Docstoc

PRESENTASI DIKLAT PENATAAN DAERAH KALDERA BATUR

Document Sample
PRESENTASI DIKLAT PENATAAN DAERAH KALDERA BATUR Powered By Docstoc
					                         Oleh :

         1.  I Made Kadi, SH
   2. Ngurah BGPW, ST, MM
3. I Gusti Ketut Santika, S.Si
             4. Achmadi, ST
5. Made Wijaya Kusuma, ST
     6. W. Ita Handayani, ST
 7. Made Anik Wiryantini, ST
   8. I Wayan Yudiartana, ST
9. Ketut Putra Widhiarta, ST
1.   PENDAHULUAN
2.   GAMBARAN UMUM WILAYAH
3.   KONDISI GEOLOGI LINGKUNGAN
4.   ANALISIS GEOLOGI LINGKUNGAN
5.   ARAHAN PEMANFAATAN RUANG
6.   PENUTUP
LATAR BELAKANG :

1.   Undang-undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
2.   Kintamani sebagai kawasan objek wisata khusus, memiliki potensi
     gunung berapi aktif;
3.   Kawasan Gunung Batur diusulkan menjadi Geopark;
4.   Masih banyaknya kendala dalam pengusulannya seperti masih
     adanya penambangan tanpa ijin, sampah dan lain-lainnya
5.   Pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang
     (bangunan pada sempadan jurang, kawasan rawan bencana dll)
Maksud, Tujuan dan Sasaran :
1. Maksud dilakukannya penataan ruang Kawasan kaldera Gunung Batur Bangli
   adalah mewujudkan ruang kawasan kaldera Gunung Batur Bangli yang
   memenuhi kebutuhan pembangunan dengan memperhatikan aspek geologi yang
   berwawasan lingkungan, efesien dalam alokasi investasi, bersinergi dan dapat
   dijadikan acuan dalam penyusunan program pembangunan untuk tercapainya
   kesejahteraan masyarakat

1.    Tujuan dilakukannya penataan ruang Kawasan kaldera Gunung Batur Bangli
      adalah sebagai berikut :
     a. Memberikan arahan penataan ruang kawasan kaldera Gunung Batur Bangli
     b. Memberikan arahan pemanfaatan ruang Kawasan kaldera Gunung Batur
         berdasarkan aspek geologi lingkungan

3. Adapun sasaran yang ingin dicapai dalam penataan ruang Kawasan kaldera
Gunung Batur Bangli diantaranya :
   a) Tertatanya Kawasan kaldera Gunung batur Bangli yang serasi antara
      kawasan lindung dan kawasan budidaya
   b) Tersusunnya arahan pemanfaatan ruang Kawasan kaldera Gunung Batur
      berdasarkan aspek geologi lingkungan
METODOLOGI:

1.   Metode pengumpulan data: survei primer, survei sekunder
2.   Metode Analisis Data : SWOT, analisis kelayakan
     permukiman, TPA sampah dan keanekaragaman geologi
Lokasi dan Administrasi             :

Kawasan kaldera Gunung Batur terletak di Kecamatan Kintamani merupakan salah satu
kecamatan yang terdapat di Kabupaten Bangli dengan luas wilayah sebesar 1.643, 97
Km2. Secara geografis Kawasan Kintamani terletak di sebelah Timur Laut Kota Denpasar
dengan jarak ± 67 Km atau sebelah Utara Kota Bangli dengan jarak ± 27 Km.

           Luas Wilayah Administrasi Kawasan Kaldera Gunung Batur

    No.              Nama Desa                Luas (Ha)           Persentase (%)
     1    Desa Sukawana                                   1.175              6,56
          Desa Kedisan
     2    Desa Buahan                                     1.423              7,94
     3    Desa Abang Songan                               1.433              7,99
     4    Desa Abang Batu Dinding                          708               3,95
     5    Desa Trunyan                                    1.963             10,96
     6    Desa Songan A                                   1.701              9,50
     7    Desa Songan B                                   1.118              6,63
                                    Jumlah            17.935                  100
Iklim      :
   temperatur udara berkisar antara 180 C – 230 C
   curah hujan tahunan di kawasan atas sebesar 1840 mm/th.

Penggunaan Lahan                           :
   Kawasan Kaldera Gunung Batur merupakan salah satu kawasan obyek dan daya tarik wisata
   Pemanfaatan ruang di kawasan kaldera Gunung Batur sebagian besar didominasi oleh tanah tegalan sekitar 43,07
    % dengan luas 7.716, 60 Ha, hutan negara 35, 72 % atau sekitar 6.399,60 Ha dan Kebun seluas 1.350,10 Ha (7,53
    %).
   hutan negara penggunaan lahan terbesar terdapat di Desa Sukawana 1467,20 Ha, Suter 810,00 Ha, Kintamani 840,70 Ha dan
    Batur Selatan 618, 00 Ha.



Tabel Penggunaan Lahan Kawasan Kaldera Gunung Batur
Tahun 2005
Sumber : Kecamatan Kintamani Dalam Angka Tahun 2006
                                                            Jenis Penggunaan Lahan (Ha)                                  Jum lah

     No           Nam a Desa                                                               Hutan                 Luas
                                  Tegalan      Perkebunan    Hutan Rakyat   Pekarangan             Tanah Lain                      (%)
                                                                                          Negara                 (Ha)

      1      Kedisan              737,30          6,30         110,00         22,20       226,20     73,00      1.175,00           6,56

      2      Abang Songan         660,20         67,40          23,00         18,70       507,30    156,00      1.432,60           8,00

      3      Abang Batu Dinding   166,80         61,00          15,00         26,20       400,00     39,00      708,00             3,95

      4      Buahan               527,50         25,00         250,00         17,30       511,20     92,00      1,423,00           7,94

      5      Trunyan              972,20         115,00         24,00         35,90       661,90    154,00      1,963,00           10,96

      6      Songan A             1.321,20       60,00          20,00         44,30       133,60    121,40      1,700,50           9,49

      7      Songan B             700,00         65,00         147,50         48,50       133,50     93,50      1,188,00           6,63
Kependudukan:
  Tabel Jumlah Penduduk di Kawasan Kaldera Gunung Batur Tahun 2000 - 2005
  Sumber : Kintamani dalam angka

                                                                   Tahun
             No                Desa
                                            2000       2001     2002     2003     2004      2005
              1     Kedisan                  1.597      1.592    1.594    1.615    1.686     1.690
              2     Abangsongan              1.036      1.036    1.037    1.124    1.176     1.182
              3     Songan A                 4.398      4.339    4.346    5.173    5.065     5.125
              4     Songan B                 6.549      6.252    6.268    6.707    6.777     6.810
              5     Trunyan                  2.353      2.385    2.389    2.417    2.573     2.604
              6     Abang Batu Dinding       2.179      2.159    2.161    2.235    2.284     2.308
              7     Buahan                   1.472      1.432    1.433    1.580    1.547     1.555
                      Jumlah                19.584     19.195   19.228   20.851   21.108    21.274

  Tabel Perkembangan Penduduk di Kawasan Kaldera Gunung Batur Tahun 2000 - 2005
  Sumber : Hasil Analisa Tim
                                                             Jumlah         Prosentase (%)
                     No                  Desa              Penduduk
                                                                             Perkembangan
                                                           Tahun 2005
                     1            Kedisan                         1.690                    1,11
                     2            Abangsongan                     1.182                    2,55
                     3            Songan A                        5.125                    2,79
                     4            Songan B                        6.810                    0,71
                     5            Terunyan                        2.604                    1,98
                     6            Abang Batu Dinding              2.308                    1,13
                     7            Buahan                          1.555                    0,99
                                Jumlah                           21.274                      11
BUDAYA :
Falsafah budaya setempat kawasan kaldera Gunung Batur, sebagaimana berlaku juga di
daerah Bali pada umumnya berlandaskan pada nilai-nilai kearifan lokal yakni:
1.   tatas, tetes (kehati-hatian dalam bertindak);
2.    tat twam asi (toleransi tanpa menonjolkan perbedaan);
3.    paras paros (saling memberi dan menerima pendapat orang lain);
4.    salunglung sabayantaka (bersatu teguh bercerai runtuh);
5.   merakpak danyuh (perbedaan pendapat tidak menghilangkan persahabatan).
6.   Tri Hita Karana
Sebaran batuan (Sifat fisik Tanah dan batuan) di kawasan Gunung Batur
( Geopark Batur) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  Perbukitan berelief sedang
Batuan penyusun terdiri dari tufa yang berasal dari batuan gunung api kelompok
Buyan – Bratan dan Batur (Qpbb).

  Perbukitan berelief kasar
Batuan penyusun terdiri dari tufa yang berasal dari batuan gunung api kelompok
Buyan – Bratan dan Batur (Qvbb), breksi dan lava dari batuan Gunung Api
Kelompok Buyan - Bratan Purba (Qvbb).

   Pegunungan vulkanik
Batuan penyusun terdiri dari endapan lahar dan lava berasal dari batuan Gunungapi Batur
(Qhvb)
Sumber daya air di kawasan geopark Batur dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:

    Air Permukaan
Air permukaan adalah merupakan air yang terdapat di atas permukaan seperti air pada
aliran sungai dan danau. Tukad atau sungai Sangang, Melangit, Pekerisan, Lumbuhan,
Bukitan, Geria, Sala, Besingan, Serai, Bilah, Agung dan Jinah.
Sebagian besar dari sungai yang ada di daerah pemetaan berhulu di sekitar Gunung Batur
 Air tanah bebas


Air tanah bebas adalah air yang tersimpan dalam suatu lapisan pembawa air tanpa lapisan
kedap air di bagian atasnya. Air tanah bebas sangat dipengaruhi oleh besarnya intensitas
curah hujan setempat dan penggunaan lahan di sekitarnya
Dari hasil inventarisasi sumber-sumber air yang dilakukan oleh Bappeda Kabupaten
Bangli,didapatkan
Kecamatan Kintamani memiliki sumber mata air sebanyak 164 buah dengan total debit
674,236 liter/detik
Sumber bahan bangunan di kawasan geopark Batur dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:

   Andesit
   Batu apung
   Sirtu
   Tras
Sumber daya lahan di kawasan geopark Batur dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:

   Permukiman/perkampungan
   Sawah
   Perkebunan
   Tegalan
   Hutan
   Kawasan Danau
   Gunung Batur
Bahaya Geologi di kawasan geopark Batur dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:

   Gempa Bumi
   Erosi Permukaan
   Gerakan Tanah
   Letusan Gunung Api
                BAB IV. ANALISIS GEOLOGI LINGKUNGAN
ANALISIS SWOT KAWASAN KALDERA GUNUNG BATUR

Kekuatan Kawasan Gunung Batur

  Kawasan kaldera Gunung Batur memiliki fungsi rekreasi
  dan konservasi lingkungan
  Bentang alam yang bervariasi dengan struktur batuan yang
  khas menciptakan kesan visual berupa pemandangan alam
  Gunung Batur merupakan obyek yang paling disukai wisatawan
  Memiliki keanekaragaman dan keunikan struktur batuan yang
  menjadi daya tarik wisata
  Terdapat pura-pura tempat berlangsungnya upacara
  keagamaan dan peninggalan sejarah (Pura Ulun Danu Songan)
  Menjadi obyek pendakian dan rute tracking yang diminati
  wisatarwan
  Telah memiliki Museum Gunung Api Batur sebagai
  pendukung pariwisata
                          ANALISIS SWOT
Kelemahan Kawasan Gunung Batur
 Banyaknya bangunan yang dibangun namun
  tidak sesuai dengan arahan pemanfaatan
  ruang (dibangun pada sempadan jurang)
 Rencana tata ruang kawasan belum
  mengadopsi pengaturan kawasan rawan
  bencana (jalur evakuasi dan lain-lain)
 Pengelolaan sampah yang belum mengadopsi
  konsep 3R (Reuse, Reduce and Recycle)
 Pengelolaan sampah di TPA yang belum
  sesuai dengan konsep desain TPA yang
  direncanakan
                                         ANALISIS SWOT
Peluang Kawasan Gunung Batur
 Pergeseran pariwisata massal menuju geotourism
 Adanya keinginan Pemerintah untuk menjadikan Kawasan Kaldera
   Gunung batur sebagai kawasan Geopark
 Pemasaran mampu menjangkau wisatawan mancanegara
 Menciptakan lapangan pekerjaaan sehingga dapat meningkatkan
   pendapatan masyarakat

Ancaman Kawasan Gunung Batur
 Ancaman terjadinya bencana alam geologi (gunung meletus dan
   longsor)
 Eksploitasi pertambangan yang berlebihan akan merusak lingkungan
 Pengembangan kegiatan akan mengurangi zona konservasi/ kawasan
   lindung
 Kegiatan wisata akan melampaui daya dukung lingkungan dan
   menimbulkan pencemaran
                    KELAYAKAN PERMUKIMAN
   Kawasan rawan bencana I merupakan radius terjauh dari kawah
    gunung api batur (radius 6 km). kawasan ini berpotensi dilanda
    hujan abu dan kemungkinan luncuran abu pijar
   Kawasan Rawan bencana II merupakan kawasan rawan terhadap
    luncuran batu pijar dan hujan abu lahar (radius 3 km)
   Kawasan rawan Bencana III merupakan kawasan yang sering
    terlanda aliran lava

Pemanfaatan ruang yang sesuai pada zona kawasan rawan bencana :
A.     Kawasan rawan bencana I
 Pengembangan permukiman/kegiatan penunjang permukiman
   sebaiknya mendekati jalur evakuasi
 Pengembangan permukiman/kegiatan penunjang permukiman
   harus memperhatikan sempadan jurang, sempadan danau maupun
   kawasan rawan longsor
                KELAYAKAN PERMUKIMAN
B.     Kawasan rawan bencana II
Pengembangan permukiman pada kawasan ini
diarahkan menjadi kawasan lindung. Permukiman yang
telah dibangun saat ini hendaknya memperhatikan
kecenderungan aliran lava. Selain itu masyarakat wajib
mengetahui jalur evakuasi dan sosialisasi secara
mendalam mengenai mitigasi bencana.

C.    Kawasan rawan bencana III
Zona kawasan ini merupakan zona yang paling rawan
bencana sehingga harus dimasukkan dalam zonasi
kawasan lindung. Pada kawasan ini dilarang adanya
permukiman maupun kegiatan budidaya lainnya.
                   KELAYAKAN TPA SAMPAH

   Koordinat : 8◦ 21’ 13,9” LS dan 115◦ 22’ 5,1 BT
   Lokasi      : Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli
   Luas TPA : 4,75 Hektar
   Kapasitas TPA (Daya Tampung)             :
                      550.000 M3
   Volume Sampah Yang Dapat Ditampung Tiap Hari :
                      80 – 100 M3/Hari
   Umur TPA : 15 Tahun
   Sistem Pengolahan : Sanitary Landfill
   Konstruksi TPA : Cubangan memiliki lapisan yang
    berlapis – lapis mulai dari lapisan proyeksi hingga
    pola gcl dengan geo membrannya.
                                      KELAYAKAN TPA SAMPAH
                                 Tabel Kriteria Penilaian
                                       BO
N    PARAME           SATUAN                   INTEN          NILA
                                       BO                                   KET
O      TER             KELAS                   SITAS            I
                                        T
1    Batuan           Tufa dan          6        7             42          sedang
                      pasir
2    Muka air    >10 meter             7         7             49          Layak
     tanah
3    Kemiring         >20%             -         3              -          Tidak
     an lereng                                                             layak
4    Curah            0–               7         1              7          Layak
     hujan            1000mm


                       PARAMETER                                   BATAS TIDAK LAYAK
    Daerah rawan longsor                               Zona sedang
    Daerah bahaya letusan gunung api                   Tidak berada dalam kawasan
    Daerah bahaya banjir berkala                       Belum pernah dalam beberapa tahun
                                                       terakhir
    Jarak terhadap aliran sungai                       Dekat dengan bibir sungai ± 15 m dengan
                                                       jenis sungai intermitten
    Jarak terhadap permukiman                          Jauh dari permukiman
    Daerah lindung                                     Tidak pada daerah lindung
    Jarak terhadap jalan raya utama                    Lebih dari 150 m
                                         KELAYAKAN TPA SAMPAH

Kesimpulan Kelayakan TPA Bangklet

   System yang dipakai dalam pengolahan sampah di TPA ini adalah system sanitary landfiil. Dimana
    pengelolaan dengan konsep memperhatikan sanitasi lingkungan.
   Sistem pembuangan dan pemusnahan sampah dengan sistem landfill merupakan
    sistem yang paling sesuai untuk digunakan didaerah perkotaan, dimana jumlah dan fluktuasi sampah
    didaerah perkotaan cukup basar. Sistem landfill adalah menempatkan sampah pada suatu tempat
    yang rendah atau didalam tanah, kemudian menimbunnya. (Soewedo, 1983).
   TPA Regional di Banjar Bangklet, Desa Kayubihi Bangli ini memiliki luas 4,75 ha dan memiliki daya
    tampung 550 ribu m3.
   TPA Bangklet ini dalam sehari mampu menampung 80 hingga 100 meter kubik sampah dan
    diperkirakan dapat menampung sampai 15 tahun.
   Lokasi TPA terisolasi dan jauh dari pemukiman sehingga efek bau tidak berdampak kepada
    masyarakat
   Daerah sekitar sampah bukan daerah pertanian.
   Dari segi geologi tidak layak karena merupakan tanah Quarter vulkanik Buyan beratan batur dimana
    strukturnya berupa batuan tufa dan pasir yang memiliki sifat permeabel. Sehingga untuk mengatasi
    kendalanya digunakan teknologi yaitu dilapisi geotekstil (polimer kedap air). Dengan demikian air
    llindi tidak meresap ke dalam tanah
   Dilengkapi dengan IPAL (Instalansi Pengolahan Air Limbah: Bak Penanpung, Bak Pengendapan, Bak
    Aerator, Wetland dan kolam ikan).
   Sanitary landfill sudah dilengkapi dengan pipa untuk pengeluaran gas methane hal ini untuk
    mencegah ledakan/kebakaran karena akumulasi gas metan.

                             KELAYAKAN TPA SAMPAH
Rekomendasi

   Harus memiliki sumur kontrol di sekitar area TPA dan di pemukiman
    terdekat dengan TPA untuk mengetahui pengaruh pencemaran air lindi
    pada air tanah.
   Meningkatkan kualitas SDM para pekerja/operator di TPA untuk :
        Melakukan pemisahan sampah organik dan non organik karena di
    lapangan semua sampah yang ditimbun masih tercampur, perlu tenaga
    teknis khusus untuk memantau, mengawasi dan mengoperasikan
    IPAL, tenaga teknis penguji IPAL.
   Menambah daya listrik untuk pengoperasian aerator (Dari pengamatan
    lapangan aerator tidak berfungsi).
   Perlu sosialisasi secara rutin tentang pengolahan sampah yang
    berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle) kepada masyarakat Bangli
    khususnya dan Bali Umumya untuk mengurangi volume sampah yang
    masuk ke TPA Bangklet sehingga dapat memperpanjang umur TPA.
   Belum dikelolanya pemanfaatan gas methan dari sampah.
   Potensi pemanfaatan kompos organik masih belum dimaksimalkan.
                                       Keanekaragaman Geologi
                                              (GEODIVERSITY)
   Geodivesity atau keragaman geologi pada kawasan kaldera Gunung Batur singkapan
    batuan (rock outcrops) yang salah satunya adalah Ignimbrit.

   Ignimbrit di gunungapi Batur terbentuk melalui dua fase pembentukan kaldera, yaitu
    Kaldera Catur atau Kaldera Luar (29.300 tahun lampau) dan Kaldera Batur atau
    Kaldera Dalam (20.150 tahun lampau). Kaldera Catur menghasilkan Ignimbrit Ubud
    yang tersebar luas ke lereng bawah bagian selatan sejauh 90 km hingga mencapai
    Kota Denpasar sekarang. Ignimbrit Ubud terdiri atas beberapa aliran dominasi abu
    dasitis berwarna abu-abu cerah yang sebagian terelaskan (tidak terlalu keras).

   Kaldera Batur menghasilkan Ignimbrit Gunungkawi dan Batur. Ignimbrit Gunungkawi
    tersusun atas dua sub lapisan ignimbrit. Ignimbrit Gunungkawi bagian atas dicirikan
    oleh lapisan abu vulkanik berwarna coklat tua dan sebagian terelaskan (sebagian
    sangat padu dan keras), sedangkan ignimbrit bagian bawah tersusun atas lapisan
    batuapung. Ignimbrit Batur tersusun atas dua sub lapisan. Lapisan bagian atas
    tersusun atas batuapung yang tidak terelasakan (tidak padu), sedangkan bagian
    bawahnya merupakan ignimbrit berwarna abu-abu hingga kemerahan, terelaskan yang
    sangat keras dan padu.
                    ARAHAN PEMANFAATAN RUANG BERDASARKAN ASPEK
                                                  GEOLOGI LINGKUNGAN

STRATEGI yang dapat diterapkan pada Penataan Kawasan Kaldera Gunung Batur dapat
diuraikan sebagai berikut :

   Mengembangkan kawasan geopark sebagai penunjang sektor pariwisata di Kabupaten
    Bangli
   Mengembangkan kegiatan wisata dengan tetap memperhatikan zona kawasan rawan
    bencana
   Memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang
   Meningkatkan upaya pengenalan keunikan geologi gunung batur bagi wisatawan
   Menyusun Dokumen Rencana Zonasi kaldera Gunung Batur yang mengatur kawasan
    rawan bencara.
   Menetapkan Peraturan Daerah mengenai pemanfaatan ruang kawasan kaldera
    Gunung Batur
   Memberikan sosialisasi mengenai mitigasi bencana terutama pada masyarakat yang
    berada pada kawasan rawan bencana I, II atau III
   Merencanakan lahan yang dilengkapi dengan jaringan utilitas (air bersih dan sanitasi)
    untuk evakuasi masyarakat apabila terjadi bencana alam
   Merencanakan jalur evakuasi khusus untuk masyarakat apabila terjadi bencana alam
   Melakukan pemantauan dampak kegiatan wisata terhadap lingkungan fisik geologi
    sehingga kegiatan wisata tidak merusak/melampaui daya dukung lingkungan
       ARAHAN PEMANFAATAN RUANG BERDASARKAN ASPEK
                               GEOLOGI LINGKUNGAN

Perda No. 16 tahun 2009 tentang RTRW Provinsi Bali  KAWASAN
LINDUNG GEOLOGI

ARAHAN PEMANFAATAN RUANG KAWASAN LINDUNG :
 Pengembangan kawasan lindung diarahkan pada       kawasan
    rawan bencana (KRB) III dan KRB II, masuk dalam kawasan
    lindung rawan bencana alam geologi, terutama kawasan
    rawan letusan gunung api, kawasan rawan gempa bumi, dan
    kawasan rawan gerakan tanah. Pada kawasan ini tidak
    dapat dikembangkan untuk kawasan budidaya, terutama
    kawasan permukiman.
   Pembuatan jalur evakuasi di kawasan Kaldera Gunung
    Batur. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi masayarakat
    sekitar dan wisatawan dan melakukan wisata trekking
    khususnya yang sedang menikmati pemandangan alam
    pada kawasan ini.
              ARAHAN PEMANFAATAN RUANG BERDASARKAN ASPEK
                                 GEOLOGI LINGKUNGAN

arahan dalam pengembangan KAWASAN BUDIDAYA :

   Pengembangan budidaya diarahkan pada kawasan rawan
    bencana I dengan pengembangan permukiman terbatas
    dan bersyarat (memperhatikan ketentuan sempadan
    jurang, kerentanan gerakan tanah dan lain-lain).
   Pengembangan kegiatan pariwisata diarahkan pada
    semua zonasi kawasan ini, sedangkan untuk akomodasi
    wisata diarahkan pada luar kawasan rawan bencana.
   Pengembangan pariwisata Kaldera Gunung Batur
    menjadi Geopark perlu mendapat dukungan dari
    pemerintah dan masyarakat setempat, sehingga menjadi
    Kawasan Pariwisata yang berkelanjutan baik dari aspek
    ekonomi maupun dari aspek lingkungan dan geologi.
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG

                KRB III : KAWASAN LINDUNG




                  KRB II : KAWASAN
                           LINDUNG




                 KRB I : KAWASAN BUDIDAYA
                         BERSYARAT
                    KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN :
 Kawasan kaldera Gunung Batur mempunyai keunikan struktur
  geologi, sehingga dapat dikembangkan sebagai kawasan
  wisata Geopark.
 Pengembangan kawasan wisata khusus, dikembangkan pada
  zona KRB I, namun tetap menawarkan wisata treking pada
  KRB II dan III, dan tetap memperhatikan mitigasi bencana.

SARAN :
 Perlunya keterlibatan dari semua stakeholder untuk
  mewujudkan kawasan wisata Geopark.
 Perlunya rencana tata ruang, yang mengatur tentang arahan
  zonasi pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendalian ruang.
 Mengupayakan/mengurangi pertambangan pada kawasan
  lindung, dengan cara melibatkan masyarakat dalam kegiatan
  wisata Geopark.
sekian dan terima kasih

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:194
posted:8/18/2012
language:
pages:31
Description: PENATAAN DAERAH RAWAN GEOLOGI KALDERA GUNUNG BATUR, KINTAMANI, BANGLI