Docstoc

Aset Negara

Document Sample
Aset Negara Powered By Docstoc
					Pengakuan Aset Negara Oleh Negara Lain 2009

ASET NEGARA DI AKUI OLEH BANGSA LAIN
Problematika. Kebudayaan Indonesia. Dalam beberapa waktu ini telah terjadi klaim-mengklaim berbagai budaya Indonesia oleh Malaysia. Setelah sekian lama, akhirnya perjuangan untuk mendapatkan pengakuan UNESCO secara Internasional akhirnya tercapai juga. Dan atas pengakuan itu, Malaysia pun seharusnya merasa malu. Berikut adalah budaya-budaya yang diakui oleh UNESCO sebagai budaya Indonesia antara lain. 1. WAYANG KULIT UNESCO pada tanggal 7 November 2003 telah MENETAPKAN bahwa WAYANG KULIT adalah warisan budaya dunia yang BERASAL DARI INDONESIA. Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika mengungkapkan, sejak 7 November 2003 lalu Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) telah mengakui wayang sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. 2. KERIS United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang merupakan organisasi bidang pendidikan dan kebudayaan Perserikatan BangsaBangsa (PBB) MENGUKUHKAN KERIS INDONESIA sebagai karya agung warisan kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia. "Dunia telah mengakui keberadaan keris Indonesia, sekaligus mendapat penghargaan dunia sejak 25 November 2005," kata pendiri sekaligus Direktur Museum Neka Ubud, Pande Wayan Suteja Neka, Kamis (17/7). 3. BATIK Perjuangan Indonesia untuk mendapatkan pengakuan dunia atas batik sebagai warisan budaya asli Indonesia tidak sia-sia. United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) DIPASTIKAN akan mengukuhkan tradisi batik sebagai salah satu budaya warisan dunia ASLI INDONESIA pada Oktober 2009 mendatang di Perancis. Demikian dikatakan oleh Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Tjetjep Suparman di Surakarta, Selasa (2/6/2009). “Butuh waktu tiga tahun untuk pengajuannya,” katanya. Sebelumnya, wayang dan keris juga telah mendapat pengakuan yang sama dari UNESCO beberapa waktu lalu. “Enam negara yang merupakan perwakilan dari UNESCO telah melakukan pengkajian terhadap budaya batik,” kata Tjetjep. Setelah melakukan kajian serta verifikasi selama tiga tahun, akhirnya terdapat pengakuan terhadap budaya batik sebagai budaya MILIK INDONESIA. “Penetapannya pada 28 September 2009 besok,” kata Tjetjep. Sedangkan pengukuhannya baru akan dilakukan pada 2 Oktober 2009 di Perancis.

Pengakuan Aset Negara Oleh Negara Lain 2009 Sementara itu, perusahaan swasta produsen film dokumenter asal Malaysia, yakni KRU Sdn. Bhd. telah membuat film berjudul "Batik". Di situ dijelaskan bahwa batik Malaysia BERASAL DARI BATIK JAWA yang telah didesain menurut kultur Melayu di Malaysia. Begitu pula sejarah datangnya batik Jawa ke negara Malaysia. Ada satu hal lagi yang lebih penting: MALAYSIA TIDAK PERNAH MEMATENKAN BATIK, karena BATIK MILIK INDONESIA. Yang dipatenkan oleh. Malaysia HANYA MOTIF DAN CORAK, BUKAN BATIKNYA. "Kita sudah bicara dengan pihak budaya Malaysia dan mereka katakan tidak pernah patenkan batik. Yang dipatenkan motif dan coraknya," kata Sekretaris I Penerangan & Humas KBRI Kuala Lumpur, Malaysia, Eka A Suripto, Jumat (16/11/2007). Eka mengaku sudah melihat motif atau corak yang dipatenkan Malaysia dan bentuknya berbeda. "Motif Malaysia itu jarang. Kecuali kalau kita bisa buktikan. Dia tidak berani memakai motif batik Solo atau Pekalongan," imbuhnya. Walaupun meskipun Malaysia tidak mematenkan batik, pemerintah RI tetap HARUS MEMATENKAN BATIK ke UNESCO - PBB untuk mengantisipasi adanya klaim batik oleh negara asing di masa-masa mendatang. Dan penetapan maupun pengukuhannya rencananya akan dilakukan pada tanggal 28 September 2009 dan 2 Oktober 2009 di Paris, Perancis. 4. RASA SAYANGE Rasa Sayange Reffrain: Rasa sayange... rasa sayang sayange... Eeee lihat dari jauh rasa sayang sayange Bait: Mana kancil akan dikejar, kedalam pasar cobalah cari... Masih kecil rajin belajar, sudah besar senanglah diri Si Amat mengaji tamat, mengaji Qur'an di waktu fajar... Biar lambat asal selamat, tak kan lari gunung dikejar Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi... Kalau ada umurku panjang, boleh kita berjumpa lagi Pemerintah Malaysia akhirnya menyerah soal polemik lagu Rasa Sayange. Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia Rais Yatim telah bertemu dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Dalam pertemuan itu, MALAYSIA MENGAKUI BAHWA LAGU RASA SAYANGE ADALAH MILIK INDONESIA. Ketua Umum DPP Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) Dharma Oratmangun mengatakan, dalam kunjungan ke Malaysia, lahir kesepahaman antara Jero Wacik dan Rais Yatim. "Persoalan lagu Rasa Sayange selesai. Secara de facto, Malaysia mengakui itu milik Indonesia," kata Dharma pada tanggal 12 November 2007. 5. REOG PONOROGO Pemerintah Malaysia akhirnya MENGAKUI BAHWA REOG PONOROGO ADALAH MILIK INDONESIA. Tetapi, memang kebudayaan tersebut telah disebarkan di Johor dan Selangor oleh masyarakat Ponorogo yang tinggal di Malaysia sejak bertahun-tahun lalu. "Reog tetap masih MILIK BANGSA INDONESIA," ujar Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Zainal Abidin Mohammad Zin dari atas mobil pengeras suara milik pendemo, di depan Kantor Kedubes Malaysia, Jalan HR Rasuna

Pengakuan Aset Negara Oleh Negara Lain 2009 Said, Jakarta Selatan, Kamis, 29 November 2007. Zainal yang mengenakan baju koko berwarna biru itu, juga menegaskan sejarah berkembangnya Reog Ponorogo yang di Malaysia disebut sebagai Tarian Barongan. "Sejarahnya rakyat Ponorogo pernah hijrah ke Johor dan Selangor. Anak cucu dari rakyat ini mengembangkan kebudayaan Reog Ponorogo yang mereka bawa dari Ponorogo. Namun, tetap saja asal-usul budaya ini tetap MILIK BANGSA INDONESIA," paparnya. 6. TARI PENDET Perlu diketahui di sini bahwa pemerintah Kerajaan Malaysia TIDAK PERNAH MENGKLAIM Tari Pendet sebagai budaya asal negara tersebut. Iklan pariwisata Malaysia yang menampilkan Tari Pendet adalah DIBUAT OLEH SWASTA, yakni Discovery Channel yang berbasis di Singapura. Discovery Channel Singapore pun tidak memiliki relasi apapun dengan pemerintah Diraja Malaysia. Discovery Channel Singapore pun sudah meminta maaf atas kelalaian tersebut dan menyatakan dengan jelas bahwa TARI PENDET ADALAH MILIK INDONESIA, BUKAN MILIK MALAYSIA. Dengan demikian, Tari Pendet yang muncul di film promosi Enigmatic Malaysia bukanlah promosi wisata Malaysia. Bukan juga diproduksi dan didanai oleh kementerian pariwisata, kementerian kebudayaan Malaysia atau PH Malaysia, tapi dibuat oleh Discovery Channel yang berbasis di Singapura. DC Asia Inc pun sudah mengakui bahwa kesalahan ada di staf bagian promosi mereka. DC Asia Inc pun sudah menyatakan permohonan maaf atas kesalahan itu kepada kementerian pariwisata Indonesia. Tuduhan Malaysia telah mengklaim tari Pendet Bali itu tidak benar. Dan DC menyatakan tari Pendet itu milik Malaysia juga tidak benar, yang benar tari Pendet itu memang milik Indonesia dan Bali. Sekarang udah kelihatan siapa yang bener dan siapa yang tidak. Kita tidak perlu caci maki bikin rusuh. Yang penting adalah bagaimana kita bisa mencintai dan melestarikan budaya kita sendiri sehingga tidak dicuri oleh negara lain. UNESCO rencananya akan meresmikan batik di Paris, 2 Oktober 2009, mari kita semua pakai batik, untuk menghargai kerja pemerintah kita sehingga akhirnya batik diakui oleh masyarakat internasional. Ambon, beritabaru.com - Pengakuan berbagai budaya Indonesia oleh masyarakat Malaysia, dinilai Direktur Jenderal (Dirjen) Asean Departemen Luar Negeri (Deplu) Indonesia, Djauhari Oratmangun, negara tetangga itu sedang mengalami krisis identitas. "Malaysia sedang mengalami krisis identitas dan sedang dalam proses mencari jati diri," katanya di Ambon, Sabtu malam. Ia berada di Ambon, dalam rangka melakukan serangkaian pertemuan dengan Pemprov Maluku dan Pemkot Ambon. Menurutnya, penduduk Malaysia 50 persen adalah keturunan Melayu dan sisanya dari China dan India. Orang Melayu, saat ini sedang mencari identitas dirinya. "Suka atau tidak suka, 50 persen orang Malaysia adalah keturunan Indonesia, dan mereka membawa budaya itu ke Malaysia," kata Djauhari. Begitu pun tari reog asal Ponorogo, ujar dia, yang pernah menjadi masalah di Malaysia. Sebenarnya juga diperkenalkan dan ditarikan oleh orang Ponorogo yang sudah bermukim di Malaysia selama tiga generasi. Tari pendet dari Bali yang diklaim sebagai kebudayaan Malaysia, Djauhari menerangkan, iklan tersebut diproduksi untuk promosi wisata negara itu, tetapi saat diproduksi tidak ada tari pendet. Namun, Discovery Chanel yang menayangkan iklan tersebut kemudian menambahkan

Pengakuan Aset Negara Oleh Negara Lain 2009 tari itu dalam iklannya. "Kesalahannya adalah Discovery tidak menyebutkan bahwa tari pendet berasal dari Indonesia," kata dia. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia sudah mengirim surat protes yang diakui sebagai produk hukum internasional kepada Pemerintah Malaysia dan telah diterima. Lagi pula, Malaysia tidak pernah mengklaim secara resmi bahwa tari pendet adalah milik Malaysia, dan itu hanya klaim di internet saja. "Mereka telah menerima klaim kalau tari pendet adalah milik kita. Penyelesaian secara diplomasi telah kita lakukan dan itu sudah cukup. Apalagi, Presiden Susilo Bambang Yudyohono juga telah melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Malaysia," ujarnya. Djauhari meminta seluruh masyarakat Indonesia menilai persoalan ini secara positif bahwa produk budaya Indonesia ternyata sangat laku dijual. Ia juga menyesalkan sikap media di Indonesia yang ramai memberitakan aksi protes terhadap budaya Indonesia yang diklaim negara itu, termasuk memengaruhi masyarakat untuk melakukan ganyang terhadap negara tetangga itu. "Ini membuktikan budaya kita sangat kuat dan terkenal di dunia internasional. Kelemahan orang Indonesia adalah jarang memelihara budayanya dan baru akan protes jika pihak luar mengklaim suatu produk budaya kita sebagai budaya mereka," papar Djauhari. Dia meminta agar media di Tanah Air lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi masalah ini, mengingat presentase berita seni dan budaya di Indonesia di media nasional sangat jarang dimuat atau diulas secara luas. "Sementara program acara atau berita budaya asing malah lebih banyak," sindir Djauhari. (*) VHRmedia, Jakarta – Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mengirimkan surat protes kepada pemerintah Malaysia, terkait klaim tari Pendet asal Bali. Kedutaan Besar Malaysia didesak mengingatkan pemerintahnya agar berhenti mengklaim kebudayaan Indonesia. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan, Indonesia dan Malaysia memiliki kesepakatan soal pengakuan karya seni dan budaya yang masuk dalam wilayah abuabu. Tarian Melayu misalnya, masuk dalam wilayah pengakuan ini, karena kedua negara memiliki tarian bernuansa Melayu. “Kesepakatannya, untuk grey area harus saling memberi tahu. Tapi tari Pendet tidak bisa dikategorikan sebagai grey area. Tarian itu sudah pasti dari Bali. Tidak ada referensi yang menyebutkan tari Pendet adalah budaya Malaysia,” kata Jero Wacik di Jakarta, Senin (24/8). Menurut Jero Wacik, pihaknya akan mengajukan protes terkait penayangan iklan wisata Malaysia yang menampilkan tari Pendet. Melalui Menteri Luar Negeri Hasan Wirayuda, pemerintah juga akan memgklarifikasi kasus ini kepada Menteri Pariwisata Malaysia. “Kita marah dan akan mengajukan nota protes ke Malaysia. Kami akan tempuh cara hukum dan diplomatik. Seharusnya ini diperhatikan. Akan kami lihat jawabannya. Kalau niatnya untuk itu (mengklaim budaya Indonesia) kita akan proses hukum.” Jero Wacik meminta agar seluruh peninggalan budaya Indonesia didaftarkan. Jika tidak jelas siapa pemilik hak cipta karya rersebut, sebaiknya didaftarkan secara kolektif atas nama pemerintah daerah setempat. “Rumah Toraja misalnya, tidak diketahui siapa pembuatnya tapi bisa didaftarkan atas nama masyarakat Toraja. Sekarang ini era hukum, harus ada perlindungan hukum terhadap karya kita.” Pemerintah pernah mengajukan protes serupa kepada pemerintah Malaysia, ketika negara tetangga ini mengklaim sebagai pemilik lagu “Rasa Sayange” dan kesenian Reog Ponorogo. (E1)

Pengakuan Aset Negara Oleh Negara Lain 2009 Penjualan Pulau – pulau di Indonesia. Sekretaris Dewan Kelautan Indonesia (DEKIN) Rizald Max Rompas, menyatakan Pulau Jemur secara de jure dan de facto hingga kini masih jelas milik Indonesia. "Secara yuridis, Pulau Jemur berada dalam wilayah NKRI bukan saja dalam batas landas kontinen dan laut wilayah tetapi perairan kepulauan (archipelagic waters)," kata Rizald dalam siaran persnya yang disampaikan Humas DKP, Jumat (11/9). Rizald mengatakan itu untuk membantah adanya isu klaim Malaysia atas Pulau Jemur dan penjualan Pulau-pulau di beberapa Wilayah Indonesia. Menurut dia, keberadaan Pulau Jemur itu tidak perlu diributkan lagi oleh bangsa Indonesia karena sesuai PP Nomor 38 Tahun 2002 jo PP Nomor 37 Tahun 2008 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia, Pulau Jemur terletak dalam gugusan Kepulauan Aruah dan berada dalam garis pangkal yang menghubungkan titik-titik garis pangkal kepulauan Indonesia. Kepemilikan Pulau Jemur oleh Indonesia, katanya, juga ditandai dengan adanya infrastruktur di pulau itu seperti menara suar, pos TNI Angkatan Laut, pos pendaratan ikan, dan Wisma Pemerintah Daerah Kabupaten Rokan Hilir. Namun demikian, terkait adanya promosi Pulau Jemur sebagai destinasi wisata Malaysia secara tidak langsung justru menguntungkan Indonesia sebagai sarana promosi. "Selain terkenal dengan panorama alam yang indah, pantai berpasir putih, Pulau Jemur juga merupakan habitat penyu hijau dan daerah penghasil ikan," katanya. Mencermati adanya isu penjualan pulau-pulau di beberapa wilayah NKRI seperti di Mentawai, Sumatera Barat dan Jawa Timur, Rizald mengatakan bahwa tidak ada penjualan pulau-pulau di Indonesia. "Tidak ada penjualan pulau-pulau di Indonesia yang ada adalah pemanfaatan pulau oleh pihak asing," katanya. Kegiatan itu pun telah dilakukan sesuai dengan hukum nasional yang berlaku seperti beberapa pulau di Kepulauan Mentawai, Pulau Tabuhan di Kabupaten Banyuwangi, dan Pulau Sitabok di Kabupaten Sumenep Jawa Timur. Apalagi adanya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor PER.20/MEN/2008 tentang Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan Perairan di Sekitarnya secara tegas menyebutkan bahwa pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya dapat diberikan kepada orang asing dengan persetujuan Menteri. "Pihak asing juga harus sanggup menggunakan fasilitas penanaman modal asing (PMA) yang sekurang-kurangnya 20 persen modalnya berasal dari dalam negeri terhitung sejak tahun pertama perusahaan didirikan dan sejumlah persyaratan lainnya," katanya. Sebagai lembaga yang berfungsi sebagai forum konsultasi bagi penetapan kebijakan umum di bidang kelautan, DEKIN perlu melaksanakan rapat konsultasi dengan stakeholders guna keterpaduan kebijakan terutama dalam pengelolaan pulau-pulau kecil dan terluar.

Pengakuan Aset Negara Oleh Negara Lain 2009 Tiga pulau yang masih berada dalam kawasan Indonesia dijual lewat internet. Ketiga pulau itu adalah Pulau Makaroni, Pulau Siloinak dan Pulau Kandui yang semuanya terletak di Kepulauan Mentawai. Penjualan 3 pulau itu diiklankan di situs privateislandsonline.com dengan judul 'Islands for Sale in Indonesia'. Dalam iklan di situs itu, masing-masing pulau tersebut dijual dengan harga yang bervariasi. Pulau Makaroni yang memiliki luas 14 hektar dihargau US$ 4 juta, Pulau Silionak yang memiliki luas 24 hektar dibandrol US$ 1,6 juta dan Pulau Kandui yang memiliki luas 26 hektar dihargai US$ 8 juta. Iklan juga menampilkan peta Indonesia dan disertai foto keindahan pulau tersebut. Pulau Makaroni misalnya, selain memiliki air laut yang berwarna indah, beberapa bungalow juga sudah terbangun di sepanjang pinggir pantai pulau tersebut. Sementara Pulau silionak dan Pulau Kandui juga tidak kalah indahnya. Meski gambar kedua pulau tersebut diambil dari kejauhan, tapi nampak keindahan yang terpancar dari dua pulau yang sama-sama terletak di kepulauan Mentawai ini. Selain menjual pulau-pulau milik Indonesia, situs privateislandonline.com juga menjual beberapa pulau milik negara lain. Misalkan Pulau Rusukan Besar milik Malaysia yang dijual seharga US$ 5 juta, Pulau Rangyai di Thailand yang dijual seharga US$ 160 juta, dan dua pulau lagi yang terletak di negara Bahama dan Tahiti. Tak cuma itu, dalam situs tersebut juga menyediakan layanan pencarian pulau di dunia untuk dibeli, lengkap dengan luas tanah serta harga yang dibandrol. Masalah penjualan pulau lewat internet sendiri bukan hal yang biasa. Di Indonesia pada 2007 lalu juga sempat heboh dengan dijualnya dua pulau yakni Pulau Panjang dan Meriam Besar yang dijual oleh Karangasem Property melalui situs www.karangasemproperty.com. Pulau Panjang di Sumbawa, NTB tertulis seluas 33 hektar. Sedangkan Meriam Besar yang juga berada di Sumbawa, NTB tertulis seluas 5 hektar. Setelah ramai diberitakan, pemilik situs Karangasemproperty.com yang adalah warga Belanda meminta maaf dan meralat pulau yang diiklankan bukan dijual tapi dibuka untuk penanaman investasi. Kasus penjualan Pulau Panjang dan Meriam Besar di Provinsi Nusa Tenggara Barat terjadi akibat kontrol dan supervisi pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah kurang. Departemen terkait dinilai tidak mampu membuat langkah efektif untuk mengelola pulaupulau terluar. Hal itu diungkapkan anggota Komisi II DPR (Fraksi Partai Golkar), Ferry Mursyidan Baldan, di Jakarta, Selasa (11/12). Menurut Ferry, pengelolaan dua pulau oleh investor asing tidak dapat dilakukan dengan cara seolah-olah menjadi teritorial tersendiri dan terpisah dari Negara Kesatuan RI (NKRI). Konteks pengelolaan seharusnya masih dalam kesatuan teritorial NKRI. "Ketika diberi kewenangan seluas-luasnya pada satu pulau, itu sudah tidak benar," ujarnya. Menurut Ferry, Departemen Dalam Negeri, Departemen Kelautan dan Perikanan, serta TNI Angkatan Laut tidak melakukan langkah efektif untuk melindungi pulau-pulau terluar. Tim dari Depdagri dan Pemprov NTB rencananya akan mengecek langsung status Pulau Panjang dan Pulau Meriam Besar di Kabupaten Sumbawa itu hari Rabu ini. Kepala Biro Pemerintahan Provinsi NTB Rahmat Radjendi, yang dihubungi Selasa, mengatakan dia sudah mengonfirmasikan ke Camat Plampang tentang status dua pulau itu. "Semalam, saya sudah menelepon camatnya dan diterangkan bahwa pulau itu bukan dijual, tetapi tanah dijual untuk dikelola," ujarnya. Menurut Rahmat, Karang Asem Property, yang menawarkan kedua pulau tersebut di situs www.karangasemproperty.com itu, milik pengusaha dari Bali, Made Sutisna. Di situs itu terdapat bantahan penjualan pulau oleh si pemilik situs. Ditegaskan, pulau itu tidak dijual dan hanya untuk kerja sama dalam investasi, tidak diinvestasikan untuk kasino atau rumah judi, sesuai aturan yang berlaku di Indonesia. Dalam situs itu disebutkan, Karang

Pengakuan Aset Negara Oleh Negara Lain 2009 Asem Property hanya berniat membantu memajukan negara dengan mencari investor. Penjualan pulau melalui situs internet juga pernah terjadi di Jawa Tengah tahun 2005. Penjualan pulau-pulau di gugusan Karimunjawa itu sempat ada pula yang berhasil, yakni Pulau Kumbang dan Pulau Menyakan yang kini dikuasai investor dari luar negeri. (Kompas, 12 Desember 2007). Harapan anak cucu bangsa adalah untuk segera menuntaskan maslah ini. Jangan sampai kesatuan Bangsa Indonesia diambil oleh bangsa lain. Dengan meningkatkan kesadaran dan rasa cinta tanah air mampu menyelesaikan maslah ini. Masalah dalam negeri pun belum selesai terutama mengenai kasus korupsi. Jangan sampai kita memberikan atau menambahkan maslah lagi kepada bangsa kita ini. Dengan rasa persatuan mari kita junjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Kita harus mampu menjaga semua elemen dan identitas bangsa kita yang berbudaya. Mari kita bersama memelihara pertahanan negara, politik, tegaknya keadilan hukum, soaial, dan budaya bangsa Indonesia. Daftar nama pulau – pulau di Indonesia yang telah dijual, sebagai berikut : 1. Pulau Galang Baru di Provinsi Riau (Untuk pembangunan limbah berbahaya dan beracun dari Singapura). 2. Pulau Sebaik (Untuk dikeruk dan diambil pasirnya ke Singapura). 3. Pulau Tatawa, NTT. 4. Pulau Panjang, NTB. 5. Pulau Meriah, NTB. 6. Pulau Bawah, Natuna. 7. Pulau Bengkoang, Jawa Tengah. 8. Pulau Geleang, Jawa Tengah. 9. Pulau Kembar, Jawa Tengah. 10. Pulau Kumbang, Jawa Tengah. 11. Pulau Katang, Jawa Tengah. 12. Pulau Krakal Kecil, Jawa Tengah. 13. Pulau Krakal Besar, Jawa Tengah. Solusi Pemerintah. Melalui Menteri Pariwisata dan Kebudayaan mengenai perebutan degan mengirimkan surat protes terhadap pemerintah Malaysia, serta melaporkan kepada UNESCO untuk segera menengahi dan menangani masalah ini demi terciptanya perdamaian dunia. Serta di acara – acara kenegaraan yang di adakan untuk seluruh negara, perwakilan dari Indonesia selalu menggunakan batik sebagai bukti bahwa batik merupakan budaya Indonesia. Dan menetapkan pada tanggal 2 oktober merupakan hari batik nasional. Masalah kepemilikan pulau di Indonesia yang sebagain tidak lagi menjadi negara Indonesia, pemerintah mengusut tuntas dengan melalui TNI dan pemerintah pusat atas pengusutan kepada pemerintah daerah atas status kepemilikan pulau tersebut.

Pengakuan Aset Negara Oleh Negara Lain 2009 Solusi Masyarakat. Masyarakat Indonesia sempat kesal atas pengakuan kebudayaannya oleh negara lain dengan mengadakan aksi demo. Dan kini masyarakat Indonesia dengan bersama – sama menjaga dan melestarikan budaya serta mempertahankan negara kesatuan Indonesia. Karena budaya timbul dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Maka dari itu seluruh masyarakat Indoneesia kembali melestarikan budaya – budaya yang hampir punah kepada penerus – penerusnya. Solusi Mahasiswa. Kekesalan mahasiswa terhadap pengakuan budaya Indonesia oleh malaysia sempat melakukan aksinya di depan kedutaan Malaysia. Dan beberapa aksi demo yang telah dilakukan kepada pemerintah agar mendesak pemerintah segera mengambil kembali kebudayaan kita. Serta mahasiswa sebagai penerus dengan bangga menggunakan segala budaya yang dimilikinya. Dan demi kelangsungan budaya, beberapa mahasiswa menulisnya menjadi sebuah karya ilmiah untuk dikenalkan kepada seluruh Indonesia bagi mereka yang masih belum kenal budayanya. Agar budaya Indonesia tidak lagi diakui oleh negara lain.


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2478
posted:10/7/2009
language:Indonesian
pages:8