Docstoc

Contoh Skripsi PAI Lengkap

Document Sample
Contoh Skripsi PAI Lengkap Powered By Docstoc
					PENTINGNYA HUMAS LEMBAGA PENDIDIKAN SEKOLAH

DALAM MEMBANGUN HUBUNGAN DENGAN MASYARAKAT

        DI SMP NEGERI 2 SUMBERMANJING



                    SKRIPSI



                     Oleh :

                  ***********

                  (***********)




    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

       JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

              FAKULTAS TARBIYAH

     UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG

                      2007
PENTINGNYA HUMAS LEMBAGA PENDIDIKAN SEKOLAH

DALAM MEMBANGUN HUBUNGAN DENGAN MASYARAKAT

          DI SMP NEGERI 2 SUMBERMANJING



                         SKRIPSI

       Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah UIN Malang

  Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh

       Gelas Sarjana Pendidikan Agama Islam (S.Pd I)



                          Oleh :

                       ***********

                      (***********)




     PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

         JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

                 FAKULTAS TARBIYAH

      UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG

                           2007
                             OUT LINE

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PERSETUJUAN

HALAMAN PENGESAHAN

HALAMAN MOTTO

HALAMAN PERSEMBAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

ABSTRAK

BAB I : PENDAHULUAN

     A. Latar Belakang

     B. Rumusan Masalah

     C. Tujuan Penelitian

     D. Manfaat Penelitian

     E. Penegasan Judul

     F. Ruang Lingkup Pembahasan

     G. Metode Penelitian

     H. Sistematika Pembahasan

BAB II : KAJIAN TEORI

     A. Hubungan Pendidikan dan Masyarakat

          1. Pengertian Lembaga Pendidikan Sekolah

          2. Tujuan Lembaga Pendidikan Sekolah

          3. Tugas Lembaga Pendidikan Sekolah
          4. Hubungan        Lembaga   Pendidikan   Sekolah   dengan

             Masyarakat

     B. Manajemen di Lembaga Pendidikan Sekolah

          1. Pengertian dan Tujuan Manajemen Pendidikan

          2. Pentingnya Manajemen

          3. Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan

     C. Manajemen Hubungan Masyarakat

          1. Hubungan Masyarakat dan Sekolah

          2. Peran Sekolah Terhadap Masyarakat

          3. Peran Masyarakat Terhadap Sekolah

          4. Manfaat Hubungan Timbal Balik Antara Masyarakat Dan

             Sekolah

     D. Upaya Humas dalam Membangun Hubungan dengan Masyarakat

          1. Teknik Humas di Lembaga Pendidikan Sekolah

          2. Asas dalam Manajemen Humas

          3. Manajemen Pengelolaan Humas dengan Masyarakat

     E. Hasil-hasil Manajemen Humas di Lembaga Pendidikan Sekolah

BAB III : METODE PENELITIAN

     A. Metode Pembahasan

     B. Kehadiran Peneliti

     C. Lokasi Penelitian

     D. Sumber Data

     E. Metode Pengumpulan Data
     F. Metode Analisis Data

     G. Pengecekan Keabsahan Data

     H. Tahap-Tahap Penelitian

BAB IV : LAPORAN HASIL PENELITIAN

     A. Latar Belakang Obyek Penelitian

          1. Sejarah Berdirinya SMP Negeri 2 Sumbermanjing

          2. Stuktur Organisasi SMP Negeri 2 Sumbermanjing

          3. Keadaan Guru SMP Negeri 2 Sumbermanjing

          4. Keadaan Siswa SMP Negeri 2 Sumbermanjing

     B. Paparan Dan Analisis Pentingnya Humas lembaga Pendidikan

        Sekolah dalam membangun Hubungan dengan Masyarakat

BAB V : PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

BAB VI : PENUTUP

     A. Kesimpulan

     B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN
                                    BAB I

                              PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

          Pengembangan pendidikan bukanlah pekerjaan sederhana karena

   pengembangan tersebut memerlukan adanya perencanaan secara terpadu dan

   menyeluruh. Terkait dengan fungsi lembaga pendidikan sebagai salah satu

   tempat meningkatkan sosial budaya masyarakat, maka hubungan dengan

   masyarakat tidak dapat dipisahkan. Hubungan lembaga pendidikan sekolah

   dan masyarakat adalah bagian internal yang tidak dapat dipisahkan yaitu

   mempunyai substansi sebagai sarana komunikasi two way trafficcomunication

   dan bersama-sama untuk bertanggung jawab kearah terciptanya tujuan

   pendidikan yang dicita-citakan bersama.

          Salah satu manajemen yang penting di sekolah adalah manajemen

   hubungan masyarakat (humas), karena sekolah berada ditengah-tengah

   masyarakat dan selalu berhubungan dalam menjalin kerja sama yang

   pedagogis dan sosiologis yang menguntungkan kedua belah pihak. Hubungan

   masyarakat telah diformulasikan dengan cara yang berbeda-beda bergantung

   pada lembaga atau organisasi yang membuat formulasi tersebut.

          Makin majunya pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan

   menjadikan kerja sama sekolah dengan masyarakat sebagai kebutuhan vital.

   Kerja sama tersbut dimaksudkan demi kelancaran pendidikan di sekolah pada

   umumnya dan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada khususnya.

   Sekolah merupakan salah satu bagian dari sebuah masyarakat, jadi pengaturan
    sekolah harus dilihat dalam hubungannya dengan komponen-komponen

    penyelenggara pendidikan lainnya kemudian dihubungkan dengan seluruh

    program masyarakat.

            Berangkat dari titik tolak pemikiran ini maka perlu ada pengaturan

    hubungan antara sekolah dan masyarakat. Humas dengan sekolah adalah salah

    satu bagian dari substansi administrasi pendidikan di sekolah. Dengan adanya

    hubungan sekolah dengan masyarakat, sekolah dapat mengetahui sumber-

    sumber yang ada dalam masyarakat yang kemudian didayagunakan untuk

    kepentingan kemajuan pendidikan anak di sekolah. Di lain pihak, masyarakat

    juga dapat mengambil manfaat dengan turut mengenyam dan menyerap ilmu

    pengetahuan sekolah. Dari sini kehidupan masyarakat akan ditingkatkan. Oleh

    karenanya, masyarakat dapat mengerti dan memahami tujuan pendidikan dan

    pelaksanaan pendidikan yang berlangsung di sekolah tersebut.1

            Lembaga pendidikan (sekolah) merupakan suatu sistem yang terbuka.

    Sebagai sistem terbuka, sekolah pasti akan mengadakan hubungan dengan

    masyarakat di sekelilingnya. Sekolah yang maju pasti akan banyak

    mengadakan hubungan dengan lembaga-lembaga lain di luar sekolah,

    contohnya dalam hal beasiswa, PHBI, praktek ketenaga-kerjaan dan masih

    banyak lagi yang lain, inilah yang digalakkan oleh SMP N 2 Sumbermanjing.

           Dalam hal ini Immegart (1972: 44) mengungkapkan bahwa Hanya
           sistem yang terbuka yang memiliki negentropy, yaitu suatu usaha yang
           terus menerus untuk menghalangi kemungkinan terjadinya entropy
           (kepunahan).2
      1
         Piet A. Sahertian, Dimensi Administrasi Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1994),
hlm. 233
       2
         Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, (Jakarta: PT Bina Aksara, 1988). hlm.
189
           Memang tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat dan sekolah

mempunyai keterkaitan dan saling berperan satu sama lain. Apalagi pada

zaman sekarang ini, pemerintah telah mensosialisasikan adanya desentralisasi

pendidikan dimana sekolah mempunyai hak untuk mengatur sekolahnya

sendiri. Oleh sebab itulah SMP N 2 Sumbermanjing berusaha memfungsikan

dan mengatur manajemen humasnya dengan berusaha menjalin hubungan

dengan lembaga-lembaga lain diluar sekolah dalam rangka meningkatkan

mutu pendidikannya.

         Muhammad Noor Syam (1986: 199) dalam bukunya Filsafat
         Pendidikan Pancasila mengungkapkan bahwa Hubungan masyarakat
         dengan penddidikan sangat bersifat korelatif, bahkan seperti ayam
         dengan telurnya. Masyarakat maju karena pendidikan, dan pendidikan
         yang maju hanya akan di temukan dalam masyarakat yang maju pula.

           Sejalan dengan konsep diatas, sudah berkali-kali pemerintah

menyerukan bahwa pendidikan adalah tanggungjawab bersama antara

pemerintah, orang tua dan masyarakat. Sedangkan Kaufman (1972: 30)

mengemukakan bahwa partner pendidikan tidak terdiri dari ketiga komponen

tersebut, melainkan terdiri dari para guru, para siswa dan para orang

tua/masyarakat.3

           Dalam era globalisasi, bidang kehumasan akan sangat berperan.

Sekolah yang tidak memanfaatkan bidang tersebut bakal tertinggal karena

tidak menguasai perolehan dan penyebaran informasi. Pentingnya hubungan

masyarakat menjadi perhatian Noke Kiroyan, Petinggi Kaltim Prima Coal

(KPC). Dalam telaahnya, Noke melihat fungsi hubungan masyarakat akan


  3
      ibid. hlm. 190.
sangat terasa manakala sekolah berupaya mengembangkan usaha dan

menghindari situasi yang kurang kondusif dengan lingkungan. Oleh karena

itu, hubungan masyarakat perlu diberikan prioritas dalam sekolah.4

           Keberadaan hubungan masyarakat bkan hanya perlu untuk membina

hubungan dengan pihak luar. Namun sangat penting untuk memberikan

informasi ke dalam, baik kepada pimpinan maupun sesame karyawan dan guru

sendiri.     Sekolah     yang     berkeinginan     menciptakan      suasana       nyaman

dilingkungannya harus menerapkan prinsip keterbukaan. Di situlah, hubungan

masyarakat sangat berperan.

           Salah satu faktor sebab menurunnya semangat partisipasi masyarakat

terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah adalah, dahulu sekolah

sepenuhnya dimiliki oleh masyarakat, dan merekalah yang membangun dan

memelihara sekolah, mengadakan sarana pendidikan, serta mengadakan iuran

uintuk mengadakan operasional sekolah. Jika sekolah telah mereka bangun,

masyarakat hanya meminta guru-guru kepada pemerintah untuk diangkat ada

sekolah mereka itu. Pada waktu itu, kita sebenarnya telah                     mencapai

pembangunan pendidikan yang berkelanjutan (sustainable development),

kaena sekolah adalah sepenuhnya milik masyarakat yang senantiasa

bertanggung jawab dalam pemeliharaan serta operasional pendidikan sehari-

hari. Pada waktu itu, pemerintah berfungsi sebagai penyeimbang, melalui

pemberian subsidi bantuan bagi sekolah-sekolah pada masyarakat yang benar-

benar kurang mampu.


  4
      http:/www.sinarharapan.co.id/ekonomi/promarketing/2004/05110/prom 1. html
         Salah satu jalan masuk yang terdekat menuju peningkatan mutu dan

relevansi adalahdemokratisasi, partisipasi dan akuntabilitas pendidikan.

Kepala sekolah, guru dan masyarakat adalah pelaku utama dan terdepan dalam

penyelenggaraan pendidikan di sekolah sehingga segala keputusan mengenai

penanganan persoalan pendidikan pada tingkata mkro harus dihasilkan dari

dari interaksi dari ketiga pihak tersebut. Masyarakat adalah stakeholder

pendidikan yang memiliki kepentingan akan keberhasilan pendidikan di

sekolah, karena mereka adalah pembayar pendidikan, baik melalui uang

sekolah maupun pajak, sehingga sekolah-sekolah seharusnya bertanggung

jawab terhadap masyarakat.

         Hubungan masyarakat sangat penting dalam kepentingan suatu

organisasi sekolah, jadi jelaslah bahwa dalam public relation terdapat suatu

usaha untuk mewujudkan suatu hubungan yang harmonis antara sekolah

dengan piublik sehingga akan muncul opini public yang menguntngkan bagi

kehidupan sekolah tersebut. Sebagaimana tergambar dalam bagan di bawah

ini,

            Bantuan                        KOMUNIKASI TERBUKA
                      Umpan Balik




        KEPALA
                               KEBUTUHAN       KEBUTUHAN           Keterpaduan
       SEKOLAH
                                  GURU           SISWA          Dengan Masyarakat




           Bantuan
                                     Pengambilan Keputusan Bersama
                      Umpan Balik
          Mengingat begitu pentingnya peranan humas dalam lembaga

   pendidikan dan adanya kesenjangan antara teori dengan kenyataan di

   lapangan, maka peneliti terdorong untuk melakukan penelitian tentang

   “Pentingnya Humas Lembaga Pendidikan Sekolah Dalam Membangun

   Hubungan Dengan Masyarakat di SMP Negeri 2 Sumbermanjing”.

B. Rumusan Masalah

              Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat beberapa permasalahan

   yang akan diteliti dan dibahas serta dirumuskan sebagai berikut:

      1. Bagaimana pelaksanaan manajemen humas di SMP Negeri 2

          Sumbermanjing ?

      2. Bagaimana upaya manajemen humas dalam membangun hubungan

          dengan masyarakat di SMP Negeri 2 Sumbermanjing?

      3. Bagaimana hasil pelaksanaan program dalam membangun hubungan

          dengan masyarakat di SMP Negeri 2 Sumbermanjing?

C. Tujuan Penelitian

              Sejalan dengan perumusan masalah tersebut diatas, maka tujuan

   penulisan ini adalah :

      1. Untuk mengetahui pelaksanaan manajemen humas di SMP Negeri 2

          Sumbermanjing.

      2. Untuk mengetahui upaya manajemen humas dalam membangun

          hubungan dengan masyarakat di SMP Negeri 2 Sumbermanjing.

      3. Untuk mengetahui hasil pelaksanaan program dalam membangun

          hubungan dengan masyarakat di SMP Negeri 2 Sumbermanjing.
D. Manfaat Penelitian

           Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna :

   1. Bagi Peneliti :

   a. Mengetahui pentingnya manajemen humas dalam membangun hubungan

       dengan masyarakat sehingga lembaga pendidikan tetap eksis.

   b. Sebagai bekal pengalaman apabila suatu saat nanti sudah terjun dalam

       dunia pendidikan dan staf administrasi.

   2. Bagi Guru

   a. Sebagai tolak ukur kondisi manajemen humas yang seharusnya ada dalam

       diri seorang guru yang tidak hanya bertugas sebagai pengajar saja..

   b. Sebagai bahan evaluasi guru dalam meningkatkan mutu lembaga

       pendidikan.

   3. Bagi Peneliti Selanjutnya

   a. Sebagai bahan referensi.

   b. Sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian selanjudnya.

   c. Sebagai bahan pertimbangan bagi pengelola sekolah (kepala sekolah, guru,

       karyawan) dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.

E. Penegasan Judul

               Untuk menghindari adanya kesalahpahaman didalam menafsirkan

   judul skripsi ini, maka penulis memberikan definisi beberapa kata yang

   tertulis dalam penulisan judul skripsi.
      1.    Humas

            Menurut Glennand Denny Griswold (1996), hubungan masyarakat

      merupakan      fungsi    manajemen        yang diadakan untuk           menilai dan

      menyimpulkan sikap-sikap publik, menyesuaikan polecy dan prosedur

      instansi atau organisasi dengan kepentingan umum, menjalankan suatu

      program untuk mendapatkan pengertian dan dukungan masyarakat.5

      Dalam khazanah Islam Humas memiliki dua kata makna yang sama yaitu

      "halb" yang artinya "tali atau hubungan" atau "silaturahmi" yang artinya

      "menyambung persaudaraan"' sebagaimana firman Allah dalam al-Qur'an

      Ali Imron 112.6

            Humas secara umum diartikan sebagai semua kegiatan yang dilakukan

      oleh suatu lembaga atau organisasi dan bada usaha melalui para petugas

      untuk merumuskan organisasi atau struktur dan komunikasi guna

      menciptakan saling pengertian yang lebih baik antara lembaga itu denga

      khalayak (orang atau pihak yang selalu harus dihubungi).7

      2.    Lembaga pendidikan sekolah

            Sekolah berasal dari bahasa Belanda School, bahasa Jerman die scrule,

      bahasa Inggris school yang artinya sama dengan sekolah, yaitu suatu

      lembaga pendidikan.8 Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal

      sebagai tempat belajar siswa.


      5
        B. Suryo Subroto, Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah (Jakarta: Bina
Aksara, 1984), hlm. 114
      6
        Khadim al Haramain, Al-Qur'an dan Terjemahnya, 1997 : 94
      7
        Harsono Suwandi, Beberapa Aspek lain dari Kegiatan Humas (Dimuat dalam Buletin
Pengetahuan Kehukuman, No. 24 Tahun 1988)
      8
        Munandier, Ensiklopedi Pendidikan (Malang: UM Press, 2001), hlm. 329
F. Ruang Lingkup Pembahasan

             Mengingat keterbatasan waktu, tenaga dan biaya serta kemampuan

  penulis, maka penulis memberikan batasan permasalahan dalam penelitian ini

  sebagai berikut :

  1.   pelaksanaan manajemen humas lembaga pendidikan di SMP Negeri 2

       Sumbermanjing.

  2.   Bentuk manajemen humas dalam membangun hubungan dengan

       masyarakat di SMP Negeri 2 Sumbermanjing.

  3.   Pengelolaan manajemen humas dalam membangun hubungan dengan

       masyarakat di SMP Negeri 2 Sumbermanjing.
                                     BAB II

                                 KAJIAN TEORI

        Kajian teori ini berisikan teori-teori yang dijadikan sebagai rujukan

langsung penelitian. Hal-hal pokok yang menjadi inti pembahasan dalam kajian

teori adalah :

A. Hubungan Lembaga Pendidikan Sekolah dan Masyarakat

        Lembaga pendidikan sekolah adalah sub-sub sistem dari sistem

    pendidikan, yang terdiri atas beberapa unsur yang fungsional saling terkait

    antara satu dengan lainnya. Dan apabila terjadi perubahan pada salah satu

    unsur, maka akan membawa perubahan pada unsur-unsur lainnya. Keterkaitan

    tersebut berlangsung dalam rangka mencapai sasaran yang diinginkan.

    Dinamika pendidikan sekolah untuk mencapai tujuan tersebut terikat dalam

    satu wadah yang dikenal dengan lembaga pendidikan sekolah. Dan untuk

    mengenal lembaga pendidikan sekolah akan dijelaskan pada sub-sub bahasan

    berikut ini:

    1. Pengertian Lembaga Pendidikan Sekolah.

            Di dalam sejarah pendidikan dikemukakan bahwa sejak jaman

        pendidikan China kuno dan Yunani kuno telah dijumpai adanya sekolah

        sebagai lembaga pendidikan. Perkataan “sekolah” berasal dari perkataan

        Yunani “schola” yang artinya waktu nganggur atau waktu senggang.

        Bangsa Yunani kuno mempunyai kebiasaan menggunakan waktu

        senggangnya untuk berdiskusi guna menambah ilmu dan mncerdaskan

        akal. Lambat laun usaha tersebut diselenggarakan secara teratur dan
          berencana (secara formal), sehingga akhirnya timbullah sekolah sebagai

          lembaga pendidikan formal yang bertugas untuk menambah ilmu

          pengetahuan dan kecerdasan akal.9

              Pendidikan sekolah termasuk masalah sosial, sehingga dalam

          kelembagaannya tidak terlepas dari lembaga sosial yang ada. Lembaga

          disebut juga institusi atau pranata, sedangkan lembaga sosial adalah suatu

          bentuk organisasi yang tersusun relatif tetap atas pola-pola tingkah laku,

          peranan-peranan dan relasi-relasi yang terarah dalam mengikat individu

          yang mempunyai otoritas formal dan sanksi hukum, guna tercapainya

          kebutuhan-kebutuhan sosial dasar.10

              Pendidikan sekolah yang berlangsung melalui proses operasional

          dalam mencapai tujuannya, memerlukan model dan sistem yang konsisten

          dan dapat mendukung nilai-nilai moral spritual yang melandasinya. Nilai-

          nilai    tersebut    diaktualisasikan      berdasarkan       orientasi     kebutuhan

          perkembangan fitrah siswa yang dipadu dengan pengaruh lingkungan

          kultural yang ada. Oleh karena itumanajemen kelembagaan pendidikan

          sekolah memandang bahwa seluruh proses kependidikan dalam institusi

          adalah sebagai suatu sistem yang berorientasi kepada perbuatan yang

          nyata.

              Kelembagaan pendidikan sekolah merupakan sub-sistem dari sistem

          masyarakat atau bangsa. Dalam operasionalnya selalu mengacu dan

          tanggap kepada kebutuhan perkembangan masyarakat. Tanpa bersikap
     9
         Suwarno, Pengantar umum Pendidikan (Jakarta: Bina Aksara, 1988), hlm. 70
     10
          Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996),
hlm.37
           demikian, lembaga pendidikan sekolah dapat menimbulkan kesenjangan

           sosial dan kultural. Kesenjangan ini nantinya akan menjadi konflik antara

           pendidikan dan masyarakat. Dari sinilah timbul krisis pendidikan yang

           intesitasnya berbeda-beda menurut tingkat atau taraf perkembangan

           masyarakat.

              Oleh karena itu, lembaga pendidikan sekolah yang diselenggarakan

           haruslah sesuai dengan tuntutan dan aspirasi masyarakat, sebab tanpa

           memperhatikan hal tersebut akan mengalami kesulitan dalam mencapai

           kemajuan.

    2. Tujuan Lembaga Pendidikan Sekolah.

              Berbicara tentang tujuan lembaga pendidikan sekolah, maka tidak

           lepas dari tujuan pendidikan nasional itu sendiri, dimana tujuan pendidikan

           nasional berdasarkan pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

              Lembaga pendidikan sekolah sesuai dengan pendidikan nasional

           berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta

           peradaban bangsa, serta bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta

           didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan

           Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri

           dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.11 Hal

           ini berarti lembaga pendidikan sekolah mempunyai tujuan untuk

           mengembangkan semua potensi yang dimiliki manusia yaitu, mulai dar

           tahapan kognisi, yakni pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap ajaran

      11
        Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidika
Nasional (Jakarta: BP. Cipta Jaya, 2003) hlm.7
   agama dan pengetahuan umum, untuk selanjutnya dilanjutkan dengan

   tahapan afeksi, yaitu terjadinya proses internalisasi ajaran, nilai agama dan

   pengetahuan ke dalam diri          siswa, dalam arti      menghayati     dan

   menyakininya. Melalui tahapan afeksi tersebut diharapkan dapat tumbuh

   motivasi dalam diri siswa dan bergerak untuk mengamalkan dan mentaati

   ajaran, nilai agama dan pengetahuan (tahapan Psikomotorik) yang telah

   diinternalisasikan dalam dirinya. Dengan demikian, akan terbentuk

   manusia Indonesia yang bertakwa dan berakhlak mulia.

3. Tugas Lembaga Pendidikan Sekolah

      Lembaga pendidikan sekolah seperti halnya lembaga pendidikan

   lainnya merupakan lembaga pendidikan kedua setelah keluarga. Adapun

   tugas-tugas yang diemban lembaga pendidikan sekolah adalah :

    a) Melaksanakan pendidikan dalam sekolah dalam jangka waktu

        tertentu sesuai dengan jenis, jenjang dan sifat sekolah.

    b) Melakanakan pendidikan dan pengajaran sesuai denga kurikulum

        yang berlaku

    c) Melaksanakan bimbingan dan konseling bagi siswa di sekolah

    d) Membina organisasi siswa intra sekolah (OSIS)

    e) Melaksanakan urusan tata usaha sekolah dan rumah tangga sekolah

    f) Membina kerjasama dengan orang tua, masyarakat dan dunia kerja
            g) Bertanggung jawab kepada lembaga Vertikal (Dinas Pendidikan dan

                Kebudayaan)12

              Tugas lembaga pendidikan pada intinya adalah sebagai wadah untuk

           memberikan pengarahan, bimbingan dan pelatihan agar manusia dengan

           segala potensi yang dimilikinya (Jasmani dan Rohani) yang diberikan

           Tuhan Yang Maha Esa dapat dikembangkan dengan sebaik-baiknya.

    4. Hubungan Lembaga Pendidikan Sekolah dengan Masyarakat

              Lembaga pendidikan sekolah merupakan bagian dari masyarakat

           seperti umumnya lembaga-lembaga pendidikan lainnya, sebagaimana telah

           diuraikan diatas, bahwa adanya lembaga pendidikan sekolah adalah untuk

           membina anak-anak dan para remaja dari masyarakat bersangkutan.

           Sekolah adalah milik masyarakat dan untuk kepentingan masyarakat.

           Sebab itu sekolah tidak boleh mengisolasi diri dari masyarakat. Sebaliknya

           sekolah harus menyatu dengan masyarakat dan sekaligus menjadi agen

           pembaharu masyarakat.13

              Menurut Finc bahwa pendidikan harus merupakan bagian dari

           masyarakat. Sebab program tenaga kerja diambil dari masyarakat, juga

           dukungan dana dan tempat bekerja. Karenanya sekolah daan masyarakat

           harus memiliki keterkaitan erat.14

              Dari pendapat tersebut bahwa lembaga pendidikan sekolah tidak lepas

           dari masyarakat. Namum ini tidak berarti sekolah harus melebur diri di

      12
         Pemerintah Kabupaten Malang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Diskripsi Tugas
Pengelola Sekolah, 2006.
      13
         Made Pidarta, Peranan Kepala Sekolah pada Pendidikan Dasar (Jakarta: Gramedia
Widiasarana, 1995), hlm. 126
      14
         Ibid, hlm. 127
      masyarakat secara keseluruhan, melainkan tetap menunjukkan identitasnya

      sebagai lembaga pendidikan yang dapat mempengaruhi pendidikan dan

      pembangunan masyarakat. Kerjasama seperti ini bukan hanya diharapkan,

      tetapi   diharuskan   sebab     UUSPN   menginginkan   penyelenggaraan

      pendidikan dilakukan bersama oleh pemerintah, orang tua siswa dan

      masyarkat. Disamping itu pendidikan di sekolah akan dapat berjalan

      dengan baik bila terdapat dukungan dana, sarana dan nara sumber dari

      masyarakat. Dukungan dari masyarakat adalah wujud dari rasa terima

      kasih masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh lembaga

      pendidikan sekolah.

          Esensi hubungan lembaga pendidikan adalah untuk meningkatkan

      keterlibatan, kepedulian, kepemilikan dan dukungan dari masyarakat

      terutama dukungan moral dan finansial. Dalam arti yang sebenarnya

      hubungan lembaga pendidikan sekolah dan masyarakat adalah untuk

      menjalin kerjasama untuk bersama-sama bertanggung jawab terhadap

      keberhasilan dan kemajuan pendidikan, sehingga akan dibutuhkan

      peningkatan intensitas dan ekstensitas hubungan lembaga pendidikan

      sekolah dengan masyarakat.

B. Manajemen di Lembaga Pendidikan Sekolah.

   1. Pengertian dan tujuan Manajemen Pendidikan.

          Manajemen (management) berasal dari kata "to manage" yang berarti

      mengatur, dan dalam mengatur terdapat sesuatu yang diatur, ada proses

      dan ada tujuan pengaturannya.
               Hal tersebut berdasarkan pendapat para pakar manjemen :

           a) Stepen P. Robin; Manajemen adalah proses menyelesaikan aktifitas

               secara efisien dengan dan melalui orang lain.

           b) Daivid     H.    Holt;    Manajemen        adalah    proses    merencanakan,

               mengorganisasikan dan mengendalikan (manusia, material dan sumber

               daya keuangan) dalam suatu lingkungan organisasi.15

           c) Sondang P. Siagian; Manajemen adalah kemampuan atau keterampilan

               untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan

               melalui kegiatan-kegiatan yang lain.16

               Sedangkan kata pendidikan menurut William Chadier Bagleij adalah

           "aktivitas yang dengannya seseorang dapat berusaha mendapatkan

           pengalaman dan latihan-latihan yang akan menjadikan setiap tugas

           (aktivitas) masa depannya lebih baik dan lebih sempurna.17

               Adapun menurut UUSPN tahun 2003 ditegaskan pada bab I pasal I

           bahwa“ pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

           suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

           mengembngkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual

           keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,




      15
           Widjaja Tunggal Amin, Manajemen Suatu Pengantar (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hlm.
31.
      16
          Jhon Salindeho, Peranan Tindak Lanjut dalam Manajemen (Jakarta: Sinar Grafika,
1989), hlm.28
       17
          M. Abu Bakar, Pedoman Pendidikan dan Pengajaran (Surabaya: Usaha Nasional, 1981),
hlm. 9.
      serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan

      negara.”18

         Dari pengertian dua suku kata tersebut diatas manajemen dan

      pendidikan, maka pengertian manajemen pendidikan adalah aktivitas

      dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan

      sebelumnya.19

         Disamping tujuan tersebut diatas terdapat tujuan senada yaitu

      meningkatkan efesiensi dan efektivitas penyelenggaraannya an operasional

      pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan.20

         Dengan demikian dapat diketahui bahwa tujuan pokok mempelajari

      manajemen pendidikan adalah untuk memperoleh cara, teknik, metode

      yang digunakan sebaik-baiknya sehingga sumber-sumber yang terbatas

      (seperti: tenaga, biaya dll) dan dimanfaatkan secra efektif, efesien dan

      produktif untuk mencapai tujuan pendidikan.

2. Pentingnya Manajemen

         Proses modernisasi yang berjalan terus-menerus seirama dengan

      perubahan akibat dari pembangunan nasional memberikan dampak

      (impact) teknologi yang canggih (scophisticated) sesuai dengan tuntutan

      zaman dan peradaban. Transisi masyarkat yang agraris menjadi

      masyarakat industri tidak selamanya memberi perubahan yang positif bagi

      masyarakat, seringkali dampak kejayaan era industrialisasi membawa

      sikap hidup manusia yang dihadapkan pada berbagai konflik, baik berskala
 18
    Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, Op.cit. Hlm. 4
 19
    Made Pidarta, Op.cit. hlm. 4
 20
    Hadari Nawawi, Admiistrasi Pendidikan (Jakarta: CV. Haji Mas Agung, 1989), hlm.12
besar maupun berskala kecil. Problem tersebut tidak mampu ditelusuri

dengan keterampilan yang sederhana dan keterampilan teknikal saja.

Problem yang dipandang kompleks ini bukanlah problem yang

berhubungan dengan benda-benda berujud saja, tetapi termasuk dunia

dinamis dan komplek, yaitu berkenaan dengan problem manusia, yang

dimaksud adalah manusia yang menguasai dunia ini berikut keinginannya

yang seringkali melampui batas.

   Problem yang terjadi pada masyarakat yang kompleks dan disertai

berbagai tantangan yang tidak luput atau terjadi pada proses pendidikan.

   Dalam pelaksanaan pendidikan, pada hakikatnya mempuyai tiga

fungsi, yaitu; Pertama, menyiapkan generasi muda untuk memegang

peranan tertentu dalam masyarakat dimasa yang akan datang. Kedua,

transfer pengetahuan sesuai dengan peranan yang diharapkan masyarakat

sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup (service) masyarakat dan

peradaban.

   Hal diatas seperti terantum dalam tujuan pendidikan nasional, yaitu

disamping melaksanakan fungsi pendidikan juga mempunyai banyak

komponen yang harus dikelola yaitu tujuan pendidikan peserta didik,

pendidik, alat, lingkungan, sarana prasarana, organisasi guru, organisasi

siswa dan lain-lain.

   Tujuan yang diemban pendidikan bukanlah seuatu yang ringan dan

permasalahan yang dihadapi oleh pendidikan nantinya akan bersifat sangat

luas mencakup tujuan kurikulum, pendidikan murid, struktur organisasi
   dan lingkungan yang mempengaruhi. Semua aspek tersebut mempengaruhi

   tercapainya cita-cita pendidikan, baik itu yang mendukung ataupun yang

   menghambat. Dengan kondisi ini membuat kalangan pendidikan lebih

   antisipatif. Untuk mengatasi keadaan pendidikan membutuhkan sesuatu

   yang dapat mengatur sumber daya yang dimiliki, dengan memperhatikan

   faktor yang mendukung dan menghambat, yaitu manjemen.

      Dalam konteks pengembangan pendidikan dan pelaksanaan otonomi

   pendidikan pada setiap daerah, khusunya pendidikan seolah, arah

   pengembangan community based education adalah memperhatikan

   masyarakat, kebutuhab masyarakat, mereflesikan budaya masyarakat,

   merespon perubahan yang terjadi di masyarakat, memaksimalkan peran

   serta masyarakat dan menggalang partisipasi masyarakat. Bagi lembaga

   pendidikan yang perlu dilakukan adalah pemberdayaan daripada

   pengaturan. Untuk menampung aspirasi masyarakat di dalam internal

   satuan pendidikan yang sudah ada itu dikembangkan school based

   management. Pilihan ini didasarkan pada alasan, kondisi perubahan

   masyarakat yang berlangsung terus menerus, dalam kondisi ini

   kebudayaan yang bervariasi, tuntutan masyarakat yang selalu berubah,

   maka sekolah harus tetap konsisten dalam dinamika perubahan yang ada.

3. Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan.

      Manajemen merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa unsur

   yang saling berhubungan antara unsur satu dengan unsur lainnya sehigga
     membentuk suatu kesatuan yang utuh yang bergerak bersama-sam menuju

     ke suatu tujuan pokok.

         Satu hal yang tidak boleh dilupakan setelah diketahui arti dan tujuan

     dari manajemen pendidikan adalah bidang garapan manajemen itu sendiri.

     Bidang garapan manajemen itu menyangkut alat-alat manajemen (tool of

     management) yang terdiri dari :

     a) Men : yaitu tenaga kerja manusia bik tenaga kerja eksklusif maupun

         tenaga kerja operatif.

     b) Money : Uang dibutuhkan untuk mencapai tjuan yang diinginkan.

     c) Methode : Cara-cara yang digunakan alam usaha mencapai tujuan.

     d) Materials : baha-bahan yang diperlukan untuk mencapi tujuan.

     e) Machines : Mesin-mesin atau alat yang diperlukan untuk mencapai

         tujuan

     f) Market : pasar untuk menjual out put atau produkl dan jasa-jasa yang

         dihasilkannya.21

         Keenam unsur manajemen tesebut diatas juga berlaku dalam

     manajmen pendidikan. Dalam dunia pendidikan, men berrti personalia

     pendidikan baik sebagai objek maupun sebagai subjek yang meliputi kepla

     sekolah, guru-guru, para karyawan dan siswa-siswi. Untuk lingkungan

     forml di sekolah, money merupakan dana yang dibutuhkan dalam proses

     manajemen pendidikan agr pencapian tujuan pendidikan lebih efektif.




21
     M. Manulang, Manajemen Peronalia (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1995), hlm. 13.
         Dana pendidikan biasanya diperoleh dari pemerintah, uang SPP dan

         komite sekolah.

             Methode adalah cara yang diterapkan dalam pelaksanaan manajemen,

         misalnya cara melakukan pembgian tugas kepada personalia pendidikan

         agar proporsional. Material merupakan bahan yang diperlukan untuk

         melaksnakan manajemen, misalnya seorang guru ketika menyusul satpel

         memerlukan materi yang diambil dari GBPP dengan materi tersebut guru

         hendak mentransfer nilai-nilai luhur yang ada di dalamnya untuk mencapai

         tujuan pendidikan. Machines dalam dunia pendidika termasuk sarana dan

         prasarana pendidikan seperti komputer, perpustakaan, ruang pertemuan

         dan sebagainya. Yang merupakan alat untuk memperlancar tujuan

         pendidikan. Sedangkan markets (pasar) berarti lapangan kerja yng

         dibutuhkan oleh produk pendidikan.22

C. Manajemen Hubungan Masyarakat

  1. Pengertian Humas di Lembaga Pendidikan

             Pada dasarnya, humas (hubungan masyarakat) merupakan bidang atau

         fungsi tertentu yang diperlukan oleh setiap organisasi, baik organisasi

         yang bersifat komersial (perusahaan) maupun organisasi yang non

         komersial. Mulai dari yayasan, perguruan tinggi, dinas militer sampai

         dengan lembaga-lembaga pemerintahan. Kebutuhan dan kehadiran hmas

         tidak dapat dicegah, terlepas dari suka atau tidak suka, karena humas

         merupakan salah satu elemen yang menentukan kelangsungan suatu


    22
         Hasibuan, Manajemen (Jakarta: CV. Haji Masagung, 1990), hlm. 21
organisasi secara positif. Arti penting humas sebagai sumber informasi

semakin kita rasakan pada era globalisasi seperti saat ini.

   Humas merupakan terjemahan bebas dari istilah Publik Relation atau

PR, kedua istilah ini dipakai secara bergantian, yang terdiri dari semua

bentuk komunikasi yang terselenggara antara lembaga atau orgnisasi yang

bersangkutan dengan siapa saja yang berkepentingan dengannya. Setiap

orang pada dasarnya pernah mengenal dan memepraktekkan fungsi humas,

karena manusia adalah makhluk sosial yang selalu melakukan interaksi

dengan orang orang lain untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Istilah

dasar ini seringkali kabur dan tidak dipahami oleh semua orng. Untuk

menghindari salah pengertian, dapat dilihat makna baku atau definisi dari

istilah Humas tersebut dari kamus induk yang sering dijadikan acuan bagi

kalangan praktisi Humas.

   Menurut definisi kamus terbitan Institute of Public Relation (IPR),

yaitu sebuah lembaga humas terkemuka di Inggris dan Eropa, terbitan

November 1987,”Humas adalah keseluruhan upaya yang dilangsungkan

secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan

memelihara niat baik dan saling pengertian antara suatu organisasi

dengan segenap khalayaknya”. Jadi Humas adalah suatu rangkaian

kegiatan yang terorganisasi sedemikian rupa sebagai suatu rangkaian

kampanye atau program terpadu, dan semuanya itu berlangsung secara

berkesinambungan dan teratur. Kegiatan Humas sama sekali tidak bisa

dilakukan secara sembarangan atau mendadak. Tujuan Humas itu sendiri
          adalah untuk memastikan bahwa niat baik dan kiprah organisasi yang

          bersangkutan    senantiasa    dimengerti    oleh     pihak-pihak   lain    yang

          berkepentingan (khalayak atau publiknya).

              Pada pertemuan asosiasi-asosiasi Humas seluruh dunia di Mexico City,

          Agusrtus 1987, ditetapkan definisi Humas sebagai berikut: Humas adalah

          sesuatu seni sekaligus disiplin ilmu sosial yang menganalisa berbagai

          kecenderungan, memprediksi setiap kemungkinan konsekuensi dari setiap

          kegiatannya, memberikan masukan dan saran-saran kepda para pemimpin

          organisasi dan mengimplementasikan program-program tindakan yang

          terencana untuk melayani kebutuhan organisasi dan kebutuhan khalayak.

          Frase “menganalisa kecenderungan” mengisyaratkan bahwa dalam Humas

          perlu diterapkan        teknik-teknik penelitian ilmu sosial dalam suatu

          orgnisasi,   yaitu menonjolkan tanggung jawab organisasi                  kepada

          kepentingan publik atau kepentingan masyarakat luas. Setiap organisasi

          dinilai   berdasarkan     kebrhasilan   dalam      melaksanakan    manajemen

          organisasi. Humas adalah bagian dari sebuah organisasi yang juga

          menentukan keberhasilan suatu organisasi.23

              Kegiatan   Humas       (Public   Relation)     pada   hakekatnya      adalah

          komunikasi.24 Komunikasi menurut Onong Uchjana Effendi adalah

          penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi



     23
         M. Linggar Anggoro, Teori daaan Profesi Kehunasn serta Aplikasinya di Indonesia
(Jakarta: Bumi Aksara, 2000) hlm.1-2.
      24
          Claire Austin, Public Relations yang Sukses dalam Sepekan, Brithish Institute of
Manangement, diterjemahkan oleh Anton Adiwiyoto (Jakarta: PT. Kesaint Blanc Indah Corp,
2001), hlm.6
         tahu atau mengubah sikap, pendapat atau perilaku, baik langsung secara

         lisan maupun tidak langsung (melalui media).25

            Namun komunikasi dalam Humas berbeda dengan jenis kegiatan

         komunikasi lainnya. Kegiatan komunikasi dalam Public Relation

         mempunyai ciri-ciri tersebut, disebabkan karena fungsi sifat orgnisasi dari

         lembaga dimana Public Relation itu berada dan berlangsung, sifat-sifat

         manusia yang terlibat, publik yang menjadi sasarandan faktor-faktor

         eksternal yang mempengaruhinya. Ciri hakiki dari komunikasi dalam

         Public Relation (Humas) adalah komunikasi yang bersifat timbal balik

         (two way traffic. Komunikasi yang bersifat timbal balik ini penting dan

         mutlak harus ada dalam Public Relation, dan terciptanya feed back

         merupakan prinsip pokok Public Relation (Humas).

            Secara struktural, Public Relation (Humas) merupakan bagian integral

         dari suatu kelembagaan dan bukan suatu fungsi atau bagian yang berdiri

         sendiri. Public Relation (Humas) adalah penyelenggara komunikasi timbal

         balik antara suatu lembaga dengan publik yang mempengaruhi sukses

         tidaknya lembaga tersebut. Dari pihak suatu lembaga, komunikasi seperti

         ini ditujukan untuk menciptakan saling pengertian dan dukungan bagi

         terciptanya tujuan, kebijakan dan tindakan lembaga tersebut.

            Dengan kata lain, Public Relation (Humas) berfungsi menumbuhkan

         hubungan baik antara segenap komponen pada suatu lembaga dalam

         rangka memberikan pengertian, menumbuhkan dan mengembangkan

    25
        Onong Uchjana, Dinamika Komunikasi (Bandung: CV. Remaja Karya,
1986), hlm.4
       pengertian dan kemauan baik (goog will) publiknya serta memperoleh

       opini publik yang menguntungkan atau untuk menciptakan kerjasama

       berdasarkan hubungan yang baik dengan publik.

           Dalam hal ini akan tercermin karakter komunikasi untuk saling

       memahami dan mengenal.

           Di dalam beberapa ayat al-Qur’an Allah berfirman, sebagaimana ayat

       al-Qur’an:

         
              
             
                
                
                
           
                         
           “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang
       laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa
       dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya
       orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang
       paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi
       Maha Mengenal”. (Al-Hujarat: 13).26

           Dalam ayt lain Allah berfirman:

   
                   
          “Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada
       manusia”. (Al-Baqarah 143).27

  
    
             
                        


  26
       Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Surabaya: Mahkota, 1989), hlm. 847
  27
       Ibid. hlm. 36
            “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika
         mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan
         manusia”. (Al-Imran 112).28


            Dari ayat di atas dapat diambil beberapa “Ibrah” bahwa Humas pada

         hakekatnya adalah komunikasi, namun dalam Islam di samping

         komunikasi dengan makhlu juga dicantumkan komunikasi dengan Allah.

         Oleh karena itu harus memiliki aturan-aturan yang tidak melanggar ajaran

         syari’at Islam.

            Humas dalam masyarakat adalah suatu cara ntuk menyelesaikan

         masalah-masalah yang timbul dalam masyarakat melalui pendekatan

         sosiologis dan ajakan memberi yang komulatif sehingga timbul saling

         mengerti (mutual understanding), saling kesepakatan (mutual agreement),

         saling memberi manfaat bersama (mutual benefits).29

            Dalam konsep Islam hal itu kita kenal dengan konsep :

         a) Ta’aruf (saling mengenal)

         b) Tafahum (saling memahami)

         c) Tarahum (saling mengasihi)

         d) Ta’awun (saling kerjasama).30

            Jadi hakekat Humas dalam manajemen Lembaga Pendidikan Sekolah

         dapat diartikan suatu proses hubungan timbal balik (two-way Traffic)

         antara lembaga pendidikan sekolah dengan masyarakat yang dilandasi


    28
         Ibid. hlm. 94
    29
          Muntahar Sudiro, Hubungan Masyarakat, Fungsi dan Peranan dalam Manajemen
(Yogyakarta: Andi Ofset, 1988), hlm. 24
      30
          Ali Abul Halim Mahmud, Dakwah Fardiyah Metode Pembentukan Pribadi Muslim
(Jakarta: Gema Insani Press, 1992), hlm.62-67
          dengan I’tikad Ta’aruf (saling mengenal), Tafahum (saling memahami),

          Tarahum (saling mengasihi) dan Ta’awun (saling kerjasama) dalam rangka

          mencapai tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.

    2. Hubungan Masyarakat dan Sekolah

             Hubungan atau komunication secara sederhana dapat diartikan sebagai

          proses penyampaian berita dari seseorang ke orang lain. Sedangkan

          mengenai Humas (Hubungan Masyarakat) sampai sekarang masih banyak

          orang mempunyai penafsiran yang berbeda, kebanyakan dari mereka

          mendefinisikannya sesuai dengan cara mereka mempraktekkannya.


            Lembaga Hubungan Masyarakat Malaysia (IPRM) menjelaskan bahwa
            hubungan masyarakat adalah suatu usaha yang disengaja, direncanakan
            dan diteruskan untuk menjalin dan membina saling pengertian diantara
            organisasi dan masyarakatnya. 31


             Memang tidak dapat dipungkiri bahwa keterlibatan masyarakat

          mempunyai peran yang cukup besar bagi perkembangan organisasi di

          masa yang akan datang. Begitu juga dengan sekolah, suatu sekolah bisa

          dikatakan sukses jika mampu mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

          Karena bagaimanapun juga pendidikan adalah tanggungjawab bersama

          antara orang tua, sekolah dan masyarakat.

             Muhammad Noor Syam (1986: 199) dalam bukunya Filsafat

          Pendidikan Pancasila mengungkapkan bahwa;




     31
       Adnan, Hamdan dan Hafied Cangara, Prinsip-Prinsip Hubungan Masyarakat. (Surabaya::
Usaha Nasional, 1996), hlm. 26
  Hubungan masyarakat dengan penddidikan sangat bersifat korelatif,
  bahkan seperti ayam dengan telurnya. Masyarakat maju karena
  pendidikan, dan pendidikan yang maju hanya akan di temukan dalam
  masyarakat yang maju pula.

   Dari uraian tersebut diatas, jelas bahwa pada hakekatnya keterlibatan

masyarakat mempunyai peran yang cukup besar bagi kesuksesan suatu

organisasi. Untuk itulah bagi setiap organisasi perlu meningkatkan kerja

sama yang baik dengan masyarakatnya sehingga keberhasilan akan diraih

sesuai dengan harapan.

   Layanan Riset Pendidikan dan Asosiasi Nasional Kepala pendidikan

Dasar di Alexandria merumuskan beberapa teknik meningkatkan

keterlibatan berbagai pihak dalam menyelenggarakan pendidikan adalah

sebagai berikut;

 a. Layanan masyarakat. Dalam hal ini lembaga pendidikan harus

     mempelajari kebutuhan masyarakat dan berusaha memberikan

     layanan yang terbaik untuk masyarakat.

 b. Program Pemanfaatan Alumni Sekolah. Lembaga bisa melibatkan

     alumni-alumni yang sukses sebagai pembicara dalam seminar-

     seminar atau kegiatan lain untuk meningkatkan semangat siswa-

     siswanya.

 c. Masyarakat sebagai Model. Masyarakat sebagai model siswa di

     sekolah,      terutama   masyarakat   yang   telah   berhasil   dalam

     kehidupannya.
           d. Open    House.   Lembaga      pendidikan       secara     terbuka      bersedia

              diobservasi oleh masyarakat, sehingga masyarakat mengetahui

              penyelenggaraan pendidikan di lembaga tersebut.

           e. Pemberian kesempatan kepada masyarakat. Lembaga memberi

              kesempatan    kepada     masyarakat     untuk      ikut     terlibat     dalam

              penyelenggaraan penadidikan.

           f. Masyarakat sebagai sumber informasi. Lembaga selalu mencari isu-

              isu dalam masyarakat guna mengembangkan lembaganya.

           g. Diskusi panel. Siswa, orang tua, staf dan pekerja mengadakan

              pertemuan untuk menindaklanjuti kegiatan hubungan lembaga

              pendidikan dengan masyarakat.

           h. Memberdayakan       orang-orang       kunci.     Lembaga        juga       bisa

              memberdayakan orang-orang kunci dalam masyarakat seperti kyai,

              sesepuh desa, pengusaha sukses, ketua RT, RW dan lain sebagainya

              untuk   diikutkan   dalam    memikirkan        program       pengembangan

              sekolah.32

             Sedangkan menurut H.M Daryanto (1998: 76) sarana-sarana yang

       dibutuhkan dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat

       adalah sebagai berikut;

             1. Sistem visual yaitu sistem komunikasi dengan mempergunakan
                alat-alat yang dapat dilihat dengan panca indra seperti majalah,
                surat kabar, poster, gambar, dan lain sebagainya.




      32
          H Burhanuddin, dkk. Manajemen Pendidikan. Analisis Substantif dan Aplikasinya
Dalam Institusi Pendidikan.. (Malang: UNM, 2003). hlm. 127-128.
                2. Sistem audio yaitu dengan menggunakan alat-alat yang
                   berhubungan dengan indra pendengaran seperti rapat-rapat, kontak
                   dengan telephon, telegram dan lain sebagainya.
                3. Sistem audio visual yaitu sistem komunikasi dengan
                   mempergunakan alat-alat indra penglihatan dan pendengaran
                   seperti televisi, film dan lain sebagainya.33

      3. Peran Sekolah Terhadap Masyarakat

                Organisasi pendidikan (sekolah) merupakan suatu sistem yang terbuka.

         Sebagai sistem terbuka, sekolah pasti akan mengadakan hubungan dengan

         masyarakat di sekelilingnya. Sekolah yang maju pasti akan banyak

         mengadakan hubungan dengan lembaga-lembaga lain di luar sekolah,

         contohnya dalam hal beasiswa, PHBI, praktek ketenaga-kerjaan dan masih

         banyak lagi yang lain.

                Dalam hal ini Immegart (1972:44) mengungkapkan bahwa

               Hanya sistem yang terbuka yang memiliki negentropy, yaitu suatu usaha
               yang terus menerus untuk menghalangi kemungkinan terjadinya entropy
               (kepunahan).34


                Memang tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat dan sekolah

         mempunyai keterkaitan dan saling berpengaruh satu sama lain. Lembaga

         yang berkualitas baik akan terus berusaha memfungsikan dan mengatur

         manajemen humasnya dengan melakukan hubungan dengan lembaga-

         lembaga lain diluar sekolah dalam rangka meningkatkan mutu

         pendidikannya.

                Dari uraian tersebut diatas, jelas terlihat bahwa lembaga pendidikan

         mempunyai peran cukup besar terhadap masyarakat dan juga sebaliknya
        33
             Daryanto, HM. Administrasi Pendidikan. (Jakarta: Rineka Cipta, 1998). hlm. 76.
        34
             Made Pidarta. Manajemen Pendidikan Indonesia, (Jakarta: PT Bina Aksara, 1988). hlm.
189
 masyarakat juga mempunyai peran cukup besar bagi penyelenggaraan

 pendidikan. Mengenai peran sekolah terhadap masyarakat beberapa ahli

 berbeda bendapat sebagai berikut;

        Stoop (1981: 463-464) menjelaskan bahwa pada hakekatnya lembaga

 mempunyai 2 fungsi terhadap masyarakat yaitu fungsi layanan dan fungsi

 pemimpin. Dikatakan fungsi layanan karena ia melayani kebutuhan

 masyarakat, baik itu pendidikan, pengajaran maupun kebutuhan daerah-

 daerah setempat. Dikatakan sebagai pemimpin karena ia memimpin

 masyarakat disertai dengan penemuan-penemuannya untuk memajukan

 kehidupan masyarakat.35

        Fuad Ihsan (1997: 98-99) mengutip pendapatnya Sapiah Faisal (1980)

 dalam bukunya dasar-dasar kependidikan menyebutkan 4 peran sekolah

 terhadap perkembangan masyarakat adalah sebagai berikut;

 a. Mencerdaskan kehidupan bangsa

        Kecerdasan masyarakat dapat dikembangkan melalui pendidikan

 formal dan non formal. Kecerdasan memang sangat penting bagi

 perkembangan masyarakat. Masyarakat yang tingkat kecerdasannya tinggi

 akan mudah memecahkan problema hidup dalam masyarakat.

 b. Membawa virus pembaharuan bagi perkembangan masyarakat.

        Sekolah sebagai lembaga pendidikan akan banyak melakukan

 penelitian untuk meningkatkan kualitasnya. Penelitian tersebut akan




35
     ibid. hlm. 192.
   menghasilkan penemuan-penemuan baru yang pada akhirnya akan

   dipergunakan untuk meningkatkan perkembangan masyarakat.

 c. Melahirkan warga masyarakat yang siap dan terbekali bagi kepentingan

     kerja di lingkungan masyarakat.

      Untuk terjun kelapangan pekerjaan diperlukan bekal yang matang,

   pengetahuan, sikap dan keterampilan. Sekolah akan berusaha menyusun

   kurikulumnya secara fleksibel terhadap perkembangan zaman sehingga

   akan menghasilkan out put yang siap pakai.

 d. Melahirkan sikap positif dan konstruktif     bagi warga masyarakat,

     sehingga tercipta integrasi social yang harmonis di tengah-tengah

     masyarakat.

      Sikap positif dan konstruktif sungguh sangat didambakan oleh

   masyarakat dan sekolah telah berusaha membekali siswanya sejak sekolah

   dasar lewat pendidikan agama, pendidikan moral pancasila, maupun

   bidang studi yang lain.

4. Peran Masyarakat Terhadap Sekolah

      Masyarakat sebagai lembaga pendidikan ketiga setelah keluarga dan

   sekolah mempunyai peran cukup besar terhadap berlangsungnya aktivitas

   yang menyangkut masalah pendidikan. suatu kenyataan bahwa masyarakat

   dikatakan maju karena pendidikan yang maju, dan sebaliknya masyarakat

   yang kurang kurang memperhatikan pembinaan pendidikannya, akan tetap

   terbelakang. oleh sebab itulah, dengan segala komponen yang ada di
dalamnya, sudah seharusnyalah masyarakat terlibat dalam dunia

pendidikan.

      Muhammad Noor Syam (1996: 197) dalam bukunya Filsafat

Pendidikan dan Dasar Pendidikan Pancasila mengungkapkan bahwa

     Masyarakat sebagai totalitas memiliki physical environmen (lingkungan
     alamiah, benda-benda, iklim, kekayaan material) dan social
     environment (manusia, kebudayaan, dan nilai-nilai agama), sumber
     daya alam, sumber daya manusia dan budaya.


      Dari situ jelas bahwa masyarakat dengan segala atribut dan identitas

yang dimilikinya secara langsung pasti akan berpengaruh terhadap

perkembangan pendidikan. Beberapa ahli berpendapat berbeda sebagai

berikut;

      Fuad Ihsan dalam bukunya dasar-dasar kependidikan mengutip

pendapatnya Tim Dosen IKIP-UNS menyebutkan bahwa pengaruh dan

peran masyarakat terhadap pendidikan adalah sebagai berikut;

a.    Sebagai arah dalam menentukan tujuan
b.    Sebagai masukan dalam menentukan proses belajar mengajar
c.    Sebagai sumber belajar
d.    Sebagai pemberi dana dan fasilitas lainnya
e.    Sebagai laboratorium guna pengembangan dan penelitian sekolah


      Sedangkan Hasbullah dalam bukunya dasar-dasar ilmu kependidikan

menyebutkan bahwa peran masyarakat terhadap (sekolah) adalah sebagai

berikut;

a. Masyarakat berperan serta dalam mendirikan dan membiayai sekolah.
b. Masyarakat berperan dalam mengawasi pendidikan agar sekolah tetap
   membantu dan mendukung cita-cita dan kebutuhan masyarakat.
c. Masyarakatlah yang ikut menyediakan tempat pendidikan seperti
   gedung- gedung sekolah, perpustakaan, AULA dll.
        d. Masyarakatlah yang menyediakan berbagai sumber untuk sekolah.
           Sekolah bisa melibatkan masyarakat yang memiliki keahlian khusus
           seperti petani, pedagang, polisi, dokter dll.
        e. Masyarakat sebagai sumber pelajaran atau laboratorium tempat
           belajar. selain buku-buku pelajaran, masyarakat juga memberikan
           bahan pelajaran yang banyak sekali seperti industri, perumahan,
           transport, perkebunan, pertambangan dll.36
           Dari beberapa uraian tersebut diatas jelas terlihat bahwa pada

    hakekatnya masyarakat mempunyai peran yang cukup besar bagi pendidikan.

    Realita dilapangan membuktikan bahwa perkembangan dalam masyarakat

    akan sangat berpengaruh terhadap pendidikan. Semakin maju suatu

    masyarakat maka pendidikan harus bisa mengerahkan segala daya upayanya

    untuk mengikuti perkembangan masyarakat tersebut kalau tidak mau

    ketinggalan zaman.

    5. Manfaat Hubungan Timbal Balik Antara Masyarakat Dan Sekolah

              Manajemen humas adalah manejemen yang mengatur hubungan antara

        orgaanisasi dan masyarakat. Manajemen humas mempunyai peran yang

        cukup besar bagi perkembangan suatu organisasi, karena bagaimanapun

        juga suatu organisasi tidak mungkin bisa berkembang dengan baik tanpa

        adanya hubungan baik dengan masyarakat disekitarnya.

              Fuad Ihsan dalam bukunya Dasar-Dasar Kependidikan menyebutkan

        bahwa manfaat hubungan timbal balik antara sekolah dan masyarakat

        adalah sebagai berikut ;

        a. Bagi Masyarakat




       36
            Hasbullah. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan.. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001).
hlm. 100.
           Adanya bantuan tenaga terdidik pada bidangnya, ini ikut
            memperlancar pembangunan di lingkungan masyarakat yang
            bersangkuta.
           Masyarakat akan dapat secara terbuka menyatakan realita di
            masyarakat tersebut kepada para terdidik yang dating/ada di
            lingkungan masyarakat tersebut.
           Meningkatkan cara berfikir, bersikap dan bertindak yang lebih
            maju terhadap program pemerintah di lingkungan masyarakat
            tersebut.
           Masyarakat akan lebioh mengenal fungsi sekolah untuk
            pembangunan bagi mereka sehingga mereka ikut memiliki
            sekolah tersebut.
           Masyarakat terdorong untuk makin maju dalam berbagai bidang
            kehidupannya, berkat kerjasama antara masyarakat dan sekolah.

    b. Bagi Sekolah

           Sekolah     mendapat     masukan       dalam    penyempurnaan
            pendidikan/pengajaran/PBM, akibat interaksi sekolah dengan
            masyarakat.
           Memberikan pengalaman langsung dan praktis bagi siswa dalam
            berbagai hlm.
           Mendekati masalah secara interdisipliner.
           Mengerti dan harus tanggap terhadap kebutuhan masyarakat
            dalam masa pembangunan ini.
           Terdorong untuk mengerti lebih banyak dalam berbagai segi
            masyarakat.
           Memanfaatkan nara sumber dari masyarakat.
           Sekolah banyak menerima bantuan dari masyarakat antara lain
            pemikiran, dana, sarana dan lain-alin.
           Memanfaatkan masyarakat sebagai laboratorium yang sesuai
            dengan keperluan siswa/mata pelajaran tertentu.

        Sedangkan Made Pidarta (1986: 361) menyebutkan secara rinci

    manfaat hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat adalah sebagai

    berikut ;

          Tabel I : Manfaat Hubungan Lembaga Pendidikan
                        dengan Masyarakat.
    Bagi Lembaga Pendidikan                  Bagi Masyarakat
1. Memperbesar dorongan mawas diri    1. Tahu hal-hal persekolahan dan
2. Mempermudah memperbaiki               inovasinya
   pendidikan.                        2. Kebutuhan-kebutuhan
 3. Memperbesar usaha meningkatkan            masyarakat tentang pendidikan
    profesi mengajar.                         lebih mudah diwujudkan.
 4. Konsep mtentang guru/dosen             3. Menyalurkan kebutuhan
    menjadi benar.                            berpartisipasi dalam
 5. Mendapatkan koreksi dari                  pendidikan.
    kelompok masyarakat.                   4. Melakukan usul-usul terhadap
 6. Mendapatkan dukungan moral dari           lembaga pendidikan.
    masyarakat.
 7. Memudahkan meminta bantuan
    dan material dari masyarakat.
 8. Memudahkan pemakaian media
    pendidikan di masyarakat.
         Dari beberapa uraian tesebut diatas, jelas terlihat bahwa pada

     hakekatnya hubungan antara lembaga pendidikan dan masyarakat

     sangatlah bersifat korelatif, saling mendukung satu sama lain. Lembaga

     maju karena adanya dukungan dari masyarakat dan masyarakat bisa maju

     karena adanya pendidikan yang memadai. Karena bagaimanapun juga

     setiap peserta didik pasti akan terjun ke masyarakat.

         Oleh sebab itulah, peran aktif masyarakat dalam memajukan

     pendidikan    akan      sangat   berpengaruh      terhadap   perkembangan

     pendidikanmasa depan.       Dengan    demikian,     tujuan nasional   yaitu

     mencerdasakan kehidupan bangsa dan memeratakan pendidikan dengan

     sistem Wajar (wajib belajar 9 Tahun) akan berhasil dan menghasilkan out

     put yang bermutu dan siap terjun di masyarakat dengan berbagai tantangan

     yang ada di dalamnya.

D. Upaya Humas dalam Membangun Hubungan dengan Masyarakat

  1. Teknik Humas di Lembaga Pendidikan Sekolah

         Tanpa bantuan dari masyarakat, sebuah lembaga pendidikan tidak

     dapat berfungsi dengan baik dan tanpa adanya program yang baik maka
lembaga pendidikan akan gagal mencapai tujuannya. Karena itu, lembaga

pendidikan perlu memberikan informasi pada masyarakat tentang lembaga

tersebut dengan cara yang baik. Engan demikian, diharapkan masyarakat

dapat memperoleh gambaran yang tepat tentang sekolah. Program tentang

hubungan antara lembaga pendidikan dengan masyarakat hendaknya

disusun sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan secara terus menerus

yang mencakup aspek-aspek kegiatan di dalam lembaga pendidikan secara

keseluruhan, bersifat luwes dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi

masyarakat tersebut.

   Ada beberapa teknik dalam berhubungan dengan masyarakat dlam

lembaga pendidikan antara lain:

a) Laporan pada orangtua

   Teknik in maksudnya adalah pihak sekolah memberikan laporan pada

   orang orangtua murid tentang kemajuan-kemajuan, prestasi dan

   kelemahan anak didik pada orangtuanya. Dengan teknik ini orangtua

   akan memperoleh penilaian terhadap hsil pekerjan anaknya, juga

   terhadap pekerjaan guru-guru di sekolah.

b) Majalah sekolah

   Majalah sekolah ini diusahakan oleh orangtua dan guru-guru i sekolah

   yang diterbitkan satu bulan sekali. Majalah ini dipimpin oleh orngtua

   dan murid-murid bahkan lumni termsuk pula ewan redaksi. Isi majalah

   ini menjelaskan tentang kegiatan-kegiatan sekolah, karangan guru-
   guru, orangtua dan murid-murid, pengumuman-pengumuman dan

   sebagainya.

c) Surat kabar sekolah

   Kalau sekolah mampu menerbitkan surat kabar sekolah, maka berarti

   ia berarti bahwa sekolah dapat memberikan informasi yang lebih luas

   kepada orangtua atau masyarakat daerah sekitarnya.



d) Pameran sekolah

   Suatu pameran yang efektif untuk memberi informasi tentang hasil

   kegiatan   dan    keadaan    sekolah   kepada    masyarakat,     dapat

   diselenggarakan melalui pameran sekolah. Pameran sekolah akan

   menjadi lebih efektif lagi, kalau kegiatan-kegiatan itu disiarkan pers

   atau radio sehingga upaya tersebut dapat menarik banyak orang.

e) “Open house”

   open house adalah teknik untuk mempersilahkan masyarakat yang

   berminat untuk meninjau sekolah serta mengobservasi kegiatan-

   kegiatan dan hasil-hasil pekerjaan murid atau karya penelitian guru

   bersama murid di sekolah, yang diadakan pada event tertentu.

   Misalnya, setahun sekali pada acara penutupan tahun pengajaran. Ada

   tiga langkah dalam pelaksanaan “open house” ini, yaitu:

   a. pengunjung diajak masuk ke dalam kelas atau auditorium sekolah

       untuk memberi penjelasan tentang tujuan dari open house yang

       dimaksud.
   b. Pengunjung dipersilahkan mengunjungi tempat-tempat yang telah

       disediakan akan hal-hal yang perlu dilihat.

f) Kunjungan wali murid ke sekolah saat pelajaran di berikan

   Orangtua dapat diberi kesempatan melihat anak-anaknya yang belajar

   di dalam kelas, juga diajak meilihat oroses aktifitas siswa di

   laboratorium, perlengkapan-perlengkapan dan sebagainya. Setelah

   selesai mengobservasi seluk-beluk sekolah, orangtua diajak berdiskusi

   dan mengadakan penilaian.

g) Kunjungan ke rumah murid

   Kunjungan ke rumah orangtua ini merupakan teknik yang sangat

   efektif dalam mengadakan hubungan dengan orangtua agar supaya

   dapat mengaetahui latar belakang hidup anak-anak. Banyak masalah

   yang dapat dipecahkan engan teknik ini antara lain, masalah kesehatan

   murid, ketidakhadiran murid, pekerjaan rumah, masalah kurangnya

   pengertian orangtua tentang sekolah dan sebagainya.

h) Penjelasan personel sekolah

   Kepala sekolah hendaknya berusaha agar semua personil sekolah

   memahami tentang kebijakan sekolah, organisasi sekolah dan semua

   kegiatan pendidikan dan pengajaran serta usaha-usaha lainnya. Mereka

   harus ditanamkan sikap loyalitasnya dan rasa kekeluargaan.

i) Profil sekolah melalui kreasi murid

   Informasi tentang keadaan sekolah dengan perantaraan murid-murid

   itu diberikan melalui perencanaan suatu kegiatan yang wajar, antara
   lain kalau sekolah itu terdapat di kota besar, maka gambaran itu

   diberikan melalui program siaran pemancar radio untuk menyiarkan

   sesuatu percakapan antara murid-murid atau antara murid dan guru,

   mislnya tentang cara makanan dan makanan sehat.




j) Laporan tahunan

   Laporan tahunan yang dibuat kepala sekolah harus diberikan kepada

   aparat pendidikan yang lebih atas. Laporan ini berisi masalah kegiatan-

   kegiatan yang dilakukan sekolah termasuk kurikulum, personalia,

   anggaran   biaya   dan      sebagainya.   Selanjutnya   aparat   tersebut

   memberikan laporan kepada masyarakat.

k) Organisasi perkumpulan alumni sekolah

   Organisasi perkumpulan alumni sekolah adalah suatu alat yang sangat

   baik untuk imanfaatkan dalam memelihara serta meningkatkan

   hubungan antara sekolah dan masyarakat.

l) Kegiatan ekstra kurikuler

   Apabila ada beberapa kegiatan ekstra kurikuler yang sudah dianggap

   matang untuk ditunjukkan kepada orangtua murid dan masyarkat,

   seperti sepkbola, drama dan lain-lain, makasangat tepat sekalikegiatan

   tersebut ditampilkan ke hadapan masyarakat.
       m) Pendekatan secara akrab.37

   2. Asas dalam Manajemen Humas

           Dalam    melaksanakn     tugas-tugasnya   manajemen    Humas    harus

       memperhatikan asas yang berkaitan dengan humas, agar tugas-tugas

       tersebut dapat berjalan secara efektif dan efisien. Adapun asas-asas

       tersebut antara lain:



       a. Asas objektif dan resmi

               Semua informasi atau berita yanmg disampaikan keada masyarakat

           harus berupa suara resmi dari suatu instansi atau lembaga. Oleh karena

           itu, informasi yang disebarluaskan tidak boleh bertentangan dengan

           kebijaksanaan yang tengah dijalankan. Dalam hal ini penelitian dan

           pengontrolan kegiatan humas oleh atasan memegang peranan yang

           sangat penting agar terhindar dari kemungkinan pemberitaan yang

           tidak tepat atau merugikan.

       b. Asas Organisasi yang Tertib dan Disiplin

               Humas akan berfungsi apabila tugas-tugas pokok organisasi atau

           lembaga berjalan lancar, efektif, serta memiliki hubungan kerja ke

           dalam dan ke luar organisasi yang efektif pula. Situasi tersebut

           memungkinkan informasi atau berita yang disebarkan tidak berbeda

           dengan kenyataan.

       c. Asas Mendorong Partisipasi

      37
         M. Amin Nur, Strategi Meningkatkan Mutu Pendidikan Melalui Pemberdayaan
Masyarakat (Fakultas Tarbiyah UIN Malang: El-Hikmah, 2006), hlm. 216-219.
      Informsi harus mendorong tumbuhnya minat masyarakat agar ikut

   berpartisipasi atau memberikan dukungan secara wajar. Oleh karena

   itu, informasi atau berita yang disampaikan kepada masyarakat tidak

   sekedar dilihat dari kepentingan organisasi, tetapi harus dilihat dri

   pihak penerima informasi.

d. Asas Kontinuitas Informasi

      Humas harus berusaha agar masyarakat memperoleh informasi

   secara kontinu seuai engan kebutuhan. Untuk itu, informasi lisan dan

   tertulis dapat dilakukan secara berkala dan pada waktu tertentu.

   Dengan demikian, masyarakat memiliki gmbaran yang lengkap dan

   menyeluruh tentang keadaan atau masalah yang dihadapi suatu

   organisasi atau lembaga.

e. Asas Pemerhatian Respons Masyarakat

      Rspons yang timbul dikalngn masyarakat sebagai feed back harus

   mendapat perhatian sepenuhnya. Respons masyarakat dapat berbentuk

   saran, pendapat, kritik, keluhan dn prtanyaan. Semua respons itu harus

   disting agar dpat digunakan untuk memperbaiki kegiatan-kegiatan

   dalam rangka memenuhi harapan masyarakat. Seorang pemimpin tidak

   boleh merasa takut atau menghindari rspons mayarakat, terutama

   kritik. Berdasarkan respons masyarakat tersebut, seorang pemimpin

   dapat memperoleh pengalaman baru yang mungkin belum pernah

   terpikirkan sebelumnya. Dengan demikian, di dalam humas terdapat

   suatu usaha untuk mewujudkan hubungan yang hrmonis antara suatu
     badan (lembaga) dan publiknya sehingga timbul opini publik yang

     menguntungkan badan atau lembaga tersebut.

     Disamping ass-asas yang telah disebutkan, perlu ditegaskan pula

bahwa untuk mencapai suatu hubungan kerja sama yang harmonis dengan

publik, kegiatan humas harus diarahkan ke dalam da ke luar. Kegiatn ke

dalam disebut internal public relations, sedangkan kegiatan ke luar disebut

eksternal public relations.

     Apabila sekolah melaksanakan asas atau prinsip humas dalam rangka

pembinaan dan pengembangan kehidupan di sekolah, kegiatan humas

memperoleh sebutan tersendiri, yaitu publisitas seklah. Publisitas sekolah

adalah semua aktivitas yang diwujudkan untuk menciptakan kerja sama

yang    harmonis    antara    sekolah   dan   masyarakat   melalui   usaha

memperkenalkan sekolah dan seluruh kegiatannya kepada masyarakat agar

sekolah memperoleh simpati dan pengertian masyarakat.

     Hubungan kerja sama lembaga pendidikan sekolah dan masyarakat itu

dapat digolongkan menjadi tiga jnis hubungan, yaitu:

1)     Hubungan Edukatif

          Hubungan dukatif disini ialah hubungan kerja sama dalam hal

     mendidik murid, antara guru di sekolah dan orangtua di keluarga.

     Adanya hubungan ii dimaksudkan agar tidak terjadi perbedaan prinsip

     atau bahkan pertentangan yang dapat mengakibtkan keragu-guan

     pendirian dan sikap pada diri anak atau murid. Antara sekolah yang

     diwakili oleh guru dan orangtua tidak saling berbeda atau berselisih
            paham, baik tentang norma-norma etika maupun norma-norma sosial

            yang hendak ditanamkan kepada anak-anak mereka.

       2)     Hubungan Kultural

                  Hubugan kultural yang dimaksud adlah usaha antara sekolah dan

            masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan

            mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah tersebut

            berada. Diharapkan sekolah menjadi titik pusat dari sumber tempat

            terpencarnya norma-norma kehidupan (norma agama, etika dan

            estetika).

       3)     Hubungan Institusional

                  Hubungan institusional yaitu hubungan kerjasama antara sekolah

            dengan lembaga-lembaga atau instansi-instansi lain, baik swasta

            maupun pemerintah. Seperti hubungan kerjasama ekolah dengn

            sekolah      lain,   engan   kepala   pemerintahan   setempat,   jawatan

            penerangan, jawatan perikanan dan peternakan, dengan peruhaan-

            perusahan egara atau swasta yang berkaitan dengan perbaikan dan

            perkembangan pendidikan pada umumnya.38

   3. Manajemen Pengelolaan Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat

            Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakikatnnya merupakan

       suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan

       pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah. Dalam hal ini, sekolah

       sebagai sistem sosial merupakan bagian integral dari sistem sosial yang

      38
          Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1988), hlm. 213-215.
lebih besar, yaitu masyarakat. Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan

yang sangatefektif dan efisien. Sebaliknya sekolah juga harus menunjang

pencapaian tujuan atau pemenuhan kebutuhan masyarakat, khususnya

kebutuhan pendidikan. Oleh karena itu, sekolah berkewajiban untuk

memberi penerangan tentang tujuan-tujuan, program-program, kebutuhan

serta keadaan masyarakat. Dngan kata lain, antara sekolah dan masyarakat

harus dibina suatu hubungan yang harmonis.

   Hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan antara lain untuk (1)

memajukan       kualitas   pembelajaran,   dan   pertumbuhan   anak;   (2)

memperkokoh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan

masyarakat; dan (3) menggairahkan masyarakat untuk menjalin hubungan

dengan sekolah. Untuk merealisasikan tujuan tersebut, banyak cara yang

bisa dilakukan oleh sekolah dalam menarik simpati masyarakat terhadap

sekolah dan menjalin hubungan yang harmonis antara sekolah dan

masyarakat. Hal tersebut antara lain dapat dilakukan dengan memberitahu

masyarakat mengenai program-program sekolah, baik program yang telah

dilaksanakan, yang sedang dilaksanakan, maupun yang akan dilaksanakan

sehingga masyarakat mendapat gambaran yang jelas tentang sekolah yang

bersangkutan.

   Kepala sekolah yang baik merupakan salah satu kunci untuk bisa

menciptakan hubungan yang baik antara ekolah dan masyarakat secara

efektif karena harus menaruh perhatian tentang apa yag terjadi pada

peserta didik di sekolah dan apa yang dipikirkan orangtua tentang sekolah.
       Kepala sekolah dituntut untuk senantiasa berusaha membina dan

       meningkatkan guna mwujudkan hubungan yang baik antara sekolah dan

       masyarakat guna mewujudkan sekolah yang efektif dan efisien. Hubungan

       yang harmonis itu akan membentuk:

       a) Saling pengertian antara sekolah, orangtua, masyarakat dan lembaga-

           lembaga lain yang ada di masyarakat, termasuk dunia kerja.

       b) Saling membantu antara sekolah dan masyarakat karena mengetahui

           manfaat, arti dan pentingnya peranan masing-masing.

       c) Kerja sama yang erat antara sekolah dengan berbagai pihak yang ada

           di masyarakat dan mereka merasa ikut bertanggung jawab atas

           suksesnya pendidikan di sekolah.39

           Melalui hubungan yang harmonis terebut diharapkan tercapai tujuan

       hubungan sekolah dengan masyarakat, yaitu terlaksananya proses

       pendidikan di sekolah sekolah secara produktif, efektif dan efisien

       sehingga menghasilkan lulusan sekolah yang produktif dan berkualitas.

       Lulusan yang berkualitas ini tampak dari penguasaan peserta didik

       terhadap ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapay dijadikan

       bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi atau

       hidup di masyarakat dengan asas pendidikan seumur hidup.

           Pentingnya Humas pendidikan dapat diterapkan sebagai berikut:

       a. Humas merupakan satu kegiatan yang sangat diperlukan dalam semua

           pelaksanaan pekerjaan agar sekolah atau lembaga pendidikan tersebut

      39
        E. Mulyana, Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, Strategi dan Implikasi (Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 51
   mempunyai wahana yang resmi untuk dapat berhubungan dengan

   masyarakat luas serta menunjukkan kepda masyarakat tersebut

   mengenai kegiatan yang sudah, sedang dan apa yang akan dikerjakan.

b. Dengan Humas sebuah organisasi mempunyai berbagai alat untuk

   menyebarkan ide atau gagasannya kepada organisasi atau badan lain.

c. Dengan kegiatan Humas sebuah organissi dapat meminta bantuan yang

   diperlukan dari organisasi atau badan lain.

d. Humas mendorong usaha seseorang atau suatu organisasi penidikan

   untuk memperkenalkan an membiarkan diri brhubungan dengan orang

   lain atau organisasi lain.

e. Humas memberi kemungkinan bagi seseorang untuk memenuhi

   kebutuhan di dalam mengembangkan diri.

   Apabila sekolah dipandang sebagai suatu organisasi sosial maka

organisasi tersebut mempunyai lingkungan dimana ia memperoleh

pengaruh dan membuuhkan hubungan. Di Indonesia sekolah-sekolah

bernaung di bawah Departemen Pendidikan, sedangkan madrasah berada

di bawah Depatemen agama baik tingkat pusat maupun tingkat provinsi.

Sekolah tersebut secara riil berdiri di tengah-tengah masyarakat sekitar,

yang brisi anggota masyarakat berupa keluarga, orgnisasi resmi

pemerintah non sekolah maupun organisasi informal.

   Sehubungan dengan kedudukannya itu Humas pendidikan dapat

dibedakan menjadi dua, yaitu humas internal dan humas eksternal.
   Humas internal adalah hubungn masyarakatyang dijalin oleh unsur-

unsur yang ada di dalam sekolah. Humas internal meliputi:

1. Humas antara Kepala Sekolah dengan guru-guru

2. Humas antara Kepala Sekolah dengan murid

3. Humas antara Kepala Sekolah dengan pegawai tata usaha

4. Humas antara guru dengan murid

5. Humas antara guru-guru dengan pegawai tata usaha

6. Humas antara murid-murid dfengan pegawai tata usaha

Humas eksternal adalah Humas yang dijalin oleh sekolag dengan lembaga

negeri, lembaga swasta dan perseorangan di luar organisasi sekolah yang

bersangkutan.

   Komunikasi yang dilakukan oleh sekolah sebagai komunikasi internal

maupun dengan komunikasi eksternal tetapi tidak formal dapat membantu

kelancaran komunikasi formal yang jenisnya ada banyak sekali.

   Berdasarkan berbagai uraian di atas, humas di lingkungan organisasi

kerja atau instansi pemerintah, termasuk organisasi endidikan, harus

diartikan sebagai serangkaian kegiatan untuk menciptakan hubungan yang

harmonis dengan masyarakat atau pihak tertentu di luar organisasi

tersebut. Hal itu dilakukan agar pihak-pihak yang melakukan kerja sama

memperoleh dukungan serta mencapai efisiensi dan efektivitas pelksanaan

kerja secara sadar dan sukarela. Oleh karena itu, hubungan yang harmonis

sebagai hasil kerja humas ditandai beberapa hal berikut :

1. adanya saling pengertian antara organisasi atau instansi dan pihak luar.
2. adanya kegiatan saling membantu karena mengetahui manfaat, arti dan

   pentingnya peranan masing-masing pihak

3. adanya kerja sama yang erat dengan setiap pihak dan ikut bertanggung

   jawab atas suksesnya usaha pihak lain.

   Keadaan tersebut mrupakan mnifestasi dukungan masyarakat terhadap

efisiensi dan efektivitas pelaksanaan kerja yang diberikan secara sadar dan

sukarela. Dukungan seperti itu timbul sebagai hasil kerja humas yang telah

memberikan informasi sehingga pihak luar memahami pentingnya

eksistensi suatu organisasi atau lembaga bagi masyarakat.

   Berdasarkan penjelasan di atas dapat dinyatakan pula bahwa tugas

pokok atau beban kerja humas suatu lembaga atau organisasi adalah

sebagai baerkut:

1. Memberikan informasi dan menyampaikan ide (gagasan) kepada

   masyarakat      atau   pihak   lain   yang    membutuhkan.         Humas

   menyebarluaskan informasi dan gagasan tersebut agar masyarakat

   mengetahui maksud, tujuan dan kegiatannya sehingga pihak lain di

   luar organisasi dapat merasakan manfaatnya.

2. Membantu pimpinan karena tugas-tugasnya tidak dapat langsung

   memberikan      informasi   kepada    masyarakat    atau   pihak    yang

   memerlukan.

3. Membantu pimpinan untuk mempersiapkan bahan tentang masalah dan

   informasi yang akan disampaikan atau yang menarik perhatian
          masyarakat pada saat tertentu. Dengan demikian pimpinan selalu siap

          memberikan bahan-bahan informasi terbaru.

      4. Membantu pimpinan mengembangkan rencana dan kegiatan lanjutan

          yang berhubungan dengan pelayanan kepada masyarakat (Publi

          Service) sebagai akibat adanya komunikasi timbal balik dengan pihak

          luar.



E. Hasil-hasil Manajemen Humas di Lembaga Pendidikan Sekolah

      Setelah lembaga pendidikan sekolah melaksanakan kegiatan-kegiatan

   humas, maka untuk mengetahui suatu kegiatan berhasil atau tidak diperlukan

   suatu teknik pengukuran tertentu yang akan diuraikan sebagai berikut:

   1. Teknik-teknik yang digunakan untuk mengenali situasi seringkali juga

      dimanfaatkan guna mengevaluasi berbagai hasil yang telah dicapai dari

      segenap kegiatan-kegiatan hums yng telah dilaksanakan. Metode

      pengumpula pendapat atau uji sikap (attitude test) merupakan dua metode

      yang paling lazim digunakan.

   2. Metode-metode evaluasi hasil biasanya diterapkan pada tahapan

      perencanaan. Namun bila perlu, penyesuaian bisa pula dilakukan selama

      berlangsungnya    proses    pelaksanaan   dari   program    humas    yang

      bersangkutan.

   3. setiap program humas harus memiliki tujuan yang pasti. Untuk itu,

      pertama-pertama perlu ditetapkan target-target tertentu. Target-target ini

      pada gilirannya akan dapat digunakan sebagai tolak ukur perbandingan
   atas hasil riil yang telah dicapai. Unsur lain yang bisa digunakan tolak

   ukur adalah liputan oleh media massa. Sikap media massa yang klebih

   simpatik terhadap suatu organisasi atau lembaga bisa pula dipandang

   sebagai salah satu bukti keberhasilan atas segenap kegiatan humas yang

   telah dilaksanakan oleh organisasi tersebut.




   Setelah program humas selesai dilaksanakan maka untuk mengukur

hasilnya kita bisa memanfaatkan tujuan yang telah ditetapkan sebagai suatu

tolak ukur apakah citra organisasi yang baru telah dipahami khalayak; apakah

bobot para pegawai atau karyawan telah meningkat; apakah reputasi lembaga

pendidikan dikalangan masyarakat sudah lebih baik; apakah bantuan atau

partisipasi masyarkat semakin bertambah; apakah hubungan lembaga atau

organisasi dengan masyarakatnya sudah lebih baik dan seterusnya.

   Ada pendapat yang mengatakan bahwa tercapainya sebagian atau seluruh

tujuan tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh kegiatan humas. Pendapat

ini memang da benarnya, namun di lain pihak peningkatan partisipasi

masyarakat dan adanya kerjasama yang baik tidak seluruhnya bersumber pada

kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara sengaja. Banyak hal yang tidak kita

sadari turut mempengaruhi sesuatu yang tengah kita upayakan. Mekipun

demikian, manfat atau pengaruh kegiatan humas tidak bisa diabaikan begitu

saja. Untuk memastikan kegunannya, perlu diperhitungkan seberapa besar

kemungkinan tujuan-tujuan tersebut tercapai tanpa adanya kegiaan humas.
   Pada kenyataannya, ternyata banyak dari lembaga atau organisasi yang

terancam gulung tikar, sulit mendapat partisipasi dan kepercayaan masyarakat.

Pola   hubungan    yang    negatif   dengan   masyarakat    ternyata   sangat

mempengaruhi untuk mendapatkan tanggapan yang baik dari masyarakat.

Realita berikutnya bahkan menunjukkan bahwa kebanyakan dari organisasi

atau lembaga ternyata sangat mementingkan humas untuk dapat mengubah

segala sesuatunya menjadi lebih baik. Akan tetapi dengan humas, para

piminan organisasi akan terdorong untuk menjadi komunikator yang handal.

Agar berhasil, kegiatan humas memang harus bermula dari atas. Kalau

pimpinan sudah menyadari arti penting dari pelaksanaan humas maka secara

bertahap karyawan di bawahnya akan mngikuti sehingga secara keseluruhan

komunikasi organisasi tersebut akan berjalan dengan lancar baik yang internal

maupun yang eksternal.

   Hal penting yang perlu ditegaskan disini adalah setiap kegitan humas

harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan profesional. Sebelumnya,

segala sesuatu harus sudah direncanakan secara cermat, dengan mengacu pada

tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Segala seuatunya harus dibuat sepraktis

mungkin agar mudah dipahami dan diterima(disetujui) oleh pihak pimpinan

atau manajemen.

   Ada beberapa bentuk dan sifat partisipasi masyarakat yang dijadikan alat

untuk mengukur keberhasilan program humas di sekolah. Menurut Undang-

Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, tentang sistem pendidikan

nasional :
Pasal 8 :Masyarakat berperan serta dalam perebncanaan, pelaksanaan,

              pengawasan dan evaluasi roghram pendidikan.

Pasal 9 : Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam

              penyelenggaraan pendidikan.40

Pasal 54 (1) peran serta msyarakat dlam pendidikan meliputi peran serta

              perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha

              dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan

              pengendalian mutu pelayanan pendidikan.

              (ayat 2) masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana

              dan pengguina hail pendidikan.41




 40
      Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, Op.cit. hlm. 9
 41
      Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, Opcit. Hlm. 28
                                    BAB III

                           METODE PENELITIAN

              Adalah suatu cara untuk mendapatkan data dalam suatu penulisan,

   dengan kata lain dapat dikatakan suatu cara yang digunakan untuk

   memecahkan suatu masalah. Dalam penulisan skripsi ini guna memperoleh

   data dan informasi yang obyektif dibutuhkan data-data dan informasi yang

   factual dan relevan.

   Metode yang digunakan penulis sebagai sarana dan pedoman adalah sebagai

   berikut:

A. Metode Penelitian

   Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif karena beberapa

   pertimbangan, pertama lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan

   ganda; kedua, menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti

   dengan responden; ketiga, lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri
    dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai

    yang dihadapi.

    Penelitian kualitatif menurut Boy dan Taylor (1975:5) dalam Moleong

    mendefinisikan metodologi kualitatif adalah prosedur penelitian yang

    menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-

    orang dan perilaku yang diamati.42 Penelitian kualitatif itu berakar pada latar

    ilmiah sebagai keutuhan, mengandalkan manusia sebagai alat penelitian,

    memanfaatkan metode kualitatif, mengadakan analisis data secara induktif,

    mengarah sasaran penelitiannya pada usaha menemukan teori dari dasar,

    bersifat deskriptif, lebih mementingkan proses dari pada hasil, membatasi

    studi dengan fokus, memiliki seperangkat criteria untuk memeriksa keabsahan

    data, rancangan penelitiannya bersifat sementara, dan hasil penelitianya

    disepakati oleh kedua belah pihak yaitu peneliti dan subyek peneliti.

    Penelitian ini diupayakan mendasar, mendalam, berorientasi pada proses, sera

    didasarkan pada asumsi adanya realitas dinamik sehingga penelitian ini

    menggunakan penelitian jenis rancangan deskriptif. Peneliti menitik beratkan

    pada kegiatan observasi dimana peneliti bertindak sebagai observer dengan

    mengamati gejala, perilaku yang timbul tanpa harus memanipulasi variable

    yang ada. Data observasi tersebut nantinya akan dianalisis untuk diambil

    kesimpulan berdasarkan konteks permasalahan yang diteliti. Tujuan dari

    penelitian deskriptif ini adalah membuat gambaran secara sistematis, faktual,



      42
        Lexy J Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: Remaja Rosda Karya,
2001) hal. 3
   akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antar fenomena yang

   diselidiki.

B. Kehadiran Peneliti

          Penelitian kualitatif tidak dapat dipisahkan dari pengamatan berperan

   serta, namun peranan penelitilah yang menentukan seluruh skenarionya. Disini

   peneliti bertindak aktif tidak hanya mengamati saja tetapi juga menafsirkan

   data yang diperoleh. Menurut Lexy. J. Moleong, kedudukan peneliti dalam

   penelitian kualitatif cukup rumit, ia sekaligus sebagai perencana, pelaksana,

   pengumpul data, analisis, penafsir data dan pada akhirnya ia menjadi pelapor

   hasil penelitiannya.43

C. Lokasi Penelitian

          Obyek dalam penelitian mengambil tempat di Malang, tepatnya di SMP N

   2 Sumbermanjing Malang, yang terletak dijalan Jl. Raya Sumberagung

   Sumbermanjing Wetan Malang Kodepos 65176.

D. Sumber Data

          Data dalam penulisan ini adalah segala faka dan angka yang dapat

   dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi yaitu melalui wawancara,

   observasi dan dokumen. Sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah

   subyek dari mana data tersebut diperoleh.

   Menurut Lofland dan Lofland (1984:47) sumber data utama dalam penelitian

   kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan



     43
          Ibid., hlm. 168
seperti dokumen dan lain-lain.44 Berkaitan dengan hal itu pada bagian ini jenis

datanya dibagi ke dalam kata-kata dan tindakan, sumber data tertulis dan foto.

1. Kata-kata dan Tindakan

      Kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancarai

merupakan sumber data utama. Sumber data utama dicatat melalui catatan

tertulis atau melalui perekaman video/audio tapes, pengambilan foto atau film.

      Pencatatan sumber data utama melalui wawancara atau pengamatan

berperanserta merupakan hasil usaha gabungan dari kegiatan melihat,

mendengar dan bertanya.

      Dalam penelitian ini penulis menjadi pengamat yang berperan serta pada

suatu latar penelitian tertentu, ketiga kegiatan melihat, mendengar dan

bertanya tersebut akan dapat dimanfaatkan bergantung pada suasana dan

keadaan yang dihadapi. Pada dasarnya, ketiga kegiatan tersebut adalah

kegiatan yang biasa dilakukan oleh semua orang, namun pada penelitian

kualitatif kegiatan-kegiatan ini dilakukan secara sadar, terarah dan senantiasa

bertujuan memperoleh suatu informasi yang diperlukan.

      Hal tersebut dilakukan secara sadar dan terarah karena memang

direncakan oleh peneliti. Terarah karena memang dari berbgai macam

informasi yang tersedia tidak seluruhnya akan digali oleh penulis.

2. Sumber Tertulis




 44
      Ibid., hlm 112-116
           Sumber tertulis dapat dibagi atas sumber buku dan majalah ilmiah, sumber

    dari arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi.

    3.       Foto

           Foto menghasilkan data deskriptif yang cukup berharga dan sering

    digunakan untuk menelaah segi-segi subjektif dan hasilnya sering dianalisis

    secara induktif.




E. Metode Pengumpulan Data

           Dalam pengumpulan data sehubungan dengan penelitian ini, penulis

    menggunakan metode-metode sebagai berikut:

    1. Metode Observasi

           Sutrisno Hadi mengatakan bahwa metode observasi adalah metode

    pengumpulan data dengan cara pengamatan dan pencatatan secara sistematis

    terhadap-terhadap fenomena-fenomena yang sedang diselidiki.45

           Menurut Suharsimi Arikunto dalam pengertian psikologi observasi atau

    yang disebut pula dengan pengamatan adalah kegiatan pemusatan perhatian

    terhadap sesuatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera. Apa yang

    dikatakan ini adalah pengamatan langsung.46 Dalam hal ini penggunaan

    metode observasi langsung yaitu akan mengadakan pengamatan dan


      45
         Sutrisno Hadi. Metodologi Researsch, Jilid 2 (Yogyakarta: ANDI, 2000) hlm. 136
      46
         Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Penekatan Prakte (Jakarta: Reneka
Cipta, 2002) hal. 133
pencatatan dalam situasi yang sebenarnnya. Metode ini digunakan peneliti

untuk untuk memperoleh informasi tentang keseluruhan obyek penelitian,

yang meliputi keadaan sarana dan prasarana, struktur organisasi, fasilitas

pendukung proses belajar mengajar.

      Metode observasi merupakan suatu penelitian yang dijalankan secara

sistematis yang sengaja diadakan dengan menggunakan alat indera terhadap

kejadian-kejadian yang bisa ditangkap. Metode ini penulis lakukan dengan

mengamati hasil kerja manajemen humas baik berupa foto maupun buku

agenda di SMP N 2 Sumbermanjing Malang.

2. Metode Interview

      Sutrisno Hadi mengatakan “bahwa interview dapat dipandang sebagai

metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan

dengan cara sistematis yang berlandasan pada tujuan penyelidikan. Pada

umumnya dua orang atau lebih hadir secara fisik proses tanya jawab itu, dan

masing-masing pihak dapat menggunakan saluran-saluran komunikasi secara

lancar dan wajar”.47

Maksud mengadakan wawancara, seperti ditegaskan oleh Lincoln dan Guba

(1985 : 266), antara lain mengkontruksi mengenal orang, kejadian, kegiatan,

organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain kebulatan;

merekontruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai yang dialamimasa lalu;

memproyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai yang diharapkan untuk dialami

di masa yang akan datang; memverifikasi, mengubah dan memperluas

 47
      Sutrisno Hadi, op, cit,. hlm. 19
informasi yang diperoleh dari orang lain, baik manusia maupun bukan

manusia (triangulasi); dan memverifikasi, mengubah dan memperluas

konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekan anggota.48

Penggunaan metode ini, penulis mengadakan komunikasi dengan wawancara

langsung dengan responden yaitu guru sebagai pihak yang memberikan

keterangan.       Penulis     menggunakan     metode   terpimpin   yaitu   dengan

disiapkannya pertanyaan-pertanyaan yang diselesaikan dengan data-data yang

diperlukan oleh interview. Metode ini penulis gunakan untuk mengumpulkan

data tentang kegiatan humas secara keseluruhan mulai dari perencanaan

hingga hasil yang sudah dicapai.

3. Metode Dokumentasi

      Menurut Suharsimi Arikunto bahwa “ Dokumentasi asal katanya adalah

dokumen yang artinya barang-barang tertulis. Oleh karena itu, dalam

pelaksanannya peneliti harus meneliti benda-benda tertulis, dokumen-

dokumen peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya”. 49

Metode dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan melihat sumber-

sumber dokumen yang ada kaitannya dengan jenis data yang diperlukan, maka

diperlukan cara yang efisien yaitu mengambil dokumen untuk melengkapi

kekurangan dan kelemahan metode interview, dan observasi. Metode ini

digunakan untuk memperoleh data-data tertulis, arsip-arsip dan dokumen-

dokumen.


 48
      Lexy J Moleong, op, cit,. hlm 135
 49
      Suharsimi Arikunto, op, cit,. hlm 131
   Penggunaan metode dokumentasi dalam penelitian ini diharapkan dapat

   membantu mengumpulkan informasi yang benar-benar akurat, sehingga akan

   menambah kevalidan hasil penelitian seperti:

       1) Mencatat nama-nama guru

       2) Mencatat sarana dan prasarana

       3) Mencatat jumlah siswa

       4) Dan mencatat hasil manajemen humas.




F. Metode Analisa Data

               Dalam mengolah dan menganalisa data, penulis menggunakan

   analisa deskriptif kualitatif yaitu:

       1. Induksi. Dalam pembahasan skripsi ini, penulis berusaha untuk

           mengambil kesimpulan-kesimpulan yang bersifat umum dari data-data

           yang bersifat khusus.

       2. Deduksi. Selain berfikir secara induksi, penulis menggunakan cara

           berfikir deduksi yang berangkat dari pengetahuan yang bersifat umum

           untuk mengambil kesimpulan yang bersifat khusus.

       3. Langkah selanjutnya adalah Reflektif Thinking yaitu menganalisa data

           dengan pemikiran secara logis, teliti dan sistematis terhadap semua

           data    yang    berhasil       dikumpulkan   dengan   mengidentifikasi,

           mengklasifikasi, mengkategorisasi dan menginterpretasi melalui teknik

           analisa kualitatif untuk data kualitatif.
   Maksud dari analisa adalah proses pemisahan data penelitian yang telah

   terkumpul ke dalam satuan-satuan, elemen-elemen dan unit-unit. Data yang

   diperoleh disusun dalam satuan-satuan yang teratur dengan cara meringkas

   dan memilih, mencari sesuai tipe, kelas urutan, pola atau nilai yang ada.

   Seluruh data yang diperoleh dari observasi, interview maupun dokumentasi

   dicatat secermat mngkin dan dikumpulkan menjadi suatu catatan lapangan

   (field notes). Kemudian semua data dianalisis secara kualitatif sehingga

   menghasilkan suatu thick description. Dalam penelitian ini penulis

   menggunakan analisis data secara induksi karena beberapa alasan. Pertama,

   proses induktif lebih dapat menemukan kenyataan-kenyataan ganda sebagai

   yang terdapat dalam data-data; kedua, analisis induktif lebih dapat membuat

   hubungan peneliti-responden menjadi eksplisit, dapat dikenal dan akuntabel;

   ketiga, analisis demikian lebih dapat menguraikan latar secara penuh dan

   dapat membuat keputusan-keputusan tentang dapat tidaknya pengalihan

   kepada suatu latar lainnya; analisis induktif lebih dapat menemukan pengaruh

   bersama yang mempertajam hubungan-hubungan; dan terakhir, analisis

   demikian dapat memperhitungkan nilai-nilai secara eksplisit sebagai bagian

   dari struktur analitik.

G. Pengecekan Keabsahan Data

       Pemeriksaan keabsahan data didasarkan atas criteria tertentu. Kriteria itu

   terdiri atas derajat kepercayaan (kredibilitas), keteralihan, kebergantungan dan

   kepastian. Masing-masing kriteria tersebut menggunakan teknik pemeriksaan

   sendiri-sendiri. Criteria derajat kepercayaan pemeriksaan datanya dilakukan
   dengan teknik perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triagulasi,

   pengecekan atau diskusi sejawat, kecukupan referensial, kajian kasus negative

   dan pengecekan anggota. Kriteria kebergantungan dan kepastian pemeriksaan

   dilakukan dengan teknik auditing. Masing-masing teknik tersebut diuraikan

   prinsip dan cara pemanfaatannya. 50

H. Tahap-Tahap Penelitian

          Tahap-tahap penelitian ini menguraikan tentang proses pelaksanaan

   penelitian mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain,

   penelitian sebenarnya sampai pada penelitian laporan, sehingga memberikan

   gambaran tentang keseluruhan perencanaan, pelaksanaan pengumpulan data,

   analisis dan penafsiran data hingga format penulisannya.

   1. Tahap Pralapangan51

                  Ada enam kegiatan yang harus dilakukan       dalam tahap ini

   ditambah dengan satu pertimbangan yang perlu dipahami, yaitu etika

   penelitian lapangan. Kegiatan dan pertimbangan tersebut diuraikan berikut ini.

          a. Menyusun Rancangan Penelitian

   Peneliti disini menyusun rancangan penelitian yang berisi: (1) latar belakang

   masalah; (2) kajian kepusakaaan yang menghasilkan pokok-pokok              (a)

   kesesuaian paradikma dengan masalah, (b) rumusan masalah, (c) kesesuaian

   paradikma dengan teori substantive yang mengarahkan inkuiri; (3) pemilihan

   lapangan penelitian; (4) penentuan jadwal penelitian;(5) pemilihan alat


     50
          Lexy J. Moleong, op, cit,. hlm. 188
     51
          Ibid., hlm 85-93
penelitian; (6) rancangan pengumpulan data; (7) rancangan prosedur analisis

data (8) rancangan perlengkapan; (9) rancangan pengecekan kebenaran data.

   b. Memilih Lapangan Penelitian

   c. Mengurus Perizinan

   d. Menjajaki dan Menilai Keadaan Lapangan

   e. Memilih dan Memanfaatkan Informan

   f. Menyiapkan Perlengkapan Penelitan

   g. Persoalan Etika Penelitian



2. Tahap Pekerjaan Lapangan

   a. Memahami Latar Penelitian dan Persiapan Diri

       1) Pembatasan Latar dan Peneliti

       2) Penampilan

       3) Pengenalan Hubungan Peneliti Di Lapangan

       4) Jumlah Waktu Penelitian

   b. Memasuki Lapangan

       1) Keakrapan Lapangan

       2) Mempelajari Bahasa

       3) Peranan Peneliti

   c. Berperan Serta Sambil Mengumpulkan Data

       1) Mengarahkan Batas Penelitian

       2) Mencatat Data

       3) Analisis di Lapangan
   3. Tahap Analisis Data




                                        BAB III

                              METODE PENELITIAN

                Adalah suatu cara untuk mendapatkan data dalam suatu penulisan,

dengan kata lain dapat dikatakan suatu cara yang digunakan untuk memecahkan

suatu masalah. Dalam penulisan skripsi ini guna memperoleh data dan informasi

yang obyektif dibutuhkan data-data dan informasi yang factual dan relevan.

Metode yang digunakan penulis sebagai sarana dan pedoman adalah sebagai

berikut:

A. Metode Penelitian

           Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

    kualitatif, karena data-data akan dipaparkan secara analisis deskriptif.


           Bobdan dan Taylor (1975: 5) mendefinisikan metodologi kualitatif
           adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa
           kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat
           diamati.52

           Sedangkan Judistira (1990) mengungkapkan bahwa karakteristik

    penelitian kualitatif adalah sebagai berikut;

            1. Dalam konteks atau tatanan alamiah.
            2. Manusia sebagai instrumen penelitian
            3. Penggunaan pengetahuan antar peneliti dan yang diteliti.
            4. Menggunakan metode kualitatif
            5. Sampel penelitian diambil secara purposive atau sengaja
            6. Analisis data secara induktif
            7. Teori yang digunakan tumbuh dari dasar
            8. Sifat desain penelitian bersifat sementara
            9. Hakekatnya hasil penelitian kesepakatan obyek
            10. Model Penelitian berupa studi kasus
            11. Batas penelitian didasarkan fokus yang timbul dari penelitian.53

           Sesuai dengan rujukan diatas, maka pendekatan penelitian yang

    digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dengan pendekatan kualitatif.

    Karena penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif maka hasil data akan

    difokuskan berupa pertanyaan secara deskriptif dan tidak mengkaji suatu

    hipotesa serta tidak mengkorelasi variabel.

           Keberadaan peneliti dalam penelitian kualitatif menonjolkan kapasitas

    jiwa    raga    dalam     mengamati,      bertanya,     melakukan      penelitian    dan

    mengabstraksi (Faisal : 1990). Hal ini lebih dipertegas lagi oleh Nasution

    bahwa peneliti merupakan peneliti utama. Jadi dalam penelitian ini, peneliti

    terjun sendiri secara langsung untuk mengadakan pengamatan atau wawancara

    terhadap obyek atau subyek penelitian.


      52
          Lexy J Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: PT Remaja Rosdsakarya,
1991). hlm. 3.
       53
          Darsono Wisadirana. Metode Penelitian. Pedoman Penelitian Skripsi untuk Ilmu Sosial,
((Malang: UMM, 2005). hlm. 12.
            Merujuk pada fenomena yang terjadi, dimana banyak sekali lembaga

    yang tidak bisa memfungsikan manajemennya, sedangkan SMP N 2

    Sumbermanjing Malang adalah salah satu contoh lembaga yang telah berhasil

    memfungsikan manajemennya dengan sangat baik maka dapat dikatakan

    bahwa jenis penelitian ini bersifat studi kasus. Sebagaimana yang telah

    diungkapkan oleh Nana Syaodih Sukmadinata bahwa Studi kasus merupakan

    suatu penelitian yang dilakukan terhadap suatu kesatuan sistem. Kesatuan ini

    dapat berupa program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang

    terikat oleh tempat, waktu atau ikatan tertentu.54

B. Lokasi Penelitian

           Obyek dalam penelitian mengambil tempat di Malang, tepatnya di SMP

   Negeri 2 Sumbermanjing, yang terletak dijalan Jl. Raya Sumberagung desa

   Sumberagung Kecamatan Sumbermanjing Wetan kabupaten Malang Kodepos

   65176.

C. Sumber Data

            Amirin (1986: 3) mengungkapkan bahwa data adalah keseluruhan

    keterangan mengenai segala sesuatu hal yang berkaitan dengan penelitian.

    Lofland dan Lofland (1984: 47) mengungkapkan bahwa Sumber data utama

    dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, dan tindakan selebihnya adalah

    data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.55




      54
          Nana Syaodih Sukmadinata. Metode Penelitian pendidikan. (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya Offset). hlm. 26
      55
         Lexy J Moleong , op, cit. hlm. 112.
        Jadi dapat dikatakan bahwa sumber data merupakan asal dari pada

   informasi. Sumber data dalam penelitian ini adalah Kepala Sekolah dan Waka

   Kehumasan. Sedangkan data yang diambil sesuai dengan penelitian ini adalah;

   1.   Data Primer, yaitu data yang didapat secara langsung dari subyek terteliti

        pada saat penelitian dilakukan (Hugiono, 1987). Data primer dalam

        penelitian ini adalah perencanaan, pengorganisasian, actualisasi, dan

        pengawasan program kerja kehumasan SMP N 2 Sumbermanjing

        Malang. Data Sekunder, yaitu data yang dimaksudkan untuk melengkapi

        data primer dari kegiatan penelitian. Data sekunder dalam penelitian ini

        adalah :

        a. Data lisan, berupa keterangan dari informan, responden terpercaya

           yang diperoleh dari tehnik wawancara. Diantaranya ;

             1. Keterangan Wali murid

             2. Pernyataan Tamu yang datang ke SMP N 2 Sumbermanjing

                   Malang

        b. Dokumenter, berupa informasi dari arsip SMP N 2 Sumbermanjing

           Malang diantaranya profil SMP N 2 Sumbermanjing Malang, Visi

           dan Misi, dan program kerja bidang humas SMP N 2 Sumbermanjing

           Malang.

        c. Kepustakaan, berupa buku-buku yang bisa melengkapi dan

           memperjelas data dalam penelitian ini.

D. Teknik Pengumpulan Data

        Teknik pengumpulan data merupakan salah satu hal yang sangat penting
   bagi sebuah penelitian sehingga data yang diperoleh benar-benar sesuai
    dengan judul yang ditentukan. Seperti yang diungkapkan oleh Prof Dr
    Sugiono bahwa dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik
    pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi (pengamatan), interview
    (wawancara),       kuesioner    (angket),    dokumentasi      dan    gabungan      dari
    keempatnya.56
            Berdasarkan hal tersebut diatas, agar hasil yang diperoleh dalam
    penelitian ini benar-benar data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan
    maka tehnik pengumpulan data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini
    adalah;
    a. Metode Wawancara
             Suharsini Arikunto (2002:132) menjelaskan bahwa Wawancara yang
             sering juga disebut dengan interview atau kuesioner lisan adalah sebuah
             dialog yang dilakukan oleh wawancara untuk memperoleh informasi
             dari pewawancara (interviewer).57

             Sukandarrumidi mengungkapkan bahwa wawancara adalah proses
             Tanya jawab lesan, dalam mana dua orang atau lebih berhadapan secara
             fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengar dengan
             telinga sendiri dari suaranya.58

                Merujuk pada pendapat diatas, wawancara yang dilakukan oleh

           peneliti dan responden dalam penelitian ini dilakukan di ruangan yang

           telah ditentukan dan pada jam sesuai dengan perjanjian antara peneliti dan

           responden. Adapun wawancara dari segi pelaksanaannya dibedakan atas,

             Wawancara bebas, dimana pewawancara bebas menanyakan apa saja

                yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan;

             Wawancara terpimpin yaitu wawancara yang dilakukan dimana

                pewawancara membawa sederetan pertanyaan secara lengkap dan

                terperinci;

      56
         Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. (Bandung: CV Alfabeta, 2005). hlm. 62-63.
      57
         Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian. Suatu Pendekatan Praktek. (jakarta: Rineka
Cipta, 2002). hlm. 132.
       58 Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian Petunjuk Praktis untuk Peneliti Pemula.
(Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2004). hlm. 88.
         Wawancara bebas terpimpin, yaitu kombinasi antara wawancara bebas

             dan wawancara terpimpin.59

         Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik wawancara bebas

terpimpin, dimana peneliti membawa sederetan pertanyaan dan juga

menanyakan hal-hal lain yang terkait dengan penjelasan yang telah dipaparkan

oleh subyek penelitian. Sumber data dalam penelitian ini adalah             Waka

Kehumasan SMP Negeri 2 Sumbermanjing.

b. Metode Dokumentasi

             Seperti yang diungkapkan oleh Suharsini Arikunto (2002) bahwa

       Metode dokumentasi adalah metode mencari data mengenai hal-hal yang

       variabelnya berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti,

       notulen rapat, lengger, agenda dan lain sebagainya.60

             Dari rujukan diatas, tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini

       dilakukan dengan menganalisa Arsip tertulis yang dimiliki oleh SMP N 2

       Sumbermanjing Malang, seperti profil SMP Negeri 2 Sumbermanjing,

       Visi dan Misi SMP Negeri 2 Sumbermanjing, Program Kerja humas SMP

       Negeri 2 Sumbermanjing.

c. Metode Kepustakaan

             Dalam hal ini, peneliti akan berusaha mengumpulkan data-data yang

       berhubungan dengan penelitian. Hal ini bisa dilakukan dengan menelaah

       bahan-bahan bacaan yang ada dan dihubungkan dengan penelitian yang

       dilakukan.



 59
       Suharsimi Arikunto, ,   op, cit . hlm. 132.
  60
       Ibid. hlm. 134.
                Dalam penelitian ini, data yang diambil dengan kepustakaan adalah

          proses     Perencanaan        (Planning),   Pengorganisasian   (Organizing),

          Pemimpinan (Leading), Pengawasan (Controling) sesuai dengan fokus

          penelitian dalam skripsi ini .

   d. Teknik Analisa Data

                Seperti yang diungkapkan oleh Patton (1980: 268) Analisis data

          merupakan suatu proses mengatur urutan data, menggorganisasikannya ke

          dalam suatu pola, kategori, dan satuan urutan dasar.61         Dari pendapat

          tersebut dapat dikatakan bahwa analisa data dilakukan untuk mengetahui

          mana data yang diperlukan dan mana data yang tidak diperlukan sehingga

          hasil penelitian benar-benar akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.

                Untuk mendapatkan data yang sesuai dan akurat mengenai penelitian

          yang dilakukan, peneliti menggunakan proses analisa data yang akan

          dijelaskan secara singkat dalam bagan sebagai berikut;

                    Data                              Penafsiran Data



                Telaah Data                       Pemeriksaan Keabsahan data



               Reduksi Data                           Penyusunan Data


Gambar I : Proses Analisa Data


                Karena dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan

          penelitian kualitatif maka analisa datanya dilakukan pada saat kegiatan

     61
          Lexy J Moleong. op, cit . hlm. 103.
      penelitian berlangsung dan dilakukan setelah pengumpulan data selesai.

      Dimana data tersebut dianalisa secara cermat dan teliti sebelum disajikan

      dalam bentuk laporan yang utuh dan sempurna.

E. Pengecekan Keabsahan Data

                Pengecekan keabsahan data dilakukan agar memperoleh hasil yang

      valit dan dapat dipertanggungjawabkan serta dipercaya oleh semua pihak.

      Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pengecekan keabsahan data

      dengan triangulasi sumber dan triangulasi teknik.

                Triangulasi sumber adalah membandingkan dan mengecek balik

      derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat

      yang berbeda dalam metode kualitatif. Dalam hal ini, peneliti berusaha

      membandingkan data dari hasil wawancara, hasil pengamatan dan data

      dokumentasi.

                Triangulasi teknik adalah triangulasi teknik untuk menguji

      kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data dengan

      sumber yang sama. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha membuktikan

      data hasil wawancara dengan observasi dan dokumentasi.62

F. Tahap Tahap Penelitian

                Yang dimaksud dengan tahap-tahap penelitian adalah langkah-

      langkah atau cara-cara penulis mengadakan penelitian untuk mencari data.

      Dalam penyusunan skripsi ini, langkah-langkah yang dilakukan penulis

      adalah sebagai berikut;


     62
          Ibid. Hal: 178
   Persiapan penelitian, meliputi 3 kegiatan yaitu

        Studi pendahuluan (sebelum membuat proposal).

        Penyusunan proposal.

        Konsultasi.




   Pelaksanaan penelitian meliputi 3 kegiatan yaitu

        a. Pengumpulan data.

        b. Pengelolaan analisa data hasil penelitian.

        c. Pembahasan

   Laporan hasil penelitian.

      Hasil penelitian ini dilaporkan dalam bentuk skripsi sebagai bahan

      referensi bagi kalangan pendidikan, baik akademisi, pendidik, maupun

      pembina pendidikan.

G. Sistematika Pembahasan

          Untuk lebih mengarahkan skripsi ini maka penulis mensistematikakan

   pembahasan sebagai berikut,

   BAB I : PENDAHULUAN, bab ini membahas tentang keseluruhan penulisan

            skripsi ini yang terdiri dari Latar Belakang Masalah, Fokus

            Penelitian, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Ruang Lingkup

            Pembahasan, Strategi Penelitian, Sistematika Pembahasan.

   BAB II : KAJIAN TEORI yang mencakup tentang Hubungan Pendidikan dan

            Masyarakat (Pengertian Lembaga Pendidikan Sekolah, Tujuan
        Lembaga Pendidikan Sekolah, Tugas Lembaga Pendidikan Sekolah,

        Hubungan Lembaga Pendidikan Sekolah dengan Masyarakat),

        Manajemen di Lembaga Pendidikan Sekolah (Pengertian dan Tujuan

        Manajemen Pendidikan, Pentingnya Manajemen, Ruang Lingkup

        Manajemen     Pendidikan),     Manajemen   Hubungan      Masyarakat

        (Hubungan Masyarakat dan Sekolah, Peran Sekolah Terhadap

        Masyarakat,Peran    Masyarakat     Terhadap   Sekolah,     Manfaat

        Hubungan Timbal Balik Antara Masyarakat Dan Sekolah), Upaya

        Humas dalam Membangun Hubungan dengan Masyarakat (Teknik

        Humas di Lembaga Pendidikan Sekolah, Asas dalam Manajemen

        Humas, Manajemen Pengelolaan Humas dengan Masyarakat, Hasil-

        hasil Manajemen Humas di Lembaga Pendidikan Sekolah).

BAB III : HASIL PENELITIAN. Hasil penelitian ini mencakup tentang Latar

        Belakang Obyek Penelitian, Penyajian Data dan Analisa Data,

        Pembahasan.

BAB IV : PENUTUP. Ini adalah bab terakhir yang didalamnya berisikan

        dengan kesimpulan dan saran.
                                  BAB IV

                             HASIL PENELITIAN



A. LATAR BELAKANG OBYEK PENELITIAN

1. Identitas Sekolah

   Nama Sekolah                   : SMP Negeri 2 Sumbermanjing
   Status                         : Negeri/Reguler
   Nomor Statistik Sekolah        : 20.1.05.18.20.287
   Alamat                         : Jalan Raya Sumberagung
   Kecamatan                      : Sumbermanjing Wetan
   Kabupaten                      : Malang
   Propinsi                       : Jawa Timur
   Kode Pos                       : 65176
   SK Terakhir status sekolah     : No. 0216/0/1992
                                   Tgl/bln/thn 5 Mei 1992
   Keterangan SK                  : Sekolah Baru
   Waktu Belajar                  : Senin – Sabtu
                                   (Pukul 07.00 – 12.30)
2. Sejarah Berdirinya SMP Negeri 2 Sumbermanjing

           SMP Negeri 2 Sumbermanjing lahir berdasarkan SK Mendikbud RI.

   No. 0216/01992. tentang pembukan dan penegrian sekolah, tahun pelajaran

   1992 – 1993 yang secara operasional menerima siswa baru pada bulan Juli

   1992.

           Sekolah ini tepatnya berada di desa Sumberagung kecamatan

   Sumbermanijng Wetan kabupaten Malang, yang merupakan kebanggaan

   masyarakat desa setempat pada khusunya dan masyarakat desa sekitar pada

   umumnya. Mengingat saat operasionalnya telah siap gedung sekolah yang

   terdiri dari ruang administrasi, 3 ruang kelas, perpustakaan dan 2 kamar kecil

   untuk siswa.

           Di atas tanah seluas 6.286 m2 (Bangunan = 761 m2, dan Pekarangan

   5.325 m2) inilah SMP Negeri 2 Sumbermanjing selalu mengembangkan diri

   sehingga telah memiliki hampir semua sarana dan prasarana yang dibutuhkan

   sebagai lembaga Pendidikan saat ini.

           Sejak resmi berdiri pada 1992 SMP Negeri 2 Sumbermanjing, Sekolah

   ini telah mengalami 8 masa kepemimpinan, yaitu:

   1. Drs. Sutjipto                 : 17 Juli 1992 – 31 Desember 1993
     2. Drs. Bambang Sugiono         : 30 Januari 1994 – 29 Maret 1994

     3. Drs. Djalal Rijo Prijanto    : 30 April 1994 – 2 Mei 1996

     4. Drs. Trisno Hadi             : 6 Mei 1996 – 6 Juni 1998

     5. Drs. Fatkhul Muhaimin        : 12 Juni 1998 – 25 April 2000

     6. Drs. Kadar Syafiq            : 15 April 2000 – 25 Februari 2003

     7. Drs. Agus Bachtiyar          : 28 Februari 2003 – 31 Desembver 2006

     8. Drs. Djoko Agus Riyanto      : 2 Januari 2007 - Sekarang

     Di bawah kepemimpinan delapan orang diatas, SMP Negeri 2 Sumbermanjing
     menunjukkan peningkatan kualitas dan mutunya. Dan kita berharap dengan
     semakin bertambahnya usia, SMP Negeri 2 Sumbermanjing semakin mampu
     memberikan sumbangan yang terbaik bagi kemajuan Iptek yang didasari oleh
     pemantapan Imtaq.


3. Keadaan Personel di SMP Negeri 2 Sumbermanjing

          Personel adalah salah satu hal yang tidak kalah pentingnya dengan yang

     lain. Penyediaan personel yang cukup akan sangat membantu proses

     pembelajaran di sekolah, baik itu tenaga guru, pegawai/karyawan dan lain

     sebagainya. SMP Negeri 2 Sumbermanjing memiliki jumlah personel yang

     cukup memadai sehingga proses belajar mengajar bisa dilaksanakan sesuai

     dengan harapan. Mengenai keadaan personel yang dimiliki oleh SMP Negeri

     2 Sumbermanjing akan dijelaskan dalam tabel sebagai berikut;

                                 Tabel 1
               Keadaan Personel SMP Negeri 2 Sumbermanjing

                                            Jumlah
No.               Uraian                                            keterangan
                                        Tahun 2006-2007
1.     Kepala Sekolah                          1
2.     Wakil Kepala                            4
3.     Guru Tetap                              8
4.     Guru Tidak Tetap                        9
 5.     Pegawai Tetap                             1
 6.     Pegawai Tidak Tetap                       5
        Jumlah                                   28

(Sumber data: Arsip SMP Negeri 2 Sumbermanjing )




4. Keadaan Siswa/Siswi di SMP Negeri 2 Sumbermanjing

           sebagai SMP di wilayah Sumbermanjing Wetan selalu mendapatkan

      kepercayaan dari masyarakat. Karena perkembangannya yang begitu cepat,

      banyak orang tua yang mempercayakan pendidikan putra putrinya di SMP

      Negeri 2 Sumbermanjing. Namun karena keadaran para orang tua mengenai

      pendidikan formal maka hampir setiap tahun hanya menyediakan tiga ruang

      kelas. Mengenai keadaan siswa/siswi SMP Negeri 2 Sumbermanjing tahun

      2006-2007 akan dijelaskan dalam tabel berikut;


                                     Tabel 2

              Keadaan Siswa/Siswi SMP Negeri 2 Sumbermanjing

                           Tahun Ajaran 2006 – 2007

                                       Jenis Kelamin
No.              Kelas                                           Jumlah
                                 Laki-laki       Perempuan
 1.              VII                49               58           107
 2.              VII                43               41            84
 3.              III                40               35            75
        Jumlah                     132              134           266


                                      Tabel 3

              Keadaan Siswa/Siswi SMP Negeri 2 Sumbermanjing
                                Berdasarkan Agama
No.              Kelas                   Agama                   Jumlah
                                   Islam          Kristen
 1.              VII                 75             32                107
 2.              VII                 62             22                 84
 3.              III                 44             31                 75
        Jumlah                      181             85                266

(Sumber Data : Arsip SMP Negeri 2 Sumbermanjing)


      Sedangkan kegiatan siswa/siswi SMP Negeri 2 Sumbermanjing adalah
      sebagai berikut;
       1. OSIS (Organisasi Intra Siswa)
       2. MPK (Majelis Perwakilan Kelas)
       3. Ekstrakurikuler (Akademik)
          a. Komputer
       4. Ekstrakurikuler (Non Akademik)
          a. Pramuka
          b. Kopsis
          c. Olah raga
             Bola Volly
             Sepak Bola
          d. Kesenian
             Drum Band
       (Sumber data: Arsip SMP Negeri 2 Sumbermanjing)
4. Sarana dan Prasarana di SMP Negeri 2 Sumbermanjing

             SMP Negeri 2 Sumbermanjing telah memiliki sarana dan prasarana

      yang cukup lengkap. Dari penelitian yang peneliti lakukan diketahui bahwa

      sarana dan prasarana di SMP Negeri 2 Sumbermanjing sudah lebih dari cukup

      untuk meningkatkan proses belajar mengajar ke taraf yang lebih baik. Sarana

      dan prasarana yang dimiliki SMP Negeri 2 Sumbermanjing akan dijelaskan

      sebagai berikut;

      TANAH YANG DIMILIKI
             Luas tanah seluruhnya 6.286 m2

                                      Tabel 4
                   Bangunan di SMP Negeri 2 Sumbermanjing
                                                  Keadaan
No.    Jenis Bagunan      Jumlah                  Rusak     Rusak
                                         Baik
                                                  Berat     Ringan
 1.   Ruang Kelas            7
                             a.                      -        -
 2.   Ruang Tamu             1
                             b.                      -        -
 3.   Ruang Kepala           1
                             c.                      -        -
 4.   Ruang Guru             1
                             d.                      -        -
 5.   Ruang BP/BK            1
                             e.                      -        -
 6.   Ruang TU               1
                             f.                      -        -
 7.   Ruang Wakasek          1
                             g.                      -        -
 8.   Ruang UKS              1
                             h.                      -        -
 9.   Koperasi/Toko          1
                             i.                      -        -
10.   Ruang OSIS             1
                             j.                      -        -
11.   Km. Mandi Guru         3
                             k.                      -        -
12.   Km. Mandi Murid        7
                             l.                               -      m.
13.   Gudang                 1
                             n.                      -        -
14.   Musholla               1
                             o.                      -        -
15.   Lab. Komputer          1
                             p.                      -        -
16.   Kantin                 1
                             q.                      -        -
17.   Perpustakaan           1
                             r.                      -        -
      Jumlah                 31
                             s.                      -        -
(Sumber data: Arsip SMP Negeri 2 Sumbermanjing)
B. Penyajian Data dan Analisis Data

   1. Pelaksanaan Manajemen Humas di SMP Negeri 2 Sumbermanjing

         Sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan, dapat diperoleh data

   yang menunjukkan adanya pelaksanaan program hubungan masyarakat di

   SMP Negeri 2 Sumbermanjing.

         Dalam penelitian ini digunakan metode observasi, interview kemudian

   hasil penelitian tersebut dianalisis dengan menggunakan penilitian kualitatif

   (diskriptif analisis), yaitu digunakan penggambaran situasi atau objek yang

   diteliti sesuai dengan keadaan atau realitas sesungguhnya tanpa menggunakan

   metode statistik.

         Adapun penyajian data dan analisis data dari hasil penelitian di SMP

   Negeri 2 Sumbermanjing tentang pentingnya humas lembaga pendidikan

   sekolah dlm membngun hubungan dengan masyrakat dapat diuraikan sebagai

   berikut:

   a. Pengelolaan manajemen humas di SMP Negeri 2 Sumbermanjing

          Berdasarkan hasil wwancara degan waka humas bapak Drs. Damiran

       tanggal 30 April 2007 kedudukan humas dalam manajemen di SMP

       Negeri 2 Sumbermanjing tidak terlepas dari fungsi humas sendiri, yaitu

       menciptakan suasana yang kondusif dalam lingkungan baik secara internal
yang mempunyai sasaran warga sekolah (guru, tenaga administrasi dan

para siswa) dan secara eksternal yaitu yang berhubungan dengan publik

atau masyarakat luar sekolah. Humas harus tanggap terhadap informasi

yag masuk, dan informasi yang akan dikeluarkan oleh humas harus sesuai

dengan kenyataan yang ada. Humas yang efektif diharapkan dapat

menimbulkan feed back (umpan balik) yang positif dari masyarakat.

Kedudukan humas dalam manajemen di SMP Negeri 2 Sumbermanjing

dapat diuraikan secara terinci dalam fungsi dan program yang dijalankan,

pada uraian berikut ini:

1. Fungsi mengatur dan memberdayakan hubugan antara sekolah dan

   masyarakat, yaitu melalui pemberian umpan balik kepada masyarakat.

   Program yang dilaksanakan berupa penyediaan kantin sekolah yang

   dapat dikelola masyarakat sekitar dan pemberian keringanan biaya

   bagi siswa yang kurang mampu (kecuali uang seragam) di sekitar SMP

   Negeri 2 Sumbermanjing.

2. fungsi mengatur dan memberdayakan hubungan sekolah dengan

   komite sekolah. Hubungan yang ada dimaksudkan adalah untuk

   mempererat hubungan dan memelihara hubungan uang serasi,

   meningkatkan kerja sama dan tanggung jawab bersama keluarga,

   masyarakat dan pemerinyah. Karena pada hakikatnya pendidian

   bukanlah semata-mata tanggung jawab sekolah harus pula didukung

   oleh unsur-unsur lain yang ada disekitar yang mempengaruhinya.

   Kerja sama yang ada dimaksudkan untuk membantu memperlancar
  jalannya proses pendidikan tanpa mencampuri urusan teknik

  pengajaran di sekolah yang menjadi wewenang kepala sekolah, guru

  dan   pengawasnya.     Program      SMP      Negeri    2   Sumbermanjing

  mengusahakan bantuan dari masyarakat baik berupa benda, uang

  ataupun jasa, mengingat SMP Negeri 2 Sumbermanjing lembaga di

  bawah pemerintah, maka sebagian besar biaya pendidikan bersumber

  dari pemerintah.

3. Fungsi mengatur dan memberdayakan hubungan sekolah dengan

  sekolah lain, baik yang setingkat di bawahnya atau di atasnya.

  Beberapa program yang dilakukan SMP Negeri 2 Sumbermanjing

  untuk membangun hubungan yang baik, antara lain difasilitasi oleh

  adanya KKS (kelompok kerja sekolah), selain itu SMP Negeri 2

  Sumbermanjing ditunjuk sebagai induk SMP terbuka di kecamatan

  Sumbermanjing Wetan, sedangkan yang dilakukan bersama-sama

  dengan sekolah setingkat SMP Negeri 2 Sumbermanjing adalah

  melakukan kerjasama dalam enyelenggaraan acara-acara bersama,

  misalnya    mngadakan     lomba     olahraga    di    wilayah   kecamatan

  Sumbermanjing Wetan.

4. Fungsi mengatur dan memberdayakan hubungan sekolah dengan

  dengan     berbagai   instansi    terkait.   Karena     SMP     Negeri   2

  Sumbermanjing berstatus negeri maka instansi-instansi yang sangat

  terkait adalah instansi-instansi pemerintah, yaitu Kanwil Depdiknas

  yang ada disetiap ibu kota rovinsi. Secara struktural di dalam tubuh
   organisasi Kanwil Depdiknas terdapat unit kerja yang menangani

   bidang humas, yaitu sub bagian atau bagian penerangan. Unit kerja

   tersebut kemudian melakukan kerjasama internal bersma para kepala

   sekolahdan petugas humas untuk bersama-sama mencapai tujuan, yaitu

   membangkitkan partisipasi aktif dan positif masyarakat. Kerjasama

   yang dilakukan dengan kantor wilayah Depdiknas adalah berhubungan

   dengan :

   a) Peningkatan mutu keejahteraan guru

   b) Peningkatan mutu kesejahteraan guru tidak tetap

   c) Penelusuran minat dan bakat

   d) Penyempurnaan kurikulum

   e) Penanganan putus sekolah dan lulusan sekolah

   f) Peningkatan kemampuan tenaga humas

   g) Peningkatan kemampuan pengaja bidang studi

5. Fungsi mengatur dan memberdayakan hubungan internal dan eksternal

   publik di sekolah dengan cara memberikan penjelasan tentang

   kebijakjan-kebijakan penyelenggaraan dan perkembangan sekolah,

   menampung saran dan pendapat warga sekolah dan memelihara

   hubungan harmoni sehingga tercipta suatu kerjasama yang baik antar

   warga sekolah dan ditambah engan dukungan dukungn yang aktif dari

   masyarakat.

   Dengan demikian kedudukan humas dalam manajemen SMP Negeri 2

Sumbermanjing pada hakekatnya adalah berusaha untuk membangun
   fungsi komuniksi yang transparan dan jelas yang akan memperlancar dan

   menunjang kemajuan pendidikan dan pengajaran.




b. Pengorganisasian Humas Di SMP Negeri 2 Sumbermanjing

       Pengorganisasian adalah bagaimana pekerjaan itu diatur dan

   dialokasikan diantara para anggota, sehingga tujuan organisasi tersebut

   dapat tercapai secara efektif. Dari pengertian tersebut jelas bahwa pada

   hakikatnya dalam pengorganisasian mencakup beberapa hal sebagai

   berikut; Pertama Pemerincian pekerjaan, Kedua Pembagian kerja, Ketiga

   Penyatuan       pekerjaan,   Keempat    Koordinasi        Pekerjaan,   Kelima

   Reorganisasi.

Dari penelitian yang peneliti lakukan diketahui bahwa pengorganisasian di

SMP Negeri 2 Sumbermanjing diatur dan dilaksanakan sesuai dengan struktur

organisasi yang ada.

Sedangkan    Proses     pengorganisasian   kegiatan     di     SMP    Negeri   2

Sumbermanjing sudah cukup baik (sesuai dengan prosedur yang ada). Seperti

yang diungkapkan oleh Drs. Damiran selaku Waka Humas SMP Negeri 2

Sumbermanjing kepada peneliti tertanggal 30 April 2007 sebagai berikut;

     Langkah awal yang kami lakukan adalah membuat perencanaan kerja.
     Setelah proses perencanaan kerja selesai terbentuk, langkah selanjutnya
     adalah bagaimana merealisasikan program kerja tersebut. Dalam
     merealisasikan program kerja yang ada, kami menggunakan proses
     pengorganisasian sebagai berikut;
         a. Memperinci program apa saja yang perlu ada sesuai dengan visi
            dan misi lembaga.
         b. Membagi pekerjaan sesuai dengan kemampuan masing-masing
             orang, yang diwujudkan dalam sebuah kepanitiaan.
         c. Setiap sie dalam kepanitiaan menyusun rencana kerja.
         d. Mengkoordinasikan hasil kerja dari masing-masing sie untuk
             meminimalisir hambatan-hambatan yang mungkin terjadi.
         e. Setelah hasil kerja dikoordinasikan dalam forum bersama,
             langkah selanjutnya menentukan langkah-langkah perbaikan
             untuk meningkatkan efektivitas kerja.
Dari penjelasan yang diberikan oleh Drs. Damiran tersebut diatas diketahui

bahwa     SMP         Negeri   2   Sumbermanjing      berusaha    mengatur

pengorganisasiannya dengan baik sesuai dengan kemampuan masing-masing

orang dan tetap berpegangan pada jalur kerja yang ada dalam struktur

organisasi sekolah.

2. Upaya SMP Negeri 2 Sumbermanjing dalam membangun hubungan

   dengan masyarakat.

      Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 2

Sumbermanjing pada 2 Mei 2007 diketahui bahwa, dalam membangun

hubungan dengan masyarakat SMP Negeri 2 Sumbermanjing menggunakan

berbagai macam teknik komunikasi baik itu secara lisan, tulisan, campuran

maupun secara perbuatan (uswah hasanah). Hal itu perlu dilakukan agar pesan

yang disampaikan dapat lebih menyebar dan diterima dengan baik oleh

masyarakat yang relatif majemuk dari segi latar belakang pendidikan, tingkat

ekonomi ataupun status sosial. Sedangkan dalam penggunaan media SMP

Negeri 2 Sumbermanjing sangat memperhitungkan aspek keefektifan dan

keefisienan (hasil wawancara dengan waka humas Drs. Damiran dan

dokumentasi kegiatan humas melalui foto dan buku agenda kegiatan humas.
     Untuk lebih jelasnya cara-cara dan jenis humas yang ditempuh SMP

Negeri 2 Sumbermanjing akan dijelaskan sebagai berikut :

1. Pemasangan Spanduk Pendaftaran

   Program ini diadakan karena masyarakat sekitar kurang mengetahui

   tentang hal-hal yang berkaitan dengan pendaftaran siswa baru baik yang

   berkenaan dengan waktu, biaya dan persyaratan-persyaratan yang harus

   dipenuhi. Misi dari pemasangan spanduk adalah sebagai upaya perekrutan

   calon siswa baru serta memiliki tujuan agar masyarakat secara luas

   mengetahui tentang hal-hal yang berkaitan dengan pendaftaran siswa baru.

   Spanduk dibuat dan dipasang sekitar 1 (satu) bulan sebelum dibukanya

   pendaftaran siswa baru.

2. Bhakti Sosial

   Program ini lahir mengingat reaksi masyarakat sekitar dsa Sumberagung

   belum begitu berminat menyekolahkan putra-putrinya di SMP Negeri 2

   Sumbermanjing mereka lebih memilih pondok pesantren salam sebagai

   lembaga pendidikan lanjutan. Selain itu juga disebabkan minimnya

   pemahaman masyarakat tentang eksistensi SMP Negeri 2 Sumbermanjing

   itu sendiri. Program ini mempunyai tujuan untuk merubah poersepsi

   masyarakat dan memberitahukan kepada masyarakat sekitar, bahwa SMP

   Negeri 2 Sumbermanjing mempunyai visi, misi dan tujuanm yang jelas

   dan dapat berperan dalam kehidupan ditengah-tengah masyarakat.

   Program ini terealisasi dengan baik tertama 2 (dua) tahun terakhir ini.

   Program ini sangat efektif sekali sebagai sarana menyebarkan informasi
   tentang SMP Negeri 2 Sumbermanjing ditengah-tengah masyarakat,

   sehingga    dapat    membangun      kepercayaan       masyarakat       untuk

   menyekolahkan anaknya di SMP Negeri 2 Sumbermanjing, hal ini terbukti

   dengan semakin meningkatnya jumlah siswa-siswi yang berasal dari

   lingkungan sekitar SMP Negeri 2 Sumbermanjing. Sasaran dari program

   ini adalah pelosok-pelosok desa sekitar jkecamatan Sumbermanjing

   Wetan, dilaksanakan oleh siswa-siwi didampingi oleh guru pembimbing,

   sedangkan waktu pelaksanaan pada waktu liburan semester.

3. Mendatangkan siswa-siswi SMU/SMK/SMEA baik negeri maupun swasta

   untuk memberikan informasi kepada siswa-siswi khususnya bagi kelas tiga

   yang akan lulus. Lahirnya program ini disebabkan siswa-siswidalam

   memilih    jenjang   pendidikan   yang   lebih   tinggi   seringkali   tidak

   mendapatkan informasi yang akurat. Siswa-siswi hanya mendapatkan

   informasi dari teman-teman sekelas dan para tetangga yang bersifat tidak

   jelas, misi dari program ini adalah diperolehnya informasi yang lengkap

   dan akurat tentang berbagai macam sekolah lanjutan tingkat atas bnaik

   yang berstatus negeri maupun swasta. Sedangkan tujuan dari program ini

   adalah agar siswa-siswi mendapatkan kejelasan informasi, sehingga

   mereka dapat betul-betul terarah dalam menentukan pilihan jenjang

   pendidikan berikutnya. Program ini dinilai cukup efektif dalam

   memberikan informasi dan pelayanan kepada siswa-siswi. Diantara

   sekolah-sekolah yang pernah didatangkan antara lain, SMU Negeri 1

   Turen, SMK PGRI 3 Malang, SMK Negeri 1 Turen dan lain-lain. Dalam
   pelaksanaan program ini biasanya SMP Negeri 2 Sumbermanjing banyak

   mendapatkan kemudahan dari para alumni SMP Negeri 2 Sumbermanjing

   yang sedang menempuh pendidikan di berbagai SMU dan SMK yang

   tersebar di seluruh Malang raya.

4. Pertemuan wali murid dengan guru dan pengurus sekolah. Berpijak pada

   pengertian bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah

   semata, tetapi juga terdapat pendidikan keluarga dan pendidikan oleh

   masyarakat, ketiga unsur tersebut tidak dapat dipisahkan antarasatu dengan

   lainnya. Dengan demikian antara penggurus sekolah, guru dan wali murid

   adalah satu kesatuan dalam mengantarkan keberhasilan siswa-siswi. Misi

   dari program ini adalah untuk memberikan informasi kepada wali murid

   tentang kondisi sekolah dengan berbagai program yang ada, baik program

   yang sudah dilaksanakan, sedang atau akan dilaksanakan dan sekaligus

   sebagai sarana evaluasi terhadap permasalahan yang dihadapi dan

   bagaimana pemecahannya sehingga akan trcipta suasana “take and give”

   antara pihak sekolah dengan wali murid. Program ini dilaksanakan 2 (dua)

   jkali dalam setahun, yaitu ada waktu penerimaan siswa baru dan pada

   waktu kenaikan kelas. Program ini sangat efektif untuk menyatukan visi

   dan misi sekolah dengan wali murid.

5. Pemberian surat panggilan kepada wali murid pada siswa yang

   bermasalah. Program ini lahir karena adanya niatan yang baik dari sekolah

   dan rasa tanggung jawab sekolah sebagai lembaga pendidikan untuk

   mengantarkan para siswa menjadi manusia yang berhasil dan berguna, dan
   untuk menjalankan program-program sekolah yang sudah terencana

   dengan baik maka dipandang perlu untuk memberitahukan permasalahan

   siswa kepada wali murid dalam pemecahan masalah dengan cara

   memberikan nasihat-nasihat, memberikan dorongan untuk lebih rajin dan

   giat baik secara kuantitatif (rajin masuk) maupun kualitatif (prestasi

   akademik). Hal ini dilakukan pada waktu-waktu tertentu apabila dianggap

   perlu dan penting. Program ini cukup efektif untuk tidak membiarkan

   berlarut-larutnya masalah tanpa adanya pemecahan permasalahan yang

   dihadapi. Sebelum memberikan surat panggilan biasanya waka humas

   akan melakukan klarifikasi terhadap permasalahan yang ada dan

   bekerjasama dengan waka kesiswaan atau pihak BK (bimbingan

   konseling).

6. Mengadakan peringatan hari-hari besar nasional dan hari-hari besar Islam.

   Program ini dilaksanakan sebagai upaya membentuk generasi bangsa yang

   sempurna yang seharusnya mengetahui dan dapat mengambil pelajaran

   dari sejarah-sejarah nasional dan sejarah-sejarah Islam serta nilai-nilai

   yang terkandung didalamnya. PHBN dan PHBI bertujuan untuk lebih

   mendekatkan    dan    menginternalisasikan   nilai-nilai   dalam   suasana

   nasionalisme dan keislaman pada masing-masing siswa. Khusus untuk

   PHBI siswa non muslim dipersilahkan untuk tidak mengikuti seremonial.

7. Mengadakan peringatan ulang tahun SMP Negeri 2 Sumbermanjing.

   Program ini lahir didasari pentingnya mengingat kembali tentang sejarah

   berdirinya SMP Negeri 2 Sumbermanjing, sehingga lembaga pendidikan
   dapat melakukan evaluasitentang maju mundurnya lembaga pendidikan

   tersebut. Program ini dilaksanakan tiapo tahun tepatnya pada tanggal 5

   Mei dengan maksud memberikan informasi kepada warga sekolah bahwa

   SMP Negeri 2 Sumbermanjing telah mengalami kemajuan-kemajuan yang

   cukup membanggakan disamping masih adanya kekurangan-kekurangan

   yang harus diperbaiki bersama-sama. Acara ulang tahun ini dirangkai

   dengan gebyar seni yang diprakjarsai dan dilakukan oleh siswa-siswi.

8. Program peningkatan kualitas bidang kehumasan

   Program ini bertujuan untuk lebih membekali tenaga humas dengan

   keterampilan dan wawasan yang lebih luas tentang humas, sehingga

   nantinya dapat dipraktekkan untuk peningkatan mutu pendidikan SMP

   Negeri 2 Sumbermanjing, kegiatan-kegiatan yang diikuti antara lain

   seminar-seminar     kewirawastaan,   mengadakan    kunjungan-kunjungan

   perbandingan dan kegiatan lainnya.

9. Pemantauan keberesan intern

   Keadaan intern lembaga endidikan merupakan pebnentu dari sukses

   tidaknya pelaksanaan humas. Keberesan intern tersebut menyangkut

   berbagai hal antara lain :

   Disiplin : Para karyawan serta guru datang ke kantor dan pulang dari

              kantor tepat pada waktunya serta mentaati peraturan yang ada

              di sekolah.

   Moral    : Para karyawan dan dewan guru menegakkan sopan santun dan

              etika, bawahan hormat kepada atasan, atasan memperlakukan
             bawahan dengan semestinya dan warga sekolah bersikap santun

             melayani para tamu.

   Moril   : Para karyawan dan dewa guru bekerja dengan giat, yekun dan

             bersemangat.

   Prosedur : Mengusahakan penyederhaan tata caraagar hubungan berjalan

             lancar, jika prosedur brbelit-belit biasanya akan terjadi sesuatu

             yang mengecewaka sehingga mengakibatkan keengganan untuk

             berhubungan.

10. Mengundang Puskesmas ke sekolah. Program ini diadakan mengingat

   pentingnya kesehatan warga sekolah dalam melaksanakan aktifitas di

   sekolah. Seluruh biaya obat ditanggung sekolah, selain itu sekolah

   mempunyai alasan lain yaitu kepedulian yang rendah dari keluarga

   mengenai kesehatan.
                                  DAFTAR PUSTAKA



Abu Bakar, M. 1981. Pedoman Pendidikan dan Pengajaran. Surabaya: Usaha

         Nasional.

Al Haramain, Khadim. 1997. Al-Qur'an dan Terjemahnya

Amin, Tunggal, Widjaja. 1993. Manajemen Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka

         Cipta.

Anggoro, M. Linggar. 2000. Teori daaan Profesi Kehumasan serta Aplikasinya di

         Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara..

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Penekatan Praktek.

         Jakarta: Reneka Cipta.

Austin, Claire. 2001. Public Relations yang Sukses dalam Sepekan, Brithish

         Institute of Manangement, diterjemahkan oleh Anton Adiwiyoto.

         Jakarta: PT. Kesaint Blanc Indah Corp.

Burhanuddin, dkk..2003. Manajemen Pendidikan. Analisis Substantif dan

         Aplikasinya Dalam Institusi Pendidikan. Malang: UM.

Daryanto, M. 1998. Administrasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Depag RI. 1989. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Surabaya: Mahkota.
Hamdan, Adnan dan Hafied Cangara. 1996. Prinsip-Prinsip Hubungan

         Masyarakat. Surabaya:: Usaha Nasional.

Hasibuan. 1990. Manajemen. Jakarta: CV. Haji Masagung.

Hasbullah. 2001. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo

         Persada.

------------. 1996. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada

http:/www.sinarharapan.co.id/ekonomi/promarketing/2004/05110/prom 1. html

Mahmud, Halim, Abdul, Ali. 1992. Dakwah Fardiyah Metode Pembentukan

         Pribadi Muslim. Jakarta: Gema Insani Press.

Munandier. 2001. Ensiklopedi Pendidikan. Malang: UM Press.

Manulang, M. 1995. Manajemen Peronalia. Jakarta: Ghalia Indonesia

Mulyana, E. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, Strategi dan Implikasi.

         Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nawawi, Hadari. 1989. Admiistrasi Pendidikan. Jakarta: CV. Haji Mas Agung,

Nur, M. Amin. 2006. Strategi Meningkatkan Mutu Pendidikan Melalui

         Pemberdayaan Masyarakat. Fakultas Tarbiyah UIN Malang: El-

         Hikmah.

Pemerintah Kabupaten Malang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Diskripsi

         Tugas Pengelola Sekolah, 2006.

Pidarta, Made. 1988. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: PT Bina Aksara

----------------. 1995. Peranan Kepala Sekolah pada Pendidikan Dasar. Jakarta:

         Gramedia Widiasarana.

-----------------. 1988. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: PT Bina Aksara
Purwanto, Ngalim. 1988. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung:

        Remaja Rosdakarya

Sahertian, A, Piet. 1994. Dimensi Administrasi Pendidikan. Surabaya: Usaha

        Nasional.

Salindeho, Jhon. 1989. Peranan Tindak Lanjut dalam Manajemen. Jakarta: Sinar

        Grafika.

Subroto,. Suryo. 1984. Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah.

        Jakarta: Bina Aksara.

Sudiro, Muntahar. 1988. Hubungan Masyarakat, Fungsi dan Peranan dalam

        Manajemen. Yogyakarta: Andi Ofset.

Suwandi, Harsono. 1988. Beberapa Aspek lain dari Kegiatan Humas. Buletin

        Pengetahuan Kehukuman, No. 24.

Suwarno. 1988. Pengantar umum Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem

        Pendidikan Nasional. 2003. Jakarta: BP. Cipta Jaya.

Uchjana, Onong. 1986. Dinamika Komunikasi. Bandung: CV. Remaja Karya.

Moleong, Lexy J. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja

        Rosda Karya.

Hadi, Sutrisno. 2000. Metodologi Researsch, Jilid 2. Yogyakarta: ANDI

Wisadirana, Darsono. 2005. Metode Penelitian. Pedoman Penelitian Skripsi untuk

        Ilmu Sosial, Malang: UMM.
                         INSTRUMENT PENELITIAN
                                TENTANG
       PENTINGNYA HUMAS LEMBAGA PENDIDIKAN SEKOLAH
      DALAM MEMBANGUN HUBUNGAN DENGAN MASYARAKAT
                    DI SMP NEGERI 2 SUMBERMANJING


PEDOMAN DOKUMENTASI
1. Identitas Sekolah
2. Sejarah Berdirinya
3. Keadaan Personel
4. Keadaan Siswa-siswi
     - Kegiatan siswa-siswi
5. Sarana Prasarana



PEDOMAN INTERVIEW / WAWANCARA

        Dalam hal ini peneliti akan mengadakan wawancara dengan Waka. Humas

SMP Negeri 2 Sumbermanjing.

1.    Bagaimana proses perencanaan bidang kehumasan di SMP Negeri 2

      Sumbermanjing?

2.    Bagian-bagian apa saja yang dilibatkan ketika membuat perencanaan

      hubungan sekolah dengan masyarakat?

3.    Pertimbangan-pertimbangan apa saja yang muncul ketika membuat

      perencanaan hubungan sekolah dengan masyarakat?
4.   Bagaimana proses pembagian kerja dalam setiap kegiatan yang melibatkan

     masyarakat dalam merealisasikan program humas sekolah?

                     5. Bagaimana pengorganisasian manajemen humas di

                        SMP Negeri 2 Sumbermanjing?

6.   Bagaimana kondisi manajemen humas yang ada saat ini?

7.   Upaya apa saja yang dilakukan humas dalam membangun hubungan dengan

     masyarakat?

8.   Hasil-hasil apa saja yang dapat dicapai manajemen humas sampai saat ini?
                       STRUKTUR ORGANISASI
                Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)
                      SMP Negeri 2 Sumbermanjing




                                 Kepala UPTD
                           Drs. Djoko Agus R., M. Pd




Ket. Komite Sekolah                                     Urusan TU
      Torejo                                             Suhardi




  Koord. Kesiswaan                                   Koord. Sarana
 Moh. Purnomo, S. Pd                              M. Nur Ali M., S. Pd




                                                       Koord. Humas
 Koord. Kurikulum                                      Drs. Damiran
 Ali Mahfud, S. Pd
                                                                                Status
N
                   Nama              NIP            Ijazah Terakhir             Kepega
o.
                                                                                waian
1.    Drs. Djoko Agus R., M. Pd   131 696 574     S-2/A IV/ Psikologi Pend.      PNS
2.    Iswandiono, S. Pd           131 560 260     S-1/A/IV/ B. Indo / 2001       PNS
3.    Restuningsih R., S.Pd       131 994 360      S-1/ A IV/ Fisika / 1998      PNS
4.    Drs. Trisno Widodo          132 719 301    S-1 / A IV / Biologi / 1992     PNS
5.    Supardi, S. Pd              131 261 617   S-1 / A IV/ Matematika / 2000    PNS
6.    Wahyu Dyah S., S. Pd        132 201 120      S-1/ A IV/ Fisika / 1999      PNS
7.    Saripah P., S. Pd           132 199 107      S-1/ A IV/ Fisika / 1995      PNS
8.    Ariati Tavi K., S. Pd       132 200 117    S-1/ A IV/ Geografi / 1989      PNS
9.    Ponidi, S. Pd               132 200 145     S-1/ A IV/ B. Indo / 1995      PNS
10.   M. Nur Ali M., S. Pd        132 230 503   S-1/ A IV/ Pend. Sejarah/1994    PNS
11.   Drs. Damiran                510 147 368   S-1/ A IV/ Pend. Olhrg / 1992    PNS
12.   Ali Mahfud, S. Pd           510 147 212   S-1/AIV/ Psiklogi Pend./2000     PNS
13.   Moch. Purnomo, S. Pd        510 147 370   S-1/ A IV/Pend. Olhrag/ 1994     PNS
14.   Sulistiono, S. Pd                -           S-1/ A IV/ Fisika / 1994      GTT
15.   Munip, S. Ag                     -            S-1/ A IV/ PAI / 1995        GTT
16.   Drs. Jayus                       -          S-1/ A IV/ B. Indo / 1992      GTT
17.   Dra. Suharnanik                  -        S-1/ A IV/ Matematika / 1991     GTT
18.   Rudy Handiyoko, S. Pd            -         S-1/ A IV/ Geografi / 1994      GTT
19.   Umi Hartati                      -                   SMEA                  GTT
20.   Sutrisno Andoyo, S. Pd           -         S-1/ A IV/ B. Inggris / 1990    GTT
21.   Muifatul Hayati, S. Ag           -            S-1/ A IV/ PAI / 1990        GTT
22.   Kusmiati, S. Pd I                -           S-1/ A IV/ Fisika / 1997      GTT
23.   Suhardi                     130 746 875           SMA / 2004                PT
24.   Lilik Endarwati                  -                   SMEA                  PTT
25.   Yuni Erawati                     -                   SMEA                  PTT
26.   Moh. Kholis                      -                   MTsN                  PTT
27.   Aliman                           -                    SMP                  PTT
28.   Musta’in                         -                    SMP                  PTT

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:2397
posted:9/7/2012
language:
pages:105
Description: Skripsi instan siap saji ini dipublikasikan sebagai bahan referensi untuk anda yang sedang kesulitan didalam penyusunan karya ilmia (S1) jadi jangan disalah gunakan.