Docstoc

BAB I

Document Sample
BAB  I Powered By Docstoc
					                                                                             1




                                    BAB I

                               PENDAHULUAN




A. Latar Belakang Masalah

      Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna dipermukaan bumi ini

karena mempunyai kelengkapan yang sangat tinggi yaitu akal dan pikiran. Dengan

kedua kelengkapan ini dapat membedakan manusia dengan makhluk hidup

lainnya untuk memperoleh hidup dan kehidupan yang lebih baik.

      Setiap manusia berbeda-beda keinginan dan juga kemampuannya dalam

menjalani hidup dan kehidupannya sehari-hari, hal ini dapat dilihat dari dampak

positif dan dampak negatif perbuatan manusia itu sendiri. Sebagaimana firman

Allah SWT dalam Al-Qur`an Surah Al-Baqarah ayat 30 yang berbunyi:

   
             
   
              
  
       
      
                       
      Artinya   :   “ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:
                    "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di
                    muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak
                    menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
                    kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami
                    Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
                                                                                      2




                            Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui
                            apa yang tidak kamu ketahui."1

1.
     Bakry Oemar, Tafsir Rahmat, Jakarta, PT. Mutiara, 1983, Hal. 13
           Berdasarkan ayat diatas jelas kita ketahui bahwa Allah SWT menciptakan

manusia dengan kedudukan yang sangat tinggi yaitu sebagai khalifah di alam

semesta ini. Khalifah berarti kuasa atau wakil. Dalam statusnya sebagai khalifah di

muka bumi ini berarti manusia hidup di alam semesta ini mendapat kuasa dari

Allah SWT untuk mewakili sekaligus pelaksana dari peran dan fungsi Allah di alam.

Bagaimana mungkin manusia disebut sebagai khalifah apabila tidak memiliki ilmu

pengetahuan?

           Sadar akan hal itu bahwa manusia tidak dapat menjadi khalifah di muka

bumi ini, jika tidak mempunyai pengetahuan maka dalam hal ini pemerintah

menjadikan bidang pendidikan kedalam sektor pembangunan yang utama

disamping sektor lainnya.              Sebagai realisasinya pemerintah mendirikan sarana

pendidikan mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai dengan Perguruan

Tinggi baik sekolah umum maupun sekolah agama, negeri maupun swasta.

           Pendukung utama bagi tercapainya sasaran pembangunan manusia

Indonesia yang bermutu, aktif dan kreatif adalah pendidikan yang bermutu.

Pendidikan yang bermutu tidak cukup dilakukan dengan hanya melalui

transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga harus didukung oleh

peningkatan profesionalisme, sistem pendidikan manajemen dan administrasi dan

sistem pengelolaan kelas tenaga kependidikan serta pengembangan kemampuan
                                                                             3




peserta didik untuk menolong dirinya sendiri dalam memilih dan mengambil

keputusan demi pencapaian cita-citanya. Kemampuan seperti ini tidak hanya

menyangkut aspek akademis tetapi juga menyangkut aspek perkembangan

individu, sosial, kematangan intelektual dan sistem nilai. Oleh karena itu

pendidikan yang bermutu merupakan pendidikan yang seimbang, tidak hanya

mampu menghantarkan peserta didik pada pencapaian standar kemampuan

akademis, tetapi juga mampu membuat perkembangan diri yang sehat, aktif,

kreatif dan produktif.

       Apabila pribadi manusia Indonesia telah berilmu pengetahuan dan berbudi

pekerti yang luhur serta berakhlak mulia, maka dapat dijamin pembangunan

disektor lain dinegara kita akan semakin berjalan dengan baik.

       Kesempatan memperoleh pendidikan di Indonesia sama untuk setiap warga

negara, sebagaimana telah tercantum dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 yang

berbunyi: “Tiap-tiap warga negara berhak menerima pendidikan dan pengajaran”.2

       Jelas kita ketahui bahwa setiap warga negara Indonesia berhak menerima

pendidikan dan pengajaran, tidak melihat dari mana asal usul, tidak mengenal

harkat dan martabat manusia itu sendiri, baik bagi orangtua maupun generasi

muda yang kelas menjadi penerus bangsa dan negara.

       Pendidikan seharusnya dapat menciptakan manusia yang beriman dan

bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan memperhatikan aspek-aspek

kecerdasan dan keterampilan yang dapat menolong dirinya sendiri maupun orang
                                                                                 4




lain, selalu berperan aktif dan kreatif sehingga terwujud apa yang akan dicita-

citakan yang pada akhirnya menjadi kepuasan dan kebahagiaan tersendiri,

2.
     Departemen P dan K, Proyek BP-7 Pusat, 1992, Hal. 7



sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan:


           Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
           membentuk watak setiap pendidikan bangsa yang bermartabat dalam
           rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
           potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
           kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
           kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
           bertanggungjawab.3


           Dari rumusan diatas dapat kita ketahui bahwa tujuan dari pendidikan itu

adalah menciptakan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang

Maha Esa, berakhlak mulia, memiliki ilmu pengetahuan, memiliki kecakapan, aktif,

kreatif dan mandiri, berjiwa demokratis serta memiliki rasa tanggung jawab

sehingga terciptalah warga negara yang cerdas, kreatif, dan bermartabat.

           Sudah jelas kita ketahui bahwa tidak akan sempurna dan tidak bermanfaat

tugas seorang guru apabila tidak mempunyai ilmu pengetahuan, keterampilan,

budi pekerti yang luhur serta rasa tanggung jawab yang tinggi, sebab selain

menjalankan tugasnya sebagai pengajar, guru juga menjadikan dirinya sebagai

teladan yang baik serta dapat mengarahkan siswa kearah yang lebih baik dan

positif.
                                                                                               5




           Keberhasilan guru melaksanakan kegiatan pembelajaran tidak saja

menuntut kemampuan menguasai materi pelajaran, strategi belajar mengajar,

metode mengajar, cara menggunakan alat atau media pembelajaran. Tetapi juga

3.
     DEPDIKNAS RI, UU No. 22 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS, Jakarta, 2003, Hal. 8
guru melaksanakan tugas profesionalnya dituntut kemampuan lainnya, yaitu

menyediakan atau menciptakan situasi dan kondisi belajar yang kondusif dan

menyenangkan yang memungkinkan kegiatan belajar mengajar bisa berjalan

dengan baik sesuai perencanaan dan mencapai tujuan sesuai yang dikehendaki.

           Kondisi kelas yang kondusif dan menyenangkan dapat terwujud jika guru

mampu mengatur suasana pembelajaran, mengkondisikan siswa untuk belajar dan

memanfaatkan            atau     menggunakan          sarana      pengajaran       serta   dapat

mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan

pembelajaran. Dengan kondisi inilah yang diutamakan tugas guru dalam

pengelolaan kelas. Maka dalam hal ini dapat kita ketahui bahwa makna dari

pengelolaan kelas sebagai berikut:


           Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan
           memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi
           gangguan dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain,           ialah
           kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang
           optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar.4


           Dari uraian diatas dapat dimengerti bahwa peranan guru dalam mengelola

kelas sangat dibutuhkan untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif dan

menciptakan aktivitas dan kreatifitas              siswa perlu untuk diteliti dan diadakan
                                                                                                             6




peninjauan.         Dengan       dasar      inilah   penulis      mengangkat        judul     “PERANAN

PENGELOLAAN                  KELAS         DALAM         MENINGKATKAN               AKTIVITAS          DAN

KREATIVITAS SISWA MIN I PINANGSORI”.
4.
     Djamarah Syaiful Bahri & Zain Aswan, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, Rineka Cipta, 1995, Hal. 194
B. Ruang Lingkup dan Rumusan Masalah

           Adanya peranan guru dalam mengelola kelas sangat dibutuhkan untuk

menciptakan suasana belajar yang kondusif, menimbulkan minat belajar siswa

sehingga siswa selalu melakukan aktivitas serta kreativitas yang positif selama

proses belajar mengajar yang menjadikan tujuan dari pembelajaran dapat dicapai

dengan baik. Untuk penulis membuat ruang lingkup dan rumusan masalah tentang

apa yang diteliti sebagai berikut:

1. Apakah latar belakang pendidikan guru itu sudah sesuai?

2. Apakah guru sudah melaksanakan tugas sesuai dengan fungsinya?

3. Apakah disekolah tersebut tersedia fasilitas belajar yang lengkap?

4. Apakah peranan guru dalam menciptakan aktivitas dan kreativitas siswa MIN I

       Pinangsori?

5. Metode apa sajakah yang digunakan guru selama proses pembelajaran

       berlangsung?

6. Metode apa pula yang dilakukan guru untuk menciptakan suasana kondusif,

       menarik minat belajar siswa sehingga siswa dapat melakukan aktivitas dan

       kreativitas yang baik selama proses pembelajaran?

7. Pendekatan apa sajakah yang dilakukan guru didalam mengelola kelas?
                                                                              7




C. Pembatasan Istilah

      Untuk mencegah supaya tidak terjadi salah pengertian terhadap judul

skripsi ini yang pada gilirannya akan menimbulkan kesalahpahaman bagi para

pembaca, untuk itu penulis akan memberikan batasan terhadap beberapa istilah

yang akan digunakan sebagai berikut:

1. Peranan artinya: “Sesuatu yang menjadi bagian dalam mencapai hasil tertentu

   yang diharapkan”.5 Adapun peranan yang penulis maksud disini adalah

   peranan guru kelas maupun guru mata pelajaran didalam mengadakan

   pengelolaan kelas selama proses pembelajaran berlangsung dan bagaimana

   menciptakan aktivitas dan kreativitas siswa-siswi MIN I Pinangsori.

2. Pengelolaan artinya: “Kegiatan mengurus, menyelenggarakan atau mengatur”. 6

   Adapun pengertian pengelolaan yang penulis maksud adalah kegiatan-kegiatan

   untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal selama

   terjadinya proses belajar mengajar di MIN I Pinangsori.

3. Kelas artinya: “Ruangan, tempat belajar di sekolah”.7 Adapun pengertian kelas

   yang penulis maksudkan adalah ruangan atau tempat terjadinya proses

   kegiatan belajar mengajar antara guru dengan siswa ataupun antar siswa.

   Ruangan yang dapat terjadinya         tempat      yang        nyaman     dan

   menyenangkan bagi peserta didik sehingga menimbulkan semangat belajar

   dan betah berada didalam kelas.
                                                                                                 8




4. Meningkatkan artinya: “Melakukan sesuatu untuk mencapai yang lebih baik”. 8

     Adapun pengertian meningkatkan yang penulis maksudkan adalah apa saja

5.
   Ali Muhammad, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern, Jakarta, Pustaka Amani, 1995, Hal. 174
6.
   Yasyin Sulchan, Kamus Pintar Bahasa Indonesia, Surabaya, Amanah, 1995, Hal. 112
7.
   Ali Muhammad, Log. Cit, Hal. 118
8.
   Yasyin Sulchan, Log. Cit, Hal. 224



     yang menjadi upaya-upaya yang dilakukan guru selama proses kegiatan

     belajar mengajar didalam kelas untuk meningkatkan kegairahan belajar anak

     didik baik secara berkelompok maupun secara individual. Dalam hal ini adalah

     khusus di MIN I Pinangsori.

5. Aktivitas artinya: “Kegiatan”.9 Adapun pengertian aktivitas yang penulis

     maksudkan adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan peserta didik didalam

     ruangan kelas selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung di MIN I

     Pinangsori, kegiatan tersebut mencakup pada keseluruhan kegiatan yang

     dilakukan siswa, baik kegiatan yang positif maupun kegiatan yang negatif atau

     kurang baik.

6. Kreativitas artinya: “Menciptakan kegiatan yang berguna”.10 Adapun pengertian

     kreativitas yang penulis maksudkan adalah daya cipta anak didik didalam

     ruangan belajar selama proses belajar mengajar berlangsung dan bagaimana

     anak didik dalam memanfaatkan waktu belajar dengan efektif dan efisien.



D. Tujuan Penelitian
                                                                                     9




            Sebagai tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh pengetahuan lebih

jelas mengenai peranan pengelolaan kelas dalam meningkatkan aktivitas dan

kreativitas siswa adalah:

1. Untuk mendapatkan data yang akurat mengenai kegiatan guru, latar belakang

9.
       Ibid, Hal. 11
10.
      Ibid, Hal. 129
       pendidikan guru serta bagaimana guru dalam menjalankan fungsinya di MIN I

       Pinangsori.

2. Untuk mengetahui sejauh mana peran guru di MIN I Pinangsori dalam

       meningkatkan aktivitas dan kreativitas serta prestasi siswa.

3. Untuk mengetahui metode dan pendekatan yang dilaksanakan guru dalam

       pengelolaan kelas.

4. Untuk           menambah   wawasan      penulis   dalam   pengetahuan   pelaksanaan

       pengelolaan kelas selama proses belajar mengajar berlangsung.

5. Dalam rangka penyelesaian tugsa untuk memperoleh gelar Sarjana Strata 1 di

       Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Sibolga (STIT – MUSI).


E. Kegunaan Penelitian

            Dengan adanya tujuan dari penelitian diatas, tentu tidak lepas lagi kita

mengetahui kegunaan penelitian ini, maka diharapkan agar penelitian ini dapat

berguna:

1. Sebagai salah satu cara untuk meneliti proses pembelajaran, khususnya

       tentang kajian pengelolaan kelas.
                                                                               10




2. Sebagai sumbangan penelitian penulis bagi pendidikan, khususnya bagi MIN I

   Pinangsori.

3. Menjadi karya ilmiah bagi sekolah dan penulis, sekaligus menjadi persyaratan

   dalam   mengikuti   ujian   munaqasah   di Sekolah    Tinggi   Ilmu   Tarbiyah

   Muhammadiyah Sibolga (STIT – MUSI).

4. Sebagai bahan kajian untuk mendorong penelitian lebih lanjut mengenai hal-hal

   yang belum terungkap dalam penelitian ini, serta untuk menambah wawasan

   ilmu pengetahuan terutama bagi penulis sendiri.
                                                                                  11




                                      BAB II

                              LANDASAN TEORITIS




A. Pengertian Pengelolaan Kelas

      Keberhasilan guru melaksanakan kegiatan tidak saja menuntut kemampuan

menguasai materi pelajaran, strategi dan metode mengajar, menggunakan media

atau alat pembelajaran, tetapi juga lebih dari semua itu.

      Masalah pokok yang dihadapi guru, baik pemula maupun yang sudah

berpengalaman adalah pengelolaan kelas. Aspek yang paling sering didiskusikan

oleh para guru sebagai tenaga kependidikan juga oleh pengamat dibidang

kependidikan    serta   masyarakat    luas   yang   memiliki   minat   dalam   dunia

kependidikan.

      Pengelolaan kelas merupakan masalah tingkah laku yang kompleks dan

guru biasanya menggunakan pengelolaan kelas                 untuk menciptakan dan

mempertahankan kondisi kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat

mencapai tujuan pengajaran secara efisien dan memungkinkan mereka dapat
                                                                            12




belajar. Dengan demikian pengelolaan kelas yang efektif adalah syarat bagi

pengajaran yang efektif.

      Tugas utama yang paling sulit bagi guru adalah pengelolaan kelas,

meskipun demikian pengelolaan kelas adalah salah satu tugas guru yang tidak

pernah ditinggalkan. Menurut Hasibuan dan Moerdiono memberikan pengertian

bahwa: “Pengelolaan kelas adalah pengaturan berkaitan dengan penyediaan

kondisi belajar”.1 Menurut keterangan tersebut dapat kita pahami bahwa dalam

mengelola kelas berkaitan dengan menciptakan situasi, suasana maupun kondisi

belajar yang kondusif dan menyenangkan sehingga terwujudlah suasana kelas

yang aman dan tenteram selama proses belajar mengajar berlangsung.

      Adapun yang termasuk kedalam hal diatas misalnya adalah penghentian

tingkah laku anak didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian hadiah

bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa, atau penetapan norma

kelompok yang produktif.

      Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu

mengatur anak didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam

suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Juga hubungan

interpersonal yang baik antara guru dan anak didik, anak anak didik dengan anak

didik lainnya, merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas. Pengelolaan

kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar

mengajar yang efektif.
                                                                                                 13




          Setiap guru yang masuk kedalam kelas, maka pada saat itu pula ia

menghadapi dua masalah pokok, yaitu masalah pengajaran dan masalah

manajemen. Adapun maksudnya bahwa, “Masalah pengajaran adalah usaha

membantu anak didik dalam mencapai tujuan khusus pengajaran                                 secara

1.
     Hasibuan dan Moerdiono dalam buku Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer, Bandung,
     Alfabeta, 2000, Hal. 84
langsung”.2 Dari pengertian itu dapat ditarik kesimpulan bahwa masalah

pengajaran yaitu pembelajaran yang merupakan aktivitas guru dan peserta didik

sebagai proses interaksi untuk mencapai tujuan pembelajaran, misalnya membuat

satuan pelajaran, penyajian informasi, mengajukan pertanyaan, evaluasi dan

masih banyak lagi.

          Sedangkan yang dimaksud dengan masalah manajemen adalah, “Usaha

untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga

proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien”.3 Dari

pengertian tersebut dapat kita pahami bahwa guru harus selalu berusaha

menciptakan dan mempertahankan kondisi ataupun suasana kelas termasuk

tingkah laku anak didik yang harus dapat diamankan sesuai dengan aturan

sekolah, misalnya: memberi penguatan, mengembangkan hubungan antara guru

dengan anak didik, menarik minat dan memotivasi anak didik serta membuat

aturan kelompok yang produktif.

          Jika kita perhatikan kadang-kadang sukar untuk membedakan mana

masalah pengajaran dan mana masalah manajemen. Akan tetapi dapat kita teliti
                                                                               14




bahwa masalah pengajaran harus diatasi dengan pengajaran, sementara masalah

manajemen atau pengelolaan kelas harus diatasi dengan cara pengelolaan.

           Dengan adanya pengelolaan kelas yang baik oleh guru maka diharapkan

agar anak didik bertingkah laku yang baik terhadap guru dan peserta didik lainnya.

2.
     Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan, Op. Cit, Hal. 195
3.
     Ibid
Anak didik merasa betah dengan suasana kelas dan bersemangat dalam

menerima penjelasan tentang materi pelajaran yang diberikan guru sehingga anak

didik selalu melakukan aktivitas yang positif dan memiliki kreativitas serta

bertanggung jawab atas dirinya.

           Oleh karena kegiatan pengelolaan kelas merupakan suatu kegiatan yang

erat hubungannya dengan pengajaran dan pendidikan, sementara pendidikan

merupakan proses pemindahan pengetahuan. Untuk lebih jelas tentang pengertian

pendidikan, Soeganda Poerbakawatja menguraikan pengertian pendidikan dalam

arti yang luas sebagai berikut:


           Pendidikan adalah semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk
           mengalihkan pengetahuannya, kecakapannya serta keterampilannya
           kepada generasi muda, sebagai usaha menyiapkannya agar dapat
           memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah. Atau dapat
           pula dikatakan bahwa pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang
           dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan sianak kekedewasaan
           yang selalu diartikan mampu memikul tanggung jawab moril dari segala
           perbuatannya.4


           Jelas kita ketahui bahwa pendidikan itu merupakan peranan yang penting

bagi setiap insan yang sengaja diberikan secara sadar dan sistematis untuk dapat
                                                                                                      15




melaksanakan fungsi dan tugas hidupnya secara bertanggung jawab. Dengan

adanya pendidikan, individu bisa terarah kepada kedewasaan baik jasmani

maupun rohaninya. Dalam ajaran Islam, menuntut                             ilmu     itu    diwajibkan

4.
     Soeganda Poerbakawatja, dalam buku Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 2004,
     Hal. 120

sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:




           Artinya     :   “Menuntut ilmu pengetahuan itu adalah kewajiban bagi setiap
                           muslim pria maupun wanita”.5 (HR. Ibnu Abdil Bar)


           Sabda Rasulullah diatas menjelaskan bahwa dalam Agama Islam

memerintahkan kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat untuk belajar

berbagai macam ilmu pengetahuan baik ilmu duniawi maupun ilmu akhirat

sepanjang hidupnya, sejak lahir sampai meninggal dunia. Hal ini membuktikan

bawha Agama Islam sejak awal telah meletakkan dasar utama adanya pendidikan

seumur hidup, sesuai dengan hadits Rasulullah Muhammad SAW yang

diriwayatkan Ibnu Abdil Bar, yang berbunyi:




           Artinya     :   “Tuntutlah ilmu mulai dari ayunan sampai keliang lahat”.6
                                                                                  16




            Menurut ayat diatas jelas kita ketahui bahwa menuntut ilmu itu sangat

penting sehingga sepanjang hayat kita diseur untuk menuntut ilmu. Pendidikan

harus diberikan sejak dini dengan cara yang sebaik-baiknya dan benar. Janganlah


5.
     Zuhairini, Ibid, Hal. 101
6.
     Ibid, Hal. 102
memberikan pendidikan yang kurang tepat kepada anak didik, sebab mereka

masih sangat mudah dipengaruhi. Berikanlah pendidikan kepada anak secara

kontiniu dan berkesinambungan.

            Disamping memerintahkan umatnya untuk belajar, Rasulullah SAW juga

memerintahkan kepada umatnya untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain

dengan mempergunakan metode yang tepat guna sehingga dapat berhasil guna.

Jadi, Islam mewajibkan umatnya belajar dan mengajar.

            Kegiatan belajar dan mengajar yang berlangsung disekolah bersifat formal,

disengajar, direncanakan, dengan bimbingan guru dan bantuan pendidik lainnya.

belajar dan mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif

mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan peserta didik. Interaksi yang

bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan

untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran

dilakukan guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara

sistematis.

            Harapan yang tidap pernah sirna dan selalu menjadi tuntutan setiap guru

adalah bagaimana materi pelajaran yang disampaikan guru dapat dikuasai oleh
                                                                            17




peserta didik secara tuntas. Pada umumnya ini merupakan masalah sulit yang

dirasakan oleh guru. Kesulitan itu dikarenakan anak didik bukan hanya sebagai

individu dengan segala keunikannya, tetapi mereka juga sebagai makhluk sosial

dengan latar belakang yang berlainan. Paling sedikit ada tiga aspek yang

membedakan anak didik yang satu dengan yang lainnya, yaitu “aspek intelektual,

psikologis, dan biologis”.7

       Ketiga aspek tersebut diakui sebagai akar permasalahan yang melahirkan

bervariasinya sikap dan tingkah laku anak didik disekolah. Hal itu pula yang

menjadi tugas yang cukup berat bagi guru dalam mengelola kelas dengan baik,

keluhan-keluhan guru sering terlontar hanya karena masalah sukarnya mengelola

kelas. Akibat kegagalan guru mengelola kelas, tujuan pengajaran pun sukar untuk

dicapai. Hal ini kiranya tidak perlu terjadi, karena usaha yang dapat dilakukan

masih terbuka lebar. Salah satu caranya adalah meminimalkan jumlah anak didik

dikelas.

       Mengaplikasikan beberapa prinsip pengelolaan kelas adalah upaya lain

yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Pengelolaan kelas yang baik akan

melahirkan interaksi belajar mengajar yang baik pula. Tujuan pembelajaran pun

dapat dicapai tanpa menemukan kendala yang berarti. Hanya sayangnya

pengelolaan kelas yang baik tidak dapat dipertahankan, dikehendaki datang

dengan tiba-tiba.

       Suatu gangguan yang datang dengan tiba-tiba dan diluar kemampuan guru

adalah kendala yang spontanitas. Suasana kelas biasanya terganggu yang
                                                                                 18




ditandai dengan pecahnya konsentrasi anak didik. Setelah itu, tugas guru adalah

bagaimana supaya anak didik kembali belajar dengan memperhatikan tugas

belajar yang diberikan oleh guru.
7.
     Djamarah, Syaiful Bahri, Log. Cit, Hal. 1
            Masalah pengelolaan kelas memang masalah yang tidak pernah absent dari

agenda kegiatan guru. Semua itu tidak lain guna kepentingan belajar anak didik.

Masalah lain yang juga selalu guru gunakan adalah masalah pendekatan. Hampir

tidak pernah ditemukan dalam suatu pertemuan, seorang guru tidak melakukan

pendekatan tertentu terhadap semua anak didik. Karena dapat disadari bahwa

pendekatan dapat mempengaruhi hasil kegiatan belajar mengajar. Bila begitu

akibat yang dihasilkan dari penggunaan suatu pendekatan, maka setiap guru tidak

akan sembarangan memilih dan menggunakannya. Bahan pelajaran yang satu

mungkin cocok untuk suatu pendekatan tertentu, akan tetapi untuk pelajaran yang

lain lebih tepat digunakan pendekatan yang lain.

            Dari uraian diatas dapat kita pahami bahwa sangat penting mengenal suatu

bahan untuk kepentingan pemilihan pendekatan, kita juga harus menyesuaikan

antara materi yang diajarkan dengan pendekatan yang tepat, ini juga merupakan

salah satu dari pengelolaan kelas. Selanjutnya dibawah ini pengertian pengelolaan

kelas menurut Syaiful Bahri Djamarah, sebagai berikut:


            Pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dengan sengaja dilakukan
            guna mencapai tujuan pengajaran, kesimpulan yang sangat sederhana
            adalah suatu bahwa pengelolaan kelas merupakan kegiatan pengaturan
            kelas untuk kepentingan pengajaran dan untuk mempertahankan ketertiban
            kelas.8
                                                                                19




            Menurut keterangan diatas dapat kita mengerti bahwa pengelolaan kelas

dilakukan sesuai materi pelajaran dan sejalan dengan tujuan pengajaran,
8.
     Ibid, Hal. 198
penggunaan alat-alat yang tepat terhadap penciptaan situasi kelas yang

diharapkan. Dalam hal ini guru bertugas menciptakan mempertahankan dan

memelihara suasana kelas yang aman, nyaman, tertib dan kondusif sehingga

peserta didik dapat memanfaatkan aktivitas dan kreativitasnya selama proses

pembelajaran termasuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru.

            Jelas kita ketahui bahwa sangat erat hubungannya antara pengelolaan

kelas dengan pencapaian tujuan pembelajaran, sehingga dapat kita ambil

kesimpulan bahwa semakin optimal guru mendayagunakan potensi kelas maka

akan semakin maximal dalam pencapaian tujuan pembelajaran, peserta didik akan

leluasa melakukan kegiatan-kegiatan kreatif dan terarah.


B. Tujuan Pengelolaan Kelas

            Pengelolaan kelas yang dilakukan guru bukan tanpa tujuan. Karena adanya

tujuan itulah guru selalu berusaha mengelola kelas, walaupun terkadang kelelahan

fisik maupun pikiran dirasakan. Dapat kita pahami bahwa guru sadar tanpa

mengelola kelas dengan baik, maka akan berakibat menghambat kegiatan belajar

dan mengajar. Hal itu sama saja dengan membiarkan jalannya pembelajarannya

tanpa memperoleh hasil, yaitu menghantarkan peserta didik dari tidak tahu
                                                                              20




menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti serta dari tidak berilmu

menjadi berilmu.

      Tentu tidak perlu diragukan lagi bahwa setiap kali masuk kekelas guru

selalu melaksanakan tugasnya mengelola kelas. Pengelolaan kelas dimaksudkan

untuk menciptakan kondisi dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas

yang baik, yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya,

kemudian dengan pengelolaan kelas yang diciptakan guru harus sesuai dengan

tujuan-tujuan yang hendak dicapai.

      Pembelajaran klasikal adalah kegiatan penyampaian pelajaran kepada

sejumlah siswa, yang biasanya dilakukan oleh guru sebagai tenaga pengajar

dengan berceramah didepan kelas. Pembelajaran klasikal mencerminkan

kemampuan utama seorang guru, karena pembelajaran klasikal ini merupakan

kegiatan belajar dan mengajar yang tergolong efisien. Pembelajaran secara

klasikal ini memberi arti bahwa seorang guru telah melakukan dua kegiatan

sekaligus yaitu mengelola kelas dan mengelola pembelajaran.

      Pengelolaan kelas adalah “penciptaan kondisi yang memungkinkan

terselenggaranya kegiatan pembelajaran secara baik dan menyenangkan yang

dilakukan didalam kelas diikuti sejumlah siswa yang dibimbing oleh seorang

guru”.9 Dari penjelasan tersebut dapat kita pahami bahwa guru dituntut

kemampuannya       menggunakan       teknik-teknik   penguatan   dalam    proses

pembelajaran agar ketertiban belajar dapat diwujudkan. Pengajaran klasikal dirasa
                                                                                 21




lebih sesuai dengan kurikulum yang uniform, yang dinilai melalui ujian yang

uniform pula.

            Pengajaran klasikal merupakan kaharusan dalam menghadapi jumlah murid

yang membanjiri sekolah akibat demokrasi, industrialisasi, pemerataan dan
9.
     Sagala, Syaiful, Log. Cit, Hal. 186
pendidikan atau kewajiban belajar. Dengan sendirinya dicari usaha untuk

memperbaiki pengajaran klasikal itu. Kurikulum dijadikan uniform bagi seluruh

negara, ujian akhir dan tes masuk sedapat mungkin disamakan untuk semua jenis

sekolah.

            Buku pelajaran yang diterbitkan oleh pemerintah sama bagi semua, bila

diizinkan buku-buku lain dapat digunakan asalkan dasarnya sama yaitu mengacu

pada kurikulum yang telah ditentukan pemerintah. Dicari metode pendidikan

klasikal yang paling efektif dan paling baik bagi kelas atau bagi kelompok. Adapun

guru yang dipersiapkan adalah guru yang baik bagi kelas. Pestalozzi diakui

sebagai tokoh yang melahirkan gagasan-gagasan besar tentang pendidikan,

antara lain:


            (1) Mendemokrasikan pendidikan dengan menyatakan adalah hak mutlak
            dari setiap anak untuk mengembangkan potensi dirinya sepenuhnya; (2)
            Mempsikologikan pendidikan, yaitu teori dan praktek pendidikan harus
            didasarkan pada psikologi atau ilmu tentang karakteristik jiwa individu
            manusia; (3) Mendasarkan pendidikan pada perkembangan organic
            daripara pemindahan gagasan-gagasan; (4) Pendidikan mulai dengan
            persepsi tentang objek-objek yang konkrit, pembentukan tindakan-tindakan
            yang konkrit, dan pengalaman terhadap respon-respon emosional yang
            aktual; (5) Perkembangan adalah sebuah pembangunan potensi secara
            berangsur-angsur, sesuai dengan pemekaran kemampuan-kemampuan dari
            anak; (6) Perasaan-perasaan keagamaan dibentuk mendahului dari kata-
                                                                                            22




         kata atau simbol-simbol yang dimiliki anak; (7) Perlu ada pandangan yang
         revolusioner tentang disiplin, yang didasarkan pada kemampuan baik dan
         kerjasama antar peserta didik dengan pengajar, dan (8) Diperlukan alat
         baru dalam pendidikan guru dan studi tentang pendidikan sebagai sebuah
         ilmu.10

10.
      R. Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan, Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-Dasar Pendidikan di
      Indonesia, Jakarta, PT. Raja Grafindo, 2001m Hal. 121
         Menurut pendapat Pestalozzi tersebut dapat kita mengerti bahwa

implementasinya dalam pendidikan dilakukan pada proses pengajaran yang

berlangsung diruangan kelas. Dalam pengajaran klasikal jangan sampai

merugikan bagi kepentingan anak didik sebagai individu dalam belajar, hal yang

diperhatikan adalah kelas sebagai keseluruhan, yaitu kelas sebagai tempat

sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar dan mengajar.

Selanjutnya kelas juga merupakan suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian

masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisasi menjadi suatu unit

kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar

yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.

         Guru mencoba menyesuaikan pengajarannya dengan kemampuan rata-rata

anak,     seorang guru        sebenarnya     sangat    memahami bahwa           ia   terpaksa

menghambat kemajuan anak-anak yang cerdas yang cepat menerima pengajaran

serta mengabaikan anak-anak yang lambat, hal ini penting untuk diketahui bagi

setiap guru, calon guru maupun orang-orang yang peduli dengan pendidikan agar

senantiasa dapat menentukan solusi yang tepat guna, arif dan bijaksana dalam

menanggulangi masalah tersebut. Nasution berpendapat bahwa: “justru karena
                                                                                                    23




pengajaran kira yang bersifat klasikal, harus lebih diperhatikan perbedaan

individual, yaitu guru dengan sadar memaksa dirinya memberi perhatian kepada

setiap anak secara individual dikelasnya”.11

          Dari penjelasan diatas dapat kita mengerti bahwa kegiatan-kegiatan belajar
11.
      S. Nasution, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar dan Mengajar, Jakarta, Bumi Aksara, Hal. 11
yang bersifat menerima atau menghafal pada umumnya diberikan secara klasikal.

Siswa yang berjumlah kurang lebih 30 atau 40 orang siswa, pada waktu yang

sama menerima bahan yang sama, umumnya kegiatan ini diberikan dalam bentuk

ceramah. Dalam mengikuti kegiatan belajar ini, murid-murid dituntut untuk selalu

memusatkan perhatian terhadap pelajaran, kelas harus sunyi dan semua murid

duduk ditempat, masing-masing mengikuti penjelasan yang diberikan guru.

          Pengelolaan pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai tujuan belajar

dapat dilakukan melalui tindakan penciptaan tertib belajar dikelas. Penciptaan

suasana menyenangkan dalam belajar ini dilakukan dengan pemusatan perhatian

pada bahan pelajaran dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan

materi pelajaran dan mengikutsertakan siswa secara aktif sesuai dengan kondisi

siswa.

          Belajar dikelas cenderung menempatkan siswa dalam posisi pasif, sebagai

penerima bahan ajaran. Upaya mengaktifkan siswa dapat menggunakan metode

tanya jawab, demonstrasi, diskusi, dan lain-lain yang sesuai bagi para murid-

murid, sehubungan dengan hal itu tujuan pendidikan adalah tercapainya

perkembangan anak yang serasi mengenai tenaga dan daya-daya jiwa. Untuk
                                                                                 24




membantu       peserta   didik   memikul   tanggungjawab   atas   perilakunya   dan

tanggungjawab lingkungan sosialnya sehingga dapat digunakan dalam lingkungan

kelas.

         Tujuan pengelolaan kelas yang pada hakikatnya telah terkandung dalam

tujuan pendidikan. Secara umum tujuan pengelolaan kelas menurut Sudirman N,

sebagai berikut:


         Tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-
         macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan
         intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa
         belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan
         kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap
         serta apresiasi pada siswa.12


         Menurut keterangan diatas dapat kita pahami bahwa proses pengelolaan

kelas harus dikuasai setiap guru yang akan menyampaikan materi pelajarannya

dikelas, dalam hal ini guru dituntut harus mahir dan terampil dalam menggunakan

teknik ataupun metode secara pendekatan yang tepat guna selama mengelola

kelas, agar tujuan pengelolaan kelas dapat terwujudkan dengan hasil yang

maksimal.


C. Berbagai Pendekatan Dalam Pengelolaan Kelas

         Belajar secara klasikal cenderung menempatkan siswa dalam posisi pasif,

sebagai penerima bahan ajaran. Upaya guru dalam mengaktifkan siswa dapat

menggunakan berbagai metode seperti: tanya jawab, demonstrasi, diskusi dan
                                                                                     25




lain-lain yang sesuai bagi para peserta didik dan materi pembelajarannya. Adapun

pengertian pembelajaran menurut Corey sebagai berikut:

12.
      Sudirman N, dkk, Ilmu Pendidikan, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1991, Hal. 311



          Pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan
          maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan.
          Pembelajaran merupakan suatu proses komunikasi dua arah, mengajar
          dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan
          oleh peserta didik atau murid.13


          Dari keterangan diatas jelas kita mengerti bahwa dalam pembelajaran guru

harus memahami hakikat materi pembelajaran yang diajarkannya sebagai suatu

pelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa dan memahami

berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk

belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru.

          Guru sebagai tenaga pendidik merupakan orang yang berpengetahuan

adalah orang yang terampil memecahkan masalah, mampu berinteraksi dengan

lingkungannya dengan baik dan benar. Jadi belajar dan pembelajaran diarahkan

untuk membangun kemampuan berpikir dan kemampuan menguasai materi

pelajaran, dimana pengetahuan itu sumbernya dari luar, tetapi dikonstruksi dalam

diri individu siswa, pengetahuan tidak diperoleh dengan cara diberikan atau

ditransfer dari orang lain, tetapi dibentuk dan dikonstruksi oleh individu itu sendiri

sehingga siswa itu mampu mengembangkan intelektualnya.
                                                                                        26




          Pembelajaran mempunyai dua karakteristik yaitu pertama, dalam proses

pembelajaran melibatkan proses mental siswa secara maksimal, bukan hanya

menuntut siswa sekedar mendengar, mencatat, akan tetapi mengkehendaki

aktivitas siswa dalam proses berpikir, kedua, dalam pembelajaran membangun

13.
      Sagala, Syaiful, Log. Cit, Hal. 61
suasana dialogis dan proses tanya jawab terus menerus yang diarahkan untuk

memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa, yang pada gilirannya

kemampuan berpikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan

yang mereka konstruksi sendiri.

          Dunkin dan Biddle mengatakan bahwa proses pembelajaran akan

berlangsung dengan baik jika pendidik mempunyai dua kompetensi utama yaitu:

(1) Kompetensi substansi materi pembelajaran atau penguasaan materi pelajaran;

dan (2) Kompetensi metodologi pembelajaran.14

          Dari pendapat ahli diatas dapat diambil kesimpulan bahwa guru tidak hanya

harus menguasai materi pelajaran, diharuskan juga menguasai metode pengajaran

sesuai kebutuhan ajar yang mengacu pada prinsip pedagogik, yaitu memahami

karakteristik peserta didik. Jika metode dalam pembelajaran tidak dikuasai, maka

penyampaian materi ajar menjadi tidak maksimal. Metode yang digunakan sebagai

strategi      yang      dapat       memudahkan   peserta   didik   untuk   menguasai   ilmu

pengetahuan dan teknologi. Karena dalam merespon perkembangan tersebut,

tentu tidaklah memadai kalau sumber belajar berasal dari guru dan media buku

teks belaka. Dirasakan perlu ada cara baru dalam mengkomunikasikan ilmu
                                                                                               27




pengetahuan atau materi ajar dalam pembelajaran baik dalam sistem yang mandiri

maupun dalam sistem yang struktur. Untuk itu perlu dipersiapkan sumber belajar

oleh pihak guru maupun para ahli pendidikan yang dapat dimanfaatkan dalam

proses pembelajaran.
14.
      Dunkin dan Biddle, Dalam Buku Syaiful Sagala, Ibid, Hal. 63-64
          Proses pembelajaran aktivitasnya dalam bentuk interaksi belajar mengajar

dalam suasana interaksi edukatif, yaitu interaksi yang sadar akan tujuan.

Maksudnya adalah interaksi yang telah dicanangkan untuk suatu tujuan tertentu

setidaknya adalah pencapaian tujuan intruksional atau tujuan pembelajaran yang

telah      dirumuskan        pada      satuan      pelajaran.      Kegiatan   pembelajaran   yang

diprogramkan guru merupakan kegiatan integralistik antara pendidik dengan

peserta didik.

          Pengelolaan kelas bukanlah masalah yang berdiri sendiri, tetapi terkait

dengan berbagai faktor. Permasalahan anak didik adalah faktor utama yang terkait

langsung dalam hal ini. Karena pengelolaan kelas yang dilakukan guru tidak lain

adalah untuk meningkatkan kegairahan belajar anak didik baik secara kelompok

maupun secara individual.

          Keharmonisan hubungan guru dan anak didik merupakan cerminan dari

tingginya kerjasama diantara anak didik tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya

interaksi yang optimal tentu saja tergantung dari pendekatan yang guru lakukan

dalam rangka pengelolaan kelas. Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti

dalam uraian berikut:
                                                                            28




1. Pendekatan Kekuasaan

     Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah

  laku anak didik. Peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan

  situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan merupakan kekuatan yang menuntut

  kepada anak didik untuk mentaatinya. Didalamnya ada kekuasaan dalam

  norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam

  bentuk norma itulah guru mendekatinya.

2. Pendekatan Ancaman

     Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah juga

  sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Tetapi dalam

  mengontrol anak didik dilakukan dengan cara memberi aba-aba, perhatian,

  peringatan maupun ancaman, misalnya melarang, sindiran, dan memaksa.

3. Pendekatan Kebebasan

     Pengelolaan diartikan sebagai suatu proses untuk membantu anak didik

  agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja.

  Peranan guru disini adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan

  anak didik.

4. Pendekatan Resep

     Pendekatan resep ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat

  menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh

  guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi dikelas. Dalam

  daftar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru.
                                                                               29




  Peranan guru disini adalah hanya mengikuti petunjuk seperti yang tertulis

  dalam resep.

5. Pendekatan Pengajaran

     Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu

  perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah

  laku anak didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah.

  Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk

  mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik.

  Peranan guru disini adalah merencanakan dan mengimplementasikan

  pelajaran yang baik.

6. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku

     Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses

  untuk   mengubah       tingkah   laku   anak   didik.   Peranan   guru   adalah

  mengembangkan tingkah laku anak didik yang baik, dan mencegah tingkah

  laku yang kurang baik. Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku atau

  disebut dengan istilah behavior modification approach ini bertolak dari sudut

  pandangan psikologi behavioral yang mengemukakan asumsi sebagai berikut:

     a). Semua tingkah laku yang baik dan yang kurang baik merupakan hasil
     proses belajar. Asumsi ini mengharuskan wali atau guru kelas berusaha
     menyusun program kelas dan suasana yang dapat merangsang
     terwujudnya proses belajar yang memungkinkan siswa mewujudkan tingkah
     laku yang baik menurut ukuran norma yang berlaku dilingkungan sekitarnya;
     b). Didalam proses belajar terdapat proses psikologis yang fundamental
     berupa penguatan positif (positive reinforcement), hukuman, penghapusan
     (extinction) dan penguatan negatif (negative reinforcement). Asumsi ini
     mengharuskan seorang wali atau guru kelas melakukan usaha-usaha
                                                                             30




     mengulang-ulang program atau kegiatan yang dinilai baik (perangsan) bagi
     terbentuknya tingkah laku tertentu, terutama dikalangan siswa. Kegiatan itu
     akan menjadi penguatan positif sehingga tujuan yang dirumuskan lebih
     mudah dicapai. Sebaliknya program atau kegiatan yang mengakibatkan
     timbulnya tingkah laku yang kurang baik, harus diusahakan menghindarinya
     sebagai penguatan negatif yang pada suatu saat akan hilang dari tingkah
     laku siswa atau guru yang menjadi anggota kelasnya. Untuk itu menurut
     pendekatan ini tingkah laku yang baik atau positif harus dirangsang dengan
     memberikan pujian atau hadiah yang menimbulkan perasaan senang atau
     puas. Sebaliknya tingkah laku yang kurang baik dalam melaksanakan
     program kelas harus diberi sanksi atau hukuman yang akan menimbulkan
     perasaan tidak puas dan pada gilirannya tingkah laku tersebut akan
     dihindari.15


     Dari penjelasan yang panjang lebar diatas mengenai sudut pandangan

  psikologi behavioral dapat kita ambil kesimpulan bahwa guru dikelas dituntut

  mampu menguasai anak didik dengan cara melakukan pengelolaan kelas

  melalui pendekatan perubahan tingkah laku yaitu guru berusaha semaksimal

  mungkin untuk merubah tingkah laku anak yang kurang baik menjadi

  bertingkah laku yang baik, anak yang sudah bertingkah laku baik dihimbau agar

  tetap demikian sehingga proses belajar mengajar dikelas dapat berjalan

  dengan baik.

7. Pendekatan Suasana Emosi dan Hubungan Sosial

     Pendekatan pengelolaan kelas berdasarkan suasana perasaan dan

  suasana sosial didalam kelas sebagai sekelompok individu cenderung pada

  pandangan psikologis klinis dan konseling atau penyuluhan. Menurut

  pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim

  atau suasana emosional dan hubungan sosial yang positif didalam kelas.
                                                                                               31




      Suasana emosional dan hubungan sosial yang positif yang dimaksud yaitu ada

      hubungan baik yang positif antara guru dengan anak didik, dan anak didik

      dengan anak didik. Dalam hal                  ini,   guru       adalah kunci utama terhadap

      pembentukan hubungan pribadi itu, dan peranannya adalah menciptakan

15.
      Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain Aswar, Op. Cit, Hal. 202-203
      hubungan pribadi yang sehat. Syaiful Bahri dan Aswan Zein menjelaskan

      bahwa terdapat dua asumsi yang dipergunakan dalam pengelolaan kelas

      sebagai berikut:

          a). Iklim sosial dan emosional yang baik adalah dalam arti terdapat
          hubungan interpersonal yang harmonis antara guru dengan guru, guru
          dengan siswa, dan siswa dengan siswa, merupakan kondisi yang
          memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif.
          Asumsi ini mengharuskan seorang wali atau guru kelas berusaha menyusun
          program kelas dan pelaksanaannya yang didasari oleh hubungan
          manusiawi yang diwarnai sikap saling menghargai dan saling menghormati
          antar personal dikelas. Setiap persoalan diberi kesempatan untuk ikut serta
          dalam kegiatan kelas sesuai dengan kemampuan masing-masing sehingga
          timbul suasana sosial dan emosional yang menyenangkan pada setiap
          personal dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab masing-masing;
          b). Iklim sosial dan emosional yang baik bergantung pada guru dalam
          usahanya melaksanakan kegiatan belajar mengajar, yang disadari dengan
          hubungan manusiawi yang efektif. Dari asumsi ini berarti dalam pengelolaan
          kelas seorang wali atau guru kelas harus berusaha mendorong guru-guru
          agar mampu dan bersedia mewujudkan hubungan manusiawi yang penuh
          saling pengertian, hormat menghormati dan saling menghargai. Guru harus
          didorong menjadi pelaksana yang berinisiatif dan kreatif serta selalu terbuka
          pada kritik. Disamping itu berarti juga guru harus mampu dan bersedia
          mendengarkan pendapat, saran, gagasan, dan lain-lain dari siswa sehingga
          pengelolaan kelas berlangsung dinamis.16


          Dari pendapat diatas cukup jelas bagi kita bahwa menjalin hubungan sosial

      yang baik dikelas dapat menciptakan suasana emosional setiap personal
                                                                                 32




      didalam kelas menjadi baik sehingga mampu melaksanakan tugas yang

      diberikan guru serta bertanggungjawab.

8. Pendekatan Proses Kelompok

          Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk menciptakan

16.
      Ibid, Hal. 204
      suasana kelas sebagai suatu sistem sosial, dimana proses kelompok

      merupakan yang paling utama. Peranan guru adalah mengusahakan agar

      perkembangan dan pelaksanaan proses kelompok itu efektif. Proses kelompok

      adalah usaha guru mengelompokkan anak didik kedalam beberapa kelompok

      dengan berbagai pertimbangan individu sehingga tercipta kelas yang bergairah

      dan anak didik termotivasi dalam belajar.

9. Pendekatan Electis

          Pendekatan electis ini menekankan pada potensialitas, kreativitas, dan

      inisiatif wali atau guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut

      diatas berdasarkan situasi yang dihadapinya. Penggunaan pendekatan ini

      dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi lain

      mungkin harus mengkombinasikan dua atau tiga pendekatan tersebut diatas.

      Pendekatan electis disebut juga pendekatan pluralistic yaitu pengelolaan kelas

      yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki

      potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi yang

      memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efektif dan efisien. Guru

      memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai
                                                                                33




   dengan kemampuan dan selama maksud dari penggunaannya untuk

   pengelolaan kelas disini adalah suatu rangkaian kegiatan guru untuk

   menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan

   proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien.


      Berdasarkan       pendekatan-pendekatan     diatas   maka    dapat   diambil

pemahaman bahwa untuk terwujudnya suasana kelas yang harmonis, aman dan

kondusif perlu diadakan kiat-kiat untuk menguasai kelas, disini guru dituntut harus

bijak, terampil, dan kreatif menghimbau serta membawa anak didik menjadi betah

belajar dikelas. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surah An-Nahl ayat

125, yang berbunyi:

           
     
            
             
      Artinya   :     “Serulah manusia kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah
                      (bijaksana) dan pelajaran yang baik dan bertukar pikiranlah
                      dengan mereka dengan cara yang baik”. 17


      Maksud dari ayat diatas adalah menyuruh atau menyeru kepada kita semua

agar dalam mendidik dan membimbing itu harus dengan kebaikan dan ketulusan

jiwa, begitu pula halnya sebagai seorang guru harus senantiasa memberi didikan

dan bimbingan yang baik-baik dan mengajar dengan cara yang baik pula, jangan

sekali-kali mendidik dengan cara yang kasar, kekerasan atau paksaan terhadap

anak didik karena dapat membawa dampak negatif kepada anak didik, sehingga
                                                                                 34




usaha kita dalam memberi pelajaran tidak berhasil dan bermuara kepada tidak

tercapainya tujuan pembelajaran. Dan selanjutnya firman Allah SWT pada surat Al-

Maidah ayat 2 berbunyi:

     
   
       
17.
      Ibid, Hal. 204
          Artinya      :   “Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan
                           dan takwa dan janganlah kamu menolong dalam berbuat dosa
                           dan pelanggaran”.18 (Q.S. Al-Maidah:2)


          Menurut ayat diatas sangat jelas kita ketahui bahwa kita dianjurkan untuk

saling tolong menolong, mengerjakan kebajikan dan bertaqwa. Dalam hal ini guru

bertugas mendidik dan membimbing anak didik sudah termasuk kedalam ayat

diatas. Guru selalu memberi pendidikan dan pengajaran yang baik bagi anak

didiknya serta melarang anak didik berbuat dosa dan pelanggaran. Ini tidak

terlepas dari pengelolaan kelas, dimana guru selalu berupaya agar anak didiknya

selalu menyimak pelajaran dan bertingkah laku yang baik serta melarang mereka

melakukan pelanggaran dan bertingkah laku yang kurang baik.


D. Beberapa Masalah Dalam Pengelolaan Kelas

          Telah kita ketahui bersama bahwa pengelolaan kelas bukanlah hal yang

mudah dan ringan. Jangankan bagi calon guru yang sudah mantap dengan

pendidikan akademisnya atau bagi guru yang baru menerjunkan diri kedalam

dunia pendidikan, bagi guru yang sudah professional juga merasakan betapa
                                                                            35




sukarnya mengelola kelas. Namun begitu tidak pernah guru merasa jenuh dalam

mengelola kelas setiap kali mengajar dikelas.

          Pada umumnya gagalnya seorang guru mencapai tujuan pengajaran

sejalan dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan

18.
      Ibid, Hal. 201



itu adalah prestasi belajar siswa rendah, tidak sesuai atau batas ukuran yang

ditentukan. Oleh karena itu pengelolaan kelas merupakan kompetensi guru yang

sangat penting dikuasai oleh guru dalam kerangka keberhasilan proses belajar

mengajar.

          Bagi setiap guru sebagai tenaga pendidik berkeinginan agar tugas

mengelola kelas bukan menjadi beban yang berat. Namun, hal ini merupakan

suatu harapan yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Apalagi bila kelas yang

akan dikelola itu dengan jumlah siswa yang besar, misalkan jumlah murid dalam

satu kelas lebih dari dua puluh orang siswa, menurut kesepakatan para ahli

didalamnya terkumpul berbagai karakteristik siswa yang bervariasi. Suatu

kevariasian yang melahirkan perilaku yang bermacam-macam pula. Itu berarti

bermacam-macam pula masalah yang akan ditimbulkannya.

          Keanekaragaman atau keanekamacaman masalah perilaku siswa itu

menimbulkan beberapa masalah dalam pengelolaan kelas. Menurut Made Pidarta,

masalah-masalah pengelolaan kelas yang berhubungan dengan perilaku siswa,

sebagai berikut:
                                                                                36




      1) Kurang kesatuan, dengan adanya kelompok-kelompok, klik-klik, dan
      pertentangan jenis kelamin; 2) Tidak standar perilaku dalam bekerja
      kelompok, misalnya: ribut, bercakap-cakap, pergi kesana kemari dan
      sebagainya; 3) Reaksi negatif terhadap anggota kelompok, misalnya ribut,
      bermusuhan, mengucilkan, merendahkan kelompok bodoh dan sebagainya;
      4) Kelas mentoleransi kekeliruan-kekeliruan temannya, ialah menerima dan
      mendorong perilaku siswa yang keliru; 5) Mudah mereaksi negatif atau
      terganggu, misalnya bila didatangi monitor, tamu-tamu, iklim yang berubah
      dan sebagainya; 6) Moral rendah, permusuhan, agresif, misalnya dalam
      lembaga dengan alat-alat belajar kurang, kekurangan yang dan sebagainya;
      7) Tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang berubah, seperti
      tugas-tugas tambahan, anggota kelas yang baru, situasi yang baru dan
      sebagainya.19


      Dari penjelasan diatas merupakan beberapa masalah dari sekian

banyaknya masalah pengelolaan kelas yang berhubungan dengan perilaku siswa,

dapat kita pahami bahwa keanekaragaman perilaku diatas tentu mempunyai sebab

karena ada faktor-faktor penyebablah timbulnya variasi perilaku itu. Adapun faktor-

faktor penyebab variasi perilaku itu menurut penulis antara lain:

1. Karena pengelompokkan (pandai, sedang, bodoh). Kelompok bodoh akan

   menjadi sumber negatif atau penolakan.

2. Dari karakteristik individual, seperti kemampuan kurang, membuat tidak puas,

   atau dari latar belakang ekonomi rendah yang menghalangi kemampuannya.

3. Kelompok pandai akan merasa terhalang oleh teman-temannya yang tidak

   mampu seperti dia. Kelompok ini sering menolak standar yang diberikan oleh

   guru. Sering juga kelompok ini membentuk norma sendiri, yang seringkali tidak

   sesuai dengan harapan sekolah.
                                                                                37




4. Dalam latihan diharapkan semua siswa tenang dan bekerja sepanjang jam

      pelajaran, kalau ada terjadi interaksi mungkin mereka akan merasa tegang atau

      cemas. Karena itu perilaku-perilaku yang menyimpang seorang dua orang bisa

      ditoleransi asal tidak merusak kesatuan. Guru harus berusaha mengadakan

      situasi agar mereka bisa mengadakan interaksi.

19.
      Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain Aswan, Op. Cit, Hal. 218
          Berbagai masalah yang dikemukakan tersebut adalah masalah yang

berkepanjangan bagi guru. Belum lagi masalah besar kecilnya jumlah kelas.

Masalah ini juga tidak pernah luput dari agenda kegiatan guru. Masalah ini

bermuara pada dua kutub yang berbeda. Ada guru yang senang mengajar dengan

jumlah siswa yang banyak, dan ada pula guru yang kurang bergairah mengajar

dengan jumlah siswa yang sedikit. Tetapi pada umumnya banyak guru yang

mempermasalahkan jumlah siswa yang banyak di kelas. Mereka mengeluh bahwa

jumlah siswa yang terlalu besar sukar dikelola, dan lebih mudah terjadi konflik

diantara mereka. Kemudian mereka percaya bahwa perbaikan mutu pelajaran

langsung dapat dicapai dengan mengurangi besarnya jumlah siswa dikelas.

          Sementara itu dipihak lain, para penyelenggara dan pengelola keuangan,

menyadari tingginya biaya pendidikan dan latihan, cenderung disebabkan oleh

jumlah kelas dan siswa yang sedikit. Mereka berpendapat bahwa baik biaya

maupun mendesaknya kebutuhan sumber pendapatan dapat diatasi dengan

menambah jumlah siswa, walau siswa harus berdesakan dalam ruangan kelas

yang sempit. Namun, demikian keluhan guru mengenai jumlah siswa yang terlalu
                                                                                 38




besar,    yang    menyebabkan     sukarnya   pengelolaan    kelas   dan   keinginan

administrator untuk menambah biaya dengan menambah jumlah siswa, hingga

ruangan kelas kurang mampu menampungnya.

         Selain masalah besar kecilnya jumlah siswa dikelas, masalah disiplin

adalah masalah lain yang juga menjadi beban bagi guru. Cukup banyak bentuk

pelanggaran disiplin kelas yang siswa lakukan disekolah. Bentuk-bentuk

pelanggaran disiplin kelas itu meliputi masalah individual dan masalah kelompok.

         Bentuk-bentuk pelanggaran disiplin yang bersifat individual, diantaranya

adalah tingkah laku untuk menarik perhatian orang lain, untuk menguasai orang

lain, perilaku ingin balas dendam, dan berperilaku masa bodoh, tidak mau tahu

terhadap apa saja yang ditugaskan guru kepadanya. Sedangkan bentuk

pelanggaran disiplin yang bersifat kelompok, diantaranya kelas yang kurang akrab

atau hubungan antar siswa kurang harmonis sehingga muncul beberapa kelompok

yang     tidak   bersahabat,   melanggar   norma-norma     yang   sudah   disepakati

sebelumnya, kurang mampu menyesuaikan diri dengan situasi yang baru dan

sebagainya.

         Agar tercipta suasana belajar yang menggairahkan, perlu diperhatikan

pengaturan atau penataan ruang kelas tempat belajar. Penyusunan dan

pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk berkelompok dan

memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu siswa dalam belajar.


E. Hipotesa
                                                                         39




      Hipotesa adalah jawaban atau dugaan sementara yang dianggap besar

kemungkinan untuk menjadi jawaban yang benar dari suatu masalah yang akan

dibuktikan kebenarannya sehingga hipotesa inilah merupakan pedoman atau

pengaruh penelitian yang dilakukan. Jika dengan data yang diperoleh dari

penelitian membuktikan kebenaran hipotesa, maka hipotesa disini berubah

menjadi hipotesis.

      Dengan demikian penulis dapat memaparkan hipotesa penulis yang

merupakan rumusan dan jawaban sementara terhadap masalah yang dihadapi.

Adapun hipotesa penulis ialah bahwa pengelolaan kelas yang baik oleh guru

memegang peranan penting dalam meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa

kearah yang positif di MIN I Pinangsori.
                                                                                40




                                      BAB III

                            METODOLOGI PENELITIAN




A. Lokasi Penelitian

         Lokasi penelitian penulis lakukan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) I

Pinangsori Kelurahan Pinangsori Kecamatan Pinangsori Kabupaten Tapanuli

Tengah      Provinsi Sumatera    Utara   dengan peserta     didik sebagai subjek

penelitiannya. Pemilihan tempat ini berdasarkan atas kemudahan, keterbatasan

tenaga dan dana yang tersedia oleh penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Pada

dasarnya penelitian ini dapat dilakukan pada semua jenjang dan jenis pendidikan

maupun jenis kerja lainnya.

         Pemilihan tempat ini didasarkan karena belum ada dilakukan penelitian

sehingga belum diperoleh gambaran untuk MIN I Pinangsori tersebut yang

berkaitan dengan data yang dibutuhkan sesuai dengan judul skripsi yang penuli

pilih.

         MIN I Pinangsori letaknya sangat strategis yaitu disebelah Timur dan Utara

berbatasan dengan jalan raya, disebelah Selatan berbatasan dengan KUA
                                                                              41




Kecamatan Pinangsori dan disebelah Barat berbatasan dengan MA Swasta

Pinangsori. Melihat strategi yang cukup baik membuat orang tertarik untuk

menyekolahkan anaknya ke MIN I Pinangsori tersebut, karena sudah banyak

siswa dari sekolah tersebut yang berhasil, apalagi sekolah ini mempunyai nilai

khusus yaitu pendidikan agama yang maksimal dibanding Sekolah Dasar lainnya.

orang tua pun semakin percaya menitipkan anaknya untuk dididik di Madrasah

tersebut. Pemerintah pun semakin giat menambah jumlah tenaga pengajar, karena

jumlah siswa setiap tahunnya semakin bertambah banyak.

      Guru yang diharapkan selain mempunyai ijazah yang sesuai juga harus

mampu memberikan berbagai macam pengetahuan dan keterampilan kepada

anak didik dan membantu mereka dalam mencapai kedewasaan jasmani dan

rohani. Dengan demikian tugas seorang guru itu harus memberikan atau

menyampaikan pelajaran serta membentuk dan mengembangkan potensi anak

menjadi aktivitas dan kreativitas yang positif dan memiliki kepribadian yang baik

pula, sesuai dengan pendapat Lesters D Crow and Crow Alice dalam buku

Psykologi Pendidikan, mengatakan sebagai calon guru dan menjadikannya

sebagai suatu pekerjaan yang dikehendakinya dan sejak dimulainya mengajar

guru harus dapat:


      1). Mengarah dan mengajarkan; 2). Membimbing motivasi bagi anak didik
      untuk belajar; 3). Membantu siswa untuk mengembangkan sikap-sikap
      yang diinginkan; 4). Mengenal dan menguasai bahasa terbentuknya pribadi
      yang kuat serta berguna dalam usaha memperoleh sukses dalam
      mengajar.1
                                                                                                  42




           Keempat keterangan diatas ini sangat jelas kita ketahui bahwa tugas

seorang guru sangatlah berat sekali agar menjadi guru yang professional harus

memiliki syarat-syarat tertentu supaya menguasai bahan pelajaran dan mampu
1.
     Lesters D Crow and Crow Alice, Psikologi Pendidikan, Jakarta, PT. Bina Ilmu, 1984, Hal. 32
menjelaskan pelajaran kepada peserta didik, serta bahan pelajaran yang diberikan

dapat dipahami anak didik dan dapat berhasil guna, untuk itu sangat diperlukan

criteria seorang guru menurut Lesters Crow and Crow sebagai berikut:


           Agar menjamin pengajaran yang efektif, perhatikan yang diberikan kepada
           guru hendaknya menguasai pelajaran yang hendak diajarkan, sehat jasmani
           dan rohani, memiliki sifat kepribadian dan perkembangan, emosi yang tetap,
           mengerti tentang hakikat manusia dan perkembangan, mempunyai
           pengetahuan dan kesanggupan untuk mempergunakan prinsip-prinsip
           belajar.2


           Menurut keterangan diatas jelas kita ketahui bahwa kepribadian seorang

guru harus menjadi contoh kepada peserta didik, baik dari penampilan, kerapian

dan tingkah laku. Menjadi guru bukanlah orang sembarangan, harus memiliki ilmu

serta sehat jasmani dan rohani. MIN I Pinangsori adalah sebagai lembaga

pendidikan formal yang berstatus negeri, sudah barang tentu memiliki kualitas

yang baik, karena mengingat tenaga edukatif di sekolah tersebut adalah lulusan

Perguruan Tinggi.


B. Populasi dan Sampel Penelitian

           Populasi penelitian adalah keseluruhan subjek penelitian dalam sumber

data, dengan hal ini adanya responden yaitu orang yang merespon atau menjawab
                                                                                    43




pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun tidak tertulis.

Sedangkan sampel adalah bagian atau wakil populasi yang diteliti. Yang menjadi

2.
     Ibid



sampel penelitian ini adalah para siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri I Pinangsori,

Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah, yang berjumlah 238 orang

dengan perincian 119 orang laki-laki dan 119 orang perempuan.

            Sumber data yang dihimpun dalam penelitian ini diperlakukan meliputi:

1. Data Primer              :   -   Kepala Sekolah

                                -   Guru/Tenaga Pengajar

                                -   Para Peserta Didik (Siswa) MIN I Pinangsori

2. Data Sekunder            :   -   Dokumen Sekolah

            Adapun sampel penelitian ini adalah seluruh populasi (total sampling)

sebanyak 100 orang siswa dan 10 orang guru sebagai mewakili sampel.


C. Instrumen Penelitian

            Instrument penelitian adalah alat yang digunakan untuk memperoleh data

yang diinginkan. Instrument yang digunakan dapat berupa tes kuesioner atau

angket, wawancara dan observasi. Dalam penelitian ini instrument yang penulis

gunakan untuk mengukur peranan pengelolaan kelas dalam meningkatkan

aktivitas dan kreativitas siswa, adalah sebagai berikut:
                                                                            44




1. Observasi yaitu mengadakan pengamatan langsung terhadap objek yang perlu

   diamati.

2. Wawancara yaitu mengadakan serangkaian tanya jawab kepada sejumlah

   informasi yang diperlukan yang dapat memberikan keterangan-keterangan

   dalam penelitian.

3. Tes kuesioner atau angket yaitu menyebarluaskan pertanyaan tertulis untuk

   dijawab oleh responden. Tes angket diukur dengan menggunakan skala riset

   yang terdiri dari tiga option jawaban. Option jawabannya bervariasi sesuai

   dengan pertanyaan yang diinginkan dalam penelitian.


D. Analisa Data

      Data yang sudah dikumpulkan dari responden seluruhnya diolah dan

disajikan menurut jenisnya. Adapun data yang bersifat kuantitatif yaitu diolah

menurut jenisnya dan disajikan dengan menggunakan tabel perhitungan

sedangkan data yang bersifat kualitatif disajikan dengan didukung oleh pendapat

beberapa ahli. Metode yang penulis gunakan untuk menganalisa data yaitu

menggunakan metode      deskripsi yakni memecahkan masalah yang diselidiki

dengan menggambarkan objek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang ada. Untuk

kemudian dilanjutkan kepada metode deduktif dengan menarik kesimpulan dari

umum ke khusus.


E. Sistematika Pembahasan
                                                                                  45




      Sistematika dalam pembahasan skripsi ini bertujuan untuk mempermudah

penyusunan pembaharuan, maka penulis menyajikan laporan ini dengan membuat

pembagian    lima   bab,   masing-masing   bab    terdiri   dari   beberapa   bentuk

pembahasan dengan sistematisnya sebagai berikut:

1. Pada Bab I, mengemukakan Pendahuluan dengan menguraikan Latar

   Belakang Masalah, Ruang Lingkup dan Rumusan Masalah, Pembatasan

   Istilah, Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian.

2. Pada Bab II, Penulis mengemukakan tentang masalah Landasan Teoritis

   dengan menguraikan Pengertian Pengelolaan Kelas, Tujuan Pengelolaan

   Kelas, Berbagai Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas, Beberapa Masalah

   dalam Pengelolaan Kelas, serta Hipotesa Penelitian.

3. Pada Bab III, Penulis mengemukakan tentang Metode Penelitian dengan

   menguraikan tentang Lokasi Penelitian, Populasi dan Sampel Penelitian,

   Instrumen Penelitian, Analisa Data Penelitian dan Sistematika Penelitian.

4. Pada Bab IV, Penulis mengemukakan tentang Pembahasan Penelitian dan

   Analisa Data dengan menguraikan Tentang Tabulasi Data, Analisa Hasil

   Penelitian dan Pembuktian Hipotesa.

5. Pada Bab V, merupakan Bab Penutup, disini penulis mengemukakan tentang

   Kesimpulan dan Saran-saran.
46

				
DOCUMENT INFO
Stats:
views:11
posted:8/27/2012
language:Malay
pages:46
Description: Skripsi Agama Islam bagi anda yang sedang menyusun tugas atau artikel skripsi agama. Silahkan Download disini ok.