Docstoc

LP ASKEP ASTHMA BRONCHIAL=

Document Sample
LP ASKEP ASTHMA BRONCHIAL= Powered By Docstoc
					    ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN
            ASTHMA BRONCHIAL
      DI RUANG ANAK RSUD DR. SOETOMO
                SURABAYA




                 DI SUSUN
                  OLEH :


                 SUBHAN
              NIM 010030170 B




     DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
   PROGRAM STUDI S.1 ILMU KEPERAWATAN
                SURABAYA
                   2002



                                            1
                         LEMBAR PENGESAHAN


              Laporan Asuhan Keperawatan Anak Usia Pre School
                         Dengan Asthma Broncheale
                 Di Ruang Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya.




                                                Surabaya, 26 Juli 2002




                                                    Mahasiswa




                                                      SUBHAN
                                                 NIM. 010030170 B




Kepala Ruangan Anak                          Pembimbing Akademik




M.E. Sumiati,Amd. Kep.                       Indriatie, S.Kp
NIP                                          NIP.


                                                                         2
        ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ASTHMA
                                   BRONCHIAL
                                   Oleh : Subhan


Definisi

       Asthma disebut juga sebagai reactive air way disease (RAD), adalah suatu
penyakit obstruksi pada jalan nafas secara riversibel yang ditandai dengan
bronchospasme, inflamasi dan peningkatan sekresi jalan napas terhadap berbagai
stimulan.

Patofisiologi

       Astma pada anak terjadi adanya penyempitan pada jalan nafas dan hiperaktif
        dengan respon terhadap bahan iritasi dan stimulus lain.

       Dengan adanya bahan iritasi atau allergen otot-otot bronkus menjadi spasme
        dan zat antibodi tubuh muncul ( immunoglobulin E atau IgE ) dengan adanya
        alergi. IgE di muculkan pada reseptor sel mast dan akibat ikatan IgE dan
        antigen menyebabkan pengeluaran histamin dan zat mediator lainnya.
        Mediator tersebut akan memberikan gejala asthma.

       Respon astma terjadi dalam tiga tahap : pertama tahap immediate yang
        ditandai dengan bronkokontriksi ( 1-2 jam ); tahap delayed dimana
        brokokontriksi dapat berulang dalam 4-6 jam dan terus-menerus 2-5 jam lebih
        lama ; tahap late yang ditandai dengan peradangan dan hiperresponsif jalan
        nafas beberapa minggu atau bulan.

       Astma juga dapat terjadi faktor pencetusnya karena latihan, kecemasan, dan
        udara dingin.

       Selama serangan asthmatik, bronkiulus menjadi meradang dan peningkatan
        sekresi mukus. Hal ini menyebabkan lumen jalan nafas menjadi bengkak,
        kemudian meningkatkan resistensi jalan nafas dan dapat menimbulkan distres
        pernafasan

       Anak yang mengalami astma mudah untuk inhalasi dan sukar dalam ekshalasi
        karena edema pada jalan nafas.Dan ini menyebabkan hiperinflasi pada alveoli
        dan perubahan pertukaran gas.Jalan nafas menjadi obstruksi yang kemudian
        tidak adekuat ventilasi dan saturasi 02, sehingga terjadi penurunan p02 (
        hipoxia).Selama serangan astmati, CO2 terthan dengan meningkatnya


                                                                                 3
resistensi jalan nafas selama ekspirasi, dan menyebabkan acidosis respiratory
dan hypercapnea. Kemudian sistem pernafasan akan mengadakan kompensasi
dengan   meningkatkan     pernafasan   (tachypnea),   kompensasi     tersebut
menimbulkan hiperventilasi dan dapat menurunkan kadar CO2 dalam darah
(hypocapnea).




                                                                           4
       Alergen, Infeksi, Exercise ( Stimulus Imunologik dan Non Imunologik )




       Merangsang sel B untuk membentuk IgE dengan bantuan sel T helper



       IgE diikat oleh sel mastosit melalui reseptor FC yang ada di jalan napas



Apabila tubuh terpajan ulang dengan antigen yang sama, maka antigen tersebut akan
              diikat oleh IgE yang sudah ada pada permukaan mastosit



Akibat ikatan antigen-IgE, mastosit mengalami degranulasi dan melepaskan mediator
                                 radang ( histamin )



                Peningkatan permeabilitas kapiler ( edema bronkus )
                  Peningkatan produksi mukus ( sumbatan sekret )
   Kontraksi otot polos secara langsung atau melalui persarafan simpatis ( N.X )



                             Hiperresponsif jalan napas



                                       Astma



      Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif
       pola nafas berhubungan dengan bronkospasme, edema mukosa                    dan
       meningkatnya produksi sekret.
      Fatigue berhubungan dengan hypoxia meningkatnya usaha nafas.
      Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi dan distress pernafasan
      Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan meningkatnya
       pernafasan dan menurunnya intake cairan
      Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi kronik
      Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan                proses penyakit dan
       pengobatan




                                                                                     5
Komplikasi

      Mengancam pada gangguan keseimbangan asam basa dan gagal nafas
      Chronik persistent bronchitis
      Bronchiolitis
      Pneumonia
      Emphysema.


Etiologi

      Faktor ekstrinsik :reaksi antigen- antibodi; karena inhalasi alergen (debu,
       serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang).
      Faktor        intrinsik;    infeksi         :   para     influenza        virus,
       pneumonia,Mycoplasma..Kemudian dari fisik; cuaca dingin, perubahan
       temperatur. Iritan; kimia.Polusi udara ( CO, asap rokok, parfum ). Emosional;
       takut, cemas, dan tegang. Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor
       pencetus.


Manifestasi klinis

      Auskultasi :Wheezing, ronki kering musikal, ronki basah sedang.
      Dyspnea dengan lama ekspirasi; penggunaan otot-otot asesori pernafasan,
       cuping hidung, retraksi dada,dan stridor.
      Batuk kering ( tidak produktif ) karena sekret kental dan lumen jalan nafas
       sempit.
      Tachypnea, orthopnea.
      Diaphoresis
      Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernafasan.
      Fatigue.
      Tidak toleransi terhadap aktivitas; makan, bermain, berjalan, bahkan bicara.
      Kecemasan, labil dan perubahan tingkat kesadaran.
      Meningkatnya ukuran diameter anteroposterior (barrel chest) akibat ekshalasi
       yang sulit karena udem bronkus sehingga kalau diperkusi hipersonor.
      Serangan yang tiba-tiba atau berangsur.
      Bila serangan hebat : gelisah, berduduk, berkeringat, mungkin sianosis.
      X foto dada : atelektasis tersebar, “Hyperserated”




                                                                                      6
Pemeriksaan Diagnostik

      Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
      Foto rontgen
      Pemeriksaan fungsi paru; menurunnya tidal volume, kapasitas vital, eosinofil
       biasanya meningkat dalam darah dan sputum
      Pemeriksaan alergi
      Pulse oximetri
      Analisa gas darah.


Penatalaksanaan serangan asma akut :

      Oksigen nasal atau masker dan terapi cairan parenteral.
      Adrenalin 0,1- 0,2 ml larutan : 1 : 1000, subkutan. Bila perlu dapat diulang
       setiap 20 menit sampai 3 kali.
      Dilanjutkan atau disertai salah satu obat tersebut di bawah ini ( per oral ) :
       a.   Golongan Beta 2- agonist untuk mengurangi bronkospasme :
                 Efedrin           : 0,5 – 1 mg/kg/dosis, 3 kali/ 24 jam
                 Salbutamol       : 0,1-0,15 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
                 Terbutalin        : 0,075 mg/kg/dosis, 3-4 kali/ 24 jam
            Efeknya tachycardia, palpitasi, pusing, kepala, mual, disritmia, tremor,
            hipertensi dan insomnia, . Intervensi keperawatan jelaskan pada orang
            tua tentang efek samping obat dan monitor efek samping obat.


       b.   Golongan        Bronkodilator,   untuk    dilatasi     bronkus,        mengurangi
            bronkospasme dan meningkatkan bersihan jalan nafas.
                 Aminofilin : 4 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
                 Teofilin     : 3 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
             Pemberian melalui intravena jangan lebih dari 25 mg per menit.Efek
            samping          tachycardia,       dysrhytmia,           palpitasi,         iritasi
            gastrointistinal,rangsangan      sistem   saraf      pusat;gejala      toxic;sering
            muntah,haus, demam ringan, palpitasi, tinnitis, dan kejang. Intervensi
            keperawatan; atur aliran infus secara ketat, gunakan alat infus kusus
            misalnya infus pump.


       c.   Golongan steroid, untuk mengurangi pembengkakan mukosa bronkus.
            Prednison       : 0,5 – 2 mg/kg/hari, untuk 3 hari (pada serangan hebat).




                                                                                              7
ASUHAN KEPERAWATAN


1     PENGKAJIAN

1.1    Identitas
       Pada asma episodik yang jarang, biasanya terdapat pada anak umur 3-8
tahun.Biasanya oleh infeksi virus saluran pernapasan bagian atas. Pada asma
episodik yang sering terjadi, biasanya pada umur sebelum 3 tahun, dan berhubungan
dengan infeksi saluran napas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa
infeksi yang jelas.Biasanya orang tua menghubungkan dengan perubahan cuaca,
adanya alergen, aktivitas fisik dan stres.Pada asma tipe ini frekwensi serangan paling
sering pada umur 8-13 tahun. Asma kronik atau persisten terjadi 75% pada umur
sebeluim 3 tahun.Pada umur 5-6 tahun akan lebih jelas terjadi obstruksi saluran
pernapasan yang persisten dan hampir terdapat mengi setiap hari.Untuk jenis kelamin
tidak ada perbedaan yang jelas antara anak perempuan dan laki-laki.

1.2    Keluhan utama
Batuk-batuk dan sesak napas.

1.3    Riwayat penyakit sekarang
Batuk, bersin, pilek, suara mengi dan sesak napas.

1.4    Riwayat penyakit terdahulu
Anak pernah menderita penyakit yang sama pada usia sebelumnya.

1.5    Riwayat penyakit keluarga
Penyakit ini ada hubungan dengan faktor genetik dari ayah atau ibu, disamping
faktor yang lain.

1.6    Riwayat kesehatan lingkungan
Bayi dan anak kecil sering berhubungan dengan isi dari debu rumah, misalnya
tungau, serpih atau buluh binatang, spora jamur yang terdapat di rumah, bahan iritan:
minyak wangi, obat semprot nyamuk dan asap rokok dari orang dewasa.Perubahan
suhu udara, angin dan kelembaban udara dapat dihubungkan dengan percepatan
terjadinya serangan asma.




                                                                                    8
1.7     Riwayat tumbuh kembang

1.7.1     Tahap pertumbuhan
        Pada anak umur lima tahun, perkiraan berat badan dalam kilogram mengikuti
patokan umur 1-6 tahun yaitu umur ( tahun ) x 2 + 8. Tapi ada rata-rata BB pada usia
3 tahun : 14,6 Kg, pada usia 4 tahun 16,7 kg dan 5 tahun yaitu 18,7 kg. Untuk anak
usia pra sekolah rata – rata pertambahan berat badan 2,3 kg/tahun.Sedangkan untuk
perkiraan tinggi badan dalam senti meter menggunakan patokan umur 2- 12 tahun
yaitu umur ( tahun ) x 6 + 77.Tapi ada rata-rata TB pada usia pra sekolah yaitu 3
tahun 95 cm, 4 tahun 103 cm, dan 5 tahun 110 cm. Rata-rata pertambahan TB pada
usia ini yaitu 6 – 7,5 cm/tahun.Pada anak usia 4-5 tahun fisik cenderung bertambah
tinggi.


1.7.2     Tahap perkembangan.
       Perkembangan psikososial ( Eric Ercson ) : Inisiatif vs rasa bersalah.Anak
        punya insiatif mencari pengalaman baru dan jika anak dimarahi atau diomeli
        maka anak merasa bersalah dan menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu
        percobaan yang menantang ketrampilan motorik dan bahasanya.
       Perkembangan psikosexsual ( Sigmund Freud ) : Berada pada fase oedipal/ falik
        ( 3-5 tahun ).Biasanya senang bermain dengan anak berjenis kelamin
        berbeda.Oedipus komplek ( laki-laki lebih dekat dengan ibunya ) dan Elektra
        komplek ( perempuan lebih dekat ke ayahnya ).
       Perkembangan kognitif ( Piaget ) : Berada pada tahap preoperasional yaitu fase
        preconseptual ( 2- 4 tahun ) dan fase pemikiran intuitive ( 4- 7 tahun ). Pada
        tahap ini kanan-kiri belum sempurna, konsep sebab akibat dan konsep waktu
        belum benar dan magical thinking.
       Perkembangan moral berada pada prekonvensional yaitu mulai melakukan
        kebiasaan prososial : sharing, menolong, melindungi, memberi sesuatu, mencari
        teman dan mulai bisa menjelaskan peraturan- peraturan yang dianut oleh
        keluarga.
       Perkembangan spiritual yaitu mulai mencontoh kegiatan keagamaan dari ortu
        atau guru dan belajar yang benar – salah untuk menghindari hukuman.
       Perkembangan body image yaitu mengenal kata cantik, jelek,pendek-
        tinggi,baik-nakal, bermain sesuai peran jenis kelamin, membandingkan ukuran
        tubuhnya dengan kelompoknya.
       Perkembangan sosial yaitu berada pada fase “ Individuation – Separation “.
        Dimana sudah bisa mengatasi kecemasannya terutama pada orang yang tak di



                                                                                    9
      kenal dan sudah bisa mentoleransi perpisahan dari orang tua walaupun dengan
      sedikit atau tidak protes.
     Perkembangan bahasa yaitu vokabularynya meningkat lebih dari 2100 kata pada
      akhir umur 5 tahun. Mulai bisa merangkai 3- 4 kata menjadi kalimat. Sudah bisa
      menamai objek yang familiar seperti binatang, bagian tubuh, dan nama-nama
      temannya. Dapat menerima atau memberikan perintah sederhana.
     Tingkah laku personal sosial yaitu dapat memverbalisasikan permintaannya,
      lebih banyak bergaul, mulai menerima bahwa orang lain mempunyai pemikiran
      juga, dan mulai menyadari bahwa dia mempunyai lingkungan luar.
     Bermain jenis assosiative play yaitu bermain dengan orang lain yang
      mempunyai permainan yang mirip.Berkaitan dengan pertumbuhan fisik dan
      kemampuan motorik halus yaitu melompat, berlari, memanjat,dan bersepeda
      dengan roda tiga.

1.8   Riwayat imunisasi
      Anak usia pre sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkap antara lain :
BCG, POLIO I,II, III; DPT I, II, III; dan campak.

1.9   Riwayat nutrisi
      Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan kalori untuk
umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahan berat badan ideal
menggunakan rumus 8 + 2n.
                BBSekarang
Status Gizi                100%
                 BBideal
Klasifikasinya sebagai berikut :
            Gizi buruk kurang dari 60%
            Gizi kurang 60 % - <80 %
            Gizi baik 80 % - 110 %
            Obesitas lebih dari 120 %



1.10 Dampak Hospitalisasi
Sumber stressor :
      1.    Perpisahan
            a. Protes : pergi, menendang, menangis
            b. Putus asa : tidak aktif, menarik diri, depresi, regresi
            c. Menerima : tertarik dengan lingkungan, interaksi




                                                                                 10
      2.     Kehilangan   kontrol   :     ketergantungan   fisik,   perubahan   rutinitas,
             ketergantungan, ini akan menyebabkan anak malu, bersalah dan takut.
      3.     Perlukaan tubuh : konkrit tentang penyebab sakit.
      4.     Lingkungan baru, memulai sosialisasi lingkungan.



1.11 Pemeriksaan Fisik / Pengkajian Persistem

1.11.1 Sistem Pernapasan / Respirasi
      Sesak, batuk kering (tidak produktif), tachypnea, orthopnea, barrel chest,
penggunaan otot aksesori pernapasan, Peningkatan PCO2 dan penurunan O2,sianosis,
perkusi hipersonor, pada auskultasi terdengar wheezing, ronchi basah sedang, ronchi
kering musikal.

1.11.2 Sistem Cardiovaskuler
      Diaporesis, tachicardia, dan kelelahan.

1.11.3 Sistem Persyarafan / neurologi
      Pada serangan yang berat dapat terjadi gangguan kesadaran : gelisah, rewel,
cengeng → apatis → sopor → coma.

1.11.4 Sistem perkemihan
      Produksi urin dapat menurun jika intake minum yang kurang akibat sesak nafas.

1.11.5 Sistem Pencernaan / Gastrointestinal
      Terdapat nyeri tekan pada abdomen, tidak toleransi terhadap makan dan minum,
mukosa mulut kering.

1.11.6 Sistem integumen
      Berkeringat akibat usaha pernapasan klien terhadap sesak nafas.


2    DIAGNOSA KEPERAWATAN, TUJUAN, KRITERIA HASIL, RENCANA
     INTERVENSI
1.    Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif
      pola    nafas   berhubungan       dengan   bronkospasme,      udem   mukosal   dan
      meningkatnya sekret.
      Tujuan          :   Anak menunjukkan pertukaran gas yang normal, bersihan
                          jalan nafas yang efektif dan pola nafas dalam batas normal.
      Kriteria hasil :    PO2 dan CO2 dalam batas nilai normal, tidak sesak nafas,
                          batuk produktif, cianosis tdak ada, tidak ada tachypnea,ronki
                          dan wheesing tidak ada




                                                                                       11
     Intervensi :
        Pertahankan kepatenan jalan nafas; pertahankan support ventilasi bila
         diperlukan ( oksigen 2 ml dengan kanule ).
        Kaji fungsi pernafasan; auskultasi bunyi nafas, kaji kulit setiap 15 menit
         sampai 4 jam.
        Berikan oksigen sesuai program dan pantau pulse oximetry.
        Kaji kenyamanan posisi tidur anak.
        Monitor efek samping pengobatan; monitor serum darah;theophyline dan
         catat kemudian laporkan dokter. Normalnya 10-20 ug/ml pada semua usia.
        Berikan cairan yang adekuat per oral atau peranteral
        Pemberian terapi pernafasan; nebulizer, fisioterapi dada, ajarkan batuk dan
         nafas dalam efektif setelah pengobatan dan pengisapan sekret ( suction ).
        Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan pada anak untuk menurunkan
         kecemasan.
        Berikan terapi bermai sesuai usia.
2.   Fatigue berhubungan dengan hipoksia dan meningkatnya usaha nafas.
     Tujuan            :   Anak tidak tampak fatigue.
     Kriteria          :   Tidak iritabel, dapat beradaptasi dan aktivitas sesuai dengan
                           kondisi.
     Intervensi        :
        Kaji tanda dan gejala hypoxia; kegelisahann fatigue, iritabel, tachycardia,
         tachypnea.
        Hindari seringnya melakukan intervensi yang tidak penting yang dapat
         membuat anak lelah, berikan istirahat yang cukup.
        Intrusikan pada orang tua untuk tetap berada didekat anak.
        Berikan kenyamanan fisik; support dengan bantal dan pengaturan posisi.
        Berikan oksigen humidifikasi sesuai program.
        Berikan nebulizer; kemudian pantau bunyi nafas, dan usaha nafas setelah
         terapi.
        Setelah krisis, ajarkan untuk aktivitas yang sesuai dengan tingkat
         pertumbuhan       dan   perkembangan     untuk   meningkatkan     ventilasi,dan
         memperluas perkembangan psikososial.
3.   Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi dan distres pernafasan.
     Tujuan        :   Kecemasan menurun
     Kriteria      :   Anak tenang dan dapat mengekspresikan perasaannya, orang tua
                       merasa tenang dan berpartisipasi dalam perawatan anak.



                                                                                     12
        Ajarkan teknik relaksasi; latihan nafas, melibatkan penggunaan bibir dan
         perut, dan ajarkan untuk berimajinasi.
        Pertahankan lingkungan yang tenang ; temani anak, dan berikan support.
        Ajarkan untuk ekspresi perasaan secara verbal
        Berikan terapi bermain sesuai dengan kondisi.
        Informasikan tentang perawatan, pengobatan dan kondisi anak.
        Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan.
4.   Resiko     kurangnya volume cairan berhubungan             dengan meningkatnya
     pernafasan dan menurunnya intake cairan.
     Goal        :    Status hidrasi adekuat
     Kriteria    :    Turgor kulit elastis, membran mukosa lembab, intake cairan
                      sesuai   dengan usia dan berat badan, output urine > 2 ml/ kg per
                      jam.
        Monitor intake dan output, mukosa membran, turgor kulit, pengeluaran urin,
         ukur grapitasi urin atau berat jenis urin ( nilai 1.003-1030 ).
        Monitor elektrolit
        Kaji warna sputum, konsistensi dan jumlah
        Pertahankan terapi parenteral bila indikasi, dan monitor kelebihan caiaran (
         overload )
        Berikan intake cairan per oral bila toleran, hati-hati minuman yang dapat
         meningkatkan bronkospasme ( air dingin ).
        Setelah fase akut, ajarkan anak dan orang tua untuk minum 3-8 gelas (750-
         2000 ml), tergantung usia dan berat badan.
5.   Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi kronik.
     Goal        :    Orang tua mendemonstrasikan koping yang tepat
     Kriteria    :    Mengekspresikan perasaan dan perhatian serta memberikan
                      aktivitas yang sesuai usia atau kondisi dan perkembangan
                      psikososial pada anak.
        Berikan kesempatan pada orang tua untuk ekspresi perasaan.
        Kaji mekanisme koping sebelumnya pada waktu stress
        Jelaskan prosedur dan pengobatan yang diberikan
        Informasikan kepada orang tua tentang kondisi anak
        Identifikasi sumber-sumber psikososial keluarga dan finansial
6.   Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan pengobatan.
     Goal        :    Orang tua secara verbal memahami proses penyakit dan
                      pengobatan dan mengikuti regimen terapi yang diberikan.



                                                                                    13
    Kriteria     :     Berpartispasi dalam memberikan perawatan pada anak sesuai
                       dengan program medik atau perawatan, misalnya memberikan
                       makan dan minum yang cukup, memberi minum obat oral pada
                       anak sesuai program.
        Kaji pengetahuan anak dan orang tua tentang penyakit, pengobatan dan
         intervensi.
        Bantu untuk mengidentifikasi faktor pencetus.
        Jelaskan tentang emosi dan stres yang dapat menjadi faktor pencetus.
        Jelaskan tentang pentingnya pengobatan; dosis, efek samping, waktu
         pemberian dan pemeriksaan darah.
        Informasikan tanda dan gejala yang harus dilaporkan dan kontrol ulang.
        Informasikan pentingnya program aktivitas dan latihan nafas.
        Jelaskan tentang pentingnya terapi bermain sesuai usia.


Perencanaan Pemulangan
   Jelaskan proses penyakit dengan menggunakan gambar-gambar atau phantom.
   Fokuskan pada perawatan mandiri di rumah.
   Hindari faktor pemicu; kebersihan lantai rumah, debu-debu, karpet, bulu
        binatang dan lainnya.
   Jelaskan tanda-tanda bahaya akan muncul.
   Ajarkan penggunaan nebulizer.
   Keluarga perlu memahami tentang pengobatan; nama obat, dosis, efek
        samping, waktu pemberian.
   Ajarkan strategi kontrol kecemasan, takut dan stress.
   Jelaskan pentingnya istirahat dan latihan, termasuk latihan nafas.
   Jelaskan pentingnya intake cairan dan nutrisi yang adekuat.




                                                                                  14
                               DAFTAR PUSTAKA


Panitia Media Farmasi dan Terapi. (1994). Pedoman Diagnosis dan Terapi LAB/UPF
        Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya

Soetjningsih. (1998). Tumbuh kembang anak . Cetakan kedua. EGC. Jakarta

Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. (1985). Ilmu Kesehatan Anak. Percetakan
        Infomedika Jakarta.

Suriadi dan Yuliana R.(2001) Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi 1 Penerbit CV
        Sagung Seto Jakarta.




                                                                             15

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:284
posted:8/23/2012
language:
pages:15