Docstoc

CONTOH TUGAS AKHIR BAHASA DAN SENI - SASTRA JAWA

Document Sample
CONTOH TUGAS AKHIR BAHASA DAN SENI - SASTRA JAWA Powered By Docstoc
					 CONTOH TUGAS AKHIR BAHASA DAN SENI

               SASTRA JAWA

  TUGAS SEJARAH SASTRA JAWA

 SEJARAH KABUPATEN BANYUMAS



       Dosen Pengampu: ………




         LOGO KAMPUS




           Disusun oleh:




   FAKULTAS BAHASA DAN SENI

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA JAWA

     UNIVERSITAS …………..

           …………….
                                          BAB I

                                  PENDAHULUAN



A. Latar Belakang sejarah



   Setelah Perang Diponegoro berakhir (1825-1830), daerah Banyumas dan Kedu

(Bagelen) terlepas dari Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta dan berada

langsung di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Jenderal De Kock mengunjungi

banyumas pada bulan November 1831 dan dengan keputusan Gubernur Jenderal Van

Den Bosch tertanggal 18 desember 1831 dibentuklah karisedenan Banyumas yang terdiri

dari lima kabupaten, yaitu: Banyumas, Adirejo, dan Purworejo. Klampok. Sedangkan

Kabupaten ajibarang terdiri dari tiga distrik, yaitu: Ajibarang, Jambu (sekarang

Jatilawang) dan Purwokerto.

   Karena bencana angin topan selama 40 hari yang melanda Kabupaten Ajibarang pada

tahun 1832, maka ibu kota Kabupaten Ajibarang pada tanggal 6 Oktober 1832

dipindahkan ke desa Paguwon, distrik Purwokerto.

   Buapti Ajibarang pada masa itu adalah Adipati Aryo Mertadireja II yang dapat di

sebut juga sebagai bupati Purwokerto I.

   Rumah Kabupaten Banyumas dan kota Banyumas konon didirikan pada tahun 1582

oleh Kyai Adipati Warga-utomo II yang dapat disebut sebagai bupati banyumas I dan di

kenal pula dengan sebutan Kyai Adipati Mrapat. Adipati Yudoneoro II (Bupati banyumas

VII) memindahkan Kabupaten banyumas agak sebelah timur dengan membangun rumah

kabupaten berikut pendoponya yang terkenal dengan nama “Si Panji”
   Pada tanggal 21 s.d 23 Februari 1861 kota Banyumas di landa banjir hebat (blabur

banyumas) karena meluapnya sungai serayu.

   Sebagian pengungsi berusaha menyelamatkan diri dengan naik ke atas pendopo “si

Panji” dan ketika air bah telah surut, pendopo ini tidak mengalami kerusakan atau

perubahan sedikit pun pada keempat tiangnya (soko guru). Bupati Banyumas pada masa

itu adalah Raden Adipati Cokronegoro I yang menjabat sejak tahun 1831.

   Dengan wafatnya Adipati Aryo Mertadireja II, jabatan Bupati Purwokerto dipegang

oleh Adipati Aryo mertadireja III (kemudian menjabat sebagai bupati Banyumas dari

tahun 1879-1913), disusul oleh Raden Tumenggung Cokronegoro (1879-1882), raden

Cokrokusumo (1885-1905) dan raden Tumenggung Cokronegoro III (1905-1936).

Dengan berakhirnya masa jabatan bupai Purwokerto ini maka Kabupaten Purwokerto

dihapuskan dan digabung dengan Kabupaten banyumas dengan ibu kota di Purwokerto

yang juga telah menjadi ibu kota Karesidenan Banyumas.

   Atas prakarya Adipati Aryo Sujiman Gandasubrata (Bupati Banyumas XX), Pendopo

“ Si Panji” pada bulan Januari 1937 dipindahkan dari bnayumas ke Purwokerto. Pada

tanggal 5 maret 1937 beliau meninggalkan kota Banyumas dan mendiami kabupaten

Banyumas di Purwokerto hingga tahun 1949.

   Dengan Undang-Undang no 13 tahun 1950 tentang pemerintahan daerah kabupaten

dalam Lingkngan Propinsi Jawa tengah, daerah Kabupaten Banyumas termasuk yang

dibentuk sebagai daerah kabupaten yang berhak mengatur dan mengurus rumah

tangganya sendiri, sebagi dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948.
B. Kajian teori

       Sebagai Gambaran umum, Kabupaten Daerah tingkat II Banyumas memiliki

wilayah seluas 132.759,56 ha yang terbagi menjadi enam wilayah pembantu Bupati dan

satu wilayah kota administrative. Kabupaten Banyumas juga memiliki 27 wilayah

kecamatan, 296 desa dan 30 kelurahan. Secara administrative daerah Kabupaten

Banyumas ini di batasi:

1)     Sebelah utara, Kabupaten Dati II Tegal dan Pemalang

2)     Sebelah selatan, Kabupaten Dati II Cilacap

3)     Sebelah barat, Kabupaten Dati II Cilacap dan Brabes

4)     Sebelah timur, Kabupaten Dati II Purbalingga dan Banjarnegara serta Kebumen.



       Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah yang beberapa kali mengalami

pergantian itu tidak banyak mempengaruhi pembagian wilayah (kecamatan dan desa)

dalam Kabupaten Banyumas.

       Kota Purwokerto sebagai tempat kedudukan pembantu Gubernur Jawa Tengah

untuk Wilayah Banyumas dan ibu kota Kabupaten Banyumas terus mengalami

pertumbuhan karena sekitarnya berupa lahan pertanian yang subur.

       Kepindahan ibu kota kabupaten Ajibarang ke Paguwon (Purwokerto) dan di

gabungkannya Kabupaten Purwokerto dalam Kabupaten Banyumas dengan Purwokerto

sebagai ibu kotanya, meskipun berlatar belakang bencana alam, nampaknya bukanlah

tanpa perhitungan. Mungkin benar dengan ramalan sesepuh Banyumas bahwa kelak di

kemudian hari Purwokerto yang semula kecil itu akan menjadi kota yang berperan.
       Tentang sejarah Banyumas yang autentik memang harus perlu diteliti untuk

mendekati kebenaran. Karena yang ada hingga kini hanya merupakan catatan yang

merupakan himpunan berasal dari cerita rakyat sehingga sebenarnya masih memerlukan

penelitian mendalam secara khusus. Untuk itu perlu dibentuknya tem khusu yang harus

bekerja dengan semboyan “tak ada rotan, akar pun berguna”
                                             BAB II

                                       PEMBAHASAN



A. Kabupaten Banyumas

       Kabuapten Banyumas didirikan kurang lebih pada Tahun 1582. Konon setelah

Kabupaten Wirasaba di pecah menjadi empat, dengan Adipati Wargautama II sebagai

Bupati Wedananya (yang memimpin empat kabupaten), Ki Adipati Wargautama alias Ki

Dipati Mrapat tidak mau bertempat tinggal di Warasaba dan akan bermaksud tinggal di

suatu tempat yang termasuk lingkungan desa kejawar (desa kelahirannya0, yaitu di

sebelah selatan sungai serayu, sebelah barat laut desa Kejawar dan di sebelah timurnya

pertemuan sungai Pesinggangan dan sungai Banyumas (hutan Mangli).

   Daerah itulah yang di bangun kota, yang di beri nama Kabupaten Banyumas, yang

kini (tahun 1985) hanya menjadi Kawedanan Banyumas. Tentang nama “Banyumas”

konon ceritanya sebagai berikut:

   Ketika sedang sibuk-sibuknya membangun pusat pemerintahan itu, kebetulan pada

waktu itu ada sebuah kayu besar hanyut di sungai Serayu. Pohon tersebut namanya pohon

kayu mas yang berasal dari desa Karang jambu, kecamatan Kejobong, Bukateja,

kabupaten Purbalingga. Anehnya kayu mas situ berhenti di Sungai Serayu dekat lokasi

pembangunan pusat pemerintahan. Adipati Mrapat merasa hatinya tersentuh melihat

kejadian tersebut. Lalu diambillah kayu ma situ, lalu dijadikan Saka Guru Si Panji.

   Karena kayu itu namanya kayu Mas, dan hanyut terbawa air, maka pusat

pemerintahan yang dibangun tadi diberi nama Banyumas (antara air dan Kayu mas). Pada
waktu itu Kesultanan Pajang tidak antara lama runtuh dan kerajaan pindah ke Mataram

(Mataram berdiri tahun 1582)

   Setelah Ki Dipati Mrapat wafat, dig anti putranya bernama Mertasura (Mertasura I),

yang lebih di kenal dengan nama ngabel janah, yang kemudian setelah wafat diganti

putranya yang namanya sama dengan nama ayahnya (nunggak semi)., yaitu Ngabei

Mertasura II. Setelah Ngabei mertasura II wafat diganti putranya bergelar Tumenggung

Mertoyudo. Beliau memperistri Nyai Embah Mertayuda Banjar, keturunanPanembahan

Gripit yang kelak menurunkan R. Ng. Banyakwide, bupati Banjar pertama. Pada waktu

itu bupati banyumas membawahi Panjer, Banjar, Purbalingga, Merden, Pasir, serta Kace

(Sukaraja). Tentang Kabupaten Wirasaba sudah tidak dibicarakan lagi karena pada

akhirnya hanya menjadi sebuah desa biasa.

   Tumenggung Mertoyudo wafat diganti oleh putranya bergelar Tumenggung

Mertonegoro (Yudonegoro I) Bupati Banyumas V.

   Pada waktu itu (tahun 1703) Sunan Amangkurat II yang dikenal sebagai Sunan

Amangkurat Amral, telah wafat digantikan oleh putranya yang bergelar Sunan

Amangkurat III. Beliau keras hati dan anti-kompeni Belanda. Sementara itu Tumenggung

Mertonegoro tidak mengerti bahwa sunan Amangkurat II yang pro-Belanda telah wafat,

sehingga Tumenggung Mertonegoro ini merasa dirinya sebagai bupati bawahan Sunan

Amangkurat II menghendaki membantu dan bekerja sama dengan kompeni Belanda.

Maka Tumenggung Mertonegoro yang masih membantu Kompeni itu di panggil

langusng menghadap Sunan Mas dan kemudian dibunuh di Masjid Kurtosuro. Beliau

dikenal sebagai Tumenggung Kokum atau Tumenggung Sedo Masjid. Sebagai Bupati
Banyumas VI, bergelar Tumenggung Toyakusuma alias Tumenggung Kemong (bende),

karena jika memanggil pegawainya dengan cara menabuh kemong atau benda.

   Pemerintahan Tumenggung Toyakusuma tidak berlangsung lama. Beliau dicopot

kedudukannya, karena selama ia menjadi bupati negaranya tidak pernah aman. Pencurian,

perampokan, pembakaran rumah merajalela di pelosok-pelosok wilayahnya. Bahkan ibu

kota kabupaten sendiri tidak jarang terjadi kerusuhan.

   Pelaku kejahatan itu justru para sentana Tumenggung Mertonegoro yang terhukum

itu. Pada suatu ketika Tumenggung Toyakusuma diancam akan dirampok, ia lari ke

Kartosuro, ia dianggap seorang di anggap seorang pejabat yang kurang bertanggung

jawab, maka ia dipecat.

   Pada waktu itu anak tertua Tumenggung Mertonegoro sedang mengabdi di Kepatihan

Kartosuro. Kanjeng Susuhunan berkenan mengangkatnya menjadi bupati Banyumas

mengganti Kedudukan Tumenggung Toyakusuma dan bergelar                     Tumenggung

Yudonegoro II. Ia tidak mau bertempat tingagal di Kabupaten lama dan mendirikan

kabupaten baru di sebelah timur desa Menganti. Adapun kota Kabupaten yang lama

akhirnya menjadi sebuah desa bernama desa karangkamal, karena di desa itu banyak

pohon asem kamal. Setelah lebih kurang dari satu tahun menempati kabupaten yang baru,

Raden Tumenggung berkenan membangun terusan untuk mengalirkan dari rawa

Tembelang di sebelah selatan kota. Air rawa di alirkan ke barat, lalu ke utara (ke Sungai

Serayu) di antara kota lama dengan kota baru.

   Terusan ini menguntungkan rakyat. Rawa serta embel sebelah selatan kota menjadi

persawahan yang subur. Sampai sekarang (tahun 1985) terusan itu disebut orang kali

Gawe (kali = sungai, yasa = yasan = buatan; Kali Gawe = sungai buatan).
   Pada zaman pemerintahan Kanjeng Susuhanan Mangkurat II sama sekali belum

terpikirkan adanya program Keluarga Berencana. Semboyan “banyak anak banyak

rezeki” masih menjiwai rakyat.

   Raden Tumenggung Yudonegoro banyak putranya. Namun yang terkenal hanya

empat orang, tiga orang putra dan seorang putri, yaitu:

1. Mas Natawijaya, dari perkawinanya dengan istri pertama (Jawa: Garma Padmi) yang

   berasal dari desa Selandaka

2. Mas Mertawijaya

3. Bagus Demang

   Putra yang kedua dan ketiga ini dari perkawinanya dengan istri kedua, (Jawa:garwa

   selir) putra Tumenggung Todan.

4. Istri Tumenggung Krtanegara di Kartosuro



       Mas Mertawijaya mengabdi kepada Kanjeng Susuhunan Mangkurat berpangkat

mnatri Anom (Mantri Muda). Beliau berkenan menganugerahi nama Raden Panji

Gandakusuma.

       Antara tahun 1674-1680 terjadi perlawanan Adipati Trunaja. Dan pada tahun

1677 Trunaja dapat menguasai ibu kota Mtataram dan sempat memindahkan perabot alat

upacara kebesaran kerajaan yang berasal dari Majapahit ketempat kelahirannya Kediri.

       Pihak Mataram abru bisa merebut kembali tahta kerajaan atas bantuan Belanda.

Beberapa bupati bawahan di Jawa timur masih tetap tidak mau tundu kepada kekuasaan

mataram. Adapun Bupati Banyumas termasuk para bupati yang patuh dan tunduk kepada

kekuasaan Kerajaan Mataram.
       Pengganti sultan Agung adalah Amangkurat I. baru saja Amangkurat menaiki

tahta segera di lakukan perjanjian dengan Belanda yang ternyata amat merugikan bangsa

Indonesia (tahun 1646).

       Ketika terjadi perlawanan Trunajaya, Amangkurat I lari ke Batavia untuk

meminta bantuan Belanda. Di tengah perjalan, di daerah Ajibarang (Banyumas),

Amangkurat I mangkat, dimandikan disuatu tempat yang kemudian disebut desa

Pasiraman (Jawa: Siram = mandi).

       Atas permintaanya, jenasah Amangkurat I di makamkan di suatu tempat yang

masih jauh dari tempat wafatnya di tempat yang konon harum (arum) baunya yaitu di

desa Pasarean , kecamatan adiwerna. Kabupaten Tegal, sehingga kemudian di nkenal

sebagai Sunan Tegal arum.

       Amangkurat I di gantikan oleh putranya bergelar Sunan Amangkurat II yang

meneruskan kebijaksanaan orang tuanya, dan juga minta bantunan kepada Belanda.

Ketika Pulang dari Batavia (Jakarta), bersama tentara bantuan Belanda, Amangkurat II

berpakaian admiral. Maka keudian ia dikenal dengan sebutan amangkurat Admiral.atas

bantuan kompeni, tapi perlawanan Trunajaya dapat dipadamkan. Trunajaya dibunuh oleh

Amangkurat II. Ibu kota Mataram pindah ke Desa Kartosuro.

       Pada kurang lebih 1705 di Kartosuro terjadi perlawanan oleh Untung Seropati dan

Pangeran Puger, paman Amangkurat III. Dengan bantuan kompeni Belanda, pangeran

Puger dapat merebut kekuasaan merebut kekuasaan Kerajaan Mataram dari Amangkurat

III dan oleh Belanda diangkat menjadi raja Mataram dan bergelar Kanjeng Susuhunan

Paku Buwono I.
        Sebagai balas jasa Pangeran Puger memberikan kepada Belanda bertupa tanah

daerah Priangan, Cirebon, dan Madura Timur. Amangkurat III (Sunan Mas) melarikan

diri ke Jawa Timur dan bergabung dengan Untung Suropati untuk meneruskan

perjuangan melawan kompeni Belanda. Untung Suropati wafat dalam peperangan tahun

1740.

        Sementara itu pada tahun 1740 itu juga di Kartosuro terjadi huru-hara yang

dilakukan oleh para keturunan Cina yang kita kenal dengan sebutan Geger pacinan, yang

mendesak kekuasaan Sunan Pakubuwono II (keturunan Amangkurat III). Dalam

menghadapi    huru-hara   Cina   tersebut   Pakubuwono   II   berusaha   keras   untuk

mempertahankannya, namun demikian kedudukannya tetap terdesak, sehingga akhirnya

menyingkir ke luar istana. Pemberontakan Cina mengangkat Raden Mas Garendi sebagai

Sunan Kuning.

        Dengan bantuan Kompeni Belanda, pemberontakan Cina dapat dikalahkan.

        Ketika permulaan pecah perang, raden Tumenggung Yudonegoro II keblai ke

Banyumas, tidak memperdulikan adanya Geger Pacinan di mataram, karena dipandang

tidak menguntungkan bagi rakyat Banyumas.

        Kanjeng Susuhunan segera mengirim utusan Gandek Mantri Anom, untuk

memanggilnya dan jika membangkan supaya dibunuh. Raden Panji Gandakusuma

tanggap akan apa yang di kehendaki kanjeng Susuhunan. Maka ia segera mendahului

salah seorang gandek ke Banyumas, menyuruh memberi tahu kepada ayahandanya.

        Ketika suruhan anandanya sampai ke kabupaten, Raden Tumenggung

Yudonegoro II sedang duduk di pendopo Kabupaten. Dieterimanya surat dari utusan

anandanya. Setelah beliau memahami makna surat itu, Raden Tumenggung merasa
sangat sedih, tak sadarkan diri dan akhirnya wafat secara mendadak. Itulah sebabnya

maka Yudonegoro II dikenai orang dengan nam,a “Seda Pendapa” (seda = mati, pendapa

= bangsal, balai, pendapa).

       Dan tidak di antara lama datanglah utusan Kanjeng Susuhunan dari Kartosur.

Utusan segera kembali ke Kartosuro, dan melpaorkan kepada Kanjeng Susuhunan, bahwa

Raden Tumenggung Yudonegoro II wafat karena sakit. Atas perkenan Kanjeng

Susuhunan, Putrandanya, Panji Gandakkusuma, diangkat m,enjadi bupati di Banyumas

menggantikan ayahandanya bergelar Tumeggung Yudonegoro III (nunggak semi orang

tuanya). Setelah beberapa lama beliau memangku jabatan bupati, mas Natawijaya kakak

beliau, untuk memenuhi peraturan yang berlaku pada waktu itu, dianggap sebagai adik

beliau dan diganti namanya menjadi Mertawijaya dan ditugasi memimpin prajurit dalam.

Adik beliau Bagus Demang      setelah dewasa menjadi kaliwon, mengganti Dipayuda

Denok di Merden yang juga masih keturunan Adipati Wargautama I yang wafat di desa

Bener sebagaimana diceritakan di muka.

       Tetapi Bagus Demang tadi tidak mau bertempat tinggal di Marden, lalu pundah ke

Purbalingga dan bergelar Tumenggung DipayudaI.



B. Kabupaten Banyumas Dipecah menjadi Dua Bagian

       Berdasarkan keputusan Kongres Wina di Eropa pada tahun 1815 sesudah

Revolusi Perancis berakhir, dan atas dasar Keputusan Konvensi London tahun 1814,

sebagai kekalahan akibat kekalahan dalam perang Napoleon di Eropa, maka kekuasaan

VOC di Wilayah Hindia Belanda digantikan Oleh East Indie Company sebagai wakil
Gubernur General EIC yang berkuasa atas Indonesia ialah Sir Thomas Stamford raffles

(tahun 1811-1816) dan berkedudukan di India.

   Pergantian kekkuasaan tersebut, oleh para Bupati bawahan juga bupati Banyumas

dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Mereka akan mengail sementara air keruh. Pada

waktu Letnan Guberbur Jenderal Sir Stanford Raffles dating berkunjung ke banyumas

dan ber malam di kabupaten dalam beberapa malam, konon pada kesempatan baik itu

Bupati Banyumas Raden Tumenggung Yudanegara IV atas nama para Bupati bahwahan

mengajukan menngajukan permohonan terhadap Sir Thomas, Stanford Raffles sebagai

Letnan Gubernur General EIC yang berkuasa atas wilayah, Indonesia, agar wilayah

Banyumas dibebaskan dari kekuasaan Kasunan Surakarta di bawah Kanjeng Susuhunan

Paku Buwana IV, dan ia mohon agar diangkat menjadi sultan di Banyumas. Permohonan

tersebuut di sampaikan kepada Kanjeng Sultan Paku Buwana ke IV, yang rupanya

diterima dengan murka dan di anggap suatu tindakan yang membangkang para bupati

Banyumas terhadap Kasunan Surakarta.

   Dari hal tersebut Raden Tumenggung Yudanegara IV diberhentikan dari jabatannya

sebagai Bupati Banyumas. Dan diturunkan jabatannya sebagai bupati Anom, tidak

berkenan kembali ke Banyumas supaya bertempat tinggal tetap pada Kasunan Surakarta,

demikian pula dengan adiknya yang bernama Raden Panji Surengrana dari Panjer namun

masih berkenan kembali ke Banyumas, bertembpat tingggal di Sokawera ( sebelah timur

kota Banyumas sekarang).

   Dengan demikian, terjadi perubahan struktur pemerntahan khususnya bagi Kabupaten

banyumas dan tidak berlaku pada Kabupaten lain.
   Demikian penguasaan atas daerah Kabupaten Bnayumas di bagi menjadi dua bagian,

yaitu:

 A.      Bagian Kanoman

         Dikuasai oleh Wedono Bupati Raden Rangga Mertadireja semula BUpati

   Sukaraja kekuasaannya meliputi:

   1. kabupaten Purbalingga, di bawah kuasa Bupati R.T Dipokusumo.

   2. kabupaten Sokaraja, di bawah kuasa Bupati R.Ng Sumadireja, Putra R.T

         Mertadireja menantu R.T Yudanegara IV yang sudah menjadi dongkol.

   3. Kabupaten Panjer, di Bawah kuasa Bupati R.Ng, Sudareja, putra R.T.

         Arungbinang di Surakarta menantu R.T. Mertadireja.



                Raden Tumenggung Mertadireja membuat rumah kabupaten di kampong

   Kedunguter.



 B.      Bagian Kesepuhan

         Dikuasai oleh Wedono Bupati Raden Tumenggung Cakrawada, semula pejabat

   bupati Purwokerto. Kekuasaannya meliputi:

   1. Kabupaten Ayah Adireja di bawah kuasa R.T. Dipayuda, berkedudukan sebagai

         Tumenggung Kiana.

   2. Kabupaten Adipala, di bawah kuasa upati R.Ng. Cakradireja, putra R.T.

         Cakrawadana ari istri muda.

   3. Kabupaten Banjar, dibawah kuasa Distrik dengan kekuasaan dua orang penguasa

         yang berpangkat Ngaben aialah R.Ng. Mangunbroto dan R.Ng. Ranudirejo.
   R.T. cakrawadana bertempat tinggal di rumah kabupaten. Pejabat Wedono bupati

berkuasa memerintah sejumlah bupati yang langsung berada di bawah kekuasaan kanjeng

Susunan Surakarta.

   Tidak lama Kanjeng kanjeng Susuhan paku Buwana IV mangkat, dan diganti oleh

putrandanya bergelar Paku Buwana V 9terkenal dengan sebutan Susuhan Sugih) yang

memerintah selama 3 tahun, kemudian diganti oleh putrandanya Raden mas Supardan

dan bergelar paku Buwana VI (terkenal dengan sebutan Susuhunan Banguntapa).

   Konon pada waktu itu ada salah seorang bupati yang mendapat murka Kanjeng

Susuhunan dan dipecat dari jabatannya karena tidak setia dengan pemerintahan

Kasunanan dan tidak membayar upeti (pajak), juga disebabkan rusaknya desa-desa di

bawah kekuasaanya.

   Bupati tersebut adalah raden Ngabei Kertapraja di Adipala. Adapun penggantinya

ialah putra Raden Tumenggung Dipayuda bernama raden Cakrayuda, menantu Raden

Tumenggung cakrawada. Dan setelah menjabat bupati atas perkenan Kanjeng Susuhunan

namanya di ganti, nunggak semi dengan digantikannya yaitu Ngabei Kertapraja dan

bertempat tinggal di Patikraja. Desa-desa bawahanya yang berada di sekitar Patikraja

hanya sedikit, yaitu dari hulu Sungai Serayu sampai di Wogen (kini sebelah timur

Banyumas). Adapun desa-desa bawahannya yang lain kebanyakan terpencar-pencar jauh

dari Patikraja. Para Ngabei di bawah kesepuhan serta kanoman diwajibkan memberikan 5

atau 6 desa untuk menambah bawahan Raden Ngabei Kertapraja tadi. Sementara itu desa-

desa bawahan Kabupaten Adipala disatukan dan menjadi kekuasaan (bawahan), raden

Tumenggung Dipayuda.
   Pada waktu itu juga para Bupati mancanegara dari daerah-daerah kekuasaan Kerajaan

Surakarta masih berkemah di Alun-alun, dalam rangka menghadiri perayaan khitanan

raden Mas Samadiman , dan pada waktu itu kanjeng Susuhunan diberi tahu oleh Tuan

Residen. Bahwa di Jogjakarta ada seorang pangeran yang bangkit mengadakan

perlawanan yaitu Pangeran Diponegoro.

   Maka seketika itu juga para bupati di tugaskan siap siaga untuk memulai di daerah-

daerah di luar kota. Raden Tumenggung Bratadiningrat ditugaskan siap siaga di

Purwodadi. Kemudian para Bupati ditugaskan membantu di Yogyakarta bersama-sama

dengan abdi dalem prajurit Kratin serta mangkunegara. Selama bertugas di Yogyakarta

para pengikut bupati dan rakyat Yogyakarta sendiri menderita kekurangan makan akibat

blockade pangan oleh prajurit Dipenogoro. Itulah maka pengikut Raden Tumenggung

Brotodiningrat banyak yang menderita sakit dan terpaksa dipulangkan. Tidak lama para

bupati di Surakarta di tugaskan kembali ke surakarta, kemudian supaya kembali

kewilayah masing-masing, sebab daerah Kedu dan Bagelen sudah diduduki oleh

Pangeran Diponegoro. Maka kembalinya Raden Tumenggung Bratadiningrat dengan para

pengikutnya serta para bupati di Bagelen tidak bisa lewat kedu atau Bagelen. Mereka

terpaksa lewat Semarang, Pekalongan, Batur, Karangkobar, kemudian Banjar.

   Konon para bupati tadi di kotanya masing-masing terus bersiap-sipa melengkapi

persenjataan para prajuritnya serta menambah personilnya, yang kemudian disebutnya

“prajurit tumbak kenceng” yang kebanyakan bersenjatakan tombak.

   Para bupati sibuk mencari tambahan senjata api seperti kalantaka atau bedil. Mereka

mencari sampai ke daerah Tegal, Cirebon, Pekalonga. Itulah rupa dan jenis jenis

senjatanya tidak seragam. Adapun Raden Tumenggung Cakrawadana beserta para Ngabei
senior (tua) sudah lama menerima tugas supaya mempersipakan persenjataan, tidak

diizinkan dating di Surakarta, serta tidak mengantarkan upeti selama lima tahun. Dan kini

tugas tersebut telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, prajurit siap tempur lengkap

dngan senjatanya, tidak berbeda dengan Bupati Kanoman.



C. Sungai Serayu

       Di samping ada beberapa versi sejarah Banyumas, opini masyarakat juga

dibingungkan dengan versi yang ada sekitar nama “BANYUMAS”. Sejarah nama yang

banyak dikenal masyarakat sekitar nama Banyumas yaitu pada masa kekuasaan Adipati

Wargoutomo.

       Pada saat Wargoutomo atau Adipati Mrapat membangun pusat pemerintahan

dengan lokasi di hutan mangle di antara dua sungai yaitu masing-masing Sungai

Pesinggangan dan Sungai Serayu. Konon pada waktu sedang ramainya membangun pusat

pemerintahan itu kebetulan pada waktu itu ada sebuah kayu besar hanyut di Sungai

Serayu, pohon kayu tersebut namanya pohon kayu mas yang berasal dari desa karang

Jambu, kecamatan Kojobong, kawedanan, Bokateja, kabupaten Pubalingga.

       Anehnya kayu mas tersebut terhenti di sungai Serayu dekat lokasi pembangunan

pusat pemerintahan. Adipati Mrapat merasa hatinya tersentuh melihat kejadian tersebut.

Lalu diambilah kayu Mas tersebut dan dijadikan Soko Guru “Si Panji” pendapat

Banyumas yang terkenal itu. Karena kayu tersebut namanya Kayu mas yang hanya

terbawa air, maka pusat pemerintahan yang di bangun tadi diberi nama BANYUMAS

(pengertiannya antara air dan banyu dan kayu mas)
       Di samping masih perlu ada penelitian sekitar tonggak awal berdirinya Kabupaten

Banyumas, ada kenyataan yang harus ditelaah lebih lanjut yaitu silsilah para bupati di

Banyumas yang semula “babad” dan cikal bakal dengan bupati-bupati yang berkuasa

setelah ada pembagian wilayah dan berkuasa sejak penggabungan kabupaten Purwokerto

dan Banyumas.

       Adapun silsilah para Bupati Banyumas yang berkuasa dimulai tahun 1582 yaitu di

ambil tonggak dari berkuasanya Adipati Mrapat (Wargautama II). Maka urutannya

sebagai berikut:

Bupati I       : Adipati Mrapat (Wargautama II)

Bupati II      : R. Ngabei Mertasura I (Ngabel Janah)

Bupati III     : R. Ngabei Mertasura II

Bupati IV      : Ngabei MertajudaI

Bupati V       : Adipati Yudanegara I (Seda Masjid)

Bupati VI      : Tumenggung SuradipuraVI

Bupati VII     : Adipati Yudanegara II (Seda Pendapa)

Bupati VIII    : Tumenggung Reksapraja

Bupati IX      : Adipati Yudanegara III (R.B.K Mertawijaya)

Bupati X       : Adipati Yudanegara IV

Bupati XI      : Adipati Yudanegara V



       Setelah sampai Bupati XI dari Banyumas lama, maka ada perubahan status lagi

yaitu kabupaten Banyumas dan kabupaten Purwokerto pada Bulan November 1831.

kabupaten Purwokerto berkedudukan di Ajibarang.
       Sejak November 1831 (setelah Perang Diponegoro) daerah Banyumas lepas dari

Kasunanan Surakarta langsung berada dalam pemerintahan Belanda menjadi Karesidenan

Banyumas yang meliputi 5 kabupaten yaitu:

   1. Kabupaten Banyumas dengan Bupatinya Tjakrawardana 1

   2. Kabupaten Purwokerto di Ajibarang bupatinya Adipati Bratadiningrat

   3. Kabupaten Purbalingga Bupatinya Adipati Tumengung Dipakusuma I

   4. Kabupaten Banjarnegara Bupatinya Tumenggung Dipayuda IV

   5. Kabupaten Majenang Bupatinya Tumenggung Prawiranegara

          Setelah ada penggabungan Kabupaten banyumas dengan Kabupaten

Purwokerto dan bulan Januari 1937 pendapat keramat “I Panji” di pindahkan dari kota

Banyumas ke Purwokerto.



D. Proses Pembentukan

       Gagasan untuk mengusulkan Purwokerto menjadi Kota Adminstratif timbul

sebagai pengaruh pembangunan Cilacap untuk dijadikan pelabuhan Samudra, kawasan

industri dan wilayah pengembangan Jawa tengah bagian selatan barat. Prospek

pengembangan Cilacap yang cerah itu mendorong Kabupaten banyumas, khususnya kota

Purwokerto untuk menjadi wilayah penyangga (hinterland).

   Dengan Surat Bupati Kepala Daerah Tingkat II Banyumas tanggal 2 Februari 1978

Nomor: 3/3/I/DPRD?80 tanggal 10 Juni 1980 menyetujui peningkatan status kota

Purwokerto sebagai Kota Administrasi.

   Selanjutnya denga surat Bupati Kepala Daerah Tingkat II Banyumas tanggal 26 Juli

1980 Nomor: 2227.135.80 di usulkan kepala Mentri Dalam Negeri lewat Gubernur
Kepala daerah Tingkat I Jawa Tengah agar Purwokerto ditingkatkan statusnya menjadi

Kota Administratif. Hal ini di lakukan sesuai dengan petunjuk Menteri dalam negeri dala

surat-suratnya tanggal 17 Mei1978 Nomor: Bkt. 2/3/12 dan 22 November 1978 Nomor:

Bkt. 2/6/49 perihal peningkatan Status Kota Purwokerto dan Cilacap menjadi Kota

Administratif.

   Hasil Survey Team Pelaksana Penyusunan data untuk pengusulan kota Purwokerto

menjadi kota Administratif dengan SK Bupati Kepala daerah Tingkat II Banyumas

tanggal 21 desenber 1979 Nomor: 147/I/4/KDH kemudian disempurnakan oleh Team

Departemen Dalam Negeri dengan mengadakan Survey lebih lanjut pada tahun 1980.

   Untuk lebih memantapkan persiapan pembentukan Administratif Purwokerto

sejumlah anggota DPRD Kabupaten dati II Banyumas bersama eksekutif telah melakukan

studi ke kota Administratif Tasikmalaya, Ciamahi, dan jember serta kunjungan eksekutif

ke Kota Administratif Depok.

   Dengan melihat perkembangan Kota Purwokerto dan Cilacap yang maju dengan pesat

dalam berbagai bidang sehingga dirasakan perlu adanya aparatur pemerintah yang khusus

mengelola daerah perkotaan. Gubernur Kapala Daerah Tingkat I Jawa Tengah dengan

suratnya Kapala Menteri Dalam Negeri tanggal 26 Maret 1982 Nomor: 650/06413 dapat

menyetujui usul pembentukan Kota Administratif Purwokerto dan Cilacap.

   Letak Geografis Purwokerto yang menguntungkan posisinya sebagai pusat

pemerintahan wilayah Banyumas dan Posisi sebagai jalur perekonomian (transito) yang

penting, menjadikan Purwokerto berkembang pesat dan memiliki prospek pengembangan

dikemudian hari. Nampaknya factor-faktor inilah yang mendorong Departemen Dalam

Negeri menyetujui usul pembentukan Purwokerto menjadi Kota Administratif. Persiapan-
persiapan untuk membenahi kota Purwokerto agar pantas ditingkatkan statusnya menjadi

kota Administartif terus dilaksanakan baik di tingkat propinsi maupun di tingkat

Kabupaten Banyumas.

   Terbitnya Peraturan Pemetintah Nomor: 36 tahun 1982 tentang pembentukan Kota

Administratif Purwokerto dan Peresmiannya pada tanggal 15 januari 1983 merupakan

peristiwa bersejarah dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah sebagai pelaksanaan

Undang-Undang Nomor 5 tahun 1974.



E. Banyumas Menjadi Medan Perang Diponegoro

       Konon, selama Banyumas menjadi medan laga melawan pejuang-pejuang

Pangeran Diponegoro, pernah terjadi pertempuran besar dan sengit. Prajurit Diponegiro

diperkuat putra Kanjeng Pangeran Diponegoro sendiri yang bergelar Kanjeng Pangeran

Suratmaja. Adapun Senopatinya (panglima perang0 raden Tumenggung Danukusuma,

dibantu oleh para bupati, yaitu:

   1. Tumenggung Kalapaking

   2. Sajunapura

   3. Jaya Sudirga

   4. Tambakbaya

           Para prajurit Diponegoro dating dari arah timur, dari Kaliwira, Tunggara,

   banjar, Kutawaringin, Mandiraja dan Purwareja(Purwareja Klampok)

Rakyat di daerah-daerah yang dilalui para prajurit tadi dikerahkan oleh para komandan

untuk melawan musuh dan arah barat yang disponsori oleh Kompeni.
Konfrontasi antara pasukan Diponegoro (beserta rakyat yang dikerahkannya) dengan

musuh yang terdiri dari prajurit Banyumas yang dipimpin oleh bupati dan dibantu

Kompeni, terjadi di Puworejo Klampok dan pecahlah perang besar-besaran. Prajurit

Diponegoro berjuang mati-matian, pantang mundur selangkah.

       Dari Kabupaten purwokerto itu sendiri, Tahun 1920 Kanjeng Raden Adipati Aria

Cakranegara III wafat. Kabupaten mengalami vacuum (lowong) selam empat tahun. Baru

tahun 1924 Kanjeng Raden Tumenggung Cakradi Surya, putra Kanjeng Raden

Tumenggung Cakranegara (bupati ponorogo), ditetapkan sebagai bupati Purwokerto

beliau mendapat anugerah sebutan atau gelar Kanjeng Raden Adipati Aria Cakradisurya.



F. Banyumas di sekitar tahun 1931

       Bumi karisidenan banyumas terhampar memanjang dari timur ke barat. Disebelah

utara yang dikelilingi oleh gunung slamet dengan kakinya yang membujur ke barat dan

ke timur sampai kepegunungan Dieng.

       Sebelah timur berbatasan dengan tanah Kedua Bagelen. Di sebelah selatan

dibatasi Laut Kidul (Samudra Indonesia0, sebelah bareat berbatasan dengan tanah

Priangan. Ditengah di lalui Sungai Serayu yang mengalir dari arah timur laut kea rah

barat daya dan bermuara di samudra Indonesia.

       Pada waktu itu orang-orang di daerah sebelah selatan sungai Serayu kalau akan

berpergian ke seberang utara sangat sulit karena bagian hilir sungai lebar dan dalam.

Peristiwa-peristiwa di sekitar Banyumas, meliputi:

   1. Raja Bali bernama Gusti Ngurah Made Pasekan yang di buang di Banyumas.
2. Pulau Nusakambangan sebagai tempat pembuangan para penjahat (terhukum) dari

   kepulauan lain, kebanyakan darti daerah aceh, tahun 1866.

3. Membuat alat perhubungan, tahun 1891.

4. Membuat Jalan kereta Api, tahun 1886.

5. Membangun kantor bank Kabupaten (Apdeling) pada tahun 1896.

6. Mendirikan lumbung Desa pada tahun 1895.

7. Terjadinya Hujan abu pada tahun 1901 pukul 11.00.

8. Pembuatan irigasi, tahun 1884 di kabupaten Banjarnegara.

9. Membangun Rumah sakit, pertama kali pada tahun 1925 dan dinamai Rumah

   Sakit Juliana.

10. Tahun 1909 mendirikan Organisasi Lembaga Pendidikan.

11. Kurang lebih selama 25 tahun mendirikan usaha Peternakan lembu dan kuda.

12. pada tahun 1916 terjadinya Lindu besar (gempa bumi) di Pesugihan.

13. tahun 1914 mengalami harga barang kebutuhan pokok mahal.

14. tahun 1926 di Kabupaten Cilacap diadakan usaha pemberantasan malaria.

15. tahun 1928-1979 mendapat Penerangan Listrik

16. tahun 1929 diadakan tendon air minum disekitar Kota-kota Banyumas.
                                          BAB III

                                         PENUTUP

1. Kesimpulan

       Kabuapten Banyumas didirikan kurang lebih pada Tahun 1582. Konon setelah

Kabupaten Wirasaba di pecah menjadi empat, dengan Adipati Wargautama II sebagai

Bupati Wedananya (yang memimpin empat kabupaten), Ki Adipati Wargautama alias Ki

Dipati Mrapat tidak mau bertempat tinggal di Warasaba dan akan bermaksud tinggal di

suatu tempat yang termasuk lingkungan desa kejawar (desa kelahirannya0, yaitu di

sebelah selatan sungai serayu, sebelah barat laut desa Kejawar dan di sebelah timurnya

pertemuan sungai Pesinggangan dan sungai Banyumas (hutan Mangli).

   Daerah itulah yang di bangun kota, yang di beri nama Kabupaten Banyumas, yang

kini (tahun 1985) hanya menjadi Kawedanan Banyumas. Tentang nama “Banyumas”

konon ceritanya sebagai berikut:

   Ketika sedang sibuk-sibuknya membangun pusat pemerintahan itu, kebetulan pada

waktu itu ada sebuah kayu besar hanyut di sungai Serayu. Pohon tersebut namanya pohon

kayu mas yang berasal dari desa Karang jambu, kecamatan Kejobong, Bukateja,

kabupaten Purbalingga. Anehnya kayu mas situ berhenti di Sungai Serayu dekat lokasi

pembangunan pusat pemerintahan. Adipati Mrapat merasa hatinya tersentuh melihat

kejadian tersebut. Lalu diambillah kayu ma situ, lalu dijadikan Saka Guru Si Panji.

   Karena kayu itu namanya kayu Mas, dan hanyut terbawa air, maka pusat

pemerintahan yang dibangun tadi diberi nama Banyumas (antara air dan Kayu mas). Pada

waktu itu Kesultanan Pajang tidak antara lama runtuh dan kerajaan pindah ke Mataram

(Mataram berdiri tahun 1582).
2. Lampiran

       Dalam pengambilan gambar, penulis berasal dari Purbalingga dan mengambil

Kabupaten Banyumas, maka menyertakan lampiran Gambar dari Kabupaten Banyumas

di Purwokerto dan Kabupaten Purbalingga pada sekarang ini (2008). Lampiran yang

ditunjukan sebagai berikut:



                              Pendopo Purwokerto




                              Alun-alun Purwokerto
   Bangunan Pendopo Purwokerto




Masjid Agung Baitussalam Purwokerto
Pendopo Purbalingga
Alun-alun Purbalingga

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Stats:
views:263
posted:8/3/2012
language:
pages:29
Description: CONTOH TUGAS AKHIR BAHASA DAN SENI - SASTRA JAWA