Docstoc

MAKALAH ANTROPOLOGI KESEHATAN

Document Sample
MAKALAH ANTROPOLOGI KESEHATAN Powered By Docstoc
					MAKALAH ANTROPOLOGI KESEHATAN

Diposkan oleh admin di 02:45 | Rabu, 18 Juli 2012 | 0 komentar
Label: Makalah, Makalah Antropologi, Makalah Kesehatan, Makalah Pendidikan, Makalah
Psikologi
                                            BAB I
                                     PENDAHULUAN
A.                                      Latar                                  Belakang
Pada zaman sekarang banyak sekali orang yang kekurangan gizi atau mengalami gizi
buruk. Masalah ini sangat meresahkan sekali, karena asupan gizi itu penting sekali bagi
kelangsungan hidup manusia. Dengan gizi yang baik, manusia dapat hidup sehat
karena dengan mengkonsumsi gizi yang baik dapat mencegah penyakit, meningkatkan
daya tahan tubuh sehingga bisa terhindar dari berbagai penyakit.

Kekurangan gizi ini bisa diakibatkan oleh panen yang gagal, kurangnya pengetahuan masyarakat
tentang gizi itu sendiri, dan bisa juga diakibatkan oleh kebiasaan-kebiasaan atau pantangan-
pantangan yang dianut atau dipercaya oleh suatu masyarakat, dimana tidak boleh memakan atau
mengkonsumsi suatu makanan yang justru mengandung banyak gizi.
Dengan adanya masalah ini memotivasi penulis untuk menyusun makalah yang berjudul
“HUBUNGAN ANTARA ANTROPOLOGI DENGAN GIZI”, untuk mengetahui secara lebih
mendalam kebiasaan-kebiasaan suatu masyarakat dalam hal makanan. Hal ini diharapkan dapat
memecahkan masalah atau setidaknya dapat memberikan pengetahuan kepada kita tentang
masalah kekurangan gizi ini supaya kita dapat memperbaiki tentang masalah gizi ini, sehingga
dapat meningkatkan derajat kesehatan orang banyak.
B.                                        Rumusan                                        Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka penulis dapat merumuskan
masalah           dalam          bentuk         pertanyaan         sebagai         berikut      :
1.         Apa            yang           dimaksud           dengan          antropologi        ?
2.           Apa             yang            dimaksud            dengan            gizi        ?
3.     Bagaimana            hubungan         antara      antropologi      dengan        gizi   ?
C.                                          Tujuan                                       Makalah
Makalah                ini             disusun             dengan              tujuan           :
1.              Untuk                mengetahui               pengertian              antropologi
2.                 Untuk                 mengetahui                 pengertian               gizi
3. Untuk mengetahui hubungan antara antropologi dengan gizi
D.                                        Kegunaan                                       Makalah
Dalam penyusunan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang
antropologi, gizi, dan hubungan antara keduanya agar dapat menigkatkan derajat
kesehatan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis, umumnya
bagi pembaca.
E.                                         Prosedur                                      Makalah
Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah metode deskriptif dan teknik kajian
pustaka.
                                               BAB II
                                          PEMBAHASAN
A.                                    Tinjauan                                        Teoritis
1.                                Pengertian                                     Antropologi
Antropologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk manusia dan
juga budayanya. Menurut Koentjaraningrat (1981 : 11) antropologi berarti “ilmu tentang
manusia.” Ilmu antropologi telah berkembang dengan luas, ruang lingkup dan batas
lapangan perhatiannya yang luas ini yang menyebabkan timbulnya paling sedikit 5
masalah                                                                           penelitian.
Koentjaraningrat (1981 : 12) mengemukakan tentang 5 masalah ini : masalah sejarah
asal dan perkembangan manusia secara biologi, masalah sejarah terjadinya aneka
warna makhluk manusia, dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya masalah sejarah asal,
perkembangan dan penyebaran aneka warna bahasa yang diucapkan manusia di
seluruh dunia. Masalah perkembangan, penyebaran, dan terjadinya aneka warna
kebudayaan manusia di seluruh dunia. Masalah mengenai azas-azas dari kebudayaan
manusia dalam kehidupan masyarakat dari semua suku bangsa yang tersebar di
seluruh                muka                  bumi                  masa                  kini.
Dengan melihat 5 masalah di atas, sudah dapat dipastikan terdapat ilmu-ilmu yang
terdapat dalam ilmu antropologi yang membahas tentang ke-5 masalah tersebut. Untuk
memecahkan suatu masalah sudah dapat dipastikan dibutuhkan beberapa penelitian
untuk mengetahui sumber masalah itu sendiri dan pemecahannya. Menurut Anderson
(2006 : 256) ahli antropologi melaksanakan penelitian mereka dengan cara eksplorasi
yang relatif tanpa struktur dan meliputi masalah-masalah yang sangat luas. Seorang
ahli antropologi tidak terlalu mempersoalkan untuk memisahkan antara masalah-
masalah penelitian yang kecil dan ketat yang dapat mereka kerjakan dengan disain-
disain penelitian yang dari segi estetika memuaskan, dengan masalah-masalah umum
yang luas, yang akan mengarahkan peneliti kepada banyak jalur penemuan.
Menurut Anderson (2006 : 257) pendekatan holistik antropologi terhadap interpretasi
atas bentuk-bentuk sosial dan budaya serta ketergantungan pokok pada observasi
partisipasi untuk mengumpulkan data dan menghasilkan hipotesis adalah hasil dari,
atau berkaitan erat dengan sampel umum dari penelitian antropologi. Akan tetapi
Anderson (2006 : 246) juga menyatakan antropologi tidak mencukupi diri dalam
menghasilkan hipotesis-hipotesis dan topik-topik penelitian baru. Kita (ahli antropologi)
didorong      oleh     data     dan      ide-ide     dari      berbagai      bidang      lain.
Terdapat macam-macam antropologi seperti antropologi fisik, antropologi budaya,
antropologi biologi antropologi sosial, antropologi kesehatan. Ilmu antropologi memberi
sumbangan bagi ilmu kesehatan. Anderson (2006 : 247) menyatakan bahwa kegunaan
antropologi bagi ilmu-ilmu kesehatan terletak dalam 3 kategori utama :
a. Ilmu antropologi memberikan suatu cara yang jelas dalam memandang masyarakat
secara     keseluruhan     maupun       para     anggota      individual     mereka.     Ilmu
antropologimenggunakan pendekatan yang menyeluruh atau bersifat sistem, dimana
peneliti secara tetap menanyakan, bagaimana seluruh bagian dari sistem itu saling
menyesuaikan            dan         bagaimana            sistem          itu         bekerja.
b. Ilmu antropologi memberikan suatu model yang secara operasional berguna untuk
menguraikan proses-proses perubahan sosial dan buaya dan juga untuk membantu
memahami keadaan dimana para warga dari “kelompok sasaran” melakukan respon
terhadap      kondisi    yang     berubah        dan     adanya       kesempatan        baru.
c. Ahli antropologi menawarkan kepada ilmu-ilmu kesehatan suatu metodologi
penelitian yang longgar dan efektif untuk menggali serangkaian masalah teoritis dan
praktis yang sangat luas, yang dihadapi dalam berbagai program kesehatan.
Begitu pula sebaliknya, menurut Anderson (2006 : 244) ilmu-ilmu kesehatan
menawarkan kepada ilmu antropologi berbagai bidang yang khusus, yang langsung
dapat dibandingkan dengan subjek-subjek tradisional seperti masyarakat rumpun dan
desa-desa.
Antropologi kesehatan merupakan bagian dari ilmu antropologi yang sangat penting
sekali, karena di dalam antropologi kesehatan diterangkan dengan jelas kaitan antara
manusia, budaya, dan kesehatan sehingga kita dapat mengetahui kaitan antara budaya
suatu      masyarakat         dengan        kesehatan        masyarakat      itu      sendiri.
Anderson (2006 : 3) menyatakan bahwa antropologi kesehatan adalah disiplin
biobudaya yang memberi perhatian kepada aspek-aspek biologis dan sosial budaya
dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi ntara keduanya di
sepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit.
Antropologi kesehatan ini tidak serta merta muncul dengan sendirinya, akan tetapi
antropologi kesehatan ini mempunyai akar. Anderson (2006 : 4) menyatakan
antropologi      kesehatan         kontemporer          mempunyai        4     sumber        :
a. Perhatian ahli antropologi fisik terhadap topik-topik seperti evolusi, adaptasi, anatomi,
komparatif,          tipe-tipe          ras          genetika,          dan         serologi.
b. Perhatian etnografi tradisional terhadap pengobatan primitif, termasuk ilmu sihir dan
magis.
c. Gerakan “kebudayaan dan kepribadian” pada akhir 1930-an dan 1940-an yang
merupakan        kerjasama        antara      ahli-ahli     psikiatri    dan     antropologi.
d. Gerakan kesehatan masyarakat internasional setelah perang dunia II.
Untuk menjadi seorang ahli antropologi kesehatan tidaklah mudah, dibutuhkan
pegalaman, naluri dalam menyikapi masalah, seperti yang dikatakan Anderson (2006 :
244), beliau menyatakan : untuk menjadi seorang ahli antropologi kesehatan,
seseorang memerukan dasar latihan antropologi ang baik, pengalaman penelitian,
naluri terhadap masalah, simpati terhadap orang lain, dan tentunya dapat memasuki
dunia kesehatan dan masyarakat kesehatan yang bersedia menerma kehadiran para
ahli antropologi itu. Untuk menjadi ahli antropologi kesehatan, selain yang sudah
disebutkan, seorang ahli antropologi kesehatan haruslah sabar dan teliti karena seperti
yang dikatakan Anderson (2006 : 246) beliau menyatakan : Para ahli antropologi harus
menjadi generalis, mencatat, dan menginterpretasikan data tentang geografi,
kebudayaan material, kehidupan ekonomi, organisasi sosial, religi, kesenian, foklor,
rekreasi, bahasa – segala sesuatu yang dilakukan manusia atau diingat pernah
dilakukan mereka. Akan tetapi semua ini tidaklah cukup seorang ahli antropologi harus
bisa mengetahui, memahami, dan juga menerangkan mengapa suatu sikap atau
tingkah laku di suatu masyarakat bisa terjadi.
2.                                       Pengertian                                      Gizi
Ilmu gizi merupakan salah satu ilmu terapan yang berkaitan dengan berbagai ilmu
dasar seperti ilmu kimia, biokimia, biologi, fisiologi, pathologi, ilmu pangan, dan lain-lain.
Lahirnya ilmu gizi diawali dengan penemuan tentang hal yang berkaitan dengan
penggunaan energi makanan meliputi proses pernapasan, oksidasi, dan kalorimetri.
Gizi merupakan zat yang sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Dan
untuk mengetahui tentang gizi ini kita harus lebih mendalam mempelajari tentang gizi.
Almatsier (2004 : 3) menyatakan ilmu gizi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu
tentang makanan dalam hubungannya dengan kesehatan optimal. Kata “gizi” berasal
dari bahasa Arab Ghidza, yang berarti “makanan”. Di satu sisi ilmu gizi berkaitan
dengan      makanan       dan     di     sisi     lain     dengan     tubuh      manusia.
Selain pendapat Almatsier, banyak juga yang berpendapat tentang ilmu gizi yang
dibahas         dalam        buku          FKM          UI       (2007         :        4).
a. Guthrie (1983), beliau menyatakan prinsip-prinsip gizi dasar adalah ilmu yang
mempelajari makanan, zat gizi, proses pencernan, metabolisme dan penyerapan dalam
tubuh, fungsi serta akibat kekurangan atau kelebihan zat gizi bagi tubuh.
b. Sediaoetama (1987), beliau menyatakan ilmu gizi adalah ilmu yang mempelajari hal
ikhwal      makanan        yang       dikaitkan        dengan      kesehatan       tubuh.
c. National Academy of Science (1994), ilmu gizi adalah ilmu yang mempelajari zat-zat
dari pangan yang bermanfaat bagi kesehatan dan proses yang terjadi pada pangan
sejak dikonsumsi, dicerna, diserap sampai dimanfaatkan tubuh, serta dampaknya
terhadap pertumbuhan, perkembangan, dan kelangsungan hidup manusia serta faktor
yang                                                                  mempengaruhinya.
Dengan melihat pengertian ilmu gizi di atas, sudah dapat dipastikan gizi merupakan zat
gizi atau makanan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan kita. Menurut Almatsier
(2004 : 3) zat gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan
fungsinya yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta
mengatur proses-proses jaringan. Dengan demikian, apabila kita memilih makanan
sehari-hari kita harus memilih dengan baik karena makanan yang baik dapat
memberikan semua zat gizi yang dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh. Jadi apabila
kita memilih makanan, kita harus memilih makanan yang mengandung zat gizi yang
berfungsi seperti yang dikatakan Anderson (2006 : 8). Beliau menyatakan bahwa :
a. Memberi energi : zat-zat gizi yang dapat memberikan energi adalah karbohidrat,
lemak, dan protein. Oksidasi zat-zat gizi ini menghasilkan energi yang diperlukan tubuh
untuk                           melakukan                               kegiatan/aktivitas.
b. Pertumbuhan dan pemelihara jaringan tubuh : protein, mineral, dan air adalah bagian
dari jaringan tubuh. Oleh karena itu, diperlukan untuk membentuk sel-sel baru,
memelihara,          dan         mengganti             sel-sel       yang          rusak.
c. Mengatur proses tubuh : protein, mineral, air, dan vitamin diperlukan untuk mengatur
proses tubuh. Protein mengatur keseimbangan air di dalam sel, bertindak sebagai
buffer dalam upaya memelihara netralitas tubuh dan membentuk antibodi sebagai
pangkal organisme yang bersifat infektif dan bahan-bahan asing yang dapat masuk ke
dalam                                                                              tubuh.
Setelah mengetahui betapa pentingnya gizi bagi kesehatan atau fungsi tubuh kita,
maka kita harus senantiasa menjaga agar jangan sampai kita ini kekurangan ataupun
kelebihan gizi, karena akan berbahaya. Menurut Almatsier (2004 : 9) bahwa gangguan
gizi disebabkan oleh faktor primer dan sekunder. Faktor primer adalah bila susunan
makanan seseorang salah dalam kuantitas dan atau kualitas yang disebabkan oleh
kurangnya penyediaan pangan, kurang baiknya distribusi pangan, kemiskinan,
ketidaktahuan, kebiasaan makan yang salah, dan sebagainya. Faktor sekunder meliputi
semua faktor yang menyebabkan zat-zat gizi tidak sampai di sel-sel tubuh setelah
makanan dikonsumsi.
3.           Hubungan         antara         Antropologi         dengan          Gizi
Dari empat bilyun manusia di dunia, ratusan juta orang menderita gizi buruk dan
kekurangan gizi. Angka yang tepat tidak ada, tidak ada sensus mengenai kelaparan
dan perbedaan antara gizi cukup dan gizi kurang merupakan jalur yang lebar, bukan
suatu garis yang jelas. Apapun tolok ukur kita, kelaparan (dan sering mati kelaparan)
merupakan hambatan yang paling besar bagi perbaikan kesehatan di sebagian terbesar
negara-negara di dunia. Kekurangan gizi menurunkan daya tahan tubuh terhadap
infeksi, menyebabkan banyak penyakit kronis, dan menyebabkan orang tidak mungkin
melakukan kerja keras. Kekurangan gizi ini selain dari ketidakmampuan negara-negra
non industri untuk menghasilkan cukup makanan untuk memenuhi kebutuhan penduduk
mereka yang berkembang, juga muncul karena kepercayaan-kepercayaan keliru yang
terdapat di mana-mana, mengenai hubungan antara makanan dan kesehatan, dan juga
tergantung pada kepercayaan-kepercayaan, pantangan-pantangan dan upacara-
upacara, yang mencegah orang memanfaatkan sebaik-baiknya makanan yang tersedia
bagi mereka. Anderson (2006 : 311) menyatakan karena pengakuan bahwa masalah
gizi di seluruh dunia didasarkan atas bentuk-bentuk budaya maupun karena kurang
berhasilnya pertanian, maka semua organisasi pengembangan internasional maupun
nasional yang utama menaruh perhatian tidak semata-mata pada pertambahan
produksi makanan, melainkan juga pada kebiasaan makanan tradisional yang berubah,
untuk mencapa keuntungan maksimal dari gizi yang diperoleh dari makanan yang
tersedia.
Karena kebiasaan makan hanya dapat dimengerti dalam konteks budaya yang
menyeluruh, maka program-program pendidikan gizi yang efektif yang mungin menuju
kepada perbaikan kebiasaan makan harus didasarkan atas pengertian tentang
makanan sebagai suatu pranata sosial yang memenuhi banyak fungsi. Studi mengenai
makanan dalam konteks budayanya yang menunjuk kepada masalah-masalah yang
praktis ini, jelas merupakan suatu peranan para ahli antropologi yang sejak pertama
dalam penelitian lapangannya telah mengumpulkan keterangan tentang praktek-praktek
makan dan kepercayaan tentang makanan dari penduduk yang mereka observasi.
Dalam buku karya Anderson (2006 : 312), Norge Jerome menyatakan bahwa
“Antropologi Gizi” meliputi disiplin ilmu tentang gizi dan antropologi. Bidang itu
memperhatikan gejala-gejala antropologi yang mengganggu status gizi dari manusia.
Dengan demikian, evolusi manusia, sejarah dan kebudayaan, dan adaptasinya kepada
variabel gizi yang berubah-ubah dalam kondisi lingkungan yang beraneka ragam
menggambarkan bahan-bahan yang merupakan titik perhatian dalam antropologi gizi.
Menurut Anderson (2006 : 312) ada dua aspek penting dari antropologi gizi :
a. Sifat sosial, budaya, dan psikologis dari makanan (yaitu peranan-peranan sosial
budaya dari makanan yang berbeda dengan peranan-peranan gizinya).
b. Cara-cara dimana dimensi-dimensi sosial budaya dan psikologi dari makanan
berkaitan dengan masalah gizi yang cukup, terutama dalam masyarakat-masyarakat
tradisional.
Menurut Anderson (2006 : 313) menyatakan bahwa para ahli antropologi memandang
kebiasaan makan sebagai suatu kompleks kegiatan masak-memasak, masalah
kesukaran dan ketidaksukaran, kearifan rakyat, kepercayaan-kepercayaan, pantangan-
pantangan, dan takhayul-takhayul yang berkaitan dengan produksi, persiapan, dan
konsumsi makanan. Pendeknya, sebagai suatu kategori budaya yang penting, ahli-ahli
antropologi melihat makanan mempengaruhi dan berkaitan dengan banyak kategori
budaya                                                                        lainnya.
Setelah mengetahui betapa kuatnya kepercayaan-kepercayaan kita atau suatu
masyarakat mengenai apa yang dianggap makanan dan apa yang dianggap bukan
makanan, sehingga terbukti sangat sukar untuk meyakinkan orang untuk menyesuaikan
makanan tradisional mereka demi kepentingan gizi yang baik. Karena pantangan
agama, takhayul, kepercayaan tentang kesehatan, dan suatu peristiwa yang kebetulan
dalam sejarah ada bahan-bahan yang bergizi baik yang tidak boleh dimakan, mereka
diklasifikasikan sebagai “bukan makanan”. Dengan kata lain, penting untuk
membedakan antara nutrimen dengan makanan. Anderson (2006 : 313) menyatakan
bahwa nutrimen adalah suatu konsep biokimia, suatu zat yang mampu untuk
memelihara dan menjaga kesehatan organisme yang menelannya. Makanan adalah
suatu konsep budaya, suaty pernyataan yang sesungguhnya mengatakan “zat ini
sesuai               bagi              kebutuhan                gizi             kita.”
Dalam kebudayaan bukan hanya makanan saja yang dibatasi atau diatur, akan tetapi
konsep tentang makanan, kapan dimakannya, terdiri dri apa dan etiket makan. Di
antara masyarakat yang cukup makanan, kebudayaan mereka mendikte, kapan mereka
merasa lapar dan apa, serta berapa banyak mereka harus makan agar memuaskan
rasa lapar. Jadi dengan demikian, nafsu makan lapar adalah suatu gejala yang
berhubungan namun berbeda. Anderson (2006 : 315) menyatakan nafsu makan, dan
apa yang diperlukan untuk memuaskan adalah suatu konsep budaya yang dapat
sangat berbeda antara suatu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya. Sebaliknya,
lapar menggambarkan suatu kekurangan gizi yang dasar dan merupakan suatu konsep
fisiologis.
Makanan selain penting bagi kelangsungan hidup kita, juga penting bagi pergaulan
sosial. Anderson (2006 : 317) menyatakan tentang simbolik dari makanan :
a.           Makanan         sebagai         ungkapan             ikatan        sosial
Barangkali di setiap masyarakat, menawarkan makanan (dan kadang-kadang
minuman) adalah menawarkan kasih sayang, perhatian, dan persahabatan. Menerima
makanan yang ditawarkan adalah mengakui dan menerima perasaan yang
diungkapkan                  dan                 untuk                   membalasnya.
b.      Makanan      sebagai     ungkapan     dari      kesetiakawanan      kelompok
Makanan sering dihargai sebagai lambang-lambang identitas suatu bangsa atau
nasional. Namun tidak semua makanan mempunyai nilai lambang seperti ini, makanan
yang mempunyai dampak yang besar adalah makanan yang berasal atau dianggap
berasal dari kelompok itu sendiri dan bkan yang biasanya dimakan di banyak negara
yang      berlainan    atau   juga    dimakan     oleh    banyak       suku  bangsa.
c.                       Makanan                       dan                       stres
Makanan memberi rasa ketenteraman dalam keadaan-keadaan yang menyebabkan
stres. Burgess dan Dean menyatakan bahwa sikap-sikap terhadap makanan sering
mencerminkan persepsi tentang bahaya maupun perasaan stres. Menurut mereka,
suatu cara untuk mengatasi stres ini dari dalam, sehubungan dengan ancaman
terhadap jiwa atau terhadap keamanan emosional adalah melebih-lebihkan bahaya dari
luar, cara lainnya adalah mempersalahkan ancaman dari dalam akibat pengaruh-
pengaruh                                                                          luar.
d.              Simbolisme            makanan               dalam              bahasa
Pada tingkatan yang berbeda, bahasa mencerminkan hubungan-hubungan psikologis
yang sangat dalam di antara makanan, persepsi kepribadian, dan keadaan emosional.
Dalam bahasa Inggris, yang pada ukuran tertentu mungkin tidak tertandingi oleh
bahasa lain, kata-kata sifat dasar yang biasa digunakan untuk menggambarkan
kualitas-kualitas makanan digunakan juga untuk menggambarkan kualitas-kualitas
manusia.
Setelah mengetahui betapa rumit masalah yang berhubungan dengan gizi ini ataupun
makanan karena berkaitan dengan kebudayaan masyarakat yang berbeda-beda, maka
salah satu cara adalah dengan memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang
apa yang sering belum dipelajari oleh masyarakat rumpun maupun masyarakat
pedesaan adalah hubungan antara makanan dan kesehatan serta antara makanan
yang baik dengan kehamilan, juga kebutuhan-kebutuhan akan makanan khusus bagi
anak setelah penyapihan. Anderson (2006 : 323) menyatakan bahwa dalam
perencanaan kesehatan, masalahnya tidak terbatas pada pencarian cara-cara untuk
menyelesaikan lebih banyak bahan makanan, melainkan harus pula dicarikan cara-cara
untuk memastikan bahwa bahan-bahan makanan yang tersedia digunakan secara
efektif.
Kesenjangan yang besar dalam pemahaman tentang bagaimana makanan itu
digunakan dengan sebaik-baiknya. Barangkali yang terpenting dari kesenjangan itu
adalah kegagalan yang berulangkali terjadi untuk mengenal hubungan yang pasti
antara makanan dan kesehatan. Susunan makanan yang cukup cenderung ditafsirkan
dalam rangka kuantitas, bukan kualitasnya mengenai makanan yang pokok, yang
cukup, bukan pula dari keseimbangannya dalam hal berbagai makanan. Kesenjangan
besar yang kedua dalam kearifan makanan tradisional pada masyarakat rumpun dan
masyarakat petani adalah seringnya kegagalan mereka untuk mengenali bahwa anak-
anak mempunyai kebutuhan-kebutuhan gizi khusus, baik sebelum maupun sesudah
penyapihan.
Penemuan Burgess dan Dean tentang masalah gizi karena perubahan budaya dalam
buku karya Anderson (2006 : 325) menggambarkan aturan yang umum. Meskipun
terdapat suatu kecenderungan umum bahwa makanan menjadi lebih baik dengan
bertambahnya penghasilan. Kebalikannya, makanan juga bisa lebih buruk terutama
dalam perubahan dari ekonomi sub sistem menjadi ekonomi uang. Dan Marchione yang
berpendapat tentang masalah gizi karena perubahan budaya. Beliau menemukan
masalah kekurangan gizi pada rumah tangga-rumah tangga di desa yang lebih miskin,
yang hidupnya berorientasi pada pertanian setengah sub sistem, menurun secara
menyolok terutama di atara anak-anak. Bahwa suatu peningkatan dalam pertanian sub
sistem sebagian besar atau seluruhnya menjelaskan perbaikan ini, hal itu dibuktikan
oleh angka-angka kekurangan gizi di perkotaan, yang tetap konstan karena perubahan
yang         berarti      dalam       hal      pola      penyediaan          makanan.
Setelah mengetahui keterkaitan atau hubungan antara gizi atau makanan dengan
antropologi atau kebudayaan, bagi kita yang menaruh perhatian pada usaha
memperbaiki tingkatan gizi dari masyarakat yang menderita kurang gizi, jelaslah bahwa
analisis klinis dari kekurangan gizi baru merupakan langkah awal. Kemajuan akan
sedikit sekali tercapai, kecuali apabila petugas penyuluhan juga memahami fungsi-
fungsi sosial dari makanan, arti simbolik, dan kepercayaan yang terkait dengannya.
Pengetahuan mengenai kepercayaan lokal tersebut dapat dipakai dalam perencanaan
perbaikan gizi. Dalam buku Anderson (2006 : 330) Cassel telah menunjukkan netapa
pengidentifikasian makanan-makanan sehat dalam makanan kuno orang Zulu dapat
membangkitkan perhatian mereka terhadap makanan dan dengan motivasi nasionalistik
bersedia menerima banyak perubahan-perubahan demi peningkatan gizi mereka.
Kemiskinan dan kekurangan akan gizi yang memadai pada tingkatan tertentu
membatasi kemungkinan untuk memperbaiki gizi jutaan penduduk yang menderita
kurang pangan. Sebaliknya, sungguh mengecewakan untuk melihat bahwa betapa
seringnya praktek-praktek budaya menimbulkan kekurangan kebutuhan dasar.
Kesadaran akan praktek-praktek demikian dan pengetahuan tentang “hambatan-
hambatan” yang harus diatasi untuk dapat merubah mereka adalah sangat penting
untuk membantu masyarakat memaksimalkan sumber-sumber pangan yang tersedia
bagi mereka. Di sinilah antropologi memberikan sumbangan besar kepada ilmu gizi
dalam lapangan penelitian dan pengajaran.
B.                                                                     Pembahasan
Antropologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu yang berkaitan
dengan manusia dan budayanya, dan di dalam antropologi juga diterangkan tentang
antropologi kesehatan yang menerangkan tentang hubungan manusia, budaya, dan
kesehatan. Di dalam antropologi kesehatan ini diterangkan dengan lebih jelas tentang
tingkah laku manusia yang mempengaruhi kesehatannya dikarenakan budayanya. Gizi
merupakan zat yang terdapat di dalam makanan yang sangat penting bagi
kelangsungan hidup. Dengan mengkonsumsi gizi seseorang dapat tumbuh dengan baik
karena zat gizi ini dapat memberikan zat-zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh
sehingga          tubuh         dapat        terpelihara       dengan           baik.
Setelah mengetahui tentang antropologi dan gizi, maka sedikit banyak kita dapat
melihat hubungan antara antropologi dengan gizi. Hubungan antropologi dengan gizi ini
sangat kuat sekali atau sangart erat. Seseorang atau suatu kelompok masyarakat
mengalami gizi buruk atau kekurangan gizi bukann hanya karena masalah ekonomi,
akan tetapi bisa juga diakibatkan oleh kepercayaan atau budaya seseorang. Banyak
sekali terdapat suatu kelompok masyarakat yang mengalami gizi buruk dikarenakan
mereka percaya kepada kepercayaan atau kebudayaan mereka. Mereka mengalami
gizi buruk karena mereka tidak mau memakan makanan yang seharusnya mereka
makan yang jelas mengandung banyak gizi dikarenakan mereka mempercayai bahwa
makanan tersebut tidak boleh dimakan ataupun kebudayaan mereka melarang mereka
untuk mengkonsumsi makanan tersebut. Hal ini tentu saja sangat mengecewakan
karena banyak sekali kelompok masyarakat yang kekurangan gizi karena tidak bisa
mendapatkannya karena masalah ekonomi. Akan tetapi ada suatu kelompok
masyarakat yang mampu untuk mendapatkan makanan tersebut namun mereka tidak
mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Hal ini menyebabkan banyaknya suatu
kelompok masyarakat yang kekurangan gizi, padahal dalam kelompok masyarakat itu
terdapat      cukup      banyak       makanan        yang    mengandung          gizi.
Setelah mengetahui hubungan antara antropologi dengan gizi, maka kita sebagai
penyuluh kesehatan penting sekali bagi kita untuk mempelajari antropologi atau
kebudayaan penduduk setempat yang akan diberi penyuluhan. Dengan mempelajari
antropologi akan memudahkan kita untuk meningkatkan derajat kesehatan, karena
kalaun kita sebelum memberikan penyuluhan kita mempelajari kepercayaan-
kepercayaan atau kebudayaan penduduk setempat akan memudahkan kita untuk
memberikan penyuluhan karena kita sudah mengetahui seluk beluk masyarakat
tersebut. Dengan ilmu antropologi kita akan mengetahui bagaimana menangani
masalah kesehatan atau kekurangan gizi suatu masyarakat. Dengan ilmu ini kita dapat
meyakinkan masyarakat tentang pentingnya kesehatan ini dan betapa pentingnya
makanan yang mengandung gizi untuk tubuh kita, ataupun kita bisa memberikan
alternatif      lain       yaitu       dengan        cara       kita       memberikan
penyuluhan dengan cara menyarankan kepada masyarakat untuk mengkonsumsi
makanan yang mengandung banyak gizi yang tidak bertentangan dengan kebudayaan
mereka. Agar apa yang kita usahakan tidak sia-sia karena tidak mungkin atau kecil
sekali kemungkinan kita dapat memperbaiki gizi syatu daerahkalau apa yang kita
sarankan itu bertentangan dengan kebudayaan mereka. Akan sulit sekali kita merubah
perilaku seseorang yang diakibatkan oleh budaya, hal itu akan memakan atau
membutuhkan proses yang lama dan panjang.
                                        BAB III
                                SIMPULAN DAN SARAN
A.                                                                            Simpulan
1. Antropologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk manusia dengan
budayanya, atau juga berarti ilmu tentang manusia. Dalam antropologi diterangkan
bagaimana hubungan manusia dengan budayanya dan apa pengaruhnya. Cakupan
ilmu antropologi itu luas sekali, salah satunya antropologi kesehatan yang
menerangkan tentang manusia, budaya, dan kesehatan sehingga kita dapat
mengetahui kaitan antara budaya suatu masyarakat dengan kesehatan masyarakat itu
sendiri.
2. Gizi merupakan zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Ilmu gizi sendiri adalah
ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan dalam hubungannya dengan
kesehatan optimal. Gizi itu sangat penting sekali bagi kelangsungan hidup kita. Apabila
gizi kita terpenuhi, maka kita akan terhindar dari berbagai penyakit karena kita
mempunyai                        tubuh                   yang                    sehat.
3. Hubungan antara antropologi dengan gizi itu sangat erat sekali, karena banyak sekali
orang yang kekurangan gizi yang bukan diakibatkan oleh masalah ekonomi, akan tetapi
diakibatkan oleh kepercayaan atau kebudayaan mereka yang melarang memakan
makanan yang sebenarnya mengandung banyak gizi. Hal ini menimbulkan sesuatu
yang sangat mengecewakan. Di satu sisi terdapat masyarakat yang kekurangan gizi
karena mereka tidak bisa mendapatkannya karena masalah ekonomi, di sisi lain
terdapat masyarakat yang kekurangan gizi akibat kebudayaan mereka tidak
mengizinkan atau melarang mereka memakan makanan tersebut yang seharusnya
dipergunakan dengan sebaik-baiknya karena makanan tersebut sangat bermanfaat
bagi mereka.
B.                                                                               Saran
Setelah membaca makalah ini, penulis berharap pembaca lebih mendapatkan
pengetahuan tentang hubungan antara antropologi dengan gizi, sehingga pembaca
dapat mengetahui tentang pentingnya gizi dan pengaruh antropologi terhadap gizi suatu
masyarakat, sehingga pembaca mendapatka pengetahuan tentang cara-cara
meningkatkan derajat kesehatan. Akhirnya, semoga penyusunan makalah ini dapat
bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.
                                   DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. (2004). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Anderson, Foster. (2006). Antropologi Kesehatan. Jakarta : UI Press.
FKM UI. (2007). Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:325
posted:8/16/2012
language:Malay
pages:10