; etos kerja
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

etos kerja

VIEWS: 262 PAGES: 11

  • pg 1
									A. Pendahuluan
         Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, ia merupakan
makhluk biologis seperti binatang, akan tetapi ia juga makhluk intelektual, sosial, dan
spiritual yang berjiwa dinamis, bisa “berpikir” dan “bertindak”, berusaha dan bekerja
keras melakukan yang terbaik dalam segala hal. Etos kerja tidak hanya terbentuk oleh
kualitas pendidikan dan kemampuan semata. Adapun pendidikan yang dimaksud
adalah pendidikan yang menghidupkan. Pendidikan yang menghidupkan adalah
pendidikan yang dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh umat manusia.
Selama pendidikan tidak diarahkan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi
manusia, pendidikan itu tidak banyak gunanya. Setiap bangsa mengalami masalah
yang berbeda-beda. Demikian pula, karena umat beragama memiliki masalah yang
berbeda-beda, maka memiliki jenis pendidikan yang berneda-beda pula. Namun
demikian. Secara umum umat manusia itu memiliki masalah yang relatif sama,
seperti masalah pekerjaan, kesehatan, makanan, perumahan, kesejahteraan, dan
sebagainya.1 Faktor-faktor lain yang membentuk etos kerja antara lain yang
berhubungan dengan inner life, suasana batin dan semangat hidup yang terpancar dari
keyakinan dan keimanan juga ikut menentukan.2 Oleh karena itu agama juga dapat
menjadi salah satu sumber nilai dan sumber motivasi yang mendasari aktivitas hidup
yang termasuk menentukan etos kerja para pemeluknya. Etos kerja sebelum dan
sesudah terbentuk, selalu mungkin mendapat pengaruh dari berbagai faktor, baik
yang bersifat internal maupun eksternal.

B. Pembahasan
    1. Pengertian Etos Kerja
         Dalam Websters World University Dictionary dijelaskan etos ialah sifat dasar
atau    karakter     yang     merupakan        kebiasaan      dan     watak     bangsa      atau    ras.3
Koentjoroningrat mengemukakan pandangannya bahwa etos merupakan watak khas
yang tampak dari luar, terlihat oleh orang lain.4 Etos berasal dari kata Yunani, ethos,
artinya ciri, sifat, atau kebiasaan, adat istiadat, atau juga kecenderungan moral,

         1
            Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag. Pendidikan Islam Yang Menghidupkan (Yogyakarta; Kota Kembang, Cet.
Ke-II, Mei 2008)., hal. 52
          2
            Musa Asy’arie, Islam, etos Kerja, hal. 35
          3
            Lewis Mulford Adams, et.al, Websters World University Dictionary, (Washington DC: Publishers
Company Inc., 1965), hal. 331.
          4
            Koentjoroningrat, Rintangan-rintangan Mental dalam Pembangunan Ekoxwmi, (Jakarta: LIPI, 1980),
hal. 231.




                                                                                                        1
pandangan hidup yang dimiliki seseorang, suatu kelompok orang atau bangsa.5
         Adapun kerja, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, artinya: kegiatan
melakukan sesuatu.6 EI-Qussy, seorang pakar Ilmu Jiwa berkebangsaan Mesir,
menerangkan bahwa kegiatan atau perbuatan manusia ada dua jenis. Pertama,
perbuatan yang berhubungan dengan kegiatan mental, dan kedua tindakan yang
dilakukan secara tidak sengaja. Jenis pertama mempunyai ciri kepentingan, yaitu
untuk mencapai maksud atau mewujudkan tujuan tertentu. Sedangkan jenis kedua
adalah gerakan random (random movement) seperti terlihat pada gerakan bayi kecil
yang tampak tidak beraturan, gerakan refleks dan gerakan-gerakan lain yang terjadi
tanpa dorongan kehendak atau proses pemikiran.7 Kerja yang dimaksud di sini tentu
saja kerja menurut arti yang pertama, yaitu kerja yang merupakan aktivitas sengaja,
bermotif dan bertujuan. Pengertian kerja biasanya terikat dengan penghasilan atau
upaya memperoleh hasil, baik bersifat materiil atau nonmateriil.
         Etos Kerja, menurut Mochtar Buchori dapat diartikan sebagai sikap dan
pandangan terhadap kerja, kebiasaan kerja; ciri-ciri atau sifat-sifat mengenai cara
kerja yang dimiliki seseorang, suatu kelompok manusia atau suatu bangsa.8 Ia juga
menjelaskan bahwa etos kerja merupakan bagian dari tata nilai individualnya.
Demikian pula etos kerja suatu kelompok masyarakat atau bangsa, ia merupakan
bagian darai tata nilai yang ada pada masyarakat atau bangsa itu. 9 Jadi dapat kita
tangkap maksud yang berujung pada pemahaman bahwa etos kerja merupakan
karakter dan kebiasaan berkenaan dengan kerja yang terpancar dari sikap hidup
manusia yang mendasar terhadapnya. Dan dapat kita mengerti bahwa timbulnya kerja
dalam konteks ini adalah karena termotivasi oleh sikap hidup mendasar itu. Etos kerja
dapat berada pada individu dan masyarakat.
    2. Terbentuknya Etos Kerja
         Salah satu karakteristik yang melekat pada etos kerja manusia, ia merupakan
pancaran dari sikap hidup mendasar pemiliknya terhadap kerja. Menurut Sardar,
nilai-nilai adalah serupa dengan konsep dan cita-cita yang menggerakkan perilaku

          5
             Mochtar Buchori, Penelitian Pendidikan dan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta. IKIP
Muhammadiyah Press, 1994), hal. 6; lihat juga Edward Artin et. al, Webster Tht New International Dictionary,
(USA: G & C Merriam CO), Vol. I, 1981, hal. 878.
          6
            Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,
1994), Cet. ke 3, hal. 488.
          7
            Abdul Aziz El-Qussy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa/Mental, Terj. Dr. Zakiah Daradjat, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1974), hal. 100-101
          8
            Mochtar Buchori, Penelitian Pendidikan, , hal. 6.




                                                                                                            2
individu dan masyarakat.10 Seirama dengan itu Nuwair juga menegaskan bahwa
manusia adalah makhluk yang diarahkan dan terpengaruh oleh keyakinan yang
mengikatnya. Salah atau benar, keyakinan tersebut niscaya mewarnai perilaku orang
bersangkutan.11 Dalam konteks ini selain dorongan kebutuhan, dan aktualisasi diri,
nilai-nilai yang dianut, keyakinan atau ajaran agama tentu dapat pula menjadi sesuatu
yang berperan dalam proses terbentuknya sikap hidup mendasar ini.12 Berarti
kemunculan etos kerja manusia didorong oleh sikap hidup sebagai tersebut di atas
baik disertai kesadaran yang mantap maupun kurang mantap. Sikap hidup yang
mendasar itu menjadi sumber motivasi yang membentuk karakter, kebiasaan atau
budaya kerja tertentu.
         Dikarenakan latar belakang keyakinan dan motivasi berlainan, maka cara
terbentuknya etos kerja yang tidak bersangkut paut dengan agama (non agama)
dengan sendirinya mengandung perbedaan dengan cara terbentuknya etos kerja yang
berbasis ajaran agama, dalam hal ini etos kerja islami. Tentang bagaimana etos kerja
dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, kenyataannya bukan sesuatu
yang mudah. Sebab, realitas kehidupan manusia bersifat dinamis, majemuk, berubah-
ubah, dan antara satu orang dengan lainnya punya latar belakang, kondisi sosial dan
lingkungan yang berbeda. Perubahan sosial-ekonomi seseorang dalam hal ini juga
dapat mempengaruhi etos kerjanya.13 Di samping terpengaruh oleh faktor ekstern
yang amat beraneka ragam, meliputi faktor fisik, lingkungan, pendidikan dan latihan,
ekonomi dan imbalan, ternyata ia juga sangat dipengaruhi oleh faktor intern bersifat
psikis yang begitu dinamis dan sebagian di antaranya merupakan dorongan alamiah
seperti basic needs dengan berbagai hambatannya. Ringkasnya, etos kerja seseorang
tidak terbentuk oleh hanya satu dua variabel. Proses terbentuknya etos kerja
(termasuk etos kerja islami), seiring dengan kompleksitas manusia yang bersifat
kodrati, melibatkan kondisi, prakondisi dan faktor-faktor yang banyak: fisik biologis,
mental-psikis, sosio kultural dan mungkin spiritual transendental. Jadi, etos kerja

         9
           Ibid, hal. 7
         10
            Ziauddin Sardar, Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim, terj. Rahmani Astuti, (Bandung: Penerbit
Mizan, 1993), Cet. ke-4, hal. 45.
         11
            Abdus Satar Nuwair, al-Waqt Huwal Hayat Dirasah Manhajiyyah lit Ifadah min Awqat il-’Umr,
(Qatar: Darus Saqafah, 1488 H), Cet. ke -3, hal. 86-87.
         12
             Ajaran agama dapat ikut berperan dalam proses terbentuknya perilaku ekonomi dan aktivitas
keduniaan sesuai dengan hasil penelitian Weber, Geertz, dan Mitsuo Nakamura (lihat, Mitsuo Nakamura, Bulan
Sabit Muncul dari Batik Pohon Beringin, Studi tentang Pergerakan Muhammadiyah di Kota Gede, Terj. Drs.
Yusron Asyrafi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1983), hal. 12-14. Sesuai pula dengan hasil penelitian
Robert N. Bellah, Tokugawa Religion, (New York: Harper and Row, 1970).




                                                                                                              3
bersifat kompleks serta dinamis.
         Untuk memberikan keterangan lebih jelas bagaimana etos kerja manusia
terbentuk, baik yang tanpa keterlibatan agama maupun yang bersifat islami secara
sederhana (tanpa menyertakan faktor-faktor yang mempengaruhi) dapat digambarkan
sebagai berikut :



                       Akal dan/atau
                        pandangan
                        hidup/nilai-
                         nilai yang
                          diyakini




                        Sikap hidup
                          mendasar                              Etos Kerja
                       terhadap kerja




Gambar 1. Paradigma terbentuknya etos non-agama (tanpa keterlibatan agama). Etos
              kerja di sini terpancar dari sikap hidup mendasar terhadap kerja. Sikap
              hidup mendasar itu terbentuk oleh pemahaman akal dan/atau pandangan
              hidup atau nilai-nilai yang dianut (di luar nilai-nilai agama)14




         13
           Bandingkan dengan Musa Asy’arie, Islam, Etos Kerja, hal. 40-43.
         14
           Dr. Ahmad Janan Asifudin, M.A. Etos Kerja Islami. (Surakarta: Muhammadiyah University Press,
Cetakan Pertama, april; 2004), hal. 31




                                                                                                          4
                    Wahyu akal




                     Sistem
                keimanan/aqidah                                  Etos Kerja
                Islam berkenaan                                    islami
                  dengan kerja




Gambar 2. Paradigma terbentuknya etos kerja islami. Etos kerja islami terpancar dari
               sistem keimanan/aqidah Islam berkenaan dengan kerja. Aqidah itu
               terbentuk oleh ajaran wahyu dan akal yang bekerjasama secara
               proporsional menurut fungsi masing-masing15
       Dua gambar di atas menerangkan bagaimana etos kerja non agama (gambar 1)
dan etos kerja islami (gambar 2) terbentuk secara garis besar tanpa menyertakan
persoalan atau faktor-faktor yang dapat mempengaruhi, seperti yang mendorong,
menghambat atau menggagalkannya. Ternyata etos kerja itu bukan sesuatu yang
didominasi oleh urusan fisik lahiriah. Etos kerja merupakan buah atau pancaran dari
dinamika kejiwaan pemiliknya atau sikap batin orang itu. Membayangkan etos kerja
tinggi tanpa kondisi psikologis yang mendorongnya mirip dengan membayangkan
etos kerja robot atau makhluk tanpa jiwa. Dalam konteks ini, tentu bukan etos kerja
demikian yang dikehendaki. Lebih dari itu perlu dijadikan catatan penting bahwa
manusia adalah makhluk biologis, sosial, intelektual, spiritual dan pencari Tuhan.16 Ia
berjiwa dinamis. Oleh karena itu, manusia dalam hidupnya termasuk dalam
kehidupan kerjanya sering mengalami kesukaran untuk membebaskan diri dari
pengaruh faktor-faktor tertentu, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Yang
bersifat internal timbul dari faktor psikis misalnya dari dorongan kebutuhan, frustrasi,

       15
            Ibid, hal. 32
       16
            Lihat, Prajudi Atmosudirdjo, Pengambilan Keputusan, (Jakarta: Ghalia Indah, 1982), Cet. ke-6, hal.
32.




                                                                                                            5
suka atau tidak suka, persepsi, emosi, kemalasan, dan sebagainya. Sedangkan yang
bersifat eksternal, datangnya dari luar seperti faktor fisik, lingkungan alam,
pergaulan, budaya, pendidikan, pengalaman dan latihan, keadaan politik, ekonomi,
imbalan kerja, serta janji dan ancaman yang bersumber dari ajaran agama. Kesehatan
pun memainkan peranan amat penting.17

    3. Indikasi-Indikasi Orang Beretos Kerja Tinggi
        Gunnar Myrdal dalam bukunya Asian Drama mengemukakan tiga belas sikap
yang menandai etos kerja tinggi pada seseorang : 1. efisien; 2. rajin; 3. teratur; 4.
disiplin/tepat waktu; 5. hemat; 6. jujur dan teliti; 7. rasional dalam mengambil
keputusan dan tindakan; 8. bersedia menerima perubahan; 9. gesit dalam
memanfaatkan kesempatan; 10. energik; 11. ketulusan dan percaya diri; 12. mampu
bekerjasama; dan 13. mempunyai visi yang jauh ke depan. Menurut Sarsono,
Konfusianisme berkenaan dengan orang yang aktif bekerja mempunyai ciri-ciri : (1)
etos kerja dan disiplin pribadi; (2) kesadaran terhadap hierarki dan ketaatan; (3)
penghargaan pada keahlian; (4) hubungan keluarga yang kuat; (5) hemat dan hidup
sederhana; dan (6) kesediaan menyesuaikan diri.18 Perbandingan orientasi kerja
antara orang Cina perantauan dengan orang Amerika sebagai berikut: Cina
perantauan memiliki peringkat kerja: (1) kerja keras; (2) belajar; (3) kejujuran; (4)
disiplin diri; dan (5) kemandirian. Sedangkan nilai kerja orang Amerika adalah: (1)
kemandirian; (2) kerja keras; (3) prestasi; (4) kerjasama; dan (5) kejujuran.19
        Bangsa Jepang di kawasan Asia khususnya, relatif dikenal mempunyai
keunggulan dalam hal etos kerja. Etos kerja mereka ditandai ciri-ciri: 1. suka bekerja
keras; 2. terampil dan ahli dibidangnya; 3. disiplin dalam bekerja; 4. tekun, cermat
dan teliti; 5. memegang teguh kepercayaan dan jujur; 6. penuh tanggung jawab; 7.
mengutamakan kerja kelompok, 8. menghargai dan menghormati senioritas; dan 9.
mempunyai semangat patriotisme tinggi.20 Mokodompit juga mengutip pendapat Paul
Charlap. Yakni, agar seseorang sukses dalam bekerja harus didukung oleh etos kerja

         17
            Dr. Ahmad Janan Asifudin, M.A. Etos Kerja Islami. (Surakarta: Muhammadiyah University Press,
Cetakan Pertama, april; 2004), hal. 33
         18
            Sarsono, “Perbedaan Nilai Kerja Generasi Muda Terpelajar Jawa dan Cina”, Disertasi Psikologi
UGM, (Yogyakarta: Perpustakaan Fakultas Psikologi UGM, 1998), hal. 66.
         19
            Ibid., hal.69
         20
             Eddy Agussalim Mokodompit, “Etos Kerja”; hal. 10-11. Poin-poin tersebut di atas menurut
Mokodompit sejalan dengan pandangan Letnan Jenderal Sayidiman Suryohadiprodjo, Mantan Duta Besar R.I.
untuk Jepang tahun 1979 - 1983 dalam tulisan-tulisannya mengenai masyarakat Jepang.




                                                                                                      6
yang indikasi-indikasinya: 1. bekerja keras, 2. bekerja dengan arif bijaksana, 3.
antusias, sangat bergairah dalam bekerja, dan 4. bersedia memberikan pelayanan.21
Majalah Fortune di Amerika Serikat menyebutkan enam persyaratan untuk
memperoleh kesuksesan kerja sebagai eksekutif:
  1. Mempunyai prakarsa, bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan tugas
       kepemimpinan yang dipercayakan;
  2. Mempunyai pengetahuan dan keterampilan kerja di bidangnya secara memadai;
  3. Dapat dipercaya dan berusaha menyelesaikan pekerjaan dengan sungguh-
       sungguh;
  4. Mempunyai kecakapan dalam berhubungan dengan orang lain;
  5. Tidak mudah menyerah; dan
  6. Mempunyai kualitas pribadi dan kebiasaan kerja yang baik.22
         Idealisasi kualitas manusia Indonesia sesuai dengan dinamika budaya bangsa
Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dapat
dirumuskan sebagai berikut: 1. iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, I,
terwujud dalam sikap perilaku, ungkapan bahasa dalam komunikasi sosial, berbudi
pekerti luhur, jujur, adil, dapat 1, dipercaya; 2. berkepribadian, tangguh, dan mandiri;
3. bekerja keras; 4. berdisiplin; 5. bertanggung jawab; 6. cerdas, arif bijaksana; 7.
terampil dalam bekerja; 8. sehat jasmani dan rohani; dan 9. mempunyai kesadaran
patriotisme tinggi.23
         Dari pendapat-pendapat tersebut di atas, Indikasi-indikasi etos kerja secara
universal kiranya cukup menggambarkan etos kerja yang baik pada manusia,
bersumber dari kualitas diri, diwujudkan berdasarkan tata nilai sebagai etos kerja
yang diaktualisasikan dalam aktivitas kerja. Dan sehat jasmani serta mental juga
menjadi hal penting pada orang yang bersangkutan yang memiliki modal kepribadian
yang mendukung etos kerja tinggi.
         Etos Kerja Islami (Telaah Psikologi)
         Bahwasannya kepribadian terdiri dari sistem-sistem psiko-fisik.24 Kehidapan

         21
             Ibid, hal. 11.
         22
             Dr. Ahmad Janan Asifudin, M.A. Etos Kerja Islami. (Surakarta: Muhammadiyah University Press,
Cetakan Pertama, april; 2004), hal. 37
          23
             Ibid., hal. 12-13.
          24
             Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1976), Cet. 7,
hal. 79. Menurut pakar psikologi ini di antara sejumlah definisi kepribadian yang paling tepat, lengkap dan sesuai
dengan bukunya tersebut di atas adalah definisi yang diajukan oleh G.W Allport: Kepribadian ialah organisasi
dinamis dalam diri individu yang terdiri dari sistem-sistem psiko fisik yang menentukan cara penyesuaian diri




                                                                                                                7
manusia kalau diibaratkan sebagai perjalanan, jasmani memang laksana kendaraan.
Perjalanan bisa sangat terganggu bila kendaraan tidak normal dan sering rusak.
Kesehatan jasmani adalah perpaduan yang serasi antara bermacam-macam fungsi
jasmani, disertai kemampuan menghadapi kesukaran-kesukaran biasa yang dijumpai
dalam lingkungan, di samping secara positif merasa gesit, kuat, dan bersemangat.25
Sedangkan kesehatan mental ialah perpaduan atau integrasi yang serasi antara fungsi-
fungsi jiwa ringan yang biasa terjadi pada manusia umumnya, di samping secara
positif dapat menikmati kebahagiaan dan menyadari kemampuan.26
         Dari sejumlah pendapat dan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan, indikasi-
indikasi orang beretos kerja tinggi pada umumnya meliputi sifat-sifat:
  1. Aktif dan suka bekerja keras;
  2. Bersemangat dan hemat;
  3. Tekun dan profesional;
  4. Efisien dan kreatif;
  5. Jujur, disiplin, dan bertanggung jawab;
  6. Mandiri;
  7. Rasional serta mempunyai visi yang jauh ke depan;
  8. Percaya diri namun mampu bekerjasama dengan orang lain;
  9. Sederhana, tabah dan ulet;
  10. Sehat Jasmani dan rohani;

    4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
         Faktor-faktor yang potensial mempengaruhi proses terbentuknya etos kerja
selain banyak, tidak jarang dilatarbelakangi oleh kausalitas plural yang kompleks
hingga memunculkan berbagai kemungkinan. Maka, tidak aneh kalau sejumlah pakar
lalu menampilkan teori bertolak dari tinjauan tertentu yang berbeda antara satu
dengan lainnya. Dapat ditambahkan kiranya teori iklim yang dikemukakan oleh
sejumlah pakar ilmu sosial. Mereka berpendapat iklim berpengaruh terhadap etos
kerja penduduk. Negara yang berlokasi di daerah subtropik mempunyai iklim yang
merangsang warganya untuk bekerja lebih giat. Sebaliknya negara-negara yang
terletak di sekitar khatulistiwa, karena iklimnya panas, menyebabkan warga

yang unik (khusus) dari individu tersebut terhadap lingkungannya.
         25
            Abdul Aziz El-Qussy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa, hal. 36.
         26
            Ibid., hal. 38




                                                                                     8
negaranya kurang giat bekerja dan lebih cepat lelah. David C. McClelland
menyatakan teori ini mengandung banyak kelemahan. Teori ini tidak mampu
menjelaskan mengapa negara-negara yang iklimnya relatif tidak berbeda, ternyata
pertumbuhan ekonominya berbeda.27 Kalau kita analisis lebih cermat, pendapat
Miller dan Form, mungkin mengandung kebenaran meskipun tidak seluruhnya. Apa
yang dikemukakan oleh McClelland juga serupa itu. Karena faktor-faktor yang
melatarbelakangi manusia giat bekerja atau sebaliknya, hakikatnya tidak terbatas
pada hanya satu, dua, atau tiga faktor. Demikian pula berkenaan dengan teori-teori
lain yang menonjolkan faktor ras, penyebaran budaya, dan sebagainya. 28 Masing-
masing tidak ada yang menjadi satu-satunya faktor penyebab, tetapi sangat mungkin
masing-masing ikut memberikan pengaruh dan ikut berperan dalam terbentuknya
etos kerja.
       Manusia memang makhluk yang sangat kompleks. Ia memiliki rasa suka,
benci, marah, gembira, sedih, berani, takut, dan lain-lain. Ia juga mempunyai
kebutuhan, kemauan, cita-cita, dan angan-angan. Manusia mempunyai dorongan
hidup tertentu, pikiran dan pertimbangan-pertimbangan dalam menentukan sikap dan
pendirian. Selain itu, ia mempunyai lingkungan pergaulan di rumah atau tempat
kerjanya. Realitas sebagaimana tersebut di atas tentu mempengaruhi dinamika
kerjanya secara langsung atau tidak. Sebagai misal rasa benci yang terdapat pada
seorang pekerja, ketidak cocokan terhadap atasan atau teman satu tim, keadaan
seperti itu sangat mungkin untuk menimbulkan dampak negatif pada semangat,
konsentrasi, dan stabilitas kerja orang bersangkutan. Sebaliknya, rasa suka pada
pekerjaan, kehidupan keluarga yang harmonis, keadaan sosio-kultural, sosial ekonomi
dan kesehatan yang baik, akan sangat mendukung kegairahan dan aktivitas kerja.
Orang yang bekerja sesuai dengan bidang dan cita-cita dibandingkan dengan orang
yang bekerja di luar bidang dan diluar kehendak mereka, niscaya tidak sama dalam
antusias dan ketekunan kerja masing-masing.29 Sejumlah pakar psikologi
menyatakan, perilaku adalah interaksi antara faktor kepribadian manusia dengan
faktor2 yang ada di luar dirinya (faktor lingkungan) 30
       Motivasi yang berperan dalam proses terbentuknya etos kerja ternyata tidak

       27
          Jamaludin Ancok dan Fuat Nashori, Psikologi Islami, hal. 84.
       28
          Lihat, Ibid, hal 85.
       29
          Suma’mui, Hygiene, hal. 207-209.
       30
          Djamaludin Ancok, Nuansa Psikologi Pembangunan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), hal. 106.




                                                                                                           9
tunggal, melainkan lebih dari satu bahkan bisa banyak dan saling berinteraksi antara
satu dengan lainnya. Jadi, ia bersifat kompleks dan dinamis.
         Sedangkan faktor-faktor yang dapat berpengaruh dalam proses itu jelas tidak
sedikit meliputi faktor dalam dan faktor luar. Sistem pemahaman keimanan atau
aqidah islami juga termasuk menjadi landasan yang sangat penting.
    a. Masalah Interpretasi
         Kurang atau tidak adanya kerjasama proporsional antara wahyu dengan akal
berkaitan dengan interpretasi, pada gilirannya dapat melahirkan pasangan-pasangan
pilihan yang berlawanan.31 Misalnya, cara pemahaman tekstual dan kontekstual, jalan
Ilahi dan jalan keduniaan, pilihan antara idealis dan realis, dan lain sebagainya. Pada
gilirannya cara demikian menghasilkan pemahaman yang bersifat parsial atau saling
berhubungan.

C. Kesimpulan
         Terbentuk atau tidaknya etos kerja pada diri manusia tidak dapat lepas dari
berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dan hal-hal yang mempengaruhi terbentuk
atau tidaknya etos kerja pada diri manusia tersebut adalah salah satu hal yang sangat
berpotensi besar untuk menjadi sumber “motivasi” guna terbentuknya “etos kerja”
yang tinggi.




          31
             Al-Ma’had al-Islamiy lil-Fikril-Islamiy, Silsilah Islamiyyatil Ma’rif’ah, Islamiyyatul ma’rifah al-
Mabadi’ al-’Ammah, Khittatul-’Amal al-Injazat, (Washington D.C: International Institute of Islamic Thought,
1986), h. 70-71




                                                                                                             10
                                        Daftar Pustaka

Abdul Aziz El-Qussy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa
Adams, Mulford, Lewis, 1965, Websters World University Dictionary, (Washington
      DC: Publishers Company Inc)
Al-Ma’had al-Islamiy lil-Fikril-Islamiy, 1986, Silsilah Islamiyyatil Ma’rif’ah, Islamiyyatul ma’rifah
al-Mabadi’ al-’Ammah, Khittatul-’Amal al-Injazat, (Washington D.C: International Institute of Islamic
Thought)
Ancok, Djamaludin, 1995, Nuansa Psikologi Pembangunan, (Yogyakarta: Pustaka
        Pelajar)
Asy’arie, Musa, Islam, etos Kerja
Atmosudirdjo, Prajudi, 1982, Pengambilan Keputusan, Cet. ke-6, (Jakarta: Ghalia
        Indah,)
Aziz, El-Qussy,Abdul, 1974, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa/Mental, Terj. Dr. Zakiah
        Daradjat, (Jakarta: Bulan Bintang)
Buchori, Mochtar, 1994, Penelitian Pendidikan dan Pendidikan Islam di Indonesia,
        (Jakarta. IKIP Muhammadiyah Press,)
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
        (Jakarta: Balai Pustaka,)
Koentjoroningrat, 1980, Rintangan-rintangan Mental dalam Pembangunan Ekoxwmi,
        (Jakarta: LIPI,)
Rahman, Fazlur, 1980, Major Themes of The Quran, (Chicago: Bibliotheca Islamica)
Sutrisno, 2008, Pendidikan Islam Yang Menghidupkan, Cet. Ke-II, (Yogyakarta; Kota
        Kembang)
Sardar, Ziauddin, 1993, Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim, terj. Rahmani
        Astuti, (Bandung: Penerbit Mizan,)
Satar, Nuwair, Abdus, 1488 H, al-Waqt Huwal Hayat Dirasah Manhajiyyah lit Ifadah
        min Awqat il-’Umr, Cet. ke -3, (Qatar: Darus Saqafah,)
Sarsono, 1998 , Perbedaan Nilai Kerja Generasi Muda Terpelajar Jawa dan Cina”,
        Disertasi Psikologi UGM, (Yogyakarta: Perpustakaan Fakultas Psikologi
        UGM,)
Eddy Agussalim Mokodompit, “Etos Kerja”
Sarwono, Wirawan, Sarlito, 1976, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta: PT Bulan
        Bintang.




                                                                                                  11

								
To top