Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Safety for Beginner

VIEWS: 19 PAGES: 8

									                                   Safety for Beginner

Johanes Anton Witono

Praktisi Safety,

Sebagai orang yang baru memasuki dunia kerja, saya ingin tahu bagaimana membangun/ belajar
hal2 tentang safety terutama untuk hal2 yang sifatnya umum, sehingga pada akhirnya bisa
membangun sense of safety yang bagus untuk hal2 teknis lainnya.

adakah artikel atau link untuk belajar tentang hal ini?

Dirman Artib

Safety dimulai dari tahap Design. Dan hal ini harus bersifat umum. Pada saat anda berpikir
bahwa "Safety in Design" adalah hal yang bersifat khusus.........hmm...di situlah awal dari
bencana yang umum :-)

Alvin Alfiyansyah

Mas Anton yang senang belajar,

Apa kabar ?

Sama seperti anda, saya pun senang belajar hal-hal baru terutama yang berhubungan dengan
pekerjaan saya.

Saya tidak tahu basic pekerjaan anda sehari-hari itu apa ? Apakah seorang design engineer, field
engineer, safety officer, etc. Hal yang tersulit dalam masalah safety mungkin adalah
penerapannya ke dalam praktek di lapangan dibandingkan hanya di atas kertas. Kabarnya juga
kalo kaidah2 safety telah merasuk ke masing2 orang sampai ke pekerja2 kecil, maka hal soal
safety ngga diperlukan lagi bahkan bisa dibubarkan saja, ini hal mengerikan yang menurut saya
tidak mungkin terjadi karena manusia itu masih punya sifat pelupa.

Ini pernah terbukti pada saya sendiri sewaktu ikut test menjadi process engineer di UEA
beberapa waktu yang lalu, ternyata test dilakukan oleh seorang Process Safety Manager, hal-hal
yang ditanyakan adalah masalah engineering basic, pemilihan equipment, basic design yang
efektif dan safe semisalnya utk Heat Exchanger dan Separator, lalu beralih ke terminology safety
basic misalnya dalam design sampai masalah commissioning dan start-up, hal-hal basic dan
sense apa saja yang diperlukan oleh seorang process engineer dalam masalah ini agar selalu
dapat menangani juga masalah safety juga safe, dan..tentu saja akhir cerita mudah ditebak
karena pertanyaan terlalu detil dan banyak maka saya belum dapat lulus dalam test waktu
itu….Uuuhh andai ada waktu 3 hari saja utk persiapan belajar terminology basic design dan
safety waktu itu, mungkin ceritanya lain…he3X….Tapi ini jadi modal semangat utk belajar lebih
dalam lagi mengenai masalah safety.
Untuk matrix skill serta uraian knowledge yang sekiranya dibutuhkan process safety engineer
sudah pernah dibahas oleh Mas Cahyo dan Bli Made di iips-online@yahoogroups.com walaupun
masih untuk high level (jauh dari saya dan anda tentunya , hehehe…). Walaupun demikian basic
ilmu physic, chemical, mekanika fluida, korosi, basic ilmu material, dsb. perlu diketahui sebagai
bekal menuju masalah safety yang lebih dalam. Bahkan basic fundamental urusan process safety
ini pernah diposting Mas Wahyu di awal tahun 2004 kalo ngga salah. Setidaknya artikel2 di
Migas-Indonesia online sangat bagus untuk pemula seperti kita2 ini.

Sama seperti anda penerapan design yang safe dalam berbagai tahap misalnya
concept/basic/detail design sampai menuju commissioning dan start-up masih perlu dipelajari
agar bisa mendalami masalah safety, belum lagi masalah behavioural safety dan system safety
dan penerapan PSM system serta PHA-nya.

Spesialisasi ilmu safety dapat terbagi menjadi : industrial safety, industrial hygiene,
environmental safety, fire protection engineering, ergonomics, system safety, risk management,
loss control, chemical process safety, construction safety, institutional safety management,
transportation safety, dan safety research & management field menurut BCSP (Board of Certified
Safety Profesional – Amrik).

Di awal masa kerja saya tertarik masalah safety hanya sebatas hazard dan characteristicnya
(apakah itu chemical, physical, mechanical, electrical misalnya), cara mengantisipasinya misal
dengan safeguard (active, passive, inherently safer, procedural), baru belajar ke arah equipment
failure, engineering design for process safety, hazards analysis concept (juga study HAZOP,
FMEA, Check List..etc.), dan baru tertarik mengenal lebih jauh lagi semisalnya Hazard analysis
dalam penempatan equipment (siting & layout) , Masalah evacuation dan escape, consequence
analysis dan seterusnya. Itupun masih mentah dan tidak mumpuni, rasanya masih jauh dari
yang dikatakan professional seperti Mas Cahyo, apalagi dengan minimnya kursus yang pernah
diikuti.

Benar seperti kata Pak Dirman, layer protection dalam masalah safety bermula dari process
design (kaidah LOPA jelasnya). Dan penerapannya bermula dari komitmen manajemen karena
tujuan PSM system dibuat adalah untuk melindungi orang dan fasilitas /asset juga lingkungan
sekitar tentunya.

Rujukan buku yang bagus tentunya sesuai keperluan Mas Anton sendiri, beberapa buku yang
bagus adalah sebagai dibawah disamping tentunya PSM system seperti yang tertulis di API 750,
OSHA, EPA-RMP, dll. )(Artikel mengenai sistem dan terminologi tertentu dalam safety
semisalnya OSHA PSM, inherently safer, dan konsep yang sudah umum lainnya banyak beredar
di internet kok.....) :

1.    Loss Prevention in the Process Industries (hazard indentification, assessment and control),
F.P Lees, Buttenworth-Heinennman
2.   CCPS Guideline book series
3.   Trevor Kletz book series

Disini masih banyak orang safety dan Sr. Engineer yang dapat lebih menjelaskan yang anda
perlukan dibandingkan saya.
Semoga bermanfat atas sharing ini.



danil agustaf

mas anton
saya malah pengen masuk kerja yang berhubungan dengan safety he..he.. mumpung mau tamat
kuliah neh...
sepengetahuan saya setiap karyawan baru di sebuah perusahaan di beritahu mengenai safety
sebelum, saat dan sesudah kerja .. ada yang namanya step 5 by 5..sebelum bekerja mundur lima
langkah dan perhatikan sekeliling kita apakah aman bagi kita, bagi orang orang di sekitas kita
sebelum memulai sedang atau sesudah kerja jika berbahaya tinggalkan dan beritahu supervisor
untuk tindakan berikutnya...ada lagi untuk pengemudi misalnya 5 cara mengemudi yang aman
pandangan luas kedepan, pastikan orang melihat anda, jaga jarak aman, dan lain-lain

sebenarnya safety itu bukan hal yang 'menyulitkan' atau ' merepotkan' kita saat bekerja misalnya
harus memakai coveral, kacamata, sarung tangan, safety shoes, helm, dll yang kelihatan ' ribet'
dan penuh aksesoris tetapi sebenarnya sangat bermanfaat bagi keselamatan kerja..

bahkan ada perusahaan memberikan peringatan keras ' zero tolerant' untuk pelanggaran safety.
pelanggarannya sih "sepertinya simple" yaitu naik mobil perusahaan dengan double cabin diisi
lebih dari lima orang bagi supir angkutan umum itu seh gak masalah..mau diisi berapa asal
muat..tetapi di sanalah kita dapat melihat perusahaan yang menghargai nyawa dan keselamatan
karyawannya atau tidak dan karyawan itu sendiri yang menghargai nyawa dan keselamatannya.
karena setiap orang potensial untuk mengalami kecelakaan..dan dengan safety first-lah dapat di
minimalkan, dihindari dan dicegah resiko tersebut..
demikian mas sharing pengalam dari saya semoga bermanfaat..

Crootth Crootth

sebenarnya safety itu bukan hal yang 'menyulitkan' atau ' merepotkan'

apa dasarnya anda mengatakan ini? berani anda mengatakan pada management BP Texas City
Refinery sebelum terjadi kecelakaan 2 bulan lalu?

Bondan Caroko

Danil Agustaf wrote:

sebenarnya safety itu bukan hal yang 'menyulitkan' atau ' merepotkan' kita saat bekerja misalnya
harus memakai coveral, kacamata, sarung tangan, safety shoes, helm, dll yang kelihatan ' ribet'
dan penuh aksesoris tetapi sebenarnya sangat bermanfaat bagi keselamatan kerja..

Mohon maaf, tapi mungkin Mas DAM perlu membaca kalimatnya sampai selesai :-)
Crootth Crootth

Justru disini mas bondan permasalahannya, tidak semua perusahaan memakai standar PPE yang
sama... ada yang ergonomik dan nyaman dipakai ada yang tidak, (saya pernah memakai
kacamata safety yang ga enak banget dipakai dan bikin lipatan kuping jadi lecet) dan menurut
saya tidak ada yang MUDAH dalam penerapan safety... effortnya gede mas...kebanyakan
perusahaan tidak mengalami kecelakaan hanya karena beruntung saja mas... dan satu lagi...
safety itu beyond PPE lho.... jadi ngga ada yanng mudah, even menyediakan PPEnya atau setelah
PPE dipakai apa lagi yang harus compliance..?

membuat kebijakan behavior safety (istilah kerennya MAKING SAFETY AS A SECOND
NATURE) jauh lebih sulit contohnya yah kasus BP Texas City Refinery yang tentunya sudah
jamak diketahui.... bagaimana bisa ada temporary container di dalam plant...??

ridwan

Mas DAM,
permasalahannya, tidak semua perusahaan memakai standar PPE yang sama...

timbul pertanyaan, bukankah impact dari terjadinya kecelakaan sama ?...injury or fatal. lalu
kenapa perusahaan A atau B bisnis yang sama (mis. offshore) memakai PPE yang berbeda
?...(kalau menurut kata diatas)... adakah regulate untuk PPE....(untuk core bisnis tertentu misal,
Industri plant, oil & gas Plant etc...)
sori ikut nimbrung...lagi niat..
terima kasih

Crootth Crootth

Sebagaimana satu kecelakaan dapat ditimbulkan dari berbagai sebab... satu kejadian kecelakaan
pun dapat menimbulkan ultimate consequences...

PPE berbeda bisa terjadi jika perusahaan di bussiness yang sama menggunakan patron standar
yang berbeda, sejauh ini standar PPE untuk perusahaan dengan patron safety di States sana biasa
menggunakan kalau engga salah ANSI Z.8 (mohon dikoreksi)... suka ada di balik helm safety,
atau di sol sepatu Red Wings, coba cek lagi... sistem inggris lain lagi... apalagi yang ngga make
sistem alias kebayakan perusahaan dalam negeri, boro boro nyediain PPE, ngebayar gaji
karyawan sesuai dengan beban kerjanya adalah puji syukur...



Adhia Utama Jauharuddin Madhan

Rekans,

Membicarakan safety pasti menarik, setidaknya bagi pribadi saya yang masih belajar. Namun
memang apa yang ditulis Mas Garonk, penerapan safety menjadi second nature bisa dikatakan
sebagai visi, anda semua pasti tahu bahwa visi itu merupakan mimpi yang mungkin dicapai.
Sebagai gambaran, ketika saya melancong ke KPS di Riau, saya beserta rekan berkendara dengan
salah seorang pekerja di KPS tersebut, di lingkungan KPS diterapkan speed restriction. Ini
berlaku di lingkungan KPS, termasuk field ato remote, tapi apa yang terjadi, setelah berada di
remote the driver memilih jalan yang jarang dilalui oleh kendaraan lain dengan alasan bisa
ngebut. Wow! Luar biasa bukan?
Lalu ketika melancong ke 2 KPS di Kalimantan Timur, saya temukan juga kebanyakan pekerja
tanpa PPE yang lengkap, biasanya safety goggle and ear plug (jujur memang dua PPE ini agak
merepotkan), padahal di platform offshore lho, dan itu di oil processing platform lagi. Sekali lagi,
wow! Luar biasa juga bukan?
Penerapan safety menjadi sesuatu yang harus ditumbuhkan dari dalam diri setiap pekerja, maaf,
setiap manusia, dimanapun dia berada. Tapi effort yang dibutuhkan tidak sedikit, bung.
Untuk solusi dari masalah ini sendiri bagaimana? Saya yakin banyak sekali ahli safety yang ada
di Indonesia. Tapi klo dari saya sendiri, kebiasaan safety harus diterapkan pada diri sendiri
untuk pertama kali.



esukardi@technip

Dear all,

Sehubungan dengan issue yang sedang dibahas mengenai Safety (design hingga comissioning),
saya baru saja mengikuti comissioning Pig Launcher dan Pig Receiver denga Interlock System
dari SMITH, mungkin ada rekan2 dari KPS sudah menerapkannya ? yang mana pada dasarnya
system ini untuk keperluan safety operational waktu melakukan piging, mengingat sering kali
terjadi kecelakaan waktu piging. Dengan interlock system ini dijamin sangat aman, dimana
untuk sisi Launcher saja memerlukan 71 tahapan sampai pig itu meluncur, sedangkan pada sisi
Receiver ada 49 tahapan samapi door closer ditutup, memang sangat nyelimet, apalagi yang
sudah terbiasa dengan cara gampang alias bypass hal ini sangat memberatkan bagi para
operator, khususnya di Timteng dimana mereka harus lebih lama lagi terpanggang mata hari yg
pada musim summer kaya sekarang ini bisa mencapai diatas 50 drajat C. Untuk yang minat
bagaimana cara kerja system ini, karena masih ditengah padang pasir 200 km dari Abu Dhabi,
schematic dan panduannya minggu depan nanti saya kirim via Mas Budhi.



Johanes Anton Witono

Pertanyaan yang bagus. Saya harus mulai darimana? Karena saya akui secara spesifik saya tidak
belajar mengenai safety semasa dikampus. Apalagi safety dalam kehidupan sehari-hari. Kalau
ditanya safety yang berkaitan dengan pekerjaan saat ini juga saya bingung, maklum sebagai new
employee dan title-nya Management Trainee pekerjaan saya masih banyak dirotasi. Rasa ingin
tahu ini muncul karena selama 6 bulan terakhir ini diperbantukan di anak perusahaan yang di
Riau untuk menjadi QA Engineer, dan saya melihat banyak sekali kekurangan dibidang
safetynya. Akan tetapi saya ingin memberi pencerahan ke orang2 di lapangan juga sulit karena
wawasan saya sendiri kurang.

Begitu juga dalam kehidupan sehari2, begitu banyak bahaya yang ada disekitar kita, baik itu
dikantor, dalam perjalanan, atau bahkan dirumah kita, saya saat ini merasa belum punya sense
yang bagus untuk membaca kondisi2 tersebut, makanya butuh diberi pencerahan. Itu sebabnya
saya bertanya bagaimana belajar safety untuk seorang pemula seperti saya ini.



Crootth Crootth

Mas Eki,

1. Saya ingin mengomentari pernyataan Mas Eki yang menyebutkan "Dengan interlock system
ini dijamin sangat aman, dimana untuk sisi Launcher saja memerlukan 71 tahapan sampai pig
itu meluncur, sedangkan pada sisi Receiver ada 49 tahapan samapi door closer ditutup, memang
sangat nyelimet".
Yang menurut saya adalah suatu COMPLACENCY (over PD). Pernyataan bahwa suatu sistem
sangat handal, tidaklah valid sepanjang yang mengeluarkan adalah vendor. Validitas integritas
suatu sistem interlock harus dibuktikan dengan melakukan studi SIL (safety integrity level) yang
diassess oleh tim independen, (boleh dari perusahaan itu sendiri atau dari perusahaan/pihak
ketiga)

2. Tentunya masih ingat dengan tragedi Longford di Australia? yah, kerumitan prosedural dan
process (dengan banyaknya alarm yang menyala secara bersamaan pada saat kejadian
kecelakaan) akan membawa kita pada "attitude" buruk manusia, yakni BYPASSING, yang
konsekuensinya akan mengundang marabahaya.

3. Operability, kenapa operability selalu menjadi issue penting, karena tidak semua orang yang
memahami sistem process yang akan menjalankan proses tersebut di lapangan. kebanyakan sang
operatorlah yang turun ke lapangan secara langsung. Tidak semua operator memahami filosofi
sistem interlock yang dipasang tersebut, jadi misses, lapses itu besar kemungkinan masih bisa
terjadi apalagi dengan tingkat ergonomi yang payah (suhu sekitar 50 degC) tentunya akan
membawa operator dalam kondisi tidak fit buat pengoperasian prosedur sistem interlock yang
mas Eki utarakan ini.

4. Behavioral, tidak semua orang mau dan berkehendak untuk menerima perubahan.
Mentraining dan mengedukasi mereka untuk menerima perubahan dari prosedur yang lama ke
prosedur yang baru tidak cukup dilakukan dalam sehari - seminggu - sebulan, kadang bisa
tahunan malah. Apalagi dengan orang orang yang mempunyai komitmen kognitif prematur
(mindless thinking, prejudice, mindset, paradigm, One-sidedness, bigotry, etc), yang sangat
sangat sulit untuk diedukasi.

No hard feeling mas Eki, kalau saya melihat dari sisi negatifnya, karena saya belum tahu banyak
sisi yang lain... nanti saya akan minta mas Budi deh untuk mengirimkan artikel nya ke saya.

mit Freundliechen gruessen

Darmawan Ahmad Mukharror alias GARONK



esukardi@technip
Bung Darmawan,

Saya setuju dengan pendapat ada, comment saya " Good practice begins with good design and
operating - both are ultimately hostage to the Human Factor, namanya juga usaha pasti tidak ada
yang mutlak, dijamin aman berdasarkan analysa manusia dengan segala kemampuannya saat ini
yang mestinya banyak kekurangannya untuk waktu yang akan datang, tapi paling tidak kita
udah melangkah kearah yang lebih baik.



danil agustaf

bapak / bapak sekalian..
sebelumnya saya minta maaf kalo ada pendapat saya sebelumnya salah..atau kurang berkenan..
dari pengalaman saya waktu kerja praktek di salah oil service company beberapa bulan yang lalu
saya memandang memang seperti itu kebijakan yang dilakukan perusahaan tersebut mengenai
safety..dengan standar PPE-nya dan ketetapan lainnya.. di sini kecelakaan kerja di bagi beberapa
bagian..saya lupa banyaknya berapa, tetapi intinya ada yang ringan ( out of record ),sedang (
recordable ), ada yang parah ( recordable dengan fatal and injury ), semuanya memiliki
komitment yang berbeda pula menurut tingkat kecelakaannya ..jika tidak terjadi kecelakaan
perusahaan memberikan award kepada karyawannya baik dalam mingguan misalnya "best
driver of the week", bulanan atau bahkan dalam hitungan ribuan jam kerja tanpa
kecelakaan..dengan nilai award yang berbeda-beda.. hal ini sangat berbeda dengan perusahaan
finansial atau perusahaan kantoran dengan karyawannya bekerja di ruangan yang tertutup dan
lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer..tentu PPE dan standar safety-nya
berbeda dengan oil service company yang telah saya sebutkan diatas.. kebijakan tentang
keselamatan kerja telah ada peraturannya dari
pemerintah dan bisa menjadi standar untuk perusahaan..jika perusahaan memilik standar sendiri
yang lebih baik...why not?

semauanya berpulang kepada perusahaan dengan kebijakannya dan karyawan dengan
kepatuhannya..serta komitment perusahaan dan karyawan untuk menjalankannya..

ingat   pesan    bang    napi.....    kecelakaan     akan     selalu   datang     menghampiri
anda..waspadalah..waspadalah... he..he..he..cuma plesetan pak...



Johanes Anton Witono

Sdr. Danil,

Tidak perlu minta maaf. Namanya juga belajar, salah itu hal yang wajar. Saya yakin penjelasan
dari Pak DAM, Pak James, dll pasti cukup jelas. Saya mungkin tidak akan bertanya seperti ini
pada awalnya bila saat ini saya telah bekerja di perusahaan yang sudah cukup sadar akan
pentingnya safety. Permasalahannya ada kondisi ideal dan tak ideal (mengutip istilah di teknik
kimia) dalam penerapan safety sendiri. Dan kesimpulan saya sampai sejauh ini terhadap yang
namanya safety adalah masalah attitude dari manusianya. meskipun kita punya peraturan yang
bagus, peralatan yang bagus, namun attitudenya kurang tetap masih jauh dari kondisi ideal.

Situasi yang Sdr. Danil ceritakan baru satu cerita 'bagus', yang mungkin masih ada yang lebih
bagus lagi. Faktanya ada lho perusahaan besar namun memandang safety sebagai cost bukan
sebagai investment. Dan anda akan menemui itu someday saat anda memasuki dunia kerja, jadi
jangan berharap kondisi yang ideal untuk safety, kita harus siap untuk kondisi yang masih jauh
dari ideal. Makanya mengutip pernyataan Pak James, semua itu memang harus kembali ke
kitanya dulu, dengan membangun budaya safety dalam diri kita.



danil agustaf

thank's mas anton...
 oot..
kapan ke PCR lagi mas?

								
To top