Download Contoh Skripsi Bab 4

Document Sample
Download Contoh Skripsi Bab 4 Powered By Docstoc
					                                     BAB IV

                           LAPORAN PENELITIAN


       Pada bagian ini akan dikemukakan tentang beberapa data hasil temuan di

lapangan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Data-data tersebut adalah sebagai berikut:

A. Paparan Data dan Temuan Penelitian

1. Sejarah Berdirinya MI Miftahul Amal Kec. Lenteng

       Dari hasil observasi yang peneliti lakukan di MI Miftahul Amal Kec.

Lenteng, diperoleh data dokumentasi tentang sejarah berdirinya MI Miftahul

Amal Kec. Lenteng sebagai berikut, yaitu:

       MI Miftahul Amal Kec. Lenteng dalam sejarahnya mengalami beberapa

perkembangan. Pada tahun 1976, atas dorongan masyarakat Desa Ellak Daya

Lenteng yang menginginkan ada lembaga pendidikan yang bernuansa Islam.

Animo masyarakat terhadap lembaga pendidikan tersebut cukup besar terbukti

dengan perkembangannya cukup besar yang ditandai dengan banyaknya siswa

yang menempuh penddikan di lembaga tersebut. MI Miftahul Amal Kec. Lenteng

memiliki gedung milik Yayasan sebagai tempat kegiatan belajar mengajar sampai

sekarang

2. Visi dan Misi MI Miftahul Amal Kec. Lenteng

   a. Visi

       “Unggul dal IMTQ dan IPTEK”

   b. Misi




                                        79
                                                                                80




           -   Memberikan pembekalan wawasan keagamaan guna terbentuknya

               watak serta kepribadian luhur.

           -   Meningkatkan penghayatan dan pengamalan syari’ah dengan tanpa

               mengesampingkan budaya bangsa.

           -   Mengembangkan potensi akademik dan non-akademik dengan

               berorientasi pada bakat dan minat melalui proses pembelajaran.

           -   Memberikan pembekalan kepada warga madrasah dalam memberikan

               pelayanan kepada masyarakat pengguna pendidikan.1


3. Struktur Organisasi

           Organisasi merupakan suatu bentuk hubungan kerjasama yang harmonis

dan didasarkan atas tanggung jawab untuk mencapai tujuan bersama. Organisasi

dalam arti struktur merupakan gambaran secara sistematis tentang hubungan-

hubungan dalam bentuk kerja sama dalam rangka usaha mencapai suatu tujuan.

Adanya struktur organisasi yang jelas akan dapat memudahkan untuk

melaksanakan tanggung jawab yang dipikulnya. Hal ini akan bermuara pada

tujuan yang hendak dicapai.

           Keberadaan organisasi di lembaga pendidikan merupakan hal yang penting

(urgent). Dengan adanya organisasi yang baik, seluruh tugas dan tanggung jawab

akan mudah dan cepat teratasi. Begitu juga Madrasah Ibtidaiyah Miftahul

Amal Lenteng, adanya struktur organisasi yang jelas dan pembagian kerja yang

jelas pula adalah merupakan suatu keharusan. Tanpa adanya pembagian kerja

yang jelas, besar kemungkinan terjadi tumpang tindih tugas-tugas maupun

1
    Profil MI Miftahul Amal Kec. Lenteng tahun pelajaran 2007-2008
                                                                                          81




     program yang akan dibagikan nanti. Pembagian kerja ini pada akhirnya akan

     menghasilkan bidang-bidang ataupun seksi-seksi serta                job description dari

     masing-masing bidang.

             Adapun struktur organisasi Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Amal

     Lenteng adalah sebagai berikut:


                                   Kepala Madrasah
                                     Pusinal, A.Ma



                                                                   Kepala Tata Usaha
                                                                   Didit Afriyanto,S.Pd



 WAKAMAD                 WAKAMAD                      WAKAMAD                     WAKAMAD
Bid. Kurikulum          Bid. Kesiswaan           Bid. Sarana/Prasarana            Bid. Humas
Anwari, A.Ma        Didik Rusf endi               Munawar, A.Ma                 Sanusi, A.Ma


           Wali Kelas                                          Guru Kelas

                                         SISWA




     Sumber: Bagian Administrasi Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Amal Lenteng


     4. Keadaan Guru

             Guru merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam

     mencapai suatu keberhasilan pendidikan dan bertanggung jawab pula dalam

     pembentukan kepribadian siswa. Di samping itu guru diberi amanat oleh orang tua

     siswa serta dipercaya oleh masyarakat untuk mendidik dan mengarahkan

     perkembangan rohani anak-anaknya, sehingga para guru dituntut mempunyai
                                                                              82




komitmen dan loyalitas yang tinggi dalam propesinya, serta bertanggung jawab

kelangsungan pendidikan sekolah.

       Menurut tingkat pendidikannya, jumlah guru di Madrasah Ibtidaiyah

Miftahul Amal Lenteng pada tahun 2007/2008 berjumlah 21 orang dengan

rincian 15 orang GT, 6 orang GTT. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada di

bawah ini.



                              Tabel I
 Data Guru MI Miftahul Amal Kec. Lenteng Menurut Tingkat Pendidikan
                     Tahun Pelajaran 2007/2008

  Tingkat                     Jumlah Guru
                                                                    Jumlah
 Pendidikan        GT             GTT             KET
     S-1            1               1               -                   2
     D-2            6               3               -                   9
    SMA             5               5               -                  10
   Jumlah          12               9               -                  21
Sumber : Bagian Administrasi MI Miftahul Amal Kec. Lenteng


5. Keadaan Siswa

       Siswa sebagai peserta didik utama dalam kegiatan pendidikan mempunyai

sifat-sifat keaktifan dan kekreatifan serta kedinamikaan tersendiri. Dia juga

merupakan faktor intern yang berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

       Siswa Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Amal Lenteng jumlahnya

termasuk cukup besar, hal ini nampak dari jumlah siswa tahun pelajaran

2007/2008 yaitu berjumlah 101 orang siswa, dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat

dalam tabel berikut ini.
                                                                       83




                                  Tabel II
                Data Keadaan Siswa MI Miftahul Amal Lenteng
                         Tahun Pelajaran 2007/2008

                                Jumlah Siwa
      Kelas                                                   Jumlah
                        Laki-laki        Perempuan
         I                  9                 8                 17
        II                  7                 9                 16
       III                  7                11                 18
       IV                  10                 8                 18
        V                   6                10                 16
       VI                   9                 7                 16
     Jumlah                48                53                101

Sumber : Bagian Administrasi MI Miftahul Amal Kec. Lenteng


6. Keadaan Sarana dan Prasarana

      Keadaan sarana dan prasarana yang dimiliki Madrasah Ibtidaiyah

Miftahul Amal Lenteng. sebagaimana hasil observasi peneliti tanggal 20-28

Maret 2008 serta didukung oleh data dokumentasi Madrasah Ibtidaiyah

Miftahul Amal Lenteng adalah sebagai berikut :



                              Tabel III
Data Sarana dan Prasarana Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Amal Lenteng
                      Tahun Pelajaran 2007/2008

                                           Kondisi
        Jenis          Jumlah                 Rusak         Keterangan
                                Baik   Rusak        Darurat
                                              Berat
 Ruang Belajar           6       6       -      -      -
 Ruang Keterampilan      1       1       -      -      -
 MCK                     2       2       -      -      -
 Perpustakaan            1       1       -      -      -
 UKS                     1       1       -      -      -
 Ruang OSIS              1       1       -      -      -
 R. Kopsis               1       1       -      -      -
                                                                                          84




 Musholla            1       1       -     -       -
 Lap. Olah Raga      1       1       -     -       -      Perlu Perbaikan
Sumber : Bagian Administrasi MI Miftahul Amal Kec. Lenteng dan hasil

observasi

7. Proses Belajar Mengajar

           Sebagaimana hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti,2 dalam proses

belajar mengajar di MI Miftahul Amal Kec. Lenteng, khususnya mata pelajaran

dengan diterapkannya MBS berjalan dengan baik. Hal terlihat dengan antusiasnya

para siswa dalam mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru mereka.

           Ketika guru memulai pelajarannya, guru hanya memberikan pengantar

tentang materi yang akan dipelajari kemudian mereka (para siswa) yang mulai

aktif dalam proses belajar mengajar, yaitu dengan mengadakan diskusi, tanya

jawab, dan lain-lain. Guru hanya sebagai fasilitator dalam proses belajar mengajar

tersebut dan juga menjadi sumber belajar mereka. Jika mereka kesulitan dalam

belajarnya, maka mereka menanyakan langsung kepada gurunya. Intinya dalam

proses belajar mengajar mata pelajaran di MI Miftahul Amal Kec. Lenteng, siswa

tidak lagi bersifat pasif seperti proses belajar mengajar sebelumnya, akan tetapi

merekalah yang aktif dalam proses belajar mengajar tersebut. Mereka aktif

bertanya, berdiskusi, dan lain-lain.


B. Data Hasil Wawancara

           Wawancara ini dilakukan dengan kepala sekolah MI Miftahul Amal Kec.

Lenteng, yaitu Pusinal, A.Ma di ruang kepala tanggal 21 Maret 2008 pada jam

09.30 sampai jam 11.30.

2
    Hasil observasi peneliti pada tanggal 21Maret 2008 di MI Miftahul Amal Kec. Lenteng
                                                                               85




          Hasil wawancara tersebut adalah sebagai berikut:

1. Implementasi MBS

          Menurut Pusinal, A.Ma selaku kepala sekolah, saat ditanyakan tentang

implementasi MBS,beliau mengatakan bahwa:

          “Pak, di sekolah ini belum sepenuhnya menerapkan atau
          mengimplementasikan MBS, karena adanya beberapa faktor
          tentunya, namun sekitar 70% kami sudah menerapkan MBS.”3

          Sedangkan pada saat ditanyakan tentang alasan atau latar belakang

diterapkannya MBS, beliau juga mengatakan bahwa:

          “Kami dalam menerapkan MBS mempunyai dua alasan. Pertama,
          tentunya karena adanya instruksi dari pusat dengan diterapkannya
          Otonomi dalam Pendidikan dan yang kedua, didasari oleh adanya
          keinginan dari lembaga ini (MI) sendiri dengan didukung oleh
          unsur-unsur yang ada di MI Miftahul Amal Kec. Lenteng. Hal ini
          tidak lain bertujuan untuk meningkatkan hasil atau out put
          pendidikan yang bernilai guna, baik bagi nusa, bangsa, dan
          agama.”4

          Dari hasil wawancara tersebut dapat dipahami bahwa di MI Miftahul Amal

Kec. Lenteng masih belum sepenuhnya menerapkan atau menggukan MBS, akan

tetapi sudah 75% menerapkannya. Kemudian penerapan atau pengimplementasian

MBS ini dilatarbelakangi oleh dua faktor, yaitu: Pertama, karena adanya instruksi

dari pemerintah pusat tentang diterapkannya Otonomi dalam Pendidikan, dan

Kedua, karena adanya keinginan warga MI Miftahul Amal Kec. Lenteng untuk

mencetak peserta didik yang bernilai guna bagi nusa, bangsa, dan agama.


2. Perencana,          Pengorganisir,       Pembimbing,    Koordinator,   Pembuat

      Keputusan, dan Pengawas dalam Pelaksanaan Implementasi MBS

3
    Wawancara pada tanggal 21Maret 2008 di ruang kepala
4
    Wawancara pada tanggal 23 Maret 2008 di ruang kepala
                                                                             86




          Dari hasil wawancara tentang perencana, pengorganisir, pembimbing,

koordinator, pembuat keputusan, dan pengawas dalam pelaksanaan implementasi

MBS di masing-masing komponen dengan Pusinal, A.Ma selaku kepala sekolah,

beliau mengatakan bahwa:

          “Dalam pelaksanaan implementasi MBS di lembaga ini, yang
          menjadi perencana, pengorganisir, koordinator, dan pembuat
          keputusan adalah saya sendiri sebagai kepala sekolah dan sebagai
          pemegang kendali terhadap berhasil atau tidaknya program
          dengan dibantu oleh waka-waka yang ada. Sedangkan yang
          mengawasi dan yang membimbing dalam pelaksanaannya adalah
          kepala sekolah, waka-waka, dan komite madrasah dan yang
          memberi tujuan secara garis besar adalah pusat (baik dari
          Departemen Agama maupun dari Departemen Pendidikan
          Nasional).”5

          Dari hasil wawancara tersebut di atas, secara keseluruhan yang menjadi

perencana, pengorganisir, pembimbing, koordinator, pembuat keputusan, dan

pengawas dalam pelaksanaan implementasi MBS di masing-masing komponen

adalah kepala sekolah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dan juga sebagai

pemegang kendali dengan dibantu oleh wakil-wakil kurikulum serta komite

madrasah.

3. Implementasi MBS dalam Proses Pembelajaran

          Di antara usaha yang dilakukan untuk meningkatkan proses pembelajaran

adalah dengan mengimplementasikan MBS, yang meliputi berbagai bidang, yaitu:

perencanaan bidang manajemen kurikulum dan pengajaran, manajemen tenaga

kependidikan, manajemen kesiswaan, manajemen sarana dan prasarana,

manajemen hubungan masyarakat, dan manajemen layanan khusus.



5
    Wawancara pada tanggal 24 Maret 2008 di ruang kepala
                                                                              87




a. Manajemen Kurikulum dan Pengajaran

          Sebagaimana hasil wawancara dengan Anwari, A.Ma selaku wakil kepala

bagian kurikulum MI Miftahul Amal Kec. Lenteng pada tanggal 25 Maret 2008,

beliau mengatakan bahwa:

          "Dalam pelaksanaannya kami di sini sudah menetapkan beberapa
          ketentuan yang harus dilaksanakan oleh unsur-unsur yang ada di
          sekolah ini, misalnya: menetapkan jadwal pelajaran, menetapkan
          penyusunan prota, promes, RP, silabus, dan lain sebagainya.
          Sehingga dengan mengacu pada ketetapan ini, diharapkan nantinya
          proses pembelajaran bisa berjalan secara maksimal yang pada
          akhirnya akan menciptakan out put yang maksimal juga. Selain itu
          kami memodifikasi kurikulum yakni dengan cara melakukan
          perbaikan dan pembenahan kurikulum yang sudah tidak layak
          lagi"6

          Dari hasil wawancara di atas, bagian kurikulum di MI Miftahul Amal Kec.

Lenteng sudah menetapkan program kerja dalam bidang kurikulum meliputi

program tahunan (prota), program semester, rencana pembelajaran dan pembuatan

silabus. Ini merupakan pembagian tugas mengajar guru. Sehingga nantinya para

guru sebelum melaksanakan pembelajaran diwajibkan untuk menyusun program

tahunan (prota), program semester, rencana pembelajaran dan silabus. Dan dengan

adanya kewajiban tersebut proses belajar mengajar akan berjalan dengan lancar

yang pada akhirnya akan mengantarkan siswa pada tujuan yang telah ditetapkan.

b. Manajemen Tenaga Kependidikan

          Manusia merupakan faktor utama dalam menentukan keseluruhan proses.

Dalam dunia pendidikan faktor manusia ini tiada lain adalah personalia/pegawai

(guru). Oleh karena itu, manajemen tenaga pendidikan ini haruslah mendapatkan

perhatian yang lebih, sebab seluruh bagian manajemen yang terkait di dalam

6
    Wawancara pada tanggal 25 Nopember 2006 di ruang guru.
                                                                              88




pengelolaan pendidikan baik itu manajemen kurikulum, kesiswaan, personalia dan

yang lainya bersumber dari sistem pendidikan, manajemen personalia harus

dilakukan dengan baik serta dilakukan dengan usaha kerja sama untuk mencapai

tujuan.

          Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan kepala sekolah

MI Miftahul Amal Kec. Lenteng pada tanggal 25 Maret 2008, beliau mengatakan

bahwa:

          “Dalam bidang ini kami menetapkan beberapa program yang
          sekiranya dapat menunjang terhadap kualitas belajar mengajar
          siswa, artinya kami di sini mengusahakan beberapa hal untuk
          meningkatkan proses belajar mengajar yang pada akhirnya akan
          meningkatkan prestasi siswa itu sendiri. Program-program tersebut
          misalnya kami mengadakan musyawarah atau rapat mengenai hal-
          hal yang telah dilakukan dalam satu semester, intinya kami
          melakukan evaluasi setiap akhir semester. Selain itu, kami juga
          mengutus mereka untuk mengikuti seminar, whorkshop, diklat, dan
          lain-lain yang berkaitan dengan peningkatan profesionalitas guru
          serta jika dimungkinkan kami menugaskan mereka untuk studi
          lanjutan.”7

          Dari hasil wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam manajemen

tenaga pendidikan, setiap satu semester di sana mengadakan rapat untuk

mengevaluasi tentang hal-hal yang telah dilakukan selama satu semester. Dengan

demikian maka proses belajar mengajar yang diterapkan di MI Miftahul Amal

Kec. Lenteng akan betul-betul mempunyai mutu yang cukup tinggi atau dengan

kata lain dengan adanya usaha-usaha tersebut nantinya akan berdampak pada

peningkatan proses belajar mengajar, khususnya pelajaran Ekomoni. Oleh karena

itu, tenaga teknis atau guru di MI Miftahul Amal Kec. Lenteng diharapkan benar-

benar profesional dan harus meguasai bidang mata pelajaran yang diajarkannya

7
    Wawancara pada tanggal 25 Maret 2008 di ruang kepala
                                                                             89




karena guru sangat berpengaruh terhadap jalannya proses belajar mengajar siswa

dan prestasi belajarnya. Guru sebagai fasilitator yang mengarahkan belajar siswa

karena keberhasilan seorang siswa itu juga sangat berpengaruh terhadap

pengajaran guru.

       Selain itu, MI Miftahul Amal Kec. Lenteng juga mewajibkan para guru

untuk mengikuti penataran-penataran dan diklat yang diadakan di tingkat pusat

maupun daerah, diikutkan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) serta jika

memungkinkan dilakukan studi lanjut bagi guru-guru sesuai dengan mata

pelajaran yang diajarkanya yang kesemuanya itu untuk menambah wawasan dan

kematangan seorang guru dalam mengajar.

c. Manajemen Kesiswaan

       Siswa merupakan salah satu komponen yang mendukung terhadap

terjadinya proses belajar mengajar dan siswa juga mempunyai potensi sendiri-

sendiri yang dinamakan perlengkapan dasar maupun perlengkapan ajar. Setiap

anak, potensi tersebut berbeda baik dalam segi kualitasnya atau dalam segi

bidang-bidang potensinya. Anak sebagai pihak yang membutuhkan pendidikan,

batas kemampuan pendidikan yang diberikan kepadanya ditentukan oleh kualitas

potensi yang ada.

       Adapun dalam bidang manajemen kesiswaan ini, yang dilakukan oleh MI

Miftahul Amal Kec. Lenteng dalam meningkatkan psoses pembelajaran adalah

dengan cara:

1) Menambah jam belajar
                                                                            90




         Dalam penambahan jam belajar dilakukan atau diperioritaskan oleh MI

Miftahul Amal Kec. Lenteng untuk kelas VI yang mana kelas VI lebih

membutuhkanya karena akan menghadapi beberapa ujian akhir yang akan

menentukan kelulusannya.

         Penambahan jam belajar yang dilaksanakan setelah jam belajar reguler

berakhir baik itu siang hari maupun sore hari. Dengan penambahan jam pelajaran

ini diharapkan akan menambah kematangan siswa dalam pelajaran yang kurang

dikuasai oleh siswa, sehingga nantinya siswa betul-betul dapat menguasai

pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan baik dalam menghadapi ujian akhir

siswa.

2) Mengadakan kegiatan ekstra kurikuler

         Dengan mengadakan kegiatan ekstra kurikuler ini diharapkan agar siswa

memperoleh pengetahuan di luar jam pelajaran yang dilakukan di sekolah. Dalam

kegiatan ekstra kurikuler ini siswa diharapkan dapat terjun langsung dalam

kegiatan ekstra kurikuler karena di sana nantinya siswa diharapkan dapat

mengikuti organisasi yang diadakan oleh sekolah, sehingga nantinya siswa dapat

menambah wawasan dan pengalaman yang lebih luas.

         Adapun kegiatan kegiatan ekstra kurikuler yang diadakan oleh MI

Miftahul Amal Kec. Lenteng sangat banyak dari organisasi religius maupun sosial

di antaranya adalah: Unit Kegiatan Siswa (UKS), olah raga dan seni, PMR dan

pramuka, keagamaan. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh kepala

sekolah MI Miftahul Amal Kec. Lenteng pada tanggal 26 Maret 2008 yang

mengatakan bahwa:
                                                                                   91




          “Ada beberapa hal yang dilakukan dalam bidang kesiswaan,
          seperti: kami di sini menambah jam pelajarannya bagi mereka
          yang lebih membutuhkan yaitu siswa kelas VI yang akan
          menghadapi UASBN sebagai penentu kelulusan mereka dan selain
          itu kami menopangnya atau memberikan beberapa materi atau
          pelajaran-pelajaran tambahan dalam bentuk kegiatan ektra
          kurikuler, seperti: Unit Kegiata Siswa (UKS), olah raga dan seni,
          PMR dan pramuka, keagamaan.8

          Selain itu, wakil kepala bagian kesiswaan, Didik Rusfendi menambahkan

bahwa: “dalam bidang kesiswaan untuk meningkatkan proses pembelajaran

diadakan program belajar tambahan yang dilaksanakan setelah jam pelajaran

sekolah       berakhir    dan    juga    dilakukan     pengelompokan   siswa   menurut

kemampuannya. Hal ini diupayakan untuk meningkatkan kemampuannya lagi.”9

d. Manajemen Sarana dan Prasarana

          Manajemen sarana prasarana suatu sekolah identik dengan fasilitas apa

yang ada di sekolah tersebut. Fasilitas yang lengkap sering dijadikan barometer

dari kulaitas sekolah. Oleh karena itu, sangatlah tepat jika sarana prasarana

dimasukkan ke dalam bagian manajemen tersendiri. Sarana prasarana adalah

semua komponen yang secara tidak langsung menunjang jalanya proses belajar

mengajar. Sarana prasarana yang ada di MI Miftahul Amal Kec. Lenteng dinilai

sudah cukup.

          Di samping itu juga kondisi yang ada di MI Miftahul Amal Kec. Lenteng

baik itu berupa sarana dan prasarana, tenaga kependidikan, dan sebagainya cukup

mendukung. Dengan adanya alat atau media yang ada di sana, seperti: tempat

belajar yang kondusif, perpustakaan, musholla, UKS, Ruang OSIS, Ruang Kopsis,



8
    Wawancara pada tanggal 26 Maret 2008 di ruang kepala
9
    Wawancara pada tanggal 26 Maret 2008 di ruang guru
                                                                           92




MCK, Lapangan Olah Raga, Ruang Keterampilan, dan lain sebagainya yang

cukup memadahi sehingga dengan adanya semua itu akan menunjang bagi

lancarnya belajar siswa.

       Dalam bidang ini, MI Miftahul Amal Kec. Lenteng berusaha

semaksimal mungkin guna menciptakan sekolah yang bersih, rapi, dan

indah sehingga menciptakan situasi dan kondisi yang menyenangkan

bagi warga sekolah, sehingga dapat memperlancar jalannya proses

pembelajaran yang pada akhirnya proses pembelajaran tersebut dapat

ditingkatkan.

e. Manajemen Hubungan Masyarakat

       Manajemen hubungan masyarakat dengan sekolah dianggap sangat

penting karena antara sekolah dengan masyarakat memiliki hubungan yang sangat

erat. Sekolah adalah bagian integral dari masyarakat, bukan suatu lembaga yang

terpisah dari masyarakat, karena masyarakat merupakan faktor pendukung

terhadap peningkatan PBM. Dengan partisipasi masyarakat serta dukungan dan

sumbangsih pemikiran maupun dana akan berpengaruh terhadap kemajuan

sekolah. Dengan kata lain, sekolah merupakan lembaga sosial yang berfungsi

untuk melayani anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan.

       Masyarakat merupakan salah satu dari pusat pendidikan yang juga

mempunyai tanggung jawab terhadap masalah-masalah pendidikan. Walaupun

pada kenyataanya yang berlaku jika ada sesuatu hal terjadi pada produk sekolah

yang ternyata tidak sesuai harapan masyarakat, maka yang selalu mendapat

kritikan yang pertama adalah sekolah. Sebab itu jalinan komunikasi yang baik
                                                                                    93




antara sekolah dengan masyarakat mutlak diperlukan sebab masyarakat

mempunyai pengaruh yang besar terhadap arah pendidikan.

           Hubungan dengan masyarakat di MI Miftahul Amal Kec. Lenteng

terbentuk dalam sebuah wadah Komite Sekolah. Dengan adanya wadah ini

diharapkan Komite Sekolah mampu bekerjasama dengan pihak sekolah guna

meningkatkan mutu pendidikan khususnya proses pembelajaran.

f. Manajemen Layanan Khusus

           Menurut kepala sekolah MI Miftahul Amal Kec. Lenteng, 10 ada tiga

layanan khusus dalam bidang ini, yaitu: 1) layanan perpustakaan, yang mana

dengan adanya layanan ini siswa dapat memperkaya ilmu pengetahuannya dengan

cara membaca di waktu-waktu luang pada waktu istirahat, 2) memberikan

pelayanan kesehatan jasmani dan rohani, dan 3) memberikan pelayanan

keamanan, hal ini dilakukan guna menunjang terhadap jalannya proses

pembelajaran.


4. Faktor Pendukung dan Penghambat

           Data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan kepala sekolah MI

Miftahul Amal Kec. Lenteng, diperoleh beberapa hal yang menjadi faktor

pendukung         dan    penghambat       dalam     pengimplementasian   MBS   dalam

meningkatkan PBM.11 Faktor pendukungnya adalah:

a) Memperkaya para tutor (guru) dengan mengikutsertakan pelatihan, MGMP,

       penataran, dan lain-lain baik di tingkat daerah maupun di tingkat wilayah.



10
     Wawancara pada tanggal 26 Maret 2008 di ruang kepala
11
     Wawancara pada tanggal 26 Maret 2008 di ruang kepala
                                                                                   94




b) Adanya fasilitas pendukung seperti perpustakaan, komputer, dan lain

       sebagainya.

           Sedangkan yang menjadi faktor penghambat dalam pengimplementasian

MBS dalam meningkatkan PBM adalah:

a) Kurangnya pemahaman tentang MBS oleh semua unsur yang ada di sekolah

       baik oleh siswa, guru, maupun bagian staf administrasi.

b) Adanya pengaruh pola lama, sehingga mengakibatkan pengimplementasian

       MBS dalam meningkatkan PBM kurang maksimal.

c) Kurang lengkapnya fasilitas pendukung.


5. Solusi

           Dari beberapa faktor penghambat di atas, MI Miftahul Amal Kec. Lenteng,

mengatasinya dengan cara sebagai berikut:12

a) Mengadakan sosialisai tentang MBS kepada semua unsur di MI Miftahul

       Amal Kec. Lenteng.

b) Mengadakan studi banding dengan lembaga lain yang lebih sempurna dalam

       penerapan MBS. Atau dengan kata lain mengadakan kerja sama dengan MI

       lain yang di sekitar Lenteng

C. PEMBAHASAN

       1. Pelaksana MBS dalam Meningkatkan Proses Pembelajaran di MI

         Miftahul Amal Kec. Lenteng

                 Dari hasil wawancara yang telah dipaparkan pada bab IV, dapat

         dipahami     bahwa      dalam     pelaksanaan      implementasi   MBS   dalam

12
     Wawancara pada tanggal 28 Maret 2008 di ruang kepala
                                                                                     95




      meningkatkan PBM di MI Miftahul Amal Kec. Lenteng, yang menjadi

      perencana, pengorganisir, koordinator, dan pembuat keputusan adalah

      kepala sekolah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dan juga sebagai

      pemegang kendali dengan dibantu oleh wakil-wakil kepala. Sedangkan yang

      mengawasi dan yang membimbing dalam pelaksanaannya adalah kepala

      sekolah, wakil-wakil kepala, dan komite madrasah serta yang memberi

      tujuan secara garis besar adalah pusat (baik dari Departemen Agama

      maupun dari Departemen Pendidikan Nasional).

              Penerapan manajemen dalam pendidikan sangat penting, karena

      pendidikan merupakan kebutuhan dasar manusia, bahkan merupakan salah

      satu dinamisator pembangunan itu sendiri, sehingga dapat dikatakan

      manajemen      pendidikan     merupakan      sub    sistem    dari   manajemen

      pembangunan nasional.13

              Berdasarkan atas apa yang tercakup dalam pengertian manajemen

      berbasis sekolah, nampak bahwa manajemen berbasis sekolah itu meliputi

      berbagai aspek yang sangat luas sekali, dalam hal ini seluruh komponen-

      komponen sekolah itu sendiri, yaitu: manajemen kurikulum dan pengajaran,

      manajemen tenaga kependidikan, manajemen kesiswaan, manajemnen

      keuangan, manajemen sarana dan prasarana, manajemen hubungan

      masyarakat, dan manajemen layanan khusus.




      13
         H.A.R. Tilaar, Manajemen Pendidikan Nasional, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,
1999), hal. 2-3
                                                                                        96




           Seperti yang dijelaskan oleh beberapa ahli bahwa manajemen

berfungsi sebagai planning, organizing, actuating, dan controling.14 Dalam

hal ini yang menjadi perencana, yaitu yang menentukan tujuan atau

kerangka tindakan yang diperlukan untuk pencapaian tujuan

tertentu adalah kepala sekolah dengan dibantu oleh para wakil

kepala masing-masing bidang dan juga dibantu oleh komite

sekolah atau komite madrasah.

           Dalam pengorganisasiannya juga ditangani langsung oleh

kepala sekolah. Yaitu membagi kerja ke dalam tugas-tugas yang

lebih kecil, membebankan tugas pada orang lain yang sesuai

dengan kemampuannya, dan mengalokasikan sumber daya, serta

mengkoordinasikannya               dalam     rangka      efektivitas         pencapaian

tujuan organisasi.

           Kemudian pada tahap pelaksanaannya, berorientasi pada pergerakan

manusia untuk melaksanakan kerja. Dan aktivitas-aktivitas tersebut, kepala

sekolah melakukan 3 hal, yaitu: pembimbingan, pengkoordinasian, dan

membuat suatu keputusan dengan tepat atas berbagai alternatif untuk

menyelesaikan masalah.

           Sedangkan dalam pengawasannya, diawasi oleh koordinator masing-

masing bidang yaitu para wakil kepala sekolah, kepala sekolah, dan komite




14
     M. Manullung, Dasar-dasar Pendidikan, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1992), hal. 19
                                                                       97




 madrasah serta diarahkan oleh pusat, baik dari Departemen Agama maupun

 dari Depatemen Pendidikan Nasional.

        Pengawasan yang dimaksud di sini adalah penilaian/menilai proses

 pendidikan dan hasil pendidikan. Karena fungsi manajemen meliputi:

 menentukan standar, supervise dan mengukur penampilan/pelaksanaan

 terhadap standar dan memberikan keyakinan bahwa tujuan organisasi

 tercapai. Dengan demikian, manajemen merupakan aktivitas administrasi

 yang sangat menentukan, sebab manajemen adalah pusat administrasi yang

 berawal dan berakhir pada manajemen.


2. Aspek-aspek MBS dalam Meningkatkan Proses Pembelajaran di MI

   Miftahul Amal Kec. Lenteng

       Dalam pelaksanaan implementasi MBS untuk meningkatkan PBM

tentunya antara komponen yang satu dengan yang lainnya harus mempunyai

satu tujuan, yaitu untuk menciptakan PBM yang bernilai guna dan tepat

sasaran. Di antara komponen dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) itu

meliputi berbagai aspek yang sangat luas sekali, dalam hal ini seluruh

komponen-komponen sekolah itu sendiri, yaitu: manajemen kurikulum dan

pengajaran,   manajemen   tenaga   kependidikan,   manajemen   kesiswaan,

manajemen sarana dan prasarana, manajemen hubungan masyarakat, dan

manajemen layanan khusus, di mana semua program atau kegiatan yang ada

ditujukan agar dapat menciptakan PBM yang nyaman, kondusif, dan

menyenangkan. Di antara program atau kegiatan yang dilaksanakan oleh

masing-masing bidang untuk meningkatkan PBM. adalah sebagai berikut:
                                                                                        98




a. Manajemen Kurikulum dan Pengajaran

            Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam bidang ini, yaitu:

    1) tujuan yang dikehendaki harus jelas, makin operasional

    tujuan yang dirumuskan, maka makin mudah terlihat dan makin

    tepat program-program yang dikembangkan untuk mencapai tujuan,

    2) program harus sederhana dan fleksibel, 3) program-program

    yang disusun dan dikembangkan harus sesuai dengan tujuan yang

    telah ditetapkan, 4) program yang dikembangkan harus menyeluruh

    dan harus jelas pencapaiannya, dan 5) harus ada koordinasi

    antar komponen pelaksana program di sekolah.15

            Dari landasan teori di atas, setidaknya MI Miftahul Amal Kec.

    Lenteng sudah melaksanakan beberapa prinsip yang telah ada di atas, yaitu

    menetapkan program kerja dalam bidang kurikulum meliputi program tahunan

    (prota), program semester, rencana pembelajaran dan pembuatan silabus. Ini

    merupakan pembagian tugas mengajar guru. Sehingga nantinya para guru

    sebelum melaksanakan pembelajaran diwajibkan untuk menyusun program

    tahunan (prota), program semester, rencana pembelajaran dan silabus. Dan

    dengan adanya kewajiban tersebut proses belajar mengajar akan berjalan

    dengan lancar yang pada akhirnya akan mengantarkan siswa pada tujuan yang

    telah ditetapkan.

b. Manajemen Tenaga Kependidikan

      15
         E. Mulyasa. Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, Cet. IX,
2005), hal. 41-42
                                                                         99




          Menurut E. Mulyasa, dalam manajemen tenaga kependidikan

mencakup: (1) perencanaan pegawai, (2) pengadaan pegawai, (3)

pembinaan dan pengembangan pegawai, (4) promosi dan mutasi, (5)

pemberhentian          pegawai,   (6)   konpensasi,   dan   (7)   penilaian

pegawai.16 Oleh karena itu, manajemen tenaga pendidikan ini haruslah

mendapatkan perhatian yang lebih, sebab seluruh bagian manajemen yang

terkait di dalam pengelolaan pendidikan baik itu manajemen kurikulum,

kesiswaan, personalia dan yang lainya bersumber dari sistem pendidikan,

manajemen personalia harus dilakukan dengan baik serta dilakukan dengan

usaha kerja sama untuk mencapai tujuan. Sebab manusia merupakan faktor

utama dalam menentukan keseluruhan proses. Dalam dunia pendidikan faktor

manusia ini tiada lain adalah personalia/pegawai (guru).

          Dalam bidang ini MI Miftahul Amal Kec. Lenteng melaksanakan

upaya pembinaan dan penegmbangan pegawai, yaitu pada point 2 di atas.

Setiap satu semester di sana selalu mengadakan rapat untuk mengevaluasi

tentang hal-hal yang telah dilakukan selama satu semester. Dengan demikian

maka proses belajar mengajar yang diterapkan di MI Miftahul Amal Kec.

Lenteng akan betul-betul mempunyai mutu yang cukup tinggi atau dengan

kata lain dengan adanya usaha-usaha tersebut nantinya akan berdampak pada

peningkatan proses belajar mengajar, tenaga teknis atau guru di MI Miftahul

Amal Kec. Lenteng diharapkan benar-benar profesional dan harus meguasai

bidang mata pelajaran yang diajarkannya karena guru sangat berpengaruh

 16
      Ibid., hal. 42
                                                                           100




  terhadap jalannya proses belajar mengajar siswa dan prestasi belajarnya. Guru

  sebagai fasilitator yang mengarahkan belajar siswa karena keberhasilan

  seorang siswa itu juga sangat berpengaruh terhadap pengajaran guru. Selain

  itu, MI Miftahul Amal Kec. Lenteng juga mewajibkan para guru untuk

  mengikuti penataran-penataran dan diklat yang diadakan di tingkat pusat

  maupun daerah, diikutkan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) serta

  jika memungkinkan dilakukan studi lanjut bagi guru-guru sesuai dengan mata

  pelajaran yang diajarkanya yang kesemuanya itu untuk menambah wawasan

  dan kematangan seorang guru dalam mengajar.

c. Manajemen Kesiswaan

           Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen ini, yaitu:

  menerima siswa baru, kegiatan kemajuan belajar, serta bimbingan dan

  pembinaan disiplin. Dalam melakukan pembinaan di sini, MI Miftahul Amal

  Kec. Lenteng mempunyai 2 program pokok kegiatan untuk meningkatkan

  PBM, yaitu: menambah jam belajar dan mengadakan kegiatan ektra kurikuler.

           Penambahan jam belajar tersebut diperioritaskan kepada kelas VI yang

  mana kelas VI lebih membutuhkanya karena akan menghadapi beberapa ujian

  akhir yang akan menentukan kelulusannya. Hal ini dilaksanakan dengan

  tujuan agar bisa menambah kematangan siswa dalam pelajaran yang kurang

  dikuasainya, sehingga nantinya siswa betul-betul dapat menguasai pelajaran

  yang disampaikan oleh guru dengan baik dalam menghadapi ujian akhir

  siswa.
                                                                             101




             Sedangkan dengan adanya kegiatan ekstra kurikuler ini diharapkan

   agar siswa memperoleh pengetahuan di luar jam pelajaran yang dilakukan di

   sekolah. Dalam kegiatan ekstra kurikuler ini siswa diharapkan dapat terjun

   langsung dalam kegiatan ekstra kurikuler karena di sana nantinya siswa

   diharapkan dapat mengikuti organisasi yang diadakan oleh sekolah, sehingga

   nantinya siswa dapat menambah wawasan dan pengalaman yang lebih luas.

   Selain itu, dilakukan pengelompokan siswa menurut kemampuannya. Hal ini

   diupayakan untuk meningkatkan kemampuannya lagi.

d. Manajemen Sarana dan Prasarana

             Manajemen ini harus menciptakan sekolah yang bersih, rapi, dan indah

   sehingga menciptakan situasi dan kondisi yang menyenangkan bagi warga

   sekolah. Selain itu dengan tersedianya perlengkapan dan fasilitas belajar yang

   memadai di sekolah diharapkan akan semakin meningkatkan semangat dan

   kualitas pendidikan di sekolah. Karena manajemen sarana dan prasarana

   pendidikan dapat memberikan konstribusi secara optimal pada jalannya proses

   belajar mengajar.17

             Sarana dan prasarana MI Miftahul Amal Kec. Lenteng sudah bisa

   dikatan       cukup    baik   dan   sudah   selayaknya   melaksanakan     atau

   mengimplementasikan MBS, walaupun di sana belum sepenuhnya MBS. Di

   samping itu juga kondisi yang ada di MI Miftahul Amal Kec. Lenteng baik itu

   berupa sarana dan prasarana, tenaga kependidikan, dan sebagainya cukup

   mendukung serta didukung oleh adanya alat atau media yang ada di sana,


    17
         Ibid., hal. 50
                                                                       102




  seperti: tempat belajar yang kondusif, perpustakaan, musholla, UKS, Ruang

  OSIS, Ruang Kopsis, Lapangan Olah Raga, Ruang Keterampilan, dan lain

  sebagainya yang cukup memadahi sehingga dengan adanya semua itu akan

  menunjang bagi lancarnya belajar siswa.

         Hal iti semua dilakukan untuk menciptakan sekolah yang

  bersih, rapi, dan        indah sehingga menciptakan situasi dan

  kondisi yang menyenangkan bagi warga sekolah, sehingga dapat

  memperlancar jalannya proses pembelajaran yang pada akhirnya

  proses pembelajaran tersebut dapat ditingkatkan.

e. Manajemen Hubungan Masyarakat

         Hubungan dengan masyarakat di MI Miftahul Amal Kec. Lenteng

  terbentuk dalam sebuah wadah Komite Sekolah. Dengan adanya wadah ini

  diharapkan Komite Sekolah mampu bekerjasama dengan pihak sekolah guna

  meningkatkan mutu pendidikan khususnya proses pembelajaran.

         Dalam manajemen ini, masyarakat dengan sekolah dianggap sangat

  penting karena antara sekolah dengan masyarakat memiliki hubungan yang

  sangat erat. Sekolah adalah bagian integral dari masyarakat, bukan suatu

  lembaga yang terpisah dari masyarakat, karena masyarakat merupakan faktor

  pendukung terhadap peningkatan PBM. Dengan partisipasi masyarakat serta

  dukungan dan sumbangsih pemikiran maupun dana akan berpengaruh

  terhadap kemajuan sekolah. Dengan kata lain, sekolah merupakan lembaga

  sosial yang berfungsi untuk melayani anggota-anggota masyarakat dalam

  bidang pendidikan.
                                                                            103




         Masyarakat merupakan salah satu dari pusat pendidikan yang juga

  mempunyai tanggung jawab terhadap masalah-masalah pendidikan. Walaupun

  pada kenyataanya yang berlaku jika ada sesuatu hal terjadi pada produk

  sekolah yang ternyata tidak sesuai harapan masyarakat, maka yang selalu

  mendapat kritikan yang pertama adalah sekolah. Sebab itu jalinan komunikasi

  yang baik antara sekolah dengan masyarakat mutlak diperlukan sebab

  masyarakat mempunyai pengaruh yang besar terhadap arah pendidikan.

f. Manajemen Layanan Khusus

         Layanan khusus ini diperuntukkan bagi siswa dengan tujuan agar

  mereka bisa melaksanakan kegiatan belajarnya dengan baik tanpa adanya

  ganjalan apa pun. Ada tiga layanan khusus dalam bidang ini, yaitu: 1) layanan

  perpustakaan, 2) memberikan pelayanan kesehatan jasmani dan rohani, dan 3)

  memberikan pelayanan keamanan.

         Pelayanan   perpustakaan    tersebut   ditujukan   agar   siswa   dapat

  memperkaya ilmu pengetahuannya dengan cara membaca di waktu-waktu

  luang pada waktu istirahat, kemudian layanan kesehatannya dilakukan dengan

  tujaun agar mereka bisa menjalani masa belajarnya tanpa ada gangguan

  kesehatan baik jasmani maupun rohaninya, sedangkan layanan keamanannya

  dilakukan guna menunjang terhadap keamanan proses pembelajaran. Dan hal

  itu semua diharapkan mampu menjadi menambah semangat dan motivasi

  siswa dalam hal belajarnya.

         Kemudian dengan adanya beberapa program atau kegiatan pada

  masing-masing komponen MBS di MI Miftahul Amal Kec. Lenteng sudah
                                                                          104




   ada peningkatan dalam proses pembelajaran, walau pun hal itu kurang

   signifikan. Namun jika dibandingkan dengan sebelum diterapkan MBS,

   prestasi mereka lebih banyak peningkatan setelah diterapkannya MBS.

          Hal ini terbukti dengan adanya beberapa indikator keberhasilan

   mereka, yaitu: 1) adanya peningkatan dalam bidang prestasinya, 2) semakin

   aktifnya para siswa dalam Proses Belajar Mengajar (PBM), 3) semakin

   meningkatnya daya serap siswa dalam menerima materi yang disampaikan

   oleh guru, dan 4) semakin kreatifnya para siswa.

          Nah, dengan adanya beberapa indikator di atas dapat disimpulkan

   bahwa Proses Pembelajaran dapat ditingkatkan dengan adanya implementasi

   Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Walaupun tidak sepenuhnya berhasil,

   karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya.

          Adapun faktor pendukung dalam pengimplementasian MBS untuk

   meningkatkan PBM di MI Miftahul Amal Kec. Lenteng adalah:

   a. Memperkaya para tutor (guru) dengan mengkutsertakan pelatihan,

       MGMP, penataran, dan lain-lain baik di tingkat daerah maupun di tingkat

       wilayah.

   b. Adanya fasilitas pendukung seperti perpustakaan, komputer, dan lain

       sebagainya.

      Sebagaimana yang disebutkan oleh E. Mulyasa bahwa peningkatan mutu

diperoleh melalui partisipasi orang tua, masyarakat, kelenturan pengelolaan
                                                                            105




sekolah, peningkatan profesionalisme guru, adanya hadiah dan hukuman sebagai

kontrol serta hal lain yang dapat menumbuhkembangkan suasana yang ada.18

          Dengan adanya keikutsertaan instansi-instansi, perusahaan-perusahaan

yang ada di sekitar sekolah dengan menerima siswa untuk praktek, serta adanya

partisipasi dari para guru dalam pengembangan keilmuannya dengan mengikuti

pelatihan, MGMP, penataran, dan lain-lain, pelaksanaan MBS di MI Miftahul

Amal Kec. Lenteng berjalan dengan baik.

          Sedangkan yang menjadi faktor penghambatnya adalah:

a. Kurangnya pemahaman tentang MBS oleh semua unsur yang ada di sekolah

   baik oleh siswa, guru, maupun bagian staf administrasi.

b. Adanya pengaruh pola lama, sehingga mengakibatkan pengimplementasian

   MBS dalam meningkatkan PBM kurang maksimal.

c. Kurang lengkapnya fasilitas pendukung.

          Sehingga dengan adanya beberapa faktor penghambat di atas, MI Miftahul

Amal Kec. Lenteng, mengatasinya dengan cara sebagai berikut:

   1) Mengadakan sosialisai tentang MBS kepada semua unsur di MI Miftahul

          Amal Kec. Lenteng.

   2) Mengadakan studi banding dengan lembaga lain yang lebih sempurna

          dalam penerapan MBS, dan sekitarnya. Atau dengan kata lain mengadakan

          kerja sama dengan MI lain yang di sekitar Kec. Lenteng.




     18
          Ibid., hal. 13
106

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:547
posted:9/7/2012
language:Indonesian
pages:28
Description: Ini merupakan contoh skripsi pai lengkap pada bagian bab 4