SKRIPSI-LUQMAN-E44063038 by RiaZanuari

VIEWS: 49 PAGES: 50

									    RESPON PERTUMBUHAN TANAMAN JABON
(Anthocephalus cadamba Roxb. Miq) DENGAN PERLAKUAN
        PUPUK POLIMER TERABUSTER DAN
           KOMPOS AKTIF TERAREMED




        LUQMAN NOOR HAKIM FADHILLAH
                    E44063038




           DEPARTEMEN SILVIKULTUR
             FAKULTAS KEHUTANAN
          INSTITUT PERTANIAN BOGOR
                      2010
                                                      2



    RESPON PERTUMBUHAN TANAMAN JABON
(Anthocephalus cadamba Roxb. Miq) DENGAN PERLAKUAN
        PUPUK POLIMER TERABUSTER DAN
           KOMPOS AKTIF TERAREMED


                         Oleh :
        LUQMAN NOOR HAKIM FADHILLAH
                      E44063038


                        Skripsi
       Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
    gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan
                Institut Pertanian Bogor




           DEPARTEMEN SILVIKULTUR
              FAKULTAS KEHUTANAN
           INSTITUT PERTANIAN BOGOR
                         2010
                                                                            3



                              RINGKASAN

LUQMAN NOOR HAKIM FADHILLAH. Respon Pertumbuhan Tanaman Jabon
(Anthocephalus cadamba Roxb. Miq) dengan Perlakuan Pupuk Polimer Terabuster
dan Kompos Aktif Teraremed. Dibimbing oleh YADI SETIADI.

        Jabon merupakan jenis tanaman asli yang dapat direkomendasikan untuk
dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman karena pemanfaatan kayunya
sudah dikenal luas oleh masyarakat. Kayu Jabon banyak digunakan untuk korek
api, peti pembungkus, cetakan beton, mainan anak-anak, pulp, kayu lapis dan
konstruksi darurat yang ringan (Martawijaya et al. 1981).
        Menurut Manan (1998), pembangunan hutan tanaman di Indonesia melalui
beberapa kemungkinan, salah satunya ialah pada tanah kosong yang ditumbuhi
alang-alang serta semak belukar. Pada umumnya lokasi tempat membangun hutan
tanaman tersebut kurang subur dan produktivitasnya rendah. Salah satu cara
sederhana untuk mengembalikan kesuburan tanah di kawasan tersebut, yaitu
dengan tindakan pemupukan.
        Untuk mengatasi hal tersebut, maka dibutuhkan suatu jenis pupuk yang
dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, sehingga efisiensi
pemupukan dapat tercapai. Penelitian dilakukan di Desa Pabuaran, Kampung Situ
Bakti RT 01/RW 01, Kecamatan Kemang-Kabupaten Bogor selama enam bulan,
yaitu pada bulan November 2009 sampai dengan bulan April 2010. Penelitian ini
mengamati respon pertumbuhan tanaman Jabon di lapangan terhadap pemberian
kompos aktif Teraremed, pupuk polimer Terabuster dan kombinasinya. Sehingga
diharapkan dapat diketahui jenis, dosis dan frekuensi pupuk yang paling sesuai
untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman Jabon di lapangan.
        Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk kompos aktif
Teraremed 1000 gr/lubang dengan frekuensi dua minggu sekali dapat
meningkatkan pertambahan tinggi dan diameter masing-masing sebesar 88,64%
dan 63,96% terhadap kontrol. Pemberian pupuk polimer Terabuster 1L/500 L air
dengan frekuensi tiga minggu sekali dapat meningkatkan pertambahan jumlah
daun sebesar 243,74% terhadap kontrol. Sementara kombinasi pemberian kompos
aktif Teraremed 1000 gr/lubang dengan pupuk polimer Terabuster 1L/1000 L air
dengan frekuensi tiga minggu sekali dapat meningkatkan pertambahan tinggi dan
jumlah daun masing-masing sebesar 160,81% dan 231,24% terhadap kontrol.

Kata kunci: Anthocephalus cadamba, Terabuster, Teraremed
                                                                                  4



                                   SUMMARY

LUQMAN NOOR HAKIM FADHILLAH. The Responses Growth of Jabon
(Anthocephalus cadamba Roxb. Miq) with Terabuster Polymer Fertilizer and
Teraremed Compost Active Treatment. Under supervision of YADI SETIADI.


        Jabon is a native species that can be recommended for the development of
plantation forests because the use of wood has been widely recognized by society.
Jabon wood used for lighters, packing crate, concrete molds, toys, pulp, plywood
and low construction (Martawijaya et al. 1981).
        Refers to Manan (1998), there are several alternatives to built plantation
forest in Indonesia, non productive land is one of alternative. Basicly there land
low fertility and productivity. The simply way to return the fertility of there land
with fertilizer.
        To overcome this problem, we need a type of fertilizer that can increase
physical, chemical and biological of soil, so that the fertilizer efficiency can be
achieved. The research conducted in the Village Pabuaran, Kampung Situ Bakti
RT 01/RW 01, Sub-District Kemang Bogor during six months, from November
2009 untill April 2010. The purpose of this research is to study the responses
growth of Jabon in the field with treatment of Teraremed compost active,
Terabuster polymer fertilizer and their combinations. So that the types, dosage and
frequencies of fertilizer which most suitable to improve growth of Jabon in the
field have to known.
        The results of the research were Teraremed compost active 1000 gr/hole
frequency once in two weeks can increased height and diameter each to 88,64%
and 63,96% against the control. Terabuster polymer fertilizer 1L/500 L water
frequency once in three weeks can increased number of leaves to 243,74% against
the control. Meanwhile the combination Teraremed compost active 1000 gr/hole
with Terabuster polymer fertilizer 1L/1000 L water frequency once in three weeks
can increased height and number of leaves each to 160.81% and 231,24% against
the control.

Key words: Anthocephalus cadamba, Terabuster, Teraremed
                                                                                 5



                               PERNYATAAN


       Dengan    ini   saya   menyatakan    bahwa     skripsi   berjudul   “Respon
Pertumbuhan Tanaman Jabon (Anthocephalus cadamba Roxb. Miq) dengan
Perlakuan Pupuk Polimer Terabuster dan Kompos Aktif Teraremed” adalah
benar-benar karya saya sendiri di bawah bimbingan Dr. Ir. Yadi Setiadi, M. Sc
dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau
lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
telah diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam
teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.




                                             Bogor, Agustus 2010


                                             Luqman Noor Hakim Fadhillah
                                             E44063038
                                                                              6



                               RIWAYAT HIDUP


       Penulis dilahirkan pada tanggal 28 April 1988 di Bogor sebagai anak
ketiga dari empat bersaudara, dari pasangan H. Mochammad Fadhillah Sarbini
dan Hj. Nursiah. Penulis lulus Undangan Seleksi Masuk IPB dari SMA.
KORNITA IPB (2006) dan penulis diterima pada Mayor Silvikultur-Fakultas
Kehutanan IPB (2007).
       Selama menjadi mahasiswa IPB, penulis mendapatkan penghargaan
seperti Mahasiswa Terbaik (The Best Student of IPB) dalam pelaksanaan
praktikum mata kuliah Sosiologi Umum (2006). Penulis juga aktif di UKM
Basket : Tingkat Persiapan Bersama (2006), Fakultas Kehutanan IPB (2007-2008)
dan Silvikultur (2007-2009).
       Selain itu penulis juga aktif sebagai peserta kegiatan : Science (2006),
Masa Perkenalan Fakultas Kehutanan IPB (2007), training Best of The Best
(2007), Belantara (2007), diskusi terbuka “I Love My World Campaign” (2008),
Seminar Peluang Investasi Kebun Jabon sebagai Pengganti Sengon di Lahan
Tidur (2009), training“Complying The Goverment Regulation On Forest Land
Reclamation After Mining And Oil/Gas Operations” (2009) dan “Reclamation
And Hydroseeding Techniques For Rehabilitating Degraded Land After Post
Mining And Oil/Gas Operations” oleh Green Earth Indonesia (2010).
       Penulis mengikuti kegiatan Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan di KPH
Banyumas Timur-Cilacap dan KPH Banyumas Barat-Baturraden (2008), Praktik
Pengelolaan Hutan di Hutan Pendidikan Gunung Walat dan KPH Cianjur (2009)
dan Praktik Kerja Profesi di PT INCO Tbk, Sorowako-Sulawesi Selatan (2010).
       Penulis berperan di berbagai kepengurusan : Ketua Komisi Disiplin
Belantara (2008), panitia Go Green Bekasi Planting Project (2008), Ketua
Pengkaderan dan Penguatan Organisasi Sylva (2009) dan sebagai pelopor
berdirinya usaha Green Talenta Mandiri sejak Oktober 2009.
       Untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan IPB, penulis menyelesaikan
skripsi berjudul “Respon Pertumbuhan Tanaman Jabon (Anthocephalus cadamba
Roxb. Miq) dengan Perlakuan Pupuk Polimer Terabuster dan Kompos Aktif
Teraremed”, di bawah bimbingan Dr. Ir. Yadi Setiadi, M. Sc.
                                                                     7



                        LEMBAR PENGESAHAN


Judul Skripsi              : Respon    Pertumbuhan     Tanaman   Jabon
                            (Anthocephalus cadamba Roxb. Miq) dengan
                            Perlakuan Pupuk Polimer Terabuster dan
                            Kompos Aktif Teraremed
Nama Mahasiswa             : Luqman Noor Hakim Fadhillah
NRP                        : E44063038




                                Disetujui,
                               Pembimbing

                        Dr. Ir. Yadi Setiadi, M. Sc
                        NIP 19551205 198003 1 004




                               Diketahui :
                      Ketua Departemen Silvikultur




                Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M. Agr
                        NIP 19641110 199002 1 001




Tanggal :
                                                                                8



                           KATA PENGANTAR


       Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan
nikmat, karunia, hidayah, inayah dan sehat serta semangat-Nya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Respon Pertumbuhan Tanaman
Jabon (Anthocephalus cadamba Roxb. Miq) dengan Perlakuan Pupuk
Polimer Terabuster dan Kompos Aktif Teraremed, dengan baik dan lancar.
Shalawat beserta salam penulis curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, para
keluarga, sahabat, tabi’in dan semua ummat-Nya hingga akhir jaman.
       Penelitian dan penulisan skripsi ini dapat diselesaikan berkat bantuan dari
berbagai pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan
memohon do’a kepada Allah SWT agar diberi balasan pahala yang berlipat ganda
kepada :
1. Dr. Ir. Yadi Setiadi, M. Sc selaku dosen pembimbing skripsi.
2. Para dosen, karyawan dan staf Fakultas Kehutanan serta Laboratorium
   Bioteknologi Hutan dan Lingkungan-IPB.
3. Papah H. Mochammad Fadhillah Sarbini, Mamah Hj. Nursiah, Abang : Noor
   Fahmi Fadhillah, ST. dan Agung Kamil Wardoyo, Amd., Kakak : Kurniasih
   Sholihatin Fadhillah, Amd. dan Ika Fithriani, SE., Adinda Fauziah Fadhillah,
   Keponakan : Fathin Putri Fahrani dan Aisyah Aulia Kamil dan semua keluarga
   lainnya.
4. Belinda Bunganagara beserta keluarga besarnya.
5. Sahabat-sahabat Green Talenta Mandiri dan Green Earth Indonesia.
6. Kawan-kawan : Lika, Dessy, Dwita, Thea, Nuri, Ayu, Betty, Idham, Enike,
   Emon, Lemma, Syahril, Amed, Djalu, Dadunk, James, Lingga, Vonya, Ajeng,
   Laila, Sabar, Ade, Arif, Nana, Nanan, Bundo, Puti, Adrian, Tatang, Hildalita,
   S. Hut., Cut rezha, semeru group dan keluarga besar Fakultas Kehutanan-IPB.
        Penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang
memerlukan.
                                                    Bogor, Agustus 2010


                                                           Penulis
                                                                                                                            9



                                                 DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ........................................................................................ i
DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL .............................................................................................. iv
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1
1.2 Tujuan ........................................................................................................... 2
1.3 Hipotesis ....................................................................................................... 2
1.4 Manfaat ........................................................................................................ 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Jabon (Anthocephalus cadamba Roxb. Miq) ................................................. 3
     2.1.1 Keterangan Umum ................................................................................. 3
     2.1.2 Penyebaran Alami dan Syarat Tumbuh Jabon ....................................... 3
     2.1.3 Sifat Botanis .......................................................................................... 3
     2.1.4 Manfaat .................................................................................................. 4
     2.1.5 Hama dan Penyakit ................................................................................ 5
2.2 Pupuk ............................................................................................................. 5
     2.2.1 Klasifikasi .............................................................................................. 5
     2.2.2 Unsur Hara ............................................................................................. 5
2.3 Teraremed ...................................................................................................... 6
2.4 Terabuster ....................................................................................................... 7
2.5 HSC (Humate Substance Complex) ................................................................ 8
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ........................................................................ 9
3.2 Alat dan Bahan Penelitian .............................................................................. 9
3.3 Prosedur kerja................................................................................................. 9
       3.3.1 Pemilihan dan Perawatan Bibit Jabon ................................................. 9
       3.3.2 Penanaman Jabon ................................................................................. 10
               3.3.2.1 Penyiapan dan Pengolahan Lahan ........................................... 10
               3.3.2.2 Pengaturan Jarak dan Pembuatan Lubang Tanam ................... 10
                                                                                                                         10



               3.3.2.3 Pemberian Pupuk Dasar........................................................... 10
               3.3.2.4 Penanaman ............................................................................... 11
      3.3.3 Pemberian Pupuk Inti .......................................................................... 12
      3.3.4 Pemeliharaan ........................................................................................ 12
      3.3.5 Pengamatan dan Pengukuran ............................................................... 12
      3.3.6 Rancangan Percobaan .......................................................................... 13
      3.3.7 Analisis Data ........................................................................................ 14
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................... 15
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan .................................................................................................... 23
5.2 Saran ............................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 24
LAMPIRAN ........................................................................................................ 25
                                                                                    11



                               DAFTAR TABEL


No.                                                                          Halaman
1. Pemberian perlakuan pupuk polimer Terabuster, kompos aktif Teraremed
   dan kombinasinya dengan rancangan percobaan RAL................................ 13
2. Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pengaruh pemberian
   perlakuan pupuk polimer Terabuster, kompos aktif Teraremed dan
   kombinasinya terhadap parameter pertumbuhan tanaman Jabon ................. 15
3. Rekapitulasi hasil uji lanjut Duncan pengaruh pemberian berbagai
   taraf perlakuan terhadap parameter pertumbuhan tanaman Jabon ............... 16
                                                                                                                   12



                                      DAFTAR LAMPIRAN


No.                                                                                                      Halaman
1. Hasil pengukuran pertambahan tinggi tanaman Jabon (ΔT) ........................ 26
2. Hasil pengukuran pertambahan diameter tanaman Jabon (ΔD) ................... 28
3. Hasil pengukuran pertambahan jumlah daun tanaman Jabon (ΔJD) ............ 30
4. Denah rancangan acak percobaan................................................................. 32
5. Sidik ragam pada pengaruh perlakuan terhadap pertambahan tinggi
     tanaman Jabon .............................................................................................. 34
6. Sidik ragam pada pengaruh perlakuan terhadap pertambahan
     diameter tanaman Jabon ............................................................................... 34
7. Sidik ragam pada pengaruh perlakuan terhadap pertambahan jumlah
     daun tanaman Jabon...................................................................................... 34
8. Rekapitulasi beda perlakuan pada hasil uji lanjut Duncan terhadap
     parameter pertambahan tinggi (ΔT)................................................................ 35
9. Rekapitulasi beda perlakuan pada hasil uji lanjut Duncan terhadap
     parameter pertambahan diameter (ΔD) .......................................................... 36
10. Rekapitulasi beda perlakuan pada hasil uji lanjut Duncan terhadap
     parameter pertambahan jumlah daun (ΔJD) ................................................... 37
11. Foto-foto pertambahan tinggi ......................................................................... 38
12. Foto-foto pertambahan diameter .................................................................... 38
13. Foto-foto pertambahan jumlah daun............................................................... 38
14. Foto-foto dan lain-lain (hama dan penyakit) .................................................. 39
                                                                             13



                                       BAB I
                               PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
       Pertumbuhan penduduk yang semakin pesat mengakibatkan meningkatnya
kebutuhan kayu untuk berbagai keperluan, seperti untuk industri, perumahan,
perabotan dan energi. Sementara keberadaan hutan alam sebagai pemasok
kebutuhan kayu semakin menurun, baik kuantitas maupun kualitasnya. Salah satu
cara untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu dengan membangun hutan tanaman.
Jenis pohon yang bisa dijadikan alternatif pada hutan tanaman adalah pohon Jabon
(Anthocephalus cadamba Roxb. Miq).
       Jabon   merupakan       jenis   tanaman   asli   Indonesia   yang   dapat
direkomendasikan untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman.
Pohon Jabon memiliki prospek yang cukup baik karena tergolong pohon yang
cepat tumbuh, dapat tumbuh di berbagai tipe tanah, prospek pemasarannya cukup
tinggi dengan teknik silvikultur yang mudah dan telah diketahui. Jabon akan
memilki peran yang cukup penting pada masa yang akan datang, terutama jika
pasokan kayu untuk pertukangan dan industri kehutanan dari hutan alam mulai
menurun (Pratiwi 2003).
       Menurut Manan (1998), pembangunan hutan tanaman di Indonesia melalui
beberapa kemungkinan, salah satunya ialah pada tanah kosong yang ditumbuhi
alang-alang serta semak belukar. Pada umumnya lokasi tempat membangun hutan
tanaman tersebut kurang subur dan produktivitasnya rendah. Salah satu cara
sederhana untuk mengembalikan kesuburan tanah di kawasan tersebut, yaitu
dengan tindakan pemupukan.
       Menurut Mulyana (2000), pemupukan merupakan suatu tindakan
menambahkan sejumlah unsur hara yang dibutuhkan tanaman ke dalam tanah atau
ke tanaman. Takaran bahan pupuk, jenis dan bentuk pupuk, cara pemupukan,
intensitas pemupukan dan waktu pemupukan, merupakan segi-segi pupuk yang
perlu diperhatikan untuk meningkatkan keefisienannya. Oleh karena itu sebelum
membangun hutan tanaman dalam skala besar maka perlu diadakan penelitian
penanaman dalam skala kecil.
                                                                              14



         Pupuk yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari pupuk dasar dan
pupuk inti. HSC (Humate Substance Complex) dan rock phosfat sebagai pupuk
dasar, sedangkan pupuk polimer Terabuster dan kompos aktif Teraremed sebagai
pupuk inti. Penelitian ini akan mengamati respon pertumbuhan tanaman Jabon di
lapangan terhadap pemberian pupuk polimer Terabuster, kompos aktif Teraremed
dan kombinasinya. Sehingga diharapkan dapat diketahui jenis, dosis dan frekuensi
pupuk yang paling sesuai untuk pertumbuhan tanaman Jabon di lapangan.


1.2      Tujuan
         Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui respon pertumbuhan tanaman Jabon di lapangan terhadap
      pemberian pupuk polimer Terabuster.
2. Mengetahui respon pertumbuhan tanaman Jabon di lapangan terhadap
      pemberian kompos aktif Teraremed.
3. Mengetahui respon pertumbuhan tanaman Jabon di lapangan terhadap
      pemberian pupuk polimer Terabuster dan kompos aktif Teraremed.


1.3      Hipotesis
         Pemberian pupuk polimer Terabuster, kompos aktif Teraremed dan
kombinasinya dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman Jabon di lapangan.
H0 = Perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap respon yang diamati.
H1 = Paling sedikit ada satu i taraf perlakuan dimana τi ≠ 0; i = 1,...,22.


1.4       Manfaat
         Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi jenis, dosis
dan frekuensi pupuk polimer Terabuster, kompos aktif Teraremed, atau
kombinasinya yang paling sesuai untuk pertumbuhan tanaman Jabon di lapangan.
                                                                           15



                                  BAB II
                        TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Jabon (Anthocephalus cadamba Roxb. Miq)
2.1.1 Keterangan Umum
       Jabon (Anthocephalus cadamba Roxb. Miq) merupakan pohon yang
berukuran sedang hingga besar yang tingginya dapat mencapai 45 m dengan
diameter 100-160 cm dan tinggi bebas cabang lebih dari 25 m (Soerianegara dan
Lemmens 1994). Dalam sistem klasifikasi, tanaman Jabon termasuk ke dalam
kingdom Plantae, sub kingdom Tracheobionta, super divisi Spermatophyta, divisi
Magnoliophyta, kelas Magnoliospida, sub kelas Asteridae, ordo Rubiales, famili
Rubiaceae dan genus Anthocephalus (Heyne 1987).


2.1.2 Penyebaran Alami dan Syarat Tumbuh Jabon
       Menurut Pratiwi (2003), di beberapa negara, Jabon memiliki banyak nama
antara lain Jabon (Indonesia), Common Bur-Flower (Inggris), Kadam (Perancis),
Bangkal Kaatoan Bangkal (Brunei), Laran (Sabah), Labula (Papua New Guinea)
dan Thkoow (Kamboja).
       Anthocephalus terdiri atas dua jenis yaitu Anthocephalus cadamba dan
Anthocephalus macrophylla. Pohon Jabon terdapat secara alami dari Sri Langka,
India, Nepal dan Bangladesh ke arah timur melalui Malaysia hingga Papua
Nugini. Jenis ini telah ditanam sebagai pohon hias dan pohon perkebunan dan
telah berhasil diperkenalkan ke Afrika Selatan, Puerto Rico, Suriname, Taiwan
dan negara-negara lainnya di kawasan tropika dan subtropika (Soerianegara dan
Lemmens 1994). Sebaran tumbuh di Indonesia sebagian besar di Jawa Barat, Jawa
Timur, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NTB dan Irian Jaya. (Lembaga Biologi
Nasional 1980).


2.1.3 Sifat Botanis
       Pertumbuhan optimal dapat dicapai pada tanah lempung, tanah podsolik
cokelat dan tanah alluvial di sepanjang aliran sungai atau di daerah peralihan
antara rawa dan tanah kering. Kondisi curah hujan tempat tumbuh Jabon berkisar
                                                                                 16



antara 400-2500 mm/tahun dengan altitude mulai dari permukaan laut sampai
1000 meter di atas permukaan laut (Martawijaya et al. 1981).
       Jabon tergolong spesies yang cepat tumbuh dengan pertumbuhan rata-rata
tahunan adalah 2,2 m untuk tinggi dan 3,65 cm untuk diameter. Pertumbuhan
Jabon sangat cepat mulai dari umur 2-20 tahun dan untuk selanjutnya
pertumbuhannya lambat. Di hutan tanaman, kecepatan tumbuh diameter Jabon
adalah 2-3 cm/tahun dan tinggi 2-3 m/tahun (Lembaga Biologi Nasional 1980).
       Pohon Jabon mulai berbunga dan berbuah pada umur 5-7 tahun, terutama
tampak berbunga dalam bulan Januari-Februari dengan bunga yang warnanya
kuning. Bunga menjadi buah dan masak antara bulan Juni-September (Team
Fakultas Kehutanan 1975).
       Permukaan pepagan luar pada pohon muda licin dan berwarna sangat
terang, pada pohon tua berwarna kelabu hingga cokelat kelabu, berlekah dangkal,
kadang kala dengan punggung-punggung kecil, sering retak dan menyerpih agak
kasar. Tajuk berbentuk payung yang khas dan kecil, cabang-cabang mendatar
dengan ujung menjuntai, cabang yang gugur tampak jelas pada batang muda.
Jabon memiliki daun yang saling berhadapan, tumpul, kira-kira duduk hingga
bertangkai. Bentuk daun bulat telur hingga lonjong dengan ukuran panjang 15-50
cm dan lebar 8-25 cm. Bagian pangkal berbentuk agak menyerupai jantung,
bagian ujung lancip (Sutisna et al. 1998). Pada pohon muda yang diberi pupuk
kadang-kadang sangat lebih besar ukurannya, di bagian pangkal agak berbentuk
jantung dan lancip di ujungnya (Soerianegara dan Lemmens 1994).


2.1.4 Manfaat
       Jabon merupakan jenis kayu yang mempunyai berat jenis rata-rata sebesar
0,42 dalam selang (0,29-0,56), kelas kuat III-IV dan kelas awet V. Kayu Jabon
banyak digunakan untuk korek api, peti pembungkus, cetakan beton, mainan
anak-anak, pulp dan konstruksi darurat yang ringan. (Martawijaya et al. 1981).
       Jika dikeringkan dengan baik, kayu ini dapat digunakan untuk sampan atau
perabot. Kayu Jabon digunakan baik sebagai lapisan permukaan maupun lapisan
inti dalam kayu lapis dan sesuai untuk membuat papan partikel, papan bersemen
                                                                             17



dan papan keras. Kegunaan kayu Jabon yang terpenting ialah untuk membuat
kertas bermutu rendah hingga sedang. (Soerianegara dan Lemmens 1994).


2.1.5 Hama dan Penyakit
       Menurut Soerianegara dan Lemmens (1994), tidak terdapat penyakit atau
hama yang serius. Jamur Gloesporium anthocephali dapat mengakibatkan
rontoknya daun sebagian atau seluruhnya dan mati pucuk. Sering daun dimakan
oleh aneka serangga sedangkan bibit dimakan oleh binatang buruan. Pohon
dengan daun yang berlubang-lubang serius sangat lazim tetapi biasanya akan
pulih dengan baik. Hama yang dilaporkan di Filipina antara lain ulat pembuat
terowong daun Pyralis sp., penggerek Pterodepleryx sp. dan ulat bertanduk.


2.2 Pupuk
2.2.1 Klasifikasi
       Pengertian klasifikasi pupuk dapat dilihat dari beberapa segi yaitu atas
dasar pembentukannya yang terdiri dari pupuk alam dan pupuk buatan, atas dasar
kandungan unsur hara yang dikandungnya yang terdiri dari pupuk tunggal dan
pupuk majemuk dan atas susunan kimiawi yang mempunyai hubungan penting
dengan perubahan-perubahan di dalam tanah. Pupuk alam diantaranya terdiri dari
pupuk kandang, pupuk hijau, kompos dan guano (Marsono dan Sigit 2002).
Sedangkan menurut Soepardi (1983), yang dimaksud dengan pupuk buatan adalah
pupuk yang dibuat di pabrik-pabrik yang mengandung unsur hara tertentu yang
pada umumnya mempunyai kadar unsur hara tinggi.


2.2.2 Unsur Hara
       Unsur hara makro adalah unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah
banyak oleh tanaman. Sedangkan unsur hara mikro dibutuhkan dalam jumlah
yang sedikit. Yang termasuk unsur hara makro adalah C, H, O, N, P, K, Ca, Mg
dan Fe. Sedangkan unsur hara mikro adalah Ni, Mn, Cu, Zn, Mo, Bo dan Cl
(Hakim et al, 1986). Dari 16 unsur hara essensial tersebut, unsur C, H dan O
diambil oleh tanaman dari udara dan air dalam jumlah yang besar, karena
merupakan penyusun 94-96% bahan organik tanaman (Hakim et al, 1986).
                                                                              18



       Menurut Epstein (1972), suatu unsur hara dapat dikatakan essensial jika :
(a) tanaman tidak dapat melaksanakan siklus hara tanpa adanya unsur tersebut, (b)
unsur hara tersebut merupakan bagian-bagian dari sebuah molekul pada beberapa
unsur penting dan (c) kekurangan unsur hara tersebut tidak dapat digantikan oleh
unsur yang lain.
       Menurut Brady (1974) dalam Mulyana (2000), bahwa peranan bahan
organik dalam pertumbuhan tanaman berhubungan dengan perbaikan sifat fisik,
kimia dan biologi tanah. Pengaruh terhadap sifat fisik adalah merangsang
granulasi, memantapkan agregat, memperbaiki struktur tanah, mengurangi
pemadatan, memperbaiki aerasi, meningkatkan kemampuan menahan air dan
meningkatkan infiltrasi. Pengaruh terhadap sifat kimia tanah adalah sumber unsur
hara, mengikat unsur mikro dan kation-kation logam serta meningkatkan kapasitas
tukar kation (KTK). Pengaruh terhadap sifat biologi adalah sebagai sumber energi
bagi aktivitas mikro-organisme dalam tanah.


2.3 Teraremed
       Menurut Hariangbanga (2009), Teraremed (Compos active) ini dibuat
berdasarkan teknologi terapan dari RRC yang penggunaannya telah dikenal sejak
1991 dan terus dikembangkan formulasinya sampai sekarang hingga kini
teknologi tersebut hadir di Indonesia dan telah disajikan dalam keadaan siap
pakai. Compos active ini dibuat dari kotoran hewan, batuan, fosfat, arang sekam
dan ditambah dengan protein yang dilengkapi nutrisi, asam amino, mineral serta
hormon tumbuh organik. Pemberian kompos aktif Teraremed diberikan sebanyak
1000 gram/lubang dengan cara mencampurkannya dengan tanah pada saat
penanaman untuk menyuburkan dan menggemburkan tanah.
       Adapun keuntungan memakai Teraremed diantaranya adalah :
1. Ramah lingkungan karena terbuat dari bahan-bahan organik.
2. Mengandung N, P, K, asam amino, mineral dan mikro-organisme yang
   berguna bagi tanah.
3. Mengembalikan kesuburan tanah dan menggemburkannya karena mampu
   membangkitkan aktivitas mikro-organisme di dalam tanah.
                                                                           19



4. Memperpanjang umur tanaman keras karena sistem perakarannya tumbuh
   bagus dan kuat.
5. Menjaga ketahanan kadar air dalam tanah dan mengurangi karbon aktif
   berkalium dan mampu menghalau hama di dalam tanah.
6. Menghasilkan panen yang lebih untuk jangka yang lebih panjang.


2.4 Terabuster
       Terabuster merupakan Liquid foliar fertilizer, mengandung NPK,
Magnesium, Calcium dan chelated micronutrients. Produk ini diformulasikan
untuk melindungi penyerapan melalui foliar dan digunakan ketika penyerapan
nutrisi melalui akar terbatas. Produk ini biasanya digunakan sebagai pendorong
untuk membantu dan mempercepat penyembuhan tanaman yang stress selama
penempatan/pertumbuhan akar dan juga dapat digunakan sebagai pupuk additive
untuk hydro seeding. Pemberian pupuk polimer Terabuster diberikan sebanyak
500 cc/tanaman dengan 1 liter Terabuster dilarutkan dalam 400-500 liter air,
dengan cara menyiramkannya pada akar dan daun.
       Adapun keunggulan dan manfaat Terabuster diantaranya adalah :
1. Memiliki kemampuan larut sangat tinggi dan sempurna sehingga mudah
   diserap oleh tanaman.
2. Bentuk chelated yang stabil menyediakan unsur hara dalam bentuk yang
   langsung dapat diserap tanaman sehingga pertumbuhan tanaman menjadi
   optimal.
3. Merangsang    pertumbuhan    dan   peningkatan   produksi   tanaman   serta
   meningkatkan kemampuan fotosintesa tanaman.
4. Penyemprotan pada saat pembungaan dapat mencegah kerontokan calon buah
   dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap stress (cekaman) lingkungan
   dan ketahanan terhadap penyakit.
                                                                            20



2.5 HSC (Humate Substance Complex)
       HSC (Humate Substance Complex) merupakan suatu bahan organik cair
yang diperkaya dengan humic acid dan katalis. HSC mempunyai fungsi utama
sebagai pembenah tanah yang dapat memperbaiki kondisi tanah menjadi lebih
subur dengan menstimulasi tanaman dan mikro-organisme tanah, terutama untuk
lahan paska tambang. HSC digunakan dengan dosis sebanyak 250 cc/lubang
(1 liter HSC dilarutkan dalam 200 liter air). HSC disiramkan sampai lembab pada
lubang tanam dan sebaiknya diberikan 1-2 minggu sebelum penanaman
dilakukan.     Pemakaian HSC sangat dianjurkan dalam penyiapan lahan untuk
kegiatan kehutanan dan penyiapan lahan untuk landscaping dan rehabilitasi lahan
bekas tambang. Selain itu HSC berfungsi :
1. Pembenah lahan marginal (tererosi berat, paska kebakaran).
2. Mempermudah ketersediaan hara.
3. Meningkatkan KTK dan mengurangi pencucian hara.
4. Menggemburkan tanah.
5. Memperbaiki aerasi dan dan drainase tanah.
6. Mem-buffer pH tanah serta melindungi tanaman dari beberapa serangan
   penyakit.
7. Mengikat pupuk sehingga tidak tercuci oleh air hujan.
                                                                              21



                                   BAB III
                         METODE PENELITIAN


3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
       Penelitian dilakukan di Desa Pabuaran, Kampung Situ Bakti RT 01/RW
01, Kecamatan Kemang-Kabupaten Bogor selama enam bulan, yaitu pada bulan
November 2009 sampai dengan bulan April 2010.


3.2 Alat dan Bahan Penelitian
       Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah gelas ukur 1 liter,
cangkul, garpu tanah, ajir, meteran 100 m, gembor, timbangan 2 kg, tally sheet,
tangki semprot, kamera digital Canon PowerShot A540, laptop Compaq Presario
CQ40, alat tulis, kaliper, ember, software Minitab 14 dan SAS 9.0.
       Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit Jabon, herbisida
Round Up, insektisida Decis, pupuk polimer Terabuster, kompos aktif Teraremed,
HSC (Humic Subtance Complex) dan rock phosfat.


3.3 Prosedur kerja
3.3.1 Pemilihan dan Perawatan Bibit Jabon
       Bibit yang sehat dipilih dengan ciri memiliki sistem perakaran yang baik,
daun berwarna hijau dan relatif seragam dengan tinggi rata-rata (± 70 cm).
Perawatan dilakukan selama ± 1 minggu di lokasi penanaman. Perawatan
dilakukan dengan cara meletakkan bibit di bawah pohon, menyiram bibit secara
teratur pada pagi dan sore hari, memberi jarak antar bibit agar bibit tidak mudah
patah apabila terkena curahan air hujan dan akar disiram dengan HSC dengan
dosis 1 liter HSC dalam 200 liter air seminggu sebelum tanam, dengan tujuan
untuk mengaktifkan akar sebelum penanaman dilakukan.
                                                                               22



3.3.2 Penanaman Jabon
     Tahapan-tahapan penanaman Jabon sebagai berikut :
3.3.2.1 Penyiapan dan Pengolahan Lahan
       Lokasi penelitian untuk penanaman Jabon dipilih yang baik dan bersifat
homogen : lapang, tidak tergenang air, aksesibilitas baik, dekat dengan sumber air
dan terdapat pasokan sinar matahari yang cukup. Lahan diukur dan diberi
pembatas berupa pagar bambu agar kegiatan penelitian tidak mendapat gangguan
dari lingkungan sekitar. Kemudian rerumputan dan ilalang yang terdapat di dalam
lahan dimatikan agar tidak terdapat persaingan dengan pertumbuhan Jabon
nantinya dengan penyemprotan herbisida Round Up 250 cc yang terlebih dahulu
dilarutkan dengan 100 liter air. Setelah itu lahan dibersihkan secara manual dari
batu, sampah plastik dan sisa tanaman agar tempat tumbuh Jabon bersih dan baik
untuk pertumbuhannya. Selanjutnya lahan digarpu dan dicangkul lebih dulu
supaya tanah lebih gembur untuk perkembangan akar.


3.3.2.2 Pengaturan Jarak dan Pembuatan Lubang Tanam
       Pengaturan jarak dan pembuatan lubang tanam dilakukan dengan bantuan
ajir sebagai patok. Jarak tanam yang digunakan adalah 2 m x 2 m. Pembuatan
lubang dilakukan dengan ukuran panjang x lebar x dalam (40 cm x 40 cm x 40
cm). Pada saat membuat lubang, tanah yang digali ditempatkan di dekat lubang.
Lapisan tanah atas 20 cm pertama dipisahkan ke sebelah kanan dan lapisan
berikutnya 20-40 cm dipisahkan ke sebelah kiri. Tanah ini penting untuk menutup
lubang kembali.


3.3.2.3 Pemberian Pupuk Dasar
       Menurut Setiadi (2009), pemberian pupuk dasar sebaiknya diberikan 1-2
minggu sebelum penanaman dilakukan. Pupuk dasar yang digunakan adalah rock
phosfat dan HSC. Pemberian pupuk dasar rock phosfat dan HSC diberikan pada
setiap lubang tanam. Rock phosfat diberikan sebanyak 250 gr/lubang dengan cara
pupuk tersebut ditabur di seluruh permukaan dinding lubang tanam secara merata.
Setelah diberi rock phosfat, dinding lubang tanam disiram dengan HSC sebanyak
250 cc/lubang (1 liter HSC dilarutkan dalam 200 liter air). Menurut Setiadi
                                                                               23



(2009), Humic acid, selain dapat menggemburkan tanah, mengurangi toxicitas Al
dan Fe, juga dapat merangsang perkembangan akar.


3.3.2.4 Penanaman
       Dalam penanaman yang perlu diperhatikan adalah, waktu tanam yang
perlu disesuaikan dengan jadwal curah hujan dan cara menanam yang benar.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan waktu menanam, adalah sebagai berikut
(Setiadi 2009) :
1) Minimal dua minggu sebelum tanam, akar bibit dalam polybag harus sudah
   terlepas dari tanah. Jika belum lakukan root prunning.
2) Untuk mengaktifkan akar agar cepat beradaptasi ketika dipindahkan ke
   lapangan, ada baiknya akar disiram dengan HSC (Humic Subtance Complex)
   dengan dosis 1 liter HSC dalam 200 liter air seminggu sebelum tanam.
3) Untuk menghindari kerusakan akar, bibit dalam kantong plastik perlu dibasahi
   dan dipadatkan bagian akarnya. Jika akar sudah kompak dan memadat, tidak
   perlu dibasahi dan tidak perlu dipadatkan lagi.
4) Dekat lubang tanam yang telah diamendment, kantong plastik dibuka secara
   hati-hati agar sistem perakarannya tidak rusak.
5) Bibit ditanam tegak lurus pada lubang tanam sedalam leher akar dan akarnya
   tidak boleh terlipat. Jika terlalu dalam, tanaman pada awal akan lambat
   tumbuh.
6) Tanah timbunan harus dipadatkan secara hati-hati dengan menggunakan
   tangan atau kaki, agar akar bisa kontak tanah dengan kuat. Permukaan tanah
   timbunan harus sama tinggi dengan permukaan tanah asal atau agak
   dicembungkan (di daerah basah) atau dicekungkan (di daerah kering).
7) Di sekitar bibit yang baru ditanam (pinggiran tanaman) sebaiknya ditutup
   dengan mulsa (serasah atau potongan rumput) agar daerah perakaran tetap
   lembab dan penguapan dari tanah bisa dikurangi.
8) Pada bibit yang telah ditanam, sebaiknya diberikan ajir (turus) dan bibit
   diikatkan pada ajir tersebut, agar bibit dalam fase kritis pertumbuhannya tidak
   goyah, terutama di daerah yang anginnya kuat.
                                                                           24



3.3.3 Pemberian Pupuk Inti
       Pada penelitian ini terdapat dua jenis pupuk inti yang diberikan, yaitu
pupuk polimer Terabuster dan kompos aktif Teraremed. Pemberian pupuk polimer
Terabuster diberikan sebanyak 500 cc/tanaman dengan dosis dan frekuensi yang
berbeda setiap perlakuannya. Pemberian kompos aktif Teraremed diberikan
sebanyak 1000 gr/lubang dengan cara mencampurkannya dengan tanah pada saat
penanaman. Perlakuan ini tidak diberikan pada setiap lubang tanam, tetapi
disesuaikan dengan perlakuan.


3.3.4 Pemeliharaan
       Kegiatan pemeliharaan tanaman meliputi : penyiraman, penyiangan dan
kontrol hama atau penyakit tanaman. Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore
hari secara teratur. Pada musim hujan dimana tanah cenderung basah, penyiraman
tidak perlu dilakukan. Penyiangan dilakukan secara manual karena luas lahan
hanya  1000 m². Pemeliharaan tanaman Jabon terhadap gangguan hama atau
penyakit dilakukan, apabila terdapat serangan hama atau penyakit dengan
penyemprotan insektisida Decis dengan dosis 0,25-0.5 ml/liter.


3.3.5 Pengamatan dan Pengukuran
       Pengambilan data di lapangan dilakukan dengan cara mengamati dan
mengukur secara langsung setiap dua minggu sekali setelah penanaman.
Parameter yang diamati dan diukur adalah pertambahan tinggi, pertambahan
diameter dan pertambahan jumlah daun. Pengukuran tinggi tanaman dilakukan
dengan menggunakan meteran mulai dari pangkal batang yang telah ditandai
hingga titik tumbuh pucuk tanaman. Sementara pengukuran diameter tanaman
dilakukan dengan menggunakan kaliper pada ketinggian 2 cm di atas leher akar
yang telah ditandai. Sedangkan pengamatan dan penghitungan jumlah daun
dilakukan secara manual.
                                                                               25



3.3.6 Rancangan Percobaan
Tabel 1. Pemberian perlakuan pupuk polimer Terabuster, kompos aktif Teraremed
         dan kombinasinya dengan rancangan percobaan RAL
 No            Taraf Perlakuan
                                            Keterangan :
  1             KONTROL
  2                 TRF1                    TR : Teraremed (1000 gr/lubang)
  3                 TRF2
                                            TBD1 : Terabuster Dosis 1L/1000 L air
  4                 TRF3
  5               TBD1F1                    TBD2 : Terabuster Dosis 1L/500 L air
  6               TBD1F2
                                            TBD3 : Terabuster Dosis 1L/250 L air
  7               TBD1F3
  8               TBD2F1                    F1 : Frekuensi seminggu sekali
  9               TBD2F2
                                            F2 : Frekuensi dua minggu sekali
 10               TBD2F3
 11               TBD3F1                    F3 : Frekuensi tiga minggu sekali
 12               TBD3F2
 13               TBD3F3
 14             TRTBD1F1
 15             TRTBD1F2
 16             TRTBD1F3
 17             TRTBD2F1
 18             TRTBD2F2
 19             TRTBD2F3
 20             TRTBD3F1
 21             TRTBD3F2
 22             TRTBD3F3


       Pada penelitian ini terdiri dari 22 taraf perlakuan yang diulang sebanyak 3
kali dan setiap ulangan taraf perlakuan terdiri dari 2 bibit. Dengan demikian
terdapat 132 bibit yang ditanam, namun hanya diambil 1 data acak dari 2 bibit,
sehingga diperoleh 66 data untuk analisis sidik ragam. Model rancangan yang
digunakan sebagai berikut : Yij = µ + αi + εij.
Yij = Nilai pengamatan pada taraf perlakuan ke-i dan ulangan ke-j.
µ    = Rataan umum.
αi   = Pengaruh pada taraf perlakuan ke-i.
εij = Pengaruh acak pada taraf perlakuan ke-i, ulangan ke-j.
                                                                              26



3.3.7 Analisis Data
        Data hasil pengukuran dianalisis dengan menggunakan software Minitab
14 dan SAS 9.0. Analisis sidik ragam dengan uji F terhadap variabel yang diamati
untuk mengetahui respon pengaruh pemberian perlakuan dengan hipotesis sebagai
berikut :
H0 = Perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap respon yang diamati.
H1 = Paling sedikit ada satu i taraf perlakuan dimana τi ≠ 0; i = 1,...,22.
        Kesimpulan dari setiap hipotesis yang diuji diperoleh dari pengujian F
hitung terhadap F tabel. Kriteria pengambilan keputusan dari hipotesis yang diuji
adalah :
F hitung < F tabel : terima H0 (perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap respon
yang diamati).
F hitung > F tabel : tolak H0 (perlakuan berpengaruh nyata terhadap respon yang
diamati).
        Jika hasil analisis sidik ragam uji F terdapat pengaruh nyata, maka
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan melakukan uji lanjut Duncan’s
Multiple Range Test, yang bertujuan untuk mengetahui beda rata-rata antar taraf
perlakuan.
                                                                                 27



                                         BAB IV
                         HASIL DAN PEMBAHASAN


        Parameter yang diukur dan diamati pada penelitian ini adalah pertambahan
tinggi (cm), pertambahan diameter (cm) dan pertambahan jumlah daun. Untuk
mengetahui respon pengaruh pemberian perlakuan pupuk polimer Terabuster,
kompos aktif Teraremed dan kombinasinya terhadap parameter pertumbuhan
tanaman Jabon (A. Cadamba), maka dilakukan analisis sidik ragam. Secara umum
hasil analisis sidik ragam untuk parameter yang diukur disajikan pada Tabel 1.
Tabel 2. Rekapitulasi hasil analisis sidik ragam pengaruh pemberian perlakuan
         pupuk polimer Terabuster, kompos aktif Teraremed dan kombinasinya
         terhadap parameter pertumbuhan tanaman Jabon
       Parameter                                 F hitung
 Pertambahan Tinggi                     2.92                    *
 Pertambahan Diameter                   3.31                    *
 Pertambahan Jumlah daun                2.55                    *
Keterangan : * = berpengaruh nyata (p<0,05)


        Pada Tabel 1. terlihat bahwa pemberian perlakuan pupuk polimer
Terabuster, kompos aktif Teraremed dan kombinasinya berpengaruh nyata
terhadap semua parameter pertumbuhan tanaman Jabon pada selang kepercayaan
95%. Untuk mengetahui lebih jelas keterangan Tabel 2, dapat dilihat pada
lampiran 5-7. Terdapat pengaruh yang berbeda pada setiap taraf perlakuan maka
dilakukan uji lanjut Duncan (Tabel 2).
                                                                                          28



Tabel 3. Rekapitulasi hasil uji lanjut Duncan pengaruh pemberian berbagai taraf
        perlakuan terhadap parameter pertumbuhan tanaman Jabon
   Taraf                  Parameter               Peningkatan terhadap kontrol
 Perlakuan ΔT (cm) ΔD (cm)               ΔJD      ΔT (%) ΔD (%) ΔJD (%)
 KONTROL          26,33d        1,60d          10,67f          0,00       0,00       0,00
 TRF1            35,33cd       2,26abcd      27,67abcde       34,18      41,46      159,37
                       abcd           ab               ef
 TRF2            49,67         2,62            12,33          88,64      63,96       15,62
                         cd        abcd               cdef
 TRF3            33,00         2,24          14,333           25,33      39,79       34,37
                         bcd          ab             abcdef
 TBD1F1          39,67         2,66          25,67            50,66      66,25      140,62
 TBD1F2          40,67bcd      1,93bcd        13,67def        54,46      20,83       28,12
                         abc          ab             abcdef
 TBD1F3          52,67         2,62          25,33            100,04     63,54      137,49
                         ab        abcd              abcdef
 TBD2F1          62,67         2,20          22,00            138,02     37,50      106,24
 TBD2F2          35,33cd        1,60d        16,67bcdef       34,18       0,00       56,25
                       abcd        abcd                a
 TBD2F3          46,33         2,20            36,67          75,96      37,50      243,74
                         cd           abc             abcd
 TBD3F1          32,67         2,53           28,67           24,08      57,92      168,74
 TBD3F2          29,67cd        1,57d        15,33bcdef       12,69       -2,08      43,74
                         cd           d              bcdef
 TBD3F3          29,00          1,54         14,67            10,14       -3,54      37,50
                         abc          abc            abcdef
 TRTBD1F1        51,67         2,44          22,00            96,24      52,50      106,24
 TRTBD1F2 45,00abcd            1,76cd        25,67abcdef      70,91      10,00      140,62
                          a            a               a
 TRTBD1F3         68,67         2,78           35,33          160,81     73,96      231,24
                       abcd           ab             abcdef
 TRTBD2F1 47,00                2,64          25,00            78,50      65,21      134,37
 TRTBD2F2        41,00bcd      2,44abc       23,00abcdef      55,72      52,50      115,62
                         ab            a              abc
 TRTBD2F3        61,33          2,88          30,00           132,93     80,42      181,24
                         cd           ab             abcde
 TRTBD3F1        28,00         2,66          28,00             6,34      66,67      162,49
                         cd           ab             abcdef
 TRTBD3F2        29,00         2,63          26,00            10,14      64,17      143,74
 TRTBD3F3        30,67cd       2,67ab         30,33ab         16,48      67,08      184,36
Keterangan : huruf sama di belakang angka   menunjukan pengaruh yang tidak berbeda nyata pada
selang kepercayaan 95%
ΔT : pertambahan tinggi                     F1 : Frekuensi seminggu sekali
ΔD : pertambahan diameter                   F2 : Frekuensi dua minggu sekali
ΔJD : pertambahan jumlah daun               F3 : Frekuensi tiga minggu sekali
TR : Teraremed (1000 gr/lubang)             TBD2 : Terabuster Dosis 1L/500 L air
TBD1 : Terabuster Dosis 1L/1000 L air       TBD3 : Terabuster Dosis 1L/250 L air
                                                                           29



       Pada Tabel 2. terlihat bahwa taraf perlakuan TRF2 dalam pemberian
kompos aktif Teraremed terhadap tanaman Jabon di lapangan berpengaruh nyata
terhadap parameter pertambahan tinggi dan pertambahan diameter dengan
peningkatan terhadap kontrol masing-masing sebesar 88,64% (pertambahan
tinggi) dan 63,96% (pertambahan diameter). Sementara taraf perlakuan TRF1
berpengaruh nyata terhadap parameter pertambahan jumlah daun dengan
peningkatan sebesar 159,37% terhadap kontrol. Oleh karena itu, taraf perlakuan
TRF2 memiliki pengaruh positif terhadap kontrol. Hal ini dikarenakan kompos
aktif Teraremed berperan dalam membantu mengembalikan kesuburan tanah dan
menggemburkannya karena mampu membangkitkan aktivitas mikro-organisme di
dalam tanah.
       Antara taraf perlakuan TRF1 dan TRF2 tidak berbeda nyata pada semua
parameter pertumbuhan tanaman Jabon (Lampiran 8-10). Taraf perlakuan TRF1
dan TRF2 tidak berbeda nyata terhadap kontrol pada parameter pertambahan
tinggi (Lampiran 8). Sementara pada parameter pertambahan diameter, taraf
perlakuan TRF1 tidak berbeda nyata terhadap kontrol, namun taraf perlakuan
TRF2 berbeda nyata terhadap kontrol (Lampiran 9). Sebaliknya pada parameter
pertambahan jumlah daun, taraf perlakuan TRF1 berbeda nyata terhadap kontrol,
sedangkan taraf perlakuan TRF2 tidak berbeda nyata terhadap kontrol
(Lampiran 10).
       Taraf perlakuan TBD1F3 dalam pemberian pupuk polimer Terabuster
terhadap tanaman Jabon di lapangan berpengaruh nyata terhadap parameter
pertambahan tinggi dengan peningkatan sebesar 100,04% terhadap kontrol.
Sementara taraf perlakuan TBD1F1 memberikan pengaruh nyata terhadap
parameter pertambahan diameter dan pertambahan jumlah daun dengan
peningkatan terhadap kontrol masing-masing sebesar 66,25% (pertambahan
diameter) dan 140,62% (pertambahan jumlah daun).
       Taraf perlakuan TBD2F1 berpengaruh nyata terhadap parameter
pertambahan tinggi dengan peningkatan sebesar 138,02% terhadap kontrol.
Begitupula taraf perlakuan TBD2F1 dan TBD2F3 memberikan pengaruh nyata
terhadap parameter pertambahan diameter dengan peningkatan yang sama besar
nilainya, yaitu 37,50% terhadap kontrol.
                                                                            30



        Selain itu, taraf perlakuan TBD2F3 berpengaruh nyata terhadap parameter
pertambahan jumlah daun tanaman Jabon dengan peningkatan sebesar 243,74%
terhadap kontrol. Sementara taraf perlakuan TBD3F1 memberikan pengaruh nyata
terhadap semua parameter pertumbuhan tanaman Jabon dengan peningkatan
terhadap kontrol masing-masing sebesar 24,08% (pertambahan tinggi), 57,92%
(pertambahan diameter) dan 168,74% (pertambahan jumlah daun).
       Pemberian pupuk polimer Terabuster pada frekuensi seminggu sekali baik
pada dosis 1 L/1000 L air, 1L/500 L air dan 1L/250 L air memberikan pengaruh
positif terhadap kontrol. Hal ini menunjukkan bahwasannya pemberian pupuk
pada frekuensi tersebut merupakan frekuensi yang sesuai pada berbagai dosis
dalam pemberian pupuk polimer Terabuster.
       Oleh karena itu, taraf perlakuan TBD2F3 memiliki pengaruh yang lebih
baik dibandingkan dengan kontrol. Hal ini dikarenakan pada jenis pupuk polimer
Terabuster dengan dosis 1L/500 L air dengan frekuensi tiga minggu sekali
memiliki dosis dan frekuensi yang sesuai dengan pertambahan jumlah daun
tanaman Jabon di lapangan. Pupuk polimer Terabuster berperan sebagai penyedia
unsur hara dalam bentuk yang langsung dapat diserap tanaman, merangsang
pertumbuhan dan peningkatan produksi tanaman serta meningkatkan kemampuan
fotosintesa tanaman sehingga pertumbuhan tanaman menjadi optimal.
       Manfaat dari penggunaan pupuk polimer Terabuster adalah pupuk ini
mengandung NPK, magnesium, kalsium, dan chelated micronutrients. Pupuk
polimer Terabuster memiliki kemampuan larut sangat tinggi dan sempurna. Oleh
karena itu pupuk ini mudah diserap oleh tanaman dan sudah dalam bentuk polimer
sehingga tidah tercuci oleh curahan air hujan.
       Antara taraf perlakuan TBD1F1, TBD1F3, TBD2F1, TBD2F3 dan
TBD3F1 tidak berbeda nyata pada semua parameter pertumbuhan tanaman Jabon
(Lampiran 8-10). Pada parameter pertambahan tinggi, taraf perlakuan TBD1F1,
TBD2F3 dan TBD3F1 tidak berbeda nyata terhadap kontrol, namun taraf
perlakuan TBD1F3 dan TBD2F1 berbeda nyata terhadap kontrol (Lampiran 8).
Selanjutnya pada parameter pertambahan diameter, taraf perlakuan TBD2F1 dan
TBD2F3 tidak berbeda nyata terhadap kontrol, akan tetapi taraf perlakuan
TBD1F1, TBD1F3 dan TBD3F1 berbeda nyata terhadap kontrol (Lampiran 9).
                                                                                   31



Sementara taraf perlakuan TBD1F1, TBD1F3 dan TBD2F1 tidak berbeda nyata
terhadap kontrol, sedangkan taraf perlakuan TBD2F3 dan TBD3F1 berbeda nyata
terhadap kontrol pada parameter pertambahan jumlah daun (Lampiran 10).
         Pada taraf perlakuan TBD2F2, TBD3F2 dan TBD3F3 memberikan
pengaruh tidak nyata terhadap parameter pertambahan diameter tanaman Jabon
dimana masing-masing memberikan penurunan sebesar sebesar 0%, 2,08% dan
3,54% terhadap kontrol. Hal tersebut diduga karena terlalu tinggi konsentrasi
pupuk polimer Terabuster yang diberikan ke tanaman, sehingga menjadi tidak
efektif penggunaannya untuk pertumbuhan diameter tanaman Jabon di lapangan.
Antara taraf perlakuan TBD2F2, TBD3F2 dan TBD3F3 tidak berbeda nyata
terhadap kontrol (Lampiran 9).
         Pada umumnya terlihat bahwa kombinasi pupuk polimer Terabuster dan
kompos aktif Teraremed memberikan pengaruh yang lebih baik pada semua
parameter pertumbuhan tanaman Jabon di lapangan. Taraf perlakuan TRTBD1F3
memberikan pengaruh nyata dengan peningkatan terhadap kontrol masing-masing
sebesar 160,81% (pertambahan tinggi), 73,96% (pertambahan diameter) dan
231,24% (pertambahan jumlah daun).
         Begitupula pada taraf perlakuan TRTBD2F3 memberikan pengaruh nyata
dengan     peningkatan      terhadap   kontrol   masing-masing   sebesar      132,93%
(pertambahan     tinggi),     80,42%    (pertambahan    diameter)     dan     181,24%
(pertambahan jumlah daun).
         Sementara taraf perlakuan TRTBD3F3 juga memberikan pengaruh nyata
dengan     peningkatan      terhadap   kontrol   masing-masing      sebesar   16,48%
(pertambahan     tinggi),     67,08%    (pertambahan    diameter)     dan     184,36%
(pertambahan jumlah daun). Oleh karena itu, kombinasi kompos aktif Teraremed
(1000 gr/lubang) dengan pupuk polimer Terabuster pada frekuensi tiga minggu
sekali baik pada dosis 1 L/1000 L air, 1L/500 L air dan 1L/250 L air memberikan
pengaruh yang lebih baik terhadap kontrol.
         Antara taraf perlakuan TRTBD1F3, TRTBD2F3 dan TRTBD3F3 tidak
berbeda nyata pada semua parameter pertumbuhan tanaman Jabon (Lampiran 8-
10). Pada parameter pertambahan tinggi, taraf perlakuan TRTBD3F3 berbeda
nyata terhadap kontrol, namun taraf perlakuan TRTBD1F3 dan TRTBD2F3 tidak
                                                                              32



berbeda nyata terhadap kontrol pada parameter pertambahan tinggi (Lampiran 8).
Sementara taraf perlakuan TRTBD1F3, TRTBD2F3 dan TRTBD3F3 berbeda
nyata terhadap kontrol pada parameter pertambahan diameter dan jumlah daun
(Lampiran 9-10).
       Taraf perlakuan TRTBD1F3 memiliki pengaruh yang lebih baik
dibandingkan dengan kontrol pada pertambahan tinggi tanaman Jabon. Sedangkan
taraf perlakuan TRTBD2F3 memiliki pengaruh yang lebih baik dibandingkan
dengan kontrol pada pertambahan diameter tanaman Jabon. Pupuk polimer
Terabuster dan kompos aktif Teraremed merupakan kombinasi yang sesuai untuk
pertumbuhan tanaman Jabon di lapangan. Hal ini dikarenakan perananan bahan
organik yang terkandung dalam pupuk polimer Terabuster maupun kompos aktif
Teraremed.
       Peranan bahan organik yang terkandung dalam kompos aktif Teraremed
dapat mempengaruhi terhadap sifat fisik dan biologi tanah. Karena pupuk ini dapat
mengembalikan      kesuburan    tanah,    menggemburkannya       serta   mampu
membangkitkan aktivitas mikro-organisme di dalam tanah. Perbaikan sifat fisik
tanah berpengaruh terhadap struktur tanah, granulasi, mengurangi pemadatan,
memperbaiki aerasi, meningkatkan kemampuan menahan air dan meningkatkan
infiltrasi. Sehingga tanah sebagai media tumbuh tanaman dapat menyebabkan
pertumbuhan dan perkembangan sistem perakaran yang baik.
       Dengan terciptanya sistem perakaran yang baik, maka tanaman dapat
melakukan fotosintesis dengan lancar, tanaman dapat mengambil unsur hara
sebagai nutrisi dengan mudah, tanaman dapat menyimpan air dengan baik dan
tanaman mendapatkan udara yang cukup. Sedangkan perbaikan sifat biologi tanah
berpengaruh sebagai sumber energi bagi aktifitas mikroorgansime tanah.
       Pupuk polimer Terabuster dapat mempengaruhi terhadap sifat kimia tanah,
yaitu sebagai penyedia unsur hara dalam bentuk stabil yang langsung dapat
diserap oleh tanaman. Perbaikan sifat kimia tanah berpengaruh terhadap penyedia
unsur hara, mengikat unsur mikro dan meningkatkan KTK (kapasitas tukar
kation). Oleh sebab itu, pemberian kombinasi kompos aktif Teraremed dengan
pupuk polimer Terabuster dapat mempengaruhi sifat fisik, kimia dan biologi tanah
sehingga pertumbuhan tanaman Jabon di lapangan dapat meningkat.
                                                                                33



       Secara keseluruhan, taraf perlakuan TRTBD1F3 memberikan pengaruh
yang lebih baik pada parameter pertambahan tinggi dengan peningkatan sebesar
160,81% terhadap kontrol. Sementara pada parameter pertambahan diameter, taraf
perlakuan TRTBD2F3 memberikan peningkatan sebesar 80,42% terhadap kontrol.
Sedangkan pada parameter pertambahan jumlah daun, taraf perlakuan TBD2F3
memberikan peningkatan sebesar 243,74% terhadap kontrol.
       Menurut Hardjowigeno (1987), nitrogen dapat meningkatkan pertumbuhan
di atas tanah dan memberikan warna hijau pada daun. Nitrogen juga berperan
dalam penyusun klorofil daun, protein dan lemak. Adapun peranan phosfor yang
utama bagi tanaman adalah dalam proses fotosintesis, perubahan karbohidrat,
glikolisis, metabolisme asam amino dan transfer energi.
       Sedangkan peranan kalium untuk pertumbuhan adalah dapat membantu
memperlancar proses fotosintesis, respirasi, menguatkan batang dan memberi
ketahanan terhadap penyakit. Peranan kalium adalah membantu dalam
pembentukkan     karbohidrat    dan       mengeraskan    bagian   kayu    tanaman,
mempengaruhi     proses    fotosintesa,     penyerapan    unsur-unsur    lain   dan
perkembangan akar.
       Sementara fungsi khusus dari besi adalah mengaktifkan berbagai sistem
enzim (Soepardi 1983). Dengan demikian unsur hara yang terkandung dalam
pupuk polimer Terabuster dan kompos aktif Teraremed sangat membantu dalam
penyusun klorofil daun (memberikan warna hijau pada daun), pembentukkan
karbohidrat, mengeraskan bagian kayu tanaman, meningkatkan proses fotosintesa,
meningkatkan penyerapan unsur-unsur lain dan memberikan ketahanan terhadap
penyakit. Sehingga pupuk polimer Terabuster dan kompos aktif Teraremed
berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tinggi, diameter dan jumlah daun
tanaman Jabon di lapangan.
       Pada pengamatan dalam penelitian ini, ditemukan hama dan penyakit yang
menyerang tanaman Jabon muda (umur ± 3-4 bulan). Hama serangga yang
menyerang tanaman Jabon muda, diantaranya adalah ulat bertanduk, penggerek
batang, belalang dan kumbang. Hama ini mengakibatkan robeknya daun tanaman
Jabon muda sebagian dan patahnya cabang akibat digerek oleh penggerek batang.
Sedangkan penyakit yang menyerang tanaman Jabon muda diduga adalah jamur
                                                                             34



yang mengakibatkan matinya pucuk satu tanaman Jabon secara keseluruhan. Oleh
sebab itu, dilakukan pemeliharaan tanaman Jabon terhadap gangguan hama atau
penyakit dengan penyemprotan insektisida Decis dengan dosis 0,25-0.5 ml/liter.
       Untuk mengetahui lebih jelas keterangan tabel rekapitulasi beda perlakuan
pada hasil uji lanjut Duncan, gambar : pertambahan tinggi, pertambahan diameter,
pertambahan jumlah daun dan lain-lain (hama dan penyakit), dapat dilihat pada
lampiran 8-14.
                                                                             35



                                    BAB V
                      KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
         Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwasannya
pemberian pupuk kompos aktif Teraremed 1000 gr/lubang dengan frekuensi dua
minggu sekali dapat meningkatkan pertambahan tinggi dan diameter sebesar
88,64% dan 63,96% terhadap kontrol. Pemberian pupuk polimer Terabuster
1L/500 L air dengan frekuensi tiga minggu sekali dapat meningkatkan
pertambahan jumlah daun sebesar 243,74% terhadap kontrol.
         Sementara kombinasi pemberian kompos aktif Teraremed 1000 gr/lubang
dengan pupuk polimer Terabuster 1L/1000 L air dengan frekuensi tiga minggu
sekali dapat meningkatkan pertambahan tinggi dan jumlah daun sebesar 160,81%
dan 231,24% terhadap kontrol. Pupuk polimer Terabuster dengan kompos aktif
Teraremed merupakan kombinasi yang terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan
tanaman Jabon di lapangan. Hal ini dikarenakan peranan bahan organik yang
terkandung dalam pupuk tersebut dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi
tanah.


5.2 Saran
1. Agar aplikasi pemupukan dapat lebih efektif sebaiknya dilakukan analisis
   tanah sebelum dilakukan penelitian.
2. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap
   pertambahan panjang akar tanaman Jabon di lapangan.
                                                                               36



                           DAFTAR PUSTAKA

Epstein E. 1972. Nutrition of Plant Principles and Perspectives. Wiley
       International Edition, New York.

Hakim N, Nyakpa MY, Lubis AM, Nugroho SG, Diha MA, Hong GB, Bailey
      HH. 1986. Diktat Dasar-dasar Ilmu Tanah. Lampung: Universitas
      Lampung.

Hardjowigeno. 1987. Ilmu Tanah. PT Medyatama Sarana Perkasa. Jakarta.

Hariangbanga G. 2009. Green Earth Product. Bogor: Green Earth Trainer.

Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid I. Jakarta: Yayasan Sarana
      Wana Jaya.

Lembaga Biologi Nasional LIPI. 1980. Kayu Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Manan S. 1998. Hutan, Rimbawan, dan Masyarakat. Bogor: IPB Press.

Marsono, Sigit P. 2002. Pupuk Akar Jenis & Aplikasi. Jakarta: Penebar Swadaya.

Martawijaya A, Kartasujana, Kadir K, Prawira SA. 1981. Atlas Kayu Indonesia.
      Jilid II. Bogor: Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan.

Mulyana D. 2000. Pengaruh pemberian pupuk NPK dan pupuk kandang terhadap
      pertumbuhan pohon damar (Agathis loranthifolia) di taman hutan
      cikabayan. [Skripsi]. Fakultas Kehutanan. Bogor: IPB.

Pratiwi. 2003. Prospek pohon jabon untuk pengembangan hutan tanaman. Buletin
       Badan Litbang Kehutanan. Vol. 4 No. 1, Th. 2003:61-66.

Setiadi Y. 2009. Reclamation & Forest Land Rehabilitation After Mining And Oil/
        Gas Operation. Bogor: Green Earth Trainer.

Soepardi G. 1983. Sifat dan ciri Tanah. Bogor: IPB Press.

Soerianegara I, Lemmens. 1994. Plant Resources of South-East Asia 5. Bogor:
       Prosea.

Sutisna U, Kalima T, Purnadjaja. 1998. Training Manual Pedoman Pengenalan
       Pohon Hutan di Indonesia. Bogor: Prosea.

Team Fakultas Kehutanan. 1975. Potensi Produksi Benih Berbagai Jenis Pohon
      Untuk Reboisasi di Indonesia. Bogor: Prosea.
           37




LAMPIRAN
                                                                            38



Lampiran 1 Hasil pengukuran pertambahan tinggi tanaman Jabon (ΔT)

  Perlakuan       ΔI        ΔII      ΔIII       ΔIV        ΔV        ΔVI
     K2            1          4         5         7        30         34
     K5            4          6         8         8        27         33
     K6            2          9        11        12        22         37
   Rata-rata     2,33       6,33      8,00      9,00      26,33     34,78
   TBD1F1          0          6        12        25        38         51
   TBD1F1          3          4         5         9        32         42
   TBD1F1         12         14        19        27        49         62
   Rata-rata     5,00       8,00     12,00     20,33      39,67     51,67
   TBD1F2          8         11        13        15        15         22
   TBD1F2          0          1         6        12        52         56
   TBD1F2          4          8        14        15        55         69
   Rata-rata     4,00       6,67     11,00     14,00      40,67     49,00
   TBD1F3          7         12        13        15        42         52
   TBD1F3          1          5        20        38        62         82
   TBD1F3          4          9        10        21        54         81
   Rata-rata     4,00       8,67     14,33     24,67      52,67     71,78
   TBD2F1          5          5         7        19        51         70
   TBD2F1          3          9        13        28        58         78
   TBD2F1          7         14        20        27        79        101
   Rata-rata     5,00       9,33     13,33     24,67      62,67     82,89
   TBD2F2          3          6        10        10        25         27
   TBD2F2         20         20        24        39        51         65
   TBD2F2          3          4         6         8        30         32
   Rata-rata     8,67      10,00     13,33     19,00      35,33     41,33
   TBD2F3          2          5         9        14        33         36
   TBD2F3          2          8        10        25        48         66
   TBD2F3          7          7        19        20        58         71
   Rata-rata     3,67       6,67     12,67     19,67      46,33     57,67
   TBD3F1          2          5         6        13        37         50
   TBD3F1          2          5         5         8        28         37
   TBD3F1          8          8        19        31        33         42
   Rata-rata     4,00       6,00     10,00     17,33      32,67     42,67
   TBD3F2          6         10        10        18        32         42
   TBD3F2          2          5         7        15        28         38
   TBD3F2          2          6         6        12        29         32
   Rata-rata     3,33       7,00      7,67     15,00      29,67     37,22
   TBD3F3          0          3        10        16        36         47
   TBD3F3          8         10        12        30        32         45
   TBD3F3          8          8         8         9        19         23
   Rata-rata     5,33       7,00     10,00     18,33      29,00     38,11
    TRF1           6          7         9        14        28         36
    TRF1           2          8        10        13        36         46
    TRF1           9         12        14        21        42         54
   Rata-rata     5,67       9,00     11,00     16,00      35,33     45,11
    TRF2           6          9        22        30        52         56
                                                            39


  TRF2        10      13      13     26      55      73
  TRF2         8       8      13     15      42      50
 Rata-rata   8,00   10,00   16,00   23,67   49,67   59,89
  TRF3         1       1      17     40      40      85
  TRF3        11      12      16     28      38      49
  TRF3         5       5       8     13      21      29
 Rata-rata   5,67    6,00   13,67   27,00   33,00   54,44
TRTBD1F1       2       8      20     24      63      79
TRTBD1F1       6      14      15     17      60      76
TRTBD1F1       2       6       9     19      32      41
 Rata-rata   3,33    9,33   14,67   20,00   51,67   65,11
TRTBD1F2       1       5       8     14      58      77
TRTBD1F2       4       5       9      9      35      44
TRTBD1F2       4       5       8     31      42      61
 Rata-rata   3,00    5,00    8,33   18,00   45,00   60,44
TRTBD1F3       8      11      12     18      61      79
TRTBD1F3       4       5       5     25      65      92
TRTBD1F3       2       9      20     22      80      101
 Rata-rata   4,67    8,33   12,33   21,67   68,67   90,56
TRTBD2F1       5       8      17     21      49      61
TRTBD2F1       2       2       4     15      30      42
TRTBD2F1       9      13      30     33      62      74
 Rata-rata   5,33    7,67   17,00   23,00   47,00   59,00
TRTBD2F2       5       8      10     13      50      64
TRTBD2F2       2       4       4     13      33      46
TRTBD2F2       1       8      11     16      40      51
 Rata-rata   2,67    6,67    8,33   14,00   41,00   53,78
TRTBD2F3       8      10      15     16      73      93
TRTBD2F3       5      10      13     33      80      109
TRTBD2F3       4       6       9     11      31      39
 Rata-rata   5,67    8,67   12,33   20,00   61,33   80,22
TRTBD3F1      15      17      18     34      38      50
TRTBD3F1       2       7       9     20      29      33
TRTBD3F1       4       7       7     10      17      21
 Rata-rata   7,00   10,33   11,33   21,33   28,00   34,78
TRTBD3F2       1       8       9     12      23      29
TRTBD3F2       0       5      13     21      28      36
TRTBD3F2       1      12      14     15      36      44
 Rata-rata   0,67    8,33   12,00   16,00   29,00   36,00
TRTBD3F3       1       2       7     12      22      29
TRTBD3F3       1       2       2     10      27      37
TRTBD3F3      12      19      20     23      43      64
 Rata-rata   4,67    7,67    9,67   15,00   30,67   43,22
                                                                             40



Lampiran 2 Hasil pengukuran pertambahan diameter tanaman Jabon (ΔD)

  Perlakuan      ΔI        ΔII       ΔIII      ΔIV       ΔV           ΔVI
     K2           0         0,1       0,9       1,1       1,6          2,1
     K5          0,1        0,3       0,6       1,1       1,6          2,1
     K6          0,1        0,1        1        1,1       1,6          2,1
   Rata-rata    0,07       0,17      0,83      1,10      1,60         2,10
   TBD1F1       0,18       0,48      1,18      1,18      2,68          3,2
   TBD1F1        0,1        0,4       1,2       2,1       2,8          3,6
   TBD1F1         0         0,3       1,3       1,8       2,5          3,1
   Rata-rata    0,09       0,39      1,23      1,69      2,66         3,29
   TBD1F2        0,1        0,3       0,8       1,5       1,5          1,8
   TBD1F2        0,1        0,2       0,9       1,7       2,2          2,2
   TBD1F2        0,1        0,1       0,5        1        2,1          2,8
   Rata-rata    0,10       0,20      0,73      1,40      1,93         2,27
   TBD1F3        0,1        0,3       0,7        1        2,2          2,8
   TBD1F3       0,25       0,35      0,95      2,05      3,05          4,1
   TBD1F3        0,1        0,5       0,9       1,6       2,6          2,8
   Rata-rata    0,15       0,38      0,85      1,55      2,62         3,24
   TBD2F1         0         0,1       0,4       0,9       1,1          1,5
   TBD2F1         0         0,2       0,7       1,4       2,9          3,9
   TBD2F1        0,1        0,3       1,3       1,6       2,6          3,1
   Rata-rata    0,03       0,20      0,80      1,30      2,20         2,83
   TBD2F2        0,1        0,2       0,9       1,2       1,5          1,7
   TBD2F2        0,1        0,3       1,1       1,1       1,6          2,1
   TBD2F2        0,1        0,1       0,7        1        1,7          2,0
   Rata-rata    0,10       0,20      0,90      1,10      1,60         1,93
   TBD2F3        0,1        0,3       0,7       1,1       2,1          2,7
   TBD2F3        0,1        0,4        1        1,5       2,5          3,2
   TBD2F3        0,1        0,2       0,8        1         2           2,5
   Rata-rata    0,10       0,30      0,83      1,20      2,20         2,78
   TBD3F1        0,1        0,4        1        1,5       2,5          2,9
   TBD3F1        0,1        0,2        1        1,6       2,5          3,2
   TBD3F1       0,18       0,68      1,58      1,58      2,58          2,9
   Rata-rata    0,13       0,43      1,19      1,56      2,53         3,00
   TBD3F2        0,1        0,2        1        1,1       1,5          2,2
   TBD3F2         0         0,1       0,9       0,9       1,5          2,0
   TBD3F2        0,1        0,2       0,7        1        1,7          2,1
   Rata-rata    0,07       0,17      0,87      1,00      1,57         2,10
   TBD3F3       0,13       0,13      0,73      1,53      1,53          2,1
   TBD3F3        0,1        0,1       0,6        1        1,6          2,1
   TBD3F3         0         0,1       0,9        1        1,5          1,9
   Rata-rata    0,08       0,11      0,74      1,18      1,54         2,02
    TRF1        0,09       0,19      0,59      0,69      1,59          2,0
    TRF1          0         0,1       0,9       1,6       2,6          3,4
    TRF1         0,1        0,2       1,6       2,2       2,6          3,1
   Rata-rata    0,06       0,16      1,03      1,50      2,26         2,83
    TRF2         0,1        0,2       0,8       1,6       2,1          2,8
                                                       41


  TRF2       0,02   0,42   1,02   1,12   3,12    3,9
  TRF2       0,25   0,35   0,75   1,65   2,65    3,6
 Rata-rata   0,12   0,32   0,86   1,46   2,62   3,41
  TRF3        0,1    0,3    1,1    1,5    2,5    3,0
  TRF3       0,13   0,33   0,73   1,13   2,13    2,7
  TRF3       0,08   0,18   0,58   1,58   2,08    2,9
 Rata-rata   0,10   0,27   0,80   1,40   2,24   2,88
TRTBD1F1      0,1    0,2    1,1    1,6    2,4    3,0
TRTBD1F1      0,1    0,2    0,5     1     2,8    3,7
TRTBD1F1     0,02   0,22   0,62   0,62   2,12    2,6
 Rata-rata   0,07   0,21   0,74   1,07   2,44   3,12
TRTBD1F2     0,28   0,28   0,88   1,18   2,18    2,7
TRTBD1F2      0,3    0,3     1      1     1,7    1,9
TRTBD1F2       0      0     0,4    0,6    1,4    1,8
 Rata-rata   0,19   0,19   0,76   0,93   1,76   2,15
TRTBD1F3      0,1    0,3    1,5    1,7     3     3,6
TRTBD1F3      0,1    0,4    1,1    1,1    2,6    3,1
TRTBD1F3     0,05   0,45   0,95   1,65   2,75    3,6
 Rata-rata   0,08   0,38   1,18   1,48   2,78   3,42
TRTBD2F1       0     0,2    0,9    1,4    2,7    3,5
TRTBD2F1     0,05   0,35   0,95   1,65   2,35    3,1
TRTBD2F1      0,1    0,5    1,3    1,5     3     3,6
 Rata-rata   0,05   0,35   1,05   1,52   2,68   3,38
TRTBD2F2      0,1    0,2    1,1    1,1    3,1    3,8
TRTBD2F2      0,1    0,2    1,1    1,6    2,6    3,3
TRTBD2F2     0,12   0,22   0,52   0,62   1,62    2,0
 Rata-rata   0,11   0,21   0,91   1,11   2,44   3,02
TRTBD2F3      0,1    0,3     1     1,5     3     3,8
TRTBD2F3     0,08   0,28   0,68   1,48   2,48    3,3
TRTBD2F3     0,08   0,48   1,18   1,58   3,18    4,0
 Rata-rata   0,09   0,35   0,95   1,52   2,89   3,72
TRTBD3F1      0,1    0,6    0,7     1     2,2    2,8
TRTBD3F1      0,1    0,5    1,6    2,3    3,1    3,8
TRTBD3F1      0,2    0,3    1,2    1,2    2,7    3,2
 Rata-rata   0,13   0,47   1,17   1,50   2,67   3,28
TRTBD3F2     0,18   0,18   0,58   0,78   2,38    3,0
TRTBD3F2       0     0,1    0,9    1,4    2,9    3,7
TRTBD3F2      0,2    0,3     1     1,6    2,6    3,3
 Rata-rata   0,13   0,19   0,83   1,26   2,63   3,37
TRTBD3F3     0,02   0,22   1,02   1,12   3,02    3,7
TRTBD3F3      0,1    0,2    0,5    1,1     2     2,7
TRTBD3F3      0,1    0,3    1,6    1,6    3,1    3,6
 Rata-rata   0,07   0,24   1,04   1,27   2,71   3,34
                                                                          42



Lampiran 3 Hasil pengukuran pertambahan jumlah daun tanaman Jabon (ΔJD)

  Perlakuan       ΔI       ΔII      ΔIII      ΔIV       ΔV         ΔVI
     K2           2         4          6        7       12          16
     K3           0         2          4        4        9          13
     K5           0         2          5        7       11          14
   Rata-rata     0,67      2,67      5,00     6,11     10,67      14,26
   TBD1F1         2         4         10       13       22          27
   TBD1F1         2         5          8       11       27          34
   TBD1F1         4         6         17       22       28          33
   Rata-rata     2,67      5,00     11,67    15,44     25,67      31,59
   TBD1F2         1         4          5        5        7          10
   TBD1F2         0         4          7        8       16          19
   TBD1F2         1         3          7       10       18          23
   Rata-rata     0,67      3,67      6,33     7,56     13,67      17,19
   TBD1F3         2         4          6        8       31          40
   TBD1F3         2         4          6        8       20          25
   TBD1F3         2         4          5       12       25          29
   Rata-rata     2,00      4,00      5,67     9,33     25,33      31,44
   TBD2F1         2         4          9       12       18          22
   TBD2F1         2         4          7        9       22          28
   TBD2F1         2         6          6       12       26          35
   Rata-rata     2,00      4,67      7,33    11,11     22,00      28,15
   TBD2F2         2         4          4        6       14          21
   TBD2F2         4         7          8       10       18          22
   TBD2F2         2         4          6        8       18          23
   Rata-rata     2,67      5,00      6,00     8,11     16,67      21,93
   TBD2F3         2         3          7        9       46          60
   TBD2F3         4         6         18       23       28          33
   TBD2F3         4         6         10       13       36          46
   Rata-rata     3,33      5,00     11,67    15,00     36,67      46,11
   TBD3F1         2         4          4        4        9          16
   TBD3F1         2         4          4        4       20          25
   TBD3F1         4         8         19       25       42          52
   Rata-rata     2,67      5,33      9,00    11,11     23,67      31,04
   TBD3F2         0         4          4        7       15          20
   TBD3F2         3         4          6        7       11          13
   TBD3F2         2         4          6        8       20          25
   Rata-rata     1,67      4,00      5,33     7,33     15,33      19,33
   TBD3F3         4         4          9       11       22          27
   TBD3F3         3         4          6        7        8          9
   TBD3F3         4         4          4        4       14          17
   Rata-rata     3,67      4,00      6,33     7,33     14,67      17,78
    TRF1          0         2          6        9       20          26
    TRF1          2         4         10       13       42          54
    TRF1          0         4          8       12       21          27
   Rata-rata     0,67      3,33      8,00    11,33     27,67      35,33
    TRF2          3         5          6        8        6          7
                                                           43


  TRF2        0      4        6       9     21      27
  TRF2        4      6        6       7     10      12
 Rata-rata   2,33   5,00    6,00    8,11   12,33   15,15
  TRF3        2      4        8      11     20      25
  TRF3        4      5        6       7     16      20
  TRF3        0      3        3       4      7      10
 Rata-rata   2,00   4,00    5,67    7,22   14,33   18,19
TRTBD1F1      0      4        6       9     24      31
TRTBD1F1      2      2        4       5     26      34
TRTBD1F1      0      3        4       8     16      21
 Rata-rata   0,67   3,00    4,67    7,33   22,00   28,56
TRTBD1F2      2      4       12      16     32      40
TRTBD1F2      4      4       10      12     26      32
TRTBD1F2      0      4        4      11     19      24
 Rata-rata   2,00   4,00    8,67   13,00   25,67   32,00
TRTBD1F3      0      6       10      15     32      41
TRTBD1F3      2      6       10      14     30      38
TRTBD1F3      2      6       18      25     44      55
 Rata-rata   1,33   6,00   12,67   18,00   35,33   44,67
TRTBD2F1      2      4       12      16     30      37
TRTBD2F1      2      4        6       8     23      29
TRTBD2F1      4      4        5       5     22      28
 Rata-rata   2,67   4,00    7,67    9,78   25,00   31,48
TRTBD2F2      1      4       12      17     33      42
TRTBD2F2      2      4        6      10     20      26
TRTBD2F2      3      7       12      16     16      19
 Rata-rata   2,00   5,00   10,00   14,33   23,00   28,78
TRTBD2F3      2      4        7       9     39      50
TRTBD2F3      6      7       19      24     36      43
TRTBD2F3      2      3       11      14     15      17
 Rata-rata   3,33   4,67   12,33   15,78   30,00   37,04
TRTBD3F1      2      2        5       6     40      52
TRTBD3F1      2      4       13      17     18      21
TRTBD3F1      0      4        9      15     26      34
 Rata-rata   1,33   3,33    9,00   12,78   28,00   35,59
TRTBD3F2      2      4        8      11     28      36
TRTBD3F2      2      2        6       7     20      25
TRTBD3F2      4      4        7       8     30      38
 Rata-rata   2,67   3,33    7,00    8,67   26,00   32,89
TRTBD3F3      4      7        9      12     29      37
TRTBD3F3      4      4        7       8     16      19
TRTBD3F3      2      7       11      16     46      59
 Rata-rata   3,33   6,00    9,00   11,78   30,33   38,37
                                                                                                                      44



Lampiran 4 Denah rancangan acak percobaan

K1                    43   TRTBD1_F2_U1       80   TRTBD2_F1_U1       65     TRTBD2_F3_U1       40   TRTBD3_F2_U1    129
K2                    15   TRTBD1_F2_U2       53   TRTBD2_F1_U2      103     TRTBD2_F3_U2       96   TRTBD3_F2_U2    128
K3                    23   TRTBD1_F2_U3       19   TRTBD2_F1_U3       84     TRTBD2_F3_U3      111   TRTBD3_F2_U3    100
K4                    35   TRTBD1_F2_U1       98   TRTBD2_F1_U1       56     TRTBD2_F3_U1      130   TRTBD3_F2_U1     81
K5                    76   TRTBD1_F2_U2       14   TRTBD2_F1_U2      124     TRTBD2_F3_U2       18   TRTBD3_F2_U2     73
K6                    31   TRTBD1_F2_U3       61   TRTBD2_F1_U3       50     TRTBD2_F3_U3      119   TRTBD3_F2_U3    105
TRTBD1_F1_U1          45   TRTBD1_F3_U1       12   TRTBD2_F2_U1       62     TRTBD3_F1_U1       77   TRTBD3_F3_U1     92
TRTBD1_F1_U2          47   TRTBD1_F3_U2       72   TRTBD2_F2_U2       37     TRTBD3_F1_U2       64   TRTBD3_F3_U2     90
TRTBD1_F1_U3          83   TRTBD1_F3_U3       41   TRTBD2_F2_U3      114     TRTBD3_F1_U3       34   TRTBD3_F3_U3     36
TRTBD1_F1_U1           2   TRTBD1_F3_U1       48   TRTBD2_F2_U1       74     TRTBD3_F1_U1       95   TRTBD3_F3_U1    125
TRTBD1_F1_U2          66   TRTBD1_F3_U2      113   TRTBD2_F2_U2      118     TRTBD3_F1_U2       13   TRTBD3_F3_U2     28
TRTBD1_F1_U3           7   TRTBD1_F3_U3      116   TRTBD2_F2_U3       82     TRTBD3_F1_U3      102   TRTBD3_F3_U3     39

TBD1_F1_U1      106   TBD1_F3_U1      42    TBD2_F2_U1     30   TBD3_F1_U1         1   TBD3_F3_U1    112   TRF2_U1   107
TBD1_F1_U2      117   TBD1_F3_U2     123    TBD2_F2_U2     88   TBD3_F1_U2        78   TBD3_F3_U2      8   TRF2_U2    91
TBD1_F1_U3      120   TBD1_F3_U3      11    TBD2_F2_U3     26   TBD3_F1_U3        89   TBD3_F3_U3     97   TRF2_U3    38
TBD1_F1_U1       93   TBD1_F3_U1     127    TBD2_F2_U1     27   TBD3_F1_U1        25   TBD3_F3_U1    131   TRF2_U1     5
TBD1_F1_U2      104   TBD1_F3_U2     122    TBD2_F2_U2      9   TBD3_F1_U2        32   TBD3_F3_U2     99   TRF2_U2   126
TBD1_F1_U3       52   TBD1_F3_U3      22    TBD2_F2_U3     46   TBD3_F1_U3        79   TBD3_F3_U3     16   TRF2_U3   108
TBD1_F2_U1       49   TBD2_F1_U1      63    TBD2_F3_U1     17   TBD3_F2_U1        10   TRF1_U1        69   TRF3_U1    29
TBD1_F2_U2       20   TBD2_F1_U2      71    TBD2_F3_U2    121   TBD3_F2_U2         4   TRF1_U2        86   TRF3_U2    85
TBD1_F2_U3       94   TBD2_F1_U3     132    TBD2_F3_U3     58   TBD3_F2_U3        70   TRF1_U3        54   TRF3_U3     6
TBD1_F2_U1        3   TBD2_F1_U1      60    TBD2_F3_U1    110   TBD3_F2_U1        67   TRF1_U1       101   TRF3_U1    57
TBD1_F2_U2       24   TBD2_F1_U2      44    TBD2_F3_U2     68   TBD3_F2_U2        75   TRF1_U2        51   TRF3_U2   115
TBD1_F2_U3       59   TBD2_F1_U3      33    TBD2_F3_U3     87   TBD3_F2_U3        21   TRF1_U3        55   TRF3_U3   109
                                                                                                45




Lampiran 5 Sidik ragam pada pengaruh perlakuan terhadap pertambahan tinggi tanaman Jabon
  Sumber         Db      Jumlah Kuadrat      Kuadrat Tengah           Fhit           P-value
 Perlakuan       21        945.775.758         45.036.941             2.92           0.0014
   Galat         44        679.600.000         15.445.455
   Total         65       1.625.375.758

Lampiran 6 Sidik ragam pada pengaruh perlakuan terhadap pertambahan diameter tanaman Jabon
  Sumber         Db      Jumlah Kuadrat      Kuadrat Tengah           Fhit           P-value
 Perlakuan       21       1.212.711.667       0.57748175              3.31           0.0004
   Galat         44        766.793.333        0.17427121
   Total         65       1.979.505.000

Lampiran 7 Sidik ragam pada pengaruh perlakuan terhadap pertambahan jumlah daun tanaman Jabon
  Sumber         Db      Jumlah Kuadrat      Kuadrat Tengah           Fhit           P-value
 Perlakuan       21       3.453.772.727       164.465.368             2.55           0.0045
   Galat         44       2.842.000.000        64.590.909
   Total         65       6.295.772.727
                                                                                                                 46



Lampiran 8 Rekapitulasi beda perlakuan pada hasil uji lanjut Duncan terhadap parameter pertambahan tinggi (ΔT)

Beda Perlakuan                                                  Taraf Perlakuan
A                                                                TRTBD1F3
AB                                                            TBD2F1,TRTBD2F3
ABC                                                           TBD1F3, TRTBD1F1
ABCD                                                  TRF2, TBD2F3, TRTBD1F2, TRTBD2F1
ABCDE                                                                  -
ABCDEF                                                                 -
BCD                                                      TBD1F1, TBD1F2, TRTBD2F2
BCDEF                                                                  -
CD                               TRF1, TRF3, TBD2F2, TBD3F1, TBD3F2, TBD3F3, TRTBD3F1, TRTBD3F2, TRTBD3F3
CDEF                                                                   -
D                                                                 KONTROL
DEF                                                                    -
EF                                                                     -
F                                                                      -
Keterangan :
ΔT : pertambahan tinggi                    F1 : Frekuensi seminggu sekali
ΔD : pertambahan diameter                  F2 : Frekuensi dua minggu sekali
ΔJD : pertambahan jumlah daun              F3 : Frekuensi tiga minggu sekali
TR : Teraremed (1000 gr/lubang)            TBD2 : Terabuster Dosis 1L/500 L air
TBD1 : Terabuster Dosis 1L/1000 L air      TBD3 : Terabuster Dosis 1L/250 L air
                                                                                                                   47



Lampiran 9 Rekapitulasi beda perlakuan pada hasil uji lanjut Duncan terhadap parameter pertambahan diameter (ΔD)

Beda Perlakuan                                                   Taraf Perlakuan
A                                                             TRTBD1F3,TRTBD2F3
AB                                      TRF2, TBD1F1, TBD1F3, TRTBD2F1, TRTBD3F1, TRTBD3F2, TRTBD3F3
ABC                                                      TBD3F1, TRTBD1F1, TRTBD2F2
ABCD                                                      TRF1, TRF3, TBD2F1, TBD2F3
ABCDE                                                                   -
ABCDEF                                                                  -
BCD                                                                 TBD1F2
BCDEF                                                                   -
CD                                                                TRTBD1F2
CDEF                                                                    -
D                                                      KONTROL, TBD2F2, TBD3F2, TBD3F3
DEF                                                                     -
EF                                                                      -
F                                                                       -
Keterangan :
ΔT : pertambahan tinggi                     F1 : Frekuensi seminggu sekali
ΔD : pertambahan diameter                   F2 : Frekuensi dua minggu sekali
ΔJD : pertambahan jumlah daun               F3 : Frekuensi tiga minggu sekali
TR : Teraremed (1000 gr/lubang)             TBD2 : Terabuster Dosis 1L/500 L air
TBD1 : Terabuster Dosis 1L/1000 L air       TBD3 : Terabuster Dosis 1L/250 L air
                                                                                                                        48



Lampiran 10 Rekapitulasi beda perlakuan pada hasil uji lanjut Duncan terhadap parameter pertambahan jumlah daun (ΔJD)

Beda Perlakuan                                               Taraf Perlakuan
A                                                          TRTBD1F3,TBD2F3
AB                                                             TRTBD3F3
ABC                                                            TRTBD2F3
ABCD                                                             TBD3F1
ABCDE                                                       TRF1, TRTBD3F1
ABCDEF                         TBD1F1, TBD1F3, TBD2F1, TRTBD1F1, TRTBD1F2, TRTBD2F1, TRTBD2F2, TRTBD3F2
BCD                                                                 -
BCDEF                                                    TBD2F2, TBD3F2, TBD3F3
CD                                                                  -
CDEF                                                              TRF3
D                                                                   -
DEF                                                              TBD1F2
EF                                                                TRF2
F                                                              KONTROL
Keterangan :
ΔT : pertambahan tinggi                   F1 : Frekuensi seminggu sekali
ΔD : pertambahan diameter                 F2 : Frekuensi dua minggu sekali
ΔJD : pertambahan jumlah daun             F3 : Frekuensi tiga minggu sekali
TR : Teraremed (1000 gr/lubang)           TBD2 : Terabuster Dosis 1L/500 L air
TBD1 : Terabuster Dosis 1L/1000 L air     TBD3 : Terabuster Dosis 1L/250 L air
                                                                                                49



Lampiran 11. Foto-foto pertambahan tinggi




                                         1                                                  2


Gambar 1. Tinggi rata-rata ± 73 cm (Januari’10) Gambar 2. Tinggi rata-rata ± 100 cm (Maret’10)


Lampiran 12. Foto-foto pertambahan diameter




                                   3                                                    4

Gambar 3. Diameter rata-rata ± 3,2 cm (April’10) Gambar 4. Diameter rata-rata ± 4 cm (Mei’10)

Lampiran 13. Foto-foto pertambahan jumlah daun




                                         5                                                  6


Gambar 5. ∑ daun rata-rata ± 6 helai (Januari’10)Gambar 6. ∑ daun rata-rata ± 20 helai (Maret’10)
                                                                                             50



Lampiran 14. Foto-foto dan lain-lain (hama dan penyakit)




                                       7                                                     8

Gambar 7. Ulat bertanduk pada daun (Maret’10)   Gambar 8. Penggerek batang (April’10)




                                            9                                           10

Gambar 9. Hama belalang pada batang (Maret’10) Gambar 10. Hama kepik pada daun (April’10)




                                       11                                               12

Gambar 11. Tanda serangan hama (Maret’10)       Gambar 12. Tanda serangan penyakit (April’10)

								
To top