Docstoc

Makalah Studi Al-Hadis

Document Sample
Makalah Studi Al-Hadis Powered By Docstoc
					           Perempuan Bepergian Tanpa Mahram


              Studi Al-Hadis ; Teori dan Metodologi
          Dosen Pengampu : Dr. H. Agung Danarto, M.Ag




                         Disusun Oleh :
                       Ari Susanto, S.Pd.I




           PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM
KONSENTRASI MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM
      PROGRAM PASCASARJANA UIN SUNAN KALIJAGA
                              2011




                                                        1
A. Pendahuluan
          Sejarah adalah ilmu yang digunakan untuk mempelajari peristiwa penting
masalalu manusia. Pengetahuan ssejarah meliputi pengetahuan akan kejadian-kejadian
yang sudah lampau serta pengetahuan akan berpikir secara historis.
          Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan dan persetujuan dari
Nabi Muhammad SAW. Hadits merupakan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-
Qur'an, Ijma dan Qiyas.
          Secara struktural maupun fungsional Hadis telah disepakati oleh mayoritas kaum
Muslimin dari berbagai mazhab Islam, sebagai sumber ajaran dan pedoman hidup yang
menduduki posisi kedua setelah al-Qur’an. Hadis yang tercantum dalam berbagai kitab
hadis yang ada telah melalui proses penelitian ilmiah yang rumit dan mendapat perhatian
yang khusus sejak dari masa pra kodifikasi sampai dengan saat ini sehingga menghasilkan
kualitas Hadis yang diinginkan oleh para penghimpunnya.


B. Pembahasan
          Muhrim adalah orang yang sedang berihram dalam ibadah haji. Sedangkan
mahram adalah orang yang haram dinikahi, seperti disebutkan didalam Al-Qur’an surat
An-Nisa Ayat 23-24 sebagai berikut :
Artinya :
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan,1
saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan;
Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-
saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang
perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu
isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang
Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah
kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu)
isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua
perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau;
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(23) Dan (diharamkan
juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki,2

1
  Maksud ibu di sini ialah ibu, nenek dan seterusnya ke atas. dan yang dimaksud dengan anak perempuan ialah anak perempuan, cucu
perempuan dan seterusnya ke bawah, demikian juga yang lain-lainnya. sedang yang dimaksud dengan anak-anak isterimu yang dalam
pemeliharaanmu, menurut Jumhur ulama termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaannya.(Al-Quran in word)
2
  Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya. .(Al-Quran in word)



                                                                                                                              2
(Allah Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan dihalalkan
bagi kamu selain yang demikian3 (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk
dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang Telah kamu nikmati (campuri) di
antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu
kewajiban; dan tiadalah Mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu Telah saling
merelakannya, sesudah menentukan mahar itu.4 Sesungguhnya Allah Maha mengetahui
lagi Maha Bijaksana.(24)
            1. Hadis riwayat HR. Muslim dari Ibnu ‘Umar :


Artinya : Tidak boleh seorang wanita bersafar tiga (hari perjalanan) melainkan harus
bersama mahromnya.”5

            2. Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu :
                                                                                         َ ‫َنِ ابْ ِ ُمَ َ ؛ أ َّ رسوْ َ ا ِ صلى اهلل عليه وسلم قَا‬
                                                                                         ‫ل‬                        ‫ع ن ع ر َن َ ُ ل هلل‬
                                                                                                         ‫َة َال ِال ومع ُ م م‬                         ‫ال ُ ر‬
                                                                                                         ٍ َ‫َ تسَافِ ِ الْمَرْأ ُ ث َثًا، إ َّ َ َ َهَا ذوْ َحْر‬
Artinya : Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Seorang wanita tidak
boleh pergi selama tiga hari kecuali bersama muhrimnya.

            3. Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
                                                                                                         ‫َ ُ ل هلل‬         ‫ع أ هر َ ل‬
                                                                                      ‫َنِ َبِي ُ َيْرةَ قَا َ: قَالَ رسوْ ُ ا ِ صلى اهلل عليه وسلم‬
                                                                   ‫َة ُ لمة ُ ر َس َ ل لة إ َّ ومع رجل ُ ح مة م ه‬                                     ‫ال ي ِل‬
                                                                  ‫َ َح ُّ ِإلمْرَأ ٍ مسِْ َ ٍ تسَافِ ُ م ِيْرةَ َيَْ ٍ. ِال َ َ َهَا َ ُ ٌ ذوْ ُرْ َ ٍ ِنْ ًا‬
Artinya : Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Tidak halal bagi seorang
wanita muslimah bepergian selama satu malam kecuali bersama seorang lelaki
muhrimnya.

            4. Hadits riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
                                                                                              ‫ع أ سع د خ ِ ل ل َ ُ ل هلل‬
                                                                                                                       ‫ي‬
                                                                           ‫َنْ َبِي َ ِيْ ِ الْ ُدْرِ ِّ، قَا َ: قَا َ رسوْ ُ ا ِ صلى اهلل عليه وسلم‬
      َ ‫ر أ ُ َ س ي ُ ن َالث َي فص عد إ َّ ومعه أُ ه أ نه َ َ جه‬                                                          َ ‫َة ُ من ِ و‬                   ‫ال ي ِل‬
    ْ‫َ َح ُّ ِإلمْرَأ ٍ تؤْ ِ ُ بِاهلل َالْيوْمِ اْآلخِ ِ، َنْ تسَافِر َفَرًا َكوْ ُ ث َ َةَ أ َّامٍ َ َا ِ ًا، ِال َ َ َ َا َبوْ َا َوِ ابْ ُ َا أوْ زوْ ُ َا أو‬
                                                                                                                                  ‫أ ُ ه َ ُ م ممه‬
                                                                                                                                 ‫َخوْ َا أوْ ذوْ َحْرَ ٍ ِنْ َا‬
Artinya : Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam telah bersabda: Tidak halal bagi seorang
wanita yang beriman kepada Allah dan hari kiamat untuk bepergian selama tiga hari dan
seterusnya kecuali bersama ayah, anak, suami, saudara, atau mahramnya yang lain


3
  Ialah: selain dari macam-macam wanita yang tersebut dalam surat An Nisaa' ayat 23 dan 24. .(Al-Quran in word)
4
  Ialah: menambah, mengurangi atau tidak membayar sama sekali maskawin yang Telah ditetapkan. .(Al-Quran in word)
5
  HR. Muslim no. 1338 dan 1339, dari Ibnu ‘Umar



                                                                                                                                                              3
       5. Hadits riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
                                                             ‫يُ ل‬                           ‫ع ن َب س ي ُ ل سم ْت الن ِي‬
                                                             ُ ْ‫َنِ ابْ ِ عَّا ٍ َقوْ ُ: َ ِع ُ َّب َّ صلى اهلل عليه وسلم يخطب َقو‬
   ‫َ ُ هلل ِن‬            ‫َة ِال مع م م ف م رجل فق ل‬                           ‫َ ِال ومعه ُ م م وال ُ ر‬                           ‫ال ي ُ َن رجل‬
   َّ ‫“ َ َخْلو َّ َ ُ ٌ بِامْرَأةٍ إ َّ َ َ َ َا ذوْ َحْرَ ٍ. َ َ تسَافِ ِ الْمَرْأ ُ إ َّ َ َ ذِي َحْرَ ٍ” َقَا َ َ ُ ٌ َ َا َ: يَا رسوْلَ ا ِ. إ‬
                                         ‫أ ِك‬        ‫ل ا ْطِ ف َج م‬               ‫ْ َة و‬             ‫جة إ ِ تت ْت‬‫ن‬                َ‫ر‬       ‫أ‬
                                         َ ‫امْرََتِي خَ َجتْ حَا َ ً. وَِِّي اكْ ُ ِب ُ فِي غَزو ِ كَذَا َكَذَا. قَا َ: ِن َلقْ َح َّ َعَ امْرََت‬
Artinya : Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wassalam berpidato: Janganlah
sekali-kali seorang lelaki berkhalwat (berduaan) dengan seorang wanita kecuali wanita
itu bersama mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama
mahramnya. Tiba-tiba seorang lelaki bangkit berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah,
sesungguhnya istriku pergi untuk menunaikan ibadah haji, sedangkan aku terkena
kewajiban mengikuti peperangan ini. Beliau bersabda: Berangkatlah untuk berhaji
bersama istrimu
         Akan tetapi, jika kondisi seperti itu telah berubah, seperti di masa kita sekarang,
ketika perjalanan jauh ditempuh dengan menggunakan pesawat terbang yang mengangkut
seratus orang penumpang atau lebih; atau kereta api yang mengangkut ratusan musafir,
maka tidak ada lagi alasan untuk mengkhawatirkan keselamatan wanita yang bepergian
sendiri. Karena itu, tidak ada salahnya, ditinjau dari segi syariat, jika ia melakukannya.
Dan ini tidak dapat dianggap sebagai tindak pelanggaran terhadap hadis tersebut. Bahkan
hal seperti itu, menguatkan kandungan hadis
         Ajaran Islam menghendaki untuk melindungi wanita dan menjaganya dengan
berbagai cara serta sarana, yang pada akhirnya ada manfaat yang kembali kepada wanita
tersebut. Dari hadis hadis diatas kita bisa mengambil beberapa faidah di antaranya.
   1. Diharamkannya wanita bepergian selain haji dan umrah tanpa disertai mahram
         atau suaminya. Ini menurut pendapat fuqaha, asalkan ada jaminan kemanan bila
         disertai wanita lain yang dapat dipercaya. Pendapat ini berbeda dengan pendapat
         orang yang mensyaratkan mahram atau suami.
   2. Perhatian              Islam        terhadap           wanita         untuk         menjaganya,              tidak       memancing
         kekhawatiran apabila ada gangguan terhadap dirinya.
         Apabila hadis di atas dicermati lebih mendalam, sebenarnya yang ingin ditekankan
Nabi Saw adalah pengadaan keamanan untuk perempuan, bukan pelarangan bagi
perempuan. Karena itu, jawaban Nabi Saw terhadap sahabat bukan perintah untuk
menghalangi perjalanan perempuan, tetapi "Susullah dan temani isterimu". Artinya,
perintah Nabi saw merupakan perwujudan perlindungan dan keamanan bagi perempuan.
Pernyataan Syekh Muhammad al-Ghazali juga mengidikasikan hal ini. Ketika ia berbicara
mengenai hak perempuan untuk bepergian dalam fikih, ia mengakhiri tulisannya dengan


                                                                                                                                                4
pernyataan bahwa ada sebuah hadis yang patut direnungkan. Dari hadis ini, bisa dipahami
bahwa perempuan bisa saja keluar dan bepergian jauh ke manapun, tanpa mahram. Yang
penting ada jaminan keamanan dari masyarakat. Hadis itu berbunyi: "Akan datang suatu
masa, di mana keamanan merambah seluruh negeri, sehingga seorang perempuan
melakukan perjalanan dari Mekkah ke San'a (sebuah kota di Yaman) tanpa merasa takut
kecuali kepada Allah".
       Dengan demikian dapat disimpulkan, konsep 'mahram' di dalam syariat (fikih),
disamping konsep munakahat (pelarangan menikah dengan kerabat dekat), juga
merupakan konsep perlindungan dan pengamanan bagi perempuan. Digunakan mahram
untuk untuk tugas perlindungan, karena kenyataannya keluarga dekat yaitu mahram yang
memberikan perlindungan biasanya memiliki jalinan emosional yang cukup kuat,
sehingga pengamanan dan perlindungan bisa diberikan. Kemungkinan terjadinya sesuatu
yang buruk terhadap perempuan juga bisa dihindari dengan kehadiran kerabatnya, atau
mahramnya itu.
       Dalam masyarakat modern dan beradab, stabilitas sosial tidak lagi bergantung
pada orang dan komunalisme, melainkan pada sistem dan struktur yang rasional, termasuk
kepastian hukum. Fungsi pengamanan dan perlindungan sosial seharusnya menjadi bagian
dari kerja sistem dan struktur tersebut. Seharusnya, negara melalui sistem politik dan
hukumnya menjamin pengamanan dan perlindungan bagi setiap warganya, baik laki-laki
maupun perempuan.
       Negara dituntut mewujudkan pengamanan, bukan individu, apalagi melarang
warga melakukan aktifitas yang merupakan haknya yang paling mendasar. Sebenarnya
dalam kitab-kitab fikih, tidak ditemukan secara khusus larangan perempuan untuk keluar
malam tanpa mahram, selama dilakukan untuk hal-hal yang positif dan dibenarkan, serta
ada jaminan keamanan dan perlindungan. Yang ada, adalah pelarangan untuk bepergian di
atas jarak tempuh tiga hari tiga malam, tanpa mahram. Ini berkaitan dengan perwujudan
pengamanan dan perlindungan. Dan untuk masa sekarang bisa lebih efektif dilakukan oleh
negara, bukan individu. Sehingga, setiap warga bisa terlindungi, dan dalam waktu yang
sama bisa melakukan aktifitas-aktifitas positif. Tak ada pelarangan-pelarangan yang tidak
mendasar.
       Kalau negara, atau masyarakat dalam keadaan tidak aman, maka yang dilarang
untuk keluar malam tidak hanya perempuan, tetapi juga laki-laki. Berarti, tidak ada
larangan khusus dari agama (syariat)kepada perempuan untuk keluar malam. Dalam al-
Qur'an secara eksplisit dinyatakan (QS 16: 97), perempuan seperti juga laki-laki, punya


                                                                                       5
hak sama untuk melakukan kerja-kerja positif (amal shalih) untuk mewujudkan kehidupan
yang baik (hayatan thayyibah), bagi dirinya, keluarga dan masyarakatnya.Wallahu a'lam. 6
             Berhaji Tanpa Mahram
             Para ulama berijma’ (sepakat) bahwa seorang wanita dinilai wajib menunaikan
haji dalam Islam jika ia telah berkemampuan. Hal ini berdasarkan keumuman firman
Allah Ta’ala,



Artinya :
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang
sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS. Ali Imron: 97).
             Mengenai kemampuan di sini sebenarnya sama halnya dengan pria. Namun para
ulama berselisih pendapat apakah pada wanita disyaratkan harus adanya mahrom ataukah
tidak.”7
             Khilaf Ulama
             Berikut adalah beberapa pendapat para ulama mengenai hukum berhaji tanpa
mahrom.
             Disyaratkan seorang wanita dalam safar hajinya untuk ditemani oleh suami atau
mahromnya jika memang ia telah menempuh jarak safar ke Makkah selama tiga hari.
Jarak seperti ini adalah jarak minimal untuk dikatakan bersafar, demikian pendapat ulama
Hanafiyah dan Hambali.
             Mereka berdalil dengan hadits Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,


Artinya: Tidak boleh seorang wanita bersafar tiga (hari perjalanan) melainkan harus
bersama mahromnya.” (HR. Muslim no. 1338 dan 1339, dari Ibnu ‘Umar)
             Ulama Syafi’iyah dan ulama Malikiyah membolehkan mahrom tersebut diganti.
Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa jika ada para wanita yang tsiqoh–dua atau lebih–
yang memberikan rasa aman, maka ini cukup sebagai pengganti mahrom atau suami. Hal
ini ditinjau jika wanita tersebut sudah dikenai kewajiban untuk berhaji dalam Islam.
Menurut mereka, “Yang paling tepat, tidak disyaratkan adanya mahrom bagi para wanita
tersebut (yang akan berhaji). Sudah cukup sebenarnya jika sudah ada jama’ah yang
jumlahnya banyak.”
6
    http://abangdani.wordpress.com/2010/10/22/berhaji-tanpa-mahram-boleh-atau-tidak/
7
    Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots, 1392, 9/104



                                                                                                 6
             Namun jika didapati satu wanita tsiqoh, maka tidak wajib bagi mereka untuk
berhaji (yang selain wajib). Akan tetapi boleh baginya berhaji jika hajinya adalah haji
fardhu (wajib) atau haji nadzar. Bahkan boleh baginya keluar sendirian untuk menunaikan
haji yang wajib atau untuk menunaikan nadzar, selama aman.
             Ulama Malikiyah menambahkan yang intinya membolehkan. Mereka mengatakan
bahwa jika wanita tidak mendapati mahrom atau tidak mendapati pasangan (suami untuk
menemaninya), walaupun itu memperolehnya dengan upah, maka ia boleh bersafar untuk
haji yang wajib atau haji dalam rangka nadzar selama bersama orang-orang (dari para
wanita atau para pria yang sholih) yang memberikan rasa aman.
             Ad Dasuqi (sala seorang ulama Malikiyah) berkata bahwa kebanyakan ulama
Malikiyah mempersyaratkan wanita harus disertai mahrom.
             Adapun haji yang sunnah para ulama sepakat bahwa tidak boleh seorang wanita
bersafar untuk haji kecuali bersama suami atau mahromnya. Untuk haji yang sunnah tidak
boleh ia bersafar dengan selain mahromnya, bahkan ia bisa terjerumus dalam dosa jika
nekad melakukannya.8
             Terdapat tambahan dari penjelasan An Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih
Muslim. An Nawawi berkata, “’Atho’, Sa’id bin Jubair, Ibnu Sirin, Imam Malik Al Auza’i
dan pendapat Imam Asy Syafi’i yang masyhur berpendapat bahwa tidak disyaratkan
adanya mahrom. Yang disyaratkan adalah si wanita mendapatkan rasa aman. Ulama
Syafi’iyah menerangkan bahwa rasa aman tersebut bisa tercapai dengan adanya suami,
mahrom atau wanita-wanita yang tsiqoh (terpercaya). Haji tidaklah diwajikan menurut
madzhab kami kecuali dengan ada rasa aman dari salah satu hal tadi. Jika didapati satu
wanita tsiqoh saja, maka haji tidak menjadi wajib. Akan tetapi wanita yang akan berhaji
boleh bersafar dengan wanita lain walaupun bersendirian.
             Pendapat yang masyhur dari Imam Asy Syafi’i dan mayoritas ulama Syafi’iyah
adalah pendapat di atas. Ulama Syafi’iyah kemudian berselisih pendapat mengenai hukum
wanita berhaji yang sunnah tanpa adanya mahrom atau untuk safar dengan tujuan ziaroh
atau berdagang atau semacam itu yang tidak wajib. Sebagian ulama Syafi’iyah katakan
bahwa hal-hal yang tidak wajib tadi dibolehkan sebagaimana haji (yang wajib). Namun
pendapat mayoritas ulama, “Tidak boleh seorang wanita bersafar kecuali dengan suami
atau mahromnya. Inilah yang tepat karena didukung oleh hadits-hadits yang shahih.”9
             Titik Beda Pendapat

8
    Kami sarikan dari Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, index “hajj”, point 25, 17/35-36.
9
    Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 9/104.



                                                                                      7
             Sebab perselisihan ulama dalam masalah ini adalah karena adanya pemahaman
yang berbeda dalam menkompromikan berbagai hadits (yang melarang bersafar tanpa
mahrom, pen) dengan firman Allah Ta’ala,


Artinya: Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang
yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS. Ali Imron: 97).
             Secara zhohir, yang dimaksud istitho’ah (dikatakan mampu dalam haji) adalah
mampu pada badan (fisik). Jadi jika secara fisik mampu, maka diwajibkan untuk haji.
Barangsiapa yang tidak mendapati mahrom namun ia sudah memiliki kemampuan secara
fisik, maka ia tetap diwajibkan untuk haji. Dari sini, ketika terjadi pertentangan antara
tesktual ayat dan hadits, maka muncullah beda pendapat di antara para ulama.
             Imam Abu Hanifah dan para ulama yang sependapat dengannya menjadikan hadits
(tentang larangan safar wanita tanpa mahrom) sebagai penjelas dari dalil yang
menjelaskan istitho’ah (kemampuan) pada hak wanita.
             Imam Malik dan ulama yang sependapat dengannya berpendapat bahwa istitho’ah
(kemampuan) yang dimaksudkan adalah bisa dengan cukup wanita tersebut mendapatkan
rasa aman dari para pria atau wanita lainnya. Sedangkan hadits (yang melarang wanita
bersafar tanpa mahrom) tidaklah bertentangan jika memang safarnya adalah wajib.10
             Intinya dari penjelasan Al Qurthubi rahimahullah, ada perbedaan dalam
memahami dua dalil berikut. Dalil pertama tentang istitho’ah (kemampuan dalam berhaji).


Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi)
orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS. Ali Imron: 97).
             Sebagian ulama yang mengatakan bahwa ia tetap berangkat haji meskipun hanya
mendapatkan rasa aman saja dengan ditemani para pria sholeh atau wanita yang tsiqoh
(terpercaya). Karena para ulama yang berpendapat demikian menilai hajinya tetap
ditunaikan, jika memang hajinya itu wajib. Sedangkan larangan untuk bersafar tanpa
mahrom dinilai sebagai saddu dzari’ah, yaitu larangan yang bukan tertuju pada dzatnya
akan tetapi terlarang karena dapat mengantarkan pada sesuatu yang terlarang. Dan mereka
punya kaedah fiqh (yang tentu ini dibangun di atas dalil), “Sesuatu yang terlarang karena
saddu dzari’ah dibolehkan jika dalam keadaan hajjah (butuh).” Dan mereka menganggap
bahwa kondisi haji yang sudah wajib dilihat dari segi finansial dan fisik ini tetap


10
     Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Al ‘Azhim Abadi Abuth Thoyib, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, 1415, 5/103-104



                                                                                                                  8
dikatakan wajib meskipun akhirnya berangkatnya tanpa mahrom dan ditemani dengan
para pria atau para wanita lain yang tsiqoh.
          Sedangkan ulama yang menganggap tetap harus dengan mahrom—seperti
pendapat ulama Hanafiyah dan ulama Hambali–, menyatakan bahwa mahrom itu sebagai
syarat istitho’ah karena mereka menyatakan ayat yang membicarakan tentang istitho’ah
(kemampuan) dalam berhaji dijelaskan dengan hadits larangan bersafar tanpa mahrom.
          Riwayat Haji Tanpa Mahrom
          Sebagian ulama mengatakan bahwa seorang wanita boleh berhaji jika ia ditemani
oleh orang-orang yang memberikan rasa aman, meskipun wanita tersebut kala itu tidak
ditemani suami dan tidak ditemani mahromnya. Sebagaimana kami riwayatkan dari jalan
Ibnu Abi Syaibah, ia berkata bahwa Waki’, dari Yunus (Ibnu Yazid), dari Zuhri, ia
berkata, “Ada yang menanyakan pada ‘Aisyah—Ummul Mukminin—wanita, apakah
betul seorang wanita tidak boleh bersafar kecuali dengan mahromnya?” ‘Aisyah
menjawab,“Tidak setiap wanita memiliki mahrom.”
          Dari jalur Sa’id bin Manshur, ia berkata bahwa Ibnu Wahb, dari ‘Amr bin Al
Harits, dari Bukair bin Asyja’, dari Nafi’ (bekas budak Ibnu ‘Umar), beliau berkata, yang
artinya: “Para bekas budak wanita milik ‘Abdullah bin ‘Umar pernah bersafar bersama
beliau dan tidak ada bersama mereka mahrom”.
          Pendapat di atas juga menjadi pendapat Ibnu Sirin, ‘Atho’, nampak dari pendapat
Az Zuhri, Qotadah, Al Hakam bin ‘Utaibah, ini juga menjadi pendapat Al Auza’i, Imam
Malik, Imam Asy Syafi’i dan Abu Sulaiman dan beberapa sahabat.11
          Ibnu Hazm rahimahullah pun memberikan sanggahan terhadap pendapat Imam
Abu Hanifah (yang mensyaratkan wanita harus berhaji dengan mahrom). Beliau
rahimahullah berkata, “Adapun pendapat Imam Abu Hanifah dalam penentuan yang kami
sebutkan (tidak boleh bersafar lebih dari tiga hari kecuali bersama mahrom), maka
pendapat ini tidak diketahui adanya salaf dari para sahabat yang berpendapat seperti itu,
tidak pula diketahui adanya pendapat tabi’in. Bahkan kami tidak mengetahui ada ulama
yang berpendapat sebelum mereka seperti itu.”12
          Pentarjihan Pendapat
          Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Wanita tidak wajib bersafar untuk haji dan
tidak boleh ia melakukannya kecuali jika bersama suami atau mahromnya.”13
          Lalu Ibnu Taimiyah membawakan di antara dalilnya sebagai berikut:
11
   Al Muhalla, Ibnu Hazm, Mawqi’ Ya’sub (sesuai standar cetakan), 7/47-48
12
   Al Muhalla, 7/48
13
   Syarh Al ‘Umdah, Ibnu Taimiyah, Maktabah Al ‘Ubaikan, 1413 H, 2/172



                                                                                       9
Artinya: “Seorang wanita tidak boleh bersafar lebih dari tiga hari kecuali bersama
dengan mahromnya.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)

                                                               .
                                                                          .              »
Artinya: “Tidak boleh seorang wanita bersafar kecuali bersama mahromnya. Tidak boleh
berkhalwat14 (berdua-duaan) dengan wanita kecuali bersama mahromnya.” Kemudian
ada seseorang yang berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin keluar mengikuti peperangan
ini dan itu. Namun istriku ingin berhaji.” Beliau bersabda, “Lebih baik engkau berhaji
bersama istrimu.” (Diriwayatkan oleh Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
             Setelah membawakan dalil-dalil tersebut, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
“Dalil-dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut menunjukkan diharamkannya
safar wanita tanpa mahrom. Dan dalil-dalil tersebut tidak menyatakan satu safar pun
sebagai pengecualian. Padahal safar untuk berhaji sudah masyhur dan sudah seringkali
dilakukan. Sehingga tidak boleh kita menyatakan ini ada pengecualian dengan niat tanpa
ada lafazh (pendukung). Bahkan para sahabat, di antara mereka memasukkan safar haji
dalam hadits-hadits larangan tersebut. Karena ada seseorang yang pernah menanyakan
mengenai safar haji tanpa mahrom, ditegaskan tetap terlarang.”15
             Intinya, sejak dulu masalah ini ada silang pendapat karena beda dalam memahami
dalil. Sehingga yang lebih kuat adalah yang lebih merujuk pada dalil. Alasan Ibnu
Taimiyah ini lebih memuaskan karena didukung langsung oleh hadits yang shahih.
Pendapat Ibnu Hazm cukup disanggah dengan alasan yang dikemukakan oleh Ibnu
Taimiyah di atas. Jadi, pendapat yang menyatakan terlarangnya haji tanpa mahrom itu
yang lebih kuat.
             Wanita yang tidak mempunyai mahram yang mendampingi dalam haji maka dia
tidak wajib haji. Sebab mahram bagi seorang wanita merupakan istitho’ah (bentuk
kemampuan) dalam melakukan perjalanan haji. Sedangkan kemampuan melakukan
perjalanan merupakan syarat dalam haji. Allah Ta’ala berfirman,


Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi)
orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS. ‘Ali Imran : 97)

14
     Ibnu Hajar, Darul Ma’rifah, 1379, 4/77
15
     Syarh Al ‘Umdah, 2/174



                                                                                        10
       Seorang wanita tidak boleh pergi haji atau lainnya kecuali bersama suami atau
mahramnya, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu
‘Abbas, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah sekali-
kali seorang laki-laki berduaan (berkhalwat) dengan seorang wanita kecuali wanita itu
disertai muhrimnya. Dan seorang wanita juga tidak boleh bepergian sendirian, kecuali
ditemani oleh mahramnya.” Tiba-tiba berdirilah seorang laki-laki dan bertanya, “Ya,
Rasulullah, sesungguhnya isteriku hendak menunaikan ibadah haji, sedangkan aku
ditugaskan pergi berperang ke sana dan ke situ; bagaimana itu?” Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam pun menjawab, “Pergilah kamu haji bersama isterimu.“
       Demikian ini adalah pendapat Hasan Al Bashri, An Nakho’i, Ahmad, Ishaq, Ibnul
Mundzir dan Ahli Ra’yi (madzhab Abu Hanifah). Pendapat ini adalah pendapat yang
lebih tepat karena sesuai dengan keumuman hadits-hadits yang melarang wanita
bepergian tanpa suami atau mahramnya. Pendapat tersebut berbeda dengan pendapat
Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Al-Auza’i. Di mana mereka menyebutkan syarat yang
tidak bisa dijadikan hujjah. Ibnul Mundzir berkata, “Mereka meninggalkan pendapat yang
begitu nampak jelas pada hadits. Masing-masing mereka menyebutkan syarat yang tidak
bisa dijadikan hujjah“.
C. Kesimpulan
       Istilah yg ‘benar’ untuk laki-laki/perempuan yg dilarang dinikahi adalah mahram.
Dan   muhrim adalah orang yg berihram. Seorang perempuan yg hendak bepergian
hendaknya dilindungi lelaki yg menjadi mahramnya, agar terhindar dari kejahatan yg
mungkin muncul selama perjalanan. Dalam hal ini hadis melihat dari segi keamanan
seorang perempuan saat bepergian dan seseoang dinyatakan menjadi mahram apabila dia
menyusu sebelum umur 2 tahun, dan tindakan menyusu dilakukan (sedikitnya) 5 kali
penyusuan.




                                                                                    11
                                     Daftar Pustaka

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots, 1392

Kami sarikan dari Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, index “hajj”, point 25, 17/35-36.

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 9/104.

Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Al ‘Azhim Abadi Abuth Thoyib, Darul Kutub Al
‘Ilmiyyah, 1415, 5/103-104.

Al Muhalla, Ibnu Hazm, Mawqi’ Ya’sub (sesuai standar cetakan), 7/47-48

Syarh Al ‘Umdah, Ibnu Taimiyah, Maktabah Al ‘Ubaikan, 1413 H, 2/172

Tafsiran seperti ini lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar, Darul Ma’rifah, 1379, 4/77

http://abangdani.wordpress.com/2010/10/22/berhaji-tanpa-mahram-boleh-atau-tidak/

www.rumaysho.com




                                                                                   12

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:181
posted:8/26/2012
language:Malay
pages:12