Docstoc

PTK MATEMATIKA SD _nasikin_

Document Sample
PTK MATEMATIKA SD _nasikin_ Powered By Docstoc
					                                                                             1



                                       BAB I

                                PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

           Tujuan pembelajaran matematika yang diamanatkan di sekolah dari

   kurikulum 1975, 1984, 1994 sampai dengan kurikulum berbasis kompetensi

   yang saat ini sedang digunakan pada intinya sama. Tujuan yang hendak

   dicapai intinya adalah siswa mampu menggunakan matematika yang

   dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mata pelajaran lain yang

   memanfaatkannya. Selanjutnya melalui belajar matematika diharapkan pada

   diri siswa terbentuk pola piker yang kritis, logis, kreatif dan sikap yang

   konsisten, cermat, objektif, jujur, dan adil.

           Matematika mempunyai peran besar dalam kehidupan sehari-hari.

   Hampir tiap hari kehidupan kita melibatkan kegiatan yang bersifat matematis,

   misalnya menghitung dan mengukur. Hampir semua mata pelajaran yang

   dipelajari siswa di sekolah memanfaatkan matematika dalam beberapa

   bahasan.Matematika merupakan ratu sekaligus pelayan bagi ilmu lain.

   Permasalahan kehidupan dalam berbagai aspek, misalnya : sosial, budaya,

   ekonomi, politik dan mental semakin hari semakin rumit. Sebagai individu,

   tiap orang diharapkan mampu "survive" namun tetap dalam acuan dan tatanan

   yang benar. Untuk itu diperlukan "kecerdasan" berfikir dan bersikap dalam

   memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi. Hal ini antara lain dapat

   dibina melalui belajar matematika. Ini berarti belajar matematika merupakan

   mata kegiatan penting bagi siswa yang sedang meniti hari depannya.




                                          1
                                                                           2



Pengetahuan, pola pikir, sikap dan ketrampilan yang diperoleh sebagai hasil

belajar matematika diharapkan mampu membantu siswa mengatasi berbagai

permasalahan kehidupan yang dihadapinya. Kewajiban guru yang telah

mendeklarasikan diri untuk berkecimpung dalam pendidikan, apalagi yang

terkait dengan pembelajaran matematika sekolah adalah berusaha mengantar

mereka dengan sebaik-baiknya secara langsung maupun tidak langsung.

Hasil analisis terhadap pembelajaran di SD yang beracuan kurikulum 1994

untuk beberapa mata pelajaran (termasuk matematika) yang dikemukakan oleh

Ibrahim Bafdal dalam lokakarya Identifikasi Permasalahan Kurikulum dan

Pembelajaran di SD pada 8 – 12 Mei 2002 di Jakarta, antara lain : Siswa

terjebak dalam rutinitas, media pembelajaran kurang, motivasi belajar siswa

rendah, siswa banyak menghafal, lebih mengandalkan pada aspek kognitif

yang rendah (mengingat, menyebutkan) dan umumnya siswa tidak tahu makna

atau fungsi dari hal yang dipelajari.

           Dalam pembelajaran matematika, hasil dan pola pembelajaran seperti

yang dikemukakan oleh kedua studi itu tentu tidak diharapkan karena sesuai

dengan tujuan pembelajaran matematika yang diamanatkan oleh kurikulum.

Yang diinginkan adalah pembelajaran matematika yang dapat membuat

matematika terasa mudah dan menyenengkan. Pembelajaran matematika

hendaknya dikaitkan seoptimal mungkin dengan kehidupan nyata dalam

pikiran siswa sehingga bermakna dalam kehidupan siswa dan tidak terasa

abstrak.




                                        2
                                                                             3



       Faktor yang tidak kalah pentingnya dalam proses pembelajaran ialah

metode, karena merupakan suatu bidang yang harus dikuasai oleh guru artinya

guru harus pandai-pandai dalam memilih metode pengajaran yang akan

digunakan dalam proses pembelajaran. Efektif dan tidaknya penggunaan

metode pembelajaran tergantung dari kemampuan guru itu sendiri, dengan

metode yang efektif siswa akan termotivasi untuk belajar.

       Tingkat pemahaman siswa terhadap mata pelajaran biasanya

dinyatakan dengan nilai. Nilai yang tinggi menunjukkan bahwa siswa

menguasai materi sehingga pembelajaran dianggap telah berhasil. Masalah

tersebut juga terjadi di kelas peneliti yaitu pada semester 2 Tahun Pelajaran

2006/2007. Dari hasil ulangan formatif Mata Pelajaran Matematika Aspek

Geometri   dan    Pengukuran    dengan    materi   Luas     Daerah   Lingkaran

menunjukkan rendahnya tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.

1. Identifikasi Masalah

   a. Siswa mengalami kesulitan tentang menentukan luas lingkaran.

   b. Siswa masih mengalami kesulitan tentang menerapkan rumus luas

       lingkaran untuk memecahkan masalah.

   c. Siswa yang mencapai tingkat ketuntasan belajar dengan memperoleh

       nilai 7,5 ke atas hanya 6 siswa dari 25 siswa seluruhnya atau 24 %.

2. Analisis Masalah

   Siswa belum memahami materi pembelajaran karena :

   a. Kurangnya alat peraga yang digunakan guru.

   b. Metode yang digunakan guru didominasi metode ceramah.




                                    3
                                                                            4



        Untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran,

peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan

Kelas (PTK) dengan menggunakan media pembelajaran model luas lingkaran

dan segitiga serta mengubah metode ceramah menjadi metode diskusi dan

latihan berulang atau drill.

        Laporan ini disusun mulai dari refleksi yang dilanjutkan membuat

rencana perbaikan pembelajaran dan dilaksanakan di Sekolah Dasar tempat

penulis mengajar yaitu SD Negeri Prigi 2 Cabang Dinas Pendidikan

Kecamatan Kebonagung Kabupaten Demak dalam 2 siklus PTK untuk mata

pelajaran Matematika. Peneliti juga melampirkan hasil observasi dan analisis

nilai hasil evaluasi siklus I yang telah dibahas bersama teman sejawat .

        Setelah mendapat bimbingan peneliti membuat refleksi pada siklus II

dengan membuat rencana perbaikan pembelajaran serta membuat analisis

hasil evaluasi II sesuai pelaksanaan. Penulis juga melampirkan hasil observasi

teman sejawat.

        Secara garis besar ruang lingkup laporan ini adalah :

    I. Pendahuluan

   II. Kajian Pustaka

  III. Pelaksanaan Perbaikan

  IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan

   V. Kesimpulan dan Saran




                                     4
                                                                              5



B. Perumusan Masalah

            Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan

   sebagai berikut : "Bagaimanakah menggunakan model luas segitiga melalui

   penerapan metode latihan berulang untuk meningkatkan pemahaman siswa

   tentang luas lingkaran ?"

C. Tujuan Penelitian

   Penelitian ini bertujuan untuk :

   Mendapatkan deskripsi tentang penggunaan model luas segitiga melalui

   penerapan metode latihan berulang untuk meningkatkan pemahaman siswa

   tentang luas lingkaran.

D. Manfaat Penelitian

           Perbaikan    pembelajaran   bermanfaat   bagi    guru   yakni   untuk

   meningkatkan kinerja dan kompetensinya. Dengan perbaikan pembelajaran

   yang dimulai dari refleksi sampai pelaksanaan perbaikan, diharapkan guru

   mempunyai kemampuan :

   1. Merumuskan pemecahan masalah pembelajaran yang terjadi pada proses

      belajar mengajar.

   2. Merumuskan pemecahan masalah pembelajaran yang muncul.

   3. Menyusun rencana perbaikan pembelajaran yang telah direncanakan.

   4. Bersama teman sejawat merumuskan masalah dan merencanakan

      perbaikan pembelajaran.

   5. Melaporkan hasil perbaikan pembelajaran.

   6. Menerapkan hasil perbaikan pembelajaran di sekolah.




                                       5
                                                                        6



Sedangkan manfaat dari perbaikan pembelajaran bagi pengambil kebijakan

adalah :

1. Dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk mengambil kebijakan.

2. Membantu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

3. Model pembelajaran.




                                   6
                                                                             7



                                  BAB II

                            KAJIAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Matematika Kontekstual di Sekolah Dasar

   1. Karakteristik Pembelajaran Matematika yang Kontekstual

             Pembelajaran yang kontektual menekankan pada konteks yaitu

      pembelajaran yang menggunakan masalah-masalah yang konteks sebagai

      awal untuk mempelajari konsep-konsep dan kemampuan-kemampuan

      tertentu (Suwarsono, 2002:8). Dalam pembelajaran matematika yang

      kontekstual proses pengembangan konsep-konsep dan gagasan-gagasan

      matematika bermula dari dunia nyata.

      Dunia nyata tidak hanya berarti konkret secara fisik dan kasat mata namun

      juga termasuk yang dapat dibayangkan oleh alam pikiran siswa (Heuvel-

      Panhuizen dalam Nur M, 2000:11). Ini berarti masalah-masalah yang

      digunakan pada awal pembelajaran matematika yang kontekstual dapat

      berupa masalah-masalah yang aktual bagi siswa (sungguh-sungguh ada

      dalam kenyataan kehidupan siswa) atau masalah-masalah yang dapat

      dibayangkan sebagai masalah oleh siswa. (Suwarsono,2002:8) menyatakan

      bahwa pembelajaran yang kontekstual dalam matematika sangat

      bermanfaat untuk menunjukkan beberapa hal kepada siswa, antara lain

      keterkaitan antara matematika dengan dunia nyata, kegunaan matematika

      bagi kehidupan manusia dan matematika merupakan suatu ilmu yang

      tumbuh dari situasi kehidupan nyata.




                                      7
                                                                       8



Menurut peneliti tujuan pendidikan matematika di sekolah intinya sama

yaitu siswa mampu menggunakan matematika yang dipelajarinya dalam

memecahkan masalah kehidupan sehari-hari dan dalam mata pelajaran lain

yang memanfaatkannya. Untuk mencapai tujuan itu kegiatan pembelajaran

matematika yang dilaksanakan hendaknya bermakna bagi kehidupan siswa

dan belajar matematika terasa mudah oleh siswa. Salah satu usaha

membuat belajar matematika menjadi mudah dan bermakna bagi siswa

adalah menggunakan strategi pembelajaran matematika yang kontekstual.

Siswa memecahkan masalah konstekstual tentang topik yang dipelajari.

       Pembelajaran yang kontekstual telah berkembang di Negara-negara

maju dengan berbagai nama. Dimulai dari negeri Belanda dengan nama

RME (Realistic Mathematics Education). Di Amerika berkembang dengan

nama Contextual Teaching Learning in Mathematics atau Contextual

Mathematics Education. Walaupun di Belanda RME telah berkembang

sejak tahun 1970-an (sekitar 37 tahun) namun usaha pengembangannya

masih terus berlangsung hingga kini. Hal ini disebabkan oleh setidaknya

dua alasan yaitu (1) pendidikan matematika mekanistik (yaitu pendidikan

matematika yang utamanya berfokus pada prosedur penyelesaian soal)

belum sepenuhnya dapat disingkirkan dan (2) RME berlandaskan pada

paham bahwa matematika tidak akan merupakan teori yang mandeg.

       Penggagas RME adalah Hans Freudenthal dari Belanda. Gagasan

RME muncul sebagai jawaban terhadap adanya gerakan 'matematika

modern' di Amerika Serikat (dan penganutnya) dan adanya praktik




                               8
                                                                          9



pembelajaran matematika secara mekanistik di Belanda, dekat dengan

alam pikiran siswa dan relevan dengan masyarakat agar mempunyai nilai

manusiawi. Matematika haruslah tidak dipandang sebagai materi pelajaran

yang harus disampaikan kepada siswa atau orang lain tetapi hendaklah

dipandang sebagai kegiatan manusia, sehingga pendidikan matematika

haruslah berfokus pada matematika sebagai kegiatan yang disebut proses

matematisasi (Suryanto, 2001:2). Sehubungan dengan hal itu proses

matematisasi    dirumuskan     sebagai   matematisasi    horisontal     dan

matematisasi vertikal. Matematisasi horisontal adalah munculnya atau

diajukannya 'alat matematis' atau 'model matematis' oleh siswa dari

usahanya memecahkan masalah matematika yang terkandung dalam

situasi   kehidupan   nyata.    Matematika    vertikal   adalah       proses

mengorganisasi ulang 'alat matematis' atau 'model matematis' yang telah

muncul atau diajukan oleh siswa pada proses matematisasi horisontal ke

dalam sistem matematik. Freudenthal menyatakan bahwa matematika

horisontal dapat diartikan sebagai perpindahan dari dunia kehidupan nyata

ke dunia simbol, sedang matematisasi vertikal adalah gerakan di dalam

dunia simbol itu sendiri. Dalam praktik pembelajaran kedua proses

matematisasi itu mungkin adakalanya sulit dibedakan atau diidentifikasi.

Pengertian kehidupan nyata atau dunia kehidupan dalam pembelajaran

adalah 'nyata' dalam pikiran siswa atau dapat dibayangkan oleh siswa

sebagai hal nyata.




                                9
                                                                            10



          Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

   pembelajaran matematika yang kontekstual mempunyai beberapa ciri khas

   sebagai berikut :

   a. Menggunakan masalah kontekstual sebagai            titik awal      proses

      pembelajaran untuk dipecahkan atau diselesaikan oleh siswa.

   b. Menggunakan alat atau model matematis (gambar, grafik, table dll.)

      yang berfungsi sebagai jembatan antara dunia riil dan abstrak sehingga

      terwujud proses matematisasi horisontal (sering disebut sebagai

      matematika informal).

   c. Siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dan terjadi interaksi

      antara guru dan siswa atau antara siswa dan siswa dalam suasana

      demokratif.

   d. Ada keseimbangan antara proses matematisasi horisontal dan vertikal

      artinya pembelajaran tidak cepat-cepat bergerak ke arah abstrak.

      Menghargai jawaban informal siswa sebelum sampai pada tahap

      mempelajari bentuk formal matematika (proses matematisasi vertikal),

      sehingga      ada   kesempatan    merefleksi,   menginterpretasi     dan

      menginternalisasi hal yang dipelajari.

   e. Pembelajaran matematika tidak semata-mata memberi penekanan pada

      komputasi dan hanya mementingkan langkah-langkah prosedural

      (drill) namun juga memberi penekanan pada pemahaman konsep dan

      pemecahan masalah.

2. Teori yang Mendukung




                                   10
                                                                    11



      Berikut   beberapa   teori   atau   pendapat   yang   mendukung

pembelajaran matematika yang kontekstual (dalam Nur M, 2002:3-4).

a. Kolb (1994) mendefinisikan belajar matematika sebagai proses

   memperoleh pengetahuan (yang berupa hasil belajar siswa) yang

   menciptakan atau dilakukan oleh siswa sendiri melalui transformasi

   pengalaman individu siswa. Pendapat Kolb sejalan dengan Piaget yang

   intinya menekankan bahwa siswa harus diberi kesempatan seluas-

   luasnya untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang dipelajari dan

   siswa harus secara aktif berinteraksi dengan lingkungan belajarnya

   sehingga dapat membantu memperoleh pemahaman yang lebih tinggi.

b. Goldin (1992) menyatakan bahwa matematika ditemukan dan

   dibangun oleh manusia, sehingga dalam pembelajarannya matematika

   harus lebih dibangun oleh siswa daripada ditanamkan oleh guru.

   Pembelajaran matematika menjadi lebih efektif apabila guru

   membantu siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah dengan

   menerapkan pembelajaran bermakna.

c. Heuvel Panhuizen (1998) dan Verschaffel dan De Corte (1997)

   menyatakan bahwa pendidikan matematika seharusnya memberikan

   kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali matematika

   dengan berbuat matematika. Mereka juga menyatakan bahwa karena

   matematika merupakan seperangkat alat pemerian (penggolong-

   golongan), penganalisisan dan peramalan perilaku pada system dalam

   dunia nyata maka pembelajaran matematika harus mampu memberikan




                              11
                                                                        12



   kepada siswa situasi masalah yang dapat mereka bayangkan atau

   memiliki hubungan dengan dunia nyata. Lebih lanjut mereka

   menemukan adanya kecenderungan kuat bahwa dalam memecahkan

   masalah dunia nyata siswa bergantung pada pengetahuan siswa tentang

   dunia nyata tersebut.

d. Vygotsky (dalam Jones dan Thornton, 1993) menyatakan bahwa

   belajar terjadi melalui interaksi sosial. Ia yakin bahwa tingkat kinerja

   pemecahan masalah baru dapat dicapai apabila anak-anak bekerja

   dalam kelompok-kelompok kooperatif khususnya kelompok-kelompok

   heterogen.

e. Atweh, Bleicher dan Cooper (1998) menyatakan bahwa kelas pelajaran

   matematika seharusnya merupakan suatu tempat dengan guru dan

   siswa membangun suatu lingkungan interaktif dengan tujuan utama

   menggalakkan pembelajaran.

      Ciri-ciri pembelajaran matematika yang kontekstual adalah siswa

memecahkan masalah kontekstual tentang topik yang akan dipelajarinya

sebagai titik awal proses pembelajaran, menggunakan alat atau model

matematis dalam proses matematisasi horisontal oleh siswa sebelum

memasuki dunia matematis sebenarnya, siswa mengkonstruksi sendiri

pengetahuannya dan terjadi interaksi antara guru dan siswa atau antara

siswa dan siswa serta pembelajaran tidak semata menekankan pada

komputasi dan mementingkan langkah-langkah prosedural menyelesaikan

soal atau drill namun juga mengutamakan pemahaman konsep dan




                                12
                                                                            13



      pemecahan masalah. Dengan memperhatikan ciri-ciri dan pembelajaran

      matematika secara kontekstual itu maka pemilihan pendekatan dan

      penilaian pembelajaran yang akan dimanfaatkan untuk mengelola kegiatan

      pembelajaran harus jeli. Pendekatan pembelajaran yang dipilih harus

      mempertimbangkan dan sesuai dengan karasteristik siswa, antara lain

      mempertimbangkan      kemampuan     awal   dan   tingkat   perkembangan

      berpikirnya, lingkungan kehidupan siswa, prinsip bahwa siswa harus

      berperan aktif dalam belajarnya dan karasteristik dari pokok bahasan

      matematika yang dipelajari siswa. Pendekatan pembelajaran yang relevan

      dengan pembelajaran matematika yang kontekstual antara lain belajar

      berbasis masalah, belajar berbasis penemuan, belajar berbasis proyek atau

      tugas tersetruktur, belajar berbasis kerja, belajar jasa layanan, belajar

      kooperatif.

      Jika pembelajaran matematika dilaksanakan secara kontekstual sesuai

      dengan ciri-cirinya maka diharapkan belajar matematika menjadi mudah

      dan bermakna bagi siswa sehingga akhirnya diperoleh pengetahuan, pola

      piker, sikap dan ketrampilan matematis yang mampu membekali siswa

      dalam mengatasi permasalahan-permasalahan kehidupannya.

B. Pemilihan Metode Mengajar yang Efektif untuk Sekolah Dasar

          Pembelajaran merupakan kegiatan yang bertujuan, yang banyak

   melibatkan aktivitas siswa dan aktivitas guru. Untuk mencapai tujuan

   pembelajaran diperlukan adanya alternative metode mengajar yang dapat

   dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam prosesnya guru




                                     13
                                                                        14



perlu menggunakan metode mengajar secara bervariasi untuk mencapai tujuan

pembelajaran yang sudah direncanakan sebelumnya.

       Komponen-komponen yang terdapat dalam kurikulum adalah tujuan,

materi pelajaran, metode dan evaluasi. Komponen-komponen tersebut

merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipsahkan. Dengan demikian jelaslah

bahwa antara tujuan pembelajaran dengan metode mengajar memiliki

keterkaitan yang sangat erat. Metode mengajar merupakan salah satu alat

untuk mencapai tujuan pembelajaran.

       Metode mengajar merupakan salah satu komponen yang harus ada

dalam kegiatan pembelajaran. Pada dasarnya metode mengajar ini merupakan

cara atau teknik yang digunakan guru dalam melakukan interaksi dengan

siswa pada saat proses pembelejaran berlangsung.

       Ada beberapa prinsip (Udin S. Winataputra, 2004:4.4) yang perlu

diperhatikan dalam penggunaan metode mengajar ini, prinsip tersebut

terutama berkaitan dengan faktor perkembangan kemampuan siswa,

diantaranya :

1. Metode mengajar harus memungkinkan dapat membangkitkan rasa ingin

   tahu siswa lebih jauh terhadap materi pelajaran (curiosity).

2. Metode mengajar harus memungkinkan dapat memberikan peluang untuk

   berekspresi yang kreatif dalam aspek seni.

3. Metode mengajar harus memungkinkan siswa belajar melalui pemecahan

   masalah.




                                    14
                                                                          15



4. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk selalu ingin menguji

   kebenaran sesuatu (sikap skeptis).

5. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk melakukan penemuan

   (berinkuiri) terhadap sesuatu topik permasalahan.

6. Metode mengajar harus memungkinkan siswa mampu menyimak.

7. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri

   (independent study).

8. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk belajar secara bekerja

   sama (cooperative learning).

9. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk lebih memotivasi

   dalam belajarnya.

Prinsip-prinsip tersebut dalam prosesnya merupakan esensi dan karakteristik

dari masing-masing metode-metode mengajar.

       Penggunaan metode mengajar (Udin S. Winataputra, 2004:4.5) dalam

pembelajaran ditinjau dari segi prosesnya memiliki fungsi-fungsi sbb. :

1. Sebagai alat atau cara untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap

   pembelajaran harus bertujuan, sehingga dalam proses pembelajarannya

   akan memerlukan suatu cara dan teknik yang efektif yang memungkinkan

   dapat mencapai tujuan tersebut.

2. Sebagai gambaran aktivitas yang harus ditempuh oleh siswa dan guru

   dalam kegiatan pembelajaran. Tahapan-tahapan kegiatan belajar mengajar

   pada dasarnya adalah proses atau procedur penggunaan metode-metode

   dengan yang digunakan dalam pembelajaran tersebut.




                                     15
                                                                               16



3. Sebagai    bahan    pertimbangan        dalam   menentukan     alat   penilaian

   pembelajaran.      Karakteristik    metode      mengajar     dapat    dijadikan

   pertimbangan untuk penilaian, misalnya kegiatan pembelajaran yang

   metode ceramah, tanya jawab akan berbeda penilaiannya dengan metode

   demonstrasi atau latihan/praktik.

4. Sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan bimbingan dalam kegiatan

   pembelajaran, apakah dalam kegiatan pembelajaran tersebut perlu

   diberikan bimbingan secara individu atau kelompok.

       Memperhatikan beberapa prinsip dan fungsi metode mengajar di atas,

peneliti berpendapat betapa metode mengajar ini sangat menentukan

keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, guru

dalam melaksanakan pembelajaran harus secara analisis dan fleksibel

menentukan metode apa yang harus digunakan untuk mencapai tujuan

pembelajaran secara efektif dan efisien.

       Setiap pemilihan metode mengajar guru harus mengkaji terhadap

kesesuaian antara perilaku yang diharapkan dalam tujuan dengan metode

mengajar. Kemudian memilih/menentukan metode yang dianggap paling

sesuai dengan tujuan tersebut. Dalam arti dengan metode mengajar tersebut

memungkinkan proses belajar mengajar dapat membentuk kemampuan siswa

sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

       Metode mengajar merupakan sebagai cara yang digunakan guru dalam

membelajarkan siswa agara terjadi interaksi dalam proses pembelajaran.

Setiap metode mengajar masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda




                                      16
                                                                             17



   dalam membentuk pengalaman belajar siswa, tetapi satu dengan lainnya saling

   menunjang.

C. Media dan Proses Pembelajaran

          Kata "Media" menurut Heinich, dkk. ( dalam Udin S. Winataputra,

   2004 : 5.3 ) berasal dari bahasa latin, merupakan bentuk jamak dari kata

   "Medium" yang secara harfiah berarti "Perantara" (between) yaitu perantara

   sumber pesan (source) dengan penerima pesan (receiver). Dalam proses

   pembelajaran, media ini dapat diartikan sebagai berikut :

   1. Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan

      pembelajaran (Schramm, 1997).

   2. Sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku,

      film, video, slide, dan sebagainya. (Briggs, 1997).

   3. Sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang dengar, termasuk

      teknologi perangkat kerasnya (NEA, 1969).

          Dengan memperhatikan beberapa pengertian di atas, dapat ditarik

   kesimpulan bahwa : 1) media pembelajaran merupakan wahana dari pesan/

   informasi yang oleh sumber pesan (guru) ingin diteruskan kepada penerima

   pesan (siswa); 2) pesan atau bahan ajar yang disampaikan adalah pesan/ materi

   pembelajaran; 3) tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar

   pada diri siswa.

          Kegiatan    belajar   -mengajar    (pembelajaran)    pada   hakikatnya

   merupakan proses komunikasi. Dalam proses komunikasi ini guru berperan

   sebagai komunikator (communicator) yang akan menyampaikan pesan/bahan




                                       17
                                                                           18



ajar (message) kepada siswa sebagai penerima pesan (communicant). Agar

pesan atau bahan ajar yang disampaikan guru dapat diterima oleh siswa maka

diperlukan wahana penyalur pesan yaitu media pembelajaran. Apabila proses

tersebut divisualisasikan akan nampak pada bagan berikut :



 Communicator              Message             MEDIA           Communican
 (Guru/pendidik          (Bahan Ajar)                            (Siswa)




Proses belajar dengan media akan terjadi apabila ada komunikasi antara

penerima pesan dengan sumber/penyalur pesan lewat media tersebut.

       Media pembelajaran yang dirancang dengan baik dapat merangsang

timbulnya proses/dialog mental pada diri siswa. Dengan perkataan lain, terjadi

komunikasi antara siswa dengan media atau secara tidak langsung tentunya

antara siswa dengan penyalur pesan (guru), dengan demikian kita dapat

mengatakan bahwa proses belajar-mengajar telah terjadi. Media pembelajaran

tersebut berhasil menyalurkan pesan/bahan ajar apabila kemudian terjadi

perubahan tingkah laku (behavioral change) pada diri si belajar (siswa).

       Media ini sangat penting sehingga harus dijadikan sebagai bagian tak

terpisahkan (integral) dalam proses pembelajaran dan sangat berpengaruh

terhadap perubahan perilaku siswa, dengan beberapa alasan di bawah ini :

1. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran akan

   lebih berhasil bila siswa aktif dalam pembelajaran tersebut. Dengan

   perkataan lain, yang menjadi pusat kegiatan dalam kegiatan pembelajaran




                                    18
                                                                        19



   bukanlah guru melainkan siswa. Hal ini mengandung pengertian perlunya

   berbagai media sebagai fasilitas belajar.

2. Banyak temuan penelitian yang mengungkapkan keandalan media

   pembelajaran, diantaranya yang dilakukan oleh British Audio-Visual

   Association bahwa rata-rata jumlah informasi yang diperoleh seseorang

   melalui indera menunjukkan komposisi sebagai berikut :

   75 % melalui indera penglihatan (visual)

   13 % melalui indera pendengaran (auditori)

   6 % melalui indera sentuhan dan perabaan.

   6 % melalui indera penciuman dan lidah.

   Dari hasil temuan ini dapat diketahui bahwa pengetahuan seseorang paling

   banyak diperoleh secara visual atau melalui indera penglihatan, padahal

   umumnya kita masih menganut pembelajaran tradisional, artinya sebagian

   besar bahan ajar disampaikan secara verbal dengan mengandalkan indera

   pendengaran. Kondisi seperti ini tentu saja kurang menguntungkan dalam

   pencapaian tujuan pembelajaran.

Nilai-nilai yang dimiliki media pembelajaran antara lain:

a) Membuat kongkret konsep yang abstrak, misalnya untuk menjelaskan

   sistem peredaran darah, arus listrik dan sebagainya.

b) Membawa objek yang berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan

   belajar seperti binatang-binatang buas, penguin dari kutub utara dan

   sebagainya.




                                    19
                                                                       20



c) Menampilkan objek yang terlalu besar, misalnya kapal laut, pesawat

   udara, pasar, candi borobudur, dan sebagainya.

d) Menampilkan objek yang terlalu kecil yang tak dapat diamati dengan mata

   telanjang, seperti bakteri, molekul, atom, virus, dan sebagainya.

e) Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat, misalnya lintasan peluru,

   ledakan dengan slow motion, terlalu lambat misalnya pertumbuhan

   kecambah, mekarnya buna,

f) Memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan lingkungannya,

g) Memungkinkan keseragaman pengamatan atau persepsi belajar siswa,

h) Membangkitkan motivasi belajar,

i) Memberi kesan perhatian individual untuk seluruh anggota kelompok

   belajar,

j) Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun

   menurut kebutuhan,

k) Menyampaikan informasi belajar secara serempak mengatasi waktu dan

   ruang,

l) Mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.

       Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai tujuan

pembelajaran agar mudah dipahami oleh siswa, maka sangat diperlukan media

pembelajaran.




                                    20
                                                                           21



                                   BAB III

                       PELAKSANAAN PERBAIKAN

A. Subjek Penelitian

          Perbaikan pembelajaran dilaksanakan di kelas V SD Negeri Prigi 2

   Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Kebonagung Kabupaten Demak. Pada

   tanggal 29 Januari 2007 sampai 13 Februari 2007. Adapun jadwal pelaksanaan

   perbaikan pembelajaran Matematika tentang “Luas Daerah Lingkaran “ di

   kelas V SD Negeri Prigi 2 Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Kebonagung

   Kabupaten Demak adalah sebagai berikut :

    Tanggal 30 Januari 2007 pelaksanaan siklus I.

    Tanggal 13 Februari 2007 pelaksanaan siklus II.

          SD Negeri Prigi 2 Kecamatan Kebonagung Kabupaten Demak

   merupakan pendidikan formal yang termasuk pada jenjang pendidikan dasar

   yang merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan

   menengah. Sekolah ini berdiri pada tahun 1982 terletak di desa Prigi

   Kecamatan Kebonagung Kabupaten Demak, kurang lebih 3 km dari pusat

   pemerintahan Kecamatan Kebonagung.

          Situasi dan kondisi SD Negeri Prigi 2 berada yang jauh dari kota

   menyebabkan lingkungan belajarnya terasa aman, tenang dan nyaman. Akan

   tetapi sebagian besar orang tua siswa bekerja sebagai petani dan buruh yang

   tingkat pendidikannya rendah, sehingga tidak banyak tahu dunia pendidikan

   yang berdampak kurangnya perhatian terhadap siswa sehingga mempengaruhi

   keberhasilan pendidikan di SD Negeri Prigi 2.




                                      21
                                                                            22



          Sebagai lembaga pendidikan formal SD Negeri Prigi 2 melaksanakan

   peran dan fungsinya dengan optimal yang didukung oleh beberapa pedoman

   dan kebijakan pemerintah guna merumuskan berbagai kebijakan sekolah

   berkaitan dengan pengembangan dan pemberdayaan sumber daya sekolah

   yang meliputi anggaran sekolah dan masyarakat sekitar maupun potensi lain

   yang ada di sekolah. Yaitu sekolah merumuskan dan melaksanakan program

   manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah yang dibuat sendiri oleh semua

   warga sekolah. Dalam hal ini sekolah mempunyai kemandirian (kewenangan)

   yang lebih besar dalam menentukan kebijakan dalam pengelolaan sekolah

   yang meliputi sarana peningkatan mutu, menyusun rencana peningkatan mutu,

   melaksanakan dan mengevaluasi pelaksanaan peningkatan mutu yang

   dirumuskan dalam wujud visi dan misi sekolah. Dengan pola MPMBS

   (Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah) menjadikan SD Negeri

   Prigi 2 ini merupakan unit pelaksana teknis yang diberikan kemandirian untuk

   pengelolaan proses pendidikan, sedang unit-unit di atasnya merupakan

   pendukung dan pelayan sekolah, khususnya dalam pengelolaan peningkatan

   mutu pendidikan.

B. Deskripsi per Siklus

       Langkah-langkah yang ditempuh guru dalam perbaikan Matematika

   tentang “Luas Daerah Lingkaran “ di kelas V SD Negeri Prigi 2 Cabang

   Dinas Pendidikan Kecamatan Kebonagung Kabupaten Demak adalah sebagai

   berikut :

   SIKLUS I




                                      22
                                                                               23



1. Perencanaan

    Mengidentifikasi dan merumuskan dengan cara efektif dalam proses

        pembelajaran menggunakan metode diskusi.

    Merancang alat peraga berupa model luas lingkaran dan segitiga untuk

        pembelajaran luas daerah lingkaran.

2. Pelaksanaan

   Melaksanakan perbaikan pembelajaran dengan langkah-langkah secara

   umum:

   SIKLUS I

   a. Sebelum mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa terlebih dahulu

        diberi tugas untuk mempelajari luas segitiga yang sudah dibahas

        sebelumnya sebagai materi prasyarat.

   b.    Memberikan motivasi dengan menjelaskan pentingnya materi ini

        untuk   memahami      materi        selanjutnya   dan   manfaatnya   untuk

        memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

   c. Menyampaikan tujuan pembelajaran.

   d. Mengajukan pertanyaan sebagai apersepsi.

   e. Guru membentuk kelompok kerja siswa secara heterogen menurut

        kemampuan, gender, agama, etnis, dll. dengan anggota tiap kelompok

        terdiri 5 orang.

   f. Siswa bekerja kelompok mendiskusikan lembar kerja siswa tentang

        luas daerah lingkaran dengan bantuan alat peraga.

   g. Melaksanakan diskusi kelas untuk memvalidasi hasil kerja kelompok.




                                       23
                                                                            24



   h. Setiap kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Kelompok yang

        lain memberikan tanggapan. Guru memvalidasi hasil disertai

        pemberian simpulan.

   i.   Mengadakan evaluasi, penilaian, dan analisis.

   j.   Melaksanakan tindak lanjut dengan melaksanakan perbaikan dan

        pengayaan.

3. Observasi

       Teman sejawat (observer) mengamati pelaksanaan/berlangsunya

        pembelajaran.

       Observer mengamati hasil ulangan siswa pada akhir pelajaran.

4. Refleksi

   Refleksi dimaksud untuk mencatat semua temuan dalam pembelajaran

   baik kelemahan maupun kelebihan yang ada pada perbaikan pembelajaran

   siklus I, untuk ditindaklanjuti pada perbaikan pembelajaran siklus II.

SIKLUS II

1. Perencanaan

   Mengidentifikasi dan merumuskan dengan cara efektif dalam proses

   pembelajaran menggunakan metode latihan berulang.

2. Pelaksanaan

   Melaksanakan perbaikan pembelajaran dengan langkah-langkah secara

   umum:

   SIKLUS II

   a. Guru mengubah metode diskusi menjadi metode latihan berulang.




                                    24
                                                                              25



   b. Guru memotivasi siswa yang mengalami kesulitan agar bertanya

       kepada guru atau temannya yang mampu.

   c. Guru meminta beberapa siswa secara bergiliran untuk mengerjakan

       soal di depan kelas.

   d. Guru menjelaskan cara mencari luas lingkaran berdasarkan kegiatan

       yang dilakukan siswa.

   e. Memberikan evaluasi pada akhir pelajaran.

   f. Menganalisa hasil tes.

   g. Melaksanakan tindak lanjut dengan melaksanakan perbaikan dan

       pengayaan.

3. Observasi

      Teman sejawat (observer) mengamati pelaksanaan/berlangsunya

       pembelajaran.

      Observer mengamati hasil ulangan siswa pada akhir pelajaran.

4. Refleksi

   Refleksi dimaksud untuk mencatat semua temuan dalam pembelajaran

   baik kelemahan maupun kelebihan yang ada pada perbaikan pembelajaran

   siklus II, untuk ditindaklanjuti pada perbaikan pembelajaran siklus III.

   *   Teman sejawat (observer) mengamati jalannya pembelajaran.

   *   Teman sejawat (observer) mencatat jalannya pembelajaran.

   Pelaksanaan perbaikan yang peneliti laksanakan diamati oleh teman

   sejawat.




                                    25
                                                                       26



          Sesuai dengan masalah yang dihadapi guru yaitu rendahnya tingkat

  pemahaman siswa terhadap pembelajaran Matematika tentang luas daerah

  lingkaran dengan menggunakan metode diskusi dan latihan berulang

  dengan alat peraga model luas lingkaran dan segitiga dapat lebih

  meningkatkan pemahaman siswa pada pembelajaran Matematika di kelas

  V SD Negeri Prigi 2 Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Kebonagung

  Kabupaten Demak.

                   Adapun prosedur khusus yang menjadi perhatian penulis

  dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran Matematika antara lain :

  Memberikan latihan berulang atau drill tentang materi pelajaran dengan

  sistem tanya jawab yang dipandu oleh guru.

C. Hal yang Unik

          Hal yang unik pada saat perbaikan pembelajaran siklus I muncul

   pertanyaan dari siswa, “Pak, apakah cara mencari luas bidang yang

   berbentuk oval sama dengan mencari luas lingkaran yang Bapak

   terangkan ?”.

          Hal yang unik pada saat perbaikan pembelajaran siklus II, ada

   salah satu siswa naik mejanya karena merasa dapat mengerjakan soal yang

   diberikan guru untuk dikerjakan di papan tulis, tetapi ia tidak ditujuk

   untuk mengerjakan.




                                  26
                                                                              27



                                   BAB IV

                HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi per Siklus

             Di bawah ini hasil pengolahan data evaluasi sebelum perbaikan,

   perbaikan siklus I, dan perbaikan siklus II mata pelajaran Matematika dengan

   materi Luas Daerah Lingkaran disajikan pada tabel 1, 2, 3 dan gambar grafik

   diagram batang sbb. :

   Tabel 1 : Hasil Evaluasi Sebelum Perbaikan

     No       Rentang Nilai       Jumlah Siswa       Prosentase    Keterangan

      1          40 - 46                      1

      2          47 - 53                      5
                                                                      Tidak
      3          54 - 60                      9         76 %
                                                                      Tuntas
      4          61 - 67                      3

      5          68 - 74                      1

      6          75 - 81                      6         24 %          Tuntas

              Jumlah                      25          100   %



   Dari Tabel 1 diketahui bahwa siswa yang tuntas belajar hanya 6 siswa dari 25

   siswa atau 24 %, 19 siswa yang lain dinyatakan tidak tuntas atau 76 %. Untuk

   memperjelas tabel 1 hasil evaluasi sebelum perbaikan, di bawah ini disajikan

   gambar grafik diagram batang sbb. :




                                         27
                                                                                    28




                80
   Prosentase
                60

                40                                                      Prosentase
                20
                 0
                         Tidak Tuntas             Tuntas
                               Ketuntasa Belajar


                 Gambar 1 : Grafik ketuntasan belajar sebelum perbaikan

Tabel 2 : Hasil Evaluasi Perbaikan Siklus I

  No                 Rentang Nilai   Jumlah Siswa          Prosentase    Keterangan

   1                   59 - 65             1                 48 %          Tidak

                                                                           Tuntas
   2                   66 - 72            11

   3                   73 - 79                -

   4                   80 - 86             4

   5                   87 - 93             7                 52 %          Tuntas

   6                   94 - 100            2

                     Jumlah               25                100   %



Dari Tabel 2 diketahui bahwa telah terjadi peningkatan hasil belajar dari

sebelum perbaikan, siswa tuntas belajar dengan nilai rata-rata 7,5 meningkat




                                         28
                                                                                     29



menjadi 13 siswa atau 52 %. Untuk memperjelas tabel 2 hasil evaluasi

perbaikan Siklus I, di bawah ini disajikan gambar grafik diagram batang sbb. :


                 54
   Prosentase



                 52

                 50                                                     Prosentase
                 48

                 46
                        Tidak Tuntas                Tuntas
                             Ketuntasan Belajar

                        Gambar 2 : Grafik ketuntasan belajar Siklus I

Tabel 3 : Hasil Evaluasi Perbaikan Pembelajaran Siklus II Kelas V Semester II

                mata pelajaran Matematika materi Luas Lingkaran sbb.:

  No                Rentang Nilai      Jumlah Siswa          Prosentase    Keterangan

   1                  59 - 65                   1              20 %          Tidak

                                                                             Tuntas
   2                  66 - 72                   4

   3                  73 - 79                   -

   4                  80 - 86                10                80 %          Tuntas

   5                  87 - 93                   6

   6                  94 - 100                  4

                   Jumlah                    25               100   %




                                           29
                                                                             30



Dari tabel 3 diketahui bahwa pada perbaikan siklus II siswa yang mengalami

tuntas belajar meningkat menjadi 20 siswa dari seluruh jumlah siswa 25 atau

80 %. Untuk memperjelas tabel 2 hasil evaluasi perbaikan Siklus I, di bawah

ini disajikan gambar grafik diagram batang sbb. :


                100
                 80
   Prosentase




                 60
                                                                    Prosentase
                 40
                 20
                  0
                        Tidak Tuntas            Tuntas
                             Ketuntasan Belajar

                       Gambar 3 : Grafik ketuntasan belajar Siklus II

                Dari Tabel dan gambar 1, 2, dan 3 diketahui bahwa pada perbaikan

siklus I terjadi kenaikan siswa tuntas belajar sebanyak 7 siswa atau 28 % dari

pembelajaran sebelum perbaikan, dan pada perbaikan pembelajaran siklus II

terjadi peningkatan siswa tuntas belajar sebanyak 7 siswa atau 28 % dari

perbaikan pembelajaran siklus I. Untuk Lebih jelasnya, disajikan dalam

bentuk gambar grafik diagram batang Ketuntasan Belajar Mata Pelajaran

Matematika Kelas V Semester II SD Negeri Prigi 2 Cabang Dinas Pendidikan

Kecamatan Kebonagung Kabupaten Demak sbb. :




                                          30
                                                                                          31




                                                    Persentase
      Siswa Tuntas Belajar dalam
                                   90
                                   80
                                   70
                                   60
                Persen




                                   50
                                                                             Persentase
                                   40
                                   30
                                   20
                                   10
                                    0
                                                      Siklus I


                                                                 Siklus II
                                        Perbaikan
                                        Sebelum




                                         Tahap Perbaikan


 Gambar 4 : Grafik ketuntasan belajar sebelum perbaikan, Siklus I, dan Siklus II

B. Pembahasan dari Setiap Siklus

                    Pada pembelajaran sebelum perbaikan peneliti hanya mengandalkan

   metode ceramah dengan menyisipkan sedikit tanya jawab, dan media belajar

   peneliti kesampingkan, sehingga hasil yang peneliti capai pada pembelajaran

   tersebut siswa yang tuntas belajar atau memperoleh nilai 7,5 ke atas hanya 6

   siswa atau 24 %. Dari hasil tersebut peneliti bermaksud untuk meningkatkan

   pemahaman Matematika materi tentang luas daerah lingkaran kelas V SD

   Negeri Prigi 2 dengan melaksanakan perbaikan pembelajaran dengan pola

   PTK pada pembelajaran berikutnya.




                                                            31
                                                                        32



       Pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I,peneliti melaksanakannya

mulai dari menyusun rencana perbaikan pembelajaran, menggunakan media

pembelajaran yaitu berupa alat peraga model luas lingkaran dengan segitiga

dengan metode diskusi.

Media pembelajaran sangat penting sehingga harus dijadikan sebagai bagian

tak terpisahkan (integral) dalam proses pembelajaran dan sangat berpengaruh

terhadap perubahan perilaku siswa karena :

1. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran akan

   lebih berhasil bila siswa aktif dalam pembelajaran tersebut. Dengan

   perkataan lain, yang menjadi pusat kegiatan dalam kegiatan pembelajaran

   bukanlah guru melainkan siswa. Hal ini mengandung pengertian perlunya

   berbagai media sebagai fasilitas belajar.

2. Banyak temuan penelitian yang mengungkapkan keandalan media

   pembelajaran, diantaranya yang dilakukan oleh British Audio-Visual

   Association bahwa rata-rata jumlah informasi yang diperoleh seseorang

   melalui indera menunjukkan komposisi sebagai berikut :

   75 % melalui indera penglihatan (visual)

   13 % melalui indera pendengaran (auditori)

   6 % melalui indera sentuhan dan perabaan.

   6 % melalui indera penciuman dan lidah.

   Dari hasil temuan ini dapat diketahui bahwa pengetahuan seseorang paling

   banyak diperoleh secara visual atau melalui indera penglihatan, padahal

   umumnya kita masih menganut pembelajaran tradisional, artinya sebagian




                                    32
                                                                          33



   besar bahan ajar disampaikan secara verbal dengan mengandalkan indera

   pendengaran. Kondisi seperti ini tentu saja kurang menguntungkan dalam

   pencapaian tujuan pembelajaran.

Setelah pelaksanaan tes formatif peneliti nilai dan analisis, ternyata proses

perbaikan pembelajaran siklus I dapat meningkatkan pemahaman materi

tersebut pada siswa yaitu siswa yang mengalami tuntas belajar atau

memperoleh nilai 7,5 ke atas menjadi 13 siswa dari 25 siswa seluruhnya atau

52 %. Sedangkan sisanya memperoleh nilai 60 sampai dengan 70.

       Setelah peneliti melakukan refleksi pada perbaikan pembelajaran

siklus I dan mengamati hasil observasi dari teman sejawat, peneliti dapat

mengetahui beberapa kelemahan yang telah peneliti lakukan pada proses

perbaikan pembelajaran siklus I diantaranya yaitu penjelasan yang peneliti

lakukan masih terlalu cepat dan penggunaan metode diskusi dalam

pembelajaran kurang tepat.

       Berpijak dari refleksi dan hasil observasi teman sejawat di atas,

peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus II dengan mengubah

metode diskusi menjadi latihan berulang atau metode drill, menyimpulkan

materi pembelajaran, mengadakan penguatan pemahaman siswa, dan

memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya tentang materi

pembelajaran yang belum mereka kuasai. Metode diskusi kurang tepat

diterapkan pada pembelajaran ini karena metode diskusi mempunyai beberapa

kelemahan, (Udin S. Winataputra, 2004:4.20) antara lain : relatif memerlukan

waktu yang banyak, apabila siswa tidak memahami konsep dasar diskusi tidak




                                   33
                                                                            34



efektif, terdapat perbedaan kemampuan perbendaharaan bahasa, dan apabila

guru tidak dapat membimbing diskusi tidak efektif. Metode latihan berulang

yang juga disebut metode drill adalah suatu cara yang baik untuk

menanamkan kebiasaan tertentu dan menambah kecepatan, ketepatan,

kesempurnaan dalam melakukan sesuatu serta dapat pula dipakai sebagai

suatu cara mengulangi bahan yang telah disajikan. Oleh karena itu, peneliti

berpendapat metode latihan berulang ini sangat sesuai untuk diterapkan pada

pembelajaran ini. Setelah evaluasi tes pembelajaran siklus II berakhir,

kemudian peneliti nilai dan analisis ternyata hasilnya dapat lebih meningkat

lagi. Yaitu siswa tuntas belajar dengan nilai 7,5 ke atas menjadi 20 siswa dari

25 siswa jumlah seluruhnya atau 80 %. Siswa yang belum tuntas belajar ada 5

siswa atau 20 %. Mereka memperoleh nilai antara 60 sampai dengan 70 atau

terjadi peningkatan pemahaman siswa sebanyak 7 siswa atau terjadi

peningkatan pemahaman sebanyak 28 % pada perbaikan pembelajaran siklus

II. Setelah peneliti telusuri, 5 siswa dari 25 siswa atau 20 % belum tuntas,

karena mereka dari kalangan orang tua yang tidak mampu sehingga orang

tuanya tidak peduli dengan pendidikan anaknya.




                                    34
                                                                            35



                                   BAB V

                  KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT

A. Kesimpulan

         Pada perbaikan pembelajaran siklus I kami menggunakan media

   pembelajaran model luas lingkarang dan segitiga dan metode diskusi. Hasil

   dari tes formatif siklus I menunjukkan bahwa pemahaman siswa tentang

   materi luas daerah lingkaran di kelas V SD Negeri Prigi 2 Cabang Dinas

   Pendidikan Kecamatan Kebonagung Kabupaten Demak dapat lebih meningkat

   yaitu jumlah siswa tuntas belajar dengan nilai 7,5 ke atas dapat meningkat

   menjadi 13 siswa dari 25 siswa seluruhnya atau sebesar 52 %.

         Pada perbaikan pembelajaran siklus II kami mengubah metode diskusi

   menjadi metode latihan berulang atau metode drill. Dari hasil tes formatif

   perbaikan pembelajaran siklus II tercatat bahwa siswa yang tuntas belajar

   dengan nilai 7,5 ke atas meningkat menjadi 20 siswa dari 25 siswa seluruhnya

   atau 80 %, sedang 5 siswa lainnya memperoleh nilai 60 dan 70.

         Jadi dengan menggunakan media pembelajaran berupa alat peraga

   model luas lingkaran dan segitiga serta metode didkusi dan latiihan berulang

   atau drill yang peneliti laksanakan dapat lebih meningkatkan pemahaman

   siswa tentang materi pembelajaran luas daerah lingkaran di kelas V SD Negeri

   Prigi 2 Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Kebonagung Kabupaten Demak.

B. Saran dan Tindak Lanjut

   1. Saran

       a. Untuk Guru




                                      35
                                                                         36



              Agar pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran lebih

       meningkat guru hendalnya lebih mengembangkan kreatifitas dalam

       mengajar termasuk di dalamnya memilih metode yang efektif dan

       menggunakan media pembelajaran yang tepat sehingga siswa tidak

       merasa bosan dan abstrak. Penggunaan media pembelajaran yang

       dapat memotivasi siswa lebih tertarik dalam proses pembelajaran,

       misalnya dengan cara menggunakan benda-benda nyata di sekitar

       lingkungan atau membuat benda tiruan/model yang telah dipersiapkan

       guru sesuai dengan pembelajaran yang disajikan.

   b. Untuk pengambil kebijaksanaan di bidang pendidikan

                   Laporan ini dapat dijadikan bahan diskusi dalam Kegiatan

       Kelompok Kegiatan Guru (KKG), serta dapat dijadikan sebagai bahan

       referensi untuk mengambil kebijakan.

2. Tindak Lanjut

          Laporan PKP dengan pola penelitian tindakan kelas dapat menjadi

   acuan dalam perbaikan pembelajaran di SD di mana peneliti mengajar.




                                   36
                                                                          37



                            DAFTAR PUSTAKA

Hadi, Sutarto. (2000). Teori Matematika Realistik – The Second Tryout of RME-

         based INSET 2000, Nederland : University of Twente, Makalah dalam

         Diklat Fungsional Guru SD/MI Pengampu Mata Pelajaran Matematika

         Kabupaten Demak Tanggal 3 s.d. 15 Agustus 2004 di LPMP Semarang

Marsudi Raharjo. (2001). Hands On Mathematics (Matematika dengan Sentuhan

         Tangan) Untuk Sekolah Menengah, Makalah dalam Pelatihan Supervisi

         Pembelajaran Matematika SLTP/SMU tanggal 30 September s.d. 14

         Oktober 2001 di PPPG Matematika Yogyakarta

Mulyadi HP, M.Pd. (2004). Matematika Kontekstual, Makalah dalam Diklat

         Fungsional Guru SD/MI Pengampu Mata Pelajaran Matematika

         Kabupaten Demak Tanggal 3 s.d. 15 Agustus 2004 di LPMP Semarang

Nur Muhammad. (2000). Realistic Mathematics Education ( Pendidikan

         Matematika Realistik), Makalah dalam seminar tentang Contextual

         Learning dalam Pendidikan Matematika.

Suwarsono St. (2002). Teori-teori Perkembangan Kognitif dalam Proses

         Pembelajaran yang Relevan untuk Pembelajaran Matematika. Makalah

         dalam Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi untuk Guru Mata

         Pelajaran Matematika di PPPG Matematika oleh Direkturat SLTP

         Jakarta.

Udin S. Winataputra. (2004). Setrategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas

         Terbuka.

Ulihbukit Karo-Karo. (1984). Metodologi Pengajaran. Salatiga.




                                      37
Lampiran : 1                                                             38



         REFLEKSI SEBELUM PERBAIKAN PEMBELAJARAN



               Mata Pelajaran             : Matematika

               Aspek                      : Geometri dan Pengukuran

               Materi                     : Luas Daerah Lingkaran

               Kelas/Semester             : V/2

               Pelaksanaan                : Selasa, 30 Januari 2007




A. REFLEKSI

   1. Setelah melaksanakan proses pembelajaran Matematika dengan materi

      Luas Daerah Lingkaran, sebagian siswa belum dapat menentukan luas

      lingkaran.

   2. Siswa belum dapat menentukan luas lingkaran karena belum mengetahui

      cara mencari luas lingkaran.

B. PERMASALAHAN

   1. Siswa belum memahami materi pembelajaran karena :

       a. Kurangnya alat peraga yang digunakan guru.

       b. Metode yang digunakan guru didominasi metode ceramah.

   2. Cara mengatasi masalah

       a. Mempersiapkan dan menggunakan alat peraga model luas lingkaran dan

          segitiga.

       b. Merubah metode ceramah menjadi metode diskusi.




                                     38
                                                                     39



C. IDENTIFIKASI

  1. Siswa yang memperoleh nilai 7,5 ke atas hanya 6 siswa dari 25 siswa

     seluruhnya.

  2. Siswa mengalami kesulitan tentang menentukan luas lingkaran.

D. FOKUS YANG AKAN DIPERBAIKI

  1. Menyediakan dan menggunakan alat peraga model luas lingkaran dan

     segitiga.

  2. Menggunakan metode diskusi.




                                   39
Lampiran : 2                                                          40



                RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN

                                SIKLUS I



               Mata Pelajaran            : Matematika

               Aspek                     : Geometri dan Pengukuran

               Materi                    : Luas Daerah Lingkaran

               Kelas/Semester            : V/2

               Waktu                     : 2 x 40 menit

               Pelaksanaan               : Selasa, 30 Januari 2007




A. Standar Kompetensi

   Melakukan pengukuran, menentukan unsure dan sifat bangun ruang dan

   menggunakannya dalam pemecahan masalah.

B. Kompetensi Dasar

   Melakukan pengukuran dan menggunakannya dalam pemecahan masalah.

C. Hasil Belajar

   Menurunkan dan menentukan luas bangun datar dan volume bangun ruang

   sederhana

D. Indikator

   1. Menentukan luas daerah lingkaran dengan memanfaatkan rumus luas

       daerah segitiga.

   2. Menemukan secara praktis rumus daerah lingkaran.




                                    40
                                                                        41



   3. Menggunakan rumus lingkaran untuk memecahkan masalah.

E. Tujuan Perbaikan Pembelajaran

   Dengan alat peraga model luas lingkaran dan segitiga dan metode diskusi,

   siswa dapat menentukan luas lingkaran dengan benar.

F. Materi Pokok

   Luas lingkaran.

   Daerah lingkaran yang berjari-jari r, luasnya (L) adalah :

                                       L = r 2

G. Media Pembelajaran

   a. Alat peraga model luas lingkaran dan segitiga.

   b. Lembar Kerja Siswa (LKS).

H.. Strategi Pembelajaran

      Metode

           Strategi         : cooperative learning , tipe : STAD.

           Pendekatan       : Konsep

           Metode           : Diskusi.

           Sumber           : Buku Matematika 5 Balai Pustaka

      Langkah-langkah

      1. Pra Kegiatan Belajar Mengajar

          Sebelum mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa terlebih dahulu

          diberi tugas untuk mempelajari luas segitiga yang sudah dibahas

          sebelumnya sebagai materi prasyarat.

      2. Kegiatan Awal (5 menit)




                                        41
                                                              42



a. Memberikan motivasi dengan menjelaskan pentingnya materi ini

   untuk memahami materi selanjutnya dan manfaatnya untuk

   memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

b. Menyampaikan tujuan pembelajaran.

c. Apersepsi :

   1. Disajikan gambar bangun segitiga ABC.

                      C




                  A       D    B

   Ditanyakan :

    Apa bentuk bangun tersebut ? (bangun segitiga)

    AB disebut apa ? ( alas )

    CD disebut apa ? (tinggi)

    Jika AB = a, dan CD = t, berapa luas bangun tersebut ?

            ( L = 0,5 x a x t )

   2. Disajikan gambar bangun lingkaran berjari-jari r.




   Ditanyakan :




                              42
                                                                          43



        Apa bentuk bangun tersebut ? (lingkaran)

        Berapa panjang jari-jarinya ? ( r )

        Bagaimana menghitung luasnya ?

3. Kegiatan Inti (50 menit)

       a. Guru menulis jawaban siswa di papan tulis atas pertanyaan

           “Bagaimana menghitung luas lingkaran ?”

       b. Guru membentuk kelompok secara heterogen menurut

           kemampuan, gender, agama, etnis dll. Dengan anggota tiap

           kelompok terdiri 5 orang

       c. Diskusi Lembar Kerja Siswa (LKS)

       Siswa bekerja kelompok mendiskusikan lembar kerja siswa

       tentang luas daerah lingkaran dengan bantuan alat peraga , disertai

       pertanyaan berikut :

          Perhatikan model daerah lingkaran yang berjari-jari r dan

           daerah segitiga !

          Pindahkan 16 potong juring lingkaran sehingga menutup

           daerah segitiga.

          Samakah luas daerah lingkaran dengan luas daerah segitiga ?

           (sama)

                                                 1
          Berapa panjang alas segitiga ?    (     keliling lingkaran )
                                                 4

          Berapa tinggi segitiga ? ( 4 x jari-jari lingkaran )

                                             1
          Berapa luas daerah segitiga ? (     x alas x tinggi )
                                             2




                                43
                                                                     44



             Berapa luas daerah lingkaran berjari-jari r ? (sama dengan

              luas segitiga).

       Saat siswa kerja kelompok, guru berkeliling sambil membimbing

       kelompok yang memerlukan bantuan sekaligus melakukan

       penilaian proses.

       d. Melaksanakan diskusi kelas untuk memvalidasi hasil kerja

              kelompok.

       Setiap kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Kelompok

       yang lain memberikan tanggapan. Guru memvalidasi hasil disertai

       pemberian simpulan.

4. Kegiatan Akhir (20 menit)

   a. Pelaksanaan evaluasi formatif.

   b. Pelaksanaan analisa hasil tes formatif (terlampir).

5. Tindak Lanjut (5 menit)

   a. Perbaikan

        Diberikan pada siswa yang memperoleh nilai kurang dari 7,5.

        Pelaksanaan bila waktu tidak mencukupi, tugas diselesaikan di

              rumah dalam bentuk pekerjaan rumah (PR).

   b. Pengayaan

       Diberi tugas untuk mengerjakan soal-soal latihan.

6. Penutup

   Guru memberi pengarahan dan bimbingan pada siswa agar giat

   belajar.




                                 44
                                                                              45



IV. EVALUASI

  A. Prosedur Tes :

     1. Tes awal              : tidak ada

     2. Tes dalam proses      : mengamati keaktifan siswa dalam diskusi.

     3. Tes akhir             : ada, tes formatif

     4. Jenis tes             : tertulis

     5. Bentuk tes            : isian

     6. Alat tes              : naskah soal



     Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat !

     1. Suatu taman berbentuk lingkaran dengan luas 1.386 m 2 , maka jari-jari

         lingkaran tersebut adalah ….

     2. Suatu lingkaran berjari-jari 14 cm, maka luasnya adalah ….

     3. Jika diketahui diameter lingkaran 7 dm, maka luasnya adalah ….

     4. Keliling lingkaran 44 cm, maka luas lingkaran adalah ….

     5. Jika luas lingkaran 154 dm 2 , maka jari-jarinya adalah …




        Mengetahui :                                Prigi, 13 Februari 2007
        Supervisor,                                 Peneliti,



        Drs. DJOKO SRI BIMO, M.Pd.                  NASIKHIN
        NIP     131682456                           NIM 811031713




                                        45
Lampiran : 3                                                                   46



                              LEMBAR KEGIATAN SISWA

                                        SIKLUS I



                Mata Pelajaran              : Matematika

                Aspek                       : Geometri dan Pengukuran

                Materi                      : Luas Daerah Lingkaran

                Kelas/Semester              : V/2

                Waktu                       : 35 menit

                Pelaksanaan                 : Selasa, 30 Januari 2007



   Kegiatan 1

      Perhatikan gambar daerah lingkaran dan daerah segitiga di bawah ini !




      Bandingkan luas daerah lingkaran dan luas daerah segitiga.

       Luas daerah lingkaran ……………. Luas daerah segitiga.

      Luas alas segitiga = …………………………………………..……………

      Tinggi segitiga    = …………………………..…………………………..

      Luas daerah lingkaran = luas daerah segitiga




                                       46
                                                            47



                           = ….. x …… x …..

                           = ….. x …… x …..

                           = ….. x …… x …..

                           = ….. x …… x …..

                           = ………..

 Kesimpulan :

 Luas daerah lingkaran ( L ) yang berjari-jari r adalah :



                L = …………………………..




 Kegiatan 2

 Kerjakan soal di bawah ini !

 Tentukan luas daerah lingkaran di bawah ini !




 Diketahui : ………………………………………...……………………………

 Ditanyakan : ……………………………...…………………………………….

 Penyelesaian : …………………………………………………………………..


Nama Kelompok : …………………………
  1. ………………………….
  2. ………………………….
  3. ………………………….
  4. ………………………….
  5. ………………………….




                                      47
Lampiran : 4                                                                 48



          LEMBAR SOAL TES FORMATIF PEMBELAJARAN

                                  SIKLUS I



               Mata Pelajaran              : Matematika

               Aspek                       : Geometri dan Pengukuran

               Materi                      : Luas Daerah Lingkaran

               Kelas/Semester              : V/2

               Waktu                       : 5 menit

               Pelaksanaan                 : Selasa, 30 Januari 2007



       Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat !

       1. Suatu taman berbentuk lingkaran dengan luas 1.386 m 2 , maka jari-jari

          lingkaran tersebut adalah ….

       2. Suatu lingkaran berjari-jari 14 cm, maka luasnya adalah ….

       3. Jika diketahui diameter lingkaran 7 dm, maka luasnya adalah ….

       4. Keliling lingkaran 44 cm, maka luas lingkaran adalah ….

       5. Jika luas lingkaran 154 dm 2 , maka jari-jarinya adalah …




                                      48
Lampiran : 5                                                                                49



                  LEMBAR ANALISIS HASIL TES FORMATIF

                                       SIKLUS I

                               KELAS IV SEMESTER II



                                                                                       Ketuntasan
          Nama Siswa               Nomor Soal / Skor                                    Belajar
Nomor




                                                                    Jml Skor
                           1   2   3   4   5    6   7   8   9   1                      Ya        Tdk




                                                                               Nilai
                                                                               Skor
                                                                0
1       Ayu Wulandari      V   V   V   V V      V   V -     -   -    7            70   -         V
2       Kasturi            V   V   V     V      V   V V     -   -    7            70   -         V
3       Musafak            V   V   V   V V      V   V V     -   -    8            80   V         -
4       Afif Khoirul A.    V   V   V   V V      V     V     V   V    9            90   V         -
5       Apriandi           V   V   V   V V      V   V V     V   V   10           100   V         -
6       Ahmad Munif        V   V   V   - V      V   V V     -   -    7            70   -         V
7       Agus Budiono       V   V   V   V V      V   - -     -   -    6            60   -         V
8       Ahmad Kholidin     V   V   V   V V      V   V -     -   -    7            70   -         V
9       Ahmad Syakir       V   V   V   V V      V   V V     -   -    8            80   V         -
10      Alfiyah            V   V   V   - V      V   V V     V   V    9            90   V         -
11      Adam Firdaus       V   V   V   V V      V   V V     V   -    9            90   V         -
12      Eko Puji Astutik   V   V   V   V V      V   V V     V   V   10           100   V         -
13      Fahrur Imam        V   V   V   V V      V   V V     V        9            90   V         -
14      Haris Abd. Jabar   V   V   V   - -      -   V V     V   V    7            70   -         V
15      Ida Safitri        V   V   V   V V      -   - V     V   V    8            80   V         -
16      Imam Khanafi       V   V   V   V V      V   - -     -   V    7            70   -         V
17      Miftakhul Janah    V   V   V   V V      V   V V     V   -    9            90   V         -
18      M. Ahsan Fahmi     V   V   V   V V          V V     V   V    9            90   V         -
19      M. Ivan Lathoif    V   V   V   V V      V   V -     -   -    7            70   -         V
20      Nur Anisa          V   V   V   - -      -   V V     V   V    7            70   -         V
21      Nur Syafaati       V   V   V   - V          V V     V   V    8            80   V         -
22      Rusmiyanti         V   V   V   V V      V   V -     -   -    7            70   -         V
23      Siti Ngainun       V   V   V   - V      V   V V     V   V    9            90   V         -
24      Misbakhul M.       V   V   V   V V      V   - V     -   -    7            70   -         V
25      Umi Farida         V   V   V   V V      V   - V     -   -    7            70   -         V
            Jumlah                                                                     13        12

          Prosentase                                                                   52        48




                                           49
Lampiran : 6                                                                 50



                 LEMBAR PERBAIKAN PEMBELAJARAN

                                    SIKLUS I



               Mata Pelajaran                : Matematika

               Aspek                         : Geometri dan Pengukuran

               Materi                        : Luas Daerah Lingkaran

               Kelas/Semester                : V/2

               Waktu                         : 5 menit

               Pelaksanaan                   : Selasa, 30 Januari 2007




       Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat !

       1. Suatu taman berbentuk lingkaran dengan luas 1.386 m 2 , maka jari-jari

           lingkaran tersebut adalah ….

       2. Suatu lingkaran berjari-jari 14 cm, maka luasnya adalah ….

       3. Jika diketahui diameter lingkaran 7 dm, maka luasnya adalah ….

       4. Keliling lingkaran 44 cm, maka luas lingkaran adalah ….

       5. Jika luas lingkaran 154 dm 2 , maka jari-jarinya adalah …




                                        50
Lampiran : 7                                                               51



                          LEMBAR PENGAYAAN

                                 SIKLUS I

               Mata Pelajaran             : Matematika

               Aspek                      : Geometri dan Pengukuran

               Materi                     : Luas Daerah Lingkaran

               Kelas/Semester             : V/2

               Waktu                      : 5 menit

               Pelaksanaan                : Selasa, 30 Januari 2007




Tugas !



Buatlah latihan soal dan jawaban untuk menentukan jari-jari, diameter dan luas

lingkaran !




                                     51
Lampiran : 8                                                                   52



                             LEMBAR OBSERVASI

                                  SIKLUS I



               Mata Pelajaran             : Matematika

               Kelas/Semester             : IV / 2

               Pelaksanaan                : Selasa, 30 Januari 2007

               Tempat                     : SD Negeri Prigi




                                     Kemunculan
                                                              Komentar
No    Aspek yang diobservasiada
                                    Ada    Tidak ada
 1    Pengelolaan kelas                        -      Memperhatikan seluruh
                                                       anak

 2    Penggunaan metode diskusi                -      Kurang lengkap

 3    Penggunaan alat peraga                   -      Menggunakan dan
                                                       kurang efektif

 4    Melatih siswa trampul                    -      Berani tapi ragu-ragu
      bertanya

 5    Membimbing siswa aktif                   -      Siswa menjadi aktif
      dalam diskusi                                    dalam diskusi

 6    Membimbing siswa dalam                   -      Kurang ada bimbingan
      diskusi                                          dari guru

                                          Prigi, 30 Januari 2007
                                          Pengamat,


                                          Moh. Rohmani
                                          NIM 310935527




                                     52
Lampiran : 9                                                                53



                LAPORAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

                                 SIKLUS I



               Mata Pelajaran             : Matematika

               Aspek                      : Geometri dan Pengukuran

               Materi                     : Luas Daerah Lingkaran

               Kelas/Semester             : V/2

               Waktu                      : 2 x 40 menit

               Pelaksanaan                : Selasa, 30 Januari 2007




A. Masalah yang akan diatasi

   1. Penggunaan metode pembelajaran

   2. Penggunaan media pembelajaran

B. Cara Mengatasi

   1. Mengubah metode ceramah menjadi metode diskusi.

   2. Menggunakan alat peraga model Luas lingkaran.dan segitiga .

C. Hasil yang diperoleh

   1. Menunjukkan keberhasilan bila dibandingkan dengan pelaksanaan

       pembelajaran sebelum perbaikan.

   2. Pada pembelajaran sebelum siklus I siswa yang tuntas belajar dengan nilai

       7,5 ke atas ada 6 siswa atau 24 % pada siklus I dengan cara mengubah

       metode dan menggunakan Alat peraga. Hasil tes formatif siklus I




                                     53
                                                                          54



      meningkat, siswa yang mengalami ketuntasan belajar menjadi 13 siswa

      dengan nilai 7,5 atau tuntas 52 % dari 25 siswa seluruhnya.

D. Hal Yang Unik.

   Hal yang unik pada saat perbaikan pembelajaran siklus I muncul pertanyaan

   dari siswa, “Pak, apakah cara mencari luas bidang yang berbentuk oval sama

   dengan mencari luas lingkaran yang Bapak terangkan ?”.




                                      54
Lampiran : 10                                                             55



                         REFLEKSI PEMBELAJARAN

                                 SIKLUS I



                Mata Pelajaran           : Matematika

                Aspek                    : Geometri dan Pengukuran

                Materi                   : Luas Daerah Lingkaran

                Kelas/Semester           : V/2

                Pelaksanaan              : Selasa, 13 Februari 2007

                Tempat                   : SD Negeri Prigi 2 Cabang Dinas

                                            Pendidikan              Kecamatan

                                            Kebonagung Kabupaten Demak



A. REFLEKSI

   1. Setelah melaksanakan proses pembelajaran Matematika dengan materi

      Luas Daerah Lingkaran, sebagian siswa belum dapat menyelesaikan soal

      dengan benar.

   2. Siswa tidak dapat menyelesaikan soal dengan benar, karena belum dapat

      menerapkan mencari luas lingkaran menggunakan rumus.

B. PERMASALAHAN

   1. Siswa belum dapat menyelesaikan soal dengan benar, karena :

      - Metode yang digunakan guru kurang tepat.

   2. Cara mengatasi masalah

      - Mengubah metode diskusi menjadi latihan berulang.




                                    55
                                                                     56



C. IDENTIFIKASI

  1. Siswa yang memperoleh nilai 7,5 ke atas baru 13 siswa dari 25 siswa

      seluruhnya atau 52 %.

  2. Siswa masih mengalami kesulitan tentang menerapkan rumus luas

      lingkaran untuk memecahkan masalah.

D. FOKUS YANG AKAN DIPERBAIKI

  -   Menggunakan metode latihan berulang.




                                   56
Lampiran : 11                                                            57



                 RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN

                                 SIKLUS II



                Mata Pelajaran           : Matematika

                Aspek                    : Geometri dan Pengukuran

                Materi                   : Luas Daerah Lingkaran

                Kelas/Semester           : V/2

                Waktu                    : 2 x 40 menit

                Pelaksanaan              : Selasa, 13 Februari 2007




A. Standar Kompetensi

   Melakukan pengukuran, menentukan unsur dan sifat bangun ruang dan

   menggunakannya dalam pemecahan masalah.

B. Kompetensi Dasar

   Melakukan pengukuran dan menggunakannya dalam pemecahan masalah.

C. Hasil Belajar

   Menurunkan dan menentukan luas bangun datar dan volume bangun ruang

   sederhana

D. Indikator

   -   Menggunakan rumus lingkaran untuk memecahkan masalah.

E. Tujuan Perbaikan

   Siswa dapat menerapkan rumus lingkaran untuk menyelesaikan masalah.




                                    57
                                                                        58



F. Materi Pokok

   Luas lingkaran.

   Daerah lingkaran yang berjari-jari r, luasnya (L) adalah :

                                       L = r 2

G. Media Pembelajaran

   1. Alat peraga luas segitiga dan lingkaran.

   2. Lembar Kerja Siswa (LKS).

H.. Strategi Pembelajaran

   Metode

    Strategi                : cooperative learning .

    Pendekatan       : Konsep

    Metode                  : Latihan berulang.

   Langkah-langkah

   1. Kegiatan Awal (5 menit)

      a. Memberikan motivasi dengan menjelaskan pentingnya materi ini untuk

          memahami materi selanjutnya dan manfaatnya untuk memecahkan

          masalah dalam kehidupan sehari-hari.

      b. Menyampaikan tujuan pembelajaran.

      c. Apersepsi :

          Ditanyakan :

           Bagaimana rumus mencari Luas Lingkaran ?

   2. Kegiatan Inti (50 menit)




                                        58
                                                                           59



     a. Guru meminta beberapa siswa secara bergantian untuk mengerjakan

         soal di depan kelas.

     b. Guru menjelaskan cara mencari Luas Lingkaran berdasarkan kegiatan

         yang dilakukan siswa.

  3. Kegiatan Akhir (20 menit)

     a. Pelaksanaan evaluasi formatif.

     b. Pelaksanaan analisa hasil tes formatif (terlampir).

  4. Tindak Lanjut (5 menit)

     a. Perbaikan

          Diberikan pada siswa yang memperoleh nilai kurang dari 7,5.

          Pelaksanaan bila waktu tidak mencukupi, tugas diselesaikan di

            rumah dalam bentuk pekerjaan rumah (PR).

     b. Pengayaan

         Diberi tugas untuk mengerjakan soal-soal latihan.

  5. Penutup

     Guru memberi pengarahan dan bimbingan pada siswa agar giat belajar.

IV. EVALUASI

  A. Prosedur Tes :

     1. Tes awal                : tidak ada

     2. Tes dalam proses        : mengerjakan tugas/kegiatan.

     3. Tes akhir               : ada, tes formatif

     4. Jenis tes               : tertulis

     5. Bentuk tes              : isian




                                          59
                                                                      60



6. Alat tes               : naskah soal



Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat !

1. Suatu taman berbentuk lingkaran dengan luas 1.386 m 2 , maka jari-jari

    lingkaran tersebut adalah ….

2. Suatu lingkaran berjari-jari 14 cm, maka luasnya adalah ….

3. Jika diketahui diameter lingkaran 7 dm, maka luasnya adalah ….

4. Keliling lingkaran 44 cm, maka luas lingkaran adalah ….

5. Jika luas lingkaran 154 dm 2 , maka jari-jarinya adalah …

Kunci jawaban :

1. 21

2. 616

3. 38,5

4. 154

5. 7



 Mengetahui :                             Prigi,   Februari 2007

 Supervisor,                              Peneliti,




 Drs. DJOKO SRI BIMO, M.Pd.               NASIKHIN

 NIP       131682456                      NIM 811031713




                                 60
Lampiran : 12                                                                61



                         LEMBAR KEGIATAN SISWA

                                  SIKLUS II



                Mata Pelajaran              : Matematika

                Aspek                       : Geometri dan Pengukuran

                Materi                      : Luas Daerah Lingkaran

                Kelas/Semester              : V/2

                Waktu                       : 35 menit

                Pelaksanaan                 : Selasa, 13 Februari 2007



   Kegiatan

   Kerjakan soal di bawah ini !

       1. Suatu taman berbentuk lingkaran dengan luas 1.386 m 2 , maka jari-jari

          lingkaran tersebut adalah ….

       2. Suatu lingkaran berjari-jari 21 cm, maka luasnya adalah ….

       3. Jika diketahui diameter lingkaran 14 dm, maka luasnya adalah ….

       4. Keliling lingkaran 88 cm, maka luas lingkaran adalah ….

       5. Jika luas lingkaran 154 dm 2 , maka jari-jarinya adalah …




                                       61
Lampiran : 13                                                               62



          LEMBAR SOAL TES FORMATIF PEMBELAJARAN

                                  SIKLUS II



                Mata Pelajaran              : Matematika

                Aspek                       : Geometri dan Pengukuran

                Materi                      : Luas Daerah Lingkaran

                Kelas/Semester              : V/2

                Waktu                       : 5 menit

                Pelaksanaan                 : Selasa, 13 Februari 2007



      Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat !

      1. Suatu taman berbentuk lingkaran dengan luas 1.386 m 2 , maka jari-jari

          lingkaran tersebut adalah ….

      2. Suatu lingkaran berjari-jari 3,5 cm, maka luasnya adalah ….

      3. Jika diketahui diameter lingkaran 21 dm, maka luasnya adalah ….

      4. Keliling lingkaran 88 cm, maka luas lingkaran adalah ….

      5. Jika luas lingkaran 154 dm 2 , maka jari-jarinya adalah …




                                       62
Lampiran : 14                                                                             63



                  LEMBAR ANALISIS HASIL TES FORMATIF

                                        SIKLUS II

                               KELAS V SEMESTER II



                                                                                          Ketuntasan
Nomor




          Nama Siswa                   Nomor Soal / Skor                                   Belajar




                                                                       Jml Skor

                                                                                  Nilai
                                                                                  Skor
                           1   2 3       4   5    6   7   8   9   10                      Ya   Tdk

1       Ayu Wulandari      V   V   V     V   V    V   V -     -   -     7          60     -     V
2       Kasturi            V   V   V     -   V    V   V V     -   -     7          70     -     V
3       Musafak            V   V   V     V   V    V   V V     -   -     8          80     V     -
4       Afif Khoirul A     V   V   V     V   V    V     V     V   V    10         100     V     -
5       Apriandi           V   V   V     V   V    V   V V     V   V    10         100     V     -
6       Ahmad Munif        V   V   V     -   V    V   V V     -   -     7          70     -     V
7       Agus Budiono       V   V   V     V   V    V   V -     V   -     8          80     V     -
8       Ahmad Kholidin     V   V   V     V   V    V   V -     -   -     7          70     -     V
9       Ahmad Syakir       V   V   V     V   V    V   V V     -   -     8          80     V     -
10      Alfiyah            V   V   V     -   V    V   V V     V   V     9          90     V     -
11      Adam Firdaus       V   V   V     V   V    V   V V     V   -     9          90     V     -
12      Eko Puji Astutik   V   V   V     V   V    V   V -     V   V     9          90     V     -
13      Fahrur Imam        V   V   V     V   V    V   V V     V   V    10         100     V     -
14      Haris A.Jabar      V   V   V     -   -    -   V V     V   V     7          70     -     V
15      Ida Safitri        V   V   V     V   V    -   - V     V   V     8          80     V     -
16      Imam Khanafi       V   V   V     V   V    V   V -     -   V     8          80     V     -
17      Miftakhul Janah    V   V   V     V   V    V   V V     V   -     9          90     V     -
18      M. Ahsan Fahmi     V   V   V     V   V        V V     V   V     9          90     V     -
19      M. Ivan Lathoif    V   V   V     V   V    V   V -     V   -     8          80     V     -
20      Nur Anisa          V   V   V     -   V    -   V V     V   V     8          80     V     -
21      Nur Syafaati       V   V   V     -   V    V   V V     V   -     8          80     V     -
22      Rusmiyanti         V   V   V     V   V    V   V -     -   V     8          80     V     -
23      Siti Ngainun N.    V   V   V     -   V    V   V V     V   V     9          90     V     -
24      M. Munir           V   V   V     V   V    V   V V     -   -     8          80     V     -
25      Umi Farida         V   V   V     V   V    V   V V     V   V    10         100     V     -
            Jumlah                                                                        20     5

          Prosentase                                                                      80    20




                                             63
Lampiran : 15                                                               64



                  LEMBAR PERBAIKAN PEMBELAJARAN

                                  SIKLUS II



                Mata Pelajaran              : Matematika

                Aspek                       : Geometri dan Pengukuran

                Materi                      : Luas Daerah Lingkaran

                Kelas/Semester              : V/2

                Waktu                       : 5 menit

                Pelaksanaan                 : Selasa, 13 Februari 2007




      Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat !

      1. Suatu taman berbentuk lingkaran dengan luas 1.386 m 2 , maka jari-jari

          lingkaran tersebut adalah ….

      2. Suatu lingkaran berjari-jari 14 cm, maka luasnya adalah ….

      3. Jika diketahui diameter lingkaran 7 dm, maka luasnya adalah ….

      4. Keliling lingkaran 44 cm, maka luas lingkaran adalah ….

      5. Jika luas lingkaran 154 dm 2 , maka jari-jarinya adalah …




                                       64
Lampiran : 16                                                              65



                           LEMBAR PENGAYAAN

                                 SIKLUS II



                Mata Pelajaran            : Matematika

                Aspek                     : Geometri dan Pengukuran

                Materi                    : Luas Daerah Lingkaran

                Kelas/Semester            : V/2

                Waktu                     : 5 menit

                Pelaksanaan               : Selasa, 13 Februari 2007



Tugas !



Buatlah latihan soal dan jawaban untuk menentukan jari-jari, diameter dan luas

lingkaran !




                                     65
                                                                               66



                           LEMBAR OBSERVASI

                                 SIKLUS II



            Mata Pelajaran                : Matematika

             Kelas/Semester               : V/2

             Pelaksanaan                  : Selasa, 13 Februari 2007

             Tempat                       : SD Negeri Prigi




                                      Kemunculan
                                                                    Komentar
No   Aspek yang diobservasiada
                                    Ada      Tidak ada
1    Penggunaan metode latihan                   -       Tepat sesuai dengan
     berulang                                             materi

2    Pemberian soal latihan                      -       Banyak memberikan
                                                          latihan

3    Melatih siswa aktif dalam                   -       Aktif dalam
     mengerjakan latihan                                  mengerjakan latihan
     berulang

4    Memotivasi siswa untuk                      -       Tepat dan benar dalam
     berani menyelesaikan soal                            memotivasi siswa untuk
     latihan                                              berani menyelesaikan
                                                          soal

                                          Prigi, 13 Februari 2007
                                          Pengamat,



                                          Moh. Rohmani
                                          NIM 310935527




                                    66
Lampiran : 16                                                              67



                 LAPORAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

                                 SIKLUS II



                Mata Pelajaran            : Matematika

                Aspek                     : Geometri dan Pengukuran

                Materi                    : Luas Daerah Lingkaran

                Kelas/Semester            : V/2

                Waktu                     : 2 x 40 menit

                Pelaksanaan               : Selasa, 13 Februari 2007




A. Masalah yang akan diatasi

   1. Penggunaan metode pembelajaran

   2. Penggunaan media pembelajaran

B. Cara Mengatasi

   -   Mengubah metode diskusi menjadi metode latihan berulang.

C. Hasil yang diperoleh

   1. Menunjukkan keberhasilan bila dibandingkan dengan pelaksanaan

       pembelajaran siklus I.

   2. Pada pembelajaran Siklus I siswa yang tuntas belajar dengan nilai 7,5 ke

       atas ada 13 siswa atau 52 % pada siklus II dengan cara mengubah

       penggunaan metode diskusi menjadi metode latihan berulang, hasil tes

       formatif siklus II mengalami peningkatan. Siswa yang mengalami




                                     67
                                                                                  68



      ketuntasan belajar menjadi 20 siswa dengan nilai 7,5 ke atas atau tuntas 80

      % dari 25 siswa seluruhnya. Siswa lainnya memperoleh nilai 70.

D. Hal Yang Unik

   Hal yang unik pada saat perbaikan pembelajaran siklus II, ada salah satu siswa

   naik mejanya karena merasa dapat mengerjakan soal yang diberikan guru

   untuk dikerjakan di papan tulis, tetapi ia tidak ditunjuk untuk mengerjakan.




                                       68

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:241
posted:8/28/2012
language:Malay
pages:68