yang Dicapai

Umpan balik untuk Peserta:

Tanda tangan
Peserta sudah diberitahu tentang hasil Tanda tangan Penilai: penilaian dan alasan-ala san mengambil keputusan

Tanggal:

Saya sudah diberitahu tentang hasil penilaian dan alasan mengambil keputusan tersebut.

Tanda tangan Peserta Pelatihan:

Tanggal:

Indonesia Australia Partnership for Skills Development Batam Institutional Development Project Keselamatan Kerja.doc

Page 103


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:34672
posted:10/9/2009
language:Indonesian
pages:105