THE SCARLET LETTER KARYA NATHANIEL HAWTHORNE: DALAM DUA PERSPEKTIF ANTARA NOVEL DAN FILM Oleh Baban Banita 1. Pengantar Untuk memilih mana yang lebih menarik antara novel dengan film tentulah bukan pekerjaan mudah meskipun bisa juga merupakan pekerjaan yang mudah. Hal ini bergantung kepada objek yang dipilih juga siapa yang memilih. Yang pasti kedua karya seni itu mempunyai nilai-nilai positif dan negatifnya jika kita misalnya membandingkannya. Eneste (1989) memberikan beberapa persamaan antara novel dengan film yaitu cerita, alur, penokohan, latar, suasana, gaya, tema atau amanat. Hal ini dalam novel merupakan unsure instrinsikkya. Bentuk yang sama ini bukan berarti pula mempunyai bentuk yang sama dalam transformasinya, tetapi akan menimbulkan perbedaan-perbedaan. Novel mengandalkan kekuatan pada kata-kata. Cerita, alur, penokohan, latar, suasana, dan gaya sebuah novel dibangun dengan kata-kata. Pemindahan novel ke dalam film, berarti mengubah dunia kata-kata ke dalam dunia gambar-gambar yang bergerak berkelanjutan. Sebab cerita, alur, penokohan, latar, suasana dan gaya sebuah novel dibangun dengan gambar-gambar yang berkelanjutan atau kita katakana bahwa film daya kekuatannya pada gambar. Pada proses penggarapan pun akan terjadi perubahan. Novel adalah kreasi individual dan merupakan hasil kerja kolektif atau gotong royong. Baik dan tidaknya sebuah film akan sangat bergantung pada keharmonisan kerja unit-unit yang ada di dalamnya; produser, penulis scenario, sutradara, juru kamera, piñata artistic, perekam suara, para pemain, dan lain-lain. Dengan kata lain, ekranisasi berarti proses perubahan dari sesuatu yang dihasilkan secara individual menjadi sesuatau yang dikerjakan secara bersama-sama. Selain hal di atas, film juga mempunyai keterbatasan teknis dan mempunyai waktu putar yang sangat terbatas. Oleh sebab itu, tidak mungkin memindahkan baris-baris novel secara keseluruhannya ke dalam film. Hal inilah yang memaksa pembuat fila mengadakan proses penciutan atau pemotongan atas bagian-bagian tertentu novel di dalam film, sehingga akan terkewsan film tersebut tidak selengkap novelnya. Tetepi sebuah film juga mempunyai kedirian untuk menambah kisah dalam karyanya atau sebuah filam seringkali mengobrak-abrik sebuah novel. Hal ini tidak menjadi masalah sepanjang hakikat dari isi novel tidak meleset juga tidak ada keberatan dari penulis novel. Dan yang peling berpengaruh dalam keberhasilan sebuah film adalah bagaimana scenario itu ditulis. Rata-rata film yang bagus adalah hasil dari scenario yang bagus pula. Film seperti disebutkan di atas adalah karya kolektif yang tidak mau harus bisa diterima oleh berbagai pihak baik ketika dalam penggarapannya maupun penerimaan di masyarakat luas. Memang tidak sedikit bahwa pembuatan sebuah film sering dikatakan sebagai hasil kreatifitas seorang sutradara. Hal di atas menjadi untuk mempunyai daya tarik dan bersifat universal. Sebuah karya seni yang diciptakan harus attractive (memikat atau menarik perhatian), mampu menimbulkan interest (minat) pada public, mampu mendorong terciptanya decision
(keputusan) dan mampu mendorong decision menjadi action (tindakan nyata ), seperti membeli produknya (baik novel maupun VCD) atau membaca dan menonton film. II. THE SCARLET LETTER: ANTARA NOVEL DAN FILM The Scarlet Letter karya Nathaniel merupakan sebuah novel klasik yang berlatar belakang budaya dan agama Kristen yang kuat di sebuah negeri kolonis Inggris. Tema yang mengangkat masalah akibat perzinaan atau the effect of adultery yang diangkat oleh novel tersebut menarik untuk disimak. Karena perzinaan tersebut dilakukan oleh wanita yang sebenarnya telah bersuami, yang bernama Hester Pryne dengan seorang pendeta puritan bernama Arthur Dimmesdale. Peristiwa ini ditanggapi oleh masyarakat sebagai hal yang sangat memalukan, bahkan si pelaku yaitu Hester telah dihukum dengan cara ditandai dengan huruf A pada setiap baju yang dikenakannya. Dalam agama Kristen (juga agama-agama lain seperti Islam) perzinaan dikategorikan kedalam perbuatan dosa besar. Apabila hal ini dilakukan, maka hukuman yang akan dijatuhkan adalah hukuman yang sangat berat seperti hukuman mati. Dalam The Scarlet Letter, karena perzinaan itu dirahasiakan oleh Hester Pryne, maka kejadiannya menjadi berbeda. Dari “ketertutupannya” dalam menjaga kerahasiaannya itu, secara perlahan-lahan Hester Pryne justru menungkat statusnya secara perlahan. Ia melakukan mobilitas status, dari pezina (A=adultery), kemudian ke mampu (A=Able), dan akhirnya sampai pada styatus malaikan/wanita suci (A= Angel). Arthur Dimmesdale yang selalu ditutupi dosanya oleh Hester Pryne selalu merasa gelisah dan bimbang. Perasaan-perasaan itulah yang menyebabkan dirinya dalam keterasingan hingga akhirnya ia meninggal dunia sebelum dirinya mengakui kesalahannya di depan umum. Dalam novel, tokoh-tokoh utama harus menanggung derita karena perzinaan yang dilakukan oleh Hester Pryne dan Arthur Dimmesdale. Jika Hester Pryne mengakui dirinya telah bersuami, maka dia akan langsung dihukum mati. Tetapi jika ia mengakui bahwa yang berhubungan dengan dia adalah pendeta Arthur Dimmesdale, maka Arthur Dimmesdale lah yang akan dihukum mati. Dalam peristiwa ini menampakkan adanya hal yang ironis. Sosok pendeta yang seharusnya menjadi teladan para jemaatnya, justru melakukan kesalahan yang sangat fatal. Dalam proses transformasi dari novel ke film (ekranisasi), ternyata gambaran cerita yang terdapat dalam novel The Scarlet Letter karya Nathaniel, memiliki banyak perbedaan yang signifikan dengan gambaran cerita yang terdapat dalam film. Secara garis besar, ekranisasi yang muncul dalam film tersebut dapat diklasifikasikan menjadi empat macam, yaitu dari segi plot atau alur, segi penokohan, teknik penceritaan atau narrator, tema dan amanat. 2.1 Alur Pada novel cerita dimulai dari Hester yang keluar dari penjara sambil membawa bayi sedangkan pada film cerita diawali dari situasi upacara ritul kematian seorang kepala suku Indian. Sungguh perbedaan yang mencolok. Juga pada akhir cerita keduanya sangat bertentangan, jika pad novel tokoh Dimmesdale meninggal karena penyakit dan rasa bersalahnya, maka pada film tokoh ini begitu berbahagia dan menjadi pahlawan yang emmbebaskan Hester dari hukuman gantung. Hal penting lain yang perlu dicatat adalah perubhan plot dalam The Scarlet Letter tentang perbuatan Roger Chilingworth pada saat ia hendak membunuh Arthur
Dimmesdale (digambarkan berambut panjang) dari atas pohon. Ternyata yang terbunuh bukan Arthur Dimmesdale justru mendapatkan bantuan dari suku Indian dalam melakukan pembebasan para narpidana di Boston, termasuk di sana adalah Hester Pryne. Selain itu, pada film yang lebih dipentingkan adalah kisah cinta atau kisah sebelum Hester dihukum sedangkan di novel yang ditonjolkan adalah bagaimana efek perzinahan itu pada kedua tokoh. 2.2 Penokohan Dari tokoh dan penokohan kita bisa melihat seperti bagan di bawah ini. Tokoh dalam Scarlet Letter 1. Hester Pryne Dia adalah seorang perempuan yang memakai tanda A di dadanya sebagai hukuman atas zinah yang telah dilakukannya. Dia digambarkan sebagi perempuan cantik dan berani. Dia melakukan zinah karena merasa dirinya mencintai Arthur dan selama ini tidak mencintai suaminya (Pryne). Sebagai istri dia merupakan tipe yang tidak setia, tetapi dibalik itu dia bisa dikatakan sebagi tipe yang setia dan penyayang terhadap lelaki yang dicintainya. Hester seorang yang tabah dan pekerja keras, tidak mudah putus asa meski demikian dihinakan oleh masyarakat, teguh dalam memegang prinsip, rela berkorban dan penuh kasih sayang terhadap anaknya. Dia juga baik hati terhadap sesame. Mempunyai selera tinggi dalam hal seni. 2. Arthur Dimmesdale Pendeta muda yang cerdas dan energik. Pandai dalam retorika terutama ketika berkhotbah, bukan saja secara logika tapi dia sangat pandai memilih kta yang digunakan dalam khotbah sehingga para jemaatnya banyak yang terpesona. Dia berzinah denagn Hester namun karena ketakutan dan kepengecutannya dirinya tidak Tokoh dalam film Scarlet Letter 1. Hester Pryne Perempuan pendatang baru di New England, secara umum dia digambarkan seabagai seorang yang pandai bergaul, cantik, terpelajar, pemberani dan berpendirian teguh. Dia suka bercocok tanam dan seorang yang tidak mau merepotkan orang lain. Sebagai istri dia bisa dikatakan seorang yang setia namun juga tipe yang tidak setia. Baginya yang pentinbg adalah lelaki itu harus dicintainya, seperti halnya cintanya kepada pendeta Arthur. Dia setia kepada Arthur dan berkhianat kepada suaminya (Pryne). Dia seorang yang tabah neski dihukum dan dihinakan oleh masyarakat. Hester juga kuat memegang teguh apa yang menjadi prinsipnya. Dia sangat sayang pada anaknya, Pearl. 2. Arthur Dimmesdale Pendeta cakep, muda, pintar, dan gagah. Dia pandai membius jamaatnya dengan kata-kata yang memesona. Dia mencintai dan berzina dengan Hester, tetapi dalam hal ini Arthur seorang pengecut dan penuh keragu-raguan. Dia tidak mau mengakui dirinya telah berzinah, padahal Hester sangat menderita oleh hukuman atas perbuatan itu. Dia terkesan gagah dan melindungi
terkena hukuman. Arthur seorang yang ragu-ragu dan penuh pertimbangan., dia menyukai buku dan ilmu pengetahuan. Dia seorang yang sakit-sakitan dan labil emosinya. Dia penuh kasih sayang. 3. Pryne Suami Hester yang cerdas dan mempunyai keahlian dalam bidang kedokteran. Dia seorang suami yang baik dan setia. Karena sakit hati dikhianati Hester dirinya menjadi pendendam dan kasar, dia menyamar dan berganti nama menjadi Roger Chillingworth yang bertugas menjaga kesehatan Arthur. Penyamarannya itu dalam rangka mencari lelaki yang telah berzinah dengan istrinya. Dia seorang yang tegas dan berkesan licin. 4. Pearl Anak hasil perzinahan Hester dengan Arthur. Seorang gadis kecil ymng cerdas, liar, pemberani, dan penyendiri. 5. Gubernur Bellingham Tokoh masyarakat yang bertanggung jawab dan pekerja keras dalam menjalankan tugasnya. Dia cukup desigani karena keseriusannya dalam mengayomi masyarakat. 6. John Wilson Seorang pendeta tua yang berwibawa di wilayah New England. 7. Ny. Hibbins Adik gubernur yang menganut semacam ilmu pedukunan.
Hester. Arthur termasuk sentimental dan pandai mempengaruhi orang lain. Dia seorang pengkhotbah yang dikagumi di kota itu. 3. Pryne atau Roger Chillingworth Suami Hester yang dikabarkan mati oleh suku Indian. Dia seorang yng dingin dan kaku juga terkesan kasar pada Hester. Dia pendendam, pandai, dan licin dalam menghadapi persoalan. Pryne menyamar menjadi Roger Chillingworth dan duduk sejajar dengan tokoh-tokoh yang ada di kota itu. 4. Gubernur Bellingham Seorang tokoh masyarakat yang bekerja keras dalam membangun kotanya. 5. Pearl Anak hasil perzinahan antara Hester dengan Arthur. Dia seorang anak kecil yang lucu. 6. John Wilson Pendeta tua yang berpengaruh di New England. 7. Ny. Hobbins Seorang perempuan yang dicurigai memiliki ilmu perdukunan. 8. Budak belian Dia seorang budak berkulit hitam, bisu, setia, rajin bekerja, dan sangat dipercaya oleh Hester 9. Kepala suku Indian Sikapnya bermusuhan dengan para pendatang yang berkulit putih. 10. Lelaki yang menyukai Hester Tokoh masyarakat yang menginginkan Hester. Dia ditolak
oleh Hester dan menjadi dendam karena keinginannya tidak kesampaian. Akhirnya ketika gagal memperkosa Hester, lelaki itu dibunuh oleh Pryne. Lelaki yang berperangai buruk dan kasar.
Tentang tokoh ini, ada beberapa perbedaan antara novel dan film. Di novel tidak ada tokoh kepala suku Indian yang tidak menyukai kedatangan orang-orang kulit putih. Di novel juga tidak ada tokoh lelaki yang menginginkan Hester bahkan hendak memperkosannya. Lelaki ini mati mengenaskan seperti layaknya kematian yang dilakukan oleh suku Indian. Dia mati sebagai salah sasaran pembunuhan Pryne, yang semula disangka Arthur. Lelaki ini mengakibatkan pertempuran antara kulit putih dengan Indian. Tidak ada tokoh bisu dalam novel, tetapi muncul dalam film. Tokoh ini merupakan budak belian yng menjadi teman dan bekerja pada Hester. Dari segi tokoh, dilihat adanya penambahan gadis gagu(bisu) berkulit hitam yang bernama Mithuba dalam film. Film yang diproduksi oleh Andrew G. Vajna dan disutradarai oleh Roland Joffe (1995) memunculkan Mithuba sebagai pembantu setia Hester Pryne dengan pendeta Arthur Dimmesdale. Secara semiotic, peristiwa zina tersebut dapat dijamin kerahasiaannya karena yang menjadi saksi adalah Mithuba yang sangat setia pada Hester. Selain itu, ia tidak pernah keluar rumah. Namun akhirnya perzinaan itu diketahui pila oleh masyarakat dengan hamilnya Hester yang saat itu tidak bersuami. 2.3 Penceritaan ditinjau dari segi penceritaan, produser film melakukan perubahan yang signifikan dari novel atau cerita asalnya. Dalam novel, Nathaniel menggunakan metode penceritaan “model diaan” dalam novelnya. Naratornya adalah pengarang itu sendiri, bukan salah satu tokoh yang ada dalam novel. Sedangkan dalam film, narrator dilakukan secara langsung oleh Pearl (anak Hester). Pearl bercerita dengan teknik sorot balik (flash back). 2.4 Tema dan Amanat Dari segi tema dan amanat cerita, juga terdapat perbedaan yang sangat signifikan. Dalam novel The Scarlet Letter lebih menekankan pada ”akibat perzinaan”, namun pergeseran itu menjadikan tema dan amanat itu berubah menjadi “cinta suci tidak dapat dihalangi”. Perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam novel dan film pada prinsipnya karena adanya perbedaan dalam mengukur sebuah nilai keindahan. Novel memiliki ukuranukuran dan hokum-hukum tertentu, demikian halnya dengan film. Oleh sebab itu, orang dapat bebas memberi penilaian terhadap objek masing-masing dengan hokum-hukum, aturan-aturan, dan nilai-nilai yang berlaku pada objek yang dinilai tersebut. 2.5 Catatan Tentang Hasil Transformasi (ekranisasi) sebuah film mempunyai tuntutan logis yang hrus dipenuhi oleh para penggarapnya, yakni bagaimana film itu bisa menarik penonton yang pada gilirannya menghasilkan
uang yang melimpah. Karena itu sebuah film digarap seolah-olah takluk kepada kehendak pasar, kepada selera penonton. Hal itu berakibat besar pada bagaimana sebuah film harus dikemas dan harus memuaskan penonton. Film The Scarlet Letter yang diangkat dari sebuah novel berjudul sama telah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Di sini ada sebuah penciptaan baru yang kemasannya bermuara pada selera. Kehadiran suku Indian di awal film dengan gambar yang menawan cukup memberi pemikat. Ternyata kehadiran yang tak ada dalam novelnya adalah sewbuah persiapan bagi perubahan cerita, terutama kelogisan bagi terselamatkannya tokoh utama dari hukuman gantung. Ini tejadi ketika Hester dan Dimmesdale hendak digantung di depan umum. Karena sebelumnya ada peristiwa pembunuhan yang salah arah dari suami Hester dengan membunuh gaya Indian. Hal ini menimbulkan keributan dan dendam kulit putih terhadap Indian. Di sini Indian didudukan sebagai musuh kulit putih yang harus selalu dicurigai. Maka ketika itu terusik timbulah keributan, yakni penyerangan suku Indian terhadap kulit putih tepat di saat Hester dan Dimmesdale akan digantung. Keduanya menjadi terselamatkan. Penggunaan ramat merah sebagai tanda nafsu tidak saja hadir dalam huruf A di dada Hester tapi hadir dalam bentuk lain. Ketika Hester tertarik dengan burung kecil yang mungil lucu berwarna merah dirinya mengikuti terbangnya burung itu ke sebuah hutan. Hal itu merupakan tanda bahwa Hester telah mengikuti nafsunya atau dipertemukan dengan nafsu dan kebebasannya. Kemunculan kedua yaitu pada saat Hester dan Dimmesdale melakukan zina. Burung itu terbang dan menunjuk pada situasi nafsu yang tak terkendali dari keduanya. Sebuah keindahan dari cinta juga nafsu yang liar dan bebas. Yang lebih menarik lagi adalah penjungkirbalikan tema. Jika pada novel tema yang diusung adalah bagaimana efek dari sebuah perzinahan sedangkan pada film tema yang ditampilkan yaitu bagaimana sebuah cinta suci akan selalu dapat mengalahkan apapun, termasuk nilai-nilai Illahiah. Pemilihan ini tentu sja sangat Hollywood. Dikatakan demikian karena kebiasaan film-film tersebut adalah sebuah kegagahan atau kepahlawanan yang dramatic dan berakhir bagi kemenangan sang pahlawan. ***