Makalah TQM

Document Sample
Makalah TQM Powered By Docstoc
					A. Pendahuluan
         Gerakan total quality management (TQM) dimulai dari masa studi waktu
dan gerak yang diperkenalkan oleh Frederick Taylor pada tahun 1920, dengan
mengangkat aspek yang paling fundamental dari manajemen ilmiah, yaitu adanya
pemisahan antara perencanaan dan pelaksanaan.1 Kemudian pada tahun 1931
Walter A. Shewhart dari Bell Laboratories memperkenalkan metode statistik yang
dikenal dengan statistical quality control. Tokoh yang dikenal luas dalam TQM
adalah Edward Deming. Beliau mengajarkan teknik-teknik pengendalian mutu di
U.S. War Department, serta mengajarkan mata kuliah mengenai mutu kepada
ihnuan, insinyur, dan eksekutif lembaga Jepang. Berawal dari sinilah TQM
berkembang pesat di Negara Sakura. Dan sekarang telah menjadi kenyataan,
bahwa produk dari Jepang yang dulunya dikenal sebagai produk rongsokkan dan
imitasi murahan, kini justru sebaliknya menjadi produk-produk yang bermutu
tinggi dan berkembang pesat di dunia. Perusahaan/lembaga di Jepang menyadari
bahwa pada zaman mendatang adalah mutu.
         Hal itu bisa dilakukan antara lain dengan menciptakan infra-mutu, yaitu
aspek manusia, proses, dan Upaya perbaikan dilakukan dengan mengirimkan tim
ke luar untuk mempelajari pendekatan-pendekatan dilakukan lembaga asing dan
mengundang dosen-dosen datang ke Jepang untuk memberikan kursus pelatihan
kepada para manajer. Hasil dari semua upaya tadi adalah banyak ditemukannya
strategi-strategi baru untuk menciptakan revolusi.
         Sejak pertengahan tahun 70-an, barang-barang manufaktur Jepang, seperti
mobil dan produk-produk elektronika mulai mendominasi perdagangan dunia
karena mutu yang dihasilkan sudah melampaui mutu yang dihasilkan pesaingnya
dari Amerika dan Eropa. Begitu pula dalam beberapa industri lain, misalnya
mesin industri, baja, otomotif, hingga akhirnya industri Barat mulai tergeser.
Aspek perhatian atau penekanan Amerika sejak perang dunia II, yakni pada aspek
kuantitas dan kurang memperhatikan mutu menjadi .penyebab kegagalan bersaing
dengan lembaga Jepang.
         Di Indonesia, TQM pertama kali diperkenalkan pada tahun 1980-an dan


         1
           Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana, Total Quality Management, (Yogyakarta: Andi Ofset,
Cetakan ke. 10, 2003), hlm. 5




                                                                                                    1
sekarang cukup populer di sektor Swasta khususnya dengan adanya program
ISO9000. ISO9000 adalah alat pemasaran yang sangat jitu bagi organisasi dengan
menunjukkan logo registrasinya yang diakui sebagai standar mutu internasional.
BS5750 identik dengan standar eropa EN29000. dan standar mutu Amerika
serikat Q90.2 Banyak lembaga terkemuka dan lembaga milik Negara telah
mengadopsi TQM sebagai bagian dari strategi mereka untuk kompetitif baik di
tingkat nasional maupun internasional. Dan saat ini keadaan sudah berubah,
faktor-faktor yang mendorong sektor Swasta untuk beradaptasi dengan konsep
ini, juga memiliki dampak terhadap cara pemerintah menyediakan pelayanan.


B. Konsep TQM dalam Pendidikan
          Fungsi, misi, dan kebijakan pendidikan nasional memerlukan sistem
pengelola pendidikan secara keseluruhan dan berorientasi pada mutu agar
menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang bermutu.3 Istilah ini lebih
populer dalam dunia bisnis dan industri dengan istilah total quality management
(TQM). Kata total (terpadu) dalam TQM menegaskan bahwa setiap orang yang
berada di dalam suatu organisasi harus terlibat dalam upaya melakukan
peningkatan terus-menerus. Kata management berlaku bagi setiap orang, sebab
setiap orang dalam sebuah institusi, apa pun status, posisi atau peranannya, adalah
manajer bagi tanggung jawabnya masing-masing.4
          TQM merupakan sebuah filosofi tentang perbaikan secara terus-menerus
yang dapat memberikan seperangkat alat praktis pada setiap institusi pendidikan
dalam memenuhi kebutuhan dan harapan para pelanggannya, saat ini dan untuk
saat yang akan datang. Adapun unsur-unsur manajemen mutu (TQM), antara lain:


         2
           Edward Sallis, Total Quality Management In Education, (Yogyakarta: IRCiSoD, Cetakan IX,
2010), hlm. 121
      3
          Definisi relatif tentang mutu memiliki dua aspek: pertama, menyesuaikan diri dengan
spesifikasi, sering disimpulkan “sesuai dengan tujuan dan manfaat”; kedua, memenuhi kepuasan
pelanggan. Lebih lanjut baca: Edward Sallis, Total Quality Management in Education, Alih
Bahasa Ahmad Ali Riyadi, (Yogyakarta: IRCiSod, 2006), hlm. 54. Sementara, konsep mutu yang
relatif bukanlah sebuah akhir, namun sebagai sebuah alat di mana produk atau jasa dinilai, yaitu
apakah telah memenuhi standar yang telah ditetapkan, demikian menurut Sallis, lebih lanjut,
sebagaimana yang dikutip Hartono, S.Pd.I dalam proposal tesis yang berjudul “Evaluasi Program
Sertifikasi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Surya Global Yogyakarta”,
2011.
        4
          Ibid…, Edward Sallis, Total Quality Management in Education, Alih Bahasa Ahmad Ali
Riyadi, (Yogyakarta: IRCiSod, 2006), hlm. 73–74.




                                                                                                     2
1) fokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal; 2)
obsesi terhadap kualitas; 3) penggunaan pendekatan ilmiah dalam pengambilan
keputusan dan pemecahan masalah; 4) komitmen jangka panjang; 5) kerja sama
tim (teamwork); 6) adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan; 7)
perbaikan proses secara berkesinambungan; 8) adanya pendidikan dan pelatihan
yang bersifat bottom-up; 9) kebebasan yang terkendali; 10) adanya kesatuan
tujuan.5
         Menurut Santoso, TQM merupakan suatu sistem manajemen yang
mengangkat kualitas sebagai strategi usaha berorientasi pada kepuasan pelanggan
dengan melibatkan seluruh anggota organisasi.6 Dalam TQM pengejaran terhadap
mutu mutlak melibatkan seluruh guru dan staf yang ada di lembaga pendidikan
tersebut dengan memprioritaskan kepuasan pelanggan, baik pelanggan internal,
dan terutama pelanggan eksternal.
         Tentang kepuasan pelanggan sendiri bila didefinisikan maka bermacam
pengertian yang disampaikan oleh para pakar. Namun, Kotler suatu ketika
mengatakan bahwa kepuasan pelanggan merupakan tingkat perasaan seseorang
setelah membandingkan kinerja (atau hasil) yang ia rasakan dibandingkan dengan
harapannya.7 Ada lima layanan yang harus diwujudkan agar pelanggan puas.
Pertama, keterpercayaan (reliability), artinya layanan sesuai dengan yang
dijanjikan, misalnya dalam rapat, brosur, dan sebagainya. Kedua, keterjaminan
(assurance), artinya lembaga pendidikan dapat menjamin kualitas layanan yang
diberikan, dan beberapa aspek dalam keterjaminan, misalnya kompetensi
guru/staf dan keobjektifan. Ketiga, penampilan (tangible), artinya bagaimana
situasi suatu lembaga pendidikan tampak baik, dan beberapa aspek dalam
penampilan, misalnya kerapian, kebersihan, keteraturan, serta keindahan.
Keempat, perhatian (empathy), artinya lembaga pendidikan memberikan perhatian
penuh kepada pelanggan, dan beberapa aspek dalam keperhatian, misalnya
melayani    pelanggan     dengan    ramah,    memahami       aspirasi   mereka,    dan
berkomunikasi dengan baik. Kelima, ketanggapan (responsiveness), artinya


     5
          Fandy Tjiptono & Anastasia Diana, Total Quality Management, (Yogyakarta: Andi
Offset, 2003), hlm. 329.
       6
         Ibid…, Fandi Tjiptono & Anastasia Diana, Total Quality…, hlm. 4.
       7
         Ibid…, Fani Tjiptono & Anastasia Diana, Total Quality…, hlm. 4.




                                                                                     3
lembaga pendidikan harus cepat tanggap terhadap kebutuhan pelanggan, dan
beberapa aspek dari ketanggapan, misalnya tanggap terhadap kebutuhan
pelanggan dan cepat memperhatikan dan mengatasi keluhan-keluhan yang
muncul.8
          Jika kepuasan pelanggan terpenuhi, selanjutnya akan mendatangkan
beberapa manfaat, antara lain: hubungan antara organisasi dengan para pelanggan
menjadi harmonis, memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang, dapat
mendorong terciptanya loyalitas pelanggan, membentuk suatu rekomendasi dari
mulut ke mulut (word-of-mouth) yang menguntungkan bagi perusahaan, reputasi
perusahaan menjadi baik di mata pelanggan, dan laba yang diperoleh dapat
meningkat.9


C. Manajemen Mutu Layanan dan Pengajaran Pendidikan
          Untuk mencapai mutu pendidikan yang bagus maka perlu ditopang
dengan mutu layanan pendidikan dan pengajaran yang bagus pula. Bahwasanya
tujuan dari suatu lembaga pendidikan di Indonesia meliputi pelajaran, penelitian,
pengabdian kepada masyarakat, serta untuk meningkatkan derajat seorang
manusia. Berkaitan dengan hal ini maka bentuk layanan yang diselenggarakan
suatu lembaga pendidikan juga meliputi ketiga aspek tersebut. Layanan
pengajaran meliputi setiap kegiatan yang diselenggarakan di luar maupun di
dalam kelas, layanan penelitian meliputi semua kegiatan penelitian, baik yang
diselenggarakan mandiri maupun diwadahi oleh suatu lembaga. Sedangkan
layanan pengabdian kepada masyarakat adalah kegiatan pendidikan kepada
masyarakat pada umumnya berkaitan dengan hal-hal yang berguna dan
bermanfaat bagi masyarakat, kegiatan ini bisa dilakukan melalui bentuk kerja
sama maupun tidak.10
          Di lingkungan organisasi non-profit, khususnya pendidikan, penetapan
kualitas produk dan kualitas proses merupakan bagian yang tidak mudah dalam
pengimplementasiannya dalam manajemen               mutu terpadu. Kesulitan ini

      8
         Departemen Pendidikan Nasional, Panduan Manajemen Sekolah, (Jakarta: Depdiknas,
2000), hlm. 193.
      9
        Ibid…, Fandi Tjiptono & Anastasia Diana Total Quality…, hlm. 102.
      10
         Siti Wahidah, Manajemen Layanan dan Pengajaran di MAN 2 Ponorogo, Tesis Program
Pascasarjana Manajemen pendidikan Islam, Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo, 2009.




                                                                                      4
disebabkan ukuran produktivitasnya tidak sekadar bersifat kuantitatif, misalnya
hanya dari jumlah lokal dan gedung sekolah atau laboratorium yang berhasil
dibangun, tetapi juga berkenaan dengan aspek kualitas yang menyangkut manfaat
dan kemampuan memanfaatkan. Demikian juga, jumlah lulusan yang dapat
diukur secara kuantitatif, sedang kualitasnya sulit untuk ditetapkan kualifikasinya.
Sehubungan dengan ini, Hadari Nawari mengatakan jikalau ukuran produktivitas
organisasi bidang pendidikan dapat dibedakan menjadi dua macam. Pertama,
produktivitas internal, berupa hasil yang dapat diukur secara kuantitatif, seperti
jumlah atau prosentase lulusan sekolah, atau jumlah gedung, dan lokal yang
dibangun sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Kedua, produktivitas
eksternal, berupa hasil yang tidak dapat diukur secara kuantitatif, karena bersifat
kualitatif yang hanya dapat diketahui setelah melewati tenggang waktu tertentu
yang cukup lama.11
              Berbicara mengenai mutu layanan pendidikan dan pengajaran, Handoyo
Sumantri, dalam tesis Siti Wahidah menyebutkan bahwa terdapat tiga faktor
utama pendukung.12
1. Penerimaan Siswa Baru
              Penerimaan siswa baru merupakan bagian yang sangat penting dalam
upaya peningkatan mutu layanan pendidikan dan pengajaran. Dalam upaya
mendapatkan mutu input siswa yang bagus, maka terdapat beberapa cara
penerimaan siswa baru. Pertama, jalur penelusuran minat dan bakat. Penerimaan
siswa baru melalui jalur ini sangat memungkinkan sekolah untuk mendapatkan
mutu input siswa yang berkualitas serta mempunyai bakat keterampilan tertentu,
misalnya dalam bidang seni budaya, olahraga, dan lain sebagainya. Akan tetapi,
dengan adanya sistem penerimaan siswa baru melalui jalur ini, membuka peluang
terjadinya KKN. Kedua, jalur reguler. Jalur penerimaan siswa baru melalui jalur
ini adalah yang paling sering digunakan oleh sekolah-sekolah di Indonesia pada
umumnya. Terdapat dua cara jalur regular ini, yaitu melalui dua hal: danem dan
tes.13


         11
          Hadari Nawawi. 2005. Manajemen Strategik. Yogyakarta: Gadjah Mada Pers. Hlm. 57.
         12
          Ibid…, Siti Wahidah, Manajemen Layanan dan Pengajaran….
       13
          Untuk menjaring siswa baru, sudah umum dilakukan penyaringan dengan cara danem,
yaitu suatu lembaga pendidikan akan melihat nilai yang tertera dalam danem calon siswanya, di




                                                                                           5
2. Peningkatan Profesionalisme Guru
        Profesi guru di abad 21 ini sangat dipengaruhi oleh pendayagunaan
teknologi komunikasi dan informasi, sehingga guru dengan kemampuan
artifisialnya dapat membelajarkan siswa dalam jumlah besar, bahkan bisa
melayani siswa yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Guru bukan lagi hanya
mengendalikan siswa yang belajar di kelas, tetapi ia mampu membelajarkan
jutaan siswa di “kelas dunia” dengan memberi pelayanan secara individual pada
waktu yang bersamaan. Dengan bantuan teknologi pembelajaran dapat dilakukan
secara multiakses dan memberi layanan secara individual di mana saja dan kapan
saja. Guru di masa lalu sangat mengandalkan buku teks sedangkan sekarang dapat
memanfaatkan hypertext.
a. Etos Kerja dan Profesionalisme Guru
        Profesi diukur berdasarkan kepentingan dan tingkat kesulitan yang
dimiliki. Dalam dunia keprofesian kita mengenal berbagai terminologi kualifikasi
profesi, yaitu: profesi, semi profesi, terampil, tidak terampil, dan quasi profesi.
Gilley dan Eggland mendefinisikan profesi sebagai bidang usaha manusia
berdasarkan pengetahuan, dimana keahlian dan pengalaman pelakunya diperlukan
oleh masyarakat. Definisi ini meliputi aspek ilmu pengetahuan tertentu, aplikasi
kemampuan/kecakapan, dan berkaitan dengan kepentingan umum. Aspek-aspek
yang terkandung dalam profesi tersebut juga merupakan standar pengukuran
profesi guru.14
        Salah satu sebab terpenting mutu pendidikan nasional yang rendah saat
ini, karena pendidikan, selama tiga dekade terakhir, tidak disajikan oleh guru
yang profesional. Guru direkrut bukan dari kelompok masyarakat yang terbaik;
mereka yang paling berbakat hampir-hampir tidak bersedia menjadikan guru
sebagai profesi mereka. Dalam kata lain, pendidikan telah dilakukan oleh para
amatir. Dan adanya UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen dimaksudkan untuk
secara struktural memperbaiki kondisi keterpurukan profesi guru.




mana jika tidak sesuai dengan standar kelulusan calon siswa baru maka tidak bisa diterima. Hal ini
berbeda dengan cara tes, yakni suatu cara yang dilakukan lembaga pendidikan tertentu untuk
menjaring calon-calon siswanya dengan menyelenggarakan tes ujian masuk.
      14
         www.uns.ac.id.




                                                                                                6
           Ketinggian mutu layanan tertentu yang bermartabat dan dihormati
disebabkan terutama karena layanan tersebut diberikan oleh para profesional.
Siapakah para profesional ini? Mereka adalah sekelompok orang yang
terorganisasi yang mempunyai tujuan sama, bekerja dengan suatu kode etik yang
ditaati secara konsisten dan senantiasa berusaha mencapai hasil karya lebih baik,
lebih sempurna, serta selalu berusaha meningkatkan keahlian profesionalnya agar
dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi ilmu pengetahuan yang melandasi
profesinya.
           Layanan profesional yang sanggup diberikan oleh beragam masyarakat
profesi akan ikut menentukan kualitas hidup masyarakat tersebut. Apabila
masyarakat profesional tidak sanggup menjunjung tinggi etika profesionalnya,
maka masyarakat akan dirugikan karena banyak ragam layanan profesional yang
tidak konsisten mutunya. Pelanggaran etika profesi secara lambat tapi pasti
mendelegasikan citra dan kepercayaan masyarakat atas sebuah profesi, dan
akhirnya      merugikan      mereka      yang sungguh-sungguh             menjunjung       tinggi
kehormatan profesi tersebut.15 Dan dari sudut pandang apa pun, guru adalah salah
satu profesi yang terpenting dalam sebuah peradaban.16 Pendidikan sebagai upaya
sadar yang terencana untuk mengembangkan seluruh ragam potensi manusia

      15
          Ternyata profesi guru juga mempunyai etika yang harus diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari untuk menjaga hubungan guru dengan peserta didiknya serta mempererat hubungan
antara guru dengan tenaga didik yang lain (antar pendidik). Etika profesi seorang guru yang dilihat
dari kepentingan peserta didiknya, di antaranya: (1) guru berbakti membimbing peserta didik
untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila; (2) guru berusaha
memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan;
(3) guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya PBM; (4) guru
memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional; (5) menjaga hubungan baik dengan orang tua,
murid, dan masyarakat sekitar untuk membina peran serta dan tanggung jawab bersama terhadap
pendidikan. Sedangkan etika seorang guru juga dapat dilihat dari kepentingan antar pendidik, di
antaranya: (1) seorang guru harus saling menghormati dan menghargai sesama rekan seprofesinya;
(2) guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat
profesinya; (3) guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan
sosial; (4) guru bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai
sarana perjuangan dan pengabdiannya; (5) guru bersama-sama melaksanakan segala kebijakan
pemerintah dalam bidang pendidikan. Lihat http://wartawarga.gunadarma.ac.id.
       16
          Adapun karakteristik profesional minimum guru, berdasarkan sintesis temuan-temuan
penelitian, telah dikenal karakteristik profesional minimum seorang guru, yaitu: (1) mempunyai
komitmen pada siswa dan proses belajarnya, (2) menguasai secara mendalam bahan belajar atau
mata pelajaran serta cara pembelajarannya, (3) bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa
melalui berbagai cara evaluasi, (4) mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan
belajar dari pengalamannya, dan (5) menjadi partisipan aktif masyarakat belajar dalam lingkungan
profesinya. Lebih lanjut lihat Supriadi, D, Mengangkat Citra dan Martabat Guru, Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998.




                                                                                                 7
sebagai peserta didik sudah jelas menempatkan guru sebagai profesi yang paling
menantang. Oleh karena itu, membangun sebuah masyarakat atau organisasi guru
yang membangun profesionalitas guru merupakan bagian strategi yang paling
penting untuk memperbaiki mutu guru, dan akhirnya menentukan mutu
pendidikan nasional kita.
b. Kompetensi Guru
           Pengembangan profesionalisme guru meliputi peningkatan kompetensi,
peningkatan kinerja (performance), dan kesejahteraannya. Guru sebagai
profesional dituntut untuk senatiasa meningkatkan kemampuan, wawasan, dan
kreativitasnya. Tugas guru sebagai pendidik bukan hanya mentransfer
pengetahuan, keterampilan dan sikap, tetapi mempersiapkan generasi yang lebih
baik di masa depan, dan oleh karena itu guru harus memiliki kompetensi dalam
membimbing siswa siap menghadapi the real life. Guru di masa depan dituntut
mengusai dan mampu memanfaatkan teknologi komunikasi serta informasi, dan
berubah peran menjadi fasilitator yang membelajarkan siswa sampai menemukan
sesuatu (scientific curiosity). Selain itu guru harus bersikap demokratis serta
menjadi profesional yang mandiri dan otonom. Peran guru seperti itu sejalan
dengan era masyarakat madani (civil society).
           Adapun kemampuan-kemampuan yang selama ini harus dikuasai guru
juga akan lebih dituntut aktualisasinya, misalnya kemampuannya dalam
merencanakan pembelajaran dan merumuskan tujuan, mengelola kegiatan
individu, menggunakan multimetode, dan memanfaatkan media, berkomunikasi
interaktif dengan baik, memotivasi dan memberikan respons, melibatkan siswa
dalam aktivitas, mengadakan penyesuaian dengan kondisi siswa, melaksanakan
dan mengelola pembelajaran, menguasai materi pelajaran, memperbaiki dan
mengevaluasi pembelajaran, memberikan bimbingan, berinteraksi dengan sejawat
dan   bertanggungjawab            kepada      konstituen,   serta   mampu   melaksanakan
penelitian.17
           Secara lebih spesiflk guru harus dapat mengelola waktu pembelajaran
dalam setiap jam pelajaran secara efektifdan efisien. Untuk dapat mengelola
pembelajaran yang efektif dan efisien tersebut, guru harus senantiasa belajar dan

      17
           http://aadesanjaya.blogspot.com.




                                                                                      8
meningkatkan keterampilan dasarnya. Menurut Rosenshine dan Stevens, dalam
tesis Wahidah, terdapat sembilan keterampilan dasar yang penting dikuasai oleh
guru: (1) membuka pembelajaran dengan mereview secara singkat pelajaran
terdahulu yang terkait dengan pelajaran yang akan disajikan; (2) menyajikan
secara singkat tujuan pembelajaran; (3) menyajikan materi dalam langkah-
langkah kecil dan disertai latihannya masing-masing; (4) memberikan penjelasan
dan keterangan yang jelas dan detil; (5) memberikan latihan yang berkualitas; (6)
mengajukan pertanyaan dan memberi banyak kesempatan kepada siswa untuk
menunjukkan pemahamannya; (7) membimbing siswa menguasai keterampilan
atau prosedur baru; (8) memberikan balikan dan koreksi; (9) memonitor
kemajuan siswa.18
          Selain itu, tentu saja masih ada keterampilan lain yang harus dikuasai guru
misalnya menutup pelajaran dengan baik dengan membuat rangkuman dan
memberikan petunjuk tentang tindak lanjut yang harus dilakukan siswa.
Pendeknya banyak hal-hal kecil yang harus diperhatikan dan dikuasai oleh guru
sehingga secara kumulatif membentuk suatu keutuhan kemampuan profesional
yang bisa ditampilkan dalam bentuk kinerja yang optimal.
3. Kelengkapan Fasilitas Sekolah (Sarana & Prasarana)
          Dengan diberlakukannya KTSP, kini guru lebih dituntut untuk
mengkontekstualkan pembelajarannya dengan dunia nyata, atau minimal siswa
mendapat gambaran miniatur tentang dunia nyata. Harapan itu tidak mungkin
tercapai tanpa bantuan alat-alat pembelajaran (sarana dan prasarana pendidikan).
Menurut Kepmendikbud No. 053/U/2001 tentang Standar Pelayanan Minimal
(SPM), sekolah harus memiliki persyaratan minimal untuk menyelenggarakan
pendidikan dengan serba lengkap dan cukup seperti, luas lahan, perabot lengkap,
peralatan/laboratorium/media, infrastruktur, sarana olahraga, dan buku yang
bermutu. Kehadiran Kepmendiknas ini dirasakan sangat tepat dengan harapan
penyelenggaraan pendidikan di sekolah tidak “keterlaluan tertinggal” di bawah
persyaratan minimal sehingga kualitas pendidikan menjadi semakin terpuruk.
          Selanjutnya, UU Sisdiknas No. 20/2003 pasal 45 ayat (1) berbunyi, setiap
satuan pendidikan menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan

     18
          Ibid…, Siti Wahidah, Manajemen Layanan dan Pengajaran….




                                                                                   9
pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik,
kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik. Jika kita
lihat kenyataan di lapangan bahwa hanya sekolah-sekolah tertentu di beberapa
kota di Indonesia saja yang memenuhi persyaratan SPMB, umumnya sekolah
negeri dan swasta favorit. Berdasarkan fakta ini, keterbatasan sarana dan
prasarana pada sekolah-sekolah tertentu, pengadaannya selalu dibebankan kepada
masyarakat.
          Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pelayanan adalah perihal atau
cara melayani; usaha melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan
(uang).19 Sementara, pengertian sarana dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun
1992 tentang Perumahan dan pemukiman pada pasal 1 (6) disebutkan bahwa
sarana     lingkungan     adalah    fasilitas   penunjang    yang   berfungsi   untuk
penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial ,dan budaya.
Nah, dalam melengkapi sarana dan prasarana pendidikan, tentu saja akan terdapat
standar tertentu bagi masing-masing satuan pendidikan. Standar tiap satuan
pendidikan tersebut adalah sebagai berikut.20
1) Taman Kanak-Kanak (TK)
          Yang dimaksud dengan Taman Kanak-Kanak adalah fasilitas pendidikan
yang digunakan untuk anak-anak usia 5–6 tahun. Standar untuk TK, sebagai
berikut:
a) Minimum penduduk yang dapat mendukung sarana ini adalah 1000 penduduk
   dengan usia anak-anak 5–6 tahun = 8%.
b) Minimum terdiri dari 2 ruang kelas yang masing-masing mampu menampung
   35–40 murid dan dilengkapi dengan ruang-ruang lain.
c) Luas tanah yang diperlukan adalah 1200 m2 dengan luas lantai 252 m2.
d) Radius pencapaian dari area yang dilayani diusahakan tidak lebih dari 500 m.
2) Sekolah Dasar (SD)
          Sekolah Dasar (SD) adalah fasilitas pendidikan yang dipergunakan untuk
anak-anak usia 6 – 12 tahun. Adapun standarnya, sebagai berikut:




     19
          KBBI hlm. 571
     20
          Ibid…, Siti Wahidah, Manajemen Layanan dan Pengajaran….




                                                                                  10
a) Minimum penduduk yang dapat mendukung sarana ini adalah 1600
   penduduk.
b) Minimum terdiri dari 6 ruang kelas yang masing-masing mampu nampung 40
   murid dan dilengkapi dengan ruang-ruang lain.
c) Radius pencapaian dari area terlayani tidak lebih 1000 m.
3) Sekolah Menengah Pertama
a) Sekolah Menengah Pertama adalah fasilitas pendidikan yang digunakan untuk
   menampung lulusan SD.
b) Minimum penduduk yang mendukung sarana ini adalah 4800 penduduk.
c) Minimum terdiri dari 6 ruang kelas yang masing-masing mampu menampung
   30 murid dan dilengkapi dengan ruang-ruang lain.
d) Luas lantai 1 SMP umum = 1514 m2 dan luas tanah = 2700 m2.
e) Luas lantai 1 SMP khusus = 2551 m2 dan luas tanah = 5000 m2.
4) Sekolah Menengah Atas
a) Sekolah Menengah Atas adalah fasilitas pendidikan yang digunakan untuk
   menampung lulusan SMP.
b) Minimum penduduk yang mendukung sarana ini adalah 6000 penduduk.
c) Minimum terdiri dari 6 ruang kelas yang masing-masing mampu menampung
   30 murid dan dilengkapi dengan ruang-ruang lain.
d) Luas tanah = 2700 m2.


D. Kesimpulan
       Pendidikan merupakan hal penting yang harus ada dalam setiap kehidupan
manusia, terutama pada abad-abad terakhir di mana dunia sedang mengalami
perubahan teramat pesat. Akan tetapi, yang perlu diingat, bahwa pendidikan itu
harus bermutu. Dengan pendidikan yang bermutu, niscaya SDM suatu negara bisa
bersaing di kancah dunia. Tidak mudah merancang suatu pendidikan yang
bermutu. Harus ada manajemen yang baik di sana. Implementasi Total quality
management dalam setiap satuan pendidikan adalah solusi yang tepat. Dengan
begitu, layanan dan pendidikan kian bermutu, sesuai dengan apa yang terkonsep
dalam TQM sendiri yang lebih mengutamakan kepuasan pelanggan, baik
pelanggan internal maupun eksternal.




                                                                           11
                              Daftar Pustaka


Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Panduan Manajemen Sekolah. Jakarta:
       Depdiknas.

Hartono, S.Pd.I. “Evaluasi Program Sertifikasi Pendidikan Agama Islam Sekolah
      Tinggi Ilmu Kesehatan Surya Global Yogyakarta”, dalam proposal tesis
      yang berjudul, 2011.

Nawawi, Hadari. 2005. Manajemen Strategik. Yogyakarta: Gadjah Mada Pers.

Prawirosentono, Suyadib. 2005. Filosofi Baru tentang Manajemen Mutu Terpadu
       Abad 21, Edisi Kedua. Jakarta: Bumi Aksara.

Sallis, Edward, 2010, Total Quality Management In Education, Yogyakarta:
        IRCiSoD, Cetakan IX.

Sallis, Edward. 2006. Total Quality Management in Education, Alih Bahasa
        Ahmad Ali Riyadi. Yogyakarta: IRCiSod.

Siti Wahidah, “Manajemen Layanan dan Pengajaran di MAN 2 Ponorogo”. Tesis
       Program Pascasarjana Manajemen pendidikan Islam, Institut Agama Islam
       Sunan Giri Ponorogo, 2009.

Tjiptono, Fandy, dan Diana, Anastasia, 2003, Total Quality Management,
       Yogyakarta: Andi Ofset, Cetakan ke. 10.

Tjiptono, Fandy & Anastasia Diana. 2003. Total Quality Management.
       Yogyakarta: Andi Offset.




                                                                           12

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: Makalah
Stats:
views:185
posted:8/26/2012
language:Indonesian
pages:12