Docstoc

Teknik Fasilitasi

Document Sample
Teknik Fasilitasi Powered By Docstoc
					Modul 1
Topik: Pendidikan Orang Dewasa




      Peserta memahami dan menyadari:
      1. Semua warga belajar adalah narasumber
      2. Daur belajar dan prinsip –prinsip pendidikan orang dewasa
      3. Pendiidkan orang dewasa sebagai metode pendekatan fasilitasi




      Kegiatan 1: Diskusi Andragogi VS Pedagogi
      Kegiatan 2: Diskusi daur belajar orang dewasa




       2 Jpl ( 90’)




      Bahan Bacaan:
      1. Prinsip Belajar Orang Dewasa
      2. Visualisasi Pendidikan




      • Kertas Plano, Spidol, selotip kertas dan jepitan besar
      • Kuda-kuda untuk Flip-chart
      • LCD
      • Metaplan
      • Papan Tulis dengan perlengkapannya



                                                             Modul | Teknik Fasilitasi   1
Diskusi Andragogi vs Pedagogi
1) Bukalah pertemuan dengan memberi salam dan jelaskan kepada peserta bahwa kita akan
   membahas Tema : Teknik Fasilitasi dan dimulai dengan Modul Pendidikan Orang Dewasa dan
   uraikan apa yang akan dicapai melalui modul ini, yaitu peserta memahami dan menyadari :
   •    Semua warga belajar adalah narasumber
   •    Daur belajar dan prinsip –prinsip pendidikan orang dewasa
   •    Pendidikan orang dewasa sebagai metode pendekatan fasilitasi


2) Uraikan kemudian bahwa Modul ini akan dimulai dengan kegiatan belajar 1, yaitu Diskusi
   Andragogi vs Pedagogi dan jelaskan apa yang akan dicapai melalui kegiatan ini, yaitu :
       Peserta dapat menguraikan dengan kata-kata sendiri perbedaan mendasar antara fasilitasi
       dengan mengajar ( menggurui)

3) Ajaklah peserta untuk berbagi menjadi 3 kelompok diskusi Masing-masing kelompok akan
   mendiskusikan gambar/komik “Tuan Guru dan Tukang Perahu“ yang akan dibagikan pada
   kelompok.dengan pertanyaan penggerak sebagai berikut:

                Apakah cerita ini mungkin terjadi?.
                Apa tanggapan anda tentang kedua tokoh tersebut ?
                Apa yang bisa dipetik dari cerita tersebut ?.

4) Setelah diskusi kelompok selesai mintalah masing–masing wakil kelompok mempresentasikan
   hasil diskusinya dan ajaklah peserta untuk mengkritisi masing-masing ide/gagasan yang
   disampaikan.


         Setiap orang mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang harus dihargai dan mungkin
         tidak dimiliki oleh yang lainnya. Karena itu semua orang bisa menjadi sumber belajar bagi
         yang lain, dalam proses fasilitasi yang dilakukan adalah proses membelajarkan (membantu
         proses belajar) bukan mengajar, dimana semua peserta adalah subjek dari proses belajar
         sedangkan objeknya adalah relaitas kehidupan


5) Ajaklah peserta untuk membahas perbedaan mengajar dengan membelajarkan dengan mengisi
   tabel seperti yang sudah disediakan dalam LK 1 –

6) Bahas bersama, pakailah media bantu sebagai acuan pembahasan apabila diperlukan.




       2 Modul | Teknik Fasilitasi
        Belajar dari realitas atau pengalaman : yang dipelajari bukan ‘ajaran’ (teori, pendapat,
        kesimpulan, wejangan, nasehat dan sebagainya ) dari seseorang atau sekelompok orang
        yang terlibat dalam keadaan nyata tersebut. Akibatnya, tidak ada otoritas pengetahuan
        seseorang lebih tinggi dari yang lainnya. Keabsahan pengetahuan seseorang ditentukan oleh
        pembuktiannya dalam realitas tindakan atau pengalaman langsung, bukan pada retorika
        teoritik atau ‘kepintaran’ omongannya.

        Tidak menggurui : karena itu , tak ada ‘ guru’ dan tak ada ‘murid yang digurui. Semua
        orang yang terlibat dalam proses pendidikan ini adalah ‘guru sekaligus murid’ pada saat yang
        bersamaan.

        Dialogis : karena tidak ada lagi guru atau murid, maka proses yang berlangsung bukan lagi
        proses ‘ mengajar – belajar’ yang bersifat satu arah, tetapi proses ‘komunikasi’ dalam
        berbagai bentuk kegiatan (diskusi kelompok, bermain peran dan sebagainya) dan media
        (peraga, grafika, audio visual, dan sebagainya) yang lebih memungkinkan terjadinya dialog
        kritis antar semua orang yang terlibat di dalam proses pelatihan tersebut.



7) Refleksikan bersama hasilnya sehingga ditemukan perbedaan yang hakiki antara andargogi dan
   pedagogi , dan beri penegasan oleh pemandu apabila diperlukan.



            •   Model pendekatan pendidikan menurut Knowles dapat diklasifikasikan menjadi dua
                bentuk pendekatan yang kontradiktif yakni antara pedagogi dan andragogi.
                Perbedaan antara kedua pendidikan tersebut, sesungguhnya tidak semata
                perbedaan ‘obyek’nya. Pedagogi sebagai ‘seni mendidik anak’ mendapat pengertian
                lebih luas dimana suatu proses pendidikan yang ‘menempatkan obyek pendidikannya
                sebagai ‘anak – anak’ walaupun secara biologis mereka sudah termasuk ‘dewasa’.
                Konsekuensi logis dari pendekatan ini adalah menempatkan peserta didik sebagai
                ‘murid’ yang pasif. Murid sepenuhnya menjadi obyek suatu proses belajar seperti
                misalnya : guru menggurui, murid digurui, guru memilihkan apa yang harus
                dipelajari, murid tunduk pada pilihan tersebut, guru mengevaluasi, murid dievaluasi
                dan seterusnya. Kegiatan belajar mengajar model ini menempatkan guru sebagai inti
                terpenting, sementara murid menjadi bagian pinggiran.

            •   Sebaliknya, andragogi atau pendekatan pendidikan ‘orang dewasa’ merupakan
                pendekatan yang menempatkan peserta belajar sebagai orang dewasa. Di balik
                pengertian ini Knowles ingin menempatkan ‘murid’ sebagai subyek dari sistem
                pendidikan. Murid sebagai orang dewasa diasumsikan memiliki kemampuan aktif
                untuk merencanakan arah, memilih bahan dan materi yang dianggap bermanfaat,
                memikirkan cara terbaik untuk belajar, menganalisis dan menyimpulkan serta
                mampu mengambil manfaat pendidikan. Fungsi guru adalah sebagai ‘fasilitator’, dan
                bukan menggurui. Oleh karena itu relasi antara guru – murid bersifat
                ‘multicommunication’ dan seterusnya.




                                                                Modul | Teknik Fasilitasi   3
Diskusi Daur Belajar Orang Dewasa

1) Buka kegiatan ini dengan salam singkat dan uraikan bahwa kita memasuki kegiatan belajar ke-2
   dari Modul Pendidikan Orang Dewasa yaitu mendiskusikan mengenai Daur Belajar Orang Dewasa

2) Bagi peserta dalam beberapa kelompok kemudian mintalah tiap kelompok untuk mendiskusi hal-
   hal sebagai berikut :
       Bagaimana proses sang guru dan tukang perahu memperoleh ilmu,
       Bagaimana cara sang guru dan tukang perahu menyimpulkan pengalaman masing-masing,
       dan
       Bagaimana cara sang guru dan tukang perahu mengambil keputusan dari kesimpulan-
       kesimpulan yang diambil.

3) Setelah selesai minta wakil kelompok menyajikan hasil diskusi kelompok kemudian bahas dan
   simpulkan, yang pada intinya; menyatakan bahwa semua orang belajar dengan cara yang
   berbeda – beda, ada yang belajar melalui pengalaman, pengamatan dan pengalaman orang lain.
   Dalam kasus komik tadi guru mengambil kesimpulan dari kegiatan belajar formal yang cenderung
   teoritik sedangkan tukang perahu belajar dari pengalaman/kenyataan yang dialami.

4) Berikanlah penjelasan singkat tentang daur belajar bagi orang dewasa dan bagaimana cara
   melakukan daur pembelajaran yang efektif.


        Agar tetap pada asas – asas pendidikan kritis yang menjadi landasan filosofinya, maka
        panduan proses belajar harus disusun dan pelaksanaannya dalam suatu proses yang
        dikenal sebagai ‘daur belajar’ (dari) pengalaman yang distrukturkan (structural experiences
        learning cycle). Proses belajar ini memang sudah teruji sebagai suatu proses belajar yang
        juga memenuhi semua tuntutan atau prasyarat pendidikan kritis, terutama karena urutan
        prosesnya memang memungkinkan bagi setiap orang untuk mencapai pemahaman dan
        kesadaran atas suatu realitas sosial dengan cara terlibat (partisipasi), secara langsung
        maupun tidak langsung, sebagai bagian dari realitas tersebut.




      4 Modul | Teknik Fasilitasi
LK 1 – Perbedaan Mengajar dan Membelajarkan


                      Membelajarkan              Mengajar

Pelaku

Pembagian Peran

Pola hubungan antar
warga belajar dan
fasilitator

Prinsip



Konsep belajar



Proses belajar



Metode



Cara Komunikasi



Jalur Pendidikan




                                      Modul | Teknik Fasilitasi   5
6 Modul | Teknik Fasilitasi
Slide 1   Slide 2




Slide 3   Slide 4




                    Modul | Teknik Fasilitasi   7
Slide 5                             Slide 6




Slide 7                             Slide 8




      8 Modul | Teknik Fasilitasi
                             Membelajarkan                          Mengajar

Pelaku             Fasilitator dan peserta belajar       Guru dan murid. Penyuluh dan
                   (warga)                               masyarakat

Pembagian Peran    Semua menyumbang pengalaman           Guru, sebagai keran air, murid
                   dan pengetahuannya                    sebagai ’gelas kosong’
                   Fasilitator memperluas peran          Guru sebagai sumber ilmu,
                   peserta                               murid sebagai penerima ilmu

Pola hubungan      Kesetaraan (saling belajar)           Hirarkis (mengajar –diajar)

Prinsip            Partisipatif, dialogis                Searah



Konsep belajar     Konsep pendidikan kritis              Konsep pendidikan “gaya bank’



Proses belajar     Aksi – refeksi – aksi (dialektika)    Input (pengetahuan/informasi)
                                                         – process (memori) – output
                                                         (tanggapan)

Metode             Andragogi (metode pendidikan          Pedagogi (metode mengajar
                   orang dewasa)                         didaktif)


Cara Komunikasi    Multi – arah (jaringan                searah
                   pembeajaran)


Jalur Pendidikan   Pendidikan non – formal yang          Pendidikan formal (sekolah),
                   bersifat ‘alternatif                  pendidikan informal (keluarga),
                                                         pendiidkan non formal (misal
                                                         pesantren)




                                                        Modul | Teknik Fasilitasi   9
PRINSIP PENDIDIKAN ORANG DEWASA (POD)
(Dari Berbagai Sumber)

Pembangunan adalah upaya – upaya yang dilakukan oleh lembaga/agen pembangunan yang bekerja
bersama masyarakat untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam pengembangan program
pembangunan, upaya – upaya peningkatan kemampuan tersebut, diharapkan agar pada akhirnya,
masyarakat mampu menyelenggarakan upaya-upaya mengatasi masalah mereka sendiri dan
kegiatan-kegiatan inovatif untuk memajukan masyarakatnya sendiri.

Begitu pentingnya faktor manusia dalam pembangunan, sehingga upaya peningkatan kemampuan,
perubahan sikap, dan perilaku pelaku – pelakunya (manusia dewasa), perlu diperhatikan sungguh –
sungguh.

Berbicara mengenai Pendidikan Orang Dewasa, masalahnya lebih dari sekedar mengajarkan suatu
pengetahuan baru kepada orang dewasa, karena orang dewasa telah memiliki sikap dan
pengetahuan sehingga informasi baru akan mereka bandingkan dengan pengalaman, pengetahuan
dan konsep –konsep mereka selama ini.


Siapakah Orang Dewasa itu ?

Benar, bahwa orang yang sudah berumur (akil balik), bisa kita sebut orang dewasa, tetapi dalam
membicarakan pendidikan orang dewasa ini tidak semata – mata mengacu pada kedewasaan
biologis, tetapi cenderung mengacu pada kedewasaan sosialnya.


Bagaimana Proses Belajar Bagi Orang Dewasa ?

Ada dua tujuan dari proses belajar bagi orang dewasa, yaitu pada perkembangan individual dan
pada peningkatan partisipasi sosial dari individu. Pendidikan orang dewasa meliputi segala bentuk
pengalaman belajar yang dibutuhkan oleh orang dewasa, pria maupun wanita sesuai dengan bidang
perhatian dan kemampuannya. Akibat atau hasil dari belajarnya orang dewasa nampak pada
perubahan perilakunya.

Perilaku seseorang dipengaruhi oleh sikap, pengetahuan, keterampilan yang dimilikinya serta dalam
hal tertentu oleh sarana yang mendukungnya, maka proses belajar manusia dewasa ke arah
perubahan perilaku hendaknya digerakkan melalui usaha perubahan sikap baru, memberinya
pengetahuan baru, melatihkan keterampilan baru dan dalam hal tertentu penyediaan sarana baru.
Perubahan perilaku seseorang akan terjadi jika isi dan cara pembelajarannya sesuai dengan
kebutuhan yang dirasakannya. Sedang perubahan perilaku itu sendiri terjadi proses reflek di dalam
dirinya sendiri

Pada prinsipnya, proses belajar bagi orang dewasa adalah suatu ‘proses belajar dari pengalaman’.
Belajar bagi orang dewasa melalui 4 tahap, yakni pengalaman nyata, analisa, kesimpulan dan
penerapan.




    10 Modul | Teknik Fasilitasi
                          DAUR BELAJAR ORANG DEWASA


                                   1. Melakukan atau
                                       Mengalami




   5. Menerapkan                                                    2. Mengungkapkan




  4. Menyimpulkan                                                  3. Mengolah atau
                                                                     menganalisis




Pengalaman
Fasilitator mendorong peserta untuk menyampaikan pengalamannya dengan cara menguraikan
kembali rincian fakta, unsur – unsur, urutan kejadian, dll dari kenyataan tersebut. Kemudian
menggali tanggapan dan kesan peserta atas kenyataan tersebut.

Analisa
Fasilitator mendorong peserta untuk menemukan pola dengan mengkaji sebab – sebab dan kaitan –
kaitan permasalahan yang ada dalam realitas tersebut – yakni tatanan, aturan – aturan, sistem ,
sikap dan perilaku yang menjadi akar persoalan.

Kesimpulan
Fasilitator mengajak peserta merumuskan makna relaitas tersebut sebagai suatu pelajaran dan
pemahaman atau pengetahuan baru yang lebih utuh, berupa prinsip – prinsip atau kesimpulan umum
(generalisasi) dari hasil pengkajian atas pengalaman tersebut.

Penerapan
Fasilitator mengajak peserta merumuskan dan merencanakan tindakan – tindakan baru yang lebih
baik berdasarkan hasil pemahaman atau pengertian baru tersebut, sehingga sangat memungkinkan
untuk menciptakan kenyataan – kenyataan baru yang lebih baik. Proses pengalaman belumlah
lengkap, sebelum pemahaman baru penemuan baru tersebut dilaksanakan dan diuji dalam perilaku
yang sesungguhnya. Tahap inilah bagian yang bersifat ’eksperimental’.



                                                              Modul | Teknik Fasilitasi   11
Bagaimana Prinsip – Prinsip Belajar Bagi Orang Dewasa ?

Sesuai dengan kedewasaan sosialnya, orang dewasa sesungguhnya tidaklah seperti gelas kosong
yang dengan mudah dapat kita tuangi sesuatu ke dalamnya. Beberapa prinsip Pendidikan Orang
Dewasa yang perlu diperhatikan dan diterapkan dalam penyelenggaraan program, yaitu :

1. Orang yang mempunyai konsep diri
Orang dewasa menganggap dirinya mampu untuk membuat keputusan dan mampu menghadapi
segala risiko atas keputusannya, serta mengatur hidupnya agar mandiri. Harga diri sangat penting
bagi orang dewasa. Seorang dewasa menuntut dihargai terutama dalam hal pengambilan keputusan
yang menyangkut diri dan kehidupannya. Sikap yang terkesan menggurui cenderung ditanggapi
negatif. Mereka cenderung menghindar, menolak dan merasa tersinggung apabila diperlakukan
seperti anak – anak. Mereka akan menolak situasi belajar yang kondisinya bertentangan dengan
konsep dirinya sebagai individu yang mandiri. Sehingga mereka perlu dilibatkan secara penuh dalam
menentukan kebutuhan belajar dan merancang belajar secara partisipatif. Sumber belajar berfungsi
sebagai pembimbing, fasilitator serta narasumber.

2. Orang Dewasa Kaya Akan Pengalaman
Makin lanjut usia seseorang, makin banyak pengalaman yang ia miliki. Adapun pengalaman orang
dewasa diperoleh dari :

   •     Peristiwa yang dialami pada masa lalu dan masa kini.
   •     Hubungan dengan lingkungan di sekitarnya.
   •     Pengalaman dengan dirinya sendiri pada masa kini dan masa lampau.

3. Orang Dewasa Mempunyai Kesiapan Belajar
Masa kesiapan belajar orang dewasa berubah sejalan dengan usia dan peran sosial yang mereka
tampilkan. Untuk itulah, urutan program belajar berdasarkan tahapan dalam yang relevan dengan
peran mereka menjadi penting untuk diutamakan.

4. Orang Dewasa Berpandangan Untuk Segera Menerapkan Hasil Belajarnya
Orang dewasa senantiasa berorientasi pada kenyataan. Oleh karena itu, kegiatan belajar bagi orang
dewasa sebaiknya diarahkan pada kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi dalam
kehidupannya.

5. Orang Dewasa Itu Dapat Belajar
Sesungguhnya orang dewasa dapat melakukan kegiatan belajar. Apabila orang dewasa tidak
menampilkan kemampuan belajar yang sebenarnya, kemungkinan hal ini disebabkan oleh adanya
perubahan faktor fisiologis seperti menurunnya pendengaran, penglihatan, atau tenaga sehingga
mempengaruhi kecepatan belajarnya. Fasilitator perlu mendorong dan membantu warga belajar
untuk belajar sesuai dengan langkah yang mereka inginkan dan terapkan sendiri.

6. Belajar Merupakan Proses yang Terjadi Pada Diri Orang Dewasa
Setiap warga belajar akan mengontrol langsung proses belajarnya, termasuk potensi intelektual,
emosi serta fisik. Ia merasa adanya kebutuhan untuk belajar dan melihat tujuan pribadinya yang
akan tercapai melalui belajar. Proses belajar akan terpusatkan pada pengalaman sendiri melalui
interaksi dirinya dengan lingkungannya, dengan demikian seni pembelajaran orang dewasa
merupakan upaya mengelola lingkungan dan proses belajar itu sendiri. Untuk itu, digunakan metode
dan teknik dimana warga belajarnya terlibat secara intensif dalam mendiagnosa kebutuhan belajar
serta menilai proses belajar.
Orang dewasa tidak suka diperintah untuk melakukan sesuatu, kecuali jika mereka diberi kesempatan
untuk bertanya ‘mengapa ?’ dan mengambil keputusannya sendiri.



       12 Modul | Teknik Fasilitasi
Suasana Belajar Bagi Orang Dewasa

Setiap bentuk program pendidikan bagi orang dewasa, harus ditunjang interaksi dan kegiatan
program yang mampu mengimbanginya. Untuk membentuk interaksi program yang mampu
menunjang pencapaian tujuan program, maka fasilitator harus dapat merancang dan membentuk
suasana belajar yang dapat diikuti oleh warga belajar. Pendidikan orang dewasa dilakukan dengan
pengelompokkan sesuai dengan minat atau kebutuhan , bukan suatu kelas atau jenjang.
Bentuklah suasana belajar yang penuh keakraban dan tidak menegangkan. Membentuk suasana
belajar yang bersifat non – formal, dalam arti :
    • Kumpulan manusia aktif.
    • Suasana hormat menghormati.
    • Suasana harga menghargai.
    • Saling percaya.
    • Suasana penemuan diri.
    • Suasana keterbukaan.
    • Suasana mengakui kekhasan pribadi.
    • Suasana membenarkan perbedaan.
    • Suasana mengakui hak untuk berbuat salah.
    • Suasana membolehkan keraguan.
    • Evaluasi bersama dan evalusi diri.

Peran Fasilitator
Sikap pembimbing bagi orang dewasa mempunyai arti dan pengaruh yang besar. Sikap yang perlu
untuk menciptakan proses belajar sebuah kelompok adalah sebagai berikut :

Empati
  • Berarti menyetel pada gelombang pemancar yang sama dengan peserta, yakni mencoba
       melihat situasi sebagaimana peserta juga melihatnya, berada dan bersatu dengan peserta,
       membiarkan diri sendiri menyatu dengan pengalaman peserta, merenungkan pengalaman
       tersebut sambil menekan penilaian sendiri, lalu mengkomunikasikan pengertian itu kepada
       mereka, bersikap manusiawi dan tidak bereaksi secara mekanis atau memahami masalah
       peserta hanya secara intelektual, ikut merasakan apa arti manusia dan benda bagi mereka.

Wajar
  • Berarti jujur, apa adanya, terus terang, konsisten, terbuka, mencerminkan perasaan yang
      sebenarnya, mengatakan apa adanya, secara sadar menghindari peran sebagai pengajar,
      mengungkapkan perasaan secara konkret, dan merespon secara tulus.

Respek
   • Berpandangan positif terhadap peserta, mengkomunikasikan kehangatan, perhatian,
      pengertian, menghargai perasaan, pengalaman dan kemampuan mereka.

Komitmen
   • Menghadirkan diri secara penuh, siap menyertai kelompok dalam segala keadaan, mengakui
      secara jujur kalau merasa bosan atau pikiran melayang jauh, melibatkan diri dalam suka
      duka.

Mengakui kehadiran orang lain
  • Mengakui adanya orang lain, tidak menonjolkan diri agar orang lain berkesempatan
     mengungkapkan diri, bergaul dengan mereka, menunjukkan kepada mereka bahwa ‘saya
     sadar akan kehadirannya’, mengakui tiap peserta sebagai makhluk bebas yang berhak ada di
     sana dan bertanggungjawab atas kehadirannya.



                                                              Modul | Teknik Fasilitasi   13
Membuka diri

   •     Dalam hal ini keterbukaan mempunyai dua segi ,
         Pertama menerima keterbukaan orang lain tanpa menilai dengan ukuran konsep dan
         pengalaman kita sendiri, setiap saat bersedia mengubah sikap dan pendapat dan konsep kita
         sendiri, tidak bersikap ngotot agar bermunculan kemingkinan – kemungkinan baru.
         Kedua, secara aktif mengungkapkan diri kepada orang lain, mengenalkan diri kepada
         kelompok, apa yang saya rasakan, apa harapan saya, bagaimana pandangan saya, suka dan
         duka saya, mau mengambil risiko melakukan kekeliruan.

Tidak menggurui
   • Mengingat bahwa peserta adalah orang dewasa yang mempunyai keahlian sendiri,
       pengalaman sendiri dan seringkali adalah pemimpin di dalam lingkungannya, maka sikap
       menggurui dapat dirasakan oleh peserta sebagai meremehkan.

Tidak menjadi ahli
   • Artinya tidak terpancing untuk menjawab setiap pertanyaan, seakan – akan fasilitator harus
       ahli dalam segala bidang.

Tidak memutus bicara
   • Pada waktu peserta bertanya atau mengemukakan pendapatnya fasilitator jangan memutus
       hanya karena kebetulan ia merasa tak sabar.

Tidak berdebat
   • Bersoal jawab dengan satu orang saja di tengah – tengah sekian banyak peserta dapat
       menimbulkan kebisanan.

Tidak diskriminatif
   • Merupakan hal yang baik kalau pembimbing berusaha untuk memberi perhatian secara
       merata, bukan hanya kepada satu atau dua orang peserta saja yang disukai secara pribadi.

Metode POD

Metode pendidikan orang dewasa adalah suatu teknik penyampaian materi pembelajaran yang diatur
sedemikian rupa sehingga tujuan belajar dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dalam
penyampaian materi, metodologi yang akan digunakan adalah metode – metode yang
mempermudah dan mempercepat proses pemahaman pengetahuan, sikap dan proses penguasaan
aplikasinya.

Metodologi yang dipilih yang memungkinkan terciptanya partisipasi aktif dari para peserta, saling
bertukar pengalaman di antara peserta dan fasilitator yang memperlakukan peserta sebagai orang
dewasa bukan sebagai murid sekolah. Metode yang paling efektif adalah belajar dengan bekerja.


Sumber
   •     Tim Pe-PP; Teknik Fasilitasi Partisipatif Pendampingan Masyarakat; Bappenas – UNDP;Jakarta
         2007
   •     Studio Driya Media; Handout Pelatihan; Bandung 1999
   •     Mansour Fakih dkk; Pendidikan Popular Membangun Kesedaran Kritis; INSIST – Pact; 2001




       14 Modul | Teknik Fasilitasi
VISUALISASI PENDIDIKAN

Seorang fasilitator memiliki peran yang penting pada saat berada di tengah masyarakat. Dengan
proses dialog yang detail sampai saat ditemukan kesepakatan. Tugas fasilitator mengambil bagian
saat masyarakat yang didampinginya, menciptakan situasi belajar daripada mendiktekan istilah dan
kondisi, memudahkan pengawasan riset dan/atau proses perkembangan.

Apa yang telah menjadi sangat jelas dari proses pendidikan langsung di tengah masyarakat,
merupakan kepentingan awal yang segera dimulai dengan metode dasar dengan menggunakan
metode diagram. Jika hal ini tidak dilakukan pada diskusi pertama dengan masyarakat sasaran, maka
pengalaman menunjukkan, kondisinya akan semakin sulit untuk mendorong partisipan meninggalkan
pena dan kertasnya, serta untuk menghilangkan wawancara yang formal dan kaku.

Jika kelompok melakukan visualisasi sejak awal, maka hal tersebut akan memberikan antusiasme dan
ketertarikan, serta membantu setiap orang untuk terus bereksperimen dan belajar.
Ada beberapa langkah yang dapat digunakan agar kerja lapangan dapat berjalan lancar :

   •   Diskusikan terlebih dahulu faktor-faktor apa saja yang menghambat dan menciptakan
       kekakuan, kebekuan. Gunakan latihan pemecah masalah kelompok dengan menggunakan
       umpamanya media role play.

   •   Sarankan pada setiap kelompok untuk memutuskan masalah, metode dan para kader
       komunitas yang akan mereka ajak untuk memulai. Pikirkan tentang urutan metode yang
       mungkin digunakan.

   •   Dorong kelompok untuk memulainya dengan aktivitas nyata yang membutuhkan masukkan
       kelompok, yang telah dipraktekan sebelumnya dan hampir membawa pada hasil yang jelas.
       Latihan pemetaan merupakan awal yang baik. Hal ini biasanya dapat membuat orang-orang
       terlibat di dalamnya, merubah pengawasan dari kelompok kepada perempuan dan pria yang
       membuat dan menjelaskan peta serta dapat menjadi hal yang menyenangkan.

   •   Mengorganisasikan sesi ‘kerjakanlah sendiri’ untuk memulai kerja lapangan dengan
       melibatkan aktivitas partisipan setiap harinya. Hal ini dapat memecahkan ketegangan yang
       ada serta membangun peran baru dengan masyarakat lokal sebagai murid dan sekaligus
       sebagai guru yang profesional.

   •   Ajak kelompok untuk tetap rileks. Katakan kerja langsung merupakan cara terbaik untuk
       belajar dan bahwa mereka tidak harus mempelajari segalanya dalam menit – menit pertama.


Ketika kerja lapangan sudah dimulai, anda mungkin menghadapi masalah dalam menjaga proses
agar tetap berjalan. Antusiasme mungkin menurun, terutama jika kelompok menghadapi masalah
yang tidak terduga, seperti kendaraan yang tiba-tiba rusak, sakit, cuaca yang buruk, dsb. Anggota
kelompok mungkin juga merasa lelah, telah cukup bekerja keras dan mengumpulkan banyak
informasi . Tentu info menggambarkan bagaimana seorang fasilitator mendorong kelompoknya untuk
tetap berjalan dan penghargaan yang mereka terima sebagai hasilnya.




                                                               Modul | Teknik Fasilitasi   15
Bersama mereka lakukan visualisasi masalah dengan menggunakan diagram, dalam rangka
menghasilkan informasi yang bisa dipercaya, masyarakat didorong untuk menganalisa kondisi mereka
sendiri dan menunjukkannya agar semua orang tahu, sebaiknya lakukan pengecekkan silang di
antara mereka menyangkut informasi. Menggambarkan bagaimana seorang fasilitator mendorong
kelompoknya untuk tetap berjalan dan penghargaan yang mereka terima sebagai hasilnya.

Bersama mereka lakukan visualisasi masalah dengan menggunakan diagram, dalam rangka
menghasilkan informasi yang bisa dipercaya, masyarakat didorong untuk menganalisa kondisi mereka
sendiri dan menunjukkan agar semua orang tahu, sebaiknya lakukan pengecekan silang di antara
mereka menyangkut informasi. Proses ini merangsang urutan penyesuaian dan peningkatan, baik
oleh individu yang membangun maupun oleh yang melihat. Sebagai hasilnya, hasil akhir seringkali
berbeda dengan percobaan pertama.


Menjaga Agar Proses Tetap Berjalan di Lapangan

Diskusi memfokuskan pada masalah inti, para partisipan juga didorong untuk mempertimbangkan
poin kunci belajar dari manfaat metode yang digunakan.

Fasilitator harus selalu mengingatkan kepada kelompok dengan cara menanyakan kembali kepada
kelompok apakah lebih baik untuk bediskusi di tempat lain untuk menganalisa lebih lanjut atau tetap
di lapangan selama beberapa jam ?. Mengikuti reaksi yang beragam, dengan beberapa partisipan
yang tertarik untuk mengakhiri hari kerjanya, fasilitator mendorongnya untuk kembali ke lapangan,
karena merupakan reaksi yang wajar untuk memilih pulang beristirahat daripada bekerja kembali.
Merupakan waktu yang menyenangkan di lapangan, seperti para petani yang menghabiskan waktu
saat untuk bekerjanya usai. Hari berikutnya, mengikuti tinjauan tengah hari, kelompok kembali ke
lapangan tanpa rasa ragu – ragu. Pelajaran yang diambil : jika merasa ragu – ragu, pulanglah dulu.

Aspek visualisasi lain yang hendaknya ditegaskan adalah keuntungan untuk masyarakat di komunitas
tersebut. Pertemuan antara fasilitator dan kelompok masyarakat mungkin merupakan kesempatan
yang jarang, ketika baik pria maupun wanita didorong untuk memikirkan mata pencaharian dan
kondisi mereka sendiri dalam cara yang sistematis. Kesempatan yang diharapkan juga sangat sering
bagi kelompok lokal tertentu (wanita/pria, tua/muda, kaya/miskin, dsb) dating bersama untuk
melakukan analisis gabungan.


“ Sekolah Tanpa Dinding ”

Mengapa ;sekolah tanpa dinding’ (school without walls)? Karena ruang kelas, perpustakaan, mata
pelajarannya, adalah dimana masyarakat bekerja dan hidup di situ. Kalau masyarakat tersebut adalah
petani – lahan garapannya adalah laboratorium sekaligus perpustakaannya.

Seperti yang dilakukan oleh petani selama ini, yakni dalam rangka mengcounter adanya banjir
penyuluhan terhadap petani, maka lahir Sekolah Lapangan Petani. Petani berkumpul selama satu
kali seminggu selama satu musim ( 12 minggu ) untuk mengikuti dan menganalisa perkembangan
tanaman mereka, fase demi fase. Sekaligus mereka mendalami beberapa prinsip yang terkait dengan
perkembangan tanaman seperti dinamika populasi serangga, fisiologi dan kompensasi tanaman,
pemeliharaan kesuburan tanah, pengaruh air dan cuaca, pemilihan varietas, dan lain – lain, melalui
eksperimen yang mereka lakukan sendiri. Selain kegiatan pokok, serangkaian kegiatan (topik khusus)
dilakukan sesuai dengan masalah-masalah khusus yang dihadapi di setiap tempat. Yang selalu
nampak pada Sekolah Lapangan adalah peran aktif petani sebagai pelaku, peneliti, pemandu dan
manajer lahan yang ahli. Materi pengembangan manusia dan analisis sosial tidak kalah penting



    16 Modul | Teknik Fasilitasi
dengan ilmu pertanian dalam penyelenggaraan Sekolah Lapangan, sebagaimana tercermin dalam
kegiatan perencanaan, dinamika kelompok dan sebagainya.
Lahirnya “Sekolah Lapang Petani” didasari oleh tiga tantangan pokok yang saling terkait, yakni :
       Keanekaragaman ekologi dan hayati.
       Peranan petani yang harus menjadi ahli di lahannya sendiri.
       Membangun kesadaran kritis terhadap sistem yang membelenggu dan menghancurkan
       petani.
Penerapan “Sekolah Lapang Petani” sebagai suatu langkah maju menuju pertanian yang adil dan
berkelanjutan dituntut untuk ‘meramu’ suatu pola pendekatan yang mampu menampung ketiga
tantangan tersebut dalanm suatu proses pendidikan yang terpadu dan dapat diselenggarakan secara
efektif di tingkat komunitas petani.
Sekolah di mana saja, tidak selalu di gedung, tidak harus di kampus, alam semesta itulah sekolahan
semestinya, sekolahan yang sejati, sekolah yang paling hakiki.




                                                                Modul | Teknik Fasilitasi   17
Modul 2
Topik: Dasar – Dasar komunikasi




        Peserta memahami dan menyadari:
        1. Unsur – unsur komunikasi
        2. Faktor penghambat komunikasi
        3. Tata cara membangun komunikasi efektif dalam pelaksanaan PNPM Mandiri
           Perkotaan




        Kegiatan 1: Permainan Mari Menggambar : komunikasi multi arah
        Kegiatan 2: Diskusi tata cara membangun komunikasi yang efektif




         2 Jpl ( 90’)




        Bahan Bacaan:
        Dasar – dasar Komunikasi




        • Kerta Plano, Spidol, selotip kertas dan jepitan besar
        • Kuda-kuda untuk Flip-chart
        • LCD
        • Metaplan
        • Papan Tulis dengan perlengkapannya



  18 Modul | Teknik Fasilitasi
Permainan ‘Mari Menggambar’ : Komunikasi Multi Arah

1) Buka pertemuan dengan salam singkat dan uraikan bahwa kita memasuki Tema Komunikasi dan
   Sosialisasi dengan modul pertama Dasar Dasar Komunikasi. Uraikan apa yang akan dicapai
   dengan modul ini, yaitu :
       Peseta mengetahui unsur – unsur komunikasi
       Peserta memahami faktor penghambat komunikasi
       Peserta memahami tata cara membangun komunikasi efektif dalam pelaksanaan PNPM
       Mandiri Perkotaan

   Uraikan juga bahwa kita akan memulai modul Dasar Dasar Komunikasi dengan kegiatan belajar
   pertama; “Permainan Mari Menggambar”

2) Ajak peserta untuk memahami kenapa peserta sebagai        fasilitator perlu mengetahui dasar –
   dasar komunikasi.

3) Beri pengantar bahwa proses komunikasi adalah proses yang biasa kita lakukan sehari - hari jadi
   seharusnya komunikasi bukanlah hal yang sulit . Tanyakan kepada peserta, berdasarkan
   pengalaman mereka betulkah ‘ komunikasi itu mudah ?’

4) Ajak peserta untuk membuktikan mudah tidaknya berkomunikasi melalui permainan ‘Mari
   Menggambar’. Gunakan Panduan Permainan “Mari Menggambar” yang ada dalam LK – Dasar
   dasar komunikasi

5) Setelah selesai permainan , ajak peserta untuk membuat menganalisis dari ketiga permainan
   tersebut mana yang paling berhasil ? Tanyakan kenapa ? minta peserta untuk menuliskan
   alasannya di kartu metaplan.

6) Kelompokkan kartu – kartu berdasarkan gagasan yang sejenis , kemudian bahas bersama
   unsur–unsur komunikasi (sumber, pesan, saluran, penerima, dampak) sampai mendapatkan
   pemahaman bahwa ada berbagai faktor penghambat dalam berkomunikasi, dan komunikasi
   multi arah lebih efektif dibandingkan dengan komunikasi satu arah.

7) Berikan penegasan apabila diperlukan




                                                                Modul | Teknik Fasilitasi   19
         Unsur-unsur komunikasi pada dasarnya adalah 5, yaitu: sumber atau pemberi pesan, pesan
         yang ingin disampaikan, saluran untuk menyalurkan, penerima pesan dan dampak atau apa
         yang terjadi setelah pesan diterima.

         Seringkali proses komunikasi dianggap mudah, tetapi dengan pengalaman berkomunikasi yang
         dilakukan lewat permainan tadi ternyata proses komunikasi tidaklah sesederhana yang kita
         bayangkan. Dalam pelaksanaan kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan di lapangan, seringkali para
         fasilitator mengalami berbagai hambatan dalam berkomunikasi, sehingga komunikasi yang
         dilakukan rusak atau macet. Misalnya pada saat kita mengajak masyarakat untuk terlibat
         dalam kegiatan musyawarah warga, seringkali yang kita terima adalah tatapan mata dingin,
         sikap acuh tak acuh atau bahkan umpatan. Gambaran tersebut memperlihatkan kegagalan kita
         sebagai sumber dan penerima pesan dalam berkomunikasi.

         Faktor yang menyebabkan kegagalan dalam berkomunikasi terjadi karena :

            Terjadi kegagalan proses decoding (pengkodean), yaitu proses menerjemahkan gagasan
            ke dalam symbol – symbol yang umum ( kata, bahasa, gambar dan sebagainya ).
            Pesan yang disampaikan tidak sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik penerima.
            Saluran atau media yang digunakan kurang tepat.
            Kegagalan penerima pesan dalam menafsirkan pesan – pesan yang diterima ( encoding ).




8) Ajak peserta untuk refleksi dan menganalisis hambatan–hambatan komunikasi yang mereka
   alami sehari hari, berdasarkan pengalaman mereka dan bagikan dengan peserta lain.




Diskusi Tata Cara Membangun Komunikasi Yeng Efektif
1) Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok terdiri dari 5 s/d 7 orang kemudian mintalah agar tiap
   kelompok untuk melakukan analisis, berdasarkan pengalaman permainan tadi yang ternyata
   komunikasi tidaklah mudah bagaimana caranya membangun komunikasi yang efektif dalam
   pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan ? Tuliskan jawaban kelompok pada kertas plano.

2) Untuk pendalaman, lakukan diskusi kelompok dengan cara berputar. Pertanyaan diskusi : Apa
   yang harus dipertimbangkan agar komunikasi yang kita bangun efektif ?. Lakukan satu putaran
   dan bahas bersama.

3) Kemudian minta tiap kelompok menyajikan hasilnya untuk dibahas dalam diskusi kelas

4) Refleksikan dan simpulkan bersama




    20 Modul | Teknik Fasilitasi
Hal – hal yang harus diperhatikan agar komunikasi efektif:

   Pesan – pesan harus mudah diterima artinya sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan
   masyarakat; informasi yang diberikan harus tepat dengan keadaan mereka; dapat
   diterima dan cocok dengan kebudayaan dan kepercayaan kelompok sasaran; informasi
   yang benar secara teknis/ilmiah; sederhana dan mudah dimengerti; murah atau hanya
   perlu waktu dan usaha yang minim untuk melakukannya
   Pesan harus berdasarkan pada kebutuhan nyata masyarakat dan menekankan hal – hal
   yang penting bagi mereka bukan yang penting bagi fasilitator atau KMW.
   Kemasan pesan harus dapat menggugah minat kelompok sasaran, walaupun informasi
   yang disampaikan berguna bagi masyarakat kalau dikemas dengan cara yang kurang
   tepat seringkali tidak diperhatikan oleh mereka.
   Memilih saluran atau media yang tepat, kita dapat menggunakan satu atau kombinasi
   dari berbagai saluran (media ) tergantung kepada tujuan komunikasinya.
   Harus mempertimbangkan karakteristik kelompok sasaran, baik budaya, bahasa,
   kebiasaan, tingkat pendidikan dan lain – lain. Mengenali siapa yang ingin kita jangkau
   dapat membantu kita dalam mengembangkan pesan yang sesuai, pertanyaan pertama
   yang harus kita ajukan dlm komunikasi adalah, ‘siapakah khalayak kita ?




                                                        Modul | Teknik Fasilitasi   21
LK – Dasar Dasar Komunikasi – 1
“Permainan Mari Menggambar”


                                       Mari Menggambar
                               Komunikasi Satu dan Dua Arah

Permainan ini untuk menggambarkan kepada peserta efektifitas komunikasi dua arah dan mengawali
diskusi agar peserta memahami prinsip – prinsip dasar komunikasi.


Langkah langkah
   • Siapkan 3 lembar gambar bentuk–bentuk lingkaran, segitiga, kotak yang saling bertumpuk (
      lihat gambar) dan tersimpan dalam amplop besar.

   •     Mintalah 3 orang peserta sebagai relawan untuk tampil ke depan kelas. Peserta lain diminta
         menyiapkan kertas kosong dan pensil. Kumpulkan relawan secara terpisak dan berikan
         penjelasan kepada ketiga relawan tersebut mengenai peran masing-masing.
         - Relawan 1 : Sebagai penyiar TV dalam acara “Mari Menggambar” sehingga instruksinya
             satu arah, pemirsa tidak dapat bertanya dan contoh gambar juga tidak ditnjukkan.
             Hasilnya tentu saja pemirsa membuat gambar yang macam-macam dan tidak sama
             dengan contoh.
         - Relawan 2 : Sebagai guru yang otoriter dalam acara “Pelajaran Menggambar” yang
             memberi instruksi apa yang harus digambar, memberi kesempatan bertanya tetapi tanpa
             memberikan contoh-contoh, sehingga tentu saja gambar murid macam-macam dan tidak
             sama dengan yang diharapkan
         - Relawan 3 : Sebagai agen “pembaruan” (fasilitator) dalam acara “Pelajaran
             Menggambar” yang tidak hanya memberikan instruksi tetapi juga mendiskusikan dan
             memberikan contoh-contoh sehingga hasilnya akan sama/mirip dengan yang diharapkan.

   •     Contoh informasi dasar yang diberikan kepada peserta oleh Penyiar TV, Guru dan Agen
         Pembaruan adalah :
         - Buat gambar segi-3 sama kaki di tengah kertas
         - Bersinggungan dengan titik sudut kiri segi tiga tersebut buatlah gambar segi-4 dalam
            posisi miring ke kiri
         - Di atas segi-3 dan bersinggungan dgn titik sudut atas segi-3 tersebut buatlah gambar
            lingkaran.
         - Bersinggungan dgn gambar lingkaran tersebut dibagian atas buatlah gambar segi-4
         - Di bawah segi-4 miring yang di bawah segi-3 buatlah gambar segi-4 dalam posisi
            datar dengan ujung segi-4 miring memotong salah satu sisinya
         - Buatlah bayangan pada 2 sisi dari segi-4 miring dan datar yang paling bawah.

   •     Jelaskan kepada peserta bahwa 3 orang relawan tadi adalah penyiar TV, guru dan ‘agen
         pembaruan‘,




       22 Modul | Teknik Fasilitasi
•   Permainan pertama seorang penyiar TV untuk acara “mari menggambar”, dan para peserta
    adalah pirsawan yang belajar menggambar. Mereka harus belajar menggambar sesuai
    dengan keterangan penyiar. Karena ini acara TV, maka peserta tentu tidak dapat bertanya
    sementara sang penyiar tidak boleh memperlihatkan gambarnya. Setelah jelas, minta sang
    penyiar mulai melaksanakan acaranya.


•   Permainan kedua seorang guru untuk acara “belajar menggambar”, peserta lain adalah
    murid dan diminta menyiapkan kertas kosong baru. Saat ini adalah acara “ pelajaran
    menggambar” di kelas dan relawan tadi sebagai gurunya sedangkan peserta lain sebagai
    murid. Caranya sama dengan acara TV tadi, hanya kali ini murid boleh bertanya, tetapi guru
    tetap tidak memperlihatkan gambarnya. Setelah jelas, minta sang “guru” segera memulai
    pelajarannya.

•   Permainan ketiga tetap “belajar menggambar” untuk peserta pelatihan dan gurunya adalah
    seorang “agen pembaruan”. Jelaskan bahwa relawan baru ini adalah seorang “agen
    pembaruan” yang akan mengajar peserta pelatihan menggambar, dan minta peserta
    menyiapkan kertas kosong baru. Kali ini caranya bebas sama sekali ( boleh bertanya, boleh
    apa saja, boleh juga menunjukkan contoh, terserah sang relawan dan peserta ). Kemudian
    minta sang “agen pembaruan” mulai acaranya.

•   Setelah selesai, bandingkan hasil gambar ketiga proses tadi dan mana yang paling sesuai
    dengan harapan (gambar yang telah disiapkan sebelumnya)


•   Ajaklah seluruh peserta kemudian mendiskusikan : mengapa hasilnya demikian. Minta
    mereka mengungkapkan faktor-faktor yang menyebabkan gambar yang dibuat lebih
    mendekati harapan atau sama dengan harapan dan apa hambatannya yang menyebabkan
    tidak tercapai harapan. Untuk ini dapat digunakan juga metoda Metaplan

•   Simpulkan bersama hasil diskusi sesuai dengan ungkapan dan analisis peserta.




                                                            Modul | Teknik Fasilitasi   23
Contoh Gambar Yg Diharapkan “Permainan Mari Menggambar”




.




    24 Modul | Teknik Fasilitasi
Dasar – Dasar Komunikasi
Marnia Nes


Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari pengirim kepada penerima melalui sebuah
saluran untuk menghasilkan dampak yang diinginkan dengan menggunakan symbol/lambang yang
umum. Symbol yang digunakan bisa berupa bahasa tulisan, gambar, musik dan sebagainya.

Unsur Unsur Komunikasi
Dalam proses komunikasi ada 5 unsur dasar yaitu : sumber informasi (komunikator); pesan ; saluran
komunikasi (media); penerima informasi( komunikan ), dampak atau akibat dan umpan balik.

Sumber
   •    Adalah orang yang mula – mula memberikan aksi komunikasi atau memberikan pesan
        kepada penerima, pengirim pesan biasa juga disebut komunikator. Dalam membuat pesan
        kepada penerima terjadi proses encoding (pengkodean) yaitu proses menerjemahkan
        gagasan ke dalam symbol – symbol yang umum atau sudah dikenal ( kata, bahasa, gambar
        dan sebagainya ) menjadi pesan yang mudah dipahami. Sumber informasi bisa
        individu/perorangan atau lembaga yang memulai proses komunikasi.

Pesan
   •    Pesan adalah informasi yang ingin disampaikan oleh pengirim kepada penerima. Pesan yang
        disampaikan bisa berupa pesan verbal yaitu semua jenis komunikasi lisan yang
        menggunakan kata-kata, bisa juga berupa pesan non verbal seperti bahasa tubuh (ekspresi
        wajah, sikap tubuh, nada suara, gerakan tangan, cara berpakaian dan sebagainya ), musik
        tarian atau bahasa isyarat.

Saluran
   •    Unsur ini merupakan media atau sarana yang digunakan supaya pesan dapat disampaikan
        oleh sumber kepada si penerima. Saluran seringkali disebut dengan metode komunikasi.
        Saluran komunikasi bisa saja sederhana, misalnya mengunakan kata-kata/suara, tetapi juga
        prosesnya bisa tidak sederhana. Misalnya kita bisa menggunakan radio untuk kampanye
        tingkat kota, bisa menggunakan arisan warga untuk kampanye di tingkat RW dengan
        menggunakan berbagai media seperti leaflet, kartu bergambar dan sebagainya.

Penerima
   •    Adalah orang –orang yang menerima pesan dari komunikator, biasa juga disebut komunikan.
        Saat menerima pesan dari pengirim, terjadi proses penafsiran kembali pesan – pesan yang
        diterimanya yang disebut encoding. Proses decoding sangat dipengaruhi oleh persepsi dan
        latar belakang sosial budaya dari komunikan.

Dampak/akibat
   Dampak apa yang kita inginkan dari pesan yang disampaikan
        Apakah kita ingin meningkatkan kesadaran kelompok sasaran
        Apakah kita ingin mengubah sikap mereka
        Apakah ingin meningkatkan keterampilan mereka, atau




                                                               Modul | Teknik Fasilitasi   25
       Apakah ingin mengubah perilaku mereka ?


Umpan Balik
   Umpan balik mengacu pada segala informasi yang diperoleh kembali si pengirim pesan dari si
   penerima. Kegunaan umpan balik :
   • Dapat membantu sumber dalam menentukan keberhasilan usaha komunikasinya
   • Sumber dapat memperkuat pesan atau mengubah strateginya berdasarkan umpan balik yang
      diterima.
   • Dapat digunakan untuk merencanakan program komunikasi yang lebih berhasil untuk masa
      datang.
   • Pada saat memberikan umpan balik komunikan juga akhirnya bertindak sebagai komunikator
      yang memberikan pesan kepada komunikator pertama. Sehingga komunikator dan
      komunikan sebetulnya keduanya merupakan sumber informasi dan masing – masing
      memberi dan menerima pesan secara serentak dan pada saat yang bersamaan terjadi proses
      saling mempengaruhi.


Membangun Komunikasi Yang Efektif

Banyak di antara kita menganggap bahwa komunikasi itu mudah, tetapi apakah betul demikian ?.
Hanya bila kita memasuki suatu pengalaman di mana proses komunikasi yang kita lakukan rusak
atau macet, kita baru menyadari bahwa komunikasi itu ternyata tidak mudah. Misalnya pada saat kita
mengajak tetangga kita untuk ikut dalam kegiatan rembug warga, seringkali yang kita terima
hanyalah tatapan mata dingin, sikap acuh tak acuh atau bahkan umpatan. Gambaran tersebut
memperlihatkan kegagalan kita sebagai sumber dan penerima pesan dalam berkomunikasi.

Untuk mengurangi kegagalan komunikasi diperlukan keterampilan komunikasi yang efektif. Meskipun
berbicara dan mendengarkan pembicaraan orang lain cukup mudah, tetapi ada perbedaan yang
besar antara pembicaraan yang normal dan komunikasi yang terampil. Komunikasi yang efektif
membutuhkan kepekaan dan keterampilan yang hanya dapat kita lakukan setelah mempelajari
proses komunikasi dan kesadaran akan perilaku orang lain dan perilaku kita pada saat sedang
berkomunikasi. Pada dasarnya bila kita menginginkan komunikasi yang efektif kita harus memahami
apa yang menjadi penyebab perilaku orang lain. Semakin besar tanggapan positif terhadap pesan
yang kita sampaikan artinya semakin efektif komunikasi yang kita lakukan.

Cara Berkomunikasi yang Efektif ?

a) Pesan–pesan akan mudah diterima apabila pesan–pesan tersebut memiliki sifat – sifat atau
   prasyarat sebagai berikut :
   • Sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan masyarakat
   • Informasi yang tepat dengan keadaan mereka
   • Dapat diterima dan cocok dengan kebudayaan dan kepercayaan kelompok sasaran
   • Informasi yang benar secara teknis/ilmiah
   • Sederhana dan mudah dimengerti
   • Murah atau hanya perlu waktu dan usaha yang minim untuk melakukannya.


   Yang paling penting, pesan harus berdasarkan pada kebutuhan nyata masyarakat dan
   menekankan hal – hal penting bagi mereka., bukan hal penting bagi lembaga penyelenggara
   program yang menyampaikan pesan. Setiap hari, masyarakat dibanjiri banyak pesan yang
   beranbekaragam. Agar pesan-pesan kita dapat menarik perhatian atau menggugah minat
   kelompok sasaran kita harus mengemasnya dengan baik. Informasi yang berguna dan sesuai




    26 Modul | Teknik Fasilitasi
   terkadang tidak diperhatikan oleh masyarakat, karena disampaikan dengan cara yang kurang
   tepat (misalnya terlalu menantang situasi yang berlaku ), membosankan, atau terlalu banyak
   muatan teknis.


b) Memilih saluran yang tepat, dalam memilih saluran yang akan dipergunakan untuk program
   komunikasi, tidaklah sesederhana memilih saluran yang satu atau yang lain. Kita dapat
   mempergunakan satu atau kombinasi dari keduanya, tergantung pada tujuan komunikasi
   dengan memperhitungkan pula keunggulan dan kelemahan setiap media.

c) Dalam setiap komunikasi, paling baik bila perhatian diawali dari unsur penerima (biasanya
   disebut Khalayak atau Kelompok Sasaran). “ Kenali khalayak anda “, merupakan prinsip dasar
   dalam komunikasi. Pertanyaan pertama yang harus kita ajukan adalah, “siapakah khalayak kita
   ?”. Jika kita tidak dapat mengidentifikasi secara khusus dengan siapa kita akan berkomunikasi
   selain dengan “seseorang” atau “masyarakat umum”, kita sebaiknya tidak melanjutkan proses
   komunikasi sebelum kita memperjelas hal tersebut.

   Mengenali siapa yang ingin kita jangkau dapat membantu kita dalam mengembangkan pesan
   yang sesuai, memilih media yang sesuai dan menentukan saluran yang paling mungkin untuk
   menjangkau mereka. Sebaiknya, kita menemukan beberapa karakteristik khalayak yang relevan
   seperti data kependudukan, termasuk karakteristik mereka yang berhubungan dengan media
   serta tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku yang berhubungan dengan topik yang ingin kita
   komunikasikan.

Tahapan Komunikasi
Bagi kita yang bekerja dalam pengembangan masyarakat, kita berkomunikasi dengan tujuan yang
khusus – yaitu untuk mengupayakan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui perubahan
manusia, serta faktor sosial dan politik yang mempengaruhi sikap mereka. Untuk mencapai tujuan –
tujuan tersebut, komunikasi yang berhasil harus melewati beberapa tahapan. Karenanya, penting
untuk mempelajari apa yang terjadi dalam setiap tahap untuk mencegah kegagalan dalam proses
komunikasi.

Menjangkau khalayak
   •       Komunikasi tidak akan efektif kalau khalayak tidak dapat menjangkau atau mendengarnya.
           Hal ini nampak sangat jelas dan masuk akal, namun banyak program gagal pada tahap
           pertama tersebut. Contoh – contoh pesan yang tidak menjangkau khalayak adalah :


       •    Siaran radio yangmengudara pada waktu yang tidak tepat setiap harinya
       •    Brosur penyuluhan yang hanya dibiarkan berdebu di sudut kantor atau diberikan pada
            orang yang tidak tepat.
       •    “ Mengajari orang yang sudah memahami “, misalnya poster yang ditempatkan di kantor
            KMW yang dibaca oleh pelaku PNPM Mandiri Perkotaan yang paham isu yang
            bersangkutan, namun justru khalayak yang ingin kita jangkau tidak pernah mengunjungi
            KMW.



Menarik perhatian khalayak
Setiap komunikasi harus menarik perhatian dahulu sehingga masyarakat akan berusaha untuk
mendengarkan atau membacanya. Banyak contoh kegagalan dalam hal ini :



                                                                Modul | Teknik Fasilitasi   27
     •   Masyarakat hanya melewati poster tanpa membacanya karena sebagian besar terdiri dari
         tulisan (tidak ada gambar)
     •   Di dalam kelas, ibu-ibu tidak memperhatikan karena materi yang diberikan oleh fasilitator
         membosankan
     •   Kader memindahkan atau mengganti saluran radio ke saluran lain karena materi yang
         dibahas hanya berbicara tentang hal – hal teknis saja
     •   Karena penyampaian materi (isu yang kontroversial) kurang tepat, beberapa peserta tidak
         mau mendengar lagi, “Daripada kita pusing dengan konflik yang akan terjadi, lebih baik
         kita tidak ikut-ikutan”.



Pemahaman pesan
Masyarakat mencoba mengartikan apa yang mereka lihat atau dengar. Dalam hal ini penafsiran
setiap orang dalam komunikasi tergantung pada banyak hal. Kesalahpahaman dapat terjadi bila :


         Materi merupakan hal yang asing atau sangat baru bagi khalayak
         Bahasa terlalu rumit dan istilah – istilah yang digunakan tidak biasa didengar
         Gambar memuat diagram yang rumit dengan detail yang membingungkan
         Informasi yang disajikan terlalu banyak/berat sehingga sulit untuk diserap
         Kalimat/gambar yang    digunakan      mempunyai           arti    luas    sehingga   dapat
         memberikan/memungkinkan penafsiran lain.



Penerimaan atau penolakan pesan

Setelah proses “pengolahan” pesan, si penerima mungkin menerima atau menolak informasi
berdasarkan tingkat keuntungan yang disajikan atau ketidaktepatan informasi tersebut dengan situasi
mereka. Biasanya lebih mudah mempromosikan sesuatu karena hasilnya mudah atau cepat untuk
dilihat dampaknya, misalnya penggunaan urea agar padi atau jagung tumbuh lebih cepat. Namun
penerimaan pesan akan lebih sulit bila kita berusaha mengubah suatu kepercayaan atau kebiasaan
yang telah lama mereka anut di dalam kehidupan mereka. Jika suatu kepercayaan telah dianut oleh
seluruh masyarakat atau merupakan bagian dari kepercayaan yang lebih mendasar seperti agama,
kita dapat memperkirakan betapa sulitnya mengubahnya, apalagi kalau kita hanya mempergunakan
metode komunikasi atau pendekatan yang tidak tepat.


Perubahan sikap/perilaku

Jika khalayak menerima informasi, penerimaan mereka dapat menjadi perubahan sikap ( yang
nantinya dapat menuju pada perubahan perilaku) sesuai dengan tujuan komunikasi kita. Namun,
meskipun telah terjadi perubahan kepercayaan atau sikap, tidak selalu otomatis perilaku mereka
berubah. Komunikator perlu mengetahui faktor penghalang yang mungkin ada dalam perubahan
perilaku, dan mencoba mengatasinya dengan baik. Tekanan yang berasal dari orang lain dalam
sebuah keluarga, masyarakat atau lingkungan dapat mencegah seseorang untuk mengubah
perilakunya.




    28 Modul | Teknik Fasilitasi
Ada banyak contoh penerimaan pesan yang tidak dapat mengubah sikap atau perilaku kelompok
sasaran, misalnya :
    • Seorang pedagang setuju bahwa trotoar tidak bisa dipergunakan sebagai tempat berjualan,
        karena trotoar tersebut bukan tempatnya berjualan.
    • Seorang bapak sadar bahwa pekerjaan di rumah (seperti mengasuh anak, memasak, dll)
        memakan banyak waktu dan tenaga, namun dia tidak mau membantu isterinya karena jenis
        – jenis pekerjaan tersebut dianggap “pekerjaan perempuan” di daerahnya.


Mempertahankan atau tidak mempertahankan sikap/perilaku baru

Jika perubahan sikap atau perilaku berpengaruh positif, seseorang mungkin akan mempertahankan
sikap atau perilaku baru tersebut. Namun jika pengalamannya negative, mungkin perubahan
sikap/perilaku tersebut tidak akan dipertahankan.




                                                            Modul | Teknik Fasilitasi   29
Modul 3
Topik: Fasilitasi dan Pembelajaran




         Peserta memahami dan menyadari:
         1. Berbagai pendekatan dalam fasilitasi
         3. Berbagai metode fasilitasi dalam PNPM Mandiri Perkotaan




         Kegiatan 1: Ceramah dan tanya jawab pendekatan fasilitasi
         Kegiatan 2: Permainan tiupan kapas : membangun kelompokl
         Kegiatan 3: Berlatih Membuat Pertanyaan
         Kegiatan 4: Diskusi Kelas Media Pembelajaran
         Kegiatan 5 : Diskusi Kelompok Berbagai Metode Pembelajaran




          5 Jpl ( 225 ’)




         1. Pendekatan dalam fasilitasi
         2. Strategi Pembelajaran
         3. Teknik Bertanya
         4. Mendengar dan ‘Mendengarkan’
         5. Penggunaan Media
         6. Beberapa Media Sebagai Alat Bantu Pembelajaran
         7. Metode Pembelajaran




   30 Modul | Teknik Fasilitasi
             • Kerta Plano, metaplan
             • Kuda-kuda untuk Flip-chart
             • Spidol, selotip kertas dan jepitan besar




Ceramah dan Tanya Jawab Pendekatan Fasilitasi

1) Buka pertemuan dengan salam dan jelaskan bahwa kita memasuki Modul kedua dari Tema
   Teknik Fasilitasi yaitu Fasilitasi dan Pembelajaran. Tujuan dari modul ini adalah :
    Peserta memahami dan menyadari:
   •     Berbagai pendekatan dalam fasilitasi
   •     Proses perkembangan kelompok
   •     Berbagai metode fasilitasi dalam PNPM Mandiri Perkotaan


2) Uraikan juga bahwa kita akan memulai modul ini dengan kegiatan ke-1, yaitu Ceramah dan
   Tanya Jawab Pendekatan Fasilitasi

3) Tanyakan kepada peserta bagaimana kira – kira mereka akan melakukan fasilitasi dalam
   pelaksanaan PNPM Madiri Perkotaan ? . Tuliskan jawaban peserta pada kertas plano.


       Berikan penjelasan bahwa pendekatan dalam memfasilitasi ada dua yaitu pendekatan individu
       dan pendekatan kelompok. Pendekatan individu dilakukan dengan kunjungan rumah, ‘dialog
       dengan orang perorang’, dll ; pendekatan kelompok dilakukan dalam pertemuan – pertemuan
       kelompok baik yang sengaja dibentuk maupun dalam kelompok yang sudah ada sebelumnya.


4) Bagikan lembar kerja ( matriks ) kepada setiap peserta , mintalah mereka menganalisis kekuatan
   dan kelemahan dari masing – masing pendekatan tersebut.

5) Lakukan pembahasan dari hasil pengisian lembar kerja tersebut di atas. Berikan penekanan
   pendekatan kelompok jauh lebih efektif jika dibandingkan dengan pendekatan lain.




                                                                   Modul | Teknik Fasilitasi   31
PNPM Mandiri Perkotaan mengembangkan pendampingan dengan penenkanan pada pendekatan
kelompok melalui Komunitas Belajar Kelurahan, diskusi – diskusi dan musyawarah dengan
masyarakat, BKM/LKM, KSM, Forum BKM/LKM dan sebagainya.




Permainan dan Diskusi Membangun dan Memfasilitasi
Kelompok

1) Jelaskan kepada peserta bahwa kita akan memasuki kegiatan ke 2 dari Modul yang sama yaitu :
   Permainan Membangun dan Memfasilitasi Kelompok. dan apa yang akan dicapai melalui kegiatan
   belajar ini;

2) Jelaskan kepada peserta, bahwa mereka       dibagi ke dalam 2 kelompok untuk melakukan
   permainan ‘Meniup Bola Kapas’.

3) Jelaskan kepada peserta aturan main dalam permainan ini (lihat LK - Petunjuk Permainan
   ‘Meniup Bola Kapas’ ).

4) Setelah permainan selesai ajak peserta untuk merefleksikan pengalamannya dalam melakukan
   permainan tadi . hubungkan hasil refleksi dengan proses pembentukan kelompok dan dinamika
   kelompok .

5) Berikan penegasan




    32 Modul | Teknik Fasilitasi
        Proses pembentukan kelompok :
            Identifikasi kebutuhan , penekanan bahwa kepentingan dan kebutuhan yang sama
            dapat menjadi pengikat dan menjadi sebab terbentuknya kelompok.
            Musyawarah pembentukan kelompok.
            Dalam pertemuan ini harus dihadirkan pihak – pihak yang berkepentingan . Dalam
            pertemuan ini diharapkan dihasilkan kesepakatan untuk membentuk kelompok.
            Menentukan tujuan dan rencana kegiatan untuk mencapai tujuan.
            Pelaksanaan kegiatan.
            Pemantauan dan evaluasi

        Dinamika kelompok
        Jelaskan kepada peserta dengan mengulas proses permainan tadi mengenai :
        Faktor yang dapat menyatukan kelompok, yaitu :
            o Kerjasama, biasanya akan terjadi apabila angota kelompok memiliki kesamaan
                pandangan, kesamaan kepenting, kesamaan kebutuhan dan masalah, dan
                kesamaan tujuan.
            o Apabila para anggota kelompok berusaha menghilangkan batas – batas yang
                membedakan di antara mereka.
        Faktor yang bisa memecah belah kelompok :
            o Peraingan yang tidak sehat, biasanya kalau ada anggota kelompok ingin bersaing,
                maka dia akan berupaya agar dirinya mempunyai kesempatan lebih dulu dan dia
                akan mendominasi.
            o Konflik yang meruncing, yaitu pertentangan dua pihak atau lebih yang mengarah
                kepada pertikaian.
 .




 Jadi di dalam kelompok yang kita fasilitasi bisa terjadi kerjasama atau konflik, fasilitasi yang
 dilakukan oleh fasilitator adalah fasilitasi untuk membangun kerjasama dalam kelompok.
 Membangun kerjasama artinya membangun komunikasi dialogis di antara anggota kelompok
 (warga masyarakat) sehingga tumbuh saling pemahaman, berbagi informasi dan nilai – nilai di
 anatara mereka. Oleh karenanya teknik fasilitasi yang dikembangkan memakai pendekatan
 pembelajaran partisipatif dengan komunikasi yang partisipatif pula.




6) Jelaskan kepada peserta, dalam memfasilitasi proses pembelajaran di masyarakat kita harus
   mempertimbangkan karakteristik peserta (warga belajar) baik dari tingkat pendidikan,
   kemampuan baca tulis, latar belakang sosial ekonomi, mata pencaharian, usia, jenis kelamin dan
   sebagainya.

7) Mintalah peserta untuk membaca ”Strategi Pembelajaran” yang ada dalam Bahan Bacaan Modul,
   kemudian mintalah sukarelawan untuk menjelaskan tahapan (strategi) pembelajaran secara
   umum.

8) Bahas dan refleksikan bersama.




                                                               Modul | Teknik Fasilitasi   33
Berlatih Membuat Pertanyaan
1) Jelaskan kepada peserta bahwa kita akan membahas kegiatan 3 dalam modul ini yaitu berlatih
   membuat pertanyaan dalam memfasilitasi.

2) Ingatkan kepada peserta bahwa sesuai fungsinya orang yang memfasilitasi akan lebih banyak
   memberikan ’pertanyaan’ kepada peserta bukan ’pernyataan’. Pertanyaan – pertanyaan yang
   dilontarkan haruslah merangsang daya pikir peserta.

3) Jelaskan bahwa sekarang kita akan mencoba berlatih untuk membuat daftar pertanyaan
   berdasarkan kepada daur belajar dari pengalaman (pengalaman berstruktur). Ingatkan kembali
   kepada tahapan daur belajar dari pengalaman. Kasus yang akan dibahas adalah memfasilitasi
   kelompok perempuan untuk mendiskusikan permasalahan kemiskinan yang dialami oleh warga.
   Bagilah peserta menjadi 3 kelompok, kemudian mintalah kepada :

           •   Masing – masing anggota kelompok 1 untuk menuliskan daftar pertanyaan –
               pertanyaan   untuk     membantu      warga      (kelompok perempuan) untuk
               MENGUNGKAPKAN pengalaman – pengalaman kemiskinan yang dihadapi mereka.
               Dalam kartu metaplan, satu kartu untuk satu pertanyaan.

           •   Masing – masing anggota kelompok 2         menuliskan daftar pertanyaan untuk
               membantu warga (komunitas perempuan) MENGANALISA apa yang menjadi faktor
               penyebab kemiskinan yang terjadi pada mereka.

           •   Masing – masing anggota kelompok 3 menuliskan daftar pertanyaan untuk
               membantu warga (komunitas perempuan) untuk MENYIMPULKAN hasil dari
               pembahasan yang dilakukan mengenai kemiskinan yang dialami mereka.

4) Tempelkan kartu – kartu metaplan tersebut berdasarkan kelompok kemudian bahas bersama

5) Refleksikan bersama, pakailah bahan bacaan ”Teknik Bertanya” dan ’Mendengar dan
   Mendengarkan’ sebagai acuan




Diskusi Kelas : Media Pembelajaran

1) Jelaskan kepada peserta bahwa kita akan memulai kegiatan 4 dalam modul ini, yaitu membahas
   media pembelajaran yang biasa digunakan untuk mempermudah proses fasilitasi.




    34 Modul | Teknik Fasilitasi
2) Ingatkan kepada peserta bahwa pada dasarnya proses fasilitasi adalah proses komunikasi, pada
   pembahasan dasar – dasar komunikasi sudah dibahas bahwa media memegang peranan penting
   untuk mempermudah proses komunikasi.           Tanyakan kepada peserta media – media
   pembelajaran apa saja yang selama ini dikenal oleh mereka ?. Tuliskan jawaban peserta dalam
   kertas plano.

3) Ajaklah peserta untuk menganalisa fungsi setiap media (gunakan tabel di bawah ini sebagai alat
   bantu)
           • Membantu memudahkan penjelasan?
           • Dapat mendorong/merangsang diskusi?
           • Membuat kegiatan belajar jadi lebih menarik?
           • Mengurangi terlalu banyak tulisan/teks yang membosankan?
           • Menyajikan gambar – gambar yang menggugah perasaan?
           • Memperlihatkan hal – hal yang sulit dibaw atau diperhatikan?
           • Pesan menjadi lebih mudah diingat?
           • Merangsang partisipasi peserta?


 Jenis Media                                    Fungsi




4) Perkaya jenis – jenis media dengan pengetahuan yang dipunyai oleh pemandu dan analisa juga
   fungsinya.

5) Refleksikan hasil pembahasan bersama, beri penegasan oleh pemandu apabila diperlukan.




 Media yang dipilih untuk kegiatan belajar harus sesuai dengan tujuan belajar yang ingin dicapai.
 Tetapi selain memilih media yang tepat, perlu juga diperhatikan cara menggunakan media secara
 baik dan benar. Sebab bentuk media apapun yang digunakan meskipun dirancang dengan baik,
 tanpa difasilitasi dengan baik proses diskusinya , media tersebut tidak akan menghasilkan dampak
 seperti yang diharapkan. Untuk itu keterampilan memfasilitasi diskusi dengan menggunakan media
 merupakan faktor yang menentukan bagi pengguna media.




Diskusi Kelompok Berbagai Metode Pembelajaran

1) Jelaskan kepada peserta bahwa kita akan memasuki kegiatan ke 5 dari Modul Fasilitasi dan
   Pembelajaran yaitu membahas metode pembelajaran.




                                                               Modul | Teknik Fasilitasi   35
2) Ajak peserta untuk curah pendapat merumuskan daftar jenis – jenis metode pembelajaran yang
   biasa dipakai dalam pembelajaran masyarakat berdasarkan pengetahuan dan pengalaman
   mereka. Tulis tiap jawaban peserta pada kertas plano .


 Metode pembelajaran : Brainstorming ( curah pendapat ), ceramah, tanya jawab, diskusi kelompok,
 diskusi pleno, penugasan/praktek, permainan, bermain peran, analisis situasional dan simulasi, dll
 (lihat Bahan Bacaan 1).


3) Bagi peserta menjadi 3 kelompok, beri tugas tiap kelompok untuk membahas tujuan, kelebihan
   dan kekurangan dari 3 jenis metode pembelajaran yang telah dirumuskan bersama.

4) Setelah selesai diskusi kelompok, minta setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil
   diskusinya.

5) Bahas dan refleksikan bersama peserta hasil pleno kelas dan berikan penegasan dari pemandu
   apabila diperlukan.



          •   Dalam pemilihan metode pambelajaran , fasilitator perlu memilih metode yang
              memungkinkan warga belajar mengalami 4 tahap proses belajar ( pengalaman nyata,
              pengamatan dan refleksi, konseptualisasi, penerapan/ujicoba), dan mempraktekan
              metode tersebut dalam sebuah proses belajar yang menyenangkan.

          •   Untuk dapat memilih metode yang tepat fasilitator perlu mengetahui karakteristik dan
              ranah belajar dari setiap metode.




 Metode                     Ranah belajar
                               Pengetahuan                 Sikap               Keterampilan
 Wawancara/tanya
 jawab
 Curah pendapat
 Ceramah
 Diskusi kelompok
 Diskusi kelompok
 terfokus (FGD)
 Penugasan/praktek
 Permainan
 Bermain peran
 Analisis situasional
 Kunjungan silang
 Simulasi




    36 Modul | Teknik Fasilitasi
  Setiap metode balajar tidak bisa berdiri sendiri, kombinasi antar metode akan membuat proses
  belajar semkin menarik dan tidak membosankan.
  Pemilihan metode juga harus berdasarkan beberapa pertimbangan :

     Kesesuaian dengan tujuan yang ingin dicapai.
     Fasilitator mampu menjalankan metode tersebut.
     Warga belajar mampu melibatkan diri dalam metode tersebu.t
     Murah, artinya tidak terlalu memakan alat bantu yang banyak.
     Besarnya kelompok yang difasilitasi.
     Ketersediaan waktu




LK 1– Fasilitasi dan Pembelajaran
Pertanyaan dan tugas yang terkait dengan “Ceramah dan Tanya Jawab
Pendekatan Fasilitasi”


Pendekatan                    Kekuatan                                Kelemahan
Fasiltiasi



Pendekatan
 Individu




Pendekatan
 Kelompok




                                                              Modul | Teknik Fasilitasi   37
.
LK 2 – Fasilitasi dan Pembelajaran
Pertanyaan dan tugas yang terkait dengan “Permainan Membangun
Kelompok”

“ Permainan Meniup Bola Kapas “

Permainan ini untuk menciptakan sebuah tim kerja, untuk mendorong perencanaan dan untuk
menyemangati peserta untuk berpikir analitis.

Langkah – langkah :
1) Peserta dibagi menjadi empat kelompok (sekitar lima anggota dalam setiap kelompok)

2) Setiap tim diberi sebuah bola kecil terbuat dari kapas. Bola kapas tersebut ukuran dan beratnya
   lebih kurang sama.

3) Setiap tim harus menunjuk seorang pengamat yang akan mengawasi dan mencatat tentang
   bagaimana kelompok ini bermain. Si pengamat ini tidak ikut bermain dalam permainan. Dia harus
   mencatat hal – hal yang menyebabkan keberhasilan atau kegagalan mereka dalam permainan
   ini. Contohnya, peran yang jelas dari setiap anggota.

4) Tugas kelompok : (1) Menjaga bola kapas tetap melayang.; (2) setiap tim diberi waktu 5 menit
   untuk berdiskusi di antara mereka tentang bagaimana agar bola kapas tetap terapung di udara.;
   (3) Semua akan memulai permainan pada waktu yang sama. Waktu permainan 5 menit; (4)
   Siapa saja yang berhasil paling lama menjaga bola kapas tetap melayang di udara dialah
   pemenangnya; (5) Permainan ini bisa dimainkan sampai beberapa putaran.

5) Setelah permainan selesai tiap pengamat dari masing-masing kelompok tadi menyampaikan hasil
   pengamatan mereka

6) Peserta kemudian harus menjawab pertanyaan tersebut di bawah ini :
       Bagaimanakah perasaan peserta melakukan permainan ini ?
       Bagaimanakah Kelompok dapat membuat bola kapas melayang di udara ?
       Apakah ada anggapan yang mengira kalau tidak mampu membuat bola kapas terus
       melayang di udara ? Mengapa ?




    38 Modul | Teknik Fasilitasi
LK 3 Fasilitasi dan Pembelajaran
Pertanyaan dan tugas yang terkait dengan Diskusi Kelompok Berbagai
Metode Pembelajaran


1) Peserta mengikuti curah pendapat untuk merumuskan daftar jenis – jenis metode pembelajaran
   yang biasa dipakai dalam pembelajaran masyarakat berdasarkan pengetahuan dan pengalaman
   mereka. Jawaban peserta ditulis pada kertas plano .

2) Bagi peserta menjadi hanya 3 kelompok, tiap kelompok membahas tujuan, kelebihan dan
   kelemahan dari 3 jenis metode pembelajaran yang telah dirumuskan bersama.

3) Setelah selesai diskusi kelompok, tiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil
   diskusinya.




                                                            Modul | Teknik Fasilitasi   39
   BEBERAPA JENIS MEDIA SERTA KEKUATAN DAN                                           Jenis Media            Kelebihan                     Kelemahan
   KELEMAHANNYA                                                                   Lembar Balik       Pesan yang disampaikan          Kurang efektif untuk
                                                                                                   dapat lebih terperinci;         khalayak yang jumlahnya
      Jenis Media             Kelebihan                   Kelemahan
                                                                                                     Dapat menarik perhatian       lebih dari 10 orang.
   Kaset Rekaman       Pesan yang disampaikan         Kurang efektif untuk                         khalayak;
                     dapat dibuat lebih menarik     digunakan peserta yang
                                                                                                     Tidak membutuhkan
                     karena dapat dibuat secara     jumlahnya lebih dari 15                        keterampilan baca-tulis.2
                     percakapan sesungguhnya;       orang;
                       Dapat merangsang minat         Pesan yang
                                                                                  Alat Peraga        Bisa dipercaya, karena           Untuk alat peraga yang
                     dan perhatian warga belajar;   disampaikan terbatas,
                                                                                                   barangnya terlihat nyata;       ukurannya besar
                       Komunikasi bisa dua arah;    karena masa tayang dan                                                         atauterlalu kecil menjadi
                                                                                                     Bisa dikenali dan mudah
                       Mudah dibawa dan             konsentrasi pendengar                                                          tidak praktis;
                                                                                                   diingat, karena bisa dilihat,
                                                    juga terbatas.
                     dipindah-tempatkan                                                            dipegang, dan dirasakan;           Mudah hilang.
   Film Slide          Bisa merangsang minat          Memerlukan peralatan                           Alat peraga yang
                     dan menarik perhatian warga    khusus untuk                                   mengguna-kan bahan
                     belajar;                       menggunakannya;                                setempat, akan lebih murah
                                                                                                   dan mudah diperoleh;
                       Efektif untuk kelompok         Penayangan terbatas
                                                                                                    Tidak memerlukan
                     sedang (20-25 orang);          karena konsentrasi
                                                                                                   keterampilan baca-tulis.
                       Pesan yang disampaikan       penonton juga terbatas.
                     dapat lebih terperinci




Slide 1                                                                        Slide 2


       Jenis Media            Kelebihan                    Kelemahan                 Jenis Media            Kelebihan                    Kelemahan
                                                                                  Poster Seri        Mudah dibawa dan                Perlu keterampilan
   Komik-Strip/        Lebih menarik dan mudah        Membutuhkan alat
                                                                                                   disebarluaskan;                 untuk menafsirkan
   Totonovela        dicerna dibandingkan           dalam pengembangannya
                                                                                                     Tidak memerlukan              gambar.
                     dengan media cetak lainnya;    (kamera);
                                                                                                   keterampilan baca-tulis;
                       Mudah dibawa dan               Membutuhkan
                                                                                                     Dapat merangsang
                     disebarluaskan;                keterampilan baca tulis.                       diskusi.
                       Dapat digunakan untuk
                     perseorangan sampai
                                                                                  Cerita Boneka      Tidak memerlukan                Perlu keterampilan
                     kelompok cukup besar.                                                         keterampilan baca tulis;        khusus bagi pembawa
                                                                                                     Dapat merangsang minat        cerita;
   Poster              Dapat menarik perhatian        Pesan yang                                   khalayak.                         Membutuhkan waktu
                     warga belajar;                 disampaikan terbatas;                                                          yang cukup lama untuk
                                                                                                                                   pembuatannya.
                       Dapat dibuat dalam waktu       Perlu keahlian untuk
                     relatif singkat.               menafsirkan;
                                                                                  Buklet             Pesan yang disajikan lebih      Membutuhkan
                                                      Beberapa poster perlu
                                                                                                   lengkap;                        keterampilan baca-tulis;
                                                    keterampilan baca-tulis.
                                                                                                     Mudah dibawa dan                Proses pengembangan
                                                                                                   disebarluaskan.                 cukup lama.




Slide 3                                                                        Slide 4




      40 Modul | Teknik Fasilitasi
      Jenis Media           Kelebihan                   Kelemahan
   Foto               Tidak memerlukan             Membutuhkan alat
                    keterampilan baca-tulis;     dalam pengembangannya
                      Dapat merangsang minat     (kamera);
                    karena memperlihatkan hal      Hanya efektif untuk
                    sesungguhnya;                kelompok kecil atau
                      Mudah dibawa dan           sedang.
                    disebarluaskan.


   Leaflet            Proses pengembangan          Memerlukan
                    relatif cepat;               keterampilan baca-tulis;
                      Efektif untuk pesan yang     Mudah hilang dan
                    singkat dan padat;           rusak;
                      Mudah dibawa dan             Pesan yang
                    disebarluaskan.              disampaikan terbatas.




Slide 5




                                                                            Modul | Teknik Fasilitasi   41
PENDEKATAN DALAM FASILITASI
Marnia Nes


Dalam melaksanakan fasilitasi untuk program pemberdayaan masyarakat, ada 2 pendekatan yang
biasanya dilakukan, yaitu pendekatan individu/perorangan dan pendekatan kelompok.

Pendekatan Individu
Pendekatan ini dilakukan dengan cara mengunjungi orang perorang dalam memberikan fasilitasi.
Walaupun pendekatan ini mempunyai        beberapa keuntungan, tetapi juga memilki beberapa
kelemahan, seperti :
    • Membutuhkan biaya, waktu dan tenaga yang tidak sedikit
    • Membutuhkan lebih banyak tenaga fasilitator di lapangan.

Sedangkan keuntungannya adalah :
   • Umpan balik dari masyarakat bisa langsung diterima
   • Lebih mudah memperbaiki kesalahan – kesalahan yang terjadi pada tingkat lapangan/praktis
   • Tindak lanjut dari perilaku masyarakat dapat dipantau dan dimotivasi dengan lebih efisien.

Pendekatan Kelompok

Dalam pendekatan ini penyampaian informasi dan proses fasilitasi dilakukan melalui kelompok –
kelompok yang sengaja dibentuk untuk tujuan tertentu. Dipandang dari segi komunikasi, pendekatan
kelompok ini jauh lebih efektif jika dibandingkan dengan pendekatan lain.
Keuntungan pendekatan kelompok :

   •     Anggota kelompok yang satu dan yang lain dapat saling memberi dan menerima informasi.
   •     Lebih menghemat biaya, tenaga dan waktu.
   •     Masalah yang dihadapi terasa lebih ringan karena dipikul bersama oleh kelompok.
   •     Apabila kegiatan yang ada memerlukan biaya/modal akan lebih ringan dibanding dengan
         dipikul oleh masing-masing orang.

Dengan kata lain pembentukan kelompok akan lebih mampu mengoptimalkan kegiatan fasilitasi yang
dilakukan.
Sedangkan kelemahan dari pendekatan ini adalah :

   •     Keberhasilan penyadaran kritis masyarakat dapat sangat tergantung kepada berhasil
         tidaknya kelompok terbentuk.
   •     Pembentukan kelompok di masyarakat, juga membutuhkan keterampilan dan kesabaran.

Proses pembelajaran dalam PNPM Mandiri Perkotaan lebih menekankan fasilitasi melalui kelompok
seperti Komunitas Belajar Kelurahan, kelompok relawan , BKM/LKM , KSM dan kelompok lainnya.




       42 Modul | Teknik Fasilitasi
Proses Pembentukan dan Perkembangan Kelompok

Identifikasi kebutuhan
        Masyarakat akan tertarik untuk mengembangkan suatu kelompok apabila dirasakan ada
        kepentingan dan kebutuhan yang sama. Kelompok sasaran harus diyakinkan bahwa untuk
        memenuhi kebutuhan tersebut lebih mudah dicapai dengan cara berkelompok daripada
        dilakukan sendiri. Jadi kepentingan dan kebutuhan yang sama dapat menjadi pengikat dan
        menjadi sebab terbentuknya kelompok. Untuk itulah mengapa identifikasi kebutuhan
        merupakan langkah pertama yang sangat penting kalau kita mau mengembangkan
        kelompok.
        Identifikasi kebutuhan sebaiknya dilakukan secara partisipatif, artinya kelompok sasaran
        diajak serta untuk merumuskan dan menilai kebutuhannya, supaya mereka mengetahui
        alasan pembentukan kelompok dan mereka sendiri yang mengambil keputusan dibentuk
        tidaknya kelompok.

Musyawarah Pembentukan Kelompok
     Hasil identifikasi kebutuhan dibahas dalam pertemuan yang diadakan khusus untuk
     membahas pembentukan kelompok. Dalam pertemuan ini dihadirkan pihak-pihak yang
     berkepentingan dimana sebaiknya setiap pihak harus terwakili. Dalam pertemuan ini
     diharapkan dihasilkan suatu kesepakatan untuk membentuk kelompok. Apabila kesepakatan
     telah dicapai, biasanya pembahasan dilanjutkan untuk merumuskan tujuan kelompok secara
     lebih mendalam.

Perencanaan Kegiatan
      Tahap selanjutnya adalah perancanaan kegiatan yang didasarkan pada tujuan yang ingin
      dicapai. Dalam perencanaan kegiatan bisa dikembangkan kegiatan – kegiatan yang akan
      dilaksanakan, siapa yang akan melaksanakan, cara/metode pelaksanaan, sumberdaya yang
      dapat dipergunakan serta waktu pelaksanaannya. Pada tahap ini akan berkembang suatu
      sistem di dalam kelompok yang berdasarkan kepada tugas dan fungsi masing – masing
      anggota. Biasanya pembagian tugas tersebut dilakukan berdasarkan kecakapan dan
      keterampilan masing-masing anggota.

Pelaksanaan Kegiatan
       Kegiatan yang dilakukan berpatokan pada hasil perencanaan sebelumnya. Masing-masing
       anggota melaksanakan kegiatan sesuai dengan tugas dan tanggungjawab yang telah
       disepakati bersama. Berkas perencanaan yang telah dikembangkan, dijadikan alat monitoring
       bersama, dimana anggota kelompok dapat mengetahui langkah – langkah kegiatan yang
       harus dilakukan pada suatu waktu.

Pemantauan dan Evaluasi
     Dalam pelaksanaan kegiatan tidak selamanya berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
     Kebutuhan masing – masing anggota juga akan semakin berkembang. Untuk itu perlu
     diadakan pematauan secara berkala untuk mengetahui apakah kegiatan berjalan sesuai
     dengan yang direncanakan atau tidak; serta untuk mengetahui masalah-masalah yang
     dihadapi dalam pelaksanaan. Hasil pemantauan dibahas dalam evaluasi yang waktunya
     disepakati oleh semua anggota kelompok. Dari hasil pemantauan dan evaluasi ini bisa dipakai
     sebagai acuan untuk perencanaan selanjutnya. Biasanya lambat laun akan berkembang
     tujuan-tujuan tambahan. Apabila tujuan ini tidak menyimpang dari tujuan utama kelompok
     maka biasanya tujuan tersebut dapat memperkokoh kehidupen kelompok.




                                                              Modul | Teknik Fasilitasi   43
Dinamika Kelompok

Di dalam kelompok para anggota akan berhubungan/berinteraksi antara anggota yang satu dengan
yang lainnya. Dinamika kelompok yang dapat menyebabkan persatuan atau perpecahan kelompok,
tergantung bagaimana bentuk interaksinya.

Faktor yang Bisa Menyatukan Kelompok
       Kerjasama. Biasanya kerjasama akan terjadi apabila para anggota kelompok memiliki
       kesamaan pandangan, kesamaan kepentingan, kesamaan kebutihan dan masalah, dan
       kesamaan tujuan. Kerjasama juga bisa terjadi akibat tekanan dari luar kelompok, misalnya :
       merasa terancam oleh seseorang atau kelompok lainnya, menghadapi perlombaan dan
       sebagainya.

       Apabila para anggota kelompok berusaha menghilangkan batas – batas yang membedakan di
       antara mereka dan berusaha untuk menyamakan sikap – sikap untuk mencapai suatu
       kesatuan.

Faktor yang Bisa Memecahbelah Kelompok :
       Persaingan yang tidak sehat. Biasanya jika anggota kelompok ingin          memenangkan
       persaingan dengan cara yang tidak sehat, meskipun tidak menggunakan kekerasan maupun
       ancaman, maka anggota kelompok tersebut berupaya agar dirinya selalu memperoleh
       kesempatan lebih dulu. Kecenderungan anggota kelompok ini biasanya mengarah pada hal –
       hal dominasi. Misal anggota kelompok berusaha untuk menarik perhatian Ketua RW, supaya
       lebih dianggap penting dan diperhatikan dibandingkan dengan anggota lainnya.

       Konflik yang meruncing, yaitu pertentangan antar dua pihak atau lebih, yang telah mengarah
       pada pertikaian. Seseorang atau sebagian orang bisa saja ingin mencapai keinginan demi
       kepentingannya sendiri dengan cara mengancam pihak lain melalui kekerasan atau ancaman
       usaha untuk memaksakan kehendak anggota kepada anggota lainnya merupakan sumber
       konflik yang meruncing dalam kelompok.

       Kontravensi yaitu merupakan transisi/peralihan dari persaingan yang tidak sehat menuju
       konflik yang meruncing. Misal : penolakan berupa protes, menyangkal pernyataan anggota
       lain, mencerca, menghasut, memfitnah.

Faktor yang Mempengaruhi Dinamika Kelompok
Kelompok yang dinamis adalah kelompok dimana hubungan di antara anggotanya menumbuhkan
persatuan dan kerjasama. Faktor yang mempengaruhi kedinamisan kelompok meliputi tujuan
kelompok, struktur kelompok, fungsi dan tugas, pembinaan, suasana, tekanan, kesatuan dan
efektivitas kelompok.


Tujuan Kelompok

Apakah tujuan kelompok searah, netral atau bertentangan dengan tujuan masing – masing
anggotanya?. Tujuan yang bertentangan sangat tidak diharapkan dan dapat menimbulkan masalah
dalam kelompok. Kejelasan tujuan juga berpengaruh terhadap kedinamisan suatu kelompok. Tujuan
yang tidak jelas sering menimbulkan tidak dinamisnya suatu kelompok.




    44 Modul | Teknik Fasilitasi
Struktur Kelompok

Yakni bagaimana kelompok mengatur dirinya sendiri berdasarkan peran dan tugasnya dalam
mencapai tujuan yang diinginkan.

       Apakah pengambilan keputusan berpusat di satu atau beberapa orang ataukah keputusan
       diambil secara musyawarah dengan melibatkan semua anggota kelompok
       Bagaimana pembagian tugas dan tanggungjawab di antara anggota kelompok.
       Bersamaan dengan terjadinya struktur dalam kelompok maka akan terjadi norma – norma
       kelompok.

Norma kelompok yaitu cara – cara tingkah laku yang diharapkan dari semua anggota kelompok.
Norma kelompok memberi pedoman mengenai tingkah laku mana yang dapat diterima oleh
kelompok dan mana yang tidak .

.
Fungsi Tugas

Yakni apa yang seharusnya dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan.

       Anggota kelompok sebaliknya selalu mendapatkan informasi baru agar bisa meningkatkan
       metode dan keterampilan baru untuk mencapai tujuannya.
       Adanya koordinasi yang baik sehingga dapat dicegah adanya kesimpangsiuran.
       Komunikasi yang baik harus selalu dijaga.
       Kelompok, terutama pengurus dapat menjelaskan hal-hal tertentu kepada anggotanya, jika
       anggota mengahdapi situasi yang membingungkan.

Pembinaan Kelompok

Yaitu suatu usaha untuk menjaga kehidupan kelompok
        Mengusahakan adanya kegiatan yang melibatkan seluruh anggota kelompok.
        Menyediakan fasilitas yang diperlukan
        Melakukan koordinasi, pemantauan dan menjaga lancarnya suasana komunikasi
        Diusahakan agar para anggota merasa betah dan merasa memiliki agar mereka tidak
        meninggalkan kehidupan kelompok.

Kesatuan Kelompok

Yakni adanya rasa keterikatan yang kuat di antara para anggota terhadap kelompok. Tingkat rasa
keterikatan yang berbeda – beda menyebabkan adanya tingkat kesatuan kelompok yang berbeda
pula.

Kesatuan kelompok ditentukan oleh :
       Perasaan memiliki. Masing – masing anggota kelompok harus saling menghargai sehingga
       akan terlihat bahwa kelompok itu adalah milik bersama, bukan orang tertentu saja.
       Jika tujuan kelompok sangat berarti bagi anggota, maka anggota kelompok akan
       memberikan dukungan terhadap pencapaian tujuan kelompok

Perasaan memiliki tumbuh apabila anggota sadar bahwa ia berharga sebagai anggota kelompok dan
ia diterima dan didukung anggota kelompokm lainnya.




                                                              Modul | Teknik Fasilitasi   45
Perasaan berharga dan perasaan memiliki akan membuat ia menyumbangkan pikiran, tenaga
maupun materi untuk kemajuan kelompoknya.

Suasana Kelompok

Yakni keadaan, sikap dan perasaan – perasaan yang umum terdapat dalam kehidupan kelompok.
Keadaan ini dapat dilihat dari sikap setiap anggota kelompok , apakah mereka bersemangat atau
acuh tak acuh terhadap kondisi dan perkembangan kelompok.

Suasana kelompok dipengaruhi oleh :
       Hubungan antar para anggotanya, apakah rukun bersahabat atau sebaliknya.
       Kebebasan anggota untuk berpartisipasi. Kebebasan sampai batas – batas tertentu sangat
       diperlukan dalam mendinamiskan kelompok.
       Lingkungan fisik yang menunjang kehidupan kelompok



Tekanan Kelompok

Yakni segala sesuatu yang dapat menimbulkan ketegangan dalam kelompok. Adanya ketegangan
perlu menumbuhkan kedinamisan kelompok, tetapi harus diingat tegangan yang terlampau tinggi
akan dapat mematikan kedinamisan kelompok. Tekanan dapat berasal dari dalam maupun dari luar
kelompok.

Faktor yang mempengaruhi ketegangan :
        Tuntutan atau keinginan anggota
        Sistem penghargaan dan hukuman dalam kelompok
        Tuntutan dan harapan dari pihak luar yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan dan
        kebanggaan kelompok.

Effektivitas Kelompok

Kelompok yang efektif akan meningkatan atau mempertahankan kedinamisan kelompok, sebaliknya
kelompok yang dinamis akan meningkatkan efektivitas kelompok. Efektivitas kelompok dapat dilihat
dari keberhasilan kelompok dalam mencapai tujuannya, semangat dan sikap para anggotanya (misal
merasa bangga dan bahagia apabila bersatu dengan kelompok), dan kepuasan anggota karena
tujuan pribadinya berhasil dicapai dalam kelompok.

      Kelompok yang mempunyai ikatan yang kokoh akan menumbuhkan perasaan saling
      menghargai dan sikap tolong menolong di antara anggotanya. Dengan tumbuhnya
      keadaan tersebut akan menimbulkan kesetiakawanan (solidaritas) antara anggota
      kelompok.

      Solidaritas yang tinggi di kelompok tergantung pada tingkat kepercayaan anggota –
      anggotanya terhadap kemampuan teman – temannya dalam melaksanakan tugasnya
      dengan baik. Keperrcayaan tersebut biasanya didasarkan pada pengalaman –
      pengalaman kelompok dalam mengahdapi dan memecahkan masalah.




    46 Modul | Teknik Fasilitasi
Strategi Pembelajaran/Fasilitasi Partisipasi
( Dari Buku “ Teknik Fasilitasi Partisipatif Pendampingan Masyarakat”, Pe-PP Bappenas –UNDP)

Strategi pembelajaran adalah pendekatan yang digunakan agar tujuan dan materi belajar bisa
tercapai. Setiap fasilitator dapat merancang proses pembelajarannya masing – masing, sesuai
dengan profil dan karakteristik dari peserta belajarnya. Profil belajar peserta mencakup antara lain :
tingkat pendidikan, kemampuan baca – tulis, latar belakang sosial ekonomi, mata pencaharian,
tingkat usia, jenis kelamin dan sebagainya.

Tetapi, secara umum, strategi pembelajaran itu biasanya sebagai berikut :

Dari materi yang sederhana menuju ke yang kompleks (rumit). Misalnya menceritakan
tentang cara – cara produksi keripik baru mendiskusikan alur produksi dan pemasaran hasilnya,
membicarakan satu jenis penyakit, baru membicarakan penyebabnya, dan akhirnya sistem pelayanan
kesehatan dan keterlibatan warga dalam kebijakan pelayanan kesehatan.

Dari materi yang cukup dikenal ke materi yang baru. Misalnya mengajak masyarakat
mendiskusikan kegiatan yang dilakukan pemerintah desa sehari – hari, baru menyampaikan dan
mengajak diskusi peraturan pemerintah desa yang baru terbit, mulai mendiskusikan tugas dan peran
ibu dan bapak sehari – hari sampai memperkenalkan wacana gender dan kesetaraan hak.

Dari materi yang mudah menuju ke yang sulit. Misalnya mengajak masyarakat belajar
keterampilan praktis untuk kebutuhan keluarga, kemudian mendiskusikan pengembangannya sebagai
usaha alternatif dengan melakukan analisis biaya usaha dan peluang pemasaran. Mulai dari diskusi
kasus – kasus kesehatan umum, sampai ke pembahasan kesehatan reproduktif dan pembahasan
kebijakan yang belum mendukung hak perempuan mengenai kesehatan reproduktif.

Dari materi yang operasional, pengalaman praktis, realita sehari – hari, menuju ke yang
abstrak, konsep, teori. Misalnya mengajak masyarakat mendiskusikan suatu sengketa yang terjadi
di kelurahannya, kemudian ditarik ke konsep mekanisme penyelesaian sengketa, bahkan dikaitkan
dengan adanya kebijakan mengenai penyelesaian sengketa. Mengajak masyarakat mendiskusikan
proses pemilihan kepala desa yang akan/sudah dilaksanakan sampai kepada wacana demokrasi desa.




                                                                  Modul | Teknik Fasilitasi   47
Teknik Bertanya
Marnia Nes

Agar proses fasilitasi berhasil, fasilitator harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.
Sebagai acuan dalam diskusi penting dilakukan untuk membuat daftar pertanyaan kunci supaya
proses diskusi tidak melebar kemana – mana. Dalam pelaksanaan juga perlu diperhatikan
karakteristik peserta supaya kita dapat mengatasi peserta – peserta yang ‘sulit’ (dominan, diam saja,
ngobrol sendiri dan sebagainya).

Anggapan banyak pihak, keterampilan yang paling dibutuhkan untuk memfasilitasi adalah “pandai
berbicara” padahal keterampilan yang sangat penting dimiliki oleh seorang fasilitator adalah
mendengarkan dan bertanya. Bertanya, adalah keterampilan yang mutlak harus dikuasai oleh
fasilitator, karena hakekat dari fasilitasi dan komunikasi partisipatif adalah menggali – dengan
pertanyaan – pengalaman peserta dan membantu proses agar peserta bisa menganalisa sendiri
masalah – masalah yang dihadapi dan menemukan jalan pemecahannya. Tidak jarang ditemui –
biasanya terjadi pada fasilitator pemula – fasilitator panik dan bukannya menggali pemahaman
peserta akan tetapi malah menyimpulkan dan berceramah berdasarkan pengetahuannya dengan
mengatasnamakan pengalaman belajar para peserta. Di lain pihak fasilitator juga seiringkali tidak
sabar untuk “menunggu ” peserta berpikir dan mendengarkan peserta dalam mengungkapkan isi
pikirannya.

Agar peserta bisa mengungkapkan isi pikirannya, dan fasilitator konsentrasi mendengarkan yang
diungkapkan peserta maka kita perlu dibantu oleh beberapa pertanyaan. Pertanyaan itu akan
membuat peserta lain dan kita lebih mengerti makna yang ingin diungkapkan oelh si pembicara.


Teknik bertanya

Teknik bertanya dalam proses fasilitasi sebenarnya sederhana, yang paling penting harus tetap
mencerminkan komunikasi yang dialogis dan multi arah sehingga proses diskusi bukan hanya milik
fasilitator akan tetapi milik para peserta diskusi. Artinya fasilitator harus memberikan ruang kepada
peserta untuk megungkapkan pendapat dan pengalamannya.

Secara teknis sebaiknya diperhatikan agar : 1) setiap pertanyaan yang diajukan tidak panjang lebar
– singkat dan jelas, jika perlu ulangi sampai peserta merasa jelas, terutama jika pertanyaan tersebut
hanya ditujukan pada peserta tertentu. 2) Usahakan jangan sampai peserta “gelagapan” atau malah
gugup menjawabnya, maka hindari pertanyaan – pertanyaan yang bersifat tendensius apalagi
dengan gaya bertanya yang menghakimi. 3) Tidak terjadi debat kusir apabila ada pertanyaan dari
peserta dilempar kepada peserta lainnya.




     48 Modul | Teknik Fasilitasi
           Contoh jenis – jenis pertanyaan yang paling sering digunakan

                                   Pertanyaan Ingatan
                                     ∗Di mana anda mengalami?
                                     ∗ Kapan hal itu terjadi
                   ∗ Apakah kejadian seperti itu pernah terjadi pada diri anda?
      ∗   Dengan pengalaman ini, apakah bisa diakitkan dengan pengalaman anda sebelumnya?

                                    Pertanyaan Pengamatan
                                     ∗ Apa yang sedang terjadi?
                                     ∗ Apakah anda melihatnya?

                                      Pertanyaan Analitis
                                 ∗ Mengapa perbedaan itu terjadi?
                    ∗    Bagaimana akibat kegiatan ini terhadap perilaku kelompok?

                         Pertanyaan Hipotetik (memancing praduga)
                                ∗ Apa yang akan terjadi jika .... ?
                          ∗ Kemungkinan apa akibatnya seandainya ...... ?

                                  Pertanyaan Pembanding
                               ∗ Siapakah dalam hal ini yang benar?
                     ∗   Mana yang anda anggap paling tepat antara .... dan ..... ?

                      Pertanyaan Proyektif (Mengungkap ke depan)
      ∗    Coba bayangkan seandainya anda menghadapi situasi seperti itu, apa yang akan anda
                                            lakukan?”

Sumber : Mansour Fakih,dkk; Pendidikan Popular Membangun Kesadaran Kritis


Apapun bentuk dan jenis pertanyaannya, semuanya mengacu pada pertanyaan pokok, APA,
SIAPA,DIMANA,MENGAPA,KAPAN dan BAGAIMANA. Bila dihubungkan dengan tahapan dalam daur
belajar pengalaman berstruktur (daur belaja POD), maka kunci – kunci pertanyaan yang biasa
dipakai adalah :

Mengungkapan ; 1) mengungkapkan fakta biasanya memakai kata tanya : APA, SIAPA, DIMANA dan
KAPAN ; 2) Mengungkapkan fakta atau pendapat (opini) bisanya memakai kata kunci BAGAIMANA;
3)mengungkapkan apa yang nyata – nyata terjadi dan dialami peserta memakai kata kunci APA,
SIAPA, DIMANA dan KAPAN selin itu juga jenis – jenis ’pertanyaan ingatan’ dan ’pengamatan’ banyak
digunakan dalam tahap ini.

Menganalisa dan kesimpulan menggunakan kata kunci BAGAIMANA dan MENGAPA. Jenis pertanyaan
’analitik’ , hipotetik’ dan ’pembanding’ juga lebih banyak digunakan. Jenis pertanyaan ’proyektif lebih
tepat digunakan pada tahap kesimpulan.

Acuan Pustaka
   ∗ Tim Pe-PP; Teknik Fasilitasi Partisipatif Pendampingan Masyarakat; Bappenas – UNDP,
      Jakarta 2007
   ∗ Mansour Fakih dkk; Pendidikan Popular Membangun Kesadaran Kritis; INSIST – Pact 2001




                                                                   Modul | Teknik Fasilitasi   49
Mendengar dan “Mendengarkan”
(Dari Teknik Fasilitasi Partisipatif Pendampingan Masyarakat, Tim Pe-PP)

Apakah bedanya mendengar dan ”mendengarkan”?. Apakah bedanya menggambar dan
”menggambarkan”?. Mendengar yang pertama adalah memasukkan suara ke telinga, sedangkan
mendengar yang kedua (mendengarkan) adalah mengolah suara yang masuk ke telingan menjadi
lebih bermakna. Menggambar yang pertama adalah kerja teknis tangan kita dengan pinsil atau alat
tulis di atas kertas, sedangkan menggambar yang kedua adalah menggambarkan bentuk yang
bermakna.

Untuk mendengar secara lebih bermakna, kita dibantu sejumlah pertanyaan. Pertanyaan itu
membuat kita lebih mengerti makna dari pernyataan atau ucapan dari si pembicara. Ketika si
pembicara mengatakan ” Saya setuju bahwa ..... ”. Maka kita ajukan pertanyaan: ”Apa yang anda
setuju tadi ...... ?”. Sehingga kita menjadi pendengar yang lebih baik, atau mendorong orang lain
untuk mendengar secara lebih baik.

Apabila terdapat peserta yang berbicara berputar – putar dan nampak tidak yakin apakah
penjelasannya ditangkap oleh audiens sehingga mengulang – ngulang dan menjadi bingung sendiri,
triks paraphrasing diperlukan untuk membantu si pembicara memperjelas GAGASAN POKOK yang
ingin disampaikannya. Itu juga berarti kita mendengarkan si pembicara secara lebih baik dan
membantu audiens untuk mendengarkan secara lebih baik.

Untuk peserta atau pembicara yang ’pelit’ bicara, atau peserta yang kesulitan menyampaikan
gagasannya secara lengkap, triks ”drawing people out” diperlukan. Triksi ini dimaksudkan untuk
meminta pembicara menjelaskan lagi pernyataannya dan atau mengklarifikasi, serta merumuskan
kembali gagasan pokoknya.

Triks ”mirroring” serupa tapi tidak sama dengan paraphrasing, karena menyampaikan kembali
pembicaraan peserta tetapi dengan mengutip kembali kalimatnya secara lengkap. Jadi, fasilitator
tidak menggunakan kalimatnya sendiri melainkan kalimat si peserta (si pembicara) seperti apa
adanya.

Trik – Trik Mendengarkan

Berikut adalah 11 macam teknik mendengarkan yang sebaiknya dimiliki fasilitator.:

Triks 1 : Membahasakan Kembali (Paraphrasing)

        Membahasakan kembali merupakan teknik yang paling penting untuk dipelajari. Teknik ini
        merupakan dasar dari teknik lainnya.
        Teknik ini bersifat menenangkan, membuat peserta paham bahwa ucapannya dimengerti
        orang lain.
        Terutama digunakan untuk menanggapi jawaban yang berbelit dan membingungkan.




     50 Modul | Teknik Fasilitasi
                                    Bagaimana caranya ?
      Gunakan kalimat sendiri untuk membahasakan kembali jawaban warga.
      Kalau jawabannya pendek, bahasakan kembali secara pendek pula, jika panjang, bahasakan
      kembali dengan meringkasnya.
      Awali dengan kalimat seperti, ”Tadi ibu mengatakan ..... ”
      Sesudahnya perhatikan reaksi orang itu.Sertai dengan kata, misalnya : ”Apa itu yang ibu
      maksud ...... ”




Trik – 2 : Menarik Keluar (Drawing People Out)

      Karena jawaban warga kurang lengkap, fasilitator perlu menarik keluar gagasan yang belum
      dikatakan.
      Gunakan teknik ini bila warga mengalami kesulitan menjelaskan gagasan

                                  Bagaimana caranya ?

      Dahului dengan teknik membahasakan kembali. ”Tadi bapak mengatakan ...”
      Lanjutkan dengan pertanyaan terbuka, seperti ”Bisa lebih diperjelas?.”
      Ada juga cara lain. Setelah peserta selesai bicara sambut dengan kata sambung seperti,
      ”karena ....” atau ”jadi .....”.




Trik – 3 : Memantulkan (Mirroring)

      Fasilitator berfungsi sebagai dinding, yang memantulkan kata – kata warga. Tujuannya,
      meyakinkan warga bahwa fasilitator mendengarkan ucapannya.
      Biasanya digunakan mempercepat diskusi yang lamban. Sesuai untuk memfasiltiasi proses
      curah pendapat.

                                  Bagaimana caranya ?

      Kalau warga mengatakan satu kalimat, pantulkan kata demi kata setepat-tepatnya.Tidak
      kurang tidak lebih. Jika lebih dari satu kalimat, pantulkan kata – kata yang penting.
      Gunakan kata – kata warga, bukan kata – kata fasilitator.
      Kalau dia berkata – kata dengan menggebu – gebu, pantulkan dengan nada bicara tenang.
      Tujuan utamanya adalah membangun kepercayaan peserta.




Trik- 4 : Mengumpulkan Gagasan (Gathering Ideas)

      Adalah teknik mendaftar gagasan secara cepat. Hanya untuk mengumpulkan dan bukan
      hendak mendiskusikannya.
      Kumpulkan gagasan dengan memadukan teknik membahsakan kembali. Agar lebih cepat,
      gunakan terutama teknik memantulkan. Dengan memantulkan ucapan, warga merasa
      didengarkan dan mereka akan ikut menyampaikan gagasan secara singkat. Biasanya dalam 3
      sampai 5 kata. Jadi, kita lebih mudah menuliskannya di papan tulis.




                                                             Modul | Teknik Fasilitasi   51
                                   Bagaimana caranya ?

       Awali dengan penjelasan tugas secara singkat. Lakukan curah pendapat. Kumpulkan
       gagasan sebanyak – banyaknya.
       Tuliskan gagsaan para peserta, apapun yang nereka katakan, dengan memakai teknik
       memantulkan atau teknik membahasakan kembali.
       Jika peserta telah merasa cukup, sudahi proses ini. Berikan penghargaan terhadap semua
       pandangan peserta.




Triks – 5 : Mengurutkan (stacking)

       Adalah semacam teknik menyusun antrian bicara, ketika beberapa orang bermaksud
       berbicara pada waktu bersamaan.
       Dengan teknik ini, setiap orang akan mendengarkan tanpa gangguan dari orang yang
       berebut kesempatan bicara.
       Karena setiap orang tahu gilirannya, tugas fasilitator menjadi lebih ringan.

                                   Bagaimana caranya ?

       Fasilitator meminta mereka yang hendak bicara untuk mengacungkan tangan.
       Fasilitator mengurutkan giliran yang akan bicara.
       Fasilitator mempersilahkan peserta untuk bicara ketika tiba gilirannya.
       Sesudah peserta terakhir selesai bicara, fasilitator memeriksa jika ada peserta lain yang
       hendak bicara. Jika ada, fasilitator kembali melakukan teknik mengurutkan.


Triks-6 : Mengembalikan ke Jalurnya (Tracking)

       Bayangkan bila ada liam orang yang ingin membicarakan berbagai akibat dari penumpukan
       sampah. Empat orang ingin menghitung biaya pengadaan kereta pengangkut sampah. Tiga
       orang tertarik membahas pamanfaatan sampah menjadi pupuk organik.
       Biasanya orang menganggap bahwa apa yang ia anggap penting seharusnya terpilih menjadi
       topik diskusi. Pada keadaan ini, fasilitator bertugas mengembalikan diskusi ke jalurnya
       Teknik ini akan menenangkan orang yang bingung karena gagasannya tidak mendapatkan
       sambutan dari orang lain.

                                   Bagaimana caranya ?

       Mengajak warga untuk kembali pada tema awal
       Menyebutkan gagasan yang muncul dalam diskusi
       Tanyakan pada kelompok untuk memeriksa ketepatannya.


Berikut adalah contohnya :”Baiklah, nampaknya ada tiga pembahasan yang sedang berlangsung saat
ini. Pembahasana pertama menyangkut akibat – akibat penumpukkan sampah.Yang kedua mengenai
peralatan dan kebutuhan biaya.Yang ketiga membahas tentang pemanfaatan sampah. Benarkah
demikian?.




    52 Modul | Teknik Fasilitasi
Biasanya teknik ini membuat orang lebih memahami situasi diskusi. Jika ada yang mencoba
menjelaskan bahwa saran dia pentng, tunjukkan perhatian. Namun, jangan bersikap pilih kasih.
Tanyakan juga pendapat orang yang lain.

Triks-7 : Menguatkan (Encouraging)

       Adalah teknik mengajak orang ikut terlibat dalam diskusi, tanpa membuat mereka tersiksa
       karena terpaksa menjadi pusat perhatian.
       Dalam diskusi biasanya ada peserta yang hanya duduk dan diam. Diam bukan berarti malas
       atau tidak mau tahu. Mereka merasa kurang terlibat. Dengan sedikit dorongan, temukan
       sesuatu yang menarik perhatian mereka.
       Teknik menguatkan terutama membantu selama tahap awal diskusi, pada saat para peserta
       masih menyesuaikan diri. Bagi peserta yang lebih terlibat, mereka tidak membutuhkan begitu
       banyak penguatan untuk berpartisipasi.

                                   Bagaimana caranya ?

       ”Siapa lagi yang ingin menyumbangkan gagasan?”.
       ”sudah ada beberapa pendapat dari perempuan, sekarang mari kita dengar pendapat dari
       laki – laki”.
       ”Kita sudah mendengar pendapat ibu Tini tentang prinsip – prinsip umum memilih kepala
       desa. Adakah yang ingin memberikan contoh tentang pelaksanaan prinsip tersebut?”.
       ”Apakah masalah ini dirasakan oleh semua yang hadir di sini?”.
       ”Mari kita dengar pendapat dari teman-teman yang sementara ini belum berbicara”.




Triks – 8 : Menyeimbangkan (Balancing)

       Pendapat paling kuat dalam suatu diskusi seringkali datang dari orang yang mengusulkan
       topik diskusi. Mungkin ada sebagian peserta yang mempunyai pendapat lain, tapi belum mau
       bicara.
       Teknik menyeimbangkan membantah anggapan umum bahwa ”diam berarti setuju”.Teknik
       menyeimbangkan gunanya untuk membantu orang yang tidak bicara karena merasa
       pendapatnya pasti tidak disetujui banyak orang.
       Dengan teknik menyeimbangkan, fasilitator sebenarnya menunjukkan bahwa dalam diskusi
       orang boleh menyatakan pendapat apapun.

                                   Bagaimana caranya ?

       ”Baiklah, sekarang kita mengetahui pendirian dari tiga orang. Adakah yang lain atau
       memiliki pendiriran yang berbeda”?
       ”Ada yang mempunyai pendangan lain?”
       ”Apakah klita semua setuju dengan ini?”.




                                                               Modul | Teknik Fasilitasi   53
Triks – 9 : Membuka Ruang (Making Space)

      Teknik membuka ruang adalah teknik membuka kesempatan kepada peserta yang pendiam
      untuk terlibat dalam diskusi.
      Dalam setiap diskusi selalu ada yang bicara terus, ada yang jarang bicara. Pada saat diskusi
      berlangsung cepat, orang pendiam dan yang berpikir lambat mungkin mengalami kesulitan
      untuk menyesuaikan diri.

      Ada orang yang tidak mau berperan banyak, karena tidak ingin dianggap ingin menang
      sendiri. Ada pula yang ikut dalam diskusi sambil meraba raba apakah ia dapat diterima atau
      tidak. Banyak juga yang enggan bicara karena menganggap dirinya bodoh. Maka, fasilitator
      perlu membuka ruang partisipasi.
                                    Bagaimana caranya ?

      Amati peserta diskusi yang pendiam. Perhatikan gerak tubuh atau mimik mukanya, apakah
      menunjukkan bahwa mereka ada hasrat untuk bicara?
      Persilakan mereka untuk bicara.”Apakah ada yang hendak ibu kemukakan?”. ”Apakah bapak
      ingin menambhakan sesuatu?”. ”Kelihatannya anda mau mengatakan sesuatu?”.
      Jika mereka mundur, perlakukan mereka dengan ramah dan segeralah beralih. Tak
      seorangpun suka dipermainkan. Setiap orang berhak memilih kapan ia berpartisipasi.
      Jika si pendiam tampaknya ingin bicara,jika perlu tahan orang lain, untuk bicara.




Triks – 10 : Diam Sejenak (Intentional Silence)

      Adalah berhenti bicara selama beberapa detik. Menunggu sejenak agar si pembicara
      menemukan apa yang ingin ia katakan.
      Banyak orang membutuhkan keadaan tenang untuk untuk mengenali pemikiran atau
      perasaannya. Kadang – kadang berhenti bicara beberapa detik sebelum mengatakan sesuatu
      yang mungkin berisiko. Ada pula yang diam sejenak untuk menyusun pikirannya.
      Gunakan teknik ini jika peserta diskusi terlalu mudah berbicara. Teknik ini akan mengajak
      mereka untuk berpikir lebih mendalam.

                                    Bagaimana caranya?

       Hening selama lima detik tampaknya begitu lama, Banyak orang tak sabar dengan
       ”keheningan” tersebut. Jika fasilitator mampu melakukannya, orang lain pun akan mampu.
       Tetaplah tenang. Pelihara kontak mata pada pembicara.
       Jangan berkata apapun. Bahkan tidak juga berdehem atau batuk – batuk kecil atau
       menggaruk dan menggeleng – gelengkan kepala. Tetaplah tenang dan berikan perhatian.
       Jika perlu, angkat tangan untuk memberi isyarat kepada orang – orang agar tidak
       memecahkan keheningan.




    54 Modul | Teknik Fasilitasi
Triks – 11 : Menemukan Kesamaan Pemikiran Dasar

     Teknik menemukan kesamaan pemikiran dasar terutama berguna ketika peserta diskusi
     terbelah oleh perbedaan pendapat. Teknik ini dapat memperjelas letak persamaan dan
     pertentangan pendapat yang terjadi dalam diskusi.
     Teknik ini dapat membangkitkan harapan. Membuat warga tersdar bahwa mereka saling
     bertentangan, mereka memiliki kesamaan tujuan. Untuk hal yang dasar mereka memiliki
     banyak kesamaan.


                                   Bagaimana Caranya?
     Katakan bahwa kita akan merangkum hal – hal yang menjadi perbedaan dan persamaan di
     dalam kelompok diskusi.
     Ringkaskan perbedaan – perbedaan
     Catat aspek – aspek dasar yang sama
     Periksa catatan tersebut bersama peserta




                                                         Modul | Teknik Fasilitasi   55
Penggunaan Media
(Dari Bahan Pelatihan Studio Driya Media)

Apa ‘Kegiatan Belajar ‘ ?

   •     Kegiatan belajar merupakan kegiatan sehari – hari yang dilaksanakan oleh fasilitator atau
         bersama masyarakat sasaran untuk menambah pengetahuan dan keterampilan yang dapat
         meningkatkan kesadaran dan memperbaiki kehidupan masyarakat.

   •     Kegiatan belajar seperti ini tidak sama dengan kegiatan belajar di sekolah, karena bahan
         belajarnya ditetapkan berdasarkan kebutuhan kelompok yang benar – benar bermanfaat
         dalam kehidupan praktis sehari – hari.

   •     Begitu juga dengan cara belajarnya, dilaksanakan lebih informal, santai dan bebas, sesuai
         dengan kreativitas kelompok itu sendiri. Tidak ada yang bertindak sebagai guru dalam
         kegiatan belajar ini karena pengetahuan dan pengalaman setiap peserta bisa disumbangkan.

   •     Sebagai fasilitator, pendamping atau kader perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan
         baru karena seringkali mereka diharapkan juga untuk menjadi narasumber oleh kelompok
         belajar.

Mengapa Menggunakan Media dalam Kegiatan Belajar

Berkomunikasi dengan masyarakat ( kelompok dampingan) merupakan pekerjaan terpenting
pendamping atau kader. Proses komunikasi terutama terjadi dalam kegiatan – kegiatan belajar, baik
berupa pertemuan perencanaan program, diskusi mengenai suatu materi atau permasalahan, praktek
maupun pelatihan.
Untuk membantu kegiatan belajar yang diselenggarakan oleh pendamping atau kader bersama
masyarakat, seringkali dipergunakan media belajar. Umumnya, manfaat menggunakan media dalam
kegiatan belajar antara lain adalah :

   •     Membantu/memudahkan penjelasan
   •     Dapat mendorong/ merangsang diskusi
   •     Membuat kegiatan belajar lebih menarik
   •     Mengurangi terlalu banyak tulisan/teks yang membosankan
   •     Dapat menyajikan gambar-gambar yang menggugah perasaan
   •     Dapat memperlihatkan hal-hal yang sulit dibawa atau diperlihatkan
   •     Pesan menjadi lebih mudah diingat.

Media yang dipilih untuk suatu kegiatan belajar harus sesuai dengan tujuan belajar yang ingin
dicapai. Tetapi selain memilih media yang tepat, perlu juga diperhatikan cara menggunakan media
secara baik dan benar. Sebab bentuk media apapun yang digunakan, meskipun dirancang dengan
baik, tanpa difasilitasi dengan baik proses diskusinya, media – media tidak akan mengsilkan dampak
seperti yang diharapkan. Untuk itu, keterampilan memfasilitasi diskusi dengan menggunakan media
merupakan faktor yang menentukan bagi pengguna media.




       56 Modul | Teknik Fasilitasi
Langkah – Langkah Menggunakan Media

Berikut ini pedoman umum yang dapat dijadikan acuan dalam menggunakan media secara tepat :

Persiapan
Langkah – langkah persiapan :
   • Mempelajari dan menguasai materi dan tujuan belajarnya sendiri, karena media hanyalah
       alat bantu dari kegiatan belajar. Tidak ada salahnya fasilitator mempersiapkan catatan-
       catatan singkat mengenai isu – isu kunci yang akan diajukan sebagai penggerak diskusi.

      •       Mempelajari fungsi media berdasarkan tujuan belajar yang bersangkutan, apakah media
              yang akan disajikan itu untuk motivasi, penyadaran atau instruksi teknis.

      •       Memperhatikan bentuk media yang akan digunakan, apakah akan menggunakan poster,
              poster seri, atau brosur. Ini akan berhubungan dengan kemampuan kelompok diskusi dalam
              menyimak kajian diskusi. Misalnya, media brosur atau buklet kurang tepat digunakan untuk
              kelompok yang terbatas kemampuan membacanya. Untuk kelompok ini, poster tunggal atau
              postr seri akan lebih tepat.

      •       Memperhatikan jumlah peserta yang dianjurkan dan tata ruang yang tepat dalam
              menggunakan media tersebut. Misalnya tayangan video/slide dapat disajikan untuk semua
              peserta dalam sebuah kelas belajar 20 orang, tetapi fotonovela berbentuk buklet hanya bisa
              dipergunakan dalam kelompok-kelompok kecil. Untuk kebutuhan ini, tata ruang yang tepat
              perlu dipersiapkan sejak awal.

      •       Mempelajari cara menggunakan media tersebut. Sebaiknya media itu dicoba terlebih dahulu
              sebelum dipergunakan dalam kelompok belajar, terutama media yang memerlukan alat
              Bantu seperti tayangan slide/video misalnya.

    Catatan :
        • Persiapan akan lebih mudah apabila media yang akan digunakan memiliki pedoman
            penggunaannya. Pedoman ini biasanya menjelaskan mengenai fungsi media, jumlah
            pesera maksimal yang dianjurkan, langkah – langkah dan cara menggunakannya serta tata
            ruang yang dianjurkan.

          •    Bahan/materi belajar harus disusun oleh fasilitator karena biasanya media-media diskusi
               memuat hanya informasi-informasi secara tebatas (yang penting-penting saja). Banyak
               media mencantumkan materi, karena media dipergunakan untuk membahas satu kasus
               setelah materi dari fasilitator didiskusikan.

.

Pelaksanaan
   • Sebelum memulai pertemuan/diskusi, ciptakan suasana yang santai, sehingga peserta tidak
       merasa berada dalam sebuah kelas belajar, melainkan dalam kelompok diskusi informal. Bisa
       juga dimulai dengan permainan atau crita lucu.

      •       Kemudian sampaikan maksud dan tujuan dilaksanakannya kegatan belajar serta topik yang
              akan dibahas.

      •       Sampaikan dan sepakati bersama dengan peserta mengenai perkiraan waktu yang diperlukan
              untuk kegiaatan ini.



                                                                      Modul | Teknik Fasilitasi   57
   •        Mulailah kegiatan belajar sesuai dengan langkah – langkah yang dipersiapkan. Pergunakan
            media yang telah dipersiapkan untuk menyampaikan informasi belajar. Media akan lebih baik
            bila dipergunakan sebagai bahan diskusi sehingga kegiatan belajar lebih interaktif ( timbal
            balik)

   •        Fsilitator harus selalu menjaga agar media dapat dilihat secara jelas oleh seluruh peserta.
            Fasilitator yang menyajikan media agar selalu dalam posisi berhadapan dengan peserta
            diskusi dan tidak menghalangi pandangan peserta kepada media.

   •        Fasilitator memancing diskusi dengan mengajukan pertanyaan – pertanyaan yang berkisar
            pada tanggapan mengenai isi/pesan yang terkandung dalam media. Misalnya : apa yang
            dapat kita lihat dari poster ini ? Mengapa hal itu terjadi ? Apa akibat dari hal tersebut ?
            Bagaimana cara mencegah agar tidak terjadi ? Apakah hal seperti itu terjadi di kampung ini ?

 Tips praktis
     • Jangan sampai media dipergunakan alat ceramah atau penyuluhan sebab fungsi utama
         media adalah untuk membantu peserta terlibat dalam kegiatan belajar yang interaktif.

        •     Fasilitor sebaiknya berusaha agar setiap peserta dapat turut aktif dalam diskusi. Usahakan
              agar fasilitator tidak memonopoli pembicaraan, sehingga             dapat mengemukakan
              tanggapan atau pendapatnya.

        •     Tanggapan atau jawaban dari peserta sebaiknya ditulis di papan tulis atau pada kertas
              plano ( ditempel di tembok ), karena peserta akan bisa mengingat dengan lebih baik
              apabila mereka melihat dan membaca daripada hanya mendengarkan saja. Selain itu
              hasil tersebut akan memancing peserta untuk lebih berpartisipasi dalam diskusi, karena
              usulan atau tanggapan mereka dianggap penting/diperhatikan .



Setelah diskusi
   •        Apabila kita menjelaskan hal-hal yang bersifat teknis, akan lebih mudah memahaminya
            langsung dengan praktek daripada hanya membahas teori saja. Namun perlu diingat pula
            bahwa praktik yang dilakukan tanpa dasar – dasar atau teori yang kuat, bisa menjadi kacau.
            Untuk itu diskusikan terlebih dahulu teori dengan alat Bantu media, baru kemudian
            mempraktekan di lapangan. Sepakati waktu yang tepat untuk melakukan praktek ini.

   •        Lakukan evaluasi kegiatan setelah diskusi dan praktek di lapangan. Cobalah untuk mengkaji
            apakah peserta mempraktikan seperti yang telah didiskusikan dan yang disarankan dalam
            media ? mengapa demikian ?

   •        Hasil evaluasi dapat menjadi bahan pertimbangan bagi rencana belajar/kerja selanjutnya.
            Bisa jadi pada pertemuan berikutnya masih diperlukan media dalam bentuk dan jenis yang
            berbeda. Jika demikian, maka kita perlu membuat rencana lagi dan mengembangkan alat
            Bantu yang sesuai dengan kebutuhan.




       58 Modul | Teknik Fasilitasi
Beberapa Media sebagai Alat Bantu Pembelajaran
(Dari Bahan Pelatihan Studio Driya Media)


Pengertian dan Manfaat Media Belajar

Media belajar adalah alat bantu untuk memperlancar proses komunikasi dalam kegiatan
pembelajaran. Media belajar terdiri atas berbagai jenis dan bentuk, media audio ( didengar),
misalnya radio dan kaset cerita; media visual (dilihat ), misalnya koran, lembar balik, dan poster;
media audio – visual ( dlihat dan didengar ) misalnya televisi, drama dan sebagainya.

Karena orang dewasa lebih banyak belajar dari pengalaman, maka penggunaan media ini bukan
dimaksudkan untuk membantu kita ‘mengajar’ atau memberi ceramah kepada warga belajar. Tujuan
menggunakan media lebih dititikberatkan kepada upaya :

   Meningkatkan dan mendorong partisipasi dan keaktifan peserta untuk belajar. Media belajar yang
   sederhana dan mudah dipergunakan oleh peserta ( tidak rumit ) akan memudahkan peserta
   untuk terlibat dalam proses belajar.

   Menimbulkan daya tarik peserta untuk belajar. Media belajar yang menarik dengan menggunakan
   gambar – gambar, dan bervariasi akan menimbulkan minat peserta untuk memahami materi
   lebih mendalam.

   Meningkatkan pemahaman peserta. Media belajar yang dapat membantu memperjelas materi,
   khusunya materi abstrak yang sulit dijelaskan dengan kata – kata akan mempermudah peserta
   untuk memahami materi yang dibahas.


Jenis Media Belajar

Meskipun terdapat beragam bentuk dan jenis media belajar, tidak ada satu media pun yang tepat
untuk semua tujuan. Setiap media memiliki kekuatan dan kelemahannya masing – masing. Karena itu
pemahaman atas kekuatan dan kelemahan setiap jenis media dapat memeprmudah kita menentukan
media yang tepat.

Memilih media belajar

Setelah kita memahami kekuatan dan kelemahan media hal lain yang harus diperhatikan adalah :

       Siapa warga belajar kita ?
       Apa tujuan belajarnya ?
       Apa media belajar yang akan kita gunakan ?

Siapa warga belajar kita ?

Karakteristik warga belajar mesti dipahami dengan seksama . Dalam kaitan ini, hal – hal yang perlu
kita ketahui dari warga belajar antara lain :



                                                                Modul | Teknik Fasilitasi   59
        Bentuk dan ragam media yang biasa mereka gunakan
        Bahasa yang biasa mereka gunakan
        Kemampuan baca tulis
        Rata – rata umur mereka
        Jenis kelamin

Apa tujuan belajarnya ?

Apakah tujuan belajar itu pada wilayah pengetahuan, sikap atau keterampilan ?. Kalau tujuan belajar
berada pada wilayah pengetahuan, media yang kita pilih sebaiknya jenis media yang bersifat
memberikan informasi (misalnya lembar balik, leaflet, dan lain – lain).

Kalau tujuan belajar berada pada wilayah sikap, media yang kita pilih sebaiknya jenis media yang
bersifat memberikan motivasi dan refleksi ( misalnya : poster, bermain peran, kaset rekaman dan lain
– lain ).

Media yang bersifat memberikan pengajaran (misalnya : buklet, alat peraga, simulasi, dan lain-lain)
cocok digunakan jika tujuan belajar berada dalam wilayah keterampilan.

Apa metode belajar yang akan kita gunakan ?

Agar warga belajar bisa belajar dengan baik, media yang kita pilih harus disesuaikan dengan metode
belajar yang akan kita gunakan. Misalnya, jika metode belajar yang digunakan adalah bermain peran,
maka kita harus menyiapkan media berupa lembar alur cerita bermain peran. Demikian pula jika
metode yang dipilih diskusi kelompok, maka media yang digunakan dapat berupa poster seri, dan
alat peraga lainnya.

Mempersiapkan dan Menggunakan Media Belajar

Selain memanfaatkan media – media yang sudah ada, fasilitator juga disarankan untuk memiliki
kreativitas dan kemampuan membuat media belajar sendiri. Beberapa media yang bisa kita buat
sendiri, misalnya adalah :

        Lembar penugasan (kelompok/perorangan)
        Lembar kasus/cerita
        Lembar praktek/panduan praktek
        Skenario bermain peran (role play)/drama/fragmen
        Bahan permainan/teka – teki
        Gambar sederhana
        Alat peraga
        Kartu metaplan (yang sudah diisi)
        Gambar – gambar sederhana
        Dan sebagainya

Ada juga media yang tidak bisa kita buat sendiri, karena memang memerlukan keahlian tertentu
dalam pembuatannya. Gambar sederhana misalnya bisa kita buat sendiri. Tetapi kalau ada media
yang membutuhkan gambar lebih banyak dan pembuatannya memerlukan keterampilan teknis yang
tidak kita miliki, kita bisa mencari, mengumpulkan atau memanfaatkan media –media yang sudah
tersedia.

Beberapa media yang termasuk jenis ini, antara lain :
       Komik/cerita bergambar/fotonovela (pendek)



     60 Modul | Teknik Fasilitasi
       Gambar/foto/poster
       Tayangan video
       Kaset cerita
       Boneka/wayang (puppet – show)
       Lembar balik ( flip chart)

Catatan :
Beberapa jenis media seperti modul, buklet, buku , komik, fotonovela yang isinya lebih panjang (
banyak ), bisa dianjurkan sebagai bahan bacaan untuk warga belajar, apabila diperlukan.

Keberhasilan proses dan hasil belajar belum bisa dijamin meskipun kita sudah memilih dengan tepat
media yang kit pilih bisa digunakan secara efektif. Kiat tersebut antara lain :

       Media visual. Untuk media berbentuk gambar, jika digunakan dalam diskusi umum (pleno),
       sebaiknya ukurannya cukup besar (ukuran poster atau plano), supaya bisa dilihat dengan
       jelas oleh seluruh warga belajar. Gambar berukuran kecil (ukuran kartu atau kertas HVS),
       sebaiknya hanya digunakan dalam diskusi kelompok atau tugas perorangan.

       Untuk media berbentuk tulisan, jika digunakan dalam diskusi umum (pleno), sebaiknya ditulis
       dengan huruf besar (balok) dan ukuran besar, supaya bisa dibaca oleh seluruh peserta.
       Tulisan bisa dibuat di atas papan tulis atau kertas lebar (plano).

       Media audio. Penggunaan media ini perlu memperhatikan kualitas dan volume suara, apakah
       suara bisa didengar cukup jelas oleh sejumlah warga belajar. Kalau kita akan meggunakan
       kaset cerita misalnya,

       berfungsi atau tdaknya alat bantu pengeras suara, adalah sesuatu yang harus diperhatikan.

       Media audio visual. Media seperti ini perlu kita coba sebelum digunakan. Kalau kita
       menggunakan media ini, yang perlu kita perhatikan adalah jarak pandang warga belajar
       terhadap gambar dan volume suara, agar seluruh peserta bisa melihat dan mendengar
       secara jelas. Semakin canggih media yang kita gunakan, bisasanya membutuhkan fasilitas
       pendukung yang semakin banyak pula, misalnya alira listrik, layar, proyektor, kabel, dan
       sebagainya.


Tentang Bahan dan Alat Pembelajaran

Ada beberapa alat dan bahan yang biasanya digunakan dalam proses pembelajaran, antara lain :

       Papan tulis biasa, white board.
       Kertas plano (bisa disebut juga flip chart atau kertas helaian lebar ).
       Proyektor ( slide, film, video).
       Kartu – kartu metaplan (dibuat dari karton manila bermacam warna dan ukuran ).
       Bahan – bahan praktek/peragaan.
       Ruangan yang cukup luas untuk 25 – 30 orang (bisa bergerak leluasa, melakukan diskusi
       kelompok, permainan yang dinamis, dsb)
       Kursi dan meja yang tidak mengganggu ruang gerak warga belajar. Dalam pelatihan
       partisipatif, sebaiknya digunakan kursi yang memiliki meja lengan, sehingga tidak perlu pakai
       meja lagi, dan warga belajar leluasa berpindah atau bergerak. Kalaupun tidak ada kursi
       bermeja lengan, jangan pakai meja besar/panjang yang menghabiskan tempat dan
       menghalangi.



                                                                 Modul | Teknik Fasilitasi   61
  Buku tulis, bolpoint, penghapus, spidol,selotip, gunting, paper – clip (penjepit kertas),
  stapler, dan sebagainya.




62 Modul | Teknik Fasilitasi
Metode Pembelajaran
(Membangun Masyarakat Pembelajar, Panduan Metodologi Pendidikan Non Formal; UNESCO APPEAL
– SPPM)


Fasilitator perlu memiliki metode yang memungkinkan warga belajar mengalami 4 tahap proses daur
belajar dari pengalaman , dan mempraktekan metode tersebut dalam sebuah proses belajar yang
menyenangkan.

Untuk dapat memilih metode yang tepat fasilitator perlu mengetahui karakteristik dan ranah belajar
dari setiap metode.

                                  Ranah belajar
Metode
                                  Pengetahuan           Sikap                  Keterampilan
Wawancara/Tanya jawab
Curah pendapat
Ceramah
Diskusi kelompok
Diskusi kelompok terfokus
Penugasan/praktek
Permainan
Bermain peran
Analisis situasional
Kunjungan silang
Simulasi

Bagaimana Memilih Metode dan Alat Bantu ?

Suatu metode dipilih biasanya didasarkan atas beberapa pertimbangan, antara lain :
   • Kesesuaian dengan tujuan yang ingin dicapai
   • Fasilitator mampu menjalankan metode tersebut
   • Warga belajar mampu melibatkan diri dalam metode tersebut
   • Murah, artinya tidak terlalu memakan alat Bantu yang banyak
   • Besarnya kelompok yang difasilitasi
   • Ketersediaan waktu

Metode – metode tersebut tidak boleh berdiri sendiri. Kombinasi antar metode akan membuat proses
belajar semakin menarik dan tidak membosankan.

       Metode – metode yang disebut di atas, memiliki karakter dasar yang cenderung merangsang
       partisipasi. Tetapi memilih metode dan media tersebut belum tentu menjamin proses fasilitasi
       berlangsung secara partisipatif. Yang paling penting adalah fasilitatornya sendiri.
       Kita bisa memodifikasi atau mengembangkan metode – metode yang ada di dalam tulisan ini
       disesuaikan dengan masalah atau kebutuhan yang kita hadapi di lapangan.




                                                                Modul | Teknik Fasilitasi   63
Penggunaan Metode dalam Proses Pembelajaran Bersama Masyarakat

Metode Brainstorming (Curah Pendapat)

Metode asah otak adalah suatu cara yang cocok untuk menghasilkan ide-ide baru. Asah otak
memungkinkan warga belajar saling bekerjasama mengumpulkan ide-ide untuk memecahkan
masalah mereka.

Metode ini umumnya kita gunakan untuk kegiatan yang berhubungan dengan pemecahan masalah
tertentu, atau kegiatan – kegiatan lain yang membutuhkan munculnya gagasan-gagasan baru.
Ada dua tahap pengorganisasian dan peraturan dari kegiatan asah otak :
    • Tahap pertama adalah untuk menghasilkan sebanyak mungkin ide-ide tersebut bisa ditulis di
        atas lembaran kertas dan memperkenalkannya di atas papan atau menuliskannya secara
        langsung dalam sebuah bagan – bagan. Warga dilarang berkomentar selama tahap ini.

   •     Tahap kedua adalah mengevaluasi ide – ide yang dihasilkan selama tahap pertama.
         Kemudian, warga belajar diminta mengelompokan ide – ide yang sama, lalu memberikan
         tanda pada setiap kelompok dalam sebuah prioritas ( ada kelompok ide dengan prioritas
         paling penting, kedua terpenting, dan seterusnya)



 Langkah Umum Penggunaan Metode
    • Identifikasi dan tulis masalah – masalah yang dihadapi oleh warga belajar di papan tulis
       atau lembaran kertas
    • Mintalah warga belajar untuk memikirkan masalah – masalah tersebut selama beberapa
       menit
    • Mintalah ide – ide/gagasan seketika warga belajar (tanpa perlu dipikirkan terlebih dahulu)
       terhadap pemecahan masalah tersebut.
    • Mintalah warga belajar untuk memberi tanggapan atau mendebat ide – ide yang
       dilontarkan tersebut.
    • Tunjuklah seseorang untuk menulis ide – ide tersebut di papan tulis
    • Hentikan kegiatan brainstorming pada beberapa titik permasalahan dan mintalah warga
       belajar untuk menjelaskan setiap ide tersebut.
    • Kelompokkan ide – ide tersebut, lalu tentukan tingkat prioritasnya
    • Diskusikan dan garis bawahi ide – ide yang telah disetujui bersama




       64 Modul | Teknik Fasilitasi
Metode Ceramah

Metode ini biasa kita lakukan untuk menyampaikan suatu pesan atau materi secara lisan, dengan
maupun tanpa menggunakan alat Bantu/media. Biasanya penggunaan metode ini harus dibarengi
dengan penggunaan metode lainnya.


 Langkah Umum Penggunaan Metode

 Persiapan
    •   Susun materi yang akan kita sampaikan dengan sistematika yang berurutan. Biasanya,
        materi ini akan menjadi bahan serahan untuk warga belajar.
    •   Tulislah beberapa pokok pikiran penting dari bahan serahan di atas lembar kertas

 Pelaksanaan

    •   Sampaikan pokok bahasan materi secara berurutan di hadapan warga belajar
    •   Setelah semua materi selesai disampaikan, atau pada tengah – tenagh sesi, persilakan
        warga belajar untuk mengajuka pertanyaan
    •   Setelah Tanya jawab/diskusi selesai, simpulkan materinya
    •   Bagikan bahan serahan kepada seluruh warga belajar




Metode Tanya Jawab

Metode ini kita terapkan untuk melakukan pendalaman materi. Sesuai dengan prinsip, bahwa orang
dewasa adalah orang yang telah memiliki berbagai pengalaman, proses Tanya jawab tidak berari
pertanyaan dari warga belajar harus kita jawab. Kita bisa memberikan kesempatan kepada warga
belajar yang bersangkutan untuk menggali pengalamannya sendiri, atau memberikan kesemoatan
kepada warga belajar lain untuk memberikan jawaban.

Biasanya metode ini digunakan setelah kita menyampaikan materi ( seperti ceramah, demonstrasi,
atau penugasan ).

 Langkah umum penggunaan metode
 Jika proses diawali dengan pertanyaan dari warga belajar :
     • Persilakan warga belajar untuk bertanya tentang topik yang disampaikan
     • Ketika sebuah pertanyaan diajukan, persilakan warga belajar yang lain untuk memberikan
         jawaban terhadap pertanyaan tersebut berdasarkan pengalaman mereka.
     • Pada saat Tanya jawab berlangsung, jaga proses agar tetap mengarah pada persoalan yang
         sedang dipertanyakan, tidak melebar ke mana – mana
     • Simpulkan jawaban-jawaban tersebut, jika perlu kita bisa memberikan masukan.

 Jika proses diawali dengan pertanyaan dari fasilitator :
     • Persiapkan beberapa pertanyaan kunci untuk memperdalam pemahaman materi yang akan
         disampaikan
     • Ajukan pertanyaan kunci tersebut dan minta warga belajar untuk menanggapinya
     • Pada saat Tanya jawab berlangsung, jaga proses agar tetap mengarah pada persoalan yang
         sedang dipertanyakan, tidak melebar kemana – mana
     • Simpulkan jawaban – jawaban tersebut, jika perlu kita bisa memberikan masukkan.




                                                             Modul | Teknik Fasilitasi   65
Metode Diskusi Kelompok dan Pleno

Metode ini bermanfaat agar warga belajar dapat : saling mendengarkan pandangan orang lain;
menghormati ide – ide orang lain; tidak melukai atau mempermalukan satu sama lain; belajar
berkomunikasi secara ringkas, jelas dan tepat.

Metode ini biasa digunakan dalam berbagai kegiatan. Pada saat menerapkan metode ini, kita atau
orang yang berperan sebagai pemimpin diskusi tidak boleh berbicara terlalu panjang, tetapi harus
lebih banyak mendengarkan dan memandu proses diksusi di antara warga belajar.

Langkah Umum penggunaan metode

Diskusi Kelompok
Metode ini digunakan kalau jumlah warga belajar cukup banyak, misalnya lebih dari 10 orang. Jadi,
agar semua orang bisa terlibat aktif dalam proses diskusi, bagi warga belajar dalam kelompok-
kelompok kecil.


 Langkah umum metode ini adalah sebagai berikut :
    • Agar proses diskusi dapat berlangsung lancr, sepakati dahulu aturan main
    • Bagilah warga belajar ke dalam kelompok-kelompok kecil
    • Tuliskan topik yang akan didiskusikan dalam kelompok
    • Mintalah kepada setiap kelompok untuk memilih fasilitator yang akan memimpin diskusi
        dalam kelompok.
    • Sepakati waktu yang dibutuhkan untuk diskusi kelompok
    • Minta setiap kelompok untuk menuliskan hasil kerja mereka
    • Doronglah setiap anggota kelompok menyampaikan pendapat mereka. Setiap orang harus
        punya kesempatan untuk berbicara dan membagi idenya.
    • Kumpulkan hasil kerja dari setiap kelompok, lalu lanjutkan pembahasan dalam diskusi
        pleno.


Diskusi Pleno

Metode ini umumnya dipergunakan setelah selesai melakukan diskusi kelompok

     •   Minta setiap kelompok memilih satu orang untuk menyampaikan pokok-pokok pikiran
         hasil diskusi kelompoknya.
     •   Sepakati lamanya waktu bagi setiap kelompok dalam menyampaikan hasil kelompoknya,
         jangan lebih dari 10 menit. Ingatkan warga belajar, bahwa pembahasan hasil diskusi
         akan dilakukan setelah presentasi.
     •   Setalah seluruh kelompok selesai menyampaikan hasil diskuisnya, persilakan warga
         belajar untuk mengajukan pertanyaan atau penjelasan terhadap hasil kelompok yang
         sudah disampaikan sebelumnya
     •   Setelah semua hasil kerja kelompok dibahas, ajak warga belajar menyimpulkan hasil-hasil
         diskusi, dengan cara membandingkan hasil setiap kelompok dan menarik benag merah
         dari hasil diskusi.
     •   Simpulkan hasil diskusi pleno, atau minta salah seorang warga belajar untuk
         menyimpulkannya sendiri




    66 Modul | Teknik Fasilitasi
Metode Penugasan/Praktek

Metode penugasan adalah cara belajar dengan jalan menugaskan kepada warga belajar untuk
melakukan sesuatu. Tugas yang diberikan harus khusus atau jelas obyek dan waktunya. Metode ini
lebih bertujuan untuk membawa warga belajar ke dunia nyata dalam mempraktekan pengetahuan
yang diperoleh. Oleh karena itu, metode ini akan sangat mempengaruhi wilayah keterampilan warga
belajar.


 Langkah umum penggunaan metode
    • Persiapkan pedoman tugas yang akan diberikan ( bisa berupa topik yang berhubungan
       dengan materi, dan lain-lain)
    • Jelaskan kepada warga belajar tentang tugas yang akan dilakukan
    • Persilakan warga belajar untuk mengajukan pertanyaan tentang tugas tersebut

 Buat kesepakatan tentang lamanya waktu penugasan tersbut (kapan mulai dan kapan selesai) dan
 bentuk laporannya serta cara mempresentasikannya




Metode Permainan

Metode ini digunakan dalam kegiatan belajar. Dari pengalaman, metode ini terbukti sangat efektif
untuk melibatkan warga belajar, membuat warga belajar merasa nyaman dan segar mengikuti
kegiatan.

Metode permainan dapat dilakukan dengan bermacam cara, seperti nyanyian, cerita, gambar atau
permainan lainnya. Tema – tema permainan bisa berhubungan dengan kepemimpinan, sikap,
kerjasama, koordinasi, pemecahan masalah, komunikasi, pemantauan, evaluasi, isu gender, teknik
fasilitasi, dan sebagainya yang relevan dengan materi belajar.

Dalam proses belajar, metode permainan bertujuan untuk :

   •   Mengubah suasana belajar yang kaku atau tegang menjadi lebih santai dan nyaman, dan
       megubah warga belajar yang pasif dan jenuh menjadi lebih aktif dan semangat.
   •   Menumbuhkan sikap dan pandangan pribadi, dalam hal penalaran, wawasan, perbaikan
       sikap, dan introspeksi
   •   Mengantarkan atau memulai pokok bahasan dengan suasana aktif, gairah, riang, luwes atau
       akrab.

Untuk mencapai tujuan /manfaat tersebut perlu dipertimbangkan karakteristik warga belajar, yaitu
(1) latar belakang budaya atau kebiasaan, agama, pekerjaan dan status sosial warga belajar; (2)
Pengalaman, pendidikan, atau wawasan warga belajar pada umumnya; (3) kecenderungan perilaku
atau sikap tertentu dari warga belajar ayng berkembang dalam proses belajar, baik yang positif
maupun negatif.


Metode Bermain Peran

Selain digunakan dalam kegiatan belajar , metode bermain peran dapat juga dipakai untuk menilai
proses dan hasil belajar.




                                                              Modul | Teknik Fasilitasi   67
Biasanya bermain peran menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi warga belajar. Dengan bermain
peran dalam situasi tertentu, warga belajar dapat mengungkapkan gagasan mereka dan
memperdalam pemahaman warga belajar terhadap apa yang dipelajari. Metode ini juga dapat
dijadikan sebagai alat untuk memotivasi dalam memecahkan masalah melalui diskusi.

Untuk bermain peran ini, tidak perlu latihan terlebih dahulu, tidak perlu ada naskah atau kata-kata
kunci yang harus diucapkan warga belajar. Yang penting diberikan adalah gambaran tentang situasi
apa yang mereka perankan.

Penilaian bermain peran, dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan – pertanyaan seperti
berikut :

    •     Bagaimana   warga belajar memahami perannya dengan jelas ?
    •     Bagaimana   warga belajar mengungkapkan gagasannya dengan jelas ?
    •     Bagaimana   keaktifan warga belajar ?
    •     Bagaimana   warga belajar bertutur dan menggunakan bahasa tubuh dengan baik ?
    •     Bagaimana   warga belajar dapat membaca dan menggunakan naskah tertulis ?


Langkah umum penggunaan metode

Jika metode ini diterapkan untuk menilai hasil belajar, misalnya untuk menilai kemampuan
membangun hubungan sosial yang baik, maka langkah-langkah penerapannya adalah sebagai
berikut :
    • Kelompokkan warga belajar menjadi 2 kelompok. Minta mereka untuk mendiskusikan situasi
         yang menggambarkan : kelompok 1 tentang menjalin hubungan yang baik antar pribadi,
         kelompok 2 tentang merusak hubungan antar pribadi.
    • Setiap kelompok bermain selama 5 menit, diawali dengan kelompok 1 yang dilanjutkan oleh
         kelompok 2
    • Setelah selesai, minta seluruh warga belajar untuk memberi komentar
    • Setelah kelompok 1 tampil, tanyakan pada kelompok 2 hal – hal apa saja yang dapat
         menjalin hubungan baik itu
    • Kemudian setelah kelompok 2 tampil, tanyakan hal-hal yang dapat merusak hubungan antar
         pribadi
    • Analisalah jawaban-jawabannya dan catat pengamatan anda
    • Catatlah pengamatan mengenai (1) apakah warga belajar memahami pentingnya
         membangun hubungan baik dengan orang lain ? (2) bagaimana caranya ? (3) apakah
         mereka dapat menyebutkan ciri-ciri hubungan baik?




Metode Analisis Situasional

Metode ini memungkinkan warga belajar mengidentifikasi atau membandingkan perbedaan –
perbedaan berdasarkan keyakinan, pengetahuan dan pengalaman masing-masing warga belajar.
Situasi seperti ini dapat diperoleh melalui TV, radio, atau cerita – cerita rakyat yang dikenal oleh
warga belajar sehingga memberikan mereka kesempatan untuk mengungkapkan pengalamannya.
Sehingga warga belajar dapat mendemonstrasikan keterampilan dan pengetahuan yang dimilki. Oleh
karena itu, kita sebagai fasilitator dapat menggunakan hasil pengamatan, juga umpan balik dari
kelompok dan setiap warga belajar sebagai upaya penilaian.




        68 Modul | Teknik Fasilitasi
Langkah umum penggunaan metode
Jika metode ini diterapkan untuk menilai hasil belajar, maka langkah – langkah penerapannya adalah
sebagai berikut :

   •   Kelompokkan warga belajar ke dalam kelompok – kelompok kecil
   •   Minta mereka membaca atau menggambarkan cerita tentang masalah sosial atau masalah
       lain yang melibatkan masyarakat. Misalnya saja masalah banyaknya keluarga – keluarga
       yang memiliki lebih dari 5 anak ( keluarga besar )
   •   Berikan gambaran situasi serta permasalahannya kepada setiap kelompok untuk
       menganalisa cerita tersebut.
   •   Minta warga belajar membandingkan gagasan dari suatu keluarga berdasar pada situasi
       yang digambarkan dengan gagasan mereka tentang keluarga
   •   Warga belajar menganalisis situasi keluarga besar kemudian menuliskan keuntungan dan
       kerugiannya.
   •   Warga belajar mengidentifikasi situasi yang sama dengan pengalaman mereka tentang
       pengaruh keluarga besar terhadap kebutuhan pokok utamanya kesehatan dan gizi
   •   Berikan waktu yang cukup untuk menganalisa, kemudian minta warga belajar melaporkan
       kegiatan di depan kelas
   •   Analisislah jawaban-jawabannya, dan catat hasil pengamatan anda : (1) apakah warga
       belajar dapat menggunakan konsep keluarga secara jelas ? (2) apakah warga belajar dapat
       menyebutkan manfaat keluarga kecil, manfaat keluarga besar, kemudian minta untuk
       memberikan alasannya.




                                                               Modul | Teknik Fasilitasi   69
Metode Simulasi

Metode simulasi adalah cara belajar melalui pengandaian atau pemisalan. Seperti metode tanya
jawab dan penugasan, metode ini dapat digunakan untuk pendalaman materi yang telah disampaikan
dengan cara lain (misalnya : ceramah, diskusi kelompok). Hanya saja, metode ini lebih banyak
mempengarunahi ranah sikap dari warga belajar. Sehingga pokok pembahasan lebih ditekankan
kepada sikap – sikap yang perlu dikembangkan untuk menerapkan pengetahuan yang
diperoleh.

Metode ini bisa dijadikan semacam ujian terhadap warga belajar, untuk melihat sampai sejauh mana
mereka mampu menerapkan materi yang telah diberikan.


 Langkah umum penggunaan metode

     •   Minta salah seorang atau beberapa orang warg belajar untuk berperan sebagai fasilitator.
         Sedangkan warga belajar lainnya diminta untuk berperan sebagai warga belajar.
     •   Berilah kesempatan kepada orang yang berperan sebagai fasilitator untuk mempersiapkan
         proses.
     •   Minta fasilitaor untuk merancang proses seakan – akan berhadapan dengan warga belajar
     •   Warga belajar diminta untuk berekasi, memberikan pertanyaan maupun tanggapan selama
         proses berlangsung.
     •   Setelah proses dianggap selesai, ajak seluruh warga belajar untuk mendiskusikan
         pengalamannya.

     •   Bagi yang berperan sebagai fasilitator. Bagaimana kesannya mengenai simulasi tadi?
         Apakah kesulitan – kesulitan yang dihadapi dalam memfasilitasi proses tadi ? bagaimana
         caranya agar proses tersebut dapat diterapkan dengan lebih baik ?
     •   Bagi warga belajar : bagaimana kesan – kesannya terhadap proses yang dibawakan oleh
         fasilitator tadi? Mudah atau sulitkah bagi warga belajar untuk belajar dengan proses
         tersebut? Bagaimana cara untuk memperbaiki proses tadi?



Garis bawahi gagasan – gagasan warga belajar, sebagai bahan refleksi atas materi yang telah
diberikan. Jika perlu, berikan masukan tentang tips-tips atau cara – cara untuk menjadi fasilitator
yang baik




    70 Modul | Teknik Fasilitasi
Modul 4
Topik: Berlatih Memfasilitasi




       Peserta memahami dan menyadari:
       1. Mampu memfasilitasi proses diskusi warga
       2. Mengidentifikasi Kekurangan dalam memfasiltasi




       Mempersiapkan dan Praktek Fasilitasi




       6   Jpl ( 270 ’)




       Bahan Bacaan:
       1. Pendidikan Orang Dewasa
       2. Strategi Pemebelajaran
       3. Teknik Bertanya
       4. Mendengar dan ‘Mendengarkan’
       5. Penggunaan Media
       6. Beberapa Media Sebagai Alat Bantu Pembelajaran
       7. Dasar – dasar Komunikasi




       • Kertas Plano



                                                           Modul | Teknik Fasilitasi   71
           • Kuda-kuda untuk Flip-chart
           • LCD
           • Metaplan
           • Papan Tulis dengan perlengkapannya
           • Spidol, selotip kertas dan jepitan besar




       Mempersiapkan dan Praktek Fasilitasi
1) Jelaskan kepada peserta bahwa kita akan memulai modul 4 yaitu Berlatih Memfasilitasi dengan
   tujuan :
               Peserta mampu memfasilitasi proses diksusi warga
               Peserta mampu mengidentifikasi kekurangan dalam memfasilitasi


2) Bagilah peserta ke dalam 8 kelompok, uraikan kepada mereka bahwa setiap kelompok harus
   mempersiapkan bahan untuk praktek fasilitasi dengan topik – topik yang sudah ditentukan.
   Topik – topik yang harus dibawakan oleh setiap kelompok adalah :
       Kelompok 1 memfasilitasi komunitas perempuan dengan topik ”kerelawanan”. Karakteristik
       peserta : tingkat pendidikan bervariasi (tidak tamat SD s/d PT); beberapa ada yang tidak
       begitu memahami bahasa Indonesia; kebanyakan bekerja di sektor informal.
       Kelompok 2 memfasilitasi komunitas miskin dengan topik ’siklus PNPM Mandiir Perkotaan’.
       Karkteristik peserta : tingkat pendidikan rendah (tidak tamat SD s/d SMP); kurang lancar
       berbahasa Indonesia; kebanyakan kerja serabutan.
       Kelompok 3 memfasilitasi komunitas campuran (L/P, miskin dan non miskin) dengan topik
       ”Penyebab Kemiskinan”. Karakteristik peserta : penididikan bervariasi; pemahaman bahasa
       Indonesia baik; mata pencaharian bervariasi.
       Kelompok 4 memfasilitasi komunitas pemuda dengan topik ’keterlibatan pemuda dalam
       nangkis’; Karakteristik peserta : tingkat pendidikan bervariasi, bahasa Indonesia baik,
       kebanyakan penangguran.
       Kelompok 5 memfasilitasi komunitas campuran (L/P) dengan topik ’partisipasi perempuan
       dalam nangkis’. Karakteristik peserta : tingkat pendidikan antara SD/SMA; bahasa Indonesia
       baik; mata pencaharian bervariasi pada umumnya buruh dan pegawai negri sipil.
       Kelompok 6 memfasilitasi komunitas Kelompok campuran (L/P, miskin/non miskin) dengan
       topik ’Konsep PNPM Mandiri Perkotaan’. Karakteristik peserta : pendidikan bervariasi,
       beberapa ada yang kurang lancar berbahasa Indonesia, mata pencaharian bervariasi
       kebanyakan kerja di sektor infromal.
       Kelompok 7 memfasilitasi komunitas Laki – laki dengan topik ”Refleksi terhadap program –
       program pembangunan’. Karakteristik peserta : pendidikan cukup tinggi (SMP s/d PT),
       bahasa Indonesia lancar; mata pencaharian pada umumnya pegawai negri sipil dan pegawai
       swasta.




    72 Modul | Teknik Fasilitasi
       Kelompok 8 memfasilitasi komunitas campuran (L/P) dengan topik ”Kemiskinan tanggung
       jawab siapa?”. Karakteristik peserta : pendidikan tinggi (SMA/PT), bahasa Indonesia lancar,
       pada umumnya karyawan, mempunyai usaha kecil, pegawai negri sipil.


3) Mintalah kepada setiap kelompok untuk mempersiapkan diri sebelum praktek (waktu 30 menit),
   jelaskan bahwa setiap kelompok akan praktek sesuai dengan topik yang sudah ditentukan selama
   20 menit. Peserta lain di luar kelompok yang praktek sebagian akan menjadi warga masyarakat
   dan sebagian menjadi pengamat proses.



 Persiapan untuk praktek yang harus dilakukan oleh peserta :
        Menentukan tujuan diskusi (proses belajar)
        Membuat daftar sub – sub topik yang akan dibahas
        Membuat daftar pertanyaan kunci
        Menentukan metode/teknik fasilitasi yang akan digunakan
        Menentukan media bantu yang akan digunakan
        Pembagian tugas kelompok : siapa yang akam menjadi pemandu utama, co – pemandu
        dan pencatat proses



4) Mulailah praktek dengan kelompok pertama, mintalah 4 orang peserta sebagai pengamat proses
   dan sisanya sebagai warga masyarakat. Bagikan lembar pengamatan yang ada dalam LK –
   Lembar Pengamatan Praktek Fasilitasi kepada pengamat proses. Mintalah mereka untuk
   mencermati jalannya praktek dan mencatat hasil pengamatan.
5) Setelah selesai bahas dan refleksikan bersama apa yang sudah baik dan apa yang kurang dan
   harus diperbaiki. Mintalah pengamat proses untuk mengemukakan hasil pengamatannya.
6) Selanjutnya lakukan hal yang sama untuk kelompok 2 s/d kelompok 8.




                                                               Modul | Teknik Fasilitasi   73
LK – Lembar Pengamatan Praktek Fasilitasi
Lembar Pertanyaan untuk Pengamat :

         Pertanyaan Pemandu                    Komentar Pengamat
1) Secara umum apakah ada yang kurang
   dlm simulasi tersebut ?

2) Apakah fasilitator mengenalkan diri,
   mengemukakan tujuan diskusi ?

3) Sebagai apa dan dimana fasilitator
   memposisikan dirinya

4) Apakah bahasa yang digunakan oleh
   fasilitator sesuai dengan karakteristik
   peserta ?

5) Apakah media bantu yang digunakan
   sesuai dengan karakteristik peserta?

6) Bagaimana Keterampilan Fasilitator
   dalam menggunakan Media?
7) Apakah semua peserta terlibat ? Siapa
   yang tidak cukup terlibat ? Mengapa ?

8) Apakah ada peseta yang mendominasi ?
   Bagaimana fasilitator mengatasi orang
   yang mendominasi ?

9) Apakah peserta bisa menghargai dan
    menerima perbedaan pendapat ?
    Bagaimana fasilitator mengatasi hal
    tersebut ?
10) Apakah fasilitator masih dominan
    dibandingkan dengan peserta ?

11) Apakah fasilitator cukup ramah, bisa
    mengembangkan suasana yang akrab
    dan akomodatif ? Apakah ada hal-hal yg
    tdk boleh dilakukan tapi tetap dilakukan
    oleh fasiitator

12) Apa saja yg dicatat oleh perekam proses
    ?




     74 Modul | Teknik Fasilitasi

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:226
posted:8/15/2012
language:
pages:74