Analisis cerpen aziz

Document Sample
Analisis cerpen aziz Powered By Docstoc
					Nama                    : Abdul Aziz
Kelas                   : XI IPS
Tugas                   : 04
Tema                    : Menganalisis Tema dan Plot Pada Cerpen
Tgl diberi tugas        : 04 Februari 2009
Tgl dikumpulkan         : 11 Februari 2009
Judul Cerpen            : Harga Diri
Pengarang               : Muchwardi Muchtar
1. Analisis Tema
            Tema merupakan gagasan pokok atau dasar cerita pada suatu cerpen.
 Cerpen ini bertemakan tentang harga diri. Hal ini sesuai dengan kutipan berikut.


                        Saya tidak begitu tahu, yang jelas apa yang barusan terjadi
            akibat kekasaran saya cukup berkesan. Saya terpukul, saya jadi malu
            pada diri sendiri. Entah mengapa tiba-tiba mata saya berkaca-kaca.
            Saya sungguh menyesal, beribu sesalan mengalir pada waktu itu.
                        Sadarlah saya, segembel-gembelnya seorang gelandang, toh
            masih kenal hidup bukanlah kebun binatang. Pengemis tadi meskipun
            lapar, meskipun ia miskin dari saya, ternyata ia masih punya harga diri,
            suatu hal yang tadinya saya abaikan.


            Dari kutipan diatas kita dapat mengetahui bahwa harga diri bukanlah
 hal yang hina, tapi harga diri merupakan hal yang harus kita pertahankan sepahit
 apapun keadaan kita.
2. Analisis Plot/Alur
            Plot atau alur pada cerpen ini adalah mundur, hal ini sesuai dengan
 kutipan berkut.
                        Suatu      sore   saya   pernah   kedatangan    tamu    tak
            diundang.waktu saya sedang duduk rileks diberanda rumah sambil
            makan roti tawar.
         Juga pada kutipan berikut.


                      Waktu itu, kapal kami sedang sandar (disharge) di
         dermaga Napoli, Italia.
(a. Perkenalan
         Pada cerpen ini, perkenalan dapat dilihat pada paragraf pertama
 dimana diceritakan tokoh aku yang sedang merantau di Jakarta.hal ini sesuai
 dengan kutipan berikut.


                    Sebetulnya saya ini orangnya melarat, buktinya sudah
         sepuluh tahun saya merancama (merantau cari makan) di Jakarta,
         sebuah rumah yang wajar saja belum punya. Apalagi rumah ukuran
         real estate itu. Kalau dulu presiden kita pernah mengumumkan, bahwa
         tiga dari sepuluh penduduk RI berada dibawah garis kemiskinan, terus
         terang saja, saya ternasuk golongan ‘tiganya itu’ itu.
(b. Konplik
         Pada cerpen ini, komplik terjadi pada saat datang kepada tokoh aku
 seorang pengemis yang meminta makanan. Hal ini sesuai dengan kutipan
 berikut.


                    Waktu itu saya sedang duduk rileks diberanda rumah,
         sambil makan roti tawar. Tiba-tiba seorang pengemis lelaki
         menyodorkan telapak tangannya pada saya. Orangnya kurus kering.
         Pakaian dekil dan ditambal sana-sini. “sedekah tuan. Kasihanilah
         orang tak punya.” Demikian melontarkan premisi pada saya.
                    Terdorong oleh perasaan kemanusiaan yang sama-sama
         punya hak atas hasil bumi nusantara ini, saya berdiri. Lalu sepotong
         roti tawar saya comot dari piring. Lantas roti itu saya lemparkan
         kepadanya. Pas jatuh dilantai dekat kakinya.
                    Saya kira ia akan cepat-cepat menerkam roti itu dan dengan
         rakusnya melumatnya habis. Sebab, ia lapar bukan? Eh, tau-taunya
            pengemis itu tertegun. Matanya yang tadi sayu melebihi mata seorang
            morphonis, kini menatap saya tajam. Sambil menyeka keringat
            kelaparan yang meleleh dikeningnya, pengemis itu berkata dengan
            sopan kepada saya.
                          “Maaf, tuan saya memang lapar... tetapi cara tuan memberi
            saya tadi mengakibatkan saya kenyang. Terima kasih, tuan!” kemudian
            ia berlalu.
 (c. Klimaks
            Pada cerpen ini, konplik terjadi pada saat tokoh aku berbincang-
   bincang dengan seorang pelaut berkebangsaan Spanyol tentang negara tokoh
   aku. Hal ini sesuai dengan kutipan berikut.


                          “kamu bilang negara kamu kaya?” katanya lagi” Anehnya
            kok masih saja meminta dari negara lain. Why?”
                          “Stop” Bentak saya tersinggung. Walau bagaimanapun
            melaratnya saya hidup di Jakarta, kalau bangsa asing telah mulai
            memyebut negara saya peminta-minta, demi Tuhan, Mati pun saya
            mau duel dengannya. “kamu jangan beranggapan demikian loudwig,”
            kata saya sambil membelalakan mata. “kami bukan meminta, tau?
            Tetapi negara itulah yang hijau matanya melihat kesuburan negeri
            kami.”


      Tgl diperiksa                      Paraf                      Nilai




Catatan :

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:155
posted:9/1/2012
language:Malay
pages:3