Docstoc

diagnosis anak kejang demam

Document Sample
diagnosis anak kejang demam Powered By Docstoc
					                                    BAB 1
                                PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
             Anak merupakan hal yang penting artinya bagi sebuah keluarga. Selain
    sebagai penerus keturunan, anak pada akhirnya juga sebagai generasi penerus
    bangsa. Oleh karena itu tidak satupun orang tua yang menginginkan anaknya
    jatuh sakit, lebih-lebih bila anaknya mengalami kejang demam.
             Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering
    dijumpai pada anak. Bangkitan kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu
    tubuh (suhu rektal di atas 38oC) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium.
    Penyebab demam terbanyak adalah infeksi saluran pernapasan bagian atas
    disusul infeksi saluran pencernaan. (Ngastiyah, 1997; 229).
             Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak umur 6
    bulan sampai 4 tahun. Hampir 3 % dari anak yang berumur di bawah 5 tahun
    pernah menderita kejang demam. Kejang demam lebih sering didapatkan pada
    laki-laki daripada perempuan. Hal tersebut disebabkan karena pada wanita
    didapatkan maturasi serebral yang lebih cepat dibandingkan laki-laki. (ME.
    Sumijati, 2000;72-73)
             Berdasarkan laporan dari daftar diagnosa dari lab./SMF Ilmu Kesehatan
    Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya didapatkan data adanya peningkatan insiden
    kejang demam. Pada tahun 1999 ditemukan pasien kejang demam sebanyak 83
    orang dan tidak didapatkan angka kematian (0 %). Pada tahun 2000 ditemukan
    pasien kejang demam 132 orang dan tidak didapatkan angka kematian (0 %).
    Dari data di atas menunjukkan adanya peningkatan insiden kejadian sebesar
    37%.
             Bangkitan kejang berulang atau kejang yang lama akan mengakibatkan
    kerusakan sel-sel otak kurang menyenangkan di kemudian hari, terutama adanya
    cacat baik secara fisik, mental atau sosial yang mengganggu pertumbuhan dan
    perkembangan anak. (Iskandar Wahidiyah, 1985 : 858) .
             Kejang demam merupakan kedaruratan medis yang memerlukan
    pertolongan segera. Diagnosa secara dini serta pengelolaan yang tepat sangat
    diperlukan untuk menghindari cacat yang lebih parah, yang diakibatkan
    bangkitan kejang yang sering. Untuk itu tenaga perawat/paramedis dituntut untuk
    berperan aktif dalam mengatasi keadaan tersebut serta mampu memberikan
    asuhan keperawatan kepada keluarga dan penderita, yang meliputi aspek
    promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif secara terpadu dan
    berkesinambungan serta memandang klien sebagai satu kesatuan yang utuh
    secara bio-psiko-sosial-spiritual. Prioritas asuhan keperawatan pada kejang
    demam adalah : Mencegah/mengendalikan aktivitas kejang, melindungi pasien
    dari trauma, mempertahankan jalan napas, meningkatkan harga diri yang positif,
    memberikan informasi kepada keluarga tentang proses penyakit, prognosis dan
    kebutuhan penanganannya. (I Made Kariasa, 1999; 262).
                 Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, penulis tertarik membuat karya
       tulis dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Anak “A” dengan Kejang
       Demam di Ruang Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya”.




DOKUMEN : SUBHAN PSIK FK UNAIR SURABAYA ANGKATAN III
                                   BAB 2
                             TINJAUAN PUSTAKA

2.1     Batasan/Pengertian
                 Batasan/pengetahuan dari karya tulis dengan judul “Asuhan
        Keperawatan pada Anak “ A” dengan Kejang Demam meliputi :
2.1.1   Asuhan adalah bantuan yang dilakukan bidan kepada individu, pasien atau
        kliennya (Santoso. NI, 1989 : 3)
2.1.2   Keperawatan adalah suatu pelayanan kesehatan profesional berdasarkan ilmu
        dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial spiritual yang
        komprehensip yang ditujukkan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik
        yang sakit maupun yang sehat (Santosa. NI, 1989 : 1)
2.1.3   Asuhan keperawatan adalah metode pemberian pelayanan keperawatan
        kepada pasien / klien (individu, keluarga, kelompok dan masyarakat) yang
        logis, sistematis, dinamis dan teratur (Santosa. NI, 1989 : 151)
2.1.4   Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada saat suhu
        meningkat disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. (Darto suharso, 1994:
        148).

2.2     Konsep Kejang Demam

2.2.1    Pengertian
                 Kejang demam atau febrile convulsion ialah bangkitan kejang yang
         terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38oC) yang disebabkan
         oleh proses ekstrakranium (Ngastiyah, 1997:229).

2.2.2    Etiologi
                 Bangkitan kejang pada bayi dan anak disebabkan oleh kenaikan suhu
         badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi diluar susunan
         syaraf pusat misalnya : tonsilitis ostitis media akut, bronchitis, dll

2.2.3    Patofisiologi
                 Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi
         dipecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari
         permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam
         keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion
         kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na+) dan elektrolit
         lainnya, kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi ion K+ dalam sel
         neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedang di luar sel neuron terdapat
         keadaan sebalikya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan
         di luar sel, maka terdapat perbedaan potensial membran yang disebut
         potensial membran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial
         membran diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K ATP-ase yang
         terdapat pada permukaan sel.
        Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh :
2.2.3.1 Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraselular
2.2.3.2 Rangsangan yang datang mendadak misalnya mekanisme, kimiawi atau
        aliran listrik dari sekitarnya
2.2.3.3 Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau
        keturunan
                 Pada keadaan demam kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan
        kenaikan metabolisme basal 10-15 % dan kebutuhan oksigen akan
        meningkat 20%. Pada anak 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65 % dari
        seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15 %. Oleh
        karena itu kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari



DOKUMEN : SUBHAN PSIK FK UNAIR SURABAYA ANGKATAN III
          membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion
          kalium maupun ion natrium akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas
          muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel
          maupun ke membran sel sekitarnya dengan bantuan “neurotransmitter” dan
          terjadi kejang. Kejang demam yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit)
          biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk
          kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis
          laktat disebabkan oleh metabolisme anerobik, hipotensi artenal disertai
          denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh meningkat yang
          disebabkan makin meningkatnya aktifitas otot dan mengakibatkan
          metabolisme otak meningkat.

2.2.4    Prognosa
                 Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat prognosisnya baik
        dan tidak perlu menyebabkan kematian, resiko seorang anak sesudah
        menderita kejang demam tergantung faktor :
2.2.4.1 Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga
2.2.4.2 Kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf sebelum anak menderita
        kejang
2.2.4.3 Kejang yang berlangsung lama atau kejang fokal
                Bila terdapat paling sedikit 2 dari 3 faktor tersebut di atas, di
        kemudian hari akan mengalami serangan kejang tanpa demam sekitar 13 %,
        dibanding bila hanya terdapat satu atau tidak sama sekali faktor tersebut,
        serangan kejang tanpa demam 2%-3% saja (“Consensus Statement on
        Febrile Seizures 1981”).

2.2.5     Manifestasi Klinik
                   Serangan kejang biasanya terjadi 24 jam pertama sewaktu demam,
          berlangsung singkat dengan sifat bangkitan kejang dapat berbentuk tonik-
          klonik, tonik, klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri.
          Begitu kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun sejenak tapi
          setelah beberapa detik atau menit anak akan sadar tanpa ada kelainan saraf.
                   Di Subbagian Anak FKUI RSCM Jakarta, kriteria Livingstone
          dipakai sebagai pedoman membuat diagnosis kejang demam sederhana,
          yaitu :

2.2.5.1 Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun
2.2.5.2 Kejang berlangsung tidak lebih dari 15 menit
2.2.5.3 Kejang bersifat umum
2.2.5.4 Kejang timbul dalam 16 jam pertamam setelah timbulnya demam
2.2.5.5 Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
2.2.5.6 Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya satu minggu sesudah suhu normal
        tidak menunjukkan kelainan
2.2.5.7 Frekuensi kejang bangkitan dalam satu tahun tidak melebihi empat kali

2.2.6   Penatalaksanaan Medik
                  Dalam penaggulangan kejang demam ada 4 faktor yang perlu
        dikerjakan, yaitu :
2.2.6.1 Pemberantasan kejang secepat mungkin
        Pemberantasan kejang di Sub bagian Saraf Anak, Bagian Ilmu Kesehatan
        Anak FKUI sebagai berikut :
        Apabila seorang anak datang dalam keadaan kejang, maka :
        1. Segera diberikan diazepam intravena         dosis rata-rata 0,3 mg/kg
           Atau
           diazepam rectal                              dosis  10 kg : 5 mg


DOKUMEN : SUBHAN PSIK FK UNAIR SURABAYA ANGKATAN III
              bila kejang tidak berhenti                  ≥ 10 kg : 10 mg
              tunggu 15 menit

           dapat diulang dengan cara/dosis yang sama
              kejang berhenti

            berikan dosis awal fenobarbital
            dosis : neonatus      : 30 mg I.M
              1 bulan – 1 tahun : 50 mg I.M
               1 tahun           : 75 mg I.M
       2. Bila diazepam tidak tersedia, langsung memakai fenobarbital dengan
            dosis awal dan selanjutnya diteruskan dengan dosis rumat.
2.2.6.2 Pengobatan penunjang
        Pengobatan penunjang saat serangan kejang adalah :
          1. Semua pakaian ketat dibuka
          2. Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung
          3. Usahakan agar jalan napas bebasuntuk menjamin kebutuhan oksigen
          4. Pengisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan diberikan oksigen
2.2.6.3 Pengobatan rumat
        Fenobarbital dosis maintenance : 8-10 mg/kg BB dibagi 2 dosis pada hari
        pertama, kedua diteruskan 4-5 mg/kg BB dibagi 2 dosis pada hari berikutnya.
2.2.6.4 Mencari dan mengobati penyebab
        Penyebab kejang demam adalah infeksi respiratorius bagian atas dan astitis
        media akut. Pemberian antibiotik yang adekuat untuk mengobati penyakit
        tersebut. Pada pasien yang diketahui kejang lama pemeriksaan lebih intensif
        seperti fungsi lumbal, kalium, magnesium, kalsium, natrium dan faal hati.
        Bila perlu rontgen foto tengkorak, EEG, ensefalografi, dll.

2.3     Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Kejang Demam
             Langkah-langkah dalam proses keperawatan ini meliputi :

2.3.1   Pengkajian
        Pengkajian adalah pendekatan sistemik untuk mengumpulkan data dan
        menganalisa, sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan pasien tersebut.
        (Santosa. NI, 1989, 154)
        Langkah-langkah dalam pengkajian meliputi pengumpulan data, analisa dan
        sintesa data serta perumusan diagnosa keperawatan. Pengumpulan data akan
        menentukan kebutuhan dan masalah kesehatan atau keperawatan yang
        meliputi kebutuhan fisik, psikososial dan lingkungan pasien. Sumber data
        didapatkan dari pasien, keluarga, teman, team kesehatan lain, catatan pasien
        dan hasil pemeriksaan laboratorium. Metode pengumpulan data melalui
        observasi (yaitu dengan cara inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi),
        wawancara (yaitu berupa percakapan untuk memperoleh data yang
        diperlukan), catatan (berupa catatan klinik, dokumen yang baru maupun yang
        lama), literatur (mencakup semua materi, buku-buku, masalah dan surat
        kabar).
        Pengumpulan data pada kasus kejang demam ini meliputi :

2.3.1.1 Data subyektif
        1. Biodata/Identitas
           Biodata anak mencakup nama, umur, jenis kelamin.
           Biodata orang tua perlu dipertanyakan untuk mengetahui status sosial
           anak meliputi nama, umur, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan,
           penghasilan, alamat.
        2. Riwayat Penyakit (Darto Suharso, 2000)


DOKUMEN : SUBHAN PSIK FK UNAIR SURABAYA ANGKATAN III
        Riwayat penyakit yang diderita sekarang tanpa kejang ditanyakan :
        Apakah betul ada kejang ?
        Diharapkan ibu atau keluarga yang mengantar dianjurkan menirukan
        gerakan kejang si anak
        Apakah disertai demam ?
        Dengan mengetahui ada tidaknya demam yang menyertai kejang, maka
        diketahui apakah infeksi infeksi memegang peranan dalam terjadinya
        bangkitan kejang. Jarak antara timbulnya kejang dengan demam..
        Lama serangan
        Seorang ibu yang anaknya mengalami kejang merasakan waktu
        berlangsung lama. Lama bangkitan kejang kita dapat mengetahui
        kemungkinan respon terhadap prognosa dan pengobatan.
        Pola serangan
        Perlu diusahakan agar diperoleh gambaran lengkap mengenai pola
        serangan apakah bersifat umum, fokal, tonik, klonik ?
        Apakah serangan berupa kontraksi sejenak tanpa hilang kesadaran seperti
        epilepsi mioklonik ?
        Apakah serangan berupa tonus otot hilang sejenak disertai gangguan
        kesadaran seperti epilepsi akinetik ?
        Apakah serangan dengan kepala dan tubuh mengadakan flexi sementara
        tangan naik sepanjang kepala, seperti pada spasme infantile ?
        Pada kejang demam sederhana kejang ini bersifat umum.
        Frekuensi serangan
        Apakah penderita mengalami kejang sebelumnya, umur berapa kejang
        terjadi untuk pertama kali, dan berapa frekuensi kejang per tahun.
        Prognosa makin kurang baik apabila kejang timbul pertama kali pada
        umur muda dan bangkitan kejang sering timbul.
        Keadaan sebelum, selama dan sesudah serangan
        Sebelum kejang perlu ditanyakan adakah aura atau rangsangan tertentu
        yang dapat menimbulkan kejang, misalnya lapar, lelah, muntah, sakit
        kepala dan lain-lain. Dimana kejang dimulai dan bagaimana menjalarnya.
        Sesudah kejang perlu ditanyakan apakah penderita segera sadar, tertidur,
        kesadaran menurun, ada paralise, menangis dan sebagainya ?

        Riwayat penyakit sekarang yang menyertai
        Apakah muntah, diare, truma kepala, gagap bicara (khususnya pada
        penderita epilepsi), gagal ginjal, kelainan jantung, DHF, ISPA, OMA,
        Morbili dan lain-lain.
     3. Riwayat Penyakit Dahulu
        Sebelum penderita mengalami serangan kejang ini ditanyakan apakah
        penderita pernah mengalami kejang sebelumnya, umur berapa saat kejang
        terjadi untuk pertama kali ?
        Apakah ada riwayat trauma kepala, radang selaput otak, KP, OMA dan
        lain-lain.
     4. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
        Kedaan ibu sewaktu hamil per trimester, apakah ibu pernah mengalami
        infeksi atau sakit panas sewaktu hamil. Riwayat trauma, perdarahan per
        vaginam sewaktu hamil, penggunaan obat-obatan maupun jamu selama
        hamil. Riwayat persalinan ditanyakan apakah sukar, spontan atau dengan
        tindakan ( forcep/vakum ), perdarahan ante partum, asfiksi dan lain-lain.
        Keadaan selama neonatal apakah bayi panas, diare, muntah, tidak mau
        menetek, dan kejang-kejang.
     5. Riwayat Imunisasi
        Jenis imunisasi yang sudah didapatkan dan yang belum ditanyakan serta
        umur mendapatkan imunisasi dan reaksi dari imunisasi. Pada umumnya



DOKUMEN : SUBHAN PSIK FK UNAIR SURABAYA ANGKATAN III
          setelah mendapat imunisasi DPT efek sampingnya adalah panas yang
          dapat menimbulkan kejang.
     6.   Riwayat Perkembangan
          Ditanyakan kemampuan perkembangan meliputi :
          Personal sosial (kepribadian/tingkah laku sosial) : berhubungan dengan
          kemampuan mandiri, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan
          lingkungannya.
          Gerakan motorik halus : berhubungan dengan kemampuan anak untuk
          mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian
          tubuh tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil dan memerlukan
          koordinasi yang cermat, misalnya menggambar, memegang suatu benda,
          dan lain-lain.
          Gerakan motorik kasar : berhubungan dengan pergerakan dan sikap
          tubuh.
          Bahasa : kemampuan memberikan respon terhadap suara, mengikuti
          perintah dan berbicara spontan.
     7.   Riwayat kesehatan keluarga.
          Adakah anggota keluarga yang menderita kejang (+ 25 % penderita
          kejang demam mempunyai faktor turunan). Adakah anggota keluarga
          yang menderita penyakit syaraf atau lainnya ? Adakah anggota keluarga
          yang menderita penyakit seperti ISPA, diare atau penyakit infeksi
          menular yang dapat mencetuskan terjadinya kejang demam.
     8.   Riwayat sosial
          Untuk mengetahui perilaku anak dan keadaan emosionalnya perlu dikaji
          siapakah yanh mengasuh anak ?
          Bagaimana hubungan dengan anggota keluarga dan teman sebayanya ?
     9.   Pola kebiasaan dan fungsi kesehatan
          Ditanyakan keadaan sebelum dan selama sakit bagaimana ?
          Pola kebiasaan dan fungsi ini meliputi :
          Pola persepsi dan tatalaksanaan hidup sehat
          Gaya hidup yang berkaitan dengan kesehatan, pengetahuan tentang
          kesehatan, pencegahan dan kepatuhan pada setiap perawatan dan tindakan
          medis ?
          Bagaimana pandangan terhadap penyakit yang diderita, pelayanan
          kesehatan yang diberikan, tindakan apabila ada anggota keluarga yang
          sakit, penggunaan obat-obatan pertolongan pertama.
          Pola nutrisi
          Untuk mengetahui asupan kebutuhan gizi anak. Ditanyakan bagaimana
          kualitas dan kuantitas dari makanan yang dikonsumsi oleh anak ?
          Makanan apa saja yang disukai dan yang tidak ? Bagaimana selera makan
          anak ? Berapa kali minum, jenis dan jumlahnya per hari ?
          Pola Eliminasi :
          BAK : ditanyakan frekuensinya, jumlahnya, secara makroskopis
                   ditanyakan bagaimana warna, bau, dan apakah terdapat darah ?
                   Serta ditanyakan apakah disertai nyeri saat anak kencing.
          BAB : ditanyakan kapan waktu BAB, teratur atau tidak ? Bagaimana
                   konsistensinya lunak,keras,cair atau berlendir ?

          Pola aktivitas dan latihan
          Apakah anak senang bermain sendiri atau dengan teman sebayanya ?
          Berkumpul dengan keluarga sehari berapa jam ? Aktivitas apa yang
          disukai ?
          Pola tidur/istirahat
          Berapa jam sehari tidur ? Berangkat tidur jam berapa ? Bangun tidur jam
          berapa ? Kebiasaan sebelum tidur, bagaimana dengan tidur siang ?



DOKUMEN : SUBHAN PSIK FK UNAIR SURABAYA ANGKATAN III
2.3.1.2 Data Obyektif
        1. Pemeriksaan Umum (Corry S, 2000 hal : 36)
           Pertama kali perhatikan keadaan umum vital : tingkat kesadaran, tekanan
           darah, nadi, respirasi dan suhu. Pada kejang demam sederhana akan
           didapatkan suhu tinggi sedangkan kesadaran setelah kejang akan kembali
           normal seperti sebelum kejang tanpa kelainan neurologi.
        2. Pemeriksaan Fisik
            Kepala
            Adakah tanda-tanda mikro atau makrosepali? Adakah dispersi bentuk
            kepala? Apakah tanda-tanda kenaikan tekanan intrakarnial, yaitu ubun-
            ubun besar cembung, bagaimana keadaan ubun-ubun besar menutup atau
            belum ?.
            Rambut
            Dimulai warna, kelebatan, distribusi serta karakteristik lain rambut.
            Pasien dengan malnutrisi energi protein mempunyai rambut yang jarang,
            kemerahan seperti rambut jagung dan mudah dicabut tanpa menyebabkan
            rasa sakit pada pasien.
            Muka/ Wajah.
            Paralisis fasialis menyebabkan asimetri wajah; sisi yang paresis
            tertinggal bila anak menangis atau tertawa, sehingga wajah tertarik ke
            sisi sehat. Adakah tanda rhisus sardonicus, opistotonus, trimus ? Apakah
            ada gangguan nervus cranial ?
            Mata
            Saat serangan kejang terjadi dilatasi pupil, untuk itu periksa pupil dan
            ketajaman penglihatan. Apakah keadaan sklera, konjungtiva ?
            Telinga
            Periksa fungsi telinga, kebersihan telinga serta tanda-tanda adanya
            infeksi seperti pembengkakan dan nyeri di daerah belakang telinga,
            keluar cairan dari telinga, berkurangnya pendengaran.
            Hidung
            Apakah ada pernapasan cuping hidung? Polip yang menyumbat jalan
            napas ? Apakah keluar sekret, bagaimana konsistensinya, jumlahnya ?
            Mulut
            Adakah tanda-tanda sardonicus? Adakah cynosis? Bagaimana keadaan
            lidah? Adakah stomatitis? Berapa jumlah gigi yang tumbuh? Apakah ada
            caries gigi ?
            Tenggorokan
            Adakah tanda-tanda peradangan tonsil ? Adakah tanda-tanda infeksi
            faring, cairan eksudat ?
            Leher
            Adakah tanda-tanda kaku kuduk, pembesaran kelenjar tiroid ? Adakah
            pembesaran vena jugulans ?
            Thorax
            Pada infeksi, amati bentuk dada klien, bagaimana gerak pernapasan,
            frekwensinya, irama, kedalaman, adakah retraksi
            Intercostale ? Pada auskultasi, adakah suara napas tambahan ?
            Jantung
            Bagaimana keadaan dan frekwensi jantung serta iramanya ? Adakah
            bunyi tambahan ? Adakah bradicardi atau tachycardia ?
            Abdomen
            Adakah distensia abdomen serta kekakuan otot pada abdomen ?
            Bagaimana turgor kulit dan peristaltik usus ? Adakah tanda
            meteorismus? Adakah pembesaran lien dan hepar ?
            Kulit



DOKUMEN : SUBHAN PSIK FK UNAIR SURABAYA ANGKATAN III
            Bagaimana keadaan kulit baik kebersihan maupun warnanya? Apakah
            terdapat oedema, hemangioma ? Bagaimana keadaan turgor kulit ?
            Ekstremitas
            Apakah terdapat oedema, atau paralise terutama setelah terjadi kejang?
            Bagaimana suhunya pada daerah akral ?
            Genetalia
            Adakah kelainan bentuk oedema, sekret yang keluar dari vagina, tanda-
            tanda infeksi ?

2.3.1.3 Pemeriksaan Penunjang
                  Tergantung sarana yang tersedia dimana pasien dirawat,
         pemeriksaannya meliputi :
         1. Darah
            Glukosa Darah    : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N <
                               200 mq/dl)
            BUN              : Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan
                               merupakan indikasi nepro toksik akibat dari
                               pemberian obat.
            Elektrolit       : K, Na
                               Ketidakseimbangan          elektrolit      merupakan
                               predisposisi kejang
                               Kalium ( N 3,80 – 5,00 meq/dl )
                               Natrium ( N 135 – 144 meq/dl )
        2. Cairan Cerebo Spinal : Mendeteksi tekanan abnormal dari CCS tanda
                                     infeksi, pendarahan penyebab kejang.
        3. Skull Ray               : Untuk mengidentifikasi adanya proses desak
                                     ruang dan adanya lesi
        4. Tansiluminasi           : Suatu cara yang dikerjakan pada bayi dengan
                                     UUB masih terbuka (di bawah 2 tahun) di
                                     kamar gelap dengan lampu khusus untuk
                                     transiluminasi kepala.
        5. EEG                     : Teknik untuk menekan aktivitas listrik otak
                                     melalui tengkorak yang utuh untuk mengetahui
                                     fokus aktivitas kejang, hasil biasanya normal.
        6. CT Scan                 : Untuk mengidentifikasi lesi cerebral infaik
                                     hematoma, cerebral oedem, trauma, abses,
                                     tumor dengan atau tanpa kontras.

2.3.2   Analisa dan Sintesa Data
               Analisa data merupakan proses intelektual yang meliputi kegiatan
        mentabulasi, menyeleksi, mengelompokkan, mengaitkan data, menentukan
        kesenjangan informasi, melihat pola data, membandingakan dengan standar,
        menginterpretasi dan akhirnya membuat kesimpulan. Hasil analisa data
        adalah pernyataan masalah keperawatan atau yang disebut diagnosa
        keperawatan.

2.3.3    Diagnosa Keperawatan
              Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas, singkat, dan pasti
        tentang masalah pasien/klien serta penyebabnya yang dapat dipecahkan atau
        diubah melalui tindakan keperawatan.
        Diagnosa keperawatan yang muncul adalah :
2.3.3.1 Potensial terjadinya kejang ulang berhubungan dengan hiperthermi.
2.3.3.2 Potensial terjadinya trauma fisik berhubungan dengan kurangnya koordinasi
        otot
2.3.3.3 Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan hiperthermi yang ditandai :



DOKUMEN : SUBHAN PSIK FK UNAIR SURABAYA ANGKATAN III
        1. Suhu meningkat
        2. Anak tampak rewel
2.3.3.4 Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan keterbatasan
        informasi yang ditandai : keluarga sering bertanya tentang penyakit anaknya.

2.3.4   Perencanaan
                Perencanaan merupakan keputusan awal tentang apa yang akan
        dilakukan, bagaimana, kapan itu dilakukan, dan siapa yang akan melakukan
        kegiatan tersebut. Rencana keperawatan yang memberikan arah pada kegiatan
        keperawatan. (Santosa. NI, 1989;160)
2.3.4.1 Diagnosa Keperawatan : potensial terjadi kejang ulang berhubungan dengan
        hipertermi
        Tujuan        : Klien tidak mengalami kejang selama berhubungan dengan
                        hiperthermi
        Kriteria hasil :
        1. Tidak terjadi serangan kejang ulang.
        2. Suhu 36,5 – 37,5 º C (bayi), 36 – 37,5 º C (anak)
        3. Nadi 110 – 120 x/menit (bayi)
                   100-110 x/menit (anak)
        4. Respirasi 30 – 40 x/menit (bayi)
                        24 – 28 x/menit (anak)
        5. Kesadaran composmentis
        Rencana Tindakan :
        1. Longgarkan pakaian, berikan pakaian tipis yang mudah menyerap
             keringat.
             Rasional : proses konveksi akan terhalang oleh pakaian yang ketat dan
                          tidak menyerap keringat.
        2. Berikan kompres dingin
             Rasional      : perpindahan panas secara konduksi
        3. Berikan ekstra cairan (susu, sari buah, dll)
             Rasional      : saat demam kebutuhan akan cairan tubuh meningkat.
        4. Observasi kejang dan tanda vital tiap 4 jam
             Rasional      : Pemantauan yang teratur menentukan tindakan yang akan
                             dilakukan.
        5. Batasi aktivitas selama anak panas
             Rasional      : aktivitas    dapat    meningkatkan     metabolisme  dan
                             meningkatkan panas.
        6. Berikan anti piretika dan pengobatan sesuai advis.
             Rasional      : Menurunkan panas pada pusat hipotalamus dan sebagai
                             propilaksis
2.3.4.2 Diagnosa Keperawatan : potensial terjadi trauma fisik berhubungan dengan
        kurangnya koordinasi otot
        Tujuan          : Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.
        Kriteria Hasil :
        1. Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.
        2. Mempertahankan tindakan yang mengontrol aktivitas kejang.
        3. Mengidentifikasi tindakan yang harus diberikan ketika terjadi kejang.
        Rencana Tindakan :
        1. Beri pengaman pada sisi tempat tidur dan penggunaan tempat tidur yang
             rendah.
             Rasional : meminimalkan injuri saat kejang
        2. Tinggalah bersama klien selama fase kejang..
             Rasional : meningkatkan keamanan klien.
        3. Berikan tongue spatel diantara gigi atas dan bawah.
             Rasional : menurunkan resiko trauma pada mulut.



DOKUMEN : SUBHAN PSIK FK UNAIR SURABAYA ANGKATAN III
       4.    Letakkan klien di tempat yang lembut.
             Rasional : membantu menurunkan resiko injuri fisik pada ekstimitas
                          ketika kontrol otot volunter berkurang.
        5. Catat tipe kejang (lokasi,lama) dan frekuensi kejang.
             Rasional : membantu menurunkan lokasi area cerebral yang terganggu.
        6. Catat tanda-tanda vital sesudah fase kejang
             Rasional : mendeteksi secara dini keadaan yang abnormal
2.3.4.3 Diagnosa Keperawatan / Masalah : Gangguan rasa nyaman berhubungan
        dengan hiperthermi.
        Tujuan           : Rasa nyaman terpenuhi
        Kriteria hasil : Suhu tubuh 36 – 37,5º C, N ; 100 – 110 x/menit,
                            RR : 24 – 28 x/menit, Kesadaran composmentis, anak tidak
                           rewel.
        Rencana Tindakan :
        1. Kaji faktor – faktor terjadinya hiperthermi.
           Rasional        : mengetahui penyebab terjadinya hiperthermi karena
                             penambahan       pakaian/selimut     dapat  menghambat
                             penurunan suhu tubuh.
        2. Observasi tanda – tanda vital tiap 4 jam sekali
           Rasional        : Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan
                             perkembangan keperawatan yang selanjutnya.
        3. Pertahankan suhu tubuh normal
           Rasional        : suhu tubuh dapat dipengaruhi oleh tingkat aktivitas, suhu
                             lingkungan, kelembaban tinggiakan mempengaruhi panas
                             atau dinginnya tubuh.
        4. Ajarkan pada keluarga memberikan kompres dingin pada kepala / ketiak .
           Rasional        : proses konduksi/perpindahan panas dengan suatu bahan
                             perantara.
        5. Anjurkan untuk menggunakan baju tipis dan terbuat dari kain katun
           Rasional        : proses hilangnya panas akan terhalangi oleh pakaian tebal
                             dan tidak dapat menyerap keringat.
        6. Atur sirkulasi udara ruangan.
           Rasional        : Penyediaan udara bersih.
       7. Beri ekstra cairan dengan menganjurkan pasien banyak minum
           Rasional        : Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh
                             meningkat.
       8. Batasi aktivitas fisik
           Rasional        : aktivitas meningkatkan metabolismedan meningkatkan
                             panas.

2.3.4.4 Diagnosa Keperawatan / Masalah : Kurangnya pengetahuan keluarga
        sehubungan keterbataaan informasi
        Tujuan         : Pengetahuan keluarga bertambah tentang penyakit anaknya.
        Kriteria hasil :
        1. Keluarga tidak sering bertanya tentang penyakit anaknya.
        2. Keluarga mampu diikutsertakan dalam proses keperawatan.
        3. keluarga mentaati setiap proses keperawatan.
        Rencana Tindakan :
        1. Kaji tingkat pengetahuan keluarga
             Rasional : Mengetahui sejauh mana pengetahuan yang dimiliki keluarga
                         dan kebenaran informasi yang didapat.
        2. Beri penjelasan kepada keluarga sebab dan akibat kejang demam
             Rasional : penjelasan tentang kondisi yang dialami dapat membantu
                         menambah wawasan keluarga
        3. Jelaskan setiap tindakan perawatan yang akan dilakukan.



DOKUMEN : SUBHAN PSIK FK UNAIR SURABAYA ANGKATAN III
             Rasional : agar keluarga mengetahui tujuan setiap tindakan perawatan
        4.   Berikan Health Education tentang cara menolong anak kejang dan
             mencegah kejang demam, antara lain :
             1. Jangan panik saat kejang
             2. Baringkan anak ditempat rata dan lembut.
             3. Kepala dimiringkan.
             4. Pasang gagang sendok yang telah dibungkus kain yang basah, lalu
                 dimasukkan ke mulut.
             5. Setelah kejang berhenti dan pasien sadar segera minumkan obat
                 tunggu sampai keadaan tenang.
             6. Jika suhu tinggi saat kejang lakukan kompres dingin dan beri banyak
                 minum
             7. Segera bawa ke rumah sakit bila kejang lama.
              Rasional : sebagai upaya alih informasi dan mendidik keluarga agar
                            mandiri dalam mengatasi masalah kesehatan.
        5.   Berikan Health Education agar selalu sedia obat penurun panas, bila anak
             panas.
             Rasional     : mencegah peningkatan suhu lebih tinggi dan serangan
                            kejang ulang.
        6.   Jika anak sembuh, jaga agar anak tidak terkena penyakit infeksi dengan
             menghindari orang atau teman yang menderita penyakit menular
             sehingga tidak mencetuskan kenaikan suhu.
             Rasional     : sebagai upaya preventif serangan ulang
        7.   Beritahukan keluarga jika anak akan mendapatkan imunisasi agar
             memberitahukan kepada petugas imunisasi bahwa anaknya pernah
             menderita kejang demam.
             Rasional     : imunisasi pertusis memberikan reaksi panas yang dapat
                              menyebabkan kejang demam

2.3.5   Pelaksanaan
                Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai
        dengan rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat
        bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi
        dan dimonitor kemajuan kesehatan klien ( Santosa. NI, 1989;162 )

2.3.6   Evaluasi
               Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan
        data subyektif dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan
        keperawatan sudah dicapai atau belum. Bila perlu langkah evaluasi ini
        merupakan langkah awal dari identifikasi dan analisa masalah selanjutnya (
        Santosa.NI, 1989;162).

                     Tabel 2.2 Evaluasi Pada Kasus Kejang Demam
  NO.             Diagnosa/Masalah                       Evaluasi
  1.     Potensial kejang berulang berhu- Klien tidak mengalami kejang
         bungan dengan hiperthermi.       selama 2x24 jam.
                                          Kriteria :
                                           - Tidak terjadi serangan ulang
                                           - Suhu : 36 – 37,5 º C
                                           - N       : 100 – 110 kali/menit
                                           - Kesadaran : composmentis
  2      Potensial terjadi trauma fisik Tidak terjadi trauma fisik selama
         berhubungan kurangnya koordina- perawatan.
         si otot.                         Kriteria :
                                           - Tidak terjadi traumas fisik



DOKUMEN : SUBHAN PSIK FK UNAIR SURABAYA ANGKATAN III
                                           selama kejang.
                                         - Mempertahankan tindakan yang
                                           mengontrol aktivitas kejang.
                                       - Mengidentifikasi tindakan yang
                                           harus diberikan ketika terjadi
                                           kejang.
 3.   Gangguan rasa nyaman berhu- Rasa nyaman terpenuhi
      bungan dengan hiperthermi.      Kriteria :
                                       - Tanda vital :
                                           Suhu : 36 – 37,5ºC
                                           N : 100 – 110 kali/ menit
                                           RR : 24 – 28 kali/menit
                                       - Kesadaran : composmentis
                                       - Anak tidak rewel
 4.   Kurangnya pengetahuan keluarga Pengetahuan keluarga bertambah
      berhubungan dengan keterbatasan tentang penyakit anaknya.
      informasi.                      Kriteria :
                                         - Keluarga tidak sering bertanya
                                            tentang penyakit anaknya.
                                         - Keluarga mampu diikutserta-
                                            kan dalam proses perawatan.
                                         - Keluarga      mentaati    setiap
 .                                          proses perawatan.




DOKUMEN : SUBHAN PSIK FK UNAIR SURABAYA ANGKATAN III
                              DAFTAR PUSTAKA

Lumbantobing SM, 1989, Penatalaksanaan Mutakhir Kejang Pada Anak, Gaya
       Baru, Jakarta.

Lynda Juall C, 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Penerjemah
        Monica Ester, EGC, Jakarta.

Marilyn E. Doenges, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, Penerjemah Kariasa I
        Made, EGC, Jakarta.

Matondang, Corry S, 2000, Diagnosis Fisis Pada Anak, Edisi ke 2, PT. Sagung Seto:
       Jakarta.

Ngastiyah, 1997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta.

Rendle John, 1994, Ikhtisar Penyakit Anak, Edisi ke 6, Binapura Aksara, Jakarta.

Santosa NI, 1989, Perawatan I (Dasar-Dasar Keperawatan), Depkes RI, Jakarta.

Santosa NI, 1993, Asuhan Kesehatan Dalam Konteks Keluarga, Depkes RI, Jakarta.

Soetjiningsih, 1995, Tumbuh Kembang Anak, EGC, Jakarta.

Suharso Darto, 1994, Pedoman Diagnosis dan Terapi, F.K. Universitas Airlangga,
        Surabaya.

Sumijati M.E, dkk, 2000, Asuhan Keperawatan Pada Kasus Penyakit Yang Lazim
        Terjadi Pada Anak, PERKANI : Surabaya.

Wahidiyat Iskandar, 1985, Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 2, Info Medika, Jakarta.




DOKUMEN : SUBHAN PSIK FK UNAIR SURABAYA ANGKATAN III

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:156
posted:8/16/2012
language:
pages:13