Pemanfaatan Ekstrak Jahe MErah sebagai Deodoran

Document Sample
Pemanfaatan Ekstrak Jahe MErah sebagai Deodoran Powered By Docstoc
					                                   Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA,
                                                Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012


 PEMANFAATAN EKSTRAK RIMPANG JAHE MERAH (ZINGIBER OFFICINALE LINN.
    VAR. RUBRUM) UNTUK BAHAN PEMBUATAN DEODORAN HERBAL ALAMI

            Ika Nur Fitriani, Rizki Nor Amelia, dan Anggi Ristiyana Puspita Sari
           Mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta

                                                 Abstrak

                 Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui
       kondisi optimal yang tepat untuk pembuatan deodoran yang berbahan ekstrak rimpang
       jahe merah dan mengetahui efektivitas dari deodoran stick ekstrak jahe merah tersebut
       apabila dilihat dari uji organoleptik dan uji bakteri.
                 Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi empat tahapan, yaitu
       pembuatan ekstrak rimpang jahe merah (Zingiber officinale Linn var Rubrum.), pembuatan
       deodoran stick, pengujian bakteri di laboratorium, dan uji organoleptik. Hasil penelitian ini
       adalah ekstrak rimpang jahe merah (Zingiber officinale Linn var Rubrum.) yang mempunyai
       kadar oleoresin 2,85345 % berpotensi digunakan sebagai anti bakteri Staphylococcus aureus.
       Proses pembuatan deodoran stick dari ekstrak rimpang jahe merah (Zingiber officinale Linn
       var Rubrum.) memiliki dua tahap, yaitu pembuatan ekstrak rimpang jahe merah (Zingiber
       officinale Linn var Rubrum.) dengan metode maserasi dan mencampurkan ekstrak rimpang
       jahe merah (Zingiber officinale Linn var Rubrum.) dengan natrium stearat dan propilen glikol
       hingga berbentuk padat.
                 Uji organoleptik menyatakan warna dan tampilan, aroma, dan sensasi di kulit baik.
       Uji daya hambat ekstak jahe merah (Zingiber) terhadap pertumbuhan bakteri Sthapylococcus
       aureus dilakukan dengan media Mueller-Hinton Apray Agar. Analisis sidik ragam Anova,
       aktifitas antibakteri pada bakteri S. Aureus menunjukkan bahwa . konsentrasi tidak
       menunjukkan pengaruh nyata. Hal ini menunjukkan bahwa produk deodoran jahe memiliki
       aktivitas antibakteri yang sama terhadap pertumbuhan S. Aureus Hasil pengujian terhadap
       masing-masing konsentrasi 10%, 20%, dan 30% diperoleh daya hambat berturut-turut
       11,33mm, 11,33mm, dan 11 mm. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa deodoran efektif
       dan optimum pada konsentrasi 10%.

       Kata kunci : Deodorant stick, Ekstrak rimpang jahe merah,            Staphylococcus aureus,


PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
        Bromhidrosis atau yang lebih dikenal dengan sebutan bau badan ternyata bukan merupakan
   masalah sepele bagi kebanyakan orang. Banyak orang beranggapan bahwa bau badan disebabkan
   karena adanya keringat yang berlebih. Namun faktanya tidak demikan. Sebenarnya keringat hanya
   berbau lemak tetapi karena setiap bakteri pada rambut ketiak berperan dalam proses pembusukan,
   maka hal inilah yang menimbulkan bau tidak sedap. Seiringan dengan majunya ilmu pengetahuan
   dan teknologi, maka diciptakanlah deodoran yaitu semacam bahan pencegah bau badan yang
   mengandung wangi-wangian dan antibakteri. Selain itu, deodoran juga mengandung suatu zat aktif
   yang disebut antiperspirant. Zat ini berfungsi untuk menyerap keringat yang berlebihan, sehingga
   badan akan tetap kering dan nyaman. Justru yang menjadi permasalahannya adalah antiperspirant
   diindikasikan sebagai salah satu pencetus kanker, terutama kanker payudara. Antiperspirant
   menyebabkan pembuangan racun tubuh yang selama ini keluar bersama keringat menjadi
   terhambat. Racun tersebut kemudian terakumulasi pada kelenjar getah bening dan lama-kelamaan
   dapat menimbulkan kanker. Indikasi ini diperkuat oleh hasil penelitian yang diumumkan Dr.
   Philippa Darbre, Februari 2004. Senyawa kimia sintetik paraben yang biasa digunakan dalam
   kosmetik atau deodoran agar tahan lama, ditemukan dalam 18 dari 20 kasus tumor payudara
   (Sudirman dkk, 2010:4). Munculnya indikasi deodoran yang dapat menimbulkan kanker ini
   menyebabkan banyak orang merasa takut dan khawatir.




                                                  K-113
                                      Ika Nur Fitriani, Rizki Nor Amelia, dan Anggi Ristiyana Puspita Sari
                                                                   Pemanfaatan Ekstrak Rimpang Jahe …


        Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang sangat melimpah. Hampir semua
   jenis flora yang ada di dunia dapat ditemukan disini, salah satunya adalah tanaman jahe. Tanaman
   jahe adalah salah satu dari berbagai jenis rempah-rempah yang sangatlah penting khasiatnya.
   Tanaman jahe sendiri telah lama dikenal dan tumbuh baik di Indonesia. Jahe yang nama ilmiahnya
   Zingiber officinale sudah tak asing bagi masyarakat, baik sebagai bumbu dapur maupun obat-
   obatan. Begitu akrabnya sehingga setiap daerah di Indonesia mempunyai sebutan sendiri-sendiri
   bagi jahe. Nama-nama daerah bagi jahe tersebut antara lain halia (Aceh), bahing (Batak karo),
   sipadeh atau sipodeh (Sumatera Barat), Jahi (Lampung), jae (Jawa), Jahe (sunda), jhai (Madura),
   pese (Bugis), dan lali (Irian) (Sutrisno Koswara: 2010).
        Sebenarnya tanaman jahe merupakan tanaman kuno yang berasal dari daerah sekitar Asia dan
   India bagian selatan. Manfaat rimpang (rhizom) jahe sebagai bahan obat-obatan sudah lama dikenal
   di negara Cina berdasarkan prasasti berbahasa Sansekerta (Sumeru Ashari, 1995:441). Berdasarkan
   ukuran, bentuk dan warna rimpang, umumnya dikenal tiga varietas jahe, yaitu : jahe gajah, jahe
   emprit, dan jahe merah. Dari ketiga jenis jahe tersebut jahe merah merupakan bahan yang paling
   cocok digunakan untuk bahan dasar farmasi, ramuan, dan obat-obatan dikarenakan jahe jenis ini
   memiliki kandungan minyak atsiri tinggi dan rasa yang paling pedas. Jahe merah juga mengandung
   antiflamasi dan antibakteri sehingga efektif dalam mengusir bau badan (Abioby, 2010). Oleh
   karena itu deodoran jahe merah tidak mengandung bahan kimia yang dapat membahayakan
   kesehatan tubuh.

B. Perumusan Masalah
   Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut, maka dapat diajukan permasalahan sebagai
   berikut :
    1. Bagaimana kondisi optimal (perbandingan kadar antara ekstrak rimpang jahe merah dengan
        natrium stearat dan propilen glikol) dalam pembuatan deodoran ekstrak rimpang jahe merah?
    2. Bagaimana efektivitas deodoran ekstrak rimpang jahe merah tersebut apabila dilihat dari segi
        hilangnya bau setiap satu jamnya dan adanya iritasi pada kulit?
    3. Bagaimana efektivitas deodoran ekstrak rimpang jahe merah dilihat dari daya hambat terhadap
        bakteri Staphylococcus aureus ?

C. Tujuan Program
   Penelitian ini bertujuan untuk :
    1. Mengetahui kondisi optimal (perbandingan kadar antara ekstrak rimpang jahe merah dengan
       natrium stearat dan propilen glikol) yang tepat untuk pembuatan deodoran yang berbahan
       ekstrak rimpang jahe merah.
    2. Mengetahui efektivitas dari deodoran ekstrak jahe merah tersebut apabila dilihat dari segi
       hilangnya bau setiap satu jamnya dan adanya iritasi pada kulit.
    3. Mengetahui efektivitas deodoran ekstrak rimpang jahe merah dilihat dari daya hambat
       terhadap bakteri

PEMBAHASAN
        Dalam mempersiapkan ekstrak rimpang jahe merah, tahap pertama yang dilakukan adalah
membersihkan jahe merah dari kotoran dengan cara mencuci bersih, tetapi kulit rimpang jahe merah
tidak dikelupas karena kandungan jahe merah juga terdapat pada kulitnya. Agar luas permukaan
rimpang jahe merah lebih besar, peneliti mengiris tipis rimpang jahe merah sehingga laju reaksi
berlangsung lebih cepat selain itu dapat mempercepat terpisahnya minyak atsiri saat dilakukan
ekstraksi. Proses ini kemudian dilanjutkan dengan melakukan pengeringan menggunakan oven pada
suhu 300C selama 1 jam pada kondisi vakum agar rimpang jahe merah tidak lagi mengikat air.
        Ekstrak rimpang jahe merah diperoleh melalui metode maserasi. Tahap yang dilakukan adalah
memblender irisan rimpang jahe merah yang telah dikeringkan dan direndam dengan pelarut. Pelarut
yang digunakan yaitu alkohol 96%. Menurut Singh (dalam Sarah, 2011) prinsip metode maserasi yaitu
terjadinya peristiwa leaching pada komponen aktif dalam bahan yang memiliki sifat kelarutan yang
sama dengan pelarut yang digunakan. Oleoresin merupakan senyawa polar sehingga pelarut yang



                                              K-114
                                 Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA,
                                              Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012


digunakan yaitu etanol 96% yang juga bersifat polar. Etanol yang digunakan 96% bukan 70% karena
etanol ini lebih murni, apabila etanol 70% maka masih terdapat 30% pengotor yang lain seperti
metanol, air, dan masih banyak impurities lainnya. Proses memblender rimpang jahe merah
ditambahkan dengan alkohol 96% dengan perbandingan rimpang jahe merah:alkohol 96% adalah 1:4.
Proses ini kemudian dilanjutkan dengan memerasnya dan diperoleh ekstrak rimpang jahe merah.
Dengan menggunakan ekstrak rimpang jahe merah tesebut, tahap berikutnya adalah membuat formula
deodoran dengan tiga variasi konsentrasi. Berikut ini adalah variasi formula deodoran dengan
perbandingan kadar ekstrak rimpang jahe merah:natrium stearat:propilen glikol.
sampel I = 2,5 : 7,5 :15
sampel II = 5 : 5 :15
sampel III= 7,5 : 2,5 :15
Oleh karena natrium stearat tidak dijumpai di pasaran, maka peneliti membuatnya dengan cara reaksi
penetralan, yaitu mencampurkan asam stearat dengan NaOH 1M. Natrium stearat ini berfungsi untuk
memadatkan deodoran. Hasil yang diperoleh dari proses pencampuran bahan untuk memperoleh
deodoran padat ternyata kurang memuaskan. Deodoran padat yang dihasilkan terlalu kenyal dan
kurang padat, selain itu warnanya juga kurang menarik begitu juga dengan aroma yang dihasilkan. Hal
ini disebabkan ekstrak rimpang jahe merah yang kurang murni karena ekstrak hasil metode maserasi
masih terdapat endapan dan zat aktif yang belum terserap sepenuhnya. Pada dasarnya masih terdapat
berbagai proses lanjutan agar diperoleh ekstrak murni setelah metode maserasi, seperti metode
kromatografi, tetapi metode kromatografi ini kurang efektif untuk mendapatkan minyak atsiri dari
rimpang jahe merah karena alat kromatografi dapat rusak apabila dimasuki serbuk jahe. Hal ini karena
zat yang terkandung dalam ekstrak rimpang jahe merah mudah rusak dalam alat kromatografi.
Berbagai literatur menyebutkan ternyata pengambilan ekstrak jahe merah tidak menggunakan metode
maserasi yang dilanjutkan kromatografi, tetapi metode soxhlet yang paling efektif. Metode tersebut
lebih sesuai dibandingkan dengan metode lain dan dapat diperoleh ekstrak yang murni. Karena alasan
ini, peneliti kemudian memilih mendapatkan ekstrak rimpang jahe merah murni dengan metode
soxhlet.
         Tahap pertama yang dilakukan dalam metode soxhlet adalah membungkus rimpang jahe
merah yang telah dikeringkan dan diblender dengan menggunakan kertas saring kemudian
memasukkannya ke dalam alat soxhlet. Dalam membungkus rimpang jahe merah, peneliti
menambahkan kapas pada kertas saring agar sampel tidak keluar selama proses soxhletasi
berlangsung. Pemblenderan rimpang jahe merah kali ini tidak ditambahkan alkohol 96% karena tujuan
proses memblender ini hanya agar luas permukaan rimpang jahe merah lebih besar sehingga proses
ekstraksi dengan metode soxhlet berlangsunng lebih cepat. Pelarut yang digunakan sama seperti pada
metode maserasi yaitu alkohol 96% karena alkohol 96% memiliki sifat yang sama dengan oleoresin
yaitu bersifat polar. Selain alasan tersebut, peneliti memilih alkohol 96% sebagai pelarut karena
bersifat volatil (mudah menguap). Tahap berikutnya adalah menuangkan alkohol 96% dengan
perbandingan alkohol 96% dan rimpang jahe merah adalah 4:1 ke dalam alat soxhlet. Kemudian
memasukkan batu didih ke dalam labu alas bulat sebelum reaksi berlangsung. Hal ini dilakukan untuk
mencegah terjadinya letupan-letupan saat ekstraksi berlangsung juga untuk meratakan pemanasan.
Ekstraksi dilakukan pada kisaran suhu 40°C-50°C sebanyak 12 kali sirkulasi. Hal ini bertujuan agar
semakin banyak minyak yang terekstrak dari sampel. Metode soxhlet ini dilanjutkan dengan
mengevaporasi residu yang diperoleh untuk memisahkan minyak atsiri rimpang jahe merah dengan
pelarut. Pemisahan ekstrak rimpang jahe merah dengan pelarut menggunakan rotary vacum
evaporator selama 4 jam. Hal ini dilakukan agar minyak yang diperoleh benar-benar murni. Proses
pengambilan ekstrak rimpang jahe merah dengan metode soxhlet tersebut diperoleh hasil untuk setiap
50 gram jahe merah sebanyak 15 mL minyak atsiri. Uji oleoresin ekstrak rimpang jahe merah
dilakukan di Laboratorium Chemix untuk membuktikan bahwa ekstrak rimpang jahe merah yang
diperoleh sudah sesuai dengan literatur. Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak rimpang jahe
merah melalui metode sohxlet ini terdapat 2,8545% oleoresin. Hal ini sesuai teori yaitu kadar
oleoresin jahe merah berkisar antara 2,5%-3%.
         Untuk selanjutnya, pembuatan deodoran padat menggunakan ekstraksi rimpang jahe merah
hasil proses soxhletasi. Variasi formula yang digunakan sama dengan pembuatan deodoran padat



                                              K-115
                                       Ika Nur Fitriani, Rizki Nor Amelia, dan Anggi Ristiyana Puspita Sari
                                                                    Pemanfaatan Ekstrak Rimpang Jahe …


sebelumnya. Hasil deodoran padat yang kedua ini memang masih kurang memuaskan karena aroma
yang dihasilkan juga kurang sedap dan teksturnya kurang padat, meskipun begitu terdapat perbedaan
dengan deodoran padat yang sebelumnya yaitu warna yang dihasilkan tampak lebih baik. Deodoran
padat yang dihasilkan baik menggunakan ekstrak rimpang jahe merah hasil metode maserasi maupun
metode sohxlet ternyata tidak tahan lama. Deodoran ini tidak dapat memadat hingga jangka waktu
sekitar tiga minggu, semakin lama deodoran ini tak lagi memadat dan cenderung mencair. Deodoran
tersebut kemudian diuji dengan menggunakan uji organoleptik.
         Penelitian pendahuluan dari pengambilan ekstrak jahe dengan metode maserasi diperoleh data
sebagai berikut :

   Konsentrasi         20%               40%              60%              80%                 100%
   ekstrak jahe
   Zona hambat         7mm               7mm              6mm              5mm                 7mm

        Data tersebut menunjukkan konsentrasi optimum pada ≤40%, semakin tinggi konsentrasi daya
hambat menjadi semakin menurun karena bakteri menjadi resisten sehingga zona hambat menurun.
Hal ini membuat peneliti menguji konsentrasi pada 10%, 20%, dan 30% pada penelitian selanjutnya.
Metode maserasi mempunyai beberapa kekurangan diantaranya hasil ekstrak yang didapat belum
murni dan seharusnya masih ada tahap lanjutan sehingga peneliti mengubah metode pengambilan
ekstrak jahe dengan metode soxhletasi. Ekstrak yang didapat pada metode soxhletasi lebih murni
daripada maserasi.
Hasil uji kepekaan difusi terhadap Staphylococcus aureus.

      Nomor koloni                                Diameter zona hambat
        bakteri              A             B                C               D                 E
          1                  0             11               11              11                11
          2                  0             12               12              11                12
          3                  0             11               11              11                12
                                 Tabel 1. Hasil penelitian uji bakteri

        Diameter zona hambat yang terbentuk dari percobaan ditunjukkan dalam satuan milimeter.
Zona hambat yang terbentuk menunjukkan adanya efek antimikroba dari deodoran ekstrak rimpang
jahe merah dengan berbagai variasi konsentrasi. Tabel 3 diatas menunjukkan perbedaan zona hambat
pada setiap antibiotik yang terbentuk di kertas cakram. Apabila dirata-rata, maka diperoleh rata-rata
zona hambat seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2.

            No           Konsentrasi deodoran             Rata-rata zona hambat (mm)
             1                     0%                                   0
             2                    10%                                 11,33
             3                    20%                                 11,33
             4                    30%                                  11
             5                   100%                                 11,67
                         Tabel 2. Rata-rata diameter zona hambat antibiotik




                                               K-116
                                             Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA,
                                                          Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012




                                      15




                   hambat (mm)
                   rata-rata zona
                                      10

                                       5

                                       0
                                             A        B        C         D        E
                                                           Konsentrasi
                                                              (%)
           Grafik 1. Hubungan zona hambat dengan konsentrasi produk melalui soxhletasi

         Uji statistik dari data penelitian yang diperoleh berupa uji Anove One Way. Karena terdapat
variabel numerik yang berdistribusi normal dan terdapat lebih dari dua kelompok, maka digunakan uji
Anova One Way untuk mengukur perbandingan rata-rata antara konsentrasi produk.
         Signifikansi dari uji homogenitas variansi untuk menilai ada kelompok yang memiliki
perbedaan varian atau tidak. Didapatkan sig 0,6300 (p>0,05), maka didapat bahwa varian data adalah
sama sehingga dapat langsung dilakukan penilaian uji Anova atau data tidak perlu ditransformasi.
Pada uji Anova didapatkan nilai p=0,00 yang artinya tidak terdapat perbedaan pada tiap kelompok
konsentrasi produk. Karena varians data sama maka uji berikutnya adalah valid. Analisis sidik ragam
Anova, aktifitas antibakteri pada bakteri Staphylococcus Aureus menunjukkan bahwa perlakuan
konsentrasi tidak menunjukkan pengaruh nyata. Hal ini menunjukkan bahwa produk deodoran jahe
memiliki aktivitas antibakteri yang sama terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus.
         Perlakuan macam konsentrasi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (F hitung < F tabel:
α= 0,05). Konsentrasi 10% dan 20% memiliki zona hambat yang sama yaitu 11, 33 mm sedangkan
pada konsentrasi 30% zona hambat 11,00 mm. Pengujian bakteri pada konsentrasi yang semakin
tinggi justru mempersempit zona hambat. Hal ini berarti semakin tinggi konsentrasi akan menjadi
resisten terhadap bakteri Staphylococcus aureus yang terdapat di kulit.

                                                     ANOVA
VAR00001
                                    Sum of Squares        df       Mean Square          F       Sig.
  Between Groups                         ,222             2           ,111            ,500      ,630
   Within Groups                        1,333             6           ,222
       Total                            1,556             8

Hasil dari uji bakteri ini didapatkan bahwa konsentrasi formula deodoran jahe optimum pada 10% dan
20%.
        Uji organoleptik dilakukan untuk mengetahui tanggapan masyarakat terhadap produk
deodoran ini. Dalam melakukan uji organoleptik, peneliti menyebar angket. Kondisi optimal
diperoleh melalui parameter warna dan tampilan, bau, kelengketan, dan iritasi terhadap kulit.
Parameter hilangnya bau tidak dapat digunakan sebagai tingkat keefektifan karena bau sudah hilang
dalam jangka waktu beberapa menit. Deodoran ini juga dapat digunakan sebagai obat gatal karena
pernah diujicobakan kemudian dapat menghilangkan gatal. Dalam angket yang dibagikan kepada
responden, responden diminta untuk mengisi skor pada parameter sesuai dengan pendapat mereka.
Nilai A berarti sangat baik, B berarti baik, C berarti cukup, D berarti kurang, dan E berarti sangat
kurang. Skor untuk masing-masing skor tersebut secara berturut-turut adalah lima, empat, tiga, dua,
dan satu. Dengan begitu, peneliti dapat mengolah datanya menggunakan uji hedonik. Berikut ini
disajikan pengolahan data untuk uji organoleptik sesuai dengan parameternya. Apabila semua data




                                                           K-117
                                           Ika Nur Fitriani, Rizki Nor Amelia, dan Anggi Ristiyana Puspita Sari
                                                                        Pemanfaatan Ekstrak Rimpang Jahe …


    telah diolah, keefektifan produk deodoran berdasar uji organoleptik ditentukan sesuai keterangan pada
    tabel 3.

                          Total skor                            Keterangan
                             0-20                              Sangat kurang
                            21-40                                 Kurang
                            41-60                                  Cukup
                            61-80                                   Baik
                           81-100                               Sangat baik
                                       Tabel 3. Keterangan skor yang diperoleh

            Parameter pertama yaitu warna dan tampilan. Berdasarkan dari hasil ketiga sampel yang
    diujikan kepada dua puluh responden atau panelis, sampel yang memperoleh skor tertinggi adalah
    sampel pertama dengan konsentrasi ekstrak rimpang jahe merah adalah 10%. Parameter kedua adalah
    aroma dan diperoleh skor tertinggi pada konsentrasi ekstrak rimpang jahe merah 30%. Parameter
    ketiga adalah sensasi deodoran di kulit dan diperoleh skor tertinggi pada konsentrassi ekstrak rimpang
    jahe merah 10%. Secara keseluruhan, sampel yang memperoleh skor tertinggi adalah sampel pertama
    yaitu sampel dengan konsentrasi ekstrak rimpang jahe merah sebesar 10%. Sampel pertama ini dapat
    dikatakan baik, meskipun parameter aroma memiliki nilai terendah diantara sampel yang lain.

Panelis             Warna dan tampilan                 Aroma                       Sensasi di kulit
                 I         II      III          I       II         III           I      II              III
      P1          5        5         4         3         4           5          5        5               4
      P2          4        3         2         3         2           2          4        3               2
      P3          4        3         2         4         4           4          4        3               3
      P4          3        3         4         3         3           4          3        3               4
      P5          5        4         4         3         2           2          4        4               4
      P6          4        4         5         4         5           4          4        4               4
      P7          4        4         5         3         4           5          4        5               4
      P8          3        4         5         2         3           4          3        3               4
      P9          4        4         3         4         3           2          4        4               4
      P10         4        3         5         5         3           4          4        2               3
      P11         4        4         4         2         3           4          4        4               4
      P12         4        4         4         3         4           4          4        4               3
      P13         2        2         2         3         3           3          4        4               4
      P14         4        4         4         4         5           4          5        3               4
      P15         4        4         4         4         3           3          4        4               4
      P16         4        4         4         4         4           4          2        2               3
      P17         4        4         4         3         4           4          3        4               3
      P18         4        4         4         4         4           4          4        5               5
      P19         5        5         3         4         4           5          4        4               4
      P20         5        4         3         4         4           4          4        4               4
     Total       80       76        75        69        71          75          77      74              74
                                Tabel 4. Perolehan skor pada uji organoleptik




                                                   K-118
                                  Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA,
                                               Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012


KESIMPULAN

1.  Kondisi optimal dari uji organoleptik dan uji bakteri pada konsentrasi ekstrak jahe 10% dengan
    perbandingan ekstrak jahe merah 2,5 mL; natrium stearat 7,5mL; dan propilen glikol 15 mL.
2. Deodoran yang berfungsi sebagai deodoran herbal alami ini efektif karena tidak adanya iritasi
    pada kulit, namun tidak dapat dilihat dari segi hilangnya bau setiap satu jam karena sudah hilang
   dalam waktu beberapa detik.

DAFTAR PUSTAKA

Abioby. 2010. Tanaman untuk Bahan Deodoran Alami. Diunduh dari http://id.shvoong.com/how-
     to/health/2071705-tanaman-untuk-bahan-deodoran-alami/#ixzz1Qmz48bMy pada 30 Juni 2011
     : 13.14 WIB.

Aamprogresif. 2011. Jenis Tanaman Jahe. Diunduh dari
    http://id.shvoong.com/exact-sciences/agronomy-agriculture/2119224-jenis-tanaman-
    jahe/#ixzz1Qmx9PVVW oleh aamprogresif pada30 Juni 2011 : 09.33WIB.

Marsudiyanto.2010.Khasiat Jahe Merah. Diunduh dari http://bu.marsudiyanto.info/khasiat-jahe-
     merah.html pada 30 Juni 2011 : 10.05 WIB.

Mirza. 2010. Informasi tentang Jahe. Diunduh dari
      http://labeurjahe.com/index.php/informasi-tentang-jahe.html pada 29 Juni     2011 : 11.17 WIB.

Muj.____. Obat-obatan Gaya Hidup. Diunduh dari
     http://www.kelas-mikrokontrol.com/jurnal/iptek/bagian-2/obat-obatan-gaya-hidup.html pada 30
     Juni 2011 : 10.56 WIB.

Shanaz Nadia Idris, dkk. 1992. Bromhidrosis. Diunduh dari
     http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:1SdcTy2omisJ:www.kalbe.co.id/files/cdk/files/09
     _Bromhidrosis.pdf/09_Bromhidrosis.pdf+pengertian+bromhidrosis&hl=id&gl=id&pid=bl&srci
     d=ADGEESiVBQ048LxKqD6jYmNDZ_TKQQvDyFzTidGuX6i8CwxXsUQ5tSbYtVyOqB0q
     paT1CQ8FfPxAugasb4E4vWGZk4g7sid8lFbp0ZvEsqiNNqyGi96XpK743DfbZoSt4LdcwWQ
     T6r&sig=AHIEtbTQmxUITAqMQUjXJtAzVrUj5s5frg pada 20 Juli 2011 : 19.30 WIB.

Sudirman dkk. 2010. “Pemanfaatan Kapur Sirih sebagai Deodoran Alternatif Pencegah Terjadinya
      Bau Badan (Bromhidrosis)”. PKM-AI. Jurusan PPKn, UNM.

Sumeru Ashari.1995.Hortikultura Aspek Budidaya.Jakarta: UI Press.

Sutrisno Koeswara.2010.Tanaman Jahe Serta Kandungan Rimpangnya. Diunduh dari
      http://www.agrilands.net/read/full/agritips/ pada 29 Juni 2011 : 09.45 WIB.

Yani Pribadi Kusuma Wardhani. 2002. “Mempelajari Metode Pembuatan Deodoran Batang dengan
     Penambahan Karagenan serta Analisis Sifat Fisik dan Kimia”. Skripsi S1. Fakultas Perikanan
     dan Ilmu Kelautan, IPB.

Sarah Fathia.2011.”Aktivitas Antimikroba Ekstrak Jahe (Zingiber officinale Roscoe) Terhadap
     Beberapa Bakteri Patogen”. Skripsi S1. IPB




                                               K-119
Ika Nur Fitriani, Rizki Nor Amelia, dan Anggi Ristiyana Puspita Sari
                             Pemanfaatan Ekstrak Rimpang Jahe …




        K-120

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:573
posted:8/23/2012
language:
pages:8
Description: Artikel tentang kimia dan pendidikan kimia yang anda butuhkan ada di sini