Docstoc

Ekologi Manusia

Document Sample
Ekologi Manusia Powered By Docstoc
					                                                                             1



           EKOLOGI MANUSIA DALAM PANDANGAN IDEALISTIK
                                     *Ruslan Pabbola




                                PENDAHULUAN


      Abad ini umat manusia dihadapkan pada suatu krisis multidimensi
yang segi-seginya menyentuh setiap aspek kehidupan, krisis dalam dimensi
intelektual, moral dan spritual; suatu krisis yang dipandang sebagai krisis
global yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah
peradaban umat manusia. Krisis ini lahir dari persepsi masyarakat dunia
yang antroposentris, dimana melihat bumi sebagai ciptaan Maha Kuasa yang
diperuntukkan bagi kehidupan manusia. Kewenangan yang disalah tafsirkan
menjadikan manusia arogan dan bertindak sebagai penguasa atas alam ini,
dengan segala konsekuensi dan dampaknya yang merugikan, Capra (1997)
menyebut ini sebagai krisis persepsi.
      Cara pandang manusia yang antroposentris diperkuat oleh lahirnya
beberapa pemikiran 300 tahun lalu yang menjadi kiblat bagi pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi abad ini.               Pemikiran Cartesian dan
Newtonian waktu itu merupakan pemikiran yang revolusioner, dan dianggap
dapat mengantarkan manusia ke peradaban yang jauh lebih baik.
Pemikiran yang menganggap alam adalah suatu mesin menjadikan sikap dan
budaya manusia sangat tergantung dari kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam melahirkan mesin-mesin eksploitatif. Dan pada akhirnya di
era pasca perang dingin, dimana negara-negara dunia tidak lagi berlomba
dalam alat persenjataan tapi berlomba untuk mengejar kemajuan,
mengejar suatu pertumbuhan yang tidak terbatas dalam berbagai bidang
tanpa melihat adanya konsekuensi yang dihadapkan pada kehancuran alam
dan kehidupan manusia itu sendiri.
      Munculnya permasalahan lingkungan global telah menarik perhatian
masyarakat dunia untuk mencari pemecahan konkrit dan bersifat global.
Namun permasalahan ini sering ditangapi secara terpecah-pecah, dan tidak
diyakini bahwa krisis ini merupakan suatu krisis tungggal, bersifat sistemik,
                                                                          2



dan hanya dapat dipecahkan dengan melihat kehidupan ini sebagai suatu
jaringan yang kompleks, suatu jaring-jaring yang saling terkait dan
melibatkan berbagai unsur dalam kehidupan.
      Menurut Capra (1982) bahwa permasalahan yang perlu dipahami
yaitu dengan merubah prespektif kita selama ini, jika dilihat dari
pengertian struktur sosial statis hingga persepsi pola-pola perubahan
dinamis maka krisis ini muncul sebagai suatu aspek transformasi budaya.
Transformasi budaya merupakan langkah-langkah yang paling esensial
dalam perkembangan peradaban, Toynbee menganggap bahwa peradaban
itu terjadi dari adanya pola interaksi yang disebut dengan tantangan dan
tanggapan. Sekarang ini kita telah dihadapkan pada pandangan Toynbee,
transformasi budaya sebesar ini tidak akan dapat dicegah dan diharapkan
akan berjalan menuju fase yang bumi dan kehidupannya inginkan. Nilai dan
sikap manusia merupakan faktor yang mendasar dalam proses ini, dalam
konsep Tao disebutkan bahwa aliran dan perubahan akan terjadi terus
menerus dan dilandasi oleh irama dasar alam semesta sehinga secara
instrisik bersifat dinamis. Irama dasar alam inilah yang hilang dalam nilai-
nilai aktivitas hidup manusia, kearifan alam telah berpindah tangan secara
ironis ke kearifan manusia. Untuk itu, semua yang menjadi hak alam harus
dikembalikan   dan   penghargaan    serta   penghormatan   terhadap    alam
merupakan suatu kewajiban moral bagi manusia. Dan jelaslah bahwa krisis
global saat ini merupakan persoalan moral manusia terhadap alam, dan ini
hanya dapat diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang secara
fundamental.
                                                                             3



                      AGAMA DAN ETIKA EKOLOGI


        Satu hal yang menarik akan keterkaitan agama dan etika manusia
selama ini dalam memandang dan memperlakukan alam, yakni munculnya
masalah dalam lingkungan global akibat perilaku manusia sehingga
dihadapkan pada kehancuran terhadap segala bentuk-bentuk kehidupan di
alam dan kehidupan manusia itu sendiri . Saat ini, seakan-akan manusia
telah   kehilangan    landasan    yang   mempengaruhi    segala    gerak   dan
perilakunya sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang pasti akan terikat dalam
aturan dan norma-norma yang dianut menurut agama dan kepercayaannya.
Aturan dan norma-norma ini mengandung makna etika dan moral dalam
memperlakukan alam dan lingkungan sebagai ciptaan Tuhan, dan hal
tersebut lahir tidak hanya dari wahyu seperti dalam agama-agama samawi
tetapi diyakini lahir dari pemikiran yang intuitif dan instrinsik manusia yang
melihat dirinya bagian dari “cosmos” dan satu didalamnya, sehingga
terdapat   tanggung    jawab     untuk   memelihara   alam   dan   lingkungan
sekitarnya.
        Pernyataan Sergei Tsvetko dalam The Journal of Suistanable
Agriculture, Spring 1990, bahwa “I think that ecology is first of all a
spritual movement …… Ecology to me is the contemporary religion. It is
only on basis of ecology that spritual integration of the whole global
community is possible”.        Pernyataan ini membuka mata kita kembali,
bahwa apa yang menjadi landasan gerak kita untuk dapat bertahan hidup
bersama alam telah terabaikan, bahkan beberapa kepercayaan tradisional
yang lahir dari proses alam telah hilang dimakan oleh kemajuan zaman.
        Kita tak dapat memungkiri bahwa ekologi merupakan dasar bagi
pergerakan spritual, sejarah telah mencatatkan bahwa tradisi masyarakat
yang berkembang hingga saat ini merupakan bentuk manifestasi dari proses
mekanisme alam. Kita telah lupa proses mekanisme itu telah membawa
spesies manusia dan spesies lainnya dapat bertahan hidup sampai sekarang,
betapa alam tersebut secara arif dapat memenuhi kebutuhan ras manusia
selama ribuan tahun. Kearifan alam inilah yang dijadikan ritual bagi
                                                                                 4



beberapa kepercayaan masyarakat dahulu dalam bentuk simbol-simbol
penghormatan dan penghargaannya yang masih dapat kita jumpai saat ini,
seperti simbol Yin dan Yang dalam Agama Budha.
         Perkembangan zaman yang berlangsung cepat telah menempatkan
manusia dalam suatu kenyataan yang sangat ironis. Manusia dengan segala
kelebihannya jauh melampui organisme hidup lain telah mengakui dirinya
merupakan sentra dalam dunia ini, dominansi manusia terhadap alam
menjadikan kearifan alam yang selama ini diyakini oleh kepercayaan
tradisonal berpindah tangan menjadi kearifan manusia.               Suatu bentuk
kearifan     yang    patut   kita   pertanyakan,        apakah    manusia    dapat
mempertahankan        kehidupan     sama     dengan      lamanya    alam     dapat
mempertahan kehidupan ras manusia ? Kehancuran global telah didepan
mata, ini membuktikan bahwa manusia telah kehilangan kendali, landasan
geraknya, etika dan moral tidak lagi diperuntukkan untuk alam tetapi
hanya diperuntukkan oleh sesama rasnya karena dogma manusia sebagai
mahkluk     sosial   telah   membatasi     kerelasian    mereka    hanya    dengan
sesamanya.
         Pernyataan Sergei Tsvetko diawal kalimat ini sebagai bentuk
keyakinan dirinya bahwa semangat akan bagaimana mempertahankan hidup
dalam kondisi bumi saat ini yaitu mengedepankan ekologi sebagai landasan
gerak.     Landasan gerak ini mungkin dapat kita asumsikan sebagai wujud
etika masyarakat dunia dalam memandang alam sebagai pusat alam
semesta.     Dengan memposisikan ekologi sebagai landasan gerak spritual
manusia, maka perbaikan bumi agar kembali menuju keseimbangan dapat
diwujudkan.      Sebagaimana panggilan Brundtland pada Konferensi Dunia
tahun 1992 tentang Perubahan Atmosfer bahwa saat ini diperlukan etika
holistik baru dalam pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan
berjalan seiring di seluruh dunia.       Panggilan akan etika global bukanlah
sesuatu yang baru tapi suatu pernyataan moral akan pentingnya
memunculkan “lingkungan” sehingga mendapat perhatian besar masyarakat
internasional.
                                                                        5



      Etika dan moral yang terkandung dalam agama dan kepercayaan
yang dianut masyarakat dunia patut menjadi renungan kembali, karena
mau tidak mau terkait erat dengan semakin merosotnya lingkungan dan
sumber daya alam. Agama-agama samawi yang kandungannya cenderung
disalah tafsirkan, pandangan antrophosentris sangat kental keberadaannya,
dimana manusia meyakini bahwa alam diciptakan untuk memenuhi
kebutuhan manusia sehingga dengan manusia arogan dan bertindak sebagai
penguasa dimuka bumi, dan mengabaikan konsekuensi logis akan dampak
merugikan.
      Dasarwasa terakhir ini, para pemimpin tradisi agama sedunia mulai
merespon akan krisis lingkungan dan dampak pembangunan yang terjadi.
Respon mereka tida diharapkan dan membingunkan mereka yang tidak
terbiasa dengan pencarian masalah konservasi dan keadilan sosial dengan
humanis, dimana sistem nilai didasarkan oleh ilmu.    Dan tradisi agama
sendiri belum mampu mempengaruhi secara nyata masyarakat modern,
karena di era ini telah berkembang dualisme dalam kehidupan masyarakat
yakni antara kehidupan beragama dan sekuler. Bagi agama-agama di dunia,
kegagalan moral manusia untuk dapat hidup damai dan adil satu sama lain
dan sisa perwujudan berakar sangat dalam, karena kegagalan spritual.
Perubahan keinginan manusia untuk dapat hidup bebas, damai dan adil
hanya dapat dilakukan dengan pertolongan disiplin ilmu spritual yang
memperbaiki hubungan manusia yang tepat kepada dasarnya, disiplin ilmu
bergantung   kepada   wawasan   keagamaan    dan   pada   akhirnya   pada
keyakinan. Lynn White secara umum berpendapat bahwa setiap budaya,
baik ketika lahir dalam keadaan beragama atau tidak, akan terbentuk
agama dan tradisinya. Dan secara khusus ia beranggapan bahwa bukan
hanya teknologi modern tetapi juga eksploitasi tanpa ragu-ragu terhadap
alam memberika ciri pada budaya kita, dan merupakan refleksi struktur
nilai yang muncul dari serangkaian usaha untuk menetapkan kesalahan dari
krisis lingkungan pada lembaga keagamaan, dan menemukan bahwa dasar
beragama tersebut lahir dari budaya kontemporer, khususnya di Barat. Hal
ini mengilhami para pemikir untuk berusaha menemukan agama-agama di
                                                                       6



Asia yang dapat memberikan contoh akan penghargaannya terhadap alam
yang telah hilang dinegerinya. Namun, ahli-ahli sejarah meragukan usaha
tersebut karena agama tidak dapat dengan mudah dapat dikeluarkan dari
satu masyarakat ke masyarakat lainnya.       Perhatian sekarang adalah
bagaimana mendapatkan kembali simbol-simbol dasar dan doktrin-doktrin
dalam tiap tradisi yang berpengaruh positif terhadap etika lingkungan dan
pembangunan. Dan simbol-simbol serta doktrin-doktrin itu diterjemahkan
kedalam naskah dengan jelas untuk kebutuhan bagi kebijakan publik dan
tingkah laku perorangan.
      Inti dari simbol dan doktrin-doktrin keagamaan yang menyatakan
pentingnya manusia dalam menjaga, melestarikan dan memelihara
lingkungannya demi kehidupannya adalah keyakinan bahwa alam semesta
merupakan Ciptaan Tuhan, dan alam yang dimanfaatkan oleh manusia
merupakan manifestasi dari kebesarannya agar manusia dengan akal dan
pikirannya   dapat   memperlakukan   alam   dan   lingkungannya   seperti
memperlakukan dirinya sebagai salah satu ciptaan-Nya.
      Perilaku umat Islam dalam melihat bumi dan isinya sebagai ciptaan
Allah SWT telah dimanifestasikan lewat Kitab Al-Qur’an dan Al-Sunnah.
Dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman dalam surah al-Hijr [15]:19 yang
terjemahannya adalah “Dan bumi kami hamparkan dan Kami pancangkan
gunung-gunung dan Kami tumbuhkan diatasnya tiap segala sesuatu dengan
berimbang”. Hal ini merupakan tuntunan akan sikap bagi masyarakat Islam
untuk dapat menjaga dan mencintai alam dan memanfaatnya dengan tidak
berlebihan, dan kita harus sadar akan keseimbangan ekologi yang
dibutuhkan oleh alam. Dan Allah SWt juga memperingatkan manusia untuk
dapat menjaga dan memelihara ciptaan-Nya, melarang kita untuk berbuat
kerusakan melalui firman-Nya dalam Surah al-Baqrah [2]:11-12 yang
terjemahannya kura lebih adalah “Dan bila kepada mereka dikatakan
‘Janganlah membuat kerusakan dimuka bumi’. Mereka menjawab: ‘Tidak,
kami bahkan membuat kebaikan’. Sungguh, merekalah yang membuat
kerusakan tanpa mereka sadari”. Allah juga telah mengingatkan manusia
agar tidak melakukan kerusakan sesuai dengan firman-Nya dalam surah
                                                                          7



ar_rum [30]:41 yakni “Kerusakan telah nampak di darat dan di dalut
karena perbuatan tangan-tangan manusia.         Ia akan merasakan sebagian
kepada mereka akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali ke jalan
yang benar”.
      Permasalahan      mengenai      ekologi    sendiri   terkait   dengan
keberadaannya sebagai suatu ilmu pengetahuan tidak terdapat dalam kitab-
kitab Yahudi dan Kristiani.      Karena Kitab Suci tidak djadikan sebagai
sumber pengetahuan tentang alam semesta.            Ilmu pengetahuan yang
berkembang selama empat abad menggarisbawahi gagasan Galileo : Kitab
Suci mengajarkan bagaimana ke surga, bukan bagaimana langit bergerak.
Walaupun Kitab Suci bukan tentang ekologi, sejumlah penulis kitab suci
telah meluksikan ekologi manusia dan mengangkat keadaan dan gejala alam
dalam hubungannya dengan Sabda Tuhan, yang keberadaan segala ciptaan
terkait dengan Tuhan Pencipta.
      Dalam prinsip agama dan dan kepercayaan di Cina, diajarkan akan
pentingnya menjaga keseimbangan alam, dimana alam diatur dalam suatu
prinsip moral.    Tradisi agama di Cina memandang Tuhan alam semesta
sebagai benda yang bergerak berubah secara teratur dengan kekuatannya
sendiri, spontan dan terus menerus yang tidak diperintah daru perintah
atau komando tertinggi, tetapi dari proses alami yang dinamakan Tao,
sedangkan penggerak utamanya adalah Taichi yang melahirkan kekuatan
kosmis yang dinamakan Yin dan Yang. Penyatuan Yin dan Yang merupakan
gambaran prinsip keseimbangan yang terpatri dalam sikap dan perilaku
masyarakat tradisi Cina.
      Simbol-simbol dan doktrin-doktrin tradisi agama ini terkadang
bertentangan, kadang-kadang melengkapi dan kadang-kadang mengkritik
satu sama lain.    Walupun terdapat perbedaan pendekatan, tapi muncul
persetujuan bahwa paradigma pembangunan baru memerlukan transformasi
selektif dalam ilmu pengetahuan modern dan sejarah agama dan tradisi
budaya, sama seperti pembangunan mutualitas yang lebih besar diantara
mereka. Stephen R. Sterling sangat berharap bahwa epistemologi ilmiah
baru dalam prespektif tradisi agama akan memberikan dasar pandangan
                                                                               8



dunia yang lebih dari hanya sekedar mempertahankan dan melestarikan
wawasannya.
       Berbagai pusat budaya dunia berusaha merspon tantangan moral dari
pembangunan berkelanjutan dalam istilah pandangan dunia untuk tujkuan
ekologis. Dan yang menarik terdapatnya perbedaan dalam menafsirkan visi
ekologis untuk membangkitkan tradisi budaya secara respektif.              Dalam
persejutuan pokok pengertian normatif dari pembangunan berkelanjutan
adalah individu dalam komunitas sebagai dasar kehidupan mendatang. Ide
komunitas merupakan suatu bentuk tuntutan yang menganggap bahwa
secara biologi dan sosial, alam dan budaya adalah hal yang secara esensial
ada dan memperkaya dan memenuhi hal-hal yang sudah seharusnya ada.
Komunitas    disekripsikan   sebagai   mosaik   yang     tersusun   bersamaan,
komunitas memiliki pemerintahan sendiri yang terdiri dari berbagai bentuk
kehidupan,    dengan    keseimbangan    yang    rumit,   bagian     yang   saling
bergantungan dan berproses. Visi ekologi menerima ini sebagai deskripsi
fakta dan deskripsi nilai.
       Berbicara tentang prinsip komunitas dalam ekologi adalah untuk
menghilangkan hal-hal yang berisiko akan pengalihan perhatian dari tujuan
utama masalah praktek moral, perwujudan keharmonisan individu dalam
komunitas.
       Berdasarkan pandangan ekologi, komunitas manusia melibatkan
bentuk hubungan kerja sama dan bertentangan yang unik dengan benar-
benar mengikat anggota individu gabungannya, dan ini mengartikan
komunitas yang berketergantungan secara inklusif dan holistik
                                                                                   9



          PERUBAHAN PARADIGMA MENUJU DUNIA BARU


       Tanpa kita sadari, kerusakan lingkungan yang sedimikian parah
mengancam      kelestarian    kehidupan       alam    dan   manusia    itu   sendiri.
Kerusakan lingkungan ini diakibatkan oleh sikap dasar manusia yang
antrophosentris.       Sikap manusia ini diperparah oleh cara pandang yang
selama ini menjiwai segala aspek kehidupan, utamanya ilmu pengetahuan
dan teknologi yang menjadi alasan ilmiah manusia dalam beraktivitas dan
berinteraksi dengan lingkungannya.
       Cara   pandang       dan    perilaku    manusia      terhadap    alam     dan
lingkungannya merupakan hal yang paling mendasar yang patut dirubah.
Jika kondisi bumi yang dalam keadaan kronis dan tidak lagi seimbang, maka
tuntutan oleh masyarakat minoritas yang selama ini merasakan langsung
dampak dari paradigma mekanistik akan bersifat radikal.                      Menurut
beberapa pemikir ekologi, perubahan ini akan berlansung dengan cepat
jauh dibanding evolusi peradaban dahulu.             Menurut Capra (2001) bahwa
tuntutan perubahan itu akan menguncang dasar kehidupan manusia dan
mempengaruhi sistem sosial, ekonomi dan politik. Walaupun tuntutan itu
hanya berasal dari kaum minoritas, namun diyakini dengan semangat dan
kreativitas mereka tuntutan ini akan muncul kepermukaan dan terdapat
titik temu dalam sebuah transisi. Selanjutnya Capra memprediksi terdapat
tiga transisi utama yakni : Transisi I, runtuhnya sistem patriarkhal yang
enggan dan lamban tapi pasti. Transisi II, runtuhnya zaman bahan bakar
fosil, dan transisi III adalah perubahan paradigma, suatu perubahan penting
dalam pemikiran, persepsi dan nilai-nilai yang membentuk suatu visi
realitas tersendiri.
       Transisi ini terlihat pada Dasarwarsa 1960 dan 1970 yang melahirkan
suatu rangkaian gerakan filsafat, spritual dan politik yang tampak menuju
arah yang sama.         Terdapat suatu perhatian besar pada ekologi yang
meliputi persoalan sosial dan lingkungan, yang menunjukkan batas-batas
pertumbuhan,       mendukung      etika   ekologi    baru   dan   mengembangkan
teknologi lunak.
                                                                       10



Perubahan Sikap

      Sikap antroposentris manusia yang memposisikan manusia sebagai
egosentris, dominansi terhadap alam dipertegas oleh paradigma mekanistik
yang mempengaruhi semua bidang kehidupan telah menempatkan manusia
dalam suatu ancaman krisis secara global.       Ancaman ini telah menarik
perhatian masyarakat dunia untuk bertindak dalam menuntut adanya suatu
perubahan dalah memandang bumi sebagai stu-satunya tempat hidup. Alan
Durning menulis dalam sebuah kajian di tahun 1989, “orang-orang ini (kaum
minoritas di negara dunia ketiga) memahami kemerosotan global dalam
bentuk-bentuknya yang paling mentah. Bagi mereka, kerusakan yang terus
mengerogoti ekosistem berarti memperpanjang hari-hari kerja mereka,
nafkah yang menciut, dan kesehatan yang memburuk.              Dan telah
mendorong mereka untuk bertindak.” Tulisan Alan Durning ini mensiratkan
perlu suatu perubahan yang mendasar bagi semua masyarakat dunia untuk
berlaku adil dan menjaga serta memelihara alamnya agar apa yang
ancaman dapat terhindari.          Perubahan yang paling mendasar adalah
perubahan cara pandang, reposisi kembali nilai-nilai vital manusia
menyangkut etika dan moral terhadap alam. Dengan perubahan-perubahan
tersebut, perilaku manusia dalam memperlakukan alam sebagai cosmos
dapat tercipta dalam bentuk nilai-nilai yang mempengaruhi sistem sosial,
ekonomi dan politik.
      Capra memberikan alternatif suatu gagasan tentang perubahan sikap
dari paradigma mekanistik ke paradigma ekologis yang mempunyai implikasi
dalam penetuan gerakan dan tindakan manusia yang bertitik tolak kepada
alam sebagai suatu komponen yang holistik. Perubahan sikap tersebut lebih
kepada perubahan yang bersifat universal yang dapat dimanifestasikan
dalam tindakan dan perbuatan yang kongkrit dalam merespon situasi dan
kondisi yang terjadi dewasa ini.
                                                                        11



Perubahan Nilai Individual
         Capra menilai bahwa pada konsep pemikiran Cina dimana aliran dan
perubahan terjadi terus menerus dan dilandasi oleh irama dasar alam
semesta yang bersifat dinasmis. Irama dasar alam semesta ini terwujud
dalam dua jenis aktivitas dalam individu yang selaras dengan alam dan yang
berlawanan dengan arus alam, yakni aksi Yin yang sadar akan lingkungan
(eco-action) dan aksi Yang yang sadar akan dirinya sendiri (ego-action).
Konsep ini tidak pernah dihubungkan dengan nilai-nilai moral, karena pada
konsep Yin dan Yang bukan merupakan sesuatu yang baik dan buruk atau
benar dan salah melainkan suatu kesimbangan dinamis antara keduanya
yang harus terdapat dalam diri manusia.
         Tendensi untuk bersekutu, menetapkan hubungan, meenghuni satu
sama lain dan bekerja sama merupakan ciri khas esensial dari organisme
hidup.     Dalam suatu ekosistem yang seimbang semua organisme hidup
bersama dalam suatu kombinasi persaingan dan ketergantungan satu sama
lain.    Dalam ekosistem sebagian besar hubungan antar organisme hidup
merupakan hubungan yang secara esensial kooperatif, yang ditandai oleh
koeksistensi dan interdependensi, dan bersifat simbiotis dalam berbagai
tingkat. Meskipun terdapat kompetisi, kompetisi itu biasanya terjadi dalam
konteks kerjasama yang lebih luas.

Perubahan Nilai Kolektif
         Nilai-nilai baru telah dikembangkan oleh gerakan-gerakan holistic
akibat ketidakberpihakan lagi pada paradiogema mekanistik yang bersifat
ego-action, contohnya nilai-nilai kolektif di bidang kesehatan dan berbagai
gerakan spiritual lainnya. Yang paling penting adalah bahwa sistem nilai
lama sedang ditantang dengan munculnya kesadaran feminis yang berasal
dari gerakan perempuan.
         Schumacer menyatakan bahwa Kecil itu Indah, hal ini mengilhami
sikap dsar manusia akan pentingnya suatu kesederhanaan sehingga telah
merubah tatanan secara kolentif manusia dalam bentuk dari awalnya
konsumsi materi ke bentuk kesederhanaan, dari pertumbuhan ekonomi
teknologi ke pertumbuhan dan perkembangan bathin.
                                                                          12



Perubahan Pola Organisasi Sosial
       Pertumbuhan institusi melebihi ukuran tertentu secara beragam
telah mengacaukan tujuan tersebut dengan melakukan pelestarian diri dan
perluasan institusi itu lebih jauh yang justru mengesampingkan tujuan
semula, sehinga orang-orang didalamnya merasa terasing dan kehilangan
kepribadian, sedangkan keluarga, lingkungan tetangga dan organisasi sosial
skala kecil terancam dan seringkali dirusak oleh dominasi dan eksploitasi
institusional.     Salah satu manifestasi yang paling berbahaya adalah
manifestasi korporasi. Korporasi-korporasi terbesar kini telah melampaui
batas-batas kebangsaan dan telah menjadi pameran utama pada panggung
global.     Hakikat korporasi ini mungkin tidak manusiawi.        Kompetisi,
pemaksaan dan ekspolitasi merupakan aspek penting dari aktivitas mereka
yang semuanya didorong oleh oleh keinginan untuk melakukan ekspansi
yang tidak terhingga.
          Obesesi korporasi ini terhadap ekonomi dan teknologi cenderung
tergantung pada eksploitasi pada sumberdaya dan energi yang berlebihan
dan kenyataannya korporasi tersebut bersifat lebih padat modal daripada
padat karya.       Ketimpangan sosial yang lahir bukan merupakan suatu
kecelakaan       melainkan   terpasang   didalam   struktur   ekonomi   yang
dilestarikan oleh penekanan kita pada teknologi padat modal. Padat karya
dimana ditunjukkan oleh korporasi skala kecil lebih banyak menciptakan
pekerjaan dan menghasilkan biaya sosial dan lingkungan yang jauh lebih
besar. Pernyataan tentang skala ini oleh Schumacer dengan slogan “Kecil
Iutu Indah” akan memainkan peran yang sangat menentukan dalam
penafsiran kembali sistem ekonomi dan teknologi kita.
       Prinsip ekosistem termanifestasikan dalam kecenderungan yang
menetapkan hubungan hubungan kerjasama yang memudahkan integrasi
harmonis komponen-komponen sistem pada semua tingkat organisasi.
Kesalinghubungan nonlinear sistem-sistem hidup menyiratkan terdapatnya
suatu ukuran optimal bagi setiap struktur, organisasi dan lembaga; yang
lebih besar didasarkan atas pendaurulangan sumber daya lama yang terus
                                                                                    13



menerus,      semakin      harmonis     hubungannya     dengan      lingkungan    yang
mengitarinya.


Perubahan Penggunaan Teknologi
        Kemenangan mekanika ala Newton pada abad-18 menetapkan fisika
sebagai prototipe ilmu “keras” yang digunakan untuk mengukur ilmu-ilmu
lain dengan lawannya.
        Baik kapitalis maupun komunis adalah adanya obesesi dengan
pertumbuhan, pertumbuhan yang takterbatas. Pertumbuhan ekonomi dan
teknologi dipandang sebagai suatu yang esensial, meskipun telah jelas
bahwa perluasan yang tak terbatas dalam suatu lingkungan yang terbatas
hanya akan menimbulkan malapetaka.                Teknologi dianggap sebagai
manifestasi pertumbuhan ekonomi, mempengaruhi gaya hidup, organisasi
sosial dan sistem nilai. Kesadaran maskulin melahirkan suatu “teknologi
keras” yang anti ekologis, anti sosial, tidak sehat dan tidak manusiawi.
Olehnya itu dibutuhkan suatu redefenisi hakikat teknologi, suatu perubahan
arah teknologi dan revolusi sistem nilai yang mendasarinya.                   Jika hal
dipahami maka kita akan lebih banyak memusatkan pada “teknologi lunak “
untuk       penyelesaian     konflik,     kesepakatan     sosial,     kerja      sama,
pendaurulangan dan redistibusi.
        Untuk kembali kesuatu skala yang lebih manusiawi, teknologi lunak
dapat mempersatukan prinsip ekologis dan konsisten dengan sistem nilai
baru. Teknologi tersebut telah berkembang dan cenderung berskala kecil
dan terdesentralisasi, misalnya penggunaan energi surya sebagai bentuk
adopsi dari siklus energi dalam prinsip ekologis. penggunaan mekanisasi
alat pertanian yang sederhana dapat dikelola sepenuhnya oleh masyarakat
tradisional dan penggunaan teknologi yang menuntut adanya prinsip
ekologis.
        Teknologi ini harus mencerminkan kearifan sistemik.                   Menurut
Schumacher, “kearifan menuntut suatu orientasi ilmu dan teknologi baru
yang bersifat organik, lembut, halus, anggun dan cantik. Pemberian arah
kembali keteknologi ini menawarkan kesempatan yang luar biasa bagi
kreativitas, kewiraswastaan dan inisiatif manusia. Pada waktu sumberdaya
                                                                       14



fisik semakin langka, kita jelas harus lebih banyak menginvestasikan dalam
bentuk manusia, dengan kata lain keseimbangan ekologis memerlukan
lapangan kerja penuh.

Perubahan Ekonomi Politik
         Kemenangan mekanika ala Newton pada abad-18 menetapkan fisika
sebagai prototipe ilmu “keras” yang digunakan untuk mengukur ilmu-ilmu
lain dengan lawannya. Dan terdapat tendensi untuk mencontoh konsep dan
teori ilmiah ala Newton semacam ini dalam bidang ilmu-ilmu sosial, dan
para ahli      Ilmu sosial mencoba dengan sangat untuk memperoleh
kehormatan dengan mengadopsi paradigma ala Newton dan Descartes.
Namun demikian, seringkali kerangka tersebut tidak cocok untuk fenomena
yang mereka gambarkan, dan akibatnya model-model mereka menjadi
semakin tidak realistik, hal ini semakin nyata dalam ilmu ekonomi. Ilmu
ekonomi saat ini ditandai dengan pendekatan reduksionis dan terpecah-
pecah, para ahli ekonomi gagal mengetahui bahwa ekonomi hanyalah satu
aspek dari    suatu keseluruhan susunan ekologis dan sosial; suatu sistem
hidup.     Dengan keadaan yang terpecah ini, ilmuwan politik cenderung
mengabaikan kekuatan-kekuatan ekonomi yang mendasar, sementara ahli
ekonomi gagal menyatukan realitas sosial dam politik kedalam model-
model mereka.
         Ilmu ekonomi didefenisikan sebagai disiplin yang berhubungan
dengan produksi, distribusi dan konsumsi, olehnya itu ilmu ekonomi lebih
bergantung pada nilai dan paling normatif dibanding ilmu sosial lainnya.
Schumacher menggambarkan ketergantungan ilmu ekonomi pada nilai
sangat jelas dengan membandingkan dua sistem ekonomi yang merupakan
suatu nilai tapi tujuannya sangat berbeda.
 1. Sistem materialis kita saat ini, dimana “standar kehidupan” diukur
    berdasarkan konsumsi maksimun yang sejalan dengan pola produksi,
 2. Sistem ekonomi Budha, yang didasarkan pada pengertian “mata
    pencaharian yang benar” dan “Jalan Tengah” yang tujuannya adalah
    mencapai     kesejahteraan   manusia     yang maksimun   dengan pola
    konsumsi yang optimal.
                                                                        15



      Ekonom masa kini, telah menghindari isu nilai yang tak terungkap
itu sehingga para ahli ekonomi mundur kemasalah-masalah yang lebih
mudah tetapi kurang relevan dan menutupi pertentangan-pertentangan
nilai dengan menggunakan bahasa teknis yang panjang-lebar.      Nilai-nilai
yang muncul didalam ekonomi kita dewasa ini hanyalah nilai-nilai yang
dapat dikuatifikasikan dengan diberi bobot moneter, dan membatasi
dengan tidak memasukkan perbedaan-perbedaan kualitatif yang sangat
menentukan bagi dimensi-dimensi ekologis, sosial dan psikologi dari
aktivitas ekonomi.
      Salah satu konsekuensi yang paling penting dari perubahan nilai pada
akhir abad pertengahan adalah munculnya Kapitalisme.       Perkembangan
mentalis ini terkait erat dengan konsep panggilan dan agama, yang muncul
bersama Marthin Luther dan Reformasi, bersama-sama dengan pengertian
kewajiban moral untuk memenuhi tugas seseorang dalam ikhtiar duniawi.
Konsep panggilan duniawi ini mengungkapkan perilaku religius kedalam
dunia sekuler. “Aktivitas duniawi dan imbalan material yang berasal dari
perilaku rajin sebagai suatu tanda takdir Ilahi”.       Dengan demikian
muncullah Etos Kerja Protestan yang terkenal “dimana kerja keras yang
mengingkari diri sendiri dan keberhasilan duniawi disamakan dengan
kebajikan”.   Menurut Max Weber nilai-nilai dan alasan religius memberi
dorongan dan energi emosional dan penting bagi kemunculan dan
perkembangan KAPITALISME.
      Para ekonom konvensional cenderung memisahkan ekonomi dari
struktur ekologis yang melingkupinya, dan cenderung menggambarkannya
dalam pengertian model-model teoritis yang sederhana dan tidak realistik,
secara terang-terangan mereka tidak menerima sistem nilai yang menjadi
dasar model mereka dan secara diam-diam menerima perangkat nilai-nilai
yang benar-benar tidak seimbang yang mendominasi kebudayaan kita dan
terwujud dalam lembaga-lembaga sosial kita.          Nilai-nilai ini telah
membawa kepada penekanan yang berlebihan pada teknologi keras, boros
dan eksploitasi SDA, yang semuanya digerakkan oleh obsesi yang tiada henti
dengan Pertumbuhan.
                                                                           16



      Gerakan       Ekologi   Dalam    bukan   filsafah     baru,   melainkan
menghidupkan kembali kesadaran yang merupakan bagian dari warisan
kebudayaan kita. Kesadaran baru ini merupakan peralihan dari konsumsi
materi ke kesederhanaan secara sukarela, dari pertumbuhan ekonomi dan
teknologi ke pertumbuhan dan perkembangan batin. Pada tahun 1976 studi
yang dilakukan Stanford Research Institute memperkirakan empat hingga
lima juta manusia dewasa di Amerika telah mengurangi penghasilan mereka
secara drastis dan mengundurkan diri dari jabatan mereka dalam ekonomi
konsumen demi suatu gaya hidup yang merangkul prinsip kesederhanaan
secara sukarela.     Karena para ekonom telah melihat bahwa kebutuhan
memperoleh materi pada prinsipnya bersifat tak pernah terpuaskan.

Pembangunan Berkelanjutan Suatu Moral Baru
      Apa   artinya     meningkatkan   pembangunan        yang   berkelanjutan
terhadap etika global? Sebelum kita menerima “pembangunan yang
berkelanjutan” sebagai moralitas baru seperti strategi ekonomi baru, kita
perlu mengetahui apa manfaat ekologi, sosial, politik dan nilai personalnya,
dan bagaimana ia menyesuaikan tuntutan moral terhadap kebebasan
manusia, persamaan hak, dan komunitas dengan kewajiban kita terhadap
individu hewan dan tumbuhan, spesies, dan ekosistem.
      Etika lingkungan harus dipahami sebagai refleksi kritis yang
dilakukan manusia dalam menghadapi pilihan-pilihan moral yang terkait
dengan isu lingkungan hidup, termasuk keputusan manusia dalam membuat
pilihan moral dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang berdampak pada
lingkungan hidup.
      Paradigma pembagunan berkelanjutan harus dipahami sebagai etika
politik pembangunan yaitu sebuah komitmen moral tentang bagaimana
seharusnya pembangunan itu diorganisir dan dilaksanakan untuk mencapai
tujuan secara holistik. Namun selama ini, paradigma pembangunan
berkelanjutan tidak berjalan sebagaimana mestinya, karena terjadi
kompromi-kompromi yang lebih berfokus pada pertumbuhan ekonomi,
sehingga paradigma pembangunan berkelanjutan yang dikonservasi dan
                                                                                 17



diberlanjutkan adalah pembangunan itu sendiri bukan ekologi. Suatu
langkah mundur yang terjadi mempunyai dampak negatif sedemikian luas.
      Ada beberapa kelemahan utama dari paradigma pembangunan
berkelanjutan ini, yakni :
1.   Tidak ada yang menjadi titik kurun waktu yang jelas dan terukur yang
     dapat    menjadi    sasaran     pembangunan      berkelanjutan,    ia    hanya
     merupakan sebuah kommitmen yang sulit diukur kapan dicapai,
     akibatnya agenda ini diabaikan oleh semua negara.
2.   Asumsi paradigma pembangunan berkelanjutan didasarkan pada cara
     pandang yang sangat antroposentris
3.   Asumsi yang ada dibalik paradigma ini adalah manusia seakan
     mempunyai kemapuan untuk mengetahui batas alam dan manusia
     mampu mengeksploitasi SDA dalam batas-batas daya dukung alam
     tadi. Manusia lupa bahwa alam itu sulit untuk dapat diprediksi,
     kompleksitasnya jauh melampaui kemampuan iptek manusia, termasuk
     tentang daya dukung dan ambang batas toleransinya
4.   Asumsi     paradigma    pembangunan       berkelanjutan     bertumbu      pada
     ideologi materialisme yang tidak diuji secara kritis tetapi diterima
     begitu saja.
      Hal ini mengarahkan negara-negara dunia ketiga mengikuti jalan
yang ditempuh negara-negara industri maju, dimana pembangunan yang
perlu dipacu adalah materialisme. Hal ini merupakan jebakan bagi negara
dunia ke tiga dimana tingkat kemajuan ekonomi diidentikkan dengan
tingkat peradaban sebuah negara, sehingga konskuensinya semua aspek
kehidupan yang lain ditempatkan dibawah imperatif ekonomi, sehingga
aspek-aspek sosial budaya dan lingkungan hidup dikorbankan demi
imperatif ekonomi.
      Arne    Naess     sendiri     menawarkan    apa    yang   disebut      sebagai
keberlanjutan    ekologi     yang    luas   sebagai   ganti   dari   pembangunan
berkelanjutan. Setiap model pembangunan yang berkelanjutan secara
ekologi harus menyarankan cara-cara menghindari penghancuran pemikiran
lebih jauh terhadap budaya, atau penyebaran kepercayaan secara luas
                                                                            18



kehidupan yang tanpa arti, sehingga akan. perubahan mendasar dalam
kebijakan nasional yang memberi prioritas pada pelestarian bentuk-bentuk
kehidupan di Bumi demi mencapai keberlanjutan ekologi. Jadi yang
menjadi    sasaran    bukan     pembangunan      itu     sendiri     melainkan
mempertahankan dan melestarikan ekologi dan seluruh kekayaan, bentuk-
bentuk kehidupan di dalamnya.
      Namun semua itu tidak akan dapat berjalan tanpa adanya komitmen
politik yang kuat dalam aplikasinya terhadap kebijakan pembangunan.
Karena semua itu hanya menjadi paradigma-paradigma akan menjadi slogan
belaka dan akan sia-sia kalau tidak kehancuran lingkungan akan semakin
tidak teratasi, yang dibutuhkan adalah sebuah strategi kebijakan baku
untuk semua negara, tapi disesuaikan dengan kondisi ekologis.

Jalan Ketiga, Suatu Pembaruan Pandangan sosial – neoliberalisme
      Politik mewujudkan keadilan sosial dan kebebasan, itulah politik
partai dan gerakan sosialis atau demokrasi sosial. Namun Anthony Giddens
mencoba memodernisasi praktek politik demokrasi sosial klasik tersebut,
dan melampaui neoliberalisme (Thatcherism, Reaganism, dan kanan-baru
lainnya). Hal ini merupakan restrukturisasi kerangka pemikiran dan
pembentukan kebijakan demokrasi sosial baru menghadapi lima dilema
besar masyarakat kontemporer: globalisasi, individualisme, signifikansi kiri
atau kanan, pemeran politik baru dan isu ekologi.
      Menurut Tony Blair pembaruan demokrasi sosial melalui jalan ketiga
relevan mengatasi dominasi dua doktrin politik: demokrasi sosial yang
terlalu bertumpu pada negara dan neoliberalisme yang terlalu bertumpu
pada filsafat pasar bebas dan menjawab bagaimana menerapkan nilai-nilai
progresif secara global dengan cara-cara baru.
      Giddens   merumuskan      program   The    Third   Way,      diantaranya:
spektrum politiknya adalah tengah-radikal (radical-centre) atau kiri-tengah
(centre-left), membentuk negara demokrasi baru (negara tanpa musuh) dan
negara berinvestasi sosial, mengaktifkan masyarakat sipil, membentuk
ekonomi campuran baru, membangun negara dan demokrasi kosmopolitan.
Program baru ini, menurut Giddens akan mengatasi doktrin demokrasi
                                                                              19



sosial    klasik   (kiri   lama)   yang   tidak   efektif   menjawab   perubahan
fundamental kontemporer. Kiri lama terbentur, karena mempertahankan:
campurtangan negara yang terlalu luas terhadap kehidupan ekonomi dan
politik bahkan masyarakat sipil (membebani anggaran, juga mematikan
inovasi, kreatifitas dan produktifitas), terlalu menekankan pemilikan
negara dan perlindungan berlebihan terhadap warganegara, lebih parah lagi
konsep modernisasinya linear, menyepelekan isu ekologi dan bagian dari
kebijakan politik perang dingin.
         Pembaruan demokrasi sosial memang dianggap sebagai suatu jalan
tengah yang dapat menjadi solusi bagi ketimpangan yang terdapat dalam
dua kekuatan politik yang mendominasi sistem ekonomi politik dunia.
Namun solusi ini tidaklah cukup untuk menuntun kita kearah perubahan
akan sikap terhadap cara pandang yang selama ini dianggap Fritjof Capra
telah usang, pandangan mekanistik. Pandangan mekanistik yang tercermin
dalam Jalan Ketiga dapat kita perhatikan pada lima dilema yang dianggap
Giddens sebagai hambatan sekaligus tantangan untuk kehidupan dunia
dimasa mendatang. Walaupun isu ekologis dimasukkan tapi dianggap belum
dapat menjiwai solusi dari empat dilema lainnya. Konsep yang ditawarkan
Giddens masih cenderung mengejar pertumbuhan materi ketimpang
immateri. Kelemahan dari konsep ini adalah sebagai berikut :
 -       Secara faktual bergerak ke spektrum politik konservatif (kanan),
         konstituen barunya tidaklah cocok dengan tujuan gerakan kiri, dari
         kelas pekerja ke kelas menengah
 -       Menerima neoliberalisme, atau kata Oskar Lafontaine, mantan
         Menteri Keuangan Jerman, mengesahkan kapitalisme pasar bebas
         global
 -       Berkonteks Anglo-Saxon, tidak relevan untuk negara yang praktek
         negara kesejahteraannya lebih unggul dari Inggris seperti Swedia
 -       Tidak memiliki kebijakan ekonomi yang khusus, kecuali mengijinkan
         pasar memainkan peran lebih besar
 -       Bahkan tak mampu menghadapi isu ekologi, karena dengan
         mendukung globalisasi berarti menyetujui kerusakan ekologi
                                                                               20



       Giddens menekankan lagi bahwa The Third Way adalah program
politik yang koheren, efektif        dan integratif menghadapi perubahan
fundamental sekarang, dengan menjelaskan ulang gagasan: (1) Hubungan
baru pemerintah, masyarakat sipil dan strategi ekonomi agar lebih efektif
mengantisipasi perkembangan pasar global; (2) Merevisi konsep dan
pendekatan persamaan (equality) dan memfokuskan pada negara yang
berinvestasi sosial (human capital investment); dan; (3) Menegaskan
pentingnya      persoalan   globalisasi,   sekaligus   mendorong       kerjasama
internasional dalam pembentukan tata-kelola (governance) ekonomi dunia,
manajemen ekologi global, pengaturan MNC/TNC global, mengendalikan
perang    dan    mengembangkan       demokrasi     kosmopolitan/transnasional.
Adapun    kebijakan    ekonominya     terfokus    pada:      pendidikan,   budaya
wiraswasta, insentif, fleksibilitas, dan investasi sosial.
       Penekanan yang diuraikan Giddens merupakan salah satu bentuk
pembenaran yang menyiratkan akan pengakuan terhadap globalisasi pasar
bebas, (kapitalisme).       Hal yang perlu kembali kita renungkan bahwa
paradigma Pembangunan Berkelanjutan yang merupakan suatu keputusan
politik bersama telah disalah tafsirkan oleh negara-negara yang tidak
menginginkan adanya keadilan dalam memanfaatkan sumber daya alam.
Paradigma Berkelanjutan dianggap telah gagal menjadi moral baru seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya.          Dan nampak ulasan pembenaran
Giddens belum mampu memberikan solusi bagi upaya menghadapi krisis
global akibat kerusakan ekologi.
                                                                       21



                            DAFTAR PUSTAKA


Brown, L. Flavin, C. Postel, S. 1994.      Menyelamatkan Planet Bumi.
    Yayasan Obor Indonesia. Jakarta

Capra, F. 1998. Titik Balik Peradaban Sains, Masyarakat dan Kebangkitan
      Kebudayaan. Yayasan Bentang Budaya. Yogyakarta.

Capra, F. 2001. Jaring Jaring Kehidupan. Visi baru Epsitemologi dan
     Kehidupan. Fajar Pustaka Baru. Yogyakarta.

Chang, W. 2000. Moral Lingkungan Hidup.        Pustaka Teologi.   Penerbit
     Kanisius. Jakarta.

Engel, J.R. and J.G. Engel, 1990. Ethics Of Environment and Development :
     Global Challenge, International Response. Sehaven Press, London

Giddens, A., 1999, Jalan Ketiga, Pembaruan Demokrasi Sosial.
     PT. Gramedia Pustaka. Jakarta.

Keraf, A. S. 2002. Etika Lingkungan. Penerbit Buku Kompas, Jakarta

Saryono. 2002. Pengelolaan Hutan, Tanah & Air. Dalam prespektif
      Al Quran. Pustaka Al Husna Baru. Jakarta

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:284
posted:8/27/2012
language:Malay
pages:21