Docstoc

tradisional toraja

Document Sample
tradisional toraja Powered By Docstoc
					Seni Tari Toraja

       Lakon Ritual Aluk Todolo dalam menunaikan aturan keagamaan yang
berwujud pada pemujaan terhadap Puang Matua, Deata maupun To Mambali
Puang, banyak dimanifestasikan dalam bentuk seni tradisional seperti seni tari,
seni suara, seni musik, seni sastra tutur, seni ukir dan seni pahat.

       Kesenian yang diapresiasikan senantiasa berkaitan dengan Aluk Rambu
Tuka' dan Aluk Rambu Solo'. Pada umumnya jenis-jenis kesenian yang
dipentaskan secara khusus untuk masing-masing kegiatan ritual adat, baik
Rambu Tuka' maupun Rambu Solo'. Namun ada juga jenis kesenian yang
dipentaskan pada kedua jenis ritual. Jenis kesenian tersebut disebut Ada' Basse
Bubung, yaitu kesenian yang boleh dipentaskan pada upacara kegembiraan Aluk
Rampe Matallo maupun pada acara kedukaan Aluk Rampe Matampu'.

       Hampir semua ragam seni yang dipentaskan merupakan perpaduan
beberapa ragam seni, seperti perpaduan antara seni suara dengan seni tari, seni
tari dengan seni musik, atau seni suara dengan seni musik.

       Jenis kesenian yang telah dikembangkan dalam budaya masyarakat Tana
Toraja antara lain : Tarian Ma'gellu awalnya dikembangkan di Distrik Pangalla'
kurang lebih 45 km ke arah Timur dari kota Rantepao dan biasanya dipentaskan
pada upacara khusus yang disebut Ma'Bua', yang berkaitan dengan upacara
pentasbihan Rumah adat Toraja/Tongkonan, atau keluarga penghuni tersebut
telah melaksanakan upacara Rambu Solo' yang sangat besar (Rapasaan Sapu
Randanan).

       Saat ini tarian Ma'gellu' sering juga dipertunjukkan pada upacara
kegembiraan seperti pesta perkawinan, syukuran panen, dan acara penerimaan
tamu terhormat. Tarian ini dilakukan oleh remaja putri dengan jumlah ganjil dan
diiringi irama gendang yang ditabuh oleh remaja putra yang berjumlah empat
orang. Busana serta aksesoris yang digunakan adalah khusus untuk penari
dengan    perhiasan    yang    terbuat   dari   emas    danperak       seperti   Keris
Emas/Sarapang Bulawan, Kandaure, Sa'pi' Ulu', Tali Tarrung, Bulu Bawan,
Rara', Mastura, Manikkata, Oran-oran, Lola' Pali' Gaapong, Komba Boko' dan
lain-lainnya.

       Tarian Boneballa'/Ondo Samalele' sama seperti tarian Ma'gellu' tarian ini
juga termasuk jenis tari kegembiraan yang biasanya dipentaskan dalam upacara
syukuran kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, rasa syukur atas keberhasilan/
kesuksesan keluarga besar dalam menyelesaikan pembangunan kembali
(rehabilitasi atau restorasi) tongkonannya. Upacara ini biasanya disebut Merok,
biasa juga dikaitkan dengan selesainya suatu keluarga menyelenggarakan
upacara Rambu Solo' yang besar mangrapai'/sapu randanan. Bone Balla'
ditarikan oleh kaum wanita dan remaja putri yang adalah keluarga yang berasal
dari tongkonan itu. Tarian ini diiringi dengan tabuhan gendang yang iramanya
dikenal dengan sebutan Oni Tumburaka dan Oni Tuntunpitu. Tarian Boneballa'
juga selalu diiringi dengan lirik lagu yang disebut Passengo/syair-syair pemujaan
kepada Tuhan. Pakaian dari penari juga khusus dan memakai perhiasan yang
sama dengan tari Ma'gellu' namun lebih dilengkapi lagi dengan hiasan : Sissin
Ake', Tida-tida, Dodo Tannung Pamiring, Bayu Paruki' dan Passapu. Tari
Boneballa' ditutup dengan tari massal yang diikuti dengan puluhan keluarga.

      Tarian Pa' Gellu'
      Tarian Burake
      Tarian Dau Bulan
      Tarian Ma'dandan
      Tarian Manimbong
      Tarian Manganda'
      Tarian Pa'Bondesan
      Tarian Memanna
      Tarian Ma'badong
      Tarian Ma'katia
      Tarian Pa'randing
      Tarian Pa'pangngan
Minggu, 01 Juni 2008

Tongkonan (Rumah Adat Toraja)



Konon bentuk Tongkonan menyerupai perahu Kerajaan Cina jaman dahulu.

Terik sinar matahari terasa semakin menyengat mata pada saat dipantulkan oleh
papan berwarna merah yang menopang sebuah bangunan dengan bentuknya
bak perahu kerajaan cina, guratan pisau rajut merajut di atas papan benwarna
merah membentuk ukiran sebagai pertanda status sosial pemilik bangunan,
ditambah lagi oleh deretan tanduk kerbau yang terpasang/digantung di depan
rumah, semakin menambah keunikan bangunan yang terbuat dari kayu tersebut.
Bentuk bangunan unik yang dapat dijumpai dihampir setiap pekarangan rumah
masyarakat Toraja ini, lebih dikenal dengan sebutan nama Tongkonan.

Konon kata Tongkonan berasal dari istilah "tongkon" yang berarti duduk, dahulu
rumah ini merupakan pusat pemerintahan, kekuasaan adat dan perkembangan
kehidupan sosial budaya masyarakat Tana Toraja. Rumah ini tidak bisa dimiliki
oleh perseorangan, melainkan dimiliki secara turun-temurun oleh keluarga atau
marga suku Tana Toraja. Dengan sifatnya yang demikian, tongkonan
mempunyai beberapa fungsi, antara lain: pusat budaya, pusat pembinaan
keluarga,   pembinaan     peraturan   keluarga    dan   kegotongroyongan,   pusat
dinamisator, motivator dan stabilisator sosial.

Oleh karena Tongkonan mempunyai kewajiban sosial dan budaya yang juga
bertingkat-tingkat dimasyarakat, maka dikenal beberapa jenis tongkonan,
antara lain yaitu Tongkonan Layuk atau Tongkonan Pesio' Aluk, yaitu Tongkonan
tempat menciptakan dan menyusun aturan-aturan sosial keagamaan.

Tongkonan        Pekaindoran       atau     Pekamberan       atau    Tongkonan
kaparengngesan
yaitu Tongkonan yang satu ini berfungsi sebagai tempat pengurus atau pengatur
pemerintahan adat, berdasarkan aturan dari Tongkonan Pesio' Aluk.



Tongkonan Batu A'riri yang berfungsi sebagai tongkonan penunjang.
Tongkonan ini yang mengatur dan berperan dalam membina persatuan keluarga
serta membina warisan tongkonan. Tongkonan merupakan peninggalan yang
harus dan selalu dilestarikan, hampir seluruh Tongkonan di Tana Toraja sangat
menarik untuk dikunjungi sehingga bisa mengetahui sejauh mana adat istiadat
masyarakat Toraja, serta banyak sudah Tongkonan yang menjadi objek wisata.

Tongkonan Marimbunna

Tongkonan tersebut terletak dikelurahan Tikala, sekitar 6 Km arah utara
Rantepao. Marimbunna, merupakan nama dari orang pertama yang datang di
daerah ini. Mempunyai daya tarik berupa peninggalan-peninggalan Marimbunna,
yaitu: rumah sekaligus tempat mandi yang letaknya berada di atas karang, liang
batu yang proses pembuatannya dipahat dengan menggunakan kayu serta ada
juga kuburan Marimbunna yang diukir berbentuk perahu dan kerbau berdiri. Di
sini kita juga dapat menjumpai jasad Marinbunna, yang tinggal tulangnya saja
namun rambutnya tetap menempel di dahinya.

Benteng Batu

Benteng Batu adalah nama perkampungan asli orang Baruppu. Perkampungan
ini terletak di Kecamatan Rindingallo, dengan jarak kurang lebih 50 Km arah
utara Rantepao, didaerah ini seluruh wilayahnya dikelilingi oleh tebing. Sehingga
otomatis keberadaannya terisolir dari dunia luar, untuk dapat masuk ke daerah
tersebut hanya bisa melewati satu jalan yakni sebuah lorong batu yang memiliki
daya tarik tersendiri. Tebing-tebing yang mengeliligi daerah ini masing-masing
diberi nama, antara lain: Tebing batu, Kavu Angin dan Benteng Saji. Selain
pemah dipakai untuk benteng pertahanan melawan Belanda, di tebing-tebing
tersebut, terdapat kuburan dalam bentuk liang pahat maupun gua alam yang ada
jasadnya. Pada setiap tahunnya, diadakan prosesi ritual penggantian pakaian
jenazah yang disebut dengan to'ma' nene.

Tongkonan Bate-Banbalu

Tongkonan Bate-Bambalu terletak di Kecamatan Sa'dan Balusu, dengan jarak
tempuh sekitar 2,5 Km arah timur Palopo. Didirikan sekitar abad X Masehi dan
merupakan tongkonan tertua di daerah tersebut. Didirikan oleh seorang yang
bernama Tanditonda, yang merupakan nenek moyang penduduk disana. Mitos
yang ada menyebutkan bahwa Tanditonda adalah orang yang kaya akan kerbau
dan gemar minum susu kerbau, hingga suatu saat susu-susu kerbaunya hilang
dicuri orang, yang ternyata kelak si pencuri itu menjadi istrinya. Sebelum
menikah dengan perempuan yang bernama Manurun Di Batara tersebut, mereka
membuat kesepakatan bahwa Tangditonda tidak boleh memukul istrinya. Namun
suatu saat janji itu dilanggarnya, istrinya yang sebenarnya dewa itu akhirnya
meninggalkannya menuju langit, jalan lewat pelangi, dengan meninggalkan
rumah tongkonannya, dan juga tenun yang belum selesai.

Tongkonan Siguntu'

Tongkonan Siguntu' terletak di Dusun Kadundung, Desa Nonongan Kecamatan
Sanggalangi'. Dengan jarak sekitar 5 Km dari kota Rantepao, tongkonan yang
unik ini dibangun oleh Pongtanditulaan. Keberadaannya yang di atas sebuah
bukit menyajikan pemandangan alam yang indah mempesona, dengan dikelilingi
hamparan sawah pada bagian timur serta tebing-tebing bukit Buntu Tabang,
dengan keberadaan seperti ini membuat tongkonan nampak megah serasi
bersatu dengan alam disekitarnya.

Tongkonan Lingkasaile-Beloraya

Tongkonan Lingkasaile adalah tongkonan yang pertama kali di daerah ini.
Dibangun di kawasan Desa Balusu, 14 Km dari Rantepao, pendirinya bernama
Takke Buku, keturunan Polo Padang dan Puang Gading. Tongkonan yang sudah
ditumbuhi tanaman paku diatapnya ini, masih menyimpan perabot rumah tangga
tempo dulu. Selain itu, tongkonan ini punya daya pikat khusus, yaitu di percaya,
bila kita lewat pasti ingin menolehnya kembali. Oieh karena itulah tongkonan ini
disebut dengan Lingkasaile-Beloraya, lingka sendiri berarti langkah, sedangkan
Beloraya berarti menoleh kembali. Takke Buku memiliki/menyandang gelar
Puang Takke Buku, beliau hidup kurang lebih pada abad ke-10. Selain
Tongkonan Lengkasaile yang dibangun, ia juga membuat kuburan Bagi
keluarganya yang disebut Liang Sanda Madao dan Rante Tendan yang
digunakan tempat upacara pemakaman.

Tongkonan Rantewai

Tongkonan Rantewai atau Tongkonan Ranteuai, ini dibangun oleh sepasang
suami istri bernama To welai Langi'na dan Tasik Rante Manurun. Didirikan
sekitar abad XVII, Tongkonan ini memiliki simbol kepemimpinan, yakni
tergambar pada patung kayu yang berbentuk "kepala naga" sebanyak delapan
buah. Pada tahun 1917, Seluruhpeninggalan mengenai bukti perjuangan dalam
mempertahankan tanah air bisa kita dapatkan di rumah adat Tongkonan Kollo-
kollo ini.

Tongkonan Penanian

Suatu nama yang manis, oleh karena "Penanian" dalam bahasa Toraja, berarti
sesuatu yang bermanfaat bagi semua orang, untuk dibaca dan dinyanyikan.
Tongkonan ini terletak sekitar 14 Km arah timur kota Rantepao. Tongkonan
Penanian mempunyai daya tarik keindahan tersendiri. Dengan menyajikan
pemandangan serta tata letak deretan lumbung padi atau Alangsura' yang
berjajar rapi dan antik. Lumbung-lumbung padi ini dibangun oleh Kepala Distrik
Nanggala bernama Siambe Salurapa' yang juga sebelumnya sebagai pemangku
adat dalam daerah Nanggala dan sekitarnya.

Tongkonan Layuk Pattan
Tongkonan layuk pattan, terletak di desa ulusalu, sekitar 18 Km dari kota
Makale. Di bawah kepemimpinan Ma'dika, pemimpin tertinggi desa ini, para
generasi maupun leluhur desa senantiasa melaksanakan upacara adat rambu
tuka' atau ma'bua' ditongkonan tersebut. Selain itu, tongkonan Layuk Pattan juga
berfungsi sebagai tempat musyawarah aluk atau adat, yang lebih dikenal dengan
istilah tondok panglisan aluk, tempat pemerintahan juga sebagai tempat
pengadilan adat. Tongkonan Layuk Pattan didirikan oleh Kala' pada kira-kira
abad XIV, beragam peninggalan sejarah yang dapat disaksikan disini. Selain
Tau-tau berjumlah 130 buah, tempat upacara adat Rante, monumen batu
menhir, juga barang pusaka lainnya seperti mawa', keris dan tombak. Desa ini
juga dilengkapi dengan sebuah Benteng yang kokoh, belum pernah terkalahkan
oleh musuh pada jaman dulu kala yaitu Benteng Boronan.

Perumahan Adat Palawa'

Dahuiu kala ada seorang lelaki dari Gunung Sesean bernama "Tomadao"
berpetualang. Dalam petualangannya ia bertemu dengan seorang gadis dari
gunung Tibembeng bernama "Tallo' Mangka Kalena". Mereka kemudian menikah
dan bermukim disebelah timur "desa Palawa" dan sekarang ini bernama
Kulambu. Dari perkawinan ini lahir seorang anak laki-laki bernama Datu Muane'
yang kemudian menikahi seorang wanita bernama Lai Rangri'. Kemudian
mereka beranak pinak dan mendirikan sebuah kampung yang sekaligus
berfungsi sebagai Benteng Pertahanan. Ada sebuah tradisi disaat peperangan
terjadi antar kampung/musuh, jika ada lawan yang menyerang dan bisa
dikalahkan atau dibunuh, maka darahnya diminum dan dagingnya dicincang,
tradisi ini disebut Pa'lawak. Pada pertengahan         abad XI, berdasarkan
musyawarah adat disepakati, mengganti nama Pa' lawak menjadi Palawa',
sebagai suatu kompleks perumahan adat. Dan bukan lagi daging manusia yang
dimakan, tetapi diganti dengan ayam dan disebut Palawa' manuk. Keturunan
Datu Muane secara berturut-turut membangun tongkonan di Palawa'. Sekarang
ini terdapat 11 buah tongkonan (rumah adat) yang urutannya sebagai berikut
(dihitung mulai dari arah sebelah barat):
   1. Tongkonan Salassa' dibangun oleh Salassa';
   2. Tongkonan Buntu dibangun oleh Ne'Tatan
   3. Tongkonan Ne'Niro dibangun olek Patangke dan Sampe Bungin
   4. Tongkonan Ne'Dane dibangun oleh Ne'Matasik
   5. Tongkonan Ne'Sapea dibangun oleh Ne'Sapeah
   6. Tongkonan Katile dibangun oleh Ne'Pipe
   7. Tongkonan Ne'Malle dibangun oleh Ne'Malle
   8. Tongkonan Sasana Budaya dibangun oleh Ne'Malle
   9. Tongkonan Bamba II dibangun oleh Patampang
   10. Tongkonan Ne'Babu dibangun oleh Ne'Babu'
   11. Tongkonan Bamba I dibangun oleh Ne'Ta'pare.

Tongkonan Palawa' juga memiliki Rante yang disebut Rante Pa'padanunan dan
Liang Tua (Kuburan Batu) di Tiro Allo dan Kamandi, selain tongkonan juga
dibangun lumbung atau alang sura' tempat menyimpan padi.

Tongkonan Unnoni

Unnoni artinya, "Berbunyi dan bergabung keseluruh penjuru". Nama ini
membawa nama harum bagi keturunan leluhur dari Tongkonan Unnoni, sebab
beberapa turunan dari tongkonan ini menjadi Kepala Distrik yang sekaligus
dilantik sebagai puang (golongan bangsawan tertinggi), di wilayah Sa'dan Balisu
desa paling utara Tana Toraja. Puang, sekaligus sebagai to Parengnge' yakni
sebagai pemimpin adat dan pemimpin rakyat. Turunan yang berasal dari
tongkonan Unnoni antara lain ne' Tongongan, Puang ne'Menteng, Puang Bulo',
Puang Pong Sitemme', Puang Ponglabba, Puang Ne' Matandung dan terakhir
Puang Duma'Bulo' . Tongkonan Unnoni melahirkan atau erat hubunganya
dengan Tongkonan Belo' Sa'dan,Tongkonan Rea, Tongkonan Buntu Lobo' dan
Tongkonan Pambalan. Generasi Tongkonan Unnoni merupakan generas i
yang pandai menenun . Istri para pemimpin dari masing-masing Tongkonan
inilah yang memiliki ketrampilan menenun secara tradisional (tenun ukir). Cara
menenun ini, oleh istri pemimpin diajarkan pada rakyatnya, hingga sekarang dan
dapat dilestarikan. Proses menenun Tenun Paruki' inilah, yang dipertontonkan di
Tongkonan Unnoni, mulai dari cara merendam benang sampai bisa jadi
selembar kain tenun yang terukir cantik dan indah, dalam ukiran motif Toraja
melalui sembilan tahapan.

Tongkonan Layukna Galuga Dua dan Pertenunan Asli Sangkombang.

Tongkonan Layukna Galuga Dua merupakan salah satu tongkonan yang
dijadikan pengadilan, selain digunakan untuk pengadilan terhadap pelanggaran
adat yang menjadi tanggung jawab To'Perengnge, juga merupakan pusat
musyawarah para pemimpin keluarga dari Tongkonan Galuga dua untuk
menentukan suatu rencana. Terletak sekitar 12 Km, arah utara dari Rantepao,
Tongkonan Layukna Puang Galuga Dua; ini dibangun pada tahun 1189 oleh
kedua putra Galuga. Dari kedua putranya ini, masing-masing membangun
Tongkonan yaitu Tongkonan Papabannu' dari putra pertama dan Banau Sura'
dari putra keduanya. Tongkonan Layukna Galuga selain tongkonan keluarga
Galuga Dua juga merupakan pusat pertenunan dengan bebagai motif sesuai
dengan kebutuhan adat dan ciri khas budaya Toraja. Macam-macam motif
tenunan adalah: Tenunan Pamiring khusus untuk sarung perempuan,Tenunan
Sappa khusus untuk celana laki-laki, Tenunan Paramba' khusus untuk selimut,
Tenunan Paruki' khusus taplak meja dan dekorasi atau hiasan dinding, tenunan
Lando khusus tombi untuk pesta untuk pesta rambu solo' atau sapu randanan.

To'Barana Sa'Dan dan Pertenunan Asli Toraja

Sa'dan artinya air atau batang air, To'Barana artinya tempat beringin atau pohon
beringin, To' Barana merupakan tempat pengampunan masyarakat Sa'dan
dahulu kala apabila masyarakat menghadapi sesuatu kesulitan. Lokasi
To'Barana pada mulanya dibentuk oleh nenek moyang keluarga To Barana yang
bernama Langi' para'pak. Pada lokasi ini dijadikan perkampungan tongkonan to'.
Kemudian, tongkonan ini mengalami renovasi/dibaharui oleh leluhur To'Barana'
bernama Puang Pong Labba. Kira- kira dua abad yang lalu dan kemudian
mengalami renovasi lagi oleh keluarga Puang Pong Padati pada tahun 1959.
Lokasi dan rumah tongkonan yang diwariskan secara turun temurun kepada
generasinya ini selain sebagi tongkonan juga sebagi pusat pertenunan asli
Toraja. Para wanita di sini memiliki ketrampilan pandai menenun, karena sejak
kecil telah diajarkan oleh orang tuanya. Bahan baku dari bahan tenunan asli di
Sa'dan adalah benang kapas yang dipintal kemudian ditenun, seiring dengan
perkembangan jaman saat ini tenun sa'dan sudah mulai menciptakan bemacam-
macam motif tenun.

Perumahan asli BALIK SALUALLO SANGNGALLA', Balik Saluallo, objek yang
juga tidak ketinggalan memiliki beberapa keunggulan atau keunikan tersendiri.
Buburan sebagai tempat persembahan masyarakat Toraja yang masih memeluk
agama Aluk Todolo (Ancester believe) dilokasi ini untuk memohon hujan pada
saat musim kemarau dengan melakukan persembahan pemotongan hewan.

Pata' Padang; sebagai tempat awal bermusyawarah dan bermufakat bagi leluhur
Toraja (pemimpin-pemimpin) dari seluruh pelosok di daerah Tondok Lelongan
Bulan Tana Matarik Allo (Tana Toraja) untuk memutuskan/ menyatakan strategy
melawan serangan dari luar daerah antara lain dari Bone.

Pemimpinnya adalah seorang yang pintar, bijaksana, gagah berani, yang
bernama "Tumbang Datu" sekilas pintas otobiografi dari "Tumbang Datu", salah
satu generasi dari Tongkonan balik yang memiliki daya pikat tersendiri sebagai
berikut: Tumbang Datu sebagai koordinator dalam sejarah Topadatindo yang
pernah mengatur strategy untuk melawan musuh yang dating dari Bone. Dan
Tumbang Datu selalu berhasil mengalahkan lawannya. Temyata Tumbang Datu
adalah salah seorang leluhur dari Tongkonan Balik yang memiliki kharisma
tersendiri. Kepandaiannya dapat dibuktikan mengalahkan Datu Luwu beberapa
kali dalam kompetisi-kompetisi keterampilan seperti: mempertandingkan ayam.
Ayam siapa yang paling banyak berbunyi. Datu Luwu menyiapkan ayam jantan
besar, yang hanya sekali-sekali berbunyi. Sedang Tumbang Datu menyiapkan
anak-anak ayam yang baru dipisahkan dari induknya. Ternyata ayam dari
Tumbang Datu lebih banyak berbunyi dan malah berbunyi terus menerus sangat
ramai. Jadi Datu Luwu' merasa kalah. Dan banyak lagi, cerita yang unik yang
bisa anda dengar dan terima dari objek wisata Tongkonan Balik Saluallo, yang
bemilai kejujuran dan keadilan.

Tana Toraja memiliki kesenian daerah yang telah mendarah daging turun temurun pada
masyarakatnya. Berbagai macam obyek yang menarik baik secara langsung diciptakan
oleh-Nya maupun secara sengaja dibuat oleh orang-orang yang memiliki cita rasa di
bidang seni yang tinggi tentang budayanya sendiri. Kesenian daerah yang ada di Toraja
antara lain :

Tarian-tarian

pa'gellu




Gellu' Pangala' adalah salah satu tarian tradisional dari Tana Toraja yang dipentaskan
pada acara pesta "Rambu Tuka" juga tarian ini ditampilkan untuk menyambut para patriot
atau pahlawan yang kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan. Tetapi
tarian ini tabu atau pamali dipentaskan pada acara "Rambu Solo".

tarian ma'badong
Penari membuat lingkaran yang saling mengkaitkan jari-jari kelingking. Penari bisa pria
juga bisa wanita setengah baya atau tua.

Biasanya mereka berpakaian serba hitam namun terkadang berpakaian bebas karena
tarian ini terbuka untuk umum.

Tarian ini hanya diadakan pada upacara kematian ini bergerak dengan gerakan langkah
yang silih berganti sambil melantunkan lagu (Kadong Badong) yang syairnya berisikan
riwayat manusia mulai dari lahir hingga mati dan do'a, agar arwah si mati diterima di
negeri arwah (Puya) atau alam dialam baka.

Tarian Badong ini biasanya berlangsung berjam-jam, sering juga berlangsung semalam
suntuk. Perlu diketahui bahwa hanya pada upacara pemakaman yang lamanya tiga
hari/malam ke atas yang boleh dilaksanakan tarian Badong ini atau khusus bagi kaum
bangsawan.

Musik
Di samping seni tari dan seni suara serta pantun juga diperkenalkan seni musik
tradisional Toraja antara lain :

Passuling

Semua lagu-lagu hiburan duka dapat diikuti dengan suling tradisional Toraja (Suling
Lembang). Passuling ini dimainkan oleh laki-laki untuk mengiringi lantunan lagu duka
(Pa'marakka) dalam menyambut keluarga atau kerabat yang menyatakan dukacitanya.
Passuling ini dapat juga dimainkan di luar acara kedukaan, bahkan boleh dimainkan
untuk menghibur diri dalam keluarga di pedesaan sambil menunggu padi menguning.

Pa'pelle/Pa'barrung

Semua lagu ini sangat digemari oleh anak-anak gembala menjelang menguningnya padi
di sawah. Alat musiknya terbuat dari batang padi dan disambung sehingga mirip terompet
dengan daun enau yang besar. Pa'barrung ini merupakan musik khusus pada upacara
pentahbisan rumah adat (Tongkonan) seperti Ma'bua', Merok, Mangara dan sejenisnya.

Pa'pompang/Pa'bas

Inilah musik bambu yang pagelarannya merupakan satu simponi orkestra. Dimainkan
oleh banyak orang biasanya murid-murid sekolah di bawah pimpinan seorang dirigen.
Musik bambu jenis ini sering diperlombakan pada perayaan bersejarah seperti hari
peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI, Peringatan Hari Jadi tana Toraja. Lagu yang
dimainkan bisa lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah Tana Toraja, lagu-lagu gerejawi, dan
lagu-lagu daerah di seluruh Indonesia.

Pa'karobi

Alat kecil dengan benang halus diletakkan pada bibir. Benang atau bibir disentak-sentak
sehingga menimbulkan bunyi yang berirama halus namun mengasyikkan.

Pa'tulali'

Bambu kecil yang halus, dimainkan sehingga menimbulkan bunyi/suara yang lumayan
untuk menjadi hiburan.

Pa'geso'geso'

Sejenis alat musik gesek. Terbuat dari kayu dan tempurung kelapa yang diberi dawai.
Dawai yang digesek dengan alat khusus yang terbuat dari bilah bambu dan tali akan
menimbulkan suara khas. Alat ini mengeluarkan nada sesuai dengan tekanan jari si
pemain pada dawai. Pa'geso'-geso' terkenal dari Kecamatan Saluput


Rumah tradisional Toraja
Posted by akiteha pada Januari 8, 2008
Sumber: Konstruksi Indonesia, Teknologi Rumah Tahan Gempa. Departemen PU (2007).


Rumah tradisional Toraja merupakan salah satu kebudayaan bangsa
yang keberadaannya dipandang perlu untuk dipelihara agar tidak
punah.

Kabupaten Tana Toraja terletak di pedalaman Provinsi Sulawesi
Selatan, 340 km ke arah utara dari Makasar, dengan ibukotanya
Makale.

Daerah Tana Toraja umumnya merupakan tanah pegunungan kapur
dan batu alam, diselingi dengan ladang dan hutan, dilembahnya
terdapat hamparan persawahan.

Latar belakang arsitektur rumah tradisional Toraja menyangkut
falsafah kehidupan yang merupakan landasan dari perkembangan
kebudayaan Toraja.

Dalam pembangunannya ada hal-hal yang mengikat, yaitu:

    1. Aspek arsitektur dan konstruksi
    2. Aspek peranan dan fungsi rumah adat
Rumah tradisional atau rumah adat yang disebut Tongkonan harus
menghadap ke utara, letak pintu di bagian depan rumah, dengan
keyakinan bumi dan langit merupakan satu kesatuan dan bumi dibagi
dalam 4 penjuru, yaitu:

  1. Bagian utara disebut Ulunna langi, yang paling mulia.
  2. Bagian timur disebut Matallo, tempat metahari terbit, tempat
     asalnya kebahagiaan atau kehidupan.
  3. Bagian barat disebut Matampu, tempat metahari terbenam,
     lawan dari kebahagiaan atau kehidupan, yaitu kesusahan atau
     kematian.
  4. Bagian selatan disebut Pollo’na langi, sebagai lawan bagian yang
     mulia, tempat melepas segala sesuatu yang tidak baik.

Bertolak pada falsafah kehidupan yang diambil dari ajaran Aluk
Todolo, bangunan rumah adat mempunyai makna dan arti dalam
semua proses kehidupan masyarakata Toraja, antara lain:

  1. Letak bangunan rumah yang membujur utara-selatan, dengan
     pintu terletak di sebelah utara.
  2. Pembagian ruangan yang mempunyai peranan dan fungsi
     tertentu.
  3. Perletakan jendela yang mempunyai makna dan fungsi masing-
     masing.
  4. Perletakan balok-balok kayu dengan arah tertentu, yaitu pokok
     di sebelah utara dan timur, ujungnya disebelah selatan atau
     utara.

Pembangunan rumah tradisional Toraja dilakukan secara gotong
royong, sesuai dengan kemampuan masing-masing keluarga, yang
terdiri dari 4 macam, yaitu:

  1. Tongkonan Layuk, rumah adat tempat membuat peraturan dan
     penyebaran aturan-aturan.
  2. Tongkonan Pakamberan atau Pakaindoran, rumah adat tempat
     melaksanakan aturan-aturan. Biasanya dalam satu daerah
     terdapat beberapa tongkonan, yang semuanya bertanggung
     jawab pada Tongkonan Layuk.
  3. Tongkonan Batu A’riri, rumah adat yang tidak mempunyai
     peranan dan fungsi adat, hanya sebagai tempat pusat pertalian
     keluarga.
  4. Barung-barung, merupakan rumah pribadi. Setelah beberapa
     turunan (diwariskan), kemudian disebut Tongkonan Batu A’riri.
KEBUDAYAAN TORAJA

Pertanian Menulis :Dari Pertanian Oleh Petani Untuk Pertanian

Kebudayaan Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara
Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Mereka juga
menetap di sebagian dataran Luwu dan Sulawesi Barat.

Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang
Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung
arti "Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan", sedang orang Luwu
menyebutnya To Riajang yang artinya adalah "orang yang berdiam di sebelah barat". Ada
juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya
(besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut
menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja
dikenal kemudian dengan Tana Toraja.



Wilayah Tana Toraja juga digelar Tondok Lilina Lapongan Bulan Tana Matari allo arti
harfiahnya adalah "Negeri yang bulat seperti bulan dan matahari". Wilayah ini dihuni
oleh etnis Toraja.

Kebudayaan Suku Toraja

Asal masyarakat Tana Toraja.

Konon, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap
melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini
menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan
"tangga dari langit" untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media
komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa).

Lain lagi versi dari DR. C. Cyrut seorang anthtropolog, dalam penelitiannya menuturkan
bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk
local atau pribumi yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang imigran
dari Teluk Tongkin-Yunnan, daratan China Selatan. Proses pembauran antara kedua
masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indo China dengan jumlah yang
cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang,
kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut.

Kebudayaan Suku Toraja

Sejarah Aluk
Konon manusia yang turun ke bumi, telah dibekali dengan aturan keagamaan yang
disebut aluk. Aluk merupakan aturan keagamaan yang menjadi sumber dari budaya dan
pandangan hidup leluhur suku Toraja yang mengandung nilai-nilai religius yang
mengarahkan pola-pola tingkah laku hidup dan ritual suku Toraja untuk mengabdi
kepada Puang Matua.


Cerita tentang perkembangan dan penyebaran Aluk terjadi dalam lima tahap, yakni:

Tipamulanna Aluk ditampa dao langi' yakni permulaan penciptaan Aluk diatas langit,
Mendemme' di kapadanganna yakni Aluk diturunkan kebumi oleh Puang Buru Langi'
dirura.

Kedua tahapan ini lebih merupakan mitos. Dalam penelitian pada hakekatnya aluk
merupakan budaya/aturan hidup yang dibawa kaum imigran dari dataran Indo China pada
sekitar 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi.

Kebudayaan Suku Toraja

Kambira – Kuburan Bayi

Seseorang bayi yang belum tumbuh gigi apabila meninggal dunia akan dikuburkan ke
dalam sebatang pohon kayu yang hidup dari jenis pohon kayu Tarra. Kayu yang
digunakan dilokasi ini telah berumur sekitar ± 300 tahun yang lalu. Proses pelaksanaan
pekuburan sejenis ini mengenal tahap-tahap sebagai berikut: Bayi yang meninggal dibalut
dengan kain putih yang pernah dipakai dalam posisi dalam keadaan dipangku.Kemudian
keluarga memberi tanda pada pohon kayu yang hendak digunakan sebagai kuburan
(matanda kayu).Membuat lubang dengan ketentuan tidak boleh berhadapan dengan
rumah kediamannya.Mempersiapkan penutup kubur dari bahan pelepah enau. Membuat
tana (pasak) karurung dari ijuk sesuai tingkatan strata sosialnya.12 tana karurung bagi
tingkatan bangsawan. 8 tana karurung bagi tingkatan menengah. 6 tana karurung bagi
tingkatan bawah. Makadende yaitu membuat tali ijuk sebelum jenasah dibawa ke
kuburan, seekor babi jantan hitam dipotong atau disembelih di halaman rumah duka,
kemudian dibawa ke kuburan dengan diusung. Setibanya di kuburan babi/daging tersebut
dimasak dalam bambu/dipiong, tanpa diberi garam atau bumbu lainnya setelah semua itu
siap mayat dibawah ke kuburan dengan syarat sebagai berikut: Dibawa dalam posisi
dipangku. Pengantar mayat baik laki-laki maupun perempuan harus berselubung kain.


Dilarang berbicara, menoleh ke kiri atau ke kanan maupun ke belakang. Setibanya
jenasah di pekuburan penjemput jenasah turun dari tangga lalu mengambil, mengangkat,
dan memasukkan jenasah ke dalam lubang kayu dalam posisi berlutut menghadap keluar.
Kemudian kubur itu ditutup dengan kulimbang di tanah dipasak sesuai dengan statusnya
dan sesudah ini dilapisi dengan ijuk dan diikat dengan kadende (tali ijuk).Sepanjang
kegiatan tersebut di atas, seluruh orang yang hadir dilarang berbicara, nanti setelah
mataletek pa piong (membelah bambu berisi daging yang sudah masak) berarti orang
sudah boleh berbicara dan orang yang berada diatas tangga sudah boleh turun.

Kebudayaan Suku Toraja

Makale, Ibu kota Tana Toraja.

Pada asal mulanya Makale berasal dari kata Makale menurut kata orang, penduduk yang
hidup di Makale senantiasa bangun pada waktu matahari belum terbit (Makale) oleh
karena leluhur mereka mempercayai bahwa orang yang bangun mendahului matahari
terbit (Makale) selalu mendapat keberuntungan atau rezeki. Tetapi karena perubahan
ucapan kata maka Makale. Makale adalah pusat pemerintahan dan juga terkenal sebagai
kota tenang dan damai. Di tengah-tengah kota Makale terdapat sebuah kolam yang airnya
jernih dan penuh berisi dengan bermacam jenis ikan. Kolamnya di sebut kolam Makale.

Bukit-bukit yang terjal dari kota dimahkotai oleh puncak menara gereja, sembari kaki
lembah didominasi oleh bangunan pemerintah yang baru. Banyak di antaranya
mengambil tipe bangunan rumah tradisional Toraja arsitektur yang penuh dengan ukiran
dan atap yang melengkung. Kota merupakan daerah yang tepat menghubungkan dengan
daerah Toraja barat, sekitar Londa, Suaya dan Sangalla. Pada saat pasar kota ini
merupakan pusat aktivitas karena rakyat dari jauh datang dengan hasil produksinya
berupa binatang, kerajinan tangan tikar, keranjang dan kerajinan buatan lokal.

Kebudayaan Suku Toraja

Nilai Tradisi Vs Prinsip Alkitab

Suku Toraja masih terikat oleh adat istiadat dan kepercayaan nenek moyang.
Kepercayaan asli masyarakat Tana Toraja yang disebut Aluk Todolo, kesadaran bahwa
manusia hidup di Bumi ini hanya untuk sementara, begitu kuat. Prinsipnya, selama tidak
ada orang yang bisa menahan Matahari terbenam di ufuk barat, kematian pun tak
mungkin bisa ditunda.

Sesuai mitos yang hidup di kalangan pemeluk kepercayaan Aluk Todolo, seseorang yang
telah meninggal dunia pada akhirnya akan menuju ke suatu tempat yang disebut puyo;
dunia arwah, tempat berkumpulnya semua roh. Letaknya di bagian selatan tempat tinggal
manusia. Hanya saja tidak setiap arwah atau roh orang yang meninggal itu dengan
sendirinya bisa langsung masuk ke puyo. Untuk sampai ke sana perlu didahului upacara
penguburan sesuai status sosial semasa ia hidup. Jika tidak diupacarakan atau upacara
yang dilangsungkan tidak sempurna sesuai aluk, yang bersangkutan tidak dapat mencapai
puyo. Jiwanya akan tersesat.

"Agar jiwa orang yang ’bepergian’ itu tidak tersesat, tetapi sampai ke tujuan, upacara
yang dilakukan harus sesuai aluk dan mengingat pamali. Ini yang disebut sangka’ atau
darma, yakni mengikuti aturan yang sebenarnya. Kalau ada yang salah atau biasa
dikatakan salah aluk (tomma’ liong-liong), jiwa orang yang ’bepergian’ itu akan tersendat
menuju siruga (surga)," kata Tato’ Denna’, salah satu tokoh adat setempat, yang dalam
stratifikasi penganut kepercayaan Aluk Todolo mendapat sebutan Ne’ Sando.

Selama orang yang meninggal dunia itu belum diupacarakan, ia akan menjadi arwah
dalam wujud setengah dewa. Roh yang merupakan penjelmaan dari jiwa manusia yang
telah meninggal dunia ini mereka sebut tomebali puang. Sambil menunggu korban
persembahan untuknya dari keluarga dan kerabatnya lewat upacara pemakaman, arwah
tadi dipercaya tetap akan memperhatikan dari dekat kehidupan keturunannya.

Oleh karena itu, upacara kematian menjadi penting dan semua aluk yang berkaitan
dengan kematian sedapat mungkin harus dijalankan sesuai ketentuan. Sebelum
menetapkan kapan dan di mana jenazah dimakamkan, pihak keluarga harus berkumpul
semua, hewan korban pun harus disiapkan sesuai ketentuan. Pelaksanaannya pun harus
dilangsungkan sebaik mungkin agar kegiatan tersebut dapat diterima sebagai upacara
persembahan bagi tomebali puang mereka agar bisa mencapai puyo alias surga

Kebudayaan Suku Toraja

Bisa dimaklumi bila dalam setiap upacara kematian di Tana Toraja pihak keluarga dan
kerabat almarhum berusaha untuk memberikan yang terbaik. Caranya adalah dengan
membekali jiwa yang akan bepergian itu dengan pemotongan hewan-biasanya berupa
kerbau dan babi sebanyak mungkin. Sesuai status sosial atau kedudukan orang yang
meninggal.Semakin tinggi status social orang tersebut, maka kerbau belang atau babi
yang dipotong semakin banyak. Harga kerbau mulai dari 40 juta rupiah sampai 100 juta
rupiah. Seseorang meninggal akan dibuat upacara adat setelah menunggu dua sampai tiga
tahun sampai terkumpulnya biaya upacara kematian. Para penganut kepercayaan Aluk
Todolo percaya bahwa roh binatang yang ikut dikorbankan dalam upacara kematian
tersebut akan mengikuti arwah orang yang meninggal dunia tadi menuju ke puyo.
Sehingga biaya untuk pemakaman lebih mahal dari pada biaya pernikahan di Tana
Toraja, Sulawesi Selatan.

Kebudayaan Suku Toraja

Kepercayaan pada Aluk Todolo pada hakikatnya berintikan pada dua hal, yaitu padangan
terhadap kosmos dan kesetiaan pada leluhur nenek moyang. Masing-masing memiliki
fungsi dan pengaturannya dalam kehidupan bermasyarakat. Jika terjadi kesalahan dalam
pelaksanaannya, sebutlah seperti dalam hal "mengurus dan merawat" arwah para leluhur,
bencana pun tak dapat dihindari.

Kebudayaan Suku Toraja

Berbagai bentuk tradisi yang dilakukan secara turun-temurun oleh para penganut
kepercayaan Aluk Todolo-termasuk ritus upacara kematian adat Tana Toraja yang sangat
dikenal luas itu-kini pun masih bisa disaksikan. Meski terjadi perubahan di sana-sini,
kebiasaan itu kini tak hanya dijalankan oleh para pemeluk Aluk Todolo, masyarakat Tana
Toraja yang sudah beragama Kristen dan Katolik pun umumnya masih melaksanakannya.
Sehingga menjadi suatu tugas para hamba Tuhan untuk memberitakan injil yang sesuai
dengan budaya setempat yang tidak bertentangan dengan prinsip Alkitab. Bagi anak
Tuhan di Tana Toraja terjadi suatu dilema dalam memilih nilai tradisi atau prinsip Firman
Tuhan. Bila terjadi perbedaan prinsip budaya lokal dan Firman Tuhan maka Firman
Tuhan harus menjadi prioritas diatas budaya atau adat istiadat. Karena Tuhan adalah
diatas semua pencipta kehidupan. Karena Tuhan Yesus melampaui Hukum Taurat dan
Tradisi Yahudi pada jaman perjanjian baru.


Bagaimana iman Kristen menyoroti budaya? Bagaimana kita melihat budaya?

Budaya harus kita tempatkan pada proporsi yang pas, dan ukurannya adalah Alkitab,
tidak ada yang lain. Ketika Tuhan menciptakan manusia untuk beranak-cucu di muka
bumi, Tuhan juga memerintahkan manusia untuk mengasihi sesama seperti dirinya
sendiri (Mat 22: 39). Jadi, budaya adalah konteks di mana manusia berelasi satu dengan
yang lain. Budaya adalah konteks mengatur relasi itu sendiri sehingga manusia saling
menopang, bergotong-royong untuk menciptakan suatu sistem masyarakat yang penuh
dengan cinta kasih. Suatu sistem masyarakat yang saling mendukung.

Salah satu definisi budaya adalah suatu tatanan nilai/adat istiadat, yang mengatur
kehidupan. Tapi, antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok lain, budayanya
bisa berbeda, karena budaya sangat berkaitan dengan pengalaman hidup suku itu, dan
hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan seperti letak geografis, dan sebagainya.
Budaya yang tinggi akan menghasilkan nilai hidup yang tinggi. Namun, sekalipun
seseorang berbudaya tinggi, tidak berarti dia bisa dibenarkan Alkitab. Atau sebaliknya,
orang yang berbudaya luhur, sekalipun bukan Kristen, bisa lebih baik dibanding orang
Kristen yang tak punya budaya.


Tapi di sini kita tidak membicarakan budaya sebagai satu kaitan dengan keimanan. Kita
berbicara mengenai budaya sebagai refleksi orang beriman. Kalau Anda orang beriman,
harus mampu merefleksikannya. Jadi, budaya itu harus kita junjung tinggi. Tetapi budaya
yang seperti apa? Tentu saja yang sepadan atau sejalan dengan Alkitab.

Tuhan Yesus memberi sikap yang tegas terhadap kebudayaan orang-orang Yahudi.
Tuhan Yesus tidak membatalkan tetapi menyempurnakan. Ini berarti bahwa kebudayaan
di mata Tuhan Yesus adalah sarana untuk menyampaikan kehendak-Nya. Bila
kebudayaan itu tidak menghalangi kehendak-Nya maka Tuhan Yesus membiarkan
kebudayaan tersebut. Contoh, Tuhan Yesus datang ke Bait Allah .Jika kebudayaan
tersebut menghalangi kehendak-Nya maka Tuhan Yesus akan menolak kebudayaan
tersebut. Contoh. Tuhan Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat. Ini berarti bahwa
Yesus berada di atas nilai-nilai kebudayaan.

Kebudayaan Suku Toraja
Pertanian Oleh Petani Untuk Pertanian
Wisata Budaya Tana Toraja
Wisata Budaya Tana Toraja adalah Obyek Wisata Sulawesi Selatan yang paling
populer, oleh wisman dikenal sebagai obyek wisata budaya dunia. Tana Toraja terkenal
dengan kekayaan budayanya (Rumah adat Tongkonan, Upacara pemakaman Rambu solo,
pekuburan Gua Londa , Pekuburan Batu Lemo dan Pekuburan Bayi Kambira).

Tana Toraja yang terletak sekitar 350 km sebelah utara Makassar , Ke Tana Toraja
dapat menggunakan penerbangan domestik Makassar-Tana Toraja. selama 45 menit dari
Bandara Hasanuddin Makassar. Dapat pula ditempuh dengan kendaraan darat,
membutuhkan waktu tujuh jam.
Perjalanan dari makassar lewat darat ,sebelum memasuki Kabupaten Enrekang, terdapat
keistimewaan dan keindahan khas Gunung Buttu Kabobong , yang bentuknya mirip
mahkota kesucian sang Dewi (Kata kiasan).




                      Makale Rantepao

Makale Rante Pao, ibu kota Kabupaten Tana Toraja, dihiasi sebuah kolam dengan
diameter puluhan meter dan lampu-lampu hias serta air mancurnya yang menawan,
seolah menyambut kedatangan setiap orang yang tiba di Makale. dan terkesan mewah.

Pagi hari , Matahari bersinar cerah namun diselimuti lapisan kabut , indah dan
menakjubkan dikawasan perbukitan di Toraja yang perlahan pupus seiring Kicauan
burung dan segarnya udara pagi.
.




                      Rumah Adat Tongkonan

Rumah adat ini bernama Tongkonan. Atapnya terbuat dari daun nipa atau daun kelapa
dan dapat bertahan sampai puluhan tahun. Tongkonan juga memiliki strata sesuai derajat
kebangsawanan masyarakat (strata emas, perunggu, besi, dan kuningan).

MISTIS. kesan yang seketika mencuat saat melongok ke dalam tongkonan tua yang
gelap . Jenazah yang disemayamkan di dalam tongkonan selama berbulan-bulan, bahkan
bertahun-tahun, diatas balai-balai setinggi pinggang di sudut ruang dalam tongkonan.
Di ruang situ jenazah disimpan menunggu acara pemakaman.




                       Desa Adat Pallawa

Desa adat Pallawa , merupakan desa khas yang masih memiliki 11 bangunan rumah khas
Toraja dan 15 lumbung padi khas toraja.
Rumah-rumah beratap susunan bambu tersebut sudah ratusan tahun usianya dan hingga
kini masih dipertahankan Susunan tanduk kerbau di bagian depan rumah, menjadi
aksesoris yang segera saja menarik mata, begitu juga dengan sebaris taring babi yang
digantung di dekat langit-langit di pelataran rumah.
Susunan tanduk kerbau menunjukkan strata sosial pemilik rumah, semakin banyak
tanduk berarti semakin kaya karena dia sering mengadakan upacara adat. Sementara
taring babi menunjukkan kalau rumah tersebut sudah diupacarakan dalam adat syukuran.
Dapat juga dijumpai peninggalan kebudayaan megalitikum di Boriparinding .Kharisma
dan kekokohannya tampak bersinar di antara puluhan batu-batu berukuran raksasa
tersebut.




                       Kawasan pemakaman/Kuburan Gua Londa
Londa adalah sebuah kompleks kuburan kuno yang terletak di dalam gua.
Di bagian luar gua terlihat boneka-boneka kayu khas Toraja.
Boneka-boneka merupakan replika atau miniatur dari jasad yang meninggal dan
dikuburkan di tempat tersebut.
Miniatur tersebut hanya diperuntukkan bagi bangsawan yang memiliki strata sosial
tinggi, warga biasa tidak mendapat kehormatan untuk dibuatkan patungnya.
Kuburan Gua londa Tana Toraja adalah kuburan pada sisi batu karang terjal , salah satu
sisi dari kuburan itu berada di ketinggian dari bukit mempunyai gua yang dalam dimana
peti-peti mayat di atur dan di kelompokkan berdasarkan garis keluarga.
Disisi lain dari puluhan tau-tau berdiri secara hidmat di balkon wajah seperti hidup mata
terbuka memandang dengan penuh wibawah.
                         Kawasan pemakaman / Kuburan Batu Lemo
Di sini jasad diletakkan di liang-liang dalam sebuah dinding tebing cadas.
Dulu orang menatah tebing ini selama bertahun-tahun,sehingga jasad orang yang
meninggal bisa ditanam di dalamnya. Semakin tinggi letak petinya, berarti strata
sosialnya juga makin tinggi. Pada Kuburan Batu Lemo Tana Toraja dapat dilihat serambi
tau-tau pada dinding batu terjal , menghadap kealam terbuka .
Tau-tau Kuburan Batu Lemo atau patung kayu manusia kecil yang dianggap mewadahi
spirit si mati terbuat dari kayu atau bambu. Secara periodik pakaiannya dapat diganti
melalui upacara yang disebut Ma’nene (menghormat kepada orang tua).
Lokasi Kuburan Batu Lemo Tana Toraja tidak jauh dari Makale Ibu Kota Rantepao




                 Kuburan tertua Desa Kete’ Ke’su.
Sebelum orang mengenal kebudayaan yang lebih maju, orang Toraja menaruh peti-peti
mayat di tebing-tebing tanpa menanamnya.

Terlihat tulang belulang berserakan di sekitar tebing dan peti-peti kayu yang sudah rapuh
dan berlubang dan tampak tulang-belulang didalam peti.
Peti-peti ini usianya sudah ribuan tahun.

Kuburan ini lebih tua umurnya jika dibandingkan dengan kuburan di Londa dan Lemo.
Lihat juga Desa Kete Kesu Tana Toraja




            Pekuburan Bayi Kambira
Sebuah kompleks kuburan khusus untuk bayi (baby graves). . Tampak kotak-kotak
persegi hitam menyembul di batang utama pohon.“Kotak-kotak itu sebenarnya sudah
dilubangi dan diisi mayat bayi.
Kuburan Bayi di atas pohon tarra di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20
km dari Rantepao,
Jenazah bayi yang belum tumbuh gigi dikuburkan di atas pohon tarra (Tidak
dilaksanakan lagi sejak puluhan tahun terakhir) , pohon tempat “menyimpan” mayat bayi
itu masih tetap tegak dan banyak dikunjungi wisatawan.
Pohon Tarra – yang buahnya mirip buah sukun – dengan lingkaran batang pohon sekitar
1-3,5 meter, tersimpan puluhan jenazah bayi.
Jenazah dimasukkan ke batang pohon, yang terlebih dahulu batang pohon itu dilubangi ,
lalu ditutupi dengan serat ijuk .masyarakat Tana Toraja tetap menganggap tempat
tersebut suci seperti anak yang baru lahir.




Penempatan jenazah bayi di pohon ini, sesuai dengan strata sosial masyarakat. Makin
tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin tinggi letak bayi yang dikuburkan di batang
pohon tarra.
Bayi yang meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yang berduka.
.Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon dan merupakan
daya tarik untuk wisatawan
Kuburan bayi ini disebut Passiliran, Pilihan Pohon Tarra‘ sebagai pekuburan karena
pohon ini memiliki banyak getah, yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu. Dan
mereka menganggap seakan akan bayi tersebut dikembalikan ke rahim ibunya. Dan
berharap, pengembalian bayi ini ke rahim ibunya akan menyelamatkan bayi-bayi yang
lahir kemudian.
Pemakaman ini hanya dilakukan oleh orang Toraja pengikut Aluk Todolo (kepercayaan
kepada leluhur). Pelaksanaan Upacara secara sederhana. Dan Bayi yang dikuburkan
begitu saja tanpa di bungkus, ibarat bayi yang masih berada di rahim ibunya.
Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon




                       Upacara Adat
Ritual upacara adat seperti “Rambu Solo” (upacara kematian) dan “Rambu Tuka”
(upacara syukuran) merupakan momen yang khas dan sangat menarik. Selain itu, dikenal
juga upacara Ma’nene’
Seni dan Budaya Kabupaten Tana Toraja ini ,kegiatan upacara adat selalu ada di setiap
kecamatan, namun waktu tepatnya memang tidak menentu. Karena upacara tersebut
melibatkan seluruh keluarga, biasanya diselenggarakan di hari libur, agar seluruh
keluarga bisa berkumpul.
Rambu Solo’, yaitu upacara adat memakamkan leluhur dengan acara Sapu Randanan, dan
Tombi Saratu’. dan upacara Rambu Tuka’.
Upacara Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’ diiringi dengan seni tari dan musik khas Toraja
selama berhari-hari.
Rambu Tuka’ adalah upacara memasuki rumah adat baru yang disebut Tongkonan atau
rumah yang selesai direnovasi satu kali dalam 50 tahun. Upacara ini dikenal juga dengan
nama Ma’Bua’, Meroek, atau Mangrara Banua Sura’.
Dalam adat Tana Toraja, keluarga yang ditinggal wajib menggelar pesta sebagai tanda
penghormatan terakhir kepada yang telah meninggal. Orang yang meninggal dianggap
sebagai orang sakit sehingga harus dirawat dan diperlakukan layaknya orang hidup,
seperti menemaninya, menyediakan makanan, dan minuman, serta rokok atau sirih.
Upacara pemakaman pada satu keluarga dilaksanakan tergantung waktu dan kesempatan ,
jadi kemungkinan ada 2-3 keluarga yang telah meninggal baru dilaksanakan.
Selama upacara berlangsung, sanak keluarga menginap di lantang yang telah
dipersiapkan. Upacara pemakaman ini termasuk kategori tertinggi (Dipapitung Bongi),
yakni selama tujuh malam dan setiap hari dilakukan pemotongan hewan. Kadang-kadang
terkumpul mencapai 150 ekor . dan sebagian dibagikan ke desa-desa yang membantu
terselenggaranya pesta tersebut. baca juga tulisan yang lain ” Upacara Adat Rambu Solo
”

Adu Kerbau


                        Adu kerbau (Mapasilaga Tedong). Sebelum diadu, dilakukan
parade kerbau. Ada kerbau bule atau albino, ada pula yang memiliki bercak-bercak hitam
di punggung yang disebut salepo dan hitam di punggung (lontong boke). Jenis yang
terakhir ini harganya paling mahal, sampai ratusan juta. Juga terdapat kerbau jantan yang
sudah dikebiri.Puluhan kerbau ini dibariskan di lokasi upacara. Selanjutnya, diarak dan
didahului dengan tim pengusung gong, pembawa umbul-umbul, dan sejumlah wanita dari
keluarga yang berduka ke lapangan yang berlokasi di rante (pemakaman).
Saat barisan kerbau meninggalkan lokasi, upacara diiringi dengan musik tradisional yang
iramanya timbul dari sejumlah wanita menumbuk padi pada sebuah lesung besar dan
panjang secara bergantian.
Sebelum adu kerbau dimulai, panitia menyerahkan daging babi yang sudah dibakar,
rokok, dan air nira yang sudah difermentasi—disebut tuak, kepada pemandu kerbau dan
para tamu.
Setelah semua prosesi dilalui, dilanjutkan dengan adu kerbau di sawah. Adu kerbau
diawali dengan kerbau bule.
Adu kerbau diselingi dengan prosesi pemotongan kerbau ala Toraja, Ma’tinggoro tedong,
yaitu menebas kerbau dengan parang dan hanya dengan sekali tebas.
Kerbau bule (Tedong Bonga), termasuk kelompok kerbau lumpur (Bubalus bubalis) yang
merupakan spesies yang hanya terdapat di Toraja. Tidak hanya Mapasilaga Tedong (adu
kerbau) , juga Sisemba (adu kaki) menjadi ajang tontonan pada acara ini

Makam Sarungalo
Di ujung jalan setapak nan teduh menuju kubur batu, terdapat makam Sarungalo. adalah
seorang bangsawan yang disegani di Tator. Keluarga besar Sarungalo tinggal di Ke’te’
Kesu’, dan menghibahkannya untuk dijadikan desa wisata.
Sarungalo yang meninggal belasan tahun lalu, dikubur bersama istrinya dalam satu
makam modern yang disebut patane. Makam itu tidak sama dengan kubur batu
masyarakat Toraja pada umumnya, karena berbentuk rumah. Di atas pintu masuk,
pengunjung dengan jelas dapat melihat patung Sarungalo berdiri dengan memakai jas
warna kuning dan berpeci.




                      Ukiran Kayu Tana Toraja

Para perajin yang membuat lukisan ukir kayu. kerajinan khas setempat, yang
menggunakan pewarna dari alam.
Ada empat warna khas Toraja yang selalu menghiasi baik lukisan ukir kayu maupun
kerajinan lainnya. Warna-warna itu adalah hitam sebagai lambang kematian yang
menggunakan abu, merah sebagai lambang darah yang menggunakan bahan tanah, lantas
kuning yang bermakna kesenangan dengan bahan dari tanah, serta warna putih sebagai
simbol kesucian dengan bahan pewarna dari batu kapur.




                      Kain Khas Tana Toraja

Suvenir khasnya, Kain khas Tana Toraja (Parambak) yang kaya warna dan motif bisa
didapatkan di desa Sadang Tobarana. Aktivitas menenun dan memintal benang yang
dilakukan oleh para wanita di desa tersebut.

Suguhan nasi merah, ikan bakar yang dibumbui sambal dabu dabu yang pedas segar,
bakso babi serta minuman khas sejenis tuak manis dan minuman balok selalu tersedia di
warung makan khas toraja.
Selain itu, Tana Toraja sudah direkomendasikan untuk dijadikan kawasan warisan
budaya dunia ke Unesco PBB.
Menurut para ahli, setiap jengkal di kabupaten Toraja adalah kawasan warisan budaya
dunia sehingga harus dilestarikan

Kebudayaan adat istiadat Toraja dan Firman Tuhan.
Sejarah dan asal usul suku Toraja

Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan,
Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Mereka juga menetap di
sebagian dataran Luwu dan Sulawesi Barat.
Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang
Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung
arti "Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan", sedang orang Luwu
menyebutnya To Riajang yang artinya adalah "orang yang berdiam di sebelah barat". Ada
juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya
(besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut
menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja
dikenal kemudian dengan Tana Toraja.
Wilayah Tana Toraja juga digelar Tondok Lilina Lapongan Bulan Tana Matari allo arti
harfiahnya adalah "Negeri yang bulat seperti bulan dan matahari". Wilayah ini dihuni
oleh etnis Toraja.


Asal masyarakat Tana Toraja.
Konon, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap
melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini
menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan
"tangga dari langit" untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media
komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa).
Lain lagi versi dari DR. C. Cyrut seorang anthtropolog, dalam penelitiannya menuturkan
bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk
local atau pribumi yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang imigran
dari Teluk Tongkin-Yunnan, daratan China Selatan. Proses pembauran antara kedua
masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indo China dengan jumlah yang
cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang,
kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut.

Sejarah Aluk
Konon manusia yang turun ke bumi, telah dibekali dengan aturan keagamaan yang
disebut aluk. Aluk merupakan aturan keagamaan yang menjadi sumber dari budaya dan
pandangan hidup leluhur suku Toraja yang mengandung nilai-nilai religius yang
mengarahkan pola-pola tingkah laku hidup dan ritual suku Toraja untuk mengabdi
kepada Puang Matua.

Cerita tentang perkembangan dan penyebaran Aluk terjadi dalam lima tahap, yakni:
Tipamulanna Aluk ditampa dao langi' yakni permulaan penciptaan Aluk diatas langit,
Mendemme' di kapadanganna yakni Aluk diturunkan kebumi oleh Puang Buru Langi'
dirura.
Kedua tahapan ini lebih merupakan mitos. Dalam penelitian pada hakekatnya aluk
merupakan budaya/aturan hidup yang dibawa kaum imigran dari dataran Indo China pada
sekitar 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi.
Kambira – Kuburan Bayi
Seseorang bayi yang belum tumbuh gigi apabila meninggal dunia akan dikuburkan ke
dalam sebatang pohon kayu yang hidup dari jenis pohon kayu Tarra. Kayu yang
digunakan dilokasi ini telah berumur sekitar ± 300 tahun yang lalu. Proses pelaksanaan
pekuburan sejenis ini mengenal tahap-tahap sebagai berikut: Bayi yang meninggal dibalut
dengan kain putih yang pernah dipakai dalam posisi dalam keadaan dipangku.Kemudian
keluarga memberi tanda pada pohon kayu yang hendak digunakan sebagai kuburan
(matanda kayu).Membuat lubang dengan ketentuan tidak boleh berhadapan dengan
rumah kediamannya.Mempersiapkan penutup kubur dari bahan pelepah enau. Membuat
tana (pasak) karurung dari ijuk sesuai tingkatan strata sosialnya.12 tana karurung bagi
tingkatan bangsawan. 8 tana karurung bagi tingkatan menengah. 6 tana karurung bagi
tingkatan bawah. Makadende yaitu membuat tali ijuk sebelum jenasah dibawa ke
kuburan, seekor babi jantan hitam dipotong atau disembelih di halaman rumah duka,
kemudian dibawa ke kuburan dengan diusung. Setibanya di kuburan babi/daging tersebut
dimasak dalam bambu/dipiong, tanpa diberi garam atau bumbu lainnya setelah semua itu
siap mayat dibawah ke kuburan dengan syarat sebagai berikut: Dibawa dalam posisi
dipangku. Pengantar mayat baik laki-laki maupun perempuan harus berselubung kain.

Dilarang berbicara, menoleh ke kiri atau ke kanan maupun ke belakang. Setibanya
jenasah di pekuburan penjemput jenasah turun dari tangga lalu mengambil, mengangkat,
dan memasukkan jenasah ke dalam lubang kayu dalam posisi berlutut menghadap keluar.
Kemudian kubur itu ditutup dengan kulimbang di tanah dipasak sesuai dengan statusnya
dan sesudah ini dilapisi dengan ijuk dan diikat dengan kadende (tali ijuk).Sepanjang
kegiatan tersebut di atas, seluruh orang yang hadir dilarang berbicara, nanti setelah
mataletek pa piong (membelah bambu berisi daging yang sudah masak) berarti orang
sudah boleh berbicara dan orang yang berada diatas tangga sudah boleh turun.

Makale, Ibu kota Tana Toraja.
Pada asal mulanya Makale berasal dari kata Makale menurut kata orang, penduduk yang
hidup di Makale senantiasa bangun pada waktu matahari belum terbit (Makale) oleh
karena leluhur mereka mempercayai bahwa orang yang bangun mendahului matahari
terbit (Makale) selalu mendapat keberuntungan atau rezeki. Tetapi karena perubahan
ucapan kata maka Makale. Makale adalah pusat pemerintahan dan juga terkenal sebagai
kota tenang dan damai. Di tengah-tengah kota Makale terdapat sebuah kolam yang airnya
jernih dan penuh berisi dengan bermacam jenis ikan. Kolamnya di sebut kolam Makale.
Bukit-bukit yang terjal dari kota dimahkotai oleh puncak menara gereja, sembari kaki
lembah didominasi oleh bangunan pemerintah yang baru. Banyak di antaranya
mengambil tipe bangunan rumah tradisional Toraja arsitektur yang penuh dengan ukiran
dan atap yang melengkung. Kota merupakan daerah yang tepat menghubungkan dengan
daerah Toraja barat, sekitar Londa, Suaya dan Sangalla. Pada saat pasar kota ini
merupakan pusat aktivitas karena rakyat dari jauh datang dengan hasil produksinya
berupa binatang, kerajinan tangan tikar, keranjang dan kerajinan buatan lokal.

Nilai Tradisi Vs Prinsip Alkitab
Suku Toraja masih terikat oleh adat istiadat dan kepercayaan nenek moyang.
Kepercayaan asli masyarakat Tana Toraja yang disebut Aluk Todolo, kesadaran bahwa
manusia hidup di Bumi ini hanya untuk sementara, begitu kuat. Prinsipnya, selama tidak
ada orang yang bisa menahan Matahari terbenam di ufuk barat, kematian pun tak
mungkin bisa ditunda.
Sesuai mitos yang hidup di kalangan pemeluk kepercayaan Aluk Todolo, seseorang yang
telah meninggal dunia pada akhirnya akan menuju ke suatu tempat yang disebut puyo;
dunia arwah, tempat berkumpulnya semua roh. Letaknya di bagian selatan tempat tinggal
manusia. Hanya saja tidak setiap arwah atau roh orang yang meninggal itu dengan
sendirinya bisa langsung masuk ke puyo. Untuk sampai ke sana perlu didahului upacara
penguburan sesuai status sosial semasa ia hidup. Jika tidak diupacarakan atau upacara
yang dilangsungkan tidak sempurna sesuai aluk, yang bersangkutan tidak dapat mencapai
puyo. Jiwanya akan tersesat.
"Agar jiwa orang yang ’bepergian’ itu tidak tersesat, tetapi sampai ke tujuan, upacara
yang dilakukan harus sesuai aluk dan mengingat pamali. Ini yang disebut sangka’ atau
darma, yakni mengikuti aturan yang sebenarnya. Kalau ada yang salah atau biasa
dikatakan salah aluk (tomma’ liong-liong), jiwa orang yang ’bepergian’ itu akan tersendat
menuju siruga (surga)," kata Tato’ Denna’, salah satu tokoh adat setempat, yang dalam
stratifikasi penganut kepercayaan Aluk Todolo mendapat sebutan Ne’ Sando.
Selama orang yang meninggal dunia itu belum diupacarakan, ia akan menjadi arwah
dalam wujud setengah dewa. Roh yang merupakan penjelmaan dari jiwa manusia yang
telah meninggal dunia ini mereka sebut tomebali puang. Sambil menunggu korban
persembahan untuknya dari keluarga dan kerabatnya lewat upacara pemakaman, arwah
tadi dipercaya tetap akan memperhatikan dari dekat kehidupan keturunannya.
Oleh karena itu, upacara kematian menjadi penting dan semua aluk yang berkaitan
dengan kematian sedapat mungkin harus dijalankan sesuai ketentuan. Sebelum
menetapkan kapan dan di mana jenazah dimakamkan, pihak keluarga harus berkumpul
semua, hewan korban pun harus disiapkan sesuai ketentuan. Pelaksanaannya pun harus
dilangsungkan sebaik mungkin agar kegiatan tersebut dapat diterima sebagai upacara
persembahan bagi tomebali puang mereka agar bisa mencapai puyo alias surga


Bisa dimaklumi bila dalam setiap upacara kematian di Tana Toraja pihak keluarga dan
kerabat almarhum berusaha untuk memberikan yang terbaik. Caranya adalah dengan
membekali jiwa yang akan bepergian itu dengan pemotongan hewan-biasanya berupa
kerbau dan babi sebanyak mungkin. Sesuai status sosial atau kedudukan orang yang
meninggal.Semakin tinggi status social orang tersebut, maka kerbau belang atau babi
yang dipotong semakin banyak. Harga kerbau mulai dari 40 juta rupiah sampai 100 juta
rupiah. Seseorang meninggal akan dibuat upacara adat setelah menunggu dua sampai tiga
tahun sampai terkumpulnya biaya upacara kematian. Para penganut kepercayaan Aluk
Todolo percaya bahwa roh binatang yang ikut dikorbankan dalam upacara kematian
tersebut akan mengikuti arwah orang yang meninggal dunia tadi menuju ke puyo.
Sehingga biaya untuk pemakaman lebih mahal dari pada biaya pernikahan di Tana
Toraja, Sulawesi Selatan.


Kepercayaan pada Aluk Todolo pada hakikatnya berintikan pada dua hal, yaitu padangan
terhadap kosmos dan kesetiaan pada leluhur nenek moyang. Masing-masing memiliki
fungsi dan pengaturannya dalam kehidupan bermasyarakat. Jika terjadi kesalahan dalam
pelaksanaannya, sebutlah seperti dalam hal "mengurus dan merawat" arwah para leluhur,
bencana pun tak dapat dihindari.


Berbagai bentuk tradisi yang dilakukan secara turun-temurun oleh para penganut
kepercayaan Aluk Todolo-termasuk ritus upacara kematian adat Tana Toraja yang sangat
dikenal luas itu-kini pun masih bisa disaksikan. Meski terjadi perubahan di sana-sini,
kebiasaan itu kini tak hanya dijalankan oleh para pemeluk Aluk Todolo, masyarakat Tana
Toraja yang sudah beragama Kristen dan Katolik pun umumnya masih melaksanakannya.
Sehingga menjadi suatu tugas para hamba Tuhan untuk memberitakan injil yang sesuai
dengan budaya setempat yang tidak bertentangan dengan prinsip Alkitab. Bagi anak
Tuhan di Tana Toraja terjadi suatu dilema dalam memilih nilai tradisi atau prinsip Firman
Tuhan. Bila terjadi perbedaan prinsip budaya lokal dan Firman Tuhan maka Firman
Tuhan harus menjadi prioritas diatas budaya atau adat istiadat. Karena Tuhan adalah
diatas semua pencipta kehidupan. Karena Tuhan Yesus melampaui Hukum Taurat dan
Tradisi Yahudi pada jaman perjanjian baru.

Bagaimana iman Kristen menyoroti budaya? Bagaimana kita melihat budaya?
Budaya harus kita tempatkan pada proporsi yang pas, dan ukurannya adalah Alkitab,
tidak ada yang lain. Ketika Tuhan menciptakan manusia untuk beranak-cucu di muka
bumi, Tuhan juga memerintahkan manusia untuk mengasihi sesama seperti dirinya
sendiri (Mat 22: 39). Jadi, budaya adalah konteks di mana manusia berelasi satu dengan
yang lain. Budaya adalah konteks mengatur relasi itu sendiri sehingga manusia saling
menopang, bergotong-royong untuk menciptakan suatu sistem masyarakat yang penuh
dengan cinta kasih. Suatu sistem masyarakat yang saling mendukung.
Salah satu definisi budaya adalah suatu tatanan nilai/adat istiadat, yang mengatur
kehidupan. Tapi, antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok lain, budayanya
bisa berbeda, karena budaya sangat berkaitan dengan pengalaman hidup suku itu, dan
hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan seperti letak geografis, dan sebagainya.
Budaya yang tinggi akan menghasilkan nilai hidup yang tinggi. Namun, sekalipun
seseorang berbudaya tinggi, tidak berarti dia bisa dibenarkan Alkitab. Atau sebaliknya,
orang yang berbudaya luhur, sekalipun bukan Kristen, bisa lebih baik dibanding orang
Kristen yang tak punya budaya.

Tapi di sini kita tidak membicarakan budaya sebagai satu kaitan dengan keimanan. Kita
berbicara mengenai budaya sebagai refleksi orang beriman. Kalau Anda orang beriman,
harus mampu merefleksikannya. Jadi, budaya itu harus kita junjung tinggi. Tetapi budaya
yang seperti apa? Tentu saja yang sepadan atau sejalan dengan Alkitab.
Tuhan Yesus memberi sikap yang tegas terhadap kebudayaan orang-orang Yahudi.
Tuhan Yesus tidak membatalkan tetapi menyempurnakan. Ini berarti bahwa kebudayaan
di mata Tuhan Yesus adalah sarana untuk menyampaikan kehendak-Nya. Bila
kebudayaan itu tidak menghalangi kehendak-Nya maka Tuhan Yesus membiarkan
kebudayaan tersebut. Contoh, Tuhan Yesus datang ke Bait Allah .Jika kebudayaan
tersebut menghalangi kehendak-Nya maka Tuhan Yesus akan menolak kebudayaan
tersebut. Contoh. Tuhan Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat. Ini berarti bahwa
Yesus berada di atas nilai-nilai kebudayaan.

Sumber :

Wikipedia Indonesia, Toraja tourist information center , Ringkasan Kotbah Pdt. Bigman
Sirait tentang Budaya

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:722
posted:8/4/2012
language:Malay
pages:31