PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM by muhammadzaeni

VIEWS: 200 PAGES: 4

PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

More Info
									         PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM


Pendekatan merupakan titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap suatu
proses tertentu. Sehingga bila dikaitkan dengan kurikulum, pengembangan
kurikulum dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang secara umum
tentang proses pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum sendiri
memiliki makna yang cukup luas. Sukadinata (2000) mengemukakan bahwa
pengembangan kurikulum adalah penyusunan kurikulum yang sama sekali baru
(curriculum construction), bisa juga menyempurnakan kurikulum yang telah ada
(curriculum improvement). Di satu sisi pengembangan kurikulum merupakan
penyusunan seluruh perangkat kurikulum mulai dari dasar, struktur dan sebaran
mata pelajaran, garis-garis besar program pengajaran, hingga pedoman
pelaksanaannya (macro curriculum), dan di sisi lain berkenaan dengan
penjabaran kurikulum (GBPP) yang telah disusun pusat menjadi rencana dan
persiapan mengajar yang lebih khusus, yang dikerjakan oleh guru, seperti
penyusunan Rencana Tahunan, caturwulan, satuan pelajaran, dan sebagainya
(micro curriculum).

Dengan melihat dua cakupan pengembangan kurikulum, ada dua pendekatan
yang dapat diterapkan dalam pengembangannya. Pertama, pendekatan top
down atau pendekatan administratif, yaitu pendekatan dengan sistem komando
dari   atas   ke   bawah,   dan   kedua   adalah   pendekatan    grassroot,   yaitu
pengembangan kurikulum dari bawah ke atas, yang diawali oleh inisiatif dari
bawah kemudian disebarluaskan pada tingkat dan skala yang lebih luas.

   1. Pendekatan Top Down
        Pengembangan kurikulum pada pendekatan ini muncul dari pejabat
        pendidikan atau para administrator atau pemegang kebijakan pendidikan
        seperti dirjen atau Kepala Kantor Wilayah. Semacam garis komando,
        pengembangan kurikulum kemudian diteruskan ke bawah, sehingga
        pendekatan ini disebut juga line staff model. Pendekatan ini biasa
        digunakan     Negara   yang   memiliki   sistem   pendidikan   sentralisasi.
   Prosedur kerja atau proses pengembangan kurikulum dengan pendekatan
   ini adalah sebagai berikut:
   Pertama : pembentukan tim pengarah oleh pejabat pendidikan. Anggota
   tim biasanya terdiri dari pejabat di bawahnya, seperti pengawas
   pendidikan, ahli kurikulum dsb. Tim pengarah ini bertugas merumuskan
   konsep dasar, garis-garis besar kebijakan, menyiapkan rumusan falsafah
   pendidikan, dan tujuan umum pendidikan.
   Kedua : menyusun tim atau kelompok kerja untuk menjabarkan kebijakan
   atau rumusan-rumusan yang telah disusun tim pengarah. Anggota tim ini
   adalah para ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu dari perguruan tinggi,
   ditambah dengan guru-guru senior yang sudah berpengalaman. Tim ini
   bertugas merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional dari tujuan
   umum, memilih dan menyusun sequence bahan pelajaran, memilih
   strategi pengajaran dan alat bantu petunjuk evaluasi, serta menyusun
   pedoman pelaksanaan kurikulum untuk guru.
   Ketiga : bila kurikulum sudah selesai disusun oleh tim atau kelompok
   kerja, selanjutnya hasilnya diserahkan kepada tim perumus untuk dikaji
   dan diberi catatan atau revisi. Bila perlu kurikulum tersebut akan diujicoba
   , dievaluasi, dan disempurnakan.
   Keempat : para asministrator selanjutnya memerintahkan kepada setiap
   sekolah untuk mengimplementasikan kurikulum yang telah disusun
   tersebut.
   Dari langkah-langkah tersebut tampak bahwa inisiaif pengembangan
   kurikulum berasal dari pemegang kebijakan pendidikan, sedangkan guru
   hanya bertugas sebagai pelaksanakurikulum yang telah ditentukan oleh
   para pemegang kurikulum, sehingga disebut pendekatan dengan system
   komando.
2. Pendekatan Grass roots
   Pada pendekatan grass roots,inisiatif pengembangan kurikulum dimulai
   dari lapangan atau dari guru-guru sebagai implementator, kemudian
   menyebar pada wilayah yang lebih luas, karena itu pendekatan ini disebut
   pendekatan dari bawah ke atas. Pendekatan ini lebih banyak digunakan
untuk penyempurnaan kurikulum (curriculum improvement), walaupun
terkadang       juga   digunakan     dalam   pengembangan      kurikulum   baru
(curriculum construction).
Dalam pelaksanaanya terdapat dua syarat yang harus dipenuhi :
Pertama : kurikulum yang dikembangkan bersifat lentur sehingga
memberikan kesempatan kepada setiap guru secara terbuka untuk
memperbarui        atau     menyempurnakan        kurikulum     yang    sedang
diberlakukan.
Kedua : guru memiliki sikap professional yang tinggi disertai kemampuan
yang memadai, yang ditandai dengan keinginan untuk mencoba dan
mencoba sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan kinerjanya,
selalu menambah pengetahuan dan wawasannya, untuk menacapai
kesempurnaan.
Adapun langkah-langkah untuk melaksanakan pendekatan ini adalah
sebagai berikut :
Pertama : menyadari adanya masalah, karena pendekatan ini biasanya
diawali   dari     keresahan    guru    tentang    kurikulum    yang   berlaku.
Kedua : mengadakan refleksi, yaitu dengan mengkaji literatur yang
relevan misalnya dengan membaca buku, jurnal hasil penelitian, internet,
diskusi, wawancara dsb.
Ketiga : mengajukan hipotesis atau jawaban sementara, dengan
memetakan berbagai kemungkinan munculnya masalah dan cara
penanggulangannya.
Keempat : menentukan hipotesis yang sangat mungkin dekat dan dapat
dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan. Penentuan di sini
juga disertai dengan kajian terhadap berbagai hambatan yang akan
terjadi sehingga lebih dini untuk dapat diatasi.
Kelima : mengimplementasikan perencanaan dan mengevaluasinya secara
terus menerus hingga masalah yang dihadapi dapat terpecahkan. Di sini
bisa      dilakukan       dengan       diskusi    antar    teman       sejawat.
Keenam      :     membuat      dan     menyusun    laporanhasil    pelaksanaan
pengembangan melalui grassroot. Langkah ini penting dilakukan sebagai
       bahan    publikasi   dan    diseminasi,   sehingga    memungkinkan       dapat
       dimanfaatkan     dan   diterapkan      oleh   orang   lain    sehingga   hasil
       pengembangan                tersebut            semakin             tersebar.
       Pada pedekatan ini guru berperan lebih dari sekedar pelaksana kurikulum,
       bahkan     peran     guru    sebagai      implementator      perubahan    dan
       penyempurnaan kurikulum sangat menentukan, sedangkan administrator
       tidak lagi berperan sebagai pengendali pengembangan, tetapi hanya
       sebagai motivator dan fasilitator.
       Pendekatan ini dimungkinkan pada negara dengan system pendidikan
       yang desentralisasi, sebab kebijakan pendidikan tidak ditentukan oleh
       pusat, tetapi ditentukan oleh daerah bahkan oleh sekolah, karena itu,
       untuk memperoleh kualitas lulusan sekolah, dapat terjadi persaingan
       antar sekolah atau antar daerah.

Referensi :
Oliva, 1982, Curriculum Development, New York
Zais, 1976, Curriculum Development Principles and Foundation, New York.
Rusman, 2008, Manajemen Kurikulum, Rosda Karya, Bandung
_____, Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Depdiknas, Jakarta

								
To top