Docstoc

Metafor

Document Sample
Metafor Powered By Docstoc
					Pentingnya Metafora bagi Penyair


Bagi seorang penyair, menulis sebuah puisi karya sastra adalah sebuah proses berbahasa.
Yaitu, suatu kerja untuk mengeksplorasi, mengeksploitasi, mendagunakan, dan
”menaklukkan” bahasa. Tanpa adanya kemampuan untuk berbahasa, bisa dipastikan
seorang sastrawan akan gagal dalam menciptakan karya sastra. Ibarat sebuah profesi atau
hobi, jika seorang pemain sepakbola profesional mahir dalam ”mengolah dan
menggoreng bola”, maka seorang penyair haruslah pandai mengolah bahasa.

Dalam menghasilkan sebuah puisi, seorang penyair akan mengalami pergumulan intensif
lewat proses internalisasi pengalaman (dunia pengalaman menyatu dengan pengarang)
dan pencerapan panca indera, kemudian dieksternalisasi atau dieksteriosasi (dilahirkan
kembali) dalam bentuk karya sastra. Dalam keseluruhan proses itu, simbolisasi atau
pemakaian perlambang amatlah penting. Salah satu alat yang dipakai penyair dalam
menciptakan simbolisasi adalah metafora atau bahasa kiasan.

Metafora pada dasarnya bahasa kiasan yang bentuknya seperti perbandingan, Namun,
perbandingan tersebut tidak diungkapkan secara langsung dan biasanya tidak
menggunakan kata-kata pembanding seperti kata ”bagai”, ”laksana”, ”serupa”, ”seperti”,
dan sebagainya.

Perhatikan penggalan puisi berjudul ”Sajak Penjaga Kebun” karya Iswadi Pratama
berikut ini:

barangkali kaulah yang harus mengatakan
mengapa kota ini mendadak jadi seperti taman
tempat di mana orang-orang ingin sekali
menanamkan dirinya sebagai rumput, bunga,
atau pohonan
sementara kulihat engkau terus menjadi
penjaga kebun buta
tak mau membaca arah mata angin dan
mencium bau cuaca
anak-anakmu terus tumbuh dan mulai gelisah
mereka ingin kau menjadi pohon besar
yang penuh dengan buah
sedang kau cuma penjaga kebun yang tentu saja
tak memiliki akar di pekarangan itu... (”Sajak Penjaga Kebun” dalam antologi
Perjamuan Senja:, penerbit DKJ, 2005).

Frase ”kota mendadak seperti taman” adalah sebuah perbandingan langsung untuk
menggambarkan kondisi kota yang, mungkin, menurut penyair Iswadi, terus tumbuh.
Ibarat sebuah taman, kota adalah tempat tumbuh aneka manusia. Ada yang hidupnya
susah karena nasibnya buruk, tapi ada pula yang nasibnya baik sehingga hidupnuya
bergelimang kemewahan. Hal serupa juga terjadi di taman. Ada tumbuhan pendek
(rumput) maupun tinggi (pohon besar). Tumbuhan yang berada di taman terus tumbuh.
tetapi penjaga kebun itu sendiri (nasibnya) dari hari ke hari tetap tetap sama.

Puisi tersebut mengandung kesan yang mendalam ke arah permenungan ketika
penyairnya menutupnya dengan baris-baris seperti ini:
”lihatlah papa, aku telah menyelesaikan
pelajaran di sekolah dan akan membantumu
tumbuh lebih baik sebagai sejarah”
lalu, di halam rumahmu
akan melebat taman baru
di mana kau menjelma jadi pagar atau kupu-kupu

Bayangkan, seorang tukang kebun berubah menjadi pagar atau kupu-kupu! Dalam
realitas sehari-hari, hal itu tidaklah mungkin. Namun dalam puisi, segala kemungkinan
bisa terjadi. Dalam puisi tersebut di atas, Iswadi Pratama sebenarnya melakukan
perbandingan juga (”kota ini mendadak jadi seperti tama”), tetapi perbandingan itu tidak
secara langsung.

Bandingkan puisi tersebut dengan puisi ”Seperti Kematian” karya Isbedy Stiawan Z.S.
yang terkumpul dalam antologi Perjamuan Senja berikut ini:

...
serupa mendung
di wajahmu
aku hanya rasakan
aroma peluhmu

lalu mata,
bibir yang anggur
sebagai kanal dingin:
kesunyian pelataran ini
buatku mendesah
...

engkau, perempuan, rahasia
yang sulit diselami
seperti kematian
yang kurasakan
setiap petang…


Berbeda dengan Iswadi, dalam puisi tersebut di atas penyair Isbedy Stiawan membuat
perandingan secara langsung yang langsung (”serupa mendung /di wajahmu/aku hanya
rasakan/aroma peluhmu//. Wajah seorang wanita (yang mungkin muram) diibaratkan
seperti mendung. Bibir diibaratkan seperti anggur (yang mungkin ranum). Inti dari
maksud penyairnya kemudian tampak secara nyata dalam bait terakhir (”engkau,
perempuan, rahasia/yang sulit diselami/seperti kematian/yang dirasakan/setiap petang//.

Isbedy ingin mengatakan bahwa sebagai manusia, perempuan adalah sosok yang penuh
rahasia (bahkan mungkin misteri) yang sulit dipahami. Soal premis ini (perempuan
adalah sosok yang sulit dipahami) bukanlah suatu hal yang dialami Isbedy seorang diri.
Dalam pelbagai buku psikologi pun kita sering membaca bahwa perempuan memang
sosok yang sulit dipahami, setidaknya oleh laki-laki. Bahkan, mungkin oleh laki-laki
yang selama ini menjadi pasangan hidupnya.

Puisi Isbedy pun menciptakan kesan mendalam dan seolah membuat pembacanya
tercenung ketika membandingkan perempuan seperti sebuah kematian yang datang tiap
petang. Pembaca bisa membayangkan jika memiliki pacar atau istri yang setiap hari
mendampinginya ternyata tak lain adalah kematian yang datang tiap petang.
Menyaksikan kematian sekali saja dalam setahun sudah membuat kita ngeri, apalagi
setiap petang!

Begitu pentingnya metafora dalam karya sastra, sehingga Paul Ricoeur, salah seorang
peletak dasar ilmu tentang penafsiran (hermeunitika), pernah mengatakan bahwa
metafora merupakan ”kekuatan sangat besar yang menjadi penyelamat realitas“
(Darshana International, Januari 2002: 59-70). Dalam hal ini Ricoeur hendak
mengatakan bahwa tanpa adanya metafora dalam sebuah puisi (atau jenis karya sastra
lainnya), maka karya sastra tersebut akan menjadi kering dan terjebak menjadi sekadar
pemindahan realitas sehari-hari ke dalam bentuk karya sastra. Ya, kalau bahasa karya
sastra nyaris sama dengan bahasa sehari-hari, apa bedanya sebuah sebuah cerpen atau
novel dengan berita-berita di surat kabar dan majalah?

Untuk menciptakan metafora, seorang penyair harus memiliki pengetahuan tentang
banyak hal; baik itu soal warna, benda, suasana, filsafat hidup, psikologi, pengetahuan
tentang alam, tentang manusia, tentang tumbuh-tumbuhan, dll. Nah, dengan berbekal
sekelumit pengetahuan tentang mefatora para pelajar, mahasiswa, atau remaja yang
sedang belajar mencipta puisi bisa lebih menggali kemampuannya untuk mengeksplorasi
metafora yang tepat dan ”dahsyat” sehingga menghasilkan puisi yang baik.

(Oyos Saroso H.N., penyair dan pengamat sastra, tinggal di Bandarlampung).

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:26
posted:9/1/2012
language:Indonesian
pages:3