Docstoc

Asal mula terjadinya selat bali

Document Sample
Asal mula terjadinya selat bali Powered By Docstoc
					              Asal Mula terjadinya Selat Bali
Pengenalan diri:
   1. Wira Putra     Sebagai Dang Yang Sidhi Mantra
   2. Sulastra       Sebagai Manik Angkeran
   3. Difa Artha     Sebagai Naga Basuki
   4. Ananta         Sebagai Penagih hutang 1
   5. Wisnu Murti    Sebagai Penagih hutang 2

      Pada jaman dahulu kala, ada seorang pemuda bernama Manik Angkeran. Ayahnya
seorang Begawan yang berbudi pekerti luhur, yang bernama Begawan Sidi mantra.
Walaupun ayahnya seorang yang disegani oleh masyarakat sekitar dan memiliki
pengetahuan agama yang luas, tetapi Manik Angkeran adalah seorang anak yang manja,
yang kerjanya hanya berjudi dan mengadu ayam seperti berandalan-berandalan yang
ada di desanya. Mungkin ini karena ia telah ditinggal oleh Ibunya yang meninggal
sewaktu melahirkannya. Karena kebiasaannya itu, kekayaan ayahnya makin lama makin
habis dan akhirnya mereka jatuh miskin.

Walaupun keadaan mereka sudah miskin, kebiasaan Manik Angkeran tidak juga
berkurang, bahkan karena dalam berjudi ia selalu kalah, hutangnya makin lama makin
banyak dan ia pun di kejar-kejar oleh orang-orang yang dihutanginya. Akhirnya
datanglah Manik ketempat ayahnya, dan dengan nada sedih ia meminta ayahnya untuk
membayar hutang-hutangnya. Karena Manik Angkeran adalah anak satu-satunya,
Begawan Sidi Mantra pun merasa kasihan dan berjanji akan membayar hutang-hutang
anaknya.

Maka dengan kekuatan batinnya, Begawan Sidi Mantra mendapat petunjuk bahwa ada
sebuah Gunung yang bernama Gunung Agung yang terletak di sebelah timur. Di
Gunung Agung konon terdapat harta yang melimpah. Berbekal petunjuk tersebut,
pergilah Begawan Sidi Mantra ke Gunung Agung dengan membawa genta
pemujaannya.

Setelah sekian lama perjalanannya, sampailah ia ke Gunung Agung. Segeralah ia
mengucapkan mantra sambil membunyikan gentanya. Dan keluarlah seekor naga besar
bernama Naga Besukih.

Naga Basuki                :“Hai Begawan Sidi Mantra, ada apa engkau
memanggilku?”
Bagawan Sidhi Mantra       : “Sang Besukih, kekayaanku telah dihabiskan anakku
                             untuk berjudi. Sekarang karena hutangnya
                             menumpuk, dia dikejar-kejar oleh orang-orang. Aku
                             mohon, bantulah aku agar aku bisa membayar
                             hutang anakku!”
Naga Basuki                :“Baiklah, aku akan memenuhi permintaanmu
                             Begawan Sidi Mantra, tapi kau harus menasehati
                             anakmu agar tidak berjudi lagi, karena kau tahu
                             berjudi itu dilarang agama!”
Bagawan Sidhi Mantra   :“Aku berjanji akan menasehati anakku”

                        Kemudian Sang Naga Besukih menggetarkan badannya
                        dan sisik-sisiknya yang berjatuhan segera berubah emas
                        dan intan.

Naga Basuki            :“Ambillah Begawan Sidi Mantra. Bayarlah hutang-
                         hutang anakmu. Dan jangan lupa nasehati dia agar
                         tidak berjudi lagi.”

                        Sambil memungut emas dan intan serta tak lupa
                        mengucapkan terima kasih, maka Begawan Sidi Mantra
                        segera pergi dari Gunung Agung. Lalu pulanglah ia ke
                        rumahnya di Jawa Timur. Sesampainya dirumah, di
                        bayarlah semua hutang anaknya dan tak lupa ia
                        menasehati anaknya agar tidak berjudi lagi.

                        Tetapi rupanya nasehat ayahnya tidak dihiraukan oleh
                        Manik Angkeran. Dia tetap berjudi dan mengadu ayam
                        setiap hari. Lama-kelamaan, hutang Manik Angkeran
                        pun semakin banyak dan ia pun di kejar-kejar lagi oleh
                        orang-orang yang dihutanginya. Dan seperti sebelumnya,
                        pergilah Manik Angkeran menghadap ayahnya dan
                        memohon agar hutang-hutangnya dilunasi lagi.

Penagih Hutang 1       : “Hey, Manik Angkeran keluar kau”
Penagih Hutang 2       : “Lunasi hutangmu yang menumpuk “
Bagawan Sidhi Mantra   : ”Baiklah akan aku lunasi semua hutang-hutang
                         anakku.”

                        Walaupun dengan sedikit kesal, sebagai seorang ayah,
                        Begawan Sidi Mantra pun berjanji akan melunasi
                        hutang-hutang tersebut. Dan segera ia pun pergi ke
                        Gunung Agung untuk memohon kepada Sang Naga
                        Besukih agar diberikan pertolongan lagi.

                        Sesampainya ia di Gunung Agung, dibunyikannya genta
                        dan membaca mantra-mantra agar Sang Naga Besukih
                        keluar dari istananya.

                        Tidak beberapa lama, keluarlah akhirnya Sang Naga
                        Besukih dari istananya.

Naga Basuki            : “Ada apa lagi Begawan Sidi Mantra? Mengapa
                         engkau memanggilku lagi?”
Bagawan Sidhi Mantra   :“Maaf Sang Besukih, sekali lagi aku memohon
                         bantuanmu agar aku bisa membayar hutang-hutang
                         anakku. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi dan aku
                         sudah menasehatinya agar tidak berjudi, tapi ia tidak
                         menghiraukanku.”
Naga Basuki            :“Anakmu rupanya sudah tidak menghormati orang
                         tuanya lagi. Tapi aku akan membantumu untuk yang
                         terakhir kali. Ingat, terakhir kali.”

                        Maka Sang Naga menggerakkan tubuhnya dan Begawan
                        Sidi Mantra mengumpulkan emas dan permata yang
                        berasal dari sisik-sisik tubuhnya yang berjatuhan. Lalu
                        Begawan Sidi Mantra pun memohon diri. Dan setiba
                        dirumahnya, Begawan Sidi Mantra segera melunasi
                        hutang-hutang anaknya.

                        Karena dengan mudahnya Begawan Sidi Mantra
                        mendaptkan harta, Manik Angkeran pun merasa heran
                        melihatnya. Maka bertanyalah Manik Angkeran kepada
                        ayahnya,

Manik Angkeran         :“Ayah, darimana ayah mendapatkan semua kekayaan
                         itu?”
Bagawan Sidhi Mantra   :“Sudahlah Manik Angkeran, jangan kau tanyakan
                         dari mana ayah mendapat harta itu. Berhentilah
                         berjudi dan menyabung ayam, karena itu semua
                         dilarang oleh agama. Dan inipun untuk terakhir
                         kalinya ayah membantumu. Lain kali apabila engkau
                         berhutang lagi, ayah tidak akan membantumu lagi.”

                        Tetapi ternyata Manik Angkeran tidak dapat
                        meninggalkan kebiasaan buruknya itu, ia tetap berjudi
                        dan berjudi terus. Sehingga dalam waktu singkat
                        hutangnya sudah menumpuk banyak. Dan walaupun ia
                        sudah meminta bantuan ayahnya, ayahnya tetap tidak
                        mau membantunya lagi. Sehingga ia pun bertekad untuk
                        mencari tahu sumber kekayaan ayahnya.

                        Bertanyalah ia kesana kemari, dan beberapa temannya
                        memberitahu bahwa ayahnya mendapat kekayaan di
                        Gunung Agung. Karena keserakahannya, Manik
                        Angkeran pun mencuri genta ayahnya dan pergi ke
                        Gunung Agung.

                        Sesampai di Gunung Agung, segeralah ia membunyikan
                        genta tersebut. Mendengar bunyi genta, Sang Naga
                        Besukih pun merasa terpanggil olehnya, tetapi Sang
                        Naga heran, karena tidak mendengar mantra-mantra yang
                        biasanya di ucapkan oleh Begawan Sidi Mantra apabila
                        membunyikan genta tersebut.

                        Maka keluarlah San Naga untuk melihat siapa yang
                        datang memangilnya.
                  Setelah keluar, bertemulah Sang Naga dengan Manik
                  Angkeran. Melihat Manik Angkeran, Sang Naga Besukih
                  pun tidak dapat menahan marahnya.

Naga Basuki      :“Hai Manik Angkeran! Ada apa engkau memanggilku
                   dengan genta yang kau curi dari ayahmu itu?”

Manik Angkeran   :(Dengan sikap memelas, Manik pun berkata) “Sang Naga
                   bantulah aku. Berilah aku harta yang melimpah agar
                   aku bisa membayar hutang-hutangku. Kalau kali ini
                   aku tak bisa membayarnya, orang-orang akan
                   membunuhku. Kasihanilah aku.”

                  Melihat kesedihan Manik Angkeran, Sang Naga pun
                  merasa kasihan.

Naga Basuki      :“Baiklah, aku akan membantumu.”

                  Setelah memberikan nasehat kepada Manik Angkeran,
                  Sang Naga segera membalikkan badannya untuk
                  mengambil harta yang akan diberikan ke Manik
                  Angkeran. Pada saat Sang Naga membenamkan kepala
                  dan tubuhnya kedalam bumi untuk mengambil harta,
                  Manik Angkeran pun melihat ekor Sang Naga yang ada
                  dipemukaan bumi dipenuhi oleh intan dan permata, maka
                  timbullah niat jahatnya. Manik Angkeran segera
                  menghunus keris dan memotong ekor Sang Naga
                  Besukih. Sang Naga Besukih meronta dan segera
                  membalikkan badannya. Akan tetapi, Manik Angkeran
                  telah pergi. Sang Naga pun segera mengejar Manik ke
                  segala penjuru, tetapi ia tidak dapat menemukan Manik
                  Angkeran, yang ditemui hanyalah bekas tapak kaki
                  Manik Angkeran.

                  Maka dengan kesaktiannya, Sang Naga Besukih
                  membakar bekas tapak kaki Manik Angkeran. Walaupun
                  Manik Angkeran sudah jauh dari Sang Naga, tetapi
                  dengan kesaktian Sang Naga Besukih, ia pun tetap
                  merasakan pembakaran tapak kaki tersebut sehingga
                  tubuh Manik Angkeran terasa panas sehingga ia rebah
                  dan lama kelamaan menjadi abu.

Manik Angkeran   : “Ampun,ampun Naga Besuki, ampun”
                        Di Jawa Timur, Begawan Sidi Mantra sedang gelisah
                        karena anaknya Manik Angkeran telah hilang dan genta
                        pemujaannya juga hilang. Tetapi Begawan Sidi Mantra
                        tahu kalau gentanya diambil oleh anaknya Manik
                        Angkeran dan merasa bahwa anaknya pergi ke Gunung
                        Agung menemui Sang Naga Besukih. Maka berangkatlah
                        ia ke Gunung Agung.

                        Sesampainya di Gunung Agung, dilihatnya Sang Naga
                        Besukih sedang berada di luar istananya. Dengan
                        tergesa-gesa Begawan Sidi Mantra bertanya kepada Sang
                        Naga Besukih

Bagawan Sidhi Mantra   :“Wahai Sang Besukih, adakah anakku Manik
                         Angkeran datang kemari?”
Naga Basuki            :“Ya, ia telah datang kemari untuk meminta harta
                         yang akan dipakainya untuk melunasi hutang-
                         hutangnya. Tetapi ketika aku membalikkan badan
                         hendak mengambil harta untuknya, dipotonglah
                         ekorku olehnya. Dan aku telah membakarnya sampai
                         musnah, karena sikap anakmu tidak tahu balas budi
                         itu. Sekarang apa maksud kedatanganmu kemari,
                         Begawan Sidi Mantra?”
Bagawan Sidhi Mantra   :“Maafkan aku, Sang Besukih! Anakku Cuma satu,
                         karena itu aku mohon agar anakku dihidupkan
                         kembali.”
Naga Besuki            :“Demi persahabatan kita, aku akan memenuhi
                         permintaanmu. Tapi dengan satu syarat, kembalikan
                         ekorku seperti semula.”
Bagawan Sidhi Mantra   :“Baiklah, aku pun akan memenuhi syaratmu!”

                        Maka dengan mengerahkan kekuatan mereka masing-
                        masing, Manik Angkeran pun hidup kembali. Demikian
                        pula dengan ekor Sang Naga Besukih bisa kembali utuh
                        seperti semula.
                        Dinasehatinya Manik Angkeran oleh Sang Naga Besukih
                        dan Begawan Sidi Mantra secara panjang lebar dan
                        setelah itu pulanglah Begawan Sidi Mantra ke Jawa
                        Timur. Tetapi Manik Angkeran tidak boleh ikut pulang,
                        ia harus tetap tinggal di sekitar Gunung Agung. Karena
                        Manik Angkeran sudah sadar dan berubah, ia pun tidak
                        membangkang dan menuruti perintah ayahnya tersebut.
                        Dan dalam perjalanan pulangnya, ketika Begawan Sidi
                        Mantra sampai di Tanah Benteng, di torehkannya
                        tongkatnya ke tanah untuk membuat batas dengan
                        anaknya. Seketika itu pula bekas torehan itu bertambah
                        lebar dan air laut naik menggenanginya. Dan lama
                        kelamaan menjadi sebuah selat. Selat itulah yang
                        sekarang di beri nama “Selat Bali”.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:19
posted:8/10/2012
language:Unknown
pages:5